Anda di halaman 1dari 18

Tugas 2 Senin, 8 Maret 2010

EKONOMI SUMBER DAYA ALAM


SDA PULIH DAN TIDAK PULIH TERKAIT KASUS BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI INDONESIA

Disusun Oleh : Dini Fitriani Rini Ayu Sulistiani Yogiandre Ravenalla Wendi Irawan D. Rina Paramita 150310080091 150310080130 150310080136 150310080137 150310080139

(KELOMPOK 1)

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam, yaitu membuat makalah dengan sebaik-baiknya. Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat memotivasi penulis untuk mencari informasi mengenai makalah yang dibuat. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada orang tua yang telah membantu dan memberikan dukungan. Selain itu juga kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu. Tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul SDA Pulih dan tidak Pulih Terkait Kasus Banjir dan Longsor di Indonesia ini adalah agar kami sebagai mahasiswa dan para pembaca dapat memahami lebih mendalam mengenai hubungan antara kasuskasus banjir dan longsor beserta penyebabnya. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi bahasa yang digunakan maupun teknik penulisannya. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi yang membacanya. Atas perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.

Jatinangor, Februari 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................i DAFTAR ISI .....................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .............................................................................................................1 1.2 Tujuan ..........................................................................................................................1 1.3 Metode Penulisan .........................................................................................................1 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Banjir dan Tanah Longsor. .........................................2 2.1.1 Banjir .2 2.1.2 Tanah Longsor.. .............................................................................3 2.2 Kasus-Kasus.....................................................................................................5 2.2.1 Tanah Longsor Itu Mengandung Lumpur dan Batu Gunung ..............................................................5 2.2.2 Banjir Rendam Sawah di Bandung, Kerugian Rp2,6 M ..5 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ................................................................................................................10 3.2 Saran ...........................................................................................................................10 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................11

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada kondisi nyata dilapangan, pemanfaatan kawasan ini sering tidak sesuai dengan peruntukan fungsinya. Seperti halnya perubahan tata guna lahan yang dilakukan didaerah hulu sungai tidak hanya akan memberikan dampak didaerah yang mana kegiatan tersebut berlangsung, tetapi juga akan menimbulkan dampak didaerah hilir sungai seperti penurunan kapasitas tampung waduk, pendangkalan sungai dan saluran-saluran irigasi (Asdak, 2001:12) yang selanjutnya akan berdampak negatif baik terhadap masyarakat di dalam maupun diluar kawasan. Salah satu dampak negatif dari kondisi tersebut yaitu terjadinya banjir. Banjir merupakan peristiwa alam yang terjadi pada suatu daerah yang dapat menimbulkan kerugian harta benda masyarakat, merusak bangunan prasarana dan sarana serta lingkungan hidup dan bahkan merusak tata kehidupan masyarakat (Kodoatie,et.al,2001:73). Seperti fenomena yang sedang terjadi saat ini, tidak hanya pada musim kemarau menimbulkan masalah kekeringan dan krisis air, tetapi juga pada saat memasuki musim hujan akan terjadi masalah melimpahnya air permukaan pada sungai yang dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Hal ini dapat menimbulkan kerugian dan kerusakan yang diakibatkan banjir mencapai dua pertiga dari semua bencana alam yang terjadi. Setiap tahun hampir 300 peristiwa banjir yang mengakibatkan tergenangnya 150.000 hektar lahan serta merugikan sekitar satu juta orang (Direktorat Sungai tahun 2000). Menyoroti masalah banjir di kota-kota besar khususnya yang berada di Pulau Jawa, terlihat lokasi-lokasi yang tertimpa banjir merupakan wilayah bagian Utara dengan bentuk lahan yang khas, yaitu lereng pegunungan yang terus bersambungan dengan areal landai di wilayah pantai. Kondisi bentuk lahan yang demikian memiliki kecenderungan aliran permukaan berkecepatan tinggi pada daerah pegunungan dan dengan cepat menggenangi daerah yang landai. Curah hujan yang tinggi di wilayah dengan topografi demikian menyebabkan potensi banjir sangat besar. Derasnya urbanisasi ke kota-kota besar telah memacu perkembangan pemukiman yang cenderung menyimpang dari RUTRK dan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Banyaknya kawasan-kawasan rendah (rawa, danau) yang semula berfungsi sebagai tempat penampung air serta bantaran sungai yang berubah

menjadi pemukiman, ditambah dengan kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke sungai makin memperburuk kondisi ini. Kejadian tanah longsor di Indonesia umumnya terjadi pada musim penghujan, untuk ini bagaimana hubungan antara hujan dan terjadinya tanah longsor merupakan suatu gejala alam yang sifatnya dapat terjadi secara alamiah untuk mencapai suatu keseimbangan. Ketahanan batuan akan menurun tajam pada musim penghujan dan mengakibatkan lereng yang disusunnya menjadi labil dan mudah longsor. Peningkatan air pori akibat pembasahan atau peningkatan kadar air akan meningkatkan muka air tanah serta menurunkan ketahanan batuan/tanah yang bersangkutan disepanjang bidang gelincirnya. 1.2 Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari, membahas, kemudian menyimpulkan penyebab-penyebab banjir dan tanah longsor di kota-kota besar yang menjadi salah satu tugas mahasiswa di mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam (ESDA). 1.3 Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah melalui studi pustaka yang bersumber dari media cetak maupun media elektronik.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Banjir dan Tanah Longsor 2.1.1 Banjir Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir adalah salah satu proses alam yang tidak asing lagi bagi kita. Sebagai proses alam, banjir terjadi karena debit air sungai yang sangat tinggi hingga melampaui daya tampung saluran sungai lalu meluap ke daerah sekitarnya. Banjir adalah hal yang biasa terjadi dan merupakan bagian dari siklus hidrologi. Banjir tidak dapat dihindari dan pasti terjadi. Hal ini dapat kita lihat dari adanya dataran banjir pada sistem aliran sungai. Saat banjir, terjadi transportasi muatan sedimen dari daerah hulu sungai ke hilir dalam jumlah yang luar biasa. Muatan sedimen itu berasal dari erosi yang terjadi di daerah pegunungan atau perbukitan. Melalui mekanisme banjir ini, muatan sedimen itu disebarkan sehingga membentuk dataran. Perlu kita ingat, bahwa daerah persawahan kita hakikatnya terbentuk melalui mekanisme banjir ini. Tanpa mekanisme banjir ini, dataran rendah yang subur tidak akan terbentuk. Dalam skala yang lebih besar, banjir-banjir itu membentuk delta di muaramuara sungai, dan mengalirkan muatan sedimen ke laut yang akhirnya menjadi lapisan-lapisan batuan sedimen. Dari delta-delta dan lapisan-lapisan batuan itu manusia mendapatkan berbagai hal untuk kehidupannya. Sebaga contoh, minyak bumi banyak kita dapatkan dari endapan delta. Namun banjir yang pada hakekatnya proses alamiah dapat menjadi bencana bagi manusia bila proses itu mengenai manusia dan menyebabkan kerugian jiwa maupun materi. Banjir akan mengenai manusia jika mereka mendiami daerah yang secara alamiah merupakan dataran banjir. Jadi, bukan banjir yang datang, justru manusia yang mendatangi banjir. Apabila hal tersebut dapat kita terima, maka bencana banjir yang dialami manusia sebenarnya adalah buah dari kegagalan manusia dalam membaca karakter alam. Kegagalan manusia membaca apakah suatu daerah aman atau tidak untuk didiami. Misalnya, kegagalan manusia membaca karakter suatu daerah sehingga tidak mengetahui daerah tersebut merupakan daerah banjir.

