Anda di halaman 1dari 6

A. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mengetahui jenis-jenis tumbuhan paku. 2. Menemukan keanekaragaman tumbuhan paku. 3.

Mengamati morfologi tumbuhan paku yang diamati. 4. Mengidentifikasi tumbuhan paku yang diamati. 5. Mengklasifikasikan tumbuhan paku berdasarkan ciri-ciri yang diamati 6. Mengetahui manfaat dan peranan tumbuhan paku dalam kehidupan manusia. 7. Membuat BDK berdasarkan hasil pengamatan.

B. DASAR TEORI Tumbuhan paku tergolong tumbuhan kormus berspora yang disebut Pteridophyta. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu pteron = sayap, bulu. Pteridophyta adalah tumbuhan kormus yang menghasilkan spora, dan memiliki susunan daun yang umumnya membentuk bangun sayap (menyirip) dan pada bagian pucuk tumbuhan itu terdapat bulu-bulu. Daun mudanya membentuk gulungan/melingkar. Tumbuhan paku memperlihatkan pergiliran turunan yang jelas seperti halnya Bryophyta, hanya fase gametofitnya masih berbentuk thallus yang disebut prothalium dan sangat kecil bentuknya sehingga tidak dapat terlihat. Adapun fase sporofitnya jelas terlihat, yang dikenal sebagai tumbuhan paku. Tumbuhan paku ada dua macam yaitu tropofil dan sporofil , bentuk sporofil ada yang mirip dengan tropofil dan ada yang membentuk strobilus. Dengan demikian ada paku homofilum dan heterofilum. Spora pada tumbuhan paku berbeda-beda dari bentuk ukuran dan sifat. Dari situlah kita membedakan paku homospora, heterospora dan peralihan. (Yudianto,1992 hal 158) Berdasarkan spora yang dihasilkan dikenal 3 jenis tumbuhan paku, yaitu: 1. Paku Homosfor atau Isospor : spora yang dihasilkan sama ukuran dan jenisnya, contohnya paku kawat (Lycopodium clavatum), Nephrolepsis, Drymoglossum Laporan Praktikum Botani Cryptogamae PTERIDOPHYTA Kelompok 8

2. Paku Heterospor : spora yang dihasilkan berbeda ukuran, masing-masing ukuran berbeda jenisnya (mikrospora (jantan)) dan (makrospora (betina)), misalnya paku rane (Selaginella wildenowii), semanggi (Marsilea crenata), Salvinia. 3. Paku Peralihan/campuran : spora yang dihasilkan berukuran dan bentuknya sama tapi jenisnya berbeda. Misalnya paku ekor kuda (Equisetum debile) (Yudianto,1992 hal 168) Akar tumbuhan paku berupa akar serabut. Pada akar paku, xilem terdapat di tengah dikelilingi floem membentuk berkas pembuluh angkut yang konsentris. Susunan letak sporangium paku ada beberapa macam seperti sorus, strobilus dan sporocarpium. Badan penghasil sporangium ada yang diketiak daun, cabang ,diujung cabang dan helai daun. Atas dasar ini dapat ditentukan klasifikasinya. a. Morfologi Tumbuhan ini disebut tumbuhan kormus karena sudah menyerupai tumbuhan tinggi. Hal ini dapat dilihat dari bentuk tumbuhan ini sendiri, yaitu: a) Batangnya bercabang-cabang, ada yang berkayu serta mempunyai tinggi hampir 2 meter. b) Sudah memiliki urat-urat daun, ada juga yang tidak berdaun atau daun serupa sisik. c) Rhizoidnya sudah berkembang menjadi bentuk akar yang sebenarnya. d) Sudah memiliki berkas pembuluh (xylem dan floem) dengan tipe radial atau konsentris. (Yudianto,1992 hal 161) Bentuk daun pada tumbuhan paku muda dan dewasa berbeda. Pada tumbuhan paku muda daun akan menggulung, sedangkan pada tumbuhan paku dewasa daunnya dapat dibedakan menjadi : a) Trofofil, daun khusus untuk fotosintesis dan tidak mengandung spora. b) Sporofil, daun penghasil spora.

Laporan Praktikum Botani Cryptogamae PTERIDOPHYTA Kelompok 8

c) Trofosporofil, dalam satu tangkai daun, anak-anak daun ada yang menghasilkan spora dan ada yang tidak ada spora. (Yudianto,1992 hal 162) Pada tumbuhan paku picisan daunnya memiliki sporofil yang

bentuknya lebih panjang atau bebeda dengan tropofilnya, tumbuhan paku tersebut termasuk kedalam paku heterofil. Sedangkan pada tumbuhan paku yang memiliki daun yang bentuknya sama disebut paku homofil. Spora pada tumbuhan paku dihasilkan oleh sporangium. Sporangium pada tumbuhan paku umumnya membentuk suatu kumpulan. Berkumpulnya sporangium pada tumbuhan paku bermacam-macam, antara lain adalah sebagai berikut : a) Sorus, Sporangia dalam kotak sporangia terbuka atau berpenutup (insidium). Letak sori pada setiap bangsa tumbuhan paku berbeda. b) Strobilus, Sporangia membentuk suatu karangan bangun kerucut bersama sporofilnya. Misalnya Selaginella c) Sporokarpium : Sporangia dibungkus oleh daun buah (karpelum). (Yudianto,1992 hal 158)

b. Daur hidup paku Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan, yang terdiri dari dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun. Prothallium tumbuh dari spora yang jatuh di tempat yang lembab. Dari prothallium berkembang anteridium (antheridium, organ penghasil spermatozoid atau sel kelamin jantan) dan arkegonium (archegonium, organ penghasil ovum atau sel telur). Pembuahan Laporan Praktikum Botani Cryptogamae PTERIDOPHYTA Kelompok 8 3

mutlak memerlukan bantuan air sebagai media spermatozoid berpindah menuju archegonium. Ovum yang terbuahi berkembang menjadi zigot, yang pada gilirannya tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.

c. Klasifikasi Paku Paku diklasifikasikan menjadi empat kelas diantaranya: 1) Kelas Psilotinae Paku primitif, belum memiliki daun. Sebagian besar anggota sudah punah. Contoh: Psilotum. 2) Kelas Lycopodium (paku kawat/rambat) Berdaun serupa rambut atau sisik dan batangnya seperti kawat. Duduk daun tersebar. Sporangium tersusun dalam strobius dibentuk diujung cabang. Contoh: Selaginella sp. 3) Kelas Equsetiinae Berdaun serupa sisik dan transaparan , susunannnya berkarang dalam satu lingkaran. Batang berongga dan berbuku-buku. Sporangium tersusun dalam strobilus , membentuk seperti ekor kuda , sporanya memilikinya elater sebanyak 4 buah 4) Kelas Filicinae Berdaun ukuran besar , menyirip duduk daunnya. Yang hidup didarat membentuk sporangium dalam sorus , sedangkan yang di air membentuk sporangium dalam sporokarpium . Daun mudanya menggulung dan sorus dibentuk di permukaan daun (Yudianto,1992 hal 173).

d. Peranan Pteridophyta 1. Tanaman hias : Adiantum (suplir), Platycerium (paku tanduk rusa), Asplenium (paku sarang burung), Nephrolepsis, Alsophila (paku tiang). 2. Bahan obat : Equisetum (paku ekor kuda) untuk antidiuretik (lancar seni), Cyclophorus untuk obat pusing dan obat luar, Dryopteris untuk obat Laporan Praktikum Botani Cryptogamae PTERIDOPHYTA Kelompok 8 4

cacing pita, Platycerium bifurcata untuk obat tetes telinga luar, dan Lycopodium untuk antidiuretik dan pencahar lemah dari sporanya. 3. Bahan sayuran : Marsilea (semanggi), Pteridium aquilinum (paku garuda) 4. Kesuburan tanah : Azolla pinnata bersimbiosis dengan Anabaena yang dapat mengikat N dari udara. 5. Gulma pertanian : Salvinia natans penggangu tanaman padi. (Yudianto,1992 hal 160)

Laporan Praktikum Botani Cryptogamae PTERIDOPHYTA Kelompok 8

Laporan Praktikum Botani Cryptogamae PTERIDOPHYTA Kelompok 8