STUDI KUALITAS PERENCANAAN SISTEM PROTEKSI AKTIF TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN PADA RSUD BANGIL PASURUAN Oleh: Nur

Andriani* Abstrak: Resiko kebakaran terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan aktivitasnya yang semakin tinggi. Untuk mengatasi tingginya resiko kebakaran, perlu diupayakan pencegahan dalam rangka untuk mencegah atau mewaspadai akan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kebakaran serta mengambil langkah-langkah untuk mencegah kemungkinan kebakaran tersebut menjadi kenyataan. penanggulangan lebih efektif bila pada bangunan disediakan peralatan pemadam kebakaran termasuk sarana deteksinya, khususnya di bangunan tinggi, bangunan berukuran luas, serta di bangunan vital.
Faktor keamanan dan keselamatan jiwa sangat diperlukan dalam menunjang kelancaran berbagai aktivitas di dunia ini. Tanpa adanya alat pemadam kebakaran manusia selalu dibayangi oleh rasa kecemasan. Hal ini dikarenakan sebagian besar keutuhan dari gedung itu sendiri, jiwa kita semua dan fasilitas serta peralatan yang ada sangat bergantung dengan alat pemadam kebakaran. Dengan kata lain alat pemadam kebakaran ini sangat dibutuhkan oleh manusia dalam memberikan kenyamanan dan keamanan.

RSUD berfungsi sebagai fasilitas umum yang sangat vital, hal ini ditinjau dari yang menempati kebanyakan adalah orang-orang yang sakit. Oleh karena itu perlu diperhatikan dari segi keamanan masalah proteksi kebakaran, khususnya sistem proteksi aktif. Sistem ini sangat perlu diperhatikan dari segi kelengkapan dan kualitas perancangannya sebelum bangunan ini dihuni, untuk itu penelitian ini perlu untuk dilakukan.

Kata kunci: kualitas, sistem proteksi aktif, kebakaran, RSUD Penelitian ini dilakukan hanya sebatas Kualitas Sistem Proteksi Aktif pada RSUD Bangil saja. Variabel Sistem ini mengacu pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Variabel tersebut antara lain sistem deteksi dan alarm kebakaran, sistem pemadam kebakaran manual, sistem pemadam kebakaran otomatis, pengendalian asap kebakaran, instalasi lift kebakaran, pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah, system daya darurat dan pusat pengendali kebakaran. Dari data yang ada, didapatkan hasil kesesuaian sistem proteksi kebakaran aktif pada RSUD Bangil dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Untuk keseluruhan Sistem Proteksi Aktif pada RSUD Bangil Pasuruan yang sudah bisa dikatakan sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan antara lain Sistem Pemadam Kebakaran Manual, Pencahayaan Darurat dan Tanda Penunjuk Arah, dan Sistem Daya Darurat. Sedangkan yang bisa dikatakan kurang sesuai adalah Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis, Pengendalian Asap Kebakaran, Instalasi Lift Kebakaran, Pusat Pengendali Kebakaran Semakin bertambahnya jumlah penduduk, tentu tidak heran jika resiko bahaya kebakaran yang diakibatkan aktivitas manusia semakin tinggi. Untuk mengatasi tingginya resiko kebakaran, perlu diupayakan pencegahan dalam rangka untuk menyadari atau mewaspadai akan faktorfaktor yang menyebabkan munculnya atau terjadinya kebakaran serta mengambil langkahlangkah untuk mencegah kemungkinan kebakaran tersebut menjadi kenyataan.

