Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN Belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, kete rampilan dan sikap.

Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepan jang hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting y ang membedakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Kajian tentang kapasitas manus ia untuk belajar, terutama tentang bagaimana proses belajar terjadi pada manusia mempunyai sejarah panjang dan telah menghasilkan beragam teori. Satah satu teor i belajar yang terkenal adalah teori belajar behavioristik (teori perilaku atau teori tingkah laku). Dalam modul ini, kita akan bersama-sama mengkaji teori belajar behavioristik dar i segi sejarahnya, hakikatnya, pandangan teori belajar behavioristik terhadap un sur-unsur belajar, dan model-model pembelajaran yang dapat dirancang berdasarkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam teori belajar behavioristik. Setelah Anda mempelajari modul ini Anda akan dapat menerapkan prinsip-prinsip teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran. Adapun kompentensi dasar dari modul ini : Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar Indikator Mampu menerapkan prinsip dasar teori belajar behavioristik. Pembaca dapat me mperoleh pengetahuan mengenai teori belajar behavioristik 1. Menjelas kan hakikat teori belajar behavioristik; 2. Mengetahui contoh pandangan teori belajar behavioristik terhadap Unsur-u nsur proses belajar; 3. Mengetahui cara merancang pembelajaran yang didasarkan pada teori belaja r behavioristik. Teori belajar behavioristik merupakan teori belajar yang Paling awal dikenal dan masih terus berkembang sampai sekarang. Praktek pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh tenaga pengajar di seluruh dunia saat ini masih banyak berand askan pada teori belajar behavioristik. Boleh jadi, Anda pun secara tidak sadar sudah merancang dan melaksanakan pembelajaran Anda berlandaskan pada teori belaj ar behavioristik. Pemahaman yang baik tentang teori belajar behavioristik akan dapat membantu Anda untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran Anda secara lebih sistematis dan ilmiah berlandaskan kaidah ilmu, yaitu teori belajar behavioristik.

KEGIATAN BELAJAR 1 Hakikat Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik lahir sebagai upaya untuk menyempurnakan dua perspe ktif yang telah berlaku di awal abad 20, yaitu perspektif strukturalis dari Wund t dan psikologi fungsionalis dan Dewey. Perspektif strukturalis percaya akan perlunya penelitian dasar yang mempelajari tentang otak manusia. Oleh karenanya, kaum strukturalis tidak percaya pada penel itian-penelitian aplikatif yang menggunakan binatang untuk dirampatkan kepada ma nusia, terutama tentang cara kerja otak manusia. Para strukturalis kemudian meng gunakan alat instrospeksi laporan diri (self-revort) tentang proses berpikir sebaga i cara untuk mempelajari kerja otak manusia. Namun alat tersebut dikritik oleh b anyak kalangan karena menghasilkan data dan informasi yang sama sekali tidak kon sisten sehingga tidak dapat dipercaya. Jika perspektif strukturalis cenderung berwawasan sangat sempit (mikro) maka psi kologi fungsionalis sebaliknya berwawasan sangat luas (makro). Dalam keluasannya ini, para ahli psikologi fungsionalis menyatakan perlu adanya kajian tentang pe rilaku, selain kajian tentang fungsi proses mental, dan hubungan antara proses m ental dan tubuh manusia. Namun demikian, justru dengan kebiasannya ini, psikolog i fungsionalis dirasakan menjadi kurang fokus dan tidak terorganisasi dengan bai k. Berangkat dari keterbatasan perspektif strukturalis dan psikologi fungsionalis, John B. Watson memulai upayanya untuk mengkaji perilaku, terlepas dari proses me ntal dan lain-lain. Watson percaya bahwa, semua makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungannya melalui respons. Asumsi inilah yang menjadi landasan dasa r dan teori belajar behaviorisme selanjutnya. Sebenarnya, sebelum Watson, Ivan Pavlov (ahli psikologi dan Rusia) sudah memulai usaha untuk mengkaji perilaku, walaupun tidak secara eksplisit. Teori Pavlov di kenal dengan nama Classical Conditioning. Classical Conditioning kemudian diguna kan oleh Watson dalam kajiannya terhadap perilaku bayi manusia. Tokoh lain yang juga memulai kajian perilaku sebelum Watson adalah Thorndike, dengan teorinya ya ng dikenal sebagai teori Connectionism. Pavlov meneliti proses anjing yang menjadi berliur ketika diimingimingi daging. Dari hasil penelitiannya, Pavlov membuktikan bahwa perilaku atau respons dapat d imanipulasi melalui variasi stimulus atau rangsangan. Sementara itu, Thorndike m eneliti perilaku trial and error atau coba-coba. Menurut Thorndike, respons akan d iberikan berdasarkan asas coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus yang muncul . Oleh karena itu, Thorndike percaya adanya reward and punishment (penghargaan dan hukuman) serta successes and failures (keberhasilan dan kegagalan). Berdasarkan s emua itu, Watson menyimpulkan bahwa teori perilaku memberikan mekanisme yang men jadi landasan dasar terjadinya berbagai dalam kehidupan. Pentingnya teori perila ku ini tidak hanya dinyatakan oleh Watson, tetapi juga dibuktikan oleh Skinner m elalui teori Operant Conditioning, dan para ahli teori perilaku lainnya beberapa puluh tahun kemudian. Aliran perilaku tentang belajar kemudian menjadi sangat populer di awal abad ke20, karena dianggap sederhana dan terpercaya (selalu dapat diuji ulang). Melalui serangkaian penelitian, para ahli yang menganut aliran perilaku menghasilkan se jumlah teori belajar behavioristik. Setiap teori belajar behavioristik mempunyai kekhususan masing-maing, yang sesungguhnya saling melengkapi satu sama lain. Na mun denkian, secara umum, semua teoni-teori tersebut memiliki premis dasar yang s ama. Teori belajar behavioristik mendefinisikan bahwa belajar merupakan perubaha n perilaku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk berperilaku (yang baru) se bagai hasil belajar, bukan sebagai hasil proses pematangan (atau pendewasaan) se mata. Menurut teori belajar behavionistik, perubahan penilaku manusia sangat dip engaruhi oleh lingkungan yang akan memberikan beragam pengalaman kepada seseoran g. lingkungan merupakan stimulus yang dapat mempengaruhi dan atau mengubah kapas itas untuk merespons. a. premis dasar teori belajar behavioristik Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan perubahan tingkah laku ha sil interaksi antara stimulus dan respons, yaitu proses manusia untuk memberikan respons tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar.

Hubungan langsung (Koneksi) Stimulus yang espons yang dapat dilihat at Proses S-R ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu dorongan atau drive, stimulus at au rangsangan, respons, dan penguatan atau reinforcemene unsur dorongan dipenlihat kan jika seseorang merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk m emenuhi kebutuhan ini. Dalam upaya memenuhi. kebutuhannya tersebut seseorang kem udian berinteraksi dengan lingkungannya yang menyediakan beragam stimulus yang m nenyebabkan timbulnya respons dan orang tersebut. Respons atau reaksi diberikan terhadap stimulus yang diterima seseorang dengan jalan melakukan suatu tindakan yang dapat terlihat. Unsur penguatan akan memberi tanda kepada seseorang tentang kualitas respons yang diberikan, dan mendorong Orang tersebut untuk memberikan respons lagi (respons yang sama ataupun respons yang berbeda). Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yait u perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di dalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat. Sese orang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan ting kah laku. Namun demikian, tidak kalah penting adalah masukan/input yang berupa stimulus. S timulus dapat dimanipulasi untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Stimu lus meliputi segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan diraba oleh seseorang. Untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan,. selain manipulasi stimulus, ada faktor penting lain yang sangat berpengaruh, yaitu faktor penguatan (reinforceme nt) yang mulai diperkenalkan oleh Pavlov maupun Thorndike. Penguatan adalah apa s aja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Penguatan dapat ditambahkan dan dik urangi untuk memperoleh respons yang semakin kuat ataupun semakin lemah. Dengan premis dasar tersebut, mari kita kaji lebih jauh tiga teori belajar behavioristik dan Pavlov, Thorndike dan Watson. b. classical conditioning - pavlov Percobaan yang dilakukan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) merupakan upaya untuk meneliti condirloijed reflexes atau retleks terkondisi. Dalam percobaan Pavl ov, seekor anjing akan berliur jika mencium bau daging. Bau daging merupakan sti mulus yang tak terkondisi, sementara liur merupakan respons (refleks) yang juga tak terkondisi. Kemudian daging ditambah dengan cahaya lampu dan digunakan sebag ai stimulus. Setelah pengulangan beberapakali, diperoleh hasil bahwa anjing suda h akan berliur harnya oleh cahaya lampu, tanpa ada daging (proses asosiasi). Den gan demikian cahaya lampu menjadi stimulus yang terkondisi, dan liur menjadi res pons yang terkondisi. Teori Pavlov didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorang, reaksi emosional yang dikontrol oleh sistem urat syaraf otonom, serta gerak rerl eks setelah menerima stimulus dari luar. Ada tiga parameter yang diperkenalkan Pavlov melalui teori Classical Conditionin g, yaitu reinforcement, extinction, and spontaneous recovery (penguatan, penglan gan, pengembalian spontan). Menurut Pavlov, respons terkondisi yang paling seder hana diperoleh melalui serangkaian penguatan yaitu tindak lanjut atau penguatan yang terus berulang dan suatu stimulus terkondisi yang diikuti stimulus tak ter kondisi dan respons tak terkondisi pada interval waktu tertentu. Dengan demikian , pembentukan respons terkondisi pada umumnya bersifat bertaha (gradual). Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama stimulus tak terkondisi, makin mant aplah respons terkondisi yang terbentuk, sampai pada suatu ketika respons terkon disi akan muncul walaupun tanpa ada stimulus tak terkondisi. Jika penguatan dihentikan dan stimulus terkondisi dimunculkan sendirian tanpa st imulus tak terkondisi, ada kemungkinan frekuensi respons terkondisi akan kemudia R dapat dilih

n menurun dan hilang sama sekali. Proses ini disebut penghilangan atau extinction. Misalnya cahaya dan daging untuk membuat anjing berliur. Jika hanya cahaya yang dimunculkan tanpa daging, lama-kelamaan dapat terjadi anjing menjadi tidak berl iur lagi. Namun demikian, bukan tidak mungkin pada suatu waktu anjing akan kemba li berliur lagi (respons terkondisi muncul kembali spontaneous recovery) walaupun hanya cahaya yang dimunculkan (tanpa daging). Di samping itu, dalam teori Classi cal Conditioning dikenal juga perampatan stimulus, yaitu kecenderungan untuk mem berikan respons terkondisi terhadap stimulus yang serupa dengan stimulus terkond isi, meskipun stimulus tersebut belum pernah diberikan bersama-sama dengan stimu lus tak terkondisi. Makin banyak persamaan stimulus baru dengan stimulus terkond isi yang pertama, makin besar pula perampatan yang dapat terjadi. Teori Classica l Conditioning juga mengenal konsep diskniminasi stimulus, yaitu suatu proses be lajar untuk memberikan respons terhadap suatu stimulus tertentu atau tidak membe rikan respons sama sekali terhadap stimulus yang lain. Hal ini dapat diperoleh d engan jalan memberikan suatu stimulus tak terkondisi yang lain (Morgan, et.al., 1986) sehingga seseorang akan melakukan selective association asosiasi terseleksi terhadap stimulus untuk memunculkan respons. c. connectionism - thorndike Dasar - dasar teori Connectionism dari Edward L. Thorndike (1874-1949) diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku binatang. Peneli tian - penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah bina tang mampu memecahkan masalah dengan mengkombinasikan reasoning atau akal, dan ata u dengan mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar. Dalam Penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa jenis binatang, anak ayam, a njing, ikan, kucing dan kera. Percobaan yang dilakukan mengharuskan tersebut ke luar dan kandang untuk memperoleh makanan untuk keluar dari kandang, binatang bi natang tersebut harus membuka pintu, menumpahkan beban, dan mekanisme lolos lain nya yang sengaja dirancang, Pada .saat dikurung, binatang binatang tersebut menu njukkan sikap mencakar; menggigit, menggapai, dan bahkan memegang / mengais dind ing kandang. Cepat atau lambat, setiap binatang akan membuka pintu atau menump ahkan beban untuk dapat keluar dari kandang dan memperoleh makanan Pengurungan y ang dilakukan berulang ulang menunjukkan penurunan frekuensi binatang tersebut u ntuk melakukan pencakaran penggigitan penggapaian atau pengaisan dinding kandang dan tentu saja waktu yang dibutuhkan untuk keluar kandang cenderung menjadi leb ih singkat. Dari hasil Penelitiannya Thorndike menyimpulkan bahwa respons untuk keluar kanda ng secara bertahap diasosiasikan dengan suatu situasi yang menampilkan stimulus dalam suatu proses coba-coba (trial and error). Respons yang benar secara bertahap diperkuat melalui serangkaian proses coba coba, sementara respons yang tidak b enar melemah atau menghilang teori Connectionism Thorndike ini juga dikenal deng an nama Instrumental Conditioning, karena respons tertentu akan dipilih sebagai i nstrumen dalam memperoleh reward atau hasil yang memuaskan. Thorndike mengemukakan tiga dalil tentang belajar, yaitu law of effect (dalil seba b akibat), law of exercise (dalil latihan / pembiasaan). dan law of readiness (dalil kesiapan). Dalil sebab akibat menyatakan bahwa situasi atau hasil yang menyenan gkan yang diperoleh dan suatu respons akan memperkuat hubungan antara stimulus d an respons atau perilaku yang dimunculkan. Sementara itu, situasi atau hasil yan g tidak menyenangkan akan memperlemah hubungan tersebut Dalil latihan/pembiasaan menyatakan bahwa latihan akan menyempurnakan respons. Pengulangan situasi atau pengalaman akan meningkatkan kemungkinan munculnya respons yang benar. Walaupun demikian, pengulangan situasi yang tidak menyenangkan tidak akan membantu proses belajar. Dalil kesiapan menyatakan kondisi - kondisi yang dianggap mendukung da n tidak mendukung pemunculan respons. Jika siswa sudah siap (sudah belajar sebel umnya) maka ia akan siap untuk memunculkan suatu respons atas dasar stimulus/keb utuhan yang diberikan. Hal ini merupakan kondisi yang menyenangkan bagi siswa da n akan menyempurnakan pemunculan respons. Sebaliknya, jka siswa tidak siap untuk memunculkan respons atas stimulus yang diberikan atau siswa merasa terpaksa mem beri respons maka siswa mengalami kondisi yang tidak menyenangkan yang dapat mem perlemah pemunculan respons. Dari sekian banyak penelitian yang dilakukannya, Thorndike lalu menyimpulkan ten

