Anda di halaman 1dari 28

AGRIBISNIS TANAMAN HORTIKULTURA

ANALISIS USAHA AGRIBISNIS TANAMAN HORTIKULTURA PADA KOMODITAS LADA (MERICA)


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Agribisnis Tanaman Hortikultura

Disusun Oleh : Wendi Irawan Dediarta (150310080137)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Hal ini dikarenakan sektor tersebut adalah salah satu sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap total PDB nasional. Salah satu subsistem unggulan dari pertanian adalah agribisnis dari tanaman-tanaman hortikultura. Agribisnis tanaman hortikultura merupakan salah satu subsistem unggulan sektor pertanian di Indonesia. salah satu komoditas dari tanaman hortikultura yang menjadi unggulan adalah tanaman lada atau merica. Lada atau Merica (Piper Nigrum Linn) merupakan salah satu komoditas unggulan bagi Indonesia. Secara ekonomi lada merupakan sumber pendapatan bagi para petani dan menyumbangkan devisa negara non-migas. Secara sosial merupakan komoditas tradisional yang telah dibudidayakan sejak lama dan aktivitas usahanya menjadi penyedia lapangan kerja yang cukup luas terutama di daerah sentra produksi. Manfaat lada dalam rumah tangga adalah sebagai bumbu penyedap rasa yang mengandung senyawa alkolid piperin yang memunyai rasa yang pedas. Sedang manfaat untuk kesehatan, lada dapat melonggarkan saluran pernapasan dan melancarkan aliran darah di sekitar kepala. Terdapat dua jenis lada di pasaran yaitu lada putih dan lada hitam. Lada putih adalah buah lada yang dipetik saat buah lada itu sudah matang kemudian dikupas kulitnya dengan cara merendamnya dalam air mengalir selama dua minggu, setelah itu dijemur selama tiga hari. Sedang lada hitam ialah buah lada yang saat dipetik sudah matang tapi kulitnya masih hijau, dan langsung di jemur selama tiga hari tanpa direndam terlebih dahulu..

1.2. Perumusan Masalah Untuk mencapai tujuan penulisan, maka diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut : Bagaimana perkembangan agribisnis tanaman hortikultura pada komoditas lada yang terjadi saat ini.

Seberapa jauh perkembangan agribisnis tanaman lada dari mulai penyediaan agroinput sampai pada proses konsumsi di tingkat konsumen. Apa saja masalah-masalah yang dihadapi oleh stakeholder serta upayaupaya yang telah dilakukan untuk menyelesaikannya. Bagaimana fluktuasi harga lada di pasaran serta pengaruhnya kepada petani, pedagang, serta konsumen. Apa keuntungan ataupun kerugian yang dirasakan oleh petani, pedagang, maupun konsumen.

1.3. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Memenuhi tugas UTS dari Mata Kuliah Agribisnis Tanaman Hortikultura. 2. Menginformasikan kepada pembaca mengenai cara mengelola usaha komoditas lada dari mulai penyediaan agroinput hingga proses konsumsi di tingkat konsumen.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Deskripsi Tanaman Lada/Merica Lada atau merica (Piper nigrum L.) disebut sabagai raja dalam kelompok rempah (King of Spices), karena merupakan komoditas yang paling banyak diperdagangkan. Lada merupakan komoditas Indonesia yang sudah diekspor ke Eropa sejak abad ke 12. Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, lada memberikan keuntungan sebesar 2/3 dari total keuntungan yang diperoleh VOC. Sebelum Perang Dunia ke II, Indonesia mampu memenuhi 80% kebutuhan lada dunia. Peran Indonesia mulai menurun sejak penjajahan Jepang, karena banyaknya tanaman yang rusak akibat tidak terpelihara dan terjadinya serangan hama dan penyakit terutama penyakit busuk pangkal batang (BPB). Muller melaporkan serangan penyakit busuk pangkal batang pada lada pertama kali terjadi di Lampung pada tahun 1885. Produk lada yang diperdagangkan adalah lada putih dan lada hitam dalam bentuk buah utuh. Daerah utama penghasil lada putih adalah propinsi Bangka Belitung yang dikenal dengan sebutan Muntok White pepper, sedangkan daerah yang terkenal dengan produksi lada hitamnya adalah Lampung dengan sebutan Lampung Black Pepper. Selama 10 tahun terakhir, kontribusi lada Indonesia di pasar dunia semakin menurun. Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2000 yaitu 63.938 ton (37% dari total ekspor dunia) terdiri dari 29.682 ton lada hitam (asal Lampung) dan 34.256 ton lada putih (asal Bangka-Belitung). Pesaing lada Indonesia adalah Vietnam, dengan produk utamanya saat ini berupa lada hitam. Perkebunan lada di Indonesia sebagian besar (99,90%) merupakan perkebunan rakyat, dengan ciri pemilikan lahan yang sempit, lokasi yang terpencar, terbatasnya modal, sarana/prasarana, pengetahuan serta keterampilan untuk mengembangkan usahanya. Permasalahan utama agribisnis lada nasional adalah (1) tingkat produktivitas tanaman dan mutu yang rendah, (2) tingginya kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit, (3) usahatani yang belum efisien, (4) masih rendahnya usaha peningkatan mutu dan diversifikasi produk, (5)

