Anda di halaman 1dari 28

RETORIKA OASE DI PADANG PASIR: SEBUAH ANALISIS DIRKURSUS

STUDI RETORIKA DALAM BINGKAI HISTORIS PROPOSAL SKRIPSI diajukan untuk menempuh ujian sarjana pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

DANIEL RUSYAD HAMDANNY 210110080305

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI BANDUNG 2011

DAFTAR ISI

Daftar Isi Pendahuluan Latar Belakang Fokus Penelitian Maksud Penelitian Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian Kerangka Pemikiran Metodelogi Sumber Data Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Keabsahan Data Lokasi dan Waktu Penelitian Daftar Pustaka

2 3 3 8 9 10 10 11 19 20 22 23 24 27 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian Sesungguhnya di balik penjelasan itu terkandung sihir Muhammad Jika kau hendak menasehati, bicaralah dengan singkat dan padat. Sungguh perkataan yang panjang, sebagiannya meniadakan bagian lain (dari benak pendengarmu) Abu Bakar

Penelitian mengenai retorika, khususnya retorika pada masa Yunani dan Romawi, telah banyak dilakukan baik oleh sejarawan maupun sarjana komunikasi. Di antaranya Prof. Erik Gunderson dari Universitas Berkeley yang pada 2009 menyunting sebuah kompilasi esai ilmiah bertajuk Cambridge Companion to Ancient Rhetoric. Gunderson, dalam buku tersebut memaparkan kajian elaboratif perihal isuisu kompleks retorika di masa Yunani hingga Romawi yang dibedah dengan pendekatan analisis wacana (discourse analysis). Sebelum Companion Gunderson terbit, di tahun 2004, James Herrick, Guru Besar Ilmu komunikasi Universitas Winconsin menulis sebuah karya ilmiah yang memiliki setting serupa: The History and Theory of Rhetoric. Herrick secara kronologis merinci karakteristik retorika Yunani, Romawi, Abad Pertengahan, dan
3

retorika kontemporer. Tentu saja sebelum kedua buku itu terbit pun, telah ada ratusan bahkan ribuan penelitian serupa. Saking banyaknya, mungkin kita sudah akrab dengan aktor dan atribut yang menjadi ciri khas retorika Yunani dan Romawi. Sebut saja Homerus dengan Iliad dan Odisius-nya yang konon tergolong karya sastra tertua yang lestari dan isinya banyak diingat hingga masa kini. Perang Trojan, meski fiktif, menjadi wacana yang banyak dipersepsi sebagai setting sejarah pra kejayaan Yunani. Socrates, seorang filsuf yang tak pernah menulis satu buku pun, namun logika silogisme-nya, yang diperkenalkan oleh murid-muridnya, dikenal sepanjang masa. Corax, seorang sophist sekaligus pengacara yang pandai bersilat lidah dan dengan bakatnya itu ia mampu menyelamatkan banyak kliennya dalam proses pengadilan. Plato dengan bukunya: Gorgias dan Phaedrus, retor yang juga memiliki sekolah pertama dalam sejarah: Akademi Plato. Aristotles dengan De Arte Rhetorica keliru jika kita tak menganggap buku itu sebagai karya ilmiah pertama dalam kajian retorika. Tiga pendekatan argumentasi yang termasyhur: logos, pathos, dan ethos, muncul untuk pertama kalinya dalam De Arte karya Aristoteles. Kemudian Gorgias, sophist sekaligus retor yang mengenalkan konsep propriety yaitu proses adaptasi wacana ke dalam berbagai variable ekstrinsik retorika. Bicaralah sesuai dengan kondisi lawan bicara Anda, salah satu prinsip dalam konsep tersebut. Seluruh tokoh di muka dengan sekelumit atribut dan karya mereka secara otomatis mengingatkan kita pada retorika Yunani Kuno (Ancient Greek). Lalu di era Romawi, kita diingatkan pada Cicero dengan De Inventione serta karya

