A.

DASAR-DASAR KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA RUMAH SAKIT (K3 RS)

Pelayanan rumah sakit sebagai industri jasa merupakan bentuk upaya pelayanan kesehatan yang bersifat sosioekonomi, yaitu suatu usaha yang walau bersifat sosial namun diusahakan agar bias memperoleh surplus dengan cara pengelolaan yang profesional. Rumah sakit merupakan institusi yang sifatnya kompleks dan sifat organisasinya majemuk, maka perlu pola manajemen yang jelas dan modern untuk setiap unit kerja atau bidang kerja. Sebagai contoh pada bidang manajemen Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Survey nasional di 2.600 rumah sakit di USA rata-rata tiap rumah sakit 68 karyawan cedera dan 6 orang sakit (NIOSH 1974-1976). Cedera tersering adalah strain dan sprain, luka tusuk, abrasi, contusio, lacerasi, cedera punggung, luka bakar dan fraktur. Penyakit tersering adalah gangguan pernapasan, infeksi, dermatitis dan hepatitis. Hasil identifikasi hazard RS ditemukan adanya gas anestesi, ethylen oxyde dan cytotoxic drug. Laporan NIOSH 1985 terdapat 159 zat yang bersifat iritan untuk kulit dan mata, serta 135 bahan kimia carcinogenic, teratogenic, mutagenic yang dipergunakan di rumah sakit. California State Departement of Industrial Relations menuliskan rata-rata kecelakaan di rumah sakit 16,8 hari kerja yang hilang per 100 karyawan karena kecelakaan. Karyawan yang sering mengalami cedera, antara lain: perawat, karyawan dapur, pemeliharaan alat, laundry, cleaning service, dan teknisi. Penyakit yang biasa terjadi antara lain: hypertensi, varises, anemia, ginjal (karyawan wanita), dermatitis, low back pain, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan. Klaim kompensasi karyawan RS lebih besar dibanding pegawai sipil lain. Risiko bahaya dalam kegiatan rumah sakit dalam aspek kesehatan kerja, antara lain berasal dari sarana kegiatan di poliklinik, bangsal, laboratorium, kamar rontgent, dapur, laundry, ruang medical record, lift (eskalator), generator-set, penyalur petir, alat-alat kedokteran, pesawat uap atau bejana dengan tekanan, instalasi peralatan listrik, instalasi proteksi kebakaran, air limbah, sampah medis, dan sebagainya. Dalam GBHN 1993, ditegaskan bahwa perlindungan tenaga kerja meliputi hak Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta jaminan sosial tenaga kerja yang mencakup jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan,

adanya transisi epidemiologi penyakit dan gangguan kesehatan. Di samping UU No. pimpinan. Hal tersebut diikuti dengan masuknya IPTEK canggih yang menuntut tenaga kerja ahli dan terampil. serta syarat-syarat kerja lainnya. sehingga wajib menerapkan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS). menjaga agar alat dan bahan yang dipergunakan dalam proses kegiatan yang hasilnya dapat dipakai dan dimanfaatkan . Perkembangan tersebut antara lain dengan makin meningkatnya pendayagunaan obat atau alat dengan risiko bahaya kesehatan tertentu untuk tindakan diagnosis. Rumah sakit sebagai industri jasa termasuk dalam kategori tersebut.Jaminan terhadap kecelakaan. kesiapan sektor terkait. upaya K3 telah dimantapkan dengan UU No. Untuk itu diperlukan adanya peningkatan SDM di sarana kesehatan. terapi maupun rehabilitasi di sarana kesehatan. Hal itu mengatur pula sanksi hokum bila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan tersebut. dan masyarakat dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) (singkatannya). Amanat GBHN ini menuntut dukungan dan komitmen untuk perwujudannya melalui penerapan K3. tidak saja untuk mengoperasikan peralatan yang semakin canggih namun juga penting untuk menerapkan upaya K3RS. Upaya pembinaan K3RS dirasakan semakin mendesak mengingat adanya beberapa perkembangan. yang secara eksplisit mengatur kesehatan kerja. lapangan kerja. Undang-Undang No. 23/1992 tentang Kesehatan. Hal tersebut perlu dikembangkan secara terpadu dan bertahap dengan mempertimbangkan dampak ekonomi dan moneter-nya. Program Occupational Safety Health and Environment (OSHE) bertujuan melindungi karyawan. jaminan kematian. 23/1992 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa tempat kerja wajib menyelengarakan upaya kesehatan kerja apabila tempat kerja tersebut memiliki risiko bahaya kesehatan yaitu mudah terjangkitnya penyakit atau mempunyai paling sedikit 10 orang karyawan. Hal ini yang tidak selalu dapat dipenuhi dengan adanya risiko terjadinya kecelakaan kerja. Dalam peraturan perundangan tersebut ditegaskan bahwa dalam setiap tempat kerja wajib diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. kondisi pemberi kerja. dan nonmedis) di sarana kesehatan pada lingkungan tercemar bibit penyakit yang berasal dari penderita yang berobat atau dirawat. Upaya K3 sendiri sudah diperkenalkan dengan mengacu pada peraturan perundangan yang diterbitkan sebagai landasannya. 1/1970 tentang Keselamatan Kerja. paramedis. dan kemampuan tenaga kerja. Terpaparnya tenaga kerja (tenaga medis.

cytostatika.8%. Tenaga medis RS mempunyai risiko terkena infeksi 2-3 kali lebih besar daripada medis yang berpratik pribadi. factor ergonomi (cara duduk. di U. Formaldehyde untuk mensterilkan sarung tangan karet medis atau paramedis dikenal sebagai zat yag bersifat karsinogenik). pyogenic. serta produktif. Dapat dibayangkan bagaimana besarnya kerugian itu seandainya dihitung untuk rumah sakit di Indonesia. B. pemaparan dengan dosis kecil namun terus menerus seperti anstiseptik pada kulit. efesien. demikian juga dikalangan karyawan banyak yang menganggap remeh atau acuh tak acuh dalam memenuhi SOP kerja.1%. Hari perawatan pasien yang menderita infeksi nosokomial tersebut bertambah 5-10 hari.K ± 9.7%. di Taiwan insiden ± 13. yang umumnya berasal dari pasien). di Malaysia prevalens ± 12. di Jakarta ± 41. kurangnya kesadaran dari direksi dan karyawan sendiri untuk melaksanakan peraturan perundangan K3 serta masih banyak pihak direksi menganggap upaya K3RS sebagai pengeluaran yang mubazir. baccilli. peralatan. Tahun 1977 dari seluruh rumah sakit di AS menunjukkan bahwa penderita yang dirawat 5%-10% menderita infeksi nosokomial (Hospital Acquired Infection). gas anestesi pada hati. RISIKO BAHAYA POTENSIAL DI RUMAH SAKIT Penyakit akibat kerja di sarana kesehatan umumnya berhubungan dengan berbagai factor biologis (kuman patogen.9%. narkotika dan lain-lain.secara benar. stapphylococci. faktor fisik yaitu pajanan dengan . Masalah penyebab kecelakaan yang paling besar yaitu factor manusia karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan.2%. Begitu besar risiko yang akan dihadapi apabila masalah sanitasi termasuk pengelolaan limbah. dimana kondisi sanitasi dan K3RS yang pada umumnya masih lebih buruk. demikian pula angka kematian pasien menjadi lebih tinggi yaitu sebesar 6% disbanding yang tidak terkena infeksi nosokomial hanya sebesar 3%. di Surabaya ± 73. Penyebab lain adalah kondisi lingkungan seperti dari mesin. Kerugian akibat penambahan hari perawatan dan pengobatan tersebut mencapai lebih dari 2 milyar US. pesawat. Upaya OSHE sangat besar peranannya dalam meningkatkan produktivitas terutama mencegah segala bentuk kerugian akibat accident. kurang mendapat perhatian yang serius.3% dan di Yogyakarta ± 5. dan lain sebagainya. colli. Faktor kimia (bahan kimia dan obat-obatan antibiotika. Di AS insiden infeksi nosokomial ± 5% dan CFR 1 %. mengangkat pasien yang salah).

Semua potensi bahaya tersebut di atas. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. luka bakar. radiasi. keletihan. yang kemungkinan mengandung mikroorganisme patogen. Karyawan di bagian cleaning service terpajan deterjen. kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik.dosis kecil yang terus menerus (kebisingan dan getaran diruang generator. tekanan barometrik pada decompression chamber. dan lain-lain) serta factor psikososial (ketegangan dikamar bedah. tertusuk sisa jarum suntik dan lainlain. Bagian pemeliharaan terpajan dengan solvent. Hal ini dapat membahayakan dan menimbulkan gangguan kesehatan baik bagi petugas. hubungan kerja yang kurang harmonis. shift kerja. gas-gas anastesi. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan. parasit. stres kerja. selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahayabahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS. Potensi bahaya di RS. terpeleset. laboratorium. suhu dan kelembabam tinggi diruang boiler dan laundry. risiko luka potong – tusuk. yaitu kecelakaan (peledakan. pencahayaan yang kurang dikamar operasi. radiasi. bahan-bahan kimia yang berbahaya. pasien maupun pengunjung rumah sakit. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. tegangan tinggi pada sistem reproduksi. jelas mengancam jiwa . khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan. dan lain-lain. dan stres akibat shift kerja. tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS. dan panas. tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. asbes. kebakaran. listrik. radiasi. Petugas di ruang operasi mempunyai risiko masalah reproduksi atau gastroenterology Pajanan limbah gas anaestesi. ruang perawatan. radiasi panas pada kulit. penerima pasien gawat darurat dan bangsal penyakit jiwa. dan sumber-sumber cidera lainnya). desinfektan. Rumah sakit merupakan penghasil sampah medis atau klinis terbesar. bising. Teknisi radiologi potensial terpajan radiasi dari sinar X dan radioaktif isotop atau zat kimia lainnya. Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja. Karyawan katering sering mengalami tertusuk jari. terpajan zat kimia beracun. dan lain-lain). Perawat sering cedera punggung. gangguan psikososial dan ergonomi. bahan kimia beracun dan radioaktif. dan lain-lain.

meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. .3%.5 kali dari petugas atau pekerja lain. dermatitis: 1. Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif. abrasions: 1. 1983). Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. gangguan pada saat kehamilan. dan penyakit infeksi dan lain-lain. contussion.1%. dan lain-lain: 12. saluran cerna dan keluhan lain. sakit pinggang. multiple injuries: 2. yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1.8%. yaitu penyakit infeksi dan parasit. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum. thermal burns: 2%. punctures: 10. data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas. Selain itu. Dari berbagai potensi bahaya tersebut. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS. Di Australia. gangguan saluran kemih.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain. scratches. penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS. yakni hipertensi. para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS. infections: 1. insiden cedera musculoskeletal 4. seperti sakit telinga. saluran pernafasan. 87% pernah low back pain. efisien dan terpadu.6%. Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. masalah kelahiran anak. cuts. fractures: 5. diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS. crushing. Bureau of Laboratorium Statistics. varises. namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS. sakit kepala. terkilir. Laporan lainnya yakni di Israel. luka bakar. dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae.4% (US Department of Laboratorium. Khusus di Indonesia. prevalensi 42% dan di AS. tergores/terpotong. diantara 813 perawat. baik bagi pengelola maupun karyawan RS. yaitu sprains. strains : 52%. Gun (1983) memberikan catatan bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS.9%. maka perlu upaya untuk mengendalikan. bruising : 11%. oleh karena itu K3 RS perlu dikelola dengan baik. angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16.2%. laceration. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita). anemia (kebanyakan wanita).62/100 perawat per tahun.dan kehidupan bagi para karyawan di RS.

Dengan kata lain pengendalian PAK dan KAK di RS meliputi: 1.Di samping itu. pemeriksaan kesehatan bagi pekerja yang berpotensi terpajan hazard tertentu. bertujuan melindungi masyarakat akan bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari sampah atau limbah rumah sakit. berdasarkan peraturan perundangan (statutory medical examination). jika pengelolaannya tidak baik dapat menjadi sumber pencemaran terhadap lingkungan yang pada gilirannya akan menjadi ancaman terhadap kesehatan masyarakat yang lebih luas. pengendalian pajanan yag terdiri dari monitoring lingkungan kerja. Pengelolaan sampah dan limbah rumah sakit merupakan bagian dari upaya penyehatan lingkungan. Pencegahan sekunder meliputi screening penyakit. pengendalian teknik. penyehatan bangunan dan ruangan termasuk pengaturan pencahayaan. pengendalian serangga dan tikus. monitoring biologi. administrasi. identifikasi pekerja yang rentan. persyaratan-persyaratan tehnis dan lain-lain. penyehatan air termasuk kualitasnya. perlindungan radiasi serta penyuluhan kesehatan lingkungan. Engineering control seperti substitusi/isolasi/perbaikan sistem dan lain-lain serta. pemeriksaan kesehatan berkala. Pelayanan kesehatan kerja juga diberikan pada tahapan pencegahan tersier meliputi upaya disability limitation dan rehabilitasi. 2. Administrative control seperti seleksi karyawan. meliputi pengenalan hazard (potensi bahaya). pengunaan APD. Legislative control seperti peraturan perundangan. Peraturan Pemerintah RI No 19/1994 menetapkan bahwa limbah hasil kegiatan RS dan laboratoriumnya termasuk dalam daftar limbah B3 dari sumber yang spesifik dengan kode limbah D227. penyehatan makanan dan minuman. tanggal 14 November 1992 tentang prasyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit meliputi. Sesuai dengan Permenkes No. PENGENDALIAN PENYAKIT DAN KECELAKAAN AKIBAT KERJA DI RS/SARANA KESEHATAN Dalam pelayanan kesehatan kerja dikenal tahapan pencegahan PAK dan kecelakan akibat kerja (KAK) yakni pencegahan primer. C. penyehatan tempat pencucian umum termasuk pencucian linen. . pengaturan jam kerja dan lain-lain. pengelolaan limbah. 3. 986 Menkes/Per/XI/1992. sterilisasi atau desinfeksi. penghawaan serta pengendalian kebisingan.

1.06. 2. DASAR HUKUM MANAJEMEN HYPERKES DAN KESELAMATAN KERJA DI RUMAH SAKIT Beberapa standar hukum yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan manajemen hyperkes dan keselamatan kerja di rumah sakit antara lain. 5. 1. Pengorganisasian K3 di rumah sakit berdasarkan atas. SK MenKes No 351/MenKes/SK/III/2003 tanggal 17 Maret 2003 tentang Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan. Permenkes RI No 986/92 dan Kep Dirjen PPM dan PLP No HK.598 tentang Kesehatan Lingkungan RS.06.6. 4. Audit manajemen K3 RS. Undang-Undang No 14/1969 tentang Ketentuan Pokok Tenaga Kerja. Surat edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. 3. Kepmenkes No. Undang-Undang No 23/1992 tentang Kesehatan. 7. 44/BW/92 tentang Pelaksanaan Pembinaan K3 Berbagai Peralatan Berat Nonmedik di Lingkungan RS Salah satu contoh struktur organisasi rumah sakit BUMN yang telah mencantumkan manajemen hiperkes dan Keselamatan Kerja RS. 147 A/Yanmed/Insmed/II/1992 Kep. No.6. 261/MENKES/SK/II/1998 dan Kep Dirjen PPM dan PLP No HK.6.4. Akreditasi RS. 00. Optimalisasi fungsi PK3-RS dalam pengelolaan K3 RS. 2. Permenkes RI No 472/Menkes/Per/V/96 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan. yang diimplementasikan kedalam sistem . 5. 6.06. Undang-Undang No 1/1970 tentang Keselamatan Kerja.82 tentang Petunjuk Tehnis Pelaksanaan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja. Medical control D. 6. SKB No.00.4.01497 tanggal 24 Februari 1995 tentang PK3-RS.00. 4. Kepmenkes. 1335/MENKES/SK/X/2002 tentang Standar Operasional Pengambilan dan Pengukuran Sampel Kualitas Udara Ruang RS. 3.

Disinfektan √ Desinfektan : Alkohol. Petugas Yang beresiko : Radiografer. Ada : Bila bangsal berdekatan dengan dapur. KIMIA : 1. dapur. Panas √ √ 5. Bising √ √ Ada : Bila lokasi bangsal berdekatan dengan laundry. Ada : Bila bangsal berdekatan dengan bengkel IPS RS. Formaldehyde √ . dokter radiologi dan petugas lain yang bertugas di ruang radiologi. Ada : Bila lokasi bangsal berdekatan dengan laundry. √ Obat Narkose Umum (NU) yang hanya digunakan di ruang operasi untuk operasi bedah besar. Getaran √ √ 3. Cytotoxic : Zat atau bahan yang bisa bersifat racun dan merusak sel. Ada Tidak Ada Keterangan 2. reagen 2. Hanya di ruang radiologi (Rontgen). Radiasi √ B.manajemen sanitasi rumah sakit dan pengendalian infeksi nosokomial serta manajemen keselamatan kerja E. FISIK : 1. incenerator (IPAL) dan genset. Bahan pengawet untuk obat-obatan. H2O2. Ethylene oxide 4. incenerator (IPAL) dan genset. Debu √ √ 4. IDENTIFIKASI BAHAYA POTENSIAL (HAZARD) DI RAWAT INAP / BANGSAL No Jenis Hazard A. Cairan Betadine dan lain-lain. Cytotoxics √ 3. gudang dan unit-unit lain yang menghasilkan debu. incenerator dan genset.

Perawat dan petugas lainnya. Pneumonia dan lainlain Jamur : Tinea. Gas-gas anaestesi C. dokter/perawat anaestesi. Virus : HIV.dan mayat. BIOLOGIK : 1. bisa teradapat di semua area RS. Petugas yang beresiko : Dokter Bedah. sopir. perawat gigi dan petugas lain yang ada di ruang tersebut. Dokter gigi. Solvents √ 7. √ . Ruang operasi gigi dan Recovery Room (RR). √ 4. Pekerjaan dilakukan manual yang secara √ Area pasien dan tempat penyimpanan barang (gudang). petugas pembersih. √ Digunakan di Ruang Operasi. operator komputer. Herpes dan Influensa Bakteri : TBC. PVC dan dermatolgis lain Investasi Cacing D. perawat kamar operasi. Cairan pembersih lantai. Postur yang salah dalam melakukan pekerjaan Pekerjaan berulang yang √ 3. laboratorium dan kamar mayat. √ 2. 6. Terjadi di semua area RS dan semua karyawan memiliki re. Hepatitis.siko yang sama Terjadi di semua area RS. Petugas yang beresiko : yang menangani pasien dan barang. Biasanya pada Dokter gigi. Yang beresiko : Cleaning Service. Cytomegalovirus. Digunakan di gudang farmasi. Yang beresiko : dokter gigi. √ 3. yang berhubungan √ 2. ERGONOMIK 1. Amalgam √ Digunakan di ruang poliklinik gigi. fisioterapis. 5. Rubella.

Pengorganisasian K3 RS mengacu ke UU No 1/1970 tentang Pembentukan Panitia Pembina K3 RS (P2K3 RS) yang keanggotaannya terdiri dari 2 unsur (bipartite) yaitu unsur pimpinan dan unsure tenaga kerja. PELAKSANAAN MANAJEMEN K3 RS Pelaksanaan manajemen hiperkes dan K3 RS. berupaya meminimalisasi kerugian yang timbul akibat PAK dan KAK. Fungsi manajemen lainnya disesuaikan dengan falsafah RS yang bersangkutan.000. G. Fungsi pengawasan atau pengendalian didalam manajemen hiperkes dan K3RS merupakan fungsi untuk mengetahui sejauhmana pekerja dan pengawas atau penyelia mematuhi kebijakan K3RS yang telah ditetapkan oleh pimpinan serta dijadikan dasar penilaian untuk sertifikasi.PSIKOSOSIAL 1. Keberhasilan pelaksaanaan K3RS sangat tergantung dari komitmen tertulis dan kebijakan pihak direksi. F. Oleh karena itu. kerja bergilir. kriteria yang ditetapkan antara lain kualitas produk atau jasa/pelayanan yang tinggi. lingkungan kerja dan . yang dilandasi oleh komitmen tertulis atau kesepakatan manajemen puncak. permasalahan dan terlibat langsung dalam kegiatan K3RS. ancaman secara fisik √ Terjadi di semua area RS dan semua karyawan memiliki resiko yang sama. Sering kontak dengan pasien. Perekonomian global telah menstandarkan ISO baik seri 9000 maupun seri 14. merupakan bagian integral dari perencanaan manajemen perusahaan secara menyeluruh. E. pihak direksi harus paham tentang kegiatan. kerja berlebih. keamanan pada tenaga kerja dan konsumen atau pasien serta ramah akan lingkungan. perlindungan tenaga kerja serta pemenuhan peraturan perundangan K3 yang berlaku (law-compliance). Pelaksanaan K3 di rumah sakit ditujukan pada 3 hal utama yaitu SDM. Fungsi perencanaan dalam manajemen Hyperkes dan K3 RS. KESIMPULAN DAN SARAN Tujuan Manajemen hiperkes dan K3RS adalah melindungi petugas RS dari risiko PAK/PAHK/KAK serta dapat meningkatkan produktivitas dan citra RS. baik dimata konsumen maupun pemerintah.dengan pekerjaan juru tulis.

.pengorganisasian K3 dengan menggalakkan kinerja P2K3 (Panitia Pembina atau Komite K3) di RS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful