Anda di halaman 1dari 81

PERTEMUAN 1

SILABUS METODE PENELITIAN SOSIAL


PENDAHULUAN PENGERTIAN PENELITIAN JENIS-JENIS PENELITIAN TUJUAN DAN PERANAN PENELITIAN METODE DAN METODOLOGI PENELITIAN PROSES PENELITIAN ILMIAH LANDASAN FILOSOFIK DAN TEORITIK METODOLOGI PENELITIAN SOSIAL METODOLOGI PENELITIAN POSITIVISTIK (KUANTITATIF) DAN KARAKTERISTIKNYA METODOLOGI PENELITIAN POST POSITIVISTIK/PHENOMENOLOGY (KUALITATIF) DAN KARAKTERISTIKNYA DESAIN DAN PROPOSAL PENELITIAN a. PENGERTIAN&BENTUK DESIGN PENELITIAN b. PENGERTIAN&BENTUK PROPOSAL PENELITIAN c. PROPOSAL SKRIPSI PENGGUNAAN TEORI DALAM PENELITIAN SOSIAL a. HUBUNGAN ANTARA PARADIGMA,TEORI DAN METODOLOGI b. STRUKTUR TEORI TOPIK, MASALAH PENELITIAN, JUDUL, TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN SOSIAL a. TOPIK DAN MASALAH PENELITIAN b. JUDUL PENELITIAN c. RUMUSAN MASALAH PENELITIAN d. TUJUAN PENELITIAN STUDI KEPUSTAKAAN a. PENGERTIAN STUDI KEPUSTAKAAN b. FUNGSI STUDI KEPUSTAKAAN c. CARA MELAKUKAN STUDI KEPUSTAKAAN d. LANDASAN TEORI/KERANGKA TEORI e. KERANGKA FIKIR KONSEP DAN VARIABEL PENELITIAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN a. KONSEP PENELITIAN b. VARIABEL PENELITIAN

c. HIPOTESIS PENELITIAN POPULASI PENELITIAN,SAMPEL/INFORMAN DAN TEHNIK SAMPLING/INFORMAN a. PENGERTIAN POPULASI-SAMPEL DAN SUBYEKINFORMAN b. ALASAN PEMILIHAN SAMPEL/INFORMAN c. SYARAT DAN UKURAN SAMPEL/INFORMAN d. TEHNIK-TEHNIK PENGAMBILAN SAMPEL/INFORMAN METODE PENGUMPULAN DATA a. PENGERTIAN DATA DAN JENISNYA b. PENGUMPULAN DATA PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS DATA MENYUSUN RANCANGAN PENELITIAN REFERENSI a. Iqbal Hasan,2000. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya b. Manasse Malo,1998.Metode Penelitian Masyarakat c. Burhan Bungin.2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif d. Noeng Muhadjir.1994. Metodologi Penelitian Kualitatif RRFE

PERTEMUAN 2 DAN 3

PENELITIAN SOSIAL (SOCIAL RESEARCH)


RISET berasal dari kata Re=kembali, Search=mencari. RISET atau PENELITIAN adalah: Kegiatan mencari ulang, mengungkapkan kembali gejala atau kenyataan yang sudah ada untuk direkonstruksi guna memperoleh kebenaran tentang sesuatu yang dipertanyakan dalam riset (5 W+1H)dgn tujuan mendapatkan pengetahuan baru Secara garis besar, kategori riset dapat dibedakan menjadi 2 kelompok keilmuan, yaitu: Riset untuk ilmu-ilmu eksakta (ilmu pasti) Riset untuk ilmu-ilmu sosial (rumpun ilmu humaniora). Apa perbedaan keduanya:
Substansi Sifat Objek Ilmu Eksakta Materi Ilmu Sosial Manusia (Sifat dan Perilaku) Berwujud Abstrak Bisa dimanipulasi Sulit atau bahkan dan direkayasa tidak mungkin dimanipulasi dan direkayasa Absolut (relatif pasti) Kebenaran ganda (tergantung konteks) Kuantitas Kualitas

Sifat Kebenaran Sifat Ukuran

PROSES BERFIKIR ILMIAH: BERFIKIR INDUKTIF & DEDUKTIF


GAMBAR 1 KOMPONEN INFORMASI,KONTROL METODOLOGIS DAN TRANSFORMASI INFORMASI DALAM PROSES ILMIAH

TAHAP 1: BERTEORI (deduktif) Peneliti berteori terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Misal: peneliti melihat pertumbuhan jumlah kaki lima (ini dilihat sebagai suatu gejala masalah pengangguran yang kemudian akan menelusuri berbagai literatur yang ada, terutama teori sosial dan ekonomi, kemudian mulai menjelaskan (berteori) mengenai kaki lima tersebut) TAHAP 2: BERHIPOTESIS Peneliti diarahkan oleh produk berpikir deduktif untuk memberi jawaban logis terhadap apa yang sedang menjadi pusat perhatian dalam penelitian, dan akhirnya produk berpikir deduktif menjadi jawaban sementara terhadap apa yang dipertanyakan dalam penelitian dan

menjadi perhatian itu. Jawaban tersebut dinamakan hipotesis. Hipotesis bukan jawaban final penelitian, akan tetapi merupakan jawaban sementara tentang hubungan antara gejala-gejala yang menjadi permasalahan dalam proses penelitian. Hipotesis diajukan dalam bentuk dugaan kerja atau dugaan teoretis yang merupakan dasar dalam menjelaskan kemungkinan adanya hubungan tersebut. TAHAP 3: PENYEDIAAN PERANGKAT PENELITIAN Berupa : Metode Penelitian, yaitu sebuah proses yang terdiri dari: rangkaian tata cara pengumpulan data, diteruskan dengan merekam data di lapangan (hipotesisi diadili) Penerimaan atau penolakan hipotesis. Hipotesis penelitian diterima berarti fakta "menolak" hipotesis, sedang apabila "diterima" berarti sebaliknya. TAHAP 4: PROSES ANALISIS INDUKTIF Simpulan-simpulan fakta atas hipotesis menjadi jawaban "sebenarnya" pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti kali ini. Namun belum berhenti sampai suatu proses ilmiah dari penelitian tersebut. Karena setelah selesai mengumpulkan data dan pengujian-pengujian hipotesis, peneliti harus melakukan serangkaian proses analisis. Berarti peneliti berjalan dari hal-hal yang khusus (fakta) menuju kepada hal-hal yang umum, yaitu teori keilmuan yang merupakan sumber hipotesis dalam proses ilmiah ini. Inilah bobot proses dari penelitian dan ilmu pengetahuan yang sempurna, yang membuat keduanya tak mungkin dipisahkan satu sama lain.

CONTOH KASUS AWAL PENELITIAN


Masyarakat di beberapa kelurahan sekitar pembangunan jembatan Surabaya-Madura merasa terganggu atas isu penculikan anak untuk dijadikan tumbal pembangunan jembatan tersebut. Banyak ibuibu yang bertanya-tanya benarkah isu tersebut. Untuk menghindari risiko mereka terpaksa meningkatkan perhatiannya terhadap anak-anak mereka. Seorang gadis yang menyenangi seorang pemuda, juga bertanya-tanya apakah pemuda tersebut juga menyukai dirinya, atau mungkin pemuda itu telah memiliki pacar, bahkan perlukah dia yang lebih dulu mengungkapkan isi hati kepada pemuda pujaannya. Seorang sarjana ekonomi, ia selalu gagal memulai usaha bisnisnya. Setiap memulai usaha selalu ada saja hambatannya, begitu pula modal yang ada selalu saja habis, akhirya berkali-kali ia memindahkan usahanya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu usaha ke usaha lainnya. la kemudian bertanya-tanya, mungkinkah ia tidak memiliki bakat berwiraswasta, atau secara magis ia dihalang-halangi oleh kekuatan tertentu dalam menjalankan usahanya.

SIKAP PEMBUKTIAN PENELITIAN


Ibu-ibu akan mengambil jalan pintas dalam pembuktiannya dengan cukup hanya mendatangi dukun, dan bertanya apakah benar peristiwa itu benarbenar terjadi di sekelilingnya Sang gadis, ia dapat menggunakan seseorang untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari sang pemuda. Dicarilah teman dekat pemuda itu dan darinya ia mengorek banyak informasi mengenai pemuda yang ditaksir itu, ia pun dapat memperoleh jawaban dari informasi tersebut.

Sarjana ekonomi yang gagal berusaha, ia menginginkan cara-cara yang lebih masuk akal untuk menjawab persoalannya. Sebagai sarjana dia menginginkan cara-cara pembuktian yang ilmiah sehingga dia menggunakan cara yang kompleks. la kemudian menggunakan metode evaluasi diri untuk mengukur kemampuan dirinya, kemudian ia memulai menghimpun berbagai informasi mengenai berbagai peluang-peluang usaha untuk memulai usaha baru, ia pun mulai mengamati lingkungan masyarakat untuk menganalisis kemungkinan membuka usaha di tempat itu. Langkah ini belum pernah dilakukan sebelumnya, sejak ia memulai usaha yang lama sampai ia berkalikali gagal. Akhirnya ia memutuskan menggunakan metode penelitian iimiah untuk membuktikan dan menjawab rasa ingin tahunya.

KESIMPULANNYA:
semua orang telah melakukan penelitian. Penelitian tidak dilakukan oleh kalangan-kalangan ilmuwan saja, tetapi juga sering dilakukan oleh kalangan awam. Kita tinggal membatasinya, tingkat penelitian mana yang dilakukan oleh kalangan awam dan tingkat penelitian mana yang pula dilakukan oleh kalangan ilmuwan

KALANGAN

cara-cara ilmiah dalam sebuah aktivitas menjawab rasa ingin tahu, tidak saja memerhatikan kebenaran ilmiah (scientific truth) , akan tetapi juga mempertimbangkan cara-cara untuk memperoleh kebenaran ilmiah itu, cara itu adalah penelitian ilmiah (scientifk research) atau disebut dengan metode penelitian

ILMUWAN= Penggunaan

PERSPEKTIF/PARADIGMA/PENDEKATAN DALAM PENELITIAN SOSIAL


1. Positivist (Deduktif-Umum Khusus): Mencari fakta atau sebab musabab gejala sosial dengan tidak memperhatikan keadaan subjek individu, bertolak dari hal yang umum (teori, hukum, dalil). 2. Post-Positivist (Induktif-Khusus Umum): Memahami perilaku manusia dari kerangka berfikir pelaku, bertolak dari hal yang khusus, kenyataan tertentu, fenomena tertentu
Apa Perbedaan Keduanya?
No 1 Substansi Konsep/Teori Positivist/kuantitatif Sangat penting sebagai landasan perumusan hipotesis (teori, hukum, dalil, model). Variabel dan hipotesis Tidak mengenal suatu kemutlakan istilah variabel dan hipotesis Uji teori (hipotesis) Merumuskan teori melalui proposisi Dominan data verbal Data/Informasi Didominasi data angka dan sesuatunya (teks, wawancara). cenderung Angka hanya untuk dikuantifikasi penyebutan Kaku, rigit dan sangat Fleksibel dan tentatif Format ketat Proposal PostPositivist/kualitatif Tidak terlalu penting, pijakan awal pemahaman

Kerangka Pikir Lebih menunjukkan hubungan antar variabel (X Y Z)

Metode Riset Instrumen Pengumpulan Data

Kuantitatif (sebutkan secara khusus) Angket yang sudah didesain sesuai variabel dan manipulasi indikator (utama) Informasi tambahan diperoleh melalui dokumen, wawancara dan observasi

Lebih menunjukkan kronologis fakta/fenomena yang disertai konsep/teori/model untuk memahaminya Kualitatif (sebutkan secara khusus) Peneliti dilengkapi guide interview untuk melakukan wawancara mendalam Observasi dan penilaian subyek (informan) penelitian terhadap fenomena/fakta tertentu. Fokus Penelitian Dimensi yang dikaji

Definisi Konseptual Definisi Operasional Variabel Penelitian Indikator Penyajian data Tabulasi angka (table sheet) Penjabaran Masalah

Pembahasan (Analisis dan interpretasi)

Menggunakan bantuan statistik sesuai dengan karakter masalah, jenis dan skala data. Uraian singkat tentang arti hasil perhitungan dan mengkomparasikannya dengan teori.

Tabulasi teks (verbal hasil wawancara, observasi dan pengakuan subyek) Double heurmenetic (penyampaian prolog emic/meaning; kupasan prolog etic dan perang tanding data dengan teori untuk value loaden data proposisi

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN SOSIAL SECARA UMUM 1. Mencari data dan sumber informasi awal melalui (studi pustaka dan pra-riset) 2. Identifikasi dan perumusan masalah awal 3. Penyusunan rancangan penelitian: Penentuan topik; Latar belakang; Rumusan masalah; Tujuan dan Kegunaan Kajian pustaka dan kerangka pikir Metode penelitian yang senafas dengan kajian Menentikan jadual riset Menentukan sumberdaya yang diperlukan untuk pelaksanaan riset 4. Observasi untuk memperoleh data empiris 5. Penyajian dan Analisis data 6. Pembuatan laporan penelitian

PERTEMUAN KE-4

PENDEKATAN POSITIVISTIK : LANDASAN FILOSOFIS METODE KUANTITATIF


1. Metodologi penelitian kuantitatif + teknik statistiknya (abad ke-18, Aguste Comte- abad ini). Didukung teknologi komputer, berkembang teknik-teknik analisis statistik yang mendukung pengembangan penelitian kuantitatif. 2. Metodologi penelitian kuantitatif statistik menjadi lebih bergengsi, lebih-lebih sejumlah kenyataan calon ilmuwan+mahasiswa menggunakan metodologi kualitatif, alasan dan bukti menunjukkan ketidakmampuan para mahasiswa mmenguasai teknik-teknik analisis statistik 3. Positivisme mengembangkan metodologi ke dalam logika matematik; dan dikembangkan lebih jauh lagi dalam logika induktif, yaitu: ilmu itu bergerak naik dari fakta-fakta khusus fenomenal ke generalisasi teoretik.

