Anda di halaman 1dari 19

MENGENAL MORFOLOGI DAUN DAN SIFAT-SIFAT PESTISIDA I.

Tujuan Mahasiswa dapat memahami sifat-sifat morfologi daun dan sifat-sifat pestisida. II. Landasan teori Daun tanaman memiliki sifat morfologi yang beragam, diantaranya yaitu lapisan lilin, berambut (trichoma), dan permukaan (bergelombang/tidak). Rambut yang ada pada permukaan daun mengurangi kontak dan penyebaran pestisidasehingga menghambat penyerapan pestisida pada daun. Lapisan lilin menyebabkan mengurangi daya pelekatan dari pestisida. Demikian pula permukaan daun yang tidak rata mengurangi perataan sebaran pestisida. Sifat-sifat daun tersebut menurunkan efektifitas pestisida, terutama racun kontak dan perut. Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973. Dalam peraturan tersebut antara lain ditentukan bahwa: 1. 2. 3. Tiap pestisida harus didaftarkan kepada Menteri Pertanian melalui Komisi Hanya pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Pestisida yang penggunaannya terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pestisida untuk dimintakan izin penggunaannya. Menteri Pertanian boleh disimpan, diedarkan dan digunakan. Pertanian hanya boleh disimpan, diedarkan dan digunakan menurut ketentuanketentuan yang ditetapkan dalam izin pestisida itu.

4.

Tiap pestisida harus diberi label dalam bahasa Indonesia yang berisi

keterangan-keterangan yang dimaksud dalam surat Keputusan Menteri Pertanian No. 429/ Kpts/Mm/1/1973 dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pendaftaran dan izin masing-masing pestisida. Dalam peraturan pemerintah tersebut yang disebut sebagai pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk: 1. 2. 3. 4. 5. 6.
7.

Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, Memberantas gulma. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, Memberantas atau mencegah hama luar pada ternak dan hewan piaraan. Memberantas atau mencegah hama air. Memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit

bagian tanaman atau hasil pertanian.

diinginkan. kecuali yang tergolong pupuk.

tangga. 8. pada manusia atau binatang yang dilindungi, dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air. Sesuai dengan definisi tersebut di atas maka suatu bahan akan termasuk dalam pengertian pestisida apabila bahan tersebut dibuat, diedarkan atau disimpan untuk maksud penggunaan seperti tersebut di atas. Jenis-Jenis Pestisida Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis yaitu : Insektisida Insektisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, kutu

busuk, rayap, dan semut. Contoh : basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, diazinon,dll. Fungisida Fungisida adalah pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan jamur/ cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar daun. Contoh : tembaga oksiklorida, tembaga (I) oksida, carbendazim, organomerkuri, dan natrium dikromat. Bakterisida Bakterisida adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang meyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu. Rodentisida Rodentisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa hewan pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras atau jagung. Hanya penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak yang memakannya. Contohnya : Warangan. Nematisida Nematisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanaman berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet. Herbisida Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll. Contoh ammonium sulfonat dan pentaklorofenol. Herbisida (dari bahasa Inggris

herbicide) adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. III. Alat dan bahan Bahan yang digunakan terdiri dari daun-daun tanaman (jagung, kacang panjang, ketela rambat, padi, talas, sawi), insektisida berfomulasi AS, EC, S, WP dan sticker. Adapun alat yang digunakan adalah mikroskop, beker glass, timbangan, pipet, pengaduk, Hand sprayer. IV. Prosedur Kerja Kecepatan dan kestabilan larutan pestisida 1. 2. 3. Teteskan pestisida untuk masing-masing formulasi (AS, EC, S, WP) kedalam 100ml air pada beker glass. Amati (bandingkan) kecepatan pelarutan formulasi masing-masing pestisida tersebut. Tandai dan catat dalam table pengamatan. Pengamatan morfologi permukaan daun
1. Amati bentuk morfologi permukaan daun (jagung, kacang panjang, ketela

rambat, padi, talas)khususnya mengenai kepadatan trachoma,kandungan lilin, kerataan permukaan daun. 2. 3. 4. Tetesi permukaan daun-daun tersebutdengan air biasa dengan menggunakan pipet. Lakukan dengan cara yang sama (seperti pada langkah ke dua) dengan menggunakan larutan pestisida. Amati (bandingkan antara 2 dan 3) sifat-sifat pelekatan, sebaran pestisidanya.

Peningkatan pelekatan pestisida 1. 2. Dua larutan pestisida yang telah tersedia disiapkan pada beker glas A dan B (pada beker glas A ditambahkan sticker, dan beker glas B tanpa sticker). Daun sawi dicelupkan pada larutan beker glas A atau beker glas B, lalu dikering anginkan.
3. Air disemprotkan (sebagai simulasi pencucian air hujan) sebanyak 0, 10, 20,

30 kali semprot, lalu kering anginkan. 4. 5. 1. 2. Sawi yang telah dikering anginkan dimasukkan kedalam petri, dan kemudian diberi serangga (jangkerik) sebanyak 5 ekor pada tiap cawan. Amati mortalitasnya selama 2x24 jam. Amati jenis-jenis pestisida yang tersedia (nama pastisida, formulasi, bahan, sasaran, dan konsentrasinya) pada label pestisida. Catat hasilnya pada lembar pengamatan. Pengenalan pestisida

V. Data Pengamatan Tabel 1. Pemantapan Larutan Jenis Pestisida Kecepatan Pelarutan Kesetabilan larutan EC (Decis) + +++ WP (Mipcindo) +++ ++ S (Sevin) ++ + AS (Boswilang) ++++ ++++ Keterangan: a. Pelarutan b. Kesetabilan larutan ++++= Sangat cepat ++++= Sangat stabil +++ = Cepat +++ = Stabil ++ = Agak cepat ++ = Agak stabil + = Lambat + = Tidak larutan Tabel 2. Pengamatan Morfologi Daun
Jenis Daun Jagung Kacang panjang Padi Talas Ketela rambat Jumlah Trikoma 56 1 21 7 5 Lapisan Lilin +++ ++ ++ +++++ ++++ Bentuk Permukaan Rata Bergelombang -

Keterangan: +++++ = Sangat banyak ++++ = Banyak +++ = Agak banyak ++ = Sedikit

Tabel 3. Kepekatan dan Penyebaran


Jenis Daun Formulasi Jagung Kacang panjang Padi Talas Ketela rambat +++ +++++ +++++ +++ +++ +++ +++ + ++++ ++++ ++++ +++ +++ ++ ++++ ++++ +++ + +++ +++ ++++ +++++ +++++ ++++ +++ + ++++ +++ +++++ Air S L S AS L S S L S WP L S EC L

Keterangan: +++++ = Sangat lekat ++++ = Lekat +++ = Agak lekat + = Tidak lekat Tabel 4. Peningkatan Pelekatan Peptisida ( mortalitas jangkerik ) Perlakuan Hari ke Rata-rata 1 2 Pestisida+Sticker 0 3 4 7 3.5 10x semprot 1 2 3 1.5 20x Semprot 2 2 4 2 30x semprot 3 4 7 3.5 Pestisida 0 4 4 8 4 10x semprot 4 4 8 4 20x Semprot 4 5 9 4.5 30x Semprot 3 3 6 3

Tabel 5. Pengenalan pestisida


No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Pestisida Betador Insektisida Sevin Insektisida Verticilum sp Basmilang (Herbisida) Mipcindo Agrimicin Virtako Formulasi 10 WP 85 S Verticillum sp 480 AS 50 WP 15.1,5 WP 300 SC Bahan Imidak loprid 10% Karbaril 85% Verticillum sp Insopropilanina glifosfat MIPC 50% -Streptomicin sulfat 15% -Oksifetra siklin Klorantaniliprol 100g/l Tiamentoksam 200g/l Etofenproks 94,27 g/l Metomil 40% Bacillus thuringensis var Aizawa sefotipe 7: 7500 lv/mg Alikyl alcohol Ethoxylate Karbosulfan 200g/l Deltametrin 25g/l Carbofuran 3% Asam fosfit 400g/l Mankozeb 80% Sipermetrin 50g/l Sasaran Serangga Serangga Tanaman kopi Kepinding tanah Alang-alang dan gulma Serangga Bakteri -Penggerek batang padi kuning -Wereng coklat Serangga Konsentrasi 0,4gr/l 2g/l 500 l/ha 480 g/l 1-2g/l air -100-150ml/ha -150-200ml/ha -Padi, wereng coklat 1l/ha. Kedelai ulat gryak 1-2 ml/l Cabai; ulat grayak 1-2 g/l Kubis:1-2ml/l Volume semprot 300600/ha Pada; wereng coklat 0,51l/ha Padi; wereng hijau 17 kg/ha 5-8ml 300-400l/ha 1ml/l

