Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tujuan perawatan orthodontik adalah mendapatkan kesehatan gigi dan mulut, estetik muka dan gigi, fungsi yang baik serta stabilitas hasil perawatan. Kadang-kadang tidak semua tujuan ini bisa dicapai sehingga diperlukan kompromi, tetapi perlu diingat bahwa hasil perawatan tidak boleh mengorbankan kesehatan gigi dan mulut. Untuk merawat gigi yang berdesakan perlu disediakan tempat untuk koreksinya yang bisa didapatkan dari enamel stripping, ekspansi lengkung geligi distalisasi molar, memproklinasikan insisif dan pencabutan gigi permanen. Perencanaan perawatan pada kelainan skeletal dapat dilakukan modifikasi pertumbuhan,kamuflase dan orthognathic surgery.

1.2 Batasan Topik


Adapun batasan topik dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Waktu yang tepat untuk perawatan orthodonti 2. Prinsip dan pertimbangan perawatan orthodonti 3. Indikasi dan kontra indikasi perawatan orthodonti 4. Rencana perawatan 5. Diagnosis dan prognosis 6. Jenis alat orthodonti 7. Rujukan (batasan kompetensi perawatan)

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Waktu Yang Tepat Untuk Perawatan
1. Perawatan Awal (early treatment) Perawatan yang berhubungan dengan pertumbuhan aktif atau membantu dinamikanya. Sebuah metode diperlukan untuk memeriksa tahap perkembangan oklusi dan memperkirakan waktu sebelum tercapainya oklusi permanent (contoh: menentukan apakah akan ada cukup waktu untuk menyelesaikan prosedur interseptif dan guidance). Sebuah cara dapat digunakan untuk membedakan perawatan awal dan terlambat. Cara ini menggunakan tahap-tahap kalsifikasi dari mandibular cuspid dan premolar 1. bila gigi-gigi ini belum mencapai tahap kalsifikasi 7 (+ 1 bagian dari akar baru terbentuk). Pasien dipertimbangkan cocok untuk rencana perawatan awal. 2. Perawatan Terlambat (late treatment) Didefinisikan sebagai perawatan yang dimulai terlalu lambat untuk dibantu, dipersulit, atau terganggu oleh proses pertumbuhan. Walaupun pertumbuhan fasial dan perkembangan dentisi masih tetap ada setelah cuspid dan premolar mencapai tahap kalsifikasi 7 . Waktu yang ada mungkin tidak cukup untuk mencapai tujuan dasar dari perawatan tanpa mengubah strategi dan alat yang digunakan sebelumnya. 3. Perawatan Diphasik (diphasic treatment) Merawat masalah awal skeletal, saat proses pertumbuhan lebih aktif dan merawat dental malalignment setelah gigi permanent erupsi.

2.2. Pertimbangan Untuk Perawatan Orthodontik


Alasan mengapa menggunakan atau meenerapkan perawatan ortodonsia adalah memperbaiki kesehatan rongga mulut, fungsi rongga mulut dan penampilan pribadi. Beberapa kriteria dasar yang realistic untuk menilai perlunya perawatan otrhodonsia : 1. Jika dirasakan perlu bagi subyek untuk mendapatkan posisi postural adaptasi dari mandibula. 2. Jika ada gerak menutup translokasi dari mandibula dari posisi istirahat atau dari posisi postural adaptasi ke posisi intekuspal. 3. Jika posisi gigi sedemikian rupa hingga terbentuk mekanisme refleks yang sangat merugikan selama fungsi oklusal dari mandibula.

4. Jika gigi-gigi menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan lunak. 5. Jika gigi-gigi susunannya berjejal/ tidak teratur, yang bias merupakan factor predisposisi dari penyakit periodontal atau penyakit gigi. 6. Jika penampilan pribadi kurang baik akibat posisi gigi. 7. Jika posisi gigi menghasilkan proses bicara yang normal.(1)

