Anda di halaman 1dari 26

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN LAPORAN KULIAH LAPANGAN KE KAMPUNG ADAT CIREUNDEU DAN REPOEBLIK TELO

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Agribisnis Tanaman Pangan

Disusun Oleh: Wendi Irawan D (150310080137)

Kelas: Agribisnis B

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011


1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bagi Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat besar (215 juta orang), masalah pangan selalu merupakan masalah yang sensitif. Sering terjadi gejolak politik karena dipicu oleh kelangkaan dan naiknya harga pangan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pangan bukan sekedar komoditas ekonomi tetapi juga menjadi komoditas politik yang memiliki dimensi sosial yang luas (Sambutan Menko Perekonomian, 2005) Ketahanan pangan telah menjadi komitmen nasional berdasarkan pada pemahaman atas peran strategis dalam pembangunan nasional. Tiga aspek peran strategis tersebut antara lain adalah : 1) Akses terhadap pangan dan gizi yang cukup merupakan hak yang paling azasi bagi manusia. 2) Peranan penting pangan bagi pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas dan 3) Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama yang menopang ketahanan pangan ekonomi dan ketahanan nasional ( Anonimous, 2003). Komitmen Indonesia untuk mewujudkan ketahanan pangan tertuang pada Undang-Undang (UU) No. 7 tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No. 68 tentang Ketahanan Pangan. Ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Beras sudah terlanjur sebagai pangan pokok utama bahkan juga pertama di berbagai daerah termasuk daerah yang sebelumnya mempunyai pola pangan pokok non beras seperti jagung, sagu dan umbi-umbian. Selain itu beras terlanjur sebagai komoditas politik dan publik yang melibatkan banyak pengambil kebijakan dan pelaku ekonomi. Untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, maka diperlukan

diversifikasi pangan, yakni dengan menyediakan bahan pangan selain beras bagi masyarakat. Oleh karena itu, untuk memperluas wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang pemanfaatan dan pengolahan bahan pangan selain beras ini, maka diadakan kuliah lapangan ke tempat yang memproduksi produk pangan
2

dengan bahan bakun berasal dari bahan pangan non beras. Tempat yang dijadikan objek kunjungan adalah Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi yang semua masyarakatnya mengkonsumsi singkong sebagai bahan makanan pokoknya selama ratusan tahun sampai sekarang yang dilakukan secara turun-temurun. Kemudian ada perusahaan Repoeblik Telo yang mengolah ubi jalar (telo) menjadi berbagai macam makanan dengan kualitas yang baik seperti bakpau, mie, jus, bakpia, keripik, ice cream, dll. Kedua tempat tersebut tentu saja memberi contoh bagaimana produk pangan non beras dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat sebagai pengganti beras agar ketahanan pangan nasional dapat meningkat.

1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan laporan kuliah lapangan ini yaitu agar mahasiswa mengetahui dan memahami tentang kegiatan pemanfaatan ubi kayu (singkong) sebagai bahan makan pokok di Kampung Adat Cireundeu, serta pemanfaatan dan pengolahan ubi jalar (telo) di perusahaan Repoeblik Telo.

1.3 Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan mengunjungi tempat secara langsung kemudian melakukan diskusi serta melalui studi pustaka yang bersumber dari internet.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Kampung Adat Cireundeu

2.1.1 Profil Kampung Adat Cireundeu Cireundeu adalah sebuah kampung yang terletak di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu. Secara administratif kampung Cireundeu termasuk Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Sebelah utara berbatasan dengan Baros, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Utama, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat. Jarak pusat pemerintahan kelurahan dengan Kecamatan berjarak 2 km, dengan Pusat Kota berjarak 8 km dan dengan Provinsi berjarak 17 km. Jumlah kepala keluarga di Cireundeu berjumlah 300 KK dengan 50 KK yang masuk kedalam wilayah kampung adat Cireundeu. Sebagian besar agama yang dianut oleh masyarakat Cireundeu adalah Islam sedangkan sisanya memeluk aliran kepercayaan. Sarana dan prasarana ibadah di kampung Cireundeu terdapat satu Mesjid dan tiga Mushola serta satu Bale yang digunakan sebagai tempat ibadah untuk warga masyarakat yang memeluk ajaran kepercayaan. Untuk sarana pendidikan mempunyai satu Sekolah Dasar yaitu SD Negeri Cireundeu Mandiri dan Pendidikan anak Usia Dini (PAUD). Kampung Cireundeu terbagi kedalam dua kelompok yaitu, kampung Cireundeu dan kampung adat Cireundeu yang semuanya menganut aliran kepercayaan. Wilujeung Sumping di Kampung adat Cireundeu. Pintu gerbang bertulis latin dalam bahasa Jawa Sunda kuno tersebut merupakan pintu masuk ke kampung adat Cireundeu. Tulisan tersebut sebagai isyarat bagi para pendatang bahwa kampung Cireundeu masih mewarisi adat istiadat peninggalan para leluhurnya. Kampung adat Cireundeu saat ini dipimpin oleh seorang Pupuhu yang bernama Abah Emen Sunarya, dan dua orang paninten yaitu Abah Asep dan Abah Iwan, beliau-beliau ini merupakan para sesepuh di Kampung Adat Cireundeu.

Abah Emen Sunarya menyatakan bahwa, kampung adat Cireundeu awalnya adalah sebuah dusun kecil yang dibangun oleh seorang pangeran yaitu Pangeran Madrais yang berasal dari Cigugur Kuningan. Pangeran Madrais singgah di Cireundeu tahun 1918 untuk mengungsikan diri, karena pada waktu itu terjadi peperangan antara Pemerintah Hindia Belanda yang menyerang Kesultanan di Kuningan. Setelah menetap beberapa tahun di Cireundeu, Pangeran Madrais bertemu dengan H. Ali dan membangun sebuah kampung yang disebut kampung Cireundeu. Menurut Abah Emen Sunarya, pada awalnya kampung adat Cireundeu merupakan daerah perbukitan yang banyak ditanami pohon Reundeu dan pohon tersebut dekat dengan sumber air atau orang Sunda menyebutnya Cai sehingga kampung ini diberinama Kampung Cireundeu. Selain itu pemberian nama adat pada kampung Cireundeu karena Cireundeu menganut aliran kepercayaan yang dibawa oleh Pangeran Madrais yang masih dianut sampai sekarang oleh masyarakat adat Cireundeu.

2.1.2 Singkong Sebagai Makanan Pokok Warga Kampung Adat Cireundeu Kampung Adat Cireundeu tidak berbeda dengan kampung kampung yang lainnya, terutama dari bentuk fisik bangunan rumahnya. Tetapi karena Cireundeu memiliki ciri khas yaitu warga masyarakat kampung adat masih mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok dan masih menjalankan aliran kepercayaan yang dibawa oleh Pangeran Madrais dari Cigugur Kuningan. Maka kampung adat Cireundeu menjadi sebuah kampungan adat. Menurut Ibu Eulis salah satu warga Cireundeu sekaligus istri dari salah satu sesepuh Cireundeu menyatakan bahwa Rasi atau beras singkong adalah makanan pokok warga adat Cireundeu, tidak satu butirpun masyarakat adat Cireundeu memakan beras dari padi, karena menurut ajarannya beras itu adalah sesuatu yang suci dan tidak boleh dihabiskan dengan cara dimakan. Tetapi dipergunakan untuk tolak bala yang disimpan didepan pintu. Mata pencaharian warga masyarakat adat Cireundeu sebagian besar adalah petani singkong, namun untuk penghasilan masyarakat adat Cireundeu sudah terlihat berkecukupan. Ini terlihat dari bangunan rumah yang sudah bagus dan
5

layak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal namun masyarakat adat Cireundeu masih hidup sederhana dan bersahaja. Kebiasaan masyarakat kampung adat Cireundeu adalah kebiasaan yang sudah dijalankan secara turun temurun. Menurut Pupuhu kampung adat Cireundeu (Abah Emen Sunarya, 75 tahun) ciri khas ajaran Madrais yaitu ajaran Sunda Wiwitan yang mengajarkan untuk selalu menghargai hasil bumi dan tidak terpaku untuk mengkonsumsi makanan pada satu jenis makanan saja. Petuah atau ciri wanci masyarakat adat Cireundeu yang dijungjung sampai sekarang adalah Keun bae teu boga sawah asal boga pare, keun bae teu boga pare asal boga beas, keun bae teu boga beas asal bisa tuang, keun bae teu tuang asal masih kuat. Maksudnya adalah walaupun tidak mempunyai sawah karena lahan kita adalah pegunungan asalkan kita punya padi, walaupun tidak punya padi asal kita punya beras, tetapi jika kita tidak punya beras asalkan kita bisa makan, walaupun kita tidak bisa makan asalkan kita kuat. Masyarakat adat Cireundeu sampai sekarang tidak berani untuk makan beras dari padi dan hanya mengkonsumsi beras singkong saja sebagai makanan pokoknya. Petuah atau ciri wanci yang diajarkan para leluhur kampung adat Cireundeu dijadikan sebagai sebuah aturan adat yang harus ditaati, yang dijadikan sebagai salah satu kebiasaan dan sebuah aturan di kampung adat Cireundeu, tutur Abah Emen. Ajaran Madrais yang dianut oleh masyarakat adat Cireundeu selalu mengajarkan untuk Ngantik diri ngarawat ngabdi ka sang hyang cipta artinya masyarakat adat harus selalu merawat semua yang ada dialam semesta ini sebagai wujud dari mengabdi kita kepada Sang Maha Pencipta. Senada diungkapkan oleh seorang Paninten adat Cireundeu yang lain (Abah Asep, 40 tahun) bahwa asal kebiasaan adat Cireundeu khususnya memakan singkong merupakan petuah dari Pangeran Madrais. Pangeran Madrais memperkirakan bahwa suatu saat Bandung bakal heurin ku tangtung atau suatu saat lahan di Bandung akan hilang karena pembangunan dan akibatnya beras akan susah untuk dicari.

Pada waktu dulu Pangeran Madrais dan pengikutnya mulai menerapkan makanan pokok lain yaitu singkong. Sosialisasi dilakukan sampai emam tahun samapai akhirnya semua masyarakat adat Cireundeu beralih dari beras padi menjadi beras singkong. Sehingga Cireundeu pun mempunyai ciri wanci yaitu: Teu boga sawah asal boga pare, Teu boga pare asal boga beas, Teu boga beas asal tuang, Teu bisa tuang asal kuat. Masyarakat adat Cireundeu percaya tidak hanya nasi dari padi saja yang bisa dimakan tetapi beras singkong juga dapat dimakan dan ada manfaatnya. Hal itu terbukti sampai sekarang kami tidak susah-susah memikirkan beras yang harganya sangat mahal itu, tutur Abah Asep. Masyarakat kampung adat Cireundeu sangat menjunjung tinggi petuah yang diajarkan oleh ajaran Pangeran Madrais, Pangeran Madrais mengajarkan untuk mengalihkan makanan pokok beras ke singkong dan melaksanakan upacara satu sura sebagai upacara besar keagamaan. Makanan singkong sebagai makanan pokok yang awalnya dijadikan sebagai peralihan karena sulit untuk mendapatkan beras sekarang menjadi salah satu ciri khas masyarakat adat Cireundeu sedangkan Upacara satu sura adalah bentuk dari kepercayaan yang dianut oleh masyarakat adat Cireundeu yaitu kepercayan Madrais atau kepercayaan sunda wiwitan.

2.1.3 Dampak Kebiasaan Makan Singkong Sebagai Makanan Pokok Pada Kehidupan Sehari-hari Dalam Ketaatan Hukum Masyarakat Melalui proses wawancara, terungkap beberapa pendapat mengenai dampak kebiasaan makan singkong sebagai makanan pokok pada kehidupan sehari-hari dalam ketaatan hukum masyarakat, pada pendapat pertama, berdasarkan pendapat yang disampaikan salah seorang paninten Cireundeu (Abah Asep, 40 tahun) dapat dilihat dari dua sisi yaitu dilihat dari sisi kesehatan dan sisi pengembangan ekonomi. Dari sisi kesehatan dengan memakan rasi dipagi hari kami disini dapat bekerja dan bertahan sampai siang hari tanpa harus memakan apapun. Sedangkan dari segi ekonomi di Cireundeu ini masyarakat sudah hidup berkecukupan, bisa dilihat dari bangunan rumah dan alat-alat elektronik yang ada.

Pendapat yang kedua menurut Ketua RW setempat (Bapak Widi, 48 tahun) kebiasaan yang ada di kampung adat Cireundeu merupakan sebagai aturan yang berlaku yang harus dijunjung untuk pelestarian kebudayaan nenek moyang. Ajaran yang diajarkan tidak boleh bertentangan dengan aturan yang berlaku di masyarakat luas. Bapak Widi juga menegaskan aturan yang ada saat ini adalah untuk kebaikan dari masyarakat adat Cireundeu ini sendiri sehingga kebiasaan ini akan dilakukan sampai kapanpun dan bahkan tidak akan pernah berubah. Dampak dari ketaatan aturan adat oleh masyarakat adat Cireundeu menjadikan masyarakat sadar akan kelestarian lingkungan, dengan tidak terus merusak alam, tutur Bapak Widi. Kemudian pendapat yang ketiga, salah satu warga adat Cireundeu (Ibu Eulis, 42 tahun) dampak dari makan singkong yang dilakukan oleh masyarakat adat Cireundeu menjadikan objek penelitian bagi para pengunjung, kami disini sangat senang apabila banyak pengunjung yang datang sehingga kami dapat memperlihatkan khas karya dari singkong. Kebiasaan adat kami disini tutur ibu Eulis, dijadikan sebagai aturan atau hukum adat yang ada. Contohnya dalam Rasi harus dijadikan sebagai makanan pokok, kami tidak pernah makan beras dari padi karena menurut kami padi itu dianggap sebagai makanan suci untuk tolak bala, apabila kami disini ada yang ingin memakan nasi dari beras kami harus mengadakan sebuah upacara terlebih dahulu meminta izin kepada para leluhur. tutur Ibu Eulis. Sedangkan dampak dari beralihnya masyarakat adat ke Rasi dapat dilihat masyarakat adat tidak dipusingkan lagi dengan melonjaknya harga beras karena singkong dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan menjadi sebuah penghasilan yang mencukupi. Dilihat dari segi kesehatan kandungan protein singkong tidak kalah bagusnya dibandingkan dengan nasi beras, daya tahan tubuh dengan memakan singkong sama dengan beras bahkan dapat lebih kuat, disamping itu juga singkong dapat mengurangi penyakit diabetes karena kandungan gula didalam singkong lebih rendah dibandingkan dengan nasi beras, tutur Ibu Eulis. Berdasarkan hasil penelitian, dampak dari kebiasaan masyarakat kampung adat Cireundeu pada kehidupan sehari-hari dalam ketaatan hukum masyarakat maka dapat dilihat dari dua segi yaitu dari segi ekonomi dan segi kesehatan.
8

1) Dari segi ekonomi masyarakat Cireundeu dapat hidup berkecukupan Dari beberapa responden menyebutkan bahwa hampir seluruh

