Anda di halaman 1dari 5

Ulserasi Kornea Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh

dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dihindari dengan melakukan diagnosis dini dan pengobatan yang memadai dengan segera, tetapi juga dengan meminimalkan berbagai faktor prediposisi. Ulkus Kornea Infeksi Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi yang terjadi sekunder akibat kerusakan pada epitel kornea. Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus yang punya vaskularisasi. Ulkus ini sering disertai hipopion-kumpulan sel-sel radang yang tampak sebagai suatu lapisan pucat di bagian bawah bilik mata depan yang juga terdapat pada uveitis anterior berat. Meskipun hipopion pada ulkus kornea bersifat steril (kecuali bila ada robekan membrane descement ) pada ulkus fungi, lesi ini mungkin mengandung jamur. Dulu, ulkus supuratif sentral hampir selalu disebabkan oleh infeksi S pneumonia yang merupakan penyulit trauma kornea,khususnya pada pasien dengan obstruksi ductus nasolacramalis. Faktor predisposisi yang paling sering di negara-negara maju adalah pemakaian lensa kontak, yang berhubngan dengan keratitis pseudomonas dan keratitis acanthamobae. Penggunaan obat-obat lokal dan sistemik secara sembarangan yang semakin luas telah meningkatkan insidend ulkus kornea oleh bakteri oportunis, jamur, dan virus. Organisme Tak ada organism, ulkus mengesankan infeksi bakteri Kokus gram positif, bentuklancet dengan kapsul= S pneumoniae Kokus gram positif, methacillin-resistant S aureus (MRSA) Batang gram positif:langsing dan panjangnya bervariasiMycobacterium fortuitum, spesies Nocardia, spesies Actinomyces Organisme gram positif lain: kokus atau batang Kokus Gram Negatif Batang gram negative=kurus= Pseudomonas Batang gram negative:diplobailli Terapi awal Moxifloxacin, gatifloxacin, atau tobramycin dan cefazolin Moxifloxacin, gatifloxacin, atau cefazolin Vancomycin Amikacine, moxifloxacin, atau Fluoroquinolone lain gatifloxacin Terapi alternative Ciprofloxacin, levofloxacin, ofloxacin, gentamicin, ceftadizime, atau vancomicin levofloxacin, ofloxacin, penicillin Gentamicin, ceftadizime, atau vancomicin

Cefazolin. Moxifloxacin, atau gatifloxacin Ceftriaxone Moxifloxacin, Gatifloxacin, ciprofloxacin, tobramycin, atau gentamycin Moxifloxacin, Gatifloxacin, ciprofloxacin

Fluoroquinolone lain, penicillin ceftadizime, atau vancomicin penicillin G, cefazolin vancomicin Fluoroquinolone lain, polymixin , atau carbenicillin tobramycin, atau gentamycin, penicillin G, cefazolin

besar=berujung persegi=Moraxella Batang gram negative lain Tidak ada organism , ulkus mengesankan jamur Organisme mirip ragi= Candida sp Organisme mirip hifa=ulkus fungi Kista, trofozoit= Acantamoeba

Moxifloxacin, Gatifloxacin, , tobramycin, Natamycin atau voriconazole Voriconazoleata amphotericine B Natamycin atau voriconazol Propamidine dan/atau polyhexamethylene biguanide

Ceftazidime, Gentamycin, atau carbenicillin Amphoterizin B, nystatin, miconazole, atau flucytosine Amphoterizin B, nystatin, miconazole, atau flucytosine Amphoterizine B atau nystatin Chlorhexidine atau neomycine

1. Keratitis Bakterial Banyak jenis ulkus kornea bakteri yang mirip satu sama lain dan hanya bervariasi dalam beratnya penyakit. Ini terutama berlaku untuk ulkus yang disebabkan oleh bakteri oportunistik (mis, Streptococcus alfa-hemolyticus, Staphylococcus aureus, Staphylococcus Epidermidis, nocardia, dan M fortuitum chelonei) yang menimbulkan ulkus kornea indolen yang cenderung menyebar perlahan dan superficial. Ulkus kornea Streptococcus Pneumonia (pneumokokal) Ulkus kornea Streptococcus Pneumonia biasanya muncul 24-48 jam setelah inokulasi pada kornea yang mengalami abrasi. Infeksi ini secara khas menimbulkan sebuah ulkus kelabu dengan batas cukup tegas yang cenderung menyebar secara tak teratur dari tempat infeksi ke sentral kornea. Batas yangbeergerak maju menampakkan ulserasi dan infiltrasi aktif, sementara batas yang diinggalkan mulai sembuh. (efek merambat ini menimbulkan istilah ulkus serpiginosa akut) Lapisan superfisial kornea adalah yang pertama terkena, kemudian diikuti oleh parenkim bagian dalam. Kornea di sekeliling ulkus sering kali jernih. Biasanya ada hipopion. Kerokan dari tepi depan (yang maju) ulkus konea pneumokokal biasanya mengandung diplokokus gram-positif berbentuk lancet. Obat yang disarankan dalam terapi dipaparkan dalam tabel. Dakriosistitis dan obstruksi duktus nasolakrimalis yang menyertai juga harus diobati. Ulkus kornea Pseudomonas Aeruginosa Ulkus kornea pseudomonas berawal sebagai infiltrat kelabu atau kuning di tempat epitel kornea yang retak . Biasanya terasa sangat nyeri . Lesi ini cendenrung cepat menyebar ke segala arah karena pengaruh enzim proteolitik yang dihasilkan oleh organisme ini. Meskipun pada awalnya superfisial, seluruh kornea dengan cepat dan mengkibatkan kerusakan yang parah, seperti perforasi kornea dan infeksi intraokuler berat. Sering kali terdapat hipopion besar yag cenderung membesar dengan berkembangnya ulkus. Infiltrat dan eksudat mungkin berwarna hijau-kebiruan. Ini disebabkan oleh pigmen yang dihasilkan organisme dan patonomonik untuk infeksi P aeruginosa. Ulkus kornea Pseudomonas biasanya berhubungan dengan penggunaan lensa kontak lunak-terutama lensa jenis extended-wear. Organisme penyebab ditemukan melekat pada permukaan lensa kontak lunak. Beberapa kasus dilaporkan setelah penggunaan larutan

fluorescein atau obat tetes mata yang terkontaminasi. Dokter diharuskan memakai obatobat yang steril dengan teknik steril saat menangani pasien dengan cedera kornea. Kerokan dari ulkus mengandung batag gram negative halus panjang yang jumlahnya sering tidak banyak. Obat yang disarankan dalam terapi tertera dalam tabel. Ulkus kornea Moraxella Liquefasciens Menimbulkan ulkus lonjong indolen yang umumnya mengenai kornea bagian inferior dan meluas ke stroma dalam setelah beberapa hari. Biasanya tidak ada hipopion atau bila ada kornea di sekitarnya biasanya jernih. Ulkus kornea Moraxella Liquefasciens Hampir selalu terjadi pada pasien peminum alcohol , diabetes atau dengan penyebab imunosupresi lainnya. Kerokan menampilkan diplobacilli gram-negatif besar dengan ujung persegi . Obat-obat yang disarankan untuk pengobatan tertera pada tabel. Pengobatan dapat berlangsung lama dan sulit. Ulkus kornea Streptokokus grup A Ulkus kornea sentral yang disebabkan oleh Streptokokus beta-hemolyticus tidak meiliki ciri yang khas. Stroma kornea di sekitar ulkus sering menunjukkan infiltrat dan sembab, dan biasanya disertai hipopion berukuran sedang. Kerokansering mengandung kokus gram positif dalam bentuk ratai. Obat yang disarankan tertera dalam table. Ulkus kornea Streptococcus alfa-hemolyticus, Staphylococcus aureus, Staphylococcus Epidermidis Ulkus kornea sentral yang disebabkan oleh organisme ini kini lebih sering dijumpai dibandingkan sebelumnya, banyak di antaranya ada pada kornea yang telah biasa terkena kortikosteroid topical. Ulkusnya sering indolen, tetapi mungkin disertai hipopion dan sedikit infiltrate pada kornea sekitar. Ulkus ini sering kali superfisial dan dasar ulkus terasa padat saat dikerok. Kerokan dpat mengandung kokus gram positifsatu-satu, berpasangan atau dalam bentuk rantai. Keratopati kristalina infeksiosa telah ditemukan pada pasien yang mendapatkan pengobatan steroid topical jangka panjang, penyakit ini sering disebabkan oleh Streptococcus alpha-hemolyticus selain oleh sterptokokus defisiensi nutrisi. Tabel menunjukkan obat-obat yang disarankan. Ulkus Kornea Mycobakterium fortuitum-chelonei dan nocardia Ulkus yang ditimbulkan oleh Mycobakterium fortuitum-chelonei dan nocardia jarang ditemui. Ulkus ini sering ditemui setelah ada trauma dan sering menyertai riwayat riwayat berkontak dengan tanah. Ulkusnya indolen, dan dasar ulkusnya sering menampakkan garis-garis memancar-sehingga tampak sebagai kaca yang retak . Hipopion bisa ada bisa tidak. Kerokan dapat mengandung batang tahan asam langsing atau organism gram positif berfilamen yang sering bercabang (Nocardia). Lihat tabel untuk obat yang disarankan.
2. Keratitis jamur

