Anda di halaman 1dari 26

Matakuliah : D0234/Teknologi Proses Tahun : 2007/2008

PENGECORAN BIASA Pertemuan 11

PENGECORAN BIASA

Learning Outcomes

Mahasiswa dapat menerangkan tentang jenis dan tahapan pembuatan cetakan

Outline Materi :
Tahapan Pengecoran Logam Jenis Cetakan Saluran Masuk, Penambah, dan Karakteristik Pembekuan Jenis, Bahan, dan Konstruksi Pola

Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

TAHAPAN PENGECORAN LOGAM


Pembuatan cetakan; Persiapan logam; dan peleburan

Penuangan logam cair ke dalam cetakan; Pembongkaran; Pembersihan coran; Pemeriksaan; Proses daur ulang pasir.
Gambar 11.1 Diagram alir proses pengecoran
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Keuntungan Pembentukan dengan Cetakan :


Laju produksi tinggi,

Finishing lebih baik,


Toleransi dimensi lebih baik, Sifat mekanik lebih baik.

Proses Pengecoran :
Pengecoran biasa, pengisian dilakukan tanpa tekanan; Pengecoran khusus, pengisian dilakukan dengan tekanan. rongga rongga cetakan cetakan

Bina Nusantara

11-3

PENGECORAN BIASA

JENIS CETAKAN Berdasarkan bahan yang dipakai :


cetakan pasir, cetakan lempung, cetakan logam, cetakan khusus

Berdasarkan cara pemakaian :


1. Cetakan tidak permanen : hanya dapat digunakan satu kali saja. Contoh : cetakan pasir (sand casting), cetakan kulit (shell mold casting), Cetakan presisi (precision casting).

2. Cetakan permanen : dapat digunakan berulang-ulang.


Contoh : gravity permanent mold casting, pressure die casting, centrifugal die casting.

Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Cetakan Pasir :
cawan tuang

(pouring basin),

saluran turun (sprue), saluran masuk

(gate), pola (pattern),

Gambar 11.2 Bagian-bagian penting cetakan pasir

baut pena (pin), pengunci (lug),


Bina Nusantara

bagian atas cetakan (cope), bagian bawah cetakan (drug), alas cetakan (bottom board), sambungan pemisah (joint for parting),

PENGECORAN BIASA

Prosedur pembuatan cetakan pasir :


1. Dengan pola yang dapat dipakai berulang-ulang; pasir dipadatkan disekitar pola, kemudian pola dikeluarkan, rongga yang terbentuk diisi dengan logam cair (gambar 11.3). 2. Dengan pola sekali pakai; pola dibuat dari polisteren atau sejenisnya dan tidak dikeluarkan, pola menguap pada saat logam cair dituangkan ke dalam cetakan (gambar 11.4).

Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Prosedur pembuatan cetakan pasir dengan pola yang dapat dipakai berulang-ulang :

Gambar 11.3 Prosedur pembuatan cetakan pasir dengan pola yang dapat dipakai berulang-ulang
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Prosedur pembuatan cetakan pasir dengan pola sekali pakai :

Gambar 11.4 Cetakan pasir dengan pola sekali pakai

Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Keungtungan pengecoran dengan pola sekali pakai :


Sangat tepat untuk mengecor benda-benda dalam jumlah kecil; Tidak memerlukan pemesinan lagi; Menghemat bahan coran; Permukaan mulus; Tidak diperlukan pembuatan pola kayu yang rumit; Tidak diperlukan inti dan kotak inti; Pengecoran jauh lebih sederhana.

Kerugian : Pola rusak sewaktu dilakukan pengecoran; Pola lebih mudah rusak, oleh karena itu memerlukan penanganan khusus lebih sederhanan; Pada pembuatan pola tidak dapat digunakan mesin mekanik; Tidak ada kemungkinan untuk memeriksa keadaan rongga cetakan.
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

SALURAN MASUK, PENAMBAH, DAN KARAKTERISTIK PEMBEKUAN

Sistem Saluran Masuk : berfungsi untuk mengalirkan logam cair ke dalam rongga cetakan.

Cawan tuang; Saluran turun; Pengalir; Saluran masuk.

Gambar 11.5 Sistem saluran masuk


Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam merancang sistem saluran masuk :


Turbulensi aliran masuk ke rongga cetakan pada dasar atau dekat dasarnya harus seminimal mung-kin, terutama untuk benda cor yang kecil; Harus dihindari terjadinya pengikisan terhadap dinding dan rongga cetakan, dengan mengatur aliran logam cair secara baik; Logam harus dapat masuk ke rongga cetakan sedemikianrupa, sehingga terjadi pembekuan (solidifikasi) terarah; Slag, kotoran, atau partikel asing tidak boleh masuk ke rongga cetakan.

Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Penambah (riser) : dibuat sebagai cadangan logam

cair untuk mengimbangi penyusutan (shrinkage) dalam pembekuan dari coran. Logam cair dalam penambah harus membeku lebih lambat dari coran. Jenis Penambah : A. Terbuka, B. Buntu.

