BAB I SAMBUNGAN PAKU KELING A.

Pendahuluan Paku keling adalah sebuah batang pendek berbentuk selinder pada bagian kepala berbentuk bulat, bagian selinder pada paku disebut tangkai atau badan dan bagian bawah tangkai adalah ekor. Seperti ditunjukan dalam gambar 1.1 Penyambungan dengan paku keling dilakukan untuk menyambung pelat secara permanen. Sambungan ini biasanya diaplikasikan pada struktur baja, tangki, boiler, pesawat terbang dan alat-alat rimah tangga. Bahan paku keling yang biasanya digunakan adalah baja, kuningan, aluminium dan tembaga. Untuk sambungan yang membutuhkan kekuatan dan kerapatan, seperti pada boiler dan lambung kapal, digunakan paku keling dari baja.

Gambar 1.1 B. Metode Pengelingan Fungsi paku pada sambungan paku keling adalah untuk membuat hubungan yang kuat dan rapat. Kekuatan diperlukan untuk menjaga agar sambungan tidak rusak. Sedangkan kerapatan diperlukan, selain untuk kekuatan juga untuk menjaga agar tidak terjadi kebocoran, seperti pada boiler atau lambung kapal. Jika dua pelat akan disambung dengan paku keling seperti dilihat pada gambar 1.2 (a) lubang pada plate di pukul, dilebarkan dan dib or, pemukulan adalah metode termudah dan ini digunakan untuk plate yang relative tipis dialam struktur pekerjaan. Jika pemukulan ini merusak bahan disekitar lubang, maka yang digunakan aldalah pengeboran, ini banyak di

1

Sambungan Paku Keling

2

gunakan untuk pekerjaan bejana tekan. Pada sambungan untuk struktur dan bajana tekan, diameter lubang pelat biasanya 1,5 mm lebih besar dari diameter nominal paku.

Gambar 1.2 Pelat di bor bersaman dan kemudian dipisahkan untuk menghilangkan kotoran atau dipotong agar memiliki sebuah celah antara pelat. Paku yang telah dipanaskan dimasukan kedalam lubang kedua pelat, kemudian ujungnya di bentuk menyerupai kepala paku, pembentukan kepala pak ini dapat dilakukan dengan menggunakan palu atau cetakan. Pada saat dipukul diameter batang palu akan membesar dan mengisi lubang pelat secara penuh. Sehingga menghasilkan sambungan yang tepat dan kuat. Seperti pada gambar 1.2 Pada pengelingan dangan mesin, cetakan adalah bagian dari palu yang mana dioperasikan oleh udara, tekanan udara atau tekanan uap. C. Jenis Kepala Paku Berdasarkan standar Indian Institusi disarankan mengikuti type kepala paku setempel tekan yang biasanya dikerjakan untuk struktur pada cetakan.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

3

Gambar 1.3

Gambar 1.4

Gambar 1.5 D. Material Paku Keling Bahan paku keling pada umumnya bermaterial baja sesuai dengan Standar Internasional : 1148 – 1997 Paku keling untuk ketel uap harus berbahan yang sesuai dengan standar internasioanl : 1990-1962

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

4

E. Manufacture Paku Keling Mengacu pada spesifikasi I.S.I, paku keling dapat di buat dengan salah satu cara perlakuan dingin atau perlakuan panas. Jika paku keling dibuat dengan perlakuan dingin, maka sesudah itu harus melalui perlakuan panas. Tekanan yang di peroleh pada perlakuan dingin akan hilang. F. Jenis Sambungan Paku keling Berdasarkan penyambungan pelatnya, sambungan paku keling dikelompokkan sebagai : (a). sambungan berimpit ( lap joint) dan (b) sambungan bilah (butt joint). G. Sambungan Berimpit Sambungan berimpit (lap joint) adalah sambungan yang menempatkan pelat yang akan disambung saling berimpitan dan kedua pelat tersebut disambung dengan paku keling. H. Sambungan Bilah Sambungan bilah (butt joint) adalah sambungan yang menempatkan kedua ujung pelat yang akan disambung saling berdekatan, lalu kedua pelat tersebut ditutup dengan bilah (strap), kemudian masing-masing pelat disambungkan dengan bilah menggunakan paku keling. Sambungan bilah ini terdiri dari dua jenis, yaitu : a. Sambungan bilah tunggal (single strap riveted butt joint) b. Sambungan bilah ganda (double strap riveted butt joint) Berdasarkan jumlah baris paku yang digunakan, sambungan paku keling dibedakan sebagai : a. Sambungan baris tunggal (single riveted joint). Pada sambungan berimpit, sambungan baris tunggal adalah sambungan yang menggunakan satu baris paku keling pada sistem sambungan. Sedangkan pada sambungan bilah, sambungan baris tunggal adalah sambungan yang menggunakan satu baris paku pada masing-masing sisi sambungan.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

5

b. Sambungan baris ganda (double riveted lap joint) Pada sambungan berimpit, sambungan baris ganda adalah sambungan yang menggunakan dua baris paku keling pada sistem sambungan. Sedangkan pada sambungan bilah, sambungan baris ganda adalah sambungan yang menggunakan dua baris paku pada masing-masing sisi sambungan.

Gambar 1.6

Gambar 1.7 Sambungan berimpit keling tiga

Gambar 1.8 Sambungan bilah ganda keling tunggal

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

6

Gambar 1.9 Sambungan bilah ganda keling ganda

Gambar 1.10 Sambungan bilah ganda keling ganda dengan pengelingan zigzag

Gambar 1.11 Sambungan bilah ganda keling tiga Sebuah paku berkeling ganda yang mempunyai dua garis keling dalam sambungan berimpit sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 1.6 (b) dan (c) juga terdapat dua garis pada masing-masing sisinya dalam las menumpu sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.9. Kesamaan keduanya yakni mempunyai keling rangkap tiga atau keling rangkap empat.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

7

Catatan: Saat kedua keling dalam garis yang beragam diposisikan berlawanan, sebagaimana yang terlihat pada gambar 1.6 (b), maka paku tersebut disebut sebagai rantai berkeling. Di lain sisi, jika kedua keling dalam garis yang berimpit sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 1.6 (c), maka paku tersebut disebut sebagai keling saling-silang. I. Istilah-istilah Teknis Istilah-istilah berikut ini dalam hubungannya dengan paku-paku berkeling sangatlah penting. 1. Jarak Merupakan jarak dari pusat keling menuju pusat keling berukuran paralel kepada kampuh. Biasanya disimbolkan denga huruf p. 2. Jarak Diagonal Merupakan jarak antara pusat-pusat keling dengan garis paku keling saling-silang yang berdekatan. Biasanya disimbolkan dengan huruf Pd. 3. Jarak Belakang Merupakan jarak tegak lurus antara garis-garis pusat dari garis-garis yang berturut-turut. Biasanya disimbolkan dengan huruf Pb. 4. Garis Tepi Merupakan jarak antara pusat lubang keling ke sudut pelat yang terdekat. Biasanya disimbolkan dengan huruf m. J. Pengampuhan dan Pemenuhan Untuk menghindari paku-paku menjadi meleleh atau bocor di dalam bejana bertekanan seperti pemanas beruap, penerimaan udara dan tangki, dsb. Sebuah proses yang dinamakan Dempul dipakai.

