Anda di halaman 1dari 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pengendalian Hama Terpadu atau PHT adalah cara pengendalian yang digunakan untuk mencapai stabilitas produksi, dengan kerugian seminimal mungkin bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Timbulnya PHT merupakan koreksi terhadap sistem pengendalian hama secara konvensional yang selalu mengutamakan penggunaan pestisida untuk memberantas hama tanaman. Penggunaan pestisida secara berlebihan untuk membunuh hama, sering kali juga membunuh organisme selain hama dalam suatu ekosistem. Apabila yang terbunuh justru organisme yang menguntungkan bagi pengendalian hama maka pada suatu saat akan terjadi ledakan hama sekunder yang besar sehingga penggunaan pestisida kurang efektif lagi.

(Budi 2007)

2.2 Pengertian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Dalam pertanian, organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya. OPT juga bisa diartikan sebagai faktor biotik (mahluk hidup) yang menyebabkan gangguan pada tanaman. Dalam pengertian sehari-hari OPT dibagi menjadi 3 kelompok : 1) Hama,(serangga, tungau,hewan menyusui, burung, dan moluska). 2) Penyakit,(jamur, bakteri, virus, dan nematoda) 3) Gulma atau Tumbuhan Pengganggu (Djojosumarto 2008)

2.3 Pengertian Ekosistem Ekosistem adalah Hubungan Timbal Balik antara manusia dan lingkungannya dimana manusia merupakan bagian integral dari ekosistem tempat hidupnya. Komponen ekosistem sendiri dibagi menjadi 2 bagian yaitu lingkungan abiotik (tak hidup) dan lingkungan biotik

(hidup). Suatu ekosistem sendiri memiliki proses-proses ekosistem dan dari proses inilah kemudian secara alami akan menjaga keseimbangan unsur atau materi yang terdapat dalam ekosistem tersebut. (Hartono 2004)

2.4 Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Ada sejumlah komponen pengendalian hama terpadu seperti yang dikemukakan oleh Winarno sebagai berikut : 2.4.1 Pengendalian hama dengan kultur teknis adalah langkahlangkah yang dilakukan berkaitan dengan produksi yang menyebabkan lingkungan yang terjadi itu tidak atau kurang cocok untuk kehidupan pertumbuhan dan perkembangan serangga hama. 2.4.2 Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan menggunakan musuhmusuh alam seperti parasit, predator dan patogen. 2.4.3 Pengendalian secara fisis dan mekanis adalah pengendalian hama yang dilakukan secara langsung membinasakan serangga hama dengan alat-alat tertentu. 2.4.4 Penggunaan insektisida, yakni penggunaan senyawa kimia yang dapat mematikan serangga hama. Namun, dalam pengendalian hama terpadu penggunaan insektisida merupakan alternatif yang terakhir. 2.4.5 Pengendalian hama dengan peraturan-peraturan bertujuan untuk meningkatkan pelaksanaan pengendalian hama terpadu. Umpama saja peraturan yang mengatur tentang : sistem bertanam serempak, pola tanam, pergiliran varietas unggul dan lain-lain. (Winarno 1987)

2.5 Komponen Ekosistem Komponen Ekosistem. Seperti yang dijelaskan sebelumnya Komponen ekosistem dibagi menjadi 2 bagian yaitu Komponen Biotik dan Abiotik : 2.5.1 Komponen Biotik Faktor biotik meliputi semua makhluk hidup yang ada di Bumi, baik tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Tumbuhan memiliki peranan yang sangat penting dalam ekosistem karena tumbuhan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki makhluk hidup yang lain, yaitu kemampuan

menghasilkan makanan. Oleh karnanya, tumbuhan berperan sebagai produsen dalam ekosistem sedangkan hewan berperan sebagai konsumen, adapun mikroorganisme sebagai pengurai. 2.5.1.1 Individu Merupakan organisme tunggal dan berada pada tingkatan organisasi makhluk hidup terendah. Contohnya seekor tikus, seekor kucing. 2.5.1.2 Populasi Merupakan kumpulan individu yang sejenis yang berada pada suatu daerah yang sama dan dalam waktu tertentu. Misalnya Sekumpulan sapi yang berjalan. 2.5.1.3 Komunitas Kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Contoh Komunitas sawah. Organisme dalam komunitas ada yang berperan senagai produsen, konsumen dan pengurai. 1. Produsen yaitu makhluk hidup yang berperan dalam menghasilkan makanan sehingga ciri utama produsen adalah memiliki klorofil. 2. Konsumen yaitu organisme yang memakan tumbuhan atau hewan. Organisme yang memakan tumbuhan disebut konsumen tingkat 1. 3. Pengurai yaitu makhluk yang hidup dan memiliki kemampuan untuk merombak senyawa organik yang sudah mati menjadi senyawa anorganik. 2.5.2 Komponen Abiotik Adalah benda tak hidup yang meliputi faktor klimatik dan substartum. 2.5.2.1 Faktor Klimatik 1. Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Beberapa organisme bisa hidup pada kisaran suhu tertentu. 2. Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena dapat menentukan suhu dan merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan. 3. Angin selain berperan dalam menentukan kelembaban juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu. 2.5.2.2 Faktor Substratum 1. Air berpengaruh karena dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji.

2. Tanah merupakan tampat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang didalam ikut berbeda, dan tanah juga menyediakan unsur penting bagi pertumbuhan organisme. (Abdurahman 2008)

2.6 Peranan PHT Dalam Ekosistem Pertanian Pada sistem pertanian yang belum tersentuh teknologi konvensional sehingga semua bentuk bahan agrokimia tidak digunakan sama sekali, maka petani akan menggunakan bermacam-macam cara baik langsusung maupun tak langsung untuk melindungi tanamannya dari serangan hama dan penyakit. Dengan demikian, Pengendalian Hama Terpadu merupakan salah satu komponen kearifan tradisional dalam bidang pertanian. Faktor yang cukup penting dari metode tradisional perlindungan tanaman adalah memanfaatkan perilaku hama, dengan demikianperkembangnya dapat dihambat, dan mengurangi kemungkinan hama menyerang tanaman utama. Perlindungan selanjutnya dengan memanfaatkan musuh alami. Perlindungan tanaman merupakan proses yang bersifat kompleks sehingga memerlukan pemahaman peranan masing-masing komponen lingkungan, system usaha tani, dan system pertanaman yang dilaksanakan. Dengan demikian perlindungan tanaman tidak dapat dilaksanakan hanya dengan mengandalkan satu tindakan saja, tetap memerlukan kombinasi tindakan yang menyesuaikan dalam melaksanakan tindakan sepadan dalam melindungi tanamannya. Kelebihan PHT memang tidak sebanding dengan pestisida namun jika system ini berlangsung dalam jangka panjang dapat dilihat kelebihannya : 1) Meningkatkan ketahanan terhadap perlakuan yang dilakukan. 2) Tidak membasmi musuh alami. 3) Tidak berdampak negative terhadap kesehatan organism sekitar. 4) Menurunkan resiko ledakan hama sekunder. 5) Menurunkan biaya produksi. 6) Menurunkan ketergantungan petani pada bahan kimia pertanian (pestisida). 7) Tidak merusak lingkungan dan sumber air. (Rachman 2002)

2.7 Faktor Penyebab Timbulnya Ledakan Hama dan Penyakit Berikut faktor penyebab timbulnya hama : 1) Perubahan ke tanaman monokultur, tanaman monokultur merupakan system tanam dengan jenis hanya 1 tanaman saja. Hal ini dapat mendatangkan hama karena tersedianya pangan yang besar bagi mereka. Tanaman polykultur lebih dianjurkan dari pada pertanian monokultur. 2) Pemindahan hama melewati batas geografik, artinya adanya hama baru yang keluar dari suatu ekosistemnya ke daerah hal ini dapat memicu perkembangan hama tersebut pada daerah yang dihinggapinya. 3) Perubahan toleransi manusia, Berikut pendapat dari Piremental (1982) tentang timbulnya hama : 1. Penanaman monokultur 2. Pemasukan spesies tanaman baru 3. Pemasukan spesies hama baru 4. Perpindahan tanaman ke daerh yang berbeda 5. Hasil pemulian tanaman 6. Keragaman gen yang kurang 7. Jarak tanam 8. Penanaman secara terus-menerus 9. Unsur hara atu pemupukan 10. Waktu tanam dimana stadia serangga yang merusak sinkron dengan tanaman yang dirusak 11. Asosiasi antara tanaman dan hama 12. Penggunaan pestisida

(Anonymousa 2011)

2.8 Metode Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Pengendalian OPT dibedakan atau dibagi menjadi 3 bagian : 2.8.1 Pengendalian Secara Teknik Budi Daya Yaitu dengan melaksanakan pengolahan tanah yang baik dan benar, menggunakan benih dari varietas tanaman yang tahan OPT. benih yang bermutu dan sehat, pengaturan jarak tanam yang ideal, pola tanam yang baik, waktu tanam yang tepat, pemupukan secara berimbang, pengaturan drainase (tata air) yang baik, dan menanam jenis tanam perangkat/pemikat hama. 2.8.2 Pengendalian Secara Fisik/Mekanik Dilakukan dengan cara sanitasi secara selektif terhadap tanaman yang terserang OPT, sanitasi terhadap tumbuhan pengganggu yang kemungkinan menjadi inang lain dari OPT, Pengambilan kelompok telur/ulat dari tanaman yang diserang, dan pemasangan penghalang berupa kelambu, rumah kaca, atau plastic transparan. 2.8.3 Pengendalian Secara Biologi Dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami dan agensia hayati. Pengendalian secara biologi ini dapat juga dilakukan dengan sebuah peraturan, misalnya larangan terhadap pemasukan benih atau bagian tanaman lain yang dapat membawa OPT berbahaya, baik tanaman impor maupun tanaman dari area lain. 2.8.4 Pengendalian Dengan Bahan Kimia Ditinjau dari bahan aktifnya dibagi dalam 2 macam, yakni pestisida hayati dan pestisida sintesis. Pestisida hayati adalah pestisida yang dibuat dari makhluk hidup yang bahhan aktifnya dapat mengendalikan OPT, dapat berupa umbuhan dan agen hayati. Sedang kan pestisida sintesis memiliki bahan aktif dari hasil sintesa kimia yang terdiri atas beberapa golongan. Untuk meningkatkan efektivitasnya dalam aplikasi, maka perlu memperhatikan pemilihan jenis pestisida yang sesuai dengan OPT sasaran. Jenis pestisida yang dipilih dan digunakan juga harus bersifat tidak persisten (mudah terurai pada kondisi lapang) atau mempunyai paruh waktu yang pendek. Biasanya penggunaan pestisida hanya dilakukan jika berdasarkan hasil pengamatan terhadap OPT telah melebihi ambang batas pengendalian Aplikasi pestisida dilakukan ketika sebagian besar OPT pada stadium yang peka terhadap pestisida tersebut. Penggunaan pestisida dilakukan dengan dosis minimum (tidak berlebihan), namun efektif terhadap OPT sasaran. Bagian yang disemprot pestisida bukan bagian tanaman yang akan dikonsumsi, tetapi bagian tanaman yang terserang secara spot atau pada populasi hama (OPT) saja. (Surachman & Widodo 2007)

2.9 Konsep Ambang Batas Ekonomi Di dalam konsep PHT, hama dan penyakit tanaman dikendalikan jika telah melampaui batas ambang ekonomi serangan hama dan penyakit tertentu yang telah ditentukan sebelumnya. Artinya, jika jumlah atau tingkat serangan hama dan penyakit belum melampaui batas kerugian, pengendalian belum perlu dilakukan. Contohnya, pada penyakit tertentu ditetapkan ambang ekonominya sebesar 5%, sehingga jika serangan hama atau penyakit tersebut kurang dari 5%, pengendalian belum perlu dilakukan. (Endah & Zaenal Abidin 2002)