Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TERSTRUKTUR PENGANTAR AGRIBISNIS (AGB 212)

STRATEGI PENANGGULANGAN RISIKO DI BIDANG AGROTEKNOLOGI (Budidaya Tanaman Padi)

Oleh :

Danang Herdaru A1L008152

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN

Risiko merupakan ketidakpastian (risk is uncertainty) dan kemungkinan terjadinya hasil yang berbeda dengan yang diharapkan (risk is the probability of any outcome from the one expected). Berikut beberapa pendapat tentang pengertian risiko: Risiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu (Arthur Williams dan Richard, M. H) Risiko adalah ketidaktentuan (uncertainty) yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss), (A.Abas Salim) Risiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto) Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan (Herman Darmawi) Risiko adalah probabilitas suatu hasil yang berbeda dengan yang

diharapkan(Herman Darmawi).

Risiko dihubungkan dengan terjadinya akibat yang tak diduga dan hasil ini disebabkan adanya ketidakpastian. Kondisi ketidakpastian dalam dunia pertanian dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain 1. Jarak waktu antara dimulainya perencanaan dari suatu kegiatan sampai berakhirnya kegiatan tersebut (misalnya di bidang pertanian) 2. Keterbatasan tersedianya informasi yang diperlukan 3. Keterbatasan pengetahuan/keterampilan teknik pengambilan keputusan (contohnya pengetahuan petani yang kurang terhadap timbulnya gejala-gejala alam yang merugikan petani, serta kurang tersedianya informasi yang dapat diperoleh petani mengenai hal-hal tersebut di atas)

II. ISI

Sektor pertanian memiliki potensi untuk ditingkatkan apabila berhasil menangani kendala-kendala yang meliputi: produktivitas, efisiensi usaha, konversi lahan pertanian, keterbatasan sarana dan prasarana pertanian, serta terbatasnya kredit dan infrastruktur pertanian. Selain itu, pembangunan di sektor pertanian juga rentan terhadap perubahan dan dampak-dampak lingkungan yang telah terjadi, seperti hujan asam (acid deposition) akibat pencemaran udara, serta penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Dalam menentukan cara penanggulangan (manajemen) risiko, langkah awal yang harus dilakukan adalah identifikasi. Identifikasi adalah pekerjaan awal manajemen risiko yang paling mudah dilaksanakan, tetapi bila petugas/pelaksana identifikasi tidak punya kompetensi/kemampuan yang memadai, akan menghasilkan identifikasi risiko yang salah dan berakibat pada mitigasi yang salah pula. Pekerjaan awal ini akan menghasilkan output daftar risiko. Metode yang biasa digunakan dalam identifikasi risiko adalah analisis data historis, pengamatan dan survei, benchmarking, dan pendapat ahli. Salah satu risiko yang ada dibidang pertanian (budidaya tanaman padi) penurunan hasil panen. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan hasil panen adalah adalah hujan yang jarang turun sehingga dapat menyebabkan tanaman padi terancam gagal panen. Seperti yang kita tahu bahwa tanaman padi yang umum dibudidayakan oleh petani di Indonesia merupakan padi yang sepanjang hidupnya lebih sering terendam air. Dengan perubahan iklim yang ada sekarang perkiraan munculnya musim hujan sangat tidak bisa diprediksi. Akibatnya apabila ketika hujan jarang turun dapat menyebabkan tanaman padi gagal panen. Kebijakan strategis penanggulangan risiko yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah: 1) memfasilitasi pengembangan infrastruktur fisik dan kelembagaan, perbaikan sistem insentif usaha tani, dan mendorong pengembangan agroindustri

padat tenaga kerja di pedesaan, 2) reorientasi arah dan tujuan pengembangan agribisnis padi dengan sasaran peningkatan pendapatan dan ketahanan pangan rumah tangga petani padi, serta sebagai wahana dinamisasi perekonomian desa, dan 3) pengembangan infrastruktur (fisik dan kelembagaan), teknologi, permodalan, kebijakan stabilisasi, dan penyuluhan untuk komoditas alternatif non-padi yang bernilai ekonomi tinggi tetapi memiliki risiko yang besar. Selain oleh faktor cuaca, penurunan hasil panen tanaman padi disebabkan oleh hama dan penyakit salah satu contoh hama yang biasa menyerang adalah serangan hama tikus sawah. Serangan hama tikus merupakan risiko yang tidak dapat diduga, Hama tikus merupakan salah satu hama yang sangat berbahaya bagi petani, khususnya untuk tanaman padi di persawahan. Namun, bukan berarti hama tersebut tidak bisa ditanggulangi. Salah satu cara penanggulangnnya adalah dengan penggunaan racun tikus atau pembuatan perangkap untuk tikus di sekeliling lahan pertanian dengan harapan, tikus masuk ke perangkap sebelum menyerang lahan pertanian milik petani. Selain itu, pola tanam secara serentak juga dapat mengurangi risiko penurunan produksi pada suatu lahan pertanian, karena tikus merupakan hewan pengerat yang selama hidup akan selalu makan sesuatu. Apabila tidak ada lagi makanan yang dapat dimakan lahan pertanian milik petani yang menjadi sasarannya. Selain itu serangan wereng batang coklat merupakan hama yang cukup potensial dalam menurunkan tingkat produksi dari tanaman padi. Agar WBC dapat dikendalikan, Inpres 3 tahun 1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama Wereng Coklat Pada Tanaman Padi dikeluarkan. Inpres tersebut merupakan penerapan prinsip dan teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk WBC. Secara hukum Inpres 3/1986 sampai sekarang belum dicabut sehingga masih berlaku. Ada banyak kebijakan penting dalam Inpres 3/1986 tersebut dan enam diantaranya adalah: 1. Pengendalian hama wereng cokelat dengan menggunakan prinsip

Pengendalian Hama Terpadu (PHT);

2. Penggunaan pola tanam yang diarahkan ke pertanaman serentak, pergiliran tanaman dan pergiliran varietas; 3. Penananman varietas unggul tahan hama; 4. Lima puluh tujuh (57) formulasi insektisida yang dapat menimbulkan resurjensi, resistensi dan dampak lain yang merugikan dilarang digunakan untuk tanaman padi; 5. Pengamatan hama untuk mengetahui kemungkinan timbulnya hama secara dini dan akurat perlu dilaksanakan antara lain dengan menambah jumlah tenaga pengamat serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya melalui kegiatan pelatihan PHT; 6. Dalam rangka penyuluhan pertanian kepada penyuluh pertanian dan kelompok tani/petani diberikan latihan untuk meningkatkan ketrampilannya.

Secara umum kebijakan strategis dan langkah operasional yang perlu dipertimbangkan dalam penanggulangan resiko penurunan produksi tanaman padi dab pengembangan diversifikasi di lahan sawah adalah (Simatupang et al. 2003): 1) memperbaiki ketersediaan dan aksesibilitas terhadap teknologi usaha tani nonberas, 2) Meningkatkan kapasitas manajemen petani melalui perbaikan pelayanan penyuluhan, khususnya dalam pengembangan komoditas nonberas, 3) Memperbaiki ketersediaan dan akses terhadap permodalan untuk mendukung pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti hortikultura, 4) Pembangunan infrastruktur irigasi pompa untuk mempercepat perkembangan diversifikasi usaha tani, 5) Peningkatan produktivitas usaha tani atau mengimplementasikan program stabilisasi harga untuk komoditas yang memiliki risiko tinggi tetapi tingkat profitabilitasnya tinggi,

6) Penguatan kelembagaan kelompok tani dan membangun jaringan kerja dengan investor dalam rangka mengatasi masalah permodalan dan pemasaran komoditas alternatif, dan 7) Pengembangan infrastruktur (fisik dan kelembagaan) di tingkat usaha tani, pengolahan dan pemasaran, dan kerja sama dengan pihak terkait dalam rangka peningkatan efisiensi pemasaran dan stabilisasi harga khususnya untuk komoditas palawija dan hortikultura. 8) Perbaikan kultur teknis dengan penerapan sistem tanam SRI dimana air bukanlah permasalah yang terlalu pokok karena pada system tanam ini hanya pada beberapa fase saja yang membutuhkan banyak air.

Beri Nilai