pamungkasnya, Ad Herenium. Dalam karya yang disebut terakhir itulah, pelajar


4

Kajian Retorika diperkenalkan dengan Lima Aturan Retorika (The Five Canons of Rhetoric) yang sampai detik ini bertahan dan menjadi alat utama dalam membedah keefektifan sebuah proses retorika. Masih di masa Romawi, Quintilian menjadi ikon guru retorika yang mengedepankan kaidah estetika. Penulis merasakan butuhnya pengayaan kembali kajian retorika. Jika setiap peradaban mampu menampilkan keelokan atau tepatnya kekhasan retorika, sebagaimana retorika Yunani yang mengedepankan logika- tampak dalam proses argumentasi- lalu retorika Romawi mengedepankan estetika dalam penyampaian pesan. Penulis menemukan sebuah fase dalam sejarah yang belum terpindai ke dalam kajian retorika, yakni fase akhir Peradaban Sasaniah dan Bizantium di Semenanjung Arabi menjelang kemunculan Peradaban Islam. Fase ini penulis anggap kritikal untuk diangkat karena dua alasan. Pertama, periode ini merupakan fase penerus sekaligus pembuka fase lainnya dalam sejarah: peralihan abad pertengahan yang dikenal sebagai dark ages menuju masa pencerahan atau renaissance. Sedangkan retorika tidak begitu populer pada abad pertengahan, tak pelak retorika pada saat itu dianggap mati suri. Rakhmat (2008:10) menguraikan kondisi retorika di masa itu bahwa membicarakan diganti dengan menembak. Retorika tersingkir ke belakang panggung. Para kaisar tidak senang mendengar orang yang pandai berbicara. Kondisi itu memberikan sebuah hipotesis bahwa sempat terjadi peralihan pemain dalam membangun tradisi retorika pada masa tersebut. Alasan kedua, sebagaimana retorika di masa Yunani dan Romawi, Retorika pada Periode Kemunculan Islam pun merujuk pada peralihan fase romawi helenistik
5

yang ditandai dengan runtuhnya peradaban Sasaniah dan Bizantium- memiliki kekhasan dan keunggulan tertentu yang peneliti percaya dapat memperkaya khazanah kajian retorika yang telah ada. Penulis memilih frasa Retorika Oase dengan sesekali menggunakan istilah Retorika Muhammaduntuk mempermudah ingatan pembaca ketimbang

menggunakan istilah yang lebih panjang: Retorika di Masa Kemunculan Islam yang Memperantarai Abad Pertengahan dan Masa Pencerahan. Objek formal dalam studi ini adalah retorika yang dibawakan oleh pendiri meskipun penulis lebih meyakininya sebagai penyambung- sekaligus penyebar ajaran atau agama Islam. Posisinya sebagai penyebar perdana agama ini relevan untuk merepresentasikan bagaimana kekhasan Retorika yang dikenalkan atau menjadi ciri khas Islam. Sebagaimana Aristotle mengakrabkan kita pada retorika Yunani, Cicero pada retorika romawi, dalam studi ini Muhammad pada retorika Peradaban Islam. Se Penulis terinspirasi oleh Nancy Worman, Ph.D. yang membedah retorika Yunani Kuno dengan pendekatan sejarah, lingusitik, dengan bingkai analisis diskursus dalam esainya yang bertajuk Fighting Words: Status, Stature, and Verbal Contest. Teori Speech Act dalam membedah Iliod kemudian menguraikan dialog antar tokoh di dalamnya dengan berbagai nuansa komunikasi yang tentu saja diimbangi lensa historis Yunani pada abad ke delapan sebelum masehi, Worman dengan cermat menguraikan retorika yang khas pada masa tersebut. Penulis juga terilhami oleh Prof. Dr. Abdul Halim Syalabi dari Universitas Qatar yang menguraikan keunggulan Fann Al-khitabah (Al Bayaan) atau retorika
6

sebelum dan setelah Islam dengan metode komparatif. Meski masih terkesan simplisistik tetapi Syalabi cukup membuka jalan analisis selanjutnya yang lebih holistik dan mendalam. Kajian Retorika Muhammad menurut penulis sangat penting dan relevan terhadap pengembangan ilmu komunikasi. Muhammad yang menjadi objek sentral dalam hal ini tidak saja memiliki daya pikat karena diyakini oleh sebagian ummat manusia-termasuk penulis- sebagai Nabi. Bahkan di luar label kenabian pun, Muhammad memiliki kualitas potensi kemanusiaan, khususnya kualitas

kepemimpinan yang diakui bukan saja oleh ummat Islam. Meski klasik, namun isu mengenai penempatan Muhammad sebagai urutan pertama dalam 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah oleh Michael H. Hart yang notabene beragama Yahudi adalah bukti betapa Muhammad adalah figur yang sangat disegani ummat manusia. Jika kita menyaratkan keefektifan persuasi sebagai tolok ukur kesuksesan retorika, penulis berkeyakinan perlunya mengambil sebuah kajian mendalam bagaimana sosok Muhammad sebagai hipotesis awal merujuk pada deskripsi Barnaby Rogerson dalam Biografi Muhammad- yang terlahir dalam suatu masyarakat tribalistis, penuh persaingan antarklan, dengan karakteristik iliteral, fanatik, dan pengaruh kekuasaan dua imperium adidaya, mampu menyatukan mereka semua di bawah naungan yang ia komunikasikan sebagai ajaran Tuhan. Komunikasi macam apa yang mampu melembutkan karakteristik masyarakat padang pasir yang dikenal keras. Mengubah fanatisme menjadi keingintahuan akan kebenaran (filsafat).
7

Menyatukan klan yang sekian lama jatuh dalam jurang permusuhan ke dalam persaudaraan yang tidak terikat darah dan materi. Penulis pernah menjadi pelajar (santriwan) di sebuah pesantren di Jawa Timur selama enam tahun, penulis cukup akrab dengan ilmu-ilmu bahasa Arab dan kajian mengenai fann al- khitabah atau balaghah -yang kerap disepadankan dengan termin retorika. Pengetahuan dasar ini menjadi modal sekunder penulis dalam menganalisis retorika Muhammad dengan kerangka analisis wacana yang berpijak pada model Discourse Analysis Van Dijk dan Model Rehetorical Discourse James A Herrick.