masyarakat Cireundeu berpenghasilan cukup dari bertani singkong. Hampir setiap bulannya masyarakat Cireundeu menghasilkan singkong. Singkongsingkong tersebut sebagian dipergunakan untuk makanan sehari-hari dan sebagian lagi dipergunakan untuk dijual, baik berupa mentahnya maupun dalam bentuk olahan seperti kue-kue dan makanan lainnya. Warga msayarakat merasa bersyukur karena berkat ajaran Pangeran Madrais dan H. Ali yang memberi saran dan diharuskan untuk memakan Rasi pengganti beras, sehingga terbukti sekarang, menurut abah Asep, masyarakat tidak susah-susah lagi untuk mencari makanan pokok cukup di tanam di belakang rumah dan akan tumbuh singkong, karena singkong tumbuh subur dimana pun. Sistem tanam singkong yang diajarkan para leluhur kepada masyarakat Cireundeu sangat berguna karena dengan menggunakan sistem beruntun maka hasil yang didapat dapat mencukupi kehidupan masyarakat adat Cireundeu. Panen tersebut dilakukan bertahap, misalnya dalam satu keluarga mempunyai empat kebun dan setiap kebun dibagi-bagi proses penanamannya, ada yang waktunya untuk panen, ada yang baru menanam pohon singkong dan ada juga yang sudah tumbuh kecil. Dengan cara seperti itu terjadilah siklus menanam pohon singkong yang setiap bulan bisa dipanen. Pendapatan masyarakat Cireundeu semakin bertambah dan mempunyai penghasilan setiap bulannya maka masyarakat adat Cireundeu dapat hidup berkecukupan. Sedangkan dari segi ketaatan hukumnya, senantiasa masih menjungjung tinggi ajaran para leluhur untuk memakan rasi pengganti beras. 2) Dari segi kesehatan Kandungan protein didalam singkong tidak kalah dengan beras. Singkong dapat menjadikan daya tahan tubuh yang kuat dan dapat menahan lapar lebih lama dibandingkan dengan beras. Kandungan protein yang lebih kuat menyebabkan ketahanan tubuh semakin kuat, itu sebabnya masyarakat adat Cireundeu dapat tahan sampai satu kali dalam sehari makan, dan juga singkong dapat mengurangi penyakin diabetes.
9

Kehidupan masyarakat adat Cireundeu yang hidup secara sederhana walaupun mempunyai penghasilan setiap bulannya dari bertani singkong menjadikan kampung adat Cireundeu menjadi kampung adat yang mandiri tanpa melupakan ajaran leluhurnya. Kebiasaan yang berdampak kepada ketaatan hukum masyarakat adat Cireundeu dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi ekonomi, singkong dapat menjadikan masyarakat adat Cireundeu hidup berkecukupan, ini terlihat dari penghasilan yang didapat oleh masyarakat. Dari segi kesehatan rasi dapat memperkuat daya tubuh dan dapat menahan dari rasa lapar lebih lama dibandingkan dengan beras serta untuk mengurangi penyakit diabetes. 2.2 Repoeblik Telo

2.2.1 Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) Sesuai dengan namanya Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) merupakan puncak aktivitas bisnis pertanian, media untuk memposisikan para petani dan kelompok uasaha kecil untuk langsung berinteraksi dengan pasar. Sentra Pengembangan agribisnis terpadu (SPAT) tidak lepas dari adanya surat keputusan Departemen Pertanian No. K/LP.610/V/2001 tentang pengakuan SPAT sebagai salah satu P4S (Pusat Pelatian Pelatihan dan Perdesaan Swadaya). SPAT ditunjuk sebagai salah satu lembaga pelatihan pertanian dan perdesaan dengan konsep keterpanduan mulai dari hulu hingga hilir. Pada tahun 1996, Unggul Abinowo ditunjuk sebagai salah satu pemuda pelopor tingkat nasianal. Kemudian tahun 2004, SPAT mendapatkan sertifikat mutu yakni HACCP (Hazard Analysis And Critical Control Point) dari PT Mutu Agung Lestari dan setifikat halal dari MUI. Pada tahun 2006 SPAT juga mendapatkan penghargaan sebagai pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menerapkan sistem jaminan mutu dari menteri pertanian. Untuk produk, salah satu produk olahan dari ubi jalar (bakpao telo) mendapatkan penghargaan sebagai produk inovasi makanan terbaik dalam pemeran SMESCO tahun 2006. Di mata petani, Unggul adalah sosok petani modern, kaya, dan dermawan. Ia juga terjun ke lapangan memberikan contoh. Petani mengaku banyak mngalami kemajuan setelah mengikuti saran Unggul untuk menanam ubi. Selain mendapat
10

bantuan berupa bibit dan pupuk, saat panen ia tak perlu susah payah mencari pembeli. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, otonomi daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintah daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan persaingan global, dengan memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintah. Di mana pemerintah menurut asas otonomi khusus diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Pembangunan pertanian merupakan bagian dari pembangunan ekonomi nasional yang bertumpu pada upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan dan makmur seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu pembangunan pertanian sebagaimana pembangunan perekonomian nasional harus dilakukan dengan memberdayakan potensi sumberdaya ekonomi dalam negeri yang dimiliki, serta memperhatikan perkembangan ekonomi dunia yang terus berkembang secara dinamis. Basis kekuatan ekonomi nasional berada dipedesaan. kekayaan agraris di Indonesia berupa pertanian harus tetap dijaga. Sesuai dengan namanya Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) merupakan puncak aktivitas bisnis pertanian, media untuk memposisikan para petani dan kelompok uasaha kecil untuk langsung bereinteraksi dengan pasar. Dispat ini menyajikan bakpao telo sebagai produk unggulan untuk menarik minat beli konsumen. bakpao telo adalah bakpao yang berbahan dasar ubi jalar yang kemudian dihancurkan minat beli menjadi terhadap tepung bakpao ubi telo, jalar. Untuk tetap harus

mempertahankan

manajemen

mengantisipasi strategi pemasaran dengan mempertahankan kepuasan konsumen. Kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah memberi nilai dan kepuasan kepada konsumen melalui penyampaian produk dan jasa yang berkualitas dengan harga bersaing. Selain bakpao telo ada beberapa produk lagi yang bahan bakunya

11

terbuat dari ubi jalar (telo), diantaranya adalah bakpia telo, jus telo, keripik telo, dll. Terbentuknya Sentral Pembangunan Agribisnis Terpadu (SPAT) sebagai perwujudan aplikasi konsep pertanian terpadu (intergral farming) melalui proses perkumpulan yang cukup panjang dalam dunia pertanian. Berangkat dari keprihatinan yang dirasakan seorang Unggul Abinowo, sarjana lulusan Unibra 1984 yang telah mengeluti aktivitas bercocok tanam sejak semasa kuliah dan mengamati ketidakadilan yang di terima para petani. Sehingga mengantarkan tekatnya menerapkan konsep pertanian di Desa Parelegi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Kebun terpadu yang telah dikembangkan oleh pak Unggul Abinowo sejak 17 tahu lebih dinyatakan tempat pertama sebagai sentra pengembangan agribisnis terpadu (SPAT-Purwodadi). Ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menpora Agung Laksono pada prasasti batu onyx pada tanggal 16 april 1999. Dalam kiprah awalnya (SPAT-Purwodadi) mengadakan kegiatan bersama dengan beberapa lembaga mengadakan Seminar Nasional Agribisnis, dilasanakan pada tanggal 27 aktomber 1997 di Pondok Pesantren Ab-Nur Bululawang Malang. Acara ini di buka mempora Hayono Ismam. Dilanjutkan dengan sarasehan pemuda pelopor tingkat nasional dilaksanakan pada tanggal 29 oktomber 1997 dengan hasil terbentunya satuan pelaksana tugas pusat (BP3D)/Brigade Pemuda Pelopor Pembangunan Desa. (SPAT-Purwodadi) mencoba untuk memfasilitasi kegiatan kepemudaan pada tanggal 16 april 1998 dalam acara Temu Wicara Pondok Pesantren Se-Jawa Timur. Hasilnyapun cukup menggembirakan, di antaranyan diterapkan beberapa teknologi tepat guna karya nyata pemuda pelopor. Diluar aktivitas formal tersebut (SPAT- Purwodadi) kerap mejadi tempat kegiatan yang besifat masal. Banyak lembaga sosial atau lembaga profesi seperti Aspeni-Flora, penyuluan terhadap para petani sejawa timur atau ibu-ibu yang dipandu oleh Ibu Pangdam V Brawijaya, mengadakan pertemuan di (SPATPurwodadi). Juga kunjungan mahasiswa dari bebagai peguruan tinggi. Sedangkan kunjungan yang sangat berarti bagi (SPAT-Puwodadi) yaitu pada tanggal 4 juni 1998. dimana Menteri Pertanian ketika mengadakan kunjungan dinas ke Malang, beliau menyempatkan diri berkunjung ke SPAT. Setelah kunjungan, SPAT
12

mendapatkan SK sebagai Pusat Pelatihan Pertanian Dan Swadaya Perdesaan (P4S) dari Badan Diklat Pertanian. Pemuda pelopor tingkat nasional tahun 1996 ini banyak mengetahui ketidakadilan yang diterima masyarakat kususnya kalangan petani. Pola-pola sentralisasi produk pertanian tertentu, akibat kebijakan pemerintah yang menyababkan produk-produk hasil pertanian yang lainya tidak berkembang dengan optimal seperti program perberasan yang ahirnya memicu kerawanan pangan pada saat harga pupuk melambung sementara harga jual tidak sepadan dengan hasil yang diharapkan. Padahal potensi tanaman pangan selain beras di Indonesia sangatlah beragam, namun akibat kebijakan tersebut potensi-potensi yang ada di wilayah atau daerah menjadi terabaikan. Pak Unggul Abinowo yang juga seorang petani merasakan betul saat itu susahnya menjadi petani di tengahtengah keterpaksaan menanam komoditi tertentu yang tidak didukung aspek penanganan pasca panen serta pemasaran yang memadai. Setra adalah sebagai pusat pemanduan potensi, aksi dan gerakan pemberdayaan masyarakat. SPAT menjadi mediator masyarakat dengan menyediakan berbagai macam program. Program ini merupakan komitmen dan didasarkan pada visi para pemuda pelopor tingkat nasional. Dalam visi tersebut disepakati bahwah kegiatan yang dilaksanakan akan senantiasa mengapdikan diri dengan cara begerak di perdesaan dan bewawasan agribisnis. SPAT berdiri dengan mengembangkan usaha yang begerak dari hulu hingga hilir, dengan mengambil produk tanaman ubi jalar sebagai bahan baku utama. Pak Unggul Abinowo mengangap ubi jalar adalah tanaman propektif karena telah banyak di kembangkan dan digunakan sebagai produk olahan di negara-negara maju. Disamping itu ubi jalar memiliki keunggulan nutrisi yang tidak kalah dngan produk-produk pertanian lainyan. Pada saat itu ubi jalar sebagai komoditi yang terpinggirkan juga memiliki nilai ekonomis yang rendah serta harga yang murah.

13

2.2.2 Sejarah Repoeblik Telo Berbicara tentang nasib petani Indonesia sama artinya dengan

membicarakan penderitaan yang tidak berujung pangkal dan tidak pernah berakhir. Tidak heran kegelisahan serta keprihatinan itu terus-menerus terekspresikan dalam nada bicara Ir. Unggul Abinowo alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1984 yang sekaligus perintis penerapan sistem terminal agribisnis di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur (Jatim). Ayah berputra dua ini mengaku telanjur mencintai dan mendedikasikan dirinya pada dunia pertanian serta kehidupan petani. Bahkan sejak kelas dua sekolah menengah atas Unggul sudah mencoba terjun menjadi petani yang sebenarnya. Ia menyewa sebidang lahan yang ia tanami beberapa jenis tanaman pangan dan perkebunan, modalnya hanya uang saku serta sedikit dana pinjaman. Usahanya bertani terus berkembang hingga saat ia kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Terlahir sebagai putra keempat dari pasangan Prof. Dr. Ir. Moeljadi Banoewidjojo dan Hj. Soemarni Kartamihardja pada 6 Mei 1960, Unggul sejak kecil dekat dengan dunia pertanian. Hal ini lantaran almarhum ayahnya juga Professor di bidang pertanian. Tahun 1984, mantan Sekjen Kontak Tani dan Nelayan (KTNA) Nasional tahun 2000 ini mendirikan Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT). Sentra ini rutin melakukan enam kegiatan, mulai dari pusat pendidikan dan pelatihan terpadu, pusat data dan informasi, pusat kajian dan strategi gerakan pembangunan desa, pusat pengembangan teknologi tepat guna, pusat kajian investasi dan pembiayaan, hingga terminal agribisnis. Kemudian di atas lahan seluas 8.000 meter persegi di perbatasan Kabupaten Pasuruan dan Malang itu dia bangun terminal agribisnis yang terdiri atas Kantor Sekretariat SPAT, ruang pamer produk tanaman hias, hidroponik, dan pupuk. Sementara bangunan terakhir yang menjadi inti terminal agribisnis adalah ruang pamer produk hasil olahan dan hasil kerajinan dari Kabupaten Pasuruan dan beberapa daerah lain. Terminal agribisnis ini juga memiliki fungsi untuk media berpromosi, pusat data, sekaligus tempat pengolahan produk pertanian untuk mendapatkan nilai tambah yang tinggi. Sampai kini ada sekitar 350 petani dari berbagai daerah yang memasarkan produk mentah sampai olahan di terminal agribisnis ini. Mereka tidak hanya berasal dari Jatim bahkan juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedikitnya ada
14

300 jenis produk dijual di lokasi ini. Menurut Unggul, omzet rata-rata setiap bulan terminal agribisnis ini mencapai Rp 300 juta-Rp 400 juta. Di terminal ini, petani menetapkan harga jual produknya, kemudian produk itu dicobajualkan yang sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Namun sebelumnya, harga terlebih dulu dinaikkan 20 persen. Sepuluh persen untuk pajak dan sisanya untuk SPAT. Setelah tiga bulan produk itu akan dievaluasi kelebihan serta kekurangannya. Jika terbukti laris dan si petani berniat mengembangkannya, namun terbentur modal, SPAT melalui divisi investasi dan pembiayaan akan memberi pinjaman dengan pengembalian diambil langsung dari hasil penjualan nanti. Namun, jika hasil evaluasi menunjukkan masih terdapat kekurangan, SPAT akan memberikan masukan untuk upaya perbaikan serta kemungkinan pengembangannya lebih lanjut. Sebelum menerapkan sistem perdagangan di terminal agribisnisnya, Unggul mempraktikkan sistem pengolahan dan pemasaran yang sama pada produknya sendiri. Unggul, mengolah ubi jalar produksinya menjadi bakpau yang dinamai bakpao telo. Awalnya dia mencoba membangun brand image lewat produksi bakpao telo. Dari empat hektar lahan tanaman ubi yang hasilnya diolah menjadi bakpao, saat ini berkembang menjadi 23 hektar dengan 12 petani plasma. Kebutuhan ubi yang dipakai untuk membuat bakpao saat ini saja mencapai tiga sampai empat ton setiap minggu untuk memproduksi 2.000-7.000 bakpao setiap minggunya. Semua kegiatan SPAT bermuara pada pembentukan pasar. Setelah mengetahui apa yang diinginkan konsumen barulah para petani mulai berproduksi dengan berpegang pada informasi pasar. Struktur orgabisasi secara formal ditepatkan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang langsung menyentuh kegiatan bisnis inti kususnya di aspek budidaya, pengolahan dan pemasaran. Keberadaan divisi-divisi yang ada di internal perusahaan secara tidak langsung tercakup seutuhnya dalam struktur organisasi inti. Dalam struktur organisasi, tiap personil yang menduduki jabatan struktural diikuti dengan adanya tugas dan tanggung jawab masing-masing telah ditetapkan dengan jelas dan tegas sehingga dapat didapatkan sistem manajemen dan pelimpahan tugas dan wewenang yang baik, efektif dan efisien.

15

Direktur Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) Ir. Unggul Abinowo, MS, menyatakan bahwa SPAT merupakan kegiatan pengembangan agribisnis yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara optimal untuk peningkatan pendapatan. Visi SPAT ialah mewujudkan model pertanian terpadu yang efisien, tangguh, modern berkelanjutan dan berdimensi kerakyatan. Komoditas utama yang dikembangkan SPAT adalah ubi jalar, selain itu juga dikembangkan komoditas lainnya, dengan sistem pengembangan diversifikasi produk olahan. Pengembangan kerja sama dengan kelompok tani perlu dilaksanakan agar petani mampu memproduksi ubi jalar sesuai dengan permintaan pasar. Bentuk kerja sama dengan petani plasma penghasil ubi jalar adalah dalam bentuk membeli ubi jalar (produk) yang diusahakan petani dengan harga yang layak (adanya jaminan pasar) dan sarana yang diberikan ke petani di antaranya adalah kemudahan dalam meningkatkan permodalan (jaminan dalam meminjam uang ke bank). 2.2.3 Pengembangan Produk, Karyawan, dan Harga di Repoeblik Telo Berbekal kemampuan menyerap potensi bahan baku dan kemampuan melihat pasar, produk yang petama diluncurkan adalah bakpao telo. Dengan intensitas dan kemampuan aksebilitas teknologi, produk-produk ubi jalar berkembang hingga tahun 2008 menjadi sekitar 40 item produk. Diantara produk tersebut adalah mie telo, french fries telo, kue-kue telo, es krim telo, tepung telo dan sebagainya. Bakpao telo merupakan hasil eksperimen Unggul yang pertama. Ia kemudian memasarkan sendiri bakpaonya. Sejak awal, tanda-tanda sukses sudah tampak. Hasil panen empat hektare tanaman telo yang diolah menjadi bakpao ludes hanya dalam seminggu. Di tangan Unggul, gengsi telo segera melesat. Makanan yang dianggap tak bergizi ini naik pangkat menjadi primadona. Sampai sekarang, ia telah mengembangkan 20 jenis kue yang terbuat dari telo. Harga kue-kue telo itu bervariasi dari Rp 1.000 hingga Rp 10.000. Harga bakpao rasa keju hanya Rp 1.500, sedangkan roti telo rasa sosis dijual Rp 3.500. Roti mangkuk lebih mahal, yakni Rp 5.000, sedangkan hot dog telo Rp 5.000. Harga mi telo Rp 3.000, sementara telo oven Cilembu dijual Rp 10.000. Kini
16

Unggul mesti menyediakan telo sebanyak lima hingga enam ton untuk bahan pembuat aneka kue dalam waktu seminggu. Padahal pemasarannya masih terpusat di Terminal Agribisnis saja. Sukses bakpao telo mendorong Unggul mendirikan Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT) pada 1984. Lembaga ini memiliki kebun percontohan seluas 2,5 hektare di Desa Parelegi, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan. Untuk menunjang aksistesi dan kemajuan perusahaan, SPAT mejalin kerjasama dengan beberapa pihak diantaranya: 1) MOU dengan Lembaga Ilmu Dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2001. 2) MOU dengan Kementrian Riset Dan Teknologi tahun 2001. 3) MOU dengan Universitas Vetera Surabaya tahun 2003.

2.1.6 Aspek Sosial di Repoeblik Telo Walaupun SPAT sebagai perusahaan profit oriented, tidaklah lepas tangan dalam melihat aspek sosial kemasyarakatan terutama dengan keberadaan para petani dan UKM yang belum terlaksanad engan maksimal. Dari aspek sosial inilah SPAT berkembang atau terbagi dalam divisi- divisi kerja. Ada enam divisi yakni: 1) Divisi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terpadu Divisi ini bergerak di bidang pemberdayaan petani dan UKM termaksuk kalangan umum (ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa purna tugas, dsb) kususnya di kegiatan-kegiata sosialisasi teknologi dan inovasi di dunia pertanian. Adopsi teknologi dan ilmu pengetahuan yang didapatkan SPAT dari berbagai hasil pertanian, diusahakan semaksimal mungkin untuk selalu dapat diterima dan digunakan di kalangan pelaku atau masyarakat. 2) Divisi Pusat Data dan Informasi Divisi ini menginventarisir berbagai data tentang potensi daerah (serta produksi), data kebutuhan akan produk pertanian yang berkembang dan yang akan datang, kualifikasi produk yang sesuai dengan permintaan pasar, informasi pasar dan data serta informasi yang berkaitan dengan aktifitas skala lokal, regional, dan internasional.

17

3) Divisi Pusat Kajian dan Strategi Gerakan Pembangunan Desa Mengkaji dan mengkonsep strategi program-program pembangunan perdesaan yang berkaitan dengan pengembangan pertanian di pedesaan. Aktivitas yang dilakukan berupa kegiatan seminar, diskusi tingkat sektoral, audiensi, bedah buku dan kegiatan lainya. Divisi ini lebih banyak bergerak secara konseptual untuk mensosialisasikan kemampuan daerah untuk mengembangkan potensi masing-masing, sehingga mampu meningkatkan pendapatan pelaku usaha dan adanya nilai tambah produk-produk pertanian secara luas. 4) Divisi Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna Salah satu kendala dari pelaku UKM adalah keterbatasan dalam adaptasi terhadap teknologi baru yang lebih maju, otomatis dan efesien. Kendala pemanfaatan yang tidak oktimal dan didukumg ketiadaan angaran yang memadai untuk melaksanakan investasi, menyababkan usaha yang

dikembangkan tidak berkembang dan tumbuh menjadi besar. Divisi pengembangan teknologi tepat guna berusaha membantu kebutuhan pelaku usaha terdapat efisiensi dan pengembangan usaha dengan membuat mesinmesin dan peralatan sederhana dengan harga mudah dijangkau. 5) Pusat Kajian Pembiayaan dan Investasi SPAT berperan sebagai mediator penyaluran kredit dari berbagai lembaga pendanaan seperti bank, Pemda Kabupaten Pasuruan dan Perorangan. SPAT mendapat wewenang penuh dari lembaga-lembanga penyediaan dana tersebut untuk menyalurkan kredit kepeda masyarakat yang membutuhkan. Calon permohon kredit diharuskan mempunyai usaha sediri, lebih diutamakan di bidang pertanian. Permohonan kredit diminta membuat proposal pengajuan kredit, kemudian tim dari SPAT akan melakukam survey kelayakan kredit. Apabilah permohonan kredit dinilai layak, dana segera dikucurkan dengan bunga yang cukup ringan dengan jangka waktu pengembalian sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan oleh crew SPAT. 6) Divisi Teminal Agribisnis Terminal agribisnis terbagi dalam dua kegiatan yakni kegiatan produksi makanan dan minuman serta kegiatan pemasaran produk-produk internal perusahan maupun produk-produk UKM yang menjadi mitra SPAT.
18