Atau, sudah mengetahui daerah tersebut daerah banjir tetapi tidak peduli. Contoh ini bisa kita lihat dari orang-orang yang memilih tinggal di tepi aliran sungai atau di lembah-lembah sungai. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan banjir adalah : a. b. c. d. e. f. g. h. i. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai. Curah hujan dalam jangka waktu panjang. Erosi tanah menyisakan batuan, hingga tidak ada resapan air. Buruknya penanganan sampah, hingga sumber saluran-saluran air tersumbat. Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi jalan / tempat parkir, hingga daya serap air hujan tidak ada. Bendungan dan saluran air rusak. Keadaan tanah tertutup semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air. Pembabatan hutan secara liar (Illegal logging). Di daerah bebatuan daya serap air sangat kurang, mengakibatkan banjir kiriman atau banjir bandang. Faktor alam penyebab terjadinya banjir adalah : a. Badai menyebabkan banjir melalui beberapa cara, di antaranya melalui ombak besar yang tingginya bisa mencapai 8 meter. Selain itu badai juga adanya presipitasi yang dikaitkan dengan peristiwa badai. Mata badai mempunyai tekanan yang sangat rendah, jadi ketinggian laut dapat naik beberapa meter pada mata guntur. b. Gempa bumi dasar laut maupun letusan pulau gunung berapi yang membentuk kawah (seperti Thera atau Krakatau) dapat memicu terjadinya gelombang besar yang disebut tsunami yang menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai. 2.1.2 Tanah Longsor Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut

menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
a. b. c.

Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan. Munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. Penyebab Terjadinya Tanah Longsor : Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan. Faktor-Faktor Penyebab Tanah Longsor : a. Hujan Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian tanah yang retak sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah. c. Lereng terjal Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin.

d.

Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.
d. Tanah yang kurang padat dan tebal

Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.
e. Batuan yang kurang kuat

Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal. f. Jenis tata lahan Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama. g. Getaran Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
h. Susut muka air danau atau bendungan

Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan. i. Adanya beban tambahan Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

j. Pengikisan/erosi Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
k. Adanya material timbunan pada tebing

Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah. l. Bekas longsoran lama Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. m. Penggundulan hutan Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana pengikatan air tanah sangat kurang. n. Daerah pembuangan sampah Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.

2.2 Kasus-Kasus 2.2.1 Tanah Longsor Itu Mengandung Lumpur dan Batu Gunung

KOMPAS.com/Kristianto Purnomo Minggu, 10 Januari 2010 | 14:04 WIB PAGARALAM, KOMPAS.com - Sedikitnya 10 titik ruas jalan penghubung Kota Pagaralam-Lahat, Sumatra Selatan mengalami longsor selebar antara tiga hingga lima meter, dengan ketinggian 10 -25 meter sejak Sabtu sekitar pukul 20.30 WIB. Pengamatan di lokasi longsor jalan penghubung Pagaralam-Lahat, Minggu (10/1/2010) menunjukkan ruas jalan yang longsor pada jalur Lematang Indah, Dempo Tengah sebanyak dua titik, dan Indikat, Kecamatan Dempo Selatan satu titik. Longsor juga terjadi di ruas jalan Desa Tanjung Bai, Kecamatan Kota Agung sebanyak tiga titik, Desa Terkol, Kecamatan Tanjung Tebad tiga titik, dan Desa Lubuk Sepang, Kecamatan Muarapinang (Lahat) satu titik yang longsor. Longsor terjadi, diduga akibat hujan deras mengguyur sejumlah lokasi tersebut dalam kurun dua hari terakhir ini. Reruntuhan longsor itu, tidak saja mengandung lumpur dan tanah tapi juga batu gunung berukuran besar dengan berat mencapai ratusan kilogram, serta merobohkan sejumlah pepohonan di sekitar lokasi tersebut. Akibat terjadi longsor di Lematang, Kelurahan Pelangkenidai yang disertai robohnya pohon kayu yang langsung menutupi badan jalan dengan lebar tiga meter dan ketinggian 10 meter, membuat terganggu arus lalu lintas dari berbagai arah baik arah Pagaralam dan Lahat serta Provinsi Bengkulu. Kemudian disusul dengan longsor pada tebing yang menutupi badan jalan di Desa Lubuk Sepang selebar 5 meter dan setinggi 25 meter. Meskipun sempat memutuskan arus lalu lintas beberapa saat, kini untuk sementara kendaraan hanya biasa lewat melalui satu

jalur. Kendati tidak menimbulkan gangguan terlalu lama terhadap kelancaran transportasi, longsor di jalan itu dapat membahayakan kendaraan yang melintas karena longsoran batu campur tanah masih menutupi sebagian badan jalan. Apalagi kemungkinan bila ada longsor susulan yang terjadi, mengingat curah hujan di daerah tersebut masih cukup tinggi. Menurut salah satu pengojek warga Pagaralam, Iwan, longsor terjadi saat hujan deras seharian mengguyur Pagaralam dan sekitarnya, tiba-tiba dinding di daerah yang juga pernah mengalami longsor besar tahun 2007 lalu, kembali runtuh. "Longsor terjadi saat hujan deras mengguyur Pagaralam, mengingat lokasi tersebut sudah pernah longsor dan sebagian pepohonan di atasnya sudah gundul, sehingga saat tersiram air hujan tanah menjadi labil," kata dia. Longsor bukan hanya membuat tanah campur batu menimbun jalan, tapi juga mengakibatkan pohon kayu yang cukup besar ikut roboh menimpa tepat di atas badan jalan daerah tersebut. Menurut dia dan warga setempat, arus lalu lintas sempat terhenti beberapa saat longsor terjadi, tapi setelah petugas polisi dan masyarakat datang untuk membersihkan longsoran tersebut, kendaraan bermotor yang lewat di jalan itu kembali dapat lancar meskipun hanya satu arah. Kapolres Kota Pagaralam, AKBP Abdul Soleh, didampingi Kasat Lantas, Iptu Sumaryno, membenarkan memang ada sejumlah jalan yang longsor. "Di lereng bukit, tebing, dan pinggir jurang pada ruas jalan Pagaralam-Lahat terjadi longsor akibat diguyur hujan deras, tapi tidak sampai memutuskan jalur transportasi," katanya. Diakui pula, akibat longsor itu cukup mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalur jalan tersebut. Analisis : Tanah longsor adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan tanah seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Bencana tanah longsor ini dapat terjadi jika gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan.Gaya pendorong diakibatkan oleh oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan. Sedangkan penyebab gaya penahan adalah kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Dalam artikel tersebut diketahui bahwa terjadinya tanah longsor ini disebabkan oleh pepohonan yang sudah gundul di atasnya. Penebangan hutan yang dilakukan

secara terus menerus dan dilakukan secara sembarangan menyebabkan hutan menjadi gundu, hal ini menyebabkan terjadinya erosi. Manusia memang terkadang tidak memperhatikan dampaknya kedepan. Seharusnya bila kita melakukan penebangan maka harus diimbangi juga dengan penanaman pohon yang baru dan sebaiknya dilakukan dibawah pengawasan pemerintah sehingga bencana tanah longsor dapat teratasi dan tidak terjadi. Meskipun tanah longsor merupakan gejala alam, beberapa aktifitas manusia bisa menjadi faktor penyebab terjadinya longsor, ketika aktifitas ini beresonansi dengan kerentanan dan kondisi alam yang telah disebutkan. Contoh lain aktifitas manusia ini adalah Penambangan bebatuan, tanah atau barang tambang lain yang menimbulkan ketidakstabilan lereng, Pemompaan dan pengeringan air tanah yang menyebabkan turunnya level air tanah, pengubahan aliran air kanal dari jalur alaminya, kebocoran pada pipa air yang mengubah struktur (termasuk tekanan dalam tanah) dan tingkat kebasahan tanah dan bebatuan (juga daya ikatnya), Pengubahan kemiringan kawasan (seperti pada pembangunan jalan, rel kereta atau bangunan), dan pembebanan berlebihan dari bangunan di kawasan perbukitan. Longsor membuat pemerintah harus mengelurkan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur dan efakuasi terhadap korban yang terkena tanah longsor. Adanya bencana alam ini membuat pertumbuhan ekonomi sebuah Negara menjadi terhambat. Dalam artikel diatas diberitahukan bahwa longsor menyebabkan terputusnya arus lalu lintas. Terjadinya tanah longsor ini menylulitkan masyarakat sekitarnya untuk melalui jalan tersebut karena akses jalannya terputus dan informasi yang masuk akan sulit. Bencana ini juga akan menyebabkan harga barang menjadi naik karena barang terhambat dan sulit untuk menjangkau daerah yang terkena longsor dan daerah sekitarnya. Terjadinya eksploitasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab selain bisa menyebabkan inflasi tetapi juga berdampak panjang bagi cadangan sumber daya alam di sebuah Negara. Sumber daya alam sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu Negara, tetapi bila terjadi eksploitasi secara besarbesaran maka akan lebih merugikan Negara tersebut.