Gambar 1.12

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

8

Dalam proses ini, benda kasar yang dinamakan alat kampuh, dengan tebal 5 mm serta lebar 38 mm, dipergunakan. Bagian sisi alat ini diambangkan pada sudut 80o . Alat tersebut dipindahkan setelah diratakan pada setiap sisi pelat, serta di miringkan pada sudut 75o sampai 80o yang dimaksudkan untuk membuat efek tekanan ke sudut bawah sebagaimana yang terlihat pada gambar 1.12 (a). Dalam praktek sebenarnya, kedua sisi A dan B di kampuhkan. Kepala keling sebagaimana terlihat pada posisi C juga di putarkan ke bawah dengan memakai alat kampuh untuk membuat pemanas paku menjadi rapat. Perawatan yang intensif diperlukan untuk mencegah kerusakan pada pelat dibawah alat. Cara lain yang lebih memuaskan untuk membuat paku-paku menjadi kokoh dan kuat dikenal dengan istilah Pemenuhan. Pada kasus ini, alat Pemenuhan yang tebal pada semua ujung pelatnya digunakan sedemikian rupa sehingga tekanan yang hebat akibat letupan yang muncul pada permukaan dekat paku, menjadi akhir yang bersih, dengan resiko yang sedikit dari kemungkinan membuat pelat menjadi rusak. Proses Pemenuhan ditunjukkan pada gambar 1.12 (b). K. Kegagalan paku berkeling. Paku berkeling akan menjadi gagal apabila: (1) Merobek sisi pelat, (2) Merobek pelat melalui garis-garis keling, (3) Menggunting keling, dan (4) Menghancurkan keling. 1. Merobek sisi pelat Sebuah paku akan menjadi gagal apabila merobek sisi pelat sebagaimana terlihat pada gambar 1.13. hal ini dapat dihindari dengan cara menjaga garis tepi, m =1.5d.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

9

Gambar 1.13 Dimana d merupakan diameter keling. 2. Merobek pelat melalui garis-garis keling Mengacu pada tekanan renggang pada pelat utama, yang berakibat merobek pelat melalui garis-garis keling sebagaimana terlihat pada gambar 1-14. Dalam kasus ini, kita hanya memikirkan lebar jarak pelat, karena setiap keling mempunyai jarak yang sudah ditentukan.

Gambar 1.14 Ketahanan yang dimiliki oleh pelat melawan sobekan dikenal dengan istilah ketahanan sobekan atau kekuatan sobekan atau nilai sobekan dari sebuah pelat. Misal p = jarak keling, d = diameter keling, t = ketebalan pelat, ft= daya renggang materi pelat, Kita ketahui bahwa area sobekan per lebar jarak, At = (p-d)t Ketahanan sobekan atau tarikan dibutuhkan untuk merobek pelat per lebar jarak, Pt = ft . At = ft (p-d)t

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

10

3. Menggunting keling

Gambar 1.15 Pelat-pelat dihubungkan oleh keling-keling menggunakan tekanan renggang pada keling, dan jika keling tersebut tidak dapat menolak tekanan, maka akan menggunting pelat sebagaimana terlihat pada gambar 1.15. Perlu dicatat bahwa keling-keling tersebut merupakan guntingan tunggal dalam sambungan berimpit dan penutup ganda las menumpu sebagaimana terlihat pada gambar 1.16. Ketahanan yang diberikan oleh keling dikenal dengan istilah ketahanan sobekan atau kekuatan sobekan atau nilai sobekan keling. 4. Menghancurkan keling Terkadang, keling tidak sepenuhnya menggunting tekanan renggang, akan tetapi menghancurkan sebagaimana yang terlihat pada gambar 1.17. Tekanan yang diberikan oleh keling untuk menghancurkan dikenal dengan istilah ketahanan hancuran atau nilai bantalan.

Gambar 1.17 Misal d= diameter keling, t= ketebalan pelat, fc= tingkat hancuran aman pada paku, dan n= jumlah keling per lebar jarak dibawah hancuran. Kita ketahui bahwa area hancuran per keling, Ac= d . t

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

11

Maka total area hancuran = n . d . t Serta ketahanan hancuran atau tarikan yang dibutuhkan untuk menghancurkan keling per lebar jarak, Pc = n . d . t . fc Catatan: Jumlah-jumlah keling dibawah guntingan haruslah sama dengan jumlah-jumlah keling dibawah hancuran. L. Kekuatan Sambungan Paku Berkeling Kekuatan sebuah paku dapat didefinisikan sebagai kekuatan maksimum yang dapat mengalir, tanpa menyebabkan kegagalan. Kita telah lihat pada gambar 1.12 bahwa Pt, Ps dan Pc merupakan tarikan-tarikan yang dibutuhkan untuk merobek pelat, menggunting keling dan menghancurkan keling. Sebuah pertimbangan kecil akan muncul, bahwa apabila kita tingkatkan tarikan pada paku berkeling, hal itu akan menjadi gagal bila sisa dari tiga tarikan ini dicapai. Hal ini dikarenakan sebuah nilai yang lebih tinggi yang diakibatkan oleh tarikan lain tidak akan tercapai karena paku telah gagal, seperti merobek pelat, menggunting keling atau menghancurkan keling. Jika paku berkesinambungan seperti dalam kasus alat pendidih, kekuatannya dihitung per lebar jarak. Akan tetapi jika pakunya kecil, kekuatannya dihitung untuk keseluruhan jarak pelat. M. Efisiensi Paku Berkeling Efisiensi dari paku berkeling merupakan rasio dari kekuatan paku dengan kekuatan pelat tak berkeling atau padat. Kita telah siap mendiskusikan bahwa kekuatan sambungan paku keling = lebih kecil dari Pt, Ps dan Pc P = p x t x ft

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

12

Efisiensi sambungan paku

η =

kekua tan sam bungan p.t . ft

pakuleing

P = jarak puncak paku T = tebal pelat Ft = tekanan keregangan yang di ijinkan Tabel berikut menunjukkan tingkat efisiensi paku berkeling untuk alat pendidih dengan mengacu pada Regulator Pendidih Indian. Sambungan berimpit baris tunggal baris ganda Efisiensi (%) 45 – 60 63 – 70 Sambungan bilah baris tunggal baris ganda Efisiensi (%) 55 – 60 70 – 83

baris triple 72 - 80 baris triple 80 -90 Regulator Pendidih Indian mengijinkan angka maksimal 85% untuk paku terbaik. Contoh 1.1 Temukanlah efisiensi dari paku-paku berkeling berikut:-(1) Sambungan keling berimpit tunggal memiliki pelat setebal 6 mm dengan diameter 2 cm, serta berjarak 5 cm. (2) Sambungan keling berimpit ganda memiliki pelat setebal 6 mm dengan diameter 2 cm, serta berjarak 6.5 cm. Asumsikan Tekanan renggang yang diijinkan dalam pelat = 1,200 kg/cm2 Tekanan gunting yang diijinkan dalam keling = 900 kg/cm2 Tekanan hancur yang diijinkan dalam keling = 1,800 kg/cm2 Diketahui: Diketahui, ketebalan pelat t= 6 mm = 0.6 cm Diamter keling, d= 2 cm Tekanan renggang yang diijinkan, Ft= 1,200 kg/cm2 Tekanan gunting yang diijinkan, Fs= 900 kg/cm2

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

13

Tekanan hancur yang diijinkan, Fc= 1,800 kg/cm2 Efisiensi paku pertama Jarak, p= 5 cm Pertama-tama kita cari terlebih dulu ketahanan sobek dari ketahanan gunting dan ketahanan hancur pelat keling. (i) Ketahanan sobek pelat Kita tahu bahwa ketahanan sobek pelat per lebar jarak, Pt= (p-d)t . ft = (5-2) x 0.6 x 1,200 = 2,160 kg (ii) Ketahanan gunting keling Dikarenakan pakunya berbentuk sambungan keling berimpit tunggal, maka kekuatan satu keling dalam guntingan tunggal diambil. Dengan menggunakan persamaan,
Ps = 2 x

π
4

d 3 fs

=

π
4

x 22 x 900 = 2,827 kg

(iii) Ketahanan hancur keling Dikarenakan pakunya merupakan keling tunggal, maka kekuatan satu keling diambil. Dengan menggunakan relasi Pc = d . t . fc dengan notasi biasa = 2 x 0.6 x 1,800 = 2,160 kg Kekuatan paku, = kurang dari Pt, Ps atau Pc = 2,160 Kita mengetahui bahwa kekuatan dari pelat tak berkeling, Pc = d . t . ft = 5 x 0,6 x 1200 = 3600 kg
η=
2160 = 0.60 atau 60% 3600

Efisiensi paku kedua Jarak, p= 6.5 cm

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

14

(i) Ketahanan sobek pelat Kita tahu bahwa ketahanan sobek pelat per lebar jarak, Pt= (p-d)t . ft = (6.5 – 2) 0.6 x 1,200 = 3,240 kg (ii) Ketahanan gunting keling Dikarenakan pakunya berbentuk sambungan keling berimpit ganda, maka kekuatan satu keling dalam guntingan ganda diambil. Dengan menggunakan persamaan,
Ps = 2 x