pemilihan alat bantu komponen. 10/KPTS/2000. Selain itu sistem ini digunakan dalam melaksanakan penanggulangan awal kebakaran. Oleh karena itu perlu diperhatikan dari segi keamanan masalah proteksi kebakaran. serta alat pemadam portabel. Sebagian besar kasus terjadi pada malam hari yaitu 279 kasus dan 220 kasus pada pagi hari (Antara News. Pada Bab I pasal 1 butir 6 Kepmenneg PU no. . Pemahaman berkembang bahwa penanggulangan lebih efektif bila pada bangunan disediakan peralatan pemadam kebakaran termasuk sarana deteksinya. Sebagian orang telah lama menganggap bahwa penaggulangan terhadap bahaya kebakaran adalah urusan petugas pemadam kebakaran.Data dari Dinas Kebakaran DKI Jakarta sepanjang 2007 menunjukkan terjadi 853 kejadian kebakaran di seluruh ibukota. Sistem ini sangat perlu diperhatikan dari segi kelengkapan dan kualitas perancangannya sebelum bangunan ini dihuni. Luas area yang terbakar selama 2007 yaitu 367. Sesuai dengan Bab V butir 2. 162 miliar. 10/KPTS/2000 yang menjelaskan tentang instalasi dan pengoperasian sistem alarm kebakaran otomatis.2 Kepmenneg PU no. untuk itu penelitian ini perlu untuk dilakukan. bangunan berukuran luas. khususnya di bangunan tinggi. Hal ini dikarenakan sebagian besar keutuhan dari gedung itu sendiri. Bangil Kab. Sebagaimana pernyataan diatas. atau dikenal sebagai sistem proteksi aktif ternyata sangat dipengaruhi oleh kualitas perancangan sistem. Sistem alarm juga bertujuan untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran mengidentifikasi titik awal terjadinya kebakaran. digunakan oleh penghuni atau petugas pemadam kebakaran dalam melaksanakan operasi pemadaman. Faktor keamanan dan keselamatan jiwa sangat diperlukan dalam menunjang kelancaran berbagai aktivitas di dunia ini. sprinkler otomatis. RSUD berfungsi sebagai fasilitas umum yang sangat vital. hidran. hal ini ditinjau dari yang menempati kebanyakan adalah orang-orang yang sakit. menjelaskan bahwa sistem proteksi aktif adalah sistem perlindungan terhadap kebakaran yang dilaksanakan dengan mempergunakan peralatan yang dapat bekerja secara otomatis maupun manual. Akibat peristiwa kebakaran itu tercatat korban jiwa 15 orang sementara luka-luka 57 orang. Dengan kata lain alat pemadam kebakaran ini sangat dibutuhkan oleh manusia dalam memberikan kenyamanan dan keamanan. jiwa kita semua dan fasilitas serta peralatan yang ada sangat bergantung dengan alat pemadam kebakaran. Namun pengamatan terhadap kejadian kebakaran menunjukkan bahwa sarana yang ada sering tidak atau kurang berfungsi saat kebakaran terjadi. 2008). dikemukakan bahwa sistem alarm kebakaran otomatis dirancang untuk memberikan peringatan kepada penghuni akan adanya bahaya kebakaran.948 meter persegi dengan kerugian mencapai Rp. serta di bangunan vital. Keandalan sistem proteksi terpasang seperti detektor dan alarm kebakaran. khususnya sistem proteksi aktif. Tanpa adanya alat pemadam kebakaran manusia selalu dibayangi oleh rasa kecemasan. Kita hanya perlu menghubunginya dan menunjukkan lokasi ketika kebakaran terjadi. Pasuruan ini perlu memperhatikan sistem proteksi kebakarannya. maka pembangunan RSUD Bangil Desa Raci Kec. unsur perawatan dan pemeliharaan. sehingga dapat melakukan proteksi dan penyelamatan dalam kondisi darurat. serta ketrampilan tenaga operator. Sejumlah 469 kasus terjadi karena listrik dan 92 kasus karena kompor meledak.

Sistem pemadam kebakaran manual 3. maka akan dianalisis tentang kesesuaiannya dengan Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Sistem proteksi aktif Sub Variabel 1. Analisa tiap variabel dikelompokkan pada tiap ruang yang ada pada RSUD Bangil. Analisa ini dibagi berdasarkan pada variabel yang terdapat pada sistem proteksi aktif dengan mengacu pada Kepmenneg PU no. Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran . Untuk mengetahui kualitas sistem proteksi kebakaran aktif digunakan analisis diskriptif kuantitatif menggunakan metode observasional dengan pengumpulan data berdasarkan variabel yang disusun berdasarkan Kepmenneg PU no. Tabel 1 Gambaran Fokus Penelitian Variabel 1.10/KPTS/2000 mengenai Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.METODE Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis deskriptif. Sistem daya darurat 8. Pusat pengendali kebakaran Sumber: mengacu pada Kepmenneg PU no. Sistem pemadam kebakaran otomatis 4. Pengendalian asap kebakaran 5.10/KPTS/2000. Pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah 7.10/KPS/2000 HASIL Dari data yang didapat mengenai sistem kebakaran aktif pada RSUD Bangil. Data yang telah terkumpul akan dianalisa secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi penanggulangan bahaya kebakaran di RSUD Bangil serta hasilnya akan dibandingkan dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Sistem deteksi kebakaran dan alarm Indikator Jumlah/lantai Jenis alat Ukuran Sistem Penataan Jumlah/lantai Jenis alat Ukuran Sistem Penataan Jumlah/lantai Jenis alat Ukuran Sistem Penataan Jumlah/lantai Jenis alat Ukuran Sistem Penataan Jumlah Jenis alat Ukuran Sistem Penataan Jumlah/lantai Jenis alat Ukuran Sistem Penataan Jumlah daya Jenis alat respon Jumlah Jenis Ukuran Sistem Penataan 2. Hal ini dikarenakan fungsi dari tiap ruang yang berbeda sehingga yang dibutuhkanpun berbeda. Instalasi lift kebakaran 6.