tang pengaruh proses belajar tertentu terhadap proses belajar berikutnya, yang d ikenal dengan proses transfer of learning atau perampatan proses belajar. Thorndik e mengemukakan bahwa latihan yang dilakukan dan proses belajar yang terjadi dala m mempelajari suatu konsep akan membantu penguasaan atau proses belajar seseoran g terhadap konsep lain yang sejenis atau mirip (associative shifting). Teori Con nectionism dan Thonndike ini dikenal sebagai teori belajar yang pertama. d. behaviorism - watson Walaupun John B. Watson (1878-1958) bukanlah ahli pertama yang melakukan kajian terhadap perilaku manusia dalam proses belajar, namun Watson lah yang melakukan penyimpulan atas teori Classical Conditioning dan Pavlov dan teori Connectionism dan Thorndike. Menurut Watson, stimulus dan respons yang nienjadi konsep dasar dalam teori peri laku pada umumnya,haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Dengan dem ikian, Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam b elajar, karena dianggap Kompleks untuk diketahui Watson menyatakan bahwa semua p erubahan mental yang terjadi dalam benak siswa adalah penting, namun hal itu tid ak dapat menjelaskan apakah perubahan tersebut terjadi karena proses belajar ata u proses pematangan semata. Hanya dengan tingkah laku yang dapat diamati (obser vable) maka perubahan yang bakal terjadi pada seseorang sebagai hasil proses be lajar dapat diramalkan. Interaksi antara stimulus dan respons terhadap beragam situasi - proses pengkon disian merupakan proses pengembangan kepribadian seseorang. Pernyataan dilandask an kepada penelitian yang dilakukannya terhadap sejumlah bayi. Di kemukakan bahw a pada dasarnya bayi yang baru dilahirkan hanya memiliki tiga jenis respons emos ional yaitu takut, marah, dan sayang. kehidupan emosi manusia dewasa yang sangat kompleks, hal tersebut merupakan hasil pengkondisian dari tiga jenis respons em osional dasar tersebut terhadap situasi yang bervariasi walaupun cukup kompleks, namun proses pengkondisian tersebut tetap dapat diukur sehingga, sekali lagi ha sil proses belajar dapat diramalkan. Dalam hal interaksi antara stimulus dan re spon, Watson menggunaan teori Classical Conditioning Pavlov yang dilengkapi deng an komponen penguatan dan Thorndike Namun dalam hal perampatan hasil proses peng kondisi tiga emosi dasar bayi terhadap orang dewasa, Watson lebih menggunakan ti ga dalil belajar dan konsep perampatan hasil belajar dari Thorndike e. penerapan teori belajar pavlov, thorndike, dan watson dalam proses pembelaja ran Teori Belajar Classical Conditioning dan Pavlov, Connectionism dari Thordike, da n Behaviorism dari Watson merupakan teori-teoni dasar dari aliran perilaku de ngan premis dasar yang relatif sama. Teori teori ini di kemudian hari dikembang kan dan atau dimodifikasi oleh berbagai ahli menjadi beragam teori teori baru d alam aliran perilaku, yang kemudian disebut aliran perilaku baru (neo behavioris m) Sebelum kita membicarakan teori-teori belajar yang tergabung dalam aliran neo - behaviorieme, marilah kita simak kemungkinan penerapan teori - teori belajar Pavlov, Thorndike, dan Watson dalam proses pembelajaran. Konep stimulus (Pavlov, Thorndike, Watson) diterapkan dalam proses pembelajaran dakam bentuk penjelasan tentang tujuan, ruang lingkup. dan relevansi pembelajara n dan dalam bentuk penyajian materi. Sementara itu, konsep respons (Pavlov, Thor ndike. Watson) diterapkan dalam bentuk jawaban siswa terhadap soal-soal tes dan atau ujian setelah materi disajikan, atau hasil karya siswa setelah prosedur pem buatan karya disampaikan. Proses pengkondisian atau interaksi antara stimulus da n respons (Pavlov) diterapkan dalam bentuk pemunculan stimulus yang bervariasi, baik stimulus tunggal, ganda, maupun kombinasi stimulus (perampatan dan atau dis kriminasi stimulus Pavlov). Misalnya, penyajian materi melalui uraian (ceramah) d an contoh, diskusi, penemuan kembali, kerja laboratorium, permainan dengan mengg unakan media tunggal maupun beragam media (papan tulis, OHT, video, komputer. da n lain-lain). Hasil penelitian di dunia pembelajaran menyatakan bahwa penggunaan media yang beragam (dua atau lebih) secara variatif menghasilkan dampak positif yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran daripada media tunggal secara terus -menerus (Chishoim & Ely, 1976): Selain itu, proses pengkondisian juga melibatka n konsep penguatan (Thorndike) yang diterapkan dalam bentuk pujian dan atau huku man guru terhadap siswa serta penilaian guru terhadap hasil kerja siswa Kreativi

tas guru dalam memanipulasi (Watson) proses pengkondisian ini membantu siswa se cara positif dalam proses pembelajaran. Dalam proses pengkondisian berlaku tiga dali1 tentang belajar, yaitu dalil sebab akibat, dalil latihan/ pembiasaan dan dalil kesiapan (Thorndike). Jika respons siswa terhadap stimulus yang diberikan guru (materi, contoh, gambar dan lain-la in) menghasilkan rasa yang menyenangkan (dipuji, diminta membantu teman, nilai b agus, jawaban benar, dan lain-lain) bagi siswa maka siswa cenderung untuk mengul ang melakukan hal yang sama. Namun, jika repons siswa terhadap stimulus yang dib erikan menghasilkan rasa tidak senang bagi siswa (nilai jelek, dimarahi, diterta wakan, dan lain- lain) maka siswa cenderung untuk tidak mengulang kelakuan yang sama. Di saniping itu, respons yang benar akan semakin banyak dimunculkan jika s iswa memperoleh latihan yang berulang-ulang (drill & practice). Dengan demikian, dalam setiap proses pembelajaran latihan menjadi komponen utama yang harus dira ncang dan dilaksanakan. Penyajian materi saja (dengan contoh, gambar, media, mel alui beragam metode) sama sekali tidak menjamin pemunculan respons yang diharapk an jika tidak ada komponen latihnnnya dalam suatu proses pembelajaran. Hal ini t entunya mengingatkan kita bahwa latihan bagi siswa menjadi penting nilainya dala m suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, guru tidak diharapkan terlalu bany ak menggunakan waktu untuk berceramah menyajikan materi, namun lebih baik banyak menggunakan waktunya untuk siswa berlatih. Proses pembelajaran akan dapat berj alan dan respons yang benar akan dapat diharapkan kemunculannya jika terjadi da lam situasi belajar yang menyenangkan bagi siswa. Situasi belajar yang menyenang kan dalam hal ini diterjemahkan sebagai situasi yang tidak menyakitkan siswa sec ara fisik maupun mental, situasi di mana perhatian siswa terfokus pada pembelaja ran yang akan berlangsung dan situasi ketika siswa merasa siap untuk mengikuti p embelajaran. Sebaliknya, proses pembelajaran tidak akan dapat berjalan dan reapo n yang benar tidak akan dapat dimunculkan dalam situasi belajar yang tidak menye nangkan siswa, misalnya pada saat perhatian siswa terbagi (tidak fokus), dalam k elas yang panas, pada saat siswa baru saja sakit atau dimarahi orang tuanya, ata u pada saat siswa tidak merasa siap untuk belajar. Proses pembelajaran juga akan berjalan dengan baik jika ada dorongan kebutuhan y ang jelas dan pihak guru maupun siswa. Hal ini dioperasionalkan dalam bentuk tuj uan instruksional atau tujuan pembelajaran .ini maupun khusus, yang harus dapat diukur sehingga perubahan lain, siswa dapat jelas terlihat sebagai akibat dari p roses pembelajaran Watson) Dalam perencanaan pembelajaran, guru menuliskan tujua n intruksional atau tujuan pembelajaran yang umum maupun yang khusus. Agar dapat diukur dan bersifat operasional, penulisan tujuan pembelajaran selalu menggunak an kata kerja operasional yang dapat diukur. Hal ini merupakan bentuk penerapan konsep observable behaviour (Watson). Respons yang diharapkan dimunculkan siswa se bagai hasil belajar haruslah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah diteta pkan. Dengan demikian, jelaslah dapat lerlihat apa-apa yang akan dicapai dari su atu proses pembelajaran, atau dengan kata lain, respons siswa sudah dapat dirama lkan hanya dengan membaca atau melihat tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Perb edaan antara hasil belajar yang dicapai siswa dengan tujuan yang telah ditetapk an menunjukkan tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran. LATIHAN Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah ltihan beri kut! 1. Dalam kondisi siswa lupa, parameter teori classical conditioning apa yan g berlaku? Jelaskan terjadinya proses siswa lupa berdasarkan teori classical con ditioning! Bagaimana caranya mengatasi masalah siswa lupa? 2. Guru menugaskan siswa untuk membaca bahan bacaan tertentu sebelum pertem uan berikutnya. Menurut teori connectionism, dalil belajar apa yang diterapkan o leh guru tersebut? Jelaskan! 3. Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang dapat diukur. Teori siapa yang melandasi pernyataan tersebut? Jelaskan! Petunjuk Jawaban Latihan 1. Lupa merupakan peristiwa yang umum terjadi dalam kehidupan manusia. Peri