PENELITIAN KUANTITATIF (PENGERTIAN) Metode penelitian yang mengejar sesuatu yang terukur, teramati, yang emperi sensual, menggunakan logika matematik, dan membuat generalisasi atas rerata; mengakomodasi deskripsi verbal menggantikan angka, atau menggabungkan olahan statistik dengan olahan verbal dengan pola fikir tetap kuantitatif. CIRI-CIRI METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF : 1. Mengejar hal yang terukur, teramati 2. Generalisasi atas rerata keragaman individual atau rerata frekuensi

3. Rancangan penelitian yang menspesifikkan obyeknya secara eksplisit dieliminasikan dari obyek-obyek lain yang tidak diteliti. 4. Tata fikir logik, yaitu: korelasi, kausalitas, dan interaktif TAHAPAN METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF (DIRANCANG SEBELUM TERJUN KE LAPANGAN) 1. Penetapan obyek studi yang spesifik, dieliminasikan dari totalitas atau konteks besarnya; sehingga eksplisit jelas obyek studinya. 2. Disusun kerangka teori sesuai dengan obyek studi spesifiknya. 3. Dari situ ditelorkan hipotesis atau problematik penelitian, instrumentasi pengumpulan data, dan teknik sampling serta teknik analisisnya; 4. Juga rancangan metodologik lain, seperti: penetapan batas signifikansi, teknik-teknik penyesuaian bila ada kekurangan atau kekeliruan dalam hal data, administrasi, analisis, dan semacamnya.
PROSES PENELITIAN KUANTITATIF Proses penelitian = kerangka kerja peneliti yang dimulai dari masalah sampai laporan penelitian.

Proses-prosesnya: 1. Mengeksplorasi, perumusan, dan penentuan masalah yang akan diteliti. , 2. Mendesain model penelitian dan parameter penelitian. 3. Mendesain instrumen pengumpulan data penelitian. 4. Melakukan pengumpulan data penelitian. 5. Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian. 6. Mendesain laporan hasil penelitian.

TOPIK-TOPIK YANG MENGGUNAKAN METODE PENELITIAN KUANTITATIF


1. Pengaruh Mutasi Terhadap Karyawan Fisip Unila Semangat Kerja

2. Hubungan Kualitas Sumberdaya Aparatur dengan Kinerja Aparatur (Studi tentang Pelayanan Bidang Kependudukan di Kec. Natar) 3. Pengaruh MMT terhadap Produktivitas Karyawan PT.Telkom Bandarlampung 4. Tingkat Kepuasan Masyarakat (Studi tentang Tanggapan Pelanggan di kec. Kedaton terhadap Mutu Pelayanan PT.PLN Tanjungkarang)

PENDEKATAN POSTPOSITIVISTIK : LANDASAN FILOSOFIS METODE KUALITATIF


PENELITIAN KUALITATIF (PENGERTIAN)
Menurut Bogdan&Taylor,1975 Proses penelitian yg bertujuan mengumpulkan, mendeskrisikan, menganalisis data deskriptif berupa: tulisan, ungkapan & prilaku manusia yg diamati Tdk bertujuan menguji teori/hipotesis, namun menyusun, mengembangkan teori/hipotesis & mendeskripsikan kenyataan sosial Mengumpulkan, menganalisis bukti empirik (data) secara sistematik utk memahami dan menjelaskan kehidupan sosial yang dikaji scr mendalam Data yg dikumpulkan yang berupa angka, melainkan kata2, kalimat,ungkapan panjang (walau data numerik tdk diharamkan) Fokus:subjective meaning,makna2,simbol,deskripsi kasus khusus atas berbagai kehidup sosial

CIRI-CIRI METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF


Menurut Newman (1996) Mengutamakan konteks sosial, dimana tindakan sosial itu terjadi,setting alamiah&kerangka fikir subjek (contoh: kawin lari di Lampung, Sambung ayam di Bali) Pendekatan studi kasus: kumpulkan sejumlah besar informasi pd beberapa (sejumlah kecil) kasus, masuk kedalam, mendetail utk temukan pola,tindakan,sikap org2 dlm konteks sosial scr utuh Mengutamakan integritas peneliti: hub dekat dgn subjek tdk terjebak pada subjektivitas Membangun teori dr data: berangkat dr masalah penelitian,bukan teori

Mencermati proses : mengamati proses, urutan peristiwa dari kasus yg diteliti utk lihat perkemb kasus terus menerus (waktu agak lama) Intepretasi kaya dan mendalam, mulai dari: a)The first interpretation menginterpretasikan data dgn cara menemukan bagaimana org-org yg diteliti memberi makna atas dunia mereka sendiri; b)The second interpretation, peneliti mengkonstruksikan makna tadi dalam kaitannya dengan makna lain sesuai konteksnya; c) The third interpretation, Peneliti bergerak lebih jauh, yaitu menghubungkan interpretasi tahap 2 dgn teori umum (general theory)

TAHAPAN METODOLOGI PENEL KUALITATIF


Menurut Lincoln&Guba 1. NATURAL SETTING, Dimulai dgn menetapkan mas&tujuan penelitian, kemudian tetapkan setting alamiahnya. 2. HUMAN INSTRUMENT, Manusia peneliti utama utk atasi situasi tdk terduga, karna:a) punya kepekaan ut interaksi,adaptasi dgn lingk, b) mampu menangkap sesuatu scr utuh,c) mampu memproses data scr cepat, d) mampu merespon hal2 unik/tdk lazim, e) menggunakan ketramp u pahami latar sosial 3. QUALITATIVE METHODS&TACIT KNOWLEDGE, Menggunakan metode kualitatif dgn manusia as intrumen,utk mengungkap pengetahuan tak terkatakan/tersembunyi agar dpt diinterpretasikan, diberi makna&dikomunikasikan dgn org lain

4. PURPOSIVE SAMPLING, U ungkap+interpretasi tacit knowledge, menggunakan sampel yang bertujuan utk dapat informasi sebanyak2 sesuai dgn konteks utk tujuan penyusun teori (beberapa tehnik sampel dan key informan) 5. EMERGENT DESIGN, Desain bersif sementara, krn makna ditentukan konteks,eksistensi realitas ganda yg bisa hambat desain atas 1 konstruksi peneliti (pembentukan makna bersama hanya dpt dilakukan setelah dilihat jelas&dihayati bersama) 6. INDUKTIVE DATA ANALYSIS, Dianalisis scr induktif u temukan kategori inti dgn prosesnya a).unitizing-data mentah ditransformasikan dlm unit2 shg dpt memberikan deskripsi tepat tt karakteristik isi fenomena, b).categorizing-data diatas diorganisasikan dlm kategori2 dlm latar/konteks dimana data itu berasal 7. GROUNDED THEORI, Menyusun teori dari dasar, yang bersumber dari data 8. KEABSAHAN DATA, Utk dapatkan generalisasi dgn melakukan:cridibility (triangulasi, ketekunan pengamatan,kaji kasusu negatif),transferability (uraian cermat,dalam,kesamaan etic-emic), dependability (proses audit),confirmability (konfir dgn pihak ke3,pakar,teori) 9. LAPORAN HASIL PENELITIAN

TOPIK-TOPIK YANG MENGGUNAKAN METODE PENELITIAN KUALITATIF

1. IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PROGRAM RASKIN DI KEC GADINGREJO TAHUN 2005 2. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PENGGUNAAN SIAKAD ONLINE DALAM PEMBERIAN LAYANAN AKADEMIK PADA MAHASISWA DI UNILA TA. 20002002 3. KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PEMKOT BANDAR LAMPUNG TA.2004 (STUDI IMPLEMENTASI PROGRAM TERPADU PENINGKATAN PERAN PEREMPUAN MENUJU KELUARGA SEJAHTERA) Cat: Buat topik-topik/judul-judul berkaitan dengan pendekatan kualitatif

PERBEDAAN POSITIVIS DAN POST POSITIVIS


UNSUR
POLA PIKIR PENDEKATAN PENELITIAN JENIS PENELITIAN SAMPEL

POSITIVIS/KUANTITATIF
Deduktif : bertolak dari hal umum (teori, hukum,dalil) Kuantitatif, uji hipotesis, teori Deskriptif dan eksplanasi Representatif terhadap populasinya (random, stratifikasi, cluster) Prioritas kuesioner, ditunjang interview,observasi,lebih cepat dalam pengumpulan data Menggunakan statistik parametik dan non parametik Etik, pemahaman si peneliti, kesimpulan mengarah ke makro Menjawab what sampai pada inference (kesimpulan) dan generalisasi Menekankan produk/hasil Proses analisis dimulai stl data telah terkumpul Non partipan

POST/KUALITATIF
Induktif : bertolak dari hal khusus (kenyataan, fenomena tt) Kualitatif, tdk harus ada hipotesis Deskriptif, historis, grounded research Representatif thd makna obyek (purposive, theoritik,snowball,saturated) Prioritas observasi, ditunjang interview, kuesioner, lebih lama dalam pengambilan keputusan Tdk menggunakan statistik parametik, mendeskripsikan (proporsi, persentase,rata-rata) Emik, pemahaman dari yang diteliti dan peneliti, kesimpulan mengarah ke mikro Menjawab Why sampai pada isi/uraian dan reduksi (mereduksi,sintesa) Menekankan pada proses Proses Analisis dimulai sejak peneliti mengamati data Terlibat, ikut mewarnai kondisi

PENGUMPULAN DATA

ANALISA DATA

DIMENSI YG DIGUNAKAN

LEVEL ABSTRAKSI

PENEKANAN GEJALA YANG DITELITI PROSES ANALISIS KETERLIBATAN PENELITI

PERTEMUAN 5 DAN 6

UNSUR-UNSUR PENELITIAN ILMIAH


KONSEP
UNSUR PENELITIAN YG TERPENTING & MERUPAKAN DIFINISI YANG DIPAKAI PENELITI UNTUK MENGGAMBARKAN SECARA ABSTRAK FENOMENA SOSIAL

Contoh: menggambarkan pencurian, pemerkosaan, pembunuhan dengan konsep KRIMINALITAS Mengonsepsi perilaku salah prosedur dalam birokrasi sebagai kategori dari fenomena penyalahgunaan wewenang; kebiasaan membolos kerja sebagai kategori dari fenomena ketidakdisiplinan; kebiasaan melakukan pencatatan terhadap pengeluaran aliran keuangan perusahaan sebagai kategori manajemen keuangan perusahaan yang baik. PROPOSISI PERNYATAAN TENTANG SIFAT DARI REALITAS YANG DAPAT DIUJI KEBENARANNYA (BIASANYA BERUPA PERNYATAAN TENTANG HUBUNGAN 2 KONSEP /LEBIH)

Contoh: Penerimaan Kontrasepsi modern oleh suami istri di pedesaan dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang nilai ekonomis anak

TEORI RANGKAIAN LOGIS DARI SATU PROPOSISI/LEBIH YG MENYATAKAN HUBUNGAN SISTEMATIS ANTARA FENOMENA SOSIAL YG HENDAK DITELITI

VARIABEL KONSEP YG MEMILIKI VARIASI KONGKRIT DAN OPERASIONAL

NILAI,

Contoh: Fenomena jenis kelamin manusia. Kalau dikelompokkan hanya ada dua jenis kelamin, yaitu manusia laki-laki dan manusia perempuan. Tingkat Pendidikan, Status Keluarga JUDUL PENELITIAN: HUBUNGAN ANTARA TINGKAT HARGA DASAR MINYAK TERHADAP TINGKAT HARGA SEMBAKO VARIABEL :Tingkat harga dasar minyak dan VARIABEL: Tingkat harga Sembako

HIPOTESIS KESIMPULAN SEMENTARA/PROPOSISI TENTATIF TENTANG HUBUNGAN ANTARA 2 VARIABEL/LEBIH Contoh: Tingkat penggunaan Kontrasepsi modern oleh suami istri di pedesaan dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang nilai ekonomis anak Semakin Positif persepsi suami istri pedesaan tentang nilai ekonomis anak semakin tinggi penggunaan kontrasepsi oleh mereka Ada hubungan positif antara tingkat harga dasar minyak dengan tingkat harga sembako Naiknya harga dasar minyak akan diikuti oleh naiknya harga sembako DEFINISI OPERASIONAL PENGUKURAN DARI SUATU VARIABEL MELALUI PARAMETER/INDIKATOR
Contoh:

KONSEP STATUS SOSIAL EKONOMI Variabel Indikator (Operasionalisasi Konsep) Berbagai penghasilan Penghasilan tetap seseorang sebulan Penghasilan tidak tetap sebulan Semua kekayaan Harta carian material seseorang Harta bawaan

Kedudukan seseorang dimasyarakat

Kedudukan formal Kedudukan informal

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT HARGA DASAR MINYAK TERHADAP TINGKAT HARGA SEMBAKO VARIABEL TINGKAT HARGA MINYAK,OPERASIONALISASINYA : Isu politik Harga minyak internasional Kepentingan dalam negeri Tekanan dalam negeri VARIABEL TINGKAT HARGA OPERASIONALISASINYA : Prilaku spekulan Prilaku konsumen Kondisi pasar DASAR

SEMBAKO,

PEMILIHAN DAN PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN MASALAH PENELITIAN:


KETIDAKSERASIAN/KESENJANGAN ANTARA KEADAAN SEHARUSNYA (DAS SOLLEN) DAN KEADAAN SENYATANYA (DAS SEIN) SEHINGGA MENIMBULKAN KETIDAKPUASAN, KEINGINTAHUAN KONTRADIKSI DATA EMPIRIS, PENGALAMAN ,KONSEP/TEORI, KEBUDAYAAN,PERATURAN/KEBIJAKAN DAN UNSUR-UNSUR LAINNYA.

SUMBER MASALAH PENELITIAN:


Pengamatan terhadap alam sekitar (lingkungan) kegiatan manusia yang didorong oleh rasa ingin tahu. Membaca referensi dan sumber informasi lain (buku, koran, majalah, jurnal dll). Dorongan dalam diri yang memunculkan intuisi. Yang penting adalah eksplorasi : 1. seseorang dapat menemukan topik penelitian ketika di kamar tidurnya, atau sehabis bangun tidur, atau pada saat minum kopi di pagi hari. 2. dari pengalaman berinteraksi dengan anggota masyarakat, di mana saja dan kapan saja. 3. Semakin banyak orang membaca (iqra) lingkungannya, semakin banyak dan mudah pula dia menemukan topik-topik penelitian. Lingkungan sebenarnya memberi peluang yang amat sangat luas bagi kegiatan eksplorasi ini. Lingkungan adalah sumber aspirasi manusia untuk berkarya,

dan dari lingkungannyalah seseorang menemukan dirinya. 4. Dalam aktivitas formal eksplorasi sumber topik dan masalah penelitian dapat dilakukan terhadap berbagai lembaga riset yang ada di perguruan tinggi, instansi swasta maupun instansi pemerintah, 5. Selain itu pula, topik-topik penelitian dapat dieksplorasi dari berbagai diskusi dengan orangorang tertentu, seperti calon sponsor, calon konsultan atau calon pembimbing2, atau juga dengan calon promo tor atau copromotor. 6. Dapat juga berdiskusi dengan teman sejawat atau teman mahasiswa seangkatan.

PERTIMBANGAN DALAM MEMILIH MASALAH


1. Pertimbangan Objektif Didasari kualitas masalah dan dapatnya masalah dikonseptualisasikan. Ciri-Ciri Kualitas Masalah: (1) nilai penemuan yang tinggi (2) dirasakan kebanyakan orang adanya masalah (3) bukan replikasi (pengulangan), (4) memiliki referensi teoretis yang jelas, Ciri-Ciri Masalah dapat dikonseptualisikan apabila masalah tersebut dapat menjawab pertanyaan di bawah ini: 1. apakah masalah itu memiliki batasan-batasan yang jelas, 2. bagaimana bobot dimensi operasional dari masalah itu, 3. apakah masalah penelitian itu dapat dihipotesiskan seandainya diuji nanti, 4. apakah masalah penelitian memiliki sumber data yang jelas seandainya diteliti,

5.

apakah masalah itu dapat ukur sehingga dapat didesain alat ukur yang jelas, 6. apakah masalah itu memberi peluang peneliti menggunakan alat analisis statistik yang jelas apabila diuji nanti. 2. Pertimbangan Subjektif berkisar kredibilitas peneliti (calon peneliti) terbadap apa yang akan ditelitinya yaitu: 1. sesuai minat peneliti 2. Sesuai keahlian dan disiplin ilmu peneliti 3. peneliti memiliki kemampuan penguasaan teoretis 4. cukup banyak hasil-hasil penelitian sebelumnya 5. cukup waktu 6. Biaya yg tersedia 7. alasan-alasan politik dan situasional masyarakat (pemerintah) CONTOH MASALAH PENELITIAN: JUDUL PENELITIAN : Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Way Rilau Kota Bandar Lampung dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pengadaan Air Bersih bagi Pelanggan tahun 2001-2003. Realitas sosial Buruknya pelayanan (PDAM): Air tidak rutin keluar Air berbau dan berwarna Pembayaran rutin dilakukan Media pengaduan tidak jalan Proses rumit kompetensi petugas rendah Konflik masyarakat dan PDAM UU Konsumerisme Realitas sosial ketidakdisiplinan birokrat Sering bolos

Datang terlambat, pulang cepat Media kontrol tidak jalan Sanksi tidak tegas Keluar saat jam kerja (pasar, mall, berkunjung ke instansi lain) Keluhan masyarakat akan pelayanan birokrat lamban, tdk ada ditempat Realitas Penganggaran bias Gender (APBD) Penyusunan RASK tidak didasari kepentingan perempuan dan laki-laki Perspektif/pemahaman keliru terhadap peran dan posisi perempuan Tidak dijalankannya pengarusutamaan jender (Inpres no.9/2000) Tim panang legislatif dan eksekutif didominasi lakilaki Konflik internal legislatif dan eksekutif

JUDUL PENELITIAN
JUDUL PENELITIAN Identitas atau cermin jiwa penelitian. Wujudnya merupakan kalimat pernyataan bukan kalimat pertanyaan; kata-katanya konkrit bukan katakata umum. Jelas (tidak kabur); singkat (tidak bertele-tele); deskriptif (berkaitan/runtut); tidak terlalu puitis/bombastis; dan dibuat semenarik mungkin; informatif. FUNGSI UTAMA JUDUL PENELITIAN Bagi peneliti: kompas dalam melakukan penelitian (penentu data yang diperlukan,sumber, instrumen dan teknik pengumpulan data) dan menyusul laporan riset (pengolahan, penyajian data, dan analis data). Bagi pembaca: memberikan informasi singkat tentang obyek/substansi telaah, wilayah dan metode riset. DASAR PERUMUSAN JUDUL PENELITIAN: Mengetahui status sesuatu. Contoh: Tanggapan masyarakat tentang pelaksanaan Otonomi Daerah bagi peningkatan kualitas layanan publik. Membandingkan dua fenomena atau lebih. Contoh: mekanisme penyusunan APBD Berdasarkan Perda dan Kepmendagri Mengetahui hubungan atau pengaruh dua fenomena atau lebih. Contoh: Hubungan antara Diklat Pegawai dengan Kemampuan Aparatur Publik

UNSUR-UNSUR JUDUL PENELITIAN Sifat dan jenis penelitian. Objek telaah/substansi yang diteliti. Subjek penelitian. Lokasi. Tahun/waktu terjadinya pristiwa. CONTOH Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Way Rilau Kota Bandar Lampung dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pengadaan Air Bersih bagi Pelanggan tahun 2001-20003. Kualitatif : Sifat/Jenis Penelitian Responsivitas: Objek telaah. PDAM Way Rilau: Subjek penelitian. Pelanggan: Subjek penelitian PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung: Lokasi penelitian. Tahun 2001-2003: Rentang waktu kejadian yang diteliti.

Hubungan antara Diklat Pegawai Kemampuan Aparatur Publik di Bandarlampung Tahun 2006

dengan Pemkot

Kuantitatif : Sifat/Jenis Penelitian Diklat dan Kemampuan aparatur: Objek telaah. pegawai: Subjek penelitian. Pemkot Bandarlampung: Lokasi penelitian. Tahun 2006: Rentang waktu kejadian yang diteliti. Tugas: 1. buat/angkat 5 macam realitas sosial tertentu 2. dari 5 realitas tadi, buat judulnya masingmasing 3. buat perumusan masalah masing-masing 4. buat tujuan masing

PERUMUSAN MASALAH
PERUMUSAN MASALAH : Pernyataan masalah (statement of problem), yaitu pernyataan singkat tentang masalah yang akan diteliti. CARA MERUMUSKAN MASALAH: Dinyatakan dalam bentuk pertanyaan (kalimat tanya: apa, mengapa, bagaimana, seberapa besar, adakah). Singkat (padat) dan jelas (informatif). Memiliki implikasi tentang ketersediaan data untuk memecahkan masalah. Merupakan dasar penentuan hipotesis. TUJUAN PERUMUSAN MASALAH: Dasar pemecahan masalah riset sebelumnya dan dasar riset selanjutnya Mencari sesuatu untuk memuaskan hasrat akademis seseorang (kelompok). Mencari pengetahuan tentang hal-hal baru. Memenuhi tuntutan sosial dan lingkungan. Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

Contoh:
Bagaimanakah Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Way Rilau Kota Bandar Lampung dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pengadaan Air Bersih bagi Pelanggan tahun 2001-2003? Apakah ada Hubungan antara Diklat Pegawai dengan Kemampuan Aparatur Publik di Pemkot Bandarlampung Tahun 2006 Seberapa besar Hubungan antara Diklat Pegawai dengan Kemampuan Aparatur Publik di Pemkot Bandarlampung Tahun 2006

TUJUAN PENELITIAN
TUJUAN PENELITIAN Berkaitan dengan rumusan masalah penelitian. Rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Jawaban yang dikehendaki atas rumusan masalah. SIFAT YANG HARUS DIPENUHI TUJUAN PENELITIAN (RUMUSAN TUJUAN RISET YANG BAIK): Spesifik Terbatas Dapat diukur Dapat diperiksa dengan melihat hasil penelitian. CONTOH Untuk menjelaskan bentuk hubungan antara diklat dengan kemampuan aparatur publik. Untuk menemukan besarnya pengaruh diklat terhadap kinerja aparatur publik. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis Responsivitas Perusahaan Daerah Air Minum Way Rilau Kota Bandar Lampung dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Pengadaan Air Bersih bagi Pelanggan

PERTEMUAN 6 DAN 7

STUDI KEPUSTAKAAN (PENELUSURAN PUSTAKA, LANDASAN TEORITIS&KERANGKA PIKIR PENELITIAN)


A.STUDI KEPUSTAKAAN PENGERTIAN STUDI KEPUSTAKAAN/PENELUSURAN PUSTAKA Kegiatan melakukan penelusuran kepustakaan dan menelaahnya. Karenanya seorang peneliti yang mendalami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi pengetahuan yang ada dalam kepustakaan (sumber bacaan, buku-buku referensi atau hasil penelitian lain) untuk menunjang penelitiannya disebut mengkaji bahan pustaka KRITERIA STUDI KEPUSTAKAAN YG BAIK : 1. Relevansi : kecocokan antara hal-hal (variabelvariabel) yang diteliti dengan teori-teori yang dikemukakan. 2. Kelengkapan : banyaknya kepustakaan yang dibaca. 3. Kemutakhiran : berkenaan dengan dimensi waktu (baru atau lama) kepustakaan yang digunakan. Makin baru kepustakaan yang digunakan, makin mutakhir kepustakaan tersebut, makin baik studi kepustakaan. FUNGSI STUDI KEPUSTAKAAN 1. Untuk mempertajam permasalahan, artinya dengan adanya studi kepustakaan itu, maka permasalahan yang dikemukan akan semakin jelas arah dan bentuknya.

2. Untuk mencari dukungan fakta, informasi atau teori-teori dalam menentukan landasan teori atau kerangka berpikir atau alasan bagi penelitiannya. 3. Untuk mengetahui dengan pasti apakah permasalahan yang dipilih belum pernah diteliti ataukah sudah pernah diteliti oleh penelitipeneliti terdahulu. 4. Untuk mengetahui, apakah terdapat masalahmasalah lain yang mungkin lebih menarik dari masalah yang sedang diteliti. 5. Untuk memperlancar penyelesaian penelitian. 6. Untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang mungkin ada. MANFAAT STUDI KEPUSTAKAAN 1. Menggali teori-teori dasar dan konsep yang telah ditemukan oleh para ahli terdahulu; 2. Mengikuti perkembangan penelitian dalam bidang yang akan diteliti; 3. Memperoleh orientasi yang lebih luas mengenai topik yang dipilih (mempertajam masalah /mengetahui apakah ada permasalahan yang lebih menarik) ; 4. Memanfaatkan data sekunder; 5. Menghindarkan duplikasi penelitian(permasalahan pernah diteliti sebelumnya); 6. Manfaat lain yang cukup penting adalah dapat mempelajari bagaimana cara mengungkapkan buah pikiran secara sistematis, kritis dan ekonomis.

CARA MELAKUKAN STUDI KEPUSTAKAAN 1. Mengetahui jenis pustaka, yang dibutuhkan yaitu: a. berdasarkan bentuk pustaka, dibedakan atas: (i) sumber tertulis, seperti buku-buku pengetahuan, surat kabar, majalah, dan lain-lain. (ii) sumber tidak tertulis, seperti film, slide, manuskrip, relief, dan sebagainya, b. berdasarkan isi pustaka, dibedakan atas: 1. sumber primer, merupakan sumber bahan yang dikemukakan sendiri oleh orang/pihak pada waktu terjadinya peristiwa/mengalami peristiwa itu sendiri, seperti buku harian, notulen rapat, dan sebagainya, 2. sumber sekunder, merupakan sumber bahan kajian yang dikemukakan oleh orang atau pihak yang hadir pada saat terjadinya peristiwa/tidak menga-lami langsung peristiwa itu sendiri, seperti buku-buku teks. 2. Mengkaji dan mengumpulkan bahan pustaka. Menggunakan alat bantu yang disebut kartu bibliografi atau kartu kutipan. Kartu ini, biasanya terbuat dari kertas manila warna-warni yang berukuran kira-kira 10X15 cm. Pengelompokkan dilakukan sesuai dengan jenis warna. Pengkajian dan pengumpulan hasil kajian dalam kartu bibliografi minimal harus mencakup: 1. nama variabel atau pokok masalah, 2. nama pengarang atau pencetus ide tentang pokok masalah,

3. nama sumber di mana dimuat penjelasan tentang variabel atau pokok masalah, 4. tahun yang menunjukkan pada waktu sumber tersebut dibuat atau diterbitkan, 5. nama instansi (lembaga, unit, penerbit dan sebagainya) yang bertanggung- jawab atas penerbitan sumber kajian, 6. nama kota tempat penulisan atau penerbitan sumber kajian, 7. isi penjelasan tentang variabel atau pokok masalah. 3. Menyajikan studi kepustakaan. Penyajian studi kepustakaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu; cara kutipan langsung, yaitu jika dalam menuangkan hasil kajian, peneliti memindahkan hasil karya orang lain masih dalam bentuk asli, baik utuh maupun sebagian, dan cara kutipan tidak langsung, yaitu jika dalam menuangkan hasil kajian, peneliti terlebih dahulu meramu atau mengambil intisari dari beberapa sumber kajian. B. LANDASAN TEORI/KERANGKA TINJAUAN PUSTAKA TEORI/

PENGERTIAN Bagian dari penelitian yang memuat teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang berasal dari studi kepustakaan yang berfungsi sebagai kerangka teori dalam menyelesaikan pekerjaan penelitian. Berisi deskripsi teori, yaitu uraian sistematis mengenai teori-teori dan hasil penelitian yang relevan dengan topik kajian/variabel yang sedang diteliti. Melalui ini,

dikemukakan/dijelaskan variabel atau fokus yang diteliti, melalui pendifinisian, dan uraian lengkap serta mendalam, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel/fokus penelitian. Dengan demikian, variabel/fokus penelitian menjadi lebih jelas dan terarah. Landasan teori sering disebut kerangka teori atau tinjauan pustaka. Kegiatan ini merupakan langkah setelah dirumuskannya masalah penelitian yang selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsepkonsep, generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoritis bagi penelitian yang akan dilakukan dan menjadi bekal teori yang akan digunakan dalam pembahasan penelitian. SYARAT LANDASAN TEORI 1. Landasan teori hendaknya lengkap, meliputi konsep-konsep variabel pokok/fokus yang ada dalam permasalahan penelitian. 2. Landasan teori bukan hanya langsung memberikan penjelasan tentang variabel yang dimaksud, tetapi mulai dari beberapa penjelasan umum kemudian mengarah pada alternatif yang dimaksud. 3. Landasan teori tidak selalu hanya dicari dari sumber yang menyangkut bidang yang diterangkan, tetapi dapat juga diambil dari bidangbidang lain yang relevan, 4. Hendaknya diusahakan agar sumber kajian pustaka bukan hanya yang berbahasa Indonesia. 5. Hendaknya diusahakan agar terdapat imbangan yang serasi antara jumlah kutipan yang bersifat teori dengan kutipan hasil penelitian.

OPERASIONALISASI MENYUSUN LANDASAN TEORI Tetapkan nama variabel/fokus yang akan diteliti. Cari sumber bacaan (buku, kamus keilmuan, jurnal, laporan penelitian yang relevan). Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan variabel/fokus yang diteliti. Cari definisi setiap variabel/fokus penelitian, bandingkan dengan sumber lainnya, pilih definisi yang sesuai. Baca seluruh isi topik buku, lakukan analisis, renungkan dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri. Deskripsikan teori yang sudah dibaca kedalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri.

IMPLEMENTASI PROGRAM K3 DI BANDARLAMPUNG


OBJEK/VARIABEL: IMPLEMNTASI KEBIJAKAN/PROGRAM TEORI-TEORI : 1. KEBIJAKAN PUBLIK 2. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK 3. MSDAP 4. PROGRAM K3 5. hasil penelitian relevan

C. KERANGKA BERFIKIR
PENGERTIAN Penggambaran alur fikir peneliti yang memberikan penjelasan tentang objek (Variabel/fokus) permasalahan,mengapa peneliti memiliki anggapan sebagaimana diutarakan dalam hipotesis Sintesis tentang hubungan antarvariabel yg disusun dari berbagai teori yg telah dideskripsikan MANFAAT KERANGKA BERFIKIR : kerangka menentukan apa dan siapa yang akan atau tidak akan dikaji kerangka menegaskan adanya hubungan yang ditunjukkan dengan tanda panah dasar rumusan hipotesis penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel pokok/pokok masalah yang ada dalam penelitian ISI KERANGKA BERFIKIR : Variabel-variabel atau dimensi/fokus kajian yg akan diteliti Hubungan antar variabel&ada teori yg mendasarinya Menampakkan apakah hubungan (+) atau (-), berbentuk simetris,kausal atau timbal balik Menampakkan pelaku dan aktivitasnya akan dikaji Hubungan dan hasil yang diharapkan. ANJURAN BENTUK KERANGKA BERFIKIR Kerangka berfikir sebaiknya memanfaatkan bentuk diagram, grafik daripada teks. Seluruh kerangka digambarkan pada satu halaman saja, sehingga menggiring peneliti untuk menemukan bingkai-bingkai/model yang merangkum fenomena yang jelas, memetakan hubungan-hubungan, membagi variabel yang berbeda secara konseptual

dan fungsional dan meneliti dengan seluruh informasi sekaligus. TAHAPAN PEMBUATAN KERANGKA BERFIKIR (1) menetapkan variabel/fokus kajian yang akan diteliti; (2) membaca buku dan hasil penelitian (3) Deskripsi teori dan hasil penelitian (4) Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian (5) Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian (6) Sintesis/kesimpulan yang sifatnya sementara (7) Buat kerangka Berfikir (8) Buah hipotesis penelitian

VARIABEL, SKALA PENGUKURAN DAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL


A. JENIS & MACAM VARIABEL PENELITIAN 1. VARIABEL BEBAS/INDEPENDENT VARIABLE : Variabel yang menentukan arah atau perubahan tertentu pada variabel tergantung dan bebas/lepas dari posisi variabel tergantung 2. VARIABEL TERGANTUNG TERIKAT/ TERPENGARUH / DEPENDENT VARIABLE : Variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas Contoh: Hubungan antara Diklat Pegawai dengan Kemampuan Aparatur Publik di Pemkot Bandarlampung Tahun 2006 Tingkat kualitas kebijakan tergantung pada proses perumusan kebijakan (dengan kata lain proses yang baik akan mengakibatkan meningkatnya kualitas kebijakan, sedangkan kualitas kebijakan menurun apabila proses perumusan jelek) 3. VARIABEL PENYELA (INTERVENING VARIABLE) : Variabel yang berada diantara variabel bebas dan terikat, ia mempengaruhi variabel tergantung, tapi berada diluar pengaruh variabel bebas. Hal ini terjadi karna adakalanya perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak semata-mata disebabkan oleh variabeL bebas Contoh: Tingkat penerimaan dan kesiapan birokrasi di Lampung terhadap TI. Salah satu variabel yang mempengaruhi tingkat penerimaan dan kesiapan birokrasi di Lampung terhadap TI adalah budaya asal birokrat. Maka diukur pula variabel penyela, yaitu ketersediaan perangkat TI dan kebijakan

4. VARIABLE KONTROL (CONTROL VARIABLE) : Variabel yang tidak banyak dipengaruhi oleh variabel bebas dan merupakan variabel tandingan dari variabel tergantung Contoh: Kualitas keterampilan Karyawan Fisip Unila (VB) -Pelatihan khusus karyawan, kualitas mesin, kesejahteraan, lingkungan kerja(VK) --------- Kualitas produk pelayanan Karyawan Fisip Unila(VT)

B. OPERASIONALISASI& SKALAPENGUKURAN VARIABEL OPERASIONALISASI VARIABEL PENGUKURAN DARI SUATU VARIABEL MELALUI PARAMETER/INDIKATOR Contoh: KONSEP STATUS SOSIAL EKONOMI Variabel (Operasionalisasi Indikator Konsep) Berbagai penghasilan Penghasilan tetap sebulan seseorang Penghasilan tidak tetap sebulan Semua kekayaan Harta carian material seseorang Harta bawaan Kedudukan seseorang Kedudukan formal dimasyarakat Kedudukan informal HUBUNGAN ANTARA TINGKAT HARGA DASAR MINYAK TERHADAP TINGKAT HARGA SEMBAKO

VARIABEL TINGKAT HARGA MINYAK,OPERASIONALISASINYA : Isu politik Harga minyak internasional Kepentingan dalam negeri Tekanan dalam negeri VARIABEL TINGKAT OPERASIONALISASINYA : Prilaku spekulan Prilaku konsumen Kondisi pasar HARGA

DASAR

SEMBAKO,

SKALA PENGUKURAN VARIABEL PENGERTIAN Bagaimana peneliti mengukur indikator variabel melalui skala-skala pengukuran Skala pengukuran merupakan kesepakatan yg dijadikan acuan menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur yg akan menghasilkan data kuantitatif JENIS SKALA PENGUKURAN 1. SKALA/PENGUKURAN NOMINAL : Skala yg diberikan pada objek/kategori yg sifatnya hanya sekedar label saja Contoh : Jenis kelamin, status pekerjaan, status perumahan, daerah asal 2. SKALA/PENGUKURAN ORDINAL : Skala yg diberikan pada objek/kategori yg sifatnya menyatakan tingkat dgn jarak/rentang yg tidak harus sama atau Data didasari atas jenjang dalam atribut tertentu, jenjang tertinggi dan terendah ditetapkan menurut kesepakatan dan jaraknya/satuan pengukurannya tidak tetap. Contoh Tingkat kehadiran pegawai, frekuensi menonton acara TV

3. SKALA/PENGUKURAN INTERVAL: Skala yg diberikan pada objek/kategori yg sifatnya menyatakan tingkat dgn jarak/rentang yg harus sama, namun tdk terdapat titik absolut (dpt dikalikan, dibagi,dijumlah namun selisit tetap). Contoh: Mengukur pendapatan dalam setahun 4. PENGUKURAN RATIO: Skala yg diberikan pada objek/kategori yg sifatnya menghimpun semua sifat dari ke-3 skala lainnya dan memiliki permulaan angka nol mutlak. Contoh Umur : 0, 1, 2, 3; tinggi bayi di tahun pertama. Variabel Disiplin pegawai Frekuensi menonton TV Tingkat penjualan Kualitas produksi Indikator Kehadiran di tempat kerja Seberapa sering menonton TV Jumlah produk terjual dalam sehari Jumlah produksi perhari Pengukuran Alat Ukur Nominal Hadir-tidak hadir Ordinal 1,2,3,4 . . . Dalam sehari Interval 0-100 100-200 dst Rasio 120, 140, 150, 160,170

C. JENIS HUBUNGAN ANTAR VARIABEL MACAM HUBUNGAN VARIABEL 1. HUBUNGAN SIMETRIS : Apabila variabel yg satu tdk disebabkan/dipengaruhi oleh yg lainnya. Contoh: Jantung berdenyut cepat dibarengi keluar keringat tanda kecemasan Meningkatnya pelayanan kesehatan dibarengi oleh meningkatnya jumlah pesawat udara

Seorang bayi yg ditimbang meninggal keseesokan harinya 2. HUBUNGAN TIMBAL BALIK : Apabila variabel yg satu dapat menjadi sebab dan juga akibat dari variabel lainnya Contoh : Penanaman modal mendatangkan keuntungan (bisa berlaku sebaliknya) 3. HUBUNGAN ASIMETRIS : Apabila variabel yg satu menjadi sebab/mempengaruhi variabel lainnya (hub variabel pengaruh&terpengaruh) Contoh : Pengaruh Metode mengajar dgn prestasi belajar Hubungan antara kepercayaan dgn kecenderungan memakai obat tradisional Hubungan antara jumlah jam belajar dgn nilai ujian yg diperoleh MACAM HUBUNGAN ASIMETRIS 1. HUB ASIMETRIS 2 VARIABEL (HUB BIVARIAT) Contoh:
Frekuensi menonton TV -------- Sikap keterbukaan ide baru

(X)

(Y)

2. HUB ASIMETRIS 2 VARIABEL (HUB MULTIVARIAT) 1. Harga (X1) 2. Promosi (X2) 3. Tempat/pasar (X3) 4. Produk (X4) Tkt penjualan 5. Kebutuhan&keinginan(X5) ----- Produk tas 6. Biaya pelanggan(X6) Merk JJ (Y) 7. Kemudahan(X7) 8. Komunikasi(X8)