Kegiatan-kegiatan perusahan ditetapkan sesui dengan divisi masing-masing untuk bisa memaksimalkan ataupun mengembangkan perusahaan Repoeblik Telo dengan baik, efektif dan efisien kususnya di aspek budidaya, pengolahan dan pemasaran. Struktur yang digunakan oleh perusahan Repoeblik Telo ini adalah secara formal jadi perusahaan tercakup seutuhnya dalam struktur organisasi inti.

19

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 1. Masyarakat kampung adat Cireundeu sangat menjunjung tinggi petuah yang diajarkan oleh ajaran Pangeran Madrais, Pangeran Madrais mengajarkan untuk mengalihkan makanan pokok beras ke singkong dan melaksanakan upacara satu sura sebagai upacara besar keagamaan. Makanan singkong sebagai makanan pokok yang awalnya dijadikan sebagai peralihan karena sulit untuk mendapatkan beras sekarang menjadi salah satu ciri khas masyarakat adat Cireundeu sedangkan Upacara satu sura adalah bentuk dari kepercayaan yang dianut oleh masyarakat adat Cireundeu yaitu kepercayan Madrais atau kepercayaan sunda wiwitan. 2. Kebiasaan yang berdampak kepada ketaatan hukum masyarakat adat Cireundeu dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi ekonomi, singkong dapat menjadikan masyarakat adat Cireundeu hidup berkecukupan, ini terlihat dari penghasilan yang didapat oleh masyarakat. Dari segi kesehatan rasi dapat memperkuat daya tubuh dan dapat menahan dari rasa lapar lebih lama dibandingkan dengan beras serta untuk mengurangi penyakit diabetes. 3. Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) adalah pusat pemaduan potensi, aksi, dan gerakan pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan masyarakat pertanian Indonesia. Strategi

pengembangan yang digunakan oleh SPAT melalui Perusahaan Repoeblik Telo adalah konsep pertanian terpadu dalam mengembangkan usaha yang bergerak dari hulu hingga hilir. Walaupun SPAT sebagai perusahan profit oriented, tidaklah lepas dari aspek sosial, oleh karena itu SPAT berkembang atau terbagi dalam divisi-divisi kerja.

20

3.2 Saran 1. Aparat pemerintah khususnya Pemerintah Daerah Kota Cimahi dan Provinsi Jawa Barat dapat memperhatikan warga masayarakat adat khususnya dalam mengembangkan budaya adatnya sehingga masyarakat luas dapat

mengetahui adanya suatu kebudayaan ditengah-tengah masyarakat dan memberikan ruang gerak untuk masyarakat dalam melakukan sebuah tradisi kebudayaan. 2. Kepada para pengunjung Kampung Adat Cireundeu supaya tidak hanya melihat tetapi mempelajari kebudayaan adat Cireundeu. Dengan

mempelajari kebudayaan tersebut maka ikut serta dalam pelestarian kearifan lokal. 3. Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) diharapkan mampu meningkatkan jumlah produksi serta memperluas pangsa pasar terutama di dalam negeri dalam memasarkan produk hasil pengolahan ubi jalar (telo) melalui merek dagang Repoeblik Telo agar ubi jalar sebagai salah satu bahan pangan alternatif dapat lebih populer dan diterima oleh masyarakat. 4. SPAT diharapkan mampu memberdayakan petani ubi jalar agar petani mampu meningkatkan kemampuannnya baik dalam usaha tani budidaya ubi jalar ataupun pengolahan lanjutan dari ubi jalar sehingga petani dapat hidup lebih sejahtera dengan mendapatkan nilai tambah dari produk tersebut.

21

DAFTAR PUSTAKA

Anjani, Siti Rahmi. 2011. Kajian Tentang Kebiasaan Pada Masyarakat Kampung Adat Cireundeu Cimahi Dalam Perspektif Ketaatan Hukum Warga Negara. Skripsi FPIPS, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Melalui: <http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skripsi=5212> [19/11/11]. Wastini, Ninda. 2011. Tari Pada Kesenian Angklung Buncis Dalam Upacara Tutup Taun Ngemban Taun Kampung Adat Cireundeu Kota Cimahi. Skripsi FPBS, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Melalui: <http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skripsi=3884> [19/11/11]. Anonymous. 2011. Strategi Pengembangan Agrobisnis Bakpao Telo Di Purwodadi. Himaperta Universitas Yudharta Pasuruan. Melalui: <http://himaperta-uyp.blogspot.com/2011/04/strategi-pengembanganagrobisnis-bakpao.html> [19/11/11].

22

23

Panggung Bale Seserahan

Saung Untuk Para Tamu Undangan

24

Tenda Makanan Olahan Singkong dan Penyajiannya

Bale Seserahan

25

26