stiwa lupa dapat terjadi apabila tidak ada stimulus yang mengkondisikan terjadin ya respons yang benar sehingga sisa tidak dapat memunculkan respons (yang benar rnaupun yang salah). Peristiwa ini dapat diatasi melalui bantuan guru yang mau b ersabar menuntun siswa. Proses penuntunan ini dapat dilakukan guru melalui kegia tan tanya jawab yang menggunakan pertanyaan bertahap mulai dari yang paling rend ah sampai yang paling kompleks di mana respons yang benar diharapkan muncul, ata u melalui kegiatan pemicu (triggering) untuk membantu siswa mengingat kembali ko ndisi untuk memunculkan respons yang benar. Pertanyaan bertahap maupun kegiatan pemicu merupakan stimulus yang dapat mengkondisikan pemunculan respons yang bena r. 2. Dalam menugaskan siswa membaca bahan bacaan di rumah, guru menerapkan da lil kesiapan dari teori connectionism. Dengan membaca bahan bacaan terlebih dahu lu, siswa akan merasa lebih siap dalam menghadapi pelajaran. Kesiapan ini juga diperlukan dalam rangka penciptaan suasana/kondisi yang menyenangkan dan kondusi f untuk belajar. Bagi. siswa, mematuhi perintah guru dan merasa siap secara ment al pada saat pelajaran berlangsung merupakan suasana yang menyenangkan karena si swa dapat terhindar dan hukuman guru (bila ia sudah membaca di rumah) dan dan ol ok-olok teman jika ia tidak siap dalam menenima pelajaran. 3. Teori yang dilandasi pernyataan tersebut adalah teori Behaviorism dan Wa ison. Menurut Watson, stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Hanya dengan tingkah laku y ang dapat diamati maka perubahan yang bakal terjadi pada seseorang sebagai hasi l proses belajar dapat diramalkan. RANGKUMAN Belajar merupakan suatu proses hagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap. Teori betajar behavioristik lahir sebagai upaya penyem purnaan terhadap perspektif tentang cara manusia belajar. Menurut teori belajar behavioristik belajar merupakan perubahan perilaku manusia yang sangat dipengaru hi oleh lingkungan. Premis dasar teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi ayitara stim ulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar beh avioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku ya ng dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yan g muncul terhadap. stimulus yang bervariasi. Salah satu Leon belajar behavioristik adalah teori classical conditioning dan Pa vlov yang didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi datam diri seseorang sert a gerak refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov., penguatan berperan p enting dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan ti dak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut dapat munc ul kembali. Sementara itu, connectionism dan Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan pr oses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak be nar akan menghilang. Akibat menyenangkan dan suatu respons akan memperkuat kemun gkinan munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berutang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap. Teori behaviorism dan Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasan dalam teoni penilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat dia mati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan t erjadi berulang - ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks. TES FORMATIF 1 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1. Menurut teori behavioristik apa yang disebut belajar? Belajar adalah a. proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi keterampilan dan sikap b. perubahan perilaku dan tidak tahu menjadi tahu

c. proses Panjang yang dimujai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang ha yatnya d. perubahan kapasitas manusia yang dipengaruhi lingkunganya. 2. Premis dasan teori belajar behavionistik adajah interaksi antara. a. stimulus dan respons b. drive dan penguatan c. Stimulus dan penguatan d. EL respons dan drive 3. Teori Classical conditioning dari Pavlov didasarkan pada. a. Proses asosiasi antara cahaya, berkas dan daging yang terjadi berulang k ali. b. reaksi sistem tak terkondisi reaksi enlosionaf dan gerak refleks seseor ang ketika menerima stimulus c. proses asosiasi antara respons dengan stimulus scara terkondisi d. adanya spontanitas recovery dan respons tenkondisi ketika stimulus terk ondisi dimunculkan. 4. Teori connectionism dari Thordike memperkenalkan adanya 3 dalil tentang bela jar, salab satunya, yaitu a. jika sistra memperoleh pujian, Ia akan merasa senang dan respons yang mu ncul seiring dengan pujian tersebut akan diperkuat (dalil sebab akibat) b. pekenjanu rumub dan latihan di kelas memperpanj4g waktu betajar siswa (d alij Pembiasaan) c. Pengulangan situasi yang tidak menyenangkan membantu proses belajar sisw a (dalil persiapan) d. tugas membaca membantu sisa untuk tidak banyak bertanya sehingga waktu b elajar di kelas tidak terbuang (dalil kesiapan) 5. Perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa adalah penting hal itu tidak dapat menjelaskan hasil dan proses belajar karena tidak dapat diamati. Pendapat ini dinyatakan o1eh.... a. Pavlov b. Thorndike c. Watson d. Hull

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang tendapat di ba gian akhit modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus beri kut untuk rnengetahui tingkat penguasaan Anda terhadat materi Kegiatan Belajar 1. Tingkat Penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal Arti tingkat penguasaan : 80- 89% = baik 70 - 79% = cukup <70% = kurang x 100 %

90 - 100% = baik Sekali

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi mater i Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai. KEGIATAN BELAJAR 2 Perkembangan Teori Belajar Behavioristik

Teori Belajar Classical Conditioning dari Pavlov, Connectionicm dan Thorndike, dan Behaviorism dan Watson merupakan teori-teori dasar dari aliran perilaku yan g menjadi tonggak sejarah aliran perilaku dalam teori belajar. Teori-teori ini k emudian dikembangkan can atnu dimodifikasi oleh berbagai ahli menjadi beragam te ori-teori baru dalam aliran perilaku, yang kemudian disebut aliran perilaku baru (neo-behaviorism). Tercatat ahli-ahli yang tergabung dalam aliran perilaku ant ara lain, Clark Hull dengan teori Sistem Perilaku, Edwin Guthnie dengan teoni Cont igui, dan B.F. Skinner dengan teori Operant Conditioning. Ada lagi ahli lainnya, se perti William Estes dengan teori Stimulus Sampling atau Ebbiughause dengan teori Hu man Associative Learning, dan lain-lain Namun, dari sekian banyak teori di lapang an, dalam kegiatan belajar ini kita akan membahas tiga teori yang tergabung dala m aliran perilaku baru, yaitu teori dan Hull, Guthnie, dan Skinner. Untuk mendal ami teori - teori lain, Anda dapat membaca buku- buku yang tercantum dalam dafta r pustaka yang memuat secara lebih lengkap pembahasan tentang berbagai teori bel ajar. Pada dasarnya, sebagaimana teori-teori belajar dalam aliran perilaku, teoni-teor i dan Hull, Guthrie, Jan Skinner memiliki premis dasar yang sama dengan teori-te ori pendahulunya, yaitu sama-sama berlandaskan pada interaksi antara stimulus da n respons. Namun demikian, teori-teori Hull, Guthnie dan Skinner berbeda dengan teori-teori pendahulunya dalam hal identifikasi terhadap fakton-faktor khusus ya ng dianggap berpengaruh terhadap belajar. Teori-teori Hull, Guthnie, dan Skinner relatif banyak mempengaruhi proses pembelajaran dalam dunia pendidikan sekarang ini karena kemutakhirannya. a. teori systematic behavior - clark hull Clark L. Hull (1884-1952) sangat mengagumi Teori Refleks Terkondisi dari Pavlov. Berangkat dari teori Pavlov, Hull kemudian menerbitkan makalah-makalah teoretis yang memodifikasi teori Pavlov. Teori Hull dikenal sangat behavioristic dan mek anistik. Konsep utama dari teori Hull adalah kebiasaan, yang disimpulkan dari be rbagai penelitian tentang kebiasaan dan respon terkondisi yang dilakukan Hull me lalui percobaan terhadap binatang. Perilaku yang kompleks, menurut Hull. Diasum sikan berasal dari hasil belajar terhadap bentuk - bentuk perilaku yang sederh ana. Dalam upaya mematangkan teorinya, Hull juga menggunakan dalil sebab akibat dari Thordike lalu menggabungkannya dengan hasil temuannya. Pada dasarnya dalam teorinya, Hull menyatakan bahwa interaksi antara stimulus dan respon tidaklah sederhana sebagaimana adanya. Menurut Hull, ada proses lain dalam diri seseorang (atau organisasi) yang mempengaruhi interaksi antara stimul us dan respon. Proses tersebut disebut oleh Hull sebagai variable intervening (y ang berpengaruh). Posisi intervening variable dalam mempengaruhi terjadinya respons, dogambar Hull s ebagai berikut. Variabel Input utput 1. Kekurangan air yang diminum 2. Makan kue asin ri air Kekeringan bayar roleh air Posisi Intervening Variable Intervening Variabel Variabel O 1. Jumlah air 2. Upaya menca

Jumlah yang akan di untuk mempe

Hull memberi contoh rasa haus sebagai salah satu intervening variable. Menurut Hul l, situasinya adalah binatang dibeni makanan yang asin, atau tidak dibeni minum untuk sekian lana. Situasi mi merupakan input variable. Rasa haus timbul akibat da n situasi tersebut Kemudian, untuk mengatasi rasa haus, binatang akan melakukan bermaeam-macam aksi, seperti mengais, mencari-cari air, dan lain-lain, bahkan bi natang akan melakukan hal-hal lain apa saja untuk memperolah air (sebagai imbala n atas air yang diperolehnya). Hull percaya bahwa dalam asosias antara stimulus terhadap rspons, ada fakton keb iasaan sebagai intervening variable. Intensitas kebiasaan tersebut menentukan inte nsitas asosiasi yang terjadi. Proses belajar menurut Hull merupakan upaya menumb uhkan kebiasaan melalui serangkaian percobaan. Untuk dapat memperoleh kebiasaan diperlukan adanya penguatan dalam proses percobaap. Namun,satu-satunya faktor ya ng menentukan dalam pengembangan kebiasaan, karena pengembangan kebiasaan lebih utama dipengaruhi oleh banyaknya percobaan yang dilakukan. Di samping itu, prose s belajar juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain (non-learning factors) .yan g berinteraksi langsung terhadap reaksi potensial yang timbul. Pada akhirnya, Hull mengembangkan teorinya menjadi suatu teori yang sangat kuant itatif. Hull mencoba mengukur intensitas respons dalam bentuk nilai kuantitatif, dan mencoba menentukan nilai numerik yang tepat untuk membuat persamaan tentang hubungan antara intervening variable terhadap variabel bebas maupun variabel teri kat. Upaya kuantifikasi ini dilakukan Hull dalam rangka memprediksi secara kuant itatif hasil-hasil dan percobaan-percobaan terhadap perilaku. Dengan kata lain, respons dan atau kebiasaan dapat diprediksi secara kuantitatif dan cepat melalui rumus-rumus tentang interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya. Walaupun banyak kritik terhadap teori Systematic Behavior dan Hull, namun tak da pat disangkal bahwa teori Hull merupakan karya dan pencapaian terbesar pada mas anya. Teori Hull sangat lengkap, menyeuruh, dan detil sehingga dengan mudah terl ihat kelebihan dan kekurangannya. Teori Hull juga mempunyai banyak pengikut yan g antara lain adalah murid-muridnya, yang telah mengembangkan teori Hull sedemik ian rupa sehingga menjadi karya yang paling berpengaruh dalam dunia psikologi be lajar sejak tahun 1940-an. b. teori contiguity - edwin r. guthrie Teori Contiguity dan Edwin R. Guthnie (1886-1959) dikenal juga dengan nama teori Contiguous Conditioning. Teoni mi berangkat dan dua teoni dasar dalam aliran pe rilaku, yaitu teoni Thorndike dan teoni Pavlov, namun juga sangat dipengaruhi ol eh teori Watson. Menurut Thonndike ada dua jenis proses belajar, yaitu: 1) proses pernilihan resp ons (respons selection) dan mengaitkannya dengan stimulus, sesuai dengan dali! s ebab akibat, dan 2) perampatan stimulus (associative shifting) di mana respons t erhadap stimulus yang satu akan dimunculkan terhadap stimulus lain yang dipasang kan bersama.- Bagi Thorndike prinsip utama adalah proses pemilihan respons dan p engaitan dengan stimulus yang terjadi dalam proses coba-coba, sedangkan proses p erampatan stimulus merupakan prinsip tambahan saja. Namun, bagi Guthrie. proses perampatan stimulus justru menjadi titik fokus mama dalam teorinya. Guthrie rela tif tidak menerima dalil sebab akibat sebagaimana pandangan Thorndike. Hal-hal t ersebut yang menjadi perbedaan utama antara teori Thorndike dan teori Guthrie. Watson menggunakan percobaan-percobaan Pavlov sebagai paradigma dalam proses bel ajar, dan mengadopsi refleks terkondisi sebagai bagian dari pembiasaan. Guthrie, di sisi lain, memuai asumsinya dengan prinsip pengkondisian (conditioning) atau perampatan stimulus (associative learning), namun semata-mata bukan hanya dilan daskan pada prinsip percobaan pengkondisian dari Pavlov. Dalil Guthrie yang pertama tentang proses belajar adalah kombinasi stimulus yang diikuti dengan suatu gerakan, pada saat pengulangan berikutnya cenderung diikut i lagi oleh gerakan tersebut Dalil yang kedua menyatakan bahwa pola stimulus mem punyai korelasi dan atau keterkaitan yang tinggi dengan respons yang ditimbulkan nya pertama kali. Dalil-dalil tersebut menjadi landasan bagi prinsip kemutakhira n (recency principle). yang menyatakan bahwa jika belajar terjadi dalam suatu pr oses coba-coba maka proses yang terakhir terjadi yang akan muncul (terulang) lag i seandainya kombinasi stimulus yang sama dihadirkan kembali.

Berdasarkan teori Contiguity dan Guthnie, setiap individu mempunyai kapasitas b elajar yangberbeda. Dan basil penelitiannya terhadap sejumlah binatang, Guthnie menyatakan bahwa dak semua binatang mempunyai tingkat sensitivitas yang sama terh adap satu stimulus, dan tidak semua bihatang memiliki indra yang sama untuk mene nima informasi. Di samping itu, menurut Outhrie, latihan akan mengakomodasikan a taupun menghilangkan respons-respons tertentu sehingga atas koinbinasi stimulus yang muncul dapat dihasilkan suatu respons yang menyeluruh sebagaimana yang diha rapkan - yang dapat disebut sebagai suatu kinerja yang berhasil. Guthrie percaya bahwa keterainpilan mewakili sejumlah kebiasaan, oleb karena .itu belajar dapat dicapai sebagai akumulasi dan pengulangan - pengulangan. Quthrie juga menyataka n bahwa motivasi mempengaruhi belajar secara tidak langsung, yang tenlihat melal ui penyebab atau alasan individu melakukan sesuatu (merespons). Reward atau peng hargaan/pujian menurut Guthrie merupakan prinsip yang sekunder. Penghargaan dapa t berhasil dengan baik jika binatang memang tidak dihadapkan pada situasi lain s elain yang akan menghasilkan respons yang benar. Penghargaan juga tidak memberi penguatan terhadap respons yang benar, tetapi diakui bahwa penghargaan menghind ari tenjadinya pengurangan respons yang benar. Sama dengan penguatan hukuman jug a berpengaruh terhadap belajar, dan sangat ditentukan oleh alasan individu melak ukan sesuatu Secara umum, Guthrie percaya bahwa alat prediksi yang paling baik t erhadap belajar adalah respons yang muncul terhadap stimulus dalam suatu proses yang terakhir terjadi. Oleh karena itu proses belajar dapat dijelas melalui re aksi terkondisi yang akan muncul berdasarkan pengalaman masa lalu, dan sesuai d engan prinsip asosiasi. Perampatan belajar . dapat terjadi dalam situasi yang baru karena adanya kesamaa n elemen atau kompo antara situasi/stimulus yang lama dengan Yang baru. Penekan Guthrie terhadap konsep yang dikenal dengan nama movement produced stimuli atau s timulus yang menghasilkan gerakan terkondisi merupakan modifikasi dari teori Th ordike. Namun demikian menurut Guthde hasil belajar yang diperoleh dipercaya ber sifat permanen, sampai terjadi proses belajar yang baru. Oleh karena itu, lupa d apat terjadi karena respons Yang muncul dalam proses belajar yang baru mengganti kan hasil belajar yang sebelumnya. Proses lupa ini terjadi secara bertahap, sama seperti hasil belajar juga diperoleh secara bertahap serangkaian proses belajar yang berulang. Satu hal yang menjadi kritik terhadap teori adalah bahwa Guthrie mencoba memberi kan jawaban yang relatif bersifat pasti terhadap segala permasalahan dalam belaj ar tanpa ada perubahan selama hampir lima puluh tahun. Dengan kata lain, teori G uthrie lebih merupakan teori klasik yang tidak berkembang Walaupun demiikian har us diakui bahwa teed Guthrie memiliki kemampuan untuk menjelaskan beragam fenome na belajar secara luas. c. teori operant conditioning skinner Walaupun menganut aliran perilaku B. F. Skinner sama sekali tidak setuju dengan teori reflek terkondisi dalam hubungan antara Stimulus. Respons dari Pavlov Menu nut Skinner, penjelasan Pavlov atas hubungan ancara stimulus dan respons Yang pe rubahan tingkah laku merupakan penjelasan yang tidak lengkap. Skinner menyatakan bahwa teori Panlov hanya berlaku bagi interaksi antara stimulus dan respons yan g sederhana saja. Padahal manusia dalam menjalankan fungsinya memerlukan perilak u yang kompleks yang mempersyaratkan terjadinya interaksi stimulus dan respons y ang kompleks pula. Dengan demikian, interaksi stimulus - respons dalam diri seor ang individu tidaklah sesederhana itu, Pada dasarnya setiap stimulus yang dimunc ulkan akan beninteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini yang akhirnya mem pengaruhi respons yang dihasilkan. Respons yang dihasilkan tersebut juga memilik i berbagai konsekuensi (akibat) yang akhirnya akan mempengaruhi lagi perilaku in dividu. Oleh sebab itu, menurut Skinner, kunci untuk memahami perilaku individu terletak pada pemahaman kita terhadap hubungan antara stimulus satu dengan stimu lus lainnya, respons yang dimunculkan, dan juga berbagai konsekuensi yang diakib atkan oleh respons tersebut. Sebagai penganut aliran perilaku, Skinner setuju dengan pendapat Watson yang men gatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku. Ada enam asumsi dasar dari teori Operant Conditioning, yaitu:

1. hasil belajar merupakan perilaku yang dapat diamati; 2. perubahan perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional berhubungan d engan perubahan situasi dalani lingkungan atau suatu kondisi; 3. hubungan antara penilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika elem en-elemen perilaku dan kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati perubah annya dalam situasi yang terkontrol ketat. 4. data yang dihasilkan oleh percobaan-percobaan terhadap perilaku merupaka n satu-satunya data yang dapat digunakan untuk mengkaji alasan munculnya suatu p erilaku; 5. sumber data yang paling tepat adalah perilaku dan masing-masing individu ; 6. dinamika interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat relatif sama untuk semua jenis makhluk hidup. Pada awalnya, asumsi-asumsi tersebut digunakan sebagai landasan dan penelitian-p enelitian yang dilakukan Skinner dalam bentuk serangkaian percobaan menggunakan tikus dan merpati. Namun, pada akhirnya, keenam asumsi dasar trsebut menjadi kes impulan yang diambil oleh Skinner atas hasil percobaan yang dilakukannya. Bahkan , Skinner menyatakan bahwa penelitian yang dilakukannya dalam situasi laboratoni um, ternyata dapat diaplikasikan kepada situasi perilaku manusia secara umum. Komponen proses belajar menurut Skinner terdiri dari stimulus yang diskriminatif (discriminative stimulus) dan penguatan (positif dan negatif, serta hukuman) un tuk menghasilkan respons (perubahan tingkah laku). Stimulus yang diskriminatif menurut Skinner merupakan stimulus yang hadir untuk pemunculan suatu respons. Ku nci berwarna merah merupakan stimulus yang diskriminatif dalam pereobaan Skinner terhadap burung merpati. Jika merpati mematuk kunci merah maka merpati akan per oleh makanan Setelah beberapa kali pengulangan jika kunci diganti maka merpati t idak akan mematuk. Makanan dalam hal ini berfungsi faktor penguatan. Kemungkinan pemunculan respons dapat maksinalkan dengan kehadiran stimulus yang diskrimina tif Jika ada stimulus lain yang memiliki persamaan dengan stimulus diskriminatif maka respons dapat dimunculkan kembali. Misalnya, merpati akan mematuk tongkat bercahaya merah, dan lain-lain. Hal ini yang sering disebut sebagai perampata n stimulus (stimulus generaliralization). Jika dalam teori Thorndike dikenal konsep reward maka dalam teori Skinner diguna kan istilah penguatan (reinforcenient) yang berarti segala konsekuensi yang meng ikuti pemunculan suatu perilaku Konsekuensi ini memperkuat kemungkinan munculnya perilaku yang diharapkan Misalnya, jika merpati memperoleh makanan sebagai akib at mematuk kunci maka merpati akan berusaha untuk selalu mematuk kunci (frekuens i mematuk kunci akan meningkat). Untuk dapat menjadi efektif, penguatan, menurut Skinner, harus diberikan langsung setelah pemunculan respons yang diharapkan. Setiap penguatan yang memperkuat pemunculan respons yang benar disebut penguatan yang positif, menurut Skinner. Namun demikian, ada jenis-jenis penguatan yang m elalui penghilangannya, justru memperkuat pemunculan respons yang benar. Misalny a penggunaan tes mendadak di kelas. Tes mendadak di kelas diberikan kepada siswa untuk meningkatkan proses belajar siswa. Jika tes mendadak tidak diberikan lagi , dan pemahaman siswa terhadap pelajaran terus meningkat maka tes mendadak terse but berfungsi sebagai penguatan negatif. Penggunaan penguatan negatif sering kali menghasilkan dampak pengiring berupa em osi yang dikenal dengan nama anxiety (kecemasan) dan atau takut. Kecemasan dan a tau takut dapat diwuj udkan secara operasional dengan hilangnya perhatian dan mi nat terhadap kegiatan yang sedang berlangsung, dan atau secara fisik pergi atau lari dari situasi yang dihadapi. Misalnya anak yang selalu dimarahi karena tidak merapikan mainannya. menjadi cemas dan atau takut pada saat orang tuanya pulang kerja. Penguatan positif merupakan stimulus yang merangsang pemunculan respons yang ben ar, sedangkan penguatan negatif memperkuat pemunculan respons yang benar melalui penghilangannya. Di samping penguatan, ada hukuman, yang menurut Skinner meliba tkan proses pengurangan / penghilangan penguatan positif, dan atau penambahan pe nguatan negatif. Skinner menekankan bahwa hukuman dapat menghasilkan tiga dampak yang tidak diharapkan, yaitu hukuman hanya bersifat sementara dalam menghilangk an respons yang tak diinginkan, hukuman dapat mengakibatkan timbulnya perasaan y

ang tidak mengenakan, seperti malu, rasa bersalah, dan lain-lain, dan yang terak hir, hukuman dapat meningkatkan pemunculan perilaku yang dianggap mengurangi had irnya stimulus yang tidak menyenangkan (Misalnya, anak kecil berpura-pura sakit karena tidak mau mengikuti tes mendadak). .Secara umum, hukuman tidak menghasilk an perilaku yang positif. OIeh sebab itu, Skinner lebih menganjurkan penggunaan penguatan daripada hukuman jika ingin memperoleh respons yang benar. Teori Skinner tidak hanya mencakup penjelasan terhadap prosesmelajar sederhana, n atnun juga proses belajar kompleks, yang dikenal dengan nama shaping (pennbentukan ) Proses shaping yang dilakukan secara bertahap akan menghasilkan penguasaan terha dap perilaku yang kompleks melalui perancangan (manipulasi) stimulus yang diskri minatif dan penguatan. Menurut Skinner, proses shaping dapat menghasilkan perilaku yang kompleks yang tidak memiliki kemungkinan untuk diperoleh secara alamiah at au dengan sendirinya. Shaping yang berkelanjutan yang dilakukan untuk memperoleh p enilaku kompleks, disebut sebagai program oleh Skinner. Kesimpulan yang diperoleh Skinner stelah melakukan serangkaian percobaannya ialah bahwa: 1) setiap langkah dalam prose belajar perlu dibuat pendek-pendek berdasa rkan tingkah laku yang pernah dipelajari sebelumnya; 2) untuk setiap langkah yan g pendek tersebut disediakan penguatan yang dikontrol dengan hati-hati; 3) pengu atan harus diberikan sesegera mungkin setelah respons yang benar dimunculkan; 4) stimulus diskriminatif perlu dirancang sedemikian rupa agar dapat diperoleh per ampatan stimulus dan peningkatan keberhasilan belajar. Skinner kemudian melanjutkan upayanya dalam mengkaji perilaku manusia dalam sera ngkaian penelitian tentang teaching machine dan programmed instruction (pembelaj aran terprogram). Menggunakan konsep pembelajaran terprogram Skinner juga meneli ti proses pembelajaran bagi anak-anak dengan keterbelakangan mental dan proses p embelajaran bahasa. Dalam konsep pembelajaran terprogram implisit adalah konsep kontrol yang oleh Skinner diupayakan agar berada di tangan anak yang belajar. Ol eh karena itu, bagi Skinner, konsep self-atribution dan self-awareness (pengena lan diri sendiri untuk kemudian dapat melakukan kontrol atas program pembelajara n) menjadi sangat penting. Dasar teori Skinner dan perkembangan teorinya selanjutnya menjadikan Skinner seo rang penganut aliran perilaku yang mempunyai nama dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan teori belajar dalam aliran perilaku Teori Operant 0nditio ning dan Skinner percaya bahwa setiap individu harus diidentifikasi karakteristi k maupun perilaku awalnya untuk suatu proses shaping. Skinner menyatakan, bahwa perilaku dapat dibentuk (dan juga dihilangkan) sehingga (hampir) semua orang yan g memperoleh latihan yang layak akan dapat memiliki perilaku tertentu yang diing inkan. Di samping itu, teori Skinner percaya bahwa pengkondiSian suatu respons s angat tergantung kepada penguatan yang dilakukan berulang-ulang secara berkesina mbungan. Dengan demikian, latihan, termasuk komponen penguatan di dalamnya, men jadi sangat penting dalam proses pengkondisian. Dalam hal motivasi, Skinner sangat percaya akan peran penguatan yang memantapkan pemunculan suatu respons yang diharapkan dan juga peran hukuman yang secara umu m dapat menghilangkan pemunculan respons yang tidak diharapkan. Skinner juga men gemukakan bahwa manusia dapat diajar untuk berpikir atau menjadi kreatif melalui met ode pemecahan masalah yang melibatkan proses identifikasi masalah secara tepat ( labeling), dan proses mengaktifkan strategi (rule and or sequence) untuk memanip ulasi vaniabel dalam masalah tersebut sehjngga diperoleh pemecahan masalahnya. T erakhir, teori Operant Conditioning dan Skiflner juga sangat percaya akan proses perampatan hasil belajar. Dengan menggunakan istilah induksi, Skinner menjelask an bahwa perampatan terjadi berlandaskan pada proses induksi terhadap stimulus y ang derajat kompleksitasnya dan karakteristiknya mempunyai kesamaan dengan stimu lus diskriminatif yang sudah dipelajari. d. penerapan teori hull, guti-irie, dan skinner dalam proses pembelajaran Berikut ini adalah contoh penerapan teori Hull, Guthrie, dan Skinner dalam prose s pembelajaran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di sekolah dasar. Kependidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Waktu pertemuan : 30 menit Stimulus (Hull, Guthrie, Skinner

Materi yang Pilah pilah

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Setelah selesai belajar, siswa dapat inenjelaskan tentang kebutuhan hidup manusi a dan hubungannya dengan lingkungan hidup. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah mengikuti pelajaran ini siswa dapat menguraikan tentang kebutuhan hidup manusia dengan lingkungan hidup. B. POKOK BAHASAN Manusia dan Lingkungan Hidup

Kependidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Waktu pertemuan : 30 menit (Skinner) Stimulus diskriminatif (Skiner)

Intervening Variabel (Hull)

Reinforcement (Guthirie)

Transfer of learning. (Thordike) TAHAP KEGIATAN Pendahuluan Pada tahap ini pertama-tama guru menjelaskan cakupan materi tentang manusia dan lingkungan hidup. Di awal pembukaan guru menjelaskan hubungan manusia dengan li ngkungan hidup dan cara pemenuhan kebutuhan hidupnya. Untuk memudahkan pemahama n ini perlu juga dimasukkan contoh-contoh tentang manusia dan lingkungan hidup y ang disesuaikan dengan kondisi misalnya masyarakat pedesaan atau petani, dia aka n mulai memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bercocok tanam seperti padi, jagung, kacang kedelai, ubi jalar, dan sebagainya, kemudian merawatnya dengan memberi pu puk kandang atau pupuk kimia, menjaga dan serangan hama penyakit, membersihkan d an tanaman liar atau tanaman pengganggu hingga tumbuhan tersebut dipanen. Kegiat an bercocok tanam ini terus berlanjut sampai menjelang musim panen berikutnya. A pabila hasil panen berlimpah atau berhasil dengan baik sebagian dan hasil panen tersebut.dijual ke pasar terdekat atau ke kota-kota di sekitarnya. Uang hasil pe njualannya bisa ditabung atau dibelikan suatu barang yang diinginkan seperti mob il, sepeda motor, sepeda, baju, sepatu, perhiasan, dan sebagainya. Sedangkan mas yarakat perkotaan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja di kanto r, industri yang membuat berbagai kebutuhan manusia, seperti membuat mesin-mesin , membuat sepatu, tas, mainan anak-anak, pakaian atau ada juga yang bekera di pu sat perdagangan yang menjual berbagai hasil industri, dan lain sebagainya. Pemberian contoh ini bertujuan untuk mengingatkan kembali kepada Siswa bahwa lin gkungan hidup satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama. Oleh sebab it u manusia dalam hidupnya selalu tergantung kepada lingkungan dan akan dipengaruh i oleh lingkungan itu sendiri, misalnya masyarakat pedesaan akan bercocok tanam karena lingkungan hidupnya mendukung untuk melakukan bercocok tanam. Begitu juga dengan masyarakat perkotaan akan bekerja di perkantoran industri karena lingkun gan hidupnya memungkjnkan untuk bekerja di tempat tersebut dan lain sebagainya. Dari penjelasan tersebut guru dapat mengembangkan lagi melalui pertanyaan pertan yaan kepada siswa untuk mencoba mengemukakan pengetahuannya tentang manusia dan lingkungan hidup, berdasarkan contoh - contoh sebelumnya. Setiap jawaban siswa a kan dilemparkan kembali kepada Siswa lainnya untuk ditanggapi apakah pendapatnya sama tentang permasalahan yang sedang dibahas. Hal ini dilakukan sec ara terus menerus dan berkesinambungan misalnya setelah selesai membahas tentang kebutuhan masyarakat pedesaan dilanjutkan dengan pembahasan berikutnya yang tid ak kalah menarik dengan pembahasan sebelumnya. Penutupan Pada akhir pelajaran, siswa diberi tugas untuk membuat tulisan atau cerita menge nai lingkungan hidup yang dirasakan ataU dilihat sehani-hani. Misalnya seorang s iswa pedesaan mengapa di sekitar rumahnya ada peternakan sapi, kambing, ayam, ik an, dan sebagainya. Atau siswa yang kebetulan ada di perkotaan yang di dekat rum ahnya ada bengkel atau perkantoran, industri, dan sebagainya. Agar siswa itu tahu apa sebenarnya yang terjadi di lingkungan hidupnya, perlu ju ga dilakukan pengenalan secara langsung terhadap lingkungan itu sendiri untuk me ngunjunginya sehingga siswa dapat melihat, merasakan, ataupun mengetahui proses terjadinya suatu produk. Misalnya ke lokasi perkebunan, penikanan, perkantoran, ataupun industri.

LATIHAN Untuk memperdalam pemahanian Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan b erikut! 1. Pekerjaan rumah merupakan tradisi yang selalu terjadi dalam proses pembe lajaran. Ketika guru memberikan pekerjan rumah kepada siswa, prinsip dan teori H ull yang mana yang diaplikasikan? Jelaskan! 2. Seorang anak TK diajarkan oleh gurunya konsep kebersihan. Gurunya member i contoh bahwa jika membuang sampah harus di tempat sampah. Sampai di rumah, ia melihat pengasuhnya membuang sampah tidak di tempat sampah. Ketika anak tersebut protes terhadap pengasuhnya, pengasuhnya menjawab: Oh enggak apa-apa kok! Berdasa rkan prinsip recency principle, sikap mana yang akan ditiru oleh anak tersebut? Je laskan alasan Anda! 3. Jika terjadi kondisi seperti berikut ini. Berdasarkan teori belajar dan Skinner, apa yang dapat dilakukan guru untuk menga tasi kondisi tersebut? Petunjuk Jawaban Latihan 1. Ketika guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa, guru menerapkan pri nsip kebiasaan dan teori Hull. Pekerjaan rumah merupakan tugas terstruktur yang ha rus dikenjakan siswa dalam rangka melatih keterampilan/kemampuan siswa tentang k eterampilan/ pengetahuan yang sudah diperoleh melalui proses pembelajaran. Biasa nya pekerjaan rumah terdiri dan beberapa soal yang merupakan pengulangan-pengula ngan untuk siswa benlatih secara berulang-ulang. Dengan demikian pekerjaan rumah mewakili stimulus yang berulangulang (dengan sedikit modifikasi untuk setiap so al sehingga berbeda) untuk memancing pemunculan respons yang berulang-ulang. Pen gulangan ini merupakan cara untuk membentuk kebiasaan. 2. Sikap yang akan ditiru oleh anak TK tersebut -berdasarkan pada prinsip re cency principle adalah sikap pengasuhnya yang membuang sampah tidak pada tempatny a. Hal ini terjadi karena walaupun stimulus yang ditenima oleh anak tensebut ada lah sama, namun respons yang dimunculkan tenhadap stimulus adalah benbeda. Maka, dengan recency principle, respons yang tenakhirlah yang akan diingat oleh anak tersebut, yaitu membuang sampah tidak pada tempat sampah. Pada saat-saat beriku tnya, jika stimulus dihadirkan kembali maka kembali lagi pemunculan respons tera khir yang diingat oleh anak tersebut sehingga respons tersebutlah yang akan dimu nculkan oleh anak itu. 3. Kondisi anak seperti itu dapat dikategorikan menjadi anxiety (kecemasan) da n atau takut. Menurut Skinner, kondisi tersebut muncul sebagai dampak pengining dan penggunaan penguatan negatif, misalnya bentuk upaya lan dan situasi yang har us dihadapi dengan menyatakan pusing RANGKUMAN Teori belajar Classipal Conditioning dan Pavlov, Cnnectionism dan Thorndike dan B ehaviorism dan Watson merupakan teori-teori dari aliran perilaku yang menjadi to nggak sejarah aliran perilaku dalam teori belajar. Modifikasi yang berhasil dike mbangkan dan aliran perilaku oleh berbagai ahli disebut aliran penilaku baru (ne o-behaviorism), Tokohtokoh dan aliran ini di antaranya Clark Hull dengan teori S istem Perilaku, Edwin Guthnie dengan teori Contiguity, dan B.F. Skinner dengan t eori Operant Conditioning, Willian Este dengan teori Stimulus Sampling, Ebbingha use dengan teori Human Associative Learning, dan lain-lain Pada dasarnya teori Hull, Guthnie dan Skinner memiliki premis dasar yang sama de ngan teori-teori pendahulunya, yaitu berlandaskan pada interaksi antara stimulus dan respons. Namun demikian, teori-teori Hull, Guthnie, dan Skinner berbeda den gan teori-teoni pendahulunya dalam hal identifikasi terhadap faktor-faktor khusu s yang dianggap berpengaruh terhadap belajar. Eksistensi teori Hull, Guthrie, da n Skinner relatif banyak mempengaruhi proses pembelajaran dalam dunia pendidikan yang ada sekarang ini. Menurut teori Systematic Behaviour dari Hull, selain interaksi stimulus, respons , dan penguatan, ada proses lain yang berpengaruh terhadap pemunculan respns yan g diharapkan, yaitu variabel intervening. Sementana itu, menurut teori Contignity dan Guthnie, kombinasi stimulus yang diikuti dengan suatu gerakan, pada saat pen

gulangan benikutnya cenderung diikuti lagi oleh gerakan tersebut. Di samping itu , jika belajar terjadi dalam suatu proses coba-coba maka proses yang terakhir mu ncul akan terulang kembali seandainya kombinasi stimulus yang sama dihadirkan. T eori Operant Conditioning dari Skinner menyatakan bahwa kunci untuk memahami per ilaku individu terletak pada pemahaman kita terhadap stimulus satu dengan stimul us lainnya, respons yang dimunculkan, dan juga berbagai konsekuensi yang diakiba tkan oleh respons tersebut.

TES FORMATIF 2 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1. Seorang guru di kelas mengajarkan mata pelajaran geografi dengan menggun akan peta, bola dunia, dan OHT. Dalam hal ini, guru tersebut berupaya mernunculk an beragam stimulus untuk menghasilkan respons yang diharapkan. Proses ini diseb ut sebagai proses a. pengkondisian b. perampatan stimulus c. diskriminasi stimulus d. penguatan 2. Berdasarkan recency principle dan Guthrie, alat prediksi yang paling baik ter hadap hasil belajar adalah respons yang muncul terhadap stimulus dalam proses yan g . a. paling awal terjadi b. terus-menerus terjadi c. paling akhir tenjadi d. terjadi secara terputus-putus 3. a. b. c. d. 4. a. b. c. d. Salah satu asumsi dasar dari teori Operant Conditioning adalah terdapat hubungan interaksi yang kompleks antana stimulus dan respons hasil belajar merupakan perilaku yang dapat diamati konsekuensi dan respons yang muncul merupakan basil belajar. setiap stimulus saling berinteraksi dengan stimulusainnya Shaping menurut Skinner merupakan proses pembentukan perilaku. sebagai hasil belajar secara bertahap secara alamiah untuk belajar kompleks

5. an a. b. c. d.

Derajat kompleksitas dan kesamaan karakteristik antar stimulus merupak prasyarat bagi. diskrimjnasi stimulus penguatan negatif perampatan stimulus Shaping.

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang tendapat di ba gian akhit modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus beri kut untuk rnengetahui tingkat penguasaan Anda terhadat materi Kegiatan Belajar 2. Tingkat Penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal Arti tingkat penguasaan : 80- 89% = baik 70 - 79% = cukup <70% = kurang x 100 %

90 - 100% = baik Sekali

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.

Kunci Jawaban Tes Formatif Tes Formatif 1 1) B 2) A 3) B 4) A 5) C Tes Formatif 1) 2) 3) 4) 5) 2 B C B B C