PERTEMUAN 8

POPULASI PENELITIAN, SAMPEL DAN TEHNIK SAMPLING PENELITIAN


POPULASI PENELITIAN
populasi = serumpun atau sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian. populasi penelitian = keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuhtumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objck-objek ini dapat menjadi sumber data penelitian RAGAM POPULASI a. Dilihat dari penentuan sumber data, maka populasi dapat dibedakan: 1. Populasi terbatas, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang jelas batas-batasnya secara kuantitatif. Misalnya. jumlah murid (remaja) SLTA di Surabaya pada tahun 2004 sebanyak 150.000 siswa, terdiri dari 78.000 murid putra dan 72.000 murid putri. 2. Populasi tak terhingga, yaitu populasi yang memiliki sumber data yang tidak dapat ditentukan batas-batasnya secara kuantitatif. Oleh karenanya, luas populasi bersifat tak terhingga dan hanya dapat dijelaskan secara kualitatif. Misalnya, jumlah gelandangan di Indonesia. Ini berarti harus dihitung jumlah gelandangan di Indonesia dari tahun ke tahun, dan tiap kota. b. Dilihat dari kompleksitas objek populasi, maka populasi dapat dibedakan:

1. Populasi homogen: yaitu keseluruhan individu yang menjadi anggota populasi, memiliki sifat-sifat yang relatif sama satu sama lainnya. Contohnya Seorang ibu membuat secangkir kopi, untuk mengetahui kadar gula yang diinginkan. secangkir kopi tersebut, cukup hanya dengan mencoba setitik cairan kopi. Ciri yang menonjol dan populasi homogen:tidak ada perbedaan basil tes dari jumlah tes populasi yang berbeda 2. Populasi heterogen: yaitu keseluruhan individu anggota populasi relatif memiliki sifat-sifat individual, di mana sifat tersebut membedakan individu anggota populasi yang satu dengan yang lainnya. c. Selain pembedaan-pembedaan di atas, populasi juga dapat dibedakan antara populasi sampling dan populasi sasaran. Contoh: apabila kita mcngambil rumah tangga sebagai sampel, sedangkan yang diteliti hanyalah rumah tangga yang bekerja sebagai nelayan, maka keseluruhan rumah tangga dalam wilayah penelitian disebut populasi sampling, sedang: seluruh nelayan dalam wilayah penelitian disebut populasi sasaran.

SAMPEL PENELITIAN
Dalam penelitian sosial, dikenal hukum kemungkinan hukum probabilitas yaitu kesimpulan yang ditarik dari sampel dapat digeneralisasikan kepada seluruh populasi. Kesimpulan ini dapat dilakukan karena pengambilan sampel dimaksud adalah untuk mewakili seluruh populasi. sampel =wakil semua unit strata dan sebagainya yang ada di dalam populasi.

Tidak semua penelitian menggunakan sampel sebagai sasaran penelitian pada penelitian tertentu dengan skala kecil, yang hanya memerlukan beberapa orang sebagai objek penelitian, ataupun beberapa penelitian kuantitatif yang dilakukan terhadap objek atau populasi kecil, biasanya penggunaan sampel penelitian tidak diperlukan. Hal tersebut karena keseluruhan objek penelitian dapat dijangkau oleh peneliti. objek penelitian yang kecil ini disebut sebagai sampel total, yaitu,keseluruhan populasi merangkap sebagai sampel penelitian. penelitian yang tidak bertujuan membangun suatu generalisasi, cenderung tidak menggunakan sampel penelitian. Penelitian yang membangun generalisasi hasil penelitian, biasanya digunakan teknik analisis statistik inferensial untuk membuktikan kebenaran hukum kemungkinan cenderung menngunakan sampel penelitian Jelasnya apabila suatu penelitian menggunakan suatu sampel penelitian, maka penelitian tersebut menganalisis hasil penelitiannya melalui statistik inferensial, dan berarti hasil penelitian tersebut adalah suatu generalisasi. Untuk mencapai pada generalisasi yang baik maka yg perlu diperhatikan : tata cara penarikan kesimpulan diperhatikan, bobot sampel harus dapat dipertanggungjawabkan. Untuk penjelasan ini, dapat dilihat dalam Gambar

Merancang sampel penelitian Untuk merancang sampel penelitian perlu ditekankan memiliki bobot representatif yang diharapkan. Untuk mencapai bobot yang diharapkan, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sampel dalam suatu penelitian, yaitu: 1.Derajat keseragaman (degree of homogeneity) populasi. Populasi homogen cenderung memudahkan penarikan sampel, sampai pada menentukan besar kecil sampel yang dibutuhkan. Semakin homogen populasi, maka semakin besar kemungkinan penggunaan sampel dalam jumlah kecil. Pada populasi heterogen, kecenderungan menggunakan sampel besar kemungkinan sulit dihindari, karena sampel harus dipenuhi oleh wakil-wakil unit populasi. Oleh karena itu, semakin kompleks atau semakin tinggi derajat keberagamran, maka semakin besar pula sampel penelitian. 2. Derajat kemampuan peneliti mengenal sifat-sifat khusus populasi. Peneliti juga harus mampu mengenal ciri-ciri khusus populasi yang sedang atau akan diteliti.

3. Presisi (kesaksamaan) yang dikehendaki penelitian. Populasi penelitian amat besar, sehingga derajat kemampuan peneliti dalam mengenal sifat-sifat populasi amat rendah. Oleh karenanya, apabila suatu penelitian menghendaki derajat presisi yang tinggi, maka merupakan keharusan dari penelitian itu menggunakan sampel dalam jumlah yang besar, karena derajat presisi menentukan besar kecil sampel. Pada permasalahan ini, presisi juga tergantung pada tenaga, biaya, dan waktu, 4. Penggunaan teknik sampling yang tepat. Penggunaan teknik sampling juga harus bctul-betul diperhatikan kalau mau mendapatkan sampel yang representatif. Salah penggunaan teknik sampling berarti salah pula dalam memperoleh sampel. Suatu contoh, pada populasi yang berstrata dengan ciri-ciri khusus, tidak mungkin sampel diambil secara random, karena nantinya ada beberapa strata atau unit-unit khusus yang tak terwakili. Seharusnya untuk populasi semacam itu, amat bijaksana kalau digunakan teknik nonrandom, seperti strata sampling.

UKURAN SAMPEL

RANCANGAN METODE SAMPLING


1. Rancangan Sampel Probabilitas (Probability Sampling Design)= Sampling Acakan/Random

penarikan sampel didasarkan atas pemikiran bahwa keseluruhan unit populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel. Karena semua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel, maka untuk menjadi sampel, unit-unit populasi harus di random. Oleh karenanya, rancangan ini juga disebut sebagai sampling acakankarena cara kerjanya yang acakan itu.

Teknik penggunaan rancangan sampel probabilitas, yaitu: A. Mengundi Unit-unit Populasi Tata cara pengundian dapat dilakukan dengan: 1. Buatlah daftar unit populasi pada lembaran khusus lengkap dengan kode-kode khusus sebagai lambang setiap unit populasi. 2. Tulislah kode-kode khusus tersebut dalam lembaranlembaran kecil dan dilipat atau digulung satu per satu. 3. Masukan lembaran-lembaran kecil itu dalam suatu tempat kemudian dikocok. 4. Akhirnya, ambillah lembaran-lembaran tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan. Ada beberapa kesukaran dalam cara undian ini, terutama pada populasi penelitian yang sangat besar. Pada penelitian yang berpopulasi ribuan ke bawah, kemungkinan cara undian masih mudah dilakukan. Akan tetapi dapat dibayangkan kalau populasi berjumlah sampai jutaan, bahkan lebih dari itu B. Mengundi Tabel Bilangan Random Pertama, unit-unit populasi telah didaftarkan dalam rekapitulasi tertentu dan telah diberi nomor urut. Pemberian nomor urut pada rekapitulasi unit populasi ini, selalu meperhatikan berapa angka yang tertera pada jumlah total unit

populasi yang ada. Contohnya, total populasi ada 1000. Berarti unit populasi terakhir berangka empat. Oleh karena itu, unit populasi awal juga harus diberi angka empat pula, yaitu 0001. Kemudian peneliti mempersiapkan daftar bilangan random, daftar ini biasanya dalam banyak buku penelitian telah terlampiri. Namun, kalau peneliti menghendaki agar dibuat sendiri, juga dapat dilakukan, karena pada dasarnya daftar bilangan random itu adalah angka-angka yang dibuat secara rambang.

Penggunaan atau pelaksanaan undian tabel bilangan random, dapat dimulai dengan memilih sendiri angka-angka vang tertera dalam tabel tersebut sebagai pedoman angka awal. Namun agar tidak berkesan bahwa peneliti sengaja memilih angka awal, maka dapat dilakukan dengan menjatuhkan pensil pada permukaan tabel bilangan random. Angka bilangan random yang kejatuhan pensil tersebut, dapat langsung dijadikan petunjuk dimulainya pengambilan unit-unit populasi menjadi sampel, contoh: 72 38 94 83 82 38 73 94 85 73 61 93 86 88 91 63 91 77 88 76 99 77 6293816352 63 84 87 63 55 66 81 94 85 77 68 47 62 73 (64) 95 82 09 83 94 70 84 73 60 0172 74 63 48 86 73 74 56

74 53 62 74 91 64 63 74 83 84 75 73 72 83 74 75 86 98 94 73 74 74 86 85 65 Apabila pensil terjatuh pada angka 64, perhitungan angka dalam penarikan sampel dapat dimulai secara horizontal, yaitu ke kiri ataupun ke kanan, atau dapat juga secara vertikal, yaitu ke atas dan ke bawah. Dengan demikian, kalau kita memulai dengan perhitungan ke kanan, maka angka-angka yang kita peroleh adalah 958, 209, 839, 470, 847, 360, 017, dan seterusnya. Kalau kita memulai dengan perhitungan ke kiri, maka angka-angka yang kita peroleh adalah 372,674,867, 758,494, dan selanjutnya. Dan angka-angka hasil perhitungan di atas, berarti bahwa unit-unit populasi yang memiliki nomor urut 0958, 0209, 0839,0847,0360,0017, dan seterusnya, atau nomor urut 0372,0674, 0867, 0758, 0494, dan seterusnya, adalah unit-unit populasi yang dijadikan sampel pehelitian nanti. Ada beberapa catatan yang diperlihatkan dalam penggunaan rancangan ini. Pertama, apabila angka akhir dari daftar rekapitulasi unit-unit populasi adalah dua angka, maka satu angka saja sudah cukup untuk mengidentifikasi anggota sampel yang pertama. Kemudian apabila angka terakhir lebih kecil dari 100, maka hams diambi I dua angka sebagai sampel pertama, sedangkan kalau angka terakhir adalah lebih kecil dad 1000, maka tiga angkalah yang dipakai untuk sampel yang pertama. Begitu pula dengan angka-angka yang lebih besar lainnya, semuanya dapat berpedoman seperti penjelasan di atas. Kedua, kalau pada penarikan angka dalam tabel bilangan random ternyata terdapat penggulungan angka, misalnya apabila pada penarikan pertama sudah terdapat nomor OT 7, kemudian pada penarikan kedua juga terdapat; nomor 017, maka pemunculan nomor 017 yang terakhir dibatalkan dan diteruskan dengan peaarikan selanjutnya. Ketiga, penarikan angka dari daftar bilangan random sebanyak yang dibutuhknn sesuai dengan banyaknya sampel yang dibutuhkan. Contohnya, keseluruhan populasi atau unit populasi terdaftar 500 unit. Sedangkan sampel yang

dibutuhkan adalah 250 sampel, maka penarikan angka pada tabel bilangan random, harus sampai mencapai 250 sampel. Namun biasanya, penarikan tersebut melebihi jumiah sampel yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan hanyalah sebagai persiapan dalam arti rnempersiapkan cadangan, seandainya ke-250 sampel ada yang berhalangan, maka dapat diganti dengan cadangan tersebut. Sebenarnya ada beberapa ahli penelitianyang memberi uraian lebih terperinci dalam hal penggunaan rancangan mengundi tabel bilangan random. Namun sebenarnya, maksud-nya tidak berbeda dengan penjelasan di atas. Karena pada intinya bahwa dalam mengguna-kan rancangan ini, peneliti harus lepas dari kecenderungan-kecenderungannya untuk memilih angkaangka tertentu dengan maksud tertentu pula. C. Pengambilan Sampel Sistematis Rancangan ini dilaksanakan dengan mengambil unit populasi dari atas ke bawah secara sistematis. Namun demikian, pengambilan angka awal tetap dilakukan secara acak. Biasanya angka pertama diacak antara angka 2 sampai 5, hal ini dilakukan agar tidak terjadi angka kelipatan dengan jarak yang terlalu besar, atau terlalu kecil. Pelaksanaan rancangan ini pada permulaannya tidak berbeda dengan rancangan pengundian tabel bilangan random, yaitu sebelumnya telah mempersiapkan daftar rekapitulasi unit-unit populasi. Setelah itu dilakukan penentuan angka kelipatan awal, yaitu mengacak bilangan 2 sampai 5. Apabila ternyata angka 4 yang terpilih sebagai angka kelipatan, maka terpilih angka 8, 12, 16, 20, 24, 28,32, 36, 40, 44, dan seterusnya. Hal ini berarti unit populasi yang kebetulan bernomor tersebut di atas dan seterusnya adalah unit populasi yang dijadikan sampel penelitian. :Sebenamya penggunaan rancangan ini dapat digunakan secara lebih lunak, yaitu hanya dengan kesepakatan-kesepakatan. Misalnya, apabila peneliti bersepakat menjadikan angka ganjil sebagai nomor-nomor yang dijadikan sampel penelitian, maka rancangan tersebut dapat dilakukan. Dapat juga dengan kasepakatan setiap angka lima, maka dialah sampel penelitian dan sebagainya.

Pokoknya tidak ada kesengajaan peneliti untuk memilih unitunit populasi sebagai sampel penelitian. 2. Rancangan Sampel Nonprobabilitas (Nonprobability Sampling Design) tidak semua unit populasi memiliki kesempatan untuk dijadikan sampel penelitian. Hal ini karena sifat populasi itu sendiri yang heterogen sehingga terdapat diskriminasi tertentu dalam unit-unit populasi. Oleh karena itu, harus ada perlakuan khusus lainnya. Untuk menggunakan rancangan ini, peneliti membutuhkan kejelian ekstra dalam mengamati sifat-sifat tertentu sehingga nantinya dapat secara akurat menentukan teknik mana yang harus dipakai dalam menentukan sampel penelitian. Ada beberapa sifat populasi, yang kalau tidak terjadi tumpang-tindih satu dengan yang lainnya, maka terlihat sifatsifat sebagai berikut: A. Populasi Berstrata Sifat populasi semacam ini adalah terdiri dari unit-unit yang sifatnya berstrata (berlapis). Unit populasi adalah golongangolongan, kelompok-kelompok dan sebagainya yang memiliki sifat bertingkat atau berlapis yang jelas. Contoh : suatu penelitian yang berpopulasi pedagang dikota Surabaya. Pedagang-pedagang tersebut dapat dibagi menjadi: pedagang kecil, pedagang menengah, dan pedagang besar. Kalau populasi penelitian mahasiswa, maka dapat dibagikan menjadi mahasiswa semester I, II, III, IV, sampai dengan semester VIII. Kalau kita meneliti jumlah pendapatan petani, maka petani dapat dibagi menjadi: petani berpenghasilan kecil, petani berpenghasilan sedang dan petani berpenghasilan besar.

B. Populasi Area Sifat populasi area adalah amat mudah ditentukan, asalkan penelitian mengetahui batas-batas area tersebut. Kalau penelitian menggunakan pembatasan suatu area dilihat dari pembatasan sistem pemerintahan, maka unit populasi adalah dukuh, desa, kecamatan, kabupaten dan seterusnya. Contoh: Kalau kita mengadakan penelitian terhadap kegiatan koperasi di Jawa Timur, mungkin pembagian area koperasi dapat berdasarkan daerah kerja masing-masing koperasi tersebut, dan sebagainya.

C. Populasi Cluster Populasi ini menunjukkan unit-unit yang berumpun atau berkelompok, tanpa ada pada tingkatan masing-masing kelompok atau rumpun yang ada. Kalau populasinya adalah umat beragama, maka ada umat: Kristen, Protestan, Hindu, Buddha, dan Islam. Kalau populasi adalah penduduk berdasarkan etnis, maka ada penduduk: Jawa, Ambon, Batak, Sunda, Kalimantan, Irian, Sulawesi, Tionghoa, dan sebagainya.

D. Populasi dengan Beraneka Sifat Mungkin peneliti sedikit menguras pikirannya, kalau dia menghadapi penelitian dengan populasi yang beraneka sifat. Kesulitan awal yang dihadapi adalah pada saat mengadakan pemantauan terhadap keanekaragaman populasi. Sekilas, populasi kelihatannya berstrata, karena memang unit-unit populasi berstrata. Akan tetapi kalau diamati lebih jauh lagi sebenarnya tidak berstrata saja, tetapi juga merupakan rumpun-rumpun tertentu, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa unit-unit populasi memiliki wilayah-wilayah tertentu. Dalam rancangan nonprobabilitas, pemantauan sifat-sifat populasi yang akurat saja tidak atau belum menjamin dihasilkannya sampel yang representatif. Kemudian sifat populasi dipadukan dengan tujuan atau permasalahan penelitian itu sendiri, dari hal tersebut diambil sampel yang representatif.

Pengambilan sampel melalui rancangan nonprobabilitas, seperti dari beberapa macam bentuk, seperti: (a) Stratified Sampling Rancangan ini digunakan apabila populasi menunjukkan sifat berstrata. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan pada waktu menggunakan teknik sampling ini, yaitu: 1. Setiap unit strata harus memiliki kriteria yang jelas, yang dipergunakan sebagai dasar dalam menentukan anggota unit strata. 2. Setiap unit strata harus dapat diketahui secara pasti jumlah anggotanya. Contoh: Kalau populasi dibagi menjadi 3 strata, yaitu anggota Karang Taruna RT I, RTII, dan RT III. Masing-masing anggota Karang Taruna tersebut harus diketahui berapa jumlahnya. kita menentukan jumlah masing-masing perwakilan dari setiap strata yang ada. Bila persoalan ini disepelekan, mungkin teknik stratified sampling ini sudah berubah dari sifatnya semula. Kalau kita berbicara teknik ini secara khusus, maka penentuan jumlah perwakilan setiap strata yang bergabung dalam struktur sampel penelitian tidak menjadi persoalan. Hal yang penting bahwa setiap unit strata dalam keseluruhan populasi penelitian yang ada harus ada wakilnya dalam struktur sampel, ini sebenarnya esensi dari stratified sampling. (b) Area Sampling Teknik ini dipakai apabila populasi penelitian adalah populasi area. Populasi yang berada pada daerah besar kemudian dibagi menjadi daerah-daerah kecil yang jelas batas-batasnya. Untuk keperluan ini, peneliti mungkin membutuhkan peta atau potret udara dari daerah yang diteliti. Peta atau potret udara ini diperlukan untuk menentukan segmen-segmen wilayah, yang dalam teknik ini menjadi unit-unit populasi.

Jika peneliti telah mengetahuil segmen-segmen wilayah populasi tersebutkatakan saja populasi dibagi menjadi daerah pemukiman mahasiswa, daerah pemukiman gelandangan, real estate, perkantoran, pertokoan, nelayan, dan daerah industry. Kemudian daerah-daerah atau unit-unit populasi ini sesuai dengan tujuan penelitiandiambil wakilnya sebagai sampel. (c) Cluster Sampling Kalau kita mengadakan penelitian, pada penelitian tersebut mengisyaratkan populasi dalam bentuk unit-unit khusus seperti agama, golongan, suku, bangsa, atau dapat dikatakan populasi kita adalah populasi cluster, maka penggunaan teknik cluster sampling adalah jawaban dari pertanyaan bagaimana kita menarik sampel dari populasi seperti ini. cluster sampling tidak memilih individu-individu sebagai anggota unit sampel, tetapi memilih rumpun-rumpun populasi sebagai anggota unit populasi. Contoh kita hendak meneliti pendapat umum tentang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, maka kita dapat mengelompokkan masyarakat Indonesia dalam cluster suku atau asal daerah masing'masing. Misalnya, masyarakat Indonesia dibagi menjadi asal daerahnya: Jawa, Medan, Palembang, Padang, Pontianak, Samarinda, Balikpapan, dan Denpasar. Dari cluster tersebut kita minta pendapat tentang SARA. Pendapat tentang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dari cluster tersebut dianalisis sebagai pendapat umum bangsa Indonesia tentang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. (d) Sampling Gugus Bertahap Kalau kita mengadakan penelitian dengan populasi dari sebuah provinsi, sedangkan yang harus menjadi sampel hanya sepuluh buah desa saja. Ini berarti kita harus menyeleksi sekian banyak desa yang ada dalam provinsi tersebut untuk

dijadikan sampel. Oleh karena itu, teknik Sampling Gugus Bertahap dapat digunakan untuk keperluan tersebut. Contoh: apabila kita meneliti efektivitas penyuluhan pertanian melalui radio masyarakat pedesaan di Provinsi Maluku. Sampel penelitian yang kita butuhkan hanya 8 desa, dengan perbandingan empat desa surplus pertanian dan empat desa lagi adalah desa minus pertanian. Untuk mendapat delapan desa dengan kriteria masing-masing tersebut, kita pilih beberapa kabupaten. Misalnya kita memilih dua kabupaten, yang terdiri dari satu kabupaten surplus pertanian dan satu kabupaten lagi adaah minus pertanian. Dari dua kabupaten tersebut, kita ambil empat kecamatan, dengan perbandingan dua kccamatan surplus pertanian dan dua kecamatan minus pertanian. Dari setiap kecamatan tersebut kita ambil lagi masing-masing dua desa dengan perbandingan surplus-minus seperti di atas sehingga keseluruhannya ada delapan desa yang merupakan desa sampel. Untuk gambaran ini dapat dilihat pada skema pada Gambar

(d) Proposional Sampling Teknik sampling ini agak lebih leluasa dalam penggunaannya, maksudnya teknik ini dapat digunakan pada populasi berstrata, populasi area ataupun populasi cluster.

Hal yang terpenting dalam teknik ini adalah penggunaan perwakilan berimbang, karena itulah sebelum menggunakan teknik ini, peneliti harus mengenal lebih dulu ciri-ciri tertentu dari populasi yang ada. Peneliti harus mengetahui besar kecil unit-unit pcpulasi yang ada. Kemudian dengan pengetahuan ini peneliti mengambil wakil dari unit-unit populasi tersebut dengan sistem perwakilan yang berimbang. Contoh: apabila kita meneliti minat baca mahasiswa disalah satu perguruan tinggi. Dari permasalahan ini, populasi penelitian berkemungkinan menjadi strata, yaitu ada mahasiswa semester satu, semester tiga, semester lima, dan semester tujuh. Dari strata ini, peneliti harus mengetahui jumlah individu yang tergabung di dalam struktur strata tersebut, karena mungkin saja setiap unit strata memiliki jumlah individu yang berbeda. Umpamanya sebagai berikut: (Unit I) Pegawai golongan I : 300orang (Unit II) Pegawai golongan II : 300orang (Unit III) Pegawai golongan III : 250orang (Unit IV) Pegawai golongan IV : 250 orang Jumlah : lOOOorang Setelah mengetahui jumlah setiap unit populasi yang ada, penelitian kemudian mengambil wakil dari setiap unit di atas secara berimbang. Peneliti dapat menggunakan persentase untuk menakar pembagian yang berimbang. Kalau peneliti menetapkan masing-masing unit diwakili oleh 10% jumlah seluruh unit, maka unit I diwakili oleh 30 orang, unit II30 orang, unit III 25 orang, unit IV 15 orang, total seluruhnya adalah 100 orang yang akan menjadi sampel penelitian. (e) Purposive Sampling Teknik sampling ini digunakan pada penelitian-penelitian yang lebih mengutamakan tujuan penelitian daripada sifat populasi dalam menentukan sampel penelitian. Walaupun demikian, untuk menggunakan teknik ini peneliti seharusnya

orang yang pakar terhadap karakteristik populasi. Berdasarkan pengetahuan yang jeli terhadap populasi, maka unit-unit populasi yang dianggap "kunci", diambil sebagai sampel penelitian. Contoh: Kalau kita meneliti pendapat umum tentang mutu siaran televisi di Indonesia, maka kita akan menjadikan semua pemilik televisi sebagai sampel penelitian. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa pemilik televisi adalah orang yang lebih banyak tahu tentang acara televisi. meneliti jenis kembang gula mana yang disenangi masyarakat, maka sampel penelitian diambil dari anak-anak berumur 5 sampai 10 tahun, karena biasanya anak-anak berumur inilah yang paling menyukai kembang gula. (e) Quata Sampling Teknik sampling ini memiliki sifat yang tidak jauh dari purposive sampling, yaitu lebih mementingkan tujuan penelitian dalam menentukan sampling penelitian. Sampel penelitian adalah unit populasi yang telah ditentukan lebih dulu, makanya Quata Sampling digunakan hanya untuk menentukan unit populasi yang akan dijadikan sampel penelitian. Unit populasi yang menjadi sampel penelitian, selanjutnya diinterviu atau diberi questionei. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah semua unit populasi yang telah ditentukan sebagai sampel penelitian, haruslah diinterviu atau diberi kuesioner, dengan kata lain semua unit populasi yang termasuk dalam quota haruslah dijadikan responden dalam penelitian tersebut. Contoh: kalau kita meneliti persepsi mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di Kopertis wilayah VII tentang pekerjaan apa yang disenangi, maka perguruan tinggi dapat dikelompok' kan menjadi: universitas, institut, sekolah tinggi, dan akademi. Kemudian masing-masing perguruan tinggi yang terkelompokkan dalam kelompok di atas dijatah besarnya

jumlah mahasiswa yang akan dijadikan sampel. Kemudian semua mahasiswa yang terkena jatah sampel itu diminta persepsinya tentang pekerjaan apa yang disenangi. Kalangan peneliti menganggap bahwa teknik ini menghasilkan sampel yang tidak atau kurang probable terhadap apa yang ia wakili, oleh karenanya sampel dari teknik sampling ini tidak atau kurang representatif. Mungkin saja demikian, tetapi apabila peneliti menemukan sifat populasi yang relatif homogen pada penelitian tertentu, kemudian teknik ini digunakan, maka tidak mustahil kalau sampel yang dihasilkan dari teknik ini adalah sampel yang representatif (lihat gambar sampel representatif). Mungkin juga teknik ini punya kemiripan yang kuat dengan random, tetapi sifat dari quata sampling yang non-probabilitas itulah, menjadikan kedua teknik ini berbeda satu dengan yang lain. Maksudnya apabila random sampling dapat seenaknya mengambil unit-unit populasi sebagai sampel penelitian disebabkan sifat populasi adalah "mutlak" homogen sedangkan quata sampling dibelenggu oleh tujuan penelitian dan sifat populasi yang tidak "mutlak" homogen, berakibat quata sampling tidak seperti yang terjadi pada random sampling. Hal yang terpenting dari teknik ini bahwa jatah sampel harus ada dari unit-unit populasi tersebut dan jatah sampel tcrsebut harus terpakai habis. (f) Incidental Sampling Teknik sampling ini teknik yang paling diragukan akan menghasilkan sampel yang representatif, hal ini disebabkan oleh sifat "kebetulan" dalam menentukan sampel. Penelitian yang biasa menggunakan teknik sampling ini adalah penelitian yang populasinya adalah individu-individu yang sukar ditemui dengan alasan sibuk, tidak mau diganggu, tidak bersedia menjadi responden, atau alasan lainnya. Oleh karena itu, siapa saja yang ditemui dan masuk dalam kategori populasi, dapat diinterviu sebagai sampel atau responden.

