P. 1
K3 Hazard RS

K3 Hazard RS

|Views: 2,009|Likes:
Dipublikasikan oleh tgyfn

More info:

Published by: tgyfn on Dec 21, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

A.

DASAR-DASAR KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA RUMAH SAKIT (K3 RS)

Pelayanan rumah sakit sebagai industri jasa merupakan bentuk upaya pelayanan kesehatan yang bersifat sosioekonomi, yaitu suatu usaha yang walau bersifat sosial namun diusahakan agar bias memperoleh surplus dengan cara pengelolaan yang profesional. Rumah sakit merupakan institusi yang sifatnya kompleks dan sifat organisasinya majemuk, maka perlu pola manajemen yang jelas dan modern untuk setiap unit kerja atau bidang kerja. Sebagai contoh pada bidang manajemen Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Survey nasional di 2.600 rumah sakit di USA rata-rata tiap rumah sakit 68 karyawan cedera dan 6 orang sakit (NIOSH 1974-1976). Cedera tersering adalah strain dan sprain, luka tusuk, abrasi, contusio, lacerasi, cedera punggung, luka bakar dan fraktur. Penyakit tersering adalah gangguan pernapasan, infeksi, dermatitis dan hepatitis. Hasil identifikasi hazard RS ditemukan adanya gas anestesi, ethylen oxyde dan cytotoxic drug. Laporan NIOSH 1985 terdapat 159 zat yang bersifat iritan untuk kulit dan mata, serta 135 bahan kimia carcinogenic, teratogenic, mutagenic yang dipergunakan di rumah sakit. California State Departement of Industrial Relations menuliskan rata-rata kecelakaan di rumah sakit 16,8 hari kerja yang hilang per 100 karyawan karena kecelakaan. Karyawan yang sering mengalami cedera, antara lain: perawat, karyawan dapur, pemeliharaan alat, laundry, cleaning service, dan teknisi. Penyakit yang biasa terjadi antara lain: hypertensi, varises, anemia, ginjal (karyawan wanita), dermatitis, low back pain, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan. Klaim kompensasi karyawan RS lebih besar dibanding pegawai sipil lain. Risiko bahaya dalam kegiatan rumah sakit dalam aspek kesehatan kerja, antara lain berasal dari sarana kegiatan di poliklinik, bangsal, laboratorium, kamar rontgent, dapur, laundry, ruang medical record, lift (eskalator), generator-set, penyalur petir, alat-alat kedokteran, pesawat uap atau bejana dengan tekanan, instalasi peralatan listrik, instalasi proteksi kebakaran, air limbah, sampah medis, dan sebagainya. Dalam GBHN 1993, ditegaskan bahwa perlindungan tenaga kerja meliputi hak Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta jaminan sosial tenaga kerja yang mencakup jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan,

Hal tersebut diikuti dengan masuknya IPTEK canggih yang menuntut tenaga kerja ahli dan terampil. 23/1992 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa tempat kerja wajib menyelengarakan upaya kesehatan kerja apabila tempat kerja tersebut memiliki risiko bahaya kesehatan yaitu mudah terjangkitnya penyakit atau mempunyai paling sedikit 10 orang karyawan. kesiapan sektor terkait. Untuk itu diperlukan adanya peningkatan SDM di sarana kesehatan. Perkembangan tersebut antara lain dengan makin meningkatnya pendayagunaan obat atau alat dengan risiko bahaya kesehatan tertentu untuk tindakan diagnosis. Hal itu mengatur pula sanksi hokum bila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan tersebut. Amanat GBHN ini menuntut dukungan dan komitmen untuk perwujudannya melalui penerapan K3. Dalam peraturan perundangan tersebut ditegaskan bahwa dalam setiap tempat kerja wajib diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Upaya K3 sendiri sudah diperkenalkan dengan mengacu pada peraturan perundangan yang diterbitkan sebagai landasannya. menjaga agar alat dan bahan yang dipergunakan dalam proses kegiatan yang hasilnya dapat dipakai dan dimanfaatkan . Rumah sakit sebagai industri jasa termasuk dalam kategori tersebut. Program Occupational Safety Health and Environment (OSHE) bertujuan melindungi karyawan. jaminan kematian. Undang-Undang No. dan kemampuan tenaga kerja. dan nonmedis) di sarana kesehatan pada lingkungan tercemar bibit penyakit yang berasal dari penderita yang berobat atau dirawat. Hal tersebut perlu dikembangkan secara terpadu dan bertahap dengan mempertimbangkan dampak ekonomi dan moneter-nya. adanya transisi epidemiologi penyakit dan gangguan kesehatan. serta syarat-syarat kerja lainnya. terapi maupun rehabilitasi di sarana kesehatan. upaya K3 telah dimantapkan dengan UU No. Terpaparnya tenaga kerja (tenaga medis. kondisi pemberi kerja. sehingga wajib menerapkan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS).Jaminan terhadap kecelakaan. pimpinan. lapangan kerja. Upaya pembinaan K3RS dirasakan semakin mendesak mengingat adanya beberapa perkembangan. paramedis. Hal ini yang tidak selalu dapat dipenuhi dengan adanya risiko terjadinya kecelakaan kerja. 23/1992 tentang Kesehatan. Di samping UU No. tidak saja untuk mengoperasikan peralatan yang semakin canggih namun juga penting untuk menerapkan upaya K3RS. yang secara eksplisit mengatur kesehatan kerja. dan masyarakat dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) (singkatannya). 1/1970 tentang Keselamatan Kerja.

kurang mendapat perhatian yang serius.1%. Tenaga medis RS mempunyai risiko terkena infeksi 2-3 kali lebih besar daripada medis yang berpratik pribadi. RISIKO BAHAYA POTENSIAL DI RUMAH SAKIT Penyakit akibat kerja di sarana kesehatan umumnya berhubungan dengan berbagai factor biologis (kuman patogen.secara benar.7%. di Malaysia prevalens ± 12. di Surabaya ± 73. cytostatika. demikian juga dikalangan karyawan banyak yang menganggap remeh atau acuh tak acuh dalam memenuhi SOP kerja. pyogenic. yang umumnya berasal dari pasien). pesawat. di Taiwan insiden ± 13. di U. factor ergonomi (cara duduk. faktor fisik yaitu pajanan dengan . gas anestesi pada hati.2%. Di AS insiden infeksi nosokomial ± 5% dan CFR 1 %.K ± 9. stapphylococci. dan lain sebagainya. Penyebab lain adalah kondisi lingkungan seperti dari mesin. Upaya OSHE sangat besar peranannya dalam meningkatkan produktivitas terutama mencegah segala bentuk kerugian akibat accident. efesien. dimana kondisi sanitasi dan K3RS yang pada umumnya masih lebih buruk. Dapat dibayangkan bagaimana besarnya kerugian itu seandainya dihitung untuk rumah sakit di Indonesia. Tahun 1977 dari seluruh rumah sakit di AS menunjukkan bahwa penderita yang dirawat 5%-10% menderita infeksi nosokomial (Hospital Acquired Infection). colli. mengangkat pasien yang salah). narkotika dan lain-lain. Hari perawatan pasien yang menderita infeksi nosokomial tersebut bertambah 5-10 hari. Faktor kimia (bahan kimia dan obat-obatan antibiotika. Masalah penyebab kecelakaan yang paling besar yaitu factor manusia karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan.8%. Begitu besar risiko yang akan dihadapi apabila masalah sanitasi termasuk pengelolaan limbah.3% dan di Yogyakarta ± 5. peralatan. Formaldehyde untuk mensterilkan sarung tangan karet medis atau paramedis dikenal sebagai zat yag bersifat karsinogenik). B.9%. kurangnya kesadaran dari direksi dan karyawan sendiri untuk melaksanakan peraturan perundangan K3 serta masih banyak pihak direksi menganggap upaya K3RS sebagai pengeluaran yang mubazir. pemaparan dengan dosis kecil namun terus menerus seperti anstiseptik pada kulit. demikian pula angka kematian pasien menjadi lebih tinggi yaitu sebesar 6% disbanding yang tidak terkena infeksi nosokomial hanya sebesar 3%. serta produktif. di Jakarta ± 41. Kerugian akibat penambahan hari perawatan dan pengobatan tersebut mencapai lebih dari 2 milyar US. baccilli.

asbes. bising. dan lain-lain) serta factor psikososial (ketegangan dikamar bedah. pencahayaan yang kurang dikamar operasi. tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan. yaitu kecelakaan (peledakan. tertusuk sisa jarum suntik dan lainlain. radiasi. suhu dan kelembabam tinggi diruang boiler dan laundry. parasit. radiasi panas pada kulit. pasien maupun pengunjung rumah sakit. dan lain-lain). penerima pasien gawat darurat dan bangsal penyakit jiwa. gangguan psikososial dan ergonomi. tegangan tinggi pada sistem reproduksi. mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. dan lain-lain. khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan. keletihan. bahan kimia beracun dan radioaktif.dosis kecil yang terus menerus (kebisingan dan getaran diruang generator. bahan-bahan kimia yang berbahaya. Hal ini dapat membahayakan dan menimbulkan gangguan kesehatan baik bagi petugas. yang kemungkinan mengandung mikroorganisme patogen. Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja. Potensi bahaya di RS. radiasi. ruang perawatan. dan stres akibat shift kerja. luka bakar. tekanan barometrik pada decompression chamber. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. jelas mengancam jiwa . kebakaran. terpeleset. Karyawan di bagian cleaning service terpajan deterjen. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Karyawan katering sering mengalami tertusuk jari. selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahayabahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS. dan sumber-sumber cidera lainnya). dan lain-lain. hubungan kerja yang kurang harmonis. Teknisi radiologi potensial terpajan radiasi dari sinar X dan radioaktif isotop atau zat kimia lainnya. Petugas di ruang operasi mempunyai risiko masalah reproduksi atau gastroenterology Pajanan limbah gas anaestesi. gas-gas anastesi. stres kerja. Semua potensi bahaya tersebut di atas. dan panas. listrik. shift kerja. kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik. laboratorium. Bagian pemeliharaan terpajan dengan solvent. terpajan zat kimia beracun. radiasi. tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS. risiko luka potong – tusuk. desinfektan. Perawat sering cedera punggung. Rumah sakit merupakan penghasil sampah medis atau klinis terbesar.

insiden cedera musculoskeletal 4. cuts. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang diderita petugas RS lebih besar 1.3%.2%. Selain itu. sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di RS. fractures: 5. sakit pinggang. penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita). diperlukan sebuah pedoman manajemen K3 di RS. 87% pernah low back pain. Agar penyelenggaraan K3 RS lebih efektif. thermal burns: 2%. luka bakar. varises. anemia (kebanyakan wanita). dermatitis: 1. Khusus di Indonesia. Bureau of Laboratorium Statistics. punctures: 10.6%. maka perlu upaya untuk mengendalikan.8%. namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS. 1983). contussion. scratches. Laporan lainnya yakni di Israel. diantara 813 perawat. para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS. saluran cerna dan keluhan lain. Gun (1983) memberikan catatan bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas RS. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum. efisien dan terpadu. bruising : 11%. masalah kelahiran anak. penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka.9%. dan lain-lain: 12. . saluran pernafasan. seperti sakit telinga. yakni hipertensi. yaitu lebih dari 1 milliar $ per tahun. yaitu penyakit infeksi dan parasit. sakit kepala.4% (US Department of Laboratorium. yaitu sprains. data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas. dermatitis dan urtikaria (57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus intervertebrae. Di Australia. baik bagi pengelola maupun karyawan RS. oleh karena itu K3 RS perlu dikelola dengan baik. crushing. abrasions: 1. infections: 1. Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. multiple injuries: 2. meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya.dan kehidupan bagi para karyawan di RS. angka prevalensi cedera punggung tertinggi pada perawat (16. tergores/terpotong. terkilir. Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar. gangguan pada saat kehamilan. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS.62/100 perawat per tahun.5 kali dari petugas atau pekerja lain. strains : 52%. dan penyakit infeksi dan lain-lain.1%. laceration. prevalensi 42% dan di AS. Dari berbagai potensi bahaya tersebut. gangguan saluran kemih.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain.

jika pengelolaannya tidak baik dapat menjadi sumber pencemaran terhadap lingkungan yang pada gilirannya akan menjadi ancaman terhadap kesehatan masyarakat yang lebih luas. Peraturan Pemerintah RI No 19/1994 menetapkan bahwa limbah hasil kegiatan RS dan laboratoriumnya termasuk dalam daftar limbah B3 dari sumber yang spesifik dengan kode limbah D227. 2. penghawaan serta pengendalian kebisingan. persyaratan-persyaratan tehnis dan lain-lain. penyehatan tempat pencucian umum termasuk pencucian linen.Di samping itu. tanggal 14 November 1992 tentang prasyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit meliputi. pengelolaan limbah. Dengan kata lain pengendalian PAK dan KAK di RS meliputi: 1. pemeriksaan kesehatan berkala. pengendalian teknik. pemeriksaan kesehatan bagi pekerja yang berpotensi terpajan hazard tertentu. pengendalian serangga dan tikus. Engineering control seperti substitusi/isolasi/perbaikan sistem dan lain-lain serta. PENGENDALIAN PENYAKIT DAN KECELAKAAN AKIBAT KERJA DI RS/SARANA KESEHATAN Dalam pelayanan kesehatan kerja dikenal tahapan pencegahan PAK dan kecelakan akibat kerja (KAK) yakni pencegahan primer. Pencegahan sekunder meliputi screening penyakit. Pengelolaan sampah dan limbah rumah sakit merupakan bagian dari upaya penyehatan lingkungan. sterilisasi atau desinfeksi. C. pengaturan jam kerja dan lain-lain. identifikasi pekerja yang rentan. monitoring biologi. bertujuan melindungi masyarakat akan bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari sampah atau limbah rumah sakit. 3. penyehatan makanan dan minuman. 986 Menkes/Per/XI/1992. administrasi. berdasarkan peraturan perundangan (statutory medical examination). pengunaan APD. perlindungan radiasi serta penyuluhan kesehatan lingkungan. . penyehatan bangunan dan ruangan termasuk pengaturan pencahayaan. Legislative control seperti peraturan perundangan. meliputi pengenalan hazard (potensi bahaya). Pelayanan kesehatan kerja juga diberikan pada tahapan pencegahan tersier meliputi upaya disability limitation dan rehabilitasi. pengendalian pajanan yag terdiri dari monitoring lingkungan kerja. Sesuai dengan Permenkes No. penyehatan air termasuk kualitasnya. Administrative control seperti seleksi karyawan.

Medical control D.82 tentang Petunjuk Tehnis Pelaksanaan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja. 00. SKB No. Undang-Undang No 1/1970 tentang Keselamatan Kerja. 6. 5.6. Kepmenkes No. 2. 3. 7.00.4. Audit manajemen K3 RS. Permenkes RI No 986/92 dan Kep Dirjen PPM dan PLP No HK.00.4. 261/MENKES/SK/II/1998 dan Kep Dirjen PPM dan PLP No HK. 5. 147 A/Yanmed/Insmed/II/1992 Kep. Akreditasi RS.01497 tanggal 24 Februari 1995 tentang PK3-RS. 6. 1. DASAR HUKUM MANAJEMEN HYPERKES DAN KESELAMATAN KERJA DI RUMAH SAKIT Beberapa standar hukum yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan manajemen hyperkes dan keselamatan kerja di rumah sakit antara lain. Undang-Undang No 14/1969 tentang Ketentuan Pokok Tenaga Kerja. 4.598 tentang Kesehatan Lingkungan RS.06. No. 1. Kepmenkes. Undang-Undang No 23/1992 tentang Kesehatan. Permenkes RI No 472/Menkes/Per/V/96 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan. Pengorganisasian K3 di rumah sakit berdasarkan atas.06. 2. 1335/MENKES/SK/X/2002 tentang Standar Operasional Pengambilan dan Pengukuran Sampel Kualitas Udara Ruang RS.6. Optimalisasi fungsi PK3-RS dalam pengelolaan K3 RS.6. Surat edaran Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. 4. 3.06. 44/BW/92 tentang Pelaksanaan Pembinaan K3 Berbagai Peralatan Berat Nonmedik di Lingkungan RS Salah satu contoh struktur organisasi rumah sakit BUMN yang telah mencantumkan manajemen hiperkes dan Keselamatan Kerja RS. yang diimplementasikan kedalam sistem . SK MenKes No 351/MenKes/SK/III/2003 tanggal 17 Maret 2003 tentang Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan.

FISIK : 1. IDENTIFIKASI BAHAYA POTENSIAL (HAZARD) DI RAWAT INAP / BANGSAL No Jenis Hazard A. Ethylene oxide 4. Cytotoxic : Zat atau bahan yang bisa bersifat racun dan merusak sel. gudang dan unit-unit lain yang menghasilkan debu. Getaran √ √ 3. reagen 2. Disinfektan √ Desinfektan : Alkohol. Ada : Bila bangsal berdekatan dengan dapur. KIMIA : 1. √ Obat Narkose Umum (NU) yang hanya digunakan di ruang operasi untuk operasi bedah besar.manajemen sanitasi rumah sakit dan pengendalian infeksi nosokomial serta manajemen keselamatan kerja E. dokter radiologi dan petugas lain yang bertugas di ruang radiologi. Radiasi √ B. Hanya di ruang radiologi (Rontgen). Bising √ √ Ada : Bila lokasi bangsal berdekatan dengan laundry. H2O2. Cairan Betadine dan lain-lain. incenerator (IPAL) dan genset. Bahan pengawet untuk obat-obatan. dapur. incenerator dan genset. Debu √ √ 4. Panas √ √ 5. incenerator (IPAL) dan genset. Ada : Bila bangsal berdekatan dengan bengkel IPS RS. Petugas Yang beresiko : Radiografer. Ada : Bila lokasi bangsal berdekatan dengan laundry. Ada Tidak Ada Keterangan 2. Cytotoxics √ 3. Formaldehyde √ .

Petugas yang beresiko : yang menangani pasien dan barang. yang berhubungan √ 2. Amalgam √ Digunakan di ruang poliklinik gigi. 5. Dokter gigi. Yang beresiko : dokter gigi. perawat kamar operasi. petugas pembersih. bisa teradapat di semua area RS. perawat gigi dan petugas lain yang ada di ruang tersebut. Ruang operasi gigi dan Recovery Room (RR). √ 4.dan mayat. operator komputer. Terjadi di semua area RS dan semua karyawan memiliki re. Rubella. Petugas yang beresiko : Dokter Bedah. PVC dan dermatolgis lain Investasi Cacing D. √ 2. Herpes dan Influensa Bakteri : TBC. Digunakan di gudang farmasi. √ . Solvents √ 7. √ Digunakan di Ruang Operasi. √ 3. Cytomegalovirus. Perawat dan petugas lainnya. ERGONOMIK 1. sopir. dokter/perawat anaestesi. Pneumonia dan lainlain Jamur : Tinea. Pekerjaan dilakukan manual yang secara √ Area pasien dan tempat penyimpanan barang (gudang).siko yang sama Terjadi di semua area RS. Virus : HIV. 6. Hepatitis. Yang beresiko : Cleaning Service. fisioterapis. BIOLOGIK : 1. Postur yang salah dalam melakukan pekerjaan Pekerjaan berulang yang √ 3. Cairan pembersih lantai. laboratorium dan kamar mayat. Gas-gas anaestesi C. Biasanya pada Dokter gigi.

berupaya meminimalisasi kerugian yang timbul akibat PAK dan KAK.PSIKOSOSIAL 1. Oleh karena itu. G. permasalahan dan terlibat langsung dalam kegiatan K3RS. yang dilandasi oleh komitmen tertulis atau kesepakatan manajemen puncak. lingkungan kerja dan . Perekonomian global telah menstandarkan ISO baik seri 9000 maupun seri 14. Sering kontak dengan pasien. E. F. Keberhasilan pelaksaanaan K3RS sangat tergantung dari komitmen tertulis dan kebijakan pihak direksi. kriteria yang ditetapkan antara lain kualitas produk atau jasa/pelayanan yang tinggi. KESIMPULAN DAN SARAN Tujuan Manajemen hiperkes dan K3RS adalah melindungi petugas RS dari risiko PAK/PAHK/KAK serta dapat meningkatkan produktivitas dan citra RS. pihak direksi harus paham tentang kegiatan. Pelaksanaan K3 di rumah sakit ditujukan pada 3 hal utama yaitu SDM. Pengorganisasian K3 RS mengacu ke UU No 1/1970 tentang Pembentukan Panitia Pembina K3 RS (P2K3 RS) yang keanggotaannya terdiri dari 2 unsur (bipartite) yaitu unsur pimpinan dan unsure tenaga kerja. kerja berlebih. perlindungan tenaga kerja serta pemenuhan peraturan perundangan K3 yang berlaku (law-compliance). Fungsi manajemen lainnya disesuaikan dengan falsafah RS yang bersangkutan. Fungsi perencanaan dalam manajemen Hyperkes dan K3 RS. PELAKSANAAN MANAJEMEN K3 RS Pelaksanaan manajemen hiperkes dan K3 RS. baik dimata konsumen maupun pemerintah.dengan pekerjaan juru tulis. Fungsi pengawasan atau pengendalian didalam manajemen hiperkes dan K3RS merupakan fungsi untuk mengetahui sejauhmana pekerja dan pengawas atau penyelia mematuhi kebijakan K3RS yang telah ditetapkan oleh pimpinan serta dijadikan dasar penilaian untuk sertifikasi. ancaman secara fisik √ Terjadi di semua area RS dan semua karyawan memiliki resiko yang sama.000. merupakan bagian integral dari perencanaan manajemen perusahaan secara menyeluruh. kerja bergilir. keamanan pada tenaga kerja dan konsumen atau pasien serta ramah akan lingkungan.

pengorganisasian K3 dengan menggalakkan kinerja P2K3 (Panitia Pembina atau Komite K3) di RS. .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->