Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK PENENTUAN KADAR KOLESTEROL (METODE CHOD-PAP) DAN PENENTUAN KADAR TRIGLISERIDA

Senin, 18 Oktober 2010 Pukul 13.00 16.00

Disusun oleh: Fitria Dewi Putri 260110070134

Rahma Fajariasari S. 260110070136 Dina Hafizah Dewi Fitriana Gita Susanti Berti Efrianti Toni Fatoni 260110070138 260110070139 260110070140 260110070141 260110070142

LABORATORIUM KIMIA KLNIK FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

PENENTUAN KADAR KOLESTEROL (METODE CHOD-PAP) DAN PENENTUAN KADAR TRIGLISERIDA

I.

TUJUAN PERCOBAAN Setelah menyelesaikan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat: 1. Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan kolesterol dalam darah 2. Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan trigliserida dalam darah 3. Menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh

II.

PRINSIP PERCOBAAN a. Kolesterol Kolesterol total ditetapkan langsung di dalam plasma atau serum dengan satu sisi reaksi dimana ester kolesterol dihidrolisis, gugus 3OH kolesterol dioksidasi, kemudian hydrogen peroksida yang merupakan salah satu hasil reaksi ditetaspkan secara enzimatis. 4

Absorbansi warna diukur pada panjang gelombang 500 nm.

b. Trigliserida 3
2 2 2 2

4 4

4 4
2

III.

TEORI a. Kolesterol Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan berbentuk seperti lilin yang diproduksi oleh tubuh manusia, terutama di dalam lever (hati). Kolesterol terbentuk secara alamiah. Dari segi ilmu kimia, kolesterol merupakan senyawa lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh dengan bermacam-macam fungsi, antara lain untuk membuat hormon seks, hormon korteks adrenal, vitamin D, dan untuk membuat garam empedu yang membantu usus untuk menyerap lemak. Jadi, bila takarannya pas atau normal, kolesterol adalah lemak yang berperan penting dalam tubuh. Namun, jika terlalu banyak, kolesterol dalam aliran darah justru berbahaya bagi tubuh (Nilawati, 2008). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, kelebihan kolesterol akan menyebabkan zat tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dalam tubuh dan akan mengendap dalam pembuluh darah arteri. Hal yang akan terjadi selanjutnya adalah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah (lazim dikenal sebagai atherosklerosis) hingga penyumbatan dan pemblokiran aliran darah (atherosklerosis). Akibatnya, jumlah suplai darah ke jantung berkurang, terjadi sakit atau nyeri dada yang disebut angina, bahkan dapat menjurus ke serangan jantung (Nilawati, 2008). Kolesterol berasal dari organ binatang terutama bagian otak, kuning telur, dan jeroan. Demikian juga produksi yang berasal darinya, seperti susu asli, keju, mentega, dan lain-lain. Sementara bahan makana yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan tidak mengandung kolesterol. Dengan demikian, cara yang efektif untuk mengurangi kadar kolesteol dalam tubuh dapat dilakukan dengan mengkonsumsi sayuran dan buah (Nilawati, 2008). Fungsi Lemak dan Akibat Kelebihan Kolesterol di Dalam Darah Lemak juga dibutuhkan tubuh terutama dalam proses produksi berbagai macam hormon, sebagai pembungkus jaringan saraf (mielin), melapisi membran sel, prekursor prostaglandin dan merupakan pelarut

vitamin (A, D, E, dan K). Pada anak-anak, lemak, kolesterol dan derivatnya sangat dibutuhkan bagi perkembangan sel-sel otaknya dan hal ini yang akan menentukan tingkat kecerdasannya kelak di kemudian hari (Dalimartha, 2008). Seperti dikemukakan sebelumnya, kolesterol hanya didapat dari makanan yang berasal dari hewan dan trigliserida berasal dari karbohidrat. Namun, hati pun bisa membentuk kolesterol dan trigliserida dari makanan yang mengandung karbohidrat serta lemak jenuh seperti daging, margarin, mentega, keju, minyak sawit, dan minyak kelapa (Dalimartha, 2008). Saat ini kelebihan kolesterol menjadi momok yang sangat ditakuti orang karena sebagai salah satu faktor penyempitan pembuluh darah yang dinamakan aterosklerosis, yaitu suatu proses pengapuran dan pengerasan dinding pembuluh darah, terutama di jantung, otak, ginjal, dan mata. Pada otak, aterosklerosis menyebabkan stroke, sedangkan pada jantung menyebabkan penyakit jantung koroner (PJK) (Dalimartha, 2008). Kolesterol adalah suatu molekul lemak di dalam sel dibagi menjadi LDL, HDL, total kolesterol dan trigliserida. Kolesterol sebenarnya merupakan salah satu komponen lemak. Seperti kita ketahui, lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita disamping zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Disamping sebagai salah satu sumber energi, sebenarnya lemak atau khususnya kolesterol memang merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama untuk membentuk dinding sel-sel dalam tubuh. Kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan hormon-hormon steroid. Kolesterol yang kita butuhkan tersebut, secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dalam jumlah yang tepat. Tetapi ia bisa meningkat jumlahnya karena asupan makanan yang berasal dari lemak hewani, telur dan yang disebut sebagai makanan sampah (junkfood). Kolesterol dalam tubuh yang berlebihan akan tertimbun di dalam dinding pembuluh darah dan menimbulkan suatu kondisi yang disebut

aterosklerosis yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah. Kondisi ini merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung dan stroke (Indica, 2010). Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL sehingga ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B (apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang "jahat" karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah. Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang "baik" karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat (Parker, 2010). Sifat

Kolesterol memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam air, dan karena itu tidak dapat melakukan perjalanan secara bebas

dalam darah . Sebaliknya ia diangkut dalam aliran darah oleh lipoprotein berbasis protein "koper" lemak dengan kolesterol luar bantalan larut air dan lemak lainnya di dalam. Lipoprotein mengidentifikasi sepanjang yang protein mereka membawa pada permukaan mereka, dan liproteiner kolesterol berbagai transportasi dari tujuan yang berbeda untuk target yang berbeda (Skiver, 2008). Para lipoprotein terbesar adalah yang membawa lemak

dari mukosa dalam usus ke hati, dan disebut kilomikron . Kilomikron transportasi terutama trigliserida dan kolesterol, baik ketika kolesterol diekstraksi dari makanan dan ketika diekskresikan dalam empedu . Dari hati kemudian dilepaskan LDL partikel, yang membawa trigliserida dan kolesterol ke sel-sel tubuh. HDL kontras membawa kolesterol dari jaringan tubuh ke hati, di tempat yang dapat dikeluarkan. Baik LDL dan HDL dapat dibagi lagi menjadi bentuk yang lebih kecil dan ukuran (Skiver, 2008). Beberapa Fraksi Lemak Darah Lemak di dalam darah terdiri dari kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Tiga fraksi (unsur) lemak yang pertama berikatan dengan protein khusus yang bernama apoprotein menjadi kompleks lipid-protein atau lipoprotein. Ikatan itulah yang menyebabkan lemak bisa larut, menyatu dan mengalir di peredaran darah. Unsur lemak yang terakhir, yaitu asam lemak bebas berikatan dengan albumin (Dalimartha, 2008). Lipoprotein terbagi menjadi 5 fraksi sesuai dengan berat jenisnya yang dibedakan dengan cara ultrasentrifugasi. Kelima fraksi tersebut adalah kilomikron, very low density lioprotein (VLDL), intermediate density lipoprotein (IDL), low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Lipoprotein juga bisa dibedakan dengan cara elektroforesis menjadi beta lipoprotein (LDL), pre-beta lipoprotein (VLDL), broad beta (beta VLDL), dan alpha lipoprotein (HDL) (Dalimartha, 2008).

Kilomikron Merupakan lipoprotein dengan berat molekul terbesar dan mengandung Apo-B48. Kandungannya sebagian besar trigliserida (8095%) untuk dibawa ke jaringan lemak dan otot rangka. Kilomikron juga mengandung kolesterol (2-7%) untuk dibawa ke hati. Setelah 8-10 jam sejak makan terakhir, kilomikron tidak ditemukan lagi di dalam plasma. Adanya kilomokron sewaktu puasa dianggap abnormal (Dalimartha, 2008). Lipoprotein Densitas Sangat Rendah (VLDL) Dibentuk dari asam lemak bebas di hati dengan kandungan ApoB100. VLDL mengandung 55-80% trigliserida dan 5-15% kolesterol (Dalimartha, 2008). Lipoprotein Densitas Sedang (IDL) Juga mengandung trigliserida (20-50%) dan kolesterol (20-40%). IDL merupakan zat antara yang terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL. IDL disebut juga VLDL sisa (Dalimartha, 2008). Lipoprotein Densitas Rendah (LDL) Merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar (40-50%) untuk disebarkan ke seluruh endotel jaringan perifer dan pembuluh nadi. LDL merupakan metabolit VLDL yang disebut juga kolesterol jahat karena efeknya yang aterogenik, yaitu mudah melekat pada dinding sebelah dalam pembuluh darah dan menyebabkan penumpukan lemak yang dapat menyempitkan pembuluh darah. Proses tersebut dinamakan aterosklerosis. Tingginya kolesterol-LDL (kol-LDL) bisa terjadi akibat kurangnya pembentukan reseptor LDL seperti pada kelainan genetik (hiperkolesterolemia familial), atau jenuhnya reseptor LDL yang ada sehubungan konsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung kolesterol tinggi dan lemak jenuh, tingginya kadar VLDL, serta kecepatan produksi, dan eliminasi LDL. Jaringan yang banyak mengandung adalah hati dan kelenjar adrenal. Peningkatan kadar kol-LDL di dalam darah akan menyebabkan metabolisme LDL terganggu (Dalimartha, 2008).

Lipoprotein Densitas Tinggi (HDL) Merupakan lipoprotein yang mengandung Apo AI dan Apo AII dengan kandungan trigliserida (5-10%) dan kolesterol (15-25%). HDL mempunyai efek antiaterogenik kuat sehingga disebut juga kolesterol baik. Fungsi utama HDL yaitu mengangkut kolesterol bebas yang terdapat dalam endotel jaringan perifer termasuk pembuluh darah, ke reseptor HDL di hati untuk dijadikan empedu dan dikeluarkan ke usus kecil untuk mencerna lemak dan dibuang berupa tinja. Dengan demikian, penimbunan kolesterol di perifer berkurang. Kadar HDL diharapkan tinggi di dalam darah. Namun, kadarnya rendah pada orang gemuk, perokok, penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol, dan pemakai pil KB (Dalimartha, 2008). Fungsi Kolesterol Kolesterol adalah komponen penting dari semua membran biologis, termasuk membran sel yang memisahkan sel ke bagian luar dan berbagai membran di dalam sel. Tekstur membrane, viskositasnya ditentukan oleh jumlah kolesterol, yang membuat membrane menjadi stabil pada kisaran temperature yang besar (Skiver, 2008). Kolesterol adalah bahan awal utama untuk sintesis vitamin D, hormon steroid seperti kortisol dan aldosteron dari kelenjar adrenal dan hormon seperti progesteron , estrogen dan testosteron (Skiver, 2008). Sumber Kolesterol Jumlah terbesar kolesterol dalam tubuh manusia disintesis dari asetil koenzim A- di banyak jenis sel dan jaringan . Sekitar 20-25% dari produksi harian, biasanya sekitar 1 gram per hari, terjadi di dalam hati. organ lain yang mensintesis kolesterol adalah usus , kelenjar

adrenal dan alat kelamin . Seorang pria yang memiliki berat 70 kilogram, yang umumnya sekitar 25 gram kolesterol dalam tubuh, dan mungkin setiap hari di 200-250 miligram melalui diet. Sekitar 1,2-1,3 miligram untuk memasuki usus, di mana sekitar setengah diserap ke dalam darah. Anda melakukannya dengan baik bahkan jika Anda tidak menerima

