Anda di halaman 1dari 24

I.

Judul Percobaan Aluminium

II.

Hari/Tanggal Percobaan 13 Oktober 2011

III.

Selesai Percobaan 13 Oktober 2011

IV.

Tujuan Percobaan Mengetahui sifat-sifat aluminium dan senyawanya

V.

Tinjauan Pustaka Aluminium ialah salah satu unsur kimia golongan III A. Lambang aluminium ialah Al, dan nomor atomnya 13. Aluminium ialah logam paling berlimpah dan merupakan logam lemah. Aluminium merupakan reduktor yang kuat dalam deret volta, yang dapat dioksidasi oleh logam yang bertindak sebagai oksidator kuat.

Gambar diatas menunjukkan deret kereaktifan logam. Logam aluminium dapat melepuh dan mengalami korosi akibat dari pengoksidasian oleh logam-logam yang terletak dibawahnya. Dengan kata lain, logam aluminium dapat memiliki sifat yang reaktif. Sebagai contoh, jika setetes merkurium(I)Nitrat ditaruh

diatas permukaan aluminium yang bersih maka akan terbentuk aluminium amalgam, kemudian ion-ion aluminium melarut. Ditunjukkan oleh reaksi: 3Hg22+ + 2Al 2Al3+ + 6Hg Aluminium yang larut dalam amalgam tersebut dioksidasikan oleh oksigen dari udara, dan terbentuklah endapan aluminium oksida yang bervolume besar. Merkurium yang tersisa nantinya akan membentuk lagi sejumlah amalgam dengan aluminium, yang nantinya akan dioksidasikan lagi dan sejumlah besar aluminium akan terkorosikan. Aluminium mudah larut dalam asam klorida encer jika dibandingkan dengan asam sulfat encer atau asam nitrat encer. 2Al + 6H+ 2Al3+ + 3H2 Proses pelarutan dapat dipercepat dengan menambahkan sedikit merkurium (II) Klorida pada campuran. Asam klorida pekat juga melarutkan aluminium: ( ) () ( )

Aluminium adalah tervalen dalam senyawa-senyawanya. Ion-ion aluminium (Al3+), membentuk garam-garam yang tak berwarna dengan anion-anion yang tak berwarna: ( ) () () [ ( ) ] Reaksi-reaksi ion aluminium Pada larutan ammonium: Endapan putih seperti gelatin yang dikenal sebagai gel aluminium hidroksida [Al(OH)3] yang larut sedikit dalam reagensia berlebihan. Kelarutan berkurang dengan adanya garam-garam amonium, disebabkan oleh efek ion sekutu. Sebagian kecil endapan masuk ke dalam larutan sebagai aluminium hidroksida koloid (sol aluminium hidroksida) : sol ini berkoagulasi pada pendidihan atau pada penambahan garam-garam yang larut, misalnya ammonium klorida, dengan menghasilkan endapan aluminium hidroksida, yang dikenal sebagai gel aluminium hidroksida. Untuk menguji pengendapan yang sempurna dengan larutan amonia, larutan aluminium itu ditambahkan sedikit berlebihan, dan campuran dididihkan sampai cairan sedikit berbau amonia. Bila baru diendapkan, endapan ini mudah larut dalam asam kuat dan dalam basa kuat, tetapi setelah dididihkan, ia menjadi sangat sedikit larut.

Al3+ + 3NH3 + 3H2O Al(OH)3 Aluminium hidroksida merupakan zat

+ 3NH4+. dimana mampu

amfoter

melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam atau dengan basa (lebih tepatnya, baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). Misalnya aluminium hidroksida bereaksi dengan asam kuat sehingga Aluminium hidroksida melarut dan tebentuk ion aluminium : Al(OH)3(s) + 3 H+ Al3+ + 3H2O Dalam reaksi ini aluminium hidroksida bertindak sebagai basa. Di lain pihak aluminium hidroksida juga dapat dilarutkan dalam natrium hidroksida Al(OH)3 (s) + OH- [ Al(OH)4]Dimana ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. Dalam reaksi ini aluminium hidrokasida berperilaku sebagai asam. Sifat amfoter hidroksida logamlogam tertentu sering dipakai dalam analisis anorganik kualitatif, terutama dalam pemisahan kation-kation golongan tiga. Pada larutan Natium hidroksida Endapan putih aluminium hidrokasida [Al(OH)3] melarut dalam reagensia berlebih dimana ion-ion tetrahidroksoaluminat terbentuk. Al(OH)3 + OH- [Al(OH)4]Reaksi ini adalah reaksi reversibel dan setiap reagensia yang akan mengurangi konsentrasi ion-hidroksil, akan menyebabkan reaksi berjalan dari kanan ke kiri sehingga mengendapkan aluminium hidroksida. Lautan natrium karbonat Natrium karbonat akan menetralkan asam yang dibebaskan pada hidrolisis aluminium sehingga terbentuk gas karbon dioksida. Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+ CO32- + 2H+ H2CO3 CO2 + H2O Endapan melarut dalam reagensia berlebih Al(OH)3 + CO32- + H2O [Al(OH)4]- + HCO3-

