Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Pengertian Kurang Energi Protein (KEP) Kurang energi protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks BB untuk baku standar WHO-NCHS (Depkes RI, 1998). Berikut ini merupakan klasifikasi KEP menurut Departemen Kesehatan (1975) yang disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 1 Klasifikasi KEP menurut Dep.Kes. (1975) Derajat KEP Berat badan % dari baku * 0 = normal 1 = gizi kurang 2 = gizi buruk
*Sebagai baku patokan dipakai persentil 50 Harvard

80 % 60-79 % < 60 %

Pengelompokan gizi kurang menurut Z - skore dalam tiga kategori : a. Gizi kurang tingkat ringan ( nilai Z_BBU - 2,5 SD dan < - 2,0 SD ) b. Gizi kurang tingkat sedang (nilai Z_BBU 3,0 SD dan < 2,5 SD ) c. Gizi kurang tingkat buruk (nilai Z_BBU < - 3,0 SD ) Secara umum KEP terbagi menjadi 2 bagian diantaranya, KEP ringan yang sering disebut dengan istilah kurang gizi dan KEP berat yang sering disebut dengan istilah gizi buruk yang termasuk di dalamnya adalah marasmus, kwashiorkor (sering juga diistilahkan dengan busung lapar atau HO), dan marasmik-kwashiorkor.

a. Kurang gizi Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relatif tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak tersebut lebih rendah dibanding anak seusianya. Rata-rata berat badannya hanya sekitar 60-80% dari berat ideal. Adapun ciri-ciri klinis yang biasa menyertainya antara lain: Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, atau bahkan menurun Ukuran lingkaran lengan atas menurun. Maturasi tulang terlambat. Rasio berat terhadap tinggi, normal atau cenderung menurun. Tebal lipat kulit normal atau semakin berkurang.

b. Gizi buruk 1. Marasmus Marasmus adalah suatu keadaan kekurangan protein dan kilokalori yang kronis. Anak-anak penderita marasmus secara fisik mudah dikenali. Marasmus biasanya terjadi pada bayi umur 6-18 bulan. Meski masih anak-anak, wajahnya terlihat tua, sangat kurus karena kehilangan sebagian lemak dan

otot-ototnya. Penderita marasmus berat akan menunjukkan perubahan mental, bahkan hilang kesadaran. Dalam stadium yang lebih ringan, anak umumnya jadi lebih cengeng dan gampang menangis karena selalu merasa lapar. Selain itu marasmus juga terjadi pada kelompok usila yang dirawat di RS yang terpisah. Ada pun ciri-ciri lainnya adalah: Kurus kering Tampak hanya tulang dan kulit Otot dan lemak bawah kulit atropi (mengecil) Wajah seperti orang tua Berkerut/keriput Layu dan kering Berat badannya kurang dari 60% berat anak normal seusianya. Beberapa di antaranya memiliki rambut yang mudah rontok.

Tulang-tulang terlihat jelas menonjol. Sering menderita diare atau konstipasi. Tekanan darah cenderung rendah dibanding anak normal, dengan kadar hemoglobin yang juga lebih rendah dari semestinya.

2. Kwashiorkor Kwashiorkor adalah istilah pertama dari Afrika, artinya sindroma perkembangan anak dimana anak tersebut disapih tidak mendapatkan ASI sesudah satu tahun karena menanti kelahiran bayi berikutnya. MP-ASI sebagian besar terdiri dari pati atau gula, tetapi kurang protein baik kualitas dan kuantitasnya. Kwashiorkor sering juga diistilahkan sebagai busung lapar atau HO. Penampilan

anak-anak penderita HO umumnya sangat khas, terutama bagian perut yang menonjol. Berat badannya jauh di bawah berat normal. Edema stadium berat maupun ringan biasanya menyertai penderita ini. Beberapa ciri lain yang menyertai diantaranya : Perubahan mental menyolok. Banyak menangis, bahkan pada stadium lanjut anak terlihat sangat pasif. Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring Anemia. Diare dengan feses cair yang banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi laktase dan enzim penting lainnya. Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merah menyerupai petechia (perdarahan kecil yang timbul sebagai titik berwarna merah keunguan, pada kulit maupun selaput lendir, Red.), yang lambat laun kemudian menghitam. Setelah mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini biasanya dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya. Pembesaran hati. Bahkan saat rebahan, pembesaran ini dapat diraba dari luar tubuh, terasa licin dan kenyal.

3. Marasmik-kwashiorkor Penyakit ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashirkor dengan gabungan gejala yang menyertai : Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari berat normal. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak jelas, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan sebagainya. Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karena berkurangnya lemak dan otot. Kalium dalam tubuh menurun drastis sehingga menyebabkan gangguan metabolik seperti gangguan pada ginjal dan pankreas. Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan, seperti meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorganik serta menurunnya kadar magnesium.

1.2 Akibat Kurang Energi Protein (KEP) Ada banyak hal merugikan yang diakibatkan oleh KEP, antara lain yaitu merosotnya mutu kehidupan, terganggunya pertumbuhan, gangguan perkembangan mental anak. Serta merupakan salah satu penyebab dari angka kematian yang tinggi (Shadi, 2000). Anak yang menderita KEP apabila tidak segera ditangani sangat berisiko tinggi, dan dapat berakhir dengan kematian anak. Hal ini menyebabkan meningkatnya kematian bayi yang merupakan salah satu indikator derajat kesehatan (Latinulu, 2000). Menurut Jalal (1998) dikatakan bahwa dampak serius dari kekurangan gizi adalah timbulnya kecacatan, tingginya angka kecacatan dan terjadinya percepatan kematian. Dilaporkan bahwa lebih dari separuh kematian anak di negara berkembang disebabkan oleh KEP. Anak-anak balita yang menderita KEP ringan mempunyai resiko kematian dua kali lebih tinggi dibandingkan anak normal. Hal ini didukung oleh Sihadi (1999) yang menyatakan bahwa kekurangan gizi diantaranya dapat menyebabkan merosotnya mutu kehidupan, terganggunya pertumbuhan, gangguan perkembangan mental anak, serta merupakan salah satu sebab dari angka kematian yang tinggi pada anak-anak. Anak-anak dengan malnutrisi dini mempunyai peluang lebih tinggi untuk mengalami retardasi pertumbuhan fisik jangka panjang, perkembangan mental yang
4

suboptimal, dan kematian dini bila dibandingkan dengan anak-anak yang normal. Malnutrisi juga dapat mengakibatkan retardasi pertumbuhan fisik yang pada gilirannya berhubungan dengan resiko kematian yang tinggi (Karyadi, 1971) Hal tersebut didukung oleh Astini (2001) yang menyatakan bahwa pada masa pascanatal sampai dua tahun merupakan masa yang amat kritis karena terjadi pertumbuhan yang amat pesat dan terjadi diferensiasi tinggi pada semua organ tubuh. Gangguan yang terjadi pada masa ini akan menyebabkan perubahan yang menetap pada struktur anatomi, biokimia, dan fungsi organ. Jadi setiap gangguan seperti buruknya status gizi dapat menghambat beberapa aspek pertumbuhan organ. Kekurangan gizi juga dapat mempengaruhi bayi secara psikologis, menyebabkan apatis, depresi, keterlambatan perkembangan, dan menarik diri dari lingkungan. Hubungan KEP dengan penyakit infeksi dapat dijelaskan melalui mekanisme pertahanan tubuh yaitu pada balita yang KEP terjadi kekurangan masukan energi dan protein ke dalam tubuh sehingga kemampuan tubuh untuk membentuk protein baru berkurang. Hal ini kemudian menyebabkan pembentukan kekebalan tubuh seluler terganggu, sehingga tubuh menderita rawan serangan infeksi (Jeliffe, 1989). KEP menimbulkan efek pada perkembangan mental dan fungsi intelegensia (Jalal dan Atmaja, 1998). Hal ini didukung oleh penelitian Husaini (1997) yang menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada waktu dalam kandungan dan masa bayi akan menyebabkan perkembangan intelektual rendah. Fakta menunjukkan bahwa bayi KEP berat mempunyai ukuran besar otak 15-20% lebih kecil dibandingkan dengan bayi normal. Apabila terjadi kurang gizi sejak dalam kandungan, maka defisit volume otak bisa mencapai 50%. Hasil penelitian Azwar (2001) menemukan bahwa pada anak sekolah yang mempunyai riwayat gizi buruk pada masa balita IQ-nya rendah sekitar 1315 poin dibandingkan dengan yang normal. 1.3 Epidemiologi Kurang Energi Protein (KEP) Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di seluruh Indonesia, Tarwotjo dkk (1978) memperkirakan bahwa 30% atau 9 juta diantara anak-anak balita menderita gizikurang, sedangkan 3% atau 0,9 juta anak-anak balita menderita gizi buruk. Laporan

yang lebih baru yang tercantum dalam Rekapitulasi Data Dasar Desa Baru UPGK 1982/1983 menunjukkan bahwa prevalensi penderita KEP di Indonesia belum menurun. Hasil pengukuran secara antropometri pada anak-anak balita dari 642 desa menunjukkan angka-angka sebagai berikut : diantara 119.463 anak balita yang diukur, terdapat status gizi baik 57,1%, gizi kurang 35,9%, dan gizi buruk 5,9%. Akan lebih prihatin lagi jika kita melihat hasil pengukuran di beberapa desa di Propinsi Kal-Sel, KalBar, Sul-Teng, DKI Jaya, yakni terdapat angka : gizi-baik dibawah 50%, sedangkan angka gizi buruk diatas 10%. Keadaan status gizi Balita di Indonesia 1995-1998 1. Prevalensi gizi kurang pada anak usia 0-59 bulan Dari pemantauan gizi (PKG) tahun 1995-1998 yang dilakukan oleh kelompok Gizi kesehatan Masyarakat Departemen RI, mulai dari krisis moneter hingga 1998 (4 tahun) pada 12 dari 26 provinsi yang mempunyai data lengkap tidak menunjukkan perubahan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dengan nilai rata-rata intake energi sebesar 2150 kkal dan 46,2 gram protein yang mendekati nilai AKG. Namun demikian, terdapat 43-50 persen rumah tangga masih mengkonsumsi energi kurang dari 1.500 kkal dan antara 23-35 persen masih mengkonsumsi kurang dari 32 gram protein per kapita per hari semenjak tahun 1995. Dari hasil pemantauan konsumsi gizi dalam kurun waktu 1995-1998 terlihat ada penurunan prevalensi gizi kurang, yaitu dari 28,3 persen menjadi 25,4 persen dengan kecepatan penurunan 2,9 persen pertahun dan penurunan ini meliputi tingkat desa dan kota. Harapan penurunan prevalensi gizi buruk di Indonesia dipertahankan hingga 1persen pertahun, tetapi penurunan

prevalensi gizi kurang dari 28,3 persen menjadi 25,4 persen tersebut masih tergolong tinggi dibanding dengan negara-negara tetangga (Malaysia, Filipina, dan Thailand) yang besarnya 20 persen pada tahun yang sama. Oleh karenaitu, indikasi ini menunjukkan bahwa gizi kurang di Indonesia masih merupakan masalah. Tahun 1999 pada akhir PELITA VI, prevalensi gizi kurang menunjukkan penurunan menjadi 16 persen, tetapi penurunan ini masih lebih tinggi dari target.

2. Prevalensi gizi kurang pada anak usia 6-17 bulan dan 6-23 bulan Kelompok umur 6-17 bulan dan 6-23 bulan adalah kelompok umur yang merupakan saat periode pertumbuhan kritis dimana pertumbuhan dapat mengalami kegagalan tumbuh (growth failure). Kelompok ini yang sering tertimpa kurang gizi akibat suatu bencana di negara sedang berkembang. (Tabel 2).

Tabel 2 Prevalensi Gizi Buruk menurut Usia dan Tingkat Daerah Daerah Usia anak 6-17 bulan Prevalensi Usia 6-23 bulan % penurunan Prevalensi Kota 25,8 % (1989) - 21,0 % (1995) 22,7 % (1998) 17,5 % (1999) 35,3 % (1989) 26,9 % (1995) 28,6 % (1998) 24,6 % (1999) 33,0 % (1989) 25,4 % (1995) 26,3 % (1998) 22,5 % (1999)
Sumber : Jahari, Sandjaya, Sudirman, Soekirman, Jusat, Jalal, Latief, dan Atmarita (WNPG, 2000)

Gizi kurang 7,9 0,5 3,8

1989-1995 1995-1998 1999

Desa

Prevalensi gizi kurang secara umum penurunannya sedikit lebih tinggi daripada di kota

Kota + Desa

Keadaan gizi balita yang tinggal di pedesaan cenderung lebih buruk dibanding balita yang tinggal di perkotaan; dan keadaan gizi balita perempuan relatif lebih baik dibanding balita laki-laki. Pada tingkat makro, besar dan luasnya masalah KEP sangat erat kaitannya dengan keadaan ekonomi secara keseluruhan. Peningkatan angka prevalensi KEP pada balita, dari data Susenas, seiring sejalan dengan menurunnya jumlah penduduk dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan. Dengan perkataan lain, anggota rumahtangga dari kelompok rawan biologis sekaligus memberikan gambaran ketersediaan pangan, dan rawan biologis memiliki resiko kurang energi protein. Pada tingkat mikro (rumah tangga/individu), tingkat kesehatan terutama penyakit infeksi yang juga menggambarkan keadaan sanitasi lingkungan merupakan faktor penentu status gizi.
7

UPGK dan Posyandu merupakan program yang secara khusus dilaksanakan untuk menurunkan prevalensi KEP. Peningkatan kedua program ini berdampak positif untuk menurunkan prevalensi KEP. Meskipun demikian keterlibatan aktif masyarakat, organisasi wanita, LSM dan perbaikan keadaan ekonomi mempunyai andil yang besar didalam keberhasilan meningkatkan status gizi balita. Kegiatan utama program UPGK (dari aspek gizi) yang dilaksanakan sampai saat ini berupa penimbangan balita, penyuluhan gizi (KIE), peningkatan pemanfaatan pekarangan, pemberian makanan, pemberian oralit, pemberian kapsul vit.A takaran tinggi, pemberian pil besi kepada ibu hamil. Kegiatan ini melibatkan beberapa lembaga terkait yang mempunyai tugas dan tanggung jawab saling menopang untuk keberhasilan program. Pelaksanaan di tingkat desa atau di tingkat yang lebih kecil dikoordinasikan dalam bentuk Posyandu. Keterlibatan masyarakat sangat diharapkan dan sekaligus menentukan di dalam pembentukan dan pelaksanaan Posyandu. Hal ini disebabkan keterbatasan tenaga kesehatan yang tersedia dan luasnya. Dengan demikian, peran kader desa yang telah dilatih serta tokoh masyarakat setempat sangat menentukan kelangsungan

pelaksanaan posyandu.