Gambar 11.6 Penambah terbuka dan penambah buntu


Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Penambah buntu dan penambah terbuka :

Penambah terbuka
Berhubungan dengan udara luar pembekuan logam cair lebih cepat

Penambah buntu
Tidak berhubungan dengan udara luar pembekuan logam cair lebih lambat Pembekuan lambat dibutuhkan lebih sedikit logam cair dapat dibuat lebih kecil Kecil lebih ekonomis

Pembekuan cepat dibutuhkan cadangan logam cair lebih banyak harus dibuat lebih besar Besar kurang ekonomis

Besar dan terbuka lebih mudah dibuat

Kecil dan tertutup lebih sulit dibuat

Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Karakteristik Pembekuan :
Pembekuan (solidifikasi) : transformasi logam cair kembali ke bentuk padatnya.
Solidifikasi logam murni ; logam murni membeku pada temperatur konstan yaitu sama dengan temperatur pembekuannya/ temperatur leburnya.

Gambar 11.7 Solidifikasi logam murni


Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Solidifikasi paduan; Paduan pada umumnya membeku pada daerah temperatur tertentu.

Gambar 11.8 Solidifikasi paduan


Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Shrinkage : adalah penyusutan pada daerah tertentu yang dapat menimbulkan cacat-cacat coran (berupa rongga-rongga atau retak) Tahapan terjadinya shrinkage : Penyusutan yang terjadi selama pendinginan fase cair (sebelum terjadi solidifikasi); Penyusutan yang terjadi pada saat perubahan fase cair ke fase padat; Penyusutan yang terjadi selama pendinginan fase padat sampai temperatur kamar.
Bina Nusantara

Gambar 11.9 Tahapan terjadinya shrinkage

PENGECORAN BIASA

Solidifikasi

terarah ; untuk mengurangi pangaruh shrinkage dapat dilakukan dengan mengarahkan proses solidifikasi pada daerah tertentu, dengan cara : 1) Memasang penambah (riser); dengan memasang riser (gambar 11.6), maka daerah yang mengalami solidifikasi awal akan berada jauh dari sumber logam cair, sehingga shrinkage yang mungkin terjadi berada pada riser itu sendiri. Menurut hukum Chvorinov, riser diletakkan pada daerah yang memiliki rasio volume terhadap luas rendah, karena pada daerah tersebut akan mengalami solidifikasi paling cepat. Dengan menambahkan riser, maka solidifikasi dapat diperlambat sehingga kemungkinan terjadinya shrinkage dapat dihindarkan.
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

2) Memasang cil (chill) : Panas tertinggi dapat terjadi pada bagian-bagian tebal yang mengalami konsentrasi aliran panas paling tinggi, sehingga pada bagian tersebut kemungkinan akan terjadi shrinkage.

Gambar 11.10 Daerah yang sering mengalami shrinkage

Untuk mencegah terjadinya shrinkage tersebut dapat dipasang cil yaitu benda (terutama logam) yang diletakkan pada bagian cetakan yang mendapat panas paling tinggi untuk mempercepat pendinginan sehingga bagian tersebut membeku pada waktu yang bersamaan dengan bagian lainnya.
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

JENIS, BAHAN, DAN KONSTRUKSI POLA Jenis pola :


Pola yang dapat dipakai berulang-ulang : A. B. C. D. Pola tunggal; Pola belah; Pola terpisah; Pola dengan pengalir; E. Pola dengan papan penyambung; F. Pola roda dengan penuntun; G. Pola sipat/pola sapu.
Gambar 11.11 Berbagai jenis pola yang dapat dipakai berulang-ulang
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Pola sekali pakai : Pola sekali pakai, ditinggalkan dalam cetakan dan dibiarkan menguap. Oleh karena itu pola jenis ini merupakan pola tunggal yang telah dilengkapi dengan sistem saluran masuk, pengalir, dan penambah.

Gambar 11.12 A. Pola sekali pakai B. Coran seberat 4469 kg


Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Bahan Pola :
Kayu : digunakan untuk jumlah produksi terbatas, sehingga tidak perlu menggunakan bahan yang awet, tetapi biaya relatif murah dan mudah dibentuk; Logam : digunakan untuk jumlah produksi yang besar, sehingga lebih awet dalam penggunaannya; Jenis logam yang sering digunakan : kuningan, besi cor, dan aluminium

Stirofoam (polistiren) : digunakan untuk pola sekali pakai.

Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Konstruksi Pola :
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pola : Penyusutan benda cor : setiap benda cor selalu mengalami penyusutan pada waktu membeku, oleh karena itu dalam pembuatan pola biasanya dipakai mistar susut; Tirus : pola perlu dibuat tirus untuk memudahkan pengeluaran pola dari dalam cetakan; Penyelesaian : untuk menghindari pelengkungan pada benda cor yang tipis, perlu dibuat lebih tebal sehingga diperlukan pekerjaan penyelesaian (pemesinan); Distorsi : perlu diperhitungkan terjadinya diformasi pada benda cor karena penyusutan yang tidak merata; Kelonggaran : sering terjadi karena dilakukan penumbukan pasir di sekitar pola pada waktu melepas pola dari dalam cetakan.
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Pola untuk blok V dari besi cor :

Gambar 11.13 Blok V dari besi cor

pola dibuat dengan mistar susut, tambahan kemiringan untuk memudahkan pengeluaran pola dari dalam cetakan, alur dibuat kemudian dengan proses pemesinan.
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

Cara pembuatan balok tirus :


A. Balok tirus; B. Pola yang terdiri dari bagian lepas dan inti pasir basah; C. Pola menggunakan inti pasir kering; D. Pembuatan cetakan dengan pola terlepas; E. Pembuatan cetakan dengan inti pasir kering.

D
Gambar 11.14 Cara pembuatan balok tirus
Bina Nusantara

PENGECORAN BIASA

SELESAI TERIMA KASIH

Bina Nusantara