serta lambatnya proses alih teknologi ke tingkat petani. Selain permasalahan tersebut, usahatani lada di Lampung secara komparatif bersaing dengan komoditas kakao, kopi dan kelapa sawit, sedangkan di Bangka-Belitung penggunaan lahan usahatani lada bersaing dengan pertambangan timah rakyat dan kelapa sawit. Persaingan perdagangan lada di pasar dunia semakin kompetitif karena persyaratan yang diminta negara -negara konsumen semakin ketat terutama dalam jaminan mutu, aspek kebersihan dan kesehatan. Hanya negara yang mampu memproduksi lada dengan mutu sesuai keinginan konsumen dan harga yang kompetitif akan berpeluang meraih pasar. Oleh sebab itu, perlu dilakukan revitalisasi pengembangan lada nasional, diantaranya adalah (1) perbaikan budidaya yang mempunyai keunggulan komparatif dengan komoditas lain, dan (2) mampu bersaing secara kompetitif dalam proses produksi dengan negara penghasil lada lainnya. 2.2. Subsistem Agroinput Nama Alamat No. Telepone Usaha : Teh Yuyun : Jl. Kolonel Masturi No. 400 Kecamatan Cihideung. : 022-270085 : Sarana produksi tani

Toko ini menjual barang-barang keperluan usaha tani, seperti pupuk, pestisida, benih dan bibit, serta penyewaan alat penunjang pelaksanaan usaha tani. Pupuk yang dijual di toko ini seperti pupuk urea, pupuk Za, pupuk TSP, pupuk Hidrocomplex, dan pupuk NPK1616. Dan untuk benih yang dijual di toko ini antara lain, benih dari perusahaan PT. East West Seed, dan dari perusahaan lainnya. Begitu pula untuk obat-obatan antara lain menjual fungisida, dan insektisida. Usaha ini sudah berdiri lebih dari satu tahun, dan barang yang dijual pun sudah memiliki kepercayaan dari para petani sekitar sehingga

keberlangsungan usaha tani di sekitar toko tetap berjalan. Toko ini hanya menjual sedikit bibit tanaman lada dikarenakan petani di sekitar daerah ini jarang yang mengusahakan tanaman lada dan lebih memilih tanaman hortikultura yang memang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar daerah Kota Bandung dan Cimahi seperti wortel, kubis, strawberi, tomat, dll.

Berdasarkan data yang penulis peroleh dari internet, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro, sekarang berubah menjadi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri/Balittri) telah melepas 7 varietas lada, yaitu Petaling 1. Petaling 2, Natar 1, Natar 2, Cunuk RS, Lampung Daun Kecil RS, dan Bengkayang LU. Masing-masing varietas mempunyai keunggulannya sendiri sehingga dalam pengembangannya hendaknya disesuaikan dengan kondisi lahan dan iklim wilayahnya. Dalam pembelian kepada agen-agen dan supplier biasanya toko ini memasok dalam jumlah yang cukup besar karena selain untuk menyediakan input pertanian, toko juga menyimpan keperluan untuk prediksi kedepannya sehingga kebutuhan input pertanian tetap tersedia. Karena umur toko ini masih terbilang baru yaitu baru sekitar satu tahun, maka pasokan produk dari para agen dan supplier belum terlalu lengkap, dan toko hanya menyediakan input-pertanian untuk petani sekitar toko ini saja. Pengiriman barang dilakukan setelah toko menelepon kepada agen untuk memasan barang tersebut dalam jumlah tertentu sesuai permintaan yang diperlukan saat itu. Dan untuk sistem pembayaran biasanya toko membayarnya apabila barang sudah ada, karena barang datang bersama dengan agen atau supplier sehingga proses jual beli barang saprodi pertanian bisa berlangsung di toko tersebut. Selama lebih dari satu tahun menjalankan usahanya, pemilik usaha toko saprodi ini tak jarang mengalami kendala, contohnya adalah pada saat permintaan terhadap saprodi cukup tinggi sementara stok barang sedang tidak tersedia, maka pendapatan pemilik usaha akan berkurang karena tidak bisa menjual banyak barang yang diminta oleh para petani. Dalam berkompetisi dengan toko lain, toko ini cenderung tidak memiliki saingan karena di satu daerah hanya memiliki satu toko saprodi saja hal ini menyebabkan setiap toko memiliki pelanggan yang tetap. Pemilik toko berharap usaha yang dijalankan ini semakin lebih maju dan tetap menjadi kepercayaan para petani sebagai konsumennya dan juga berharap agar pemerintah lebih memperhatikan mengenai kondisi ketersediaan saprodi pertanian sehingga

usahatani di daerahnya dapat lebih berkembang yang secara tidak langsung bisa menaikan pendapatan dari tokonya.