π
4

d 3 fs

=

π
4

x 22 x 900 x 2 = 5654 kg

(iii) Ketahanan hancur keling Dikarenakan pakunya merupakan keling ganda, maka kekuatan dua keling diambil. Dengan menggunakan relasi Pc =n . d . t . fc dengan notasi biasa = 2 x 2 x 0.6 x 1,800 = 4,320 kg Kekuatan paku, = kurang dari Pt, Ps atau Pc =3,240 kg Kita mengetahui bahwa kekuatan dari pelat tak berkeling, Pc = d . t . ft = 6.5 x 0,6 x 1200 = 3600 kg efisiensi
η=
3240 = 0.69 atau 69% 4680

Contoh 1.2 (Unit S.I.) Sebuah pake berkeling ganda dengan las menumpu ganda dalam pelat dengan ketebalan 20 mm mempunyai diameter 25 mm keling pada jarak 100 mm. Tekanan yang diijinkan adalah: Ft= 120 N/mm2 ; fs= 100 N/mm2 ; fc= 150 N/mm2. Temukanlah efisiensi paku, ketahanan keling pada guntingan ganda dua kali lipat dibanding pada guntingan tunggal. (Universitas Calcuta, 1976)

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

15

Diketahui: ketebalan pelat, T= 20 mm Diameter keling, Jarak, p= 100 mm Ft= 120 N/mm2 Fs= 100 N/mm2 Fc= 150 N/mm2 Jawab: Pertama-tama kita cari terlebih dulu ketahanan sobek dari ketahanan gunting dan ketahanan hancur pelat keling. (i) Ketahanan sobek pelat Kita tahu bahwa ketahanan sobek pelat per lebar jarak, Pt= (p-d)t . ft = (100 – 25) x 20 x 120 = 180.000 N (ii) Ketahanan guntingan keling Dikarenakan pakunya berbentuk sambungan keling berimpit ganda, maka kekuatan satu keling dalam guntingan ganda diambil. Dengan menggunakan relasi,
Ps = n ×2 ×

d= 25 mm

π
4

d 3 fs

=2x2x

π
4

x 252 x 100 = 196300 N

(iii) Ketahanan hancuran keling Dikarenakan pakunya merupakan keling ganda, maka kekuatan dua keling diambil. Dengan menggunakan relasi Pc = n . d . t . fc dengan notasi biasa = 2 x 25 x 20 x 150 = 150.000 N Kekuatan paku, = kurang dari Pt, Ps atau Pc = 150.000 N

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

16

Kita mengetahui bahwa kekuatan dari pelat tak berkeling, P = p . t . ft = 100 x 20 x 120 = 240000 N efisiensi
η=
150000 = 0.625 atau 62.5% 240000

N. Desain Paku Ketel Uap Kita telah mempelajari pada bab sebelumnya bahwa sebuah ketel uap mempunyai paku berkesinambungan juga paku melintang. Paku berkesinambungan digunakan untuk menggabungkan ujung pelat guna mendapatkan diameter yang dibutuhkan oleh ketel uap. Untuk tujuan ini, sebuah las menumpu dengan pelat penutup digunakan. Paku melintang digunakan untuk mendapatkan jarak yang dibutuhkan oleh ketel uap. Untuk tujuan ini sebuah sambungan berimpit digunakan. Dikarenakan ketel uap terbuat dari sejumlah cincin, karena itu paku berkesinambungan digoncangkan untuk memudahkan ketika menyambung cincin-cincin pada tempatnya dimana paku berkesinambungan dan paku melintang muncul. Asumsi berikut dibuat saat membuat paku untuk ketel uap: 1. Asupan paku terbagi secara merata ke semua keling. Asumsi tersebut menyiratkan bahwa badan ketel dan pelat kokoh. Dan juga semua perubahan bentuk paku terjadi di keling itu sendiri. 2. Tekanan renggang didistribusikan secara merata ke seluruh bagian metal antara keling. 3. Tekanan gunting di seluruh keling secara serempak. 4. Tekanan hancur merata secara serempak. 5. Tidak terdapat tekanan lentur pada keling. 6. Lubang dimana keling-keling diarahkan tidak melemahkan komponen. 7. Keling memenuhi lubang setelah diarahkan. 8. Pergesekan antara permukaan pelat diabaikan. O. Desain Las Menumpu Berkesinambungan untuk Ketel Uap Mengacu kepada Regulasi Ketel Uap Indian, prosedur berikut harus dipakai untuk desain paku berkesinambungan. 1. Ketebalan kerangka ketel uap

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

17

Pertama-tama, ketebalan kerangka ketel uap ditentukan dengan menggunakan formula silinder tipis, sebagai contoh: t = 2 ft .η +0,1 cm t = ketebalan kerangka ketel p = tekanan uap pada boiler d = diameter dalam pada ketel uap dalam cm ft = tegangan rentangan
p.d

η = efisiensi
Poin-poin berikut harus diperhatikan: (a) Ketebalan kerangka ketel uap tidak boleh kurang dari 7 mm. (b) Efisiensi paku dapat diambil dari tabel 1.1. (c) Faktor keamanan tidak boleh kurang dari 4. tabel berikut menunjukkan jumlah-jumlah faktor keamanan untuk berbagai macam paku di ketel uap. Jenis sambungan Sambugan berimpit Sambungan bilah tunggal Sambungan bilah baris tunggal Sambungan bilah baris ganda 2. Diameter keling Setelah mengetahui ketebalan kerangka ketel uap (t), diameter lubang keling (d) dapat ditentukan dengan menggunakan formula empiris Unwin, sebagai contoh:
d =6 t

Faktor keamanan Pengelinga Pengelingan n tangan mesin 4.75 4.5 4.75 4.75 4.25 4.5 4.5 4.0

Akan tetapi jika ketebalan pelat kurang dari 8 mm, maka diameter lubang keling dapat dihitung dengan mempersamakan ketahanan gunting paku kepada ketahanan hancur paku. Tabel berikut memberikan diameter yang cocok untuk diameter lubang kelign sebagai per IS: 1928 – 1961.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

18

Ukuran paku (mm) 12 14 16 18 20 22 24 27 30 33 36 39 42 48

Diameter lubang paku (mm) 13 15 17 19 21 23 25 28.5 31.5 34.5 37.5 41 44 50 Tabel 1.4 2 0 Diameter 2 2 2 3 2 4 7 0 3 3 3 6 3 9 4 2 48

Panjang 28 31.5 35.5 40 45 50 56 63 71 80 85 90 95 100 106 112 118 125 132 140 150 160 180 200 224 250

1 2 X X X X X X X X X X

1 4 X X X X X X X X X X X X

1 6 X X X X X X X X X X X X X X

1 8

X X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X X

X X X X X X X X X

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

19

3. Jarak puncak paku Jarak keling-keling dapat dicapai dengan mempersamakan ketahanan sobekan pelat kepada ketahanan guntingan keling. Harus dicatat bahwa: (a) (b) Jarak keling-keling tidak boleh kurang dari 2d, yang akan Nilai maksimum jarak keling untuk paku berkesinambungan Pmax= C x t + 4.128 cm Dimana t= Ketebalan kerangka pelat dalam cm, dan C= Konstanta Nilai konstanta C diberikan dalam tabel berikut ini: Jumlah paku per Jarak pucak 1 2 3 4 5 Catatan: Jika jarak Sambungan berimpit 1.31 2.62 3.47 4.17 keling-keling Sambungan bilah tunggal 1.53 3.06 4.05 dicapai dengan Sambungan bilah ganda 1.75 3.50 4.63 5.52 6.00 mempersamakan berguna untuk formasi kepala. pada ketel uap sebagai per I.B.R adalah

ketahanan sobekan kepada ketahanan guntingan lebih dari Pmax, maka nilai Pmax digunakan. 4. Mengatur jarak garis keling Pengaturan jarak keling sebagaimana disebutkan oleh Regulasi Ketel Uap Indian, adalah sebagai berikut: (a) Untuk jumlah keling-keling yang lebih dari satu garis untuk sambungan berimpit, jarak antara garis-garis dan keling-keling (Pb) tidak boleh kurang dari 0.33p + 0.67d, untuk keling saling-silang, dan 2d, untuk rantai keling. (b) Untuk paku yang jumlah keling-kelingnya berada pada garis terluar bernilai setengah jumlah keling-keling yang berada di garis

