Anda di halaman 1dari 28

Makalah Psikologi Seks dan Perkawinan

PERCERAIAN
Disusun untuk memenuhi tugas Psikologi Seks dan Perkawinan Dosen Pengampu : dr. Istar Yuliadi, M.Si

Disusun Oleh : Ayuningtyas Sekar Fadjri Kirana Anggarani Shinta Arvianti Hamidah Suprapto Anisa Garnasih P Khabibah Solikah Novelia Citraresmi Vina Ardelia Anggishita Pranatasukma Norysta Clara G0108005 G0108008 G0108019 G0108021 G0108039 G0108069 G0108077 G0108104 G0108113 G0108128

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pernikahan adalah institusi resmi di mana seorang pria dan seorang wanita hidup bersama sebagai suami istri untuk membentuk suatu keluarga. Pernikahan sering dianggap sebagai suatu tahapan penting dalam kehidupan. Ada banyak pandangan mengenai pernikahan. Ada yang menganggap pernikahan sebagai suatu kewajiban, ada yang menganggap pernikahan harus dilandasi oleh cinta, ada yang melihat pernikahan sebagai suatu tahapan kehidupan yang harus dilewati oleh setiap orang setelah memasuki usia dewasa. Pada dasarnya, pernikahan adalah proses penyatuan antara dua individu yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan memiliki kepribadian yang berbeda. Pernikahan juga menuntut adanya penyesuaian antara dua keluarga. Proses penyatuan tersebut membutuhkan persiapan dan kesiapan dari kedua pasangan suami istri beserta keluarga mereka. Perbedaan-perbedaan dalam pernikahan sering menimbulkan pertengkaran antar suami istri. Munculnya berbagai permasalahan dalam pernikahan, seperti perselingkuhan, masalah anak, masalah ekonomi, masalah seks, dll, juga dapat mengguncangkan sebuah pernikahan. Saat pernikahan mulai terguncang, pasangan suami istri dihadapkan pada dua keputusan sulit, yaitu tetap mempertahankan pernikahan atau bercerai. Perceraian dipilih saat pasangan suami istri merasa sudah tidak dapat lagi mempertahankan pernikahan mereka. Perceraian ini tentu saja akan mengubah kehidupan suami istri, dan juga anak-anak mereka. Konsekuensi perceraian yang menyentuh berbagai macam aspek kehidupan harus dihadapi oleh pasangan yang bercerai. Oleh karena itu, melalui makalah ini, penulis akan membahas mengenai perceraian.

B. Manfaat 1. Manfaat Teoretis a. Mengetahui pengertian tentang perceraian b. Mengetahui hal hal yang berkaitan tentang perceraian, misalnya penyebab dan solusi c. Memahami tentang perlu atau tidaknya perceraian dalam keluarga 2. Manfaat Praktis a. Dapat memberikan tambahan pemahaman tentang perceraian b. Memberikan pengertian dan membantu memberi sudut pandang yang berbeda tentang perceraian

C. Tujuan 1. Dapat memahami perceraian dalam berbagai sudut pandang sehingga dapat mengambil langkah tepat untuk mengatasinya 2. Memenuhi tugas mata kuliah psikologi seks dan perkawinan

BAB II ISI
A. Fakta Perceraian di Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan data-data yang tercatat di pengadilan Agama dan Pengadilan negeri. Hal ini juga dapat kita buktikan bila mengunjungi pengadilan agama selalu ramai dengan orang-orang yang menunggu sidang cerai. Data-data perceraian berikut di himpun dari beberapa media. Secara historis, angka perceraian di Indonesia bersifat fluktuatif. Hal itu dapat ditilik dari hasil penelitian Mark Cammack, guru besar dari Southwestern School of Law-Los Angeles, USA. Berdasarkan temuan Mark Cammack, pada tahun 1950-an angka perceraian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tergolong yang paling tinggi di dunia. Pada dekade itu, dari 100 perkawinan, 50 di antaranya berakhir dengan perceraian. Pada tahun 2009 perceraian mencapai 250 ribu.Tampak terjadi kenaikan dibanding tahun 2008 yang berada dalam kisaran 200 ribu kasus. Ironisnya, 70% perceraian diajukan oleh pihak isteri atau cerai gugat. Berikut ini adalah data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, yaitu dari 2 juta orang nikah setiap tahun seIndonesia, maka ada 285.184 perkara yang berakhir dengan percerain per tahun se-Indonesia. Jadi tren perceraian di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Adapun faktor perceraian disebabkan banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. faktor ekonomi merupakan penyebab terbanyak dan yang unik adalah 70 % yang mengajukan cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Data diatas memberikan gambaran bahwa, tingkat perceraian secara nasional cukup tinggi. Beberapa daerah yang di data menunjukkan tingginya angka perceraian disetiap daerah. Sepanjang 5 tahun terakhir Kabupaten Malang menempati ranking pertama di Indonesia, dalam hal perceraian. Tahun 2006, jumlah perkara cerai sebanyak 5 ribu kasus. Tahun 2007 sebanyak 4.625 perkara, dan 2629 merupakan gugatan cerai dari istri, dan 1571 dari suami. Kita melihat, bahwa pihak istri jauh lebih banyak yang menggugat cerai dibanding

suami. Tingginya angka perceraian ini menurut PA malang, dipicu banyaknya warga yang mengadu nasib sebagai Tenaga kerja Wanita di luar negeri. Untuk tingkat provinsi di tahun 2011, Jawa Timur masih menempati urutan pertama di bandingkan dengan provinsi lain. Kalau tingkat kabupaten, Indramayu menempati urutan pertama dan Banyuwangi yang kedua. Dari data yang dikumpulkan PKS, pada tahun 2009 angka perceraian di seluruh daerah di Jawa Timur sebanyak 92.729 kasus. Dari jumlah tersebut, kabupaten atau kota yang masuk 5 besar angka perceraian yang tinggi yakni di Kabupaten Banyuwangi menempati urutan pertama sebanyak 6.784 kasus, disusul Kabupaten Malang sebanyak 6.716 kasus, Kabupaten Jember 6.054 kasus dan Surabaya menempati urutan keempat dengan jumlah pasangan suami istri (pasutri) yang cerai sebanyak 5.253. Sedangkan Kabupaten Blitar sebanyak 4.416 kasus. Faktor perceraian yang paling dominan adalah hubungan pasutri yang tidak harmonis sekitar 33 persen. Kalau masalah ekonomi, selingkuh, ada WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain) itu angkanya kecil. Dari 250 warga Surabaya yang bercerai setiap harinya, rangking tertinggi ternyata didominasi kaum guru. Data ini terungkap saat Walikota Surabaya Bambang DH memberi pembekalan terhadap CPNS guru. Menurut Bambang DH, data yang didapat dari Pengadilan Agama, guru menempati urusan pertama dalam kasus perceraian. Namun dia tidak menyebutkan berapa jumlah guru setiap bulannya yang melakukan cerai.

