Anda di halaman 1dari 16

PERPUSTAKAAN ERGONOMIS: Pendekatan Aspek Standard Gedung dan Mebelair Perpustakaan I.

Pendahuluan Perpustakaan secara konvensional adalah kumpulan buku atau bangunan fisik tempat buku dikumpulkan, disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai. Perpustakaan yang lebih dikenal pada umumnya sebagai ruang sirkulasi (kegiatan pinjam meminjam buku atau koleksi) maupun sebagai ruang referensi bagi pemustaka dalam mencari koleksi maupun informasi. Pada perkembangannya perpustakaan merupakan suatu lembaga penyedia jasa informasi yang sebagian besar bertujuan tidak untuk mencari keuntungan atau nirlaba. Pada banyak praktik di Indonesia, karena institusi bersifat nirlaba, maka kualitas layanan kepada pemakai tidak menjadi prioritas. Banyak aspek tidak diperhatikan dalam tingkat kenyamanannya, sehingga hendaknya perpustakaan yang ideal adalah perpustakaan yang menjadi tempat yang nyaman dan sehat, yang diharapkan mampu menarik minat khalayak untuk melakukan berbagai macam aktivitas dialektika keilmuan secara lebih segar dan energik. Dalam istilah yang lebih populis mungkin diarahkan menuju perpustakaan yang ergonomis. Pengertian ergonomis identik dengan upaya menciptakan situasi yang nyaman sekaligus sehat bagi para pemustaka, dalam hal ini mengarah pada pengkondisian ruang perpustakaan yang lebih menarik menurut dimensi etika maupun estetika. Oleh karena itu sangat penting bagi para pengelola perpustakaan untuk memahami aplikasi ergonomi dan penyusunan standar pelayanan di perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan serta mewujudkan kepuasan pemustaka. Disamping itu aspek kenyamanan ruangan, tata ruang, pencahayaan, pengendalian kebisingan dan pemilihan mebelair di perpustakaan sangat mempengaruhi suasana kondusif perpustakaan sebagai ruang publik untuk belajar dan browsing informasi. Secara teknis, intervensi ergonomi terhadap konsep perpustakaan akan memberikan suatu pembaharuan yang positif terhadap lingkungan perpustakaan, baik dalam hal infrastruktur atau stakeholder yang terlibat, terlebih untuk para pengguna perpustakaan

yang tentunya akan merasa lebih nyaman dengan sarana prasarana serta pelayanan yang baik. II. Pembahasan Perpustakaan sebagai salah satu pendukung dalam pendidikan maupun civitas akademik, tentu membutuhkan sebuah ruangan maupun gedung tersendiri. Sehingga gedung perpustakaan merupakan sarana yang amat penting dalam penyelenggaraan perpustakaan. Suatu perpustakaan bukan hanya menyediakan ruang kemudian mengisi dengan koleksi yang diatur berdasarkan suatu sistem tertentu kemudian siap dipinjamkan tetapi aspek kenyamanan ruangan, tata ruang, pencahayaan, pengendalian kebisingan dan pemilihan mebelair di perpustakaan sangat mempengaruhi suasana kondusif perpustakaan yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara pepustakaan dalam rangka mewujudkan perpustakaan yang ergonomis. A. Standard Gedung Perpustakan Gedung atau ruangan perpustakaan adalah bangunan yang sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh aktivitas sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanent, terpisah pergerakan manusia sebagai pengguna perpustakaan, daerah konsentrasi manusia, daerah konsentrasi buku/barang, dan titik-titik layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Perpustakaan hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut: Rasa aman Pencahayaan yang baik
Didesain untuk mengakomodasi perabotan yang kokoh, tahan lama dan

fungsional, serta memenuhi peryaratan ruang, aktivitas dan pengguna perpustakaan


Didesain untuk menampung jumlah maksimum pemustaka. Didesain untuk mengakomodasi perubahan pada program pendidikan,

program pengajaran, serta perkembangan teknologi audio, video dan data yang muncul.

Didesain untuk memungkinkan penggunaan, pemeliharaan serta

pengamanan yang sesuai menyangkut perabotan, peralatan, alat tulis kantor dan materi.
Dirancang dan dikelola untuk menyediakan akses yang cepat dan tepat

waktu sesuai keanekaragaman koleksi secara terorganisasi.


Dirancang dan dikelola sehingga secara estetis agar pengguna tertarik

dan kondusif dalam hiburan serta pembelajaran, dengan panduan dan tanda-tanda yang jelas serta menarik. Gambaran karakteristik diatas merupakan gambaran secara umum yang hendaknya dimiliki perpustakaan agar mampu mewujudkan perpustakaan secara ergonomis. Secara terperinci akan dibahas pada sub-bab di bawah ini, antara lain:
1. Penentuan Lokasi Perpustakaan

Penentuan lokasi perpustakaan agar dapat maksimal pemanfaatannya hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
Berada ditempat yang luas tanahnya memungkinkan dilakukannya

perluasan

pada

masa

yang

akan

datang,

sesuai

dengan

perkembangan perpustakaan, dengan memperhatikan skala luas tanah dengan populasi pemustaka. Berada di sekitar pusat kegiatan masyarakat seperti pusat pendidikan (sekolah), pemerintahan dan tentunya pemukiman. Merupakan satu gedung/satu ruangan utuh yang tidak bergabung dengan ruangan lain.
Mudah dicapai oleh pemakai, sehingga pemustaka tidak membuang-

buang waktu secara sia-sia dan tenaga. Cukup tenang dan aman untuk menghindari dari gangguan suara keras dan kegaduhan.
Masih memiliki lahan hijau disekitar gedung perpustakaan. Penting

sebagai

penyuplai

udara

bersih

dan

peredam

kebisingan

(pepohonan).
2. Bentuk Ruang Perpustakaan

Pembangunan bentuk perpustakaan hendaknya memperhatikan bentuk ruang yang paling efektif dan ergonomis. Pada umumnya adalah
3

bentuk bujur sangkar, karena paling mudah dan fleksibel dalam pengaturan perabot atau mebelair apalagi bila rak buku yang dimiliki banyak dan lalu lintas yang ramai. Bentuk ini juga paling baik dan mudah dalam pengaturan pencahayaan/ penerangan. 3. Alokasi Gedung/Ruangan Perpustakaan Perpustakaan pada umumnya minimal memiliki 4 (empat) macam ruangan diantaranya:
a. Ruang koleksi buku

Ruang koleksi, merupakan ruang yang biasanya berisi rak-rak buku buku. Perlu hitungan berapa kebutuhan luas ruang yang diperlukan untuk menempatan rak dan dapat disesuaikan dengan bahan pustaka yang dimiliki. Perlu juga dipertimbangkan untuk tahuntahun yang akan datang ketika akan menambah jumlah rak. b. Ruang baca Disesuaikan dengan ruang yang ada. Idealnya terpisah dari ruang koleksi dengan luas yang mencukupi. c. Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang Staf Dalam rangka melakukan aktifitas pengadaan dan pengolahan buku, luas ruangan ini tergantung berapa jumlah pengelola perpustakaan (pustakawan) dan diperkirakan setiap pustakawan setidaknya memerlukan 2,5 m2. d. Ruang sirkulasi Ruang ini dipergunakan untuk melayani peminjaman dan pengembalian buku, ruang yang diperlukan minimal cukup untuk meletakan meja sirkulasi dan perlengkapan lainnya. Selain keempat ruangan tersebut, juga masih ada ruang lain seperti ruang serial, ruang skripsi (perpustakaan perguruan tinggi), ruang corner, dan sebagainya sesuai tingkat perpustakaannya.
4. Pembagian Ruang Perpustakaan Menurut Fungsi

Pembagian ruang perpustakaan dapat dilakukan sesuai dengan fungsinya. Apabila dipersentasekan dalam pembagiannya maka persentase untuk masing-masing ruang adalah sebagai berikut:
a. Perpustakaan dengan sistem tertutup

Areal untuk koleksi 45 %


4

Areal untuk pengguna 25 % Areal untuk staf 20 % Areal untuk keperluan lain 10 %
b. Perpustakaan dengan sistem terbuka

Areal koleksi dan pengguna 70 % Areal untuk staf 20 % Areal untuk keperluan lain 10 % Areal koleksi antara lain: - Areal buku rujukan - Areal majalah, surat kabar/ kliping - Areal koleksi non buku Areal pengguna antara lain: - Areal peminjaman/sirkulasi - Areal baca yang bercampur dengan koleksi - Areal katalog perpustakaan - Areal fotocopy - Areal baca perorangan (carel room) - Areal pameran Areal staf antara lain: - Areal pengadaan, pengolahan - Areal kerja pimpinan - Areal komputer pengolahan (otomasi) - Areal tata usaha/administrasi - Areal makan/istirahat - Gudang buku dan perlengkapan 5. Tata Ruang Perpustakaan Merencanakan tata ruang harus didasari dengan hubungan antar ruang yang dipandang dari segi efisiensi, alur kerja, mutu layanan, keamanan dan pengawasan. Selain itu juga mempertimbangkan aspek ergonomis. Penempatan perabotan perpustakaan diletakkan sesuai dengan fungsi dan berdasarkan pembagian ruang diperpustakaan sebagai contoh:

Lobi lemari penitipan barang, papan pengumuman dan pameran, kursi tamu, meja dan kursi petugas

Ruang peminjaman meja dan kursi sirkulasi, kereta buku, lemari arsip, laci-laci kartu pengguna, jika sudah otomosi maka computer, barcode reader dan kursi petugas.

Ruang koleksi buku rak buku baik dari satu sisi atau dua sisi, kereta buku, tangga beroda Ruang baca meja kursi baca kelompok, perorangan ( studi karel) dan meja kamus Ruang administrasi meja kursi petugas, lemari arsip, mesin ketik, komputer, telpon, kereta buku, lemari buku dsb.

6. Sistem Pengamanan Perpustakaan Keamanan perpustakaan harus diperhatikan, karena perpustakaan tidak sebatas menyimpan koleksi buku namun barang berharga lainya. Sistem pengamanan mutlak diperlukan untuk antisipasi bila terjadi sesuatu seperti kebakaran, bencana alam, hama, dan pencurian.
a. Bahaya Kebakaran

Dalam gedung perpustakaan, kemungkinan terjadi kebakaran dapat terjadi, maka diperlukan penanganan yang tepat, antara lain:

Penempatan jalam darurat kearah luar pada tempat-tempat strategis yang mudah dicapai. Pemilihan bahan bangunan yang tidak mudah terbakar. Penyediaaan alat-alat pemadam kebakaran Alat pendeteksi kebakaran (sistem alarm) Pengecekan alat yang mudah mengalami konsleting listrik

b. Bencana Alam Bencana alam merupakan hal yang tidak ddapat dihindari oleh siapapun maupun gedung apapun. Bencana alam yang dapat dialami perpustakaan meliputi gempa bumi, angin topan, air hujan, banjir, petir dan sebagainya. Hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasinya meliputi:

Perencanaan ketinggian permukaan lantai dasar lebih tinggi daripada tanah disekitar bangunan akan menjauhkan dari resiko banjir.

Sistem drainasi pembuangan air hujan jangan menimbulkan genangan pada halaman perpustakaan. Perencanaan bangunan yang tahan gempa dengan memenuhi persyaratan material yang kokoh. Memasang sistem penangkal petir terutama pada bangunan bertingkat.

c. Serangan Hama Bangunan dan koleksi perpustakaan rentan terserang hama, baik karena pemilihan lokasi yang kurang tepat, pembangunan dan perawatan gedung yang tidak sesuai, serta pembiaran koleksi. Penanganan yang perlu dilakukan antara lain:

Pemilihan bangunan yang tahan hama. Mengurangi celah-celah kecil pada bangunan yang dapat dijadikan rumah tikus. Memberikan suntikan anti rayap disekeliling bangunan.

d. Pencurian Maraknya kasus pencurian memerlukan penganan khusus selain dari pihak keamanan (satpam), perpustakaan hendaknya juga mengantisipasinya dengan cara:

Sistem perencanaan satu pintu keluar masuk Peletakan lubang/jendela untuk ventilasi dilakukan pada tempat yang sullit dijangkau Pemasangan kamera CCTV (bila dirasa perlu) Sistem alarm pada buku dan pintu

7. Penggunaan Petunjuk (Rambu-rambu)

Dalam rangka membantu pemustaka menemukan dan memanfaatkan koleksi dan fasilitas perpustakaan secara maksimal maka perlu adanya petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk tersebut dibuat dalam bentuk tulisan, simbol ataupun gambar. Contoh petunjuk di dalam perpustakaan seperti simbol atau tulisan Meja Informasi, Harap Tenang, Dilarang Merokok, dan sebagainya. Dalam mendesain petunjuk-petunjuk tersebut perlu memperhatikan hurufnya, hendaknya
7

