Anda di halaman 1dari 16

ANALISA AKTA PENDIRIAN PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA TERHADAP UU No.

40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

RENHARD 0906627530 KELAS A

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA 2011


Analisis Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT LUMBUNG

BERKAT SEJAHTERA dengan Berdasarkan Prosedur Pada Ketentuam Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Pendirian Perusahaan Perusahaan ini didirikan oleh 3 orang yaitu Tuan A, Nyonya B, Nyonya C dan Nyonya D Dalam akta pendirian tersebutkan beberapa hal terkait masingmasing orang yaitu mengenai : tempat tanggal lahir, tempat tinggal kartu tanda penduduk hal ini menyatakan bahwa para pendiri (tuan a,b,c) adalah warga negara Indonesia. Dikaitkan dengan pengaturan pasal 8 UUPT ayat (1) yang menyatakan akta pendirian memuat anggaran dasar dan keterangan lain. Dijelaskan pula dalam pasal ayat (2) UUPT yaitu keterangan lain memuat mengenai : 1. Keterangan terkait : nama lengkap tempat dan tanggal lahir pekerjaan tempat tinggal kewarganegaraan pendiri perseorangan, atau nama, tempat kedudukan dan alamat lengkap serta nomor dan tanggal Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum dan pendiri perseroan, Dalam akta pendirian hanya menyebutkan mengenai identitas dan kewarganegaraan perseroan. 2. Keterangan terkait : nama lengkap tempat dan tanggal lahir pekerjaan pendiri PT namun, tidak menyebutkan tanggal keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum dan pendiri

tempat tinggal kewarganegaraan anggota direksi dan dewan komisaris yang pertama kali diangkat,

Dalam akta pendirian ini disebutkan dalam bagian akhir dari akta pendirian ini mengenai direksi yang pertama kali diangkat namun, tidak menyebutkan identitas diri dari direksi tersebut hanya menyebutkan namanya saja, begitu pula dengan komisarisnya hanya menyebutkan namanya saja tanpa identitas yang jelas. 3. Keterangan terkait : nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham rincian, jumlah saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor, Dalam akta pendirian PT ini disebutkan para pendiri dijelaskan menghadap sendiri kepada notaris (tanpa diwakili oleh kuasa). Mengenai Nama dan Tempat Kedudukan PT Disebutkan dalam pasal 1 bahwa nama dari PT ini adalah PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA yang bertempat kedudukan di kota Tangerang Selatan dan disebutkan mengenai klausul bahwa PT ini dapat membuka kantor cabang atau kantor perwakilan, baik di dalam maupun diluar wilayah Republik Indonesia dengan penetapan direksi dan dengan persetujuan dewan komisaris. Jika memperhatikan pengaturan pada pasal 16 UUPT pada ayat (1) nama PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA tidak bertentangan dengan pasal 16 ayat (1) UUPT dan sesuai dengan pengaturan pada pasal 16 ayat (2) UUPT yaitu Nama perseroan didahului dengan frase Perseroan Terbatas atau PT sedangkan melihat mengenai Pengaturan UUPT mengenai tempat kedudukan dalam akta pendirian tidak dijelaskan secara rinci dimana tempat kedudukan yang pada pasal 17 ayat (2) UUPT juga sebagai kantor pusat dari perseroan, namun hanya menyebutkan tempatnya berkedudukan di kota Tangerang Selatan. Mengenai Jangka Waktu berdirinya PT Dalam anggaran dasar dikatakan bahwa perseroan didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas hal tersebut jika melihat pengaturan pada pasal 6

UUPT diperbolehkan yaitu jangka waktu dapat berupa waktu yang terbatas maupun tidak terbatas.

