Anda di halaman 1dari 19

na Background Sesuka Anda

Faktor Pembatas Ekosistem


02:26 No Comments
Ads Rekomendasi :

<p>Your browser does not support iframes.</p> Tulisan terkait:


Ekosistem Terumbu Karang Hutan Mangrove dan Interaksinya Nyamuk Juga Pilih Kasih Faktor Pembatas Ekosistem PRINSIP-PRINSIP EKOLOGI

Related Posts Widget[?] Faktor pembatas adalah suatu yang dapat menurunkan tingkat jumlah dan perkembangan suatu ekosistem. Keterbatasan dan toleransi di dalam ekosistem

Pertumbuhan organisme yang baik dapat tercapai bila faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan berimbang dan menguntungkan. Bila salah satu faktor lingkungan tidak seimbang dengan faktor lingkungan lain, faktor ini dapat menekan atau kadang-kadang menghentikan pertumbuhan organisme. Faktor lingkungan yang paling tidak optimum akan menentukan tingkat produktivitas organisme. Prinsip ini disebut sebagai prinsip faktor pembatas. Justus Von Liebig adalah salah seorang pioner dalam hal mempelajari pengaruh macam-macam faktor terhadap pertumbuhan organisme, dalam hal ini adalah tanaman. Liebig menemukan pada tanaman percobaannya bahwa pertumbuhan tanaman akan terbatas karena terbatasnya unsur hara yang diperlukan dalam jumlah kecil dan ketersediaan di alam hanya sedikit. Oleh karena itu, Liebig menyatakan di dalam Hukum Minimum Liebig yaitu: Pertumbuhan tanaman tergantung pada unsur atau senyawa yang berada dalam keadaan minimum. Organisme mempunyai batas maksimum dan minimum ekologi, yaitu kisaran toleransi dan ini merupakan konsep hukum toleransi Shelford. Di dalam hukum toleransi Shelford dikatakan bahwa besar populasi dan penyebaran suatu jenis makhluk hidup dapat dikendalikan dengan faktor yang melampaui batas toleransi maksimum atau minimum dan mendekati batas toleransi maka populasi atau makhluk hidup itu akan berada dalam keadaan tertekan (stress), sehingga apabila melampaui batas itu yaitu lebih rendah dari batas toleransi minimum atau lebih tinggi dari batas toleransi maksimum, maka makhluk hidup itu akan mati dan populasinya akan punah dari sistem tersebut. Untuk menyatakan derajat toleransi sering dipakai istilah steno untuk sempit dan euri untuk luas. Cahaya, temperatur dan air secara ekologis merupakan faktor lingkungan yang penting untuk daratan, sedangkan cahaya,

temperatur dan kadar garam merupakan faktor lingkungan yang penting untuk lautan. Semua faktor fisik alami tidak hanya merupakan faktor pembatas dalam arti yang merugikan akan tetapi juga merupakan faktor pengatur dalam arti yang menguntungkan sehingga komunitas selalu dalam keadaan keseimbangan atau homeostatis.

Faktor Fisik Sebagai Faktor Pembatas, Lingkungan Mikro dan Indikator Ekologi Lingkungan mikro merupakan suatu habitat organisme yang mempunyai hubungan faktor-faktor fisiknya dengan lingkungan sekitar yang banyak dipengaruhi oleh iklim mikro dan perbedaan topografi. Perbedaan iklim mikro ini dapat menghasilkan komunitas yang ada berbeda. Suatu faktor lingkungan sering menentukan organisme yang akan ditemukan pada suatu daerah. Karena suatu faktor lingkungan sering menentukan organisme yang akan ditemukan pada suatu daerah, maka sebaliknya dapat ditentukan keadaan lingkungan fisik dari organisme yang ditemukan pada suatu daerah. Organisme inilah yang disebut indikator ekologi (indikator biologi). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan indikator biologi adalah: a) umumnya organisme steno, yang merupakan indikator yang lebih baik daripada organisme euri. Jenis tanaman indikator ini sering bukan merupakan organisme yang terbanyak dalam suatu komunitas. b) spesies atau jenis yang besar umumnya merupakan indikator yang lebih baik dari pada spesies yang kecil, karena spesies dengan anggota organisme yang besar mempunyai biomassa yang besar pada umumnya lebih stabil. Juga karena turnover rate organisme kecil sekarang yang ada/hidup mungkin besok sudah tidak ada/mati. Oleh karena itu, tidak ada spesies algae yang dipakai sebagai indikator ekologi. c) sebelum yakin terhadap satu spesies atau kelompok spesies yang akan digunakan sebagai indikator, seharusnya kelimpahannya di alam telah diketahui terlebih dahulu. d) semakin banyak hubungan antarspesies, populasi atau komunitas seringkali menjadi faktor yang semakin baik apabila dibandingkan dengan menggunakan satu spesies.

LINGKUNGAN SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS

LINGKUNGAN SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS


1. Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup termasuk tumbuhtumbuhan pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum. 2. Justus von Liebig adalah seorang pionir yang mempelajari faktorfaktor lingkungan dan menjelaskan bahwa faktor lingkungan yang terdapat dalam jumlah minimumlah yang dapat berperan sebagai Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! faktor pembatas. Penemuannya kemudian lebih dikenal sebagai "hukum minimum Liebig".