2.3. Subsistem Budidaya Nama : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Departemen Pertanian (Balittri). Alamat Kota No. Telepone : Jl. Raya Pakuwon Km. 2 Parungkuda. : Sukabumi : 266-7070941

Lada (Pipper nigrum Linn) merupakan tanaman merambat atau memanjat, yang membutuhkan intensitas cahaya matahari berkisar antara 50 75%. Produk lada utama yang diperdagangkan adalah lada putih dan lada hitam dalam bentuk buah utuh. Lada putih asal propinsi Bangka-Belitung yang dikenal dengan sebutan Muntok White pepper dan lada hitam asal Lampung dengan sebutan Lampung Black Pepper sudah dikenal di pasar dunia sejak abad ke 12. Saat ini di samping kedua daerah tersebut, pertanaman lada terdapat di Kalimantan Barat, Timur dan Tengah; Sulawesi Selatan dan Tenggara. Pada tahun 2000, Indonesia menjadi negara utama produsen lada, tapi saat ini telah digeser oleh Vietnam yang pada tahun 1995 menduduki peringkat ke empat. Fluktuasi harga dan keterbatasan modal petani menyebabkan fluktuasi pemeliharaan pertanaman lada, sehingga rentan terhadap serangan hama dan patogen penyakit yang menyebabkan produktivitas tanaman menjadi rendah. Untuk dapat bersaing di pasar dunia maka harus dilakukan efisiensi budidaya dan peningkatan mutu produk. Kehilangan hasil akibat serangan hama dan patogen penyakit dapat dikendalikan dengan melakukan budidaya anjuran yang bersifat ramah lingkungan dan berkesinambungan dengan benar dan tepat. Pengolahan lada di tingkat petani umumnya menggunakan cara dan peralatan yang sangat sederhana, kurang memperhatikan segi kebersihan dan kesehatan konsumen. Pada tiap tahap pengolahan memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh mikroorganisme, kotoran hewan serta debu. Perbaikan pengolahan lada dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: (1) memperbaiki cara-

cara pengolahan yang biasa dilakukan petani, atau (2) dengan mengaplikasikan cara dan alat -alat pengolahan pasca panen yang telah direkayasa oleh Balittro (sekarang menjadi mandat Balai Besar Pasca Panen). Serangkaian penelitian dan rekayasa alat pengolahan lada hitam terdiri dari pembuatan alat perontok, blanching dan pengering. Blanching adalah suatu proses pencelupan buah lada dalam air panas (80 oC) beberapa saat, dengan tujuan mempersingkat waktu pengeringan, menghasilkan lada hitam dengan warna seragam, mengkilat serta beraroma lebih tajam. Perbaikan pengolahan lada putih secara tradisional dilakukan dengan membuat bak-bak beton untuk perendaman lada yang dilengkapi dengan sistim air yang mengalir. Rekayasa alat yang telah dilakukan terdiri dari alat perontok, pengupas, pengering dan sortasi lada. Pengolahan lada dengan menggunakan serangkaian alat di atas akan menghasilkan produk yang bebas kontaminasi mikroorganisme berbahaya, menghindarkan resiko pencurian di tempat perendaman serta mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan. Hasil samping dari rangkaian proses pengolahan lada tersebut diperoleh kulit, tangkai lada, lada aval, lada enteng dan debu buah lada, yang dapat dimanfatkan sebagai bahan baku minyak lada yang juga merupakan komoditas ekspor. 2.3.1 Iklim dan Tanah Tinggi tempat 0 500 meter dari permukaan laut. Curah hujan yang merata sepanjang tahun dengan rata-rata 2.000 3.000 mm/tahun dan hari hujan 110 170 hari. Musim kemarau hanya 2 3 bulan/tahun. Kelembaban udara berkisar antara 70 90% dengan suhu maximum 35 oC dan minimum 25 oC. Tanaman lada dapat tumbuh pada semua jenis tanah, terutama tanah berpasir dan gembur dengan unsur hara yang cukup, dengan tingkat kemasaman tanah (pH) berkisar antara 5 6,5.

2.3.2 Varietas Petaling 1 (P1), Petaling 2 (P2), Natar 1 (N1), Natar 2 (N2), Bengkayang, Lampung Daun Kecil (LDK- RS) dan Chunuk RS. Tabel 1. Karakteristik sifat-sifat penting tujuh varietas lada

2.3.3 Sumber Bahan Tanaman Lada biasa (memanjat dengan tajar) Sumber bahan tanaman (setek) yang paling baik adalah sulur panjat, berasal dari tanaman yang berumur kurang dari 3 tahun (belum berproduksi), bebas serangan hama dan patogen penyakit. Sulur panjat yang dipilih sebaiknya sudah berkayu tetapi tidak terlalu tua (Gambar 1).

Gambar 1. (A) Bahan tanaman dari sulur panjat; (B) Sulur panjat yang terdapat di bagian atas () tempat pemotongan. Lada perdu (tanpa tajar) sebagai tanaman sela Perbanyakan lada perdu dengan bahan dari: (1) cabang primer yang membawa satu buku sulur panjat (setek bertapak), dan (2) cabang buah (sekunder dan seterusnya), terdiri dari 2 3 buku yang berdaun. Daun sebaiknya dihilangkan setengah bagian secara vertikal (Gambar 2).

Gambar 2. (A) Setek bertapak (ada akar) dan (B) setek cabang buah. (inzet) keratan untuk mempercepat perakaran.

2.3.4 Pembibitan Lada biasa (memanjat dengan tajar) Setek panjang 5 7 buku yang diakarkan terlebih dahulu, dapat langsung ditanam di lapang (Gambar 3). Setek satu buku berdaun tunggal harus dibibitkan terlebih dahulu sampai terbentuk 5 - 7 buku, dibawah naungan yang dapat ditembus cahaya matahari sebesar 60 70%. o Setek satu buku tersebut direndam dalam larutan gula pasir (1-2%) selama - 1 jam. o Setek kemudian disemai dalam polibag yang terdiri dari campuran tanah (top soil), pupuk kandang dan pasir kasar atau sekam dengan perbandingan 2:1:1 atau 1:1:1 dan telah dibiarkan selama 7-10 hari (ditandai dengan tumbuhnya tersebut). rumput-rumput halus di permukaan tanah dalam polibag

Gambar 3. Pengakaran setek panjang, (A) sebelum dan (B) setelah ditutup tanah. o Untuk mempertahankan kelembaban lingkungan maka diperlukan sungkup plastik dengan kerangka bambu atau kayu setinggi 1 m. Penyiraman dilakukan setiap 2 hari dengan menggunakan embrat. Sungkup dibuka setiap pagi selama 1 jam (pukul 9.00-10.00), kemudian ditutup kembali. o Apabila telah terbentuk 2-3 daun baru, setiap bibit harus diberi tegakan bambu agar terbentuk akar lekat. Secara bertahap sungkup dibuka dan apabila setek telah kuat maka sungkup tidak diperlukan lagi. Bibit siap tanam apabila setek telah tumbuh mencapai 5-7 buku (Gambar 4).

Gambar 4. (A) Bibit lada yang dipotong satu ruas, (B dan C) Bibit lada satu ruas ditumbuhkan di dalam polibag dan disungkup, dan (D) Bibit lada yang telah mempunyai 5-7 buku.

Lada perdu (tanpa tajar) sebagai tanaman sela Tahapan pembibitan untuk memproduksi lada perdu sama seperti pembibitan lada biasa (yang telah diuraikan di atas). Bibit siap tanam apabila telah kelihatan rimbun (lebih dari 7 daun) (Gambar 5).

Gambar 5. (A) Pembibitan lada perdu dan (B) Bibit yang siap ditanam. 2.3.5 Persiapan Tanam Lada biasa (memanjat dengan tajar) Jarak tanam lada 2,5 x 2,5 m atau 3,0 x 3,0 m dan sebagai panjatan, gunakan tanaman hidup (tajar). o Jenis tajar yang disarankan adalah gamal (Gliricidia maculata) atau dadap cangkring (Erythrina fusca Lour). Tanaman tersebut diperbanyak dengan setek batang. Panjang setek batang 2 m, diameternya 5 cm (tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda). Setek tersebut ditanam 10 cm di sebelah barat lubang tanam, dengan menancapkan pangkalnya sedalam 30 cm (Gambar 6). o Pada tahun pertama tajar diwiwil (dibuang tunastunasnya). Pada tahun ke 2 dilakukan pemangkasan 2 kali/tahun.

Gambar 6. (A) Penanaman tajar, dengan bagian ujung dibentuk runcing (inzet) dan (B) Lubang tanam dapat dibuat setelah tajar tumbuh.

Ukuran lubang tanam lada 45 x 45 x 45 cm sampai 60 x 60 x 60 cm (panjang x lebar x dalam) 10 cm disebelah timur tajar. Tanah galian dibiarkan 40 hari sebelum dilakukan penanaman, tanah yang berasal dari bagian atas/top soil dicampur pupuk organik atau pupuk kandang (5 - 10 kg) yang telah diinfestasi dengan Trichoderma harzianum. Kemudian dibuat guludan berukuran panjang 90 cm, lebar 60 cm dan tinggi 25 30 cm (Gambar 7).

Gambar 7. (A) Posisi lubang dari tajar dan (B) Lubang ditutup dengan campuran tanah, pupuk kandang dan Trichoderma, kemudian dibuat guludan.

Buat saluran drainase 30 x 20 cm (lebar x dalam) dan paritkeliling yang berukuran lebar 40 cm, dalam 30 cm (Gambar 8).

Gambar 8. Pembuatan parit keliling Lada perdu (tanpa tajar) sebagai tanaman sela Jarak tanam 1 x 1,5 m atau 1 x 2,0 m Ukuran lubang tanam 40 x 40 x 60 cm. Tanah galian dibiarkan 2 - 3 minggu sebelum dilakukan penanaman. Tanah yang berasal dari bagian atas dicampur dengan pupuk kandang 5 - 10 kg yang telah diinfestasi dengan T. harzianum, lalu dibuat guludan diameter 50 cm, tinggi 20 cm.

2.3.6 Penanaman Lada biasa (memanjat dengan tajar) Setek 5-7 buku yang sudah berakar ditanam dengan cara diletakan miring (30 45o) mengarah ke tajar, 3-4 buku setek bagian pangkalnya (tanpa daun) dibenamkan mengarah ke tajar, sedang 2-3 ruas sisanya (berdaun) disandarkan dan diikat pada tajar (Gambar 9). Kemudian tanah di sekelilingnya dipadatkan. Hal yang sama juga dilakukan apabila

menggunakan bibit lada yang ditumbuhkan dalam polibag, polibag dibuka dan dibuang sebelum penanaman (Gambar 10).

Gambar 9. (A) Penanaman setek dengan tiga atau empat ruas yang dibenamkan, dan (B) Setek diikat pada tajar untuk mempercepat setek menempel tajar.

Gambar 10. Penanaman bibit berasal dari setek satu buku. (A) Polibag dibuang (bibit siap tanam), (B) Tiga atau empat buku tanpa daun dibenamkan, (C) Tanah dipadatka

Setelah ditanam, tanah sekelilingnnya dipadatkan, agartanaman tidak rebah. Kemudian diberi naungan agar terlindungi dari teriknya sinar matahari. Naungan yang umum dan mudah diperoleh adalah alang-alang atau tanaman hutan lainnya yang tahan lama (Gambar 11). Naungan dibuka/diangkat apabila tanaman telah kuat.

Gambar 11. (A) Bibit yang sudah ditanam, dan (B) Setelah diberi naungan alangalang. Lada perdu (tanpa tajar) sebagai tanaman sela Bibit lada perdu ditanam dengan membenakan 2 ruas ke dalam guludan, kemudian diberi naungan untuk melindungi tanaman muda dari sinar matahari. Naungan dikurangi sesuai dengan kondisi tanaman (Gambar 12).

Gambar 12. (A) Lubang untuk lada perdu (lebih kecil), (B) Penanaman lada perdu, dengan dua ruas buku dibenamkan ke dalam tanah, dan (C) Pola tanam lada perdu di antara kelapa. Lada perdu yang sudah menghasilkan (inzet).

2.3.7 Pemeliharaan Lada biasa (memanjat dengan tajar) Pengikatan sulur panjat dan pembentukan kerangka tanaman lada. o Apabila tanaman lada muda telah tumbuh mencapai 8-9 buku (umur 5-6 bulan), maka dilakukan pemangkasan pada ketinggian 25-30 cm dari permukaan tanah (di atas 2 buku yang telah melekat kuat pada tajar) dengan tujuan untuk merangsang pembentukan 3 sulur panjat baru. Sulur baru tersebut harus dilekatkan dan diikatkan pada tajar. Pemangkasan berikutnya dilakukan apabila telah mencapai 7-9 buku ( 12 bulan) yaitu pada buku yang tidak mengeluarkan cabang buah. Selanjutnya pemangkasan dilakukan pada umur 24 bulan (2 tahun) (Gambar 13), sehingga akan terbentuk kerangka tanaman yang mempunyai banyak cabang produktif.

Gambar 13. (A) Pemangkasan pertama sulur panjat, dan (B) Pemangkasan ke dua ( 3 bulan setelah pangkas pertama). o Hasil pangkasan sulur panjat tersebut dapat digunakan sebagai sumber bahan tanaman. o Pembungaan yang terjadi sebelum tanaman berumur 2 tahun sebaiknya dibuang, karena akan mengganggu pertumbuhan vegetatif tanaman yang mengakibatkan tidak dapat berproduksi secara optimal. Tanaman dibiarkan berbunga setelah berumur 2 tahun.

Pemangkasan sulur gantung dan sulur cacing/tanah o Sulur gantung adalah sulur panjat yang tumbuhnya tidak melekat pada tajar, karena tidak dilakukan pengikatan. o Sulur cacing atau sulur tanah adalah sulur panjat yang tidak melekat pada tajar dan tumbuh menjalar di permukaan tanah. o Kedua sulur tersebut (sulur gantung dan cacing) tidak produktif tapi ikut mengambil makanan/nutrisi, oleh sebab itu harus dibuang/dipangkas. Pemangkasan kedua sulur tersebut harus dilakukan secara rutin (Gambar 14).

Gambar 14. (A) Sulur gantung dan (B) Sulur cacing o Cabang-cabang yang menutupi tanah pada pangkal batang yang menghalangi sinar matahari dan sirkulasi udara harus dipangkas/atau diikatkan ke cabang di atasnya untuk mengurangi kelembaban pangkal batang agar terhindar dari serangan patogen penyakit busuk pangkal batang.

Pemupukan dan pemangkasan tajar Tanaman lada memerlukan pupuk organik dan inorganik. Jumlah pupuk inorganik yang diperlukan adalah 1.600 g NPKMg (12-12-17-

2)/tanaman/tahun untuk tanaman stadia produktif. Pemberian pupuk displit/dibagi 3-4 kali per tahun (Tabel 2).

Tabel 2. Waktu pemberian dan dosis pupuk inorganik untuk tanaman lada produktif.

Tajar dipangkas 7 10 hari sebelum dilakukan pemupukan, agar tidak terjadi kompetisi hara dan memaksimalkan masuknya sinar matahari (Gambar 15 A). Pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) 5 10 kg/tanaman/tahun Pemberian pupuk dilakukan dengan mengikis (mengangkat) permukaan tanah di sekitar tanaman, pupuk disebarkan kemudian ditutup kembali dengan tanah kikisan ditambah tanah dari sekitar tanaman (Gambar 15 B).

Tanaman lada berumur < 12 bulan, dosis pupuk inorganik 1/8 total (200 g) NPKMg. Pemberiaan pupuk di split 2 kali/tahun (Tabel 3).

Gambar 15. (A) Pemangkasan tajar dan (B) Pemberian pupuk Tabel 3. Waktu pemberian dan dosis pupuk inorganik untuk tanaman lada berumur < 12 bulan

Tanaman

berumur

13

24

bulan

diberikan

dosis

total

(400g/tanaman/tahun) dengan interval 2 kali dan agihan pupuk 3 : 7 (120 dan 280 g) selama ada hujan, ditambah 5 kg pupuk kandang pada waktu pemberian pertama (Tabel 4).

Tabel 4. Waktu pemberian dan dosis pupuk inorganik untuk tanaman lada berumur 13 - 24 bulan

Penyiangan terbatas/bobokor Penyiangan/bobokor dilakukan secara rutin yaitu membersihkan sekitar tanaman lada. Areal dalam radius lebih kurang 60 cm di sekitar pangkal batang tanaman lada harus disiang bersih (Gambar 16).

Gambar 16. Bobokor dilakukan di sekeliling tanaman.

Lada perdu (tanpa tajar) sebagai tanaman sela Pemupukan Pemberian pupuk kandang 10 kg/tanaman/tahun berpengaruhbaik untuk pertumbuhan lada perdu. Pemberian NPKMg (12-12-17-2) pada tanaman umur 1, 2 dan 3 tahun masingmasing 50, 100 dan 200 g/tanaman dengan frekuensi pemberian 2 kali setahun. Penyiangan terbatas/bobokor Penyiangan/bobokor dilakukan secara rutin yaitu membersihkan sekitar tanaman lada. Seperti lada biasa, areal dalam radius lebih kurang 60 cm di sekitar pangkal batang tanaman lada harus disiang bersih.

2.4. Sub Sistem Pengolahan Hasil (Agroindustri) 2.4.1 Profil PT. Samudra Montaz PT. Samudra Montaz yang didirikan sejak tahun 1974 merupakan perusahaan yang berpengalaman dalam kemasan fleksibel. PT. Samudra Montaz adalah pionir dan market leader dibidang kemasan sachet untuk perhotelan, catering, restoran, kafe, perbankan, rumah sakit dan perkantoran. Dari sejak berdiri sampai saat ini, PT. Samudra Montaz merupakan supplier terbesar dibidang kemasan sachet gula, gula aren, kopi, teh, non dairy creamer, sweetener, garam, merica, tusuk gigi, sedotan dan sumpit. PT. Samudra Montaz mengutamakan kualitas produk dan kepuasan customer, semua produk PT. Samudra Montaz telah mengantongi izin edar (MD Number) dari BPOM RI dan memiliki sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

2.4.2 Segmen, Target, dan Positioning Pasar 2.4.2.a Segmen Pasar Masyarakat kalangan menengah ke atas pengguna jasa ataupun yang bekerja di dalam ruang lingkup perhotelan, catering, restauran, kafe, perbankan, rumah sakit dan perkantoran. Semakin berkembangnya bidang-bidang tersebut serta meningkatnya jumlah masyarakat yang terlibat menjadikan meningkatnya permintaan akan produk-produk dalam kemasan sachet khususnya produk merica sachet.

2.4.2.b Target Pasar Target pasar dari merica sachet yang diproduksi PT. Samudra Montaz adalah masyarakat pengguna jasa ataupun yang bekerja di dalam ruang lingkup usaha perhotelan, catering, restoran, kafe, perbankan, rumah sakit dan perkantoran.

2.4.2.c Positioning Pasar Keanekaragaman produkproduk yang dihasilkan PT. Samudra Montaz dan posisinya di pasar yang relatif kuat menjadikan prospek usahanya cukup menjanjikan. Pengalaman perusahaan yang telah terjun lebih dari 37 tahun ini menjadikan produk-produknya lebih kompetitif di pasaran. Kekuatan kompetitif PT. Samudra Montaz terletak pada merek produkproduk yang sangat dikenal oleh masyarakat dalam ruang lingkup usaha perhotelan, catering, restoran, kafe, perbankan, rumah sakit dan perkantoran dan mendominasi pangsa pasar dibandingkan dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan pesaingnya. Kepemilikan akan merek yang menguasai pasar didukung oleh distribusi yang luas merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki oleh PT. Samudra Montaz.

2.5. Sub Sistem Pemasaran Nama Lokasi usaha Kelurahan Kecamatan : Cecep : Pasar Sederhana : Sederhana : Sukajadi

Bapak Cecep adalah seorang pedangang bumbu masak di Pasar Sederhana Bandung, bapak Cecep mendapatkan pasokan komoditas merica dari pedagang di Pasar Induk Caringin. Harga beli dari pedagang di Pasar Induk Caringin sebesar Rp. 58.000 per Kg, kemudian dijual kembali dengan harga Rp. 65.000 70.000 per Kg.

Saat ini terjadi kenaikan harga merica di pasaran, kenaikan harga harga merica tersebut sebesar Rp. 5000 per kilogram. Kenaikan harga biasanya dipicu oleh berkurangnya jumlah pasokan merica dari para petani sehingga stok merica di pasaran menjadi lebih sedikit. Konsumen yang menjadi pelanggan Pak Cecep adalah pemilik warung dan konsumen akhir. Para pelanggan dagangannya tersebut biasanya membeli merica dalam jumlah yang bervariasi, jika pedagang warung biasanya membeli merica sekitar 2-4 kg, sedangkan konsumen akhir tergantung dari kebutuhannya. Merica dapat bertahan dalam kondisi yang baik dalam waktu beberapa minggu, jika ada merica yang belum terjual tetapi dalam kondisi yang tidak baik lagi, maka Pak Cecep membuangnya dan tidak menjualnya kepada konsumen. Apabila stok merica yang dimiliki Pak Cecep habis, biasanya Pak Cecep membeli lagi ke Pasar Induk Caringin. Menurut Pak Cecep, harga dari merica ini berfluktuasi mengikuti harga dari produk rempah-rempah yang lain, apabila harga rempah-rempah jenis lain di pasaran naik maka harga merica juga ikut naik. Kemudian apabila harga rempah-rempah jenis lain sedang turun, maka harga merica pun akan ikut turun. Kenaikan harga merica biasanya berdampak positif bagi para pedagang karena jika harga wortel naik maka keuntungan yang diperoleh juga akan menjadi bertambah. Kenaikan harga saat ini berada pada kisaran Rp. 5000 per kilogram, dan kenaikan yang tinggi bisa mencapai Rp. 10.000 per kilogram. Kenaikan harga yang tinggi akan sedikit mengurangi jumlah pembelian merica oleh konsumen, tetapi konsumen biasanya mengesampingkan harga jika memang merica ini sangat dibutuhkan untuk keperluan masak dan obat.

2.6. Sub Sistem Konsumen Nama Alamat RT/RW Kelurahan Kecamatan No. Telepon : Ibu Cucu : Jl. Raya Jatinangor, Belakang MTS Ma Arif : 02/02 : Cikeruh : Jatinangor : 081363535222

Lokasi usaha Usaha

: Warung di belakang Mts MaArif : Warung nasi, gorengan, dan jajanan.

