Anda di halaman 1dari 17

[TYPE THE COMPANY NAME]

Kode Etik dan Tanggung Jawab Hukum Auditor


Paper Audit Keuangan Sektor Komersial

Azhar Gunawan Ferry Dwi Wicaksono Kukuh Ari Pradana Reza Syam Pratama Wildan Syarif 3O Akuntansi Pemerintah

[19 Agustus 2011]

[Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document. Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document.]

Kode Etik Auditor


Pada dasarnya, audit memerlukan kepercayaan sebagai landasannya. Sebab laporan hasil auditing tidak akan dapat dimanfaatkan dengan maksimal bila laporan tersebut tidak dipercaya sebagai laporan yang akurat. Sementara, kepercayaan itu tidak muncul dengan sendirinya. Kepercayaan itu muncul jika pengguna laporan tersebut mengetahui betul tingkat reliabilitas laporan audit dan profesionalitas auditor. Di sinilah peran penting kode etik. Etika umumnya didefinisikan sebagai serangkaian prinsip atau nilai moral. Dengan adanya nilai individu yang dijunjung oleh tenaga profesional ini, diharapkan kerja yang berkaitan dengan masalah jasa seperti ini bisa dilaksanakan dengan standar yang tinggi. Standar yang tinggi ini akan menghasilkan kepercayaan yang kemudian, seperti disebut sebelumnya, meningkatkan nilai guna laporan audit dan profesi auditor itu sendiri. Namun, kenyataan yang ditemui di lapangan tak sesederhana teorinya. Ada kondisi di mana beberapa individu terlihat mengabaikan etika yang umum berlaku di masyarakat. Hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, karena seseorang tersebut enggan memperhatikan etika dan memilih mementingkan diri sendiri. Kedua, hal tersebut bisa saja terjadi karena standar etika seseorang berbeda dengan masyarakat umum Akan sangat sulit mengatasi tindakan tak etis yang disebabkan faktor pertama. Barangkali, pemecahannya adalah dengan menyusun sistem hukum yang lebih memberi efek jera bagi pelanggar hukum. Mengatasi tindakan tak etis yang disebabkan faktor kedua memang tak bisa disebut mudah. Namun ada beberapa hal yang bisa diambil untuk menjelaskannya. Kita menyebut pelanggaran etika karena faktor kedua ini dengan sebutan dilema etika. Dilema etika adalah situasi yang dihadapi oleh seseorang di mana ia harus mengambil keputusan tentang perilaku yang tepat. Contohnya bisa kita lihat pada kasus yang ditampilkan oleh Arens, Elder, dan Beasley dalam Auditing dan Jasa Assurance edisi ketiga belas. Bryan Longview dan Martha Mills suatu hari bekerja untuk KAP Barton & Barton di bawah supervisi Charles Dickerson. Pada saat pertemuan pertama, Dickerson meminta kedua auditor lainnya itu untuk tetap kerja lembur tanpa mencatatkan jam lembur mereka itu dalam laporan pada KAP tempat mereka bekerjapadahal KAP tersebut mewajibkan adanya pencatatan jam lembur. Dickerson berargumen bahwa jam lembur hanya akan membebani anggaran perusahaan dan membuat mereka tampak memboroskan uang perusahaan. Lain halnya bila pencatatan jam lembur

tak dilakukan. Selain pengeluaran perusahaan jadi lebih hemat, mereka juga akan mendapatkan pujian karena pekerjaannya selesai di bawah anggaran yang telah ditetapkan. Selain itu, kata Martha Mills, kita akan diberi evaluasi penugasan yang positif. Ditambah lagi, toh hal ini juga sudah lazim dilakukan oleh beberapa auditor senior lainnya. Lantas bagaimana kita memecahkan masalah untuk kasus di atas? Ada beberapa alternatif untuk merasionalisasi perilaku tak etis. Namun, rasionalisasi tersebut ternyata punya beberapa kelemahan. Alternatif pertama, argumen bahwa setiap orang melakukannya. Memang bila suatu hal telah diterima secara umum, secara otomatis ia akan sesuai dengan standar etika masyarakat. Masalahnya, tak semua yang diterima secara umum itu patut dilakukan. Contohnya, memalsukan SPT pajak, mencontek saat ujian, ataupun menjual produk cacat pada konsumen. Hal-hal ini adalah sesuatu yang sepertinya jamak ditemui, tetapi tidak bisa menjadi pembenaran atas sikap tak etis kita. Kedua, argumen bahwa jika sah menurut hukum, maka hal itu etis. Argumen ini juga sebenarnya masuk akal: bila tak ditemukan kesalahan menurut aturan yang berlaku, mengapa hal itu harus disebut sebagai sebuah kesalahan? Namun karena kita menyadari bahwa sangat jarang ada hukum yang dibuat dan diterapkan secara sempurna, hal ini tak bisa dijadikan landasan yang bersifat permanen. Artinya, tak semua hal bisa dinilai dengan argumen ini. Ketiga, ada argumen mengenai kemungkinan penemuan dan konsekuensinya. Alternatif ketiga ini bisa dijelaskan dengan ilustrasi berikut. PT X biasanya membayar tagihan listriknya secara tunai. Karena kelalaian bendahara pengeluaran kas, secara tak sengaja, jumlah uang yang dibayarkan terlalu besar; dan petugas penerima tagihan di PLN tersebut menyadari hal itu. Penjelasan dari rasionalisasi tindakan tak etis di sini adalah: tak perlu mengembalikan kelebihan uang itu jika bendahara PT X ternyata benar-benar tak menyadari kelalaian yang ia lakukan. Sebaliknya, bila bendahara itu menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari kelalaian tersebut, kelebihan pembayaran itu dikembalikan. Alternatif ketiga ini juga tak bisa dilepaskan dari masalah dilema etika. Memang benar bahwa bendahara itu tak sadar. Tapi bukankah kelebihan uang itu juga bukan hak milik petugas penerima tagihan? Kelemahan-kelemahan yang kita jumpai dalam alternatif untuk merasionalisasi perilaku tak etis itu membawa kita pada pendekatan lain yang mungkin bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah mengenai etika ini. Pendekatan-pendekatan itu antara lain:

mencari fakta yang relevan dan mengidentifikasi isu etika berdasarkan fakta tersebut menentukan siapa dan bagaimana orang atau kelompok terpengaruhi karena tindakan tak etis itu mengidentifikasi berbagai alternatif beserta konsekuensinya dalam usaha menyelesaikan masalah memutuskan tindakan yang tepat

Ilustrasi dari KAP Barton & Barton di atas juga bisa dinilai berdasarkan rasionalisasi dan pendekatan yang baru saja dibahas ini. Bila menyetujui argumen-argumen Charles Dickerson, Bryan dan Martha bisa saja merasionalisasi tindakannya dengan alasan setiap orang melakukannya atau bahwa tindakan itu kemungkinan penemuan dan konsekuensinya kecil. Namun, seperti yang telah diungkap sebelumnya, belum tentu nilai etika yang dianut banyak orang adalah nilai ideal yang layak diikuti. Belum tentu juga melakukan sebuah hal karena kemungkinan penemuan dan konsekuensinya kecil membuatnya menjadi baik untuk dilakukan. Maka kita coba untuk memahaminya dengan pendekatan yang ditulis dua paragraf sebelumnya. Singkatnya, kita akan dapat melihat siapa dan bagaimana pihak-pihak terkait akan terpengaruh oleh usulan Charles Dickerson bila hal itu memang akan dilakukan oleh tim audit tersebut. Kita juga akan dapat melihat alternatif yang bisa diambil beserta konsekuensinya. Dalam hal ini, pihak-pihak yang menerima dampak dari usulan Charles Dickerson adalah Bryan Longview dan Martha Mills sendiri, KAP Barton & Barton, serta tim auditor lain yang tidak sejalan dengan cara berpikir Dickerson. Bryan Longview dan Martha Mills barangkali akan terbiasa melanggar aturan. KAP Barton & Barton akan kesulitan menyusun anggaran belanja pegawai di masa mendatang, yang datanya didasarkan pada jumlah yang diperlukan untuk menggaji pegawai di tahun sebelumnya. Boleh jadi, anggaran yang akan ditetapkan malah lebih kecil karena usulan Dickerson tersebut. Pemotongan anggaran ini akan berakibat pada motivasi dan kinerja sebagian auditor atau karyawan yang lain. Maka menurut kami, hal yang tepat untuk dilakukan adalah tidak mengikuti usulan Charles Dickerson. Hal ini karena usulan itu ternyata memiliki dampak yang luas, dan dampak yang ditimbulkan pun memberikan pengaruh yang relatif buruk bagi pihak lain.

Namun perlu dicatat bahwa penilaian di paragraf sebelumnya merupakan penilaian pribadi kelompok kami. Kelompok lain bisa jadi akan mengusulkan standar etika yang berbeda dalam menyikapi hal ini. Nah, karena hal-hal ini sifatnya relatif, tergantung pada penilaian orang yang bersangkutan, akan selalu ada kemungkinan perbedaan pendapat mengenai standar etika. Ini juga mungkin tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan beberapa masalah yang terkait perbedaan standar etika. Maka, hal-hal yang bersifat relatif itu sulit untuk dijadikan pedoman perilaku yang harus dipatuhi oleh orang-orang dengan profesi tertentu; dalam hal ini, auditor. Karena adanya kelemahan dalam argumen-argumen tersebut, dan karena adanya perbedaan nilai etika yang dianut oleh masing-masing individu, perlu ada aturan yang bersifat mengikat mengenai etika yang dijadikan dasar oleh individu tersebut supaya mereka sampai pada standar profesional yang relatif sama. Nilai-nilai etika yang terkodifikasi menjadi peraturan perundang-undangan atau peraturan terkait lain itulah yang kemudian disebut kode etik. Di dunia audit, kode etik mengatur nilai-nilai dasar dan pedoman perilaku yang harus dipatuhi oleh seorang auditor. Dengan adanya kode etik ini, auditor diharapkan bekerja secara profesional dengan standar perilaku yang disepakati bersama sehingga mereka terjaga dari perilaku-perilaku tak layak yang mungkin dilakukannya. Akhirnya, pengguna laporan audit bisa mengetahui bagaimana standar perilaku auditor sehingga akan muncul kepercayaan dari sana. Sejauh ini, kami menemukan ada dua macam kode etik yang umum berlaku. Yang pertama adalah yang dirilis oleh AICPA. Dan yang kedua adalah yang dirilis oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara. Kode etik auditor ini, khususnya yang tertulis dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara No. PER/04/M.PAN/03/2008, diberlakukan bagi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan petugas yang diberi tugas oleh APIP untuk melaksanakan pengawasan. Sementara kode etik versi AICPA cakupannya lebih luas, yaitu untuk auditor dan penyedia jasa atestasi lainnya. Kode etik yang tertulis dalam Peraturan MenPAN ini terdiri dari dua bagian. Pertama, prinsip-prinsip perilaku auditor. Kedua, aturan perilaku yang menjelaskan lebih lanjut prinsip perilaku auditor. Di pihak AICPA, kode perilaku profesional itu terdiri dari prinsip, peraturan perilaku, interpretasi peraturan perilaku, dan kaidah etika. Prinsip Kode Etik APIP

Secara umum, prinsip-prinsip kode etik auditor yang berlaku di Indonesia adalah sebagai berikut: integritas, objektivitas, kerahasiaan, dan kompetensi. Sementara AICPA menyebutkan bahwa prinsip kode etik auditor itu adalah integritas, objektivitas, tanggung jawab, kepentingan publik, ruang lingkup, dan sifat jasa. Untuk menjelaskan poin-poin dalam prinsip kode etik auditor itu, ada beberapa aturan perilaku yang dapat dijelaskan melalui kode etik tersebut. Integritas Dalam hal integritas, auditor harus memiliki kepribadian berdasarkan kejujuran, keberanian, kebijaksanaan, dan tanggung jawab guna pengambilan keputusan yang andal. Objektivitas Dalam hal objektivitas, auditor harus menjunjung tinggi independensi profesional dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan memproses informasi audit. Auditor harus membuat penilaian secara seimbang dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi maupun orang lain. Kerahasiaan Dalam hal kerahasiaan, auditor tidak diperkenankan menyebarluaskan informasi audit yang ia miliki tanpa otorisasi memadai, kecuali diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan. Kompetensi Dalam hal kompetensi, auditor diwajibkan memiliki pengetahuan memadai yang diperlukan untuk melaksanakan tugas. Aturan Perilaku APIP Prinsip-prinsip tersebut kemudian dapat diterjemahkan menjadi aturan perilaku yang juga tercantum dalam bagian kedua dari Peraturan Menteri PAN tersebut. Poin-poinnya adalah sebagai berikut. Integritas melaksanakan tugas secara jujur, teliti, bertanggung jawab, dan bersungguh-sungguh menunjukkan kesetiaan dalam hal yang berkaitan dengan profesi saat menjalankan tugas

mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan dan mengungkapkan hal-hal yang ditentukan oleh peraturan tersebut menjaga citra dan mendukung visi dan misi organisasi tidak menjadi bagian dari kegiatan ilegal saling mengingatkan dan mengoreksi perilaku sesama auditor.

Objektivitas mengungkapkan semua fakta material dengan jujur tidak berpartisipasi dalam hubungan maupun kegiatan yang mungkin dapat mengurangi tingkat independensi penilaian audit menolak pemberian dari auditee yang terkait dengan keputusan maupun pertimbangan profesional

Kerahasiaan menggunakan dan menjaga informasi secara hati-hati tidak menggunakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan pribadi atau golongan dengan cara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan

Kompetensi melaksanakan tugas pengawasan sesuai dengan standar audit terus meningkatkan keahlian profesi, efektivitas, dan kualitas hasil kerja

Pelanggaran atas kode etik dan aturan perilaku ini bisa menyebabkan jatuhnya sanksi berupa: teguran tertulis usulan pemberhentian dari tim audit tidak diberi penugasan audit selama jangka waktu tertentu

Kode Etik AICPA Ada sedikit hal yang berbeda bila kita membandingkan dengan kode etik auditor yang dirilis oleh AICPA. Namun, secara umum, poin-poin yang hendak disampaikan adalah sama, meski perbedaan beberapa poin dalam prinsip ini juga akan mengakibatkan perbedaan pada aturan yang

berlandaskan pada prinsip-prinsip tersebut. Berikut ini adalah beberapa poin tambahan yang mengandung informasi tambahan bagi kita dalam memahami prinsip kode etik auditor Independensi Salah satu hal terpenting yang harus dimiliki auditor adalah independensi. Sebab dari sinilah kepercayaan publik terhadap hasil audit muncul. Bila auditor sudah memiliki hubungan khusus yang diduga bisa mempengaruhi penilaiannya terhadap laporan audit, maka risiko informasi juga akan membesar. Akibatnya, masyarakat akan memilih untuk tidak mempercayai laporan audit tersebut. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mempertahankan independensi. Pertama, menjaga hubungan personalia antara klien dengan partner. Untuk menjaga independensi, auditor tidak diperbolehkan memiliki jabatan tertentu di organisasi bisnis klien dan telah berpartisipasi dalam setiap kapasitas audit selama satu tahun sebelum dimulainya audit. Hal yang sama berlaku bila partner pernah memiliki kepentingan keuangan yang berkelanjutan dalam organisasi klien, contohnya kepemilikan modal. Hal lain yang bisa dilakukan adalah rotasi partner. Dengan adanya rotasi ini, seorang auditor tidak dapat mengaudit perusahaan yang sama selama lima tahun. Artinya, setelah mengaudit perusahaan A di tahun 2010, ia baru boleh mengaudit perusahaan itu lagi di tahun 2015. Cara ketiga untuk mempertahankan independensi adalah mencegah terjadinya opinion shopping. Opinion shopping adalah transaksi jasa berupa saran-saran dari auditor terkait dengan masalah audit. Bila praktik ini dilakukan, bisa jadi auditor memberikan saran-saran yang mempengaruhi hasil audit nantinya. Aturan Perilaku AICPA Independensi Kode Etik AICPA melarang auditor untuk memiliki saham atau investasi langsung lainnya dalam klien audit. Hal ini perlu dilakukan karena keterkaitan auditor dengan kepemilikan saham atau investasi langsung pada klien jelas akan berpengaruh pada persepsi pengguna laporan keuangan. Investasi tidak langsung, contohnya kepemilikan saham dalam perusahaan klien oleh kerabat auditor, juga dilarang selama jumlahnya material.

Larangan juga berlaku bagi mantan partner akuntan publik yang memiliki saham atau peranan dalam manajemen perusahaan klien. Independensi dianggap terganggu bila mantan partner ini masih melakukan aktivitas yang menyebabkan pihak lain percaya bahwa ia masih aktif dalam kantor akuntan itu. Namun, bila ia sudah benar-benar lepas dari kantor akuntan itu, baik secara fakta maupun bila dilihat dari persepsi masyarakat, maka audit itu tetap bisa dijalankan seperti biasa. Inti dari prinsip dan aturan perilaku dari poin independensi ini adalah bahwa setiap auditor dilarang memiliki hubungan khusus yang berpotensi mempengaruhi penilaian audit. Hal-hal yang bisa mengurangi independensi ini antara lain; hubungan kekerabatan, kepemilikan modal, dan hubungan profesidi mana auditor boleh jadi juga ikut ambil bagian dalam mengurus manajemen perusahaan. Integritas Kode etik AICPA mengatur, dalam pelaksanaan setiap jasa profesional, seorang anggota harus dapat mempertahankan objektivitas dan integritasnya; harus bebas dari konflik penetingan; dan tidak boleh dengan sengaja membuat kesalahan penyajian atas fakta atau menyerahkan penilaiannya pada orang lain. Masalah integritas akan dijelaskan dengan ilustrasi berikut. Seorang akuntan publik menyiapkan SPT pajak untuk klien dan memberi saran pada klien untuk mengambil potongan pajak yang sah, tapi tidak memberikan dukungan sepenuhnya. Ini bukan pelanggaran atas objektivitas atau integritas karena akuntan publik diperbolehkan menjadi penasihat atas urusan perpajakan dan manajemen. Namun bila akuntan publik mendorong klien untuk melakukan pelanggaran hukum, inilah yang disebut sebagai pelanggaran atas kode etik. Karena hal ini, integritas akuntan publik tersebut bisa terancam. Hal lain yang dapat merusak integritas akuntan publik adalah fee kontinjensi. Fee kontinjensi adalah sejumlah bayaran yang dijanjikan dengan persyaratan tertentu. Misalnya, bila auditor memberikan opini wajar tanpa pengecualian, klien akan menambah bayaran auditor sejumlah uang tertentu. Hal ini jelas akan merusak penilaian auditor sebab bisa jadi tendensi pemberian opini berubah menjadi niatan untuk mencari untung semata. Selain hal-hal yang dapat mengurangi integritas auditor seperti yang telah tersebut di atas, ada beberapa hal yang menurut standar AICPA dapat menyebabkan auditor tersebut diberhentikan dari keanggotaan AICPA. Hal-hal tersebut adalah:

auditor melakukan kejahatan yang dapat dihukum penjara selama lebih dari satu tahun kelalaian yang disengaja dalam menyerahkan SPT pajak penghasilan menyerahkan SPT pajak penghasilan yang salah atau curang sengaja membantu klien untuk menyajikan SPT pajak penghasilan yang salah atau curang

Kerahasiaan Dalam poin kode etik ini, auditor atau akuntan publik dilarang membocorkan rahasia perusahaan klien mereka untuk tujuan apa pun. Aturan ini diberlakukan karena sejumlah informasi rahasia perusahaan itu, seperti gaji pejabat perusahaan dan biaya produksi, bisa menyulitkan usaha klien bila informasi tersebut disebarluaskan. Distribusi informasi tersebut harus dilakukan atas seizin perusahaan klien. Namun, ada empat kondisi yang menyebabkan prinsip kerahasiaan ini tidak berlaku.

kewajiban yang berhubungan dengan standar teknis. Bila dalam jangka waktu tiga bulan setelah laporan audit wajar tanpa pengecualian, auditor ternyata menemukan bahwa laporan keuangan tersebut mengandung salah saji yang material, informasi mengenai laporan keuangan itu perlu dibuka demi kepentingan standar profesional auditor. Artinya, bila penyelidikan lebih lanjut diperlukan, prinsip kerahasiaan ini tidak berlaku. untuk keperluan pengadilan. peer review. Peer review adalah peninjauan atas pengendalian mutu kantor akuntan publik yang dilakukan oleh KAP lainnya. Caranya adalah dengan memeriksa dokumen atau arsip audit terkait. Jika peer review disetujui oleh pihak yang berwenang, izin dari klien untuk menguji dokumen audit tidak lagi diperlukan. Namun, akses dokumen dalam hal ini terbatas pada kepentingan peer review saja. Pelaku peer review diwajibkan menjaga rahasia informasi yang diperoleh dan tidak menggunakan informasi itu untuk tujuan selain peer review. respon terhadap divisi etika. Pemeriksaan atas dugaan pelanggaran oleh divisi etika akuntan publik mensyaratkan adanya pemeriksaan terhadap dokumen audit yang diperlukan. Untuk kepentingan ini,

informasi mengenai audit yang awalnya rahasia itu jadi boleh dibuka hanya untuk kepentingan pemeriksaan divisi ini saja. Seperti pada poin peer review, informasi yang didapat dari cara ini harus dijaga kerahasiaannya dan tidak dipergunakan untuk tujuan selain tujuan ini.

Tanggung Jawab Hukum Auditor


Setelah kepercayaan didapatkan dari masyarakat, hal yang seharusnya dilakukan berikutnya adalah memelihara kepercayaan itu dengan bentuk tanggung jawab dalam menjalankan profesi auditor. Secara umum, auditor profesional bertanggung jawab untuk memenuhi apa yang telah dinyatakan dalam kontrak dengan klien. Auditor juga perlu memperhatikan pihak ketiga yang merupakan bagian dari kelompok orang yang terbatas yang bergantung pada penilaian auditor. Namun, meski standar profesi telah ditetapkan, tetap saja ada tuntutan ganti rugi dalam jumlah besar dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. Faktor-faktornya antara lain adalah sebagai berikut. meningkatnya kesadaran pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan publik meningkatnya perhatian pihak-pihak yang terkait dengan pasar modal sehubungan dengan tanggung jawab untuk melindungi kepentingan investor bertambahnya kompleksitas audit yang disebabkan adanya perubahan lingkungan yang begitu pesat diberbagai sektor bisnis, sistem informasi, dsb kesediaan kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah hukum diluar pengadilan, untuk menghindari biaya yang tinggi.

Dengan adanya tanggung jawab yang demikian itu, auditor memiliki kewajiban pada pihak-pihak yang terkait dengannya, antara lain:

Kewajiban kepada klien. Kewajiban akuntan publik terhadap klien karena kegagalan untuk melaksanakan tugas audit sesuai waktu yang disepakati, pelaksanaan audit yang tidak memadai, gagal menemui kesalahan, dan pelanggaran kerahasiaan oleh akuntan public Kewajiban kepada pihak ketiga menurut Common Law. Kewajiban akuntan publik kepada pihak ketiga jika terjadi kerugian pada pihak penggugat karena mengandalkan laporan keuangan yang menyesatkam Kewajiban Perdata menurut hukum sekuritas federal. Kewajiban hukum yang diatur menurut sekuritas federal dengan standar yang ketat.

Kewajiban kriminal. Kewajiban hukum yang timbul sebagai akibat kemungkinan akuntan publik disalahkan karena tindakan kriminal menurut undang-undang.

Kewajiban pada Klien Sumber tuntutan hukum yang paling sering menghampiri akuntan publik adalah tuntutan hukum dari klien. Umumnya, tuntutan ini berisi pernyataan kerugian klien karena auditor tak mampu memenuhi kontraknya. Di antara pernyataan kerugian yang sering disinggung, ada poin yang secara implisit menyatakan bahwa auditor berkewajiban mendeteksi kecurangan, apalagi bila hal itu telah tertulis dalam kontrak. Contohnya adalah kasus Cenco Incorporated dengan KAP Seidman & Seidman. Dalam kasus ini, auditor dituduh lalai karena tidak dapat menemukan penipuan dalam manajemen Cenco. Namun, di pengadilan, pihak Seidman & Seidman berdalih bahwa mereka sudah melaksanakan standar audit serta berargumen bahwa tindakan salah dari manajemen sebelumnya telah menghalangi auditor untuk mengungkapkan kecurangan itu. Kewajiban pada Pihak Ketiga menurut Common Law Selain klien, pihak ketiga yang meliputi pemegang saham, calon pemegang saham, pemasok, bankir, atau kreditor lainnya juga dapat menjatuhkan tuntutan hukum atas auditor. Seorang auditor dapat dijatuhi tuntutan semacam ini bila pihak ketiga tersebut mengklaim menderita kerugian akibat mengandalkan laporan keuangan yang menyesatkan. Hal ini biasanya terjadi ketika bank yang kesulitan menagih piutangnya karena bank tersebut dahulu memutuskan memberi pinjaman berdasarkan laporan audit yang dianggap memberikan keterangan palsu. Posisi auditor sedikit diuntungkan dengan adanya kasus Ultramares. Para kreditur Ultramares mengandalkan laporan keuangan yang telah diaudit sebagai dasar keputusan memberikan pinjaman pada Ultramares. Di kemudian hari, para kreditur ini menuntut akuntan publik terkait atas tuduhan keterangan yang menyesatkan dalam laporan keuangannya. Sementara itu, pengadilan berpendapat bahwa akuntan memang telah lalai, tetapi memutuskan bahwa akuntan tersebut tidak bertanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kesalahannya yang tidak disengaja dan berada di luar ruang lingkup kontrak semula, kecuali mereka yang mendapat keuntungan utama. Pengadilan berpendapat bahwa hanya pihak yang menandatangani kontrak dengan akuntan yang dapat menuntut jika jasa tersebut diberikan dengan kelalaian. Penerima

manfaat utama, atau pihak ketiga yang dikenal, adalah pihak-pihak yang diberi tahu kepada auditor sebelum melaksanakan audit. Namun, pada kesempatan berikutnya, pengadilan memperkenalkan konsep foreseen users, yang merupakan anggota dari golongan user terbatas yang mengandalkan laporan keuangan. Contohnya, bank yan gmasih memiliki pinjaman yang beredar pada klien pada tanggal neraca dapat menjadi foreseen user. Menurut konsep ini, foreseen user diperlakukan sama dengan pihak ketiga yang dikenal. Kewajiban Sipil menurut UU Sekuritas Federal Undang-undang ini, pada intinya, membuka peluang bagi para penuntut untuk mendapatkan ganti rugi dari pengadilan federal karena tersedianya litigasi atau proses pengadilan class action dan kemudahan dalam memperoleh ganti rugi yang cukup besar. Bahkan di awal mula munculnya UU sejenis ini, beban hukum yang diterima auditor sudah cukup berat. Sebagian materinya antara lain: setiap pihak ketiga yang membeli sekuritas bisa menggugat auditor atas adanya salah saji yang material dalam laporan keuangan yang telah diaudit yang disertakan dalam laporan pendaftaran. pemakai pihak ketiga tidak dibebani membuktikan bahwa mereka mengandalkan laporan keuangan yang telah diaudit itu untuk mengambil keputusan. Mereka cukup mengungkapkan adanya salah saji yang material dalam laporan tersebut. auditor berkewajiban membela diri bahwa audit yang memadai telah dilakukan atau seluruh/sebagian dari kerugian penggugat disebabkan oleh faktor lain selain laporan keuangan yang menyesatkan.

Peraturan pemerintah federal dalam hal ini terus berkembang sampai akhirnya muncul UU Sarbanes-Oxley yang juga turut mengatur masalah audit internal. Dalam UU ini, manajemen diwajibkan membuat laporan mengenai efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan, dan auditor harus memberi pendapat atas laporan tersebut. Akibatnya, auditor akan semakin rentan terkena tuntutan hukum menyangkut pengendalian internal. Kewajiban Kriminal Dalam hal ini, akuntan publik dapat dituntut secara hukum karena tindakan kriminal yang mereka lakukan. Peraturan-peraturan terkait audit yang kita temui menetapkan bahwa menipu orang lain, yaitu dengan

sadar terlibat dalam laporan keuangan palsu merupakan tindakan kriminal. Selain itu, Sarbanes-Oxley juga mengatur bahwa merusak atau membuat dokumen untuk menghambat atau menghalangi penyelidikan federal adalah suatu kejahatan. Hal ini pernah dilakukan oleh Arthur Andersen yang merusak dan mengubah dokumen terkait hasil auditnya pada Enron. Kantor akuntan publik ini dianggap bersalah karena perusakan dokumen yang mereka miliki atas auditnya terhadap Enron. Selain itu, mereka juga dianggap bersalah karena pengubahan memo yang berkaitan dengan karakterisasi beban Enron pada laporan laba-rugi, di mana perusahaan kemudian mengumumkan kerugian sebesar 618 juta dollar. Akibat tindakannya itu, Enron dijatuhi hukuman tidak dapat lagi mengaudit perusahaan publik. Dan sampai sekarang, KAP Arthur Andersen sudah tak dapat ditemui lagi walaupun pada tahun 2005, Mahkamah Agung AS mencabut keputusan ini karena dianggap terlalu luas cakupannya. Lebih jauh, sumber lain mengungkapkan bahwa auditor memiliki beberapa tanggung jawab antara lain:

tanggung jawab terhadap opini yang diberikan. Tanggung jawab auditor hanya sebatas opini yang diberikan, sedangkan kualitas laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen. Hal ini disebabkan pengetahuan auditor terbatas pada apa yang diperolehnya melalui audit. tanggung jawab terhadap profesi. Tanggung jawab ini mengenai mematuhi standar/ketentuan yang telah disepakati IAI, termasuk mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku, standar auditing dan kode etik akuntan Indonesia. tanggung jawab terhadap klien. Auditor berkewajiban melaksanakan pekerjaan dengan seksama dan menggunakan kemahiran profesionalnya, jika tidak dia akan dianggap lalai dan bisa dikenakan sanksi. tanggung jawab untuk mengungkapkan kecurangan. Bila ada kecurangan yang begitu besar tidak ditemukan, sehingga menyesatkan, dalam kondisi tertentu seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, akuntan publik harus bertanggung jawab. tanngung jawab terhadap pihak ketiga, seperti investor, pemberi kredit dan sebagainya. Contoh dari tanggung jawab ini adalah tanggung jawab atas kelalaiannya yang bisa menimbulkan kerugian

yang cukup besar, seperti pendapat yang tidak didasari dengan dasar yang cukup.

tanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kecurangan yang tidak ditemukan.

Tinjauan Beberapa Kasus Ada beberapa contoh kasus yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Pertama adalah kasus dugaan penggelembungan nilai PT. Kimia Farma dimana laba perusahaan pada tahun 2001 dicatat sebesar Rp 132 Milyar padahal sebenarnya hanya Rp 99,594 Milyar. Laporan adanya indikasi mark up tersebut diberikan sendiri oleh pihak auditor yang mengaudit dari laboran keuangan perseroan tahun 2001 tersebut. Bapepam akhirnya menjatuhkan sanksi denda Rp 500 juta Kepada PT. Kimia Farma Tbk, dan kepada auditornya sebesar Rp 100 juta. Dalam kasus PT. Bank Lippo Tbk, kita mengetahui bahwa kesalahan kecil bisa berakibat pada denda yang cukup besar. Pihak manajemen dinilai lalai dengan menyatakan laporan keuangan unaudited sebagai audited. Seharusnya begitu mengetahui ada perbedaan dalam laporan keuangan manajemen langsung mengoreksinya dan mengumumkan kepada publik. Karena kasus ini, Bapepam memberikan sanksi denda administratif sebesar Rp 2,5 milyar bagi PT. Bank Lippo Tbk untuk kesalahan penempatan kata audited dan Rp 3,5 juta bagi akuntan publiknya untuk keterlambatan menyampaikan laporan penting. Bagaimana Melindungi Akuntan Publik dari Kewajiban Hukum? Seorang auditor bisa mengambil tindakan berikut ini untuk meminimalkan kewajibannya. hanya berurusan dengan klien yang memiliki integritas. Semakin lemah integritas klien, semakin besar pula risiko hukum yang diterima auditor. Sebab integritas yang rendah akan memancing dugaan atas tindak kecurangan yang mungkin saja terjadi dalam proses akuntansi maupun proses pemeriksaan laporan keuangan. mempekerjakan personil yang kompeten. Auditor yang kompeten tentu lebih punya pengalaman dalam menghadapi klien dan laporan keuangan yang ditampilkan sedemikian rupa. Auditor yang kurang berpengalaman akan rentan jatuh pada kelalaian atau penipuan yang tertulis dalam laporan keuangan

mengikuti standar profesi. Saat seluruh standar profesi dipenuhi, seorang auditor akan sulit dikenai sanksi hukum sebab ia sudah menjalankan profesinya sesuai dengan aturan yang berlaku. mempertahankan independensi. mendokumentasikan pekerjaan secara layak. Pekerjaan yang terdokumentasikan dengan baik bisa menjadi barang bukti di depan pengadilan untuk membuktikan hal yang sebenarnya terjadi.