kolesterol melalui diet, ketika sel-sel kekebalan tubuh sendiri dapat menghasilkan semua kolesterol yang mereka butuhkan (Macnair, 2007). Ekskresi Kolesterol Kolesterol dikeluarkan dari hati ke dalam empedu. empedu meninggalkan tubuh dengan kotoran, tetapi Beberapa beberapa

dikembalikan lagi melalui usus . Jika kolesterol menumpuk dalam konsentrasi tinggi, seperti kandung empedu , itu mengkristal. kolesterol mengkristal, dan merupakan salah satu unsur utama dari jenis batu empedu yang paling umum (Macnair, 2007). Penyebab Tingginya Kolesterol Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan sumber kolesterol (seperti makanan berminyak, bersantan, makanan fast food), alkohol dan gula yang berlebihan (Indica, 2010). Diet Untuk Kolesterol Kadar kolesterol tinggi seringkali dapat dicegah melalui pola makan sehat dan olahraga ringan. Beberapa makanan memiliki

kecenderungan untuk meningkatkan kadar kolesterol darah sedangkan yang lain mungkin bahkan lebih rendah kadar LDL. Sebagai contoh, diketahui bahwa beta-glukan dari gandum dan sterol membantu

mengurangi kadar kolesterol (Skiver, 2008). Lemak trans dari margarin menurunkan HDL dan meningkatkan LDL. Peningkatan besar dalam penyakit kardiovaskular pada paruh kedua tahun 1900 bertepatan dengan peningkatan asupan margarin dengan isi lemak trans buatan. Lemak tak jenuh ganda (misalnya dari minyak goreng dan margarin) mengurangi kolesterol darah. Mekanisme di balik ini adalah bahwa asam lemak Omega6 dari minyak margarin atau memasak memasuki membran sel dan menggantikan stabil, lemak jenuh. Hal ini mengubah stabilitas dan fungsionalitas dari membran sel. Untuk memperbaiki hal ini, adalah karena kolesterol dari darah ke dalam membran sel, untuk menstabilkan mereka. Lemak jenuh meningkatkan LDL (Skiver, 2008).

Penanganan hiperkolesterol 1. Makanlah makanan tinggi serat, gunakan minyak mufa (monounsaturated fatty acid) dan pufa (poly-unsaturated fatty acid), suplementasi minyak ikan, vitamin antioksidan dan pertahankan berat badan ideal. 2. Apabila pengatur gaya hidup tidak mampu menurunkan kadar

kolesterol dalam darah, maka pasien harus mengkonsumsi obat. Obat yang dapat digunakan yaitu : o Golongan asam fibrat Gemfibrozil, Fenofibrate dan Ciprofibrate. Fibrate menurunkan produksi LDl dan meningkatkan kadar HDL. LDL ditumpuk di arteri sehingga meningkatkan resiko penyakit jantung, sedangkan HDL memproteksi arteri atas penumpukkan itu. o Golongan resin Kolestiramin (Chlolestyramine) Obat antihiperlidemik ini bekerja dengan cara mengikat asam empedu di usus dan meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah. o Golongan Penghambat HMGCoa reduktase Pravastatin,

Simvastatin, Rosavastatin, Fluvastatin, Atorvastatin. Menghambat pembentukan kolesterol dengan cara menghambat kerja enzim yang ada di jaringan hati yang memproduksi mevalonate, suatu molekul kecil yang digunakan untuk mensintesa kolesterol dan derivat mevalonate. Selain itu meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah. o Golongan Asam nikotinat niasin Dengan dosis besar asam nikotinat diindikasikan untuk

meningkatkan HDL atau kolesterol baik dalam darah o Golongan Ezetimibe Menurunkan total kolesterol dan LDL juga meningkatkan HDL dengan cara mengurangi penyerapan kolesterol di usus. (Klinik, 2010).

Obat-Obat yang Menurunkan Kadar Kolesterol Darah Obat yang tersedia di pasaran mengurangi konsentrasi lipid plasma umumnya menurunkan kadar kolesterol atau trigliserid, tetapi tidak menurunkan keduanya sekaligus; obat ini memengaruhi kadar kolesterol LDL atau VLDL dalam sirkulasi. Niasin (asam nikotinat) merupakan pengecualian dan obat ini dapat menurunkan kadar LDL dan sekaligus VLDL. Obat antihiperlipidemia dapat direkomendasikan untuk

pengobatan pasien dengan kadar kolesterol LDL di atas 160 mg/dl (ekuivalen dengan 240 mg/dl total kolesterol). Tujuan penggunaan obat hipolipidemik adalah untuk menurunkan kolesterol LDL di bawah 130 mg/dl (Staf Pengajar, 2008). Sebelum memulai pengobatan hiperlipidemia, satu hal yang harus ditentukan ialah bahwa peningkatan lipid plasma secara langsung disebabkan oleh masalah dalam metabolisme dan bukan akibat patologi lain, seperti diabetes melitus, hipotiroidisme, atau alkoholisme. Namun, harus dimulai dengan dosis efektif minimum untuk membatasi efek samping (Staf Pengajar, 2008). Disamping diet, obat-obat hipolipidemik perlu diberikan pada 2 keadaan berikut: 1. Pada hiperkolesterolemia familial dan hiperproteinemia tipe III. 2. Pada semua jenis hiperlipidemia bila pengobatan dengan diet tidak memberikan hasil (Staf Pengajar, 2008). Pengobatan tunggal selalu lebih baik, namun bila perlu penggunaan 2 macam obat dapat dipertimbangkan bila dengan monoterapi tidak memberikan manfaat. Karena pengobatan hiperlipidemia merupakan pengobatan jangka panjang, diagnosis harus ditegakkan seteliti mungkin dengan mempertimbangkan rasio manfaat-risiko pengobatan (Staf Pengajar, 2008). Obat penurun lipid plasma utama yang tersedia dewasa ini adalah kolestiramin, lovastatin, kolestipol, niacin, dan probucol (Staf Pengajar, 2008).

b.

Trigliserida

Hubungan Glukosa dan Trigliserida Bila energi yang dihasilkan oleh sel tubuh dari glukosa tidak digunakan seluruhnya maka kelebihannya akan diproses menjadi glikogen yang disimpan di hati, atau menjadi trigliserida yang ditimbun dalam jaringan lemak di bawah kulit sebagai cadangan energi tubuh (Dalimartha, 2008). Trigliseria Trigliserida adalah lemak darah yang dibawa oleh serum lipoprotein. Trigliserida adalah penyebab utama penyakit-penyakit arteri dan biasanya dibandingkan dengan kolesterol dengan menggunakan lipopritein elektroforesis. Bila terjadi peningkatan konsentrasi trigliserida maka terjadi peningkatan very low density lipoprotein (VLDL) yang menyebabkan hiperlipoproteinemia. Masuknya alkohol dapat

menyebabkan peningkatan sementara kadar trigliserida serum (Kee, 1997). Di dalam darah hanya ada 3 jenis lemak dasar, yaitu kolesterol, trigliserida dan fosfolipid. Oleh karena sifat lemak yang tidak dapat larut dalam air (sedangkan darah kita terdiri dari air sebagai komponen utama), maka 3 bentuk lemak tersebut harus bercampur dengan zat pelarut untuk dapat beredar dalam darah. Zat tersebut adalah suatu jenis protein yang disebut Apoprotein (disingkat Apo). Senyawa lemak (gabungan dari 3 jenis lemak diatas) yang bergabung dengan Apo membentuk lipoprotein (LP). Jadi LP adalah kolesterol + trigliserida + fosfolipid + Apo (Tenggara, 2008). Lipoprotein (LP) berbeda dalam ukuran, densitas, komposisi lemak dan komposisi Apo. Perbedaan tersebut membuat terdapat beberapa jenis LP yaitu HDL, LDL, IDL, VLDL, kilomikron dan Lp(a). Jadi harusdimengerti bahwa istilah HDL atau LDL dll itu adalah suatu bentuk gabungan kolesterol, trigliserid, fosfolipid dan protein (Tenggara, 2008).

Seperti sudah dijelaskan, bahwa trigliserida (TG) adalah salah satu bentuk dari 3 lemak dasar manusia. Tidak seperti kolesterol yang disimpan dalam jaringan hati atau dinding pembuluh darah, TG akan disimpan dalam sel lemak dibawah kulit (yang menjadikan six pack abs sangat sulit diperoleh). Kadar TG yang tinggi akan merubah metabolisme VLDL menjadi suatu bentuk large VLDL. Bentuk L-VLDL ini akan menjadi LDL yang sangat mudah teroksidasi dan merusak HDL yang pada akhirnya akan memperberat kandungan kolesterol pembuluh darah (Tenggara, 2008). Trigliserida bukan kolesterol melainkan salah satu jenis lemak yang terdapat dalam darah yang dikemas dalam bentuk partikel lipoprotein. Makan makanan yang mengandung lemak akan meningkatkan kadar trigliserida dalam darah dan cenderung meningkatkan kadar kolesterol. lemak yang berasal dari nabati memang tidak mengandung kolesterol namun mengandung trigliserida yang tinggi contohnya durian, kelapa. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi tingginya trigliserida dalam darah seperti kegemukan, makanan berlemak jenuh tinggi, makanan yang tinggi glukosa / karbohidrat serta minuman alkohol. Pada beberapa kasus ditemukan adanya hubunagn faktor genetik dan trigliserida yang tinggi untuk menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida harus dibarengi dengan perubahan pola makan / memilah- milah jenis makanan (Luxor, 2008). Trigliserida merupakan lemak darah yang secara khusus berada pada lapis kedua low-density lipoprotein atau LDL, yang dikenal sebagai kolesterol "jahat" karena perannya dalam memicu serangan jantung dan stroke. Obat penurun kolesterol yang dikenal sebagai 'statin' memang dapat mengurangi LDL, tapi obat itu seringkali tak mampu menurunkan trigliserida -- lemak darah yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi dan lemak dalam tubuh. Trigliserida sendiri adalah faktor risiko independen penyakit jantung, yang merupakan penyebab utama kematian di AS. Trigliserida dan lemak lain biasanya diukur setelah orang berpuasa selama delapan sampai 12 jam. Penelitian di Denmark yang dimuat Journal of the

American Medical Association, Borge Noerdestgaard dari Copenhagen University Hospital menganalisis kadar trigliserida tanpa harus berpuasa untuk melihat seberapa baik mereka dapat meramalkan risiko stroke

(Continuing Professional Development Doctor Indonesia, 2010). Tingkat eleveted kolesterol dan trigliserida bertanggung jawab untuk menggambarkan masalah. Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam, 2007 online 26 edisi Desember jurnal medis dari American Academy of Neurology, orang dengan trigliserida tinggi dan peningkatan "nonkolesterol tinggi density lipoprotein" lebih mungkin untuk mengalami stroke dibandingkan mereka yang tingkat rendah lemak ini dalam darah (Harry, 2008). Trigliserida dibentuk dengan menggabungkan gliserol dengan tiga molekul asam lemak . Molekul gliserol memiliki tiga hidroksil (HO-) kelompok. Setiap asam lemak mempunyai karboksil grup (HOOC-). Pada trigliserida, kelompok hidroksil dari gliserol yang bergabung dengan kelompok karboksil asam lemak untuk membentuk ester obligasi (Nancy, 2008). Ketiga asam lemak biasanya berbeda, tetapi berbagai jenis trigliserida diketahui. Rantai panjang asam lemak dalam trigliserida yang terjadi secara alami bervariasi dalam panjang, tapi sebagian besar mengandung 16 -, 18 -, dan 20 - atom karbon . Asam lemak alami yang ditemukan pada tumbuhan dan hewan biasanya hanya terdiri dari bilangan genap atom karbon, yang mencerminkan jalur untuk biosintesis mereka dari karbon blok bangunan-dua asetil KoA . Bakteri, bagaimanapun, memiliki kemampuan untuk mensintesis asam lemak rantai cabang aneh. Akibatnya, ruminansia lemak hewani mengandung bernomor ganjil asam lemak, misalnya 15, karena aksi bakteri dalam rumen . Banyak asam lemak tak jenuh, beberapa polyunsaturated, misalnya, yang berasal dari asam linoleat (Nancy, 2008). Kebanyakan lemak alami mengandung campuran kompleks trigliserida individu. Karena itu, mereka mencair lebih dari berbagai

suhu. Cocoa butter tidak biasa dalam hal itu terdiri dari hanya beberapa trigliserida, berasal dari palmitat , oleat , dan stearat asam (Nancy, 2008). Enzim lipase pankreas bekerja pada ikatan ester, hydrolysing ikatan dan "melepaskan" asam lemak. Dalam bentuk trigliserida, lemak tidak dapat diserap oleh duodenum . Asam lemak, monogliserida (satu gliserol, satu asam lemak) dan beberapa digliserida diserap oleh duodenum, setelah trigliserida telah rusak (Nancy, 2008). Trigliserida, sebagai komponen utama -low-density lipoprotein sangat (VLDL) dan kilomikron, memainkan peran penting

dalam metabolisme sebagai sumber energi dan pengangkutan lemak makanan. Mereka mengandung lebih dari dua kali sebagai banyak energi (9 kkal / g atau 38 kJ / g) sebagai karbohidrat dan protein. Dalam usus, trigliserida dibagi menjadi asam lemak bebas dan monoacylglycerol dalam proses yang disebut lipolisis , dengan sekresi lipase dan empedu, yang kemudian pindah ke serap enterosit , sel-sel lapisan usus. Trigliserida yang dibangun di enterosit dari fragmen mereka dan dikemas bersama-sama dengan kolesterol dan protein untuk membentuk kilomikron . Ini adalah dikeluarkan dari sel dan dikumpulkan oleh sistem limfe dan diangkut ke kapal besar di dekat jantung sebelum dicampur ke dalam darah. Berbagai jaringan dapat menangkap kilomikron, melepaskan trigliserida untuk digunakan sebagai sumber energi. Lemak dan sel-sel hati dapat mensintesis dan menyimpan trigliserida. Ketika tubuh membutuhkan asam lemak sebagai sumber energi, hormon glukagon sinyal rincian trigliserida oleh hormon sensitif lipase untuk melepaskan asam lemak

bebas. Karena otak tidak dapat menggunakan asam lemak sebagai sumber energi (kecuali diubah menjadi keton ), yang gliserol komponen

trigliserida dapat dikonversi menjadi glukosa , melalui glukoneogenesis , untuk bahan bakar otak ketika rusak. Sel lemak juga dapat dipecah karena alasan itu, jika kebutuhan otak yang pernah lebih besar daripada tubuh (Nancy, 2008).

Trigliserida

tidak

dapat

melewati

membran

sel

dengan

bebas. enzim khusus pada dinding pembuluh darah yang disebut lipase lipoprotein harus memecah trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak kemudian dapat diambil oleh sel-sel melalui transporter asam lemak (FAT) (Nancy, 2008).

Sumber Trigliserida Darah 1. Makanan yang kita makan: gula, produk hewani, lemak jenuh dalam permen,daging merah, produk susu diet lemak diserap melalui usus. 2. Diproduksi dalam tubuh oleh hati kita (Harry, 2008). Tingkat Trigliserida Beberapa orang yang memiliki kadar kolesterol darah tinggi juga memiliki trigliserida darah tinggi. Namun, tidak ada gejala. Jika darah Anda memiliki kolesterol darah tinggi serta trigliserida darah tinggi, risiko untuk penyakit jantung lebih besar daripada jika Anda hanya memiliki trigliserida tinggi atau hanya kolesterol tinggi. trigliserida yang tinggi dapat dikaitkan dengan resistensi insulin, rendah kolesterol HDL, kolesterol LDL tinggi, penyakit hati dan obesitas (Harry, 2008). Tingkat Trigliserida Normal (Ideal) Idealnya trigliserida dalam darah harus kurang dari 150 miligram per desiliter (mg / dL). Tingkat trigliserida dapat dianggap tinggi jika di atas 150 mg / dL dan jika Anda memiliki faktor risiko lain juga untuk penyakit jantung. Sangat kadar trigliserida yang tinggi mungkin

berhubungan dengan penyakit hati (Harry, 2008). Dalam tubuh manusia, kadar trigliserida yang tinggi dalam aliran darah telah dikaitkan dengan aterosklerosis , dan, dengan perluasan, risiko penyakit jantung dan stroke . Namun, dampak negatif relatif

mengangkat tingkat trigliserida dibandingkan dengan LDL : HDL rasio adalah sebagai belum diketahui. Risiko ini sebagian dapat dijelaskan oleh

hubungan terbalik yang kuat antara tingkat trigliserida dan tingkat HDLkolesterol (Nancy, 2008). The American Heart Association telah menetapkan pedoman untuk tingkat trigliserida: Tingkat (mg / dL) Tingkat (mmol / L) <150 150-199 200-499 > 500 <1,69 1.70-2.25 2.26-5.65 > 5,65 Interpretasi Normal range, risiko rendah Batas tinggi Tinggi Sangat tinggi: risiko tinggi

Harap dicatat bahwa informasi ini relevan dengan tingkat trigliserid sebagai dites setelah puasa 8 sampai 12 jam. sementara tingkat trigliserida tetap tinggi untuk jangka waktu setelah makan (Nancy, 2008). Penyebab Trigliserida Tinggi Pada dasarnya alasan untuk tingkat trigliserida tinggi adalah sama seperti untuk kadar kolesterol tinggi. Anda mungkin mempunyai kadar trigliserida darah yang tinggi karena salah satu alasan / penyebab berikut: 1. Obesitas dan berat badan 2. Diabetes tipe 2 dan / atau fluktuasi tingkat gula darah 3. Stres psikologis yang berkepanjangan 4. Makan terlalu banyak karbohidrat olahan seperti roti putih, pati, gula, permen, madu dan makanan lain yang tinggi di gula 5. Diet menyediakan lebih dari 60% energi dari karbohidrat 6. Mengkonsumsi rata-rata 550 mg kafein dari kopi, teh atau Cola, dll dalam satu hari 7. Rokok 8. Asupan nilai kalori tinggi berlebihan seperti lemak, alkohol, gula, dll 9. Kurangnya aktivitas fisik, tidak olahraga, gaya hidup 10. Beberapa obat seperti kortikosteroid, estrogen oral, obat anti-inflamasi seperti Hidrokortison, Prednisolon dan Prednisone; cholestyramins,

miconazole intravena, spironolactone, Quinapril, beberapa obat jerawat, dan lain-lain 11. Beberapa gangguan genetik (Harry, 2008) Pemeriksaan Laboratorium Untuk mengetahui profil lemak darah seseorang, umumnya dilakukan pemeriksaan fraksi lemak darah di laboratorium. Fraksi lemak yang perlu diperiksa adalah kadar trigliserida, kadar kolesterol total, kolesterol-LDL, dan kolesterol-HDL. Kadar kol-LDL sebaiknya diukur secara langsung. Namun, untuk memperingan biaya pemeriksaan, kolLDL dapat juga dihitung dengan rumus Friedewald, dengan syarat kadar trigliserida < 400 mg/dl. Rumusnya sebagai berikut: Kadar kol-LDL = kol-total kol-HDL 1/5 trigliserida (mg/dl) (Dalimartha, 2008) Sebelum dilakukan pemeriksaan darah perlu dilakukan persiapan terlebih dahulu agar hasilnya akurat. Untuk pemeriksaan trigliserida, diperlukan puasa 12 jam (semalam). Selama puasa boleh minum air putih, berkumur, atau sikat gigi. Untuk pemeriksaan kolesterol total, kolesterol LDL, maupun kolesterol HDL, tidak perlu puasa. Darah yang diambil untuk pemeriksaan adalah darah vena. Orang yang akan diperiksa harus duduk sedikitnya 10 menit sebelum contoh darah diambil (Dalimartha, 2008). Apabila hasil pemeriksaan laboratorium ternyata ada kadar lemak sebaiknya jangan tergesa-gesa membuat diagnosis displidemia primer dan langsung memberi obat hipolipidemik. Perlu dipikirkan terlebih dahulu kemungkinan menderita displidemia sekunder karena dengan

penanggulangan penyakit primernya akan menormalkan kembali kadar lemak darahnya (Dalimartha, 2008). Apabila ada keraguan apakah penyebabnya displidemia primer atau sekunder, baru dilakukan pemeriksaan yang lebih canggih seperti

pemeriksaan

apolipoprotein,

LCAT

(Lecithin-Cholesterol-Acyl-

Transferase), Lp(a), enzim lipolitik, dan sebagainya (Dalimartha, 2008).

IV.

ALAT DAN BAHAN Alat : 1. Kuvet 2. Pipet piston 3. Sentrifuga 4. Spektrofotometer UV-Vis Bahan : 1. Aquades 2. Reagen 3. Serum 4. Standar kolesterol 5. Standar trigliserida

V.

PROSEDUR a. Kolesterol Ke dalam kuvet dipipetkan : Blangko Reagen (l) Aquadest Standar Sampel Reagen 10 1000 Standar (l) 10 1000 Sampel (l) 10 1000

Dicampurkan dan diinkubasikan selama 20 menit pada suhu ruangan. Kemudian absorbansi sampel (Asampel) dibaca terhadap BR. Hitung konsentrasi kolesterol dalam sampel.

b. Trigliserida Ke dalam kuvet dipipetkan : Blangko Reagen (l) Aquadest Standar Sampel Reagen 10 1000 Standar (l) 10 1000 Sampel (l) 10 1000

Dicampurkan dan diinkubasikan selama 20 menit pada suhu ruangan. Kemudian baca absorbansi sampel (Asampel) terhadap BR. Hitung konsentrasi trigliserida dalam sampel.

VI.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN a. Kolesterol

Data Pengamatan A blanko = 0,065 nm A standar = 0,192 nm A standar A blanko = 0,192 nm 0,065 nm = 0,127 nm A sample = 0,441 nm 0,447 nm 0,449 nm A sample A blanko = 0,376 nm 0,382 nm 0,384 nm A sample rata-rata = 0,3807 nm

Perhitungan Konsentrasi kolesterol (mmol/L) = = = 15,49 mmol/L

Konsentrasi kolesterol (mg/dL)

= = = 599,48 mg/dL

b.

Trigliserida

Data Pengamatan A blanko = 0,154 nm A standar = 0,350 nm A standar A blanko = 0,350 nm 0,154 nm = 0,196 nm A sample = 0,175 nm 0,174 nm 0,165 nm A sample A blanko = 0,221 nm 0,020 nm 0,011 nm A sample rata-rata = 0, 017nm

Perhitungan Konsentrasi kolesterol (mmol/L) = = = 1,9948 mmol/L

Konsentrasi kolesterol (mg/dL)

= = = 173,469 mg/dL

VII.

PEMBAHASAN a. Kolesterol Praktikum ini bertujuan untuk menyiapkan pasien untuk

pemeriksaan kolesterol dalam darah dan menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh. Kolesterol merupakan steroid alkohol tidak jenuh yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Pengukuran kadar kolesterol dilakukan menggunakan metode CHOD-PAP. Prosedur pertama yang dilakukan adalah menyiapkan kuvet yang akan digunakan pada saat spektrofotometri UV-Vis. Kuvet yang digunakan sebanyak lima buah. Satu kuvet digunakan untuk larutan blanko, satu kuvet untuk larutan standar, dan tiga kuvet untuk larutan .L L . L 10 L 10 L 10 L 1000 L 1000 L . . 1000 L

Serum merupakan darah yang telah dipisahkan dari sel-sel darah merah dan zat-zat koagulan serta biasanya berwarna kuning pucat. Larutan reagen merupakan campuran dari beberapa enzim yang dapat mengubah kolesterol menjadi suatu senyawa berwarna sehingga dapat dideteksi oleh spektrofotometri UV-Vis. Pada proses pengambilan larutan, yaitu aquadest, reagen, dan sampel dilakukan dengan menggunakan mikropipet (pipet piston). Hal ini j 10 L . S

pipet piston digunakan, bagian atas pipet yang disebut thumb knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet. Setelah itu tip bersih dimasukkan ke dalam nozzle / ujung pipet piston sampai pas (tidak jatuh). Thumb knob ditekan sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi karena cairan yang terambil akan lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya. Setelah itu, tip

dimasukkan ke dalam cairan sedalam 3-4 mm karena jika kurang dari nilai tersebut dikhawatirkan cairan tidak terambil sempurna (ada gelembung

udara yang terambil), sedangkan jika lebih dari nilai tersebut dikhawatirkan terdapat kontaminan dari tip pipet. Selanjutnya pipet ditahan dalam posisi vertikal kemudian tekanan dari thumb knob dilepaskan sehingga cairan masuk ke tip. Ujung tip dipindahkan ke dalam kuvet. Untuk mengeluarkan cairannya, thumb knob ditekan sampai hambatan kedua / second stop atau ditekan semaksimal mungkin sehingga semua cairan keluar dari ujung tip. Pipet piston digunakan dalam percobaan ini karena memiliki ketelitian, sensitivitas, dan spesifisitas yang tinggi bila dibandingkan dengan pipet gelas. Pada kuvet blanko, setelah dimasukkan aquadest dan larutan reagent, kuvet digoyang agar larutan tercampur secara sempurna. Setelah itu kuvet diinkubasikan pada suhu ruang yaitu 27 oC selama 10 menit. Proses inkubasi ini bertujuan memberikan waktu untuk terjadinya reaksi antara kedua larutan dalam campuran tersebut. Inkubasi ini juga dilakukan untuk kuvet standar dan kuvet sampel. Pengukuran blanko perlu dilakukan karena dikhawatirkan terjadi perubahan reagen pada saat inkubasi dan memberikan serapan pada panjang gelombang pengukuran. Saat proses inkubasi, terjadi reaksi antara reagen dengan kolesterol yang terdapat pada larutan standar dan sampel. Setelah diinkubasi, kedua larutan yang tadinya berwarna bening dalam masing-masing kuvet berubah menjadi warna merah rosa. Warna merah tersebut menandakan telah terjadinya reaksi antara enzim dengan kolesterol. Warna merah tersebut berasal dari senyawa quinoneimine, yang merupakan hasil reaksi antara reagen dan kolesterol. Reaksi yang terjadi yaitu sebagai berikut :

Perubahan warna (menjadi berwarna merah) diperlukan agar campuran larutan dapat diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, khususnya dengan sinar visibel. Quinoeimine akan terukur absorbansinya pada panjang gelombang 546 nm dan nilai absorbansi tersebut sebanding dengan kadar kolesterol dalam darah. Setelah inkubasi selesai, masing-masing larutan blanko, standard dan sampel diukur absorbansinya dengan spektrofotometer. Pengukuran

dilakukan pada panjang gelombang 546 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum untuk quinoeimine. Untuk larutan sampel, pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali (triplo) agar kesalahan pada saat pengukuran dapat dihindari sehingga hasilnya lebih akurat. Ketiga hasil yang didapat dirata-ratakan dan dihitung kadar kolesterol dalam sampel. Absorbansi yang diperoleh pada saat pengukuran larutan sampel adalah 0,441 ; 0,447 ; dan 0,449. Rata-rata absorbansi larutan sampel adalah 0,456. Sedangkan absorbansi larutan standar adalah 0,192. Karena larutan blanko memberikan absorbansi yaitu 0,065 maka absorbansi masing-masing sampel dan standar dikurangi dengan nilai absorbansi blanko agar diperoleh absorbansi sampel dan standar yang sebenarnya. Nilai dari kedua absorbansi tersebut dapat digunakan untuk menghitung kadar kolesterol dalam sampel dengan menggunakan rumus : [ ] [ ]

Konsentrasi kolesterol standar (normal) adalah dibawah 200 mg/dl. Sedangkan konsentrasi kolesterol dalam sampel yang diperoleh dari perhitungan sebesar 599,48 mg/dl. Nilai tersebut melebihi dari batas kolesterol hiperlipidemia (hiperkolesterolemia) yaitu 200 mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami hiperkolesterolemia.

b.

Trigliserida Tujuan dari percobaan kali ini adalah menyiapkan pasien untuk

pemeriksaan trigliserida dalam darah dan menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh. Untuk menetapkan kadar trigliserida dalam serum pasien digunakan metode CHOD-PAP (Cholesterol Oxidase Phenol Aminoantypirine). Prinsip pengukurannya adalah trigliserida diukur setelah melalui proses oksidasi dan hidrolisis enzimatik. Indikator kuinonimin dibentuk dari hydrogen peroksida dan 4-aminofenanzon yang berasal dari fenol dan peroksidase. Reaksi :

Pertama-tama darah pasien (sampel) diambil. Selanjutnya darah tersebut ditampung dalam tabung sentrifugasi dan kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 30 menit (ini merupakan waktu dan kecepatan yang optimum dalam memisahkan antara plasma darah dan serumnya). Prinsip dari sentrifugasi adalah memisahkan serum dan plasma berdasarkan prinsip berat jenis (BJ) dimana plasma berwarna lebih merah tua pekat, sehingga berada pada bagian bawah tabung (BJ besar), sedangkan serum yang berwarna merah bening (BJ kecil) akan berada pada bagian atas tabung. Pada percobaan ini, reaksi yang terjadi adalah enzim lipase akan memperantarai hidrolisis trigliserida menjadi gliserol dan asam-asam lemak. Selanjutnya gliserol ini akan mengalami fosfatasi dengan bantuan enzim gliserol kinase yang akan menghasilkan gliserol-3-fosfat. Kemudian gliserol-3-fosfat akan dioksidasi menghasilkan dihidroksi-aseton-fosfat dan H2O2 (hydrogen peroksida). Pada tahap selanjutnya, hydrogen

peroksida inilah yang akan bereaksi dengan 4-aminofenazon dan 4klorofenol dengan bantuan enzim peroksidase membentuk kompleks kuinonimin yang berwarna merah muda yang kemudian dapat diukur secara fotometrik. Prinsip dari pengujian ini adalah dengan menembakkan energi j c maks yang

digunakan adalah 546nm) pada suatu senyawa (dalam hal ini adalah kuinonimin). Hal ini membuat elektron dari senyawa tersebut akan tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi. Setelah mengalami eksitasi, elektron tersebut akan turun kembali ke ground state (keadaan dasar), sambil melepaskan emisi yang akan terukur oleh detektor. Salah satu yang memegang peranan penting dalam pengujian kali ini adalah adanya gugus kromofor dalam kuinonimin berupa ikatan rangkap terkonjugasi, keton, dan imina. Setelah serum didapat, diambil sebanyak 10 L dan ditambahkan reagen sebanyak 1000 L dan diaduk dengan tujuan agar serum dan reagen homogen. Ini dilakukan sebanyak 3 kali (triplo) agar kesalahan relatif yang dihasilkan menjadi lebih kecil sehingga hasil pemeriksaan yang dilakukan mempunyai keakuratan yang lebih tinggi. Larutan blanko dibuat dengan mengambil aquadest dan reagen sebanyak 10 L dan 1000 L. Tujuan dari pembuatan larutan blanko adalah aquades (pelarut) yang digunakan tidak memililiki daya absorbansi (tidak mempengaruhi hasil pengukuran) sehingga ketika kita mengukur sampel, hanya kadar yang ingin kita ukur saja (kadar trigliserida) yang dapat terbaca. Kemudian dibuat juga larutan standar yang berisi 10 L standar trigliserida 200 mg/dL dan reagen sebanyak 1000 L. Larutan standar ini digunakan sebagi pembanding bagi sampel. Kemudian sampel didiamkan selama 10 menit. Hal ini dimaksudkan agar didapatkan hasil yang optimal dimana reagen dan sampel bereaksi optimal karena reaksi yang terjadi merupakan reaksi enzimatis yang berjalan lambat.

Setelah itu dilakukan pengukuran aktivitas serum dengan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 546 nm. Pada panjang gelombang inilah diharapkan hasil yang didapat daya

absorbansinya optimal. Pada saat menggunakan alat spekrofotometer UVVis, kuvet yang akan digunakan harus dicuci bersih agar tidak ada kontaminan. Adanya kontaminan menyebabkan pengukuran tidak tepat sehingga hasil pemeriksaan kadar trigliserida akan salah. Dari hasil pengukuran didapat bahwa absorbansi standar dan blanko adalah 0,350 dan 0,154 sedangkan aborbansi sampel adalah 0,175, 0,174, dan 0,165. Untuk menghitung absorbansi sampel dan standar sebenarnya maka nilai absorbansi yang didapat harus dikurangi dengan absorbansi blanko sehingga absornasi standard an sampel yang didapat adalah 0,196 dan 0,17. Untuk mendapatkan kadar trigliserida dalam darah digunakan persamaan di bawah ini : Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, pasien tersebut dinyatakan normal karena menurut ATP level II, orang normal pada umumnya memiliki kadar trigliserida <200 mg/dL.

VIII. KESIMPULAN a. Kolesterol Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kadar kolesterol dalam darah pasien adalah 599,48 mg/dl sehingga pasien tersebut mengalami hiperkolesterolemia.

b. Trigliserida Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, pasien tersebut

dinyatakan normal karena menurut ATP level II, orang normal pada umumnya memiliki kadar trigliserida <200 mg/dL.

DAFTAR PUSTAKA

Continuing Professional Development Doctor Indonesia. 2010. Waspadai Ancaman Trigliserida. Tersedia pada

http://cpddokter.com/home/index2.php?option=com_content &do_pdf=1&id=712 [diakses pada 20 Oktober 2010] Dalimartha, S. 2008. 36 Resep Tumbuhan Obat Untuk Menurunkan Kolesterol. Penerbit Niaga Swadaya. Jakarta. Harry, P. 2008. Triglyceride Levels & Causes, Foods to Avoid for High Lowering High Triglycerides. Tersedia pada [diakses

Triglycerides,

http://www.fatfreekitchen.com/cholesterol/triglycerides.html pada 20 Oktober 2010] Indica. 2010. Kolesterol. Tersedia

pada t=categories

http://www.farmasiku.com/index.php?targe &category_id=194 [diakses pada 20 Oktober 2010]

Kee, J. L. 1997. Pemeriksaan Laboratorium and Doagnostik. Penerbit EGC. Jakarta. Klinik, M. 2010. High Cholesterol. Tersedia pada

http://www.mayoclinic.com/health/high-blood-cholesterol/DS00178 [diakses pada 20 Oktober 2010] Luxor. 2008. Trigliserida. Tersedia pada

http://luxorinma.forumotion.com/kesehatan-dan-solusinya-f4/tentangtrigliserida-t4.htm [diakses pada 20 Oktober 2010] Macnair, T. 2007. Cholesterol. Tersedia pada

http://www.bbc.co.uk/health/physical_health/ conditions/cholesterol1.shtml [diakses pada 20 Oktober 2010] Nancy, L. 2008. Treatment of Multipe Sclerosis. Tersedia pada

http://www.doocu.c om/pdf/read/20079 [diakses pada 20 Oktober 2010] Nilawati, S. 2008. Care Yourself Kolesterol. Penerbit Penebar Plus. Jakarta.

Parker,

T.

2010.

Cholesterol.

Tersedia

pada

http://health.nytimes.com/health/guides/nutritio n/cholesterol/overview.html [diakses pada 20 Oktober 2010] Skriver, M. 2008. Crash Cours in Cholesterol. Tersedia pada

http://www.kostdoktorn.se/ kolesterol [diakses pada 20 Oktober 2010] Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. E. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Penerbit EGC. Jakarta. Tenggara, J. 2008. Lemak Kolesterol dan Trigliserida. Tersedia pada http://www.dennysantoso.com/lemak-kolesterol-dan-trigliserida.html [diakses pada 20 Oktober 2010]