HC624B. 3 LT HC306A. 1. 4 LT. 5 BA.Dalam penelitian ini. 5 LT HC306A. HC624B. Lantai bedah sentral 2 (Sumber: data RSUD Bangil) *) Sistem Terzona yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran skripsi Tabel 4 Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Ruang Rawat Inap 1 No. Posisi Lantai 1 Keterangan Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Di lapangan 49 ROR. 2 FIX HC306A. 5 MBG. HC300L Terzona *) 4 macam 95 ROR. 3 BA. HC-2W. 3 LT HC306A. 8 MBG. 4MBG. Lantai 2 (Sumber: data RSUD Bangil) *) Sistem Terzona yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran skripsi Keterangan:       Rate of Rice = ROR Manual Break Glass = MBG Bel Alarm = BA Lampu Tanda = LT Fixed Temperature Heat Detector = FIX Smoke Detector = SD Tabel 3 Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Ruang UGD No. HC624B. HC-2W. HC624B. 3 MBG. Posisi Lantai 1 Keterangan Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Di lapangan 43 ROR. HC-2W. 2BA. Data mengenai sistem deteksi dan alarm kebakaran antara lain sebagai berikut: Tabel 2 Sistem deteksi dan alarm kebakaran pada ruang poliklinik No. HC-2W. 8 LT HC306A. HC300L Terzona *) 4 macam 62 ROR. HC300L Terzona *) 4 macam tanpa Smoke Detector dan FIX . 3 MBG. 1. 1. HC300L Terzona *) 4 macam 2. HC300L Terzona *) 4 macam 2. HC-2W. Posisi Lantai 1 Keterangan Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Kondisi di lapangan 116 ROR. Data yang diperoleh dari lapangan akan dibandingkan dengan ketentuan yang ada. HC624B. 8 BA. 3 BA.

1. HC202D. Posisi Lantai 1 Keterangan Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Di lapangan 52 ROR. 3 MBG. 1. HC-2W. Lantai 2 Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis 3 Lantai 3 Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Di lapangan 15 ROR. HC300L Terzona *) 6 macam termasuk smoke detector 15 ROR. Lantai 2 Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis 62 ROR. 1 BA. 4BA. HC-2W. HC-2W. 3 LT HC306A. 1MBG. 1LT HC306A.2. HC407A. HC300L Terzona 4 macam tanpa Smoke Detector dan FIX 2. HC300L Terzona *) 5 macam termasuk smoke detector . HC624B. 2 BA. HC-2W. 1 MBG. 3 LT HC306A. 1LT HC306A. HC-2W. HC202D. HC-2W. HC407A. 1BA. 2 LT HC306A. HC300L Terzona *) 5 macam 5 ROR. HC300L Terzona 4 macam tanpa Smoke Detector dan FIX 47 ROR. 2 MBG. 4LT HC306A. 1. Posisi Lantai 1 Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis Keterangan Di lapangan 16 ROR. 1 FIX. 9 FIX. 1SD. HC-2W. 1 MBG. HC407A. HC300L Terzona *) 5 macam tanpa smoke detector (Sumber: data RSUD Bangil) *) Sistem Terzona yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran skripsi Tabel 7 Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Ruang Manajemen No. 4 MBG. 3 BA. HC624B. HC624B. HC624B. 1 FIX. HC300L Terzona *) 4 macam tanpa Smoke Detector dan FIX (Sumber: data RSUD Bangil) *) Sistem Terzona yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran skripsi Tabel 5 Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Ruang Rawat Inap 2 (masih Pending) No. 1BA. 14 SD. HC624B. Lantai 2 (Sumber: data RSUD Bangil) *) Sistem Terzona yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran skripsi Tabel 6 Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran pada Ruang Laundry dan Dapur No. 2 MBG. HC624B. HC624B. 3 BA. Posisi Lantai 1 Keterangan Jumlah Ukuran Sistem penataan Jenis 2. 1LT HC306A.