1.4 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : Apa saja faktor penyebab terjadinya KEP ? Bagaimana cara pengukuran status KEP ? Bagaimana pencegahan dan penanggulangan KEP ? 1.5 Tujuan penulisan Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah : Untuk mengetahui penyebab dari Kurang Energi Protein (KEP). Untuk mengetahui cara pengukuran status Kurang Energi Protein (KEP). Untuk mengetahui upaya pencegahan dan penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP).

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Penyebab Kurang Energi Protein (KEP) Menurut buku karya dr. Arisman, MB dengan judul Gizi Dalam Daur Kehidupan pada hal.93-94 menyebutkan bahwa terdapat 4 faktor yang

melatarbelakangi KEP, yaitu masalah sosial, ekonomi, biologi, dan lingkungan. Berikut disajikan dalam bentuk bagan.
BAGAN 1 PENYEBAB KEP SOSIAL BIOLOGI

Pendidikan

Malnutrisi ibu

Penyakit infeksi

Budaya yang menabukan makanan tertentu

Diet rendah energy dan protein

Bencana alam, perang, dan migrasi

KEP

LINGKUNGAN EKONOMI

Kemiskinan

Tempat tinggal kumuh, tidak sehat, dan tidak bersih

Sumber : dr. Arisman, MB (2004) 9

a. Masalah Sosial-Budaya Ketidaktahuan baik yang berdiri sendiri maupun yang berkaitan dengan kemiskinan, menimbulkan salah paham tentang cara merawat bayi dan anak yang benar, juga salah mengerti mengenai penggunaan, pemberian bahan makanan bagi bayi, balita dan anggota keluarga yang sedang sakit. Budaya yang menabukan makanan tertentu terutama terhadap balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Bencana alam, perang, dan migrasi paksa telah terbukti menggangu distribusi pangan.

b. Masalah Ekonomi Kemiskinan mengakibatkan ketidakmampuan mengakses fasilitas kesehatan, ketiadaan penyediaan pangan di tingkat rumah tangga.

c. Masalah Biologi Komponen biologi yang melatarbelakangi KEP adalah malnutrisi ibu, baik sebelum maupun setelah hamil, penyakit infeksi, serta diet rendah energy dan protein. Seorang ibu yang mengalami KEP dalam kurun waktu tertentu tersebut pada gilirannya akan melahirkan bayi BBLR. Penyakit infeksi berpotensi sebagai penyokong atau pembangkit KEP. Penyakit diare, campak, Infeksi saluran napas kerap menghilangkan nafsu makan. Penyakit saluran pencernaan yang sebagian muncul dalam bentuk muntah dan gangguan penyerapan yang menyebabkan kehilangan zat-zat gizi dalam jumlah besar.

d. Masalah Lingkungan tempat mukim yang berdempetan, kumuh, tidak sehat, tidak bersih

mengakibatkan infeksi sering terjadi.

10

Menurut buku dari Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI yang berjudul Gizi dan Kesehatan Masyarakat pada hal. 198-200 menyebutkan bahwa kejadian KEP disebabkan oleh 4 faktor berikut disajikan dalam bentuk bagan :
BAGAN 2 PENYEBAB KEP Masalah biologic dan sosial Masalah tingkat kekurangan gizi

Ketidakcukupan pasokan gizi didalam sel

Kurang gizi primer

Kurang gizi sekunder

Factor pribadi, social, budaya, psikologis, ekonomi, politik, dan pendidikaan

Masalah lingkungan

KEP

Masalah kelaparan Host Agent environment

Sumber : Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI (2007)

11

a. Masalah biologik dan sosial Penyebab mendasar dari masalah ini adalah ketidakcukupan pasokan zat gizi ke dalam sel. Di pengaruhi juga faktor penyebab yang sangat kompleks seperti, faktor pribadi, sosial, budaya, psikologis,ekonomi, politik, dan pendidikan.

b. Masalah tingkat kekurangan gizi Penyakit kurang gizi primer Contoh : pada kekurangan zat gizi esensial spesifik, seperti kekurangan

vitamin C, maka penderita mengalami gejala scurvy, beri-beri karena kekurangan vitamin B1 Penyakit kurang gizi sekunder Contoh : penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan absorpsi zat

gizi atau gangguan metabolisme zat gizi.

c. Masalah kelaparan

d. Masalah lingkungan Di pengaruhi oleh host, agent, environment Agent makan. Host : termasuk dalam variabel ini adalah bayi, anak, dan orang : variabel agent sebagai penyebab malnutrisi adalah kurang

dewasa. Penyebabnya adalah adanya penyakit, tingkat pertumbuhan yang tinggi, hamil, kerja berat, cacat lahir, lahir premature, dan faktor perorangan seperti masalah emosional. Environment Rumah Tangga. Menurut Depkes RI (1997) dalam literatur kejadian KEP milik Edwin Saputra Suyadi Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat FKM UI hal. 19 yang didownload dari www.digilib.ui.ac.id/file?file=digital/126104-S-5830-Kejadian%20KEP mengemukakan : tingkat ketersediaan pangan yang tidak mencukupi di Tk.

