P. 1
TesisKhairuna

TesisKhairuna

|Views: 931|Likes:
Dipublikasikan oleh irwandi_man6349

More info:

Published by: irwandi_man6349 on Dec 21, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2015

pdf

text

original

Sections

97

Proses adaptasi dilaksanakan pada Selasa, 26 Oktober 2010 (2 jam

pelajaran) pada pukul 08.40 – 10.05 dan Kamis, 28 Oktober 2010 (2 jam

pelajaran) pada pukul 07.30 – 08.40. Pada tahap adaptasi, siswa diperkenalkan

dengan pembelajaran menggunakan pendekatan metakognitif PQ4R. Hal ini

dilakukan agar siswa terbiasa dengan pembelajaran yang baru sehingga hasil

pembelajaran dapat dicapai dengan maksimal. Pada tahap adaptasi ini siswa

dibimbing untuk melakukan kegiatan belajarnya dengan mengikuti langkah-

langkah atau tahap-tahap yang telah dirancang sesuai dengan pendekatan

metakognitif PQ4R.

Pada awalnya siswa masih mengalami kesulitan belajar karena belum

terbiasa dengan pendekatan baru. Namun, setelah diberikan bimbingan, siswa

merasa tertarik dengan pendekatan baru yang mereka terima. Mereka mulai dapat

memilah informasi yang ada pada bahan ajar dan Lembar Aktivitas Siswa, bukan

hanya sekedar berfokus pada angka-angka atau konsep tertentu saja. Kemampuan

memahami soal cerita matematika mulai berkembang seiring dengan penanaman

konsep yang mereka temukan sendiri.

Pada tahap adaptasi ini, siswa diberikan pengetahuan prasyarat yaitu

tentang dasar-dasar pecahan yang telah dipelajari sebelumnya di kelas IV sebagai

pengantar untuk materi pecahan selanjutnya. Dasar-dasar pecahan dipilih sebagai

materi prasyarat karena materi pecahan yang akan dipelajari merupakan

pengembangan dari dasar-dasar pecahan di kelas IV. Dengan mengingatkan

siswa kembali dasar-dasar pecahan yang telah mereka pelajari, maka dapat

membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan matematikanya.

Berdasarkan hasil adaptasi diperoleh data sebagai berikut:

98

Tabel 4.1. Respon Siswa Terhadap Pendekatan Metakognitif PQ4R

No

Aspek Yang Dinilai

Persentase

1Senang terhadap pendekatan metakognitif PQ4R

87, 23%

2Pendekatan metakognitif PQ4R masih baru

95,74%

3Berminat mengikuti pembelajaran dengan menggunakan

pendekatan metakognitif PQ4R

91,49%

Rata-Rata

91,49%

Sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.1. Respon Siswa Terhadap Pendekatan Metakognitif PQ4R

Persentase rata-rata jawaban respon siswa untuk masing-masing

komponen adalah 87,23% menyatakan senang terhadap pendekatan metakognitif

PQ4R; 95,74% menyatakan baru; dan 91,49% menyatakan berminat mengikuti

pembelajaran. Rata-rata persentase dari keseluruhan aspek respon siswa terhadap

pendekatan metakognitif PQ4R adalah sebesar 91,49%. Sesuai dengan kriteria

yang ditetapkan dalam penelitian ini, respon siswa dikatakan positif terhadap

pembelajaran jika rata-rata persentase ≥ 80%. Oleh karena persentase rata-rata

keseluruhan aspek respon siswa terhadap pendekatan metakognitif PQ4R sebesar

91,49%, hal ini berarti pendekatan metakognitif PQ4R baik digunakan dalam

pembelajaran matematika. Hal ini juga menunjukkan bahwa proses adaptasi

99

pendekatan metakognitif PQ4R pada siswa dapat diterima oleh siswa dengan baik

sehingga kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran berikutnya dapat

memudahkan siswa dalam proses belajarnya.

Tabel 4.2. Respon Guru Terhadap Pendekatan Metakognitif PQ4R

No

Aspek Yang Dinilai

Persentase

1Senang terhadap pendekatan metakognitif PQ4R

100%

2Pendekatan metakognitif PQ4R masih baru

66,67%

3Berminat menerapkan pembelajaran dengan menggunakan

pendekatan metakognitif PQ4R

100%

Rata-Rata

88,89%

Sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.2. Respon Guru Terhadap Pendekatan Metakognitif PQ4R

Persentase rata-rata jawaban respon guru untuk masing-masing komponen

adalah 100% menyatakan senang terhadap pendekatan metakognitif PQ4R;

66,67% menyatakan baru; dan 100% menyatakan berminat menerapkan

pembelajaran. Rata-rata persentase dari keseluruhan aspek respon guru terhadap

pendekatan metakognitif PQ4R adalah sebesar 88,89%. Sesuai dengan kriteria

yang ditetapkan dalam penelitian ini, respon guru dikatakan positif terhadap

pembelajaran jika rata-rata persentase ≥ 80%. Oleh karena persentase rata-rata

keseluruhan aspek respon guru terhadap pendekatan metakognitif PQ4R sebesar

100

88,89%, hal ini berarti pendekatan metakognitif PQ4R baik digunakan dalam

pembelajaran matematika. Hal ini juga menunjukkan bahwa proses adaptasi

pendekatan metakognitif PQ4R pada guru dapat diterima oleh guru dengan baik

sehingga kesiapan guru dalam menerapkan pembelajaran berikutnya dapat

memudahkan guru dalam pembelajaran.

4.1.2.Pelaksanaan Pendekatan Metakognitif PQ4R

Hasil penelitian ini akan dibahas berdasarkan masing-masing siklus.

Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi,

dan refleksi. Dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran, peneliti bertindak

sebagai guru.

4.1.3.1Siklus I

Kegiatan pembelajaran pada siklus I siswa bekerja secara individu dengan

alokasi waktu tujuh kali pertemuan. Adapun rincian kegiatan pada siklus I ini

dapat dipaparkan sebagai berikut:

Perencanaan

Pada tahap perencanaan, guru mempersiapkan hal-hal yang diperlukan

pada saat pelaksanaan pembelajaran antara lain:

a.Membuat skenario pelaksanaan tindakan berupa Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) untuk tujuh pertemuan.

b.Membuat lembar observasi: untuk melihat bagaimana suasana belajar

mengajar di kelas ketika pendekatan metakognitif PQ4R dilaksanakan,

kegiatan guru, dan kegiatan siswa.

101

c.Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu

siswa memahami konsep-konsep matematika dengan baik berupa bahan ajar

dan Lembar Aktivitas Siswa.

d.Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah

dikuasai oleh siswa berupa tes memodelkan soal cerita matematika sebanyak

lima soal.

Pelaksanaan Tindakan

Pada siklus I, sebelum dilakukan tindakan pembelajaran dengan

pendekatan metakognitif PQ4R pada pokok bahasan pecahan, terlebih dahulu

dilakukan pre test (tes awal) memodelkan soal cerita matematika. Pre test ini

dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam memodelkan soal

cerita matematika. Bentuk pre test ini adalah uraian sebanyak lima soal.

Indikator kemampuan memodelkan soal cerita matematika yang diukur adalah

kemampuan: mengorganisir, mencatat, dan mengkomunikasikan ide-ide

matematika; memilih, menerapkan, dan menerjemahkan pemodelan matematika

untuk memecahkan masalah; dan menggunakan pemodelan untuk

menginterpretasikan fenomena fisik, sosial, dan fenomena matematika.

Pre test memodelkan soal cerita matematika dilakukan pada Jum’at, 29

Oktober 2010 (2 jam pelajaran) pukul 08.05 – 09.15. Berdasarkan hasil pre test

memodelkan soal cerita matematika (dapat dilihat pada lampiran 15 halaman 407)

yang telah dianalisis maka diperoleh nilai rata-rata = 30,85; nilai tertinggi = 66;

dan nilai terendah = 4. Gambaran tentang distribusi kemampuan awal

memodelkan soal cerita matematika dinyatakan pada tabel berikut ini.

102

Tabel 4.3. Deskripsi Data Kemampuan Awal Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus I)

No

Nilai Tes

Banyak Siswa

1

0 – 20

19

2

21 – 40

16

3

41 – 60

7

4

61 – 80

5

5

81 - 100

-

Jumlah

47

Menurut KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 60, maka

diperoleh hasil pre test kemampuan memodelkan soal cerita matematika bahwa

siswa yang memenuhi ketuntasan individu yaitu mencapai KKM ada 9 orang,

sedangkan 38 orang tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal

hanya mencapai 19,15%. Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa

mengalami kesulitan dalam memodelkan soal cerita matematika. Selanjutnya

dilaksanakan siklus I.

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan tujuh kali pertemuan

yaitu:

Tabel 4.4. Jadwal Pelaksanaan Tindakan Pada Siklus I

NoPertemuan

Hari / Tanggal

Waktu

Materi

1

Pertemuan Ke-1Senin/01 November 2010

11.30 – 12.05

12.05 – 12.40

Persentase

2

Pertemuan Ke-2Selasa/02 November 2010

08.40 – 09.15

09.30 – 10.05

Mengubah Pecahan

Ke Bentuk Persen

dan Desimal, Serta

Sebaliknya

3

Pertemuan Ke-3Kamis/04 November 2010

07.30 – 08.05

08.05 – 08.40

Membandingkan

Pecahan

4

Pertemuan Ke-4Jum’at/05 November 2010

08.05 – 08.40

08.40 – 09.15

Menjumlahkan

Pecahan

5

Pertemuan Ke-5Senin/08 November 2010

11.30 – 12.05

12.05 – 12.40

Mengurang Pecahan

103

6

Pertemuan Ke-6Selasa/09 November 2010

08.40 – 09.15

09.30 – 10.05

Mengalikan Pecahan

7

Pertemuan Ke-7Kamis/11 November 2010

07.30 – 08.05

08.05 – 08.40

Membagi Pecahan

Pemberian tindakan pada siklus I difokuskan terhadap pemberian stimulus

kepada siswa untuk menyelesaikan soal-soal pada Lembar Aktivitas Siswa secara

individu. Tindakan pada siklus I terdiri dari tiga tahap yaitu:

a.Tahap pertama: diskusi awal

Pada tahap pertama ini, tindakan yang dilakukan meliputi:

Guru menjelaskan tujuan mengenai materi yang akan dipelajari.

