Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MPKT-B

PENGARUH POLUSI UDARA TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP DKI JAKARTA

Disusun oleh: Agnes Yuliana (NPM. 1106051824) Muhammad irsyad (NPM. 1106052253) Rahmat Zaki Iqbal (NPM. 1106065395) Asti Rahmawati (NPM. 1106065773) Siti Khoiriah (NPM. 1106067210) Timotinus Tuwandi (NPM 1106067293)

UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melancarkan proses penyelesaian makalah yang berjudul Pengaruh Polusi Udara terhadap Lingkungan Hidup tepat pada waktunya. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Ibu Rani Sauriasari selaku dosen MPKT-B Kelas K yang telah membimbing penulis dalam pembuatan makalah ini. Selain itu ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman selaku rekan dalam MPKTB Kelas K yang telah memberikan saran dan dukungan dalam proses penyelesaian makalah ini. Makalah yang berjudul Pengaruh Polusi Udara terhadap Lingkungan Hidup ini berisikan tentang pengaruh polusi udara lebih khususnya penyebab terjadinya polusi udara, dampak yang ditimbulkan dalam berbagai bidang, serta tindakan penanggulangan polusi udara, baik yang dilakukan individu, masyarakat, dan pemerintah. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, baik bagi penulis maupun para pembaca.

Depok, 20 oktober 2011

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Kesehatan adalah suatu poin penting yang ingin dicapai oleh setiap insan manusia. Apabila kita ingin memiliki tubuh yang sehat, tentulah harus didukung oleh kondisi lingkungan sekitar yang baik dan layak huni. Lingkungan yang baik untuk kehidupan manusia adalah lingkungan yang bersih dan bebas dari berbagai macam polusi sehingga dapat mewujudkan kehidupan manusia yang sehat dan sejahtera. Seperti yang kita ketahui, kota Jakarta adalah kota metropolitan yang sibuk dengan populasi penduduk yang amat penuh dan sesak. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian lebih terhadap kondisi lingkungan di Jakarta. Namun, mobilitas masyarakatnya yang tinggi menyebabkan setiap jalan yang ada di ibu kota dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Tingginya jumlah kendaraan bermotor tentu dapat mempengaruhi kualitas udara di Jakarta disebabkan oleh emisi gas buang kendaraan yang dapat menurunkan kualitas udara serta menganggu kesehatan masyarakat Jakarta. Kondisi ini juga diperburuk dengan penebangan pohon yang terjadi dimana-mana. Banyaknya lahan atau ekosistem hijau yang dihilangkan demi membangun gedung-gedung perkantoran, apartemen, dan mall. Hal ini menyebabkan polusi udara semakin tidak terkendali karena kemampuan penyerapan polutan yang dilakukan oleh tumbuhan hijau menurun drastis. Polusi udara tidak hanya membuat udara itu sendiri kotor tetapi juga mempengaruhi manusia. Polusi udara dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan seperti batuk-batuk, sesak napas, saluran pernapasan berlendir, dll. Dampak yang lebih parah dari polusi udara yaitu dapat menyebabkan timbulnya penyakit berbahaya bahkan kematian.

I.2 Rumusan Masalah Adapun masalah yang ingin dibahas dalam makalah ini adalah : 1. Apa yang menyebabkan terjadinya polusi udara ? 2. Bagaimana dampak polusi udara dalam berbagai bidang kehidupan ? 3. Bagaimana cara penanggulangan polusi udara ?

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN

II.1 Penyebab Terjadinya Polusi Udara II.1.1 Ledakan populasi manusia Zaman sekarang, jumlah populasi masyarakat di Negara Indonesia terus bertambah seiring dengan tingginya kebutuhan bahan-bahan pokok yang harus dipenuhi. Di bidang transportasi, kebutuhan akan angkutan atau kendaraan bagi masyarakat semakin melonjak. Faktanya, banyak kendaraan-kendaraan pribadi yang berlalu lalang melintasi jalan raya kota Jakarta. Hal ini menimbulkan dampak negativ yaitu tingginya jumlah gas buang dalam udara. Selain itu, sering ditemukan kepulan asap di udara hasil buangan bis-bis angkutan umum dan kendaraan-kendaraan besar lainnya. Dilihat dari sisi lain, tingginya populasi manusia juga dapat meningkatkan jumlah sampah yang dibuang. Sebagai contoh adalah penggunaan plastik yang sulit dikendalikan. Zaman sekarang masyarakat dihimbau untuk menggunakan plastik secara hemat agar sampah plastik tidak terus meningkat. Bahkan, telah diinovasikan plastik degradable yang bisa cepat larut dalam tanah. Namun, pada kenyataannya tidak banyak masyarakat yang mengetahui dan menyadari bahaya yang akan ditimbulkan apabila terus-menerus menggunakan plastik.

II.1.2 Sistem tata kota yang tidak teratur Perencanaan tata kota di DKI Jakarta termasuk perencanaan tata kota yang buruk. Kepadatan kendaraan terjadi dimana-mana, banjir yang sering terjadi ketika hujan turun, dan yang paling buruk adalah polusi udara. Di DKI Jakarta polusi udara merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan. Polusi udara hampir tidak dapat ditekan karena berbagai kesalahan tata rencana kota, antara lain: Peletakan paru-paru kota di tempat strategis yang sangat kurang. Penggusuran green area untuk perluasan jalan raya. Taman kota diletakan di tempat yang tidak strategis. Tempat-tempat pembuangan limbah tidak diatur dengan baik. Berdirinya pemukiman kumuh yang mempersempit green area.

II.1.3 Penggunaan bahan bakar fosil yang tidak efisien Di DKI Jakarta jumlah kendaraan bermotor melebihi jumlah penduduk di Indonesia. Setiap harinya jumlah kendaraan yang turun ke jalan terus-menerus

bertambah, namun semua ini tidak diimbangi dengan penggunaan bahan bakar fosil yang efisien. Bahan bakar fosil diperlukan untuk menjalankan sebuah kendaraan bermotor. Pembakaran yang terjadi akan menciptakan berbagai macam hasil buangan yang akan mencemari udara. Hasil-hasil sisa pembakaran bahan bakar seperti CO (karbon monoksida), CO2 (karbon dioksida), Pb (timbal) dan zat-zat lainnya. Emisi gas buang ini dapat menyebabkan turunnya kualitas udara di suatu tempat. Emisi gas buang sebenarnya dapat ditekan dengan menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan yang tinggi tetapi sebagian besar pemilik kendaraan bermotor di DKI Jakarta tidak peduli dengan hal ini. Mereka cenderung untuk menggunakan bahan bakar yang memiliki nilai oktan rendah karena relatif lebih murah daripada bahan bakar yang memiliki nilai oktan tinggi. Hal ini membuat pembakaran bahan bakar menjadi tidak efisien sehingga menimbulkan emisi gas buang seperti yang telah disebutkan diatas. II.1.4 Industri dan Pabrik Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi salah satu penyebab maraknya persaingan dunia kerja di bidang industri. Hal ini menimbulkan banyaknya lahan-lahan DKI Jakarta yang digunakan untuk pendirian pabrik-pabrik produksi. Pabrik-pabrik ini dapat menjadi salah satu penyebab polusi udara melalui pembuangan gas sisa hasil produksi ke udara. Gas sisa yang biasa dihasilkan dan menyebabkan polusi udara antara lain gas SO2 yang dihasilkan dari pemurnian petroleum, industri asam sulfat dan industri peleburan baja. Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan SO2. Hal ini disebabkan adanya elemen penting alami dalam bentuk garam sulfida misalnya tembaga (CUFeS2 dan CU2S ), zink (ZnS), Merkuri (HgS) dan Timbal (PbS). Kerbanyakan senyawa logam sulfida dipekatkan dan dipanggang di udara untuk mengubah sulfida menjadi oksida yang mudah tereduksi. Selain itu sulfur merupakan kontaminan yang tidak dikehendaki di dalam logam dan biasanya lebih mudah untuk menghasi lkan sulfur dari logam kasar daripada menghasilkannya dari produk logam akhirnya. Oleh karena itu SO2 secara rutin diproduksi sebagai produk samping dalam industri logam dan sebagian akan terdapat di udara. II.1.5 Kebakaran Kebakaran memberikan pengaruh yang signifikan untuk terjadinya polusi udara. Bagaimana tidak, asap-asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut akan naik ke udara sehingga dapat mencemari udara. Di antara jenis-jenis kebakaran yang sering terjadi adalah kebakaran hutan, mall, pasar, gedung-gedung perkantoran, pabrik dan pemukiman penduduk. Padatnya pemukiman penduduk di Jakarta serta kurangnya kepedulian masyarakat akan lingkungannya menyebabkan kebakaran di wilayah pemukiman penduduk semakin sering terjadi. Selain itu kecerobohan manusia

