Anda di halaman 1dari 22

MANAJEMEN RESIKO DI EKOSISTEM DANAU

Oleh

: Kelompok 5/P2 J3B209063 J3B209079 J3B109029 J3B209081

Bumi Ruslim Sukmadjaja Nandina Juniar Primadina Putri Sumawardani Radityo Utama Putra

Dosen Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc.F Ir. Tutut Sunarminto, M.Si

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA PROGRAM DIPLOMAINSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

I. A. Latar Belakang B. Tujuan

PENDAHULUAN

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Wisata dan Ekowisata B. Demand Wisata dan Kawasan Non Alami Supply wisata adalah segala sesuatu baik barang ataupun jasa yang ditawarkan kepada pengunjung pada suatu kawasan wisata. Berbicara mengenai penawaran wisata meka akan berkaitan dengan apa dan berapa banyak yang ditawarkan, kepada siapa tawaran itu ditawarkan dan kapan waktu penawaran tersebut diberikan (Avenzora 2008). Sedangkan Damanik Weber (2006) mengatakan bahwa penawaran wisata dapat dikategorikan menjadi bentuk produk dan jasa. Produk wisata adalah semua produk yang diperuntukkan bagi seseorang dalam melakukan kegiatan wisata. Sedangkan, jasa wisata adalah gabungan produk komposit yang terangkum dalam atraksi transportasi, akomodasi dan hiburan. Produk dan jasa ini harus sudah siap dikonsumsi oleh wisatawan. Elemen penawaran meliputi atraksi, aksesibilitas dan amenitas. Demand Wisata adalah suatu permintaan wisata terhadap ruang, waktu dan harga tertentu. Suatu demand wisata akan berkaitan dengan siapa yang meminta, apa dan berapa banyak yang diminta dan kapan waktu permintaan tersebut (Avenzora:2008). Damanik dan Weber (2006) mengemukakan bahwa unsur-unsur penting dalam demand adalah penduduk lokal dengan segala kebudayaannya yang menjadi sumber daya manusia. Unsur lainnya yaitu aksesibilitas yang mudah dan akomodasi. Keberhasilan suatu kegiatan pariwisata sangat ditentukan oleh tingkat kualitas pelayanan yang diberikan kepada para wisatawan. Hal ini dinilai karena kualitas dipercaya berbanding lurus dengan kepuasan wisatawan, dan jika kepuasan wisatawan terpenuhi diharapkan apresiasi dalam upaya memperbaiki tata cara pelayanan dapat menjadi lebih baik (Budiono, 2004). Martin et.al (2000) dalam Budiono (2004) menjelaskan lima dimensi untuk mengukur kualitas pelayanan dari objek wisata antara lain profeisonalism, tangibility, complementary offer, basic benefit, and location. Kelima dimensi ini digunakan untuk mengukur kualitas

pelayanan dari suatu objek wisata yang dikaitkan dengan kepuasan dari wisatawan yang berkunjungdari suatu objek wisata. Martin, et.al (2000) dalam Budiono (2004) menjelaskan pengertian kualitas dalam lima dimensi dan dua puluh dua indikator seperti: Profesionalism dengan indikator perhatian personal, kepedulian dan persahabatan dari para pekerja dari di suatu kawasan wisata sehingga terwujudnya sikap saling bekerjasama dalam menyambut tamu dan memberikan kesan positif. Tangibility, memiliki indikator kanyamanan ruangan, kemenarikan, dan kesederhanaan dekorasi, keteraturan dan kerapihan instalasi listrik, serta kebersihan fasilitas. Complementary

offer,indikatornya berdasarkan pengadaan kegiatan pada momen tertentu, festivalfestival, atau perayaan tertentu, didukung oleh lokasi yang memadai. Basic benefit, dinilai berdasarkan ketenangan lokasi, penyewaan tempat-tempat tertentu, kualitas makanan minuman, harga bersaing. Location, kenyamanan pengadaan lokasi umum, fasilitas parkir yang memadai, pemandangan alam yang indah dan alami, tata letak budaya yang membuatnya tampil menarik buah tangan dari produksi penduduk setempat. Kawasan non alami merupakan suatu lanskap alami yang telah memperoleh pengaruh oleh campur tangan manusia dengan berbagai kegiatan demi menunjang kehidupan manusia sehingga memaksa melakukan perubahan terhadap lanskap alami. Lanskap non alami disebut juga dengan lanskap semi alami. Lanskap ini berupa pedesaan dan pertanian tersebar di antara pusat-pusat kota dan infrastruktur yang relevan antara lain high ways, jembatan-jembatan, bendungan-bendungan (dykes), tiang-tiang listrik dll.