Di Kabupaten Bantul, Berdasarkan data Pengadilan Agama Bantul kasus perceraian tahun 2007 mencapai 699 kasus, padahal tahun 2006 baru 577 kasus. Tahun 2008 sampai dengan bulan Mei sudah ada 336 kasus. Tren kasus perceraian di Bantul terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebulan rata-rata ada 60 kasus yang kami tangani. Sebagian besar karena faktor perselisihan. Perselisihan dipicu karena pihak laki-laki menelantarkan atau tidak memberikan nafkah kepada istrinya. Sebagian besar yang bercerai berusia antara 30-40 tahun, katanya. Di Sidoarjo dalam delapan bulan terakhir, sebanyak 1.195 kasus cerai yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Dari kasus perceraian yang didaftarkan ke Pengadilan Agama Sidoarjo itu, sebagian besar disebabkan suami yang meninggalkan kewajibannya terhadap istri. Pada 2006 lalu sebanyak 1.873 kasus cerai yang didaftarkan ke PA Sidoarjo. Jumlah itu meningkat 201 kasus atau menjadi 2.074 kasus cerai pada 2007. Penyebab lain perceraian di Sidoarjo adalah karena suami berbuat selingkuh. Namun, jumlah kasus tersebut tidak sebesar kasus suami meninggalkan kewajibannya terhadap istri. Di Pontianak, faktor rendahnya ekonomi menyebabkan tingginya angka perceraian di Pengadilan Agama Pontianak, Kalimantan Barat. Terhitung sejak Januari hingga Juni 2008, sudah ada 452 perkara yang masuk ke pengadilan. Di Lamongan sampai Mei 2008 terjadi 969 kasus perceraian yang tercatat di Pengadilan Agama Lamongan. Sebagian besar kasus perceraian akibat perselisihan. Faktor penyebab perselisihan dipicu kawin paksa, cemburu, faktor akonomi, kawin di bawah umur, tidak ada keharmonisan, dan gangguan pihak ketiga. Banyak pihak istri yang mengajukan gugatan cerai dari suaminya akibat perselisihan dan ketidak harmonisan keluarga. Faktor terbesar yang memicu perceraian adalah tanggung jawab yang kurang dari pihak suami. Di Tegal, selama bulan Oktober 2008, Pengadilan Agama Slawi telah menangani 322 perkara perceraian yang terjadi di Kabupaten Tegal. Jumlah ini lebih tinggi dibanding pada bulan November sebanyak 156 perkara perceraian. Dari 322 perkara tersebut, 80 persen di antaranya disebabkan faktor

ekonomi. Karena faktor ekonomi ini terjadi pertengkaran yang berujung perceraian. Jadi kesimpulan dari data diatas adalah: 1. Tren perceraian di Indonesia meningkat dari tahun ketahun. 2. Dari 2 juta pernikahan setiap tahun, ada 200 ribuan yang bercerai. 3. Masalah ekonomi (suami tidak bisa menafkahi) adalah no 1 penyebab perceraian, kemudian ketidak harmonisan pribadi, perselingkuhan. 4. 70 % yang menggugat cerai adalah Isteri.

B. Pengertian Perceraian Pengertian Perceraian adalah cerai hidup antara pasangan suami istri sebagai akibat dari kegagalan mereka menjalankan obligasi peran masingmasing. Dalam hal ini perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku (Erna, 1999). Menurut Said (dalam Manan, 2001), yang dimaksud dengan cerai adalah putusnya perkawinan antara suami dengan isteri karena tidak terdapat kerukunan dalam rumah atau sebab lain seperti mandulnya isteri atau suami dan setelah sebelumnya diupayakan dengan melibatkan keluarga kedua belah pihak. Cerai juga dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Alwi (2005) yaitu putusnya hubungan sebagai suami istri. Terdapat dua definisi tentang cerai, yaitu cerai hidup dan cerai mati. Cerai hidup adalah perpisahan antara suami dengan istri selagi kedua-duanya masih hidup, sedangkan cerai mati adalah perpisahan antara suami dengan istri karena salah satu meninggal dunia. sedangkan perceraian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Alwi (2005) adalah perpisahan atau perihal bercerai antara suami istri.

C. Pengambilan Keputusan untuk Perceraian Seseorang tidak dapat terlepas dari masalah dalam kehidupannya, dari masalah dengan taraf kerumitan rendah seperti yang sering terjadi dalam keseharian seseorang hingga masalah dengan taraf kerumitan tinggi seperti masalah keuangan, perkawinan, pendidikan ataupun perceraian. Untuk dapat keluar dari masalah tersebut seseorang mau tidak mau harus memilih alternatif pemecahan yang dirasa paling baik, hal ini erat kaitannya dengan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seseorang tersebut. Sejalan dengan teori Shull (1970) yang menyatakan bahwa pengambilan keputusan merupakan prosesproses sadar yang didasari oleh fakta-fakta atau nilai- nilai yang melibatkan aktivitas memilih dari berbagai alternatif dengan maksud untuk mencapai suatu keadaan yang diinginkan. Salah satu masalah yang mungkin dihadapi oleh seseorang adalah masalah dalam memutuskan untuk bercerai. Said menjelaskan bahwa cerai adalah putusnya perkawinan antara suami dengan istri karena sudah tidak terdapat kerukunan dalam rumah atau sebab lain dan setelah sebelumnya diupayakan dengan melibatkan keluarga kedua belah pihak (Manan, 2001). Proses memutuskan yang dilakukan oleh seseorang untuk menentukan apakah dirinya sebaiknya mengakhiri perkawinan dengan pasangan hidup ataukah akan tetap menyelamatkan perkawinannya karena sebab-sebab tertentu didefinisikan sebagai pengambilan keputusan cerai. Realita yang mungkin terjadi, seseorang dalam mengambil keputusan untuk bercerai mempunyai cara-cara tersendiri yang digunakan dalam pengambilan keputusannya itu, baik dalam proses dan tahap-tahap yang ditempuh, pertimbangan yang dijadikan prioritas, hingga faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mengambil keputusan untuk bercerai. Hal diatas sejalan dengan teori Casson (2008) yang menyatakan bahwa tidak banyak orang yang mengambil keputusan semata-mata berdasarkan oleh kepentingannya sendiri, tetapi banyak sekali keputusan yang diambil demi untuk menjaga persaudaraan, demi kepentingan perdamaian, kebahagiaan keluarga, dan sebagainya. Begitu juga dalam proses pengambilan keputusan untuk bercerai.

