Anda di halaman 1dari 4

b. Putusan No. 2266.K/Pdt/1990, Tanggal Putusan: 29 Oktober 1996.

Dalam perkara: Penggugat Ismail Hutajulu melawan Tergugat PT Lolypop Records Kasus posisi: Ismail Hutajulu adalah seorang Pencipta lagu-lagu dalam bahasa Batak. Pada tahun 1942 ia menciptakan dua lagu bahasa Batak dengan judul Tillo-Tilo dan Alatipang. Kedua lagu menjadi lagu yang terkenal di kalangan masyarakat Batak. Pada tahun 1984, Ismail Hutajulu menemukan sebuah casette rekaman yang diproduksi oleh PT Lolypop Records berisi lagu-lagu Tillo-Tillo dan Alatipang, ciptaan Ismail Hutajulu tersebut. Casette rekaman ini diperdagangkan di pasaran umum.Lagu/ nyanyian Tillo-Tillo dan Alatipang yang direkam, diproduksi dan dijual dipasarkan oleh PT Lolypop Records tersebut. Dicantumkan huruf N.N (Noname) dan dinyanyikan oleh Christine Panjaitan. Perekaman lagu-lagu ciptaan Ismail Hutajulu tersebut diatas dilakukan oleh PT Lolypop Records tanpa ijin dari penciptanya, Ismail Hutajulu. Perbuatan PT Lolypop Records tersebut dinilai oleh Ismail Hutajulu sebagai perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian baik moral maupun materiil. Karena usaha musyawarah tidak berhasil, maka Ismail Hutajulu mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap PT Lolypop Records; sebagai Tergugat, dengan tuntutan sebagai berikut: 1. Menyatakan Penggugat adalah pencipta lagu-lagu Tillo-Tillo dan Ala tipang. 2. Menyatakan Tergugat melakukan perbuatan melanggar hukum. 3. Menghukum Tergugat membayar sekaligus lunas kepada Penggugat ganti rugi uang Rp. 60.000.000,- sebagai akibat perekaman dan memproduksi lagu Tillo-Tillo dan Alatipang, tanpa ijin Penggugat sebagai penciptanya. 4. Memerintahkan kepada Tergugat untuk menarik semua casette rekaman yang beredar di dalam masyarakat yang memuat kedua lagu-lagu tersebut. 5. Menghukum Tergugat membayar uang paksa (dwangsom) Rp. 100.000,- setiap hari, bila Tergugat lalai.

6. Dst.

Pengadilan Negeri Terhadap gugatan tersebut di atas pihak Tergugat Lolypop Records, memberikan berupa: a. Eksepsi yang berisikan dalil bahwa gugatan Penggugat adalah kabur, karena "Surat Kuasa Khusus" di dalamnya tidak memuat masalah/object yang disengketakan padahal dalam surat kuasa khusus tersebut, Penggugat menuntut ganti rugi uang. Karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Penggugat. Dengan demikian surat kuasa tersebut tidak sempurna dan tidak dapat dipakai sebagai proses partij formeel di pengadilan. Dengan alasan di atas, Penggugat mohon gugatan Penggugat dinyatakan tidak dapat diterima oleh pengadilan. b. Terhadap pokok perkara pihak Tergugat menyangkai semua dalil gugatan Penggugat, karena tidak didukung oleh bukti-bukti. Karena itu Tergugat mohon agar pengadilan menolak gugatan yang diajukan oleh Penggugat tersebut. Hakim pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum yang pokok isinya sebagai berikut: Eksepsi yang diajukan oleh Tergugat harus ditolak, karena tidak menyangkut mengenai masalah kompetensi pengadilan baik absolut maupun relatif. Mengenai pokok perkara Hakim pertama berpendirian bahwa dari bukti P 1- P2 - P3 - P4 - P5 - P8 - terbukti bahwa lagu-lagu yang disengketakan ini dicipatakan oleh Ismail Hutajulu (Penggugat). Kedua lagu tersebut telah sangat populer di dala.m masyarakat Batak sehingga menjadi lagu rakyat (folklor), meskipun demikian adalah tidak mungkin kedua. lagu rakyat tumbuh dengan sendirinya tanpa ada pencipta lagu tersebut. Terbukti bahwa kedua lagu yang sudah menjadi lagu rakyat tersebut yang mencipta adalah Penggugat. Berdasar bukti P6 terbukti bahwa Tergugat telah merekam, memproduksi dan menjual casette rekaman lagu Alatipang dengan penyanyi Christine Panjaitan, semuanya dilakukan Tergugat tanpa izin dari Penggugat. Dibelakang nama lagu tersebut ditulis "N.N" artinya no name. Tergugat telah melakukan perbuatan melanggar hukum yang harus memberi ganti rugi kepada Penggugat. Karena yang terbukti hanya satu lagu saja yaitu lagu Rambadia (Alatipang) maka tuntutan ganti rugi hanya dikabulkan separuhnya Rp. 30 juta. Berdasar atas pertimbangan tersebut di atas, akhirnya Pengadilan Negeri memberikan putusan sebagai berikut: Mengadili: Dalam Eksepsi: menolak eksepsi Tergugat. Dalam Pokok Perkara:Mengabulkan gugatan untuk sebagian. Menyatakan Penggugat adalah Pencipta lagu Tillo-Tillo dan Rambadia (Alatipang). Menyatakan Tergugat melakukan perbuatan melanggar hukum. Menghukum Tergugat untuk membayar sekaligus lunas kepada Penggugat ganti rugi Rp.30 juta, sebagai akibat perekaman dan memproduksi lagu Alatipang (Rambadia) oleh Tergugat tanpa seizin Penggugat sebagai Penciptanya. Memerintahkan kepada Penggugat untuk menarik semua casette yang beredar di dalam masyarakat yang memuat lagu tersebut di atas. Menghukum Tergugat membayar uang paksa (dwangsom), Rp. 100,000,-(seratus ribu rupiah) sehari, bila Tergugat Ialai menjalankan petitum di atas, dst. Pengadilan Tinggi PT Lolypop Records, menolak putusan Hakim pertama tersebut di atas dan mohon banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Hakim banding setelah memeriksa perkara ini di dalam putusannya berpendirian bahwa apa yang dipertimbangkan dan di putus oleh Hakim pertama, baik dalam eksepsi maupun dalam pokok perkara adalah sudah tepat dan benar menurut hukum, serta dijadikan pertimbangan Pengadilan Tinggi sendiri dalam memberi putusannya. Akhirnya Pengadilan Tinggi memberikan putusan menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 230/Pdt.G/1988/PN.Jkt.Sel.

Mahkamah Agung RI. PT Lolypop Records, menolak putusan Pengadilan Tinggi tersebut di atas dan mohon pemeriksaan Kasasi Mahkamah Agung. Mahkamah Agung sebelum memberi putusan akhir, menerbitkan putusan sela yang amarnya: Sebelum memberi putusan akhir; Memerintahkan kepada PN Jakarta Selatan untuk membuka kembali persidangan atas perkara ini, memanggil para pihak berperkara dan melakukan pemeriksaan para saksi yang telah membuat surat keterangan kesaksian yaitu: (1) Gordon Tobing, (2) Bambang Suwondo, (3) H.P. Siagian, (4) N. Simanungkalit dan (5) D.M. Simanjuntak. . Pemeriksaan saksi mana untuk memperoleh fakta yang lebih jelas tentang kepastiannya: Siapa pencipta lagu-lagu tersebut serta kapan lagu tersebut diciptakan, dan lain-lain yang dianggap perlu dalam perkara ini. Pengadilan Negeri telah melaksanakan, "putusan sela" tersebut dan melaksanakan "pemeriksaan tambahan."Mahkamah Agung setelah memeriksa perkara ini dalam putusannya berpendirian bahwa, judex facti Pengadilan Tinggi DKI Jakarta telah salah menerapkan hukum, sehingga putusan judex facti tersebut harus dibatalkan dan selanjutnya Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara ini. Putusan Mahkamah Agung tersebut didasari oleh alasan yuridis yang intinya sebagai berikut: Dasar pertimbangan dan kesimpulan judex facti Pengadilan Negeri mengenai terbuktinya dalil gugatan Penggugat, ditarik dari bukti P 1-P2-P3-P4 sehingga judex facti menyimpulkan bahwa Pencipta lagu yang disengketakan tersebut adalah Penggugat (Ismail Hutajulu). Bila mana Bukti P 1 dan P2 diuji dengan ketentuan ex pasal 1871 jis 1874-1878 B. W., maka surat bukti tersebut dikonstruksi secara analog dengan pasal 1883 B.W., yakni hanya berupa "catatan biasa" yang kekuatan pembuktiannya hanya sebagai "permulaan pembuktian dengan tulisan", sehinggaa semua alat bukti yang dikemukakan judex facti tersebut belum dapat membuktikan dalil gugatan Penggugat bahwa Penggugat adalah Pencipta lagu-lagu yang disengketakan dalam perkara ini. Apalagi bila bukti surat tersebut dikaitkan dengan fakta hasil pemeriksaan tambahan, maka semakin lumpuh nilai kekuatan pembuktian permulaan yang terkandung dalam bukti P 1 dan P2. Sebabnya, sesuai dengan keterangan pada saksi: N. Simanungkalit dan M.P. Siagian diperoleh fakta sebagai berikut: Bahwa kedua lagu yang diclaim oleh Penggugat sebagai Penciptanya (1942), sudah populer dimasyarakat sejak 1940. bahwa para saksi tidak memungkiri kedua lagu tersebut ada Penciptanya, sampai sekarang ini belum diketahui dengan pasti siapa Pencipta sebenarnya, sehingga lagu-lagu tersebut di N.N. (= No Name) dan lebih digolongkan sebagai Lagu Rakyat (folklore). Jika keterangan kedua saksi ini dikaitkan dengan keterangan Tergugat, bahwa sebelum, Tergugat merekam lagu-lagu tersebut dalam casette, pada tahun 1960, Remaco telah pernah merekamnya. Lagu-lagu tersebut tergolong folklore sehingga perekaman, oleh Tergugat dalam casette dengan code "N.N." menurut Majelis Mahkamah Agung tidak dapat dianggap melanggar Hak Cipta Penggugat. Berdasar atas alasan yuridis tersebut di atas, maka Majelis Mahkamah Agung memberi putusan sebagai berikut: Mengadili: Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Mengadili Sendiri: Menolak gugatan Penggugat, dst. Peradilan: a. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan - No. 230/Pdt.G11988/PN Jakarta Selatan, tanggal 7 April 1989 b. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta - No. 452/Pdt/1989/PT DKI tanggal 5 Desember 1989 c. Mahkamah Agung RI - No. 2266.K/Pdt/1990, tangga129 Oktober 1996.