Anda di halaman 1dari 12

IDENTIFIKASI PARASIT PADA IKAN BANDENG (Chanos-chanos)

Adelaide MU (4443090564), Mega M (4443091412), M. Zaelani (4443090856) Nico (4443080949), Siti lulu AM (4443091070), yudha A (4443092512)

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYSA 2011

ABSTRAK Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan penghasil protein hewani tinggi, memiliki bentuk tubuh memanjang, padat, pipih, dan oval. Kepala tidak bersisik, mulut terletak diujung dan berukuran kecil dan rahangnya tanpa gigi. Parasit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme yang tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian. Parasit ikan ada pada lingkungan perairan yang ada ikannya, tetapi belum tentu menyebabkan ikan menderita sakit. Parasit yang ditemukan dalam praktikum kesehatan ikan dengan objek ikan bandeng adalah Trichodina sp. dan Lernea sp. Merupakan pengamatan pada sisik dan lendir ikan bandeng.

Kata kunci : Ikan bandeng, identifikasi, parasit, Trichodina sp., Lernea sp.,

I.

PENDAHULUAN Bandeng (Chanos chanos Forsskl) adalah ikan pangan populer di Asia Tenggara. Ikan ini

merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam familia Chanidae (bersama enam genus tambahan dilaporkan pernah ada namun sudah punah). Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal sebagai ikan bolu, dan dalam bahasa Inggris milkfish). Ikan bandeng memiliki nama latin Chanos chanos, merupakan ikan campuran antara air asin dan air tawar atau payau. Ikan bandeng merupakan ikan laut dengan daerah persebaran yang sangat luas yaitu dari pantai Afrika Timur sampai ke Kepulauan Tua mutu, sebelah timur Tahiti, dan dari Jepang Selatan sampai Australia Utara. Ikan ini biasanya terdapat di daerah Tropika dan Sub Tropika Ikan bandeng memiliki nama lain yaitu Milkfish.

Gambar 1. Ikan bandeng

Klasifikasi ikan bandeng yaitu : Kingdom Phylum Sub Phylum Classis Sub Classis Ordo Familia Genus Spesies : Animalia : Chordata : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Malacopterygii : Chanidae : Chanos : Chanos chanos

Jenis-jenis ikan bandeng yaitu ikan bandeng memiliki dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina, bandeng jantan dapat diiketahui dari lubang anusnya yang hanya dua buah dan ukuran badan agak kecil sedangkan bandeng betina memiliki lubang anus tiga buah dan ukuran badan lebih besar dari ikan bandeng jantan. Morfologi Ikan bandeng Menurut Djuhanda (1981) mempunyai tubuh yang ramping dan ditutupi oleh sisik dengan jari-jari yang lunak. Sirip ekor yang panjang dan bercagak. Mulut sedang dan non protractile dengan posisi mulut satu garis dengan sisi bawah bola mata dan tidak memiliki sungut. Ikan ini memiliki tubuh langsing dengan sirip ekornya bercabang sehingga mampu berenang dengan cepat. Warna tubuhnya putih keperak perakan. mulut tidak bergerigi sehingga menyukai makanan ganggang biru yang tumbuh di dasar perairan (herbivora) Habitat ikan bandeng di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan cenderung berkawanan di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan terumbu koral. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut selama 23 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau berair payau, dan kadangkala danaudanau berair asin. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak. Ikan muda (disebut nener) Ikan ini dapat hidup sampai ke pinggiran dan tengah laut kemudian secara kontinyu akan kembali ke perairan dangkal atau tepi pantai untuk bertelur. Ikan bandeng lebih menyenangi perairan dangkal dengan banyak tanaman bakau di sekitarnya.

Penyakit pada organisme perairan seperti halnya ikan bandeng didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mengganggu proses kehidupan ikan sehingga pertumbuhan menjadi tidak normal. Secara umum penyakit dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan (Afrianto dan Liviawaty, 2003). Parasit merupakan organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme yang tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian. Parasitisme adalah hubungan dengan salah satu spesies parasit dimana inangnya sebagai habitat dan merupakan tempat untuk memperoleh makanan atau nutrisi, tubuh inang adalah lingkungan utama dari parasit sedangkan lingkungan sekitarnya merupakan lingkungan keduanya (Kabata, 1985). Adapun pengertian lain dari Parasit yaitu hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Dengan kata lain parasit hidup dari pengorbanan inangnya. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, dan jamur. Manfaat yang diambil parasit terutama adalah zat makanan dari inangnya. Penyakit akibat infeksi parasit menjadi ancaman utama keberhasilan akuakultur. Pemeliharaan ikan dalam jumlah besar dan padat tebar tinggi pada area yang terbatas, menyebabkan kondisi lingkungan tersebut sangat mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit infeksi. Kondisi dengan padat tebar tinggi akan menyebabkan ikan mudah stress sehingga menyebabkan ikan menjadi mudah terserang penyakit, selain itu kualitas air, volume air dan alirannya berpengaruh terhadap berkembangnya suatu penyakit. Populasi yang tinggi akan mempermudah penularan karena meningkatnya kemungkinan kontak antara ikan yang sakit dengan ikan yang sehat ( Irianto, 2005). Daelami (2002) mengatakan bahwa parasit ikan terdapat pada lingkungan perairan yang ada ikannya, tetapi belum tentu menyebabkan ikan menderita sakit. Ikan sebenarnya mempunyai daya tahan terhadap penyakit selama berada dalam kondisi lingkungan yang baik dan tubuhnya tidak diperlemah oleh berbagai sebab. Infeksi yang terjadi pada ikan karena serangan parasit merupakan masalah yang cukup serius dibanding dengan gangguan yang disebabkan oleh faktor lain. Parasit bisa menjadi wabah bila diikuti oleh infeksi sekunder. Kolam yang tidak terawat merupakan tempat yang baik bagi organisme penyebab infeksi penyakit yang mungkin telah ada pada kolam atau juga berasal dari luar. Akan tetapi, selama kolam terjaga dengan baik serta lingkungan yang selalu mendapat perhatian, parasit dalam kolam maupun yang dari luar tidak akan mampu menimbulkan infeksi (Irawan, 2000).

Berdasarkan cara penyerangan, parasit dibedakan atas 2 golongan yaitu golongan ektoparasit (eksternal) dan endoparasit (internal), Ektoparasit adalah parasit yang menyerang bagian luar kulit,sisik,lender,dan insang. Sement ara itu endoparasit adalah parasit yang menyerang bagian dalam Alifudin, (1996). Ada tiga kemungkinan penyebab kematian populasi ikan di kolam atau di perairan lain, yaitu stress linkungan atau keracunan, infeksi mikroba dan infeksi metazoan. Kesehatan ikan dalam akuakultur adalah hal yang paling penting. Dan tentunya kesehatan ikan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, nutrisi dan patogen. Penyakit diartikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal Secara umum penyakit dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan. Parasit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme yang tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian. Menurut Supriyadi (2004) berdasarkan sifat hidupnya parasit dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu obligat dan fakultatif. Obligat yaitu parasit yang hanya bisa hidup jika berada pada inang. Fakultatif yaitu parasit yang mampu hidup di lingkungan air jika tidak ada inang disekitarnya. Dialam parasit mempunyai peranan penting dalam dalam suatu ekosistem. Sedangkan dalam budidaya kehadiran parasit sangat dihindari. Parasit ikan ada pada lingkungan perairan yang ada ikannya, tetapi belum tentu menyebabkan ikan menderita sakit. Ikan sebenarnya mempunyai daya tahan terhadap penyakit selama berada dalam kondisi lingkungan yang baik dan tubuhnya tidak diperlemah oleh berbagai sebab. Kolam yang tidak terawat merupakan tempat yang baik bagi organisme penyebab infeksi penyakit yang mungkin telah ada pada kolam atau juga berasal dari luar. Akan tetapi, selama kolam terjaga dengan baik serta lingkungan yang selalu mendapat perhatian, parasit dalam kolam maupun yang dari luar tidak akan mampu menimbulkan infeksi. Serangan parasit merupakan masalah yang cukup serius dibanding dengan gangguan yang disebabkan oleh faktor lain. Penyerangan yang disebabkan oleh parasit biasanya tidak dapat diketahui gejalanya sehingga baru sadar ketika ikannya sudah mati dalam jumlah yang besar. Berdasarkan cara penyerangan, parasit dibedakan atas 2 golongan yaitu golongan ektoparasit (eksternal) dan endoparasit (internal), Ektoparasit adalah parasit yang menyerang bagian luar kulit,sisik,lender,dan insang. Sement ara itu endoparasit adalah parasit yang menyerang bagian dalam. Pada siklus hidupnya, parasit memerlukan inang. Berdasarkan sifatnya parasit dibedakan menjadi Parasit fakultatif : merupakan organisme yang sebenarnya hidup bebas, tetapi karena kondisi tertentu, mengharuskan organisme tersebut hidup sebagai parasit sehingga sifat hidup

keparasitannya tidak mutlak. Parasit obligat : Parasit obligat yaitu semua organisme yang untuk kelangsungan hidup dan eksistensinya mutlak memerlukan hospes. Parasit Insidental atau Sporodis: Parasit ini merupakan suatu parasit yang karena sesuatu sebab berada pada hospes yang tidak sewajarnya. Dan parasit Eratika : parasit ini merupakan parasit yang terdapat pada hospes yang wajar tetapi lkasinya pada daerah yang tidak wajar.

II. BAHAN DAN METODOLOGI Pada praktikum mengenai identifikasi parasit pada ikan Bandeng (Chanos-chanos) pada mata kuliah Kesehatan Ikan, di lakukan pengamatan di Laboratorium Budidaya Perikanan Lantai 3 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten. Pada tanggal 13 Desember 2011 hari Selasa pada pukul 13.00 WIB. Dan pada praktikum mengenai identifikasi parasit pada ikan bandeng membutuhkan alat-alat dan bahan sebagai penunjang kegiatan praktikum. Di antaranya di gunakan objek ikan bandeng sebagai bahan utama dalam kegiatan praktikum ini. Selain itu air pun di butuhkan sebagai media sterilisasi pada kegiatan praktikum serta larutan fisiologi sebagai media untuk mematikan parasit pada ikan dan alat yang digunakan adalah Mikroskop di gunakan sebagai media penglihatan atau pembesaran untuk hasil objek yang berukuran kecil, baskom di gunakan sebagai tempat menyimpan ikan bandeng, pisau di gunakan untuk pengambilan lendir pada tubuh ikan, gunting untuk alat bedah, gelas objek untuk menyimpan hasil lendir, kantong plastik di gunakan untuk membuang bahan bahan yang telah selesai di teliti. Kemudian pada praktikum ini memiliki prosedur kerja atau tahapan tahapan dari praktikum mengenai identifikasi parasit ikan bandeng. Setiap mahasiswa/mahasiswi mulai mengambil ikan bandeng lalu mulai mencari parasit yang ada di ikan bandeng tersebut dengan mengambil lendir ikan, insang dan kulit ikan bandeng kemudian lendir, insang dan kulit di letakkan kedalam gelas objek dan dilihat atau diamati parasit satu persatu dengan mikroskop sehingga terlihat parasit dalam preparat tersebut, kemudian hasilnya dicatat. Dan jangan lupa pada pengamatan yang di lakukan di mikroskof harus di seting dulu perbesaran kaca lensa objeknya, selain itu media yang di temukan harus di tetesi larutan fisiologi sebagai media agar parasit yang di temukan pada ikan bandeng mati dan akhirnya tidak bergerak. Setelah terkumpul semua dari hasil pengamatan kemudian di catat hasilnya.

III. HASIL Pada praktikum mengenai identifikasi parasit pada ikan bandeng pada mata kuliah kesehatan ikan di dapatkan data hasil praktikum identifikasi parasit pada ikan bandeng yang dihasilkan seperti disajikan pada tabel 1. Hasil yang di dapat pada tabel ini memiliki 2 jenis parasit yang bersumber dari lendir ikan bandeng dan insang ikan bandeng. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat hasil dari kegiatan praktukum, pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Parasit Pada Ikan Bandeng NO 1 SAMPEL Ikan bandeng NAMA Tricodina sp. GAMBAR 1

Ikan bandeng

lernea sp.

Dan dari hasil identifikasi parasit pada ikan bandeng pada tabel di atas juga dapat dilihat pada hasil grafik yang lebih mudah di baca dan di mengerti oleh kita.

Grafik 1. Parasit Pada Ikan Bandeng


jumlah yang ditemukan 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 Trichodina sp. Parasit Lernea sp.

IV. PEMBAHASAN Di dalam hasil praktikum yang di dapat dari identifikasi melalui mikroskof dengan median gelas objek sebagai wadah dari parasit yang di dapat pada ikan bandeng yang telah diidentifikasi pada praktikum mata kuliah kesehatan ikan di peroleh hasil identifikasi parasit Trichodina sp. dan Lernea sp. Untuk lebih jelasnya mengenai parasit yang di dapat pada tubuh ikan bandeng dapat kita lihat pada pembahasan mengenai kedua parasit di bawah ini. Trichodina sp.

Gambar 2. Trichodina sp. Adapun klasifikasi dari parasit Trichodina sp menurut Kabata (1985) adalah sebagai berikut: Filum Sub filum Klas Ordo : Protozoa : Ciliophora : Ciliata : Petrichida

Sub ordo Famili Sub famili Genus Spesies

: Mobilina : Trichodinidae : Trichodininae : Trichodina : Trichodina sp.

Trichodina sp. adalah parasit yang menyerang hampir semua spesis ikan tawar, dan termasuk salah satu parasit yang kosmopolit karna ditemukan hampir diseluruh perairan, susanto (2000). Pada dasarnya parasit ini bukan sebagai penyerang utama, tetapi ia menyerang pada ikan yang telah lebih dulu terkena parasit lain, misalnya karena luka, sakit, stress dan sebagainya, sehingga boleh dikatakan bahwa parasit ini sebagai infeksi sekunder, ikan yang terserang biasa dilihat dengan tanda-tanda antara lain terdapat bintik putih keabuan pada bagian tubuh yang terserang terutama kepala dan punggung, nafsu makan hilang hingga ikan menjadi kurus dan lemah, produksi lendir bertambah banyak sehingga ikan nampak mengkilat. Selanjutnya menurut Budi Sugianti (2005), Beberapa penelitian membuktikan bahwa ektoparasit Trichodina mempunyai peranan yang sangat penting terhadap penurunan daya kebal tubuh ikan dan terjadinya infeksi sekunder. Berdasarkan hasil pengamatan pada sisik ikan bandeng dengan mikroskop, dapat diidentifikasi parasit Trichodina sp., yang juga dikenal dengan

Trichodiniella sp., dapat menyebabkan penyakit Trichodiniasis, yang bisa menyerang kulit ikan maupun insang pada ikan. Trichodina sp., merupakan protozoa Trichodina sp tubuhnya berbentuk datar seperti piring dengan dikelilingi rambut getar (marginal dan lateral cilia). Pada tubuh bagian bawah terdapat lingkaran tubuh bawah terdapat lingkaran pelekat (adhesive disk) untuk melekatkan dirinya ketubuh ikan atau benda-benda lainnya (Noga, 1995). Trichodina sp. Parasit ini memiliki dua bagian yaitu anterior dan posterior yang berbentuk cekung dan berfungsi sebagai alat penempel pada inang. Parasit ini juga memiliki dua inti, yaitu inti besar dan inti kecil, inti kecil yang dimiliki berbentuk bundar menyerupai vakuola dan inti besar berbentuk tepal kuda. Hasil pengamatan tingkah laku dan morfologi ditemukan ikan bandeng banyak mengeluarkan lendir, terdapat bintik putih keabuan pada bagian tubuh. Sesuai dengan pendapat Irawan (2004) mengemukakan bahwa ikan yang terserang biasa dilihat dengan tanda-tanda antara lain terdapat bintik putih keabuan pada bagian tubuh yang terserang terutama kepala dan punggung, nafsu makan hilang hingga ikan menjadi kurus dan lemah, produksi lendir bertambah banyak sehingga ikan nampak mengkilat.

Pada hasil pengamatan penyerangan Trichodina sp diduga, karena kepadatan ikan dikolam yang tinggi sehingga proses pergesekan antar ikan yang terinfeksi terjadi, ikan mengalami stress akibat fluktuasi kualitas air karena perubahan musim dan pemberian pakan yang kurang atau tidak optimal. Disamping itu pada hasil pemeriksaan parasit, ikan mas yang terserang Trichodina sp telah terserang parasit lain sesuai pendapat Agus irawan (2004) bahwa pada dasarnya parasit ini bukan sebagai penyerang utama, tetapi ia menyerang pada ikan yang telah lebih dulu terkena parasit lain, misalnya karena luka, sakit, stress dan sebagainya, sehingga boleh dikatakan bahwa parasit ini sebagai infeksi sekunder.

Lernea sp.

Gambar 3. Lernea sp. Adapun klasifikasi dari parasit Lernea sp menurut Kabata (1985) adalah sebagai berikut: Kerajaan : Animalia Filum : Arthropoda Subphylum : Crustacea Kelas : Maxillopoda Subclass : Copepoda Urutan : Cyclopoida Keluarga : Lernaeidae Genus : Lernaea sp. Parasit ini termasuk crustacea (udang-udangan tingkat rendah). Ciri parasit ini adalah jangkar yang menusuk pada kulit ikan dengan bagian ekor (perut) yang bergantung, dua kantong telur berwarna hijau. Jenis parasit ini biasa disebut dengan cacing jangkar karena bentuk tubuhnya yaitu bagian kepalanya seperti jangkar yang akan dibenamkan pada tubuh ikan sehingga parasit ini akan terlihat menempel pada bagian tubuh ikan yang terserang parasit ini. Lernea sp., merupakan udang renik yang memiliki bentuk bulat memanjang seperti cacing. Pada bagian kepalanya terdapat organ yang berbentuk seperti jangkar, sehingga organisme ini disebut sebagai cacing jangkar (anchor worm), organ ini berfungsi untuk menempel pada tubuh ikan. Lernea sp., dapat menyebabkan penyakit Lerneasis. Penyakit ini biasanya menyerang pada saat pembenihan atau pendederan. Ikan yang terserang penyakit ini mengalami luka pada tubuhnya

dan terlihat dengan jelas cacing jangkar yang menempel dengan kuatnya dibagian badan, sirip, insang dan mata. Parasit ini sangat berbahaya karena menghisap cairan tubuh ikan untuk perkembangan telurnya. Selain itu bila parasit ini mati, akan meninggalkan berkas lubang pada kulit ikan sehingga akan terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Parasit ini dalam siklus hidupnya mengalami tiga kali perubahan tubuhnya yaitu nauplius, copepodit dan bentuk dewasa. Dalam satu siklus hidupnya membutuhkan waktu berkisar antara 21 25 hari. Pada stadium copepodid, cacing jangkar ini hidup di sekeliling tubuh ikan dan menggigit kulit/lendir ikan. Pada stadium ini, cacing tersebut sangat peka terhadap beberapa jenis obat-obatan. Memasuki stadium dewasa, cacing ini cacing dibagi menjadi dua kelompok, yaitu stadium cyclopoid dan stadium dewasa. Selama stadium cyclopoid, lernea hidup di sekeliling tubuh ikan dan juga tidak tahan terhadap pengaruh obat-obatan. Cacing jangkar betina akan menusukkan kepalanya ke jaringan kulit/daging ikan. Pada bagian yang ditusuk akan terlihat luka dan membengkak, namun karena ukurannya masih terlalu kecil, agak sulit untuk melihatnya dengan mata biasa. Individu dewasa sudah dapat dilihat dengan mata biasa. Bagian tubuhnya yang terdapat di luar tubuh ikan akan tampak membesar, karena mempunyai sepasang kantung telur. Jika telurnya menetas, maka nauplius akan berenang keluar dari dalam kantung untuk mencari ikan. Siklus hidup Lernea sp. 1. Stadium nauplius 2. Stadium copepodid 3. Stadium 4. Stadium dewasa

Gambar 4. Siklus hidup Lernea sp.

Hampir semua jenis ikan air tawar dapat terserang oleh cacing jangkar ini, terutama pada musim pembenihan atau pendederan. Ikan yang terserang umumnya mengalami luka pada tubuhnya dan terlihat adanya cacing jangkar yang menempel. Pencegahan terhadap serangan cacing jangkar dapat dilakukan dengan melakukan pengeringan kolam, menyaring air sebelum dialirkan ke kolam atau menggunakan bahan kimia untuk membasmi cacing jangkar pada stadium nauplius dan copepodid. Upaya pengendalian terhadap serangan cacing jangkar dewasa sulit dilakukan, karena cacing ini memiliki kulit khitin yang tahan terhadap pengaruh senyawa kimia. Penggunaan gunting cukup efektif untuk memberantas cacing jangkar dewasa. Guntinglah bagian tubuh cacing jangkar yang menempel pada tubuh ikan dan segera dimusnahkan dengan cara mengubur atau membakarnya, sedangkan bagian kepalanya dibiarkan tinggal di dalam tubuh ikan. Untuk menghindari terjadinya infeksi sekunder, ikan direndam dalam larutan tetrasiklin 250 mg per 500 liter air selama 2 3 jam. Proses perendaman ini dapat diulangi selama 3 hari berturut-turut. Pengendalian cacing jangkar dengan senyawa kimia dapat juga dilakukan dengan merendam ikan yang terserang dalam larutan bromex 0,12 0,15 ppm. Caring jangkar pada stadium copepodid dapat dibunuh dengan merendam ikan yang terserang ke dalam larutan dipterex 0,25 ppm selama 4 6 jam. Perendaman dengan larutan NaCl dan PK cukup efektif, namun karena dosisnya berada sedikit di bawah konsentrasi lethal bagi ikan, cara ini jarang digunakan. Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada ikan bandeng, berdasarkan pengamatan yang dilakukan ditemukan Lernea sp. pada lendir ikan bandeng (Chanos chanos). Udang renik ini ditemukan pada bagian sisik. Dan hal inipun dibuktikan dengan adanya parasit yang menempel pada sisik ikan bandeng (Chanos chanos) pada tahun 2000, dibeberapa daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dilaporkan terjadi serangan parasit ini pada ikan bandeng (Chanos chanos). Bisa kita amati bahwa dari berbagai jenis parasit yang ada di perairan baik kontaminan dari tubuh ikan, lingkungan maupun pakan yang di berikan ternyata pada tubuh ikan bandeng terdapat beberapa parasit yang pada praktikum kesehatan ikan ini di peroleh dua parasit yang memiliki dampak positif yang cukup besar, dari tingkat nafsu makan yang berkurang, bentuk tubuh yang terserang parasit pun menjadi tidak berkembang, bahkan ancaman kematian ikan bandeng apabila parasit ini terus berkembang di dalam tubuh ikan bandeng. Oleh karena itu praktikum mengenai identifikasi parasit pada ikan bandeng sangat penting untuk menelaah kekurangan kekurangan yang mengakibatkan ikan memiliki banyak parasit.

DAFTAR PUSTAKA Afrianto dan Liviawaty. 1992. Pengendalian hama dan penyakit ikan. Penerbit kanisius. Yogyakarta.

A.Indriati.2006.Identifikasi dan diagnosa Trichodina sp dan dactylogyrus sp pada ikan tawar. Fakultas perikanan Unismuh Luwuk. Anshary, H. 2004. Modul praktikum Parasitology ikan. Program Studi Budidaya Perairan. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar. Manoppo, H. 1995. Parasit dan Penyakit Ikan. Fakultas Perikanan, Unsrat-Manado. Fujaya, Y. 1999. Fisiologi Ikan. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar Anshary, H. 2004. Modul praktikum Parasitology ikan. Program Studi Budidaya Perairan. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar. http://a177bi.blogspot.com/ Studi microhabitat parasit Monogenea pada insang Lele dumbo. Pada tanggal 20 Desember 2011