Ulkus kornea jamur, yang pernah banyak dijumpai pada pekerja pertanian, kini makinbanyak ditemui di antara penduduk perkotaan sejak mulai dipakainya obat kortikosteroid dalam pengobatan mata . Sebelum era kortikosteroid, ulkus kornea jamur

hanya timbul bila stroma kornea kemasukan organisme dalam jumlah sangat banyaksuatu peristiwa yang masih mungkin terjadi di daerah pertanian atau berhubungan dengan pemakaian lensa kontak lunak. Kornea yang belum berkompromi tampaknya masih dapat mengatasi organisme yang masuk dalam jumlah sedikit, seprti yang lazim terjadi pada penduduk pekotaan. Ulkus jamur tersebut indolen, dengan infiltrate kelabu, sering dengan hipopion , peradangan nyata pada pada bola mata, ulserasi superficial, dan lesi-lesi satelit (umumnya menginfiltrasi tempat-tempat yang jauh dari daerah ulserasi utama). Di bawah lesi utama-dan juga lesi satelit sering terdapat plak endotel diserato reaksi bilik mata depan yang hebat. Abses kornea sering dijumpai. Kebanyak ulkus jamur disebabkan oleh organism oportunis seperti candida, fusarium, aspergilus, penicilium, cephalosporium, dan lain-lain. Tidak ada ciri khas yang membedakan macam-macam ulkus jamur ini. Kerokan dari ulkus kornea jamur, kecuali yang disebabkan oleh candida, umumnya mengandung pseudohifa atau bentuk ragi, yang menampakkan kuncup kuncup khas. Tabelmencantumkan nama-nama obat yang dianjurkan untuk pengobatan ulkus fungi. 3. Keratitis Virus Keratitis herpes Simpleks Keratitis herpes Simpleks ada dua bentuk primer dan rekurens. Keratitis ini adalah penyebab ulkus kornea paling umum dan penyebab kebutaan kornea paling umum di Amerika. Bentuk keratitis epitelialnya merupakan kelainan mata yang sebanding dengan herpes labialis, yang memiliki ciri-ciri imunologik dan patologik sama, demikian pula waktu terjadinya. Perbedaan satu-satunya adalah bahwa perjalanan klinis keratitis dapat berlangsung lama karena stroma kornea yang avaskuler menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke lokasi lesi. Infeksi okuler Herpes Simplex Virus pada pejamu imunokompromise biasanya sembuh sendiri , pada pejamu yang lemah imun , termasuk pasien yang diobati dngan kortikosteroid topical, perjalanannya dapat kronik dan merusak. Penyakit stroma dan endotel tadinya diduga hanyalah sebagai respons imunologik terhadap partikel virus atau perubahan seluler akibat virus. Namun, sekarang makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa infeksi virus aktif dapat timbul di dalam stroma dan mungkin juga dalam sel-sel endotel, selain di jaringan lain dalam segmen anterior, seperti iris dan endotel trabekula. Ini menekankan pada kebutuhan untuk menilai peranan relative replikasi virus dan respon imun hospes sebelum dan selama pengobatan penyakit herpes. Kortikosteroid topical dapat mengendalikan respons peradangan yang merusak, tetapi memberi peluang terjadinya replikasi virus. Jadi, setiap kali menggunakan kortikosteroid topical, harus ditambahkan obat antiviral. Setiap pasien yang memakai kortikosteroid topical dalam pengobatan penyakit mata akibat herpes harus berada dalam pengawasan seorang dokter mata. Studi Serologik menunjukan bahwa hampir semua orang dewasa pernah terpajan virus ini walaupun tidak smapai menimbulkan gejala klinis penyakit. Sesudah infeksi primer , virus ini menetap secara laten di ganglion trigeminum. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan penyakit ini, termasuk lokasinya, masih perlu diungkapkan. Makin banyak bukti menunjukkan bahwa beratnya penyakit ditentukan oleh jenis virusnya. Kebanyakan infeksi HSV pada kornea disebabkan oleh HSV tipe 1 (penyebab herpes labialis) , tetapi beberapa kasus pada bayi dan dewasa dilaporkan disebabkan oleh HSV tipe 2 (penyebab

herpes genitalis). Lesi kornea yang ditimbulkan oleh kedua jenis ini tidak dapat dibedakan. Kerokan dari lesi epitel pada keratitis HSV dan cairan dari lesi kulit mengandung sel-sel raksasa multinuclear. Virus ini dapat dibiakkan pada membrane korio-allantois embrio telur ayam dan pada banyak jenis lapisan sel jaringan-mism sel Hela, tempat terbentuknya plak-plak khas. Namun, pada kebanyakan kasus, diagnosis dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan ulkus dendritik atau geografik yang khas dan sensasi kornea yang sangat menurun atau hilang sama sekali. Metode PCR digunakan untuk identifikasi HSV dari jaringan dan cairan, juga dari sel-sel epitel kornea, secara akurat. A. Temuan Klinis Herpes simpleks primer pada mata jarang diteukan, bermanifestasi sebagai blefarokonjungtivitis vesikuler, sesekali mengenai kornea, dan biasanya terdapat pada anak-anak kecil. Bentuk ini umumnya dapat sembuh sendiri, tanpa menimbulkan kerusakan berarti pada mata. Terapi antiviral topical dapat dipakai sebagai profilaksis agar kornea tidak terlibat dan sebagai terapi untuk penyakit kornea.