Mengenai Maksud dan Tujuan serta Kegiatan Usaha Dalam akta pendirian PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA , dalam pasal 3 ayat (1) dijelaskan bahwa maksud dan tujuan perseroan adalah berusaha dalam bidang perdagangan, perindustrian, perbengkelan, percetakan, pertanian, peternakan, pengangkutan darat, perikanan, jasa dan konsultasi. Dalam ayat (2) perseroan (dalam hal dijelaskan bahwa PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA ini PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA) dapat dalam mencapai maksud dan tujuan yang disebutkan dalam ayat (1) tersebut melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut yaitu : 1. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang pembangunan, 2. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang perdagangan 3. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang industri 4. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang pengangkutan darat 5. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang perbengkelan 6. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang percetakan 7. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang pertanian 8. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang jasa 9. menjalankan kegiatan usaha dalam bidang konsultasi manajemen Memperhatikan aturan dalam pasal 2 UUPT dapat diketahui bahwa maksud dan tujuan dari didirikannya PT ini tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku serta ketertiban umum, dan kesusilaan. Mengenai Modal Disebutkan bahwa Modal dasar perseroan ini berjumlah 400 juta rupiah yang dibagi atas 400 saham dengan nilai masing-masing nominal 1 juta rupiah. Jika melihat Pasal 32 ayat (1) UUPT yang menyebutkan bahwa Modal dasar Perseroan paling sedikit sebesar 50 juta rupiah maka Pengaturan mengenai modal dari PT ini tidak menyalahi aturan pasal ini. Dalam Pasal 4 ayat 2 Akta Pendirian disebutkan bahwa dari modal dasar

yang disebutkan dalam ayat (1) Tersebut telah disetor dan ditempatkan sebesar 25% sehingga memperhatikan ketentuan Pasal 33UUPT hal ini tidak menyalahi Peraturan yang berlaku. Kemudian selanjutnya dalam pasal 4 ayat (3) dituliskan klausul mengenai saham yang masih dalam simpanan akan dikeluarkan oleh perseroan menurut keperluan modal perseroandengan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham. Dan dalam pasal ini diadakan klausul jangka waktu 14 hari penawaran jika ada saham sisa yang belum diambil maka akan ditawarkan ke pihak ketiga. Mengenai Saham Disebutkan dalam pasal 5 dalam anggaran dasar yaitu klausul sebagai berikut : 1. Semua saham yang dikeluarkan oleh Perseroan adalah saham atas nama, klausul saham yang dikeluarkan dalam Akta pendirian ini sesuai dengan pengaturan dalam Pasal 48 ayat (1) UUPT. 2. Dalam ayat (2) ini disebutkan mengenai siapa yang berhak memiliki saham perseroan dan merujuk pada pengaturan Pasal 48 ayat (2) UUPT maka persyaratan kepemilikan saham yang ditetapkan dalam anggaran dasar terpenuhi. 3. Menjelaskan mengenai bukti pemilikan saham yang berupa surat saham, dalam Pengaturan pasal 51 UUPT disebutkan bahwa pemegang saham harus diberi bukti pemilikan saham yang dimilikinya, dan hal tersebut dirinci lagi dalam penjelasan pasal 51 UUPT bahwa persyaratan mengenai bukti kepemilikan saham ini ditetapkan sesuai dengan kebutuhan PT yang bersangkutan, sehingga dalam hal ini Pengaturan mengenai bukti pemilikan saham ini tidak menyalahi aturan yang ada. 4. Bukti pemilikan Saham, 5. Mengatur mengenai pemilikan saham dan sesuai peraturan pasal 51 UUPT 6. Mengatur mengenai surat kolektif saham dengan pengaturan UUPT mengenai saham. 7. Mengenai surat saham yang harus dicantumkan nama dan alamat pemegang saham, nomor surat saham, nilai nominal saham, dan tanggal pengeluaran surat saham hal tersebut dikaitkan dengan UUPT tidak diatur lebih lanjut 8. Mengenai persyaratan surat kolektif saham yang dalam UUPT tidak diatur yang tidak berbenturan

lebih lanjut. 9. Mengenai tanggal pengeluaran surat kolektif saham yang dalam UUPT tidak diatur lebih lanjut. Mengenai Pengganti Surat Saham Dalam akta ini dijelaskan pada pasal 5 akta ini dalam UUPT tidak diatur lebih lanjut sehingga selama tidak dilarang dalam UUPT mengenai klausul saham dan tidak bertentangan dengan pasal 51 UUPT maka hal ini dianggap tidak bertentangan dengan UUPT. Mengenai Pemindahan Hak Atas Saham Dalam pasal 7 anggaran dasar dijelaskan hal-hal sebagai berikut : 1. Pemindahan hak atas saham harus berdasarkan akta pemindahan hak, hal ini sesuai dengan pengaturan pasal 56 ayat (1) UUPT. 2. Pemegang saham yang hendak memindahkan hak atas sahamnya harus menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham lai dengan menyebutkan harga serta persyaratan penjualan dan memberitahukan kepada direksi secara tertulis tentang penawaran tersebut. Hal ini sesuai dengan pengaturan pada pasal 57 dan pasal 58 UUPT yang mengharuskan pemegang saham penjual menawarkan terlebih dahulu saham tersebut kepada pemegang saham klasifikasi, namun dalam akta pendirian ini tidak dirinci kembali mengenai klasifikasi pemegang saham dengan klasifikasi tertentu seperti yang dimaksud dalam pasal 58 UUPT. 3. Adanya persetujuan dari pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan (Pasal 57 ayat (1) huruf c). 4. Pemindahan pemanggilan hak RUPS atas saham tidak diperkenankan hari selama hari RUPS, sampai dengan dilaksanakannnya

Mengenai hal ini tidak diatur lebih lanjut dalam UUPT. 5. Peristiwa hukum yang berakibat pada saham menjadi milik bukan WNI hal ini untuk tetap mempertahankan kondisi sebagaimana yang diyaratkan oleh pasal 5 ayat (2) dalam akta pendirian ini dan hal tersebut tidak diatur lebih lanjut dalam UUPT. Mengenai Rapat Umum Pemegang Saham Dalam pasal 8 dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut :

1. Jenis Rapat Umum Pemegang Saham yaitu RUPS Tahunan dan RUPS lainnya, hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 78 ayat (1) yang mensyaratkan RUPS terdiri dari RUPS tahunan dan RUPS lainnya. 2. Mengatur mengenai istilah RUPS itu sendiri. 3. Mengatur mengenai apa yang dilakukan dalam RUPS tahunan yaitu, penyampaian laporan tahunan oleh direksi laporan keuangan untuk mendapat pengesahan rapat (Sesuai dengan pengaturan pasal 78 ayat (3) UUPT) Ditetapkan penggunaan laba jika Perseroan mempunyai saldo laba yang positif, hal ini sesuai dengan pengaturan pasal 71 ayat (1) UUPT yang mensyaratkan penggunaan laba diputuskan oleh RUPS. 4. Mengatur mengenai persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan oleh RUPS tahunan yang dalam akta pendirian ini berarti memberikan kepada pelunasan anggota dan Direksi pembebasan dan Dewan tanggung Komisaris jawab atas sepenuhnya

pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan selama tahun buku yang lalu, sejauh tindakan tersebut tercermin dalam laporan tahunan dan laporan keuangan. Kemudian memperhatikan ketentuan dalam pasal 69 UUPT ayat (1) sejalan dengan apa yang dimaksud dalam anggaran dasar karena persetujuan laporan tahunan dalam akta pendirian tersebut dilakukan oleh RUPS. 5. Mengenai RUPS luar biasa yang dapat diselenggarakan sewaktu-waktu berdasarkan kebutuhan perseroan maka sesuai pasal 78 ayat (4) UUPT RUPS luar biasa ini termasuk ke dalam RUPS lainnya yang dimaksud dalam pengaturan pasal ini melihat kepada penjelasan pasal 78 ayat (4) UUPT. Mengenai Tempat, Pemanggilan dan Pimpinan RUPS dalam pasal 9 akta Pendirian perseroan dijelaskan mengenai hal-hal sebagai berikut : 1. Mengenai tempat diadakannya RUPS yaitu di tempat kedudukan perseroan, menurut Pasal 76 UUPT RUPS diadakan di tempat kedudukan Perseroan atau di tempat Perseroan melakukan kegiatan usahanya yang utama sebagaimana ditentukan dalam anggaran

