Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN DISTRIBUSI SPESIES

Kelompok III: ANDI CITRA PRATIWI 091404170 ICP

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ekologi didefinisikan sebagai cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup (komponen biotik) dengan lingkungannya (komponen abiotik). Terjadinya hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya pada akhirnya akan menentukan kemampuan suatu jenis spesies untuk dapat tumbuh dan berkembang pada lingkungan tertentu. Ketika suatu spesies mampu bertahan pada lingkungan tertentu, maka pola penyebaran, pola pertumbuhan, serta kecepatan reproduksi dapat mencerminkan adaptasi spesies tumbuhan tersebut dengan lingkungannya. Pola-pola penyebaran adalah khas untuk setiap spesies dan jenis habitat. Penyebaran spesies di dalam komunitas dapat mencerminkan informasi yang banyak mengenai hubungan antara spesies. Namun lingkungan yang berbeda tidak hanya mempengaruhi dan memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi sekaligus merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu. Secara umum pola penyebaran tumbuhan di alam dapat dikelompokkan kedalam 3 pola, yaitu acak (random), mengelompok (clumped), dan teratur (regular). Tiap-tiap jenis tumbuhan tentunya mempunyai pola penyebaran yang berbeda-beda tergantung pada model reproduksi dan lingkungan mikro spesies tersebut. Ada berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi pola-pola distribusi spesies pada suatu ekosistem, sehingga pola distribusi spesies pada suatu tempat menjadi berbda dengan pola distribusi spesies lainnya pada tempat tersebut. Untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang pola-pola distribusi spesies pada suatu komunitas, maka dilaksanakanlah praktikum ekologi tumbuhan dengan judul Distribusi Spesies. B. Tujuan

Praktikum ini dilaksanakan untuk mengetahui berbagai bentuk interaksi antara spesies tumbuhan yang terjadi di alam. C. Manfaat Setelah melaksanakan praktikum ini, mahasiswa akan memiliki pemahaman tentang berbagai jenis bentuk asosiasi suatu tumbuhan dengan dengan tumbuhan lainnya di alam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Distribusi spesies adalah cara takson biologis teratur secara spasial. Konsep yang serupa dengan distribusi spesies adalah rentang spesies. Rentang spesies seringkali diwakili dengan peta berbagai spesies. Pola distribusi tidak permanen untuk setiap spesies. Pola distribusi dapat berubah secara musiman, sebagai tanggapan terhadap ketersediaan sumber daya, dan juga tergantung pada skala di mana mereka terlihat (Anonima. 2011). Tumbuhan tidak terdistribusi secara kebetulan di alam. Perbedaan kondisi lingkungan, sumberdaya, dan gangguan adalah beberapa faktor yang mempengaruhi dinamika populasi dan pola distribusi spesies. Perbedaan kondisi lingkungan tidak hanya memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu tetapi juga mengubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area penutupan, area akar, dan ukuran individu. Distribusi, survival, serta pola pola pertumbuhan dan reproduksi mencerminkan adaptasi tumbuhan terhadap lingkungan khusus (Barbour, 1987). Tumbuhan yang hidup secara alami pada suatu tempat, membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat pula kerukunan hidup bersama 1989). Interaksi individu-individu dari suatu species dengan lingkungan biotik dan abiotik menghasilkan pola-pola agihan atau sebaran tertentu pada habitat yang ditempatinya. Pola tersebut bervariasi, ada yang beragihan acak (random), yaitu individu-individu menyebar secara acak ke seluruh ruangan yang ditempatinya. Pola yang lain adalah menyebar pada jarak yang sama atau beragihan teratur (uniform). Selain kedua pola diatas diantara individu-individu tersebut ada juga yang mengumpul atau mengelompok, disebut beragihan mengelompok. Pola-pola yang ditunjukkan oleh suatu populasi sering menunjukkan pengaruh dari faktor-faktor lingkungan khusus yang mempengaruhi tingkah laku dan daya hidup serta pertumbuhan individu-individu tersebut (Supriatno, 2000). (asosiasi), dan hubungan timbal balik (interaksi) yang saling menguntungkan, sehingga terbentuk suatu derajat keterpaduan (Resosoedarmo,