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

20

dalam dan jika garis terdalam merupakan rantai berkeling, jarak antara garis-garis terluar dan garis-garis berikutnya tidak boleh kurang dari 0.33p + 0.67d atau 2d, atau yang manapun yang lebih besar. Jarak antara garis-garis berjumlah keling penuh, tidak boleh kurang dari 2d. (c) Untuk paku yang jumlah keling pada garis terluarnya setengah jumlah keling pada garis terdalam dan jika garis-garis terdalamnya merupakan keling saling-silang, jarak antara garis-garis terluar dan garis-garis berikutnya tidak boleh kurang dari 0.2p + 1.15d. Jarak antara garis-garis berjumlah penuh dari keling saling-silang tidak boleh kurang dari 0.165p + 0.67d. Catatan: Pada diskusi diatas, p merupakan jarak keling pada garis-garis terluar. 5. Ketebalan las Mengacu kepada I.B.R.., ketebalan las (t1) adalah sebagai berikut: (a) (b) t1 = 1.125 t t1 = 1.125 t t1 = 0.625 t t1 = 0.625 t (c)
 p −d    p − 2d      p −d   p − 2d     

Ketebalan las haruslah kurang dari 1 cm.

Untuk lebar las menumpu yang tidak sama, ketebalan las T1= 0.75t, untuk ikatan lebar, dan T2= 0.625t, untuk ikatan sempit di daerah luar.

adalah sebagai berikut:

6. Garis tepi Prosedur berikut diadopsi untuk desain sambungan berimpit melintang pada sebuah ketel uap.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

21

P. Perencanaan Sambungan Melingkar Prosedur berikut diadopsi untuk desain sambungan berimpit melintang pada sebuah ketel uap. 1. Ketebalan kerangka dan diameter keling Ketebalan kerangka ketel uap dan diameter keling akan menjadi sama sebagaimana pada paku berkesinambungan. 2. Jumlah keling

Dikarenakan keling ini merupakan sambungan berimpit, oleh karena itu, keling-keling akan berada di dalam guntingan tunggal. Ketahanan guntingan keling, Ps = n x
π
4

d2 fs

Seperti diketahui, diameter dalam boiler (D) dan tekanan uap (P), total beban geser yang Ws =
π
4

d2 p

Persamaan (i) dan (ii), kita dapat n x
π
4

d2 fs =
2

π
4

d2 p

n = 

p D  × fs d 

3. Jarak puncak paku Jika efisiensi sambungan memanjang diketahui, maka efisiensi ambungan melingkar dapat ditentukan. Nilainya biasanya 50% dari efisiensi ketahanan sambunganterhadap sobekan pelat sambungan memanjang. tetapi jika lebih dari satu sambungan melingkar yang digunakan, maka nilainya 62% untuk sambungan antara. Seperti diketahui efisiensi sambungan berimpit-melingkar (η), jarak puncak paku untuk sambungan berimpit diperoleh dari persamaan :

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

22

 p− d  η=   p   
4. Jumlah baris Jumlah paku dalam satu baris untuk sambungan melingkar diperoleh dari hubungan : Jumlah paku pada satu baris N=
π( D +t )
p

5. Setelah diperoleh jumlah baris, jenis sambungan (baris tunggal atau baris ganda) dapat ditentukan. Kemudian jumlah paku dalam satu baris dan jarak puncak dapat disesuaikan. 6. Jarak antara baris paku dihitung menggunakan persamaan yang telah diuraikan pada bagian terdahulu. 7. Setelah mengetahui jarak antara garis paku (Pb), kelengkapan pelat dapat diperbaiki dengan menggunakan hubungan, Kelengkapan = (No. Baris Paku – I) Pb + m, dimana m = Margin

Gambar 1.18 Ada beberapa cara menghubungkan bujur keling dan keliling keling. Salah satu metode untuk menghubungkan keling-keling bujur dan keliling dapat dilihat pada gambar 1-18

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

23

Q. Sambungan yang di rekomendsasikan untuk bejana tekan Dapat dilihat dari table sambungan yang di rekomendasikan untuk bejana tekan. Tabel 1.6 Diameter of shell (metres) 0.6 to 1.8 0.9 to 2.1 1.5 to 2.7 Thickness of shell (mm) 6 to 13 13 to 25 19 to 40 Type of joint Kampuh ganda Kampuh tiga ganda Kampuh berlipat empat

Contoh 1.3 Sebuah paku keling ganda sambungan berimpit dengan pengelingan berliku di rancang ketebalan pelat untuk 13 mm Diketahui ft = 800 kg/cm2 fs = 600 kg/cm2 fc = 1,200 kg/cm2 Bagaimana keadaan sambungan akan rusak dan temukan efisiensi dari sambungan tersebut. Diketahui: Ketebalan pelat t = 13 mm Tegangan tarik yang di ijinkan untuk pelat ft = 800 kg/cm2 Tegangan gunting yang diijnkan untuk paku keeling fs = 600 kg/cm2 Tegangan hancur yang diijinkan untuk paku keeling adalah fc = 1,200 kg/cm2 Garis tengah paku keeling Ketika ketebalan pelat lebih besar 8 mm, oleh karena itu lubang garis tengah paku keeling,
d = 6 t = 6 13

= 21.6 mm

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

24

Mengacu pada Standar Internasional : 1928-1961(table 1.3). standar lubang paku keeling dalah 23 mm dan diameter yang sesuai untuk paku kelling adalah 22 mm. Puncak paku keling Misalkan p = puncak dari paku keling Kita ketahui daya robek dari plate, Pt = (p-d) t.ft ……….(i) dan daya robek paku keling adalah
Ps = 2 x

π
4

d 3 f s …………….(ii)

Persamaan (i) dan (ii), kida dapatkan (p-d) t.ft = 2 x
π
4 d 3 fs

(p – 2,3)1,3 x 800 = 2 x Atau p -2,3 =4,8

π
4

x 2,32 x 600

P =4,8 + 2,3 = 7,1 cm Pucak maksimal adalah diberikan oleh Pmak = C x t + 4,128 cm Dari table 1.5, kita menemukan bahwa untuk 2 paku keling panjang puncak , C = 2,62 Pmak = 2,62 x 1.3 + 4,128 = 7,528 atau 7,6 cm Jika pmak melibihi p, oleh karena itu kita sebaiknya mengambil p = 7,1 cm sekarang mari kita temukan daya robek pada pelat, dan daya hancur dari paku keling tersebut. Kita ketahui bahwa daya robek pada pelat. Pt = (p-d) t.ft = ( 7,1 – 2,3 ) x 1,3 x 800 = 4,992 kg

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

25

Daya gunting dari paku keling
Ps = 2 x

π
4

d 3 fs

= 2x

π
4

x 2,32 x 600 = 4,986 kg

Daya hancur pada paku keling Pc = 2.d.t.fc = 2 x 2,3 x 1,3 x 1,200 = 7,176 kg sebenarnya Pt, Ps dan Pc adalah Pz = 4,986 kg. sebab sambungan akan rusak karena sobekan untuk paku keling. Efisiensi sambungan Misalkan

η = Efficiency sambungan

Kita ketahui bahwa kekuatan dari tanpa pengelingan plate P = p.t.ft = 7.1 x 1.3 x 800 = 7,384 kg

η=

sebenarnya Pt , Ps & Pc p.t. ft

= 7,384 = 0,675 atau 67,5 % Contoh 1.4 Di rancang pengelingan ganda kampuh las dengan dua lapis pelat untuk kampuh memanjang pada dinding ketel 150 cm pada diameter mendapat perlakuan tekanan panas sebesar 9,15 kg/cm2 diketahui efisiensi sambungan sampai 75%, tegangan rentang yang di perbolehkan pada pelat 845 kg/cm2 , tekanan kompresi 1,410 kg/cm2 , dan tegangan sesar pada paku keling 560 kg/cm2 Diketahui: Diameter pada dinding ketel D = 150 cm Tekanan panas P = 9,15 560 kg/cm2