Jenis Hidran kebakaran gedung yang digunakan pada RSUD Bangil sudah memenuhi standar. Semua hidran yang ada di cat warna merah sesuai dengan peraturan yang ada dan mudah dibuka. Fire Hose yang digunakan pada hidran halaman RSUD Bangil ini adalah yang berukuran 1. Variable Head Nozzle yang digunakan pada RSUD Bangil ini adalah yang berukuran 1.5” sesuai dengan kopling dari unit pemadam kebakaran dan ditempatkan di tempat yang mudah dicapai oleh petugas pemadam kebakaran.5” yaitu batas minimum dalam standar. Hal ini juga sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. APAR ini diletakkan di tempat yang mudah ditemukan. Hal ini juga sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. Semua ukuran disesuaikan pada standar Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan yang ada yaitu minimal 1. Pemeriksaan kelayakan pakai APAR pada RSUD Bangil ini dilakukan setiap 3 bulan sekali oleh petugas pemadam kebakaran setempat. Dari lapangan diperoleh data jumlah hidran dan perletakannya sebagai berikut: Tabel 8 Ruang Poliklinik .5”. antara lain yaitu hidran box model A1 yang dikeluarkan oleh Appron serta kelengkapan didalamnya yang umumnya berukuran 1.5”. Hidran diletakkan di tempat yang dapat terlihat dan terjangkau serta tidak terhalang oleh benda apapun. Hidran valve 10K yang digunakan pada RSUD Bangil ini adalah yang berukuran 1.5”. Dari hasil data yang diperoleh bisa disimpulkan bahwa hidran kebakaran gedung yang terdapat pada RSUD Bangil sudah sesuai dengan standar dalam Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Hose Rack yang digunakan pada RSUD Bangil ini adalah yang berukuran 1. Seperti yang sudah di jelaskan pada Bab IV pada umumnya berukuran 2. antara lain yaituhidran box model C serta perlengkapan di dalamnya dan hidran pilar serta Siamese Connection yang dikeluarkan oleh Appron. Alat pemadam api portabel (APAP) Jenis alat pemadam api portabel yang digunakan pada RSUD Bangil adalah APAR jenis Halotron I tipe EHL 5 dengan berat 5 kg yang dikeluarkan oleh Gunnebo dan sudah diuji oleh petugas pemadam kebakaran setempat. Semua hidran yang ada di cat warna merah sesuai dengan peraturan yang ada dan mudah dibuka.(Sumber: data RSUD Bangil) *) Sistem Terzona yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran skripsi Sistem Pemadam Kebakaran Manual Hidran kebakaran gedung Jumlah hidran kebakaran gedung yang terdapat pada RSUD Bangil ada 11 buah. Hidran diletakkan di tempat yang dapat terlihat dan terjangkau serta tidak terhalang oleh benda apapun. mudah dijangkau. dan mudah diambil dari tempatnya untuk dibawa ke lokasi.5”. Branchpipe With Straight Nozzleyang digunakan pada RSUD Bangil ini adalah yang berukuran 1.5”. Jenis Hidran kebakaran gedung yang digunakan pada RSUD Bangil sudah memenuhi standar.5”. Hidran kebakaran dalam bangunan Jumlah hidran kebakaran dalam gedung yang terdapat pada RSUD Bangil ada 6 buah.

ruang arsip. Posisi Lantai 1 Lantai 2 bedah sentral Keterangan Jumlah Jumlah Di lapangan 1 buah 1 buah (Sumber: data RSUD Bangil) Tabel 10 Ruang Rawat Inap No. Terzona yang dimaksud adalah terbagi atas beberapa daerah atau lingkup atau kawasan pengendalian atau jaringan supaya memudahkan pengontrolannya. 1. peralatan dan proses yang memerlukan jenis bahan pemadam bukan hanya air. 2. 2. Posisi Lantai 1 Lantai 2 Keterangan Jumlah Jumlah Di lapangan 1 buah 1 buah (Sumber: data RSUD Bangil) Tabel 9 Ruang UGD No. Sistem pemadam kebakaran jenis gas dihubungkan dengan sistem deteksi . busa dan bubuk kering. ruang kontrol/elektronik. Sistem pemadam total luapan Sistem ini merupakan sistem pemadam otomatis yang menggunakan bahan khusus. 1. ruang bersih (clean room). 2 Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis Sistem sprinkler otomatis Persyaratan sprinkler untuk bangunan rumah sakit menurut Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan hanya digunakan pada bangunan dengan ketinggian lebih dari dua lantai. Pada RSUD Bangil sendiri terdiri dari dua lantai dan tidak menggunakan sistem sprinklerotomatis karena dalam Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan tidak diharuskan. Posisi Lantai 1 Lantai 2 Keterangan Jumlah Jumlah Di lapangan 1 buah 1 buah (Sumber: data RSUD Bangil) Sistem perletakan hidran dalam bangunan harus terzona dan berjumlah 2 buah/1000 m atau pada setiap lantai dimana ada jalur keluar asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. dan instalasi militer. Sistem ini meliputi antara lain sistem gas. Sistem ini ditujukan untuk memberikan proteksi bagi ruang/bangunan yang berisi bahan. Kebutuhan sistem pemadam khusus ditentukan berdasarkan kebutuhan dan penilaian ahli/instansi berwenang. 1. ruang komputer/ruang magnetik. Ruangan tersebut misalnya ruang komunikasi.No. 2.

