Anda di halaman 1dari 8

Tugas Drama Etika Profesi Kebidanan & Hukum kesehatan

Dosen pengampuh: SRI RAHAYU AMRI SH

Disusun oleh:

Anriani Abidin Ayu Lestari Besse Khairuddin Devita Putri Erna Wati Fitriani AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH PALOPO 2011

Keadilan Bagi Bidan


Dipertengahan desember 2011, Pengadilan Negeri kota Palopo disibukkan dengan kasus seorang orang bidan yang tengah menjalani proses hukum karena diduga telah melakukan malpraktik pada seorang klien dalam melakukan proses persalinan. Dugaan malpraktik tersebut terjadi pada tanggal pada tanggal 20 November 2011. Ketika sekitar pukul 13.00. klinik KASIH IBU kedatangan seorang pasien bernama Anriani Abidin yang sedang hamil tua. Nyonya Anriani memang ingin memeriksakan kehamilannya, dan sekaligus ingin melahirkan di klinik tersebut. Nyonya A Bidan : Assalamu alaikum.. : walaikum salam

( Dengan Senyum,Sapah,Salam sang Bidan mempersilahkan Ibu hamil masuk dan duduk. ) Bidan Nyonya A : Mari masuk Ibu, Silahkan duduk Ibu, ada yang bias saya bantu ? : Begini bu bidan, saya dating kesini untuk memeriksakan kehamilan saya, melahirkan? Bidan : kalau boleh tau, nama Ibu siapa? kenapa sampai sekarang saya belum juga

-SKIP( setelah melakukan anamnesa dan mendengarkan keluh kesah dari nyonya Anriani, bidan pun menganjurkan agar ibu berbaring dan ia mulai melakukan pemeriksaan pada perut Nyonya Anriani ) Bidan : Ibu, umur kehamilan ibu sekarang usianya 42 minggu. Saya akan memberikan ibu obat untuk membantu mempercepat persalinan ibu, apa ibu setuju?

Nyonya A bila Bidan

: (melihat kearah ibunya yang mengangguk) Saya setuju bu bidan, itu yang terbaik. : Saya akan melakukan yang terbaik untuk Ibu dan calon Bayi ibu. (dengan senyum ramah)

( Setelah mendapat persetujuan dari Nyonya Anriani, sang bidan lantas memanggil Erna, seorang asisten apoteker untuk memberikan obat kepada nyonya Anriani) Bidan Apoteker : Erna, tolong berikan ibu ini obat Gastrul? : Baik, bu bidan. pergi mengambil obat, dan berjalan menuju tempat nyonya A berbaringApoteker : Permisi Ibu ya, Ini obat yang harus ibu minum senyum-

( Setelah memberikan obat gastrul kepada Nyonya Anriani, Erna pun meninggalkan tempat itu. Beberapa saat setelah meminum obatnya nyonya Anriani mengatakan bahwa perutnya sakit) Nyonya A : aduh, bu bidan. Perut saya sakit sekali meringis-

( Bidan yang sejak tadi mengawasi ibu setelah pemberian obat, langgsung memeriksa keadaan nyonya Anriani dan segera mempersiakan persalinan, namun kepala bayi masih dalam keadaan keluar masuk. Si bidan kemudian menyuruh Ernamenghubungi dokter ahli kandungan kenalannya ) Bidan : mohon maaf ibu, melihat kondisi ibu yang seperti ini, dokter menyarankan agar ibu dirujuk ke Rumah Sakit. Ibu mau saya rujuk dirumah sakit mana? ( karena nyonya tak sanggup lagi berkata apa-apa, akhirnya ibu dari nyonya andriani yang menyahut ) Ibu nyonya A : Di rumah sakit Muhammadiyah saja,bu bidan.

( atas persetujuan ibu dari nyonya Andriani, nyonya a pun segera dirujuk ke rumah sakit Muhammadiyah Palopo) -SKIPDokter Nyonya A : Ayo ibu, lebih kuat lagi mendorongnya.! : ARRGGGHHHH.!!!

( setelah melewati proses persalinan yang lama dan melelahkan, akhirnya bayi nyonya Anriani dilahirkan juga. Namun tidak cukup 15 menit, bayi yang baru saja dilahirkan itu pun menghembuskan nafas terakhirnya, dikarenakan mengalami sesak nafas ) Dokter : mohon maaf ibu, kami telah melakukan seemaksimal mungkin untuk menyelamatkan bayi ibu, tapi tuhan berkehendak lain. raut muka bersedihNyonya A : TIDAK !! jangan katakana kalau.. kalau.. terisak-

( nyonya Anriani dan keluarganyapun hanya bisa menangis sejadi-jadinya ) -SKIP( Seminggu setelah kejadian itu, keluargadari nyonya anriani mengadukan klinik KASIH IBU ke polisi, karena di anggap telah lalai dalam melayani menolong persalinan yang berujung pada pengadilan ) Hakim : Terdakwa Devita apa anda membantu proses persalinan pada Nyonya Andiriani pada hari Jumat 20 November 2011 ? Bidan : ya, saya membantunya, tapi dikarenakan kondisi kepala bayi yang keluar masuk dan atas saran dokter, saya merujuk pasien ke RS Muhammadiyah Palopo. Hakim : Apa benar anda memberikan obat gastrol berupa tablet kepada nyonya Andriani ?

Bidan

: Ya, saya memberikanya untuk membantu memperlancar proses persalinan.

( suarah dari ratusan bidan yang memenuhi ruangan begitu riuh selama proses tanya jawab hakim dan bidan devita berlangsung, dan semakin panas ketika seorang saksi dari keluarga penggugat dihadirkan ) Saksi I : pada waktu itu, asisten apoteker memberikan obat gastrul yang setau saya itu golongan G (berbahaya), yang semestinya diberikan atas resep dokter, bukan inisiatif bidan secara pribadi.

Pembela

: Yang mulia, obat gastrul yang diberikan teoleh bidan Devita


pada nyonya Anriani bukanlah obat yang berbahaya. Obat itu sudah lazim digunakan dalam bidang obsetrik dan gekenologi dengan tujuan untuk mempercepat proses persalinan. Dan tak ada efek samping.

Saksi I

: yang mulia, karena tempo waktu yang terlalu lama, kata dokter dirumah sakit, anak saya akhirnya mengalami infeksi saluran peranakan. Padahal, ketika datang ke klinik KASIH IBU,anak saya sudah dalam keadaan mau melahirkan. Bahkan, usia kandungannya sudah lewat sembilan bulan. Hal itu dibuktikan dengan hijaunya air ketuban. Bukankah normalnya air ketuban berwarnah bening.

Pembela

: yang mulia, sepatutnya Hakim mempertimbangkan pasal 29 UU No.36 tahun2009 tentang kesehatan, dan harus mengerti substansi dari kepmenkes 369/menkes/sk/III/120/2007 tentang standar profesi bidan. Kematian bayi dari nyonya anriani yang dikatakan karena sesak nafas atau yang disebut dengan Asphexia Neonatorum ini dapat disebabkan banyak hal, diantaranya akibat usia kehamilan melebihi normal dan ini bisa dibuktikan secara statistik. Dan menyangkut pernyataan saksi

ahli yang menyatakan karena tempo waktu yang terlalu lama sehinnga nyonya Anriani akhirnya mengalami infeksi peranakan. Ini agak aneh yang mulia. Bukan kah setiap usia kehamilan yang melebihi normal air ketubannya berwarna hijau? Dan tali placenta layu sehingga menyebabkan lahirlah bayi dengan sesak nafas. Dengan kata lain dilahirkan oleh siapapun dan di Rumah sakit manapun, ketuban hijau dan placenta layu tetaplah terjadi. ( suasana kembali menegang, dan Nampak hakim sedang berdiskusi dengan hakim dan jaksa membicarakan tentang apa yang baru saja di sampaikan oleh pembela ) Hakim Hakim : Harap tenang sambil mengetuk palu satu kali: terdakwa Devita Putri, anda di vonis dengan hukuman minimal 1 tahun 6 bulan penjara, dimana mengacu pada pasal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUH Pidana), tentang kelalaian dalam menjalankan tugas yang menyebabkan orang lain

meninggal dunia. Serta pasal 29 UU No.36 tahun 2009, tentang kesehatan yang memungkinkan penyelesaian melalui mediasi di luar persidangan. Bila ada tuntutan dari pasien yang merasa dirugikan. ( terdengar teriakan bidanlain yang tidak setuju ) Hakim : Sementara itu, tentang peran Apoteker, yang memberi nyonya Anriani tablet gastrul yang diresepkan bidan I, tidak dinilai sebagai sebuah pelanggaran. Seorang saksi ahli, memang menyebutkan bahwa pemberian obat gastrul yang golongan G (berbahaya) semestinya diberikan atas resep dokter, bukan inisiatif bidan secara pribadi. Namun saksi pembela yang berdasar pada keterangan dokter, menjelaskan bahwa obat gastrul yang diberikan terdakwa Erna pada nyonya Anriani bukanlah obat yang berbahaya. Obat itu sudah lazim digunakan dalam bidang obsetrik dan gekenologi dengan tujuan untuk

mempercepat proses persalinan. Dan tak ada efek samping. dengan fakta persidangan itulah, kami menyatakan terdakwa bidan III bebas, dan di pilihkan kembali hak-haknya. Karena obat gastrul itu tidak berbahaya dan tidak berdampak pada kematian bayi ( Usai hakim mengetok palu, para bidan yang berada di dalam dan di luar ruangan sidang langsung merengsek ke dalam. Termasuk ketuan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Bidan Devita sempat dipeluk dan meraung dipangkuannya. Bidan Ketua IBI : Saya tidak bersalah bu, saya tidak bersalah isaknya: Iya kami tau, kami akan usahakan kebebasan anda raut wajah simpati( Pengacara bidan Devita, Ayu Lestai menyatakan segera mengajukan banding. Pembela : Kita Langsung Banding. Vonis hakim tidak berdasarkan keadilan.

( Ketua IBI di hadapan ratusan Bidan se-SULSEL yang ikut memberikan dukungan moril di persidangan, berjanji akan tetap mendampingi Devita sampai kasus tersebut selesai.) Ketua IBI : kita akan damping Devita sampai kasus ini selesai, kalau peru IBI SUL-SEL akan mencarikan pengacara khusus untuk rekan kita. ( Sekali lagi tetrdengar teriakan beberapa orang bidan yang mengajak teman-temannya untuk mogok kerja besok kita tidak usah bekerja.)

Kata Pengantar Puji syukur patut kita panjatkan kepada Allah Swt. Tuhan Yang Maha Esa karena berkat atas karunia-Nya lah, penulis dapat menyelesaikan penulisan dialog naskah drama yang di embankan kepadanya. Tak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada dosen kami Ibu Sri Rahayu Amri, SH yang telah membimbing kami dalam perencanaan pembuatan dialog naskah drama ini. Serta tak luput pula kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok kami dan juga dari kelompok lain yang telah memberi masukan dalam penulisan dialog naska drama ini. Penulis menyadari bahwa dialog naskah drama ini masih jauh dari kata sempurna, tapi penulis akan terus berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya. Karena tu kritik dan saran yang membangun sangat ditunggu oleh penulis. Akhri kata, penulis bekerja keras hanya mengharapkan agar dialog naskah drama ini, member

pembaca sekalian inspirasi untuk menulis dialog naskah drama. Semangat dan selamat

Palopo, Desember 2011

Penulis