Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pendidikan suatu bagian yang penting dan menjadi hal yang tidak

dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pentingnya penyelanggaraan pendidikan menjadi salah satu penunjang kemajuan suatu Bangsa. Hasbullah (2008:122) mengemukakan melalui proses pendidikan suatu bangsa berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang direncanakan. Dirumuskan di dalam GBHN (TAP MPR NO. IV/MPR/1973) bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup (Ahmad dan Ubiyati, 2003:73). Pendidikan menjadi usaha manusia dalam memperbaiki kualitas kehidupannya kerena pada hakekatnya menusia adalah makhluk yang bisa dididik dan belajar (Education Human Being). Pembelajaran di sekolah tidak selamanya berjalan lancar, terdapat pula-pula berbagai kendala yang dihadapi, salah satu masalah yang akan dihadapi dalam pembelajaran adalah bagaimana mengatasi berbagai macam permasalah yang akan muncul dalam berkomunikasi dalam pembelajaran. Berdasarkan pemaparan latar belakang dan mengidentifikasi masalah penulis ingin mencoba memecahkan permasalahan komunikasi yang timbul dalam pembelajaran, mengungkapkan salah satu yang pernah diungkapkan oleh Leon Festinger mengenai teori disonansi kognitif beserta solusinya, yang dapat muncul pada pembbelajaran.

Rumusan Masalah dan Pertanyaan penelitian Setelah adanya pemaparan mengenai latar bekalang masalah di atas maka dalam penelitian ini, penulis mengajukan permasalahan yang akan diangkat pada penelitian ini adalah. Bagaimana Teori Disonansi kognitif memecahkan masalah yang terjadi pada lembaga pendidikan di sekolah ? Agar penelitian lebih terarah dengan demikian peneliti membatasinya dengan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimana Profil dari Leon Festinger dan perjalanan karirnya? Bagaimana inti dari teori disonansi kognitif? Bagaimana Penerapan Teori Disinansi Kognitif dalam Pembelajaran? Bagaiaman kelebihan dan kekurangan teori disonansi kognitif? Tujuan Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas. Maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Mendeskripsikan Profil dari Leon Festinger dan perjalanan karirnya. Mendeskripsikan inti dari teori Disonansi Kognitif. Menganalisis Penerapan Teori Disinansi Kognitif dalam Pembelajaran. Mengetahui kelebihan dan kekurangan teori disonansi kognitif? Sistematika penulisan Penyusunan hasil penelitian akan dijabarkan dalam sistematika penulisan dibawah ini. Bab I, adalah pendahuluan. Merupakan bagian awal dari penulisan, Dalam bab ini terbagi-bagi dalam beberapa sub bab seperti: latar belakang masalah, yang berisikan mengenai mengapa masalah yang diteliti itu timbul dan apa yang menjadi alasan peneliti mengangkat masalah tersebut. Selain latar belakang masalah, dalam penulisan ini terdapat pula rumusan masalah dan tujuan penelitian. Bab II, merupakan pembahasan. Pada bab ini berisikan hasil penelitian, dalam bab ini peneliti akan menguraikan pengertian teori disonansi kognitif, inti

teori disonansi kognitif, implementasi teori disonansi kognitif dalam dunia pendidikan di sekolah. Dan yang terakhir keunggulan dan kelemahan teori disonansi kognitif. Bab III, penutup. Bab ini adalah bab yang terakhir, dalam bab ini disajikan penafsiran berupa kesimpulan terhadap hasil penulisan yang telah dilakukan. Setelah memaparkan beberapa isi dari beberapa bab, maka bagian yang terakhir adalah menampilkan daftar pustaka. Daftar pustaka sumber tertulis yang digunakan dalam penyusunan makalah. memuat semua

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Profil Leon Festinger


wzTooltipfLayoutInCell1fAllowOverlap1fBehindDocument0fIsButton1fHi dden0fLayoutInCell1