Distribusi mengelompok adalah pola distribusi yang paling umum ditemui di alam. Pada distribusi mengelompok, jarak antar-individu diminimalisir. Tipe distribusi ini ditemukan pada lingkungan dengan sumberdaya yang membentuk patch-patch. Penyebab distribusi mengelompok ini salah satunya yakni ketidakmampuan keturunannya (offspring) untuk secara independen berpindah dari habitat (induknya) (Anonima. 2011). Pola distribusi seragam kurang umum ditemukan daripada distribusi mengelompok, seragam secara spasial. Pola distribusi seragam ditemukan pada populasi di mana jarak antara individu yang bertetangga dimaksimalkan. Kebutuhan untuk memaksimalkan ruang antara individu umumnya timbul dari persaingan untuk sumber daya seperti kelembaban atau nutrisi, atau sebagai akibat dari interaksi sosial langsung antara individu dalam populasi, seperti territoriality (Anonima. 2011). Adapun jenis tumbuhan bawah yang pola penyebarannya seragam kemungkinan terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena kondisi tempat tumbuhnya relatif seragam, persaingan yang kuat antarindividu anggota populasi terhadap sumberdaya alam, dan persaingan antarindividu tumbuhan yang sejenis (Indriyanto, 2009). Pola distribusi acak, juga dikenal sebagai distribusi dengan jarak yang tak terduga, adalah pola distribusi yang paling jarang ditemukan di alam dan muncul ketika anggota spesies ditemukan pada lingkungan homogen dimana setiap individu memiliki posisi yang independen satu sama lain: mereka tidak saling menarik ataupun menolak satu sama lain. Distribusi acak jarang ditemukan di alam karena faktorfaktor biotik, seperti interaksi antar individu tetangga, dan faktor abiotik seperti kondisi iklim atau tanah, umumnya menyebabkan organisme menjadi bergerombol ataupun menyebar. Distribusi acak umumnya terjadi pada habitat dimana kondisi lingkungan dan sumberdaya konsisten. Pola dispersi ditandai oleh tidak adanya interaksi antar-spesies yang kuat (Anonima. 2011) Taksiran kepadatan populasi dan pola penyebaran lokal di dalam populasi sangat penting dalam menganalisis dinamika populasi. Taksiran ini memungkinkan peneliti melakukan pembandingan dan pembedaan pertumbuhan atau stabilitas

populasi yang menempati luas wilayah yang berbeda. Pada skala yang lebih besar, populasi di dalam suatu spesies juga menunjukkan pola penyebaran, yang seringkali terkonsentrasi di dalam kelompok-kelompok (kluster) di dalam wilayah hidup suatu spesies (Campbell. 2004). Di dalam suatu wilayah geografis populasi, kepadatan lokal bisa bervariasi secara mendasar karena lingkungan membentuk patch-patch (tidak semua daerah menjadi habitat yang sama baiknya) dan karena individu-individu memperlihatkan pola jarak dalam hubungannya dengan anggota-anggota lain populasi tersebut. Patch adalah sebidang tanah kecil yang berbeda dari yang lain terutama karena ditumbuhi jenis tumbuhan yang berbeda. Pola penyebaran yang paling umum adalah pembentukan rumpun (clump), dengan individu-individu berkelompok di dalam patch-patch. Tumbuhan bisa menjadi terumpun pada tempat-tempat tertentu dimana kondisi tanah dan faktor-faktor lingkungan lain mendukung untuk perkecambahan dan pertumbuhan. Pengaturan jarak secara acak atau random (penyebaran yang tidak dapat diprediksi dan tidak berpola) terjadi karena tidak adanya tarik-menarik atau tolak-menolak yang kuat di antara individu-individu dalam suatu populasi; posisi masing-masing individu tidak bergantung pada individu lain (Campbell, 2004). Menurut Campbel (2004), pemahaman mengenai penentuan tempat tinggal (kisaran) geografis (geographical range) suatu spesies adalah hal pokok pada setiap analisis dalam ekologi komunitas dan biogeografi. Tiga penjelasan umum yang dapat dijelaskan mengenai terbatasnya suatu spesies untuk tempat hidup yang khusus saat ini: 1. spesies kemungkinan tidak pernah tersebar melebihi daerah batasannya saat ini 2. spesies perintis yang menyebar melebihi daerah hidup yang diamati gagal untuk bertahan hidup 3. selama waktu evolusioner, spesies itu telah menarik diri dari daerah yang luas ke daerah yang ditempatinya saat ini. Ludwig dan Reynolds (1988) menyatakan bahwa pola penyebaran tumbuhan dalam suatu komunitas bervariasi dan disebabkan beberapa faktor yang saling

berinteraksi antara lain: (i) faktor vektorial (intrinsik), yaitu: faktor lingkungan internal seperti angin, ketersediaan air, dan intensitas cahaya, (ii) faktor kemampuan reproduksi organisme, (iii) faktor sosial yang menyangkut fenologi tumbuhan, (iv) faktor koaktif yang merupakan dampak interaksi intraspesifik, dan (v) faktor stokhastik yang merupakan hasil variasi random beberapa faktor yang berpengaruh. Syafei (1994) menyebutkan bahwa faktor-faktor lingkungan yaitu iklim, edafik (tanah), topografi dan biotik antara satu dengan yang lain sangat berkaitan erat dan sangat menentukan kehadiran suatu jenis tumbuhan di tempat tertentu, namun cukup sulit mencari penyebab terjadinya kaitan yang erat tersebut. Menurut GreigSmith (1983), bila seluruh faktor yang berpengaruh terhadap kehadiran spesies relatif sedikit, maka faktor kesempatan lebih berpengaruh, dimana spesies yang bersangkutan berhasil hidup di tempat tersebut. Hal ini biasanya menghasilkan pola distribusi. Bagi ekosistem darat, tanah merupakan titik pemasukan sebagian besar bahanke dalam tumbuhan. Melalui akar-akarnya tumbuhan menyerap air, nitrat, fosfat, sulfat, kalium, tembaga, seng dan mineral esensial lainnya. Dengan semua ini,tumbuhan mengubah karbon dioksida (dimasukkan melalui daun) menjadi protein,karbohidrat, lemak, asam nukleat dan vitamin yang dari semuanya itu tumbuhan dansemua heterotrof bergantung. Bersamaan dengan suhu dan air, tanah merupakan penentu utama dalam produktivitas bumi (Kimball, 1999).

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Hari/ tanggal : Minggu, 18 Desember 2011 Waktu Tempat 1. a. Plot b. Meteran c. Tali rafia d. Gunting e. Kamera 2. Bahan a. Tumbuhan yang terdapat pada Lapangan Fakultas teknik UNM C. Langkah Kerja
1.

: 08.00 01.00 WITA : Lapangan Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar. Alat

B. Alat dan Bahan

Menentukan area yang akan diobservasi distribusi spesiesnya, yakni Pada masing-masing daerah observasi, diambil sampel sebanyak 200 Memperhitungkan kerapatan individu untuk setiap spesies dimulai dari

daerah terbuka, semi-ternaung, dan daerah ternaung.


2.

plot, dengabn ukuran plot 2 x 2 m2 secara acak. 3. 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 individu. Bila jumlah individu suatu spesies dalam satu plot lebih dari 5 individu maka dianggap 5 individu. 4. Menyusun data yang didapat, untuk mengetahui apakah tumbuhan terdistribusi secara acak atau non acak dengan menggunakan analisis poison dengan rumus: X2 = (Pengamatan Harapan)2
Harapan

5.

