Anda di halaman 1dari 32

FRAKTUR TIBIA (Waode sarnings, dr.Eny Sandr, dr.Shofiyah Latief.Sp.Rad.M.

Kes)

I. PENDAHULUAN Fraktur tibia adalah hilangnya kontuinitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia. Pusat Nasional Kesehatan di luar negeri melaporkan bahwa fraktur ini berjumlah 77.000 orang, dan ada di 569.000 rumah sakit tiap hari /tahunnya. Fraktur tibia umumnya dikaitkan dengan fraktur tulang fibula, karena gaya ditransmisikan sepanjang membran interoseus fibula. Kulit dan jaringan subkutan sangat tipis pada bagian anterior dan medial dari tulang tibia dan sebagai akibat dari hal ini, sejumlah besar fraktur tulang terbuka sering terjadi. Tendensi untuk terjadinya fraktur tibia terdapat pada pasien-pasien usia lanjut yang terjatuh, Pada pasien-pasien usia muda, mekanisme trauma yang paling sering adalah kecelakaan kendaraan bermotor (1,2,3)

II. INSIDENS & EPIDEMIOLOGI II.1 Frekuensi Fraktur tibia merupakan fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi. Insiden yang terjadi pertahun pada fraktur terbuka tulang panjang diperkirakan 11,5 per 100.000 orang, dengan 40% terjadi pada ekstremitas bawah. Fraktur ekstremitas bawah yang paling umum terjadi pada diafisis tibia.(2)
1

II.2 Mortalitas/Morbiditas Kehilangan anggota tubuh dapat terjadi akibat trauma dari jaringan lunak yang parah, keterlibatan neurovaskular, cedera arteri poplitea, sindroma

kompartemen, atau infeksi seperti gangren atau osteomielitis. Cedera arteri poplitea merupakan cedera yang sangat serius sehingga mengancam ekstremitas namun biasanya diabaikan. Delayed union, nonunion, dan arthritis dapat terjadi pada fraktur tibia. Di antara tulang-tulang panjang, tibia adalah lokasi yang paling sering dari fraktur nonunion. (2)

III. ETIOLOGI Etiologi fraktur tibia berupa trauma akibat kecelakaan dengan berkecepatan sangat tinggi. Di daerah di mana orang-orang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan dengan potensi tinggi untuk trauma kaki (misalnya : ski, sepak bola), jumlah fraktur tibia pada keadaan gawat darurat tergolong tinggi. Sementara trauma langsung pada tibia merupakan penyebab paling umum, tidak ada etiologi lain yang dijumpai untuk fraktur tibia shaft. Dua yang paling umum adalah jatuh atau melompat dari ketinggian yang signifikan dan luka tembak pada kaki bagian bawah.(4)

IV. ANATOMI Terdapat dua tulang pada extremitas bawah yaitu tibia dan fibula. Tibia adalah tulang panjang yang mempunyai corpus, ujung proximal dan ujung distal, berada di sisi medial dan anterior dari crus. Pada posisi berdiri, tibia meneruskan gaya gerak badan menuju pedis. Ujung proximal lebar, mengadakan persendian dengan os femur membentuk artikulastio genu, membentuk kondilus medialis dan kondilus lateralis tibia. Facies proximal membentuk facies articularis superior, bentuk besar, oval dan permukaan licin(5-6) Corpus tibia mempunyai tiga permukaan yaitu facies lateralis, facies medialis dan facies posterior. Mempunyai tiga buah tepi yaitu margo anterior , margo medialis , margo interosseus. (5) Ujung distal tibia membentuk malleolus medialis. Malleolus medialis mempunyai facies superior, anterior, posterior, medial, lateral dan inferior. Pada permukaan lateral terdapat incisura fibularis yang membentuk persendian dengan ujung distal fibula. Facies articularis inferior pada ujung distal tibia membentuk persendian dengan facies anterior corpus tali. (5)

Gambar 1. Anatomi Cruris (Dikutip dari kepustakaan 7 )


4

Gambar 2. Anatomi cruris. (1) (Dikutip dari kepustakaan 7)

V. PATOFISIOLOGI Jika satu tulang sudah patah, jaringan lunak sekitarnya juga rusak, periosteum terpisah dari tulang, dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi didalamnya dengan dengan sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik) berdiferensiasi menjadi khondroblas dan osteoblas. Khondroblas akan mensekresi fosfat, yang merangsang deposisi kalsium. Terbentuk lapisan tebal (callus) di sekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan kallus dari fragmen satunya, dan menyatu. Penyatuan dari kedua fragmen (penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula dan osteoblas yang melekat pada tulang dan meluas menyeberangi lokasi fraktur. Penyatuan tulang provisional ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Callus tulang akan mengalami remodeling untuk mengambil bentuk tulang yang utuh seperti bentuk osteoblast tulang baru dan osteoklast akan menyingkirkan bagian yang rusak dan tulang sementara(8)

VI. DIAGNOSIS Fraktur tibia dapat terjadi pada bagian proksimal (kondiler), diafisis atau persendian pergelangan kaki.

VI.I Fraktur Kondiler Tibia Mekanisme trauma Fraktur kondiler tibia lebih sering mengenai kondiler lateralis dari pada medialis serta fraktur kedua kondiler. Banyak fraktur kondiler tibia terjadi akibat kecelakaan antara mobil dan pejalan kaki di mana bemper mobil menabrak kaki bagial lateral dengan gaya kearah medial (valgus). Ini menghasilkan fraktur depresi atau fraktur split dari kondiler lateralis tibia apabila kondiler femur didorong kearah tersebut. Kondiler medial memiliki kekuatan yang lebih besar, jadi fraktur pada daerah ini biasanya terjadi akibat gaya dengan tenaga yang lebih besar (varus). Jatuh dari ketinggian akan menimbulkan kompresi aksial sehingga bisa menyebabkan fraktur pada proksimal tibia. Pada golongan lanjut usia, pasien dengan osteoporosis lebih mudah terkena fraktur kondiler tibia berbanding robekan ligamen atau meniscus setelah cedera keseleo di lutut. Eminentia intrakondiler dapat fraktur bersama robekan ligamen krusiatum sebagai akibat hiperekstensi atau gaya memutar.(1,9)

Klasifikasi Klasifikasi yang sering dan meluas dipakai sekarang adalah klasifikasi Schatzker(10-11 ). I : Fraktur split kondiler lateral II : Fraktur split/depresi lateral III: Depresi kondiler lateral IV: Fraktur split kondiler medial
7

V : Fraktur bikondiler VI: Fraktur kominutif Tipe IV-VI biasanya terjadi akibat trauma dengan tekanan yang kuat. Fraktur tidak bergeser apabila depresi kurang dari 4 mm, sedangkan yang bergeser apabila depresi melebihi 4 mm.

Gambar 3. Klasifikasi Schatzker.(2) (Dikutip dari kepustakaan 10)

Gambar 4. Fraktur kondiler tibia. (3) (Dikutip dari kepustakaan 12) Gambaran klinis Pada anamnesis terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan nyeri serta hemartrosis. Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut. Biasanya pasien tidak dapat menahan beban. Sewaktu pemeriksaan, mereka merasakan nyeri pada proksimal tibia dan gerakan flesi dan ekstensi yang terbatas. Dokter perlu menentukan adanya penyebab cedera itu akibat tenaga yang kuat atau lemah karena cedera neovaskular, sindroma kompartmen lebih sering terjadi pada cedera akibat

tenaga kuat. Pulsasi distal dan fungsi saraf peroneal perlu diperiksa. Kulit perlu diperiksa secara seksama untuk mencari tanda-tanda abrasi atau laserasi yang dapat menjadi tanda fraktur terbuka(9). Penilaian stabilitas lutut adalah penting dalam mengevaluasi kondiler tibia. Aspirasi dari hemartrosis pada lutut dan anestasi lokal mungkin diperlukan untuk pemeriksaan yang akurat. Jika dibandingkan dengan bagian yang tidak cedera, pelebaran sudut sendi pada lutut yang stabil mestilah tidak lebih dari 10o dengan stress varus atau valgus pada mana-mana titik dalam aksis gerakan dari ekstensi penuh hingga fleksi 90o. Integritas ligamen krusiatum anterior perlu dinilai melalui tes Lakhman(9). Fraktur kondiler sering disertai cedera jaringan lunak disekeliling lutut. Robekan ligamen kollateral medial dan meniscus medial sering menyertai fraktur kondiler lateral. Fraktur kondiler medial disertai robekan ligamen kollateral lateral dan meniskus medial. Ligamen krusiatum anterior dapat cedera pada fraktur salah satu kondiler. Fraktur kondiler tibia, terutama yang ekstensi frakturnya sampai ke diafisis, dapat meyebabkan kepada sindroma kompartemen akut akibat perdarahan dan edema( 9) Pemeriksaan radiologik Dengan foto rontgen posisi AP dan lateral dapat diketahui jenis fraktur, tapi kadang-kadang diperlukan pula foto oblik(1).

10

Gambar 5. Fraktur kondiler tibia pada proximal diametaphysis. (Dikutip dari gambar kepustakaan 13)

Gambar 6. (A) Fraktur kondiler tibia dengan split dan terpisah di lateral. (B) Fraktur kondiler tibia direduksi dengan menggunakan buttress plate dan screw untuk mengembalikan kongruensi sendi.(4) (Dikutip dari kepustakaan 14)

11

Gambar 7. Fraktur bikondiler ( Dikutip dari kepustakaan 15) Pengobatan 1. Konservatif Pada fraktur yang tidak bergeser dimana depresi kurang dari 4 mm dapat dilakukan beberapa pilihan pengobatan, antara lain verban elastik, traksi, atau gips sirkuler. Prinsip pengobatan adalah mencegah bertambahnya depresi, tidak menahan beban dan segera mobilisasi pada sendi lutut agar tidak segera terjadi kekakuan sendi(1). 2. Operatif Depresi yang lebih dari 4 mm dilakukan operasi dengan mengangkat bagian depresi dan ditopang dengan bone graft. Pada fraktur split dapat dilakukan

12

pemasangan screw atau kombinasi screw dan plate untuk menahan bagian fragmen terhadap tibia(1). Komplikasi(1) 1. Genu valgum : terjadi oleh karena depresi yang tidak direduksi dengan baik 2. Kekakuan lutut : terjadi karena tidak dilakukan latihan yang lebih awal 3. Osteoartritis : terjadi karena adanya kerusakan pada permukaan sendi sehingga bersifat irrreguler yang menyebabkan inkonkruensi sendi lutut.

VI.II Fraktur Diafisis Tibia Mekanisme trauma Fraktur diafisis tibia terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan menimbulkan fra,ktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi akan menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas antara 1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal. Tungkai bawah bagian depan sangat sedikit ditutupi otot sehingga fraktur pada daerah tibia sering bersifat terbuka. Penyebab utama terjadinya fraktur adalah kecelakaan lalu lintas. (1)

13

Gambar 8. Fraktur diafisis tibia. (Dikutip dari kepustakaan 10) Klasifikasi fraktur Klasifikasi dari fraktur diafisis tibia bermanfaat untuk kepentingan para dokter yang menggunakannya untuk memperkirakan kemungkinan penyembuhan dari fraktur dalam menjalankan penatalaksanaannya.(3) Orthopaedic Trauma Association (OTA) membagi fraktur diafisis tibia berdasarkan pemeriksaan radiografi, terbagi 3 grup, yaitu : simple, wedge dan kompleks. Masingmasing grup terbagi lagi menjadi 3 yaitu(3) A. Tipe simple, terbagi 3: spiral, oblik, tranversal. B. Tipe wedge, terbagi 3: spiral, bending, dan fragmen. C. Tipe kompleks, terbagi 3: spiral, segmen, dan iregular.

14

Gambar 9. Klasifikasi fraktur diafisis tibia mengikut Orthopaedic Trauma Association (OTA). (Dikutip dari kepustakaan 3) Gambar diatas menunjukkan klasifikasi fraktur berdasarkan radiografi, dari sebelah kiri ke arah bawah menunjukkan fraktur tipe simpel, yang terdiri dari spiral, oblik dan transversal. Gambar yang di tengah memperlihatkan fraktur tipe wedge, dari atas ke bawah memperlihatkan tipe spiral, bending, dan fragmen. Gambar

15

sebelah kanan menunjukkan fraktur tipe kompleks, dari atas ke bawah menunjukkan fraktur tipe spiral, segmen dan ireguler(3). Sistem klasifikasi yang sering digunakan pada fraktur terbuka adalah sistem Gustilo sebagai berikut:(3) Tipe I: lukanya bersih dan panjangnya kurang dari 1 cm. Tipe II: panjang luka lebih dari 1 cm dan tanpa kerusakan jaringan lunak yang luas. Tipe IIIa: luka dengan kerusakan jaringan yang luas, biasanya lebih dari 10 cm dan mengenai periosteum. Fraktur tipe ini dapat disertai kemungkinan komplikasi, contohnya: luka tembak. Tipe IIIb: luka dengan tulang yang periosteumnya terangkat. Tipe IIIc: fraktur dengan gangguan vaskular dan memerlukan penanganan terhadap vaskularnya agar vaskularisasi tungkai dapat normal kembali.

Gambaran klinis Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering ditemukan deformitas misalnya penonjolan tulang keluar kulit.(1)

Pemeriksaan radiologis Evaluasi radiologi dari fraktur diafisis tibia adalah dengan sinar rontgen pada posisi anteroposterior dan lateral. Selain itu pada foto rontgen harus mencakup bagian

16

distal dari femur dan ankle. Dengan pemeriksaan radiologis, dapat ditentukan lokalisasi fraktur, jenis fraktur, apakah fraktur pada tibia dan fibula atau tibia saja atau fibula saja. Juga dapat ditentukan apakah fraktur bersifat segmental (1,3).

Gambar 10. Fraktur diafisis tibia (Dikutip dari kepustakaan 16)

Pengobatan 1. Konservatif Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk immobilisasi, dipasang sampai diatas lutut(1).

17

Prinsip reposisi adalah fraktur tertutup, ada kontak 70% atau lebih, tidak ada angulasi dan tidak ada rotasi. Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu (union secara fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral, imobilisasi dengan gips biasanya sulit dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan tindakan operasi(1). Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan pada tendo patella (gips Sarmiento) yang biasanya dipergunakan setelah

pembengkakan mereda atau terjadi union secara fibrosa(1).

2. Operatif Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka, kegagalan dalam terapi konservatif, fraktur tidak stabil dan adanya nonunion. Metode pengobatan operatif adalah sama ada pemasangan plate dan screw, atau nail intrameduler, atau pemasangan screw semata-mata atau pemasangan fiksasi eksterna. Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia: (1) Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terdapat kerusakan jaringan yang hebat atau hilangnya fragmen tulang Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)

18

Penatalaksanaan Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu(3): a. Absolut - Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak, sehingga memerlukan Operasi dalam penyembuhan dan perawatan lukanya. - Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk memperbaiki jalannya darah di tungkai - Fraktur dengan sindroma kompartemen - Cidera multipel, yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas pasien, juga mengurangi nyeri. b. Relatif , jika adanya: - Pemendekan - Fraktur tibia dengan fibula intak - Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama

Adapun jenis-jenis operasi yang dilakukan pada fraktur tibia diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Fiksasi eksternal a. Standar Fiksasi eksternal standar dilakukan pada pasien dengan cidera multiple yang hemodinamiknya tidak stabil, dan dapat juga digunakan pada fraktur terbuka dengan luka terkontaminasi. Dengan cara ini, luka operasi yang dibuat bisa lebih kecil, sehingga menghindari kemungkinan trauma tambahan yang dapat memperlambat
19

kemungkinan penyembuhan. Di bawah ini merupakan gambar dari fiksasi eksternal tipe standar: (3)

Gambar 11. Fiksasi Interna Standar (Dikutip dari kepustakaan 3) b. Ring Fixators Ring fixators dilengkapi dengan fiksator ilizarov yang menggunakan sejenis cincin dan kawat yang dipasang pada tulang. Keuntungannya adalah dapat digunakan untuk fraktur ke arah proksimal atau distal. Cara ini baik digunakan pada fraktur tertutup tipe kompleks. Di bawah ini merupakan gambar pemasangan ring fixators pada fraktur diafisis tibia(3):

20

Gambar 12. Ring Fixators (Dikutip dari kepustakaan 3) c. Open reduction with internal fixation (ORIF) Cara ini biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang mencapai ke metafisis. Keuntungan penatalaksanaan fraktur dengan cara ini yaitu gerakan sendinya menjadi lebih stabil. Kerugian cara ini adalah mudahnya terjadi komplikasi pada penyembuhan luka operasi. Berikut ini merupakan gambar penatalaksanaan fraktur dengan ORIF(3):

21

Gambar 13. ORIF (Dikutip dari kepustakaan 3) d. Intramedullary nailing Cara ini baik digunakan pada fraktur displased, baik pada fraktur terbuka atau tertutup. Keuntungan cara ini adalah mudah untuk meluruskan tulang yang cidera dan menghindarkan trauma pada jaringan lunak. Di bawah ini adalah gambar dari penggunaan intramedullary nailing(3):

22

Gambar 14. Intramedullary nailing (Dikutip dari kepustakaan 3) 1. Amputasi Amputasi dilakukan pada fraktur yang mengalami iskemia, putusnya nervus tibia dan pada crush injury dari tibia. (3)

Komplikasi Di antara komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur diafisis tibia adalah infeksi, delayed union atau nonunion, malunion, kerusakan pembuluh darah (sindroma kompartmen anterior), trauma saraf terutama pada vervus peroneal

23

komunis dan gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan pergerakan sendi ini biasanya disebabkan adanya adhesi pada otot-otot tungkai bawah. (1)

VI.III Fraktur Distal Tibia Pergelangan kaki merupakan sendi yang kompleks dan penopang badan dimana talus duduk dan dilindungi oleh maleolus lateralis dan medialis yang diikat dengan ligament. Dahulu,fraktur disekitar pergelangan kaki disebut fraktur Pott.(1)

Mekanisme trauma Fraktur maleolus dengan atau tanpa subluksasi dari talus, dapat terjadi dalam beberapa macam trauma(1). 1. Trauma abduksi Trauma abduksi akan menimbulkan fraktur pada maleolus lateralis yang bersifat oblik, fraktur pada maleolus medialis bersifat avulsi atau robekan pada ligamen bagian medial. 2. Trauma adduksi Trauma adduksi akan menimbulkan fraktur maleolus medialis yang bersifat oblik atau avulsi maleolus lateralis atau keduanya. Trauma adduksi juga bisa hanya menyebabkan strain atau robekan pada ligamen lateral, tergantung dari beratnya trauma.

24

3. Trauma rotasi eksterna Trauma rotasi eksterna biasanya disertai dengan trauma abduksi dan terjadi fraktur pada fibula di atas sindesmosis yang disertai dengan robekan ligamen medial atau fraktur avulsi pada maleolus medialis. Apabila trauma lebih hebat dapat disertai dengan dislokasi talus. 4. Trauma kompresi vertikal Pada kompresi vertikal dapat terjadi fraktur tibia distal bagian depan disertai dengan dislokasi talus ke depan atau terjadi fraktur kominutif disertai dengan robekan diastesis.

Klasifikasi Lauge-Hansen (1950) mengklasifikasikan menurut patogenesis terjadinya pergeseran dari fraktur, yang merupakan pedoman penting untuk tindakan

pengobatan atau manipulasi yang dilakukan. Klasifikasi lain yang lebih sederhana, menurut Danis & Weber (1991), dimana fibula merupakan tulang yang penting dalam stabilitas dari kedudukan sendi berdasarkan sindesmosis tibiofibular(1). atas lokalisasi fraktur terhadap

25

Gambar 15 (Dikutip dari kepustakaan 1) Klasifikasi terdiri atas (1): Tipe A; fraktur maleolus di bawah sindesmosis Tipe B; fraktur maleolus lateralis yang bersifat oblik disertai avulsi maleolus medialis dimana sering disertai dengan robekan dari ligamen tibiofibular bagian depan Tipe C; fraktur fibula di atas sindesmosis dan atau disertai avulsi dari tibia disertai fraktur atau robekan pada maleolus medialis. Pada tipe C terjadi robekan pada sindesmosis. Jenis tipe C ini juga dikenal sebagai fraktur Duyuptren.

Klasifikasi ini penting artinya dalam tindakan pengobatan oleh karena selain fraktur juga perlu dilakukan tindakan pada ligamen(1).

26

Gambar 16. (Dikutip dari kepustakaan 1) Gambaran klinis Ditemukan adanya pembengkakan pada pergelangan kaki, kebiruaan atau deformitas. Yang penting diperhatikan adalah lokalisasi dari nyeri tekan apakah pada daerah tulang atau pada ligamen(1).

Pemeriksaan radiologis Dengan pemeriksaan radiologis dapat ditentukan jenis-jenis fraktur dan mekanisme terjadinya trauma. Foto rontgen perlu dibuat sekurang-kurangnya tiga proyeksi, yaitu antero-posterior, lateral dan setengah oblik dari gambaran posisi pergelangan kaki. Sering fraktur terjadi pada fibula proksimal, sehingga secara klinis harus diperhatikan. (1)

27

Gambar 17 (Dikutip dari kepustakaan 1) Pengobatan Fraktur dislokasi pada sendi pergelangan kaki merupakan fraktur intraartikuler sehingga diperlukan reduksi secara anatomis dan akurat serta mobilisasi sendi yang sesegera mungkin(1). Tindakan pengobatan terdiri atas: 1. Konservatif Dilakukan pada fraktur yang tidak bergeser, berupa pemasangan gips sirkuler di bawah lutut.

28

2. Operatif Terapi operatif dilakukan berdasarkan kelainan-kelainan yang ditemukan apakah hanya fraktur semata-mata, apakah ada robekan pada ligamen atau diastasis pada tibiofibula serta adanya dislokasi talus. Beberapa hal yang penting diperhatikan pada reduksi, yaitu(1): Panjang fibula harus direstorasi sesuai panjang anatomis Talus harus duduk sesuai sendi dimana talus dan permukaan tibia duduk paralel Ruang sendi bagian medial harus terkoreksi sampai normal(4 mm)k Pada foto oblik tidak nampak adanya diastasis tibiofibula

Tindakan operasi terdiri atas: Pemasangan screw( maleolar) Pemasangan tension band wiring Pemasangan plate dan screw

29

Gambar 18 (Dikutip dari kepustakaan 1) Komplikasi(1) 1. Vaskuler Apabila terjadi fraktur subluksasi yang hebat maka dapat terjadi gangguan pembuluh darah yang segera, sehingga harus dilakukan reposisi secepatnya. 2. Malunion Reduksi yang tidak komplit akan menyebabkan posisi persendian yang tidak akurat yang akan menimbulkan osteoartritis. 3. Osteoartritis

30

4. Algodistrofi Algodistrofi adalah komplikasi dimana penderita mengeluh nyeri, terdapat pembengkakan dan nyeri tekan di sekitar pergelangan kaki. Dapat terjadi perubahan trofik dan osteoporosis yang hebat. 5. Kekakuan yang hebat pada sendi.

VII. KESIMPULAN Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia. Pada fraktur tibia, dapat terjadi fraktur pada bagian kondiler, diafisis dan pergelangan kaki. Fraktur pada tibia termasuk luka kompleks, sehingga tentunya penanganannya juga tidak sederhana. Sebagai dokter umum, anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan jika terjadi fraktur. Selain itu, pemeriksaan radiologis juga penting. Penatalaksanaan dari fraktur tergantung dari kondisi frakturnya, bisa dengan operatif maupun non operatif.

31

32