Trebon

95 EC

9 10

Metindo Florba

40 SP -

Serangga Serangga

11 12 13 14 15 16 17

Libsorb Marshal 200 SC Decis Furadan Folirfos Dithane M45 Sidametrin

200 SC 25 EC 400 AS 50 EC

Serangga Serangga Serangga

Cendawan Serangga

VI. Pembahasan

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Secara umum ada banyak sekali jenis formulasi pestisida telah dikembangkan untuk kepentingan pemakai dan telah tersedia di pasar. a) Emulsifiable Concentrate (EC) EC merupakan formulasi insektisida yang paling umum dan banyak diproduksi. Formulasi ini terdiri dari aktif teknis, cairan pelarut untuk bahan aktif dan perantara emulsi (Emulsifier). Suatu emulsi minyak-dalam air- terbentuk bila formulasi ini dicampur dengan air sehingga terbentuk cairan seperti susu. Emulsifier memungkinkan melarutkan bahan kimia yang sukar larut dalam air. Juga bahan ini mengurangi tekanan permukaan dari semprotan sehingga dapat lebih menyebar dan membasahi permukaan yang disemprot. Zat ini pula yang memungkinkan kontak yang lebih baik dengan kutikula serangga. Praktikum yang telah dilakukan pada pengujian pemantapan larutan, kecepatan pelarutan pestisida EC (Decis) berjalan lambat (+), dan kestabilan larutannya dikatakan stabil (+++). b) Wettable Powders (WP) WP atau tepung basah merupakan formulasi yang umum digunakan setelah EC. WP merupakan formulasi pestisida kering yang agak pekat yang ditujukan agar dapat larut dan diencerkan dalam air untuk disemprotkan. Suatu partikel suspensi terbentuk apabila dicampurkan dengan air. Hal ini dapat diperoleh dengan menambahkan surfaktan sebagai bahan penyebar dan pembasah. Dibandingkan dengan EC, WP mempunyai toksisitas pada tanaman yang lebih rendah, tetapi sayangnya WP kurang baik untuk alat penyemprot sehingga alat menjadi kurang awet, sering macet pada nozzle sehingga sewaktu disemprotkan harus sering dilakukan pengadukan. Praktikum yang telah dilakukan pada

pengujian pemantapan larutan, kecepatan pelarutan pestisida WP (Mipcindo) berjalan cepat (+++), dan kestabilan larutannya dikatakan agak stabil (++). c) Solution Formulasi S atau larutan dibuat dengan melarutkan insektisida pada zat pelarut organik untuk dapat digunakan secara langsung bagi pengendalian hama. Formulasi ini jarang digunakan pada tanaman karena dapat menyebabkan fitotoksisitas yang gawat. Penggunaannya sering untuk pengendalian seranggaserangga yang menyerang ternak dan pengendalian jentik-jentik nyamuk yang ada pada permukaan air. Suatu jenis khusus suatu formulasi larutan yang berkonsentrasi tinggi yang saat ini sering digunakan pada daerah-daerah yang sering kesulitan air adalah formulasi ULV (Ultra Low Volume). Formulasi ULV disemprotkan langsung tanpa memerlukan air tetapi memerlukan alat penyemprot khusus seperti mikron air yang dapat menghasilkan butiran semprot yang sangat lembut. Apabila kondisi cuaca memungkinkan (kecepatan angin rendah) dan cara penyemprotannya benar, maka penyemprotan dengan ULV sangat ekonomis karena selain menghemat air juga jumlah insektisida yang digunakan lebih sedikit bila dibandingkan dengan formulasi EC. Praktikum yang telah dilakukan pada pengujian pemantapan larutan, kecepatan pelarutan pestisida S (Sevin) berjalan agak cepat (++), dan kestabilan larutannya dikatakan tidak stabil (+). d) Soluble Powder Berbeda dengan formulasi WP, SP dapat larut dalam air membentuk suatu larutan yang sesungguhnya. Formulasi ini berupa bubuk kering yang dapat larut dan mengandung 75-95% bahan aktif. Bahan inert berupa adjuvant untuk menyebarkan dan melekatkan insektisida pada permukaan tanaman. Pengadukan mula-mula diperlukan tetapi setelah terjadi larutan pengadukan tidak diperlukan lagi. Relatif hanya sedikit macam insektisida yang dapat diformulasikan dengan cara ini. e) Aerosol Aerosol merupakan formulasi yang paling sering digunakan untuk insektisida yang digunakan dalam rumah tangga, di pekarangan, atau di dalam rumah kaca. Dalam pembuatan formulasi ini insektisida lebih dahulu dilarutkan