Pada taraf signifikansi tertentu apabila X2 hitung lebih besar dari X2

tabel maka spesies tumbuhan tersebut pola distribusinya adalah secara tidak acak, dan sebaliknya bila X2 hitung < X2 tabel maka pola distribusinya adalah secara acak. 6. Untuk mengetahui yang tersebar secara tidak acak tersebut apakah mengelompok atau reguler, dilakukan perhitungan perbandingan varian : mean. Menurut Blackman (1942) dalam Smith (1984), bila dari perhitungan rasio Varian : mean hasilnya kurang dari 1, maka tumbuhan tersebut terdistribusi secara reguler, dan sebaliknya bila hasilnya lebih dari 1, maka tumbuhan tersebut terdistribusi secara mengelompok.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
1. Asosiasi Lahan Terbuka

Spesies
Mimosa invisa Samanea saman Pennisetum purpureum Mimosa pudica Clitoria ternatea Ipomea reactans Muntingia calabura Vernonia cinerea Cyperus rotundus killinga sp. Eclipta prostata Musa paradisiaca 2.

Acak v v v -

Pola Distribusi Berkelompok v v v v v -

Regular v V -

Pola Distribusi Spesies Lahan semi Ternaung

Spesies Phyllanthus niruri Mimosa pudica Mimosa invisa Penisetum purpureum


Muntia calabura

Acak -

Pola Distribusi Berkelompok

Regular

Fimristy sp Imperata cylindrica Passiflora foetida Eclipta prostata Sida sp Paspalum conjugatum

v v v v v v v v v -

v v

3.

Asosiasi lahan Ternaung Pola Distribusi Berkelompok v v v v v v v v

Spesies
Panicum virgatum Brachiaria decumbens Setaria verticillata Pueraria phaseoloides Mikania gigantica Sida guri Musa paradisiaca Paspalum notatum

Acak -

Regular -

B. Pembahasan Praktikum ekologi tumbuhan yang dilaksanakan pada hari minggu tanggal 18 Desember 2011 di Lapangan Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar, dilaksanakan pada tiga daerah, yakni area terbuka, area semi-ternaung, dan area ternaung. Praktikum ini dilaksanakan untuk mengetahui pola distribusi spesies yang ada pada ketiga daerah tersebut. Praktikum dilaksanakan pada setiap area dengan menggunakan plot berukuran 2x2 m2, dan diambil 200 sampel secara acak pada setiap area. Pengamatan pola distribusi spesies dilakukan dengan mencatat setiap jenis spesies yang terdapat pada setiap plot, serta mencatat jumlah individu masing-masing spesies dengan rentang 0-5. Jika terdapat spesies dengan jumlah individu lebih dari 5, maka dicatat sebagai 5 saja. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan analisis data Chi-Square dengan Ho= distribusi spesies a adalah acak. Jika X2 hitung > dari X2 tabel, maka Ho ditolak yang berarti bahwa distribusi spesies tidak acak. Untuk distribusi yang tidak acak, maka dilakukan perhitungan Variansi/mean(rata-rata). Jika variansi/mean < 1, berarti spesies terdistribusi secara regular, dan jika variansi>1 berari spesies terdistribusi secara mengelompok.

