Anda di halaman 1dari 36

PENGERTIAN TEBU

RENDEMEN

KURSUS LABORAN KEPALA PABRIK GULA YOGYAKARTA, 30 April 2010

BIODATA

Nama : Bambang Irianto Lahir : Surabaya, 15 Mei 1958 Riwayat pekerjaan :


1982 1989 1989 - 2000 2000 - 2004 2004 2005 2005 2007 2007 sekarang : PG Kadhipaten, Chemiker : PG Subang, Chemiker : PT PG Rajawali I, Staf Teknologi : PT Madubaru, Kabag Pabrikasi : PG Krebet Baru I, Kabag Pabrikasi : PT PG Rajawali I, Kabag Perencanaan &

Evaluasi

POKOK BAHASAN

Materi : Analisis Rendemen Individu


Pengertian

Rendemen Tebu Penetapan Faktor Rendemen


Pengaruh

Kehilangan Gula

Analisis Rendemen Individu

TUJUAN PEMBELAJARAN
UMUM

Peserta Kursus memahami pengertian rendemen dan tahapan penetapannya serta perhitungan rendemen di Pabrik Gula

KHUSUS :
Peserta Kursus mampu memberi gambaran umum tentang proses penetapan rendemen tebu di Pabrik Gula Peserta Kursus mampu membuat perhitungan rendemen tebu

A. PENGERTIAN RENDEMEN
Beberapa macam rendemen yang sering kita kenal adalah: rendemen efektif, rendemen sementara, rendemen contoh. 1. Rendemen Efektif Dalam pengolahan tebu menjadi gula, tidak semua bagian tebu menjadi gula. Untuk itu perlu diketahui bahwa batang tebu sebenarnya terdiri dari Nira dan Sabut, yang masingmasing sebesar 87,5% 12,5%. Nira terdiri dari air dan bahan kering. Bahan kering ini, ada yang dapat larut dan ada yang tidak larut dalam nira. Bahan kering yang larut ini termasuk gula maupun bukan gula. Dari nira akan diperoleh gula, sedangkan sabut digunakan sebagai bahan bakar untuk pengolahan nira menjadi gula di dalam pabrik gula. Susunan tebu dapat digambarkan sebagai berikut :
Tebu 100%

. Sabut . 12,5%

. Nira . 12,5% 100%

. Air . (75 80%)

Bahan kering (20 25%)

. Larut . (18 20%)

Tak Larut (2 5 %)

Rendemen dapat didefinisikan: Rendemen = Sejumlah gula yang dihasilkan Sejumlah tebu yang digiling X 100%

Tanaman tebu memiliki rendemen 10%, berarti dalam setiap kuintal tebu yang digiling akan menghasilkan gula sebesar 10 kg.

Jika demikian, maka rendemen baru dapat ditentukan apabila seluruh tebu yang digiling pada suatu pabrik gula sudah menjadi gula. Petani tentu akan menunggu lama sekali untuk mengetahui besar kecilnya rendemen tebunya, lebih- lebih untuk pabrik gula yang memiliki hari giling yang cukup panjang. Tetapi, petani tidak perlu cemas karena pabrik gula sudah dapat menghitung rendemen setiap 15 hari giling. Dengan demikian, pabrik gula akan menghitung jumlah gula yang didapat, kemudian membaginya dengan jumlah tebu yang digiling selama waktu tadi. 15 hari giling ini biasa disebut dengan periode. Apabila suatu pabrik gula menggiling selama 150 hari, berarti pabrik gula yang bersangkutan akan memiliki 10 periode masa giling. Setiap periode dapat ditentukan rendemennya. Rendemen ini lazim disebut dengan rendemen senyatanya, atau rendemen efektif (Re).

2. Rendemen Sem entara Seperti telah dikemukakan, bahwa rendemen efektif baru dapat dihitung setelah penutupan periode. Menentukannya secara hitungan, yaitu dengan jalan mengukur kadar gula dalam nira yang keluar dari tebu yang digiling pada gilingan pertama dari pabrik gula. Nira yang keluar dari gilingan pertama ini, biasa disebut dengan nira perahan pertama (npp). Seperti diketahui, bahwa tebu yang digiling di pabrik gula tidak hanya digiling oleh satu gilingan saja tetapi melalui beberapa gilingan. Pada umumnya pabr ik gula memiliki 4 sampai dengan 5 gilingan. Hasil perhitungan rendemen ini biasa dinamakan dengan rendemen sementara (RS), yaitu sesuai dengan sifatnya yang sementara. Rendemen sementara ini hanya diperlukan untuk menentukan bagi hasil gula sementara da ri hasil tebu.
Rendemen Sementara dirumuskan sebagai berikut : RS Rs FR NN = FR X NN

= Rendemen sementara = Faktor Rendemen = Nilai Nira

FR =
KNT HPB PSHK WR = = = =

Kadar nira tebu 100

HPB total 100

PSHK 100

WR 100

Kadar Nira Tebu Hasil Pemerahan Brix Perbandingan Setara Hasil Kemurnian Winter Rendemen

Dari rumusan tersebut di atas yang perlu diketahui ialah bahwa FR itu merupakan hasil kerjasama prestasi dari bidang tanaman, prestasi hasil gilingan, dan prestasi pengolahan gula di pabrik. Prestasi di dalam bidang tanaman dicerminkan oleh besar kecilnya jumlah nira yang didapat. Kadar nira yang semakin meningkat berarti prestasi tanaman meningkat pula. Prestasi gilingan dicerminkan oleh besar kecilnya nilai HPB maupun PSHK. Sedangkan, prestasi di dalam bidang pengolahan dicerminkan oleh besar kecilnya nilai WR.
SK Mentan nomor : 126/Kpts/Um/3/1980 ini, pada dasarnya sangat menguntungkan petani peserta TRI. Mengapa dikatakan menguntungkan ?. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataannya banyak pabrik gula yang memiliki nilai FR yang lebih rendah dari SK Mentan. Sedangkan untuk penentuan rendemen pada pabrik gula yang bersangkutan tetap akan menggunakan nilai FR sesuai SK Mentan, maka nilai FR yang lebih tinggi inilah yang digunakan dalam penentuan rendemen dari tebu milik petani akan diuntungkan dengan menggunakan FR minimal tersebut di atas.
Nilai Nira. Nira tebu mengandung zat gula dan zat bukan gula yang terlarut didalamnya. Besar kecilnya zat gula dapat diukur dengan nilai Pol, sedangkan zat gula maupun bukan gula yang terlarut dalam nira tebu tadi dicirikan dengan nilai Brix. Untuk lebih memudahkan mengenai nilai nira tadi, lihat Gambar 1.
Pol BG