VI.

Alat dan Bahan Alat No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Bahan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. :

Nama Alat Cawan porselin Pipet Tetes Corong gelas Tabung Reaksi Tabung reaksi Spatula Penjepit tabung Gelas kimia Gelas kimia Pembakar spiritus Kaki tiga Kasa Kertas saring

Ukuran Sedang Besar 100 ml 250 ml -

Jumlah (buah) 1 6 1 3 2 1 1 1 1 1 1 1 2

: Nama Bahan Larutan NaOH 0,1 M Larutan NaOH 1M Larutan Larutan HCl 0,1 M Larutan ( Larutan Larutan ( ) )

Lempeng Al Kertas lakmus Kapas

VII.

Cara Kerja 1. Mencelupkan sepotong kecil lempeng aluminium kedalam tabung reaksi yang berisi NaOH 1M samapi timbul gas, lalu mencucinya dengan air. Kemudian aluminium tersebut digosok-gosok dengan kapas yang telah dibasahi dengan larutan . kemudian dibiarkan beberapa menit

sampai kering, dan mengamati serta mencatat perubahan yang terjadi. 2. Memotong aluminium menjadi bagian-bagian yang kecil, kemudian memasukkannya dalam tabung reaksi yang berisi: a) larutan NaOH 0,1 M; b) Larutan perubahan yang terjadi. 3. Memasukkan kertas lakmus kedalam larutan mengamati perubahannya. 4. Menambahkan ( ) larutan NaOH 0,1 M kedalam larutan larutan ( ) , dan ; c) Larutan HCl 0,1 M. kemudian mencatat

tetes demi tetes samapai semua endapan yang mula-mula

terbentuk larut kembali, kemudian meneteskan Larutan HCl 0,1 M beberapa tetes, dan menambahkannya lagi hingga tidak terjadi perubahan. 5. Menambahkan sedikit larutan ( ) ke dalam larutan ( ) .

kemudian disaring, kemudian endapan hasil saringan tersebut dicuci dengan menggunkan air panas yang banyak. Lalu endapan memindahkan endapan tersebut kedalam tabung reaksi dengan menggunakan sedikit air, kemudian menambahkan larutan NaOH hingga endapannya melarut kembali, serta menuliskan reaksi-reaksi yang terjadi. VIII. Alur Kerja 1. Sepotong kecil lempeng Al dicelupkan pada tabung reaksi berisi NaOH 1M dicuci dengan air digosok-gosok dengan kapas yang dibasahi larutan diamati

Hasil pengamatan
dicatat

2.

Potongan-potongan kecil Al
Dimasukkan dalam 3 tabung reaksi

Tabung I (NaOH 0,1M)

Tabung II ( )

Tabung III (HCl 0,1M)

Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi

3. Larutan

Diberi kertas lakmus Diamati

Hasil pengamatan

4. 1 ml Larutan ( )

Ditambah NaOH 0,1 M tetes demi tetes, sampai endapan yang terbentuk larut kembali Ditambah HCl 0,1 M sampai tidak terjadi perubahan Diamati perubahan yang terjadi

Hasil pengamatan

5.