1.2. Fokus Penelitian Penelitian ini berupaya menganalisis retorika nabi yang dibatasi pada wacana Muhammad menyampaikan tiga kotbahnya, yakni kotbah perdana di Mekkah, kotbah kecaman terhadap tindakan kolutif, serta kotbah terakhir yang dikenal dengan khutbatu-l-wada atau kotbah perpisahan. Fokus penelitian berkisar pada daya tarik kotbah, bagaimana Muhammad membangun argumentasi dalam kotbahnya, proposisi serta penyusunan pesan kotbah, adaptasi kotbah dengan kondisi audiens, kekuatan kata serta motif historis yang berkaitan dengan pesan kotbah, dan pendekatan persuasif yang tampak dalam kotbah. Fenomena historis berupa kognisi sosial dan interaksi partisipan actual dengan segala atributnya yang menjadi preseden kotbah menjadi konteks dalam membedah kotbah Muhammad yang berperan sebagai teks.

1.3. Maksud Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacara (discourse analysis). Penulis, dengan metode tersebut, berupaya mengeksplorasi retorika Muhammad dibatasi pada Kotbah Perdana di Mekkah, Kotbah tentang Pencurian, dan Kotbah Pamungkas di Madinah- sebagai sebuah wacana yang ditelusuri dengan tiga pendekatan yaitu: Penggunaan bahasa (language use) Proses kognisi sosial (social cognition) Interaksi partisipan (interaction)

Penggunaan bahasa, dalam penelitian ini, adalah kotbah Muhammad yang berperan sebagai teks. Sedangkan proses kognisi sosial dan interaksi partisipan merupakan konteks yang dipengaruhi sekaligus mempengaruhi teks. Sehingga analisis wacana- merujuk pada definisi Van Dijk- dalam penelitian ini berbicara mengenai teks di dalam konteks. Kaitan teks dan konteks diuji dengan mengeksplorasi empat kritik konstruk yang dikembangkan Gill dan Whedbee sebagai berikut: Exigence (Isu sasaran) Audience (Audiens atau pendengar Aktual) Genre (Sifat atau karakteristik teks) Rhetor Credibility (Posisi sosial Muhammad di tengah audiens)

1.4. Tujuan Penelitian Penelitian ini pada akhirnya bertujuan menghadirkan gambaran atau deskripsi tentang Retorika Muhammad- sebagai suatu teks- yang khas dan aplikatif, disertai eksplorasi konteks yang melatari sekaligus memengaruhi teks tersebut. Gambaran yang penulis hadirkan merupakan hasil dari analisis kotbah dengan menjawab lima pertanyaan sebagai berikut: A. Bagaimanakah retorika Muhammad direncanakan? B. Bagaimanakah adaptasi retorika Muhammad terhadap audiens? C. Bagaimanakah motif manusia (human motives) muncul dalam retorika Muhammad? D. Bagaimanakah respon retorika Muhammad terhadap situasi yang melatarinya? E. Bagaimanakah teknik persuasi dalam retorika Muhammad? Uraian retorika Muhammad sebagai jawaban dari kelima pertanyaan tersebut diharapkan dapat menjadi bakal sebuah model Wacana Retorika Muhammad atau Wacana Retorika Nabi (Prophetic Rhetorical Discourse).

1.5. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini terbagi ke dalam dua bagian, yaitu kegunaan teoretis dan kegunaan praktis.

10

1.5.1. Kegunaan Teoretis Penelitian mengenai Retorika Muhammad ini diharapkan mampu memperkaya Ilmu Komunikasi pada umumnya dan Kajian Retorika pada khususnya Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi pendorong untuk diadakannya penelitian-penelitian serupa

1.5.2. Kegunaan Praktis Penelitian ini diharapkan mampu memberi sumbangsih bagi para orator (public speakers) pada umumnya dan para dai serta muballigh khususnya dalam mengenalkan kualitas dan karakteristik Retorika Muhammad yang aplikatif.