Contoh: apabila kita meneliti pendapat buruh bangunan tentang kenaikan harga bahan pokok dan pengaruh terhadap keadaan ekonomi rumah tangganya. Untuk memperoleh sampel atau responden penelitian dari kalangan ini, mungkin mengalami kesukaran karena pekerja buruh bangunan biasanya buruh harian dan kadang juga bekerja lembur. Untuk kesukaran ini, peneliti dapat saja menemui buruh bangunan tersebut di tempat kerjanya, atau di terminal bus pada saat mereka akan pulang. Beberapa orang saja dari mereka yang dapat dan mau menjadi responden diinterviu. Responden-respondcn fersebut itulah sampel penelitian yang sesungguhnya dari teknik Incidental Sampling. (g) Double Sampling Biasanya juga teknik ini disebut dengan Sampling Kembar. Teknik ini amat bermanfaat bagi penelitian yang populasinya besar, yang pengumpulan datanya menggunakan angket melalui jasa pos. Umpamanya, kita meneliti tentang kecenderungan pembaca harian Kompas dalam memilih rubrik yang disukai. Untuk penelitian ini, peneliti menyebarkan angket ke seluruh pelanggan harian Kompas. Dari keseluruhan angket yang disebarkan tenrunya ada beberapa yang tidak kembali. Untuk mengatasi ini, maka digunakan metode lain yaitu interviu. Bagi mereka yang tidak mengembalikan angket penelitian, kemudian diinterviu. Double Sampling juga biasanya bermanfaat bagi cross check atau cross validity terhadap sampel penelitian, baik penelitian yang menggunakan satu sampel maupun penelitian yang menggunakan sampel pembanding. Pada penelitian kualitatif, ide dari double sampling ini banyak digunakan pada kegiatan cross validity terhadap informasi yang dihimpun peneliti ataupun untuk keperiuan cross check terhadap peneliti lain dalam satu penelitian. (h) Multifarious Sampling Tidak selamanya dalam berbagai penelitian, populasi memiliki satu sifat yang mudah diamati oleh peneliti.

Terbanyak dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, peneliti menemui populasi dengan beraneka sifat tertentu dan kadang sifat tersebut saling tumpang-tindih. Munculnya sifat populasi yang demikian ini disebabkan permasalahan dan tujuan penelitian yang multifarious, yang menyebabkan peneliti berpikir ekstra untuk menentukan teknik sampling apa yang akan dipakai. Multifarious sampling sesungguhnya merupakan kombinasi dari beberapa teknik sampling, baik probabilitas maupun nonprobabilitas. Makanya beberapa peneliti juga menyebutkan teknik ini dengan "Combined Sampling". Misalnya, kalau kita mau meneliti kebiasaan remaja perkotaan menonton tayangan erotika di media massa, yang menjadi populasi penelitian adalah seluruh remaja perkotaan di Surabaya. Langkah pertama adalah mendaftar keseluruhan pemilik televisi di desa cara ini lebih mudah kalau peneliti menghubungi instansi yang mengurus register televisi. Setelah menge-tahui seluruh pemilik televisi, kemudian kita menentukan sifat-sifat populasi yang sebenar-nya. Umpamanya dari hasil penjajakan di atas, kita menemukan dalam beberapa kabupaten dengan desa-desa yang memiliki pemilik televisi terbanyak, kabupaten dengan desa-desa yang memiliki pemilik televisi sedikit. Ini berarti sebelum kita menuniuk desa sampel, kita menentukan stratifikasi kabupaten berdasarkan banyak sedikitnya pemilikan televisi. Untuk menentukan kabupaten mana yang mewakili stratanya, kita menggunakan random. Kemudian untuk menentukan kecarnatan dan desa mana yang akan diiadikan sampel penelitian, juga digunakan random sampling. Kalau begini caranya kita menentukan sampel penelitian, maka teknik sampling dapat kita namakan "Stratified Random Sampling". Dalam Multifarious Sampling juga dapat terdiri dari tiga atau lebih teknik sampling yang ada. Mungkin "Pusposive Stratified Random Sampling", dan sebagainya. Hal yang

penting dari Multifarious Sampling ini, bahwa semua teknik sampling yang digunakan dalam sebuah penelitian dapat membentuk sebuah nama untuk teknik sampling yang bersangkutan. Pengenalan terhadap populasi dan untuk menunjuk sampel yang representatif, perlu diperhatikan sifat-sifat populasi sebagai berikut: 1) Sifat populasi apakah homogen atau heterogen? 2) Seberapa besar populasi dan ukuran sampel yang diperlukan 3) Tinggi rendah tingkat representasi dari sampel yang digunakan 4) Tingkat pengenalan peneliti terhadap unit-unit khusus dalam populasi 5) Kesesuaian teknik sampling terhadap populasi penelitian

HUBUNGAN ANTARA DIKLAT PEGAWAI DENGAN KEMAMPUAN PEGAWAI DI KOTA BANDARLAMPUNG (STUDI DI KEC TK. BARAT) POPULASI: PEGAWAI STRATA: GOLONGAN PEGAWAI AREA: KEC. TK. BARAT CLUSTER: BERBAGAI SIFAT: STRATA DAN AREA

PERTEMUAN 9

MID SEMESTER

TEHNIK PENGUMPULAN DATA


A. PENGERTIAN DATA DAN JENISNYA
Data adalah bentuk jamak dari datum. Data merupakan keterangan-keterangan tentang suatu hal, dapat berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap atau anggapan. Atau suatu fakta yang digambarkan lewat angka, simbol, kode dan lam-lain. Data perlu dikelompok-kelompokkan terlebih dahulu, sebelum dipakai dalam proses analisis. Pengelompokkan data disesuaikan dengan karakteristik yang menyertainya. 1. Pengelompokkan Data menurut Sumber Pengambilannya Berdasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut. a. Data primer Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya. Data primer ini, disebut juga data asli atau data baru. b. Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data ini, biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari laporan-laporan peneliti terdahulu. Data sekunder disebut juga data tersedia. 2. Pengelompokkan Data menurut Waktu Pengumpulannya Berdasarkan waktu pengumpulannya, data dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut: a. Data berkala (time series) Data berkala adalah data yang terkumpul dari waktu ke waktu untuk memberikan gambaran perkembangan suatu kegiatan atau keadaan. b. Kerat lintang (cross section) Kerat lintang adalah data yang terkumpul pada suatu waktu tertentu untuk memberikan gambaran perkembangan suatu kegiatan atau keadaan pada waktu itu. 3. Pengelompokkan Data menurut Sifatnya

Berdasarkan sifatnya, data dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut. a. Data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk bilangan. b. Data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk bilangan. 4. Pengelompokkan Data menurut Tingkat Pengukurannya Berdasar tingkat pengukurannya (skalanya), data dibedakan atas empat, yaitu sebagai berikut: a. Data nominal Data nominal adalah data yang berasal dari pengelompokan peristiwa berdasarkan kategori tertentu, yang perbedaannya hanyalah menunjukkan perbedaan kualitatif. b. Data ordinal Data ordinal adalah data yang berasal dari obyek atau kategori yang disusun menurut besarnya, dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi atau sebaliknya dengan jarak atau rentang yang tidak harus sama. c. Data interval Data interval adalah data yang berasal dari obyek atau kategori yang diurutkan berdasarkan suatu atribut tertentu, di mana jarak antara tiap obyek atau kategori adalah sama. Pada data ini, tidak terdapat angka nol mutlak. d. Data rasio Data rasio adalah data yang menghimpun semua ciri dari data nominal, data ordinal dan data interval dan dilengkapi titik nol absolut dengan makna empiris. Angka pada data ini, menunjukkan ukuran yang sebenarnya dari obyek/kategori yang diukur.

B. PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data adalah pencatatan peristiwa-peristiwa atau hal-hal atau keterangan-keterangan atau karakteristik-karakteristik sebagian atau seluruh elemen populasi yang akan menunjang atau mendukung penelitian. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik tertentu seperti berikut: Berdasarkan caranya, dikenal beberapa cara pengumpulan data, yaitu sebagai berikut. 1. Angket (Kuesioner) Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden.

Responden adalah orang yang memberikan tanggapan (respons) atasatau, menjawab-pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk dapat menggunakan teknik ini, disyaratkan ressponden harus memiliki tingkat pendidikan yang memadai. Keuntungan teknik angket ini adalah sebagai berikut: 1. Angket dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirim melalui pos. 2. Biaya yang diperlukan untuk membuat angket relatif murah. 3. Angket tidak terlalu mengganggu responden karena pengisiannya (menjawab pertanyaan) ditentukan oleh responden itu sendiri. Kerugian teknik angket ini adalah sebagai berikut: 1. Jika dikirim melalui pos, maka prosentase yang dikembalikan relatif rendah. 2. Angket tidak dapat digunakan pada responden yang tidak mampu mmbaca dan menulis. 3. Pertanyaan-pertanyaan dalam angket dapat ditafsirkan salah oleh responden. Angket dikatakan baik, efektif dan efisien apabila memenuhi komponen-komponen berikut: 1. Ada subyek, yaitu individu atau lembaga yang melaksanakan penelitian. 2. Adanya ajakan, yaitu permohonan dari peneliti kepada responden untuk turut serta mengisi secara aktif dan obyektif pertanyaan maupun pernyataan yang tersedia. 3. Ada petunjuk pengisian angket, yang mudah dimengerti dan tidak bias. 4. Ada pertanyaan maupun pernyataan beserta tempat mengisi jawaban, baik secara tertutup, semi tertutup ataupun terbuka. 5. Pertanyaan dalam angket ini dapat berbentuk pertanyaan terbuka atau tertutup atau kombinasi antara terbuka dan tertutup. Dalam membuat pertanyaan atau pernyataan, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu sebagai berikut: 1. Pertanyaan atau pernyataan yang dibuat harus jelas dan tidak meragukan. 2. Hindari pertanyaan atau pernyataan ganda. 3. Responden harus mampu menjawab. 4. Pertanyaan atau pernyataan harus relevan. 5. Pertanyaan atau pernyataan sebaiknya pendek. 6. Hindari pertanyaan atau pernyataan yang bias, sugestif.

Berdasarkan bentuk pertanyaan atau pernyataan yang ada dalam angket tersebut, angket dapat dibedakan atas 3 golongan, yaitu sebagai berikut: a. angket terbuka (opened questionare) Merupakan angket yang pertanyaan atau pernyataannya memberikan kebebasan kepada responden untuk memberikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan keinginan mereka. b. angket tertutup (closed questionare) Merupakan angket yang pertanyaan atau pernyataannya tidak memberikan kebebasan kepada responden, untuk memberikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan keinginan mereka. c. angket semi terbuka (semi opened question are) Merupakan angket yang pertanyaan atau pernyataannya memberikan kebebasan kepada responden untuk memberikan jawaban dan pendapat menurut pilihan-pilihan jawaban yang teiah disediakan. 2. Wawancara (interview) Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam. Teknik wawancara ini, juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan wawancara adalah sebagai berikut. 1. Wawancara dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis. 2. Jika ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya. 3. Pewawancara dapat segera mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding, atau dengan melihat wajah atau gerak gerik responden. Kekurangan wawancara adalah sebagai berikut: 1. Wawancara memerlukan biaya yang sangat besar untuk perjalanan dan uang harian pengumpul data. 2. Wawancara hanya dapat menjangkau jumlah responden yang kecil. 3. Kehadiran pewawancara mungkin mengganggu responden. Daftar pertanyaan untuk wawancara ini, disebut interview schedule. Sedangkan catatan garis besar tentang pokok-pokok yang ditanyakan disebut pedoman wawancara (interview guide).

Teknik wawancara ini dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut: a. Wawancara berstruktur Merupakan teknik wawancara di mana pewawancara menggunakan (mempersiapkan) daftar pertanyaan, atau daftar isian sebagai pedoman saat melakukan wawancara. b. Wawancara tidak berstruktur Merupakan teknik wawancara di mana pewawancara tidak menggunakan daftar pertanyaan atau daftar isian sebagai penuntun selama dalam proses wawancara. Dalam melakukan wawancara ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut: 1. Penampilan fisik, termasuk pakaian yang dapat memberikan kesan apakah pewawancara dapat dipercaya atau tidak. 2. Sikap dan tingkah laku. 3. Identitas, pewawancara harus memperkenalkan dirinya dan kalau perlu menunjukkan tanda pengenal atau surat tugas. 4. Kesiapan materi, dalam arti pewawancara memahami dan menguasai apa yang kan ditanyakan dan siap memberikan jawaban apabila diperlukan. 5. Sebaiknva lakukan perjanjian dengan calon responden, kapan mereka bersedia untuk diajak wawancara. 6. Mulailah wawancara dengan terlebih dahulu menggunakan kalimat pembuka atau kalimat pengantar, dan dalam proses wawancara, gunakan bahasa yang baik dan benar. 7. Kontrol jalannya wawancara dan bila perlu pihak responden dituntun seperlunya, agar ia tidak mengalami banyak kesulitan dalam menjawab atau mengemukakan pendapat. Observasi Observasi adalah pemilihan, pengubahan, pencatatan dan pengodean serangkaian prilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme in situ, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris. Dari definisi observasi di atas, terdapat 7 hal yang menjadi komponen observasi, yaitu sebagai berikut: a. Pemilihan, menunjukkan pengamat mengedit dan memfokuskan pengamatannya secara sengaja atau tidak. b. Pengubahan, menunjukkan bahwa observasi boleh mengubah prilaku atau suasana tanpa mengganggu kewajarannya. 3.

c.

d. e.

f.

g.

Pencatatan, menunjukkan upaya merekam kejadian-kejadian dengan menggunakan catatan lapangan, sistem kategori dan metode-metode lainnya. Pengodean, menunjukkan proses penyederhanaan catatancatatan itu melalui metode reduksi data. Rangkaian prilaku dan suasana, menunjukkan bahwa observasi melakukan serangkaian pengukuran yang berlainan pada berbagai prilaku dan suasana. In situ, menunjukkan bahwa pengamatan kejadian terjadi melalui situasi alamiah, walaupun tidak berarti tanpa menggunakan manipulasi eksperimental. Tujuan empiris, menunjukkan bahwa observasi memiliki bermacam-macam fungsi dalam penelitian, deskripsi, melahirkan teori dan hipotesis, atau menguji teori atau hipotesis.

Teknik observasi ini, memiliki beberapa kelebihan juga kekurangan seperti halnya teknik pengumpulan data lainnya. Kelebihan teknik observasi adalah sebagai berikut: 1. Data yang diperoleh adalah data aktual/segar dalam arti bahwa data diperoleh dari responden pada saat terjadinya tingkah laku. 2. Keabsahan alat ukur dapat diketahui secara langsung. Tingkah laku yang diharapkan muncul mungkin akan muncul atau mungkin juga tidak muncul. Karena tingkah laku dapat dilihat atau diamati, maka kita segera dapat mengatakan bahwa yang diukur memang sesuatu yang dimaksudkan untuk diukur. Kelemahan teknik observasi adalah sebagai berikut: 1. Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka pengamat harus menunggu dan mengamati sampai tingkah laku yang diharapkan terjadi/muncul. 2. Beberapa tingkah laku, seperti tingkah laku kriminal atau yang bersifat pribadi, sukar atau tidak mungkin diamati bahkan mungkin dapat membahayakan si-pengamat jika diamati. Observasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis seperti berikut ini: Berdasarkan keterlibatan pengamatan dalam kegiatan orangorang yang diamati, maka observasi dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut. a. Observasi partisipan. Merupakan observasi di mana pengamat ikut serta terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diteliti atau yang diamati, seolah-olah rnerupakan bagian dari mereka.

b. Observasi tak partisipan. Merupakan observasi di mana pengamat berada di luar subyek yang diteliti dan tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan, observasi dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut. a. Observasi berstruktur. Merupakan observasi di mana pengamat dalam melaksanakan observasinya, menggunakan pedoman pengamatan. b. Observasi tak berstruktur. Merupakan observasi di mana pengamat dalam melaksanakan observasinya, melakukan pengamatan secara bebas. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subyek penelitian, namun melalui dokumen. Dokumen yang digunakan dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan kasus dalam pekerjaan sosial dan dokumen lainnya. Beberapa kelebihan dari studi dokumentasi ini adalah sebagai berikut. 1. Pilihan alternatif, untuk subyek penelitian tertentu yang sukar atau tidak mungkin dijangkau, maka studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian (pengumpulan data). 2. Tidak reaktif, karena studi dokumentasi tidak dilakukan secara langsung dengan orang, maka data yang diperlukan tidak terpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpul data. 3. Untuk penelitian yang menggunakan data yang menjangkau jauh ke masa lalu, dokumentasi memberikan cara yang terbaik. 4. Besar sampel, dengan dokumen-dokumen yang tersedia, teknik memungkinkan untuk mengambil sampel yang lebih besar dengan biaya yang relatif kecil. Kelemahan studi dokumentasi adalah sebagai berikut: 1. Bias, biasanya data yang disajikan dalam dokumen bisa berlebihan atau tidak ada (disembunyikan). 2. Tersedia secara selektif, tidak semua dokumen dipelihara untuk dibaca ulang oleh orang lain. 3. Tidak komplit, data yang terdapat dalam dokumen biasanya tidak lengkap. 4.

4. Format tidak baku, format yang ada pada dokumen biasanya berbeda dengan format yang terdapat pada penelitian, disebabkan tujuan penulisan dokumen berbeda dengan tujuan penelitian.

RELIABILITAS DAN VALIDITAS


INSTRUMEN PENELITIAN :
ALAT YG DIGUNAKAN UNTUK MELAKUKAN PENGUKURAN, DALAM HAL INI ALAT UTK MENGUMPULKAN DATA PADA SUATU ENELITIAN HUBUNGAN ANTARA INSTRUMEN DAN METODE PENELITIAN METODE INSTRUMEN
KUESIONER/ANGKET WAWANCARA OBSERVASI DOKUMENTASI ANGKET PEDOMAN WAWANCARA CEKLIS CEKLIS

INSTRUMEN YG BAIK HARUS MEMENUHI 2 UNSUR 1. RELIABILITAS (KEANDALAN) 2. VALIDITAS (SAHIH)

RELIABILITAS(KEANDALAN,DPT DIPERCAYA )
Tingkat ketepatan, ketelitian dan keakuratan instrumen Menunjukkan konsistensi hasil ukuran yang sama tentang sesuatu yang diukur pada waktu yang berlainan Contoh: Tes intelegensi memberi hasil yg sama apabila diulang

RELIABILITAS TERDIRI DARI 2, YAITU:

1. RELIABILITAS EKSTERNAL
PENGUKURAN DILUAR INSTRUMEN INSTRUMEN DICOBAKAN BEBERAPA KALI PADA SAMPEL YANG SAMA, WAKTU BERLAINAN, HASIL TETAP MANTAP

2. RELIABILITAS INTERNAL
PENGUKURAN INSTRUMEN MELALUI BUTIR-BUTIR

BEBERAPA METODE RELIABILITAS


1. METODE TES ULANG ; DIUJICOBAKAN BEBERAPA KALI PADA RESPONDEN 2. METODE KONSISTENSI BUTIR/PARALEL : MELALUI 2 INSTRUMEN YG BUTIR-BUTIR PERTANYAAN/ PERNYATAAN EKUIVALEN

VALIDITAS (SAHIH)
UKURAN YG MENUNJUKKAN TINGKAT KESAHIHAN INSTRUMEN MAMPU MENGUKUR APA YG DIINGINKAN/ MENGUNGKAP DATA DR VARIABEL YG DITELITI SECARA TEPAT MENGGUNAKAN METODE STATISTIK

PENGOLAHAN DATA
PENGOLAHAN DATA :
suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan caracara atau rumus-rumus tertentu.

KEGIATAN PENGOLAHAN DATA

1. EDITING

pengecekan atau pengoreksian data yang telah dikumpulkan, karena kemungkinan data yang masuk (raw data) atau data terkumpul itu tidak logis dan meragukan.

Tujuan editing adalah:


menghilangkan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pencatatan di lapangan dan bersifat koreksi.

Hal-hal yang perlu diedit pada data masuk adalah


a. Dipenuhi tidaknya instruksi sampling. Apakah responden yang diambil datanya, sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan. b. Dapat dibaca atau tidaknya data yang masuk. Jika terdapat tulisan tangan atau singkatan yang tidak jelas, maka data harus dikembalikan pada pengumpul data untuk menerangkannya. c. Kelengkapan pengisian. Mungkin terdapat bagian yang kosong/tidak diisi, apakah berarti tidak ada jawaban ataukah responden menolak memberi jawaban? Ini perlu ditanyakan kepada pengumpul data. d. Keserasian (consistency). Apakah tidak ada hal-hal yang saling bertentangan, misalnya tidak kawin, tetapi pada kolom anak terdapat jawaban 3 orang. Juga, misalnya pada pertanyaan "kepada siapa Anda memeriksakan diri jika merasa sakit?", tertulis jawaban; ke dokter. Sedangkan pertanyaan tentang obat yang sering digunakan untuk mengatasi penyakit, dijawab dengan obat tradisional. Ini tidak konsisten, maka perlu ditanyakan kepada pengumpul data. e. Apakah isi jawaban dapat dipahami. Misalnya, terhadap jawaban yang terlalu panjang sehingga pengumpul data menvingkatnya, akibatnya

jawaban dari responden menjadi kurang jelas atau kabur

2. CODING
Pemberian/pembuatan kode-kode pada tiaptiap data yang termasuk dalam kategori yang sama. Kode adalah isyarat yang dibuat dalam bentuk aneka-aneka/huruf-huruf yang memberikan petunjuk, atau identitas pada suatu informasi atau data yang akan dianalisis. Contoh Coding. Kode pendidikan Pendidikan Kode Buta Huruf 00 SD 01 SLTP 02 SLTA 03 Akademi 04 Strata 1 05 Strata 2 06 Strata 3 07

3. TABULASI
Membuat tabel-tabel yang berisikan data yang telah diberi kode, sesuai dengan analisis yang dibutuhkan. Untuk melakukan tabulasi ini, diperlukan ketelitian dan kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan khususnya dalain tabulasi silang.

Tabel tabulasi ini dapat berbentuk dibawah ini.


a. Tabel pemindahan (transfer table). Tabel tempat memindahkan kode-kode kuesioner atau pencatatan pengamatan. dari

Tabel pemindahan ini, berfungsi sebagai dokumen atau arsip. Tabel ini terdiri atas kolom-kolom dan baris-baris. Kolom pertama yang terletak paling kiri digunakan untuk nomor urut atau kode responden. Kolom kedua dan selanjutnya digunakan untuk variabel-variabel yang terdapat dalam kuesioner (pencatatan pengamatan). Baris-baris digunakan untuk setiap responden. Contoh dari tabel pemindahan tersebut.
No. Resp. Butir Pertanyaan (atau pernyataan)
1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 Dst 4 3 9 10 11

b. Tabel biasa (main table). tabel yang disusun berdasarkan sifat responden tertentu dan tujuan tertentu. Tabel biasa sifatnya kolektif dan memuat beberapa jenis informasi. Contoh dan tabel biasa.
RESPONDEN (1) 001 002 ...... JUMLAH RATA-RATA BIAYA PENGGUNAAN MEDIA (2) TV RADIO CETAK 10.000 3.000 25.000 12.500 2.500 30.000 ...... ...... ...... TOTAL (3) 38.000 45.000 ......

c. Tabel Analisis (talk table).


Tabel yang memuat suatu jenis informasi yang telah dianalisis. Dari tabel analisis ini, dapat ditarik suatu kesimpulan (generalisasi). Tabel ini hanya memuat satu jenis informasi.

Tabel analisis persyaratan:

harus

memenuhi

beberapa

Keterangan-keterangan yang bersifat kualitatif harus dikuantitatifkan. Memungkinkan orang lain atau pembaca untuk membuat analisis yang lebih luas. Mengefisienkan analisis atau mempersingkat keterangan.

Tabel analisis akan terdiri atas beberapa bagian, yaitu


Bagian judul. Bagian keterangan. Bagian isi (keterangan kuantitatif).

Teknik pembuatan tabel analisis:


Tabel analisis harus diberi nomor berurutan memuat judul jawaban atas 3 pertanyaan: apa, dimana, kapan Kolom tabel sedikit mungkin Tabel analisis harus dibuatkan sumbernya (data primer/sekunder) Penulisan judul tabel sesingkat mungkin dan jelas

Tabel analisis dapat berbentuk:


1. Tabel satu arah atau tabel tunggal memuat 1 variabel atau informasi apa saja, terutama untuk deskripsi data

Contoh:
No. 1 2 3 Jenis Kelamin Laki-laki Wanita Tidak dijawab Jumlah 50 30 20 Persen 50% 30% 20%

Jumlah

100

100%

2. Tabel silang tabel yang memuat dua variabel atau dua informasi. Contoh:
Pendidikan Jenis Kelamin Pria 1.SLTP 2. SLTA 3. D3 4. S-l 5. S-2 6. S-3 Wanita Jumlah

Jumlah

Anda mungkin juga menyukai