Pada daerah terbuka, dapat diketahui beberapa spesies yang terdistribusi secara acak yakni Mimosa invisa, Mimosa pudica, Clitoria ternatea; beberapa spesies yang terdistribusi secara berkelompok yakni Samanea saman, Ipomea rectans, Muntingia calabura, Vernonia cinerea, Cyperus rotundus; dan spesies yang terdistribusi secara regular yakni Pennisetum purpureum dan Kyllinga sp. Pada daerah semi ternaung, tidak ditemukan spesies yang terdistribusi secara acak. Ada dua spesies yang ditemukan terdistribusi secara regular, yakni Pennisetum purpureum dan paspalum conjugatum. Sementara itu, seluruh spesies lainnya terdistribusi secara berkelompok, yakni: Phyllanthus niruri, Mimosa pudica, Mimosa invisa, Muntia calabura, Fymristy sp, Imperata cylindrical, passiflora foetida, dan Eclipta prostata. Pada daerah ternaung, tidak ada tanaman yang ditemukan terdistribusi secara acak maupun regular, seluruh tanaman yang diobservasi terdistribusi secara berkelompok, verticillata, yakni Pueraria Panicum virgatum, Brachiaria gigantic, decumbens, sida guri, Setaria musa phaseoloides, Mikania

paradisiacal, dan Paspalum conjugatum Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, maka ditemukan perbedaan pola distribusi spesies satu sama lain pada setiap area.Maka, hal yang harus dijawab adalah mengapa spesies tersebut memiliki pola distribusi demikian? Mengapa spesies memiliki pola distribusi acak? Pola distribusi yang acak menunjukkan spesies yang tersebar secara sembarang (acak), artinya setiap spesies tidak memiliki arah dan posisi tertentu terhadap spesies sejenis satu sama lain. Dialam, pola distribusi acak sangat jarang dijumpai. Dari ketiga area pengamatan, hanya pada daerah terbuka ditemukan spesies yang terdistribusi secara acak, yakni Mimosa invisa, Mimosa pudica, Clitoria ternatea. Pola distribusi acak ini dapat terjadi karena tidak adanya interaksi intra-spesies yang kuat pada masing-masing spesies tersebut. Jika dilihat lingkungan di area terbuka, dapat dikatakan bahwa kondisi lingkungan dan sumberdaya yang ada di area tersebut tersedia secara merata, sehingga tidak ada patch-patch yang terbentuk (Patch adalah sebidang

tanah kecil yang berbeda dari yang lain terutama karena ditumbuhi jenis tumbuhan yang berbeda (Campbell.2004)). Sumberdaya yang merata dan konsisten pada era terbuka membuat individu-individu tersebut mampu tumbuh dan berkembang pada posisi tertentu tanpa harus berinteraksi dengan individu lain dengan spesies yang sama. Faktor dispersal oleh angin dan hewan juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya distribusi acak pada ketiga spesies tersebut. Distribusi acak ini menunjukkan kemampuan anakan (offspring) untuk hidup secara independen meskipun tidak berada disekitar pohon induk. Mengapa spesies memiliki pola distribusi mengelompok? Pola distibusi mengelompok, jarak antar-individu diminimalisir. Tipe distribusi ini ditemukan pada lingkungan dengan sumberdaya yang membentuk patch-patch. Penyebab distribusi mengelompok ini salah satunya yakni ketidakmampuan keturunannya (offspring) untuk secara independen berpindah dari habitat (induknya) (Anonima. 2011). Barbour et al (1987) menyatakan bahwa ada dua alasan yang menyebabkan timbulnya pola distribusi tumbuhan mengelompok yaitu : Pertama, apabila suatu tumbuhan perkembangbiakannya dengan menggunakan biji atau buah yang ada kecenderungan untuk jatuh di dekat induknya, dan bagi tumbuhan yang berkembangbiak secara vegetatif melalui umbi, rhizoma yang tentunya individu baru akan berada di sekitar induknya. Kedua, adalah berhubungan dengan lingkungan mikro, di mana habitat yang homogen pada lingkungan makro terdiri atas beberapa mikrositus yang berbeda yang memungkinkan tumbuhan tersebut dapat tumbuh pada lingkungan yang sesuai. Pada mikrositus yang paling sesuai kerapatan populasi spesies akan menjadi lebih tinggi. Pada pengamatan, baik pada area terbuka, semi-ternaung, maupun area ternaung, sebagian besar spesies terdistribusi secara mengelompok. Hal ini dikarenakan sumberdaya di lingkungan membentuk patch-patch, tidak semua bagian dari lingkungan merupakan tempat yang cocok untuk perkecambahan dan pertumbuhan tanaman. Dalam hal ini, kandungan nutrisi tanah adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada terbentuknya pola mengelompok tersebut.

Mengapa spesies memiliki pola distribusi regular? Pola distribusi tumbuhan secara teratur jarang terjadi di alam. Pola distribusi secara teratur artinya jarak antara satu individu dengan individu lain pada spesies yang sama dalam satu wilayah adalah sama atau hampir sama. Keadaan seperti dapat ditemukan pada ekosistem buatan seperti sawah dan perkebunan. Pada pengamatan, spesies yang terdistribusi secara regular adalah Pennisetum purpureum, Kyllinga sp, dan Paspalum conjugatum. Ketiga spesies tersebut adalah jenis rumput-rumputan. Adapun jenis tumbuhan bawah yang pola penyebarannya seragam kemungkinan terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena kondisi tempat tumbuhnya relatif seragam, persaingan yang kuat antarindividu anggota populasi terhadap sumberdaya alam, dan persaingan antarindividu tumbuhan yang sejenis (Indriyanto, 2009). Persaingan juga dapat terjadi karena masing-masing individu saling memperebutkan ruang, hara, cahaya, CO2, dan air.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

1. Pada daerah terbuka: Mimosa invisa, Mimosa pudica, Clitoria ternatea

terdistribusi secara acak; Samanea saman, Ipomea rectans, Muntingia calabura, Vernonia cinerea, Cyperus rotundus terdistribusi secara mengelompok; dan secara regular.
2. Pada daerah semi-ternaung: tidak ditemukan spesies yang terdistribusi secara

Pennisetum purpureum serta Kyllinga sp terdistribusi

acak; Pennisetum purpureum dan Paspalum conjugatum terdistribusi secara regular; Phyllanthus niruri, Mimosa pudica, Mimosa invisa, Muntia calabura, Fymristy sp, Imperata cylindrical, passiflora foetida, dan Eclipta prostata terdistribusi secara mengelompok.
3. Pada daerah ternaung: tidak ditemukan spesies yang terdistribusi secara acak

maupun regular, semua spesies yang diobservasi terdistribusi secara mengelompok yakni Panicum virgatum, Brachiaria decumbens, Setaria verticillata, Pueraria phaseoloides, Mikania gigantic, Sida guri, Musa paradisiacal, dan Paspalum conjugatum. B. Saran
1. Sebelum melakukan praktikum ini, pelajarilah tata cara observasi

yang benar untuk memudahkan proses observasi tumbuhan di lapangan


2. Lakukanlah pendataan jenis tanaman pada setiap plot secara

akurat.

BIBLIOGRAPHY

Anonima. 2011. Species Distribution. http://en.wikipedia.org/wiki/Species_distribution. Diakses pada Desember 2011. Barbour, G.M., J.K. Busk and W.D. Pitts. 1987. Terrestrial Plant Ecology. New York: The Benyamin/Cummings Publishing Company, Inc. Campbell, Neil A. et al. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga. Greig-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology. Iowa: University Press. Indriyanto. 2009. Komposisi Jenis dan Pola Penyebaran Tumbuhan Bawah Pada Komunitas Hutan yang Dikelola Petani di Register 19 Provinsi Lampung. Lampung: UNILA. Kimball, J. W. 1999. Biologi Jilid III. Jakarta: Erlangga. Ludwig, J.A. and J.F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology, a Primer on Methods and Computing. New York: John Wiley and Sons. Resosoedarma, R.S. 1989. Pengantar Ekologi. Bandung: CV Remaja Karya. Syafei, E.S. 1994. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung; FMIPA ITB. Supriatno, bambang. 2000. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Nasional.