juga tak jarang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan, bahkan terkadang manusia sengaja membakar hutan untuk membuka lahan. Hal ini tentu saja berdampak besar terhadap tingkat pencemaran udara yang terjadi, karena asap tebal yang dihasilkan oleh kebakaran tersebut sangat merugikan masyarakat baik dari segi ekonomi, transportasi dan kesehatan. II.2 Dampak terjadinya polusi udara II.2.1 Ekonomi dan Sosial Dalam bidang ekonomi, polusi udara memberikan dampak positif dan dmpak negatif. Dari dampak positif dapat terlihat dari maraknya penjualan masker-masker di jalan raya. Hal ini memicu timbulnya inovasi baru dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang dapat memanfaatkan kesempatan yang ada. Namun, hal ini memberikan presentasi yang kecil dibandingkan dengan dampak negative yang ditimbulkan dari polusi udara. Dampak negatif yang ditimbulkan adalah polusi udara yang terjadi dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. Maksudnya adalah udara yang tercemar dapat meyebabkan timbulnya berbagai penyakit yang dapat menyerang manusia. Hal ini memicu turunnya kualitas kinerja dari masyarakat sebagai sumber daya manusia. Selain itu, ditinjau dari segi sosial, polusi udara menyebabkan banyaknya asap dan gas-gas buang lainnya yang mencemari udara sehingga udara terlihat kotor dan tidak sehat. Hal ini berdampak pada kalangan anak-anak maupun dewasa dalam melakukan interaksi outdoor atau interaksi di luar rumah. Di zaman sekarang, udara yang nyaman untuk dijadikan tempat-tempat bermain anak-anak sudah sulit untuk ditemui, khususnya di daerah perkotaan. Tidak seperti zaman dahulu yang masih terdapat taman bermain anak-anak, lapangan luas, bahkan sawah-sawah yang dapat dijadikan tempat bermain untuk anak-anak. Ini menjadi alasan utama mengapa saat ini sudah jarang sekali ditemukan sekumpulan anak-anak yang sedang bermain bersama di luar rumah. Hai ini terkait dengan polusi udara yang ada. Biasanya orang tua yang tahu akan bahaya gas-gas atau asap buangan dari kendaraan bermotor khawatir akan anaknya yang bermain di luar rumah. Orang tua tidak ingin anaknya terserang penyakit akibat udara yang kotor. Selain anak-anak, orang dewasa juga menjadi malas untuk berada di luar rumah karena udara yang kurang nyaman, terutama untuk perumahan yang berada di dekat pabrik-pabrik atau di pinggir jalan raya. Mereka menjadi menutup diri dengan lingkungan luar. Hal inilah yang menimbulkan budaya individualisme dan kesenjangan sosial yang menyebabkan penurunan dalam hal interaksi dengan tetangga sekitar. II.2.2. Lingkungan - Menurunnya diversitas biologi

Polusi udara dapat mengakibatkan turunnya diversitas biologi di suatu tempat karena: Dapat menyebabkan rusaknya suatu ekosistem. Menyebabkan migrasi suatu makhluk hidup ke tempat lain yang lebih mendukung untuk kelangsungan hidupnya. Menyebabakan kematian massal dan kepunahan baik secara lokal maupun global. Kerusakan ekosistem lingkungan Polusi udara dapat menyebabkan rusaknya ekosistem suatu tempat sehingga memerlukan rehabiltasi untuk memulihkannya. Contohnya adalah hujan asam yang dapat membunuh ikan-ikan dan makhluk hidup lainnya di suatu ekosistem air tawar. Hujan asam Hujan asam merupakan segala macam hujam dengan pH di bawah 5,6 sehingga menyebabkan hujan bersifat asam. Hujan asam disebabkan oleh polutan SO2 dan NOx. Hujan asam menyebabkan berbagai macam dampak negatif seperti: 1. Menganggu kesehatan manusia. 2.Merusak nutrisi tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan. 3.Merusak ekosistem air tawar. 4.Menyebabkan korosi terhadap berbagai logam. Efek rumah kaca Global warming disebabkan oleh polutan CO2. Gas CO2 yang tersebar di udara akan berada di atmosfer bumi dan menimbulkan efek gas rumah kaca. Efek rumah kaca dapat menyebabkan radiasi matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa tertahan oleh awan dan CO2 sehingga kembali ke bumi. Fenomena seperti ini dapat meyebabkan meningkatnya suhu bumi, melelehnya es di kutub, perubahan cuaca yang tidak menentu.

II.2.3. Kesehatan Gangguan saluran pernapasan Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfer merupakan hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber pencemaran Sox, misalnya pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya Sumber SOx yang kedua adalah dari proses-proses industri seperti pemurnian petroleum, industri asam sulfat, dan industri peleburan baja. Pengaruh utama polutan Sox terhadap manusia

adalah iritasi sistem pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan kadiovaskular. Oksidan (O3) merupakan senyawa di udara selain oksigen yang memiliki sifat sebagai pengoksidasi. Oksidan adalah komponen atmosfer yang diproduksi oleh proses fotokimia, yaitu suatu proses kimia yang membutuhkan sinar matahari mengoksidasi komponen-komponen yang tak segera dioksidasi oleh oksigen. Senyawa yang terbentuk merupakan bahan pencemar sekunder yang diproduksi karena interaksi antara bahan pencemar primer dengan sinar. Oksidan fotokimia seperti ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), dan peroksiasetilnitrat (PAN) jika masuk kedalam tubuh dan pada kadar subletal dapat mengganggu proses pernafasan normal. Kerusakan otak Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna. Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia. Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin. Berdasarkan estimasi, jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta ton per tahun. Separuh dari jumlah ini berasal dari kendaraan bermotor yang menggunakan bakan bakar bensin dan sepertiganya berasal dari sumber tidak bergerak seperti pembakaran batubara dan minyak dari industri serta pembakaran sampah domestik. Didalam laporan WHO (1992) dinyatakan paling tidak 90% dari CO diudara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor. Selain itu asap rokok juga mengandung CO, sehingga para perokok dapat memajan dirinya sendiri dari asap rokok yang sedang dihisapnya. CO yang masuk ke dalam tubuh ini dapat berikatan dengan haemoglobin (Hb) dan membentuk karboksihaemoglobin (HbCO). Karboksihaemoglobin dapat mengganggu transportasi O2 ke seluruh tubh termasuk otak. Jika hal ini terjadi dalam jangka panjang, otak yang kurang mendapatkan asupan O2 dapat kehilangan kinerjanya dan akan menimbulkan kerusakan otak yang permanen. Merangsang terbentuknya sel-sel kanker Struktur Hidrokarban (HC) terdiri dari elemen hidrogen dan karbon. Sifat fisik HC dipengaruhi oleh jumlah atom karbon yang menyusun molekul HC. HC adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan. Sebagai bahan pencemar udara, hidrokarbon dapat

berasal dari proses industri yang diemisikan ke udara dan kemudian merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan polutan primer karena dilepas ke udara secara langsung. Kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC adalah industri plastik, resin, pigmen, zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut polycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker. Iritasi mata Gas klorin (Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Klorin merupakan bahan kimia penting dalam industri yang digunakan untuk klorinasi pada proses produksi yang menghasilkan produk organik sintetik, seperti plastik (khususnya polivinil klorida), insektisida (DDT, Lindan, dan aldrin) dan herbisida (2,4 dikhloropenoksi asetat). Selain itu clorin juga digunakan sebagai pemutih (bleaching agent) dalam pemrosesan selulosa, industri kertas, pabrik pencucian (tekstil) serta desinfektan untuk air minum dan kolam renang. Karena banyaknya penggunaan senyawa klor di lapangan atau dalam industri dalam dosis berlebihan seringkali terjadi pelepasan gas klorin akibat penggunaan yang kurang efektif. Hal ini dapat menyebabkan terdapatnya gas pencemar klorin dalam kadar tinggi di udara. Jika terpapar gas klorin pada kadar antara 3,0 6,0 ppm akan terasa pedas dan memerahkan mata sehingga menimbulkan iritasi mata. Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon murni juga akan menghasilkan partikulat debu. Selain itu, partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Partikulat debu yang melayang dan berterbangan ini akan dibawa angin dapat menyebabkan iritasi pada mata dan menghalangi daya tembus pandang mata (visibility). Edema Pulmonari Oksida Nitrogen (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di atmosfir yang terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2). Nitrogen monoksida terdapat diudara dalam jumlah lebih besar

daripada NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara sehingga membentuk NO, sedangkan yang bereaksi lebih lanjut dengan oksigen yang lebih banyak akan membentuk NO2. Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Di udara normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. Penelitian menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Jika terpapar NO2 dalam kadar yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat menimbulkan pembengkakan paru-paru atau yang lebih dikenal dengan penyakit edema pulmonari. Selain itu, di udara gas klorin (Cl2) dapat mengalami proses oksidasi dan akan membebaskan gas oksigen seperti terlihat dalam reaksi dibawah ini : CL2 + H2O HCL + HOCL 8 HOCl 6 HCl + 2HClO3 + O3 Jika terpapar HClO3 dengan kadar sebesar 14,0 21,0 ppm selama 3060 menit juga dapat menyebabkan penyakit paru-paru (pulmonari epidema). Keracunan Karbonmonoksida (CO) adalah salah satu hasil dari pembakaran yaang tidak sempurna. Karakteristik biologi yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin (Hb), pigmen sel darah merah yang mengakut oksigen (O2) ke seluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, metabolisme otot dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu dengan adanya ikatan CO yang stabil tersebut. Dampat keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang parah. Emphysema Sesuai dengan penjelasan sebelumnya mengenai gas klorin, gas ini merupakan salah satu gas pencemar atau polutan yang terdapat di udara. Gas klorin (Cl2) merupakan senyawa kimia yang brbahaya bagi tubuh. Hal ini disebabkan gas klorin (Cl2) yang terhirup melalui udara pernapasan akan bereaksi dengan H2 di dalam paru-paru membentuk HCl. HCl atau hidrogen klorida merupakan senyawa yang bersifat korosif. Dan bila terpapar dengan kadar sebesar 14,0 21,0 ppm selama 30 60 menit dapat menyebabkan emphysema atau lebih dikenal dengan radang paruparu.sangat berbahaya bagi tubuh.

II.3. Penanggulangan II.3.1. Oleh Manusia Individu dan Masyarakat Meningkatkan rasa kepedulian terhadap alam kita khususnya Indonesia Menanam tanaman hijau Tidak menebang pohon atau hutan secara sembarangan Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor Pemerintah Menegakkan kembali undang-undang pelestarian lingkungan Menyediakan dana-dana untuk melakukan rehabilitasi lingkungan Memperbaiki sistem tata kota Sosialisasikan gerakan-gerakan rehabilitasi lingkungan kepada masyarakat II.3.2. Oleh IPTEK Mengoptimalkan penggunaan teknologi yang sudah tersedia Menggunakan sepeda sebagai alat transportasi juga dapat mengurangi polusi udara, dan juga menyehatkan tubuh Meninggalkan kendaraan pribadi, baik itu mobil ataupun sepeda motor, dan beralih menggunakan jasa angkutan umum, juga bisa mengurangi tingkat polusi udara. Menghemat penggunaan energi. Dengan melakukan penghematan energi, artinya kita juga menghemat bahan bakar pembangkit energi tersebut, bahan bakar fosil misalnya.