Pengendalian Asap Kebakaran Persyaratan pengendalian asap kebakaran juga diatur dalam Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Instalasi Lift Kebakaran Instalasi lift kebakaran juga diatur dalam Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan seperti yang dijelaskan di depan pada Bab. ruang Laundry dan Dapur. atau dioperasikan sebagai bagian dari sistem pengendalian asap terzona sesuai ketentuan pengendalian asap. Pencahayaan Darurat dan Tanda Penunjuk Arah Pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah pada RSUD Bangil berdasarkan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan sudah ada dan lengkap. Dalam RSUD Bangil tidak ditemukan sistem alat pemadam total luapan yang seharusnya ada. Akan tetapi yang memenuhinya hanya pada ruang Manajemen saja. serta ruang Manajemen. sedangkan ruang Rawat Inap dan ruang Laundry dan Dapur tidak menggunakannya akan tetapi pada ruang Laundry dan Dapur sudah digantikan dengan Fixed Temperature Heat Detector. dan bangunan kelas 9a yang daerah perawatan pasiennya ditempatkan di atas level permukaan jalur penyelamatan langsung kearah jalan umum atau ruang terbuka. Tiap belokan dan jalan keluar selalu dijumpai tanda penunjuk arah yang memudahkan pengguna untuk mengetahui dimana dan kemana arah tujuannya. Pada RSUD Bangil. Sistem ini dapat berupa sistem total luapan (total flooding system) dan sistem aplikasi lokal (local application system). sekurang-kurangnya ada satu buah lift kebakaran darurat(emergency lift) yang harus dipasang pada bangunan yang memiliki ketinggian efektif lebih dari 25 m. Untuk penanggulangan saat terjadi kebakaran menurut Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. yang seharusnya menggunakan sistem pengendalian asap adalah pada ruang Rawat Inap.dan alarm kebakaran yang mengaktifkan pelepasan gas pemadam ke ruangan yang diproteksi yang pada umumnya adalah ruang tertutup.II. Untuk bangunan rumah sakit yaitu kelas 9a dijelaskan bahwa dalam daerah perawatan pasien. Sistem pemadam jenis busa menghasilkan air yang dipenuhi busa dan membentuk konsentrasi tertentu yang mampu menghasilkan selimut sekitar api sehingga mencegah masuknya oksigen ke sumber api dan memadamkan api. Sistem Daya Darurat . tiap sistem pengolah udara mekanis yang mensirkulasi udara ke lebih dari satu lokasi yang dibagi berdasarkan kompartemenisasi harus dihentikan pada saat aktifitas detektor asap bekerja. Dari data yang diperoleh di lapangan tidak terdapat lift kebakaran pada RSUD Bangil Pasuruan.

Telefon dengan sambungan langsung .05 m .Panel indikator kebakaran . sistem udara bertekanan pd sisi khusus ruang pengendali Tanda ruang pengendali kebakaran (Sumber: data RSUD Bangil) PEMBAHASAN Pembahasan dalam penelitian ini dapat diringkas secara gambaran umumnya dalam tabel 13. Dlm 7. batasan min tiap lantai. 1 2 3 Keterangan Lokasi Pintu keluar Di lapangan Beda Lantai ± 0.92 m2 & pjg sisi bag. Fixed Temperature Heat detectordan atau Rate of Rice Heat Detector yang dipasang pada seluruh bangunan kecuali yang  ruang sudah ada dan dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.Luas 25.Papan tempel (pin-up board ≥120 cm x 100 cm) . Keterangan Jenis Daya Respon Di lapangan Genset 1000 KPA Otomatis (Sumber: data RSUD Bangil) Pusat Pengendali Kebakaran Dengan mengacu pada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. didapatkan data dari lapangan mengenai pusat pengendali kebakaran yang ada dan ditabelkan pada tabel 12 berikut: Tabel 12 Pusat Pengendali Kebakaran No.Dari data yang diperoleh di lapangan akan dibandingkan dengan standar.3 m2 . Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran  Standar  Jumlah tidak ada Lapangan  Jumlah pada semua Analisa Kurang sesuai Keterangan Ruang rawat inap dan ruang manajemen lantai 1&2 belum terdapat Smoke Detector.Luas lnt bersih 24.Ruang bebas dpn panel ≥1. Ringkasan dalam tabel tersebut antara lain sebagai berikut: Tabel 13 Ringkasan Pembahasan Variabel 1.00 cm 2 pintu Ukuran & sarana . 1.Meja . Data yang diperoleh yaitu seperti tabel 11 berikut: Tabel 11 Sistem Daya Darurat No. Fixed Temperature Heat Detektorpada ruang Laundry dan Dapur serta .5 m 4 5 Ventilasi dan pemasok daya Tanda Ventilasi alami.