4,986

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

26

Efisiensi sambungan memanjang

η= 75 % = 0,75
tegangan rentang yang di perbolehkan pada pelat ft = 845 kg/cm2 tekanan kompresi pada paku keling fc = 1,410 kg/cm2 tegangan sesar pada paku keling fs =560 kg/cm2 Jawab: 1. Tebal dinding boiler misalkan t = ketebalan pada dinding ketel gunakan hubungan
t = P.D +0,1cm 2. ft . η

= 2 x845 x0,75 +0,1 = 1,18 atau 1,2 cm 2. diameter paku Ketika ketebalan pelat lebih besar 8 mm, oleh karena itu lubang garis tengah paku keeling,
d = 6 t = 6 12

9,15 ×150

= 20.76 mm Mengacu pada Standar Internasional : 1928-1961(table 1.3). standar lubang paku keeling dalah 21 mm dan diameter yang sesuai untuk paku kelling adalah 20 mm. 3. Jarak Puncak paku keling Jarak puncak paku di peroleh melalui persaman ketahanan pelat terhadap sobekan dan ketahanan geser paku. Kita ketahui bahwa ketahan pelat terhadap sobekan. Ketika sambungan adalah ganda maka sambungan bilah ganda, oleh karena itu paku akan menjadi sobekan ganda. Diketahui bahwa waktu ketahanan sobekan ganda paku adalah 1,875 dari pada sobekan tunggal, kita mempunyai

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

27

Ketahanan geser paku, Ps = 1,875 x = 1,875 x

π
4

d2 fs x 2

π
4

x 2.1 x 560 x 2

= 7,273 kg Persamaan (i) dan (ii) kita dapat 1,014 (p-2,1) = 7,273 p-2,1 = 7,273 =7,17 1,014 P = 7,17 + 2,1 = 9,27 cm Memgacu pada I.B.R jarak puncak maksimal pada pku untuk sambungan memanjang pad boiler di nerikan oleh Pmak = C x t + 4,128 cm Dari table 1.5, nilai C untuk sambungan bilah ganda paku ganda adalah 3,50. Pmak = 3,5 x t + 4,128 cm = 8.3 cm Jika nilai p lebih besar pmak , oleh karena itu kita pergunakan jaraj puncak paku, p = pmak = 8,3 cm yang dipergukanan 4. Jarak baris paku Diketahui pengelingan zig-zag, jarak antara baris paku ( berdasarkan I.B.R) Pb = 0.33p +0.67d = 0.33 x 8,3 + 0.67 x 2.1 = 4,146 atau 4,2 cm 5. Tebal Bilah Berdassarkan I.B.R , ketebalan bilah dari persamaan lebah adalah t1 = 0.625 t

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

28

= 0.625 x 1,2 = 0.75 cm 6. Margin Margin m = 1,5 d = 1.5 x 2.1 = 3.15 atau 3.2 cm Sekarang mari kita temukan efisiensi untuk perencanaan sambungan. Ketahanan sobekan terhadap pelat, Pt = (p-d) t.ft = (8,3 -2,1) 1,2 x 845 = 6.180 kg Ketahanan geser paku Ps = 1.875 x = 1.875 x = 7.260 kg Ketahanan geser paku Pc = d x t x fc x 2 = 2,1 x 1,2 x 1,410 x 2 = 6,980 kg Jika ketahanan sambungan paku lebih kecil dari perhitungan Pt, Ps atau Pc maka , Ketahanan sambungan paku Pt = 6,180 kg P = p x t x ft = 8,3 x 1,2 x 845 = 8,270 kg Efisiensi perencanaan sambungan
π
4

d2 fs x 2

π
4

x 2,1 x 560 x 2

η = Pt
P = 6,180 = 0.748 atau 74.8 % 8,270 Jika efisiensi dari rancangan sambungan adalah hamper sama yang di berikan efisiensi 75%, maka perangan ini memuaskan.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

29

Contoh 1.5 Sebuah bejana tekan memiliki diameter dalam 100 cm dan mendapatkan perlawanan dari dalam dengan tekanan 27,5 kg /cm 2 tekanan tersebut dalah tekanan udara. Pertimbangan diketahui 880 kg/cm2. Dirancang sebuah bilah ganda kampuh las memanjang dengan pengikat yang sama untuk bejana ini. Jarak puncak paku di luar garis menjadi du kali jarak puncak di dalam, dan dengan pengelingan zig-zag dalah yang disarankan. Tegangan gesre maksimal yang diperbolehkan untk pengelingan ini adalah 640 kg/cm2. kamu munking dapat mengetahui bahwa pengelingan shear ganda adalah 1,8 lebih kuat dari pada single shear dan penyambungan tidal rusak olehh patahan. Buat ketsa dari sambungan yang terl;ihat dihitung semua nilainya. Hitung efisiensi semuanya. Diketahui: Diameter pada dinding ketel D = 100 cm Tekanan Dalam P = 27.5 kg/cm2 Efisiensi sambungan efisiensi sambungan pengelinagn selinder yang tipis dan menjadi 79%, dengan

perhitungan ketebalan pelat. jika tegangan tarik bahan tidak boleh melibihi

η= 79 % = 0,79
tegangan tarik yang di perbolehkan pada pelat ft = 880 kg/cm2 tekanan sobekan yang diperbolehkan fs = 640 kg/cm2 Jawab: 1. tebal pelat Misalkan Gunakan hubungan T= P.D + 0.1 cm t = tebal plate

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

30

2ft . η = 27.5 x 100 2 x 880 x 0.79 = 2.07 atau 2,1 cm 2. Diameter paku Jika tebal palte lebih besar dari 8mm maka diameter lubang paku, D=6
t = 6 2 = 2 ,4 m 1 7 m

+ 0.1

Mengacu pada Standar Internasional : 1928-1961(table 1.3). standar ukuran untuk lubang paku keling adalah 28.5 mm dan diameter yang sesuai untuk paku kelling adalah 27 mm. 3. jarak puncak paku missal p = jarak puncak di luar garis jarak puncak paku adalah di peroleh dengan persamaan kekuatan sobekan terhadap pelat untuk ketahan sobekan terhadap paku. Kita ketahui bahwa ketahanan sobekan terhadap pelat per pajang. Pt = (p-d) t.ft = (p – 2,85)2,1 x 880 = 1,848 (p -2,85) kg Jika jarak puncak diluar garis adalah dua kali jarak puncak di dalam garis dan sambungan adalah pengelingan ganda, maka untuk satu jarak panjang akan menjadi tiga pengelingan pada bilah ganda. ( n =3 ) hal ini diberikan untuk kekuatan pada paku dalam bilah ganda adalah 1,8 lebih lama dari bilah tuinggal, maka Tekanan geser terhadap pelat Ps = 1,8 x = 1.8 x
π
4

d2 fs x n

π
4

2.852 x 640 x 3 = 21,980 kg

Persamaan Pt = Ps,

kita memiliki

1.848 (p-2,85) = 21,980 (p-2,85) = 21,980 = 11,9 1.848

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

31

P = 11,9 + 2,85 = 14,75 atau 14,8 cm Berdasarkan I.B.R, jarak puncak max . Pmak = C x t + 4,128 cm Dari Gambar 1.5, jumlah C untuk 3 keling per lebar jarak dan ikatan ganda adalah 4.63. Pmax = 4.63 X 2.1 + 4.128 = 13.85 atau 14 cm Jumlah Pmax lebih kecil dari p, oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa p = Pmax = 14 cm Jarak garis terdalam = 14/2 = 7 cm. 4. Mengatur jarak garis keling Pb = 0.2 p + 1.15 d = 0.2 x 14 + 1.15 x 2.85 = 6.07 atau 6.1 cm 5. Ketebalan las

t1 = 0.625 t

 p− d     p − 2d   1 4− 2.8 5     1 4− 2 x2.8 5 

= 0.625 x 2.1

= 1.76 atau 1.8 cm 6. Margin M = 1.5 d = 1.5 x 2.85 = 4,275 atau 4,3 cm Efisiensi Pt = (p-d) t.ft = (14 – 2,85)2,1 x 880 = 20,050 kg

Tekanan geser terhadap pelat

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

32

Ps = 3 x 1,8 x = 3 x 1.8 x

π
4

d2 fs x n 2.852 x 640 = 22,050 kg

π
4

Kekuatan keras pelat = p x t x ft = 14 x 2.1 x 880 = 25,872 kg Efisiensi =
20 .605 = 0.796 atau 79.6 % 25 .875

Contoh 1.6. (S.I. Units) Buatlah keling membujur rangkap tiga dengan ketidaksamaan pengikat bejana.Diameter dalam rangkaian terpanjang 1 – 3 meter. Paku di desain dengan tekanan uap 2-4 N/mm2. Diketahui: Tekanan uap, P = 2.4 N/mm2 Diameter dalam teromol, D = 1.3 m = 1300 mm Tekanan rentang yang digunakan, Ft = 77 N/mm2 Tekanan pemecah yang digunakan, Fs= 62 N/mm2 Tekanan gunting yang digunakan, Fc= 120 N/mm2 Efisiensi untuk paku membujur,

η = 81 % = 0.81
Jawab: 1. tebal plat T = tebal pelat Gunakan persamaan
t = P D +1 2 ft η

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

33

T= 2. Diameter paku D=6

2.4 x1300 = 26 mm 2 x 77 x 0.81

t = 6 26 =30 .6m m

Untuk lubang dengan diameter 31.5 mm maka diameter paku adalah 30 mm 3. Ketebalan Las Diketahui untuk lebar yang tidak sama, ketebalannya adalah t1 =0,75t = 0,75 x 26 = 19.5 mm t2 = 0.625 t = 0.625 x 26 = 16,25 atau 16,5 4. margin M = 1,5 d = 1,5 x 31,5 = 47.25 atau 47.5 mm Pt = (p-d) t ft = (200-31,5) 26 x 77 = 337000 N Ps = 4 x1,875 x = 8,5 x = 8.5 x
π
4
4

π
4

d2 fs +

π
4

d2 f

d2 f

π

x 31,52 x 62 = 410250 N

Pc = d .t . fc. N = 31,5 x 26 x 120 x 5 = 491400 ( n=5) Gabungan tegangang geser dan sobekan = (p-2d) t ft +
π
4

d2 f
π
4

= (200 -2 x31.5 ) 26 x 77 + = 322 600 N P = p . t. Ft

x 31,52 x62

= 200 x 26 x 77 = 400 400 N Efisiensi

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

34

η = 322600 = 0.806 atau 80.6 %
400400

Contoh 1.7. Sebuah keling kampuh las rangkap tiga dengan ulir ganda digunakan uantuk paku pemanas uap Lancashire. Tekanan uap nya adalah 11.2 kg/cm2 serta efisiensinya 85 persen. Hitunglah ketebalan pelat untuk baja tipis 4,600 kg/cm2. Diketahui: D = 2,5 m = 250 cm P = 11,2 kg/cm2

η = 85% =0.85
Tekanan Regangan terakhir = 4600 kg/cm2 Faktor keamanan =4 Ft = 4600 = 1,150 kg/cm2 4 Ft = 7 Fs
fs =

6

6 ft 7 6 = x1150 = 985 ,7 kg/cm2 7

Desain paku membujur 1. Ketebalan Rangka Ketel Uap

T = tebal pelat Gunakan persamaan t = 2 ft η + 0.1cm
PD

T=

11 .2 x 250 + 0.1 = 1.53 mm 2 x1150 x0.85

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

35

2.

Diameter Keling

Dikarenakan ketebalan pelat lebih dari 8 mm, oleh karena itu diamter lubang keling menjadi, D=6
t = 6 16 = 24 m m

Untuk lubang dengan diameter 31.5 mm maka Mengacu kepada IS: 1928 – 1961 (Gambar 1.3), ukuran lubang keling standar adalah 25 mm dan diameter keling yang sesuai adalah 24 mm. 3. Jarak Keling

P = jarak keliling Pt = (p – d)t.ft
….(i)

Ps = 3 x 1.875 π d2 ft ....(ii) 4 (i) dan (ii)
( p − d )t. f t = 3 ×1.875 ×

π
4

d2 ×

( p − 2.5) ×1.6 = 3 ×1.875 ×

π
4

6 ft 7 6 7

× 2 .5 2 ×

p − 2.5 =14 .8 p =14 .8 + 2.5 =17 .3 cm Ans

4.

Pengaturan Jarak antara garis dan keling

Mengacu kepada I.B.R., Jarak antara garis keling, = 0.33 + 0.67 d (untuk keling ulir zig-zag) = 0.33 X 17.3 + 0.67 X 2.5 = 7.4 cm 5. Ketebalan las

Ketebalan las, Ti = t2 = 0.625 t = 0. 625 X 1.6 = 1 cm. 6. Margin (Pinggiran)

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

36

Margin

m = 1.5 d = 1.5 x 2.5 = 3.75 atau 3.8 cm

Mari kita cek tingkat efisiensinya. Ketahanan sobek pelat, Pt = (p-d)t. Ft = (17.3 – 2.5) x 1.6 x 1.150 = 27,200 kg Ketahanan guntingan, = p x t x ft = 17.3 x 1.6 x 1,150 = 31,800 kg Efisiensi sambungan
η=
27 ,200 = 0.855 31,800 or 85 .5%

Dikarenakan tingkat efisiensi yang dibuat melebihi efisiensi yang dimaksud, oleh karena itu desainnya memuaskan.

Desain paku keliling 1. ketebalan selubung ketel dan diameter keling akan menjadi sama untuk paku membujur, sebagai contoh t = 1.6 cm, dan d= 2.5 cm 2. Nomor keling Semisal n = nomor keling Kita tahu bahwa ketahanan gunting keling = n.
π
4 d 2 fs

.....(i)

Dan total guntingan pada keliling paku,

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

37

=

π
4

D2P

.....(ii)

(i) dan (ii)
η. π
4 d 2 Fs =

π

4 D 2 .P η= 2 d . fs =

D2P

250 2 ×11 .2 = 113 .6 or 114 Ans 2.5 2 × 985 .7

3. Jarak Keling Kita anggap paku mempunyai keling ganda dengan ulir yang salingsilang, sehingga: =
114 = 57 2

Keliling keling adalah
p1 =

π( D + t )

angka ulir π ( 250 +1.6 ) = = 13 .86 or 14 Ans 57

4. Efisiensi paku keling
η=
= p1 − d p1 14 − 2.5 = 0.821 or 82 .1% Ans 14

5. Jarak antara garis dan keling = 0.33p1 + 0.67d = 0.33 x 14 + 0.67 x 2.5 = 6.3 cm Ans 6. Margin (Pembatas) m = 1.5d = 1.5 x 2.5 = 3.75 cm or 3.8 cm Ans

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

38

Paku keling dikenal dengan istilah paku Lozenge yang digunakan untuk atap, pekerjaan jembatan atau balok penopang dsb. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar 1 – 19. pada jenis ini, keling permata dibentuk untuk menambah ketahanan. Gambar 1.19 menunjukkan keling rangkap tiga dengan kampuh las ganda. Misal b = lebar pelat, T = ketebalan pelat D= diameter keling. Dalam membuat desain paku Lozenge prosedur tersebut diatas akan digunakan. 1. Diameter Keling Diameter lubang keling dihasilkan dari hubungan:
d =6 t

Mengacu kepada IS: 1929 – 1961, ukuran keling yang digunakan untuk tujuan umum dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel 1.7

2. Nomor Keling Nomor keling dipakai untuk paku yang dihasilkan oleh ketahanan guntingan atau cacahan keling.

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

39

Misal P= Tarikan paku maksimum. Hal ini merupakan ketahanan sobek pelat pada garis terluar yang hanya mempunyai satu keling. = (b-d) t.ft n= Nomor keling. Karna paku tersebut berbentuk kampuh lantak ganda, sehingga kelingkeling tersebut ada di dalam guntingan ganda. Terdapat asumsi bahwa ketahanan lubang keling dalam gunting ganda adalah 1.75 kali dibanding pada gunting tunggal.
p s = 1.75 ×