huruf yang sederhana dan mudah dibaca dari jauh serta sesuai dengan ukuran secara proposional. Kata-kata yang digunakan hendaknya singkat, lugas, informasi secukupnya, dan konsisten. Penempatan petunjuk-petunjuk perpustakaan tersebut biasanya digantung di plafon, ditempel di dinding gedung, dan ditempatkan berdiri diatas perabot perpustakaan (mebelair perpustakaan). B. Suasana Gedung Perpustakaan Perpustakaan yang ergonomis perlu memperhatikan aspek suasana gedung yang meliputi pencahayaan/penerangan, kelembaban, sirkulasi udara, kebisingan, warna gedung dan sebagainya. 1. Pencahayaan/Penerangan Pencahayaan yang tidak merata menyebabkan sakit kepala, kelelahan dan cedera mata. Hal Itu mempengaruhi kerja tubuh yang berhubungan dengan ketajaman visual yang berkurang, pengaburan, dan kesilauan. Area yang dengan pencahayaan buruk juga mengakibatkan suasana yang kurang mendukung (tidak nyaman), misalnya: remang-remang dan gelap akan mengurangi koordinasi mata. Sedangkan daerah berpencahayaan terang dan bersih menjadikan lingkungan yang positif. Aspek pencahayaan tersebut dapat diukur dengan light meter, mirip dengan yang digunakan oleh fotografer. Selain itu pencahayaan juga harus diatur dan hal ini dapat dilakukan dengan cara menghindari sinar matahari langsung serta memilih jenis pencahayaan yang dapat memberikan sifat dan taraf penerangan yang tepat dengan kebutuhan, misalnya: - Lampu pijar: memberikan cahaya pada area setempat - Lampu tl/pl/fluorescent: memberikan cahaya yang merata - Lampu sorot: memberikan cahaya yang terfokus pada objek tertentu Sedangkan pada siang hari dalam rangka penghematan listrik, perpustakaan dapat memanfaat sinar matahari namun tidak secara langsung, dengan memperhatikan tingkat sinar mataharinya, misalnya dengan jendela yang cukup sehingga tidak menimbulkan efek rumah kaca.

2. Kelembaban Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara (dinyatakan dalam%). Kelembaban ini dipengaruhi oleh aspek temperature udaranya. Menurut ASHRAE (American Society of Heating, Refrigerating and Air conditioning Engineers) temperature yang nyaman untuk tubuh berkisar antara 23,9oC 26,7oC, sedangkan temperature yang nyaman bagi banyak orang adalah 24,5oC dan produktivitas kerja mencapai tingkat tinggi pada temperature sekitar 24oC- 27oC. Sedangkan keadaan dimana udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan mempengaruhi sirkulasi darah dalam tubuh serta menyebabkan ruam dan kegelisahan (gerah). Perpustakaan perlu memperhatikan masalah kelembaban ini dan mengatasinya dengan memperbaiki kualitas sirkulasi udara dan penghijauan sekitar perpustakaan. 3. Sirkulasi Udara Sirkulasi udara dapat dipengaruhi oleh ketinggian bangunan maupun ruangan. Ketinggian ruangan yang mencapai 4 m menimbulkan sirkulasi udara yang baik dengan kelembapan yang cukup selain itu perpustakaan yang terletak di daerah ketinggian, tidak terasa begitu panas atau terasa sejuk. Sirkulasi udara erat kaitannya dengan masalah ventilasi maka ventilasi dalam perpustakaan harus diperhatikan. Hal itu selain bergunan untuk petugas juga diperlukan untuk bahan pustaka. Ventilasi sendiri ada 2 yakni: a. Ventilasi pasif Merupakan ventilasi yang didapat dari alam dengan cara membuat lubang angin atau jendela pada sisi dinding yang berhadapan serta sejajar dengan arah angin lokal. Luas lubang angin atau jendela diusahakan sebanding persyaratan dan fasilitas ruangnya (10 % dari luas ruang). Bila menggunakan ventilasi pasif seperti ini sebaiknya rak tidak ditempatkan dekat jendela demi keamanan koleksi dan terhindar dari sinar matahari langsung. b. Ventilasi aktif Merupakan ventilasi yang menggunakan sistem sirkulasi udara buatan yaitu menggunakan AC (Air Conditioning). Pemakaian AC
9

menciptakan temperatur dan kelembaban ruang perpustakaan yang kontans sehingga dapat menjaga keawetan koleksi dan peralatan tertentu seperti koleksi langka dan perangkat komputer serta kenyamanan pemustaka maupun pustakawan itu sendiri. 4. Kebisingan Lokasi perpustakaan yang tidak dalam perncanaan matang seperti tepi jalan, dekat pasar, maupun dekat industri menyebabkan adanya pengaruh kebisingan yang ditimbulkan. Tingkat kebisingan yang berlebihan di atas 90 desibel (dBA) dan puncak kebisingan di atas 100 desibel (dBA) menyebabkan sakit kepala dan meningkatkan tekanan darah, ketegangan otot dan kelelahan. Paparan yang tinggi selama periode waktu yang lama menyebabkan ketulian dan gangguan audiologi lainnya. Paparan jangka pendek menyebabkan iritabilitas dan gangguan komunikasi. Permasalahan kebisingan ini dapat diatasi dengan adanya peredam kebisingan dalam perpustakaan, misalnya; tembok yang dilapisi peredam khusus, pepohonan di sekitar perpustakaan, dan lokasi perpustakaan yang agak jauh dari tepi jalan.
5. Warna Gedung

Gedung perpustakaan memiliki karakteristik warna tersendiri dan warna pada dinding ruangan dan interior yang ada disekitar tempat kerja, sangat berpengaruh pada kemampuan mata untuk melihat obyek dan gairah minat baca pemustaka. Warna dengan intensitas yang tinggi juga akan berpengaruh terhadap manusia. Dinding dan langit-langit berwarna terang memantulkan 50 hingga 70% cahaya , warna gelap 10 hingga 20% cahaya. Dengan demikian hendaknya perpustakaan dapat menentukan warna yang sesuai dan menimbulkan gairah minat baca pemustaka

C. Mebelair Perpustakaan Mebelair perpustakaan hendaknya melihat aspek anthopometri dalam perabot dan perlengkapan perpustakaaa yang diharapkan menciptakan keserasian antara manusia dengan sistem kerja. Sehingga menjadikan
10

pustakawan dapat bekerja secara nyaman, aman, dan efisien. Mebelair perpustakaan adalah sarana pendukung yang digunakan perpustakaan agar perpustakaan berfungsi secara optimal, antara lain: 1. Meja dan kursi sirkulasi Meja dan kursi sirkulasi yang memiliki desian khusus dan ergonomis, biasanya disesuaikan dengan aktivitas di sirkulasi dan kebutuhan perlengkapan serta melihat standard ergonomis sehingga mendukung layanan sirkulasi. 2. Meja dan kursi baca Meja dan kursi baca sangat dibutuhkan oleh perpustakaan dengan pemilihan jenis disesuaikan dari luas ruangan perpustakaan. Jarak antara meja dan kursi perlu diperhatikan, pemilihan material meja dan kursi baca tersebut

Gambar di atas menunjukan kemampuan jangkauan mata melihat pada meja baca dengan pedoman aspek ergonomis. Maka hendaknya perpustaakan menyediakan area meja sesuai gambar di atas. 3. Meja dan kursi kerja Meja dan kursi kerja tidak begitu banyak dibutuhkan oleh perpustakaan, namun demikian meja kerja ini sangat penting. Segala aktivitas perpustakaan dikendalikan dari meja kerja. Dalam pelaksanaan pemakaaian yang perlu diperhatikan adalah postur tubuh ketika bekerja, karena akan mempengaruhi
11

kondisi tubuh. Gambar di samping dengan memperhatikan aspek ergonomis maka postur yang ideal sesuai dengan gambar tersebut. 4. Meja atau rak atlas dan kamus Meja atau rak atlas dan kamus yang dapat dimanfaatkan untuk menempatkan surat kabar yang dilengkapi dengan alat penjepit (stick). 5. Rak Buku Rak buku merupakan hal vital dalam perpustakaan, dimana 1 rak (1 sisi, 5 susun, lebar 100 cm) dapat memuat 115-165 buku eksemplar buku (tergantung tebal buku) dan jarak antar rak idealnya 137-147 cm. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar di atas selain memperhitungkan jarak antar rak juga diperhitungkan jarak ketika kereta buku melintasi dan ketika pustakawan melakukan shelving sehingga antara pemustaka dan pustakawan memiliki ruang gerak yang memadai. 6. Lemari katalog Lemari katalog atau disebut juga kabinet katalog yang digunakan untuk menyimpan kartu katalog. Biasanya masih digunakan pada perpustakaan yang belum ter-otomasi. Lemari katalog yang memperhitungkan aspek ergonomis akan menghitung tinggi lemari katalog dan berat laci katalog sehingga menghindari cedera dan memudahkan pemustaka. 7. Lemari multi media Lemari multi media biasa digunakan untuk menyimpan koleksi dalam bentuk multi media seperti kaset, CD ROM, mikrofilm. Bentuk lemari
12

ini bervariasi sehingga hendaknya perpustakaan memilih sesuai kebutuhan dan menimbang aspek ergonomisnya. 8. Lemari arsip Lemari arsip digunakan untuk arsip perpustakaan yang berupa data siswa yang menjadi anggota perpustakaan, data siswa yang meminjam koleksi perpustakaan dan data koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah. Lemari arsip yang baik adalah yang ringan ketika ditarik dan tingginya sesuai postur pustakawan serta melihat resiko yang ditimbulkan.
9. Laci penitipan tas atau locker

Laci penitipan tas atau locker dapat dimanfaatkan untuk menitipkan tas, jaket dan barang yang tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan perpustakaan. Locker yang baik mempertimbangkan jarak antar locker yang satu dengan locker yang lain sehingga penggunanya memiliki ruang gerak cukup, terutama ketika jongkok dan kondisi ruang locker ramai. 10. Kereta buku Kereta buku biasanya sangat dibutuhkan di perpustakaan buku-buku sekolah yang yang besar. oleh Kegunaanya adalah untuk mengangkut dikembalikan pemustaka dari meja sirkulasi ke rak buku. Bentuk dari kereta buku ini bermacammacam, salah satu contohnya adalah gambar di samping. Kereta buku yang memperhatikan aspek ergonomis akan memperhitungkan beban buku dan kemampuan pustakawan, kereta buku yang ringan biasanya beroda empat dan dengan rangka besi ringan. 11. Papan display Papan display adalah suatu papan yang dapat digunakan untuk memperlihatkan informasi buku baru. Usahakan papan display ini memperhitungkan aspek ergonomi dengan melihat postur pemustaka maupun pustakawan. Kaca yang dipakai hendaknya tebal sehingga tidak membahayakan ketika menerima tekananan.
13

14

III.

Penutup Perpustakaan yang memiliki berbagai fungsi dan manfaat tentu selalu memperhatikan aspek pelayanan dan kepuasan pemakai. Pelayanan dan kepuasaan pemakai selalu identik dengan layanan prima yang selalu dipromosikan perpustakaan. Namun, tidak hanya mempromosikan mengenai layanan primanya itu saja, perpustakaan kedepannya akan memperhatikan aspek ergonomi. Aspek yang sangat mementingkan kenyamanan antar berbagai lini dan menjadi cikal bakal perpsutakaan yang memenuhi standard perpustakaan ergonomis, mulai dari standard gedung hingga mebelair perpustakaannya. Sehingga aspek ergonomis tersebut memiliki peran vital dalam dunia perpustakaan dan dapat sebagai salah satu standard kenyamanan perpustakaan. Dengan demikian perpustakaan diharapkan selalu melihat aspek ergonomi ini dan melakukan penerapan pada perpustakaan manapun.

15

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Ergonomi. (http://www.depkes.go.id/downloads/Ergonomi.PDF). Diunduh 12 April 2011, Pukul 17:00. Arlinah IR. 1997. Perencanaan dan Perancanagan Gedung serta Perabot Perpustakaan. Perpusda Jatim. Surabaya. Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Grasindo. Jakarta. Kosasih. 2009. Tata Ruang, Perabot, dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah. (http://library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/karsasih/Tata%20Ruang, %20Perabot%20Dan%20Perlengkapan.pdf). Diunduh 12 April 2011, Pukul 17:02. Priyanto, Sugeng. 2010. Kajian Perencanaan dan Desain UPT Perpustakaan Undip Berdasar Teori Faulkner-Browns Ten Commandments. (http://staff.undip.ac.id/perpus/sugeng/2010/08/03/kajian-perencanaan-dandesain-upt-perpustakaan-undip-berdasar-teori-faulkner-browns-tencommandments.pdf). Diunduh 12 April 2011, Pukul 17:30. Qalyubi, Syihabuddin. 2007. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi-Fakultas Adab. Yogyakarta Village, Judy. 2010. Ergonomic Design Guidelines For Libraries. (http://www.esao.on.ca/clients/libraries/ERGONOMIC%20DESIGN %20GUIDELINES%20FOR%20LIBRARIES%20final.pdf). Diunduh 12 April 2011, Pukul 17:07. Yusuf, Pawit M., 2005. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

16

Anda mungkin juga menyukai