Usaha yang dilakukan Ibu Cucu adalah usaha warung yang menjual nasi dan masakan jadi, gorengan, dan jajanan kepada para siswa-siswi Mts MaArif dan mahasiswa Unpad yang kos di tempatnya. Selain dijual kepada siswa-siswi Mts MaArif dan mahasiswa Unpad, Ibu Cucu serta keluarganya juga mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang dibuat dan membutuhkan merica sebagai bahan campuran dari makanan yang dia buat tersebut, Ibu Cucu membeli merica sebanyak kg per minggu dan tergantung dari kebutuhan untuk membuat makanan yang dibuatnya. Ibu Cucu tidak mengetahui varietas merica yang dibeli, Ibu Cucu biasa membeli merica di Pasar Tanjungsari Sumedang. Ibu Cucu biasa membeli merica pada pedagang bumbu langganannya di Pasar Tanjungsari, tetapi apabila stok merica di pedagang tersebut kurang atau tidak ada, maka Ibu Cucu membeli merica ke pedagang lain di Pasar Tajungsari. Merica di beli dalam jumlah yang cukup untuk beberapa kali proses produksi makanan dalam satu minggu, apabila ada kelebihan merica yang tidak terpakai, maka merica tersebut disimpan di dalam lemari dalam kondisi yang kering. Pada saat harga merica naik, Ibu Cucu tidak mengurangi pembelian merica dan tidak mengurangi koposisi merica dalam masakannya, hal ini karena merica dibutuhkan dalam jumlah yang relatif sedikit pada proses produksi makanannya, hanya sebagai penyedap rasa, apabila komposisi merica dalam makanannya dikurangi maka akan mengakibatkan makanannya menjadi kurang sedap. Ketika harga merica naik, pendapatan Ibu Cucu relatif tetap karena merica digunakan sebagai penyedap rasa dari makanan yang dibuatnya, bukan sebagai bahan baku utama. Jika terjadi penurunan harga dari merica, Ibu Cucu tetap membeli merica dalam jumlah yang cukup untuk proses produksi selama satu minggu, kadangkadang membeli lebih untuk proses produksi selama beberapa minggu dan menyimpannya dalam lemari yang kering. Konsumen dari produk makanan yang Ibu Cucu buat adalah siswa-siswi Mts MaArif dan mahasiswa yang kos di tempat Ibu Cucu. Selama ini Ibu Cucu tidak mengetahui kapan saat merica mengalami kenaikan atau penurunan, antisipasi pun

tidak pernah dilakukan. Apabila ada kenaikan harga merica, harga makanan yang dijual oleh Ibu Cucu masih dijual dengan harga yang tetap. Dengan adanya kenaikan harga merica, Ibu Cucu sedikit mengalami kerugian karena dalam proses produksi makanannya Ibu Cucu harus mengeluarkan pengeluaran lebih untuk membeli merica.

2.7. Sarana dan Prasarana Dari beberapa sumber di internet yang penulis baca, dalam proses budidaya lada atau merica terdapat kelompok tani yang memang berfungsi untuk mewadahi petani dalam mengembangkan usahatani lada ini. Melalui kelompok tani yang terbentuk ini para petani bisa mengjukan pinjaman ke bank untuk

mengembangkan usaha taninya. Hasil produksi dari kegiatan usahatani lada ini biasanya dijual oleh petani. Sarara dan prasarana yang dimiliki oleh para petani memang cukup baik untuk membantu dalam proses budidaya tanaman lada atau merica.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan Lada atau Merica (Piper Nigrum Linn) merupakan salah satu komoditas unggulan bagi Indonesia. Secara ekonomi lada merupakan sumber pendapatan bagi para petani dan menyumbangkan devisa negara non-migas. Secara sosial merupakan komoditas tradisional yang telah dibudidayakan sejak lama dan aktivitas usahanya menjadi penyedia lapangan kerja yang cukup luas terutama di daerah sentra produksi. Permasalahan utama agribisnis lada nasional adalah (1) tingkat produktivitas tanaman dan mutu yang rendah, (2) tingginya kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit, (3) usahatani yang belum efisien, (4) masih rendahnya usaha peningkatan mutu dan diversifikasi produk, (5) serta lambatnya proses alih teknologi ke tingkat petani. Selain permasalahan tersebut, usahatani lada di Lampung secara komparatif bersaing dengan komoditas kakao, kopi dan kelapa sawit, sedangkan di Bangka-Belitung penggunaan lahan usahatani lada bersaing dengan pertambangan timah rakyat dan kelapa sawit.

3.2. Saran Berdasarkan beberapa kesimpulan dari temuan di atas dikemukakan saransaran sebagai berikut: Harus ada usaha dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan agribisnis lada nasional agar agribisnis lada dapat terus berkembang. Agribisnis lada atau merica harus terus dikembangkan karena lada merupakan salah saru komoditas pertanian yang penting bagi rakyat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. booklet lada. Diakses melalui http://www.balittri.deptan.go.id/ Diakses pada tanggal 9 April 2011. Anonim. 2011. prospek lada. Diakses melalui http://www.balittri.deptan.go.id/ Diakses pada tanggal 9 April 2011. Harjono, Luvianus. Lada di Pulau Bangka. Diakses melalui

http://cetak.kompas.com. Diakses pada tanggal 9 April 2011.