Leon Festinger tanggal 8 Mei 1919. seorang psikolog sosial

lahir di New York, pada Leon Festinger adalah Amerika, yang bertanggung

jawab untuk pengembangan dari Teori Disonansi Kognitif, teori perbandingan sosial , dan penemuan peran kedekatan dalam pembentukan ikatan sosial serta kontribusi lain untuk studi jaringan sosial. Festinger paling terkenal dengan Teori Disonansi Kognitif, yang menunjukkan bahwa ketika orang didorong untuk berperilaku dalam cara yang konsisten dengan keyakinan mereka, sebuah ketegangan psikologis tidak nyaman sedang terangsang. Ketegangan ini akan menyebabkan orang untuk mengubah keyakinan mereka agar sesuai dengan perilaku mereka yang sebenarnya, bukan sebaliknya. Festinger juga bertanggung jawab untuk Teori Perbandingan Sosial, yang memeriksa bagaimana orang menilai pendapat mereka sendiri dan keinginan dengan membandingkan diri dengan orang lain, dan bagaimana kelompokkelompok mengerahkan tekanan pada individu untuk sesuai dengan norma-norma kelompok dan tujuan Festinger juga membuat kontribusi penting untuk teori jaringan sosial. Mempelajari pembentukan ikatan sosial, seperti pilihan teman di kalangan mahasiswa perguruan tinggi ditempatkan di asrama, Festinger (bersama-

sama dengan Stanley Schachter dan Kurt Kembali) menunjukkan bagaimana pembentukan ikatan diperkirakan oleh kedekatan, kedekatan fisik antara orangorang, dan bukan hanya dengan selera serupa atau keyakinan, sebagai orang awam cenderung percaya. Artinya, orang hanya cenderung berteman dengan tetangga mereka. Pada awal karirnya, Festinger mengeksplorasi berbagai bentuk kelompok sosial yang dapat mengambil dan menunjukkan, bersama dengan Schachter dan Back,"bagaimana norma-norma yang lebih jelas, lebih dipegang teguh dan lebih mudah untuk menegakkan lebih padat yang jaringan sosial. 2.1.1 Karir Leon Festinger Festinger meraih gelar Bachelor of Science dari City College of New York pada tahun 1939, dan mulai untuk menerima Master dari University of Iowa di tahun 1942, di mana ia belajar dengan Kurt Lewin, yang lain pelopor dalam psikologi sosial. Selama karirnya, Festinger adalah seorang anggota fakultas di University of Iowa, University of Rochester, Massachusetts Institute of Technology (MIT), University of Minnesota, University of Michigan, Universitas Stanford, dan New School for Social Penelitian. Pada tahun 1955, Festinger pindah ke Universitas Stanford. Akhirnya, pada tahun 1968 ia menjadi Profesor Psikologi di New School for Social Research di New York (kursi diberkahi oleh Hermann Staudinger). Dia menikah lagi pada tahun berikutnya kepada Trudy Bradley, seorang Profesor di Universitas New York Sekolah Pekerjaan Sosial. Kontribusi Festinger untuk psikologi sosial yang begitu besar yang pada tahun 1959 American Psychological Association memberinya penghargaan "Distinguished Kontribusi Ilmiah". Untuk Festinger adalah psikologi sosial sebagai Freud untuk psikologi klinis contoh dari disonansi kognitif.

2.2 Teori Disonansi Kognitif Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah (http://id.wikipedia.org/wiki/Teori). Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidang pengetahuan yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta Menurut Djoko Adiwalujo (http://filsafatilmu.blogspot.com/2008/01 /hubunganteori-fakta.html) pengertian teori adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala social maupun natura yang dijadikan pencermatan. Teori merupakan abstarksi dari pengertian atau hubungan dari proposisi atau dalil. Menurut Kerlinger [1973] teori dinyatakan sebagai sebuah set dari proposisi yang mengandung suatu pandangan sistematis dari fenomena. Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mencermati lebih jauh mengenai teori, yakni : Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri dari konstrak [construct] yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut secara jelas Teori menjelaskan hubungan antar variable atau antar konstrak sehingga pandangan yang sistematik dari fenomena fenomena yang diterangkan oleh variable dengan jelas kelihatan Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasi variable satu berhubungan dengan variable yang lain.

2.2.1 Definisi Disonansi Adanya keterkaiatan antara elemen-elemen kognitif yang saling

berhubungan (Relation). Element adalah kognisi yaitu hal-hal yang diketahui seseorang tentang dirinya sendiri, tingkah lakunya dan lingkungannya. Istilah kognisi adalah untuk menunjukan pada setiap pengetahuan, pendapat, keyakinan, atau perasaan seseorangtentang dirinya sendiri atau tentang lingkungannya. Faktor yang paling menentukan terhadap element kognitif adalah kenyataan (realitas), elemen kognitif sendiri berhubungan dengan hal-hal yang nyata yang ada dilingkungan dan hal-hal yang terdapat dalam dunia kejiwaan seseorang, hubungan tersebut dibedakan dalam 3 jenis yaitu, tidak relevan, disonan, dan konsonan. Hubungan yang tidak relevan misalnya, orang memgetahui bahwa setiap musim hujan jakarta kebanjiran dan ia pun mngetahui bahwa indicina tentang vietnam masuk ke wilayah Kamboja. Kedua pengetahuan tersebut saling berkaitan dan tidak saling mempengaruhi karenanya disebut tidak relevan. Hubungan dua elemen kognitif yang saling terkait dan saling mempengaruhi disebut hubungan relevan, yaitu hubungan yang disonan dan hobungan yang konsosnan. Disonansi didefinisikan sebagai berikut : dua elemen dikatakan ada dalam hubungan yang disonan jika (dengan hanya memperhatikan kedua elemen itu saja) terjadi suatu penyangkalan dari suatu elemen yang diikuti oleh atau mengikuti sesuatu elemen yang lain. Contoh, jika seseorang berdiri dibawah hujan, seharusnya ia kebasahan akan tetapi ; kalau orang yang berdiri dihujan (satu lelemen) tidak basah (pengangkatan elemn kedua), maka terjadilah hibungan disonan. Konotasi adalah keadaan dimana terjadi hubungan yang relevan antara dua elemen dan hubungn itu tidak disonan. Jadi satu elemen kognisi diikuti oleh elemen yang lain. Misalnya, orang berdiri dihujan (elemen pertama) dan basah (elemen kedua). Akan tetapi adanya penyangkalan elemen tidak selalu jelas. Dalam keadaan ini maka anatara konsosnan dan disonan juga tidak dapat dibedakan dengan tajam. Faktor-faktor motivasi dan keinginan juga berpengaruh di sini sehingga menambah rumitnya persoalan. Misalnya seseorang berjudi terus walaupun terus

kalah melawan penjudi profesional. Perbuatan orang itu disonan dengan pengatahuannya tentang lawan yang profesional. Namun, kalau memang ingin berjudi sampai habis seluruh uangnya,maka bagi orang tersebut hubungan elemen-elemen diatas adalah konsosnan. Menurut Festinger disonansi dapat terjadi dari beberapa sumber berikut : Inkonsistesnsi logis Contoh, keyakinan bahwa air membeku pada 00C, secara logis tidak konsisten dengan keyakinan bahwa es balok tidak akan mencair pada 400C. Nilai-nilai budaya (Culture mores), kebudayaan seringkali menentukan apa yang disonan dan konsonan. Contoh, makan dengan tangan di pesta resmi di Eropa menimbulkan disonansi tetapi makan dengan tangan diwarung di Jakarta dirasakan sebagai Konsonan. Pendapat umum, disonanasi dapat terjadi karena suatu pendapat yang dianut orang banyak dipaksakan pada pendapat individu. Misalnya : seorang remaja yang menyanyi lagu keroncong. Hal ini menumbulkan dosonansi karena pendapat umum percaya bahwa keroncong hanya merupakan kegemaran orang-orang tua. Pengalaman masa lalu Contoh, berdiri di bawah hujan, tetapi tidak basah. Keadaan ini disonan karena tidak sesuai dengan pengalaman masa lalu. 2.2.2 Inti Teori Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Teori disonasi kognif dari Leon Festinger (1957) tidak jauh berbeda dari teori-teori konsistensi kognitif lainnya, tetapi ada dua perbedaan yang perlu dicatat berikut ini : 1.Teori ini berisi tetang tinggah laku umum, jadi tidak khusus tntang tingkah laku sosial 2.Walaupun demikian, pengaruhnya terhadap penelitian penelitian psikologi

sosial jauh lebih mencolok daripada teori teori konsistensi yang lain. Inti dari teori disonasi kognitif yaitu, antara elemen-elemen kognitif mungkin terjadi hubungan disonansi yang tidak pas (nonfiiting relation) yang menimbulakan (kejanggalan) kognitif; disonansi kognitif

menumbulakan desakan untuk mengurangi disonansi tersebut dan menghindari peningkatannya; hasil dari desakan itu terwujud dalam perubahan pada kognisi, perubahan tingkah laku, dan mengahadapakn diri pada beberapa informasi dan pendapat-pendapat baru yang sudah diseleksi terlebih dahulu. Walaupun demikian, penguraian dari teori ini sangat jauh dari sederhana. 2.2.2 Ukuran Disonansi Adanya perbedaan kadar yang pada hubungan disonan, maka festinger mengatakan perlunya mengetahui faktor-faktor yang menentukan kadar disonansi itu, antara lain : Tingkat kepentingan elemen-elemen yang saling berhubungan itu bagi bagi orang yang bersangkutan. Elemen itu kurang penting artinya makan tidak banyak disonansi yang akan timbul Dan sebaliknya jika kedua element itu sangat penting artinya, maka disonansi yang akan tinggi pula. Akan tetapi tidak pernah ada hubungan meskipun dalam kenyataannya yang melibatkan element element. Masing- masing element yang dua itu dihubungkan juga dengan element element lain yang relevan. Sebagai hubungan hubungan yang ini konsonan, sedangkan sebagian lainnnya disonan. Menurut festinger hampir-hampir tidak pernah terjadi tidak pernah disonansi sama sekali dalam hubungan yang terjadi anatar sekelompok element. Oleh kerena itu, kadar disonanasi dalam dua element dipengaruhi juga oleh jumlah disonanti yang yang ditimbulkan oleh keseluruhan hubungan kedua element itu dengan elemet element lain yang relevan, festingersendiri tidak menunjukan bagaimana cara yang relevan untuk menunjukan bagaimana cara menetapkan kadar kepentingan dan relevansinya

Tindak disonansi maksimum adala sama dengan jumlah daya tolak element yang paling lemah. Jika disonansi maksimum tercapai, maka elemet yang lemah itu akan berubah dan disonansi akan berkurang. Tentu saja akan ada kemungkunan bahwa perubahan elemet yang lemah itu akan menambah disonansi pada hubungan yang lain dalam kumpulan elemen kognitif bersangkutan. Dalam hal ini maka perubahan pada elemet yang lemah tersebut tidak terjadi. Konsekuensi konsekuensi disonansi : Pengurangan disonanasi dapat melalui tiga kemungkinan : Mengubah elemen tingkah laku Mengubah elemen kognitif lingkungan Menambah elemen kognitif baru Menghindari disonansi Adanya disonansi selalumenimbulkan dorongan untuk menghindari disnonanasi tersebut. Dalam hubungan ini caranya adalah dengan menambah informasi baru yang diharapakan dapat menambah dukungan terhadap pendapat orang yang bersangkutan atau menambah perbendaharaan element kognitif dalam diri orang yang bersangkutan. Penambahan element baru ini harus sangat selektif, yaitu hanya mencarinya pada orang orang yang diperkirakan dapat memberi dukungan dan menghindari orang-orang yang pandangannya berbeda. Demikian cara menghindari disonansi. 2.2.3 Dampak Teori Teori yang disampaikan oleh Festinger memiliki pengeruh dalam beberapa segi kehidupan sehari-hari damapak teori tersebut antara lain : Dalam membuat keputusan : keputusan dibuat berdasarkan suatu situasi konflik alternatif-alternatif dalam situasi konflik itu bisa semua positif, bias juga semua negatif atau bahakan positif dan negatif, dalam ketiga situasi tersebut keputusan apapun yang akan diambil akan menimbulkan sebuah disonansi dari pilahan yang tidak terpilih. Kadar disonansi setelah pembuatan keputusan ada atau tidak daya tarik alternatif tergantung pada pentingnya keputusan itu

