Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sejumlah pengamat Barat memandang al-Quran sebagai suatu kitab yang sulit dipahami dan diapresiasi. Bahasa, gaya, dan aransemen kitab ini pada umumnya menimbulkan masalah khusus bagi mereka. Sekalipun bahasa Arab yang digunakan dapat dipahami, terdapat bagian-bagian di dalamnya yang sulit dipahami. Kaum Muslim sendiri untuk memahaminya, membutuhkan banyak kitab Tafsir dan Ulum al-Quran. Sekalipun demikian, masih diakui bahwa berbagai kitab itu masih menyisakan persoalan terkait dengan belum semuanya mampu mengungkap rahasia al-Quran dengan sempurna.1 Sebagai seorang Muslim kita memiliki ikatan yang kuat dengan nilainilai imani al-Quran. Dalam pada itu, tidak mudah begitu saja memisahkan diri dengan nilai tersebut. Mempelajari al-Quran bagi seorang muslim tidak hanya semata-mata mencari kebenaran ilmiah, namun lebih dari itu yakni mencari isi kandungan dari rahasia al-Quran. Jika ayat-ayat al-Quran itu diperhatikan sepintas lalu terkesan seperti tidak ada korelasi satu dengan yang lain, baik dengan yang sebelum maupun dengan yang sesudahnya, karena ayat-ayat tersebut tampak seolah-olah terputus atau terpisah. Tetapi bila diamati secara seksama akan nampak jelas adanya munasabah (korelasi) yang erat antara yang satu dengan lainnya. Berikut dikemukakan dasar-dasar pemikiran dalam kaitannya dengan itu.2 Ilmu Munasabah (ilmu tentang keterkaitan antara satu surat/ayat dengan surat/ayat lain) merupakan bagian dari Ulum al-Quran. Ilmu ini posisinya cukup urgen dalam rangka menjadikan keseluruhan ayat al-Quran sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Ilmu munasabah yang merupakan bagian dari telaah tentang al-Quran, memiliki peranan penting dalam usaha pencarian makna kebenaran yang tidak lepas dari usaha pembuktian
1

W. Montgomery Watt, Pengantar Studi al-Quran, Terj. Taufiq Adnan Amal, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995), xi. Usman, Ulumul Quran, (Yogyakarta : Teras, 2009), 164.

keagungan al-Quran. Teori munasabah ini asal muasalnya diperkenalkan oleh seorang ulama terkenal pada zamanya yaitu al-Imam Abu Bakar anNaisaburi atau ada yang mengatakan Abu Bakar Abdullah ibn Muhammad Ziyad an-Naisaburi. Lahirnya pengetahuan tentang teori Munasabah (korelasi) ini tampaknya berawal dari kenyataan bahwa sistematika Al-Quran sebagaiman terdapat dalam Mushaf Usmani sekarang tidak berdasarkan atas fakta kronologis turunnya. Sehubungan dengan ini, ulama salaf berbeda pendapat tentang urutan surat di dalam Al-Quran.3 Namun pada itu, kita tidak bisa pungkiri bahwa teori munasabah ini merupakan ranah ijtihad bersifat ijtihadi. Hingga kita akan menemukan beberapa bagian yang saling berkaitan sama lainya. Seperti yang di ungkapkan Rahmat Syafii, bahwa teori munasabah ijtihadi ini memiliki gejala gejala yang terdapat dalam munasabah itu sendiri seperti : hubungan logis yang dapat diterima dan hubungan logis bagi masing-masing ahli. Beliau menambahkan yang pada akhirnya timbul dua aliran antara yang mengatakan semua surat memiliki hubungan dan tidak semua surat memiliki hubungan...4 B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut : 1. Apakah pengertian Munasabah? 2. Bagaimanakah Asumsi Dasar atau Postulat mengenai Munasabah? 3. Bagaimanakah Metode Penemuan Munasabah? 4. Berapa macam pembagian Munasabah? 5. Bagaimanakah Penerapan Munasabah dalam Penafsiran Al-Quran? 6. Apakah Hikmah Mempelajari Munasabah?

3 4

Rosihan Anwar, Ulum Al-Quran, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), 81. Rahmat Syafii, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung : Pustaka Setia, 2006), 36.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Munasabah Kata Munasabah secara etimologi, menurut asy-Suyuthi berarti alMusyakalah (keserupaan) dan muqarabah (kedekatan).5 kata "munsabah" sering dipakai dalam tiga pengertian. Pertama, Kata ini dipakai dengan makna "musykalah atau muqrabah (dekat)". Jika dikatakan fuln yunsibu fulnan, maka hal itu berarti yuqribu minhu wa yusykiluhu (proses dekat atau hampirnya seseorang kepada orang lain). Kata munasbah juga diartikan dengan "al-nasb" (kerabat atau sanak keluarga).6 Secara terminologis, pengertian Munasabah dapat diartikan sebagai berikut menurut berbagai tokoh, yaitu: 1. Menurut Az-Zarkasyi, adalah :

.
Artinya : Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami, tatkala dihadapkan kepada akal, akal itu pasti menerimanya.

2. Menurut Ibn Al-Arabi :

,
Artinya : Munasabah adalah keterikatan ayat-ayat Al-Quran sehingga seolaholah merupakan suatu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.

3. Menurut Manna Khalil Qattan :

5 6

Ashim W. al-Hafizh, Kamus Ilmu Al-Quran, (Bandung : Pustaka Amzah, 2005), 197. Badruddin Muhammad ibn Abdillah az-Zarkasyiy, al-Burhan f Ulumil-Quran, (Beirut : Darul-Kutubil-Ilmiyyah, 1988), 61.

.
Artinya : Munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan dalam satu ayat, atau antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat didalam Al-Quran. 4. Menurut Al-Biqai, yaitu : Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Quran, baik ayat dengan ayat, atau surat dengan surat. Jadi, dalam konteks Ulum Al-Quran, Munasabah berarti

menjelaskan korelasi makna antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasional (aqli), persepsi (hassiy), atau imajinatif (khayali) ; atau korelasi berupa sebab akibat, illat dan malul, perbandingan, dan perlawanan.7 Munasabah didefinisikan juga sebagai ilmu yang membahas hikmah korelasi urutan ayat al-Quran atau dalam redaksi yang lain, dapat dikatakan, munasabah adalah usaha pemikiran manusia dalam menggali rahasia hubungan antar ayat dengan ayat dan atau surah dengan surah yang dapat diterima oleh rasio. Dengan demikian ilmu ini diharapkan dapat menyingkap rahasia Illahi, sekaligus sanggahanNya terhadap mereka yang meragukan keberadaan al-Quran sebagai wahyu. Rumusan lain yang mengatakan bahwa, munasabah adalah ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat dengan ayat dan atau antara surah dengan surah yang lain, sehingga dapat diketahui alasan-alasan penertiban dari ayat-ayat dan atau surah-surah dalam al-Quran tersebut.8 Atas dasar itulah sebagaimana telah dikemukakan di atas ilmu ini berupaya menjelaskan segi-segi korelasi antar ayat-ayat dan atau surah-surah dalam al-Quran, baik korelasi itu berupa ikatan antara yang aim (umum)
7 8

Rosihan Anwar, Mutiara Ilmu-Ilmu Quran (Bandung : Pustaka Setia, 1999), hal. 305 Abdul Djalal, Ulumul Quran, (Surabaya : Dunia Islam, 1998), 154.

dengan khash (khusus), antara yang abstrak dengan yang kongkrit, antara sebab dan akibat, antara illat dengan malulnya, antara yang rasional dengan irrasional, atau bahkan antara dua hal yang kontradiktif.9 Dengan demikian, pengertian munasabah itu tidak hanya terbatas dalam arti yang sejajar dan parallel saja, tetapi juga kontradiksipun termasuk di dalam ruang lingkup munasabah. Misalnya ketika al-Quran menerangkan hal ihwal orang-orang mukmin kemudian diiringi dengan penjelasan mengenai orang-orang kafir dan yang semacamnya. Sebab sebagian dari ayatayat dan atau surah-surah dalam al-Quran itu kadang-kadang merupakan takhshih terhadap ayat-ayat lain yang bersifat umum. Selain itu, juga kadangkadang ayat-ayat tersebut juga berfungsi mengkongkritkan hal-hal yang kelihatannya dianggap abstrak. Sebagaimana juga ayat-ayat itu memiliki korelasi satu dengan yang lainnya karena menerangkan sebab dari sesuatu akibat. Misalnya, kebahagiaan yang diperoleh bagi setiap orang beramal saleh atau sebaliknya, kesengsaraan bagi mereka yang melanggar ketentuanketentuan Allah dan seterusnya.10 B. Postulat/Asumsi Dasar Munasabah Jika ilmu tentang asbab al-nuzul mengaitkan satu ayat atau sejumlah ayat dengan konteks historisnya, maka ilm munsabah melampaui kronologi historis dalam bagian-bagian teks untuk mencari sisi kaitan antar ayat dan surat menurut urutan teks, yaitu yang disebut dengan urutan pembacaan sebagai lawan dari urutan turunnya ayat.11 Jumhur ulama telah sepakat bahwa urutan ayat dalam satu surat merupakan urutan-urutan tauqifi, yaitu urutan yang sudah ditentukan oleh Rasulullah sebagai penerima wahyu. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang urutan-urutan surat dalam mushaf.12 Nasr Hamid Abu Zaid, wakil dari ulama kontemporer, berpendapat bahwa urutan-urutan surat dalam mushaf sebagai tauqifi, karena menurut dia,
9

Ibid. Usman, Ulumul Quran, 163-164. 11 Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Quran : Ktitik Terhadap Ulumul Quran, (Yogyakarta : LkiS, 2001), 213. 12 Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi al-Ulum al-Quran, (Damaskus : Dar al-Fikr, 1979), 60-63.
10

pemahaman seperti itu sesuai dengan konsep wujud teks imanen yang sudah ada di lauh mahfudz. Perbedaan antara urutan turun dan urutan pembacaan merupakan perbedaan yang terjadi dalam susunan dan penyusunan yang pada gilirannya dapat mengungkapkan persesuaian antar ayat dalam satu surat, dan antar surat yang berbeda, sebagai usaha menyingkapkan sisi lain dari Ijaz.13 Secara sepintas jika diamati urut-urutan teks dalam al-Quran mengesankan al-Quran memberikan informasi yang tidak sistematis dan melompat-lompat. Satu sisi realitas teks ini menyulitkan pembacaan secara utuh dan memuaskan, tetapi sebagaimana telah disinggung oleh Abu Zaid, realitas teks itu menujukkan stalistika (retorika bahasa) yang merupakan bagian dari Ijaz al-Quran, aspek kesusasteraan dan gaya bahasa. Maka dalam konteks pembacaan secara holistik pesan spiritual al-Quran, salah satu instrumen teoritiknya adalah dengan ilm munsabah. Keseluruhan teks dalam al-Quran, sebagaimana juga telah disinggung di muka, merupakan kesatuan struktural yang bagian-bagiannya saling terkait. Keseluruhan teks al-Quran menghasilkan weltanschauung (pandangan dunia) yang pasti. Dari sinilah umat Islam dapat memfungsikan al-Quran sebagai kitab petunjuk (hudan) yang betul-betul mencerahkan (enlighten) dan mencerdaskan (educate).14 Dari sisi ini, maka yang bernilai mutlak dalam al-Quran adalah prinsip-prinsip umumnya (ushul al-kulliyah) bukan bagian-bagiannya secara ad hoc. Bagian-bagian ad hoc al-Quran adalah respon spontanitasnya atas realitas historis yang tidak bisa langsung diambil sebagai problem solving atas masalah-masalah kekinian. Tetapi bagian-bagian itu harus direkonstruksi kembali dengan mempertautkan antara satu dengan yang lain, lalu diambil inti syarinya (hikmah at-tasyri) sebagai pedoman normatif (idea moral), dan idea moral al-Quran kemudian dikontektualisasikan untuk menjawab problem-problem kekinian.

13 14

Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Quran : Ktitik Terhadap Ulumul Quran, 213-214. Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas : Tentang Transformasi Intelektual, Terj. Ahsin Mohammad, (Bandung : Penerbit Pustaka, 1995), 2-3.

Tentu untuk melakukan pembacaan holistik terhadap al-Quran tersebut membutuhkan metodologi dan pendekatan yang memadai. Metodologi dan pendekatan yang telah dipakai oleh para mufassir klasik menyisakan masalah penafsiran, yaitu belum bisa menyuguhkan pemahaman utuh, komprehensif, dan holistik. Ilm munsabah sebenarnya memberi langkah strategis untuk melakukan pembacaan dengan cara baru (al-qiraah al-muashirah) asalkan metode yang digunakan untuk melakukan perajutan antar surat dan antar ayat adalah tepat. Untuk itu perlu dipikirkan penggunaan metode dan pendekatan hermeneutika dan antropologi filologis dalam ilm munsabah.15 C. Metode Penemuan Munasabah Diantara hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam konteks mencari tau munasabah adalah : 1) Mengetahui susunan kalimat dan mananya Terlebih dahulu mencari tahu ada tidaknya atfiyyah (persambungan) yang mengaitkannya dan adakah satu bagian merupakan taqwiyyah (penguat), tabyin (penjelas), atau sebagai tabdil (pengganti) bagi ayat yang lain, seperti yang terlihat dalam surat al-Hadid ayat 3 : Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan dan Dia yang Bathin Maha mengetahui segala sesuatu. Disini terdapat harful athfiyya (huruf sambung) sebanyak 4 kali sebagai taqwiyyah (penguat) eksistensi Allah. 2) Mengetahui asbabun nuzul. Dalam arti mengetahui sebab-sebab turunnya satu tema peristiwa dalam sebuah surat dengan tema yang sama pada surat yang lainnya. Dan kesamaan tema peristiwa bisa kita ketahui dari latar belakang turunnya suatu ayat.
15

Anjar Nugroho, Ilmu Munasabah Al-Quran, baca online http://hapidzcs.blogspot.com/2011/05/ilmu-munasabah-al-quran.html, diakses tanggal 03 Oktober 2011.

3) Mengetahui tema yang dibicarakan Ukuran wajar tidaknya korelasi antar ayat dan antar surat dapat diketahui dari tingkat kemiripan atau kesamaan maudu (tema) itu sendiri. Jika antar ayat atau surat dengan ayat atau surat lainya terdapat persesuaian serta memiliki keterkaitan sama lainya, maka persesuaian itu masuk akal dan dapat diterima. Tetapi, kalau demikian itu berbeda, maka sudah tentu tidak ada munasabah antara ayat-ayat dan surat-surat itu.16 D. Macam-macam Munasabah Untuk lebih memperjelas pembahasan mengenai munasabah, perlu dikemukakan macam-macamnya baik dilihat dari sifat-sifatnya maupun dari segi materinya. Munasabah dari segi sifat-sifatnya dapat dipilah menjadi dua, yaitu : Zhahir al-irtibath (korelasi yang transparan) dan Khofiyyu al-irtibath (korelasi yang terselubung). 1. Zhahir al-irtibath (Korelasi yang transparan), yaitu : korelasi atau persesuaian antara bagian atau ayat al-Quran yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat. Karena begitu kuatnya kaitan antara keduanya, sehingga yang satu tidak dapat menjadi kalimat yang sempurna jika dipisahkan dengan kalimat yang lain.17 Diantara ayat-ayat itu kadangkadang menjadi penguat, penafsir, penyambung, penjelasan, pengecualian atau bahkan pembatasan dari ayat yang lain. Sehingga ayatayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang utuh. Diantara contoh yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan itu adalah untaian firman Allah sebagai berikut :


16

Ichwan Ash-Shofa, Teori Munasabah dalam AL-Quran:Analitik Aplikatif, baca online http://ichwanushshofa.blogspot.com/2010/11/teiri-munasabah-dalam-al-qurananalitik.html, diakses tanggal 03 Oktober 2011. 17 Abdul Djalal, Ulumul Quran, 155-156.


Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ayat di atas menjelaskan mengenai Nabi Muhammad Saw yang diisrakan oleh Allah SWT. Selanjutnya, ayat berikutnya dari surah alIsra yang berbunyi :


Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain aku, Ayat ini menerangkan mengenai diturunkannya al-Kitab (Taurat) kepada Nabi Musa a.s. Persesuaian atau korelasi antara ayat pertama dengan ayat kedua tersebut tampak jelas dalam hal diutusnya kedua orang Nabi dan Rasul tersebut. 2. Khofiyyu al-irtibath (Korelasi yang bersifat terselubung), yaitu korelasi antara bagian atau ayat al-Quran yang tidak tampak secara jelas, seakanakan masing-masing ayat atau surah itu berdiri sendiri-sendiri baik karena ayat yang satu diathafkan kepada yang lain, atau karena yang satu seakan-akan tampak bertentangan dengan yang lain. Korelasi seperti ini antara lain dapat disimak pada ayat 189 surah al-Baqarah dengan ayat 190 dalam surah yang sama berikut ini :

.......
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.... Ayat ini menerangkan tentang bulan tsabit yang merupakan tanggal-tanggal sebagai tanda-tanda waktu dan untuk jadwal bagi pelaksanaan ibadah haji. Sedangkan ayat 190 yang mengiringinya dalam surah yang sama berbunyi :


Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Ayat tersebut menjelaskan perintah menyerang kepada orangorang yang menyerang umat Islam. Sepintas lalu, antara kedua ayat di atas nampak seakan-akan tidak memiliki korelasi. Padahal sebenarnya terdapat kaitan yang sangat erat antara keduanya. Ayat 189 surah AlBaqarah di atas berbicara mengenai soal waktu untuk melaksanakan ibadah haji, sedangkan ayat 190 berikutnya dalam surat yang sama, pada dasarnya saat haji itu umat Islam dilarang menumpahkan darah (berperang), tetapi jika mereka diserang terlebih dahulu oleh musuh, maka serangan-serangan musuh tersebut harus dibalas walau pada musin haji.18 Munasabah dari segi materinya terbagi menjadi sebagai berikut, yaitu:
18

Mashuri Sirodjuddin Iqbal & A. Fudlali, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung : Angkasa, 1989), 277.

10

1.

Munasabah antar ayat dalam al-Quran yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Di atas telah dikemukakan, bahwa letak munasabah antara satu ayat dengan ayat yang lain, kadang-kadang terlihat jelas dan kadangkadang tidak tampak jelas, hingga tidak mudah untuk dicari. Dalam hal yang demikian itu, ukuran yang digunakan untuk mencari munasabah adalah dengan melihat sisi hubungan (athaf) baik langsung atau tidak langsung.19 Munasabah ini bisa berbentuk persambungan-persambungan, sebagai berikut: a) Diathafkannya ayat yang satu kapada ayat yang lain, seperti munasabah antara ayat 103 surah Ali-Imran:

.......
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, (QS. Ali-Imran : 103) Dengan ayat 102 surah Ali-Imran:


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali-Imran : 102) Faedah dari munasabah dengan athaf ini ialah untuk menjadikan dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama (AnNadziiraini). Ayat 102 surah Ali-Imran menyuruh bertaqwa dan ayat 103 surah Ali-Imran menyuruh berpegang teguh kepada agama Allah, dua hal yang sama.

19

Badruddin al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Quran, 40.

11

b) Tidak diathafkannya ayat yang satu kepada yang lain, seperti munasabah antara ayat 11 surah ali-Imran :

......
(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orangorang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; (QS. Ali-Imran : 11) Dengan ayat 10 surah Ali-Imran :


Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka, (QS. Ali-Imran : 10) Dalam munasabah ini, tampak hubungan yang kuat antara ayat yang kedua (ayat 11 surah Ali-Imran) dengan ayat yang sebelumnya (ayat 10 surah Ali-Imran), sehingga ayat 11 surah Ali-Imran itu dianggap sebagai bagian kelanjutan dari ayat 10 surah Ali-Imran. c) Digabungkannya dua hal yang sama, seperti persambungan antara ayat 5 surah Al-Anfal:


Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, (QS. Al-Anfal : 5) 12

Dengan ayat 4 surah Al-Anfal:


Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal : 4) Kedua ayat itu sama-sama menerangkan tentang kebenaran. Ayat 5 surah Al-Anfal itu menerangkan kebenaran bahwa Nabi diperintah hijrah dan ayat 4 surah Al-Anfal tersebut menerangkan kebenaran status mereka sebagai kaum mukminin. d) Dikumpulkannya dua hal yang kontradiksi (Al-Mutashaddatu). Seperti dikumpulkan ayat 95 surah Al-Araf :

......


Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun Telah merasai penderitaan dan kesenangan", (QS. Al-Araf : 95) Dengan ayat 94 surah Al-Araf:


13


Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. (QS. Al-Araf : 94) Ayat 94 surah Al-Araf tersebut menerangkan ditimpakannya kesempitan dan penderitaan kepada penduduk, tetapi ayat 95 surah AlAraf menjelaskan kesusahan dan kesempitan itu diganti dengan kesenangan. e) Dipindahkannya satu pembicaraan ayat 55 surah Shaad :

Beginilah (keadaan mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (QS. Shaad : 55) Dialihkan pembicaraan kepada nasib orang-orang yang durhaka yang benar-benar akan kembali ke tempat yang buruk sekali, dan pembicaraan ayat 54 surah Shaad yang membicarakan rezeki dari para ahli surga :


Sesungguhnya Ini adalah benar-benar rezki dari kami yang tiada habis-habisnya. (QS. Shaad : 54)20 2. Munasabah antar surah, yaitu munasabah antara surah yang satu dengan surah yang lain. Munasabah ini ada beberapa bentuk, sebagai berikut: a) Munasabah antara dua surah dalam soal materinya, yaitu materi surah yang satu dengan materi surah yang lain. Contohnya, seperti surah kedua Al-Baqarah sama dengan isi surah yang pertama Al-Fatihah. Keduanya sama-sama menerangkan kandungan Al-Quran, yaitu masalah akidah, ibadah, muamalah, kisah
20

Usman, Ulumul Quran, 180-186.

14

dan janji serta ancaman. Dalam surah Al-Fatihah semua itu diterangkan secara ringkas, sedang dalam surah Al-Baqarah dijelaskan dan dirinci secara panjang lebar. b) Persesuaian antara permulaan surah dengan penutupan surah sebelumnya. Sebab semua pembukaan surah itu erat sekali kaitannya dengan akhiran dari surah sebelumnya, sekalipun sudah dipisah dengan basmalah. Contohnya, seperti awalan dari surah Al-Anam yang berbunyi:

....
Segala puji bagi Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi.... (QS. Al-Anam : 1) Awalan surah Al-Anam tersebut sesuai dengan akhiran surah Al-Maidah yang berbunyi :


Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. AlMaidah : 120) c) Munasabah terjadi pula antara awal surah dengan akhir surah. Contohnya ialah apa yang terdapat dalam surah Qasas. Surah ini dimulai dengan menceritakan Musa, menjelaskan langkah awal dan pertolongan yang diperolehnya; kemudian menceritakan perlakuannya ketika ia mendapatkan dua orang laki-laki sedang berkelahi. Allah mengisahkan doa Musa:


15

Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi nikmat yang Telah Engkau anugerah- kan kepadaku, Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa". (QS. al-Qasas :17) Kemudian surah ini diakhiri dengan menghibur Rasul bahwa ia akan keluar dari Mekah dan dijanjikan akan kembali lagi ke Mekah serta melarangnya menjadi penolong bagi orang-orang yang kafir :


Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukumhukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata. Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) Karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. (QS. al-Qasas : 85-86).21 3. Munasabah antara nama surat dengan kandungannya Nama-nama surat yang ada di dalam al-Quran memiliki kaitan dengan pembahasan yang ada pada isi surat. Contohnya adalah Surat alFatihah disebut juga umm al-kitab karena memuat berbagai tujuan alQuran. 4. Munasabah antara Penutup Ayat dengan Isi Ayat Munasabah di sini bisa bertujuan :
21

MannaAl-Qathathan, Mabahits fi Ulum al-Quran, Terj. Mudzakir (Beirut : Al-Syarikah alMuttahid li al-Tauzi, 1973), 144.

16

a) Tamkin (peneguhan). Misalnya:


Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Ahzab : 25) Sekiranya ayat ini terhenti pada, Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari perperangan, niscaya maknanya bisa dipahami orang-orang lemah sejalan dengan pendapat orang-orang kafir yang mengira bahwa mereka mundur dari perang karena angin yang kebetulan bertiup. Padahal bertiupnya angin bukan suatu yang kebetulan, tetapi atas rencana Allah mengalahkan musuh-musuh-Nya dan musuh kaum Muslim. Karena itu, ayat ini ditiup dengan mengingatkan kekuatan dan kegagahan Allah SWT menolong kaum Muslim.22 b) Tashdir (pengembalian). Misalnya:


....sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu. (QS. Al-Anam : 31) Ayat ini ditutup dengan kata untuk membuatnya sejenis dengan kata dalam ayat tersebut. c) Tausyih (hikmah). Misalnya:
22

Rosihan Anwar, Ulumul Quran, 92.

17


Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. (QS. Yasin : 37) Dalam permulaan ayat ini terkandung penutupnya. Sebab, dengan hilangnya siang akan timbul kegelapan. Ini berarti bahwa kandungan awal ayat telah menunjukkan adanya hikmah dibalik kejadian tersebut. d) Ighal (penjelasan tambahan dan penajaman makna). Misalnya:


Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (Tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka Telah berpaling membelakang. (QS. Al-Naml : 80) Kandungan ayat ini sebenarnya sudah jelas sampai kata al-dua (panggilan). Akan tetapi, untuk lebih mempertajam dan mempertandas makna, ayat itu diberi sambungan lagi sebagai penjelas tambahan.23 e) Penerapan Munasabah dalam Penafsiran Al-Quran Sebagaimana halnya dengan asbab al-nuzul yang mempunyai pengaruh dalam memahami makna dan menafsirkan ayat al-Quran, ilmu munasabah juga membantu dalam menginterpretasi dan menakwilkan ayat dengan baik dan cermat. Atas dasar itulah sebagian ulama ada yang mengkonsentrasikan diri untuk menulis mengenal hal itu.

23

Usman, Ulumul Quran, 187-192.

18

Diantara para mufassir ada yang mengawali penafsirannya dengan terlebih dahulu menampilkan asbab al-nuzul ayat atau surah yang akan ditafsirkan. Tetapi sebagian dari mereka ada juga yang bertanya-tanya, manakah yang seharusnya didahulukan, menguraikan sabab nuzul atau memulai penafsiran dengan mengemukakan munasabah ayat-ayat, ataukah sebaliknya mengakhirkannya setelah dilakukan penafsiran secara terperinci. Hal ini menunjukkan adanya kaitan yang erat antar ayat yang satu dengan lainnya dalam rangkaian yang serasi.24 Perlu diketahui bahwa, secara garis besar ada tiga arti penting dari munasabah sebagai salah satu metode dalam memahami dan menafsirkan alQuran. Pertama, dari sisi balaghah, korelasi (tanasub) antara ayat dengan ayat menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa al-Quran, dan bila dipenggal maka keserasian, kehalusan, dari keindahan kalimat yang teruntai di dalam setiap ayat akan menjadi hilang.25 Atas dasar itulah Imam Fakhruddin al-Razi menandaskan : Kebanyakan kehalusan dan keindahan al-Quran dibuang dan dihilangkan begitu saja dalam hal tertib hubungan (al-munasabah) dan susunannya. Padahal kebanyakan keindahan-keindahan al-Quran itu terletak pada susunan dan persesuaiannya, sedangkan susunan kalimat yang paling baligh (tinggi nilai sasteranya) adalah dalam hal keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.26 Kedua, ilmu munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surah. Sebab penafsiran al-Quran dengan ragamnya jelas membutuhkan pemahaman mengenai ilmu tersebut antara ayat yang satu dengan yang lainnya, baik di bagian awal maupun di bagian akhirnya. Dalam kaitan ini Izzudin Ibn Abdis Salam menegaskan bahwa, ilmu munasabah adalah ilmu yang baik. Manakala seseorang menghubungkan atau mengkorelasikan kalimat atau ayat yang satu dengann yang lain, maka harus

24 25

Usman, Ulumul Quran, 171. Muhammad Chirzin, Al-Quran dan Ulum al-Quran, (Yogyakarta : Dana Bhakti Yasa, 1998), 57. 26 Fakhruddin al-Razi, Tafsir Mufatih al-Ghaib, (Baghdad : al-Mutsanna, t.t), 36.

19

tertuju kepada ayat-ayat yang benar-benar berkaitan, baik di awal maupun akhirnya.27 Ketiga, sebagai ilmu kritis ilmu munasabah akan sangat membantu seseorang (mufassir) dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Setelah hubungan antara ayat-ayat tersebut dipahami secara tepat, dan dengan demikian akan dapat mempermudah dalam pengistimbatan hukum-hukum atau pun makna-makna terselubung yang terkandung di dalamnya. Begitu pentingnya munasabah diketahui dan dipahami dalam menafsirkan al-Quran Imam Badruddin al-Zarkasyi pernah mengemukakan :

) (
Jika sebab nuzul (suatu ayat tidak ada atau tidak dapat dijadikan pedoman), maka yang lebih utama adalah mengemukakan sisi munasabah.28 Bahkan Imam Fakhraddin al-Razi lebih berani mengatakan :


Menjaga susunan kata lebih baik daripada menerima hadits ahad.29 Menurutnya, dalam menafsirkan ayat al-Qur'an lebih baik

menampilkan segi munasabah daripada berpegang kepada riwayat sabab nuzul yang bersumber dari hadits ahad apalagi kalau nilai kesahihannya masih diragukan. Walaupun pernyataan Imam Fakhruddin al-Razi ini barangkali tidak sepenuhnya dapat dibenarkan tetapi yang jelas bahwa, menggunakan metode munasabah sebagai wahana penafsiran dalam rangka mencari makna yang tepat yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Quran itu merupakan upaya yang patut dihargai dan perlu terus dikembangkan. Bahkan Syeikh Muhammad Abduh sendiri, seorang ulama yang pemikirannya paling
27 28 29

Abdul Djalal, Ulumul Quran, 165. Badruddin al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Quran, 34. Fakhruddin al-Razi, Tafsir Mufatih al-Ghaib, 121.

20

berpengaruh di abad modern ini memandang korelasi antara ayat-ayat dan surah-surah dalam al-Quran sebagai hal yang amat urgen, sehingga dijadikannya sebagai salah satu cirri dari Sembilan cirri penafsirannya, dan bahkan diletakkannya sebagai prinsip pertama. Keberadaan munasabah antara ayat yang satu dengan ayat yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh dalam keserasian, baik susunan maupun pengertian atau makna yang dikandungnya harus berkaitan erat dengan tujuan surah secara keseluruhan. Di sinilah letak relevansi munasabah dengan tafsir al-Quran al-Karim. Sebagai contoh adalah firman Allah :

Demi fajar. Dan malam yang sepuluh, (QS. Al-Fajr : 1-2) Kata

dalam

ayat di atas misalnya, tidak mungkin

terlepas pengertiannya dari kata atau ayat yang diiringinya. Menurut Muhammad Abduh, bahwa kata

di sini tidak dibarengi dengan suatu

sofat tertentu, sehingga ia harus dipahami secara umum. Al-Quran menurut Syeikh Muhammad Abduh, bila bermaksud menjelaskan tentang suatu hari atau waktu tertentu, maka hari dan waktu itu dijuluki dengan sifat atau cirinya, seperti : Yaum al-Qiyamah, Yaum al-Akhir, Yaum al-Hasyr, Yaum alBats, Yaum al-Mauud, Lailatul Qadr, dan lain-lain. Tetapi bila hari dan waktu tidak ditentukan sifat atau ciri-cirinya, maka yang dimaksud adalah waktu secara umum. Nah, demikian halnya dengan kata

di sini,

sehingga ia berarti umum, terjadi setiap hari, dalam arti bahwa fajar tersebut adalah fajar ketika cahaya siang menjelma di tengah-tengah kegelapan malam, yaitu : cahaya yang kemudian mengusik kegelapan malam tersebut. Dengan demikian, demi keserasian antara ayat pertama dan kedua, maka kata

dalam ayat di atas mesti ditafsirkan dengan malam-

malam yang serasi keadaannya dengan pengertian yang dikandung oleh kata 21

yakni : sepuluh malam yang terjadi pada setiap bulan yang di

dalamnya cahaya bulan mengusik kegelapan malam. Dengan begitu maka terjadilah keserasian antara keduanya, yakni masing-masing mengusik kegelapan walaupun yang pertama mengusiknya hingga terjadi terang yang merata, dan yang kedua juga mengusik, namun akhirnya terjadi kegelapan yang merata.30 Atas dasar keserasian inilah, Syeikh Muhammad Abduh menolak pendapat sebagian ulama yang menafsirkan kata

dan

dengan fajar tertentu seperti awal tahun hijriah atau tanggal 10 bulan Dzulhijjah dan lain-lain. Keserasian dalam munasabah merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan sebagai penetapan arti serta tolok ukur dalam menilai pendapatpendapat yang berbeda yang terjadi di kalangan para ulama. Karena itulah arti penting dari kehadiran ilmu munasabah itu sendiri tidak dapat diabaikan dalam upaya memahami dan menafsirkan al-Quran.31 f) Hikmah Mempelajari Munasabah Sebagaimana Asbabun Nuzul, Munasabah dapat berperan dalam memahami Al-Quran. Muhammad Abdullah Darraz berkata : Sekalipun permasalahan yang diungkapkan oleh surat-surat itu banyak, semuanya merupakan satu kesatuan pembicaraan yang awal dan akhirnya saling berkaitan. Maka bagi orang yang hendak memahami sistematika surat semestinyalah ia memperhatikan keseluruhannya, sebagaimana juga memperhatikan permasalahannya.32 Maka, dalam mempelajari Munasabah ini banyak sekali terkandung Faedah dan kegunaannya, sebagaimana diuraikan dibawah ini :

30 31 32

M. Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir al-Manar, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994), 22-27. Usman, Ulumul Quran, 176. Rosihan Anwar, Mutiara Ilmu-ilmu Al-Quran, 96.

22

1. Dapat mengembangkan bagian anggapan orang bahwa tema-tema AlQuran kehilangan Relevansi antara satu bagian dan bagian yang lainnya.33 2. Mengetahui persambungan /hubungan antara bagian Al-Quran, baik antara kalimat atau antar ayat maupun antar surat, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Quran sehingga memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.34 3. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Bila tidak ditemukan Asbabun Nuzulnya. Setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau suatu ayat dengan kalimat atau ayat yang lain, dimungkinkan seseorang akan kandungannya. 4. Untuk memahami keutuhan, keindahan, dan kehalusan bahasa, (mutu dan tingkat balaghah Al-Quran), serta dapat membantu dalam memahami keutuhan makna Al-Quran itu sendiri.35 mudah mengistinbathkan hukum-hukum atau isi

33 34 35

Ibid. A. Chaerudji Abd. Chalik, Ulum Al-Quran, (Jakarta : Diadit Media, 2007), 122. Ibid, 123.

23

BAB III PENUTUP Kesimpulan Kata Munasabah secara etimologi berarti al-Musyakalah (keserupaan) dan muqarabah (kedekatan). Sedangkan secara terminologis, Munasabah didefinisikan juga sebagai ilmu yang membahas hikmah korelasi urutan ayat alQuran atau dalam redaksi yang lain, dapat dikatakan, munasabah adalah usaha pemikiran manusia dalam menggali rahasia hubungan antar ayat dengan ayat dan atau surah dengan surah yang dapat diterima oleh rasio. Jumhur ulama telah sepakat bahwa urutan ayat dalam satu surat merupakan urutan-urutan tauqifi, yaitu urutan yang sudah ditentukan oleh Rasulullah sebagai penerima wahyu. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang urutan-urutan surat dalam mushaf, apakah itu taufiqi atau tauqifi (pengurutannya berdasarkan ijtihad penyusun mushaf). Diantara hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam konteks mencari tau munasabah adalah : Mengetahui susunan kalimat dan mananya, Mengetahui asbabun nuzul dan Mengetahui tema yang dibicarakan. Munasabah dari segi sifat-sifatnya dapat dipilah menjadi dua, yaitu : Zhahir al-irtibath (korelasi yang transparan) dan Khofiyyu al-irtibath (korelasi yang terselubung). Munasabah dari segi materinya terbagi menjadi sebagai berikut, yaitu: 1. Munasabah antara ayat dengan ayat dalam satu surat dalam al-Quran, yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat yang lain dalam satu surat. 2. Munasabah antar surah, yaitu munasabah antara surah yang satu dengan surah yang lain. 3. Munasabah antara nama surat dengan kandungannya 4. Munasabah antara Penutup Ayat dengan Isi Ayat Keberadaan munasabah antara ayat yang satu dengan ayat yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh dalam keserasian, baik susunan maupun pengertian atau makna yang dikandungnya harus berkaitan erat dengan tujuan

24

surah secara keseluruhan. Di sinilah letak relevansi munasabah dengan tafsir alQuran al-Karim. Maka, dalam mempelajari Munasabah ini banyak sekali terkandung Faedah dan kegunaannya, sebagaimana diuraikan dibawah ini : 1. Dapat mengembangkan bagian anggapan orang bahwa tema-tema Al-Quran kehilangan Relevansi antara satu bagian dan bagian yang lainnya. 2. Mengetahui persambungan /hubungan antara bagian Al-Quran, baik antara kalimat atau antar ayat maupun antar surat, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Quran sehingga memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya. 3. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Bila tidak ditemukan Asbabun Nuzilnya. Setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau suatu ayat dengan kalimat atau ayat yang lain, dimungkinkan seseorang akan mudah mengistinbathkan hukum-hukum atau isi kandungannya. 4. Untuk memahami keutuhan, keindahan, dan kehalusan bahasa, (mutu dan tingkat balaghah Al-Quran), serta dapat membantu dalam memahami keutuhan makna Al-Quran itu sendiri.

25

DAFTAR PUSTAKA

Abu Zaid, Nasr Hamid. Tekstualitas al-Quran : Ktitik Terhadap Ulumul Quran. Yogyakarta : LkiS. 2001. Al-Hafizh, Ashim W. Kamus Ilmu Al-Quran. Bandung : Pustaka Amzah. 2005. Al-Qathathan, Manna. Mabahits fi Ulum al-Quran, Terj. Mudzakir. Beirut : Al-Syarikah alMuttahid li al-Tauzi. 1973. Al-Razi, Fakhruddin. Tafsir Mufatih al-Ghaib. Baghdad : al-Mutsanna. Al-Suyuti, Jalal al-Din. al-Itqan fi al-Ulum al-Quran. Damaskus : Dar al-Fikr. 1979. Anwar, Rosihan. Mutiara Ilmu-Ilmu Quran. Bandung : Pustaka Setia, 1999. Anwar, Rosihan. Ulum Al-Quran. Bandung : Pustaka Setia. 2008. Ash-Shofa, Ichwan. Teori Munasabah dalam AL-Quran:Analitik Aplikatif. baca online http://ichwanushshofa.blogspot.com/2010/11/teiri-munasabah-dalam-al-qurananalitik.html. diakses tanggal 03 Oktober 2011. Az-Zarkasyiy, Badruddin Muhammad ibn Abdillah. al-Burhan f Ulumil-Quran. Beirut : DarulKutubil-Ilmiyyah. 1988. Chalik, A. Chaerudji Abd. Ulum Al-Quran. Jakarta : Diadit Media. 2007. Chirzin, Muhammad. Al-Quran dan Ulum al-Quran. Yogyakrta : Dana Bhakti Yasa. 1998. Djalal, Abdul. Ulumul Quran. Surabaya : Dunia Islam. 1998. Iqbal, Mashuri Sirodjuddin & A. Fudlali. Pengantar Ilmu Tafsir. Bandung : Angkasa. 1989. Nugroho, Anjar. Ilmu Munasabah Al-Quran. baca online http://hapidzcs.blogspot.com/2011/05/ilmu-munasabah-al-quran.html. diakses tanggal 03 Oktober 2011. Rahman, Fazlur. Islam dan Modernitas : Tentang Transformasi Intelektual, Terj. Ahsin Mohammad. Bandung : Penerbit Pustaka. 1995. Shihab, M. Quraish. Studi Kritis Tafsir al-Manar. Bandung : Pustaka Hidayah. 1994. Syafii, Rahmat. Pengantar Ilmu Tafsir. Bandung : Pustaka Setia. 2006. Usman. Ulumul Quran. Yogyakarta : Teras. 2009. Watt, W. Montgomery. Pengantar Studi al-Quran, Terj. Taufiq Adnan Amal. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 1995.

26