1.6. Kerangka Pemikiran 1.6.1. Analisis Wacana: Studi Teks di dalam Konteks Analisis Wacana (Discourse Analysis) merupakan studi teks di dalam konteks. Teks merupakan penggunaan bahasa dalam segala bentuknya. Pemahaman mengenai teks terus berkembang sesuai dengan perkembangan komunikasi, baik sebagai kajian ilmu ataupun fenomena sosial. Sedangkan konteks dalam analisis wacana dapat dipahami sebagai proses komunikasi keyakinan (communication of belief) yang dipengaruhi oleh kognisi sosial, dan interaksi yang terjadi pada saat penggunaan bahasa terjadi.

11

Analisis Wacana, sebagai sebuah studi, memiliki prinsip-prinsip sebagaimana studi lainnya. Van Dijk (1997:29) secara elaboratif merinci prinsip tersebut ke dalam dua belas butir sebagai berikut: Naturally Occuring Text and Talk. Analisis wacana mensyaratkan adanya pembicaraan atau teks yang terjadi apa adanya. Data atau objek yang dianalisis harus benar-benar murni tanpa melalui perubahan-perubahan terlebih dahulu. Context. Wacana merupakan dianalisis dan dikaji sebagai bagian konstitutif dari konteks lokal, global, sosial, dan kultural. Pembicaraan dan teks dalam berbagai cara memberikan isyarat relevansi kontekstual, dan sebab itu struktur-struktur konteks perlu diobservasi dan dianalisis secara mendetail. Discourse as Talk. Pembicaraan kerap kali dianggap sebagai dasar atau bentuk wacana primordial. Pada dasarnya, wacana tidak dibatasi pada teks atau pembicaraan tertentu, wacana bisa dalam bentuk pembicaraan formal maupun informal. Discourse as Social Practice of Members. Baik wacana tertulis (written discourse) maupun wacana terucap (spoken discourse) merupakan bentuk-bentuk dari praktik sosial dalam konteks sosio-kultural. Pengguna bahasa yang terlibat dalam wacana bukan sekadar pribadi- individu, melainkan juga anggota kelompok, institusi, atau budaya yang bervariasi. Members Category. Hal ini lumrah dalam analisis percakapan, untuk tidak memaksakan gagasan atau kategori yang dibentuk sebelumnya, peneliti dituntut

12

untuk menghargai cara anggota sosial mengintepretasi diri mereka, dan cara mereka mengkategori sifat atau karakteristik dunia sosial dan reaksi mereka atasnya, termasuk atas wacana. Sequentiality. Penyelesaian wacana bersifat linear dan sekuensial, dalam menciptakan dan memahami baik pembicaraan maupun naskah. Sifat pertama berlaku dalam setiap tingkat, unit-unit struktural (kalimat, proposisi, dan tindakan) harus dijelaskan atau diintepretasikan secara relatif pada unit sebelumnya. Relativitas diskursif juga melibatkan fungsionalitas, yakni elemen selanjutnya memiliki fungsi-fungsi khusus pada elemen sebelumnya. Prinsip ini juga berimplikasi bahwa pengguna bahasa saling memengaruhi baik secara mental dan interaksional. Constructivity. Di samping bersifat sekuensial, wacana juga bersifat konstruktif dalam arti bahwa unit-unit konstitutif wacana dapat, secara fungsional, digunakan, dipahami, atau dianalisis sebagai elemen dari bagian yang lebih besar, karenanya mampu menciptakan struktur hierarki. Levels and Dimension. Analis wacana cenderung mengiris, secara teoretis, menjadi beberapa lapis, dimensi, atau tingkatan- tingkatan, dan pada saat yang sama juga menghubungkan level-level tersebut. Lapisan, dimensi, atau tingkatan tersebut merepresentasikan tipe-tipe fenomena yang berbeda dan terlibat dalam wacana, seperti suara, bentuk pesan, makna, dan tindak. Pengguna bahasa di lain

13

pihak mengatur level-level atau dimensi wacana secara strategis dalam waktu yang bersamaan. Meaning and Function. Baik para pengguna bahasa maupun analis, keduanya (bekerja dengan) makna: dalam pemahaman dan analisis mereka, mereka mengajukan pertanyaan seperti Apa yang ia maksudkan di sini? atau Bagaimana hal ini masuk akal atau wajar dalam konteks tersebut? sebagaimana terjadi pada kasus atau prinsip lainnya, prinsip ini juga memiliki implikasi fungsional atau implikasi eksplanatori: Mengapa hal itu disebutkan di sini? Rules. Bahasa, komunikasi, sebagaimana wacana, seluruhnya diasumsikan memiliki aturan atau berwujud mengikuti kaidah (to be rule governed). Pembicaraan (Talk) dan Teks dianalisis sebagai manifestasi atau hubungan daripada aturan-aturan grammar, tekstual, komunikatif, atau aturan interaksi yang menjadi konsesnsus sosial. Pada saat yang bersamaan, bagaimanapun, kajian wacana actual berfokus pada bagaimana aturan dilanggar, diabaikanm satau diubah, dan apa fungsi diskursif atau fungsi sosial dalam kaitannya dengan pelanggaran yang tampak. Strategies. Selain aturan, pengguna bahasa juga mengetahui dan mempraktikan strategi-strategi expedient mental (pendekatan persuasive terapetik, pen.) dan interaksional dalam pemahaman serta penyelesaian wacana secara efektif dan dalam merealisasikan tujuan-tujuan komunikatif atau sosial. Relevansi strategi ini dapat dianalogikan dengan permainan catur: pemain catur membutuhkan

14

pengetahuan mengenai peraturan permainan untuk memainkan permainan tersebut pada giliran pertama, lalu ia perlu menggunakan taktik, gambit, dan pergerakan yang andal dalam strategi secara keseluruhan untuk bertahan atau menang. Social Cognition. Prinsip ini kurang dikenal, tetapi memiliki relevansi yang tak kurang penting dalam analisis wacana, yakni peranan kognisi fundamental: proses dan representasi mental dalam menciptakan dan memahami teks dan pembicaraan (talk). Hanya sedikit saja dari aspek-aspek wacana yang didiskusikan di muka (makna, koherensi, aksi atau tindak, dan sebagainya) yang dapat dipahami dan dijelaskan dengan baik, tanpa mendalami jalan berpikir (the mind) dari pengguna bahasa. Di samping ingatan pribadi dan pengalaman terhadap sebuah kejadian (models), representasi sosio-kultural yang sama-sama dimiliki secara consensus (pengetahuan, sikap, ideologi, norma, dan nilai) dari pengguna bahasa sebagai anggota kelompok juga memainkan peranan yang mendasar dalam wacana, sama halnya dalam deskripsi dan eksplanasi. Kognisi, diyakini dalam berbagai jalan dan cara, sebagai penghubung (interface) antara wacana dan masyarakat (discourse and society)

1.6.2. Kajian Retorika dalam Analisis Wacana Retorika, cetus Aristoteles dalam De Arte Rhetorica., tidak memiliki cakupan atau kajian pokok khusus tersendiri, karena ia ditemukan dimana-mana. Ricard Mckeon

15

(Booth, 2004:4) mengulangi ungkapan Aristotles tersebut, dalam bukunya Rhetoric: Essay on Invention and Discovery, bahwa retorika adalah seni yang universal dan arsitektonik. Kemana pun kita pergi, kita selalu menemukan retorika. Apapun yang kita lakukan, pasti mengandung retorika. Termenung pun, misalnya, merupakan kegiatan retorika. Itulah alasan Mckeon menganggap retorika universal. Arsitektonik berarti menawarkan sebuah struktur yang kemudian digunakan secara lintas disiplin keilmuwan. Retorika pada dasarnya menjawab bagaimana kita mengelola bahasa (sintaksis) dan mempergunakannya (pragmatis) secara efektif. Retorika juga menjawab bagaimana mengelola logika berpikir secara sistematis. Retorika, menurut Corbett (1990:5) adalah seni wacana yang bertujuan untuk meningkatkan kecakapan seorang pembicara atau penulis yang berupaya untuk memberi informasi, membujuk, atau memotivasi pendengar tertentu dalam situasisituasi tertentu. Definisi tersebut sangat akrab dengan teori-teori komunikasi yang memandang komunikasi secara pasif dan berlangsung secara linear. Definisi retorika yang lebih sempit dikemukakan oleh Cicero, Seorang Orator Ulung pada masa Romawi, dalam karyanya Ad Herenium, Retorika adalah seni besar yang terdiri dari lima seni kecil: inventio, dispositio, elocutio, memoria, dan pronunciatio. Ia merupakan pidato yang didisain untuk membujuk rayu (to persuade). Retorika dalam definisi tak lain merupakan teknik persuasi, bahkan penulis lebih memilih untuk menyebutnya manajemen pesan. Meski sangat sederhana, definisi Cicero terhadap retorika sangat powerful, terbukti bahwa sampai saat ini pembahasan mengenai retorika, khususnya yang
16