Guru membimbing siswa menanamkan kesadaran dengan bertanya dalam

bahan ajar atau pertanyaan yang diajukan guru tentang materi yang akan

dipelajari.

Penanaman konsep berlangsung dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan

yang diberikan guru tentang materi yang akan dipelajari.

b.Tahap kedua: siswa bekerja secara mandiri.

Pada tahap kedua ini, tindakan yang dilakukan meliputi:

•Guru membimbing siswa untuk memahami materi yang sedang dipelajari.

Guru memberikan pengaruh timbal balik (feedback) secara individual.

•Berkeliling memandu siswa dalam menyelesaikan soal dengan

memberikan stimulus berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat

metakognitif.

Sedangkan kegiatan siswa pada tahap kedua ini meliputi:

•Siswa mempelajari materi dengan menggunakan metode PQ4R yaitu:

104

-Langkah 1, preview. Siswa mensurvei soal-soal yang ada pada LAS dan

menentukan topik umum dalam soal-soal pada LAS.

-Langkah 2, question. Siswa menuliskan apa yang diketahui dan apa yang

ditanyakan dalam soal-soal pada LAS.

-Langkah 3, read. Siswa membaca soal secara cermat dan menentukan model

matematika yang sesuai.

-Langkah 4, reflect. Siswa mengamati formula yang digunakan untuk masing-

masing soal.

-Langkah 5, recite. Setelah siswa memahami formula yang telah ditentukan

sebelumnya, siswa menyelesaikan soal-soal pada LAS dengan menggunakan

formula yang telah ditentukan. Kalau ada jawaban yang kurang memuaskan,

maka bagian tertentu yang sulit diingat dan menyebabkan kesalahan jawaban itu

hendaknya dibaca lagi.

-Langkah 6, review. Setelah menyelesaikan soal-soal pada LAS, siswa

menjelaskan arti solusi matematika yang ditemukan untuk masing-masing soal

pada LAS.

•Siswa memusatkan pada kesalahan agar siswa dapat mengoreksi sendiri

melalui petunjuk guru.

c.Tahap ketiga: refleksi dan rangkuman

Pada tahap ketiga ini, tindakan yang dilakukan meliputi:

•Refleksi guru lebih mengarah kepada pemantapan dan aplikasi yang lebih

luas agar siswa mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna

(meaningful).

105

•Refleksi siswa lebih mengarah kepada apa yang telah ia pahami dari

pembelajaran serta kemungkinan aplikasi materi dalam masalah yang lebih

luas.

Membuat rangkuman yang yang merupakan rekapitulasi dari apa yang

telah dilakukan di kelas dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.

Rangkuman disusun sesuai dengan materi.

Observasi

Selama kegiatan pelaksanaan siklus I yang terdiri dari tujuh kali

pertemuan, para observer (pengamat) melakukan pengamatan terhadap

pengelolaan pembelajaran, kegiatan guru dan kegiatan siswa.

•Observasi Pengelolaan Pembelajaran

Observasi secara langsung dilakukan pada proses pembelajaran. Hasil

observasi pengelolaan pembelajaraan secara lengkap dapat dilihat pada

lampiran 18 halaman 415. Apabila hasil observasi dikategorikan

berdasarkan tahap pelaksanaan tindakan, maka diperoleh hasil sebagai

berikut:

Tabel 4.5. Hasil Observasi Pengelolaan Pembelajaran Siklus I Menurut
Kategorinya

No

Kategori

Nilai Kategori

Keterangan

1

Pendahuluan

4,210

Baik

2

Kegiatan Inti

4,110

Baik

3

Penutup

4,145

Baik

4

Pengelolaan Waktu

4,640

Baik

106

Berdasarkan informasi pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai rata-

rata untuk masing-masing kategori pengamatan dengan nilai maksimum adalah

lima, diperoleh kategori pengelolaan pembelajaran jika diurutkan dari yang

tertinggi ke terendah yaitu pengelolaan waktu (4,640); pendahuluan (4,210);

penutup (4,145); dan kegiatan inti (4,110). Sehingga dapat digambarkan sebagai

berikut:

Gambar 4.3. Deskripsi Hasil Observasi Pengelolaan Pembelajaran Siklus I Menurut
Kategorinya

Dengan merujuk pada kriteria yang ditetapkan yaitu pengelolaan

pembelajaran dikatakan baik jika rata-rata setiap tahap pengelolaan pembelajaran

lebih besar atau sama dengan tiga. Oleh karena nilai kategori untuk setiap tahap

pembelajaran lebih besar dari tiga, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan

pembelajaran memenuhi kriteria yang ditetapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa

pembelajaran dengan pendekatan metakognitif PQ4R dapat diterapkan dalam

pembelajaran matematika pada pokok bahasan pecahan.

107

•Observasi Kegiatan Guru

Hasil observasi kegiatan guru secara lengkap dapat dilihat pada lampiran

19 halaman 419. Berdasarkan hasil observasi dan merujuk pada kriteria yang

telah ditetapkan, dapat diketahui bahwa kegiatan guru pada pertemuan 1 dan 2

berkategori cukup; pertemuan 3,4,5, dan 6 berkategori baik; sedangkan pertemuan

7 berkategori sangat baik. Jika dipersentasekan secara umum untuk tujuh kali

pertemuan diperoleh hasil 84,11%. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan yaitu

jika 80% ≤ RS < 90% maka kegiatan guru dikategorikan baik, maka dapat

disimpulkan bahwa kegiatan guru pada siklus I berkategori baik. Artinya guru

mampu mendukung aktivitas selama kegiatan pembelajaran.

•Observasi Kegiatan Siswa

Hasil observasi kegiatan siswa secara lengkap dapat dilihat pada lampiran

20 halaman 422. Berdasarkan hasil observasi dan merujuk pada kriteria yang

telah ditetapkan, dapat diketahui bahwa kegiatan siswa pada pertemuan 1 dan 2

berkategori kurang; pertemuan 3 dan 4 berkategori cukup; sedangkan pertemuan

5,6, dan 7 berkategori baik. Jika dipersentasekan secara umum untuk tujuh kali

pertemuan diperoleh hasil 78,57%. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan yaitu

jika 70% ≤ RS < 80% maka kegiatan siswa dikategorikan cukup, maka dapat

disimpulkan bahwa kegiatan siswa pada siklus I berkategori cukup. Artinya

aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran masih perlu ditingkatkan.

Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan di akhir siklus I yaitu pada Jum’at, 12 November

2010 (2 jam pelajaran) pukul 08.05 – 09.15. Evaluasi dilakukan dengan

108

memberikan tes memodelkan soal cerita matematika sebanyak lima soal. Tes ini

diikuti oleh 47 orang siswa kelas VA. Tes ini dilakukan secara individual. Siswa

bekerja sendiri secara mandiri.

Proses yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tes adalah

dengan mengaplikasikan pendekatan metakognitif PQ4R yaitu dengan tahapan

preview, question, read, reflect, recite, dan review. Adapun rincian tahapan

tersebut yaitu:

a.Preview : siswa mengidentifikasi soal dan menentukan topik yang sesuai

dengan soal.

b.Question : siswa menuliskan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam

soal.

c.Read : siswa membaca soal dengan cermat dan memilih model matematika

yang sesuai dengan soal.

d.Reflect : siswa mengamati model/formula yang telah dipilih, kemudian

mengubah model/formula sesuai dengan informasi yang ada pada soal.

e.Recite : siswa menyelesaikan soal dengan menggunakan model yang telah

ditentukan.

f.Review : siswa menjelaskan arti solusi matematika yang ditemukan.

Tahap selanjutnya adalah guru memeriksa hasil kerja siswa untuk

mengetahui keberhasilan/kegagalan siswa dalam materi yang telah dipelajari.

Bagi siswa yang telah berhasil memodelkan soal cerita matematika dengan baik

diberikan pujian sebagai motivasi. Sedangkan bagi siswa yang belum berhasil

memodelkan soal cerita matematika diberikan bimbingan agar siswa tersebut

mampu bekerja secara mandiri. Dari hasil pemberian tes dapat dilihat bermacam-

109

macam jawaban siswa dalam menyelesaikan soal. Berikut ini adalah beberapa

contoh pola jawaban siswa untuk tes memodelkan soal cerita matematika siklus I.

Nomor

soal : 1

Perbedaan proses pengerjaan antara pola jawaban 1 dan pola jawaban

2 yaitu: pada pola jawaban 1, siswa menyelesaikan dengan cara

mengalikan pembilang dengan pembilang secara langsung, lalu

hasilnya dibagikan dengan penyebutnya. Sedangkan pada pola

jawaban 2, siswa menyederhanakan suku pertama terlebih dahulu,

lalu hasilnya dikalikan dengan suku kedua. Kedua pola jawaban ini

memberikan penyelesaian yang sama.