tidak terhalang.  Daerah pasien.  Rate of Rice Heat setiap dengan umum serta ruang lain yang membutuhkan. Terdiri kebakaran hidran dari hidran gedung. 2. perawatan ruang yang  asap terzona seperti pd lampiran. diganti heat ruang Rawat Inap tidak .terdapat sprinkler dan smoke derector.  Semua di cat warna merah Sesuai -  dr hidran  Letak terjangkau.  Smoke Detectorpada  ruang Manajemen. Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis 4. Untuk penuh berkas-berkas dan aktivitas. kebakaran  Terdiri kebakaran gedung. Pada ruang Manajemen ada. Kurang sesuai Belum ada sistem total luapan pada ruangan yang membutuhkan  Sistem pemadam total luapan tidak ada.  Sistem pengendalian  Sistem pengendalian Kurang sesuai Belum ada alat pengendali asap pada ruang Laundry dan Dapur serta ruang Rawat Inap asap terzona. hidran kebakaran dalam bangunan.  Sistem ysng digunakan terzona (terkontrol dalam bagian-bagian atau zona tertentu. sedangkan alat pemadam api portabel tidak ada.  Manual Break Glass pada lintasan jalan keluar. ruang Laundry dan Dapur tidak ada tetapi diganti Heat Detector karena diperbolehkan. yang lain tidak di tentukan  Terzona Detectorpada ruang menggunakan type A. alat pemadam api portabel. 3. halaman. tidak terhalang.  Bel Alarm & Lampu Tanda pada setiap ruang.  Bel Alarm & Lampu Tanda untuk peringatan bahaya kebakaran  ROR tipe A. Smoke Detector pada ruang Manajemen lantai 3.  Manual Break Glass ruang perawatan pasien dan jalur keluar tiap daerah menuju ruang pada lintasan jalan keluar setiap ruang.serta ruang Laundry dan Dapur yang bisa detector. Pengendalian Asap Kebakaran   Sistemsprinklerotomatis Sistem pemadam total luapan  Sistem sprinklerotomatis tidak ada. Sistem Pemadam Kebakaran Manual   Di cat warna merah Letak terjangkau.

Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran Dari data analisa pada Bab V didapatkan bahwa sistem deteksi dan alarm kebakaran pada RSUD Bangil masih kurang sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. penghuni/pasien memudahkan pengaturan proses evakuasi. c. Pencahayaan Darurat dan Tanda Penunjuk Arah  Harus ada pencahayaan dan tanda penunjuk arah untuk memudahkan dan  Adapencahayaan dan Sesuai tanda penunjuk arah pada setiap menuju koridor. Hal ini dikarenakan pada ruang Rawat Inap dan ruang Manajemen lantai 1 dan 2 belum ada Smoke Detector yang seharusnya ada. Generator.ada. Hal ini karena masih belum ada sistem . sistem udara bertekan pd sisi khusus ruang pengendali    Beda lantai ≤ 30 cm 2 pintu keluar Perlengkapan kurang ruang Kurang sesuai Sarana yang ada belum lengkap  Ventilasi sistem kurang. Sistem Daya Darurat 8. Sistem Pemadam Kebakaran Manual Dari data analisa pada Bab V didapatkan bahwa sistem pemadam kebakaran manual RSUD Bangil sudah bisa dikatakan sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.  Genset/generator 1000 KVA Sesuai 7. loby. 5. belokan dan setiap arah jalan keluar. b. ruang jalan besar. 6. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan pembahasan hasil dan analisa data penelitian dapat disimpulkan bahwa: a.dll     Beda lantai ≤ 30 cm 2 pintu keluar Perlengkapan ruang Ventilasi alami. alami dan udara bertekan  Tanda ruang pengendali kebakaran  Tanda ruang pengendali kebakaran ada. Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis Dari data analisa pada Bab V didapatkan bahwa sistem pemadam kebakaran otomatis pada RSUD Bangil masih kurang sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Instalasi Lift Kebakaran  Harus ada  Tidak Kebakaran ada Lift Tidak sesuai Seharusnya disediakan Lift Kebakaran pada bangunan kelas 9a yang melayani perawatan pasien. Pusat Pengendali Kebakaran  Baterai.

Pengendalian Asap Kebakaran Dari data analisa pada Bab V didapatkan bahwa pengendalian asap kebakaran pada RSUD Bangil masih kurang sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Pengendalian Asap Kebakaran. e. Sedangkan yang bisa dikatakan kurang sesuai adalah Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis. Adapun saran-saran tersebut adalah: a. Hal ini dikarenakan masih belum lengkapnya sarana yang harus tersedia. Saran Berdasarkan pada hasil penelitian ini terdapat beberapa saran yang nantinya diharapkan dapat menjadi masukan guna meningkatkan kualitas Sistem Proteksi Aktif pada RSUD Bangil Pasuruan. Hal ini karena masih belum ada alat pengendali asap pada ruang Laundry dan Dapur serta ruang Rawat Inap. total luapan pada ruangan-ruangan yang membutuhkan seperti ruang komputer/ruang magnetik. h. Pencahayaan Darurat dan Tanda Penunjuk Arah Dari data analisa pada Bab V didapatkan bahwa Pencahayaan Darurat dan Tanda Penunjuk Arah pada RSUD Bangil sudah bisa dikatakan sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. diharapkan dan sebaiknya melengkapi dan meningkatan . Pusat Pengendali Kebakaran. Hal ini dikarenakan masih belum ada instalasi lift kebakaran pada RSUD Bangil. j. dan Sistem Daya Darurat. g. Sistem Daya Darurat Dari data analisa pada Bab V didapatkan bahwa Sistem Daya Darurat pada RSUD Bangil sudah bisa dikatakan sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Dari keseluruhan kesimpulan di atas diperoleh kesimpulan akhir bahwa kualitas Sistem Proteksi Aktif pada RSUD Bangil Pasuruan dapat dikatakan belum sepenuhnya sesuai dengan standar Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Pencahayaan Darurat dan Tanda Penunjuk Arah. ruang kontrol/elektronik dan ruang bersih (clean room). Instalasi Lift Kebakaran Dari data analisa pada Bab V didapatkan bahwa Instalasi Lift Kebakaran pada RSUD Bangil masih tidak sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Bagi pihak yang berwenang menangani semua yang berhubungan dengan Sistem Proteksi Kebakaran RSUD Bangil Pasuruan. dan yang tidak sesuai adalah Instalasi Lift Kebakaran. f. Untuk keseluruhan Sistem Proteksi Aktif pada RSUD Bangil Pasuruan yang sudah bisa dikatakan sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan antara lain Sistem Pemadam Kebakaran Manual.d. ruang arsip. i. Pusat Pengendali Kebakaran Dari data analisa diatas didapatkan bahwa Pusat Pengendali Kebakaran pada RSUD Bangil masih kurang sesuai dengan Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

Kesiapan Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran Bangunan Gedung di Lingkungan Universitas Negeri Malang. Dengan demikian diharapkan resiko terhadap bahaya kebakaran dapat dihindari dan diantisipasi. Pemadam Kebakaran. ruang arsip. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum. Instalasi Lift Kebakaran. Agar penelitian ini lebih sempurna. Alat-alat Pencegahan atau Penanganan Resiko Kebakaran.go. Pengendalian Asap Kebakaran pada ruang Laundry dan Dapur serta ruang Rawat Inap.com.id. Antara.go. serta sarana Pusat Pengendali Kebakaran. Kab-Pasuruan. diakses 15 Maret 2008). (htpp//www. diakses 12 April 2008). Sekilas tentang Alat Pemadam Kebakaran Otomatis. diakses 09 Maret 2008). 2008. (Online). Arikunto. F. b. DAFTAR RUJUKAN Adhianto. Jakarta: P2LPTK Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti. Sudarsono. Com. c. Satriyo. H. Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor: 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Gedung dan Lingkungan. 1998. Antara News. sehingga didapatkan data dan hasil yang lebih lengkap dan nantinya diharapkan dapat dijadikan dasar oleh pihak berwenang untuk lebih meningkatkan kualitas Sistem Proteksi Aktif terhadap bahaya kebakaran gedung. Malang: Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang. diakses 09 Maret 2008). Skripsi tidak diterbitkan. 2007. & Rahayu T. Rineka Cipta. ruang kontrol/elektronik dan ruang bersih (clean room).id. (Online). . (Online). (Online). Edisi Kelima. Analisis Data.kualitas Sistem Proteksi Aktif terutama pada Sistem Pemadam Kebakaran Otomatis pada ruang komputer/ruang magnetik. (htpp//www. Bagi kalangan akademis yang ingin melakukan penelitian mengenai kualitas Sistem Proteksi Aktif. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (htpp//www. S. Aris. 2007. 2006. X. Fasilitas Daerah Kabupaten Pasuruan. 2000. 2002. diharapkan sebagai bahan pertimbangan peningkatan kualitas Sistem Proteksi Aktif terhadap bahaya kebakaran gedung di Indonesia khususnya bagi gedung yang berkaitan erat dengan aktivitas banyak orang seperti halnya rumah sakit. DKI Kembangkan Sistem Penanggulangan Kebakaran Permukiman Padat. buletinlitbang@dephan. 2006. kepada para peneliti disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang kualitas Sistem Proteksi Aktif terhadap bahaya kebakaran gedung salah satunya bangunan rumah sakit. (htpp//www. Wicaksono. (bagian 2). Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Jakarta: PT.