dalam zat pelarut berupa minyak yang menguap. Larutan ini kemudian diberi tekanan udara dalam kaleng dengan gas propelan seperti karbondioksida atau fluorokarbon. Apabila disemprotkan larutan akan menjadi partikel-partikel yang sangat kecil dan secara cepat menguap meninggalkan droplet-droplet mikroskopik di udara. f) Flowable Powder Pada beberapa keadaan senyawa insektisida hanya dapat dibuat dalam bentuk padat atau semi padat. Untuk menambahkan keuntungan sifat pencampuran formulasi EC dan larutan senyawa yang padat tersebut kemudian digiling secara basah dengan diluen lempung dan air, sehingga diperoleh bahan teknis yang tergiling halus dan basah sehingga bentuknya seperti puding. Formulasi ini kemudian dapat dicampur dengan air sehingga dapat disemprotkan. Karena keadaannya yang demikian formulasi F dalam penggunaannya harus selalu diaduk agar insektisida tidak keluar dari suspensi dan mengendap pada dasar tangki penyemprot. g) Dust (D) Formulasi dust atau debu merupakan formulasi insektisida yang paling tua dan sederhana. Formulasi tersebut diperoleh dengan menggiling toksikan atau insektisida menjadi serbuk yang halus kemudian dicampur dengan bahan organik seperti tepung tempurung tanaman wallnut, bubukan mineral profilit, bentonik dan talk. Persentase bahan aktif insektisida biasanya berkisar antara 1-10%. Formulasi dust mungkin aplikasinya yang paling mudah, cukup dengan alat duster yang sederhana hingga insektisida dapat dikenakan pada tanaman. Tetapi formulasi ini merupakan formulasi yang paling tidak efektif dan tidak ekonomis terutama bila digunakan di luar karena banyak yang terhembus oleh angin (drift) sehingga sangat sedikit yang mengenai sasaran. Kelemahan yang lain bahwa formulasi ini berbahaya bagi lebah madu dan imago parasitoid yang termasuk hymenoptera sehingga prospek penggunaannya untuk PHT kurang baik. h) Granules (G) Formulasi granule atau butiran ini dibuat dengan memberikan insektisida cair pada partikel-partikel kasar dari bahan yang mudah menyerap. Partikel-

partikel ini dapat dibentuk dari tongkol jagung, tempurung tanaman wallnut, lempung atau bahan lainnya. Insektisida diserap kedalam butiran dan kemudian di sebelah luar ditutup oleh suatu lapisan. Kandungan bahan aktif antara 2% sampai 40%. Karena ukuran butiran lebih besar daripada dust maka formulasi G lebih aman bagi pemakai dibanding formulasi D atau EC karena mengurangi kemungkinan dihirup. Penggunaannya di lapangan adalah dengan menyebarkan di sekitar tanaman atau membenamkan ke dalam tanah di sekitar pangkal tanaman. Oleh karena itu formulasi G paling banyak digunakan untuk mengendalikan hama-hama di tanah atau untuk aplikasi insektisida sistemik seperti Karbofuran 3G untuk pengendalian hama penggerek batang padi. i) Poisonous Baits (B) Formulasi B atau umpan beracun menggabungkan bahan yang dapat dimakan hama atau yang menarik hama dengan insektisida agar meningkatkan efektivitas perlakuan. Jenis umpan sangat bervariasi tergantung pada renspos hama terhadap umpan. j) Slow Release Formulations (SR) Dalam pemakaian berbagai formulasi insektisida umumnya efektivitasnya berjangka pendek sehingga agar diperoleh hasil pengendalian yang optimal perlu diadakan perlakuan insektisida beberapa kali dalam satu musim tanam yang dapat meningkatkan biaya pengendalian. Muncullah keinginan untuk memperoleh formulasi yang memungkinkan pengaruh insektisida dapat diperpanjang dan tidak sering diadakan pengulangan perlakuan agar dapat lebih menghemat biaya. Saat ini telah dapat diproduksikan berbagai bentuk formulasi SR seperti Kepingan Lalat atau Fly Strip, Kerah Kutu Anjing, atau Flea Collars. Bentuk SR lain adalah mikroencapsulasi insektisida. Contohnya mikroencapsulasi methyl paration. Disini insektisida diselimuti oleh kapsul yang mempunyai lubang-lubang mikroskopis sehingga insektisida keluar dari kapsul secara berlahan-lahan. Dengan menggunakan formulasi tersebut diharapkan petani dapat mengurangi jumlah aplikasi, tidak harus tepat dalam menetapkan waktu pengendalian, dan mengurangi bahaya bagi pekerja. Tetapi jenis formulasi ini sebaliknya akan

memperpanjang acanaman dan bahaya bagi serangga yang bermanfaat seperti lebah madu dan imago parasitoid dan predator. Daun memiliki beberapa sifat morfologi, diantaranya yaitu trachoma (bulu daun), lapisan lilin, bentuk permukaan. Dalam praktikum ini pengamatan dilakukuan dengan mengamati jumlah trachoma, lapisan lilin, dan bentuk permukaan daun (jagung, kacang panjang, ketela rambat, padi, talas). Pada daun jagung memiliki jumlah trikoma 56 buah, lapisan lilin agak banyak (+++), dan bentuk permukaannya bergelombang. Pada daun kacang panjang memiliki jumlah trikoma 1 buah, lapisan lilin sedikit (++), dan bentuk permukaannya bergelombang. Pada daun ketela rambat memiliki jumlah trikoma 5 buah, lapisan banyak (++++), dan bentuk permukaannya rata. Pada daun padi memiliki jumlah trikoma 21 buah, lapisan lilin sedikit (++), dan bentuk permukaannya bergelombang. Pada daun talas memiliki jumlah trikoma 7 buah, lapisan sangat banyak (+++++), dan bentuk permukaannya rata. Rambut yang ada pada permukaan daun mengurangi kontak dan penyebaran pestisidasehingga menghambat penyerapan pestisida pada daun. Lapisan lilin menyebabkan mengurangi daya pelekatan dari pestisida. Demikian pula permukaan daun yang tidak rata mengurangi perataan sebaran pestisida. Sifat-sifat daun tersebut menurunkan efektifitas pestisida, terutama racun kontak dan perut. Pengujian pestisida racun perut yang dilakukan pada praktikum ini menggunakan bahan daun sawi yang dicelupkan pada pestisida+stricker, dan tanpa sticker. Diperoleh hasil mortalitas jangkerik selama 2x24 jam yaitu: 1. Pada perlakuan pestisida+sticker jumlah rata-rata mortalitas jangkerik yaitu 10,5, dan mortalitas yang paling banyak pada perlakuan ini yaitu pada daun tanpa disemprot dengan air, hal ini dapat dilihat pada hasil table 4.
2. Pada perlakuan pestisida+sticker jumlah rata-rata mortalitas jangkerik yaitu

15,5, dan mortalitas yang paling banyak pada perlakuan ini yaitu pada daun tanpa disemprot dengan air, hal ini dapat dilihat pada hasil table 4. Dengan demikian antara perlakuan pestisida+stricker dengan tanpa stricker yang lebih efektif untuk mempercepat mortalitas yaitu pada perlakuan pestisada tanpa stricker dengan ditunjukan jumlah rata-rata mortalitasnya sebanyak 15,5.

Pestisida memiliki bermacam-macam jenis diantaranya yaitu insektisida, fungisida, herbisida, nematisida, rodentisida, bakterisida, dan lain-lain. Pada praktikum pengenalan pestisida kebanyakan pestisida yang digunakan yaitu jenis insektisida pembasmi serangga, seperti Betados, Sevin, Mipicindo, Virtaco,Metindo, Trebon, Florba C, Marshal, Decis, Furadan, dan Sidamethrin. Sedangkan yang berfungsi sebagai herbisida yaitu Basmilang, pembasmi bakteri yaitu Agrimicyn, pembasmi jamur Folirfos, dan pembasmi cendawan yaitu Dithane M-45. VII. Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan a) Daun memiliki sifat-sifat morfologi diantaranya yaitu: trichoma (bulu pada permukaan daun), lapisan lilin, bentuk permukaan daun. Sifat-sifat morfologi tersebut dapat mempengaruhi efektifitas penyebaran pestisida, terutama racun kontak dan racun perut.
b) Pestisida merupakan substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan

virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Pestisida memiliki berbagai formulasi, dan formulasi tersendiri terdiri atas bahan aktif dan bahan ramuan (bahan pembawa, perekat, pewarna, aroma). Adapun formulasi pestisida diantaranya yaitu: Emulsifiable Concentrate (EC), Wettable Powders (WP)/tepung, Solution (S)/larutan, Soluble Powder (SP)/serbuk kering, Aerosol, Flowable Powder, Dust (D)/debu, Poisonous Baits (B), Slow Release Formulations (SR), dan lain-lain. B. Saran a) Setelah diketahui sifat-sifat pestisida, sebaiknya dalam penggunaannya lebih bijak, dengan tidak berlebihan dalam menggunakannya. b) Cara pemberian pestisida sebaiknya diperhatikan pula sifat morfologi daun (trichoma, lapisan lilin, bentuk permukaan) yang akan diberi pestisida, sebab hal ini menentukan efektifitas pestisida tersebut.

Daftar Pustaka Arfamilzam. 2010. Arti Kode Peptisida. (On-line) Http://www.kaskus.us, diakses 20 April 2011. Ardiant.2009. Penggolongan Pestisida. (On-line)http://ardiant181.wordpress.com, diakses 19 April 201. Djafaruddin.2008.Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman.Bumi Aksara:Jakarta. Nuraini, Siti. 2011. Pestisida. (On-line) Http://www.blogspot.com, diakses 20 April 2011. Zaif. 2010. Pestisida. (On-line) Http://www.bioweb.wku.edu, diakses 20 April 2011.

LAPORAN PRAKTIKUM PESTISIDA DAN BIOPESTISIDA PERTANIAN


ACARA I MENGENAL MORFOLOGI DAUN DAN SIFAT-SIFAT PESTISIDA

Semester Genap 2010/2011 Oleh: Rombongan H M. Komarudin Toni Antonia. B Afit Sidik Deni Kamila Rizki Nugraha (A1L009186) (A1L009187) (A1L009189) (A1L009190) (A1L009191)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN LABORATORIUM PERLINDUNGAN TANAMAN PURWOKERTO 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PESTISIDA DAN BIOPESTISIDA PERTANIAN


ACARA IVA PENGUJIAN RACUN PERUT

Semester Genap 2010/2011 Oleh: Rombongan H M. Komarudin Toni Antonia. B Afit Sidik Deni Kamila Rizki Nugraha (A1L009186) (A1L009187) (A1L009189) (A1L009190) (A1L009191)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN LABORATORIUM PERLINDUNGAN TANAMAN PURWOKERTO 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PESTISIDA DAN BIOPESTISIDA PERTANIAN


ACARA IVB PENGUJIAN INSEKTISIDA RACUN KONTAK

Semester Genap 2010/2011 Oleh: Rombongan H M. Komarudin Toni Antonia. B Afit Sidik Deni Kamila Rizki Nugraha (A1L009186) (A1L009187) (A1L009189) (A1L009190) (A1L009191)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN LABORATORIUM PERLINDUNGAN TANAMAN PURWOKERTO 2011