bahwa KEP di akibatkan oleh 3 faktor berikut disajikan dalam bentuk bagan :
12

BAGAN 3 PENYEBAB KEP

PENYEBAB LANGSUNG

Anggota keluarga besar

PENYEBAB TIDAK LANGSUNG

Distribusi pangan tidak merata

Ketidakcukupan konsumsi pangan

Ketersediaan pangan di Tk.RT tidak cukup

Ekonomi rendah

Penyakit infeksi

Pola konsumsi RT yang kurang baik

Fasilitas Yankes sulit dijangkau

Pendidikan

PENYEBAB MENDASAR

Rendahnya pengetahuan dan pendidikan ibu

Sumber : DEPKES RI (1997)

KEP
13

a. Penyebab langsung Yang termasuk dalam penyebab langsung KEP antara lain ketidakcukupan konsumsi makanan, penyakit infeksi.

b. Penyebab tidak langsung Yang termasuk dalam penyebab tidak langsung KEP adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan, kondisi sosial ekonomi yang rendah, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga tidak mencukupi, besarnya anggota keluarga, pola konsumsi keluarga yang kurang baik, pola distribusi pangan yang tidak merata, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau.

c. Penyebab mendasar Yang menjadi penyebab mendasar KEP adalah rendahnya pengetahuan ibu dan rendahnya pendidikan ibu.

Menurut Unicef (1988) didalam literatur Kejadian KEP milik Edwin Saputra Suyadi Bag.GKM FKM UI hal. 20-21 yang didownload dari

www.digilib.ui.ac.id/file?file=digital/126104-S-5830-Kejadian%20KEP

mengemukakan

bahwa KEP di akibatkan oleh 4 faktor berikut disajikan dalam bentuk bagan :

14

BAGAN 4 PENYEBAB KEP

Dampak

KURANG

Penyebab langsung

Makanan tidak seimbang

Penyakit
Penyakit infeksi infeksi

Penyebab tidak langsung

Tidak cukup persediaan pangan

Pola asuh anak tidak memadai

Sanitasi dan air bersih/pelayanan kesehatan tidak memadai

Kurang pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan

Pokok masalah di masyarakat

Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga, kurang pemanfaatan sumber daya masyarakat

Pengangguran, inflasi, kurang pangan, dan kemiskinan

Akar masalah

KRISIS EKONOMI, POLITIK, SOSIAL

Sumber : Unicef (1988) 15

Menurut Unicef (1988), kurang gizi disebabkan oleh beberapa faktor penyebab, yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung, pokok masalah di masyarakat, dan penyebab mendasar. a. Faktor penyebab langsung timbulnya masalah gizi adalah penyakit infeksi dan asupan makanan yang tidak seimbang. b. Faktor penyebab tidak langsung adalah tidak cukupnya persediaan pangan dalam rumah tangga, pola asuh anak yang tidak memadai, sanitasi/air bersih dan pelayanan kesehatan dasar, kesehatan yang tidak memadai juga rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan orang tua. c. Pokok masalah timbulnya kurang gizi di masyarakat adalah kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga, kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat, pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan. d. Sedangkan yang menjadi akar masalahnya adalah krisis ekonomi, politik, dan sosial.

Menurut buku karya Prof. DR. Achmad Djaeni Sediaoetama, M.Sc dengan judul ILMU GIZI untuk mahasiswa dan profesi jilid II pada hal.48-52 menyebutkan bahwa faktor penyebut KEP disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

16

Skema Penyebab Multifaktorial Menuju Ke arah Terjadinya KEP

Ekonomi Negara rendah

Pendidikan Umum Kurang

Produksi Bahan Pangan Rendah

Hygiene Rendah

Pekerjaan Rendah

Pasca panen kurang baik

Sistem perdagangan pangan dan distribusi tidak lancar

Daya beli rendah

Persediaan pangan kurang Penyakit infeksi dan cacing

Anak terlalu banyak Pengetahuan gizi kurang

KONSUMSI KURANG

Absorpsi terganggu

KEP

Utilisas terganggu Kwashiorkor Marasmus marasmickwashiorkor

Sumber : Prof. DR. Achmad Djaeni Sediaoetama, M.Sc (1999)

17

a. Ekonomi negara rendah Ekonomi negara yang rendah mengakibatkan daya beli masyarakat terhadap bahan makanan juga rendah. Sehingga masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan makanan mereka dengan baik.