1 ml larutan

)
)

Ditambah sedikit (

Endapan disaring, dicuci dengan air panas yang banyak

Filtrat

Residu
Dipindahkan ke tebung reaksi dengan air Ditambah NaOH sampai endapan larut kembali

Larutan

IX. Data Pengamatan NO. PERC 1. PROSEDUR KERJA Sepotong kecil lempeng Al dicelupkan pada tabung reaksi berisi NaOH 1M dicuci dengan air digosok-gosok dengan kapas yang dibasahi larutan diamati Hasil pengamatan
dicatat

HASIL PENGAMATAN Sebelum: Logam Al: mengkilap NaOH: jernih tak berwarna Larutan : jernuh tak berwarna Sesudah: Logam Al + air: tetap Logam Al + NaOH: timbul gelembung-gelembung gas, larutan menjadi keruh (+++) : melepuh, terdapat abu, panas Sebelum: Logam Al: mengkilap NaOH0,1 M: jernih tak berwarna : jernih Sesudah
tak berwarna HCl 0,1M: jernih tak berwarna

DUGAAN/REAKSI ( ) () [ ( () ) ]
Gelembung

KESIMPULAN Logam Al bersifat reaktif, dapat menghasilkan gas jika direaksikan dengan basa kuat

3Hg2+ + 2Al 2Al3+ + 6Hg

2.

Tabung I: ( ) () ( )

Aluminium bersifat reaktif ( )

Tabung II: - mula-mula aluminium bereaksi dalam air

Potongan-potongan kecil Al
Dimasukkan dalam 3 tabung reaksi

Tabung I: terdapat gelembung gas, larutan menjadi keruh (++) Tabung II: : terdapat gelembunggelembung gas, keruh Tabung III: terdapat gelembung-gelembung gas, keruh (+)

membentuk endapan dan ion H+: Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+ - kemudian ion H+ yang

Tabung I (NaOH 0,1M)

Tabung III (HCl 0,1M)

dihasilkan bereaksi dengan Na2CO3 : Na2CO3 + 2H+ 2Na+ + CO2 + H2O - endapan melarut dalam reagensia (Na2CO3) berlebih, Al(OH)3 + Na2CO3 + H2O Na[Al(OH)4] + H2CO3

Tabung II ( )

Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi

Tabung III: ( ) ( )

()

3.

Larutan

Diberi kertas lakmus Diamati

Hasil pengamatan 4. 1 ml Larutan

Sebelum: ( ) : jernih tak berwarna Kertas lakmus: biru Sesudah: ( ) diberi lakmus: lakmus berubah warna menjadi merah Sebelum: ( ) : jernih tak berwarna Sesudah: ( ) 1 tetes: keruh ( ) tetes: terdapat endapan ( ) tetes: endapan larut kembali ( ) keruh, terdapat endapan, + 30 tetes HCl: larut kembali

( (

) ) (

() )

Perubahan warna kertas lakmus biru menjadi merah, menunjukkan bahwa larutan ( ) bersifat asam

Ditambah NaOH 0,1 M tetes demi tetes, sampai endapan yang terbentuk larut kembali Ditambah HCl 0,1 M sampai tidak terjadi perubahan Diamati perubahan yang terjadi

Hasil pengamatan

( ) ( ) : endapan putih ( ) [ ( ) ] NaOH berlebih, endapan larut kembali [ ( ) ] ( ) Ditambahkan asam, sehingga terbentuk kembali endapan, ( )

bersifat amfoter, walaupun dalam senyawanya. dapat data bertindak sebagai asam dan dapat bertindak sebagai basa

5. 1 ml larutan ( )
Ditambah sedikit ( ) Endapan disaring, dicuci dengan air panas yang banyak

Sebelum: ( ) : jernih, tak berwarna Sesudah: ( ) ( ) : terdapat endapan putih tetes: endapan putih larut kembali

( ) ( ) ( ) ) : endapan putih

dalam senyawanya bersifat amfoter

Penambahan NaOH berlebih: ( ) [ ( ) ]

Filtrat

Residu
Dipindahkan ke tebung reaksi dengan air Ditambah NaOH sampai endapan larut kembali

Larutan

X. Analisis Data Dari percobaan yang telah dilakukan dan telah didapat dari hasil pengamatan, maka analisis data pada percobaan ini adalah sebagai berikut: Pada percobaan I yaitu lempeng aluminium berukuran (0,5 x 0,5) cm yang dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi 2 mL NaOH 1 M maka akan timbul gelembung gas pada lempeng tersebut. Timbulnya gelembung gas dan larutan yang menjadi keruh menandakan adanya gas H2. Persamaan reaksinya adalah: ( ) () () [ ( ) ]

Hal ini menunjukkan bahwa logam aluminium bersifat reaktif. Aluminium adalah tervalen dalam senyawa-senyawanya. Ion-ion aluminium (Al3+), membentuk garam-garam yang tak berwarna dengan anion-anion yang tak berwarna. Kereaktifan logam aluminium ditunjukkan juga pada perlakuan

berikutnya, yaitu ketika logam aluminium digosok-gosok dengan kapas yang telah dibasahi larutan HgCl2, aluminium melepuh dan terdapat abu pada permukaannya serta timbul rasa panas. Hal ini dapat dijelaskan ketika logam aluminium yang bersih digosok-gosok dengan kapas yang telah dibasahi larutan HgCl2, maka terbentuk aluminium amalgam dan ion-ion aluminium melarut: 3Hg22+ + 2Al 2Al3+ + 6Hg Aluminium yang larut dalam amalgam tersebut dioksidasikan oleh oksigen dari udara, dan terbentuklah endapan aluminium oksida yang bervolume besar. Merkurium yang tersisa nantinya akan membentuk lagi sejumlah amalgam dengan aluminium, yang nantinya akan dioksidasikan lagi dan sejumlah besar aluminium akan terkorosikan. Pada percobaan II, lempeng Aluminium berukuran sama seperti pada percobaan I dimasukkan pada tiga tabung. Percobaan ini juga untuk mengidentifikasi sifat logam aluminium yaitu kereaktifan dan kemampuan aluminium melarut. Tabung yang pertama berisi 2mL NaOH 0,1 M maka ketika lempeng aluminium dimasukkan, terjadi reaksi sebagai berikut: ( ) () ( ) ( ) Adanya gas H2 ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung ketika lempeng aluminium dimasukkan pada tabung I. Larutan yang dihasilkan sangat

keruh, tetapi bila dibandingkan dengan percobaan I, larutan pada percobaan I lebih keruh karena kosentrasi NaOH yang digunakan pada percobaan I lebih pekat. Lempeng aluminium dimasukkan pada tabung II yang berisi larutan 2mL Na2CO3 panas menghasilkan reaksi sebagai berikut: - mula-mula aluminium bereaksi dalam air membentuk endapan dan ion H+: Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+ - kemudian ion H+ yang dihasilkan bereaksi dengan Na2CO3 : Na2CO3 + 2H+ 2Na+ + CO2 + H2O terbentuknya gas CO2 ditandai dengan gelembung gas dan sedikit keruhnya larutan. - endapan melarut dalam reagensia (Na2CO3) berlebih, Al(OH)3 + Na2CO3 + H2O Na[Al(OH)4] + H2CO3 sehingga larutan tetap keruh tanpa endapan. Pada tabung III yang berisi 2 mL HCl 0,1 M lempeng aluminium dimasukkan dan terjadi reaksi: Al(s) + 3HCl(l) AlCl3 + 3/2 H2(g). Asam klorida encer dengan mudah melarutkan aluminium. Larutan yang dihasilkan keruh dan terbentuk gelembung gas menandakan adanya gas H2. Percobaan selanjutnya (percobaan III) yaitu menguji sifat senyawa aluminium, yaitu larutan Al2(SO4)3 yang diberi kertas lakmus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kertas lakmus biru berubah menjadi merah dalam larutan ini. Hal ini menunjukkan bahwa larutan Al2(SO4)3 bersifat asam. Pada percobaan IV, pada larutan Al2(SO4)3 ditambahkan NaOH 1 tetes terbentuk endapan putih Al(OH)3 menurut reaksi: ( ) ( )

penambahan NaOH tetes demi tetes terus berlanjut hingga pada tetesan ke 27 endapan putih larut kembali, ditunjukkan dengan persamaan reaksi: ( ) [ ( ) ] + H2O

Hal ini menunjukkan bahwa aluminium dalam senyawanya yaitu Al(OH)3 menunjukkan sifat asamnya, mengalami reaksi netralisasi dengan basa kuat

(NaOH). Aluminium ditemukan dalam bentuk ion negatif pada aluminat ( [ ( ) ]) yang terbentuk. Hal ini mungkin karena aluminium memiliki

kemampuan untuk membentuk ikatan kovalen dengan oksigen, seperti yang telah diuraikan pada dasar teori. Reaksi diatas merupakan reaksi reversibel, dan setiap reagensia yang akan mengurangi ion-hidroksil dengan cukup akan menyebabkan reaksi berjalan dari kanan ke kiri sehingga terbentuk Al(OH)3 kembali. Kemudian larutan ini ditambah dengan HCl 0,1 M. Penambahan 1 tetes menyebabkan terbentuk kembali endapan putih: [ ( ) ] ( )

penambahan HCl dilanjutkan hingga pada 30 tetes endapan yang terbentuk larut kembali, ( )

penambahan HCl dilanjutkan dan tidak terjadi lagi perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa aluminium dalam senyawanya yaitu Al(OH)3 menunjukkan sifat basanya, mengalami reaksi netralisasi dengan asan kuat (HCl).. Percobaan IV ini menunjukkan bahwa aluminium dalam senyawanya bersifat amfoter, yaitu dapat bertindak sebagai basa dan dapat bertindak sebagai asam. Pada percobaan V, sebanyak 1 mL larutan sedikit (NH4)2S menurut reaksi: ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ditambah dengan

Terbentuk endapan putih seperti gelatin yang dikenal sebagai gel aluminium hidroksida [Al(OH)3]. Endapan tersebut terbentuk disebabkan oleh garam amonium yang bersifat mengurangi kelarutan. Endapan ini kemudian disaring, kemudian residunya dipindahkan dalam tabung reaksi dengan disiram air panas. Hal ini dimaksudkan agar residu yang menempel di kertas saring mudah diambil. Selanjutnya dalam tabung reaksi ditambahkan NaOH 1M hingga endapan larut kembali. ( ) [ ( ) ]

Hal ini dapat dijelaskan bahwa Al(OH)3 yang baru terbentuk mudah larut jika ditambah dengan asam kuat ataupun basa kuat. Dalam percobaan ini Al(OH)3 ditambahkan dengan basa kuat yaitu NaOH.

XI. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan serta telah dilakukannya analisis data, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: 1. Logam aluminium bersifat reaktif. 2. Logam aluminium bertindak sebagai reduktor bila direaksikan dengan Hg. 3. Aluminium bersifat mudah larut dengan asam kuat. 4. Aluminium dalam senyawanya bersifat amfoter yaitu dapat bertindak sebagai asam dan dapat bertindak sebagai basa. 5. Senyawa dari aluminium [ ( ) ] dapat bereaksi dengan garam-garam

amonium membentuk gel aluminium hidroksida. Jawaban Pertanyaan 1. Terangkan sifat amfoter aluminium berdasarkan percobaan yang anda lakukan! Aluminium hidroksida merupakan zat amfoter dimana mampu

melangsungkan reaksi netralisasi baik dengan asam atau dengan basa (lebih tepatnya, baik dengan ion hidrogen maupun ion hidroksil). Misalnya dalam percobaan kami [Al2(SO4)3] bereaksi dengan basa kuat yaitu NaOH, pada tetesaan 1 terbentuk endapan putih Al(OH)3 menurut reaksi: ( ) ( ) Setelah penambahan NaOH tetes demi tetes terus berlanjut hingga pada tetesan ke 27 endapan putih larut kembali, ditunjukkan dengan persamaan reaksi: ( ) [ ( ) ] + H2O

Hal ini menunjukkan bahwa aluminium dalam senyawanya yaitu Al(OH)3 melangsungkan reaksi netralisasai dan menunjukkan sifat asamnya,. Kemudian larutan ini ditambah dengan HCl 0,1 M. Penambahan 1 tetes menyebabkan terbentuk kembali endapan putih gelatin [Al(OH)3]: [ ( ) ] ( )

penambahan HCl dilanjutkan hingga pada 30 tetes endapan yang terbentuk larut kembali, ( )

penambahan HCl dilanjutkan dan tidak terjadi lagi perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa aluminium dalam senyawanya yaitu Al(OH)3 melangsungkan reaksi netralisasai dan menunjukkan sifat basanya. Kemampuan Al(OH)3 melakukan reaksi netralisasi atau dapat bersifat asam atau basa bila direaksikan dengan basa kuat dan asam kuat merupakan alasan mengapa Al(OH)3 disebut bersifat amfoter. 2. Tuliskan reaksi-reaksi yang terjadi dalam percobaan tersebut! Percobaan 1 lempeng aluminium berukuran (0,5 x 0,5) cm yang dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi 2 mL NaOH 1 M. Persamaan reaksinya adalah: ( ) () () [ ( ) ]

logam aluminium digosok-gosok dengan kapas yang telah dibasahi larutan HgCl2, 3Hg22+ + 2Al 2Al3+ + 6Hg Pada percobaan II, lempeng Aluminium dimasukkan pada tiga tabung.. 1. Tabung yang pertama berisi 2mL NaOH 0,1 M, terjadi reaksi sebagai berikut: ( ) () ( ) ( ) 2. Lempeng aluminium dimasukkan pada tabung II yang berisi larutan 2mL Na2CO3 panas menghasilkan reaksi sebagai berikut: - mula-mula aluminium bereaksi dalam air membentuk endapan dan ion H+: Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+ - kemudian ion H+ yang dihasilkan bereaksi dengan Na2CO3 : Na2CO3 + 2H+ 2Na+ + CO2 + H2O endapan melarut dalam reagensia (Na2CO3) berlebih, Al(OH)3 + Na2CO3 + H2O Na[Al(OH)4] + H2CO3 sehingga larutan tetap keruh tanpa endapan. 3. Pada tabung III yang berisi 2 mL HCl 0,1 M lempeng aluminium dimasukkan dan terjadi reaksi: Al(s) + 3HCl(l) AlCl3 + 3/2 H2(g). .Pecobaan III hanya menguji sifat keasaman garam Al2(SO4)3

Pada percobaan IV, pada larutan Al2(SO4)3 ditambahkan NaOH 1 tetes terbentuk endapan putih Al(OH)3 menurut reaksi: ( ) ( )

penambahan NaOH tetes demi tetes terus berlanjut hingga pada tetesan ke 27 endapan putih larut kembali, ditunjukkan dengan persamaan reaksi: ( ) [ ( ) ] + H2O

Kemudian larutan ini ditambah dengan HCl 0,1 M. Penambahan 1 tetes menyebabkan terbentuk kembali endapan putih: [ ( ) ] ( )

penambahan HCl dilanjutkan hingga pada 30 tetes endapan yang terbentuk larut kembali, ( ) ) ditambah dengan ( ) Pada percobaan V, sebanyak 1 mL larutan ( sedikit (NH4)2S menurut reaksi: ( ) ( ) ( )

Selanjutnya dalam tabung reaksi ditambahkan NaOH 1M hingga endapan larut kembali. ( ) [ ( ) ]

3. Jelaskan kegunaan Aluminium! kegunaan-kegunaan aluminium dalam: * Pengangkutan (kenderaan, kapal terbang, jentera, kenderaan landasan, kapal laut, dsb.) * Pembungkusan (tin aluminum, kerajang aluminium, dsb.) * Rawatan air * Pembinaan (tingkap, pintu, sisian, dawai binaan, dsb. * Barangan pengguna tahan lama (perkakas, peralatan dapur, dsb.) * Talian penghantaran elektrik (berat pengalir aluminium adalah setengah daripada berat tembaga dengan kekonduksian yang sama dan lebih murah * Jentera

* besi waja MKM dan magnet Alnico, walaupun aluminium secara umum tidak bermagnet * Aluminium ketulenan unggul (SPA, 99.980% to 99.999% Al), digunakan dalam elektronik dan cakera padat. * Serbuk aluminium, agen pemperakan yang biasa digunakan dalam cat. Serpihan aluminium juga dimasukkan dalam cat alas, terutamanya kayu cat penyebu semasa pengeringan, serpihan akan bertindan lalu membentuk lapisan kalis air. * Aluminium beranod adalah lebih stabil kepada pengoksidaan lanjut, dan digunakan dalam pelbagai bidang pembinaan. * Kebanyakan penenggelam haba komputer modern dalam unit pemprosesan pusat dibuat dari aluminium kerana ia mudah dibentuk dan mempunyai kekonduksian haba yang baik. Penenggelam haba tembaga adalah lebih kecil tetapi adalah lebih mahal dan sukar untuk dikilangkan. Aluminium oksida, alumina, dijumpai secara umum (delima dan nilam), emeri, dan digunakan dalam pembuatan kaca. Delima dan nilam sintetik digunakan dalam laser untuk penghasilan cahaya koheren. Aluminium teroksida dengan sangat bertenaga dan ini menyebabkannya digunakan dalam bahan api pepejal roket, termit, dan lain-lain komposisi piroteknik. Aluminium juga adalah sejenis superkonduktor, dengan suhu genting superkonduktor 1.2 kelvin.

XII. Daftar Pustaka Vogel. 1979. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. London : Longman Group Limited. Lutfi,Achmad dkk.2011.Penuntun Praktikum Kimia Anorganik II. Surabaya : Unesa Press http://www.chem-is-try.org/ Alumunium _ Chem-Is-Try.Org _ Situs Kimia Indonesia ,Online. Diakses tanggal 15 Oktober 2011 http://ms.wikipedia.org/wiki/Aluminium,Online. Diakses tanggal 15 Oktober 2011

Surabaya, 20 Oktober 2011 Mengetahui Praktikan,

Dosen/Asisten Pembimbing Rusli Hidayah,S.Si.,M.Pd.

Yanuarin Nisaur Rohmah Nim. 093194203

Nur Shofiyah Nim. 093194210

Endah Rohmawati Nim. 093194216

Lampiran

a) logam Al dicelupkan dalam NaOH

b). Al digosok dengan kapas dibasahi HgCl2

C). Logam Al dicelupkan HCl

b). Logam Al dicelupkan Na2CO3

d) Al2(SO4)3 bersifat asam

ALUMINIUM Karakteristik zat-zat yang digunakan dalam praktikum Al Nama, Simbol, dan Nomor Sifat Fisik Wujud Massa jenis Massa jenis pada wujud cair Titik lebur Titik didih Kalor jenis (25 oC) Resistansi listrik (20 oC) Konduktivitas termal (300 K) Pemuaian termal (25 oC) Modulus Young Modulus geser Poisson ratio Kekerasan skala Mohs Kekerasan skala Vickers Kekerasan skala Brinnel DESKRIPSI Aluminium murni merupakan logam keperakan yang bersifat lembut, lunak, ulet, serta termasuk konduktor panas dan listrik yang baik. Aluminium dapat dicampur dengan unsur-unsur lain untuk meningkatkan dan menambah karakteristik alam, serta dijumpai dalam berbagai bentuk termasuk lembaran dan ekstrusi. INFORMASI TAMBAHAN Meskipun aluminium adalah zat inert, situasi berbahaya dapat terjadi pada berbagai proses seperti anodising, polishing, termal breaking, maupun pengelasan. BAHAYA Penanganan Aluminium dalam bentuk padat kemungkinan memiliki struktur bertepi tajam sehingga perlu menggunakan sarung tangan. Warna dari aluminium tidak berubah ketika dipanaskan, dan sarung tangan digunakan untuk melindungi terhadap luka bakar. Untuk menangani aluminium dalam wujud cair, seharusnya semua peralatan yang digunakan dalam keadaan kering. Ketika mencair, pada casting dan pengolahan, harus memakai peralatan pelindung yang sesuai diantaranya gelas, Aluminium, Al, 13 Padat 2,70 gram/cm3 2,375 gram/cm3 933,47 K, 660,32 oC, 1220,58 oF 2792 K, 2519 oC, 4566 oF 24,2 J/mol K 28.2 n m 237 W/m K 23.1 m/m K 70 Gpa 26 Gpa 0,35 2,75 167 Mpa 245 Mpa

kacamata atau visor, logam mencurahkan overall, sepatu pengecoran, sarung tangan. Aluminium cair dapat meledak saat terjadi kontak dengan air serta zat lain yang termasuk pengoksidasi. Semua padatan aluminium harus bebas dari kelembaban sebelum menambahkan ke logam cair. Aluminium dapat meledak bila dicampur dengan asam halogen, terhalogenasi pelarut atau amonium nitrat.

No Nama . Zat 1. NaOH

Sifat Fisika dan Sifat Kimia Sifat Fisik dan Kimia Negara Fisik: Padat. Penampilan: Putih pelet. Bau: tidak berbau. pH: 14 (5% aq soln). Tekanan Uap: 1 mm Hg @ 739 deg C. Kepadatan uap: Tidak tersedia. Tingkat Penguapan: Tidak tersedia. Viskositas: Tidak tersedia. Titik didih: 1390 deg C @ 760 mm Hg. Pembekuan / Melting Point: 318 deg C. Suhu Dekomposisi: Tidak tersedia. Kelarutan: Larut. Spesifik Gravity / Densitas: 2.13 g/cm3. Molekul Rumus: NaOH. Molekul Berat: 40,00.

Bahaya Menyebabkan luka bakar mata dan kulit. Menyebabkan luka bakar saluran pencernaan dan pernapasan. Higroskopis (menyerap uap air dari udara). Organ Sasaran: Mata, kulit, selaput lendir. Potensi Efek Kesehatan Mata: Menyebabkan luka bakar mata. Dapat menyebabkan kebutaan. Dapat menyebabkan konjungtivitis kimia dan kornea kerusakan. Kulit: Menyebabkan luka bakar kulit. Dapat menyebabkan dalam, ulkus menembus kulit. Tertelan: Dapat menyebabkan kerusakan yang parah dan permanen pada saluran pencernaan. Penyebab saluran gastrointestinal luka bakar. Dapat menyebabkan perforasi saluran pencernaan. Penyebab parah sakit, mual, muntah, diare, dan syok. Penghirupan: Iritasi dapat menyebabkan edema paru pneumonitis dan kimia. Menyebabkan iritasi saluran pernapasan parah atas dengan batuk, luka bakar, pernapasan kesulitan, dan koma mungkin. Menyebabkan luka bakar kimia pada saluran pernafasan. Kronis: kontak dengan kulit dalam waktu lama atau berulang dapat menyebabkan dermatitis. Efek mungkin tertunda

2.

HgCl2

3.

HCl

Merkuri merupakan logam yang dalam keadaan normal berbentuk cairan berwarna abu-abu, tidak berbau dengan berat molekul 200,59. Tidak larut dalam air, alkohol, eter, asam hidroklorida, hidrogen bromida dan hidrogen iodide; Larut dalam asam nitrat, asam sulfurik panas dan lipid. Tidak tercampurkan dengan oksidator, halogen, bahan-bahan yang mudah terbakar, logam, asam, logam carbide dan amine. Ciri-ciri fisika asam klorida, seperti titik didih, titik leleh, massa jenis, dan pH tergantung pada konsentrasi atau molaritas HCl dalam larutan asam tersebut. Sifat-sifat ini berkisar dari larutan dengan konsentrasi HCl mendekati 0% sampai dengan asam klorida berasap 40% HCl

Merkuri inorganik: dalam bentuk Hg++ (Mercuric) dan Hg+ (Mercurous) Misalnya: -Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg inorganik yang sangat toksik, kaustik dan digunakan sebagai desinfektan -Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething powder dan laksansia (calomel) -Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar. Sering diabsorpsi melalui gastrointestinal, paru-paru dan kulit. Pemaparan akut dan kadar tinggi dapat menyebabkan gagal ginjal sedangkan pada pemaparan kronis dengan dosis rendah dapat menyebabkan proteinuri, sindroma nefrotik dan nefropati yang berhubungan dengan gangguan imunologis.

Potensi Efek Kesehatan Akut: Sangat berbahaya dalam kasus kontak kulit (korosif, iritan, permeator), kontak mata (iritan, korosif), dari konsumsi,. Sedikit berbahaya dalam kasus inhalasi (paru-paru sensitizer). Non-korosif untuk paru-paru. Cair atau semprot kabut dapat menghasilkan kerusakan jaringan terutama pada selaput lendir mata, mulut dan saluran pernapasan. Kulit kontak dapat menghasilkan luka bakar. Menghirup kabut semprotan dapat menghasilkan iritasi saluran pernafasan yang parah, ditandai dengan batuk, tersedak, atau sesak napas. Parah over-eksposur dapat mengakibatkan kematian. Peradangan mata ditandai dengan kemerahan, gatal penyiraman, dan. Peradangan kulit ditandai dengan gatal, scaling, memerah, atau, kadangkadang, terik. - Menyebabkan iritasi jika tertelan - Bahaya jika kontak langsung dengan mata ataupun kulit

4.

Na2CO3

- Titik didih: 1600 C - Titik lebur: 851 C (anhidrat) 100 C (decomp, monohydrate) 100

C (decomp, monohidrat) 34 C (decomp, decahydrate) 34 C (decomp, decahydrate) - Kelarutan dalam air: 70 g / L (0 C) 216 g/L (20 C) - 450 g / L (100 C) 5. Al2(SO 4)3 Penampilan: Aluminium Sulfat atau sulfat Aluminium adalah kristal tidak berwarna. Bau: tidak berbau. Kelarutan: 87 g/100 cc air @ 0C (32F). Spesifik Gravity: 1,69 @ 17C/4C Volatil dengan volume @ 21C (70F): 0 Melting Point: 87C (189F) terurai. Berbahaya jika tertelan. Dapat menyebabkan iritasi. Hindari uap pernapasan, atau debu. Gunakanlah dengan ventilasi yang memadai. Hindari kontak dengan mata, kulit, dan pakaian. Cuci bersih setelah menangani. Simpan wadah tertutup.