π
4

d 2 fs

Pc = d.t.fc Jumlah sambungan
n= P Ps or Pc

3. Dari nomor keling, nomor baris dan nomor keling pada setiap garis diputuskan. 4. Ketebalan Las Ketebalan Las, T1= 1.25t, untuk tutup pengikat tunggal = 0.75t, untuk tutup pengikat ganda 5. Efisiensi Paku Pertama-tama kita hitung terlebih dulu ketahanan pada tahap 1-1, 2-2, dan 3-3. Pada tahap 1-1, hanya terdapat satu lubang keling. Ketahanan paku terhadap sobekan pada tahap ini, Pt1= (b-d) t.ft Pada tahap 2-2, terdapat dua lubang keling. Ketahanan paku terhadap sobekan pada tahap ini, Pt2= (b-2d) t.ft + Ketahanan satu keling di depan. (Hal ini terjadi karena untuk menyobekkan pelat pada tahap 2-2, keling di depan pada tahap 1-1 harus di retakan terlebih dahulu)

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

40

Persamaan pada tahap (3-3) yakni terdapatnya tiga lubang keling. Ketahanan paku terhadap sobekan pada tahap ini, Pt3 = (b-3d)t.ft + ketahanan 3 keling di depan. Selisih nilai pt1,pt2,pt3 merupakan ketahanan paku. Kita tahu bahwa, ketahanan pelat tak berkeling adalah, P= b X t X ft Efisiensi paku = Cat : Tegangan dalam piringan Rivet shear Single shear Double shear 1,400 kg/cm2 1,050 kg/cm2 2,240 kg/cm2 2,800 kg/cm2
Pt1 , Pt 2 , Pt 3 , Ps or P Pc

6. Jarak paku dihasilkan dari persamaan antara ketahanan paku dengan ketahanan keling terhadap sobekan. Jarak yang dihasilkan lebih besar dari pada tekanan bejana. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Table 1.8 Ketebalan piring 2 3 4 5–6 6–8 8 – 12 11 – 15 Diameter lubang keling 8.4 9.5 11 13 15 17 21 Diameter keling 8 9 10 12 14 16 20 Pitch keling 29 32 35 38 47 56 65 Margin keling 16 17 17 18 21 25 30

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

41

7. Jarak tepian tidak boleh kurang dari 1-5d 8. Jarak antara garis dan keling berkisar antara 2-5d sampai 3d. Contoh 8. sebuah tie bar sebuah jembatan terdiri dari flat dengan lebar 35 cm dan tebal 2 cm. Ini dihubungkan pada sebuah pelat pengikat dengan ketebalan yang sama dengan sebuuuah sambungan bilah ganda. Rancang sebuah sambungan yang ekonmis jika tegangan yang diijinkan Ft = 900 kg/cm2 Fs = 600 kg/cm2 Fc = 1,500 kg/cm2 Ketebalan piring t = 2 cm = 20 mm tegangan yang diijinkan ft = 900 kg/cm2 tegangan tubruk yang diijinkan fe = 1,500 kg/cm2 1. Diameter keling Diketahui d = diameter lubang keling Menggunakan hubungan
d =6 t =6 2 = 2 .8 m 0 6 m

Mengacu pada IS : 1929 – 1961 (tabel 1-7), ukuran standar untuk lubang keling adalah 21.5 mm serta diameter yang sesuai adalah 20 mm. 2. jumlah keling Misal n = nomor keling Kita mengetahui bahwa tarikan maksimum pada paku, Pt1 = (b-d)t.ft = (200 – 21.5) X 12.5 X 105 = 234 280 N

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

42

Dikarenakan paku tersebut merupakan kampuh lantak ganda, sehingga keling-kelingnya berada di dalam sobekan ganda.
p s = 1.75 × = 1.75 ×

π π
4 4

d 2 ft × 21 .5 2 × 70 = 44 474 N

Resistan kerusakan satu keling
p c = d .t. f c = 21 .5 ×12 .5 ×180 = 48 375

Jumlah keling
n= = P Ps 235 280 = 5.26 or 6 Ans 44 474

Dikarenakan ketahanan sobekannya lebih kecil dari ketahanan hancurnya, oleh karena itu jumlah keling yang dibutuhkan untuk paku adalah, 3. Susunan keling-keling dapat dilihat pada gambar 1.21.

Gambar 1.21 4. Ketebalan tali penumpu Ketebalan tali penumpu, T1 = 0.75 t = 0.75 X 12.5 = 8.375 atau 8.4 mm. 5. Efisiensi paku Pertama-tama, kita cari terlebih dahulu ketahanan antara tahap 1-1, 22, 3-3. pada tahap 1-1, hanya terdapat satu lubang keling. Pt1 = (b – d) t.f1

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

43

= (200 – 21.5) x 12.5 x 105 = 234 200 N Pada tahap 2-2, terdapat dua lubang keling. Pada kasus ini, sobekan pada pelat terjadi hanya jika keling pada tahap 1-1 dilepaskan. Pt2 = (b – 2d)t.ft + pembagian kekuatan satu keling = (200 – 2 x 21.5) x 12.5 x 105 + 44 474 = 206 062 + 44 474 = 250 536 N Pada tahap 3-3, terdapat tiga lubang keling. Sobekan pada pelat hanya akan terjadi apabila keling pada tahap 1-1 dan dua keling pada tahap 2-2 dilepaskan. Pt3 = (b – 3d)t.ft + pembagian kekuatan dari tiga keling di depan = (200 – 3 x 21.5) 12.5 x 105 + 3 X 44 474 = 177 854 + 133 422 = 311 264 N Kekuatan sambungan antara Pt1,Pt2,Pt3 Kekuatan sambungan = 234 280 N sepanjang daerah 1 – 1 Kita tahu kekuatan piringan keling P = b.t.ft = 200 x 12.5 x 105 = 262 500 N Efisensi sambungan
kekuatan sambungan kekuatan setiap sambungan keling 234 280 η= = 0.892 or 89 .2% Ans 262 500

η=

R. Beban eksentris sambungan paku Keling Beban eksentris sambungan paku keling dapat dilihat pada gambar 1.22. pada paku ini, garis aksi tidak menyentuh sistem keling dan semua

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

44

keling daya masuknya tidak sama. Hal ini disebabkan adanya tendensi kekuatan yang berputar ditambah daya gravitasi.

Gambar 1.22

Gambar 1.23 Prosedur tersebut diadopsi dari beban eksentris desain paku keling. (1) Pertama-tama, kita harus mencari pusat gravitasi ‘G’ pada sistem keling terlebih dahulu. Misal A = Area silang dari masing-masing keling, X1, X2, X3 dst = keling dari OY, Y1,Y2,Y3 dst = keling dari OX, Kita tahu bahwa,
z= = A1 x1 + A2 x 2 + A3 x3 + .... A1 + A2 + A3 + .....

A1 x1 + A2 x 2 + A3 x3 + .... nA x + x 2 + x3 + .... = 1 n − y + y 2 + y 3 + .... y= 1 n

(2) Masukkan dua kekuatan p1 dan p2 pada pusat gravitasi ‘G’ di sistem keling. Kekuatan-kekuatan ini sama dan bertolak-belakang terhadap P sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 1.23 (a).

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

45

(3) Asumsikan bahwa semua keling mempunyai ukuran yang sama, efek P1 = P terbentuk untuk menghasilkan guntingan langsung terhadap masing-masing keling yang sama besar. Oleh karena itu, guntingan langsung terhadap masing-masing keling adalah sebagai berikut,
Ps = P n

(4) Efek dari P2 = P dihasilkan untuk membentuk perputaran besar P X e yang berindikasi untuk memutar paku di tengah pusat gravitasi ‘G’ pada sistem keling yang searah jarum jam. Sehingga sobekan keling sekunder akan dihasilkan. Untuk mengetahui sobekan sekunder, asumsi berikut dibuat: a. b. Dimana ; F1, F2, F3....= l1,l2,l3....= di asumsi kan (α) F1 α l1, F2 α l2, F3 α l3....
F F1 F = 2 = 3 = ..... l1 l2 l3

Sobekan

sekunder

sudah

proporsional

terhadap

pusat

gravitasi. Arah sobekan sekunder tegak lurus terhadap garis pusat keling di sistem pusat gravitasi.