berkaitan dengan pragmatics, tak lepas dari lima seni kecil yang diungkapkan olehnya. Bahkan Ancient Rhetorics for Contemporary Students menjadikan lima seni kecil sebagai bab besar dengan uraian hampir lima ratus lembar. Wayne Booth dalam Rhetoric of RHETORIC mendefinisikan retorika sebagai cakupan seni yang menyeluruh, tidak hanya persuasi tetapi juga dalam menciptakan atau mengurangi kesalahpahaman Jika kita cermati definisi Booth dengan merekam pernyataan-pernyataan yang mendahului definisi tersebut dalam buku Rhetoric of RHETORIC, kesan yang timbul adalah sebuah upaya untuk mengembalikan retorika pada sifat kenetralannya. Retorika tidak seperti apa yang John Locke (Herrick 2004:1) yakini sebagai alat untuk menyusupkan ide-ide yang salah, menyesatkan pengadilan, dan sebagai tipuan yang benar-benar nyata. Retorika juga tidak semulia pemahaman Santa Agustinus: Retorika adalah seni menyampaikan (pesan) dengan jelas, secara indah (ketika dibutuhkan), secara persuasif, dan penuh dengan kebenaran-kebenaran yang dapat diketahui oleh akal secara cermat Retorika, merujuk pada definisi Booth, adalah netral. Ia bisa menjadi alat untuk menciptakan sekaligus membelokkan pemahaman manusia akan sesuatu. Universalitas objek kajian retorika menjadikan penelitian tentang retorika menjadi sangat kaya. Dewasa ini, penelitian mengenai retorika dilakukan dengan memadukan analisis objek kajian ditinjau secara multi-perspektif. The Gendered Pulpit Mountford misalnya, merupakan hasil studi retorika dan feminisme mengenai kondisi kotbah keagamaan di Amerika Serikat. Rhetoric of the Americas merupakan
17

studi retorika dan sejarah pembentukan bangsa Amerika. Dan penelitian retorika yang menjadi concern dalam proposal ini adalah kajian retorika dan sejarah yang menawarkan sebuah metode aplikatif, diantaranya Ancient Rhetoric for

Contemporary Students Sharon Crowley. Definisi retorika yang paling sesuai dengan kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah apa yang disampaikan James A. Herrick sebagai studi sistematis dan praktik ekspresi simbolik yang efektif dan menyengaja. Efektif, jelas Herrick berarti mencapai tujuan atau maksud dari pengguna symbol, baik berupa bujukan (persuaion), kejelasan (clarity), keindahan (beauty), atau pemahaman bersama (mutual understanding). Seni retorika dapat membuat penggunaan symbol lebih persuasif, lebih indah, diingat, kuat, cerdas, jelas, dan secara umum lebih mendorong. Dengan karakteristik tersebut, retorika merupakan seni mempergunakan symbol secara efektif. Penyajian seni retorika secara sistematis, gambaran mengenai elemen-elemen retorika (junctions) yang saling berpapasan, serta penjelasan tentang bagaimana retorika mencapai tujuan-tujuannya secara kolektif, jelas Herrick dipahami sebagai teori retorika. Kemudian, wacana (discourse) yang diciptakan (crafted) sesuai dengan prinsip-prinsip seni retorika, yang oleh sebab itu menjadi produk dari seni ini dinamai wacana retorika (rhetorical discourse) atau Herrick menyebutnya sekadar retorika. Wacana retorika, masih merujuk pada pemahaman James A, Herrick, memiliki lima karakterstik yang membedakannya dari tipe komunikasi lainnya. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
18

1. Retorika direncanakan 2. Retorika diadaptasikan dengan audiens 3. Retorika menampilkan motif-motif manusia 4. Retorika bersifat responsive terhadap situasi 5. Retorika berupaya mempersuasi

1.7. Metodelogi 1.7.1. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana (discourse analysis). Meski fokus penelitian menitik beratkan pada pesan retoris Nabi Muhammad dalam tiga kotbahnya yang masyhur di Mekkah dan Madinah, bukan berarti kerangka yang paling sesuai adalah tradisi semiotika. Karena Semiotika, sebagaimana dijelaskan oleh Littlejohn (2008:105), meski membantu dalam memahami pesan dan makna pesan, tetapi tidak terlalu memperhatikan situasi sosial dan cultural pada saat suatu pidato atau kotbah disampaikan. Sedangkan penelitian ini mencoba menganalisis teks language use, yaitu tiga kotbah Muhammad- melalui konteks yaitu proses kognisi sosial dan interaksi partisipan yang menjadi latar belakang teks yang saling mempengaruhi. Karena itu Discourse Analysis lebih tepat digunakan sebagai kerangka acuan penelitian ini. Menurut Jorgensen dan Phillips (2002:1) bahwa analisis diskursus adalah upaya untuk menganalisis cara-cara tertentu dalam membicarakan dan memahami dunia (atau suatu aspek dari dunia).
19

Analisis Diskursus merupakan metode yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa (pragmatics). Karena kedekatannya itu, Nancy Wood (2006:11) memahami diskursus sebagai bahasa dan konteks (pada saat bahasa itu dipergunakan). Analisis Diskursus merupakan sebuah metode terbuka dan tidak terikat. Terbuka dalam arti metode ini digunakan lintas disiplin ilmu sosial. Dan tidak terikat oleh framework atau bingkai teori-teori tertentu. Metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis yang didapatkan melalui studi kepustakaan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti sebagai subjek penelitian merupakan hal yang tak terpisahkan dari objek penelitian yang ditelitinya. Peneliti menganalisis berbagai literatur yang relevan sebelum akhirnya member intepretasi dan kesimpulan. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat intepretif (menggunakan penafsiran) yang melibatkan banyak metode dalam menelaah masalah penelitiannya. (Mulyana: 2007:5).

1.7.2. Sumber Data Sumber data utama yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah literatur mengenai retorika dalam kotbah Nabi Muhammad edisi asli dan bukan saduran atau terjemahan- dan buku-buku sejarah sebagai data utama yang mendukung eksplorasi konteks: kognisi sosial dan interaksi partisipan dalam kotbah. Buku mengenai

20

psikologi dan bahasa menjadi pemerkaya dalam analisis pada bagian-bagian tertentu, khususnya dalam sub bagian sintaksis dan semantik dalam penelitian. Berikut adalah literatur utama sebagai sumber data dalam penelitian ini: Al-Kamil karya Ibnu Atsir As-Shahih Al-Bukhari karya Imam Bukhari As-Shahih Al-Muslim karya Imam Muslim Al Khitabah Wa Idaadul Khatiib karya Dr. Abdul Jalil Syalabi Madinatul Balaghah karya Syaikh Musa Zanjani Al-Tarikh at Tabari karya Abu Jafar Muhammad Bin Jarir At-Tabari Jawahiru-l-Balaghah karya Ahmad Al Hasyimi Arabic Rhetoric: A Pragmatic Analysis karya Hussein A Raof Muhammad: His Life Based on the Earliest Source karya Martin Lings The Arabs: A History karya Eugeune Rogan The History and Theory of Rhetoric James A Herry Discourse As Structure And Process karya Teun A Van Dijk Society and Discourse karya Teun A. Van Dijk Discourse and Social Psychology karya Potter dan Wetherell Understanding Muhammad: A Psychobiography karya Ali Sina The Rhetoric of Power in Late Antiquity: Religion, Politics in Byzantium, Europe, and the Early Islamic World suntingan Robert M. Frakes, Elizabeth D. Digeser, dan Justin Stephen

21

1.7.3. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini hampir sepenuhnya dikerjakan dengan teknik telaah atau studi kepustakaan. Adapun teknik lainnya hanya merupakan pelengkap atau membantu teknik utama saja dalam memastikan validitas serta reliabilitas data saja. Studi kepustakaan, sebagai teknik utama dalam penelitian ini, penulis membaca banyak buku, majalah, diktat, atau jurnal untuk mendukung penelitian. Literatur yang menjadi rujukan bertemakan: a. Retorika dan analisis wacana b. Sintaksis, semantic, dan pragmatik c. Sejarah, khususnya sejarah Arab pada masa kehadiran Islam d. Hadits e. Biografi Muhammad atau Sirah Nabawiyyah f. Ilmu Bahasa Arab, khususnya mengenai Fann Al-Khitabah

Teknik pelengkap dalam penelitian adalah sebagai berikut: Wawancara, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa teoretisi dan praktisi retorika, ahli sejarah Islam dan timur tengah serta ahli bahasa arab. Dokumentasi, mempelajari arsip-arsip dan berbagai film dokumenter tentang Muhammad dan Sejarah Islam di Jazirah Arab

22

1.7.4. Teknik Analisis Data Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini bersifat induktif atau Bottom-Up Approach. Bottom-up approach (Woods, 2006:12) merupakan upaya untuk memulai analisis suatu wacana yang dimulai dengan analisis terhadap pola komunikasi verbal dan noverbal yang digunakan dalam wacana. Lalu analis, dalam hal ini, mencari suatu bukti dan motif-motif tertentu yang menyebabkan wacana tersebut dikonstruksi. Penggunaan kata yang langka, pemilihan kalimat dan atau frase, pengulangan-pengulangan, komposisi pesan, penekanan, dan lain sebagainya. Seiddel dalam Moleong (2007: 248) analisis data kualitatif prosesnya berjalan sebagai berikut: Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan demikian hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya. Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum.

1.7.5. Keabsahan Data Secara umum validitas adalah kebenaran dan kejujuran sebuah deskripsi, kesimpulan penjelasan, tafsiran, dan segala jenis laporan (Alwasilah, 2002: 169). Suatu temuan
23

atau data dalam penelitian kualitatif dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian. Validitas membuktikan bahwa yang diamati sesuai dengan realita yang sesungguhnya terjadi serta membuktikan penjelasan yang diberikan sesuai dengan yang sebenarnya terjadi pula. Patut diketahui bahwa kebenaran realitas data menurut penelitian kualitatif tidak bersifat tunggal, tetapi jamak dan tergantung pada konstruksi manusia, dibentuk dalam diri seorang sebagai hasil proses mental tiap individu dengan berbagai latar belakangnya. Validitas internal merupakan ukuran tentang kebenaran data yang diperoleh dengan instrumen yakni apakah instrumen itu dilakukan dengan sungguh-sungguh mengukur variabel yang sebenarnya (Nasution, 1992: 105). Validitas internal pada penelitian kualitatif menggambarkan konsep yang ada pada penelitian dan konsep yang ada pada partisipan. Validitas internal mengusahakan tercapainya aspek kebenaran hasil penelitian sehingga dapat dipercaya. Data-data yang diperoleh harus diakui atau diterima kebenarannya oleh sumber informasi dan data-data tersebut harus dibenarkan oleh sumber atau informan lainnya. Ukuran kebenaran pada penelitian kualitatif disebut kredibilitas. Peneliti akan melakukan triangulasi sumber, waktu dan teknik sebagai teknik uji kredibilitas data. Adapun pengertian dari ketiga teknik tersebut menurut Sugiyono, bahwa triangulasi sumber adalah cara mengecek data yang telah diperoleh melalui

24

beberapa sumber, sedangkan triangulasi waktu adalah cara penguji kredibilitas data dengan melakukan pengecekan dalam waktu atau situasi yang berbeda. Triangulasi teknik adalah cara pengujian kredibilitas data dengan menggunakan teknik yang berbeda, adapun teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hal terkahir yang dilakukan dalam menguji kredibilitas data adalah member check, peneliti melakukan proses pengecekan data kepada pemberi data. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh para pemberi data berarti data tersebut valid, sehingga semakin kredibel. Validitas eksternal pada penelitian kuantitatif berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut diambil. Validitas eksternal dalam penelitian kualitatif menggunakan istilah transferability atau keteralihan. Nilai transfer ini berkenaan dengan pertanyaan, sampai mana hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan dalam situasi lain. Moleong (2007: 324) mengatakan: Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan hal tersebut seorang peneliti hendaknya mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Maka peneliti dalam membuat laporannya harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Dengan demikian pembaca menjadi jelas atas hasil penelitian tersebut, sehingga dapat memutuskan dapat atau tidaknya untuk mengaplikasikan hasil penelitian tersebut di tempat lain.
25

Moleong sendiri mengungkapkan, usaha membangun keteralihan dalam penelitian kualitatif jelas sangat berbeda dengan nonkualitatif dengan validitas eksternalnya. Hal itu dilakukan dengan cara uraian rinci (thick description) dalam penelitian kualitatif. Teknik ini menuntut peneliti agar melaporkan hasil penelitiannya sehingga uraiannya itu dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang

menggambarkan konteks tempat penelitian dilaksanakan. Jelas laporan itu harus mengacu pada fokus penelitian. Uraiannya harus mengungkapkan secara khusus sekali segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar ia dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh. Reliabilitas menunjukkan adanya konsistensi, yaitu memberikan kesamaan hasil sehingga dapat dipercaya. Istilah reliabilitas tidak digunakan dalam penelitian kualitatif, melainkan dependability. Pengujian dependability dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independen, atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Bagaimana peneliti mulai menentukan masalah/fokus, memasuki lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data, sampai membuat kesimpulan data, melakukan uji keabsahsan data, sampai membuat kesimpulan harus dapat ditunjukkan oleh peneliti. Jika peneliti tidak mempunyai dan tak dapat menunjukkan jejak aktivitas lapangannya, maka dependabilitas penelitiannya patut diragukan (Sanafiah Faisal dalam Sugiyono, 2007: 131).
26

1.7.6. Lokasi dan Waktu Penelitian

1.7.6.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini bersifat on-the-table-research atau penelitian-di-atas-meja. Proses penelitian dapat berlangsung dimana saja dengan syarat ketersediaan sumber data dan alat atau kebutuhan teknis penelitian. Wawancara dengan ahli, dilaksanakan di tempat dan pada kesempatan yang sesuai dengan kesiapan narasumber.

1.7.6.2. Waktu Penelitian Penelitian memakan waktu sekurangnya tiga bulan. Dimulai pada bulan Desember 2011 dan berakhir pada bulan Februari 2012.

27

1.8. Daftar Pustaka Dijk, Teun A.Van. 1997. Discourse As Structure And Process. Sage Publication, Inc. London. Dijk, Teun A.Van. 2009. Society and Discourse. Cambridge University Press. New York. Griffin, Em. 2012. A First Look At Communication Theory. McGraw Hill Companies, Inc. New York Herrick, James. A. 2006. The History and Theory of Rhetorics. Sage Publication. London Littlejohn. Stephen W.; Karen A. Foss. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. Sage Publication, Inc. Thousand Oaks

28