ion. . · Terwujudnya kesiapan. · Penerapan sistem proteksi kebakaran yang memenuhi standar dan memiliki nilai keandalan sistem keselamatan bangunan yang baik 3.asap. TUJUAN · Tujuan proteksi kebakaran yaitu mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran dalam rangka menjaga keselamatan jiwa manusia dan harta benda di suatu bangunan gedung.Selasa. FUNGSI Meningkatkan aplikasi teknis yang benar bagi pihak manajemen bangunan bangunan dalam penerapan sistem proteksi kebakaran sesuai dengan standar SNI misalnya SNI 03-1756-1989. kesiagaan dan keberdyaan masyarakat serta pengelola bangunan serta dinas terkait dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran.atau nyala api. 06 Juli 2010 PROTEKSI KEBAKARAN PADA BANGUNAN Peristiwa kebakaran yang menyebabkan kerugian besar 1. JENIS-JENIS SISTEM DAN ALAT PROTEKSI KEBAKARAN A. 2. Sistem isyarat pencegahan dini Sistim ini dimaksudkan sebagai pendeteksi awal kebakaran dengan memberikan alarm disekitar alat deteksi ditemukan kelebihan temperatur/panas.

Karena yang di diteksi adala ion (asap dan api belum terlihat)maka alat ini sangat sensitif.a. ada juga produsen flame detector yang menambah kapabilitas flame detector-nya dengan cara mendeteksi frekuensi/flicker (goyangan) yg diemisikan oleh api. Pada prinsipnya api bisa dideteksi oleh eberadaan spektrum cahaya infra red maupun ultra violet. welding arc. reactor. c. Detektor panas (Flame detector) Flame detector digunakan untuk mendeteksi keberadaan api.berisi saklar tarik atau tuas/handel untuk menyembunyikan alarm.sebelum nyala api terlihat . Setahu saya.sebab bila terkintaminasi alat ini dapat mengirim sinyal palsu.kemudian terlihat asap dan baru terlihat nyala api.lebih peka dibanding detektor asap maupun api. dll. Sayangnya. dimana frekuensinya akan berbeda dengan sumber panas lain seperti nyala api las ataupun kilatan petir (teknik ini kalo ga salah namanya TDSA atau Time Domain Signal Analyzer).Alat ini merupakan kotk tertutup .Kepekaan ini menuntut pemeliharaan yang rutin . seperti kilatan petir. Detekto Manual Sesungguhnya alat ini pasif dan sukar disebut sebagai detektor . metal grinding. yang mana sumber2 ini ternyata mempengaruhi kinerja flame detector yang akan menimbulkan alarm palsu.Detektor asap ini ideal untuk ditempatkan di ruang ruang yang .pada awalnya bila suatu benda terbakar ia mengeluarkan ion-ion . Deteksor Asap Asap merupakan tahap kedua dari pembakaran . hot turbine.karena bertindak sebagai detektor adalah manusia. Untuk mencegah alarm palsu. d. kayaknya sih hanya mereka dan Tuhan yang tahu database-nya kayak apa hehehe. bukan panas (namanya juga "flame detector"). Produk ini sudah mempunyai database frekuensi api dan diembed kedalam detektornya. biasanya orang nyebutnya UV/IR Flame Detector.karena itu disebut juga sebagai pull station. produk flame detector dewasa ini menggunakan kombinasi antara pendeteksian gelombang infra red maupun ultra violet supaya tidak terjadi false alarm. Detektor Ion Api membesar secara bertahap. ada sumber2 cahaya lain yg ternyata bukan api dan mereka turut menyumbang emisi cahaya pada gelombang infra red ataupun ultra violet. b.Asap yang dapat dilihat ini di ditesi dengan detektor fotoelektrik.

4. PERHITUNGAN Contoh perhitungan kebutuhan CO2 : Suatu ruangankamar mesin yang mempunyai volume 150 m3direncanakan akan dipasang pemadam CO2 sistem otomatis.8 kg = 48 kg . Detektor nyala api(flame detector) Merupakan detektor khusus .menggunakan bahan. e.nyala api terlihat dahulu sebelum asap.penyimpanan barang yang dicurgai akan menimbulkan banyak asap bila terbakar. Berapa banyak CO2 yang diperlukan agar keamanan ruanganm itu aman dari bahaya kebakaran ? Jawab : Volume CO2 yang diperlukan = 40 % x 150 m3 = 60 m3 Jumlah CO2 = 60 x 0.alat.bahkan seringkali asap terjadi sangat sedikit.Pada kasus kebakaran bahan-bahan tertentu seperti bensin atau bahan bakar lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful