Anda di halaman 1dari 21

DIKTAT PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP KELAS XII

TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN-I

Oleh: Amaliyah Nurul Hidayah, S.Si., M.T

RSBI SMA NEGERI 1 KENCONG JEMBER 2011


0

A. PENDAHULUAN Pencemaran adalah perubahan yang terjadi di lingkungan sebagai akibat dari tindakan manusia yang mengalami perubahan dalam hal pola penggunaan energi, materi, tingkatan radiasi, bahan-bahan fisika dan kimia dan jumlah organisme (Sastrawijaya, 2000 dan Subchan, 2010). Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Sedangkan limbah adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang jika dibuang tanpa pengolahan akan mencemari lingkungan. Jenis-jenis pencemaran antara lain (Sastrawijaya, 2000 dan Subchan, 2010) : 1. Pencemaran Air 2. Pencemaran Udara 3. Pencemaran Tanah 4. Pencemaran Suara 5. Pencemaran Sungai 6. Pencemaran Pesisir 7. Pencemaran Laut 8. Pencemaran Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Berdasarkan karakteristiknya limbah dibedakan menjadi 3 antara lain (Anonim 3, 2010): 1. Limbah cair 2. Limbah padat 3. Limbah gas dan partikel Berdasarkan sumbernya limbah dibagi menjadi 5 antara lain (Subchan, 2010): 1. Limbah domestik greywater dan blackwater 2. Industri organik 3. Industri anorganik 4. Radioaktif 5. Pestisida

6. Asap kendaraan 7. Sisa deterjen 8. Sisa minyak bumi 9. Sampah padat Parameter bahan pencemar (polutan) yang terkandung dalam limbah rumah tangga antara lain (Khiatuddin, 2003 dan Anonim 1, 2003): 1. Biochemical oxygen demand (BOD) 2. Fosfor 3. Nitrogen 4. Total Suspended Solid (TSS) 5. Bakteri Coliform 6. pH Teknologi lingkungan adalah teknologi yang lebih sedikit merusak lingkungan dibandingkan teknologi lain yang sejenis. Teknologi ramah lingkungan bertujuan untuk mengurangi peningkatan emisi gas rumah kaca (Anonim 2, 2004 dan Kardono, 2010). Teknologi ramah lingkungan mengacu kepada teknologi yang memiliki beberapa kriteria sebagai berikut: 1. Memproteksi lingkungan 2. Mengurangi daya pencemar 3. Mendaur ulang lebih banyak produk dan limbahnya 4. Menangani sisa limbah dengan cara yang benar 5. Menggunakan semua sumberdaya secara berkelanjutan

B. FITOREMEDIASI Fitoremediasi adalah pemanfaatan tumbuhan untuk menyerap dan mengurangi polutan limbah sehingga yang ada di media (tanah, air, atau udara). Kemampuan tumbuhan untuk menyerap cairan apa saja, berbahaya maupun tidak dimanfaatkan untuk mengurangi polutan sehingga menjadi kurang berbahaya. Constructed wetland atau rawa buatan merupakan sebuah cara untuk fitoremediasi limbah cair baik dari kegiatan industri maupun rumah tangga. Waste Water Garden (WWG) yang sekarang umum dimanfaatkan merupakan constructed wetland yang dipadukan dengan pertamanan.

Limbah cair domestik dibedakan menjadi dua yaitu greywater dan blackwater. Greywater merupakan limbah yang berasal dari kegiatan cuci piring, cuci baju, kamar mandi dan cuci kendaraan. Blackwater merupakan sebutan untuk tinja. Gambar 1 menunjukkan proses fitoremediasi limbah domestik. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, polutan limbah domestik yang perlu diolah sebelum dibuang antara lain pH, BOD, TSS, Minyak dan Lemak. Limbah cair domestik berasal dari kegiatan pemukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama.

screening

Gambar 1. Proses Fitoremediasi Limbah Domestik Menggunakan Subsurface Flow Constructed Wetland Sumber : Anonim 4 (2011) Gambar 1 menjelaskan proses fitoremediasi limbah domestik dimulai dari masuknya limbah ke proses screening yaitu proses pemisahan limbah greywater dengan rambut atau wadah shampoo yang ikut terbawa aliran limbah. Proses selanjutnya adalah limbah blackwater maupun greywater masuk ke bak primary treatment, di bak ini terjadi pengendapan TSS (Total Suspended Solid) sehingga yang akan masuk ke bak secondary treatment adalah residu atau cairan saja.

Sludge atau lumpur dihasilkan pada proses primary treatment, sludge dapat digunakan kembali menjadi kompos. Bak secondary treatment merupakan bak fitoremediasi subsurface flow constructed wetland yaitu aliran limbah dilewatkan dibawah permukaan media tanam, disinilah terjadi proses fitoremediasi dimulai dari akar. Media tanam dapat berupa media tanah maupun air. Jika yang digunakan sebagai media tanam adalah pasir, kerikil, batu atau tanah maka proses pengolahan limbah tidak hanya dilakukan oleh tanaman namun terbantu oleh media tanam. Air hasil pengolahan bak secondary treatment dapat dimanfaatkan kembali sebagai air irigasi pertanian maupun taman (wastewater garden), seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Contoh Constructed Wetland yang Dimanfaatkan menjadi Taman Sumber: Anonim 5 (2009)

C. BIOGAS Biogas merupakan gas hasil proses anaerobik atau fermentasi dari bahanbahan yang mudah dibiodegradasi (organik) yaitu karbondioksida dan metana. Biogas merupakan bagian dari gas rumah kaca, sehingga tidak boleh lepas bebas karena bisa menyebabkan pencemaran udara dan global warming. Tabel 1. Menunjukkan rentang komposisi biogas yang dihasilkan dalam proses anaerobik.

Gas yang terutama dihasilkan dalam proses ini yaitu metana 55-75%, CO2 2545%, N2 0.3%, H2 1-5%, H2S 0-3%, dan O2 0.1-0.5% Tabel 1. Komposisi Biogas yang Dihasilkan dari Proses Anaerobik Komponen % Metana (CH4) 55-75

Karbon dioksida (CO2) 25-45 Nitrogen (N2) Hidrogen (H2) 0-0.3 1-5

Hidrogen sulfida (H2S) 0-3 Oksigen (O2) 0.1-0.5

Sumber: Anonim 6 (2005)

(a)

(b) Gambar 3. (a) Gambar sumber biogas dan pemanfaatannya dan (b) Skema sumber biogas dan pemanfaatannya. Sumber : Anonim 7 (2006) dan Anonim 8 (2008) Gambar 3 menunjukkan bahwa sumber-sumber biogas antara lain sampah perumahan, sampah industri, sampah pengolahan makanan, lumpur limbah domestik perumahan, sekolah, sampah pasar, sampah rumah makan dan kotoran hewan. Sampah-sampah tersebut secara terpusat diolah menjadi satu di bak high solids anaerobik digester (HSAD). Di bak ini proses biodegradasi sampah menjadi biogas berlangsung secara anaerob atau tanpa udara. Proses biodegradasi akan berlangsung lebih cepat jika sampah yang masih kasar dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil. Proses biodegradasi sampah sehingga terbentuk biogas merupakan rangkaian proses kimia yang kompleks. Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, pemanas dan listrik. Setelah beberapa waktu maka biogas yang dihasilkan akan berkurang, proses selajutnya adalah pemanenan lumpur yang dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat. Manfaat dari lumpur HSAD yaitu dapat digunakan sebagai kompos, penutup landfill dan bioaktif remediasi. Pemanfaatan sampah organik menjadi biogas sangat diperlukan untuk mencegah peningkatan gas rumah kaca diudara namun harga pembuatan alat untuk biogas menjadi salah satu hambatan utama. Hambatan lain adalah

rendahnya kesadaran masyarakat, bahan yang digunakan pada umumnya hanya kotoran sapi padahal semua sampah organik bisa digunakan sebagai campuran, kesulitan mengoperasikan peralatan dikarenakan kurang mendapatkan pelatihan yang memadai (Anonim 8, 2008).

D. BIOFUEL Biofuel mengacu kepada bahan bakar berbentuk gas, padat ataupun cair yang dihasilkan dari bahan organik. Biogas merupakan bagian dari biofuel karena dapat digunakan sebagai bahan bakar maupun listrik. Biofuel yang umum didengar adalah bioetanol yang terbuat dari tanaman yang mengandung banyak gula seperti jagung, tebu, sorghum, maupun bit. Selain itu juga kita dengan biofuel dari tanaman yang menghasilkan banyak minyak sayur/nabati misalnya jarak, kedelai maupun kelapa sawit . Biofuel dari tanaman ini ternyata belum bisa dikatakan ramah lingkungan penyebabnya adalah emisi gas CO2 yang dihasilkan sebagai akibat dari pembukaan lahan baru (deforestation) yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan alam dan global warming (Anonim 9, 2011 dan Salim, 2008 dalam Anonim 10, 2008).

Gambar 4. Tangki Kaca untuk Menumbuhkan Alga Sumber : Negara (2007)

Alga merupakan salah satu solusi untuk menghasilkan biodiesel ramah lingkungan. Alga membutuhkan sinar matahari, karbondioksida dan air untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Keuntungan menggunakan alga sebagai bahan baku biodiesel adalah tidak membutuhkan lahan yang luas untuk

menumbuhkannya seperti pada Gambar 4.

Gambar 5. Biodiesel dari Alga Sumber: Anonim 11 (2011) Gambar 5 menunjukkan proses pembentukan biodiesel dari alga dimulai menumbuhkan alga kemudian dipanen dan di pisahkan lemak dan gula menggunakan solvent, kemudian solven dievaporasi dan proses terakhir adalah perubahan lemak menjadi biodiesel. Alga mampu menghasilkan biodiesel sampai 200% lebih banyak dibandingkan kedelai dalam satu luasan yang sama (Anonim 11, 2011).

E. BIOPULPING Biopulping merupakan proses pembuatan bubur kertas (bahan baku kertas) dari kayu menggunakan agen hayati (mikroorganisme pelapuk kayu) untuk mendegradasi lignin (Anonim 12, 1998).

Gambar 6. Proses Biopulping Dimulai dari Bahan Baku Kayu Sumber: Anonim 13 (2010)

Proses biopulping, bahan-bahan kimia digantikan oleh mikroba yang bisa mengeluarkan enzim dan mendegradasi lignin, biasanya dari golongan jamur atau fungi pelapuk kayu yang banyak dijumpai di alam bebas. Bahan pemutih kertas (bleaching) yang selama ini menggunakan bahan kimia seperti chlorite dan hydrogen peroksida dapat digantikan oleh enzim-enzim yang dikeluarkan oleh fungi pelapuk. Beberapa enzim untuk menguraikan lignin adalah manganese peroksidase, laccase dan lignin peroksidase (Anonim 14, 2010).

F. TRL UNTUK LAPISAN OZON SOLARCHILL DAN MUSICOOL 1. LAPISAN OZON

Gambar 7. Lapisan Atmosfer Sumber : http://belajar.kemdiknas.go.id Ozon merupakan gas tidak stabil yang mampu membentuk lapisan di atmosfer. Sekitar 10% ozon terletak di troposfer, biasa disebut bad ozone karena terbentuk dari pencemaran udara sehingga akan membahayakan makhluk hidup di bumi. Sekitar 90% ozon terletak di stratosfer, biasa disebut good ozone karena mampu menyerap sebagian besar radiasi sinar ultraviolet yang berbahaya bagi makhluk hidup. Konsentrasi molekul-molekul ozon jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan konsentrasi oksigen dan nitrogen di atmosfir. Molekul ozon yang terletak di lapisan stratosfir adalah 12 molekul ozon untuk setiap satu juta molekul udara, di lapisan troposfir dekat permukaan Bumi, konsentrasi ozon lebih sedikit yaitu berkisar antara 0,02 hingga 0,1 molekul ozon untuk setiap satu juta molekul udara (Anonim 15, 2011).

10

2.

FENOMENA KERUSAKAN OZON

Gambar 8. Hasil Pengamatan Lubang Ozon Tahun 1980 sampai 1991 Sumber : Anonim b, http://www.eduspace.esa.int

Gambar Lubang Ozon Tanggal 26 September 2002 Sumber : http://www.eduspace.esa.int

11

17-09-1979

7-10-1989

9-10-2006

01-10-2010

Sumber:http://eoimages.gsfc.nasa.gov

Gambar Lubang Ozon yang Diamati dari Tahun 1979-2010 Sumber : http://eoimages.gsfc.nasa.gov

3.

MANFAAT LAPISAN OZON Lapisan ozon di stratosfer memiliki fungsi yang berbeda dengan lapisan

ozon di troposfer. Lapisan ozon troposfer biasa disebut dengan bad ozone karena terbentuk dari pencemaran udara di bumi, sedangkan lapisan ozon di stratosfer biasa disebut dengan good ozone karena terbentuk secara alami. Kajian tentang manfaat ozon cenderung mengacu kepada ozon yang berada di lapisan stratosfer. Lapisan ozon di stratosfer mampu menyerap sebagian besar radiasi sinar ultraviolet (UV-B) dari matahari yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup, namun UV-A tidak mampu diserap. Radiasi sinar ultraviolet-B yang berlebihan mampu menyebabkan kanker kulit, katarak, menurunnya imunitas, menganggu kestabilan suhu di atmosfir bumi, merusak kehidupan tanaman, organisme sel

12

tunggal dan ekosistem perairan. Sedangkan radiasi UV-A mampu menyebabkan penuaan kulit (Anonim a, 2011). Lapisan ozon di troposfer terbentuk dari gas-gas pencemar buatan manusia. Lapisan troposfer merupakan lapisan yang terdekat dengan bumi sehingga keberadaan ozon di lapisan ini berbahaya bagi makhluk hidup. Paparan ozon yang berlebihan terhadap manusia mampu menimbulkan dada sakit, iritasi tenggorokan, batuk, memperburuk kondisi jantung dan paru-paru dan mampu mengurangi kapasitas paru-paru. Paparan ozon yang berlebihan terhadap tumbuhan mampu menurukan kapasitas produksi (Anonim a, 2011). Manfaat ozon di dunia kedokteran diawasi secara ketat, pada umumnya ozon secara luas digunakan untuk perawatan kulit terbakar. Pemanfaatan ozon di dunia perindustrian antara lain (Anonim c, 2011): Sebagai antiseptik botol Memutihkan kain Membantu pewarnaan plastik

4.

BAHAN PERUSAK OZON (BPO) Bahan perusak ozon adalah bahan-bahan yang memiliki potensi untuk

bereaksi dengan molekul-molekul ozon yang tidak stabil sehingga terjadi penipisan lapisan ozon, bahan-bahan tersebut mengandung klorin, florin, bromin, karbon dan hidrogen. Bahan-bahan tersebut antara lain (Anonim a, 2011):

chlorofluorocarbons (CFCs) hydro-chlorofluorocarbons (HFCs) halon hydro-bromofluorocarbons (HBFCs) bromocholormethane methyl chloroform carbon tetrachloride

13

methyl bromide

Alat elektronik yang secara luas diketahui menggunakan freon CFCs adalah Lemari Pendingin dan AC.

5.

PROSES PENIPISAN LAPISAN OZON Sherwood Rowland dan Mario Molina dari University of California pada

tahun 1994 membuat pernyataan yang didasarkan kepada hasil penelitian yang telah mereka lakukan, mereka menyatakan bahwa kerusakan lapisan ozon salah satunya disebabkan oleh CFCs (Chlorofluorocarbons) yang melepaskan atom klorin yang kemudian bertabrakan dengan molekul ozon yang tidak stabil. Senyawa CFC memiliki karakter yang berbeda dari senyawa lain yang menjadikannya sulit hilang dari atmosfer yaitu tidak larut dalam air. Klorin yang terlepas dari CFC mampu berikatan dengan ozon membentuk klorinmonoksida (ClO) dan oksigen (O2). Senyawa Klorinmonoksida merupakan senyawa yang tidak stabil sehingga ketika bertemu dengan oksigen bebas maka oksigen dari ClO akan melepaskan diri dan membentuk ozon (O3) baru namun atom klorin menjadi bebas berikatan dengan oksigen dari ozon yang lain dan membentuk ClO baru. Proses tersebut terjadi terus menerus sehingga terjadilah penipisan lapisan ozon di stratosfer dan radiasi sinar ultraviolet yang lolos mampu menyebabkan berbagai macam efek negatif. 6. TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MENCEGAH

KERUSAKAN OZON Kerusakan ozon di lapisan startosfer pada umumnya disumbang oleh mesih pendingin (refrigerator) yang banyak mengandung HFCs, maka dari itu sangat diperlukan sebuah teknologi pendingin yang ramah lingkungan. Akhir-akhir ini telah dikembangkan teknologi SolarChill sebagai pengganti mesin pendingin kontemporer dan MUSICOOL sebagi pengganti freon. SolarChill menggunakan energi surya sebagai sumber energinya, menggunakan refigeran isobutana dan busa isolasi siklopentana sebagai pengganti HFCs dan tidak menggunakan baterai yang mengandung timbal. Sehingga dapat dikatakan bahwa SolarChill merupakan 14

teknologi pendingin yang ramah bagi lapisan ozon maupun lingkungan. SolarChill yang telah dikembangkan antara lain:

SOLARCHILL A

Gambar SolarChill A untuk Vaksin Sumber: http://static.ibnlive.com

SolarChill A merupakan lemari pendingin vaksin yang tidak menggunakan freon maupun baterai yang mengandung timbal dan menggunakan panel surya sebagai sumber energinya. SolarChill A berkapasitas 50 L dan mampu menjaga suhu vaksin 2 - 8oC pada kondisi matahari normal. SolarChill A telah diuji di Indonesia, Senegal dan Kuba, namun belum mendapatkan persetujuan WHO untuk dikomersialkan.

15

SOLARCHILL B

Gambar SolarChill B Sumber: http://www.greenpeace.org

SolarChill B merupakan lemari pendingin untuk makanan yang memiliki kapasitas 100 L, saat ini masih dilakukan pengujian di India dan Kuba. SolarChill B direncanakan dapat digunakan pada keadaan darurat, kamp pengungsi, bank vaksin di daerah terpencil, aplikasi komersial skala kecil di negara berkembang, dan cottage yang tidak terhubung jaringan listrik di negara maju. SolarChill A dan B mendapatkan energi dari tiga buah panel surya 60W. Listrik dari tenaga surya tersebut mampu menggerakan kompresor mesin refigerasi kemudian membekukan sejumlah es yang selanjutnya digunakan untuk menjaga temperatur yang dikehendaki. SolarChill tidak menggunakan alat penyimpan energi berupa baterai yang bisa mengandung timbal, namun menggunakan es sebagai sarana menyimpan hasil kerja mesin refigerasi.

16

SolarChill mampu menggunakan arus DC maupun arus AC. Lapisan isolasi yang tebal mampu menjaga temperatur di dalam lemari es berada dalam rentang yang di kehendaki.

MUSICOOL

Gambar Tabung berisi hidrokarbon MUSICOOL Sumber: http://jembatanjaya.com

Gambar Cara Instalasi MUSICOOL Sumber:http//spj2.co.id

17

Musicool refrigeran merupakan media pendingin yang terbuat dari hidrokarbon yang dihasilkan oleh Kilang Pertamina Unit Pengolahan III Plaju-Palembang di tepi Sungai Musi Sumatera Selatan (Anonim g, 2011). Musicool refrigeran merupakan bahan alami yang bukan merupakan gas rumah kaca sehingga aman digunakan sebagai pengganti freon, keuntungan dan kelebihan Musicool refrigeran antara lain (Anonim h, 2011): Mampu menghemat pemakaianlistrik/bahan bakar hingga 30% Mampu memberi efek pendinginan yang lebih baik Kerja kompresor AC menjadi lebih ringan sehingga kompresor lebih awet dan tahan lama Saat instalasi tidak memerlukan penggantian atau penambahan komponen Ramah lingkungan Biaya konversi dari freon ke Musicool relatif murah tergantung jumlah unit AC

Beberapa gedung dan perkantoran di Indonesia telah beralih menggunakan Musicool refrigeran antara lain: PT. Astra International Jakarta, Hard Rock Hotel Bali, Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, Gedung Bursa Efek Jakarta, Four Season Hotel Bali, Universitas Atmajaya, RCTI dan lain-lain.

7.

REGULASI Protokol Montreal Peraturan Presiden Indonesia Nomor 46 tahun 2005 tentang Amandemen Montreal atas Peraturan Montreal tentang Bahan-bahan Perusak Ozon Instruksi Presiden Nomor 02 Tagun 2008 tentang Program Penghematan Energi Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 33/MIND/PER/4/2007 tentang Larangan Memproduksi Bahan Perusak Lapisan Ozon serta Memproduksi Barang yang Mempergunakan Bahan Perusak Ozon

18

G. DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1, 2003. Fitoremediasi. Diunduh dari : http://digilib-ampl.net, pada tanggal 18 September 2011. Anonim 2, 2004. Teknologi Ramah Lingkungan bagi Indonesia. Diunduh dari: http://www.menlh.go.id, pada tanggal 18 September 2011. Anonim 3, 2011. Limbah. Diunduh dari : http://id.wikipedia.org, pada tanggal 18 September 2011. Anonim 4, 2011. Proses Fitoremediasi Limbah Domestik. Diunduh dari : http://constructed-wetland.blogspot.com, pada tanggal 21 Agustus 2011. Anonim 5, 2009. Houtan Parks Constructed Wetland. Diunduh dari : http://www.architectureweek.com, pada tanggal 18 September 2011. Anonim 6, 2005. Biogas. Diunduh dari : http://id.wikipedia.org, pada tanggal 18 September 2011. Anonim 7, 2006. Biogas. Diunduh dari: http://www.inverter-china.com, pada tanggal 18 September 2011. Anonim 8, 2008. How Biogas Is Made. Diunduh dari http://hassam.hubpages.com, pada tanggal 18 September 2011. :

Anonim 9, 2011. Biofuel. Diunduh dari : http://id.wikipedia.org, pada tanggal 19 September 2011. Anonim 10, 2008. Biofuel Mengancam Emisi Rumah Kaca? Diunduh dari : http://www.ciptapangan.com, pada tanggal 19 September 2011. Anonim 11, 2011. Power Your Car With Algae. Diunduh dari : http://inhabitat.com, pada tanggal 19 September 2011. Anonim 12, 1998. Biopulping : Technology Learned from Nature That Gives Back to Nature, diunduh dari : http://www.fpl.fs.fed.us, pada tanggal 19 September 2011. Anonim 13, 2010. Biopulping. Diunduh dari : http// http://img.springerimages.com, pada tanggal 19 September 2011. Anonim 14, 2010. Alam Menginspirasi Teknologi Ramah Lingkungan. Diunduh dari : http://mapalasilvagama.or.id, pada tanggal 19 September 2011.

19

Anonim 15, Lapisan Ozon, diunduh dari http://www.ozon-indonesia.org, pada tanggal 12 September 2011. Anonim b, The Ozone Hole, diunduh dari http://www.eduspace.esa.int, pada tanggal 12 September 2011. Anonim c, Ozon, diunduh pada tanggal 12 September 2011. dari http://id.wikipedia.org,

Kardono, 2010. Teknologi Ramah Lingkungan : Kriteria, Verifikasi dan Arah Pengembangan, Diunduh dari: http://www.enviro.bppt.go.id, pada tanggal 18 September 2011. Khiatuddin, M., 2003. Melestarikan Sumber Daya Air Dengan Teknologi Rawa Buatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Negara, T.A., 2007. Membuat Biodiesel dari Tumbuhan Alga. Diunduh dari : http://www.kamase.org, pada tanggal 19 September 2011. Sastrawijaya, A.T., 2000. PT. Rineka Cipta. Pencemaran Lingkungan. Jakarta:

Wachju Subchan, 2010. Ilmu Pengetahuan Lingkungan. Jember: Jember University Press.

20