F2 = F1 . F3 = F1

l2 l1

l3 l1

Kita tahu bahwa jumlah dari perputara eksternal dan internal harus sama dengan nol.
P.e = F1l1 + F2 l 2 + F3l 3 + .... = F1l1 + F1 × = l l2 .l 2 + F1 × 3 .l 3 + ..... l1 l1

F1 2 2 3 l1 + l 2 + l 2 + .... l1

[

]

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

46

Dari ekspresi diatas, nilai F1 dapat dihitung sehingga F2 dan F3 dapat diketahui. Arah dari kekuatan-kekuatan ini sudah pada sudut yang benar yakni pada garis pusat penghubung keling kepada pusat gravitasi di sistem keling, sebagaimana yang ditunjukkan oleh gambar 1.23 (a). (5) Sobekan primer akan terjadi secara garis vektor pada hasil R di setiap keling, sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 1.23 (b). Hal ini juga dapat diraih dengan menggunakan hubungan:
R= F 2 + Ps2 + 2 F .P cos θ

Dimana

θ = sudut antara

Keling yang berat akan menjadi satu ketika sudut keling langsung dan keling sekunder pada posisi minimum. Keling pada posisi maksimum akan menjadi kritis untuk mengurangi kekuatan keling paku. Contoh 1.10

Gambar 1.24 Ketebalan 25 mm. Semua keling ukuran sama, beban braket, P = 5,000 kg; luas keling, C = 10 cm, beban lengan, e = 40 cm. Tegangan yang diijinkan 650 kg/cm2 dan tegangan tubruk 1,200 kg/cm2. hitung ukuran keling yang d gunakan untuk sambungan. Jawaban Ketebalan (t) = 25 mm Beban (P) = 5,000 kg Beban lengan (e) = 40 cm Jumlah keling rs = 7 Tegangan yang diijinkan

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

47

fs = 650 kg/cm2 Tegangan tubruk yang dijinkan fe = 1,200 kg/cm2

Gambar 1.25 Mari kita lihat pusat gravitasi pada sistem keling Diketahui : Z = pusat gravitasi dari OY Y = pusat gravitasi dari OX X1, X2, X3 dst = keling dari OY, Y1,Y2,Y3 dst = keling dari OX,
x1 + x 2 + x 3 + x 4 + x 5 + x 6 + x 7 n 10 + 20 + 20 + 20 = = 10cm 7 z=

y1 + y 2 + y 3 + y 4 + y 5 + y 6 + y 7 n 20 + 20 + 20 + 10 + 0 + 0 = = 11 .43cm 7 y=

Gravitasi ”G” keling 10 cm dari OY dan 11.43 dari 11.43 dari OX Kita tahu bahwa beban setiap keling Ps =
P 5,000 = = 714 .3kg n 7

Ps = p x e = 5,000 x 40 = 2,00,000 kg-cm Diketahui F1, F2, F3, F4, F5, F6, F7 Sekarang

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

48
2

l1 = l s = 10 3 + ( 20 −11 .43 ) l 2 = 20 −11 .43 = 8.57 cm l 4 = l 7 = 10 3 + (11 .43 −10 )

= 173 .5 = 13 .17 cm = 102 .05 = 10 cm

2

l5 = l 6 = 10 3 +11 .43 2 = 231 = 15 .2cm

Kita tahu bahwa
P ×e = = F1 2 2 2 2 2 2 2 l1 + l 2 + l3 + l 4 + l 5 + l 6 + l 7 l1

(

) )

F1 2 2 2 2l12 + l 2 + 2l 4 + 2l5 l1

(

)

F1 2 ×13 .17 2 + 8.57 2 + 2 ×10 .12 + 2 ×15 .2 2 13 .15 2,00 ,000 ×13 .15 = F1 ( 347 + 73 .5 + 204 .1 + 462 ) = F1 ×1,086 .6 2,00 ,000 = F1 = 2,00 ,000 ×13 .15 = 2,420 kg 1,086 .6

(

Kita tahu bahwa
F2 = F1 . F3 = F1 . F4 = F1 . F5 = F1 . F2 = F1 . F7 = F1 . l2 8.57 = 2,420 × = 1,575 kg l1 13 .17 l3 = F2 = 2,420 kg l1 l4 10 .1 = 2,420 × = 1,856 kg l1 13 .17 l5 8.57 = 2,420 × = 2,793 kg l1 13 .17 l6 = F5 = 2,793 kg l1 l7 = F4 = 1,856 kg l1

Gambar 1.26 Mari kita cari sudut antara dari gambar

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

49

cos θ =

10 10 = = 0.76 l3 13 .17 10 10 = = 0.99 l4 10 .1

cos θ1 =

Resultan Maksimum keling tiga sekarang
R3 = F32 + P32 + 2 F3 .P3 cos θ
2

= 2,420

+ 714 .3 3 + 2 ×2,420 ×714 .3 ×0.76

= 3,000 kg

Dan resultan beban maksimum keling 4
R4 = F42 + P32 + 2 F4 .P3 cos θ
2

= 1,856

+714 .3 3 + 2 ×1,856 ×714 .3 ×0.99

= 2,565 kg

Ukuran keling Diketahui d = diameter lobang keling
π
4 d 2 f 3 = R3 R3 × 4 3,000 × 4 = = 5.88 πf 3 π ×650 24 .2mm

d2 =

d = 5.88 = 2.42 cm or

Mengacu pada IS: 1929 -1961 (Tabel 1.7) ukuran lubang keling standar adalah 25.2 mm serta diameter keling yang sesuai adalah 24 mm.
Crushing stress = R max .load = 3 crushing area d .t 3,000 = = 500 kg / cm 2 2 .4 × 2 .5

Karena tekanan ini dibawah 1,200 kg/cm2 maka desain ini memuaskan.

Gambar 1.27

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

50

Solusi Diberikan nomor-nomor keling sebagai berikut: n=6 Masukan, Beban eksentris, Tekanan gunting maksimum P = 60 kN e = 200 mm fs = 150 N/mm2

Gambar 1.29 Dikarenakan keling-keling tersebut berukuran sama dan ditempatkan secara simetris, sehingga pusat gravitasi dari sistem keling terletak pada G sebagaimana ditunjukkan oleh gambar 1.28.
P3 = P 60 = = 10 kN n 6

Misal F1, F2, F3 F4, F5 dan F6 menjadi sobekan sekunder pada keling 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 pada jarak I1, I2, I3, I4, I5 dan I6 dari pusat gravitasi, G, di sistem keling. Maka menjadi:
l1 = l 3 = l 4 = l 6 = 75 2 + 50 2 = 90 .1mm l 3 = l 5 = 50 mm

Mengacu pada IS: 1929 – 1961 (Tabel 1.7) ukuran lubang keling standar adalah 19.5 mm dan diameter kelingnya adalah 18 mm.
P= = F1 2 2 2 2 2 2 l1 + l 2 + l3 + l 4 + l5 + l 6 l1

(

) )

F1 2 4l12 + 2l 2 l1

(

) (

60 × 200 =

F1 4 × 90 .12 + 2 × 50 2 = 416 F1 90 .1

Atau

Elemen Mesin

Sambungan Paku Keling

51

60 × 200 = 28 .9kN 416 l 28 .9 × 50 F2 = F1 2 = = 16 kN l1 90 .1 F1 =

Beban resultan maksimum keling satu
R1 = = F12 + P22 + 2 F1 .P2 cos θ

28 .9 2 +10 2 + 2 × 28 .9 ×10 ×0.555

= 35 .6kN = 35 .6 ×10 3 kN

Beban resultan maksimum keling dua R3 = F2 + P2 = 16 + 10 = 26 kN = 26 x 103 N Diameter keling Diketahui d = diameter lubang keling Berdasarkan beban maksimum keliung satu, yaitu
π
4 d 2 f s = R1 R1 × 4 35 .6 ×10 2 × 4 = = 303 π. f s π ×150

d2 =

d = 303 = 17 .4mm

Berdasarkan IS : 1929 – 1961 (tabel 1.7) standar ukuran lubang keling adalah 19.5 mm dan diameter keling adalah 18 mm Ans.

Elemen Mesin

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful