Anda di halaman 1dari 9

Aktivator Apakah yang digerakkan oleh suatu aktivator?

Suatu aktivator dapat menggerakkan otot-otot dari sistem stomatognati dengan cara mengubah posisi mandibula, memindahkan mandibula dari posisi istirahat pada arah anterior, posterior, vertikal, dan lateral. Jenis aktivator yang sering dipakai adalah aktivator dari Andresen dan Haupl, dua alat yang dijadikan satu yang memiliki ketebalan (monoblok), namun setiap alat yang dapat menggerakkan otot-otot mastikasi secara artifisial merupakan suatu aktivator. Terdapat berbagai modifikasi: one-piece appliances, yang dikurangi volume akriliknya (seperti open activator dari Klammt [1995] atau bionator dari Balthers [1973]; two-piece appliances yang dihubungkan dengan kawat (seperti alat dari Stockfisch dan Bimler [1949]), atau plat ganda (seperti plat dari M. Schwarz, atau Sanders, twin block dari Clark [1988]); begitu pun dengan Herbst appliance dan Jasper Jumper yang menggerakkan otot-otot muskular. Pada regulasi dari perkembangan craniofacial dan oklusal, pengaruh lingkungan juga penting. Pengaruh eksternal berpengaruh terhadap modifikasi dari program genetik.

Kebanyakan manusia memiliki susunan genetik yang memberikan oklusi yang normal, dalam keadaan lingkungan yang benar. Komponen-komponen eksternal dari perkembangan dapat

dipengaruhi oleh aksi terapeutik: struktur tulang dan sekitarnya memberikan reaksi terhadap pengaruh eksternal. Aktivator (dan modifikasinya) memperlihatkan keberhasilannya pada level kedua dan ketiga dari artikulasi craniofacial (Moffet 1972) (Gbr. 4.12). Pada level ketiga artikulasi sutura dan kondilus, daerah yang secara terapeutik dapat dipengaruhi oleh functional jaw orthopedics, memanfaatkan keberhasilan orthopedik dari aktivator.

Berdasarkan proses pertumbuhan: pertumbuhan pada sphenooccipital synchondrosis membawa basis cranial anterior dan maksila tumbuh ke atas dan ke depan dari foramen magnum; pertumbuhan kondilus membawa mandibula tumbuh ke bawah dan ke depan dari foramen magnum. Dua arah pertumbuhan divergen ini membentuk basis rahang (Gbr. 4.13).

Keberhasilan orthopedik dari aktivator adalah untuk mengontrol garis vektor pertumbuhan dan mengontrol translasi dari tulang basal. Functional jaw orthopedics merupakan perawatan

skeletal dysplasia dengan cara mereposisi mandibula. Mekanisme perawatannya adalah dengan mengaktifkan gaya otot. Cara dari aksi ini tergantung pada konstruksi gigitan. Tujuan dari functional orthodontics adalah untuk mengontrol erupsi (dan beberapa pergerakan) dari gigi dan aposisi tulang alveolar di antara dua garis vektor pertumbuhan divergen. Alat untuk functional orthodontics adalah alat aktivator dan pemeriksaan, dan

modifikasinya. Mekanismenya tergantung pada pemangkasan alat aktivator dan pemeriksaan disfungsi. Keberhasilan dapat dicapai melalui aksi bidang pandu dan pemeriksaan terhadap adanya pengaruh yang dapat membahayakan dari jaringan lunak sekitarnya.

Gaya pada Terapi Aktivator Terdapat berbagai macam gaya yang dapat terjadi sementara alat fungsional mengaktivasi otot-otot, yaitu statis, dinamis, ritmik. 1. Gaya statis bersifat permanen dan bervariasi dalam besar dan arahnya. Gaya ini tidak terjadi bersamaan dengan pergerakan mandibula. Yang termasuk dalam gaya statis

adalah gaya gravitasi, posture, dan elastisitas dari jaringan lunak dan otot-otot. 2. Gaya dinamis bersifat interrupted dan tidak stabil. Gaya ini terjadi bersamaan dengan pergerakan kepala, badan, dan mandibula; serta memiliki pengaruh yang lebih besar

dibandingkan dengan gaya statis. Frekuensi dan besarnya gaya ini tergantung pada desain dan konstruksi dari alat dan reaksi pasien. Contoh yang dapat menghasilkan gaya dinamis adalah penelanan. 3. Gaya ritmik berhubungan dengan respirasi dan sirkulasi. Gaya ini berjalan selaras

dengan pernapasan dan amplitudonya bervariasi dengan berbagai getaran. Rangsang trophic ini sangat penting dalam merangsang aktivitas sel. getaran ritmik pada maksila. Mandibula meneruskan

Gambar 4.12 Artikulasi Craniofasial. Pengukuran terapeutik dapat dilakukan dengan ortodontik fungsional pada nilai oklusal dan periodontal dan dengan ortodontik fungsional pada nilai sutura dan kondilus.

Gambar 4.13 Dua garis pertumbuhan divergen menggambarkan basis rahang ke arah anterior

Gaya-gaya yang diaplikasikan bersifat intermittent dan interrupted. Aplikasi gaya pada gigi dan mandibula bersifat intermittent. Pemindahan aktivator dari mulut dapat mengganggu gaya-gaya tersebut. Macam-macam gaya yang dapat ditimbulkan dari terapi aktivator ini dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. Pedoman pertumbuhan, meliputi erupsi dan migrasi gigi, dapat menghasilkan gaya-gaya alami. Hal ini dapat dijadikan pedoman perawatan, mengaktifkan atau menahan di dalam perawatannya. 2. Kontraksi otot dan peregangan jaringan lunak mengawali gaya-gaya saat mandibula direlokasi dari posisi istirahat postural dengan alat tersebut. Aktivator menstimulasi dan mengubah kontraksi-kontraksi tersebut. Gaya yang terjadi bersifat fungsional secara alami (muskular) sedangkan aktivasinya bersifat artifisial. Gaya fungsional artifisial ini dapat bekerja dengan efektif pada tiga bidang, yaitu: a. Pada bidang sagital, mandibula digerakkan ke bawah dan ke depan, sehingga gaya otot disalurkan pada kondilus dan kemudian dapat menghasilkan suatu tegangan. Gaya reciprocal yang ringan dapat ditransmisikan pada maksila. b. Pada bidang vertikal, gigi dan tulang alveolar diberikan ataupun dibebaskan dari gaya normal. Jika konstruksi gigitan tinggi, maka suatu tegangan yang besar dapat dihasilkan pada jaringan yang berdekatan. Jika ditransmisikan pada

maksila, gaya-gaya tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan mempengaruhi inklinasi dari dasar maksila.

c.

Pada bidang transversal, gaya juga dapat dibuat untuk mengoreksi midline, akan tetapi hanya pergeseran mandibula (skeletal) dan tidak pada pergeseran dental midline.

3.

Berbagai elemen aktif (seperti pegas, sekrup) dapat dibuat pada aktivator untuk menghasilkan suatu tipe biomekanis aktif dari aplikasi gaya. Jenis perawatan ini

merupakan kontraindikasi terhadap konsep Haupl, akan tetapi berdasarkan penelitian Reitan mengatakan bahwa hal ini diperkenankan untuk menggunakan kombinasi elemen mekanis dengan perawatan aktivator.

Cara Kerja dari Aktivator Telah kita ketahui bahwa dengan penggunaan aktivator, kita dapat meningkatkan kontraksi isometrik dari otot, atau meningkatkan efek dari aktivitas rekfleks miostatik, dan memanfaatkan sifat viskoelastis dari jaringan lunak dan otot. Beberapa sifat viskoelastis tersebut yaitu: Mengosongkan pembuluh darah Sifat dan cairan interstisial Meregangkan serabut otot Deformasi elastis dari tulang Adaptasi bioplastik

Modus penggunaannya bervariasi tergantung pada konstruksi dari alat, khususnya tergantung pada cara saat menggigit. Berdasarkan konstruksi alatnya, dapat kita bagi ke dalam dua cara:
5

Cara 1. Tekanan yang diberikan saat terapi aktivator disebabkan oleh kontraksi otot dan aktivitas reflek miostatik. Alat yang longgar menstimulasi otot, dan pergerakan alatnya dapat

menggerakkan gigi. Alat ini memberikan tekanan yang intermiten menggunakan energi kinetik. Prasyarat dari cara terapi ini adalah pada dislokasi mandibula anterior dengan gigitan rendah dan alat yang longgar (pengurangan bagian dari alat). Untuk cara terapi ini, kita membentuk aktivator horizontal yang disesuaikan dengan pola pertumbuhan horizontal.

Cara 2. Alat menekan diantara rahang dalam posisi splinting. Alat ini berusaha menekan

pergerakan gigi dalam posisi rigid. Refleks regangan teraktivasi, elastisitas jaringan inheren bekerja, dan tegangan terjadi tanpa intermiten. Alat bekerja dengan menggunakan energi

potensial. Untuk cara ini, perlu ada kompensasi lebih pada konstruksi gigitan bidang vertikal. Regangan efisien didapat dari kompensasi berlebih dan eksploitasi dari kemampuan viskoelastis dari jaringan lunak. Untuk cara terapi ini, kita membentuk aktivator vertikal yang tinggi dan hanya menghasilkan sedikit pergeseran ke depan untuk konstruksi gigitannya. Ini diindikasikan untuk pola pertumbuhan vertikal.

Keunikan pada terapi aktivator: Disoklusi dari gigi


6

Pemeliharaan posisi kondilus anterior dan inferior, tergantung pada konstruksi gigitan. Efek yang berbeda-beda pada erupsi gigi, tergantung dari trimming. Menggunakan tekanan yang tidak lebih besar dari yang dihasilkan oleh otot pasien itu sendiri. Disoklusi: hubungan interkapsular memiliki fungsi sebagai pembanding untuk hubungan intermaksilar. pertumbuhan mandibula. Disoklusi memperlihatkan deregulasi, yang merangsang Efek dari disoklusi pada alat fungsional adalah untuk

merangsang pertumbuhan mandibula, berlawanan dengan alat cekat yang tidak memiliki efek ini.

Konstruksi Gigitan Sebelum konstruksi gigitan didapat, dibutuhkan adanya bidang yang tepat. Saat

preparasi, operator perlu mempelajari secara detail dengan cetakan plastik serta foto sefalometrik dan panoral head, dan menganalisa pola fungsional dari pasien tersebut. Pemenuhan keluhan pasien perlu diperhatikan. Motivasi terhadap pasien juga perlu diberikan.

Analisis model studi Perbedaan garis median secara alami, jika ada, harus diidentifikasi: jika garis median tidak sesuai, analisis fungsional perlu dibuat untuk menentukan arah penutupan rahang dari posisi istirahat ke posisi oklusi. Jika terjadi perubahan garis median, masalah fungsional

mungkin dapat dikoreksi dengan alat. Ketidaksesuaian garis median secara dentoalveolar tidak dapat dikoreksi dengan alat fungsional. Selain itu, kesimetrisan lengkung gigi, kurva spee, dan crowding perlu diperiksa.

Analisis fungsional 1. Pencatatan posisi istirahat rahang saat kepala dalam posisi normal. Untuk pembentukan gigitan, kita aktivasi otot dari posisi ini. 2. Jalan penutupan mandibula dari posisi istirahat ke oklusi habitual (dicatat ada atau tidaknya deviasi sagital atau transversal). Sangat penting untuk dapat membedakan, contoh, perbedaan antara maloklusi kelas II sejati (posisi istirahat postural pada regio posterior), dengan posisi fungsional (posisi istirahat postural pada regio anterior). Pada maloklusi kelas II, posisi istirahat bagian anterior mendukung terapi fungsional; posisi istirahat bagian posterior membutuhkan terapi komprehensif dengan penambahan waktu retensi. 3. Beberapa hal yang dapat dikurangi dengan terapi aktivator, diantaranya adalah prematuritas, titik dari kontak inisial, interferensi oklusal, dan resultan dari pergeseran mandibula, namun hal tersebut membutuhkan pengukuran terapeutik yang lainnya. 4. Pemeriksaan TMJ. Beberapa abnormalitas fungsional dari TMJ memerlukan beberapa modifikasi dari desain alat. 5. Pembebasan interoklusal atau free way space memiliki 2 tahap: tahap bebas (saat penutupan sampai kontak pertama) dan tahap oklusal (dari kontak pertama sampai oklusi penuh). Hubungan ini perlu diperiksa. 6. Pernafasan. Dengan terganggunya respirasi nasal atau membesarnya tonsil, pasien tidak akan dapat menggunakan alat yang tebal; abnormalitas pernafasan harus dieliminasi terlebih dahulu.

Gambar 4.14 Beberapa gambaran relasi saat penutupan mandibula dari posisi istirahat. a. relasi oklusal, b. pergerakan normal, c. posisi anterior postural, d. posisi istirahat posterior postural

Gambar 4.15 Respirasi nasal dapat terganggu dengan adanya pembengkakan tonsil atau adenoid