b. Pendidikan umum yang kurang Karena pendidikan umum yang dimiliki masyarakat kurang sehingga berdampak pada pekerjaan mereka yang rendah, lalu karena pekerjaan yang rendah mengakibatkan daya beli mereka rendah, sehingga upaya

pemenuhan gizi di Tk. Rumah tangga tidak bisa tercukupi dengan baik karena keterbatasan biaya. Pengetahuan umum yang kurang, juga akan berpengaruh pada pengetahuan gizi masyarakat. Sehingga mereka tidak tahu pasti mengenai bahan makanan apa yang memiliki nilai gizi yang tinggi dan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh mereka terutama bagi anak-anak mereka yang sedang berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Pengetahuan umum yang kurang juga akan berpengaruh pada hygiene personal dan sanitasi lingkungan tempat tinggal mereka. Orang

berpendidikan umum yang kurang tentu saja hygiene personal dan sanitasi lingkungan mereka juga kurang. Misalnya, dengan mempertahankan kebiasaan untuk terpapar dengan lingkungan yang kotor dan ditambah pula dengan kebiasaan yang tidak mempertahankan kebersihan dirinya, maka tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti orang seperti ini akan terserang penyakit-penyakit infeksi dan juga penyakit cacingan. Sehingga hal ini bisa mengakibatkan absorpsi dan utilisas tubuh seseorang terganggu. Karena terjadinya hal ini, maka mempengaruhi kerja sistem pencernaan didalam tubuh dan menyebabkan KEP

c. Jumlah anak yang terlalu banyak Jumlah anak yang terlalu banyak dalam satu keluarga dapat mempengaruhi pada gizi anak mereka. Karena bisa mengakibatkan konsumsi bahan

18

makanan yang rendah. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah makanan yang masuk dalam tubuh anak tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan tubuh mereka masing-masing. Dan jika keadaan ini berlanjut terus menerus dalam jangka waktu yang lama, maka bisa mengakibatkan anak tersebut terkena KEP.

d. Produksi bahan pangan rendah Produksi bahan pangan yang rendah diakibatkan karena 2 faktor yang mempengaruhi, perdagangan yaitu pangan pasca dan panen distribusi yang yang kurang tidak baik dan sistem

lancar.

Sehingga

mengakibatkan persediaan pangan yang kurang, baik di Tk. Distributor, pengecer, maupun pada Tk. Rumah Tangga. Sehingga hal ini berdampak pada jumlah konsumsi bahan makanan yang kurang pada suatu keluarga. Sehingga hal ini bisa mengakibatkan seseorang terserang KEP.

2.2 Pengukuran status Kurang Energi Protein (KEP) KEP dapat diketahui dengan melakukan pengukuran antropometri, yaitu pengukuran terhadap dimensi tubuh. Ada beberapa pengukuran antropometri utama. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3 Pengukuran Antropometri yang Utama

Pengukuran Stature/tinggi badan Berat badan Kepala,

Komponen tulang

Jaringan utama yang diukur

belakang, Tulang

tulang panggul, dan kaki. Seluruh tubuh Seluruh jaringan : khususnya lemak, otot, tulang, tulang dan air

Lingkar lengan

Lemak bawah kulit

Otot ( secara teknik lebih sedikit digunakan di Negara maju )

19

Otot, tulang

Lemak ( lebih sering digunakan secara teknis di negara maju)

Lipatan lemak
Press, hlm.66)

Lemak bawah kulit, kulit

lemak

(Sumber : Jelliefe DB & Jelliefe EFP, 1989. Community Nutritional Assessment. Oxford University

1) BB/U : o Gizi lebih o Gizi baik o Gizi kurang o Gizi buruk > 2.0 SD baku WHO-NCHS - 2.0 SD s.d +2.0 SD < - 2.0 SD > - 3.0 SD

2) TB/U : o Normal o Pendek (stunted) - 2.0 SD baku WHO-NCHS < - 2.0 SD

3) BB/TB : o Gemuk o Normal o Kurus/wasted o Sangat kurus > 2.0 SD baku WHO-NCHS - 2.0 SD s.d. + 2.0 SD < - 2.0 SD < 3.0 SD

4) Lingkar Kepala Pengukuran lingkar kepala biasa digunakan pada kedokteran anak yang digunakan untuk mendeteksi kelainan seperti hydrocephalus (ukuran kepala besar) atau microcephalus (ukuran kepala kecil). Untuk melihat pertumbuhan kepala balita dapat digunakan grafik Nellhaus.

5) Lingkar dada Pertumbuhan lingkar dada pesat sampai anak berumur 3 tahun sehingga biasa digunakan pada anak berusia 2-3 tahun. Rasio lingkar dada dan kepala dapat digunakan sebagai indikator KEP pada balita. Pada umur 6 bulan lingkar dada

20

dan kepala sama. Setelah umur ini lingkar kepala tumbuh lebih lambat daripada lingkar dada. Pada anak yang KEP terjadi pertumbuhan dada yang lambat sehingga rasio lingkar dada dan kepala < 1.

6) Lingkar lengan atas (LILA) Lila mencerminkan cadangan energi sehingga pengukuran ini dapat

mencerminkan status KEP (kurang energi protein) pada balita atau KEK (kurang energi kronik) pada ibu WUS (wanita usia subur) dan ibu hamil. Pengukuran Lila pada WUS dan bumil adalah untuk mendeteksi resiko terjadinya kejadian bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Cut off point untuk balita yang menderita KEP adalah < 12,5 cm sedangkan resiko KEK (kurang energi kronik) untuk WUS dan bumil adalah < 23,5 cm.

7) Tinggi lutut Untuk mendapatkan data tinggi badan dari berat badan dapat menggunakan formula berikut ini : Pria Wanita : ( 2,02 x tinggi lutut (cm) ) ( 0,4 x umur (tahun) ) + 64,19 : ( 1,83 x tinggi lutut (cm) ) ( 0,24 x umur (tahun) ) + 84,88

(Sumber : Gibson, RS, 1993. Nutritional Assessment, A Laboratory Manual, Oxford University Press, New York )

2.3 Kapan KEP dikatakan masalah Kesehatan Masyarakat Kurang Energi Protein (KEP) dikatakan masalah Kesehatan Masyarakat jika prevalensi kejadiaannya > 30 %.

2.4 Upaya Pencegahan dan penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP) Tindakan pencegahan penyakit KEP bertujuan untuk mengurangi insidensi KEP dan menurunkan angka kematian sebagai akibatnya. Usaha disebut tadi mungkin dapat ditanggulangi oleh petugas kesehatan tanpa menunggu perbaikan status sosial dan ekonomi golongan yang berkepentingan. Akan tetapi tujuan yang lebih luas dalam
21

pencegahan KEP ialah memperbaiki pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak-anak Indonesia sehingga dapat menghasilkan manusia Indonesia yang dapat bekerja baik dan memiliki kecerdasan yang cukup. Ada bebagai macam cara intervensi gizi, masing-masing untuk mengatasi satu atau lebih dari satu faktor dasar penyebab KEP (Austin, 1981) yaitu : Meningkatkan hasil produksi pertanian, supaya persediaan bahan makanan menjadi lebih banyak, yang sekaligus merupakan tambahan penghasilan rakyat. Penyediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan tinggi energi untuk anak-anak yang disapih. Memperbaiki infrastruktur pemasaran. Infrastruktur pemasaran yang tidak baik akan berpengaruh negatif terhadap harga maupun kualitas bahan makanan. Hal ini sudah ditanggulangi pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog). Subsidi harga makanan. Interfensi demikian bertujuan untuk membantu mereka yang sangat terbatas penghasilannya. Pemberian makanan suplementer. Dalam hal ini makanan diberikan secara cumacuma atau dijual dengan harga minim. Makanan semacam ini terutama ditujukan pada anak-anak yang termasuk golongan umur rawan akan penyakit KEP. Makanan tersebut bisa disediakan pada waktu-waktu tertentu di Puskesmas, maupun diberikan secara periodik untuk dibawa pulang. Pendidikan gizi. Tujuan pendidikan gizi ini adalah untuk mengajar rakyat mengubah kebiasaan mereka dalam menanam bahan makanan dan cara menghidangkan makanan supaya mereka dan anak-anaknya mendapat makanan yang lebih baik mutunya. Menurut Hofvandel (1983), pendidikan gizi akan berhasil jika: a. Penduduk diikutsertakan dalam pembuatan rencana, menjalankan rencana tersebut, serta ikut menilai hasilnya; b. Rencana tersebut tidak banyak mengubah kebiasaan yang sudah turun-temurun; c. Anjuran cara pemberian makanan yang diulang pada setiap kesempatan dan situasi; d. Semua pendidik atau mereka yang diberi tugas untuk memberi penerangan pada rakyat member anjuran yang sama;

22

e. Mendiskusikan anjuran dengan kelompok yang terdiri dari para ibu serta anggota masyarakat lainnyaa, sebab keputusan yang diambil oleh satu kelompok lebih mudah dijalankan daripada oleh seorang ibu saja; f. Pejabat kesehatan, teman-teman dan anggota keluarga memberi bantuan aktif dalam mempraktekkan anjuran tersebut; g. Orang tua maupun anggota masyarakat lainnya dapat melihat hasil yang menguntungkan atas praktek anjuran tersebut.

Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan : a. Pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu, misalnya di BKIA, Puskesmas, Posyandu ; b. Melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi yang prevalensinya tinggi ; c. Memperbaiki hygiene lingkungan dengan menyediakan air minum, tempat membuang air besar (WC) ; d. Mendidik rakyat untuk membuang air besar di tempat-tempat tertentu atau di tempat yang sidah disediakan, membersihkan badan pada waktu-waktu tertentu, memasak air minum, memakai sepatu atau sandal untuk menghindarkan investasi cacing dan parasit lain, membersihkan rumah serta isinya dan memasang jendela-jendela untuk mendapatkan hawa segar ; e. Menganjurkan rakyat untuk mengunjungi puskesmas secepatnya jika

kesehatannya terganggu ; f. Menganjurkan keluarga berencana. Petros-Barnazian (1970) berpendapat bahwa child spacing merupakan factor yang sangat penting untuk status gizi ibu maupun anaknya. Dampak kumulatif kehamilan yang berturut-turut dan dimulai pada umur muda dalam kehidupan seorang ibu dapat mengakibatkan deplesi zat-zat gizi orang tersebut.

23

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan kami dalam makalah ini berdasarkan pembahasan diatas adalah : 1. Penyakit KEP dipengaruhi oleh 8 faktor utama yang saling mempengaruhi satu dan lainnya diantaranya faktor pendidikan, faktor sosial-budaya, faktor penyediaan pangan, faktor ekonomi, faktor biologi, faktor lingkungan, faktor bencana dan faktor kepadatan penduduk. Berikut ini kami sajikan dalam bentuk bagan : PENYEBAB KEP
Pendidikan a. Rendahnya pengetahuan umum ibu b. Pengetahuan gizi kurang c. Pendidikan ibu rendah d. Salah pengertian tentang menyapih e. Kurangnya pengetahuan tentang cara merawat bayi dan anak yang benar Sosial Budaya a. Budaya yang menabukan makanan tertentu b. Frekuensi pemberian ASI yang tidak cukup c. Pemberian MP-ASI yang terlalu dini

Penyediaan pangan a. Pola distribusi pangan tidak merata dan tidak lancar b. Pola ketersediaan pangan tidak cukup pada Tk. Rumah tangga c. Produksi bahan pangan yang rendah d. Konsumsi pangan atau zat gizi kurang

Ekonomi a. Kondisi ekonomi negara rendah b. Pekerjaan yang rendah atau sama sekali tidak memiliki pekerjaan c. Kurangnya daya beli d. kemiskinan

24

Biologi Penyakit infeksi yang mengakibatkan absorpsi dan utilitas terganggu seperti cacingan, diare, TBC, HIV/AIDS, campak, ISPA

Bencana a. Bencana alam seperti badai, angin puting beliung, banjir, dan kekeringan. b. Peperangan

Lingkungan a. Hygiene personal kurang b. Sanitasi lingkungan buruk c. Lingkungan tempat tinggal kumuh dan berdempetan d. Jumlah anak terlalu banyak dalam satu keluarga

Kepadatan penduduk a. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi yang tidak diimbangi dengan pertambahan persediaan pangan. b. Adanya perpindahan penduduk (migrasi).

KEP

25

2. Dampak dari KEP adalah dapat menurunkan mutu fisik dan intelektual serta menurunkan daya tahan tubuh yang berakibat meningkatnya resiko kesakitan dan kematian terutama pada kelompok rentan biologis. 3. Upaya pencegahan dan penanggulangan KEP adalah : peningkatan hasil produksi pertanian, penyediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan tinggi energi untuk anak-anak yang disapih, perbaikan infrastruktur pemasaran, subsidi bahan makanan, pemberian makanan suplementer, pendidikan gizi, pendidikan dan pemeliharaan kesehatan.

3.2 Saran Adapun saran yang dapat kami berikan mengenai KEP ini adalah : 1. Kami mengharapkan kepada pemerintah agar kiranya ada perbaikan ekonomi negara yang bisa memihak pada masyarakat tidak mampu. 2. Kami juga mengharapkan adanya kerjasama lintas sektor antara kementrian kesehatan, kementrian sosial, dan juga kementrian pertanian dalam menangani masalah gizi ini. Agar upaya untuk mewujudkan Indonesia sehat bisa tercapai. 3. Kami juga mengarapkan adanya upaya untuk membangkitkan kembali posyandu yang selama ini seperti mati suri. Yang tidak terlepas dari peran serta masyarakat yang dilatih sebagai kader desa dan juga tokoh masyarakat setempat yang ikut membantu. 4. Makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kami sangat mengharapkan kritik dan saran bagi para pembaca yang sifatnya membangun sehingga kami bisa menjadi lebih baik lagi di hari-hari ke depannya. Amien.

26

DAFTAR PUSTAKA Arisman. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Edisi ke-2. Jakarta : RajaGrafindo Persada Edwin Saputra Suyadi. 2009. Literatur Kejadian KEP. Di download dari http://www.digilib.ui.ac.id/file?file=digital/126104-S-5830-Kejadian%20KEP tgl. 23 Maret 2010

Evawany Aritonang .2004. Kurang Energi Protein (Protein Energy Malnutrition). Di download dari http://www.library.usu.ac.id/download/fkm/fkmgizievawany.pdf tgl. 23 Maret 2010 Gibney, Michael J., dkk. 2004. Gizi kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC Pudjiadi, Solihin. 2003. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. Edisi ke-4. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI Sediaoetama, Achmad Djaeni. 1999. ILMU GIZI untuk mahasiswa dan profesi jilid II. Jakarta: Dian Rakyat

27