Anda di halaman 1dari 11

NEOPOSITIVISME

Dalam abad XIX empirisme menjadi pangkal suatu aliran lain, yaitu positivismee. positivismee mengunggulkan pengetahuan ilmiah. Auguste Comte (1798-1857) di Perancis dan beberapa filsuf Inggris termasuk alian ini antara lain Herbert Spencer (1820-1903) dan filsuf-filsuf aliran utilitarisme Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (18061903). Filsuf-filsuf utilitarisme yang mengutamakan prinsip kegunaan dalam kehidupan sosial manusia; apa yang ternyata berguna bagi perkembangan manusia dianggap baik dan benar. Di antara penganut aliran positivisme dapat digolongkan juga filsuf-filsuf mazhab ajaran hukum umum, antara lain Adolf Merkl dan John Austin, dimana mereka berusaha untuk menghindari semua ucapan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, mereka mengakui ilmu pengetahuan fisika dan matematika sebagai ilmu pengetahuan yang ideal, maka dari itu mereka mengambil oper metoda empiris dan analitis sebagai satu-satunya metoda yang sah. Dalam bidang ilmu psikologi dan sosiologi tokoh-tokoh dari positivisme lebih cenderung untuk mengunakan metoda lain. Dalam abad XX muncul kritik terhadap ilmu pengetahuan yang menyebabkan keraguan para sarjana tentang kebenaran ucapan ilmiah, pada zaman dulu ilmu pengetahuan merupakan sumber dari segala optimisme hidup. Pada masa sekarang kritik terhadap ilmu pengetahuan menghilangkan harapan untuk mendapatkan yang namanya kepastian, namun banyak filsuf-filsuf yang yakin bahwa jalan ilmu pengetahuan merupakan sarana untuk membuka kemungkinan untuk mencapai kebenaran, tetapi pengetahuan bukan ilmiah tidak dapat dipercaya sama sekali. Dalam situasi yang bimbang, muncul aliran-aliran filsuf baru yang mencari solusi dari masalah ilmu pengetahuan dengan menyelidiki isi bahasa dan pengertian secara mendalam. Aliran yang dimaksud yaitu aliran NEOPOSITIVISME, dapat dikatakan bahwa aliran antara neopositivisme modern berbeda dengan aliran positivisme abad yang lampau, karena dalam neopositivisme memberikan perhatian lebih besar terhadap logika dan kepada logika dengan bahasa terjalin hubungan yang sangat erat, dalam hal ini kedua aliran tersebut menolak semua ucapan yang tidak dapat dibuktikan dengan kebenaran yang bersifat ilmiah. Di negara

Amerika emprisme membawa pengaruh yang sangat besar, maka dari itu filsuf asli Amerika yang pertama kali menjadi penyalur empirisme. Di Amerika empirisme ini mendapat
HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

bentuknya sendiri yaitu disebut dengan aliran pragmatis yang di dirikan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914). Pragmatisme menyangkal kemungkinan bagi manusia untuk mendapat pengetahuan secara teoristis yang benar, maka ide-ide tersebut harus diselidiki dalam praktek hidup, hal ini diterangkan oleh Pierce dalam makalahnya yang berjudul How To Make Our Ideas Clear, menurut Pierce ide dijelaskan dengan jalan analisis yang digunakan secara fungsional yaitu dengan menyelidiki seluruh konteks suatu pengertian dalam praktek hidup. Pragmatisme ini memang merupakan suatu sistem filsafat tetapi lebih- lebih suatu sikap yang cukup umum di Amerika yang dianggap sebagai realistis. Oleh karena itu mazhab hukum yang muncul di Amerika berdasarkan prinsip-prinsip yang tadi disebut dengan realisme hukum. Di Inggris juga terdapat suatu aliran baru yang dapat disebut dengan mazhab filsafat analitis, nama ini merupakan nama kumpulan dari macam-macam filsafat yang bermula dari karya Geoerge Edward Moore yang berjudul Principia Ethica, dalam karya ini filsafat ditentukan tugasnya untuk mencari keterangan tenatng pengertian akal budi yang sehat. Cara berfilsafat seperti ini mendapat dukungan dari Bertrad Russell tetapi tujuannya mencari lebih jauh, ia ingin menganalisis bahasa untuk melihat manakah unsur-unsur metafisika yang ada di dalamnya yang berakibat pada munculnya suatu pandangan yang metafisis terhadap dunia. Untuk mencapai tujuan itu orang harus melepaskan diri dari bahasa biasa dan menciptakan suatu bahasa baru yang bersifat logis belaka yang disebut dengan antomisme logis. Sedangkan di benua Eropa suatu perkumpulan sarjana baru mengakui prinsip empirisme dan positivisme dalam arti yang sempit atau juga empirisme logis dan positivisme logis. Perkumpulan ini berpusat di Vienna, Austria dan karenanya disebut dengan Wiener Kreis. Filsuf Wiener Kreis menekankan logika sebagai alat utama dalam mencari kebenaran. Cita-cita aliran ini adalah untuk membuktikan bahwa masalah yang dipersoalkan dalam metafisika merupakan masalah bahasa saja, tujuan lainnya adalah mengungkapkan putusanputusan yang sama sekali luput dari bahassa kekeliruan. Dalam pertengahan kedua abad ini filsafat analisis mengalami perkembangan, dalam mazhab dialektis yang muncul di perancis dimana menurut mazhab ini kebenarann tidak pernah definitif, selalu bersifat sementara saja dan ilmu pengetahuan tidak satu-satunya kemungkinan untuk mendekatai kenyataan. Serentak dalam Mazhab analitis Inggris perubahan yang sama ditemukan, pada mulanya bahasa hanya dipandang dalam satu fungsi saja yaitu sebagai alat untuk menentukan
HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

kebenaran dari kenyataan-kenyataan, panndangan tersebut dirubah oleh filsuf-filsuf dan mereka yakin bahwa bahasa dapat dipakai dalam bermacam-macam situasi dengan tujuan yang berbeda tergantung dari lingkungan untuk apa bahasa itu digunakan. Sejak diterbitkannya buku Ryle sudah menjadi terbiasa berbicara tentang filsafat Oxford, dalam filsafat ini diberikan perhatian khusus terhadap bahasa, maka istilah lain dari filsafat ini adalah filsafat linguistik.

1) REALISME HUKUM AMERIKA Di Amerika beberapa pemikir tentang hukum yang mengikutu arah yang telah digariskan dalam filsafat pragmatism, dimana para pemikir tersebut tidak lagi memberikan perhatian terhadap masalah teoritis tentang hukum, dan tidak mengindahkan aspek normatif dari hukum. Bagi mereka yang penting hanyalah apa yang diperlakukan dengan hukum secara aktual, orang yang menjalankan hukum hanyalah para hakim dan pegawai pengadilan lainnya, maka kaidah hukum dipandang sebagai suatu generalisasi dari kelakuan para hakim, maka pedoman pertama dari ilmu hukum adalah hakim, teori ini dikemukakan oleh Oliver Wendell Holmes dalam karangannya yang berjudul The Path Of Law. Menurut Holmes seorang sarjana hukum harus menghadapi gejala hidup secara realistis, jika tidak dia akan sampai pada keyakinan para penjahat sama sekali tidak memepunyai interesse dalam prinsip normatif hukum, sekalipun kelakuan mereka seharusnya diatur menurut prinsip itu. Bagi mereka yang penting hanyalah kelakuan aktual dari seorang hakim yaitu pertanyaan apakah seorang hakim akan menerapkan sanksi pada suatu kelakuan yang tertentu atau tidak. Menurut Frank seorang modern tidak akan ditipu lagi oleh ilusi-ilusi semacam ini, dan sekarang manusia tahu bahwa hukum yang sebenarnya hanya terdiri dari putusanputusan pengadilan dimana putusan tersebut tergantung dari banyak faktor, antara lain faktor ekonomi, politik, dan moral juga berpengaruh sangat besar terhadap putusan hakim. Menurut Benjamin N. Cardoso tedapat suatu perkembangan bebas hukum berkat kegiatan daripada hakim tetapi kegiatan hakim ini pada akhirnya terikat oleh tujuan hukum yaitu kepentingan umum, hakim harus menuruti norma yang terkandung dalam kepentingan umum. Pandangan ini dikuatkan oleh Roscoe Pound, ia menambahkan bahwa

HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

hukum sebagai suatu unsur dalam hidup masyarakat harus memajukan kepentingan umum.

2) REALISME HUKUM SKANDINAVIA Mazhab realisme hukum ini berkembang di Uppsala Swedia, namun perbedaan denga realisme hukum Amerika agak besar karena bukan praktek hukum pejabat-pejabat hukum menjadi titik tolak pandangan, melainkan kelakuan orang-orang dibawah hukum. Axel Hagerstrom seorang sarjana hukum dari Swedia memandang bahwa sikap-sikap orang terhadap hukum diwarnai oleh perasaan yang berakar pada bayangan primitif, hal ini dibuktikan dengan memepelajai asas-asas hukum Romawi kuno, dalam aliran Romawi kuno muncul ide seperti aturan hukum, milik, kewajiban dan lain-lain. Menurutnya ide itu bukan ide rasional melainkan ide itu dibayangi oleh bayangan magis sakral dan animistis, hal itu membuktikan orang Romawi tidak menaati hukum karena suatu kewajiban moral dalam arti yang benar. Ide dari Hagerstrom dikembangkan oleh Ander Vilhelm Lundstedt, Ander mengatakan bahhwa kaidah hukum, hak subyektif dan kewajiban hukum hanya merupakan bayangan pikiran. Untuk melihat kenyataan yang sebenarnya harus diselidiki manakah mekanisme hukum yang bergerak dibelakang pikiran itu. Menurutnya bahwa hukum positif sama sekali tidak mewajibkan, undang-undang hanya merumuskan bagaimana kelakuan biasa orang dalam situasi tertentu. Pandangan Karl Olivecrona, aturan hukum merupakan sejumlah peraturan yang mempunyai pengaruh psikologis yang sangat besar terhadap kelakuan seseorang yang berpautan dengan organisasi kekuasaan fisik, yaitu Negara dimana, kekuasaan itu menakutkan orang untuk tidak melanggar peraturan itu. Pada umumnya ketakutan itu kurang disadari karena orang cenderung mengucilkan pikiran yang illegal. Tapi perbuatan itu juga diintregasikan dalam kesadaran orang

3) ALF ROSS Dalam buku pertama Ross menerangkan bahwa keharusan yuridis merupakan suatu unsur realitas sosial dalam mana kita hidup. Realitas sosial adalah sesuatu yang khusus yang tidak dapat disamakan dengan realitas alam. Realitas alam memang ada segiHENDRA JOHAN ADE IRAWAN

segi alam juga, tetapi disamping itu realitas sosial memiliki fungsi normatif yang melebihi realitas alam. Dengan teori tentang realitas sosial, Ross menentang teori Kelsen, yang memastikan bahwa keharusan yuridis adalah suatau kategori yang terlepas dari realitas sosial, seperti dalam tradisi Kant dikatakan tentang suatu Sollen yang terlepes dari Sein. Kreana pemisahan ini Kelsen harus mencari suatu norma dasar untuk mendasari berlakunya hukum, dalam hal ini Ross menolak suatu norma yang terlepas dari realitas sosial, dan akibatnya ia menolak juga terhadap suatu norma dasar diluar realitas sosial itu, dimana hukum berlaku dalam sistem sosial sendiri. Menurut Ross timbulnya hukum sebagai aturan masyarakat yang bersifat mewajibkan dapat diterangkan dalam 4 (empat) tahapan, yaitu:
a. Tahap pertama adalah situasi masyarakat yang diatur melalui paksaan, masyarakat

semacam ini ditandai oleh Ross sebagai suatu sistem actual paksaan (an actual system of compulsion)
b. Tahap yang kedua dimulai bila orang muali takut akan paksaan, untuk mencegah

paksaan itu maka anggota komunitas mengembangkan suatu cara yang berlaku yang sesuai dengan keinginan mereka (an interested behavior attitude)
c. Tahap yang ketiga dimana situasi orang-orang sudah mulai menjadi biasa akan cara

hidup yang demikian, semakin lama dipandang sebagai suatu keharusan , maka karena pengaruh sugestif sosial dari kebiasaan, orang mulai berbicara tentang sesuatu yang berlaku dalam arti yuridis (a disinterested behavior attitude)
d. Tahap yang terakhir, situasi hidup bersama dimana norma kelakuan ditentukan oleh

instansi yang berwibawa, sebab supaya hukum berlaku harus ada kompetensi pada orang yang membentuknya (the authoritative establishment of norms) Walaupun dalam teory Ross terdapat unsure-unsur yang menerangkan timbulnya peraturan hukum tertentu, namun pada umumnya ajaran dari Ross kurang memuaskan, Ia mau menerima norma hukum, akan tetapi norma hukum ituditafsirkan sebagai gejala psikologis semata.

HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

4) H. L. A. HART Dalam buku Hart yang berjudul The Consept of Law, menentang pengertian hukum pada Austin. Menurut Austin, hukum adalah sejumlah perintah yang keluar dari seorang yang berkuasa dalam Negara secara memaksakan, dan yang biasanya ditaati. Hart menolak definisi hukum ini, karena definisi ini situasi ini cocok juga dwngan situasi penyerbuan (gunman situation). Menurut Hart definisi Austin untuk sebagian tepat, yakni sejauh hukum dilihat dari luar, sebab memang benar bahwa peraturandikelurkan oleh yang berkuasa dan biasanya ditaati. Akan tetapi terdapat aspek lain juga yang disebut dengan aspek intern, aspek ini ditanggapi oleh orang-orang yang termasuk suatu wilayah hukum tertentu dan merasa terikat secara bati untuk menaati aturan hukum tersebut. Aspek intern ini menjadi landasan bagi kritik normatif atas kelakuan dan bagi tuntutan untuk bertindak sesuai dengan aturan. Dalam hal ini, kaidah hukum dapat di bagi menjadi 2 (dua) yaitu kaidah primer dan kaidah skunder. Kaidah primer menentukan kelakuan subyek hukum, dengan menyatakan apa yang harus dilakukan, dan apa yang dilarang. Kaidah skunder, kaidah ini menyatakan berlakunnya syarat-syarat bagi berlakunnya kaidah primer dan dengan menampakkan sifat yuridis kaidah itu, dapat dikatakan bahwa kaidah skunder ada hubungannya dengan kompetensi dalam bidang hukum, kaidah itu menentukan kewibawaaan instansi hukum untuk membentuk hukum. Artinya berkat kaidah skunder dalam aturan hukum sebuah masyarakat orang tertentu menerima suatu tugas dan kewibawaan untuk mengeluarkan kaidah yang berlaku, untuk mengubahnya, untuk memecahkan masalah hukum. teory Hart tentang norma dasar menyerupai teori Kelsen tentang Grundnorm sebagai dasar terkait segala hukum, tetapi perbedaab menjadi nyata juga, sebab menurut Kelsen norma dasar itu hanya norma yang diandaikan untuk dapat berpikir secara ilmiah dalam bidang hukum. Sedangkan menurut Hart norma dasar itu adalah suatu realitas yang nyata dan dapat diwujudkan.

5) JULIUS STONE Julius Stone memandang hukum sebagai suatu kenyataan sosial, makna dari kenyataan sosial ini dapat ditangkap melalui suatu penyelidikan logis analitis sebagaimana telah dipraktekkan dalam mazhab hukum Austin, namun niat Stone ingin
HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

menjangkau lebih jauh lagi, ia bermaksud untuk mengerjakan suatu ajaran tentang keadilan yang menjadi ukuran bagi tata hukum yang berlaku. Hal ini merupakan suatu kmajuan, sebab secara tradisional dalam mazhab hukum analitis norma hukum sama sekali tidak dipelajari. Ia berpendapat bahwa ilmu hukum tidak mempunyai metoda penyelidikan tersendiri, maka hukum yang berlaku terdiri dari printah-perintah, idealideal dan tekhnik-tekhnik tertentu harus dipelajari dalam terang pengetahuan yang berasal dari ilmu pengetahuan lain seperti logika, sejarah, psikologi dan sosiologi. Yang menjadi persoalan Stone lainnya yaitu arti dari hukum, Stone menyebutkan tujuh sifat khas dari hukum yang menghasilkan tanggapan hukum yang lazim diterima dalam zaman modern ini. Tujuh sifat tersebut antara lain: Hukum merupakan satu kesatuan kompeleks yang terdiri dari bermacam-macam gejala Diantara gejala itu terdapat norma-norma yang mengatur kelakuan dan menjadi pedoman bagi mereka yang mengambil keputusan Norma iti adalah norma sosial yang mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan sesame Kompleks hukum merupakan suatu keseluruhan yang teratur, artinya terdapat suatu tertib hukum Tertib hukum itu ditanggapi sebagai memaksakan Paksaan itu adalah bersifat institusional, artinya paksaan disesuaikan dengan norma yang telah ditentukan Aturan yang menentukan norma sosial tertentu dan yang bersifat memaksa harus efektif agar dapat bertahan. Semua sifat ini tidak dimengerti sebagai kebenaran tentang hukum, melainnkan hanya sebagai Definitional Fiat yaitu sebagai tanggapan yang berguan dalam disksusi tentangperkara hukum, sebab disetujui oleh semua pihak.

6) JOHN RAWLS Terjadi suatu paradigm bahwa orang memendang hidup dalam masyarakat sebagai suatu beban, institusi sosial dan hukum sebagai penghambat dalam perkembangan hidup. Menurut Rawls pandangan semacam ini cocok bagi orang yang hidup dalam masyarakat
HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

pribadi. Dalam masyarakat pribadi orang-orang memiliki sasarannya masing-masing sehingga sasaran itu bersaingan dan tidak ada hubungannya antara stu dengan yang lainnya.Rawls menerangkan dalam masyarakat yang baik anggota masyarakatnya akan baik juga. Kebaikan pribadi ini mencakup keutamaan yang perlu dimiliki orang sebagai pribadi, disamping itu intelegensi yang kuat energy dan ketetapan hati termasuk kebaikan itu, maka kebaikan itu terdiri dari nilai moral maupun nilai alam. Menurut Rawls kebaikan itu dapat dikarakterisasi sebagai kebaikan rasional, artinya kebaikan ini dapat diharapkan dari seorang anggota masyarakaat yang bijaksana karena kebujaksaan anggota masyarakat itu akan membuat suatu rencana yang rasinal bagi kehidupannya. Dan ia akan hidup denga harga diri yang kuat dan akan menerima penghargaan bagi dirinya dan perbuatannya dari pihak mereka yang termasuk lembaga sosial yang sama.

HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

ANALISIS

Pada teori realisme hukum disimpulkan bahwa dalam filsafat itu tampak suatu antinomy antara kekuatan ide hukum sebagai normatif dalam hidup orang dan penyangkalan radikal realism normatifnya oleh tokoh tersebut. Dalam hal ini antinomy akan lebih tampak dalam teori hukum menurut Alf Ross. Dalam teori Ross mengemukakan bahwa mempertanggung jawabkan aspek hukum dengan menggunakan metode ilmu alam tidak dapat tercapai karena realitas sosial melebihi alam seharusnya metode yang digunakan untuk menerangkan realitas sosial adalah metode yang digunakan dalam ilmu pengetahuan akal budi praktis. Dalam bukunya Ross bahwa metode ilmu pengetahuan akal budi praktis tidak membawa hal apa-apa. Hal ini dibuktikan dengan memastikan bahwa ilmu pengetahuan akal budi praktis bukan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya. Walaupun dalam teori Ross terdapat unsure yang menerangkan timbulnya peraturan hukum tertentu namun pada dasarnya ajarannya kurang memuaskan, dalam hal ini Ross mau menerima norma hukum akan tetapi norma tersebut ditafsirkan sebagai gejala psikologis belaka. Hal ini mengandung arti bahwa norma itu bukan norma yang sungguh dan juga bahwa gejala etis tidak dipahami oleh Ross. Teori menurut H.L.A. Hart, dalam teorinya Hart ingin menjawab atas pertanyaan apa itu hukum? Dalam menjawab pertanyaan ini ia mulai dengan mempertahankan suatu minimum hukum alam, akan tetapi ia sampai pada suatu pengertian hukum yang hanya menyangkut segi formalnya saja. Dengan ini filsafat hukum Hart tetap merupakan suatu positivism belaka, sama dengan positivism hukum dari teori hukum umum dari Merkl. Secara konsekuen Hart membela pendapat bahwa tata hukum Nazi Jerman memang berlaku sebagai hukum, walaupun tidak boleh ditaati karena tidak cocok dengan prinsip moral. Kiranya untuk sampai untuk suatu pengertian hukum yang bersifat menyeluruh perlu diterima prinsip material hukum sebagai bagian integral hukum. Dan apabila prinsip itu telah diterima sebagai konstitutif bagi hukum sebagai hukum maka dapat dibedakan antara tata hukum yang berlaku dan tata hukum yang sebenarnya bukan hukum dan tidak berlaku, karena melawan arti hukum yang benar.
HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

Arti hukum juga dipersoalkan oleh Stone juga, tetapi secara pragmatis melulu. Stone menyebutkan tujuh sifat khas dari hukum yang bersama-sama menghasilkan suatu tanggapan hukum yang lazim diterima zaman modern ini. Menurut John Rawls seorang professor di Harvard University, disemangati oleh sikap etis yang besar seperti dalam bukunya A Teory of Justice, 1973 (suatu teori keadilan). Rawls berasal dari tradisi empirisnya Inggeris dari Hume Bentham dan J.S. Mill. Rawls tertarik juga pada teori kontrak seperti dikemukakan oleh filsuf-filsuf abad XVIII, yakni Locke, Rousseau dan Kant. Seseorang memandang hidup dalam masyarakat sebagai suatu beban, institusi-institusi sosial dan hukum sebagai penghambat bagi perkembangan hidup. Menurut Rawls pandangan macam ini cocok bagi orang yang hidup dalam masyarakat pribadi (private society). Dalam masyarakat pribadi orang masing-masing memiliki sasarannya sendiri, sedemikian rupa sehingga sasaran-sasaran itu saling bersaingan atau sekurang-kurangnya tidak ada hubungan satu sama lain. Lagi pula institusi-institusi yang dibentuk tidak dihargai karena nilanya sendiri. Institusi-institusi sosial hanya digunakan orang untuk mencapai tujuan-tujuan individual. Persaingan dalam pasar dapat dilihat sebagai lambang tentara masyarakat yang bercorak individualistis.

HENDRA JOHAN ADE IRAWAN

TUGAS FILSAFAT HUKUM RESUME

oleh

Oleh: 1. I Wayan Ardyasa 2. Chandra Purnama Dewi 3. Ni Wyn Pt Yuliati 4. Jatenra E. Sidabutar 5. Marga Utama 6. Syeha 7. Nova Rina 8. Hendra Johan Ade I 9. Satrio Purnomo 10. Muhammad Ali Fikri 11. Anggana Atwaja MU (D1A008135 ) (D1A008155 ) (D1A008145 ) (D1A008099 ) (D1A008121 ) (D1A008100 ) (D1A008097 ) (D1A008107 ) (D1A008 (D1A008 (D1A008 ) ) )

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM 2011

HENDRA JOHAN ADE IRAWAN