dan daya tarik altertatif

yang tidak terpilih mengenai sebuah keputusan

biasanya terjadi hal-hal berikut : Akan terjadi peningkatan pencarian informasi baru yang menghasilkan elemen kognisi yang mendukung (konsonan dengan) keputusan yang sudah dibuat Akan timbul keprcayaan yang semakin mantap mengenai keputisan yang telah dibuat atau timbul pandangan yang semakin tegas membedakan kemenarikan alternatif yang yelah diputuskan dari pada alternatifalternatif lainnya. Atau bisa juga dua kemungkinan itu terjadi bersamasama. Semakin sulit untuk mengubah arah keputusan yang sudah dibuat, terutama pada keputusan yang sudah mengurangi banyak disonansi. Paksakan untuk mengalah dalam situasi-situasi publik (ditengah banyak orang), seseorang dapat dipaksa untuk melakukan sesuatu (dengan ancaman hukuman ataupun menjanjikan hadiah) kalau perbuatan itu tidak sesuai dengan kehendak (sebagai pribadi), maka timbul didsonansi. Kadar disonansi tergentung kepada basarnya ancaman hukuman atau ganjaran yang akan diterima. Ekspose pada informasi-informasi. Disonansi akan mendorong pencarianpencarian disonansi baru. Kalau disonansi hanya sedikit atau tidak ada sama sekali, maka usaha mencari informasi baru juga tidak ada. Kalau kadar disonansi berada pada taraf menengadah (tidak rendah dan tidak tinggi), maka usaha pencarian informasi baru akan mencapai taraf maksimal. Dalam hal ini orang yang bersangkutan akan dihadapkan (ekspose) pada sejumlah besar informasi baru, namun kalau kadar disonansi maksimal, justru usaha mencari informasi baru akan sangat berkurang karena pada tahap ini akan terjadi perubahan elemen kognitif. Dukungan sosial jika seseorang A, mengatahui bahwa pendapatnya berbeda dari rang ain maka timbullah apa yang disebut kekuarangan dukungan sosial (lack of social support) kekurangan dukunagn sosial ini menimbulkan disonanasi pada A yang kadarnya ditetapkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut :

Ada tidaknya objek

(elemen kognitif

nonsosial) yang menjadi sasaran

pendapat orang lain itu, disekitar A; Banyaknay orang yang dikenal A yang berpendapat sama dengan A Pentingnya elemen yang bersangkutan bagi A Relevansi orang-orang lain tersebut bagi A Menarik tidaknya orang yang tidak setujutersebut bagi A Tingkat perbedaan pendapat. 2.2.4 Cara-cara Mengurangi Disonansi Ada beberapa cara yang apat digunakan untuk mengurangi disonansi seperti ini adalah sebagai berikut : Mengubah pendapat sendiri Mempengaruhi orang yang tidak setuju agar tidak mengubah pendapat mereka Membuat mereka yang tidak setuju sebanding dengan dirinya sendiri 2.3 Penerapan Teori Disinansi Kognitif dalam Pembelajaran Teori dosonansi ini, dapat diimplementasikan pada dunia pendidikan dengan memberikan pemecahan berbagai masalah yang terjadi pada kegiatan belajar atau masalah yang berhubungan dengan sekolah dan siswa. Karena menurut (Safaduloh Uyoh, 1994:75) masalah masalah pendidikan tidak hanya mneyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Di dalam tatanan pendidikan, teori disonan kognitif sering berlaku pada saat siswa menerima umpan balik yang tidak menyenangkan atas kinerja akademik mereka. Sebagai misal, Toto biasanya mendapatkan nilai bagus tetapi kali ini mendapatkan nilai 50 untuk kuis tertentu. Nilai ini tidak konsisten dengan gambaran dirinya sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Untuk mengatasi ketidaknyamanan ini, Toto dapat memutuskan untuk belajar lebih giat lagi untuk meyakinkan bahwa lain kali ia tidak akan mendapatkan nilai yang rendah lagi. Di lain pihak ia bisa saja mencoba membenarkan nilai rendah itu dengan berbagai alasan: Pertanyaan-pertanyaan kuisnya mengandung jebakan. Saya tidak sedang merasa sehat. Guru tidak

