Anda di halaman 1dari 4

Sementara itu, terlihat pula bahwa Malaysia, Vietnam dan Thailand telah menjadi pesaing utama negara kita

terhadap beberapa komoditas perkebunan terutama kelapa sawit. Jika menengok kembali ke belakang, Vietnam dan Thailand ketiga negara tersebut beberapa tahun yang lalu belum diperhitungkan dalam kancah perdagangan komoditas perkebunan di pasaran dunia. Percepatan yang mereka raih sangat terkait dengan kebijakan pemerintah yang kondusif terhadap perkembangan komoditas perkebunan di negara-negara tersebut. Dari data dan uraian di depan nampak bahwa komoditas perkebunan sebagian adalah komoditas ekspor yang menyumbang terhadap penerimaan devisa. Dengan demikian, keragaannya sangat dipengaruhi oleh daya saing komoditas dan perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam negeri maupun pasar dunia. Pada umumnya, posisi produksi dan ekspor komoditas perkebunan Indonesia terhadap produksi dan pasar dunia cukup penting. Sebagai contoh, karet dan minyak sawit menduduki posisi produksi dan ekspor pada urutan ke 2, setelah Thailand dan Malaysia. Untuk komoditas kakao, posisi Indonesia juga berada pada peringkat 2 dunia di bidang produksi serta peringkat 3 untuk ekspor, serta untuk komoditas teh berada pada posisi ke 4 dunia baik produksi maupun ekspor Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor komoditas perkebunan disamping beberapa negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Sri Lanka, India, Brazil, Columbia, Pantai Gading dan Ghana. Dalam rangka mengembangkan perkebunan, beberapa negara pesaing tersebut tidak tertutup kemungkinan mempunyai kepentingan untuk melindungi petaninya dari persaingan dengan negara pengekspor lain. Perlindungan itu diwujudkan melalui berbagai kebijakan produksi, perdagangan, investasi, dan pengolahan terutama terkait dengan mutu, dari komoditas primer hingga produk hilir perkebunan. Pesaing utama Indonesia dalam komoditas karet yaitu Thailand memiliki kebijakan yang efektif dalam mendorong perkembangan komoditas karet. Program replanting yang diterapkan semenjak tahun 1980-an serta kebijakan buffer stock, membuat komoditas karet di Thailand diperkirakan berkembang pesat. Situasi ini menempatkan Thailand sebagai produsen terbesar dengan volume produksi sekitar 2,5 juta ton. Kebijakan tersebut diperkirakan akan masih dipertahankan sehingga daya saing karet Thailand diperkirakan masih cukup baik. Perkembangan Pasar Internasional Seiring dengan tumbuhnya perekonomian suatu negara, permintaan impor atas suatu barang, termasuk komoditas perkebunan mengalami peningkatan. Selain pasar baru, kenaikan harga bahan baku untuk menghasilkan komoditas pesaing komoditas perkebunan, seperti minyak bumi juga dapat meningkatkan permintaan pasar atas komoditas perkebunan. Kenaikan harga minyak dapat menjadi pemicu tumbuhnya pasar untuk karet alam, disamping produk lain (deterjen dan biodiesel) yang bahan bakunya dapat disubstitusi oleh produk turunan komoditas perkebunan. Peningkatan permintaan komoditas perkebunan pada umumnya berasal dari Cina, negaranegara Timur Tengah, India, dan Pakistan. Sebagai contoh, Cina dalam beberapa tahun terakhir dan ke depan cenderung mengalami peningkatan permintaan untuk komoditas perkebunan tertentu, seperti karet dan minyak sawit. India dan Pakistan menunjukkan trend kenaikan permintaan untuk minyak sawit. Sedangkan negara-negara Timur Tengah dan Uni Arab Emirat menunjukkan peningkatan permintaan untuk teh dengan kemasan yang relatif ringan, yaitu 25 50 kg. Beberapa negara lain, seperti Korea Selatan, Italia, Spanyol, dan Jerman juga cenderung mengalami peningkatan permintaan untuk minyak sawit. Perkembangan pasar internasional juga tidak terlepas dari pertumbuhan ekspor produk perkebunan. Pada beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekspor komoditas primer perkebunan Indonesia dan produk turunannya cenderung lebih rendah dari pertumbuhan ekspor dunia karena adanya kelemahan pada daya saing, diversifikasi produk dan distribusi pasar. Malaysia mempunyai