3. Dalam ekologi tumbuhan faktor lingkungan sebagai faktor ekologi dapat dianalisis menurut bermacam-macam faktor. Satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut dikatakan penting jika dapat mempengaruhi atau dibutuhkan, bila terdapat pada taraf minimum, maksimum atau optimum menurut batas-batas toleransinya. 4. Sifat toleransi dan penyesuaian diri yang diperlihatkan oleh tumbuh-tumbuhan atau bagian dari anggota tubuhnya terhadap sesuatu perubahan kondisi atau keadaan dari faktor-faktor lingkungan tertentu dinamakan adaptasi, yang dapat diperoleh secara heriditer (dikontrol secara genetis) atau oleh induksi sesuatu factor lingkungan dan habitatnya. 5. Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Jika hal tersebut tidak terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas. 6. Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor pembatas ternyata tidak saja berperan sebagai faktor pembatas minimum, tetapi terdapat pula faktor pembatas maksimum. Bagi tumbuhan tertentu misalnya factor lingkungan seperti suhu udara atau kadar garam (salinitas) yang terlalu rendah/sedikit atau terlalu tinggi/banyak dapat mempengaruhi berbagai proses fisiologinya. Faktor-faktor lingkungan tersebut dinyatakan penting jika dalam keadaan minimum, maksimum atau optimum sangat berpengaruh terhadap proses kehidupan tumbuh-tumbuhan menurut batasbatas toleransi tumbuhannya. 7. Faktor-faktor lingkungan penting yang berperan sebagai sifat toleransi faktor pembatas minimum dan faktor pembatas maksimum yang pertama kali dinyatakan oleh V.E. Shelford, kemudian dikenal sebagai "hukum toleransi Shelford". Shelford menyebutkan bahwa tumbuhan dapat mempunyai kisaran toleransi terhadap faktor-faktor lingkungan yang sempit (steno) untuk satu faktor lingkungan dan luas (eury) untuk faktor lingkungan yang lain. Suatu jenis tumbuhan yang mempunyai toleransi yang luas sebagai faktor pembatas cenderung mempunyai sebaran jenis yang luas. Masa reproduksi merupakan masa yang kritis untuk tumbuhan jika faktor lingkungan dan habitatnya dalam keadaan minimum. 8. Dalam ekologi pernyataan taraf relatif terhadap faktor-faktor lingkungan dinyatakan dengan awalan steno (sempit) atau eury (luas) pada kata yang menjadi faktor lingkungan tersebut. Misalnya toleransi yang sempit terhadap suhu udara disebut stenotermal atau toleransi yang luas terhadap kadar pH tanah, disebut euryionik. 9. Pengaruh faktor-faktor lingkungan dan kisarannya untuk suatu tumbuh-tumbuhan berbedabeda, karena satu jenis tumbuhan mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda menurut habitat dan waktu yang berlainan. Tetapi pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh: jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien dan faktor fisik, misalnya suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan tersebut. 10. Pengertian tentang faktor lingkungan sebagai faktor pembatas kemudian dikenal sebagai

Hukum faktor pembatas, yang dikemukakan oleh F.F Blackman, yang menyatakan: jika semua proses kebutuhan tumbuhan tergantung pada sejumlah faktor yang berbeda-beda, maka laju kecepatan suatu proses pada suatu waktu akan ditentukan oleh faktor yang pembatas pada suatu saat.
http://elfisuir.blogspot.com/2010/02/lingkungan-sebagai-faktor-pembatas.html

A. Latar Belakang Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal disekelilingnya. Setiap faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut disebut faktor lingkungan. Lingkungan mempunyai dimensi ruang dan waktu, yang berarti kondisi lingkungan tidak mungkin seragam baik dalam arti ruang maupun waktu. Kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang, dan akan berubah pula sejalan dengan waktu. Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan ini , sehingga hubungan nyata antara lingkungan dan organisme hidup ini akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu, baik berdasarkan ruang maupun waktu. Lingkungan organisme tersebut merupakan suatu kompleks dan variasi faktor yang beraksi berjalan secara simultan, selama perjalan hidup organisme itu. Ada kalanya tidak sama sekali, hal ini tidak saja bergantung pada besaran intensitas faktor itu dan faktor faktor lainnya dari lingkungan, tetapi juga kondisi organisme itu, baik tumbuhan maupun hewan. Faktor - faktor tersebut dinamakan faktor pembatas Dengan mengetahui faktor pembatas (limiting factor) suatu organisme dalam suatu ekosistem maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi di mana organisme tidak dapat bertahan hidup.Umumnya suatu organisme yang mempunyai kemampuan untuk melewati atau melampaui faktor pembatasnya maka ia memiliki toleransi yang besar dan kisaran geografi penyebaran yang luas pula. Sebaliknya jika organisme tersebut tidak mampu melewatinya maka ia memiliki toleransi yang sempit dan memiliki kisaran geografi penyebaran yang sempit pula.Tidak sedikit didapati pula bahwa ada organisme tertentu yang tidak hanya beradaptasi dengan faktor pembatas lingkungan fisik saja, tetapi mereka bisa memanfaatkan periodisitas alami untuk mengatur dan memprogram kehidupannya guna mengambil keuntungan dari keadaan tersebut. Disini kami akan mengurai lebih dalam lagi mengenai prinsip prinsip yang berhubungan dengan faktor pembatas tersebut.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah : 1) Apa saja faktor pembatas itu? 2) Apa prinsip prinsip yang berhubungan dengan faktor pembatas?

C. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui apa saja yang menjadi faktor pembatas, dan prinsip prinsip yang berkaitan dengan faktor pembatas serta pengaruhnya faktor pembatas terhadap organisme

BAB II LANDASAN TEORI

A. Faktor Fisik sebagai Pembatas dalam Ekosistem Dengan mengetahui faktor pembatas (limiting factor) suatu organisme dalam suatu ekosistem maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi di mana organisme tidak dapat bertahan hidup.(Champbell, Biologi Edisi Kelima) Umumnya suatu organisme yang mempunyai kemampuan untuk melewati atau melampaui faktor pembatasnya maka ia memiliki toleransi yang besar dan kisaran geografi penyebaran yang luas pula. Sebaliknya jika organisme tersebut tidak mampu melewatinya maka ia memiliki toleransi yang sempit dan memiliki kisaran geografi penyebaran yang sempit pula. . (RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Tidak sedikit didapati pula bahwa ada organisme tertentu yang tidak hanya beradaptasi dengan faktor pembatas lingkungan fisik saja, tetapi mereka bisa memanfaatkan periodisitas alami untuk mengatur dan memprogram kehidupannya guna mengambil keuntungan dari keadaan tersebut. (RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari,

suhu, ketersediaan sejumlah air, gabungan antara faktor suhu dan kelembaban, dan lain sebagainya. B. Faktor Kimiawi dan Nonfisik Ekosistem Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya.(RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya.(RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi keberlanjutan organisme tertentu.(RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Tanah terdiri atas bahan induk, bahan organik, dan mineral yang hasil pencampurannya dapat membentuk tekstur tanah tertentu. Ruang-ruang antara hasil pencampuran bahan-bahan tadi diisi oleh gas dan air. Kondisi tekstur dan kemampuan tanah inilah yang akan menentukan ketersediaan unsur hara bagi tumbuhan dan hewan di atasnya.(soeraatmadja, Ilmu Lingkungan) Tumbuhan perdu yang mempunyai daun lebar lebih tahan terhadap keterbatasan sinar matahari, sedangkan tumbuhan rerumputan sangat membutuhkan sinar matahari. Lebar atau kecil daun berpengaruh langsung terhadap kemampuan tumbuhan untuk melakukan kegiatan fotosintesis dan penguapan (transpirasi). Semakin lebar daun semakin tinggi kemampuan fotosintesis dan semakin besar pula penguapan. (soeraatmadja, Ilmu Lingkungan) Faktor cahaya, temperatur, dan kadar garam dalam ekosistem perairan akan berinteraksi bersama menjadi faktor pembatas utama terhadap keberadaan organisme. Hal ini dapat dilihat jelas pada perbedaan jenis organisme yang biasa didapati di dekat muara sungai dengan yang terdapat di lepas pantai atau laut dalam.(RA Hutagalung, Ekologi Dasar) C. Tipologi Ekosistem dan Indikator Ekologi Kehadiran atau keberhasilan suatu organisme atau kelompok organisme-organisme tergantung kepada kompleksitas suatu keadaan. Keadaan yang mana pun yang mendekati atau melampaui batas-batas toleransi dinamakan sebagai yang membatasi atau faktor pembatas. Dengan adanya faktor pembatas ini semakin jelas kemungkinannya apakah suatu organisme akan mampu bertahan dan hidup pada suatu kondisi wilayah tertentu.(Uya, Komponen Ekosistem) Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup maka faktor tadi bukan merupakan faktor pembatas. Sebaliknya apabila organisme diketahui hanya mempunyai batas-batas toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam maka faktor tadi dapat dinyatakan sebagai faktor pembatas. Beberapa keadaan faktor pembatas, termasuk di antaranya adalah temperatur, cahaya, air, gas atmosfer, mineral, arus, dan tekanan, tanah, dan api. Masing-masing dari organisme mempunyai kisaran kepekaan berbeda terhadap faktor pembatas.(RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Dengan adanya faktor pembatas, dapat dianggap faktor ini bertindak sebagai ikut menyeleksi organisme yang mampu bertahan dan hidup pada suatu wilayah sehingga sering kali didapati adanya organismeorganisme tertentu yang mendiami suatu wilayah tertentu pula. Organisme ini disebut sebagai indikator

biologi (indikator ekologi) pada wilayah tersebut. (RA Hutagalung, Ekologi Dasar) D. Faktor Faktor Pembatas Yang Terikat Padat dan Bebas dari Kepadatan Bila suatu populasi tidak dikenai faktor pembatas mana pun sehingga dapat merealisir potensi biotik secara penuh, pertumbuhannya berlangsung dengan pola eksponen, tetapi pertumbuhan eksponen ini tidak dapat berlangsung lama karena ada peranan faktor pembatas lingkungan. Kadang kadang factor lingkungan menyebabkan pertumbuhan eksponen tiba tiba berhenti. ( Heddy suwasono, Pengantar Ekologi) Dalam kasus ini faktor pembatas kecil sekali efektivitasnya dan peningkatan, dan tiba tiba menjadi sangat efektif, yang biasanya menyebabkan penurunan yang cepat pada kepadatan populasi. Pola pertumbuhan populasi ini adalah cirri beberapa serangga kecil dengan siklus hidup pendek dimana populasi tumbuh dengan cepat selama periode cuaca yang sesuai dengan kemudian tiba tiba menurun bila cuaca berubah. Ingat bahwa faktor pembatas disini adalah tergantung pada kepadatan populasi; perubahan cuaca bukan disebabkan oleh meningkatnya populasi dan pengaruh pembatasnya akan parah pada populasi kecil maupun besar. ( Heddy suwasono, Pengantar Ekologi) Biasanya ada fluktuasi, kadang kadang fluktuasi ini berasal dari fluktuasi lain dalam lingkungn fisik, yang dapat meningkatkan dan menurunkan daya dukung. Tetapi fluktuasi kepadatan juga terjadi di labdimana kondisi lingkungan juga dijaga sekonstan mungkin. Jadi pola pertumbuhan yang sebenarnya bisa mendekati kurva sigmoid hanya dengan cara kasar. Akan menghasilkan kurva pertumbuhan sigmoid bila faktor pembatas makin efektif sesuai dengan kenaikan kepadatan populasi, yaitu bila faktor pembatas paling sedikit tergantung pada kepadatan. Perbedaan antara factor pembatas yang tergantung pada kepadatan dan yang tidak tergantung pada kepadatan belum jelas, tetapi walaupun demikian konsep tersebut berguna untuk menjelaskan jenis jenis pengaruh lingkungan yang ikut membantu menentukan kepadatan populasi. Sebenarnya faktor yang tidak tergantung pada kepadatan adalah yang secara konstan mempengaruhi tanpa mempengaruhi populasi apa apun. Bila populasi inang meningkat, persentase yang menjadi korban akan tinggi karena masing masing individu yang mungkin terpaksa mengalami situasi yang kurang memadai atau makin lemah sehingga mudah terbang dari sumber daya yang ada menjadi mudah diketemukan dan di serang. ( Heddy suwasono, Pengantar Ekologi) E. Hukum Minimum Leibig dan Hukum Toleransi Hukum Leibig menyebutkan bahwa "sesuatu organisme tidak lebih kuat dari pada rangkaian terlemah dari rantai kebutuhan ekologinya". Hukum Leibig adalah hukum atau ketentuan fenomena alam pada ekosistem tertentu yang menyatakan bahwa organisme tertentu hanya dapat bertahan hidup pada kondisi faktor tertentu dalam keadaan minimum.(RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa organisme tertentu dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi juga ditentukan oleh faktor pembatas maksimum. Dengan mengetahui batas toleransi suatu organisme maka hal ini dapat membantu memahami pola dan penyebaran organisme pada ekosistem tertentu.Untuk menyatakan batas toleransi suatu organisme sering dipakai istilah yang umum, yaitu berawalan steno yang berarti sempit dan eury yang berarti lebar/luas.(RA Hutagalung, Ekologi Dasar) Untuk dapat bertahan dan hidup di dalam keadaan tertentu, suatu organisme harus memiliki bahan-