2.3 Indikasi dan kontra indikasi Indikasi 1. Untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi hambatan sosial yang disebabkan oleh penampilan wajah atau dental yang tidak dapat diterima. 2. Meningkatkan estetika penampilan wajah dan dental yang sudah diterima, tapi dia menginginkan agar penampilannya tampak lebih cantik 3. Mempertahankan proses perkembangan normal sebisa mungkin 4. Memperbaiki fungsi rahang dan mengkoreksi masalah yang berhubungan dengan gangguan fungsional 5. Mengurangi pengaruh trauma oklusi 6. Memudahkan perawatan dental yang lain, misalnya dalam perawatan orthodonti Kontra indikasi 1. spasing akibat bad habit atau postur lidah yang tidak normal tanpa mengeliminasi akibat pokoknya. 2. OH buruk 3. Kelainan atau ada masalah periodontal 4. Pasien-pasien yang kurang kooperatif (5) 2.4 Rencana perawatan Periode gigi bercampur adalah saat kesempatan terbesar untuk pedoman oklusal dan pencegahan maloklusi. Dokter gigi memiliki tantangan besar dan kesempatan terbaik untuk terapi ortodontik yang efisien. 1. Alasan perawatan Perawatan tidak mengganggu pertumbuhan normal dari gigi Maloklusi tidak dapat dirawat lebih efisien pada masa gigi permanen

2. Kondisi yang harus dirawat Tertutupnya space karena premature loss gigi susu Malposisi gigi yang dapat mengganggu perkembangan normal dari fungsi oklusal, menyebabkan bentuk yang salah dari erupsi atau penutupan mandibula, atau mengancam kesehatan gigi Supernumerary teeth yang menyebabkan maloklusi Cross bite gigi permanen Maloklusi hasil dari bad habit Oligodontia, jika penutupan space dapat dilakukan dengan prosthesis Neutrooklusi dengan labioversi yang ekstrim pada gigi anterior maxilla Distooklusi disebabkan oleh tipe fungsional Distooklusi disebabkan oleh tipe dental Distooklusi disebabkan oleh tipe skeletal khususnya bila diphasia, indikasi untuk perawatan Masalah spaces supervision

3. Kondisi yang mungkin dirawat pada gigi bercampur Klas II maloklusi pada tipe skeletal, khususnya bila diphasia, indikasi untuk perawatan Klas III maloklusi , dimana perawatan dini dapat dilakukan Seluruh maloklusi berhubungan dengan lebar gigi yang ekstrim, bila telah diekstraksi perawatan harus dilakukan Disharmoni pada dasar apikal (3)

2.5 Diagnosis

1. Pemeriksaan Objektif meliputi :


1. 2. 3. 4. 5. Case History Dental History Prenatal History Post natal history Family History

2. Pemeriksaan ekstra oral Bentuk Kepala


Bentuk Bibir Ada 4 klasifikasi tipe bibir : 1. Competent lips 2. Imcopetent lips 3. Potentially imcopetent lips 4. Edverted lips

Bentuk hidung 3. Pemeriksaan Intra Oral Kondisi rongga mulut Posisi dan oklusi gigi-gigi 4. Pemeriksaan Penunjang (Radiografik)

Penggunaan radiografi dalam diagnosis orthodontik adalah: a. Untuk memperkirakan perkembangan umum dari gigi, ada atau tidak ada dan keadaan erupsi gigi b. Untuk mengetahui ada atau tidak adanya gigi supernumerary c. Untuk menentukan batasab resorpsi akar dari gigi permanen d. Untuk mempelajari batasan formasi akar dari gigi permanen e. Untuk memperkuat adanya batasan patologi dan kondisi traumatik f. Untuk mempelajari karakteristik dari tulang alveolar g. Membantu dalam analisis crania-dento-fasial h. Untuk menkonfirmasikan inklinasi axial dari akar gigi i. Memperkirakan keadaan morfologi abnormal gigi (2)

2.5.1. Analisa Ruang dan Studi Model

Analisa Ruang

Melibatkan pembelajaran lengkung mandibula dan maksila pada tiga bidang ruang (sagital,vertical, dan horizontal). Dan dapat digunakan dalam diagnosis orthodontic dan untuk menentukan rencana perawatan.

1. Analisis Carey Banyak maloklusi disebabkan karena hasil ketidaksesuaian antara panjang lekung rahang dan material gigi. Analisis Careys menolong dalam membedakan perluasan ketidaksesuaian. Analisis Careys memperlihatkan cetakan rahang bawah, analisis yang sama pada cetakan rahang atas dinamakan parameter analisis.

Determinasi panjang lengkung Panjang lengkung anterior pada gigi molar pertama diikur dengan menggunakan soft brass wire, kawat diletakkan berkontak pada bagian mesial dari molar pertama permanen di satu sisi dan berjalan di cusp bukal dari premolar dan sepanjang gigi anterior dan berlanjut pada sisi bersebrangan di jalan yang sama ke permukaan mesial dari molar pertama lawannya. Pada kasus proklinasi, kawat diletakkan sepanjang cingulum di anterior. Jika gigi anterior retroknasi wire brass diletakkan di bagian labial. Jika gigi anterior diletakkan kawat melewati tepi insisal anterior.

Determinasi material gigi Lebar mesio-distal gigi anterior sampai gigi molar pertama (premolar kedua sampai premolar kedua) diukur dan dijumlahkan.

Determinasi ketidaksesuaian Ketidaksesuaian menunjukkan perbedaan antara panjang lengkung rahang dan material gigi.

Careys Analisis

Ketidaksesuaian

Kesimpulan

0-2,5 mm 2,5-5 mm >5 mm

proksimal stripping ekstraksi premolar kedua ekstraksi gigi premol pertama

Kesimpulan 1. Jika ketidaksesuaian 0-2,5 mm,didindikasikan minimal material gigi. Seperti proksimal stripping dapat dibuang dengan mengurangi material gigi. 2. jika ketidaksesuain antara 2,5-5 mm, diindikasikan diperlukan ekstraksi premolar kedua.s Ketidaksesuain lebih dari 5 mm diindikasikan ekstraksi premolar pertama.

2. Analisis Ashley Howe Dipertimbangkan pada gigi yang berjejal dari penurunan luas lengkung rahang draipada panjang rahang. Analisis Ashley Howes menemukan hubungan antara luas total dari dua belas gigi anterior sampai molar kedua dan luas lengkung dental pada regio premolar pertama.

Determinasi total material gigi Luas mesio distal pada semua gigi mesial sampai molar kedua permanen diukur dengan menggunakan dividers dan semua ukuran itu

dijumlahkan. Semua ukuran itu dinamakan total material gigi.

Determinasi diameter premolar Diameter premolar menunjukkan luas lengkung rahang dari ujung cusp bukal di premolar pertama smpai ujung cusp bukal pada premolar pertama lainnya.

Kesimpulan Analisis Ashleys Howes

PMBAW%

kesimpulan

37 atau kurang 44 atau lebih 37-44

membutuhkan ekstraksi perawatan nonekstraksi kasus borderline

Determinasi luas basal premolar Fossa caninus ditemukan pada distal sampai tonjolan caninus. Ukuran luas

dari suatu fossa caninus di satu sisi terhadap sisi lainnya member luas lengkung gigi pada dasar apical atau hubungan antara tulang basal dan prossessus alveolar. Jika fossa caninus tidak dapat dibedakan dengan jelas pengukuran dibuat dari titik dimana 8 mm di bawah puncak di caninus papilla interdental.

Kesimpulan PMBAW dan PMD dibandingkan jika PMBAW lebih besar dari PMD, selanjutnya diindikasikan perluasan lengkung rahang, jika PMBAW kurang dari PMD perluasan rahang tidak dapat dilakukan. Berdasarkan Ashley Howes untuk mencapai oklusi normal dari komplemen gigi lengkap pada luas lengkung basal pada regio premolar harus totalnya 44% dari luas mesiodistal dari semua aspek mesial gigi pada molar kedua permanen (TTM). Rasio ini (expressed as %). Antara luas dasar apical dari region premolar dan TTM dinamakan persentasi luas lengkung rahang premolar (persentasi PMBAW).

PMBAW % = PMBAW x 100 TTM

3. Analisis Ponts

System untuk mengukur empat insisifus maxilarry secara otomatis memperlihatkan luas lengkung di region premolar dan molar. Analisi ponts membantu dalam :

a. Mendeteminasi lengkung dental sempit atau normal b. Mendeteminasi kebutuhan untuk perluasan lengkung kea rah lateral c. Mendeteminasi seberapa luas kemungkianan pada region premolar dan molar. a. Determinasi jumlah insisifus

Luas mesio distal pada empat insisifus maxial diukur dan dijumlahkan. Ini dinamakan penjumlahan insisifus (S.I.)

b. Determinasi pengukuran nilai premolar (M.P.V)

Luas lengkung region dari pit distal dari premolar pertama ke pit distal premolar lawannya itu dinamakan pengukuran nilai premolar

c. Determinasi pengukuran nilai molar (M.M.V)

Luas lengkung region molar diukur dari pit mesial molar pertama ke pit mesial molar pertama lawannya dinamakan pengukuran nilai moalar.

d. Determinasi nilai kalkulasi premolar (C.P.V)

Kalkulasi nilai premolar atau perluasan nilai premolar dihitung dengan formula : S.I x 100/80

e. Determinasi nilai kalkulasi molar (C.M.V)

Kalkulasi nilai molar atau perluasan nilai molar dihitung dengan formula : S.I x 100/64

Kesimpulan

Jika nilai pengukurannya kurang dari nilai yang dikalkulasikan maka diindikasi untuk perluasan. Jadi memungkinkan mendeterminasi seberapa besar luas yang dibutuhkan pada region molar dan premolar.

2.5.2. Studi Model Tahap tahap pembuatan studi model orthodontic adalah sebagai berikut : 1. Cetakan dan gigitan malam

2. Model dicetak dengan tepat. Cetakan harus diperluas ke batas sulkus bukal dan sulkus lingual.pada daerah molar rahang bawah. Cetakan atas harus menutupi palatum keras tetapi tidak meluas ke palatum lunak. Gigitan malam harus selalu dibuat. Malam jangan sampai menempel pada gigi insisivus karena reproduksi plaster dari gigi ini mudah patah bila model ditekan ke gigitan malam.

3. Casting model Model dapat dibuat dengan plaster gigi biasa, stone plaster, dalam campuran stone-plaster, atau gigi-gigi dibuat dengan plaster biasa. Gigi yang dibuat dengan stone plaster akan lebih kuat daripada gigi dengan plaster putih. Model harus dibuat dengan plaster yang cukup tebal dibagian dasar, sehingga dapat diasah ke bentuk yang diinginkan.

4.

Pengasahan bagian dasar a. Model atas dipasang pada rubber T di glass plate dan dengan gauge permukaan dibuat garis horizontal tegak lurus, di sekitar dasar model. b. Dasar model diasah sampai garis tersebut.

10

c.

Model dioklusi dengan gigitan malam pada posisinya dan diletakkan pada glass plate, model bawah diletakkan di atas.

d.

Permukaan dasar model akan diasah dan dibuat tegak lurus terhadap median palatina raphe.

e.

Bagian depan model diasah sedemikian sehingga terletak segaris dengan median palatine Raphe.

f.

Sisi model diasah dengan jarak sama dari garis tengah, sehingga model memiliki lebar yang baik.

g.

Model dioklusi dengan gigitan malam pada posisinya dan dengan menggunakan model atas sebagai pedoman, permukaan belakang dan sisi-sisi model bawah diasah agar sama dengan atas.

h.
i.

Sudut distal model kemudian diasah dengan menggunakan seri segi empat ketiga dan kesemetrian akhir model atas diperiksa. Bagian depan model bawah diasah membentuk lengkungan sesuai dengan lengkung segmen labial bawah.5

j.
k.

Tepi-tepi plaster yang halus diasah sampai didapat lengkungan yang halus dengan cheisel yang tajam. Untuk pembuatan foto, permukaan yang diasah harus dipoles dengan wheel korborundum no 120. (2)

kesimpulan kasus: Diagnosis: 1. Ibu Yuliana (32 tahun) : maloklusi klas II divisi I 2. Mira (9 tahun) : maloklusi klas I tipe I pada masa gigi bercampur Perawatan pada Mira dengan alat lepasan: 1. labial bow (pasif) 2. aktif: bumper Z spring dan C coil 3. pasif : Adams clasp dan base plate

11

prognosis: ibu yuliana (32 tahun): Buruk Pada wajah yang panjang vertikal,penyimpangan rahang anterior posterior yang sedang dan parah. Maloklusi keles II angel devisi 1. Mira (9 tahun) : Baik Boleh ditangani oleh dokter gigi umum, pola fasial rata-rata atau pendek.penyimpangan rahang anterior yang ringan, crowding < 4-6mm,jaringan lunak yang normal, tidak ada masalah skeletal yang transfersal. Maloklusi kelas 1 angel tipe 1.

2.6 Jenis Perawatan Orthodontik Dan Komponennya


Peranti yang digunakan untuk merawat maloklusi dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu peranti lepasan dan peranti cekat. A. Peranti lepasan Peranti lepasan adalah piranti yang dapat dipasang dan dilepas oleh pasien. Komponen utamanya ada 4, yaitu: 1. komponen aktif, terdiri atas pegas-pegas aktif, busur, dan sekrup ekspansi 2. komponen pasif, terdiri atas cengkeram Adams dengan beberapa modifikasinya, cengkeram Southend dan busur pendek. 3. lempeng akrilik, dapat dimodifikasi dengan menambah peninggian gigitan anterior untuk koreksi gigitan dalam maupun peninggian gigitan posterior untuk membebaskan halangan gigi anterior atas pada kasus gigitan silang anterior. 4. penjangkaran. Peranti lepasan dapat juga dihubungkan dengan headgear untuk menambah penjangkaran.

12

B. Peranti cekat Peranti cekat adalah peranti orthodonti yang melekat pada gigi pasien sehingga tidak bisa dilepas oleh pasien. Peranti ini mempunyai 3 komponen utama, yaitu: 1. lekatan (attachment), yang berupa breket atau cincin (band) 2. archwire 3. penunjang (auxiliaries), misalnya rantai elastomerik dan modul. (4)

2.7 Rujukan
1. Kasus yang akan dirawat oleh dokter gigi umum adalah jika prognosisnya bai, diantaranya :

Bentuk fasial mesoprosopic atau euryprosopic Penyimpanan rahang anterior posterior yang ringan Gigi berjejal < 4 6 mm Jaringan lunak normal Tidak ada masalah skeleta transversal.

2. Kasus akan dirujuk ke spesialis ortodontik adalah jika prognosisnya diantaranya : Bentuk wajah yang leptoprosopic Penyimpanan rahang anterior posterior yang sedang dan parah

buruk,

Berhubungan dngan sendi temporomandibula dan gigi berjejal lebih dari 4 6 mm Adanya komponen masalah skeleta yang tranversal.(2)

13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Perawatan orthodonsi mencakup memperbaiki anomaly dari oklusi dan posisi gigi-gigi sejauh dibutuhkan dan sebisa mungkin. Rencana perwatan yang cermat berperan penting seperti halnya perawatan itu sendiri, karena bila tidak direncanakan dengan akurat , perawatan tidak akan bisa berhasil serta kompentensi dokter gigi dan kooperatif pasien. Sebelum kita melakukan rencana perawatan maka ada prosedurproosedur pemeriksaan dalam orthodontic yang harus dijalani. Kesimpulan kasus: Diagnosis: 1. Ibu Yuliana (32 tahun) : maloklusi klas II Angles divisi I 2. Mira (9 tahun) : maloklusi klas I angles tipe I pada masa gigi bercampur Perawatan pada Mira dengan alat lepasan: 3. labial bow (pasif) 4. aktif: bumper Z spring dan C coil 5. pasif : Adams clasp dan base plate

14

DAFTAR PUSTAKA 1. T.D. Foster. Buku Ajar Orthodonsia. EGC. Jakarta : 1997. 2. Balajhi S.I. Orthodontics The Art and Science. 1 th ed. New Delhi.Arya (Medi) Publishing House, 1997 3. Moyers R. E. Handbook of Orthontics. Year BookMedical Publiser, Inc. Chicago 4th ed, 1988. 4. Rahardjo, Pambudi. Orthodonti Dasar. Airlangga University press. 2009. 5. Proffit. WR Finns,HW. Contemporary Orthodonti. 3 th ed. 2000

15