keunggulan daya saing, diversifikasi produk dan distribusi pasar untuk minyak sawit dan produk turunannya. Sedangkan Thailand, Ghana, Sri Lanka, Brazil secara berurutan masing-masing mempunyai keunggulan ketiga faktor tersebut untuk karet, kakao, teh dan kopi. Perkembangan pasar internasional menciptakan peluang sekaligus ancaman untuk menumbuhkan perkebunan. Dengan dukungan daya saing pada komoditas primer, perkembangan pasar ini berpotensi memacu pertumbuhan perkebunan. Hanya saja apabila dilihat dalam konteks pengembangan industri hilir perkebunan, maka perkembangan pasar ini menjadi ancaman bagi pertumbuhan perkebunan secara keseluruhan dalam jangka panjang. Dalam hal pembiayaan investasi ini, beberapa negara produsen komoditas perkebunan diketahui memberikan fasilitas-fasilitas baik berupa kredit program, (Thailand dan Vietnam), insentif fiskal berupa tax holiday dan berbagai bentuk keringanan pajak (Malaysia dan Thailand), dan penyediaan dukungan yang diperlukan investor baik berupa infrastruktur energi, transportasi dan komunikasi (Malaysia) maupun hak atas tanah seperti HGU hingga 100 tahun (Vietnam). Apabila dibandingkan dengan sistem dan usaha agribisnis perkebunan negara lain, seperti Malaysia dan Thailand, sistem dan usaha agribisnis perkebunan Indonesia pada dasarnya sudah cukup kuat. Malaysia hanya lebih kuat untuk sistem dan usaha agribinis kelapa sawit, sedangkan Thailand mempunyai keunggulan pada sistem dan usaha agribisnis perkebunan karet dan tebu. Secara keseluruhan sistem dan usaha agribisnis perkebunan Indonesia (tidak hanya kelapa sawit, karet dan tebu) dapat dikatakan cukup kuat. Upaya peremajaan atau perluasan areal oleh petani atau calon investor terkendala oleh masalah sumber pembiayaan investasi, akses, dan sistem pembiayaan komersial yang tidak sesuai dengan karakteristik perkebunan. Keberadaan lembaga keuangan perbankan di daerah masih belum menjangkau daerah perkebunan rakyat secara efektif. Apabila menjangkau, pengadaan dan penyaluran kredit menggunakan sistem komersial dan peruntukannya terbatas untuk modal kerja maksimal 5 tahun. Thailand dan Vietnam sangat gencar mengembangkan perkebunannya dengan kredit program; Tarif atau pajak impor komoditas perkebunan dan produk olahannya cenderung tidak melindungi produsen dan industri pengolahan nasional. Kebijakan harmonisasi tarif yang diharapkan oleh produsen (didalamnya termasuk petani) dan industri pengolahan tidak kunjung muncul. Malaysia dan Thailand sudah melaksanakan harmonisasi tarif impor komoditas perkebunan dan produk olahannya ; 5.2.1. Menjadi follower negara-negara pengekspor dalam investasi Strategi ini bertujuan agar Indonesia tidak tertinggal jauh dari sesama negara pengekspor karet (Malaysia dan Thailand) dalam investasi. Thailand dan Malaysia masing-masing dapat menjadi acuan untuk investasi di perkebunan karet dan industri barang jadi karet. Strategi ini memerlukan dukungan kebijakan Pemerintah dalam pendanaan investasi, yaitu memungut dana ekspor berupa cess dan insentif fiskal (perpajakan) untuk keperluan investasi, penciptaan iklim investasi yang kondusif dan penyusunan grand design pengembangan karet ke depan, terutama menyangkut pola pengembangan perkebunan dan jenis-jenis barang jadi yang dikembangkan. Agar strategi ini dapat dijalankan, berbagai pihak (Pemerintah, pengusaha dan petani) dapat melakukan beberapa hal secara bersamaan atau individual dalam beberapa hal antara lain: (i) Melakukan studi banding investasi mulai dari perijinan hingga operasional untuk perkebunan dan industri karet di Thailand dan Malaysia. (ii) Menindaklanjuti studi banding dengan fokus perhatian pada penelitian/ pemahaman perilaku investasi petani dan pengusaha dan fasilitas investasi dari Pemerintah bagi perkebunan dan industri karet di Thailand dan Malaysia.

(iii) Memfasilitasi outsourcing pendanaan investasi dari lembaga keuangan nasional dan internasional. 5.2.2. Menjadi follower negara-negara pengekspor dan pengimpor dalam kebijakan perkaretan Seperti halnya pada strategi investasi, strategi ini bertujuan agar kebijakan perkaretan Indonesia tidak tertinggal jauh dari sesama negara pengekspor karet (Malaysia dan Thailand) dan pengimpor karet (AS, Eropa dan Jepang). Beberapa kebijakan negara-negara pengekspor yang dapat diikuti antara lain: a. Kejelasan visi jangka panjang pengembangan karet yang dituangkan dalam Grand Design Pengembangan Karet, seperti yang dilakukan oleh Malaysia. b. Penguatan lembaga penelitian karet, seperti di Malaysia dan Thailand. c. Pembentukan dan pengembangan lembaga promosi karet melalui pembentukan Dewan Karet Nasional, seperti Malaysian Rubber Board di Malaysia. d. Pengaturan adanya pungutan ekspor, semacam cess, untuk pengembangan perkebunan dan industri karet. Negara-negara pengimpor mengamankan harga karet dengan menggunakan stok yang dikuasai sebagai instrumen kebijakan. Bagi Indonesia, kebijakan tersebut dapat ditiru dengan menggunakan sisi penawaran (produksi, stok dan ekspor) sebagai 45

instrumen kebijakan untuk mengamankan harga. Kasus beroperasinya Supply Scheme Management (SMS) dapat menjadi contoh implementasi strategi follower ini. 5.2.3. Menjadi follower negara-negara pengekspor dan pengimpor dalam penelitian perkaretan Strategi ini bertujuan agar hasil-hasil penelitian internasional tentang karet dapat diambil manfaatnya bagi pengembangan karet di Indonesia. Dukungan kebijakan yang diharapkan dari Pemerintah adalah dibukanya akses informasi dan kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian karet internasional. Bahkan kebijakan outsourcing ahli karet internasional diperlukan untuk membantu peningkatan kapasitas lembaga penelitian karet nasional. Beberapa hasil penelitian yang perlu dimanfaatkan bagi pengembangan karet nasional adalah yang berkaitan dengan industri hilir karet dan lingkungan.