memberi tahu terlebih dahulu akan adanya kuis. Saya tidak sungguh-sungguh mengerjakannya. Udaranya terlalu panas, dan berbagai alasan lainnya. Alasan ini akan membantu Toto mempertanggungjawabkan nilai 50 itu. Bila ia kemudian masih mendapatkan sederet nilai jelek lainnya, mungkin ia akan berkilah bahwa ia tidak pernah mengerjakan kuis mata pelajaran ini sejelek ini, atau guru itu pilih kasih pada anak laki-laki, atau guru itu pelit memberi nilai. Semua perubahan dalam pendapat dan alasan ini diarahkan untuk menghindari suatu pasangan situasi tidak konsisten dan tidak enak, yaitu: Saya adalah siswa yang baik dan Saya berbuat jelek di kelas, ini merupakan kesalahan saya sendiri. 2.4 Kelebihan dan Kekurangan Teori Disinansi Kognitif Dalam setiap teori memiliki kekurangan da kelebihan demikian pula dengan teori disonansi ini,memiliki keunggulan dan kekurangannya yang antara lain adalah sebagai berikut: Kelebihan Teori disonansi kognitif memberikan kontribusi yang sangat besar pada pemahaman kita akan kognisi dan hubungan dengan perilaku. Teori Festinger tidak hanya merupakan salah satu teori konsistensi yang amat penting, tetapi juga merupakan salah satu teori yang signifikan dalam psikologi social Kekurangan Disonansi bukan merupakan konsep paling penting untuk menjelaskan perubahan sikap. Dan teori disonansi kognitif tidak cukup jelas mengenai kondisi-kondisi di mana disonansi menuntun pada perubahan sikap. BAB III KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari malakah ini adalah : Dalam dunia pendidikan kan muncul berbagai masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam serta serta yang lebih kompleks yang tidak terbatasi oleh pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan. Banyaknya masalah yang timbul

menjadikan kita berfikir hal apa atau solusi dengan apa yang bisa memecahkan masalah yang dihadapi. Timbulnya teori dosonansi kognitif yang diupayakan dapat memecahkan maslah yang timbul pada lingkungan pendidikan di sekolah. Karena masalah seperti halnya terjadi ketidak sesuaian antara perasaan dengan apa yang dilakukan .

DAFTAR PUSTAKA SUMBER BUKU Hasbullah. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Saduloh, U. (1994). Pengantar Filsafat pendidikan. Bandung. Media IPTEK Bandung. Sarwono, W. (2010). Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta. Rajawali Perss

Sumber Internet
Adiwalujo, D. (2008). Filsafat Ilmu. [Online], tersedia http://filsafatilmu .blogspot.com/2008/01 /hubungan-teori-fakta.html. [17 september

2011]
Wikipedia. (2011). Teori. [Online]. Tersedia http://id.wikipedia.org/wiki/Teori

[18 september 2011]

TEORI DISONANSI KOGNITIF


Diajukan sebaia salah satu tugas mata kuliah Landasan Filosofis Pendidikan dan Teori Pendidikan

Oleh : Weny Widyawati Bastaman Nim : 1103438

PRODI PENDIDIKAN SEJARAH SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA