Anda di halaman 1dari 4

1.

Identifikasi Jurnal Judul :Identifying Barriers to Emergency Contraception Use Among Young Women from Various Sociocultural Groups in British Columbia, Canada Pengarang Nama Jurnal : Jean Shoveller, Cathy Chabot, Judith A. Soon, and Marc Levine : Jurnal Perspective on Sexual and Reproductive Health volume 39 Nomor 1, Maret 2007 2. Identifikasi masalah / topic penelitian dalam Jurnal Berlatar belakang di British Columbia Canada pada tanggal 1 Desember 2000 yang memberikan kewenangan pada farmasis (apoteker) untuk memberikan kontrasepsi darurat tanpa membutuhkan resep dokter. Namun demikian, pada tahun 2002, wanita di Inggris Columbia terus meminta penghentian kehamilan (aborsi) meningkat sejumlah 177 per 1000 wanita yang berusia 15-44 tahun. Keefektifaan kontrasepsi darurat telah diperkirakan 75% untuk cara kombinasi hormone Yuzpe dan 85% untuk levonorgestrel saja. Selanjutnya metode ini lebih efektif dan semakin cepat diambil. Sehingga hambatan yang menghambat akses kontrasepsi darurat yang tepat pada perempuan menghambat efektifitas metode. Meskipun telah disebutkan kemajuan penting yang terkait kontrasepsi darurat, hanya sedikit sekali yang mengetahui tentang hambatan potensial dalam sudut pandang wanita. Jurnal ini membahas identifikasi aspek yang menghambat kontrasepsi darurat yang digunakan oleh wanita muda dari berbagai kelompok sosiokultural di British Columbia, Canada. 3. Analisis Metodologi Penelitian dalam Jurnal 4. Analisis Hasil Penelitian Dari sampel yang diambil dari 52 wanita yang berasal dari 4 negara yang berbeda sosiokulturalnya (18 wanita Asia, 16 wanita Asia Selatan, dan 18 sisanya berasal dari eropa dan afrika) dan juga berbeda tingkat pendidikannya (13 partisipan berpendidikan SMA dan dibawahnya, 30 kuliah S1, dan 9 orang kuliah S2). Dari 52 sampel tersebut didapatkan 30 wanita pernah menggunakan kontrasepsi darurat ( 8 orang menggunakan 1x, 10 orang menggunakan 2x, 10 orang menggunakan 3-5x, dan 2 orang menggunakan sebanyak 10x bahkan lebih ). Dari hasil identifikasi terhadap sampel didapatkan 4 pokok penting yang menjadi hambatan dalam penggunaan kontrasepsi darurat yaitu : a. Perasaan kerentanan hamil

Banyak faktor yang mepengaruhi kerentanan kehamilan pada wanita (contohnya siklus menstruasi, kegagalan kontrasepsi, dan hubungan seksual tanpa pengaman). Partisipan tahu kalau siklus menstruasi dapat mempengaruhi proses kehamilan tapi karena kurangnya pengetahuan mereka tidak mengetahui kapan waktu subur mereka. Waktu yang paling rentan terhadap kehamilan, perempuan sering menyebutkan adanya kondom yang rusak atau salah pil dan tidak menggunakan kondom. Namun biasanya wanita berbohong ketika menggunakan kontrasepsi darurat kepada penyedia, ia sering menutupi berhubungan tanpa kondom dan mengatakan kondom rusak. b. Pengetahuan tentang metode kontrasepsi darurat Dalam hal ini terdapat 2 unsur penting yaitu mekanisme fungsional dan kerentanan terhadap risiko penyakit. Pada mekanisme fungsional : beberapa sampel keliru mengartikan kontrasepsi darurat menyebabkan aborsi. Ketika diberitahu bahwa kontrasepsi darurat bukanlah aborsi, mereka menyatakan lega. Ada salah satu dari partisipan, wanita 28 tahun menikah dan punya 2 anak dan seorang muslim, menceritakan bagaimana reaksi negative perempuan dalam komunitasnya ketika mereka mengetahui bahwa dia menggunakan kontrasepsi darurat. Setelah mengetahui bahwa temannya tidak melakukan aborsi, wanita ini sangat lega sekali. Partisipan mendengar tentang risiko kesehatan yang disebabkan karena penggunaan jangka panjang dari kontrasepsi oral, mereka takut menggunakan kontrasepsi darurat. Dari pernyataan tersebut diketui bahwa masih banyak orang yang salah mengartikan fungsi dari kontrasepsi darurat. c. Pengalaman penggunaan alat kontrasepsi darurat Para wanita yang mengguanakan kontrasepsi darurat melaporkan bahwa mereka merasa lega ketika mereka telah menggunakannya. Namun, mereka sering merasa malu atau bersalah. Mereka berharap pada penyedia layanan untuk menjelaskan cara kerjanya dan menjelaskan bahwa tindakan itu bukanlah tindakan aborsi. Terlepas dari etnis atau pengalaman kontrasepsi darurat, peserta khawatir bahwa penyedia perawatan kesehatan akan menganggap mereka tidak bertanggungjawab, seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman orang Asia dengan apoteker perempuan. Ketika ditanyakan kepada yang pernah menggunakan kontrasepsi darurat untuk menggambarkan reaksi fisik dari penggunaan pil ini, separuh dari mereka agak sedikit mual dan pusing. Ini sangat penting dan sulit terutama bagi yang belum menikah yang masih tinggal bersama orang tua untuk menjaga rahasia gejala mereka. Dan juga bagi wanita yang sudah menikah, yang tidak mau

diketahui oleh pasangannya, tapi kadang-kadang pasangan juga ikut membantu menentukan untuk menggunakan kontrasepsi darurat. d. Sosiokultural dan factor institusional Tergantung pada 3 poin utama yaitu : gender dan etnik dari penyedia partisipan umumnya merasa tidak nyaman ketika meminta kontrasepsi darurat dari seorang dokter atau apoteker laki-laki serta dengan etnik mereka juga. Ada juga yang merasa kurang nyama diperiksa oleh golongan etnik yang sama dengannya. Mereka mungkin takut jika penyedia mengenalinya (tetangga, anggota masjid, gereja, atau candi). Perempuan ini juga tidak nyaman dalam mengakses kontrasepsi darurat kepada penyedia perempuan yang menjadi anggota komunitas etnik, takut dia bergosip. Semua partisipan ingin penyedia yang mahir, menggunakan bahasa bukan teknis, mendengarkan secara aktif dan dengan sangat menghargai, dan yang paling penting adalah menentramkan hati berhubungan dengan kenyamanan. Tempat Tempat menjadi dampak material dan social pada penggunaan kontrasepsi darurat pada perempuan. Imigran dari Asia dan Asia selatan mengatakan hambatan seriusnya adalah menggunakan transportasi umum untuk mengakses kontrasepsi darurat. Mereka tidak tahu dimana harus menemukan outlet. kebijakan institusi kebijakan institusi pada kontrasepsi darurat dapat secara langsung mempengaruhi akses wanita. Wanita mungkin secara beralasan mengharapkan metode yang dapat diperoleh dari rumah sakit. Ada salah seorang wanita dalam sampel mempunyai pengalaman pada rumah sakit katolik yang menolak memberikan metode (Kontrasepsi darurat). Wanita mempercayai bahwa metode penggunaan kontrasepsi darurat bisa tersedia tanpa resep dokter, namun dalam semua kelompok etnik dan tanpa menghiraukan pengalaman mereka dalam metode ini, wanita menyatakan keprihatinan jika kontrasepsi darurat dijual bebas (OTC) yang mungkin akan mendorong overuse (penyalahgunaan) kecakapan wanita dalam memanfaatkan kontrasepsi darurat dihambat oleh kurangnya pengetahuan dan sosiokultural yang konservatif. Pengalaman diungkapkan selama interview berlangsung memberi kesan bahwa penegakan otoritas prespektif apoteker belum cukup untuk mengubah hambatan dalam penggunaan kontrasepsi darurat.

Usaha pemasaran social perlu dilakukan untuk menggabungkan legislatif dengan kebijakan yang mengacu pada ketepatan metode. Pria dan wanita dalam usia produktif harus diberi pemahaman tentang kontrasepsi darurat . 5. Aplikasi Hasil Penelitian pada Setting Pelayanan Kesehatan di Indonesia Jurnal penelitian ini bisa diterapkan di Indonesia, dimana masih banyak orang salah

mengartikan kontrasepsi darurat sebagai aborsi, dan sering keliru berpikir bahwa memiliki efek jangka panjang pada kesehatan dan kesuburan.Kontrasepsi darurat itu sendiri adalah kontrasepsi yang dapat diberikan pada hubungan seks yang tidak terlindung dalam waktu 72 jam sampai 7 hari, sehingga dapat menghindari kehamilan.Dalam jurnal ini masih banyak perempuan- perempuan tidak tahu manfaat dari kontrasepsi darurat karena kurangnya pengetahuan ,konservatif atau sosial budaya dan adat istiadat.Metode pada jurnal ini cukup bagus karena membandingkan antara pengetahuan perempuan dan pengalaman yang berkaitan dengan kontrasepsi darurat dengan perhatian khusus yang terpengaruh dari cerita cerita .Jadi jurnal tersebut dapat diterapkan untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, karena pada dasarnya promosi kontrasepsi darurat tidaklah sulit dilakukan agar masyarakat tahu dan masyarakat tidak salah menggunakan kontrapsepsi darurat itu sendiri karena kontrapsepsi darurat it dijual bebas .tapi tinggal bagaimana tingkat kesadaran para petugas pelayanan kesehatan yang terkait.