Anda di halaman 1dari 5

PENGUKURAN KEDALAMAN LAUT

Sebagian besar permukaan bumi yang tepatnya 2/3 permukaan bumi tertutupi oleh wilayah perairan, dan hanya tinggal 1/3 saja yang dapat ditempati manusia. Selain itu, jika permukaan bumi kita amati, bentuk permukaan bumi sangatlah tidak rata. Mulai dari titik tertinggi yang sekarang masih dipegang oleh puncak Gunung Everest kurang lebih 8300 m di atas permukaan laut, hingga titik terendah yaitu berada pada Palung Mariana di Samudra Pasifik dengan kedalaman kurang lebih 10810 m di bawah permukaan laut. Jika kita membuka atlas atau buku geografi, kita melihat bahwa setiap daerah pada atlas memiliki warna yang berbeda, dan kita telah mengetahui hal ini bahwa ini menandakan ketinggian atau kedalaman suatu tempat. Misal daerah pada daratan berwarna hijau menggambarkan sebagai daerah dataran rendah, semakin oranye warnanya semakin tinggi pula kedudukan tempat tersebut. Suatu tempat pada daerah laut yang berwarna biru muda menandakan tempat tersebut merupakan dangkalan, semakin tua warna birunya semakin dalam tempat tersebut.

Alat pengukur kedalaman laut :


Echosounder Echosounder adalah alat untuk mengukur

kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Adapun kegunaan dasar dari echosounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Data tampilan juga dapat dikombinasikan dengan koordinat global berdasarkan sinyal dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur GPS pada echosounder ada). Prinsip kerjanya yaitu: pada transmiter terdapat tranduser yang berfungsi untuk merubah energi listrik menjadi suara. Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan frekuensi tertentu. Suara ini dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan rambat sebesar, v=1500 m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara ini akan dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama pun terjadi pada gelombang ini.

Gambar 2. Prinsip Echosounder

Ketika gelombang mengenai objek maka sebagian enarginya ada yang dipantulkan, dibiaskan ataupun diserap. Untuk gelombang yang dipantulkan energinya akan diterima oleh receiver. Besarnya energi yang diterima akan diolah dangan suatu program, kemudian akan diperoleh keluaran (output) dari program tersebut. Hasil yang diterima berasal dari pengolahan data yang diperoleh dari penentuan selang waktu antara pulsa yang dipancarkan dan pulsa yang diterima. Dari hasil ini dapat diketahui jarak dari suatu objek yang deteksi. Cara Pemakaian : 1. Memasang alat dan cek keadaan alat sebelum memulai pengambilan data. 2. Pastikan kabel single beam dan display sudah terpasang. 3. Pasang antena, jika diperlukan input satelit GPS. 4. Masukkan single beam kedalam air. 5. Set Skala kedalaman yang ditampilkan display. 6. Set frekuensi yang akan digunakan 200 Hz untuk laut dangkal atau 50 Hz untuk laut dalam atau dual untuk menggunakan keduanya. 7. Set input data air yaitu salinitas, temperatur dan tekanan air. 8. Pengambilan data. 9. Pemrosesan data. Slide scan sonar Slide scan sonar atau SSS adalah salah satu peralatan kelautan yang digunakan untuk memetakan dasar laut dan juga dapat digunkan untuk mengetahui kehidupan didasar laut. Sistem peralatan ini merupakan strategi penginderaan untuk merkam kondisi dasar laut dengan memanfaatkan sifat media dasar laut yang mampu memantulkan ,menyerap, dan memancarkan gelombang suara. Gelombang suara yang digunakan dalam alat ini berkisar antara 100150 Hz. Slide sonar mampu memeberikan gambar yang tajam layaknya foto jika kapal melaju lurus dan dengan keadaan ombak yang tenang. Selain itu SSS mampu

menduplikat sehingga kita dapat melihat didua sisi, sehingga menjadi efisien dan hemat waktu. CTD ( Conductivity Temperature Depth ) CTD merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengukur kedalaman laut / air. Namun selain dapat mengukur, alat ini dapat juga mengukur untuk suhu, salinitas, tekanan, dan densitas. CTD memiliki tiga sensor utama yaitu sensor tekanan, sensor temperature, dan sensor konduktivitas.

Cara mengukur kedalaman laut :


Ada dua cara untuk mengukur kedalaman laut diantaranya : Batu duga / teknik bandul timah hitam ( dradloading) Yaitu sistem pengukuran dasar laut yang

menggunakan kabel panjang yang dilengkapi dengan bandul yang berasal dari timah. Pemberat yang massanya berkisar antara 25-75 kg. Bandul tersebut diturunkan hingga menyentuh dasar laut. Selanjutnya dari panjang tali yang masuk kedalam laut itulah kedalaman laut dapat diukur. Cara ini sebenarnya tidak begitu tepat karena tali tidak bisa tegak lurus akibat pengaruh arus laut. Di samping itu kadang-kadang bandul tidak sampai ke dasar laut karena tersangkut karang. Cara ini juga memerlukan waktu lama. Namun demikian cara ini memiliki kelebihan yaitu dapat mengetahui jenis batuan di dasar laut, suhu dan juga mengetahui apakah di dasar laut masih terdapat organisme yang bisa hidup. Gema suara / gema duga Untuk mengukur kedalaman laut, dilakukan pengukuran waktu tempuh gelombang bunyi yang dipancarkan dari kapal ke dasar laut dan kembali ke kapal lagi. Prinsip ini pertama kali disarankan oleh Bonnycastle tahun 1838 (Dietrich, et al, 1975) dan disempurnakan dengan penemuan alat sounding pertama oleh Behm tahun 1912 (Dietrich, et al., 1975) yang dinamakan echo sounder, nama yang hingga kini digunakan. Isyarat bunyi yang

dikeluarkan dari sebuah peralatan yang dipasang di dasar kapal memiliki kecepatan merambat rata-rata 1600 meter per detik sampai membentur dasar laut. Setelah membentur dasar laut bunyi dipantulkan dalam bentuk gema dan ditangkap melalui sebuah peralatan yang juga dipasang di dasar kapal. Jarak waktu yang diperlukan untuk perambatan dan pemantulan dapat diterjemahkan sebagai kedalaman laut. Cara ini dianggap lebih praktis, cepat dan akurat. Namun kita tidak dapat memperoleh informasi tentang suhu, jenis batuan dan tanda-tanda kehidupan di dasar laut. Echo Sounder pemancar bunyi dengan suatu transduser pemancar, suatu penerima bunyi berupa transduser penerima, peralatan pengukur waktu dan peralatan perekam. Kini, pada umumnya transduser pemancar dan penerima adalah identik dengan satu transduser digunakan untuk dua fungsi. Frekuensi bunyi karakteristik pada range audio yaitu antara 10 30 kHz. Sinyal bunyi pendek dipancarkan oleh transduser pemancar ke bawah sementara pada waktu yang sama pengukuran waktu dimulai dan pada akhirnya segera sinyal yang dipantulkan oleh dasar laut diterima kembali oleh transduser. Bila kecepatan bunyi ratarata c diketahui, kedalaman air hdiperoleh dari waktu tempuh total t adalah : h = ct

Paket lempeng nikel yang dililit oleh kawat diekspos dalam medan magnetik berfungsi sebagai transduser, dan melalui efek magnetostriksi bahan ferromagnetik seperti nikel di atas akan berubah bentuk sesuai dengan perubahan medan magnetik; perubahan bentuk itu menghasilkan variasi analog tekanan di air yang membangkitkan gelombang tekanan. Berkas bunyi yang baik dihasilkan dari kombinasi yang cocok beberapa transduser. Di sini, frekuensi tinggi yang berkaitan dengan panjang gelombang kecil memberikan efek yang menguntungkan pada lebar berkas dan pada resolusi ruang pengukuran kedalaman. Di air, frekuensi 10 kHz bersesuaian dengan panjang gelombang 15 cm; 30 kHz dengan sekitar 5 cm. Penambahan frekuensi yang lebih besar tidak mungkin dilakukan karena efek penyerapan bunyi bertambah berbanding dengan kuadrat frekuensi di mana jangkauan perambatan bunyi menjadi berkurang. Pada echo sounder untuk keperluan navigasi peralatan pencacah waktu merupakan sebuah cakram yang berputar dengan skala melingkar dan sebuah tabung neon yang berkedip pada saat pemancaran atau penerimaan, atau sebuah osilograf. Kombinasi alat timing dan perekaman digunakan dengan cara pena pencatat (stylus)pada pita atau pada kawat spiral

disisipkan di sepanjang chart yang terletak pada kontak bank. Selama pemancaran dan penerimaan sinyal listrik menghasilkan penghitaman pada kertas pada titik tertentu. Bila chart digeser sedikit antara saru pengukuran dan berikutnya dua trace diperoleh dari deretan titiktitik, satu untuk permukaan laut dan lainnya untuk dasar laut. Gambar 2.11 menunjukkan skema sistem echo sounder.

Akurasi penentuan kedalaman bergantung pada pengukuran waktu, pengetahuan tentang kecepatan bunyi rata-rata, lebar berkas, gerak kapal dan topografi dasar. Waktu eksak tidak merupakan persoalan serius, variasi kecepatan bunyi dapat dikoreksi tanpa kesulitan, maka tiga hal terakhir yang memerlukan perhatian lebih. Berkas kecil menghasilkan echo tidak hanya dari dasar laut langsung di bawah kapal namun juga dari titik-titik lain di dasar Ini muncul bahwa suatu echo tambahan mengambil jalan lebih dekat dan menunjukkan kedalaman yang lebih kecil. Efek gangguan lain adalah gerak rolling danpitching kapal yang memperluas daerah cakupan echo yang diterima.