2.2.1 Banjir Rendam Sawah di Bandung, Kerugian Rp2,6 M

Sabtu, 6 Maret 2010 15:19 wib Nusantara/Gin Gin Tigin Ginulur BANDUNG - Banjir di Kabupaten Bandung selama hampir 2 bulan membuat lahan pertanian seluas 754 hektare terendam dan gagal panen. Kerugian diperkirakan mencapai Rp2,639 miliar. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Disperhutbun) Kabupaten Bandung hingga 23 Februari, tercatat sekira 754 hektare lahan pertanian di Kabupaten Bandung dipastikan puso atau gagal panen.Kalau dilihat dari umur tanamannya, rata-rata diperkirakan Rp3,5 juta per hektare. Dengan luas lahan yang puso mencapai 754 hektare, jumlahnya pasti besar, ujar Kepala Disperhutbun Kabupaten Bandung, A Tisna Umaran, Sabtu (6/3/2010). Terkait kerugian tersebut, pihaknya meminta bantuan ke pemerintah pusat agar memberikan bibit pengganti. Permintaan pun mendapat respons dan sudah dilakukan pengecekan serta klarifikasi ke lapangan. Insya Allah mereka yang rugi akan diganti bibitnya. Karena dari departemen pun sudah kita bawa ke Baleendah dan Rancaekek (sebagai lokasi terparah puso). Sekarang masih dalam proses. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera turun bantuannya, jelas Tisna. Dia menambahkan, pemberian bibit rencananya akan dilakukan saat musim tanam tiba. Sebab, tidak menutup kemungkinan banjir masih akan terjadi, sehingga dikhawatirkan bibit yang diberikan akan sia-sia dan terancam puso kembali. Musim tanam padi biasanya dilakukan pada April hingga September. Prosesnya melalui pemetaan wilayah. Kami akan meminta kecamatan untuk mengklarifikasi daerah mana saja yang mengalami puso serta berapa jumlahnya, kata Tisna.

Analisis : Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai. Bandung merupakan kota dengan elevasi yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 768 m di atas permukaan laut rata-rata (dpl) (mean sea level). Daerah utara Kota Bandung pada umumnya lebih tinggi daripada daerah selatan. Rata-rata ketinggian di sebelah utara adalah 1050 dpl, sedangkan di bagian selatan adalah 675 dpl. Bandung dikelilingi oleh pegunungan yang membuat Bandung menjadi semacam cekungan (Bandung Basin). Penyebab banjir diantara beberapa penyebab banjir adalah : 1. Ilegal Loging (Penebangan hutan liar) 2. Bertumpuknya sampah pada saluran air, sehingga terjadi penyumbatan pada saluran air. 3. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan penanaman kembali pada daerah / hutan hutan yang baru di tebangi. 4. Tidak adanya lagi tanah resapan untuk digunakan air sebagai tempat baginya beristirahat dikala hujan turun. tidak ada lagi lahan hijau sebagai tempat resapan air tanah. akibatnya, ketika hujan tiba, tanah menjadi tergerus oleh air dan kemudian air terus meluncur tanpa adanya penghalang alami yang kemudian menyebabkan banjir. dan masih banyak lagi penyebab-penyebab banjir yang lainya. Memburuknya kualitas lingkungan dan sumber daya alam dipengaruhi oleh perkembangan sector industry yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Sektor industry itu sendiri saling berkaitan dengan sector pertanian karena input yang mereka butuhan banyak diambil dari pertanian maka disebut bahwa sector pertanian merupakan faktor utama yang terpenting bagi pertumbuhan ekonomi. Bila banjir terjadi secara terus menerus seperti kejadian yang ada di dalam artikel tersebut, bukan hanya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terhambat tetapi kesejahteraan masyarakatnya sendiri akan semakin terus menurun.

Memburuknya lingkungan merupakan akibat dari industrialisasi dan kapitalisme masyarakat Indonesia. Target pertumbuhan seringkali mengabaikan dampak yang negative terhadap lingkungan dan tidak memperhatikan apakah sumber daya alam tersebut dapat diperbaharui atau tidak. Sebenarnya diperlukan tindakan pengelolaan yang tepat bagi sumber daya alam yang tersedia. Banjir yang terjadi ini sangat merugikan para petani. Mereka kehilangan hasil produksi selama satu periode dan modal yang mereka tanamkan dengan seketika hilang. Penyediaan hasil pertanian bagi masyarakat Indonesia juga menjadi kurang. Dengan masyarakat yang jumlahnya banyak bisa saja bila terus menerus terjadi hal seperti ini akan terjadi krisis pangan. Sebagaimana dikatakan bahwa tujuan akhir pengelolaan sumberdaya alam adalah kesejahteraan masyarakat (social welfare) dengan tujuan antara seperti sumber devisa, pemenuhan kebutuhan manusia, pelestarian lingkungan, pembangunan daerah/masyarakat dan pemerataan. Dampak dari banjir ini sendiri maka harga-harga barang menjadi naik dan terjadi inflasi hal ini dikarenakan terhambatnya distribusi barang karena banjir.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Kerusakan lingkungan dapat menghambat atau membalik pertumbuhan ekonomi, dimana kerusakan lingkungan dapat mengerosi potensi-potensi bagi pembangunan. Lingkungan dan pembngunan bukan tantangan yang terpisah, keduanya saling berkaitan tanpa dapat di tawar-tawar lagi. Banjir dan tanah longsor merupakan salah satu ancaman bagi pertanian. Bila pertanian kita hancur maka perekonomian kita akan semakin sulit berkembang dikarenakan pertanian merupakan penyumbang terbesar bagi perekonomian Indonesia. 3.2 Saran Bencana alam yang menjadi rutinitas di di beberapa daerah di Indonesia pada kenyataannya memang sangat mengganggu upaya yang dilakukan juga sudah tak kalah banyak namun belum ada cara yang tepat untuk menanggulangi banjir secara keseluruhan. Manusia memang tidak lepas dari campur tangan datangnya banjir di kota besar. Karena itu diperlukan kerjasama dari setiap masyarakat untuk menjaga lingkungannya agar terhindar dari bencana alam yang sebenarnya mampu kita cegah dengan menggunakan potensi alam yang ada tanpa perlu merusak kelestarian alam.

DAFTAR PUSTAKA

Kompas, Edisi Maret 2010. Penyebab Tanah Longsor di Indonesia. http://blogbintang.com/.Diakses pada tanggal 03 Maret 2010. Penyebab Tanah Lonsor. http://zamiali.multiply.com/. Diakses pada tanggal 03 Maret 2010. Kerugian Akibat Longsor. 2008. http://mazhida.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 03 Maret 2010. Pengetahuan Akibat Banjir. http://www.g-excess.com/id/. Diakses pada tanggal 03 Maret 2010. Pemanfaatan SDA. http://www.acehforum.or.id/. Diakses pada tanggal 03 Maret 2010.