dasar, melihat hal tersebut dapat disimpulkan pengaturan dalam pasal 9 ayat (1) ini tidak menyalahi aturan dalam pasal 76 UUPT. 2. Mengenai penyelenggaraan RUPS dalam hal pemanggilan kepada para pemegang saham yaitu dengan surat tercatat dan/atau dengan iklan dalam surat kabar, dikaitkan dengan Pasal 82 ayat (2) UUPT yang sama dengan apa yang dimaksud dalam akta pendirian maka dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Pengaturan dalam akta pendirian mengikuti pengaturan yang ada dalam UUPT. 3. Mengenai waktu pemanggilan yang ditetapkan paling lambat 14 hari sebelum hari RUPS diadakan dengan tidak memperhitungkan tanggal pemanggilan dan tanggal RUPS diadakan, Pasal 82 ayat (1) UUPT pengaturan pada UUPT sesuai dengan apa yang diatur dalam Akta Pendirian, 4. Mengenai pimpinan RUPS yaitu Direktur Utama, dan jika tidak dapat dipimpin oleh direktur utama alternatifnya RUPS dipimpin oleh Komisaris utama atau Presiden Komisaris yang mana pilihan tersebut harus dipilih salah satu, melihat dengan pengaturan pasal 80 ayat (3) huruf a yang menyatakan bahwa Bentuk RUPS, mata acara RUPS sesuai dengan permohonan pemegang saham, jamgka waktu, pemanggilan RUPS, kuorum kehadiran, dan atau ketentuan tentang persyaratan pengambilan Keputusan RUPS, serta penunjukan ketua rapat, sesuai dengan atau tanpa terikat pada ketentuan undangundang ini atau anggaran dasar maka dalam hal ini Pengaturan pasal 80 ayat (3) huruf a memberikan atribusi kepada anggaran dasar perusahaan untuk mengatur mengenai hal tersebut, jadi apa yang diatur dalam Pasal 9 ayat (4) ini sesuai dengan ketentuan UUPT. 5. Mengenai pengaturan apabila Direktur utama tidak ada atau berhalangan karena sebab apapun yang tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga RUPS dipimpin oleh wakil direktur utama, melihat pasal 80 ayat (3) huruf a yang menyatakan bahwa bentuk RUPS, mata acara RUPS sesuai dengan permohonan pemegang saham, jangka waktu, pemanggilan RUPS, kuorum kehadiran, dan atau ketentuan tentang persyaratan pengambilan Keputusan RUPS, serta penunjukan ketua rapat, sesuai dengan atau tanpa terikat pada ketentuan undangundang ini atau anggaran dasar maka dalam hal ini Pengaturan pasal

80 ayat (3) huruf a memberikan atribusi kepada anggaran dasar perusahaan untuk mengatur mengenai hal tersebut, jadi apa yang diatur dalam Pasal 9 ayat (5) ini sesuai dengan ketentuan UUPT. 6. Mengenai pengaturan jika terdapat keadaan semua direktur tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun yang tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, RUPS dipimpin oleh salah seorang anggota dewan komisaris. 7. Mengenai pengaturan apabila terjadi keadaan semua dewan komisaris tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun yang tidak perlu dibutikan kepada pihak ketiga, RUPS dipimpin oleh seorang yang dipilih oleh dan diantara mereka yang hadir dalam rapat. Mengenai pengaturan Pasal 9 ayat (6) dan (7), dari anggaran dasar pada akta pendirian perseroan maka padat dikaitkan dengan pengaturan pasal 80 ayat (3) huruf a yang menyatakan bahwa Bentuk RUPS, mata acara RUPS sesuai dengan permohonan pemegang saham, jamgka waktu, pemanggilan RUPS, kuorum kehadiran, dan atau ketentuan tentang persyaratan pengambilan Keputusan RUPS, serta penunjukan ketua rapat, sesuai dengan atau tanpa terikat pada ketentuan undang-undang ini atau anggaran dasar maka dalam hal ini Pengaturan pasal 80 ayat (3) huruf a memberikan atribusi kepada anggaran dasar perusahaan untuk mengatur mengenai hal tersebut, jadi apa yang diatur dalam Pasal 9 ayat (6), dan (7) ini sesuai dengan ketentuan UUPT. Mengenai Kuorum, Hak suara, dan Keputusan RUPS Dalam anggaran dasar mengatur mengenai hal-hal sebagai berikut yaitu : 1. Mengenai Kuorum kehadiran agar RUPS dapat dilaksanakan Pasal 10 ayat (1) ini menyatakan mengikuti apa yang diatur dalam UUPT dalam hal ini mengikuti pengaturan pasal 86, 88, dan 89 UUPT. 2. Mengenai pemungutan suara yang menyangkut keputusan yang diambil melalui pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan secara tertutup yang tidak ditandatangani dan mengenai hal lan secara lisan, kecuali apabila ketua RUPS menentukan lain tanpa ada keberatan dri pemegang saham yang hadir dalam RUPS. Pasal 87 ayat (2) yang menyatakan dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan adalah sah jika

disetujui lebih dari bagian dan jumlah suara yang dikeluarkan kecuali Undang-undang dan/atau anggaran dasar menentukan bahwa keputusan adalah sah jika disetujui oleh jumlah suara setuju yang lebih besar, maka dalam hal mengenai pemungutan suara yang menyangkut keputusan yang diambil melalui pemungutan suara mengenai diri orang, diatur sedemikian dalam anggaran dasar namun dalam UUPT tidak ada yang megatur secara spesifik dan yang dapat dikaitkan dengan pasal 10 ayat (2) ini adalah pengaturan pasal 87 ayat (2) UUPT maka dalam hal ini ketentuan ini (dalam anggaran dasar pasal 10 ayat (2)) menyimpangi ketentuan pasal 87 ayat (2) UUPT. 3. Mengenai Suara blanko atau suara yang tidak sah dianggap tidak ada dan tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan dalam RUPS dalam hal ini tidak ditemukan pengaturan menganai suara yang tidak sah atau suara blanko dalam UUPT maka dalam hal ini dianggap pengaturan pasal 10 ayat (3) tidk menyimpangi UUPT 4. mengenai pengambilan keputusan RUPS yang berdasarkan keputusan musyawarah mufakat atau berdasarkan suara setuju dari jumlah suara yang dikeluarkan dalam RUPS sebagaimana ditentukan dalam undang-undang dalam hal ini dapat dikaitka dengan pengaturan pasal 87 ayat (2) yang menyatakan dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, maka keputusan adalah sah jika disetujui lebih dari bagian dan jumlah suara yang dikeluarkan kecuali Undang-undang dan/atau anggaran dasar menentukan bahwa keputusan adalah sah jika disetujui oleh jumlah suara setuju yang lebih besar. dalam hal ini pengaturan pasal 10 ayat (4) tidak menyimpangi ketentuan perundangan yang berlaku dalam hal ini pasal 87 ayat (2) Mengenai Direksi Dalam Pasal 11 Anggaran Dasar diatur mengenai hal-hal sebagai berikut : 1. Mengenai Perseroan yang diurus dan dipimpin oleh Direksi yang terdiri dari 1 (satu) anggota atau lebih, dikaitkan dengan pengaturan dalam Pasal 92 ayat (3) UUPT mengatur persis dengan aturan yang terdapat dalam anggaran dasar pasal 11 ayat (1) maka dalam hal ini dapat

disimpulkan bahwa pasal 11 ayat (1) anggaran dasar sesuai dengan pengaturan yang aada dalam UUPT. 2. Mengenai keadaan jika diangkat lebih dari seorang direktur, maka seorang diantaranya dapat diangat sebagai Direktur Utama dikaitkan dengan pengaturan dalam Pasal 92 ayat (5) keadaan dalam hal direksi terdiri dari 2 anggota direksi atau lebih, pembagian tugas dan wewenang pengurusan di antara direksi ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS, maka dalam hal ini pengatura pasal 11 ayat (2) anggaran dasar perseroan mengatur berbeda dengan pengaturan pasal 92 ayat (5) UUPT. 3. Mengenai jangka waktu selama 5 tahun sebagai anggota direksi yang diangkat oleh RUPS dengan tidak mengurangi hak RUPS untuk memberhentikannya sewaktu-waktu. dikaitkan dengan pengaturan pasal 94 ayat (1) dan (3) pengaturan dalam UUPT pasal 94 ayat (3) hanya menyatakan anggota direksi diangkat untuk jangka waktu tertentu, tidak spesifik meyebutkan berapa lama waktu direksi tersebut menjabat, jadi dalam hal ini pasal 11 ayat (3) tidak menyimpangi pengaturan dalam UUPT pasal 94 ayat (3) 4. Mengenai pengaturan apabila ketika suatu keadaan anggota dreksi lowong, maka dalam jangka waktu 30 hari sejak terjadi lowongan harus diselenggarakan memperhatikan anggaran dasar. 5. Mengenai keadaan apabila semua jabatan anggota direksi lowong, untuk sementara Perseroan diurus oleh anggota dewan komisaris yang ditunjuk oleh rapat Dewan Komisaris. 6. Mengenai anggota direksi yang memiliki hak mengundurkan diri dari jabatannya dengan memberitahukan secara tertulis kepada Perseroan paling kurang 30 hari sebelum tanggal pengunduran dirinya 7. Mengenai berakhirnya jabatan anggota direksi. Dalam pasal 11 ayat (4),(5),(6), dan (7) jika dikaitkan dengan ketentuan pasal 107 UUPT hal-hal mengenai tata cara pengunduran diri anggota direksi, tata cara pengisian jabatan anggota direksi yang lowong, dan pihak yang berwenang menjalankan pengurusan dan mewakili perseroan dalam hal seluruh anggota direksi berhalangan atau diberhentikan untuk sementara pasal RUPS untuk mengisi lowongan itu dengan dan ketentuan pengaturan perundang-undangan

ini memberikan atribusi kewenangan pada anggaran dasar untuk mengatur mengenai hal-hal tersebut. Mengenai tugas dan wewenang direksi Dalam pasal 12 anggaran dasar perseroan diatur mengenai hal-hal sebagai berikut : 1. Mengenai direksi yang berhak mewakili perseroan didalam dan diluar pengadilan tentang segalaa hal dan dalam segaa kejadian, mengikat Perseroan dengan pihak lain dengan Perseroan, serta menjalankan segala tindakan, baik yang mengenai kepngurusan mapun kepemilikan, akan tetapi dengan pembatasan bahwa untuk : meminjam atau meminjamkan uang atas nama perseroan (tidak termasuk mengambil uang perseroan di bank) Mendirikan suatu usaha turut serta pada perusahaan lain baik di dalam maupun di luar negeri. harus dengan persetujuan dari Dewan Komisaris, 2. Mengenai wewenang dan hak direksi untuk mewakili perseroan dan berindak atas nama perseroan. Dalam pasal 107 UUPT disebutkan bahwa dalam anggaran dasar mengatur mengenai 1. Tata cara pengunduran diri anggota direksi, 2. Tata cara pengisian jabatan anggota direksi yang lowong, 3. Mengenai pengaturan pihak yang berwenang menjalankan pengurusan dan mewakili Perseroan dalam hal seluruh anggota direksi berhalangan atau diberhentikan untuk sementara. Dalam hal ini pasal 107 UUPT memberikan atribusi kewenangan pada anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA untuk mengatur hal-hal yang disebutkan tersebut, maka dengan memperhatikan hal tersebut apa yang diatur dalam pasal 12 anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA perseroan ini tidak bertentangan dengan UUPT. Mengenai Rapat Direksi Mengenai rapat Direksi tidak ada pengaturan khusus dalam UIUPT. UUPT hanya menyebutkan dalam Pasal 100 bahwa Direksi wajib membuat risalah rapat Direksi. Dalam anggran dasar ini diatur khusus mengenai teknis

penyelenggraaan rapat Direksi, hal ini tidak bertentangan dengan UU, karena dalam UUPT ditegaskan bahwa Direksi berwenang menjalankan pengurusan sesuai dengan kebijakan yang dianggap tepat dalam batas yang ditentukan dalam UUPT dan/atau anggran dasar, sehingga dalam hal ini anggaran dasar boleh mengatur mengenai teknis yang tidak diatur dalam UUPT.

Mengenai Dewan Komisaris Mengenai Dewan Komisaris dalam anggaran dasar ini telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dasar yang diatur pada Pasal 108-112 UUPT. Kemudian diatur lebih lanjut mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengangkatan, pemberhentian dan penggantian Dewan Komisaris dalam anggaran dasar ini pada Pasal 14 sebatas yang oleh UU diberbolehkan untuk diatur dalam anggaran dasar (Pasal 114 Ayat (4) UUPT).

Tugas dan Wewenang Komisaris Seperti yang diatur pada Pasal 108 UUPT, dalam anggaran dasar ini juga telah diatur mengenai tugas pengawasan dan wewenang memberikan nasihat oleh Dewan Komisaris kepada pengurus Perseroan. Lebih lanjut dalam anggaran dasar ini juga diatur mengenai hal-hal lainnya yang menyengkut tugas dan wewenang Dewan Komisaris yang tidak diatur khusus oleh UUPT.

Rapat Dewan Komisaris Tidak ada pengaturan khusus dalam UUPT mengenai rapat Dewan Komisaris kecuali hanya mengenai kewajiban membuat risalah rapatg dwan komisaris. Kemudian dalam anggaran dasar ini disebutkan bahwa ketentuan sebagaimana yang dimaksud dlaam Pasal 10 mutatis mutandis berlaku bagi rapat Dewan Komisaris. Mengenai Rencana Kerja, Tahun Buku, dan Laporan Tahunan

Dalam pasal 17 mengatur mengenai hal-hal sebagai berikut yaitu : 1. Pengaturan mengenai jangka waktu penyampaian rencana kerja oleh direksi yang memuat juga anggaran tahunan perseroan kepada dewan komisaris untuk mendapat persetujuan yang dalam pengaturan ini harus dilakukan sebelum tahun buku dimulai, dihubungkan dengan pasal 64 ayat (1) UUPT yang menyatakan rencana kerja disampaikan kepada dewan komisaris atau RUPS sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar, hal ini memberikan atribusi kewenangan pada anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA untuk mengatur mengenai hal tersebut. Sehingga dalam hal ini pengaturan dalam pasal 17 huruf a anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA tidak bertentangan dengan UUPT 2. Mengatur mengenai penyampaian rencana kerja yang harus disampaikan paling lambat 30 hari sebelum dimulainya tahun buku yang akan datang dihubungkan dengan kembali jika dihubungkan menyatakan dengan pasal rencana kerja 64 ayat (1) UUPT yang dewan disampaikan kepada