bahan penting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Keperluan-keperluan dasar ini bervariasi antara jenis dan dengan keadaan tertentu. Apabila keperluan mendasar ini hanya tersedia dalam jumlah yang paling minimum maka akan bertindak sebagai faktor pembatas. Walaupun demikian, seandainya keperluan mendasar yang hanya tersedia minimum berada dalam waktu "sementara" tidak dapat dianggap sebagai faktor minimum karena pengaruhnya dari banyak bahan sangat cepat berubah.(Uya, Komponen Ekosistem) Ternyata kondisi minimum dari suatu kebutuhan mendasar bukan merupakan satu-satunya faktor pembatas kehidupan suatu organisme, tetapi juga dalam keadaan terlalu maksimumnya kebutuhan tadi sehingga dengan kisaran minimum-maksimum ini dianggap sebagai batas-batas toleransi organisme untuk dapat hidup. Namun, dalam kenyataan tidak sedikit organisme yang mempunyai kemampuan untuk "relatif" mengubah keadaan lingkungan fisik guna mengurangi efek hambatan terhadap pengaruh lingkungan fisiknya.(Uya, Komponen Ekosistem)

BAB III PEMBAHASAN

A. Macam Macam Faktor Pembatas Dengan mengetahui faktor pembatas (limiting factor) suatu organisme dalam suatu ekosistem maka dapat diantisipasi kondisi-kondisi di mana organisme tidak dapat bertahan hidup. Umumnya suatu organisme yang mempunyai kemampuan untuk melewati atau melampaui faktor pembatasnya maka ia memiliki toleransi yang besar dan kisaran geografi penyebaran yang luas pula. Sebaliknya jika organisme tersebut tidak mampu melewatinya maka ia memiliki toleransi yang sempit dan memiliki kisaran geografi penyebaran yang sempit pula. Tidak sedikit didapati pula bahwa ada organisme tertentu yang tidak hanya beradaptasi dengan faktor pembatas lingkungan fisik saja, tetapi mereka bisa memanfaatkan periodisitas alami untuk mengatur

dan memprogram kehidupannya guna mengambil keuntungan dari keadaan tersebut. Faktor pembatas dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu : 1. Faktor pembatas fisik Faktor pembatas fisik bagi suatu organisme kita kenal secara luas di antaranya faktor a) cahaya matahari, intensitas cahaya bukan merupakan bagian terpenting yang membatasi pertumbuhan tumbuhan dilingkungan darat, tetapi penaungan oleh kanopi hutan membuat persaingan untuk mendapatkan cahaya matahari dibawah kanopi tersebut menjadi sangat ketat. b) suhu, suhu daapt dikatakan sebagai factor pembatas karena pengaruhnya pada proses biologis dan ketidakmampuan sebagian besar organisme untuk mengatur suhu tubuhnya secara tepat. Dan sebagian organisme tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya lebih tinggi beberapa derajat diatas atau dibawah suhu lingkungan sekitar c) ketersediaan sejumlah air, air dapat dikatakan sebagai factor pembatas, ketika ada organisme yang hidup terendam diair, tetapi ada masalah keseimbangan air, jika tekanan osmosis intra seluler organisme tersebut tidak sesuai dengan tekanan air disekitarnya. Serta factor yang lainnya, 2. Faktor pembatas kimiawi dan non fisik Faktor pembatas nonfisik adalah unsur-unsur nonfisik seperti zat kimia yang terdapat dalam lingkungan akan menjadi faktor pembatas bagi organisme-organisme untuk dapat hidup dan berinteraksi satu sama lainnya. Kondisi lingkungan perairan (aquatic) berbeda dengan kondisi lingkungan daratan (terrestrial), terutama ditinjau dari keberadaan unsur kimiawi seperti; O2, CO2, dan gas-gas terlarut lainnya yang dapat diperoleh organisme di lingkungannya. Garam biogenik adalah garam-garam yang terlarut dalam air, seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg). Zat kimia ini merupakan unsur vital bagi keberlanjutan organisme tertentu. 3. Faktor pembatas Tipologi Ekosistem dan Indikator Ekologi Kehadiran atau keberhasilan suatu organisme atau kelompok organisme-organisme tergantung kepada kompleksitas suatu keadaan. Keadaan yang mana pun yang mendekati atau melampaui batas-batas toleransi dinamakan sebagai yang membatasi atau faktor pembatas. Dengan adanya faktor pembatas ini semakin jelas kemungkinannya apakah suatu organisme akan mampu bertahan dan hidup pada suatu kondisi wilayah tertentu. Jika suatu organisme mempunyai batas toleransi yang lebar untuk suatu faktor yang relatif mantap dan dalam jumlah yang cukup maka faktor tadi bukan merupakan faktor pembatas. Sebaliknya apabila organisme diketahui hanya mempunyai batas-batas toleransi tertentu untuk suatu faktor yang beragam maka faktor tadi dapat dinyatakan sebagai faktor pembatas. Beberapa keadaan faktor pembatas, termasuk di antaranya adalah temperatur, cahaya, air, gas atmosfer, mineral, arus, dan tekanan, tanah, dan api. Masing-masing dari organisme mempunyai kisaran kepekaan berbeda terhadap faktor pembatas. Dengan adanya faktor pembatas, dapat dianggap faktor ini bertindak sebagai ikut menyeleksi organisme yang mampu bertahan dan hidup pada suatu wilayah sehingga sering kali didapati adanya organismeorganisme tertentu yang mendiami suatu wilayah tertentu pula. Organisme ini disebut sebagai indikator

biologi (indikator ekologi) pada wilayah tersebut. B. Prinsip Prinsip yang Berhubungan dengan Faktor Pembatas 1. Hukum Minimum dari Leibig Justus van leibig, seorang pelopor dalam penelitian mengenai pengaruh macam macam faktor lingkungan, terutama unsure kimia didalam tanah, terhadap tumbuhan (pertanian), menemukan bahwa produksi pertanian sering tidak ditentukan oleh bahan nutrisi dalam jumlah banyak, misalnya seperti air atau CO2, karena bahan bahan ini terdapat dalam jumlah yang banyak dilingkungan, melainkan oleh zat zat seperti misalnya boron, yang diperlukan oleh lingkungan dalam jumlah yang kecil. Unsure boron dalam hal ini merupakan unsur esensial yang tersedia dalam jumlah yang mendekati tingkat minimum kritis, bersifat membatasi atau menentukan. Prinsip ini diformulasikan sebagai berikut : dalam kondisi yang mantap, maka bahan esensial yang tersedia di lingkungan dalam jumlah yang mendekati minimum kritis, cenderung bersifat membatasi Kondisi lingkungan kondisi yang mantap adalah suatu kondisi apabila masukan dan hasil dari energi atau materi terdapat dalam keseimbangan. Hokum ini kurang berlaku jika kondisi lingkungan yang keadaannya kurang mantap, seperti terjadinya eutrofikasi atau polusi. 2. Hukum Toleransi dari Shelford menyatakan bahwa organisme tertentu dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi juga ditentukan oleh faktor pembatas maksimum. Dengan mengetahui batas toleransi suatu organisme maka hal ini dapat membantu memahami pola dan penyebaran organisme pada ekosistem tertentu. Untuk menyatakan batas toleransi suatu organisme sering dipakai istilah yang umum, yaitu berawalan steno yang berarti sempit dan eury yang berarti lebar/luas. Untuk dapat bertahan dan hidup di dalam keadaan tertentu, suatu organisme harus memiliki bahanbahan penting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Keperluan-keperluan dasar ini bervariasi antara jenis dan dengan keadaan tertentu. Apabila keperluan mendasar ini hanya tersedia dalam jumlah yang paling minimum maka akan bertindak sebagai faktor pembatas. Walaupun demikian, seandainya keperluan mendasar yang hanya tersedia minimum berada dalam waktu "sementara" tidak dapat dianggap sebagai faktor minimum karena pengaruhnya dari banyak bahan sangat cepat berubah. Ternyata kondisi minimum dari suatu kebutuhan mendasar bukan merupakan satu-satunya faktor pembatas kehidupan suatu organisme, tetapi juga dalam keadaan terlalu maksimumnya kebutuhan tadi sehingga dengan kisaran minimum-maksimum ini dianggap sebagai batas-batas toleransi organisme untuk dapat hidup. Namun, dalam kenyataan tidak sedikit organisme yang mempunyai kemampuan untuk "relatif" mengubah keadaan lingkungan fisik guna mengurangi efek hambatan terhadap pengaruh lingkungan fisiknya.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. faktor pembatas terdiri dari faktor pembatas fisik yang kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan sejumlah air, dan lain sebagainya, Faktor pembatas nonfisik yaitu nonfisik seperti zat kimia Dan Tipologi Ekosistem dan Indikator Ekologi. 2. Prinsip prinsip yang berkaitan dengan faktor pembatas meliputi Hukum Leibig menyebutkan bahwa "sesuatu organisme tidak lebih kuat dari pada rangkaian terlemah dari rantai kebutuhan ekologinya". Hukum Leibig adalah hukum atau ketentuan fenomena alam pada ekosistem tertentu yang menyatakan bahwa organisme tertentu hanya dapat bertahan hidup pada kondisi faktor tertentu dalam keadaan minimum. Dan Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa organisme tertentu dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi juga ditentukan oleh faktor pembatas maksimum. Dengan mengetahui batas toleransi suatu organisme maka hal ini dapat membantu memahami pola dan penyebaran organisme pada ekosistem tertentu B. Saran Untuk melestarikan lingkungan hidup sebaiknya kita memperhatikan factor pembatasnya, sehingga setiap organisme dapat hidup didaerah yang sesuai dengan keadaan organisme itu sendiri. http://sharyue.blogspot.com/2011/03/faktor-pembatas.html

FAKTOR PEMBATAS, HUKUM DAN TOLERANSI


FAKTOR PEMBATAS, HUKUM DAN TOLERANSI Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal disekelilingnya. Setiap faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut disebut faktor lingkungan. Lingkungan mempunyai dimensi ruang dan waktu, yang berarti kondisi lingkungan tidak mungkin seragam baik dalam arti ruang maupun waktu. Kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang, dan akan berubah pula sejalan dengan waktu. Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan ini , sehingga hubungan nyata antara lingkungan dan organisme hidup ini akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu, baik berdasarkan ruang maupun waktu. Ada dua hukum yang berkenaan dengan faktor lingkungan sebagai faktor pembatas bagi organisme , yaitu Hukum Minimum Liebig dan Hukum Toleransi Shelford. Hukum Minimum Liebig menyatakan bahwa pertumbuhan suatu tanaman akan ditentukan oleh unsur hara esensial yang berada dalam jumlah minimum kritis, jadi pertumbuhan tanaman tidak ditentukan oleh unsur hara esensial yang jumlahnya paling sedikit. Dengan demikian unsur hara ini dikatakan sebagai faktor pembatas karena dapat membatasi pertumbuhan tanaman.

Hukum Toleransi Shelford menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan suatu janis organisme mempunyai suatu kondisi minimum dan maksimum yang mampu diterimanya, diantara kedua harga ekstrim tersebut merupakan kisaran toleransi dan didalamnya terdapat sebuah kondisi yang optimum. Dengan demikian setiap organisme hanya mampu hidup pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu tempat yang cocok yang dapat diterimanya. Diluar daerah tersebut organisme tidak dapat bertahan hidup dan disebut daerah yang tidak toleran. Meskipun Hukum Minimum Liebig dan Hukum Toleran shelford pada dasarnya benar namun hukum ini masih terlalu kaku, sehingga kedua hukum tersebut digabungkan menjadi konsep faktor pembatas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kehadiran dan keberhasilan suatu organisme tergantung pada kondisi-kondisi yang tidak sederhana. Organisme di alam dikontrol tidak hanya oleh suplai materi yang minimum diperlukannya, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya yang keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam pertumbuhan dan penyebaran jenis. Di dalam hukum toleransi Shelford dikatakan bahwa besar populasi dan penyebaran suatu jenis makhluk hidup dapat dikendalikan dengan faktor yang melampaui batas toleransi maksimum atau minimum dan mendekati batas toleransi maka populasi atau makhluk hidup itu akan berada dalam keadaan tertekan (stress), sehingga apabila melampaui batas itu yaitu lebih rendah dari batas toleransi minimum atau lebih tinggi dari batas toleransi maksimum, maka makhluk hidup itu akan mati dan populasinya akan punah dari sistem tersebut. Untuk menyatakan derajat toleransi sering dipakai istilah steno untuk sempit dan euri untuk luas. Cahaya, temperatur dan air secara ekologis merupakan faktor lingkungan yang penting untuk daratan, sedangkan cahaya, temperatur dan kadar garam merupakan faktor lingkungan yang penting untuk lautan. Semua faktor fisik alami tidak hanya merupakan faktor pembatas dalam arti yang merugikan akan tetapi juga merupakan faktor pengatur dalam arti yang menguntungkan sehingga komunitas selalu dalam keadaan keseimbangan atau homeostatis.

Faktor Fisik Sebagai Faktor Pembatas, Lingkungan Mikro dan Indikator Ekologi Lingkungan mikro merupakan suatu habitat organisme yang mempunyai hubungan faktor-faktor fisiknya dengan lingkungan sekitar yang banyak dipengaruhi oleh iklim mikro dan perbedaan topografi. Perbedaan iklim mikro ini dapat menghasilkan komunitas yang berbeda. Suatu faktor lingkungan sering menentukan organisme yang akan ditemukan pada suatu daerah. Karena suatu faktor lingkungan

sering menentukan organisme yang akan ditemukan pada suatu daerah, maka sebaliknya dapat ditentukan keadaan lingkungan fisik dari organisme yang ditemukan pada suatu daerah. Organisme inilah yang disebut indikator ekologi (indikator biologi). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan indikator biologi adalah: a umumnya organisme steno, yang merupakan indikator yang lebih baik dari pada organisme euri. Jenis tanaman indikator ini sering bukan merupakan organisme yang terbanyak dalam suatu komunitas. b spesies atau jenis yang besar umumnya merupakan indikator yang lebih baik dari pada spesies yang kecil, karena spesies dengan anggota organisme yang besar mempunyai biomassa yang besar pada umumnya lebih stabil. Juga karena turnover rate organisme kecil sekarang yang ada/hidup mungkin besok sudah tidak ada/mati. Oleh karena itu, tidak ada spesies algae yang dipakai sebagai indikator ekologi. c sebelum yakin terhadap satu spesies atau kelompok spesies yang akan digunakan sebagai indikator, seharusnya kelimpahannya di alam telah diketahui terlebih dahulu. d semakin banyak hubungan antarspesies, populasi atau komunitas seringkali menjadi faktor yang semakin baik apabila dibandingkan dengan menggunakan satu spesies.

Semua faktor lingkungan dapat bertindak sebagai faktor pembatas bagi suatu organisme, baik secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. Beberapa faktor lingkungan yang sering menjadi faktor pembatas bagi organisme secara umum adalah : 1. Cahaya Matahari Cahaya Matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi matahariyang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme tertentu. 2. Suhu Udara Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan langsung maupun tidak langsung terhadap suatu organisme. Suhu berperan dalam mengontrol proses-proses metabolisme dalam tubuh serta berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya terutama suplai air. 3. Air Air merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air dibumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada setiap ekosistem pada akhirnya akan menentukan jumlah keragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut.

4. Ketinggian Tempat Ketinggian suatu tempat diukur mulai dari permukaan air laut. Semakin tinggi suatu tempat, keragaman gas-gas udara semakin rendah sehingga suhu suhu udara semakin rendah. 5. Kuat arus Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air, kadar oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan posisinya. Faktor pembatas dalam ekosistem perairan sungai adalah : Cahaya matahari Cahaya Matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi matahariyang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme tertentu. Air. Air merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air dibumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada setiap ekosistem pada akhirnya akan menentukan jumlah keragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut. Suhu. Air mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang secara bersama-sama mengurangi perubahan suatu sampai tingkat minimal, sehingga perbedaan suhu dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada di udara. Sifat yang terpenting adalah : panas jenis, panas fusi, dan panas evaporasi. Kejernihan Penetrasi cahaya sering kali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap, sering kali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktifitas. Arus Air cukup padat, maka arah arus amat penting sebagai faktor pembatasan, terutama pada aliran air. Disamping itu, arus sering kali amat menentukan distribusi gas yang fital, garam dan organisme yang kecil. Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air, kadar oksigen, dan kemampuan

organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan posisinya. Zona air deras Daerah yang airnya dangkal dimana kecepatan arus cukup tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas, sehingga dasarnya padat. Zona ini dihuni oleh berbagai bentos yang telah beradapatasi khusus misalnya derter. Zona air tenang Bagian air yang dalam dimana kecepatan arus suda berkurang, maka lumpur dan materi lepas cenderung mengendap di dasar, sehingga dasarnya lunak tidak sesuai dengan bentos tetapi sesuai untuk penggali nekton dan plankton.

KESIMPULAN Setiap organisme keberadaanya, pertumbuhan, dan distribusinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan Faktor pembatas dalam ekosistem perairan sungai antara lain : cahaya matahari, air, suhu, kejernihan dan kuat arus.

DAFTAR PUSTAKA Odum, eugene,P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi, edisi ketiga, Yogyakarta ; Universitas. Gajah Mada Press Odum, howard, T. 1992. Ekologi sistem, Yogyakarta ; Universitas Gajah Mada Press Polunin, nicholas. 1997. Teori ekosistem dan penerapannya. Yogyakarta ; Universitas Gajah Mada Press Susatyo, ari. 2003. Petunjuk pra http://amrielyusar.blogspot.com/2010/08/faktor-pembatas-hukum-dan-toleransi.html

Sinar, temperatur, air secara ekologi merupakan faktor lingkungan yangpenting di darat. Sinar, temperatur dan kadar garam (salinitas) merupakan tigabesar di laut. Semua keadaan atau atau sarat fisik untuk kehadiran atau hiduptidak saja merupakan faktor-fakto pembatas dalam arti kata yang merusak tetapijuga faktor-faktor yang mengatur dalam arti kata menguntungkan bahwaorganismeorganisme yang telah menyesuaikan diri menanggapi faktor-faktor tersebut dalam cara sedemikian sehingga komunitas dari organisme itumencapai homeostatis semaksimum mungkin di bawah keadaan atau syarat itu. 2.3 Hubungan Antar Faktor Lingkungan

Dalam kajian ekosistem sangat penting untuk menganalisis bagaimanafaktor-faktor lingkungan beroperasi atau berfungsi, karena dalam kenyataannyafaktor-faktor lingkungan saling berinteraksi satu sama lainnya. Sebagai contohadalah iklim dan tanah akan berpengaruh secara kuat dalam pola kontrolnyaterhadap komponen biotik, menentukan jenis-jenis yang akan mampumenempati suatu tempat atau daerah tertentu. Meskipun demikian karakteristikmendasar dari ekosistem apapun akan diatur oleh komponen abiotiknya.P e n g a r u h d a r i v a r i a b e l a b i o t i k a k a n d i m o d i f i k a s i o l e h t u m b u h a n d a n hewan, misalnya terciptanya perlindungan pohon oleh hewan meskipun sifatnyaterbatas. Faktor-faktor abiotik merupakan penentu secara mendasar terhadapekosistem, sedangkan kontrol faktor biotik setidaknya tetap menjadi pentingdalam mempengaruhi penyebaran dan fungsi individu dari jenis makhluk hidup.Semua faktor lingkungan bervariasi secara ruang dan waktu. Organisme hidupbereaksi terhadap variasi lingkungan ini, sehingga hubungan ini akanmembentuk komunitas dan ekosistem tertentu, baik berdasarkan ruang maupunwaktu. 2.4 Konsep Faktor Pembatas Kehadiran dan keberhasilan suatu organisme atau golongan organisme-organisme tergantung kepada kompleks keadaan. Keadaan yang manapun yang mendekati atau melampaui batas-batas toleransi dinamakan sebagai yangmembatasi atau faktor pembatas (Odum, 1983).Organisme hidup di alam dikontrol tidak hanya oleh suplai materi yangminimum diperlukannya tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya yang keadaannyakritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akanmerupakan pembatas dalam penyebaran jenis. Memang sulit untuk menentukandi alam faktor-faktor pembatas ini, karena masalah yang erat kaitannya denganpemisahan pengaruh setiap komponen lingkungan secara terpisah di habitatnya.Nilai lebih dari penggabungan konsep faktor pembatas adalah dalammemberikan pola atau arahan dalam kajian hubungan-hubungan yang kompleksdari faktor lingkungan ini.Kajian-kajian ekologi toleransi yang didasarkan pada pemikiran Liebig danShelford pada umumnya tidak menjawab pertanyaan ekologi mendasar,bagaimana jenis-jenis teradaptasi terhadap beberapa faktor pembatasnya.Pandangan ekologi yang lebih berkembang adalah memikirkan perkembanganjenis untuk mencapai suatu kehidupan dengan memperhatikan kisaran toleransisebagai hasil sampingan dari persyaratan yang dipilih dalam pola kehidupannya.Pendekatan ini menekankan pentingnya evolusi yang membawa pengertian yanglebih baik hubungan antara individu suatu jenis dengan habitatnya. 2.4. 1 Hukum Minimum Liebig Gagasan bahwa suatu organisme tidak lebih kuat daripada rangkaianterlemah dalam rantai kebutuhan ekologinya pertama kali dinyatakan oleh JustusLiebig pada tahun 1840. Liebig merupakan perintis dalam pengkajian pengaruhberbagai faktor terhadap pertumbuhan tumbuhtumbuhan. Dia menemukanbahwa hasil tanaman sering kali dibatasi tidak oleh hara yang diperlukan dalamjumlah banyak, seperti karbondioksida dan air. Pernyataannya bahwapertumbuhan sesuatu tanaman tergantung pada jumlah bahan makanan yangdisediakan baginya dalam jumlah minimum terkenal sebagai Hukum MinimumLiebig (Odum, 1983).

Hukum minimum hanya berperan dengan baik untuk materi kimia yang diperlukan untuk pertumbuhan dan reproduksi. Liebig tidak mempertimbangkanperanan faktor lainnya, baru kemudian peneliti lainnya mengembangkanpertanyaannya yang menyangkut faktor suhu dan cahaya. Sebagai hasilnyamereka menambahkan dua pertanyaan, yaitu:a. Hukum ini berlaku hanya dalam kondisi keseimbangan yang dinamis atau steady state . Apabila masukan dan keluaran energi dan materi dari ekosistem tidak berada dalam keseimbangan, jumlah berbagai substansi yang diperlukan akanberubah terus dan hukum minimum tidak berlaku.b. Hukum minimum harus memperhatikan juga sarana interaksi di antara faktor-faktor lingkungan. Konsentrasi yang tinggi atau ketersediaan yang melimpah darisesuatu substansi mungkin akan mempengaruhi laju pemakaian dari substansilain dalam jumlah yang minimum. Sering juga terjadi organisasi hidupmemanfaatkan unsur kimia tambahan yang mirip dengan yang diperlukan yangternyata tidak ada di habitatnya. 2.4.2 Hukum Toleransi Shelford Salah satu perkembangan yang paling berarti dalam kajian faktor l i n g k u n g a n t e r j a d i p a d a t a h u n 1 9 1 3 k e t i k a V i c t o r S h e l f o r d m e n g e m u k a k a n hukum toleransi. Hukum ini mengungkapkan pentingnya toleransi dalammenerangkan distribusi dari jenis. Hukum toleransi menyatakan bahwa untuksetiap faktor lingkungan suatu jenis mempunyai suatu kond isi minimum danmaksimum yang dapat dipikulnya, diantara kedua harga ekstrim ini merupakankisaran toleransi dan termasuk suatu kondisi optimum.Kisaran toleransi dapat dinyatakan dalam bentuk kurva lonceng, dan akanberbeda untuk setiap jenis terhadap faktor lingkungan yang sama ataumempunyai kurva yang berbeda untuk satu jenis organisme terhadap faktor -faktor lingkungan yang berbeda. Misalnya jenis A mungkin mempunyai batas kisaran yang lebih luas terhadap suhu tetapi mempunyai kisaran yang sempatterhadap kondisi tanah. Untuk memberikan gambaran umum terhadap kisaran

toleransinya ini, biasanya dipakai awalan steno - untuk kisaran toleransi yangsempit, awalan iri- untuk kisaran toleransi yang luas.----------------------------------------------------------------------------Toleransi sempit Toleransi luas Faktor lingkungan---------------------------------------------------------------------------S t e n o t e r m a l i r i t e r m a l s u h u Stenohidrik irihidrik a i r S t e n o h a l i n i r i h a l i n s a l i n i t a s Stenofagik irifagik makananStenoedafik iriedafik tanahStenoesius iriesius seleksi habitat------------------------------------------------------------------------Shelford menyatakan bahwa jenis-jenis dengan kisaran toleransi yangl u a s u n t u k b e r b a g a i f a k t o r l i n g k u n g a n a k a n m e n ye b a r s e c a r a l u a s . I a j u g a menambahkan bahwa dalam fasa reproduksi dari daur hidupnya faktor-faktor lingkungan lebih membatasi: biji, telur, embrio mempunyai kisaran yang sempitjika dibandingkan dengan fasa dewasanya.Hasil Shelford telah memberikan dorongan dalam kajian berbagai ekologitoleransi. Berbagai percobaan dilakukan di laboratorium untuk mendapatkanatau menentukan kisaran toleransi dari individu sesuatu jenis makhluk hidup.terhadap berbagai faktor lingkungan. Hasilnya sangat berguna untuk aspek-aspek terapan, seperti menentukan toleransi jenis terhadap pencemaran air yangsedikit banyak akan memberikan gambaran dalam hal penyebaran tersebut.Shelford sendiri memberikan penjelasan dalam hukumnya bahwa reaksisuatu organisme terhadap faktor lingkungan tertentu mempunyai hubungan yangerat dengan kondisi lingkungan lainnya, misalnya apabila nitrat dalam tanahterbatas jumlahnya maka resistensi rumput terhadap kekeringan akan menurun.Dengan demikian ia juga sudah memberikan gambaran bahwa adanyakemungkinan yang

tidak menyeluruh hasil penelitian di laboratorium (kondisi buatan) yang memperlihatkan hubungan antara satu faktor lingkungan denganorgansime hidup

Shelford juga melihat kenyataan bahwa sering organisme hidup,tetumbuhan dan hewan-hewan, hidup berada pada kondisi yang tidak optimal.Mereka berada dalam kondisi yang tidak optimal ini akibat kompetisi dengan yang lainnya, sehingga berada pada keadaan yang lebih efektif dalamkehidupannya. Misalnya berbagai kehidupan tetumbuhan di padang pasir sesungguhnya akan tumbuh lebih baik di tempat yang lembab, tetapi mereka memilih padang pasir karena adanya keuntungan ekologi yang lebih. Demikianjuga dengan anggrek sebenarnya kondisi optimalnya berada pada keadaanpenyinaran yang langsung, tetapi mereka hidup di bawah naungan karena faktor kelembaban sangat lebih menguntungkan.Beberapa asas tambahan terhadap hukum toleransi dapat dinyatakansebagai berikut : a. Organisme-organisme dapat memiliki kisaran toleransi yang lebar bagi satu faktor dan kisaran yang sempit untuk lainnya.b. Organisme-organisme dengan kisaran-kisaran toleransi yang luas untuk semuafactor wajar memiliki penyebaran yang paling luas.c. Apabila keadaan-keadaan tidak optimum bagi suatu jenis mengenai satu faktor ekologi, batas-batas toleransi terhadap faktor-faktor ekologi lainnya dapatdikurangi berkenaan dengan faktor-faktor ekologi lainnya..d. Sering kali ditemukan bahwa organisme-organisme di alam sebenarnya tidakhidup pada kisaran optimum berkenan dengan faktor fisik tertentu. e. Periode reproduksi biasanya merupakan periode yang gawat apabila factor -faktor lingkungan bersifat membatasi. Batas -batas toleransi individu-individureproduktif, biji-biji, telur-telur, embrio, kecambah atau anak-anakan pohon, larvabiasanya lebih sempit daripada tumbuh-tumbuhan atau binatang dewasa lebihsempit daripada tumbuh-tumbuhan atau binatang dewasa nonproduktif. 2.4.3 Konsep Holocoenotic Lingkungan Kira-kira 100 tahun sesudah Humboldt menulis bahwa sembarang yangnampak hidup bersama saling terkait dan saling tergantung satu sama lain (sifatekosistem), Karl Friedrich member nama sifat ekosistem tersebut dengan nama :holoenotik (holocoenotic). (Holocoen adalah sinonim dengan ekosistem). Konsep holosenotik adalah suatu klimaks alami terhadap modifikasi lain pada hokum minimum Liebig.Telah diketahui bila suatu faktor pembatas dapat diatasi, maka akantimbul faktor pembatas lain. Bila salah satu dari faktor lingkungan kita ubah, perubahan ini akan mempengaruhi atau mengubah kompinen-komponen lain.Contohnya bila suhu udara dalam rumah kaca dinaikkan 100 C maka udara didalam rumah kaca akan mengandung lebih banyak uap air. Tekanan uap air daripermukaan cairan dalam ruangan akan bertambah, akibatnya laju penguapana k a n m e n i n g k a t . H a l i n i j u g a a k a n m e n i n g k a t k a n l a j u t r a n s p i r a s i s e h i n g g a absorpsi air akan naik pula. Kadar air tanah menjadi berkurang, lebih banyakudara masuk ke dalam tanah dan menyebabkan tanah menjadi semakin kering.Reaksi berantai ini dapat terjadi berulang-ulang. Walaupun pertumbuhan suatuindividu organisme atau sekelompok organisme dipengaruhi oleh faktor-faktor pembatas, namun tidak dapat disangkal bahwa lingkungan benar-benar merupakan suatu kumpulan dari macam-macam faktor yang saling

berinteraksi.Jika suatu faktor berubah maka hamper semua faktor lainnya ikut berubah.Konsep holosenotik menyatakan bahwa tidak mungkin untuk mengisoler arti penting faktor lingkungan tunggal yang berpengaruh terhadap distribusi ataukelimpahan suatu spesies, karena faktor-faktor tersebut bersifat salingb e r g a n t u n g s a t u s a m a l a i n a t a u i n t e r d e p e n d e n , d a n d a p a t b e k e r j a s e c a r a sinergetik. Oleh karena itu, faktor tunggal ekologi yaitu suatu faktor lingkunganpenting yang paling menentukan distribusi tumbuhan adalah tak terpikirkandalam kasus tersebut, dan ini dianggap sangat nave menurut jalan pikirankonsep holosenotik.Konsep holosenotik tidak berarti bahwa semua faktor harus stara ataumempunyai bobot sama. Faktor tertentu dalam suatu ekosistem dapatmendominer yang lainnya. Billings (1970) menamakan faktor tesebut sebgai faktor pemicu (trigger) (Hardjosuwarno, 1990)