110

Nomor

soal : 2

Perbedaan proses pengerjaan antara pola jawaban 1 dan pola jawaban

2 yaitu: pada pola jawaban 1, siswa menyelesaikan dengan cara

menyederhanakan suku pertama terlebih dahulu, lalu hasilnya

dikalikan dengan suku kedua. Sedangkan pada pola jawaban 2, siswa

menyelesaikan dengan cara mengalikan pembilang dengan pembilang

secara langsung, lalu hasilnya dibagikan dengan penyebutnya. Kedua

pola jawaban ini memberikan penyelesaian yang sama.

111

Nomor

soal: 3

Perbedaan proses pengerjaan antara pola jawaban 1 dan pola jawaban

2 yaitu: pada pola jawaban 1, siswa menyelesaikan dengan cara

menghitung berat beras yang terdapat pada masing-masing gudang

kemudian dijumlahkan. Sedangkan pada pola jawaban 2, siswa

menyelesaikan dengan cara mengalikan secara langsung kemudian

dijumlahkan. Kedua pola jawaban ini memberikan penyelesaian

yang sama.

112

Nomor

soal: 4

Perbedaan proses pengerjaan antara pola jawaban 1 dan pola jawaban

2 yaitu: pada pola jawaban 1, siswa menyelesaikan dengan cara

mencari hasil perkalian terlebih dahulu, kemudian hasil perkalian

tersebut dioperasikan dengan pengurangan. Sedangkan pada pola

jawaban 2, siswa langsung menyelesaikan soal sekaligus dengan

penggunaan operasi dalam tanda kurung. Kedua pola jawaban ini

memberikan penyelesaian yang sama.

113

Nomor

soal: 5

Perbedaan proses pengerjaan pada ketiga pola jawaban yaitu, pada

pola jawaban 1 siswa mengerjakan dengan 2 cara yaitu merubah ke

bentuk pecahan biasa terlebih dahulu dan cara bersusun ke bawah.

Pada pola jawaban 2, siswa mengerjakan dengan cara bersusun ke

bawah. Sedangkan pada pola jawaban 3, siswa mengerjakan dengan

cara merubah ke bentuk pecahan biasa terlebih dahulu.

114

Berdasarkan hasil tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus I

(dapat dilihat pada lampiran 15 halaman 407) yang telah dianalisis maka

diperoleh nilai rata-rata = 51,36; nilai tertinggi = 84; dan nilai terendah = 10.

Gambaran tentang distribusi tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus I

dinyatakan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.6. Deskripsi Data Kemampuan Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus I)

No

Nilai Tes

Banyak Siswa

1

0 – 20

10

2

21 – 40

4

3

41 – 60

14

4

61 – 80

15

5

81 - 100

4

Jumlah

47

Berdasarkan hasil tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus I,

diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.7. Deskripsi Data Ketuntasan Klasikal Kemampuan Memodelkan
Soal Cerita Matematika (Siklus I)

No

Tes

Tuntas

Tidak Tuntas

Persentase
Ketuntasan

1Tes Memodelkan Soal
Cerita Matematika Siklus I

24

23

51,06%

Data tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

115

Gambar 4.4. Deskripsi Data Ketuntasan Klasikal Kemampuan Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus I)

Menurut KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 60, maka

diperoleh hasil tes kemampuan memodelkan soal cerita matematika pada siklus I

bahwa siswa yang memenuhi ketuntasan individu yaitu mencapai KKM ada 24

orang, sedangkan 23 orang tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan

klasikal hanya mencapai 51,06%. Sesuai dengan petunjuk teknik penilaian, kelas

dikatakan tuntas secara klasikal terhadap materi pelajaran yang disajikan jika

ketuntasan klasikal mencapai 80%. Artinya, 80% dari siswa di kelas tersebut

telah mencapai nilai sama atau di atas kriteria ketuntasan minimal yaitu 60.

Berdasarkan hasil tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus I,

ketuntasan klasikal hanya mencapai 51,06%. Artinya, ketuntasan klasikal belum

dicapai, maka diadakan tindakan perbaikan dalam proses pembelajaran pada

siklus selanjutnya yaitu siklus II.

116

Jika tes kemampuan awal (pre test siklus I) dibandingkan dengan tes

memodelkan soal cerita matematika siklus I (post tes siklus I) diperoleh data

sebagai berikut:

Tabel 4.8. Deskripsi Peningkatan Kemampuan Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus I)

No

Tes

Nilai
Tertinggi

Nilai
Terendah

Rata-
Rata

Tuntas

Tidak
Tuntas

Persentase
Ketuntasan

1Pre Test I

66

4

30,85

9

38

19,15%

2Post Test I

84

10

51,36

24

23

51,06%

Dari tabel di atas dapat kita peroleh informasi bahwa telah terjadi

peningkatan kemampuan siswa dalam memodelkan soal cerita matematika,

meskipun ketuntasan klasikal belum tercapai. Hal ini menunjukkan bahwa

penguasaan terhadap strategi memodelkan soal cerita matematika belum tercapai

secara optimal. Proses kinerja siswa pada siklus I belum tercapai secara optimal,

karena masih terdapat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam

melaksanakan proses memodelkan soal cerita matematika. Untuk itu perlu

dilakukan perbaikan tindakan pada siklus berikutnya. Sehingga kesalahan-

kesalahan yang muncul pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II.

Refleksi

a.Refleksi terhadap pengelolaan pembelajaran ditinjau dari kegiatan guru dan

kegiatan siswa

Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan

pendekatan metakognitif PQ4R pada tahap pendahuluan (tahap pertama) berupa

diskusi awal, secara umum sudah dapat dikategorikan baik. Pada tahap

pendahuluan ini guru memotivasi/mengkomunikasikan tujuan pembelajaran,

117

menginformasikan deskripsi singkat metode dan materi pembelajaran, dan

menghubungkan materi pelajaran dengan sebelumnya.

Pada tahap kegiatan inti (tahap kedua) siswa bekerja secara mandiri,

secara umum dapat dikategorikan baik. Namun ada beberapa kelemahan pada

tahap ini. Kelemahan yang dialami siswa pada tahap ini antara lain:

Kemampuan siswa untuk menentukan topik umum yang terdapat dalam soal-

soal LAS masih berkategori cukup. Sebagai contoh, ketika ditanyakan topik

matematika yang ada pada soal, masih ada siswa yang menjawab topik

matematikanya berupa informasi yang ada pada soal, misalnya apabila

kalimat soal berbunyi tentang rambutan, maka masih ada siswa yang

menjawab topiknya adalah rambutan.

Kemampuan siswa untuk menentukan dan mengamati model matematika

yang sesuai juga masih berkategori cukup. Sebagai contoh, masih ada siswa

yang belum mampu menentukan model yang sesuai dengan soal, misalnya

mereka masih menuliskan rumus umum yang ada pada bahan ajar.

•Kemampuan siswa untuk menjelaskan arti solusi matematika yang ditemukan

juga masih berkategori cukup. Sebagai contoh, masih ada siswa yang belum

mampu menyimpulkan hasil perhitungan yang mereka peroleh.

•Interaksi siswa dalam bekerja, menampilkan jawaban di kelas,

membandingkan jawabannya dengan jawaban temannya juga masih

berkategori cukup.

•Kemampuan siswa bertanya atau menjawab pertanyaan dari guru/temannya

juga masih berkategori cukup.

Sedangkan kelemahan yang dialami guru pada kegiatan inti antara lain:

118

Kemampuan guru untuk meminta siswa menampilkan jawabannya di kelas

dan mendorong siswa membandingkan jawabannya dengan jawaban

temannya masih berkategori cukup.

Kemampuan guru untuk mendorong siswa bertanya atau menjawab

pertanyaan dari guru/temannya masih berkategori cukup.

Memberikan latihan mandiri (portofolio) masih berkategori cukup.

Dari berbagai kelemahan siswa dan kelemahan guru yang ditemui dalam

pembelajaran siklus I ini, maka guru perlu melakukan perbaikan terhadap

tindakan pembelajaran agar kelemahan-kelemahan ini tidak terjadi atau terulang

di siklus berikutnya. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi kelemahan-

kelemahan tersebut antara lain:

1.Guru merubah cara belajar individual menjadi cara belajar kelompok. Setiap

kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda. Hal ini

dimaksudkan agar siswa yang berkemampuan tinggi dapat membantu

temannya yang mengalami kesulitan belajar atau berkemampuan rendah.

2.Guru memberikan bantuan bagi kelompok belajar berupa langkah-langkah

acak dalam menyelesaikan soal-soal yang ada pada LAS.

3.Guru melakukan pendekatan kepada siswa di saat pembelajaran dengan cara

memberikan penguatan dan motivasi agar siswa tidak lagi harus malu/ragu

untuk berinteraksi dalam bekerja, menampilkan jawaban di kelas,

membandingkan jawabannya dengan jawaban temannya, bertanya atau

menjawab pertanyaan dari guru/temannya.

119

4.Guru mengamati siswa dengan berkeliling dan mengamati aktivitas siswa

dalam setiap kelompok terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan

belajar.

b.Refleksi terhadap kemampuan siswa dalam memodelkan soal cerita

matematika

Pada akhir dari pelaksanaan siklus I, guru mengadakan tes siklus I kepada

siswa untuk melihat peningkatan kemampuan siswa dalam memodelkan soal

cerita matematika. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil tes

kemampuan memodelkan soal cerita matematika dalam pokok bahasan pecahan

memiliki nilai rata-rata 51,36. Dengan nilai tertinggi adalah 84 dan nilai terendah

adalah 10. Siswa yang tuntas sebanyak 24 orang dan siswa yang tidak tuntas

sebanyak 23 orang. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

siswa secara klasikal hanya mencapai 51,06%. Artinya, hasil belajar siswa belum

memenuhi standar ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 80%. Sehingga

perlu diadakan siklus lanjutan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam

memodelkan soal cerita matematika.