Nira Tebu
Kadar Air Brix

Dari rumusan tersebut di atas, tentunya sudah dapat diketahui bahwa NN akan semakin tinggi apabila nilai pol maupun brix meningkat. Sebaliknya, nilai NN akan rendah, apabila terjadi peningkatan brix dengan disertai penurunan pol hal ini akan berakibat nilai NN yang sangat rendah.
Kenaikan nilai pol maupun brix terjadi sejalan dengan meningkatnya umur tanaman sampai mencapai batas maksimalnya, kemudian menurun kembali. Peningkatan nilai brix dapat pula terjadi apabila zat bukan gula dalam nira meningkat. Peningkatan zat bukan gula disebabkan oleh meningkatnya kotoran-kotoran yang terbawa di dalam nira.
Demikian juga penurunan nilai Pol dapat terjadi sebagai akibat terjadinya musim hujan yang besar menjelang saat tanaman tebu ditebang. Usaha untuk mencegah penurunan pol pada musim hujan yang cukup besar tadi, dapat diatasi dengan jalan melaksanakan kuras got yang lebin intensif.

Untuk mengetahui rendemannya, NN dikalikan dengan FR. Dan apabila nilai FR tersebut atas dasar SK Mentan nomor 126 untuk suatu pabrik gula sebesar 0.70 maka nilai rendemen adalah 17,47 x 0,70 = 12,23%. Berkaitan dengan saat penebangan yang tepat untuk mendapatkan nilai NN yang tinggi tadi, tentu perlu mengetahui tingkat kemasakan tanaman tebu tersebut. Untuk mengetahui tingkat kemasakan ini, harus melakukan analisa nira pada saat-saat umur tertentu agar diketahui tingkat rendemennya. Analisa kemasakan dilakukan dengan menggiling batang-batang tebu dengan gilingan contoh.

Nilai koreksi sebesar 0,4 ini sebenarnya mempunyai kaitan yang sangat erat dengan banyaknya kotoran yang ikut terbawa dalam nira tebu. Kotoran yang terbawa bukan saja tidak dapat menjadi gula, bahkan sebaliknya gula yang ada dalam nira akan ikut terbuang bersama kotoran-kotoran tadi. Besarnya angka 0,4 ini didapat dari pengalaman yang ada dari pabrik-pabrik gula di Jawa sejak dahulu. Oleh sebab itu, disamping harus memperhatikan penebangan pada tingkat kemasakan yang optimal, dituntut pula agar kebersihan di dalam penebangannya sebaik mungkin. Kebersihan penebangan berati harus memperhatikan agar daun-daun tua, pucuk tanaman maupun kotoran tanah yang melekat pada akar-akar tanaman tidak ikut serta dalam batang-batang tebu yang hendak digiling.

3. Rendemen Contoh Rendemen contoh adalah angka rendemen yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kemasakan dari tanaman tebu. Seperti diketahui, bahwa saat tebang yang tepat adalah apabila tanaman memiliki tingkat kemasakan yang tinggi, yaitu tanaman tebu memiliki tingkat rendemen yang maksimal. Untuk mengetahui tingkat kemaskan tadi, maka perlu diambil beberapa batang tebu contoh dari kebun tebu petani dalam setiap periode (15 hari) guna diketahui rendemennya.

Batang-batang tebu contoh tersebut digiling dengan menggunakan gilingan kecil/gilingan contoh. Secdangkan, nira yang keluar dari gilingan contoh ini dihitung nilai NN-nya, yang kemudian dikalikan dengan nilai FR untuk mengetahui tingkat rendemennya. Walau demikian jangan lalu beranggapan bahwa rendemen tadi akan sama nilainya dengan rendemen sementara. Hal ini tidak benar karena NN yang didapat dengan menggunakan gilingan contoh selalu lebih tinggi dari nilai NN dengan gilingan pabrik. Dengan demikian nilai rendemen contoh akan selalu lebih tinggi dari rendemen pabrik.

Bagaimanakah bisa terjadi perbedaan nilai rendemen yang cukup besar antara rendemen sementara dengan rendemen contoh ? Masalahnya karena batang-batang tebu contoh selalu lebih bersih daripada tebu yang digiling di pabrik. Disamping itu, daya perah dari gilingan contoh lebih kecil daripada gilingan pabrik.
Daya perah kecil ini akan menyebabkan sel-sel tanaman yang memiliki kulit yang lebih tipis, akan lebih mudah pecah daripada sel-sel tanaman yang kulintya lebih tebal. Padahal kita mengetahui bahwa sel-sel yang lebih tipis ini, pasti lebih banyak mengandung zat gula daripada sel-sel yang tebal. Mengingat kedua faktor tersebut di atas, maka sudah sewajarnya apabila NN dari gilingan contoh akan lebih tinggi dari nilai NN gilingan pabrik. Atau dengan kata lain, nilai rendemen contoh akan selalu lebih tinggi dari rendemen pabrik.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDEMEN

1. Beberapa faktor di pabrik yang Mempengaruhi Rendemen. Tebu yang sama jika digiling ke PG yang berbeda dapat menghasilkan rendemen yang berbeda, hal tersebut disebabkan keadaan dalam PG. a. Peralatan Pemerahan Umumnya makin tua dan makin sedikit jumlah gilingan memerasnya tebu kurang sempurna, sehingga mengurangi juga gula yang dapat diambil dari tebu yang berakibat juga rendemen kurang baik. b. Peralatan pemasakan gula: peralatan yang sudah tua dan mundur efisiensinya menyebabkan gula yang hilang waktu pemasakan, sehingga dapat merugikan rendemen. Senitasi peralatan dalam PG, alat-alat yang kurang bersih merugikan rendemen.

2. Beberapa faktor di Tanaman yang Mempengaruhi Rendemen. Tanaman memegang peranan yang penting dalam pembentukan besar kecilnya rendemen, Faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen pada tanaman antara lain: a. Jenis : Seperti halnya pada tanaman-tanaman lainnya, pada tebu juga ada jenis yang mempunyai sifat pembawaan rendemen tinggi, yaitu jenis-jenis POJ 3016, Ps 8, Ps 41, Ps 56 umumnya mempunyai rendemen yang lebih tinggi dari pada jenis POJ 3067. b. Umur Tebu: Rendemen tebu meningkat bersamaan dengan umur tanaman. Pada tanaman yang muda mula-mula rendemen rendah, makin tua makin besar, pada yang terlalu tua rendemen menjadi turun. Keadaan tersebut umumnya para petani TR sudah merasakan.

f. Mutu Tebangan: Pada kadar kotoran di atas 3%, ada kecenderungan menurunkan rendemen 0,194 point pada setiap peningkatan kadar kotoran 1%. Pucukan: karena bagian atas (bagian yang masih muda) kandungan gula sangat sedikit, maka tebangan yang pucuknya tidak dipotong akan menurunkan rendemen. Sehingga dianjurkan agar waktu tebang pucuknya diambil, karena sekaligus dapat digunakan untuk bahan tanam. Setiap 36,9 kg pucukan yang turut digiling bersama 10 Ku tebu menyebabkan kehilangan 1 kg gula. Kotoran/daduk: kotoran tersebut akan menarik gula dalam nira, sehingga tebangan yang kiotor merugikan rendemen. Setiap 13,4 kg kotoran kering yang turut digiling bersama 10 ku tebu menyebabkan kehilangan 1 kg gula. Kurang ngonce: bagi kebun yang tidak akan dikepras, penebangan yang kurang ngonce berarti membuang tebu yang banyak gulanya, sehingga merugikan rendemen. Tebangan yang menginap lama/lesehan: tebangan yang dibiarkan lama dikebun maupun di emplasemen PG tidak segera dapat diangkut merugikan rendemen karena banyak gula hilang karena antara lain kena panas dan lain-lain, Tebu terbakar yang tidak segera digiling sangat merugikan rendemen; pada umumnya kebun yang terbakar, oleh PG akan segera ditebang dan digiling.

g. Mutu pekerjaan kebun Waktu menanam: pada tanah-tanah berat dan becek, penanaman yang tergesagesa sehingga tanah kurang mendapat angin (tanah kurang wangi) sangat merugikan pertumbuhan tanaman, sehingga dianjurkan dua minggu setelah dicemplong pada tanah-tanah berat tersebut baru ditanami. Bulan tanam: bertalian dengan penyediaan air untuk tanaman tebu, maka tanaman yang terlalu awal dan terlalu kasip kurang menguntungkan; bulan terbaik umumnya bulan Mei sampai dengan Juli. Penyiangan: rumput merupakan saingan terhadap tanaman utamanya. Kebun yang kurang dirawat rumputnya sangat merugikan rendemen dan produksi dapat turun 0,11%. Pemberian tanah: tanah berguna antara lain memberi makanan, memberi kekuatan. Pengaruh pemberian tanah sebagai berikut : Gulud maupun klentek sebelum gulud yang sempurna dapat memperbiki rendemen.

h. Pemupukan Pemupukan Nitrogen Bagi petani pemupukan N sudah tidak asing lagi baik untuk tanaman bahan makanan (padi, palawija) maupun tebu. Pemupukan P dan k Jika tanaman kekurangan pupuk P atau K, rendemen dirugikan. Pengaruh K ada kecenderungan memperbaiki rendemen maupun kemasakan tebu. Pada saat ini sebagai sumber P biasanya TSP (dulu dipakai juga DS), sedang sumber K dipakai KCI.

i. Hama dan Penyakit. Pada saat ini hama penggerek merupakan musuk utama bagi tanaman tebu. Serangan penggerek pucuk dari hasil-hasil sebelum perang dapat menurunkan rendemen 4%, kerugian gula 10% pada serangan 30%.

j. Keadaan Tanaman Rendemen akan turun jika tanaman: Banyak keluar siwilan serta siwilan tersebut tumbuh lebat. Tebu doyong maupun roboh. Tebu banyak keluar sogolan. Tebu yang gabes.

k. Keadaan Lingkungan Iklim Curah hujan sangat mempengaruhi rendemen. Hujan pada bulan Oktober dan Nopember berpengaruh baik pada rendemen, sedang hujang pada bulan Mei sangat merugikan rendemen. Letak Daerah - Di Dunia: Daerah-daerah penanaman tebu yang terletak 160 Lintang Utara dan 200 Lintang Selatan garis katulistiwa menghasilkan rendemen yang relatif lebih tinggi dari pada di luar batas tersebut. - Di Jawa: ada daerah-daerah yang mempunyai potensi menghasilkan rendemen tinggi (daerah Madiun, Solo), ada daerah-daerah dekat pantai, antara lain daerah Sidoarjo, Probolinggo). - Dalam satu daerah PG juga terdapat kebun-kebun yang rendemen selalu tinggi dibanding dengan kebun lainnya.

Keadaan air tanah Pada daerah yang air tanahnya tinggi (daerah-daerah dekat pantai) umumnya rendemen lebih kecil dari pada daerah-daerah yang air tanahnya sedang. Daerah dataran tinggi Umumnya rendemen lebih tinggi dari pada di dataran rendah. Pada jenis yang sama di daerah Malang dapat mempunyai rendemen yang lebih tinggi dibanding jika jenis tersebut ditanam misalnya di daerah Sidoarjo Delta.

C. BEBERAPA UPAYA MENCAPAI RENDEMEN TINGGI


1. Dalam Bidang Tanaman. Adapun upaya-upaya yang dimaksud tadi meliputi: Pemilihan varietas tebu unggul yang tepat. Pemilihan bibit tebu yang memiliki kualitas yang baik. Penebangan pada umur tanaman yang tepat Perbaikan faktor lingkungan melalui tindakan kultur yang tepat antara lain meliputi : Pengolahan, tanah, masa tanam, pemupukan, gulud akhir dan pemberantasan hama penyakit.

2. Dalam Bidang Pabrikasi. Perbaikan di dalam bidang pabrikpun perlu dilakukan, yaitu agar pabrik gula dapat lebih efisien dalam mengolah tebunya menjadi gula. Dalam kaitan ini, pihak pabrik gula melaksanakan rehabilitasi, yang diutamakan adalah pabrik-pabrik gula yang memiliki peralatan yang sudah tua. Rehabilitasi perlu dilakukan, karena dari tebu yang sama apabila digilingkan pada pabrik gula yang berbeda akan menghasilkan rendemen yang berbeda.

Hal ini karena perbedaan dari keadaan pabriknya. Perbaikan di dalam pabrik yang dapat mempengaruhi rendemen meliputi perbaikan gilingan, peralatan masakan gula dan sanitasi peralatan-peralatan dalam pabrik. Perbaikan masin gilingan akan berarti semakin meningkatnya nira tebu yang dapat diperah dari batang-batang tebu. Perbaikan peralatan masakan gula akan memungkinkan pengolahan nira menjadi gula semakin efisien. Dengan kata lain, semakin tinggi gula yang dapat diperoleh dari nila tebu yang diolahnya. Sedangkan, perbaikan sanitasi peralatan pabrik juga diperlukan, karena alat-alat yang kurang bersih dapat mengurangi rendemen yang sebenarnya dapat dicapai.

Jadi, jelaslah bahwa untuk mencapai suatu rendemen yang tinggi dituntut kesungguhan hati yang penuh dari semua pihak yang berkecimpung di dalam usaha budidaya tebu ini, baik di dalam bidang tanaman antara lain menuntut agar anda melakukan pengawasan ke dalam kebun tebu secara intensif. Hal ini dimaksudkan agar dapat segera melakukan tindakan kultur teknik, yang dibutuhkan bagi tanaman tebu tersebut.

D. ANALISA NIRA
Beberapa jenis nira dalam pabrik gula diharuskan dianalisa tiap jam tiap 8 jam sekali. Jenisjenis nira yang dianalisa dalam laboratorium pabrik gula adalah: nira gilingan, nira mentah, nira encer, nira seduhan (afzeetsap) nira kental dan sebagainya. Umumnya cara analisa dari beberapa jenis hampir sama dan yang biasa dianalisa adalah : % brix, % polarisasi, % saccharosa, kadar kapur, gula reduksi, asiditas dan alkalitas, keasaman (ph) dan kadar kapur.
1. Penetapan Brix. Kecuali nira kental maka nira aslinya yang dianalisa % brixnya, khusus untuk nira kental maka, terlebih dahulu diencerkan 3x (500 gr nira kental ditambah 1 kg air); larutan nira kental, encer ini yang digunakan untuk analisa-analisa sejenis dengan nira-nira yang lain. Adapun cara menetapkan % brix nira adalah sebagai berikut : a. Dari suatu contoh nira masukkanlah ke dalam Cylinder Winter (mol glas) dengan hatihati sampai penuh dan buih yang timbula mengelir ke tepi. Diamkan dalam keadaan tenang di tempat yang datar sampai kotoran kasar mengendap dan gelombang-gelombang udara sudah tidak ada lagi ( 15 menit). Biarkan buih di permukaan. b. Kemudian masukkanlah alat penimbang brix, hati-hati agar tangkai bagian atas kering dan tidak menyentuk dinding mol glas. Apabila sudah tenang amati dengan teliti, skala pembacaan, dimana kedudukan mata harus sejajar dengan permukaan nira yang diamati dan seolah-oleh tidak terjadi kenaikan kapiler pada tangkai. Amati pula temperatur nira tidak dengan thermometer yang ada pada penimbang brix tadi, dan ingat bahwa bagian bawah harus masih tercelup. c. Dari pengamatan alat penimbang brix, diperoleh brix yang belum terkoreksi. Koreksi temperatur dapat diperoleh dengan pertolongan tabel.

d. Contoh perhitungan : Pengamatan penimbang brix = 14,50 0 Suhu (temperatur) larutan 29 C = 0,09 koreksi Brix terkoreksi = 14,59 14,60
2. Penetapan Polarisasi Nira. a. Untuk mendapatkan hasil yang lebih mendekati untuk penentuan polarisasi masukkanlah nira yang telah ditentukan brixnya ke dalam labu takar 100/110 ml, sampai tanda 100 ml. Lebih dahulu labu dicuci dengan nira. b. Tambahkan berturut-turut 5 ml asetat timbal basis dan 3 tetes dinatrium phosphat 10%, baru diisi sampai garis tanda 110 ml dengan aquadest. c. Kemudian keringkan air yang ada pada leher labu, gojog baik-baik dan tapis. (Beberapa ml filtrat pertama dibuang). Untuk mencegah penguapan selama penapisan tutuplah corong dengan sepotong gelas (gelas arloji) d. Filtrat yang jernih, diisikan pada pembuluh polarisasi dari 200 mm dengan memegang pada monsternya (ebonit) sampai tidak terdapat lagi gelembung udara. Ingat gelas penutup harus bersih betul, agar tidak menyukarkan pengamatan. e. Dengan pertolongan tabel Schmitz dari hubungan antara brix belum terkoreksi dan pengamatan polaimeter terkoreksi (pada pembuluh 200 mm) akan diperoleh polarisasi.

f. Contoh perhitungan : Pengamatan polarimeter : 50.80 50.10 50.90 152.80 50.93

50.20 50.70 51.00 152.90 50.97

50.93 + 50.97 2
Koreksi mata

101.9 2

50.95

51,0

0.0 0.1 0.0 + 0.1

+ -

0.1 0.1 0.1 0.1

Rata - rata

+ 0.1 - 0.1 3x2

Pengamatan polarimeter = 51 Brix belum terkoreksi = 14.5 Dari Schmitz didapat % pol = 13.81

Dari % pol dan % brix diperoleh HK = = 13.81 14.6 X 100

% pol X 100 % brix

= 94.6

3. Penetapan Kemasakan Tebu. a. Pendahuluan : Maksuk dari penetapan ini adalah untuk menentukan kapan suatu pabrik akan mulai menebang tebunya untuk digiling. Masaknya tebu adalah dimana tebu tersebut memberikan hasil gula yang diharapkan tertinggi. Hasil gula ialah berat tebu X rendemen Rendemen akan makin tinggi, apabila brix, pol dan niranya makin tinggi. Dari hasil-hasil analisa, dan pengamatan mengenai besarnya serangan hama dan penyakit serta keterangan-keterangan yang diperlukan dicatat pada buku khusus, kemudian dibuat grafik rendemen yang menggambarkan masaknya tebu, dengan rendemen sebagai ordinat (sisi tegak) dan waktu sebagai obsis (sisi mendatar). Yang dimaksud sebagai rendemen adalah banyak gula yang dapat diambil tiap 100 bagian berat tebu (nilai nira, kwalitet nira, sapwaarde). Rendemen dihitung sebagai berikut : % gula yang dapat diambil = P - 0,4 (B P). (nilai nira, kwalitet nira, sapwaarde) P = % polarisasi nira B = % brix nira Rendemen = faktor X nilai nira

Faktor yang dimaksud pada penentuan ini yaitu faktor pemerasan banyaknya nira yang diperas tiap 100 bagian berat tebu.
( Faktor = berat nira berat tebu X 100 % )

Ada yang menganjurkan supaya faktor ini sesuai dengan kerja gilingan besar dalam pabrik. Besarnya faktor ditetapkan oleh masing-masing pabrik. Untuk masing-masing jenis berbeda dan merupakan rata-rata dari suatu jenis. Setiap periode tertentu pada masa giling biasanya pabrik melakukan percobaan untuk menetapkan faktor ini dengan menggunakan gilingan besar. Perlu diingat bahwa sebelum penentuan dilakukan perlu dicatat dan dicocokkan mengenai (misalnya) : i. Nomor contoh (ronde) ii. Nama kebun dan nama petak contoh. iii. Jenis tebu iv. Waktu tanam v. Jumlah batang

Selain dari angka angka rendemen untuk lebih menyakinkan lagi mengenai jalannya kemasakan dihitung pula mengenai faktor kemasakan (FK), Kosien peningkatan (KP), dan kosien daya tahan (KDT). Perhitungan adalah sebagai berikut : rdt B - rdt A FK = X 100 rdt B - rdt A

Tingkat kemasakan yang edial apabila : Rendemen atas (rdt A) = rendemen bawah (rdt B) sehingga FK = 0. Bila rdt A = 0 maka FK = 100, dengan demikian bertambah masaknya tebu Fk akan bergerak dari 100 ke 0.
KP = rdt (a.at) rdt (a.a-2) X 100 % )

Dari angka ini digambarkan apakah tingkat rendemen dari analisa yang terakhir ini (rdt a.a) masih dapat b ertambah atau tidak jika tebunya ditahan. Angka ini diperoleh dalam proses dari perbandingan antara rendemen analisa akhir (rdt a.a) dengan rendemen P pada periode kedua sebelum (rdt a.a -2). Jika KP = 100 rendemen akan tetap. KP > 100 rendemen masih m eningkat KP < 100 rendemen menurun. HKB a.a

KDT

HKB a.a

-2

Dari angka ini digambarkan apakah tebu tadi masih kuat ditahan sehingga kemasakannya menjadi lebih sempurna. Angka ini diperoleh dalam persen dari perbandingan antara HK bagian bawah dari analisa terakhir (HK aa) dengan HK bagian bawah analisa periode kedua sebelumnya (HK aa-2) Jika KDT = 100 artinya tebunya masih dapat ditahan sehingga kemasakannya menjadi lebih sempurna. KDT < 100 artinya telah terjadi pemenuhan HK, sehingga terlepas dari keadaan kemasakan, sebaliknya tebu ditebang. Dari ketiga angka ini dapat diperoleh gambaran yang lebih menyakinkan mengenai keadaan keamanan tebu tadi. Dan ini biasanya cukup ditulis misalnya: 25, 108, 100 artinya: tingkat kemasakannya cukup baik (25) walaupun demikian rendemen masih dapat bertambah (108) dan penahanan untuk mendapatkan kemasakan yang lebih sempurna masih bisa dilakukan (100).

b. Cara-cara Analisa a). Catat dan cocokkan antara lain mengenai : Nomor contoh Nama kebun dan nama petak contoh Jenis tebu Waktu tanam Jumlah batang b). Masing-masing batang diukur panjangnnya c). Potong dan pisahkanlah batang menjadi tiga bagian: atas, tengah dan bawah dan tiap bagian dibelah menjadi dua untuk dilihat serangan hama penyakitnya dsb, juga untuk mempermudah pada waktu menggiling. d). Timbanglah tiap-tiap bagian tadi, kemudian digiling bagian per bagian. e). Nira hasil gilingan dari tiap-tiap bagian tadi ditampung dalam panci untuk selanjutnya dianalisa mengenai brix, pol dan Hknya, seperti pada penentuan brix, pol dan HK dari nira mentah. f). Analisa rata-rata diperoleh dengan mencampur baik-baik terlebih dahulu dari tiga bagian tadi kemudian ditentukan brix, pol dan Hknya. g). Hasil-hasil analisa tadi dicatat dalam blanko mengenai analisa masaknya tebu, dan dari sini dipindahkan ke kubu analisa untuk diolah lebih lanjut.

D. ANALISA PENDAHULUAN
Panjang batang (m) 3,40 3,60 3,60 3,60 3,40 3,70 3,60 3,40 3,70 3,60 35,60 10,00 3,56 Berat batang (Kg) Berat bagian atas 5,100 Berat bagian tengah 6,500 Berat bagian bawah 9,300 Jumlah berat batang 20,900 Jumlah batang 10 Berat rata-rata tiap 2,090 batang Panjang rata-rata 3,56 Berat rata-rata/m 0,58 batang

Jumlah : Jumlah batang : Panj. Batang rata-rata : Berat nira (kg) Atas Bawah Tengah Jml. berat nira Jml.berat batang Faktor pemerahan Bruto 3,210 4,582 5,660

Tarra 0,210 0,382 0,160 12,700 20,900 0,61

Netto 3,000 4,200 5,500

Atas Tengah Bawah Rata-rata

Brix blm terkor. 16,75 18,75 20,20 18,80

Suhu 29,1 29,0 29,0 29,1

Korek suhu 0,09 0,09 0,09 0,09

Brix terko 16,84 18,84 20,29 18,89

Pengamt.pol 44,5 57,3 67,3 58,6

% pol 11,95 15,16 17,82 15,60

B = P = BP 0,4 (B P) P 0,4 (B P) P 0,4 (B P) Faktor Rendemen

Atas 16,84 11,95 4,89 0,4 x 1,96 11,95 1,96 9,99 0,61/0,65 x 6,09/6,49

Tengah 18,84 15,16 3,68 0,4 x 1,47 15,16 1,47 13,69 0,61/0,65 x 8,35/8,90

Bawah 20,29 17,82 2,47 0,4 x 0,99 17,82 0,99 16,83 0,61/0,65 x 10,27/10,94

Rata-rata 18,89 15,60 3,29 0,4 x 1,32 15,60 1,32 14,28 0,61/0,65 x 8,71/9,28

Atas Tengah Bawah Ratarata

Brix terkoreksi 16,84 18,84 20,29 18,89

Pol 11,95 15,16 17,82 15,60

HK 70,9 80,4 87,8 82,5

Nilai n 9,99 13,69 16,83 14,82

Faktor 0,61/0,65 0,61/0,65 0,61/0,65 0,61/0,65

Rendemen 6,09/6,49 8,35/8,90 10,27/10,94 8,71/9,28

DAFTAR VI

DAFTAR SCHMITZ
Der ajat Pol
42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55

Derajat brix 13,0


11,44 11,71 11,99 12,26 12,53 12,81 13,08

13,5
11,42 11,69 11,96 12,24 12,51 12,78 13,05 13,33 13,60

14,0
11,40 11,67 11,94 12,21 12,48 12,76 13,03 13,30 13,57 13,84 14,11

14,5
11,37 11,64 11,92 12,19 12,46 12,73 13,00 13,27 13,54 13,81 14,09 14,36 14,63

15,0
11,35 11,62 11,89 12,16 12,43 12,70 12,97 13,25 13,52 13,79 14,06 14,33 14,60 14,87

15,5
11,33 11,60 11,87 12,14 12,41 12,68 12,95 13,22 13,49 13,76 14,03 14,30 14,57 14,84

16,0
11,30 11,57 11,84 12,11 12,38 12,65 12,92 13,19 13,46 13,73 14,00 14,27 14,54 14,81

16,5
11,28 11,55 11,82 12,09 12,36 12,63 12,90 13,17 , 13,44 13,70 13,97 14,24 14,51 14,78

17,0
11,26 11,53 11,80 12,07 12,33 12,60 12,87 13,14 13,41 13,68 13,95 14,21 14,48 14,75

17,5
11,24 11,50 11,77 12,04 12,31 12,58 12,84 13,11 13,38 13,65 13,92 14,18 14,45 14,72

18,0
11,21 11,48 11,75 12,02 12,28 12,55 12,82 13,09 13,35 13,62 13,89 14,16 14,42 14,69

18,5
11,19 11,46 11,72 11,99 12,26 12,53 12,79 13,06 13,33 13,59 13,86 14,13 14,39 14,66

19,0
11,17 11,44 11,70 11,97 12,23 12,50 12,77 13,03 13,30 13,57 13,83 14,10 14,36 14,63

PERCOBAAN
Pabrik Gula Tanggal Lama Percobaan : : :

PEMERAHAN

UNTUK

MENETAPKAN

FAKTOR

RENDEMEN

15.00 - 20.00

Jenis Tebu Kebun Katagori Masa Tanam


NPP

: : : Campuran. :
NM

U R A I A N

% brix % pol % bukan gula % pol tak mengkristal % pol % hablur dalam npp/nm Ku nira mentah terkoreksi Ku hablur dalam nira mentah Ku tebu Ku hablur dalam nira mentah % tebu % hablur dalam NPP Faktor rendemen dihitung Rendemen W inter Faktor rendemen sesungguhnya Kadar Sabut Tebu Ku Tebu Ku air imbibisi Ku NM bruto Ku ampas Ku tebu Ampas % tebu % pol ampas HK nira gilingan akhir % brix ampas % bahan kering ampas % brix ampas Kadar sabut ampas Ampas % tebu Kadar sabut tebu Rendemen tebu % hablur dalam NPP FR sesungguhnya Rendemen tebu 8.868,00 2.343,00 11.211,00 8.310,00 2.901,00 8.868,00 32,71 3,03 65,70 4,61 47,00 4,61 42,39 32,71 13,87

16,32 12,88 3,44 0,4 1,38 12,88 11,50

13,58 10,38 3,20 0,40 1,28 10,38 9,10 8.278,42 753,34 8.868,00 8,49 11,50 0,7384 95,69 0,7066

x : 100 : x 100 : x : 100

Air tebu bebas brix % sabut % brix ampas % brix npp % nira asli dalam ampas Kadar sabut ampas Nira asli dalam ampas % sabut Kadar sabut tebu Nira asli dalam ampas % tebu Ku bruto NM % koreksi kotoran Ku koreksi kotoran Ku bruto NM Ku koreksi kotoran Ku NM terkoreksi % brix NM Ku brix NM Ku tebu brix NM % tebu % brix NPP Nira asli dalam NM % tebu Nira asli dalam ampas % tebu Kadar nira tebu PSHK HK nm HK npp PSHK HPB Total Ku brix nm Ku brix ampas Ku brix tebu HPB Total Faktor Rendemen 4,61 16,32 28,26 42,39 66,67 13,87 9,24 8.310,00 0,38 31,58 8.310,00 31,58 8.278,42 13,58 1.124,21 8.868,00 12,68 16,32 77,68 9,24 86,92

26,42 93,71 : x 100

: x 100 : x 100 x : 100

: x 100

x : 100

x : 100

x : 100 : x 100 : x 100 +

11,50 0,71 8,13

x : 100

76,44 78,92 95,06

1.124,21 133,79 1.258,00 89,36 0,7066

presprof

05/05/2012

29

Taxasi Kristal Harian PG


Timb NM Door Ges RWS Sulf RWS RWS VW Jumlah + Nira Encer Bak Dunsap V.W III Pan Penguap Jumlah + 285 1,00 25 1,00 400 0,30 285 25 120 430 Jumlah + Peti Krengseng Peti No. Jumlah + Peti Klare SHS No. 11 120 0,25 12 120 0,00 13 120 0,00 Jumlah 30 0 0 30 Peti Bawah Jumlah 9 10 120 0,00 120 0,00 0 0 0 Peti Klare D Peti No. 23 120 0,25 24 120 0,25 25 120 0,25 26 120 0,25 27 120 0,25 28 120 0,25 50 0,00 30 30 30 30 30 30 0 180 Tl. Atas Trog Bawah trog Jumlah Jumlah 2.600 Trog. No. 8 200 0,00 9 200 0,00 10 200 0,00 40 0,00 70 0,00 0 0 0 0 0 170 I II 50 1,00 50 290 2250 240 100 15 15 2.960 N.Kental Sulf DKS I ( T ) Sulf. DKS II ( B ) Peti Diks No. 1 2 3 4 5 6 7 8 120 0,00 120 0,00 120 0,00 120 0,25 120 0,00 120 0,00 120 0,00 120 0,00 0 0 0 30 0 0 0 0 106 Peti Bawah Jumlah Peti Stroo B/C Peti No. 18 120 0,25 19 120 0,25 20 120 0,25 21 120 0,25 22 120 0,25 120 0,00 30 30 30 30 30 0 150 TL.atas trog Bawah Trog Atas Put. TL. Bawah D 1 TL. Atas D1 Bawah Jumlah 75 0,00 0 240 Trog. No. 11 220 1,00 12 220 1,00 13 220 1,00 14 220 1,00 15 220 1,00 16 220 1,00 17 220 1,00 18 220 1,00 19 220 1,00 70 0,00 80 0,00 100 0,00 80 0,00 100 0,00 220 220 220 220 220 220 220 220 220 0 0 0 0 0 Pan. Masakan C/B Pan. No. 7 8 9 0 0 0 0 0 0 0 170 170 TL. bawah Jumlah Trog. No. 3 4 5 6 TL. Atas Put.A A Bibit C/D (atas) 180 0,75 135 150 0,00 150 0,00 150 0,00 30 0,00 40 0,00 150 0,00 0 0 0 0 0 0 735 20 55 1,00 0,00 20 0 56 Peti Strop A Peti No. 14 120 0,50 15 120 0,50 16 120 0,50 17 120 0,50 60 60 60 60
Masakan D

Pan. Msk. A 9 10 11 12 13 0 120 0 190 0 0 0 160 0 150 120 190 0 160 150 Pan. No. 1 2 3 4 5 6 0 0 0 0 0 0 110 110 120 120 0 0 100 100 110 110 160 160

Bak Bawah Timb. 290 1,00 3000 0,75 240 1,00 100 1,00 15 15 1,00 1,00

Pan. No

Bak Bawah DKS 225 0,25

05/05/2012

30

TAXASI KRISTAL HARIAN PG


NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 URAIAN Nira Mentah Nira Encer Nira Kental Klare AB Krengsengan Stroop A Stroop C/B Klare D Bibit / Inwurf Masakan A Masakan C Masakan D JUMLAH HL 2.960 430 106 30 240 150 180 735 170 2.600 % brix 12,53 13,04 61,40 72,70 0,00 82,90 85,00 82,70 0,00 92,70 94,80 99,50 Hk 71,50 76,20 78,00 89,80 0,00 61,30 57,20 63,80 0,00 81,10 76,00 60,00 Ku Brix tiap HL 0,131 0,137 0,80 0,99 0 1,19 1,23 1,18 0,00 1,39 1,44 1,54 (-) Ku Brix 388 59 85 30 286 185 212 1.022 245 4.004 6.514 4.248 2.266 0,4970 Ku Pol 277 45 66 27 175 106 136 829 186 2.402 4.248

Catatan : Hk. Tetes '( R ) Faktor Mellase

: :

33,20

Ku Pol Ku BG Faktor Melase Pol tak mengkristal Kristal Taxasi H.I Kristal Taxasi Kemarin Koreksi ( - / + )

1.126 3.122 3.113 9

05/05/2012

31

Perhitungan Rendemen Harian

05/05/2012

32

Ton Tebu Gigiling Ton Air Imbibisi Ton Nira Mentah Rendemen Winter Blotong%Tebu

Perhitungan Rendemen Harian


Uraian

3.818,9 420,1 3.247,0 95,10 3,40 Analisa %pol 12,75 10,84 4,61 10,69 11,26 3,15 2,85 PENGAWASAN RUMUS

Data-data pada:
Periode Giling

%brik 16,21 13,98 6,39 14,21 14,53 ANGKA ANGKA

HK 78,66 77,54 72,14 75,23 77,49 -

nira perahan pertama ( npp ) nira perahan kedua ( npk ) nira gilingan akhir ( nga ) nira mentah ( nm ) nira encer ( ne ) ampas blotong PERHITUNGAN URAIAN TON NIRA MENTAH ( BRUTO ) TON KOREKSI KOTORAN TON NIRA MENTAH TERKOREKSI TON BRIK NIRA MENTAH TON POL NIRA MENTAH TON BUKAN GULA NIRA MENTAH TON AMPAS AMPAS%TEBU IMBIBISI%TEBU NIRA MENTAH%TEBU % brik ampas TON POL AMPAS TON BRIK AMPAS sabut%ampas sabut%tebu TON SABUT Imbibisi%sabut KADAR NIRA TEBU HASIL PEMERAHAN BRIK HASIL PEMERAHAN GULA HASIL PEMERAHAN GULA DIREDUKSI 12,5% TON BRIK TEBU TON NIRA PERAHAN PERTAMA HASIL PEMERAHAN BRIK 1 PERBANDINGAN SETARA HASIL KEMURNIAN nira asli hilang % sabut koreksi kotoran nira mentah%tebu air tebu bebas brik%tebu air tebu bebas brik%sabut FAKTOR CAMPUR TON BLOTONG TON POL BLOTONG TON POL NIRA ENCER TON BRIK NIRA ENCER TON BUKAN GULA NIRA ENCER EFFEK PEMURNIAN NON SUGAR REMOVAL NILAI NIRA PERAHAN PERTAMA FAKTOR RENDEMEN RENDEMEN TEBU

Faktor Koreksi 0,30 -

%Zat Ker ampas 48,12 ANGKA STD

NOTASI NMK FNMK NM BNM PNM BGNM A ta ti t nm ba PA BA fa ft F fi KNT HPB HPG HPG12,5% BT BNPP HPB 1 PSHK fnta fnmkt two fwo FC BL PBL PNE BNE BGNE EP NSR Nnpp FR R

HASIL 3247,0 9,7 3237,3 460,0 346,1 114,0 992,0 26,0 11,0 85,0 4,4 31,2 43,3 43,8 11,4 434,0 96,8 81,3 91,4 91,7 90,8 503,3 47,4 9,4 93,16 61,6 0,3 7,1 62,2 82,3 129,8 3,7 342,4 441,8 99,4 12,7 11,80 11,37 0,66 7,48

NMK x fk/100 NMK - FNMK bnm/100 x NM pnm/100 x NM BNM - PNM T + I - NMK A/T X 100 I/T X 100 NMK/T X 100 pa/( HKnga /100 ) pa/100 x A ba/100 x A zka - ba fa x ta/100 FT/100 x T ti/ft x 100 ( BNM + BA ) / (bnpp X BNM/(BNM + BA ) X 100 PNM/(PNM + PA ) X 100

T )

Min 90 Min 91 Min 92

100 - ( 100 - HPG ) x ( 100 - ft )/( 7 x ft ) BNM + BA BNM x (bnm -bnpk)/(bnpp-bnpk) BNPP/BT x 100 (1,4xHKnm - 40)/(1,4xHKnpp - 40)x100 (ba x ta )/( bnpp x ft ) x 100 FNMK/T X 100 100 - ( ft + KNT + fnmkt ) two/ft x 100 pnga x (100 - fa)/pa blotong%tebu x Tebu pbl x BL PNM - PBL PNE/Hkne x 100 BNE - PNE ( BGNM - BGNE )/(BGNM) x 100 {( 1-HKnm/Hkne) x (1 - Hkne/100) /(1 - HKnm/100)}x100 pnpp - 0,4x(bnpp - pnpp) KNT x HPB x PSHK x RW Nnpp x FR

Min 60

10 S/D 30 Min 50

Min 12

05/05/2012

33

PERHITUNGAN KEHILANGAN GULA DALAM AMPAS

Uraian Jumlah ampas % brix ampas Ton pol ampas Ton brix ampas Ton kristal dlm ampas Setara rendemen Selisih rendemen Selisih kristal

Satuan Ton % Ton Ton Ton % % Ton

2.00 137040 3.08 2,740.80 4,216.62 2,150.47 0.45

2.25 137040 3.46 3,083.40 4,743.69 2,419.28 0.50 0.06 268.81

% pol ampas 2.50 2.75 137040 3.85 3,426.00 5,270.77 2,688.09 0.56 0.11 537.62 137040 4.23 3,768.60 5,797.85 2,956.90 0.62 0.17 806.43

3.00 137040 4.62 4,111.20 6,324.92 3,225.71 0.67 0.2240 1,075.24

3.25 137040 5.00 4,453.80 6,852.00 3,494.52 0.73 0.28 1,344.05

Catatan Tiap point pol ampas setara 0.22 % rendemen


05/05/2012 34

PERHITUNGAN KEHILANGAN GULA DALAM BLOTONG

Uraian Jumlah blotong % brix blotong Ton pol blotong Ton brix blotong Ton kristal dlm blotong Setara rendemen Selisih rendemen Selisih kristal

Satuan Ton % Ton Ton Ton % % Ton

1.50 90 2.14 1.35 1.93 1.12 0.037

1.75 90 2.50 1.58 2.25 1.31 0.044 0.006 0.19

% pol blotong 2.00 2.25 90 2.86 1.80 2.57 1.49 0.050 0.012 0.37 90 3.21 2.03 2.89 1.68 0.056 0.019 0.56

2.50 90 3.57 2.25 3.21 1.86 0.062 0.0249 0.75

2.75 90 3.93 2.48 3.54 2.05 0.068 0.031 0.93

Catatan Tiap point pol blotong setara 0.0249 % rendemen


05/05/2012 35

PERHITUNGAN KEHILANGAN GULA DALAM TETES

Uraian Jumlah tetes % pol tetes Ton pol tetes Ton brix tetes Ton kristal dlm tetes Setara rendemen Selisih rendemen Selisih kristal

Satuan Ton % Ton Ton Ton % % Ton

32.00 150 28.80 43.20 135.00 13.82 0.461

HK tetes 33.00 34.00 35.00 150 29.70 44.55 135.00 15.61 0.520 0.059 1.78 150 30.60 45.90 135.00 17.39 0.580 0.119 3.56 150 31.50 47.25 135.00 19.17 0.639 0.178 5.35

36.00 150 32.40 48.60 135.00 20.95 0.698 0.2376 7.13

37.00 150 33.30 49.95 135.00 22.73 0.758 0.297 8.91

Catatan Tiap point HK tetes setara 0.059 % rendemen


05/05/2012 36