III.

KONDISI UMUM

A. Sejarah Kawasan Istilah Etnobotani diperkenalkan di Indonesia sekitar tahun 1895 oleh seorang Antropologi Amerika bernama Harshberger yang mencakup pengetahuan tentang jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan makanan, pakaian, bangunan, pekakas, obat-obatan dan sesaji dalam upacara adat dan lain-lain. Etnobotani secara etimologi berasal dari kata etno yang berarti bangsa dan botani ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan. Jadi, Etnobotani adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara tumbuh-tumbuhan yang dimanfaatkan oleh

suku/bangsa tertentu atau penduduk asli untuk kepentingan hidup sehari-hari. Gagasan untuk mendirikan Museum Etnobotani (MEI) mula-mula dicetuskan oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo, yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) sekarang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan Herbarium Bogoriense pada tahun 1962. Gagasan tersebut dimantapkan kembali ketika Dr. Setiaji Sastrapraja yang menjabat sebagai Direktur Lembaga Biologi Nasional (LBN) pada tahun 1975 mengadakan pertemuan dengan para tokoh permuseuman, ahli ilmu sosial, kemasrakatan dan antrofologi serta pakar-pakar botani. Koleksi aretefakta dikumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia oleh para peneliti yang khususnya dari Lembaga Biologi Nasional atau Puslit Biologi sekarang. Setelah melalui proses yang panjang, Museum Etnobotani terwujud dan diresmikan oleh Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie pada tanggal 18 Mei 1982 yang bertepatan dengan hari ulang tahun Kebun Raya Indonesia di Bogor yang ke 165. B. Kondisi Fisik 1. Letak dan Luas Kawasan 6 35' 55" S, 106 47' 37" E. Museum Etnobotani Indonesia terletak di tengah kota Bogor, tepatnya berada di jalan Ir. H. Juanda no 22-24 Bogor. Letak ruang pameran Museum Etnobotani Indonesia berada di Lantai Dasar Gedung Herbarium Bogoriense atau Bidang Botani Puslit Biologi saat ini. Lokasi cukup strategis karena

berada di tengah kota Bogor dan berdekatan dengan Kebun Raya Indonesia Bogor. Hingga saat ini obyek wisata ilmiah Museum Etnobotani Indonesia ini dikelola oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI Bogor. Museum Etnobotani Indonesia merupakan salah satu obyek wisata ilmiah, karena didalamnya memberikan informasi pengetahuan tentang bagaimana tumbuhan atau sumber daya nabati terdapat hubungan atau kaitan dengan suku-suku bangsa di Indonesia terutama untuk pemanfaatan dalam kehidupan sehari-hari. 2. Topografi dan Geografi Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 015% dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 1530%. Jenis tanah hampir di seluruh wilayah adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%) sehingga dijuluki "Kota Hujan". Keunikan iklim lokal ini dimanfaatkan oleh para perencana kolonial Belanda dengan menjadikan Bogor sebagai pusat penelitian botani dan pertanian, yang diteruskan hingga sekarang. Kedudukan geografi Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya yang dekat dengan ibukota negara, Jakarta, membuatnya strategis dalam perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Kebun Raya dan Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang menarik. Kedudukan Bogor di antara jalur tujuan Puncak atau Cianjur juga merupakan potensi strategis bagi pertumbuhan ekonomi.

3. 4.

Aksesibilitas Iklim Kota Bogor terletak pada ketinggian 190 sampai 330m dari permukaan laut.

Udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 C dan kelembaban udaranya kurang lebih 70%. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah 21,8 C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi angin muson barat. 5. Hidrologi

C. Kondisi Biotik 1. 2. Flora Fauna

D. Sumber Daya Wisata 1. 2. Amenitas Atraksi Wisata

E. Potensi Wisata 1. 2. 3. Daya Tarik Kualitas Estetika dan Keunikan Bentang Alam Jalur Wisata dan Interpretasi

IV.

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum Identifikasi dan Pengukuran Kualitas Supply dan Demand pada Kawasan Non Alami dilaksanakan pada minggu kedua. Kegiatan yang dilakukan meliputi observasi lapang, kuesioner, studi literatur, diskusi, penulisan laporan, dan presentasi di depan kelas. Adapun lokasi pelaksanaan presentasi yaitu ruangan GG B10 yang dimulai pada pukul 10.00 WIB. B. Alat dan Bahan Kegiatan praktikum membutuhkan alat dan bahan untuk menunjang pelaksanaan praktikum. Alat dan bahan yang digunakan selama praktikum dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 . Alat dan bahan yang digunakan selama praktikum
No Alat 1 2 3 Nama Alat/ Bahan Buku panduan praktikum Alat tulis Komputer atau laptop Fungsi Sebagai pedoman pelaksanaan praktikum Untuk membantu mencatat data Untuk membantu dalam mengolah data dan menulis laporan Untuk mencetak laporan Untuk mendokumentasikan data Sebagai obyek yang diamati Sebagai obyek yang diamati

4 Printer 5 Kamera Bahan 1 Kawasan Museum Etnobotani 2 Pengunjung Museum Etnobotani

C. Tahapan Kerja Tahapan kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. 2. Membagi lokasi yang akan dijadikan sasaran kajian kelompok. Melakukan studi literatur, observasi lapang, dan wawancara pengelola terkait supply dan demand di kawasan yang telah ditentukan. 3. Mengidentifikasi supply dan demand serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

4.

Mengukur kualitas supply dan demand pada kawasan yang telah ditentukan dengan menggunakan kuesioner.

5.

Mendokumentasikan supply dan demand pada kawasan yang telah ditentukan tersebut.

6.

Mendiskusikan dan mengolah hasil observasi yang telah didapatkan secara berkelompok dan mendeskripsikannya berdasarkan data yang telah diperoleh.

7.

Membagi materi tulisan menjadi sub-bab yang kemudian dibahas secara perorangan setiap anggota kelompok.

8.

Menyusunnya ke dalam sebuah laporan.

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Hasil identifikasi supply kawasan Berdasarkan hasil observasi lapang, Museum Etnobotani memiliki supply yang cukup beragam. Elemen penawaran tersebut dibedakan menjadi atraksi, aksesibilitas dan amenitas (Tabel 2). Tabel 2. Tabulasi hasil identifikasi supply di TWA Telaga Warna
Kawasan Hal yang mempengaruhi supply Nama/Jenis Jumlah Waktu Display alat musik 1 etalase tadisional. Display permainan 1 etalase tradisional Display alat 5 etalase pertanian Display anyaman Display herbarium Display jamu Display hasil hutan Display ragam rotan Sasaran Keterangan

Museum

2.

Karakteristik Pengunjung Museum Etnobotani merupakan kawasan khusus yang termasuk objek wisata

minat khusus. Jumlah pengunjung sangat minim, tidak merata dan juga tidak menentu. Karakteristik pengunjung sangat penting untuk mengukur demand dari pengunjung. Karakteristik tersebut terbagi atas jenis kelamin, status, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan. Karaktersitik pengunjung pada Museum Etnobotani dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Karakteristik Pengunjung Telaga Warna
Jenis kelamin Status Karakteristik Laki-laki Perempuan Single Menikah Jumlah responden Presentase

Usia

Pendidikan terakhir

Pekerjaan

a. b. c. d. a. b. c. d. e. a. b. c. d. e.

15-20 21-30 31-40 >40 SD SLTP SMA Diploma Sarjana Pelajar Mahasiswa Guru/ dosen Pegawai Swasta Lainnya

2.

Identifikasi Demand Kawasan Berdasarkan hasil observasi, Museum Etnobotani memiliki demand yang cukup

beragam. Permintaan tersebut dibahas berdasarkan hal yang memperngaruhinya yaitu jenis kelamin, usia, status pernikahan, pekerjaaan, pendapatan (Tabel 4). Tabel 4. Hasil identifikasi demand di TWA Telaga Warna
Jenis Jenis Kelamin Hal yang mempengaruhi demand Usia Status Pekerjaan (Tahun) Pernikahan Pendapatan

B. Pembahasan 1. a) b) Supply Wisata di TWA Telaga Warna (Bumi Ruslim Sukmadjaja, J3B209063) (Bumi Ruslim Sukmadjaja, J3B209063)

c)

(Nandina Juniar Primadina, J3B209079)

d) (Nandina Juniar Primadina, J3B209079)

e) f) g)

(Putri Sumawardani / J3B109029) (Putri Sumawardani / J3B109029) (Radityo Utama Putra / J3B209081)

h) (Radityo Utama Putra / J3B209081) 2. Karakteristik Pengunjung TWA Telaga Warna Pengunjung yang datang pada kawasan Taman Wisata Alam Telaga Warna didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut karena pengunjung yang datang kelokasi tersebut kebanyakan melakukan kegiatan untuk bersantai-santai dari kegiatan yang cukup menyita waktu dan tenaga. Dilihat dari aktifitasnya tersebut, pada kawasan kegiatan wisatanya termasuk wisata alam dan minat khusus, tetapi dikarenakan pengunjung yang datang dengan tujuan secara akademis atau pembelajaran maka tidak menjadi patokan bahwa selalu pria yang lebih banyak datang kepada obyek wisata alam seperti pada kawasan Telaga Warna.

(a)
Sumber : Data Primer, 2011

(b)

Gambar 11. Karakteristik Polulasi Pengunjung : (a) Jenis Kelamin; (b) Status. Pengunjung rata-rata belum menikah. Namun, untuk responden wanita didominasi oleh pengunjung berstatus sudah menikah. Usia pengunjung yang paling banyak adalah remaja dan dewasa. Terdapat beberapa pengunjung orang tua dan

anak-anak yang datang pada kawasan tersebut. Saat pengambilan kuisioner pengunjung yang datang pada kawasan tersebut berasal dari daerah sekitar Jakarta, Bogor, dan Puncak.

(a)
Sumber : Data Primer, 2011

(b)

Gambar 11. Karakteristik Polulasi Pengunjung : (a) Umur; (b) Pekerjaan.

Hasil kuisioner menyatakan, pada bagian tingkat pendidikan bahwa pengunjung yang datang ke kawasan memiliki tingkat pendidikan terakhir paling banyak adalah SMA. Dominansi tersebut berasal tidak lain dari motivasi para pengunjung yang datang, seperti yang telah dijelaskan bahwa pengunjung yang jumlahnya paling banyak adalah usia remaja dengan status pelajar. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan terakhir yang jumlahnya paling banyak adalah SMA. Pengunjung yang datang ke kawasan Taman Wisata Alam Telaga Warna sebagian besar memang berkunjung dengan teman, suasana dan aktifitas yang dapat dilakukan dalam kawasan memang dapat dinikmati dengan nyaman bersama teman. Karakteristik responden juga menjelaskan mengenai pekerjaan dari para pengunjung yang datang ke kawasan taman wisata alam Telaga warna. Pengunjung didominasi oleh pekerjaan sebagai seorang pelajar, karena responden yang lebih banyak didapat adalah responden berusia remaja.

3. a)

Demand Kawasan Motivasi Pengunjung Pengunjung yang bertindak sebagai wisatawan pada suatu kawasan wisata pasti

memiliki motivasinya masing-masing dalam melakukan aktifitas. Motivasi wisatawan terbagi berdasarkan tiga kategori yaitu mulai dari objek wisata, aktifitas yang dilakukan hingga fasilitas pada kawasan wisata. Motivasi pengunjung sangatlah penting untuk diperhatikan. Hal tersebut dapat dijadikan indikator dan menjadi bahan perhatian bagi pengelola suatu kawasan wisata, karena dengan hal itu pengelola dapat mengetahui apa permintaan dari pengunjung terhadap kawasan wisata yang dikelolanya.

Sumber : Data Primer, 2011

Gambar 12. Motivasi berdasarkan obyek wisata Objek wisata yang ternyata menjadi motivasi bagi wisatawan yang berkunjung ke TWA Telaga Warna antara lain adalah flora, fauna, gunung dan danau. Masingmasing objek tersebut mendapatkan penilaiannya sendiri yg didapatkan hasil dari wawancara pengunjung. Grafik menyatakan motivasi pengunjung terlihat setara dengan menilai objek yang berada pada kawasan yaitu atas flora, danau dan gunung yang dapat dinikmati di TWA Telaga Warna, tetapi terlihat grafik pada tertinggal satu angka dengan objek yang lain. Indikator penilaian tersebut harus diperhatikan oleh pengelola kawasan agar apa yang menjadi permintaan dari pengunjung dapat terpenuhyang dilakukan dengan baik. Tidak hanya objek pada kawasan yang menjadi bahan perhatian atas apa yang diminta oleh pengunjung. Aktifitas yang sering dilakukan oleh pengunjung pada kawasan pun harus dinilai dengan baik. Hasil observasi dan wawancara pengunjung

mengenai motivasi atas aktifitas yang dilakukan memperoleh hasil yang dapat dilihat pada Gambar 13.
Outbond Spiritual Menikmati alam Rekreasi 0 1 2 3 4 5 6

baik agak baik baik baik


7

Sumber : Data Primer, 2011

Gambar 13. Motivasi berdasarkan aktivitas Terdapat lima aktifitas yang paling dominan dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung pada kawasan TWA Telaga Warna. Aktifitas tersebut dapat dilihat seperti apa yang dicantunkan pada grafik. Angka pada grafik menunjukan bahwa pengunjung memang saat berkunjung ke TWA Telaga Warna dengan maksud untuk berkreasi, dengan objek-objek yang berada di kawasan tentu saja hal tersebut sudah tidak menjadi hal yang mengherankan. Aktifitas outbound dan menikmati alam pun menjadi dorongan bagi wisatawan untuk mengunjungi kawasan ini. Aktifitas-aktifitas yang telah dijelaskan sebelumnya sudah menjadi hal yang normal pada suatu kawasan wisata alam, tetapi beberapa pengunjung dijumpai ingin melakukan aktifitas yang berhubungan dengan spiritual pada kawasan TWA Telaga Warna. Berbagai macam aktifitas tersebut seharusnya dapat menjadi acuan bagi pengelola dan dapat memaksimalkan aktifitas-aktifitas yang dapat dilakukan pengunjung. Suatu kawasan wisata tidak akan lengkap dengan tidak adanya fasilitas yang mendukung keberadaan kawasan wisata. Berbagai aktifitas dan objek pun tidak akan sempurna jika tidak dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Maka dari itu fasilitas pun berpengaruh atas motivasi pengunjung. Fasilitas-faslitas yang berada pada kawasan TWA Telaga Warna ini perlu diberikan penilaian agar dapat diperbaiki nantinya sesuai dengan persepsi dan pada akhirnya dapat memenuhi permintaan

pengunjung. Fasilitas yang terdapat pada kawasan TWA Telaga Warna berikut penilaiannya dapat dilihat pada Gambar 14.
Toilet Musholla Aksesibilitas 0 1 2 3 4 5 6

agak baik agak baik baik


7

Sumber : Data Primer, 2011

Gambar 14. Motivasi berdasarkan sarana Penilaian wisatawan yang sedang berkunjung mengenai fasilitas yaitu terdiri atas toilet, musholla dan aksesibilitas menuju kawasan. Wisatawan yang berkunjung memiliki motivasi yang cukup baik terhadap aksesibilitas menuju kawasan. Akses termasuk ke dalam hal yang penting dalam kemajuan suatu kawasan wisata. Toilet dan musholla pun diberikan penilaian yang cukup baik, fasilitas tersebut tidak boleh terlepas atau terlupakan dari suatu kawasan wisata karena kedua fasilitas tersbut dapat disebut vital atau penting dalam mendukung jalannya aktifitas wisata. 4. Penilaian pengunjung terhadap kawasan wisata Kawasan taman wisata alam Telaga Warna memiliki lokasi atau site spesific yang sering dikunjungi pengunjung dan menjadi salah satu lokasi favorit saat berkunjung ke kawasan wisata alam Telaga Warna. Pengunjung juga memiliki penilaian dalam kawasan wisata alam Telaga Warna dalam segi site spesific. Berikut grafik dari hasil rekapitulasi kuisioner yang disebar kepada 20 orang responden :
gazebo outbond danau taman 1 2 3 4 5 6

baik baik agak baik baik


7

Sumber : Data Primer, 2011

Gambar 15. Penilaian Pengunjung Hasil rekapitulasi yang disebar kepada 20 orang responden menyimpulkan bahwa pada lokasi atau site spesific yang sering dikunjungi dan menjadi favorit adalah lokasi gazebo, arena outbond, dan taman bermain. Selain itu, kawasan danau mengalami penurunan tingkat penilaian dibandingkan dengan lokasi atau site spesific yang lain. Site gazebo lebih disukai dan menjadi favorit karena kondisinya yang cukup baik dan nyaman dijadikan tempat beristirahat ataupun duduk-duduk sambil menikmati udara segar dikawasan wisata alam Telaga Warna. Arena outbound pun juga menjadi salah satu dari lokasi yang sering menjadi site favorit saat mengunjungi kawasan Telaga Warna. Arenanya yang unik dan menjadi salah satu daya tarik wisata di Telaga Warna menjadikan arena outbound ini tidak pernah sepi pengunjung. Berbeda hal dengan kawasan danau yang mulai mengalami penurunan penilaian bagi pengunjung yang datang. Kawasan danau cenderung monoton dan kurang memiliki daya tarik yang khas bagi para sebagian pengunjung. Namun, hal tersebut tidak mengurangi daya magis dan mistis dari danau Telaga warna. Selain lokasi gazebo dan outbound, lokasi taman juga menjadi salah satu lokasi yang memiliki penilaian terbaik dari responden. Hal ini terlihat dari banyaknya responden yang menyukai taman bermain di kawasan wisata alam Telaga Warna. 5. Penilaian pengunjung terhadap daya tarik dan atraksi wisata Telaga Warna tidak hanya memiliki daya tarik dan atraksi wisata berupa danau, namun juga memiliki daya tarik berupa kegiatan yang mampu menarik minat dari para pengunjung. Daya tarik wisatanya pun tidak selalu terkait dengan sesuatu hal yang berasal dari alam. Namun, juga daya tarik dan atraksi wisata yang telah disediakan oleh pengelola dari Telaga Warna. Berikut adalah grafik dari hasil rekapitulasi kuisioner penilaian daya tarik dan atraksi wisata dari 20 responden :

Paintball Sewa Perahu Arena Bermain camping ground Jungle track outbound kebun teh taman danau 0 1 2 3 4 5

baik baik baik baik baik baik agak baik agak baik agak baik
6 7

Sumber : Data Primer, 2011

Gambar 16. Penilaian pengunjung mengenai dayatarik dan atraksi wisata Hasil rekapitulasi kuisioner dari penilaian daya tarik dan atraksi wisata menyimpulkan bahwa danau, taman, dan kebun teh memiliki penilaian paling memuaskan dari 9 daya tarik dan atraksi wisata yang terdapat di Telaga Warna. Danau dianggap memiliki daya tarik dan atraksi wisata yang memuaskan karena danau memiliki cerita ataupun mitos yang mampu menarik wisatawan untuk mengunjungi Telaga Warna. Selain danau, taman juga menjadi salah satu daya tarik dan atraksi wisata yang memuaskan karena taman adalah salah satu kawasan yang menjadi favorit pengunjung. Taman menjadi favorii dikarenakan kawasannya yang teduh dan sejuk sehingga pengunjung betah untuk berlama-lama dikawasan ini. Tidak kalah menariknya dengan daya tarik dan atraksi wisata di kebun teh. Kebun teh mampu menarik minat pengunjung karena kawasannya yang sangat bagus untuk arena fotografi. Tiga dari sembilan daya tarik dan atraksi wisata yang dimiliki Telaga Warna, memiliki penilaian cukup memuaskan bagi beberapa responden. Hal ini terlihat dari hasil rekapitulasi kuisioner yang telah tersebar. Daya tarik dan atraksi wisata berupa jungle track, camping ground, dan paintball adalah salah satu kegiatan minat khusus yang ditujukan untuk beberapa pengunjung. Selain itu, arena bermain, outbound, dan sewa perahu juga memiliki penilaian cukup memuaskan karena kondisi dari daya

tarik dan atraksi wisata tersebut yang kurang baik. Kondisi seperti itu yang menjadikan pengunjung enggan untuk mencoba atraksi wisata tersebut. 6. Penilaian Pengunjung terhadap Fasilitas pada kawasan obyek wisata Fasilitas yang telah disediakan kawasan wisata alam Telaga Warna telah cukup baik untuk beberapa responden. Pengelola Telaga Warna dengan sangat serius memperhatikan beberapa kekurangan dari fasilitas yang telah ada. Hal ini dilakukan untuk menjaga kenyaman dari para pengunjung. Berikut adalah grafik dari hasil rekapitulasi penilaian fasilitas wisata di kawasan wisata Telaga Warna :
Kantin Gazebo Tempat Sampah Musholla Toilet Ticketing Parkir 0 1 2 3 4 5 6

baik agak baik agak baik agak baik agak baik baik

agak baik
7

Sumber : Data Primer, 2011

Gambar 17. Penilaian pengunjung terhadap fasilitas Pengelola Telaga Warna telah cukup ketat dalam memperhatikan kondisi fasilitas di dalam kawasan. Dengan memperhatikan kondisi fasilitas yang ada, 5 dari 7 fasilitas memiliki penilaian yang memuaskan. Parkir, toilet, musholla, tempat sampah, dan gazebo adalah fasilitas yang memiliki penilaian memuaskan bagi responden yang telah diberikan kuisioner. Fasilitasnya yang bersih, nyaman, dan tersedia sangat baik menjadikan fasilitas tersebut berdampak baik bagi kebutuhan para pengunjung. Selain dari fasilitas tersebut, fasilitas berupa ticketing dan kantin hanya mendapat penilaian cukup memuaskan dari hasil rekapitulasi kuisioner. Hal ini

terlihat dari keadaan fasilitas yang kurang memadai dan tidak sesuai dengan harapan pengunjung. Namun, dari kekurangan ini tidak terlalu berdamapak banyak bagi kegiatan wisata di Telaga Warna.

KESIMPULAN

A. Kesimpulan Kawasan alami TWA Telaga Warna memiliki supply yang bersifat alami sebagai daya tarik utamanya. Penawaran yang ditonjolkan tersebut yaitu danau atau telaga, suasana pegunungan, serta pemandangan kebun teh. Selain itu pengelola TWA Telaga Warna juga menambahkan outbound, paintball, perahu, area bermain dan juga camping ground sebagai supply tambahan untuk menunjang kegiatana wisata. Jumlah dari supply yang ada sudah cukup memadai untuk menampung pengunjung yang datang. Pengelola pun menyuguhkan supply tersebut setiap hari. Hal tersebut dapat diketahui dari jadwal buka kawasan TWA tersebut yang buka setiap saat, meskipun untuk beberapa supply hanya dapat dinikmati pengunjung pada waktu-waktu tertentu saja. Berdasarkan penilaian pengunjung terhadap supply yang ada, sebagian besar supply dinilai agak baik dan baik. Hal tersebut dikarenakan supply yang ada masih terjaga dan terpelihara dengan baik. Dari sisi demand, pengunjung TWA Telaga Warna meminta atraksi dan daya tarik wisata yang ada. Karakteristik pengunjung yang mempengaruhi demand didominasi oleh jenis kelamin laki-laki, usia antara 15 20 tahun, status masih single, dan pekerjaannya sebagai pelajar. B. Saran Saran yang dapat diberikan dari hasil identifikasi dan pengukuran kualitas yang terdapat di TWA Telaga Warna, antara lain : 1. Pengelola sebaiknya terus menjaga wahana wahana permainan (flying fox, perahu/rakit, di TWA Telaga Warna dengan selalu mengoperasikan dan

mengevaluasi wahana permainan tersebut. 2. Pengunjung sebaiknya menjaga dan menggunakan atraksi, daya tarik, beserta fasilitas yang disediakan dengan baik..

DAFTAR PUSTAKA

Avenzora R. 2008. Ekoturisme Teori dan Praktek. BRR NAD-NIAS. Banda Aceh. Damanik J, Weber HF. 2006. Perencanaan Ekwowisata dari Teori ke Aplikasi. Andi. Yogyakarta. Damanik J. 2006 Perencanaan Ekowisata. Pusat Studi Pariwisata UGM dan Andi. Yogyakarta. Pendit NS. 2006. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. PT. Pradnya Paramita. Jakarta. Pitana IG, Gayatri PG. 2005. Sosiologi Pariwisata. Andi. Yogyakarta. Pitana IG, Diarta IKS. 2009 Pengantar Ilmu Pariwisata. Andi. Yogyakarta. Yoeti OA. 1996. Pengantar Pariwisata. Angkasa. Bandung.