Anda di halaman 1dari 13

TITIK-TITIK PERTALIAN TITIKTITIK TAUT

A. Pengertian
Titik-titik pertalian atau titik-titik taut dalam HPI biasa juga disebut dengan istilah anknopingspunten (Belanda), connecting factors atau point of contact (Inggris). Menurut Sudargo Gautama, titik taut atau titik-titik pertalian adalah hal-hal atau keadaan yang menyebabkan berlakunya suatu stelsel hukum (feiten omstandigheiden die voor toepassing in aanmerking doen komen het een ofandere rechtstelsel) Di dalam HPI dikenal dua macam titik pertalian, yaitu titik pertalian primer (titik taut pembeda) dan titik pertalian sekunder (titik taut penentu).

B. Titik-Titik Pertalian Primer (Titik Taut Pembeda)


Titik-titik pertalian primer (TPP) adalah faktor-faktor atau keadaan-keadaan atau sekumpulan fakta yang melahirkan atau menciptakan hubunganHPI. Faktor-faktor .yang termasuk dalam TPI, adalah sebagai berikut:
1. 2. 3. 4. 5. 6.

kewarganegaraan; bendera kapal dan pesawat udara; domisili (domicile), tempat kediaman (residence) tempat kedudukan badan hukum (legal seat); dan pilihan hukum dalam hubungan intern.

1. Kewarganegaraan
Perbedaan kewarganegaran di antara para pihak yang melakukan suatu hubungan hukum akan melahirkan persoalan HPI. Misalnya: Seorang Warganegara Indonesia menikah dengan warganegara Belanda, atau seorang warga negara Indonesia melakukan suatu transaksi jual beli dengan seorang warganegara Jerman.

2.Bendera Kapal dan Pesawat Udara


Hukum bendera kapal atau pesawat udara tersebut menunjukkan kebangsaan kapal atau pesawat udara itu. Kebangsaan kapal atau pesawat udara ditentukan berdasarkan di negara mana kapal atau pesawat udara itu didaftarkan. Karena bendera atau kebangsaan kapal atau pesawat udara berbeda dengan kebangsaan (kewarganegaraan) pihak-pihak yang bersangkutan dengan kapal atau pesawat udara dapat menimbulkan persoalan HPI.

3. Domisili (Domicile)
Persoalan domisili dapat juga menjadi faktor penting timbulnya persoalan HPI. Misalnya : Seorang warganegara Inggris (A) yang berdomisili di negara Y, melangsungkan perkawinan dengan warganegara Inggris (B) yang berdomisili di negara X.

4. Tempat Kediaman
Persoalan tempat kediaman seseorang juga, dapat melahirkan masalah HPI. Misalnya: Dua orang warganegara Malaysia yang berkediaman sementara di Indonesia melangsungkan pernikahan di Indonesia.

5. Tempat Kedudukan Badan Hukum


Sebagaimana halnya manusia, badan hukum sebagai subjek hukum juga memiliki kebangsaan dan tempat kedudukan (legal seat). Umumnya kebangsaan badan hukum ditentukan berdasarkan tempat (atau negara) di mana pendirian badan hukum tersebut di daftarkan.

6. Pilihan Hukum Dalam Hubungan Intern


Para pihak sepakat dalam perjanjian untuk memilih hukum asing diluar kewarganeraan para pihak atau perusahaan

Titik Pertalian Sekunder (Titik Taut Penentu)


faktor-faktor atau sekumpulan fakta yang menentukan hukum manakah yang harus digunakan atau berlaku dalam hubungan HPI (lex causae). TPS adalah:
1.

Tempat terletaknya benda (lex situs = lex rei sitae); Kewarganegaraan atau domisili pemilik benda bergerak (mobilia sequuntur personam); Tempat dilangsungkannya perbuatan hukum (lex loci aciusi; Tempat terjadinya perbuatan melawan hukum (lex loci delicti commisi); Tempat diresmikannya pernikahan (lex loci celebrationis); Tempat ditandatanganinya kontrak (lex loci contractus); Tempat dilaksanakannya kontrak (lex loci solutionis = lex loci exccuiionis ); Pilihan hukum (choice of law); Kewarganegaraan (lex patriae); Domisili (lex domicilii); Bendera kapal atau pesawat udara; Tempat kediaman; dan Tempat kedudukan atau kebangsaan badan hukum.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Indonesia anut Tiga Kaidah HPI


Menurt AB: Pasal 16, status personal harus diatur menurut hukum kebangsaan atau kewarganegaraannya (status personalia) Pasal 17, status benda harus diatur menurut hukum negara benda terletak (status realia) Pasal 18, suatu perbuatan harus diatur menurut hukum tempat dilaksanakannya perbuatan itu (status mixta)

R.H. Graveson, tigal hal penting menyelesaikan kasus HPI


1.

Titik taut apa sajakah yang dipilih sistem HPI tertentu yang dapat diterapkan pada sekumpulan fakta yang bersangkutan; Berdasar sistem hukum manakah diantara berbagai sistem hukum yang relevan dengan perkara, titik taut akan ditentukan; Setelah kedua masalah tadi ditetapkan barulah ditetapkan bagaimana pertautan itu dibatasi oleh sistem hukum yang akan diberlakukan (lex causa)

2.

3.

Tahap-tahap Penyelesaian Perkara HPI


1.

Penentuan Titik Taut Primer Kualifikasi fakta berdasarkan lex fori (kategori yuridis perkara yag dihadapi) Penentuan kaidah HPI mana dari lex fori yang harus digunakan untuk menentukan lex causae Setelah titik-titik taut lex causae ditentukan, maka hakim berusaha menetapkan kaidah-kaidah hukum internal yang akan digunakan untuk menyelesaikan perkara Berdasarkan titik taut lex causae hakim telah dapat menentukan kaidah hukum internal atau hukum materiil apa yang harus diberlakukan, kemudian diputuskan.

2.

3.

4.

5.