Penyebab dari rendahnya keberhasilan siswa pada siklus I dikarenakan

masih ada siswa yang belum mampu menentukan topik yang terdapat dalam soal,

sehingga mereka kesulitan untuk menentukan model matematika yang sesuai

dengan soal. Selain itu, hal ini juga disebabkan karena kurangnya keberanian

siswa untuk bertanya kepada guru atau temannya untuk menanyakan hal-hal yang

tidak/kurang dimengerti pada saat pembelajaran. Untuk itu, perlu diadakan

perbaikan dalam tindakan pembelajaran sebagaimana yang telah diungkapkan.

120

4.1.3.2.Siklus II

Kegiatan pembelajaran pada siklus II siswa bekerja secara kelompok

dengan alokasi waktu tiga kali pertemuan. Adapun rincian kegiatan pada siklus II

ini dapat dipaparkan sebagai berikut:

Perencanaan

Pada tahap perencanaan, guru mempersiapkan hal-hal yang diperlukan

pada saat pelaksanaan pembelajaran antara lain:

a.Membuat skenario pelaksanaan tindakan berupa Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) untuk tiga pertemuan.

b.Membuat lembar observasi: untuk melihat bagaimana suasana belajar

mengajar di kelas ketika pendekatan metakognitif PQ4R dilaksanakan,

kegiatan guru, dan kegiatan siswa.

c.Membuat alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu

siswa memahami konsep-konsep matematika dengan baik berupa bahan ajar

dan Lembar Aktivitas Siswa.

d.Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah

dikuasai oleh siswa berupa tes memodelkan soal cerita matematika sebanyak

lima soal.

Pelaksanaan Tindakan

Pada siklus II, sebelum dilakukan tindakan pembelajaran dengan

pendekatan metakognitif PQ4R pada pokok bahasan pecahan, terlebih dahulu

dilakukan pre test (tes awal) memodelkan soal cerita matematika untuk siklus II.

Pre test ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam

121

memodelkan soal cerita matematika sebelum dilaksanakan siklus II. Bentuk pre

test ini adalah uraian sebanyak lima soal. Indikator kemampuan memodelkan soal

cerita matematika yang diukur adalah kemampuan: mengorganisir, mencatat, dan

mengkomunikasikan ide-ide matematika; memilih, menerapkan, dan

menerjemahkan pemodelan matematika untuk memecahkan masalah; dan

menggunakan pemodelan untuk menginterpretasikan fenomena fisik, sosial, dan

fenomena matematika.

Pre test memodelkan soal cerita matematika dilakukan pada Senin, 15

November 2010 (2 jam pelajaran) pukul 11.30 – 12.40. Berdasarkan hasil pre test

memodelkan soal cerita matematika siklus II (dapat dilihat pada lampiran 16

halaman 410) yang telah dianalisis maka diperoleh nilai rata-rata = 39,15; nilai

tertinggi = 74; dan nilai terendah = 8. Gambaran tentang distribusi kemampuan

awal memodelkan soal cerita matematika siklus II dinyatakan pada tabel berikut

ini.

Tabel 4.9. Deskripsi Data Kemampuan Awal Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus II)

No

Nilai Tes

Banyak Siswa

1

0 – 20

9

2

21 – 40

19

3

41 – 60

12

4

61 – 80

7

5

81 - 100

-

Jumlah

47

Menurut KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 60, maka

diperoleh hasil pre test kemampuan memodelkan soal cerita matematika siklus II

bahwa siswa yang memenuhi ketuntasan individu yaitu mencapai KKM ada 12

orang, sedangkan 35 orang tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan

klasikal hanya mencapai 25,53%. Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar

122

siswa mengalami kesulitan dalam memodelkan soal cerita matematika.

Selanjutnya dilaksanakan siklus II.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilaksanakan tiga kali pertemuan

yaitu:

Tabel 4.10. Jadwal Pelaksanaan Tindakan Pada Siklus II

No

Pertemuan

Hari / Tanggal

Waktu

Materi

1

Pertemuan Ke-8

Selasa/16 November 2010

08.40 – 09.15
09.30 – 10.05

Operasi Hitung
Campuran Pada
Pecahan

2

Pertemuan Ke-9

Kamis/18 November 2010

07.30 – 08.05
08.05 – 08.40

Perbandingan

3

Pertemuan Ke-10

Jum’at/19 November 2010

08.05 – 08.40
08.40 – 09.15

Skala

Pemberian tindakan pada siklus II difokuskan terhadap pemberian

stimulus kepada siswa untuk menyelesaikan soal-soal pada Lembar Aktivitas

Siswa secara kelompok. Tindakan pada siklus I terdiri dari tiga tahap yaitu:

a.Tahap pertama: diskusi awal

Pada tahap pertama ini, tindakan yang dilakukan meliputi:

Guru membagi siswa ke dalam 8 kelompok dan siswa duduk pada

kelompok yang telah ditentukan oleh guru.

•.Guru menjelaskan tujuan mengenai materi yang akan dipelajari.

Guru membimbing siswa menanamkan kesadaran dengan bertanya dalam

bahan ajar atau pertanyaan yang diajukan guru tentang materi yang akan

dipelajari.

Guru memberikan langkah-langkah yang harus diselesaikan siswa untuk

masing-masing soal pada LAS secara acak dan siswa memperhatikan

langkah-langkah acak yang diberikan oleh guru..

123

•Penanaman konsep berlangsung dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan

yang diberikan guru tentang materi yang akan dipelajari.

b.Tahap kedua: siswa bekerja secara mandiri.

Pada tahap kedua ini, tindakan yang dilakukan meliputi:

•Guru membimbing siswa untuk memahami materi yang sedang dipelajari.

Guru memberikan pengaruh timbal balik (feedback) secara individual.

•Berkeliling memandu siswa dalam menyelesaikan soal dengan

memberikan stimulus berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat

metakognitif.

Sedangkan kegiatan siswa pada tahap kedua ini meliputi:

•Siswa mempelajari materi dengan menggunakan metode PQ4R yaitu:

-Langkah 1, preview. Siswa mensurvei soal-soal yang ada pada LAS dan

menentukan topik umum dalam soal-soal pada LAS.

-Langkah 2, question. Siswa menuliskan apa yang diketahui dan apa yang

ditanyakan dalam soal-soal pada LAS.

-Langkah 3, read. Siswa membaca soal secara cermat dan menentukan model

matematika yang sesuai.

-Langkah 4, reflect. Siswa mengamati formula yang digunakan untuk masing-

masing soal.

-Langkah 5, recite. Setelah siswa memahami formula yang telah ditentukan

sebelumnya, siswa menyelesaikan soal-soal pada LAS dengan menggunakan

formula yang telah ditentukan. Kalau ada jawaban yang kurang memuaskan,

maka bagian tertentu yang sulit diingat dan menyebabkan kesalahan jawaban itu

hendaknya dibaca lagi.

124

-Langkah 6, review. Setelah menyelesaikan soal-soal pada LAS, siswa

menjelaskan arti solusi matematika yang ditemukan untuk masing-masing soal

pada LAS.

•Siswa memusatkan pada kesalahan agar siswa dapat mengoreksi sendiri

melalui petunjuk guru.

c.Tahap ketiga: refleksi dan rangkuman

Pada tahap ketiga ini, tindakan yang dilakukan meliputi:

•Refleksi guru lebih mengarah kepada pemantapan dan aplikasi yang lebih

luas agar siswa mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna

(meaningful).

•Refleksi siswa lebih mengarah kepada apa yang telah ia pahami dari

pembelajaran serta kemungkinan aplikasi materi dalam masalah yang lebih

luas.

Membuat rangkuman yang yang merupakan rekapitulasi dari apa yang

telah dilakukan di kelas dengan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.

Rangkuman disusun sesuai dengan materi.

Observasi

Selama kegiatan pelaksanaan siklus II yang terdiri dari tiga kali

pertemuan, para observer (pengamat) melakukan pengamatan terhadap

pengelolaan pembelajaran, kegiatan guru dan kegiatan siswa.

125

•Observasi Pengelolaan Pembelajaran

Observasi secara langsung dilakukan pada proses pembelajaran. Hasil

observasi pengelolaan pembelajaraan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran

18 halaman 415. Apabila hasil observasi dikategorikan berdasarkan tahap

pelaksanaan tindakan, maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.11. Hasil Observasi Pengelolaan Pembelajaran Siklus II Menurut
Kategorinya

No

Kategori

Nilai Kategori

Keterangan

1

Pendahuluan

4,890

Baik

2

Kegiatan Inti

4,640

Baik

3

Penutup

4,585

Baik

4

Pengelolaan Waktu

5,000

Sangat Baik

Berdasarkan informasi pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai rata-

rata untuk masing-masing kategori pengamatan dengan nilai maksimum adalah

lima, diperoleh kategori pengelolaan pembelajaran jika diurutkan dari yang

tertinggi ke terendah yaitu pengelolaan waktu (5,000); pendahuluan (4,890);

kegiatan inti (4,640); dan penutup (4,585). Sehingga dapat digambarkan sebagai

berikut:

126

Gambar 4.5. Deskripsi Hasil Observasi Pengelolaan Pembelajaran Siklus II Menurut
Kategorinya

Dengan merujuk pada kriteria yang ditetapkan yaitu pengelolaan

pembelajaran dikatakan baik jika rata-rata setiap tahap pengelolaan pembelajaran

lebih besar atau sama dengan tiga. Oleh karena nilai kategori untuk setiap tahap

pembelajaran lebih besar dari tiga, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan

pembelajaran memenuhi kriteria yang ditetapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa

pembelajaran dengan pendekatan metakognitif PQ4R dapat diterapkan dalam

pembelajaran matematika pada pokok bahasan pecahan.

•Observasi Kegiatan Guru

Hasil observasi kegiatan guru secara lengkap dapat dilihat pada lampiran

19 halaman 419. Berdasarkan hasil observasi kegiatan guru dan merujuk pada

kriteria yang telah ditetapkan, dapat diketahui bahwa kegiatan guru pada

pertemuan 8,9,10 berkategori sangat baik. Jika dipersentasekan secara umum

untuk tiga kali pertemuan diperoleh hasil 94,17%. Berdasarkan kriteria yang

ditetapkan yaitu jika 90% ≤ RS ≤ 100% maka kegiatan guru dikategorikan sangat

baik, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan guru pada siklus II berkategori

sangat baik. Artinya guru mampu mendukung aktivitas selama kegiatan

pembelajaran.

•Observasi Kegiatan Siswa

Hasil observasi kegiatan siswa secara lengkap dapat dilihat pada lampiran

20 halaman 422. Berdasarkan hasil observasi dan merujuk pada kriteria yang

telah ditetapkan, dapat diketahui bahwa kegiatan siswa pada pertemuan 8, 9, dan

10 berkategori sangat baik. Jika dipersentasekan secara umum untuk tiga kali

127

pertemuan diperoleh hasil 92,50%. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan yaitu

jika 90% ≤ RS ≤ 100% maka kegiatan siswa dikategorikan sangat baik, maka

dapat disimpulkan bahwa kegiatan siswa pada siklus II berkategori sangat baik.

Artinya siswa mampu mendukung aktivitas selama kegiatan pembelajaran.

Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan di akhir siklus II yaitu pada Senin, 22 November

2010 (2 jam pelajaran) pukul 11.30 – 12.40. Evaluasi dilakukan dengan

memberikan tes memodelkan soal cerita matematika sebanyak lima soal. Tes ini

diikuti oleh 47 orang siswa kelas VA. Tes ini dilakukan secara individual. Siswa

bekerja sendiri secara mandiri.

Proses yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tes adalah

dengan mengaplikasikan pendekatan metakognitif PQ4R yaitu dengan tahapan

preview, question, read, reflect, recite, dan review. Adapun rincian tahapan

tersebut yaitu:

a.Preview : siswa mengidentifikasi soal dan menentukan topik yang sesuai

dengan soal.

b.Question : siswa menuliskan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam

soal.

c.Read : siswa membaca soal dengan cermat dan memilih model matematika

yang sesuai dengan soal.

d.Reflect : siswa mengamati model/formula yang telah dipilih, kemudian

mengubah model/formula sesuai dengan informasi yang ada pada soal.

128

e.Recite : siswa menyelesaikan soal dengan menggunakan model yang telah

ditentukan.

f.Review : siswa menjelaskan arti solusi matematika yang ditemukan.

Tahap selanjutnya adalah guru memeriksa hasil kerja siswa untuk

mengetahui keberhasilan/kegagalan siswa dalam materi yang telah dipelajari.

Bagi siswa yang telah berhasil memodelkan soal cerita matematika dengan baik

diberikan pujian sebagai motivasi. Sedangkan bagi siswa yang belum berhasil

memodelkan soal cerita matematika diberikan bimbingan agar siswa tersebut

mampu bekerja secara mandiri. Dari hasil pemberian tes dapat dilihat bermacam-

macam jawaban siswa dalam menyelesaikan soal. Berikut ini adalah beberapa

contoh pola jawaban siswa untuk tes memodelkan soal cerita matematika siklus II.

Nomor

soal: 1

129

Perbedaan ketiga pola jawaban di atas yaitu pada proses

pengerjaannya. Pada pola jawaban 1, siswa mengerjakan dengan dua

langkah yaitu menggunakan operasi perkalian, lalu hasilnya

dilanjutkan dengan operasi pembagian. Pada pola jawaban 2, siswa

mengerjakan dengan operasi pembagian berurut dari kiri ke kanan.

Sedangkan pada pola jawaban 3, siswa mengerjakan dengan dua

langkah yaitu menggunakan operasi pembagian, lalu hasilnya

dilanjutkan dengan operasi pembagian tahap kedua. Ketiga proses

pengerjaan ini memberikan hasil pengerjaan yang sama.

Nomor

soal: 2

130

Perbedaan ketiga pola jawaban di atas yaitu pada proses

pengerjaannya. Pada pola jawaban 1, siswa mengerjakan dengan

operasi hitung campuran pengurangan dan perkalian dengan

menggunakan operasi dalam tanda kurung terlebih dahulu. Pada pola

jawaban 2, siswa mengerjakan dengan perkalian terlebih dahulu, lalu

hasilnya dikurangkan. Sedangkan pada pola jawaban 3, siswa

mengerjakan dengan pengurangan dalam tanda kurung lalu hasilnya

dioperasikan dengan perkalian.

131

Nomor

soal: 3

Perbedaan antara kedua pola jawaban di atas yaitu pada pola jawaban

1, siswa mengerjakan sekaligus untuk perkalian masing-masing suku

lalu hasilnya dibandingkan dan disederhanakan. Sedangkan pada

pola jawaban 2, siswa menyelesaikan dengan dua tahap yaitu

menyelesaikan perkalian masing-masing suku lalu hasilnya

dibandingkan. Kedua pola jawaban ini memberikan hasil yang sama.

132

Nomor

soal: 4

Perbedaan ketiga pola jawaban di atas yaitu: pada pola jawaban 1,

133

siswa mengerjakan dengan mencari nilai untuk salah satu nilai

perbandingan, kemudian dilakukan operasi pengurangan untuk

mencari nilai lainnya. Pada pola jawaban 2, siswa mencari nilai

untuk masing-masing nilai perbandingan dengan cara yang sama

yairu menggunakan perbandingan kemudian operasi perkalian.

Sedangkan untuk pola jawaban 3, siswa mengerjakan sudah lengkap

dengan model matematika yang sesuai dengan soal.

Nomor

soal: 5

Perbedaan kedua pola jawaban di atas yaitu: pada pola jawaban 1,

siswa langsung mengkonversikan satuan jam ke satuan menit.

134

Sedangkan pada pola jawaban 2, siswa menunjukkan langkah

mengkonversi satuan jam ke satuan menit dengan operasi perkalian.
Berdasarkan hasil tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus II

(dapat dilihat pada lampiran 16 halaman 410) yang telah dianalisis maka

diperoleh nilai rata-rata = 77,23; nilai tertinggi = 98; dan nilai terendah = 20.

Gambaran tentang distribusi tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus II

dinyatakan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.12. Deskripsi Data Kemampuan Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus II)

No

Nilai Tes

Banyak Siswa

1

0 – 20

1

2

21 – 40

2

3

41 – 60

8

4

61 – 80

9

5

81 - 100

27

Jumlah

47

Berdasarkan hasil tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus II,

diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.13. Deskripsi Data Ketuntasan Klasikal Kemampuan Memodelkan
Soal Cerita Matematika (Siklus II)

No

Tes

Tuntas

Tidak Tuntas

Persentase
Ketuntasan

1Tes Memodelkan Soal
Cerita Matematika Siklus
II

41

6

87,23%

Data tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

135

Gambar 4.6. Deskripsi Data Ketuntasan Klasikal Kemampuan Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus II)

Menurut KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 60, maka

diperoleh hasil tes kemampuan memodelkan soal cerita matematika pada siklus II

bahwa siswa yang memenuhi ketuntasan individu yaitu mencapai KKM ada 41

orang, sedangkan 6 orang tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan

klasikal mencapai 87,23%. Sesuai dengan petunjuk teknik penilaian, kelas

dikatakan tuntas secara klasikal terhadap materi pelajaran yang disajikan jika

ketuntasan klasikal mencapai 80%. Artinya, 80% dari siswa di kelas tersebut

telah mencapai nilai sama atau di atas kriteria ketuntasan minimal yaitu 60.

Berdasarkan hasil tes memodelkan soal cerita matematika pada siklus II,

ketuntasan klasikal mencapai 87,23%. Artinya, ketuntasan klasikal dicapai, maka

siklus berhenti dan pembelajaran berhasil.

Jika tes kemampuan awal (pre test siklus II) dibandingkan dengan tes

memodelkan soal cerita matematika siklus II (post tes siklus II) diperoleh data

sebagai berikut:

136

Tabel 4.14. Deskripsi Peningkatan Kemampuan Memodelkan Soal Cerita
Matematika (Siklus II)

No

Tes

Nilai
Tertinggi

Nilai
Terendah

Rata-
Rata

Tuntas

Tidak
Tuntas

Persentase
Ketuntasan

1Pre Test II

74

8

39,15

12

35

25,53%

2Post Test II

98

20

77,23

41

6

87,23%

Dari tabel di atas dapat kita peroleh informasi bahwa telah terjadi

peningkatan kemampuan siswa dalam memodelkan soal cerita matematika, dan

ketuntasan klasikal tercapai. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan terhadap

strategi memodelkan soal cerita matematika tercapai secara optimal. Proses

kinerja siswa pada siklus II tercapai secara optimal.

Refleksi

a.Refleksi terhadap pengelolaan pembelajaran ditinjau dari kegiatan guru dan

kegiatan siswa

Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan

pendekatan metakognitif PQ4R pada tahap pendahuluan (tahap pertama) berupa

diskusi awal, secara umum sudah dapat dikategorikan baik. Pada tahap

pendahuluan ini guru memotivasi/mengkomunikasikan tujuan pembelajaran,

menginformasikan deskripsi singkat metode dan materi pembelajaran, dan

menghubungkan materi pelajaran dengan sebelumnya.

Pada tahap kegiatan inti (tahap kedua) siswa bekerja secara mandiri,

secara umum dapat dikategorikan baik. Kelemahan-kelemahan yang terjadi pada

siklus I tidak terulang pada siklus II. 25% kegiatan guru berkategori baik dan

75% kegiatan guru berkategori sangat baik. Sedangkan kegiatan siswa 25%

berkategori baik dan 75% berkategori sangat baik.

137

b.Refleksi terhadap kemampuan siswa dalam memodelkan soal cerita

matematika

Pada akhir dari pelaksanaan siklus II, guru mengadakan tes siklus II kepada

siswa untuk melihat peningkatan kemampuan siswa dalam memodelkan soal

cerita matematika. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil tes

kemampuan memodelkan soal cerita matematika dalam pokok bahasan pecahan

memiliki nilai rata-rata 77,23. Dengan nilai tertinggi adalah 98 dan nilai terendah

adalah 20. Siswa yang tuntas sebanyak 41 orang dan siswa yang tidak tuntas

sebanyak 6 orang. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

siswa secara klasikal mencapai 87,23%. Artinya, hasil belajar siswa memenuhi

standar ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 80%. Sehingga dapat

dikatakan pelaksanaan tindakan berhasil dan siklus berhenti.

Hal ini didukung faktor dari siswa yaitu siswa mampu menentukan topik

yang terdapat dalam soal, sehingga mereka dapat menentukan model matematika

yang sesuai dengan soal. Selain itu, hal ini juga didukung keberanian siswa untuk

bertanya kepada guru atau temannya untuk menanyakan hal-hal yang tidak/kurang

dimengerti pada saat pembelajaran.

4.1.3.Kemampuan Metakognitif Siswa

Data tentang kemampuan metakognitif siswa yang diperoleh dari inventori

strategi-strategi metakognitif dianalisis untuk memperoleh kesimpulan. Kriteria

keberhasilan tindakan, apabila kemampuan metakognitif siswa minimal

berkualifikasi cukup baik. Hasil analisis kemampuan metakognitif siswa secara

rinci dapat dilihat pada lampiran 17 halaman 413, sedangkan secara ringkas dapat

dilihat pada tabel berikut ini.

138

Tabel 4.15. Deskripsi Kemampuan Metakognitif Siswa

NO

Kualifikasi

Jumlah Siswa

Persentase

1

Sangat Kurang

0

0%

2

Kurang

6

12,77%

3

Cukup

10

21,28%

4

Baik

9

19,15%

5

Sangat Baik

22

46,81%

Jumlah

47

100%

Informasi pada tabel di atas dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.7. Deskripsi Data Kemampuan Metakognitif Siswa

Berdasarkan data di atas, diperoleh bahwa siswa yang minimal

berkualifikasi cukup baik ada 41 orang berarti mencapai 87,23%. Dengan

merujuk kepada kriteria ketuntasan klasikal yaitu 80%, maka dapat dikatakan

bahwa kemampuan metakognitif siswa kelas VA memiliki kemampuan

metakognitif yang baik.

4.1.4.Kemampuan Siswa SD Dalam Memodelkan Soal Cerita Matematika

Berdasarkan hasil nalisis data pada siklus I dan siklus II diperoleh data

kemampuan siswa SD dalam pemodelan soal cerita matematika sebagai berikut.

Tabel 4.16. Deskripsi Kemampuan Memodelkan Soal Cerita Matematika

139

No

Tes

Nilai
Tertinggi

Nilai
Terendah

Rata-
Rata

Tuntas

Tidak
Tuntas

Persentase
Ketuntasan

1Pre Test I

66

4

30,85

9

38

19,15%

2Post Test I

84

10

51,36

24

23

51,06%

3Pre Test II

74

8

39,15

12

35

25,53%

4Post Test II

98

20

77,23

41

6

87,23%

Dari data pada tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan

kemampuan memodelkan soal cerita matematika dari siklus I kepada siklus II.

Pada siklus II, kriteria ketuntasan klasikal telah tercapai yaitu 87,23%. Hal ini

menunjukkan indikator keberhasilan pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan

pendekatan metakognitif PQ4R. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan

metakognitif PQ4R dapat digunakan dalam pembelajaran matematika khususnya

pada pokok bahasan pecahan.

4.2.TEMUAN PENELITIAN

Berdasarkan hasil pengamatan guru dan diskusi dengan observer, mulai

dari siklus I sampai siklus II (10 kali pertemuan) yang telah dilaksanakan mulai

Senin,25 Oktober 2010 sampai dengan Selasa, 23 November 2010 terdapat

beberapa hal yang ditemukan saat pembelajaran berlangsung, yaitu:

1.Proses adaptasi pendekatan metakognitif PQ4R

Pada tahap adaptasi pendekatan metakognitif PQ4R diperoleh hasil bahwa

rata-rata persentase respon siswa terhadap pendekatan metakognitif PQ4R

adalah 91,49%, hal ini menunjukkan respon siswa terhadap pendekatan

metakognitif PQ4R adalah positif. Sedangkan rata-rata persentase respon

guru terhadap pendekatan metakognitif PQ4R adalah 88,89%, hal ini

menunjukkan respon guru terhadap pendekatan metakognitif PQ4R adalah

positif.

140

2.Pelaksanaan pendekatan metakognitif PQ4R

a.Pada siklus I, sebelum dilakukan tindakan pembelajaran dengan

pendekatan metakognitif PQ4R, terlebih dahulu dilakukan pre test (tes

awal) memodelkan soal cerita matematika. Setelah dianalisis diperoleh

hasil sebagai berikut: nilai rata-rata = 30,85; nilai tertinggi = 66; nilai

terendah = 4; tuntas = 9 orang; tidak tuntas = 38 orang; dan ketuntasan

klasikal = 19,15%.

b.Hasil observasi pengelolaan pembelajaran pada siklus I yaitu pendahuluan

berkategori baik dengan rata-rata 4,210; kegiatan inti berkategori baik

dengan rata-rata 4,110; penutup berkategori baik dengan rata-rata 4,145;

dan pengelolaan waktu berkategori baik dengan rata-rata 4,640.

c.Hasil observasi kegiatan guru pada siklus I secara umum berkategori baik

dengan persentase 84,11%.

d.Hasil observasi kegiatan siswa pada siklus I secara umum berkategori

cukup dengan persentase 78,57%.

e.Hasil evaluasi tes memodelkan soal cerita matematika di akhir siklus I

yaitu: nilai rata-rata = 51,36; nilai tertinggi = 84; nilai terendah = 10;

tuntas = 24 orang; tidak tuntas = 23 orang; dan ketuntasan klasikal =

51,06%.

f.Kelemahan yang dialami siswa pada siklus I antara lain dalam hal

menentukan topik umum yang terdapat dalam soal-soal LAS, menentukan

dan mengamati model matematika, menjelaskan arti solusi matematika

yang ditemukan, interaksi dalam bekerja, menampilkan jawaban di kelas,

141

membandingkan jawaban dengan jawaban temannya, dan kemampuan

bertanya atau menjawab pertanyaan dari guru/temannya.

g.Kelemahan yang dialami guru pada siklus I antara lain dalam hal meminta

siswa menampilkan jawabannya di kelas, mendorong siswa

membandingkan jawaban dengan jawaban temannya, mendorong siswa

bertanya atau menjawab pertanyaan dari guru/temannya, dan memberikan

latihan mandiri (portofolio).

h.Pada siklus II, sebelum dilakukan tindakan pembelajaran dengan

pendekatan metakognitif PQ4R, terlebih dahulu dilakukan pre test

memodelkan soal cerita matematika. Setelah dianalisis diperoleh hasil

sebagai berikut: nilai rata-rata = 39,15; nilai tertinggi = 74; nilai terendah

= 8; tuntas = 12 orang; tidak tuntas = 35 orang; dan ketuntasan klasikal =

25,53%.

i.Hasil observasi pengelolaan pembelajaran pada siklus II yaitu

pendahuluan berkategori baik dengan rata-rata 4,890; kegiatan inti

berkategori baik dengan rata-rata 4,640; penutup berkategori baik dengan

rata-rata 4,585; dan pengelolaan waktu berkategori sangat baik dengan

rata-rata 5,000.

j.Hasil observasi kegiatan guru pada siklus II secara umum berkategori

sangat baik dengan persentase 94,17%.

k.Hasil observasi kegiatan siswa pada siklus II secara umum berkategori

sangat baik dengan persentase 92,50%.

l.Hasil evaluasi tes memodelkan soal cerita matematika di akhir siklus II

yaitu: nilai rata-rata = 77,23; nilai tertinggi = 98; nilai terendah = 20;

142

tuntas = 41 orang; tidak tuntas = 6 orang; dan ketuntasan klasikal =

87,23%.

m.Kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I teratasi dengan cara

merubah cara belajar individual menjadi cara belajar kelompok,

memberikan bantuan kepada siswa, serta melakukan pendekatan kepada

siswa dengan cara penguatan dan motivasi agar siswa tidak lagi harus

malu/ragu untuk berinteraksi dalam bekerja.

3.Kemampuan metakognitif siswa

Kemampuan metakognitif siswa kelas V SD bervariasi. Berdasarkan hasil

analisis diperoleh hasil sebagai berikut: siswa yang berkualifikasi “kurang” =

6 orang (12,77%); siswa yang berkualifikasi “cukup” = 10 orang (21,28%);

siswa yang berkualifikasi “baik” = 9 orang (19,15%); dan siswa yang

berkualifikasi “sangat baik” = 22 orang (46,81%). Secara umum dapat

disimpulkan bahwa siswa yang minimal berkualifikasi “cukup baik” ada 41

orang (87,23%). Hal ini telah menunjukkan ketuntasan klasikal.

4.Kemampuan siswa kelas V SD dalam memodelkan soal cerita matematika

Kemampuan siswa kelas V SD dalam memodelkan soal cerita matematika

mengalami peningkatan. Pada siklus I, nilai rata-rata kemampuan siswa kelas

V SD dalam memodelkan soal cerita adalah 51,36 dengan ketuntasan klasikal

51,06%. Sedangkan pada siklus II, nilai rata-rata kemampuan siswa kelas V

SD dalam memodelkan soal cerita adalah 77,23 dengan ketuntasan klasikal

87,23%.

4.3.DISKUSI HASIL PENELITIAN

143

Pada bagian ini akan dipaparkan deskripsi dan interpretasi data temuan

penelitian. Deskripsi dan interpretasi dilakukan terhadap penerapan pendekatan

metakognitif dan kemampuan memodelkan soal cerita matematika.

4.3.1.Penerapan Pendekatan Metakognitif

Melalui penerapan pendekatan metakognitif siswa dapat memiliki

kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dilakukan dapat

terkontrol secara optimal. Melalui tahap-tahap yang ada pada pembelajaran

pendekatan metakognitif, diharapkan siswa dapat menerapkannya dalam

memodelkan soal cerita matematika. Untuk itu diperlukan keterampilan untuk

mengembangkan kemampuan metakognitif untuk mendukung kemampuan

memodelkan soal cerita matematika. Sehingga hasil belajar siswa dapat terus

ditingkatkan.

Penerapan pendekatan metakognitif dalam memodelkan soal cerita

matematika dilakukan dalam 3 tahap yaitu:

a.Tahap pertama: diskusi awal

b.Tahap kedua: siswa bekerja secara mandiri dengan langkah PQ4R

Pada tahap preview siswa mensurvei soal dan menentukan topik umum dalam

soal. Pada tahap question siswa menuliskan apa yang diketahui dan apa yang

ditanyakan dalam soal. Pada tahap preview dan question ini, siswa mencapai

kemampuan untuk mengorganisir, mencatat, dan mengkomunikasikan ide-ide

matematika. Tahap selanjutnya yaitu read di mana siswa membaca soal

dengan cermat dan menentukan model matematika yang sesuai dengan soal.

Pada tahap reflect siswa mengamati model matematika yang digunakan untuk

masing-masing soal. Pada tahap read dan reflect ini, siswa mencapai

144

kemampuan untuk memilih pemodelan matematika untuk memecahkan

masalah. Tahap selanjutnya yaitu recite di mana siswa menyelesaikan soal

dengan menggunakan model matematika yang telah ditentukan. Pada tahap

ini, siswa mencapai kemampuan untuk menerapkan dan menerjemahkan

pemodelan matematika untuk memecahkan masalah. Tahap terakhir yaitu

review di mana siswa menjelaskan arti solusi matematika yang ditemukan.

Pada tahap ini, siswa mencapai kemampuan menggunakan pemodelan untuk

menginterpretasikan fenomena fisik, sosial, dan fenomena matematika.

c.Tahap ketiga: refleksi dan rangkuman

Dari temuan penelitian, diketahui bahwa pengelolaan pembelajaran pada

siklus I dan II berkategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran

matematika dengan pendekatan metakognitif PQ4R dapat diterapkan dalam

pembelajaran matematika pada pokok bahasan pecahan. Meskipun ditemui

kelemahan-kelemahan pada siklus I, namun pada siklus II kelemahan-kelemahan

tersebut dapat diatasi melalui perbaikan tindakan sehingga hasil pembelajaran

lebih baik.

Apabila ditinjau dari kegiatan guru untuk setiap siklus, maka terjadi

peningkatan kegiatan guru yaitu pada siklus I berkategori baik dengan persentase

84,11% menjadi berkategori sangat baik dengan persentase 94,17% pada siklus II.

Peningkatan kegiatan guru sebesar 10,06% menunjukkan kemampuan guru

mendukung aktivitas selama kegiatan pembelajaran. Peningkatan ini terjadi

karena guru dapat memainkan perannya dalam pembelajaran sesuai dengan

tahapan-tahapan pada pendekatan metakognitif PQ4R melalui berbagai cara

145

seperti yang dikemukakan oleh Asrori (2008) yaitu melalui pelabelan,

proseduring, demonstrasi, aplikasi, dan refleksi.

Sedangkan untuk kegiatan siswa pada setiap siklus juga terjadi

peningkatan yaitu pada siklus I berkategori cukup dengan persentase 78,57%

menjadi berkategori sangat baik dengan persentase 92,50% pada siklus II.

Peningkatan kegiatan siswa sebesar 13,93% menunjukkan kemampuan siswa

mendukung aktivitas selama kegiatan pembelajaran. Hal ini terjadi karena

penerapan pendekatan metakognitif menekankan pada siswa bekerja secara

mandiri dengan menerapkan tahapan-tahapan pendekatan metakognitif PQ4R.

Siswa dapat bekerja secara mandiri didukung salah satu komponen penting dari

metakognisi yaitu pengetahuan diri. Hal ini sesuai dengan pendapat Flavell

(1979) yaitu pengetahuan diri mencakup pengetahuan tentang kekuatan dan

kelemahan diri sendiri dalam kaitannya dengan kognisi dan belajar. Pengetahuan

diri ini juga mencirikan seorang ahli, bahwa dia tahu ketika dia tidak mengetahui

sesuatu dan kemudian dia mempunyai strategi-strategi tertentu untuk mencari

informasi yang dia butuhkan.

Peningkatan pengelolaan pembelajaran, kegiatan guru, dan kegiatan siswa

ini sesuai dengan dasar bahwa pelaksanaan pembelajaran semestinya

membiasakan siswa untuk melatih kemampuannya, tidak hanya berpikir sepintas

dengan makna yang dangkal. Hal ini juga sesuai dengan tujuan metakognitif

yaitu memonitor dan mengatur tindakan untuk membantu siswa mengembangkan

kebiasaan dan kecakapan melihat dan mengatur strategi dan kemajuan mereka

saat menyelesaikan soal. Para siswa dapat juga dibantu dalam mengembangkan

kebiasaan memonitor diri mereka sendiri setelah kegiatan penyelesaian soal

146

berakhir. Diskusi singkat setelah soal selesai dapat difokuskan pada apa yang

dikerjakan dalam penyelesaian soal. Hal ini juga senada dengan hasil penelitian

Hepsi Nindiasari (2004) yang menyatakan bahwa secara umum siswa memiliki

sikap positif terhadap pembelajaran metakognitif dan pada umumnya guru

berpendapat pembelajaran metakognitif baik untuk dilaksanakan, serta dalam

pembelajaran metakognitif siswa aktif mengikuti proses jalannya pembelajaran.

4.3.2.Peningkatan Kemampuan Memodelkan Soal Cerita Matematika

Kemampuan siswa untuk memodelkan soal cerita matematika merupakan

salah satu kemampuan matematika yang perlu ditingkatkan. Untuk itu diperlukan

beberapa kompetensi yang harus dimiliki siswa untuk memodelkan soal cerita

matematika. Kompetensi yang dimaksud antara lain kompetensi untuk

memahami masalah real dan menciptakan suatu model berdasarkan realita,

menciptakan suatu model matematika dari model real, menyelesaikan problem-

problem matematika dalam model matematika, menginterpretasikan hasil-hasil

matematika dalam situasi real, dan memvalidasi solusi. Untuk mencapai

kompetensi tersebut, maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran. Salah satu

pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan metakognitif.

Penelitian ini melihat peningkatan kemampuan memodelkan soal cerita

matematika siswa kelas V SD melalui penerapan pendekatan metakognitif.

Berrdasarkan hasil analisis data, dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan

kemampuan siswa kelas V SD dalam memodelkan soal cerita matematika. Begitu

juga dalam hal ketuntasan klasikal terjadi peningkatan. Hasil evaluasi tes

memodelkan soal cerita matematika di akhir siklus I yaitu: nilai rata-rata = 51,36

147

dan ketuntasan klasikal = 51,06%. Sedangkan hasil evaluasi tes memodelkan soal

cerita matematika di akhir siklus II yaitu: nilai rata-rata = 77,23 dan ketuntasan

klasikal = 87,23%. Peningkatan kemampuan siswa dalam memodelkan soal cerita

matematika yaitu sebesar 36,17%.

Pada akhir siklus II terdapat 6 orang siswa yang tidak tuntas. Untuk itu

diperlukan upaya agar keenam siswa tersebut dapat mencapai ketuntasan belajar.

Keenam siswa yang mengalami kesulitan belajar ini diberikan perhatian khusus

dalam proses belajarnya. Misalnya dengan cara memberikan bantuan belajar

langsung dari guru maupun teman sejawat yang memiliki kemampuan lebih

tinggi, memotivasi siswa agar mampu berinteraksi dengan guru dan teman

sejawatnya dalam pembelajaran, mengamati aktivitas belajar siswa tersebut

dengan perhatian yang lebih banyak, serta memberikan lebih banyak latihan

kepada siswa maupun dalam bentuk portofolio.

Dari hasil analisis siklus I dan siklus II terjadi peningkatan kemampuan

siswa dalam memodelkan soal cerita matematika sebesar 36,17%. Hal ini

dimungkinkan karena penerapan pendekatan metakognitif melalui tahap-tahap

pembelajarannya. Di mana pada setiap tahap pembelajarannya, kemampuan-

kemampuan yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan memodelkan soal

cerita matematika dapat dikembangkan. Peningkatan kemampuan siswa dalam

memodelkan soal cerita matematika ini didukung kompetensi siswa dalam

pemodelan sebagaimana yang dikemukakan oleh Blum & Keiser (dalam

Parlaungan, 2008) yaitu kompetensi untuk memahami masalah real dan untuk

menciptakan suatu model berdasarkan realita, menciptakan suatu model dari

model real, menyelesaikan problem-problem matematika dalam model

148

matematika, menginterpretasikan hasil-hasil matematika dalam situasi real, dan

memvalidasi solusi.

Hal ini senada dengan hasil penelitian Yenny Suzanna (2004) yang

menyatakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada pembelajaran

konvensional. Selain itu, juga didukung oleh penelitian Eti Herawati (2004) yang

menyatakan bahwa dalam pembelajaran menerjemahkan soal cerita ke dalam

model matematika dan penyelesaiannya hendaknya siswa membaca soal cerita

yang dihadapi kemudian membuat gambar representasi semi konkrit dari

bilangan/kuantitas yang ada pada soal cerita dan memberikan tugas latihan dalam

kelompok kecil.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan pada bagian terdahulu

diambil kesimpulan yang berkaitan dengan penerapan pendekatan metakognitif

untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas V SD dalam memodelkan soal cerita

matematika pada pokok bahasan pecahan sebagai berikut:

1.Penerapan pendekatan metakognitif PQ4R dapat digunakan untuk

mengungkapkan kemampuan siswa kelas V SD dalam memodelkan soal

cerita matematika pada pokok bahasan pecahan. Hal ini didukung oleh hasil

penelitian yaitu: hasil observasi pengelolaan pembelajaran pada siklus I dan

siklus II berkategori baik, hasil observasi kegiatan guru pada siklus I

berkategori baik dan pada siklus II berkategori sangat baik, hasil observasi

149

kegiatan siswa pada siklus I berkategori cukup dan pada siklus II berkategori

sangat baik.

2.Terdapat peningkatan kemampuan siswa kelas V SD dalam memodelkan soal

cerita matematika pada pokok bahasan pecahan melalui penerapan

pendekatan metakognitif PQ4R. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yaitu:

a.Hasil evaluasi tes memodelkan soal cerita matematika di akhir siklus I

yaitu: nilai rata-rata = 51,36; nilai tertinggi = 84; nilai terendah = 10;

tuntas = 24 orang; tidak tuntas = 23 orang; dan ketuntasan klasikal =

51,06%.

b.Hasil evaluasi tes memodelkan soal cerita matematika di akhir siklus II

yaitu: nilai rata-rata = 77,23; nilai tertinggi = 98; nilai terendah = 20;

tuntas = 41 orang; tidak tuntas = 6 orang; dan ketuntasan klasikal =

87,23%.

c.Sedangkan bagi siswa yang tidak tuntas pada akhir siklus II diberikan

tindakan tambahan misalnya dengan cara memberikan bantuan belajar

langsung dari guru maupun teman sejawat yang memiliki kemampuan

lebih tinggi, memotivasi siswa agar mampu berinteraksi dengan guru dan

teman sejawatnya dalam pembelajaran, mengamati aktivitas belajar siswa

tersebut dengan perhatian yang lebih banyak, serta memberikan lebih

banyak latihan kepada siswa maupun dalam bentuk portofolio.

4.2.SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat mengajukan saran-saran

untuk pembelajaran matematika khususnya pada tingkat Sekolah Dasar, yaitu:

150

1.Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif dapat dijadikan

salah satu alternatif pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan

kemampuan siswa dalam memodelkan soal cerita matematika.

2.Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi sekolah untuk

meningkatkan mutu dan inovasi pembelajaran.

3.Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi guru dalam upaya

meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran agar aktivitas

siswa dalam pembelajaran juga meningkat.

4.Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif mengutamakan

siswa bekerja secara mandiri. Oleh karena itu, guru hendaknya berupaya

untuk merubah pembelajaran berpusat pada guru (teacher oriented) menjadi

pembelajaran berpusat pada siswa (student oriented). Diharapkan guru dapat

menerapkan langkah-langkah pembelajaran matematika dengan pendekatan

metakognitif PQ4R.

5.Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengadaptasi langkah-langkah

yang ada dalam penelitian ini dan memperbaiki kekurangan-kekurangan

dalam penelitian ini.

151

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, O. W. & Krathwohl, D. R. 2001. A Taxonomy For Learning, Teaching,
and Assessing (A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational
Objectives).
New York: Addision Wesley Longman, Inc.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Edisi Revisi. Cetakan kelima. Jakarta : Rineka Cipta.

Asrori, Mohammad. 2008. Psikologi Pembelajaran. Cetakan kedua. Bandung:
CV. Wacana Prima.

________________. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Cetakan kedua. Bandung:
CV. Wacana Prima.

Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Cetakan pertama.
Jakarta: Rineka Cipta.

Cheong, Agnes Chang Shook & Christine C, M. Goh. 2002. Teachers’ Handbook
On Teaching Generic Thinking Skills
. Singapore: Prentice Hall.

Desoete, A. 2001. Off-Line Metacognition in Children with Mathematics
Learning Disabilities
. Faculteit Psychologies en Pedagogische
Wetenschappen. Universiteit-Gent.

152

(https:/archive.ugent.be/retrieve/917/ 801001505476.pdf diakses 30

Oktober 2008).

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia.

Fadillah, Syarifah. 2008. Representasi Dalam Pembelajaran Matematika.
(Online),

(http://fadillahatick.blogspot.com/2008/06/reoresentasi-

matematik.html, diakses 13 Juli 2010).

Hamson. 2003. The place of mathematical modeling in mathematics education. In
S. J. Lamon, W. A. Parker & K. Houston (Eds.). Mathematical
modeling: A way of life
. Academic Press.

Herawati, Eti. 2004. Analisis Kemampuan Siswa Sekolah Menengah Pertama
dalam Menerjemahkan Soal Cerita Ke Dalam Model Matematika dan
Penyelesaiannya.
Bandung: UPI.

Hergenhahn, B.R dan Matthew H. Olson. Theories of Learning (Teori Belajar).
Edisi ketujuh. Cetakan kedua. Jakarta: Kencana.

Huston, Kelley. 2008. Solving a Math Story Problem Five Easy Steps for
Completing Any Problem
, (Online), (http://middle-school-lesson-
plans.suite101.com/article.cfm/solving_a_math_story_problem, diakses 30
Oktober 2008).

Kadir. 2003. Panduan Pengajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata
Pelajaran Matematika
. Cetakan Pertama. Jakarta: CV. Irfandi Putra.

Kholil, Anwar. 2008. Teori Vygotsky tentang Pentingnya Strategi Belajar,
(Online), (http://anwarholil.blogspot.com./2008/04/teori-vygotsky-
tentang-pentingnya.html, diakses 14 Juli 2010).

K, Abdul Hamid. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Cetakan pertama.
Medan: Pascasarjana UNIMED.

Miranda, Yula. 2010. Pembelajaran Metakognitif Dalam Strategi Kooperatif
Think-Pair-Share Dan Think-Pair-Share+Metakognitif Terhadap
Kemampuan metakognitif Siswa Pada Biologi Di SMA Negeri
Palangkaraya
,

(Online),

(http://www.ilmupendidikan.net./2010/03/16/pembelajaran-
metakognitif.php, diakses 13 Juli 2010).

Nindiasari, Hepsi. 2004. Pembelajaran Metakognitif Untuk Meningkatkan
Pemahaman dan Koneksi Matematik Siswa SMU Ditinjau Dari
Perkembangan Kognitif Siswa
. Bandung: UPI.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: PT. Grasindo.

153

O’Neil Jr, H. F. & Brown, R.S. 1997. Differential Effects of Question Formats in
Math Assessment on Metacognition and Affect
. Los Angeles: CRESST-
CSE University of California.

Parlaungan. 2008. Pemodelan Matematika Untuk Peningkatan Bermatematika
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).
Medan: USU.

Shoenfeld, A. H. 1992. Learning To Think Mathematically: Problem Solving,
Metacognition, And Sense-Making In Mathematics. Handbook for
Research on Mathematics Teaching and Learning (D. Grouws, Ed.).

New York: MacMillan.
(http://myschoolnet.ppk.kpm.my/bcb8.pdf, diakses 30 Oktober 2008).

Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Edisi Pertama. Cetakan
kelima. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Sumiati & Asra. 2008. Metode Pembelajaran. Cetakan kedua. Bandung: CV.
Wacana Prima.

Supardjo. 2007. Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Matematika Gemar Berhitung 5B untuk Kelas V SD dan MI Semester 2
.
Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Suryabrata, Sumadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada.

Suzanna, Yenny. 2004. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Penalaran
Matematik Siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) Melalui
Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif.
Bandung: UPI.

Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Belajar. Cetakan ketiga. Jakarta: PT. Logos
Wacana Ilmu.

Tim MKPBM Jurusan Pendidikan Matematika. 2001. Strategi Pembelajaran
Matematika Kontemporer
. Bandung: JICA.

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan
Bagian III: Pendidikan Disiplin Ilmu
. Cetakan kedua. Bandung: PT.
Intima.

Uno, Hamzah B. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Cetakan Pertama. Jakarta:
Bumi Aksara.

Walle, John A. Van De. 2008. Matematika Sekolah Dasar dan Menengah
Pengembangan Pengajaran Jilid 1
. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga.

154

Yulaelawati, Ella. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Filosofi Teori dan
Aplikasi.
Bandung: Pakar Raya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->