komisaris atau RUPS sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar, hal ini memberikan atribusi kewenangan pada anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA untuk mengatur mengenai hal tersebut. Sehingga dalam hal ini pengaturan dalam pasal 17 huruf b anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA tidak bertentangan dengan UUPT 3. Mengatur mengenai berjalannya tahun buku yaitu dari tanggal 1 januari sampai dengan tanggal 31 desember dan mengatur kapan tahun buku tersebut ditutup, mengenai berjalannya tahun buku ini tidak diatur dalam UUPT. 4. Mengenai direksi yang menyusun laporan tahunan dan menyediakannya di kantor Perseroan untuk dapat diperiksa oleh para pemegang saham trhitung sejak tanggal RUPS tahunan, dihubungkan dengan pengaturan pasal 66 ayat (1) yang menyatakan bahwa direksi menyampaikan laporan tahunan kepada RUPS setelah ditelaah oleh dewan komisaris dalam jangka waktu paling lambat 6 bulan setelah tahun buku

perseroan berakhir, maka dalam hal ini pasal 17 huruf d menyimpangi UUPT. 5. Mengenai Penggunaan Laba dan Pembagian Dividen Pada pasal 18 anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA yang mengatur hal-hal sebagai berikut : 1. Mengatur mengenai laba bersih perseroan dalam suatu tahun buku seperti yang tercantum dalam neraca dan perhitungan laba rugi yang telah disahkan yang oleh RUPS tahunan dan merupakan saldo laba yang positif, dibagi menurut cara penggunaannya ditentukan oleh RUPS tersebut, dihubungkan dengan pengaturan dalam Pasal 71 ayat (1) UUPT yang menyatakan bahwa penggunaan laba bersih termasuk anggaran penentuan dasar PT jumlah penyisihan BERKAT untuk cadangan tidak diputuskan dalam RUPS maka dalam hal ini pasal 18 ayat (1) LUMBUNG SEJAHTERA bertentangan dengan UUPT. 2. Mengatur mengenai klausul apabila dalam penghitungan laba rugi menunjukkan kerugian yang tidak dapat ditutup dengan dana cadangan, maka kerugian tersebut akan tetap dicatat dan dimasukkan dalam perhitungan laba rugi dan dalam perhitungan tahun buku selanjutnya perseroan dianggap tidak mendapat laba selama kerugian yang tercatat dan dimasukkan dalam perhitungan laba rugi itu belum sama sekali tertutup, UUPT tidak mengatur mengenai hal ini Mengenai Penggunaan Cadangan Pada anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA yang diatur dalam pasal 19 mengatur mengenai hal-hal berikut yaitu : 1. Mengatur mengenai besaran penyisihan sebesar 20 persen untuk cadangan dari jumlah modal ditempatkan dan disetor hanya boleh dipergunakan untuk menutup kerugian yang tidak dipenuhi oleh cadangan lain, dihubungkan dengan pengaturan pasal 70 ayat (3) UUPT yang menyatakan penyisihan cadangan sebesar 20

persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor dalam hal ini ketentuan dalam pasal 19 ayat (1) anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA sejalan dengan ketentuan dalam RUPS. 2. Mengatur mengenai klausul jika jumlah cadangan telah melebihi jumlah 20 persen RUPS dapat memutuskan agar jumlah kelebihannya digunakan bagi keperluan perseroan dalam UUPT tidak mengatur mengenai hal ini. 3. Mengatur mengenai penjelasan terhadap pasal 19 ayat (2) anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA yaitu mengenai penjelasan apabila tata cara penggunaaan dana cadangan belum ditentukan dalam RUPS maka dikelola oleh direksi dengan persetujuan dari dewan komisaris, dalam UUPT tidak diatur mengenai hal ini. Mengenai penjelasan apa yang kurang dalam anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA akan diputus dalam RUPS terdapat dalam pasal 20 Anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA.

Dari seluruh uraian isi anggaran dasar diatas maka dapat disimpulkan bahwa anggaran dasar PT LUMBUNG BERKAT SEJAHTERA telah memenuhi unsur-unsur sebagaimana yang diatur dalam Pasal 15 UUPT mengenai anggaran dasar. Lebih lanjut isi anggaran dasar tersebut juga telah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.