Seseorang yang sedang dalam proses mengambil keputusan untuk bercerai, terkadang mengalami kelumpuhan pada daya pikir dan akibatnya dapat sangat merugikan (Casson, 2000).

D. Jenis dan Penyebab Perceraian Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan mengklasifikasikan penyebab terjadinya perceraian menjadi tiga jenis: 1) Kematian salah satu pihak 2) Perceraian karena talak (perceraian yang diajukan oleh pihak suami) dan perceraian karena gugat (perceraian yang diajukan oleh pihak istri) 3) Keputusan pengadilan, sedangkan menurut hukum perdata, perceraian hanya dapat terjadi berdasarkan alasan- alasan yang ditentukan undangundang dan harus dilakukan didepan sidang pengadilan, dalam hal ini ada dua pengertian yaitu Bubarnya perkawinan dan Perceraian. Bubarnya perceraian berarti putusnya ikatan antara suami dengan istri dapat disebabkan oleh kematian, tidak hadirnya suami atau istri selama sepuluh tahun, atau karena putusan hakim setelah adanya perpisahan meja dan ranjang, sedang perceraian adalah putusnya ikatan antara suami dengan istri hanya bisa tidak didahului oleh perpisahan meja dan ranjang (Subekti dan Tjitrosudibio, 2006). 1. Sebab- sebab Cerai Berdasarkan Undang-Undang Perkawinan Perceraian adalah salah satu sebab dari bubarnya atau putusnya perkawinan Perceraian yang menjadi dasar bubarnya perkawinan adalah perceraian yang tidak didahului oleh perpisahan meja dan ranjang. Tentang hal ini ditentukan dalam pasal 209 kitab undang- undang Hukum Perdata yaitu (1) Zina baik yang dilakukan oleh suami atau isteri, (2) Meninggalkan tempat tinggal bersama dengan sengaja, (3) suami atau isteri dihukum selama 5 tahun penjara atau lebih yang dijatuhkan setelah perkawinan dilaksanakan.

2. Sebab-sebab Cerai Berdasarkan Permasalahan Praktis dalam Kehidupan Rumah Tangga Perceraian merupakan kulminasi dari penyesuaian perkawinan yang buruk dan terjadi bila antara suami istri sudah tidak mampu lagi mencari penyelesaian masalah yang dapat memuaskan kedua belah pihak (Hurlock, 1993). Dari sisi lain Suryomentaram (2003) menjelaskan bahwa hal-hal yang dapat menjadi penyebab pertengkaran antara suami dengan istri dalam kehidupan rumah tangga adalah tidak adanya rasa saling pengertian dan memahami antara suami dengan istri. Menurut Suryomentaram jika hal itu terjadi maka pertengkaran suami istri akan sangat mudah tersulut. Apabila pertengkaran itu terus terjadi tanpa ada usaha penyelesaian dengan segera maka akan dapat berakibat kepada perceraian, karena rangkaian pertengkaran kecil akan berubah menjadi mata rantai pertengkaran besar dan berakibat buruk (Pohan, 1990). Konflik dan pertengkaran yang terus menerus terjadi maka pernikahan bukan lagi menjadi institusi yang memberikan kebahagiaan dan ketenangan, tetapi justru sebaliknya yaitu menimbulkan kesedihan dan tekanan yang amat berat bagi suami dan istri. Ahli perkawinan Sadarjoen (1997) menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman beliau dalam menangani masalah perkawinan dapat disimpulkan bahwa terdapat dua area konflik perkawinan yang utama yaitu: perkara keuangan dan hal-hal yang terkait (Money Related Matters) dan perkara seks dan hal-hal yang terkait (Sex Related Matters).

E. Proses Perceraian Istri dapat berkedudukan sebagai tergugat ataupun sebagai penggugat dalam proses pengajuan cerai. Istri dikatakan berkedudukan sebagai tergugat apabila yang mengajukan permohonan cerai kepada pengadilan adalah si suami, sedangkan istri berada pada kedudukan penggugat apabila sang istri yang mengajukan permohonan cerai kepada pengadilan, dalam hal ini cerai yang dimohon oleh istri disebut cerai gugat, dan cerai yang dimohon oleh

suami adalah cerai talak (Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar, 2010). Pengertian lain tentang cerai gugat menurut Rofiq (2000), adalah perceraian yang terjadi atas permintaan istri dengan memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas persetujuan suaminya. Sesuai dengan yang dijelaskan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Bab Ke Sepuluh nomor 200 tentang pembubaran perkawinan bahwa tiap-tiap suami atau istri adalah berhak atau leluasa untuk menarik pihak yang lain di muka Pengadilan dan menuntut supaya perkawinan dibubarkan. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Bab Ke Sepuluh tentang pembubaran perkawinan nomor 202 menjelaskan bahwa apabila pihak yang digugat menyetujui permintaan itu maka Pengadilan harus memerintahkan kedua suami istri untuk berkumpul dan bersama-sama menghadap dimuka seorang anggota atau lebih dari Pengadilan, yang mana nanti akan mencoba memperdamaikan kedua belah pihak, hal ini dalam Pengadilan Agama sering disebut dengan proses mediasi (Subekti dan Tjitrosudibio, 2006). Mediasi dilakukan oleh pasangan suami istri yang beragama islam maksimal dua kali dengan jeda waktu tiga hingga maksimal enam bulan antara mediasi pertama dengan mediasi yang kedua. Apabila dalam pertemuan mediasi kedua tidak berhasil pula maka Pengadilan barulah memutuskan dan mengabulkan gugatan cerai yang diajukan oleh suami atau istri apabila segala syaratnya telah dipenuhi dengan sebaik-baiknya (Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Bab Ke Sepuluh tentang pembubaran perkawinan nomor 203).

F. Tahap-Tahap dalam Perceraian Berdasarkan peraturan dan hukum yang ditetapkan dan berlaku di Indonesia mengenai perceraian, terdapat beberapa tahap cerai (Rofiq, 2000): 1) Tahap Permohonan a. Penggugat mendaftarkan dan mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama atau ke Mahakamah Syariyah. b. Penggugat dan tergugat dipanggil oleh Pengadilan Agama atau Mahkamah Syariyah untuk menghadiri persidangan.

2) Tahap Persidangan a. Pada pemeriksaan sidang pertama hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak, dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No.7 Tahun 1989). b. Apabila usaha perdamaian pertama belum berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar menempuh proses mediasi terlebih dahulu (Pasal 3 Ayat (1) PERMA No.2 Tahun 2003). c. Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat gugatan, jawaban, jawab menjawab,

pembuktian dan kesimpulan. dalam tahap jawab-menjawab (sebelum pembuktian) tergugat dapat mengajukan gugatan rekonversi atau gugatan balik (Pasal 132a HIR,158 R. Bg). 3) Tahap Putusan Pengadilan Agama atau Mahkamah Syariyah a. Gugatan dikabulkan apabila tergugat tidak puas dapat mengajukan banding melalui Penghadilan Agama atau Mahkamah Syariyah. b. Gugatan ditolak, dan penggugat dapat mengajukan banding melalui Pengadilan Agama atau Mahkamah Syariyah tersebut. c. Gugatan tidak diterima dan penggugat dapat mengajukan permohonan baru. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa perceraian baru dapat dilaksanakan apabila telah dilakukan berbagai cara untuk mendamaikan kedua belah pihak untuk tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga pasangan suami isteri tersebut dan ternyata tidak ada jalan lain kecuali hanya dengan jalan perceraian.

G. Dampak Perceraian Perceraian adalah hal buruk yang tentunya harus dihindari dalam suatu rumah tangga, karena akibat perceraian itu sendiri tak hanya akan dirasakan oleh pasangan suami istri, namun juga oleh orang-orang di sekitar mereka. Bila Anda sudah berumah tangga, Anda pasti pernah mengalami perselisihan

dengan pasangan Anda. Perselisihan adalah hal yang biasa terjadi pada suami istri, namun perselisihan bukan alasan untuk bercerai. 1.

Akibat Perceraian bagi Suami Istri Pasangan yang pernah hidup bersama lalu kemudian berpisah, tentu akan menjadi canggung saat bertemu kembali.

Kebanyakan pasangan yang bercerai umumnya diawali oleh perselisihan atau permusuhan. Bila hubungan rumah tangga terputus akibat permusuhan, hal ini umumnya akan sangat merenggangkan silaturahmi di kemudian hari.

Tak hanya diawali oleh permusuhan, pasangan yang awalnya ingin berpisah secara baik-baik pun bisa menjadi saling tidak suka akibat perceraian. Contohnya, masalah yang cukup sulit untuk diselesaikan saat bercerai adalah urusan harta atau hak asuh anak. Dalam hal ini, tak jarang pasangan suami istri yang awalnya berniat cerai baik-baik, kemudian menjadi saling bermusuhan.

Perceraian suami istri terkadang menimbulkan trauma bagi pasangan itu sendiri. Kegagalan rumah tangga menjadi kenangan buruk dan kadang menghambat seseorang untuk kembali menikah dengan orang lain.

Masalah perceraian adalah masalah yang sangat rumit. Hal ini bisa membuat pasangan menjadi stres dan depresi. Perasaan yang negatif seperti ini tentu sangat tidak menguntungkan, khususnya dalam hal pergaulan maupun pekerjaan.

Kehidupan ekonomi setelah bercerai dapat menjadi sulit terutama jika saat menikah dulu, Anda hanya sebagai ibu rumah tangga. Ataupun jika Anda bekerja, tetap saja pendapatan keluarga menjadi berkurang karena kehilangan satu orang pencari nafkah

2. Akibat Perceraian Bagi Anak

Korban perceraian yang paling menderita adalah anak. Bila suami istri bercerai saat anak sudah dewasa, mungkin akibat perceraian tidak akan terlalu berpengaruh pada si anak. Bila anak masih kecil, dampak perceraian tentu sangat terasa. Hal ini akan membuat si anak menjadi

bingung dan merasa tidak nyaman karena keluarga sudah tidak lengkap lagi.

Anak bisa saja membenci orang tua, dan hal tidak jarang terjadi pada keluarga yang bercerai.

Kebencian seorang anak terhadap orang tua bisa menimbulkan akibat lain, salah satunya adalah kelainan seksual. Misalnya, seorang anak perempuan membenci ayahnya yang telah menceraikan si ibu. Anak tersebut bisa saja membenci kaum pria dan kemudian beralih menyukai sesama jenis.

Orang tua adalah contoh bagi si anak. Bila orang tua bercerai, hal ini tentu bukan contoh yang baik. Namun, seorang anak bisa saja mencontoh hal ini ketika sudah berumah tangga. Bukan tidak mungkin si anak akan berpikir orang tuaku saja pernah bercerai, berarti tidak apa-apa bila aku juga bercerai.

Akibat perceraian yang lain adalah si anak bisa sangat tertekan, stres, atau depresi. Perasaan tertekan seperti ini bisa membuat si anak menjadi lebih pendiam, jarang bergaul, dan prestasi sekolahnya akan merosot.

Anak sebagai korban perceraian tak selalu menjadi pendiam. Sebaliknya, seorang anak bisa menjadi pemberontak. Jiwa labil seorang anak yang sedang depresi bisa menggiringnya ke dalam pergaulan yang salah. Misalnya seks bebas, narkoba, atau bahkan kriminal.

Trauma perceraian tak hanya menghinggapi perasaan suami istri yang baru saja berpisah, tapi juga berimbas pada si anak. Trauma yang terjadi pada anak bisa berupa timbulnya ketakutan untuk menikah, atau takut menerima orang tua tiri yang baru. Itulah beberapa contoh akibat perceraian yang seharusnya dapat

dihindari. Bila ditelusuri, ternyata anak adalah korban perceraian yang paling banyak mendapat kerugian. Karena itu, bagi Anda yang sudah berkeluarga, jagalah keutuhan rumah tangga sebaik mungkin agar dampak buruk perceraian tidak perlu dirasakan. Emosi pada pasangan yang bercerai harus segera didinginkan karena jika tidak akan berpengaruh pada perkembangan emosi anak. Jangan sampai

anak menjadi korban tidak bersalah dari perceraian. Bersikap dewasa, belajar menerima situasi dan berniat untuk berjuang bersama anak Anda demi hidup yang lebih baik adalah solusi yang baik bagi pasangan yang bercerai. Dengan melihat tekad, keteladanan dan usaha, anak juga akan lebih dapat menghargai keputusan orang tuanya yang bercerai, sehingga perkembangan emosi anak dapat mengarah ke arah yang baik. Sebaiknya minta pendapat anak dalam mengambil keputusan perceraian , agar anak siap menerima kondisi dan memahami situasinya. Hal ini akan lebih baik untuk perkembangan emosi anak.

H. Tips Menjaga Keharmonisan Pasangan Suami-Istri Pasangan yang telah mengikatkan diri dalam tali pernikahan tentunya menginginkan atmosfer rumah tangga yang harmonis. Maka yang harus dipikirkan pertama kali adalah bagaimana melakukan harmonisasi hubungan suami-istri. Menjaga keharmonisan pasangan suami-istri (pasutri) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi membutuhkan usaha dan pengorbanan. Berikut ini adalah sepuluh tips mewujudkan keharmonisan pasutri, sebagaimana ditulis Wafaa Muhammad, dalam kitabnya Kaifa Tushbihina Zaujah Rumansiyyah: 1. Berupaya saling mengenal dan memahami Perbedaan lingkungan dan kondisi tempat suami atau istri tumbuh sangat berpengaruh dalam pembentukan ragam selera, perilaku, dan sikap yang berlainan pada setiap pihak dari yang lain. Hal itu merupakan kewajiban setiap pasutri untuk memahami keadaan ini dan berusaha mengetahui serta mengenal pihak lain yang menjadi pasangan hidupnya. Mereka juga harus mengetahui semua hal yang berkaitan dengan situasi kehidupan yang mempengaruhi, sehingga dapat maju ke depan dan mewujudkan keharmonisan.

2. Perasaan timbal-balik Suami dan istri adalah partner dalam satu kehidupan yang direkatkan dalam tali pernikahan; satu ikatan suci yang mempertemukan keduanya. Tak pelak lagi, keduanya harus berbagi suka-duka; membagi kesedihan dan kegembiraan bersama. Keduanya saling berkelindan untuk menyongsong satu cita-cita luhur yaitu mewujudkan tatanan kehidupan berdasarkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Untuk memupuk kasih sayang di masing-masing pihak, suami membutuhkan cinta istri, dan istri pun membutuhkan cinta suami. 3. Setiap pihak harus hormat Ketika suami atau istri memasuki rumahnya, maka dia layak mendapatkan penghormatan dan apresiasi dari pasangannya. Hal itu bertujuan untuk menjaga harkat dan mengangkat prestise pasutri, sehingga masing-masing merasa nyaman untuk membangun rumah tangga harmonis. Dalam hal ini, sudah menjadi kewajiban pasutri untuk mencari poin-poin positif yang dimiliki masing-masing untuk digunakan sebagai penopang sikap saling menghormati. 4. Berusaha menyenangkan pasangannya Dalam kehidupan keluarga, bahkan dalam kehidupan sosial secara general, jika seseorang berusaha mengedepankan dan mengutamakan orang lain dari dirinya sendiri, maka berarti dia telah menanam benih-benih cinta dan kedekatan kepada semua orang di sekelilingnya. Dengan demikian, setiap pasutri disarankan untuk senantiasa

menyenangkan pasangannya, dan mendahulukan serta mengutamakannya dari dirinya sendiri, demi memperkukuh ikatan cinta kasih di antara keduanya. Pasalnya, ketika suami melihat istri membaktikan diri untuk menyenangkan dirinya, tentunya dia akan melakukan sesuatu yang bisa membuat senang dan gembira hati istri. Hal itu dilakukannya untuk membalas kebaikan istrinya, atau setidaknya sebagai pengakuan atas kebaikan tersebut.

5. Mengatasi persoalan bersama Pernikahan merupakan bentuk relasi partnership dan partisipasi. Partnership yang berdiri di atas landasan kesamaan tujuan, cita-cita, sikap, intuisi dan perasaan, serta kolaborasi dan solidaritas dalam memecahkan setiap persoalan. Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan suami-istri, maka masalah itu dilihat sebagai suatu kecemasan kolektif. Paradigma demikian memicu suami agar berusaha bekerja keras dalam rangka memberikan kehidupan mulia bagi istri dan anak-anaknya. Pun demikian, istri akan berusaha menjalankan urusan rumah tangga sesuai prosedur yang disepakati bersama. Upaya yang dilakukan oleh suami dan istri tersebut merupakan solusi untuk memecahkan masalah bersama. Pun demikian, baik suami maupun istri tidak perlu menyembunyikan problemnya, bahkan diperlukan kejujuran dan transparansi demi

menumbuhkan benih-benih kepercayaan dan saling pengertian, sehingga mudah menemukan solusi. Bisa jadi, permasalahan memiliki dampak positif untuk meneguhkan ikatan suami-istri. 6. Sikap qanaah Di antara tanda keharmonisan cinta pasutri adalah sikap merasa puas dengan yang ada (qanaah); merasa puas dengan prasarana hidup yang tersedia. Kelanjutan sikap manja, kebiasan hidup serba ada, boros dan berfoya-foya pada masa kecil atau remaja termasuk salah satu faktor yang memicu pertikaian pasutri. Sikap demikian berlawanan dengan kedewasaan yang menuntut pandangan realistis tentang kehidupan. Hal-hal picisan dan glamor yang digembar-gemborkan media publikasi sejatinya tidak akan menciptakan kebahagiaan. Karena kebahagiaan sejati memancar dari hati dan jiwa terdalam, bukan bertolak dari aspek-aspek materi yang justru memicu kesenjangan dan konflik pasutri. 7. Sikap toleransi kedua belah pihak Sungguh sangat tidak logis jika setiap pihak mengharapkan perilaku ideal permanen dari pasangannya dalam hubungan rumah tangga, karena menurut tabiatnya, manusia kadang salah dan benar. Suami atau istri kadang

lupa dan khilaf sehingga kerap mengulangi kesalahan serta kekeliruannya. Dia mungkin melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, dan

mengulanginya tanpa disadarinya. Jika setiap pihak berkeinginan untuk menghukum, menghakimi, atau membalas dendam untuk setiap kesalahan yang dilakukan pasangannya, maka berarti dia merusak fondasi

keharmonisan rumah tangga. Jika kita mencela segala hal, maka kita tidak akan menemukan sesuatu yang tidak kita cela. Melakukan kesalahan adalah hal lumrah yang hanya membutuhkan pelurusan, pengarah, dan petunjuk, yang dibarengi dengan sikap penyesalan dan keinginan untuk berubah lebih baik. Kesalahan tidak perlu diikuti dengan tekanan, cacian, dan intimidasi, terutama jika kesalahan itu tidak berkaitan dengan norma-norma keislaman. Yakinlah bahwa seseorang tidak akan kehabisan cara yang sesuai untuk mengoreksi kesalahan dan penyimpangan pasangannya. Jalan terbaik dalam hal ini adalah nasihat yang tenang dan membuat pasangannya merasa bahwa hal itu adalah untuk kebaikan diri dan keluarganya. 8. Berterus-terang Sikap terus terang, kejujuran, dan keberanian adalah kunci kebahagiaan kehidupan rumah tangga yang tidak mungkin nihil dari kesalahan. Dalam artian, jika Anda melakukan kesalahan, maka yang harus Anda lakukan adalah bergegas meminta maaf, berani mengakuinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Sikap tersebut sama sekali tidak berarti menistakan status dan harga diri Anda. Hal itu justru mendorong pihak lain untuk menghormati, mempercayai, dan memaafkan Anda. 9. Kepedulian dan solidaritas Bagian fragmen terindah kehidupan rumah tangga adalah kepedulian dan solidaritas yang dilakoni suami atau istri dalam menghadapi kesulitan dengan kesabaran dan perjuangan luar biasa. Tatkala istri berdiri di samping suaminya, maka suami akan merasa kuat dan penuh percaya diri, begitu juga sebaliknya. Ketika istri atau suami merasakan bahwa pasangannya merasa kuat dan percaya diri, maka dia akan merasa jiwanya diliputi kedamaian dan

ketenteraman. Sisi ini pada kenyataannya merupakan esensi pernikahan dan integrasi batin di antara kedua belah pihak. 10. Kearifan Kearifan satu sama lain hingga pada situasi yang paling suram membantu meletakkan fondasi kukuh keharmonisan. Bisa jadi, dikarenakan sebuah kesalahan, suami atau istri memiliki kemampuan hebat untuk mencelakai pasangannya, hanya saja kearifan mencegahnya melakukan hal itu. Kearifan memperkokoh semangat kesepahaman di antara keduanya. Atau salah satu pasutri mungkin merasa lebih berhak dalam hal tertentu, namun setelah berpikir ulang tentang hal itu, dia tidak lagi keukeuh mempertahankan pendapatnya yang bisa memicu friksi. Ketika dia mundur dengan motif kearifan, maka dia berarti melenyapkan aroma konflik dan perselisihan. Namun jika sikap mau menang sendiri dan superioritas negatif menggantikan posisi kearifan, maka kedamaian dan kemapanan kehidupan rumah tangga akan tercederai. Jika demikian, tak heran jika masalah silih berganti menghampiri. Maka, kearifan adalah benteng kokoh yang melindungi keluarga dari

disharmonisasi.

Selain tips di atas, berikut ini ada beberapa tips supaya rumah tangga menjadi harmonis yang disadur dari buku Knot Happy: How Your Marriage Can Be oleh Henry A. Ozirney yang membahas bagaimana menjalani kehidupan dalam pernikahan rumah tangga yang harmonis agar tercapai kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga. 1. Bersiaplah untuk berkorban. Setiap individu yang mengikatkan diri dalam perkawinan mau tak mau harus siap berkorban bagi pasangannya. Kadang dalam masalah kecil saja, dituntut pengorbanan yang besar. Contohnya, Anda baru sampai di pintu rumah dan merasa capek, tapi suami ternyata mengeluh badannya meriang dan minta dikerokin. Tentu niat semula hendak langsung beristirahat harus langsung dikesampingkan. Pengorbanan ini Anda dahulukan karena

perhatian pada suami Anda anggap jauh lebih penting daripada rasa capek. Tentu saja pengorbanan semacam ini harus datang dari kedua belah pihak. Bila salah satu bersikap egois, tentu saja dapat menjadi pemicu munculnya perasaan kesal dan diperlakukan tak adil. 2. Tetap punya waktu untuk diri sendiri. Sangatlah menyenangkan bila Anda memiliki kegiatan atau hobi yang dapat dilakukan bersama. Tapi jangan lupa, Anda juga perlu melakukan sesuatu atau berkegiatan sendiri tanpa didampingi pasangan. Punya waktu sendiri memberi kesempatan Anda untuk berpisah sementara dengan pasangan. Di saat ini, Anda dapat dengan jernih merefleksikan kembali kehidupan cinta Anda berdua. Kemudian melakukan koreksi diri tentang hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk meningkatkan kebahagiaan perkawinan dan menghindari kebosanan karena berduaan terus. Disamping itu, sendirian sejenak dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi seberapa jauh Anda kangen pada pasangan. 3. Memelihara keintiman dan romantisme. Suami-istri yang sudah cukup lama berumah tangga kadang kurang peduli terhadap hal yang satu ini. Tak ada lagi kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun kerap jadi barang mahal. Padahal kunci hubungan yang sukses adalah melakukan hal-hal kecil yang berharga bagi pasangan. Melalui gerak tubuh, kata-kata penuh cinta dan perhatian kecil, rasa cinta dapat tetap terpelihara. Justru ungkapan emosi yang positif terhadap pasangan menjadi tabungan bagi hubungan emosi mereka. Jika rekening masing-masing sama besarnya, dijamin hubungan akan tetap berlangsung manis di masa datang. Entah sekadar memberi sekuntum bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalanjalan menyusuri tempat-tempat romantis, akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup. 4. Pandai mengatur keuangan keluarga. Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah.

Artinya, faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan, apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak ditopang oleh kondisi finansial yang memadai. Mengatur ekonomi keluarga secara benar juga akan memberi rasa aman dan bahagia. 5. Berbagi tugas rumah-tangga dan pengasuhan anak. Kedua hal ini memberi kesempatan kepada pasangan untuk bekerja sebagai tim yang solid. Kegiatan membereskan rumah dan mengasuh anak dapat menjadi sarana mempererat tali perkawinan. 6. Komunikasi jujur dan terbuka. Komunikasi merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suamiistri. Banyak suami-istri berkurang intensitas komunikasinya karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Padahal bagaimana komunikasi bisa terjalin mulus bila pasangan sudah tak saling menyapa. Jadi, cobalah untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan pasangan. Luangkan waktu untuk duduk dan ngobrol bersama, sekalipun hanya 5 menit setiap hari. Sempatkan untuk meneleponnya atau mengirim SMS romantis. Sapaan selamat pagi atau selamat malam di tempat tidur juga dapat dijadikan ajang berkomunikasi. Intinya, ciptakan komunikasi sehingga masing-masing pribadi merasa dibutuhkan. 7. Jangan memendam masalah. Sebenarnya ini merupakan bagian dari komunikasi. Namun pada intinya, seperti apa pun perasaan Anda dan pasangan, hendaknya selalu dikomunikasikan. Terutama rasa tidak suka atau yang menyinggung perasaan. Bila Anda malu atau sungkan karena khawatir mendatangkan masalah, sebenarnya Anda justru sedang menyimpan bom yang siap meledak sewaktu-waktu. Rasa marah yang terpendam juga membuat Anda berusaha menghindari satu sama lain tanpa sebab yang pasti. Jadi, serba enggak enak, kan? Makanya akan lebih baik bila setiap kali muncul perasaan marah atau kesal hendaknya dikemukakan saja agar tidak timbul kesalahpahaman yang berlarut-larut. Namun kemukakan kekesalan Anda secara santun dan objektif. Artinya, bila Anda kesal/marah, tunjukkan

bahwa Anda hanya ingin dia mengoreksi kelakuannya dan sama sekali bukannya membenci dia sebagai pribadi. 8. Sadarilah Anda berdua adalah pribadi yang berbeda. Ini bukan hanya dalam waktu singkat lo, tapi berlangsung untuk selamanya. Jadi wajar bila ikatan perkawinan akan selalu diwarnai perselisihan akibat perbedaan. Bukan saja perbedaan pendapat, tapi juga ketidaksetujuan akibat perbedaan-perbedaan yang lain. Pasangan yang gagal dalam perkawinan umumnya menaruh harapan terlalu tinggi bahwa pasangannya akan berubah sesuai keinginan dirinya. Sementara pasangan yang perkawinannya awet umumnya lantaran menyikapi perbedaan demi perbedaan dengan bijak. Perbedaan seyogianya tak harus menghancurkan perkawinan, melainkan justru memperkaya wawasan masing-masing sambil mencari solusi terbaik dengan selalu memprioritaskan kebahagiaan perkawinan. 9. Bersikap spontan. Kebiasaan positif ini dapat diterapkan kapan saja. Misalnya, ingin menciptakan suasana romantis, mengatur jadwal makan malam di luar, bercinta, saling memuji, memerhatikan dan lain-lain yang sifatnya kejutan. Spontanitas ini bermanfaat untuk menghindari kebosanan dalam

perkawinan. Lagi pula siapa sih yang tak suka mendapat kejutan menyenangkan? Yang penting, kejutan tersebut haruslah tulus dan penuh rasa cinta. 10. Selalu mengingat hal-hal terbaik dalam diri pasangan. Apa saja hal-hal terbaik dalam diri pasangan yang membuat Anda mengambil keputusan untuk menikah dengannya? Selalu mengingat hal-hal terbaik yang dimiliki pasangan akan selalu menuntun Anda pada sejumlah kenangan manis yang tiada habisnya. Selain akan membuatnya merasa berharga di mata Anda. Ingat, hidup perkawinan tak luput dari dinamika hidup. Segalanya bisa saja berubah. Namun alasan mengapa Anda dulu begitu mencintainya akan selalu terpatri dalam lubuk hatinya. Begitu juga

sebaliknya, sehingga kedua belah pihak akan selalu bertekad untuk menjaga hal-hal berharga tadi dan mempertahankan perkawinan. I. Kasus dan Solusi Kasus Perceraian maia Estianti dan Ahmad Dhani Setelah Maia Estianty resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Ahmad Dhani, perseteruan pasangan musisi ini makin memanas. Soal anak - anak kembali menjadi pemicu. Sabtu (17/11) lalu, Maia menjemput paksa ketiga anaknya dari lokasi syuting. Dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, Maia mengajak Al, El dan Dul pulang. Keberangan Maia, disebabkan selain anak - anak akan menghadapi ulangan umum dan Dul dalam kondisi sakit. Jum'at (16/11) malam silam, Dhani bersama ibundanya, memang terlihat mengantar Dul ke sebuah rumah sakit. Dul mengalami muntah - muntah dan demam tinggi. Tetapi di lokasi syuting waktu ditanya mengenai kesehatannya, Dul mengaku sudah sembuh. Kendati begitu, Maia berkeras membawa anak anaknya meninggalkan lokasi syuting. "Aku mau syuting dan aku sudah sembuh," seru Dul. "Saya berhak membawa anak saya dan tidak usah meneruskan kontrak lagi. Saya konsen sebagai ibu, 2 minggu lagi anak - anak mau EHB sedangkan Dul masih sakit. Saya sempat kaget anak saya sedang sakit malah disuruh syuting," kata Maia dengan mimik marah. Peristiwa itu makin memperuncing konflik antara Maia dengan Dhani. Bahkan Maia menuduh anak - anak telah dieksploitasi. Namun tuduhan itu dengan tegas dibantah Dhani. Menurut pentolan group band Dewa ini, ia tak pernah memaksa anak - anaknya untuk bekerja. Jika ia mengijinkan Al, El dan Dul main sinetron, karena Dhani tak ingin membatasi anak - anak berkreasi. Menurut Sheila Salomo selaku pengacara Maia, kliennya sudah jelaskan ke Dhani, minta agar syuting dimundurkan sampai setelah EHB supaya tidak saling mengganggu dan Maia merasa ada exploitasi terhadap anak - anak sedangkan anak - anaknya masih dibawah umur bahkan Maia sudah memperhatikan kesehatan maupun pelajarannya.

"Disini tidak benar bahwa saya eksploitasi anak, Maia jarang punya pendapat dan kemungkinan lawyernya yang berpendapat. Dalam kasus ini saya memberikan jalan emas untuk berkarier dan anak - anak suka. EHB masih 2 minggu lagi dan anak - anak tidak membolos sekolah. Maia malah mengobrak - abrik lokasi syuting dengan alasan yang terlalu kecil untuk mengorbankan sesuatu yang besar," tandas Ahmad Dhani. Peristiwa jemput paksa ini tampaknya bakal panjang. Pasalnya baik Maia maupun Dhani akan saling melaporkan masalah ini. Karena masing - masing merasa di pihak yang benar, persoalan antara Dhani dan Maia menyangkut anak - anak pun jadi makin pelik. Entah kapan dan bagaimana penyelesaian atas konflik yang berlarut larut ini bisa tertuntaskan dengan baik. "Maia sudah dapat tetapi tidak diijinkan membawa anak - anaknya. Kita akan cek dulu apakah sifatnya penculikan, yang jelas kami segera akan melayangkan surat kepada KPAI maupun ke PH nya," ujar pengacara Maia, Sheila Salomo. "Maia hobinya melapor dan saya tidak apa - apa, yang jelas selama ini laporan atau tuduhan Maia hanya mengada - ngada dan tidak ada bukti," tandas Ahmad Dhani. Selain kasus di atas masih ada lagi kasus yang melibatkan putra sulung musisi Ahmad Dhani dan Maia Estianty, Ahmad Al Ghazali (Al) tengah menjadi sorotan masyarakat lantaran di usianya yang baru menginjak 14 tahun, sudah akrab dengan rokok dan minuman beralkohol. Praktisi kesehatan yang juga sosialita, dr. Sonia Wibisono, menilai bahwa Al merupakan bukti nyata dampak negatif dari perceraian. "Masalah yang terjadi karena perceraian biasanya anak kurang mendapat kasih sayang, karena tidak mendapat perhatian dari orangtuanya itulah, mereka bisa leluasa berbuat apa yang mereka sukai," bilang Sonia saat ditemui di Amarone Bistro & Bar, Grand Kemang Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (8/11). Dia mengatakan, baik Dhani dan Maisea, selaku orangtua Al, tak bisa terus menerus saling menyalahkan dan mengkambing hitamkan anak lantaran terlalu jauh dalam bergaul. "Harusnya sebagai orangtua, kita harus bisa memberi kasih sayang yang cukup pada anaknya. Kalau kita dekat sama anak, secara otomatis kalau

mereka ingin melakukan sesuatu yang buruk, pastinya akan lebih berpikir lagi," jelas lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini. Solusi yang dapat kami sarankan untuk permasalahan perceraian ini adalah walaupun telah bercerai pasangan harus tetap akur atau tidaka berkonflik. Jika kita lihat dalam kasus ini orang tua berkonflik dan terlihat memperebutkan anak. Karena tanpa adanya konflik anak tidak akan bingung dalam memilih orang tua mana dia harus ikut. Ada contoh kasus perceraian yang baik-baik adalah perceraian Tia Ivanka dan kekasihnya. Solusi selanjutnya adalah menjalankan perceraian secara hokum yang berlaku yang telah ditetapkan dalm undang-undang perceraian. Misalnya saja adalah UU Republik Indonesia no 1 tahun 1974 menyebutkan : Pasal 35 (1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan adalah harta bersama (2) Harta bawaan dari masing-masing suami istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaan masing masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain Pasal 36 (1) Mengenai harta bersama , suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan keua belah pihak (2) Mengenai harta bawaan masing-masing , suami atau istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya Pasal 37 Bila perkawinan putus karena perceraian , harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing

Itulah hak dalam undang-undang. Tetapi jika boleh lebih menyarankan adalah berfikirlah secara baik-baik sebelum bercerai karena tadi telah dijabarkan akibat dari perceraian.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. faktor determinan penyebab terjadinya perceraian dalam keluarga adalah kurangnya kesiapan mental, permasalahan ekonomi, kurangnya komunikasi antar pasangan, campur tangan keluarga pasangan dan adanya perselingkuhan. Akibat dari perceraian tak hanya akan dirasakan oleh pasangan suami istri, namun juga oleh orang-orang di sekitar mereka. Perceraian sebenarnya dapat dihindari. Salah satu jalan yaitu dengan menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga. Ada berbagai tips yang dapat digunakan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Salah satunya diungkapkan oleh Wafaa Muhammad, dalam kitabnya Kaifa Tushbihina Zaujah Rumansiyyah. Tips tersebut adalah berupaya saling mengenal dan memahami, perasaan timbal-balik, setiap pihak harus hormat, berusaha menyenangkan pasangannya, mengatasi persoalan bersama, sikap qanaah, sikap toleransi kedua belah pihak, berterus-terang, kepedulian dan solidaritas, kearifan. Tips lain jugadiungkapkan oleh Henry A. Ozirney yang membahas bagaimana menjalani kehidupan dalam pernikahan rumah tangga yang harmonis agar tercapai kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga dalam bukunya yang berjudul Knot Happy: How Your Marriage Can Be. Tips tersebut adalah bersiaplah untuk berkorban, tetap punya waktu untuk diri sendiri, memelihara keintiman dan romantisme, pandai mengatur keuangan keluarga, berbagi tugas rumah-tangga dan pengasuhan anak, komunikasi jujur dan terbuka, jangan memendam masalah,

sadarilah anda berdua adalah pribadi yang berbeda, bersikap spontan, selalu mengingat hal-hal terbaik dalam diri pasangan. Perceraian bukan merupakan jalan satu-satunya dalam menyelesaikan

masalah. Jika ada masalah dalam satu keluarga, komunikasi yang baik dan pengertian adalah salah satu jalan keluarnya. Namun, apabila masalah tersebut sudah tidak menemukan titik terang atau jalan keluarnya, maka mungkin perceraian adalah solusi terbaik bagi pasangan suami istri tersebut. Akan tetapi, dalam memutuskan untuk bercerai, perlu diperhatikan apa dampak perceraian tersebut. Dampak yang dapat dirasakan oleh pasangan maupun keluarganya.

DAFTAR PUSTAKA

Ozirney, Henry. A. 2007. Knot Happy: How Your Marriage Can Be. New York : Tate Publishing&Enterprise From http://handokotantra.net/tips-agar-rumah-tangga-harmonis-dan langgeng.html http://www.indosiar.com/gossip/konflik-dhani---maia-makinmemanas_66090.html Wafaa Muhammad. Kaifa Tushbihina Zaujah Rumansiyyah. From

http://www.voa-islam.com/muslimah/artikel/2010/07/10/7969/10-tipskeharmonisan-pasangan-suami-istri/ http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00010448.html

Ozirney, Henry. A. 2007. Knot Happy: How Your Marriage Can Be. New York : Tate Publishing&Enterprise
tulis nama, kedua; tulis (tahun buku atau tulisan dibuat dalam tanda kurung) setelah itu beri (tanda titik), ketiga; tulis judul buku/tulisannya lalu beri (tanda titik) lagi, keempat; tulis alamat websitenya gunakan kata (from) untuk awal judul web dll setelah itu beri tanda koma, kelima; tulis tanggal pengambilan data tersebut ok. Seperti contoh dibawah ini:

Albarda (2004). Strategi Implementasi TI untuk Tata Kelola Organisasi (IT Governance). From http://rachdian.com/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&g id=27&Itemid=30, 3 August 2008

http://afrizaldaonk.blogspot.com/2011/01/manajemen-pendidikan.html