Anda di halaman 1dari 27

1

USULAN PENELITIAN A. Judul Penelitian Peranan Sistem Informasi Akuntansi dalam Menunjang Efektivitas Pengendalian Internal Pemberian Kredit (Studi Kasus Pada PT. BANK PANIN Tbk. Cabang Pasar Legi Solo). B. Latar Belakang Masalah Aktivitas bisnis di Indonesia saat ini sangat kompleks karena mencakup beberapa bidang diantaranya hukum , politik, ekonomi. Dan yang utama adalah bidang ekonomi, dalam kehidupan masyarakat dapat dilihat bahwa aktivitas manusia dalam dunia bisnis tidak terlepas oleh peranan bank selaku pemberi layanan perbankan bagi masyarakat. Dalam UU No.10 tahun 1998 dikatakan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Dengan demikian, bank merupakan bagian dari lembaga keuangan yang memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana dan menyalurkan dana yang dihimpunnya kepada masyarakat yang kekurangan dana. Penyaluran kredit merupakan kegiatan yang mendominasi usaha bank dalam fungsinya sebagai lembaga intermediasi. Selain untuk mensejahterakan masyarakat, kredit yang dilaksanakan oleh bank juga bertujuan untuk memperoleh laba, yang berasal dari selisih bunga tabungan yang diberikan pada nasabah penabung dengan bunga yang diperoleh dari nasabah debitur dan

merupakan sumber utama pendapatan bank. Penggunaan kredit selamanya tidak seperti yang diharapkan, terbatasnya dana yang tersedia dibandingkan dengan permintaan kredit merupakan salah satu masalah yang dihadapi perbankan dewasa ini. Masalah lain adalah sering terjadi kredit bermasalah antara lain adalah kredit macet. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan kerugian bagi bank, oleh karena itu manajer bank harus mengadakan seleksi terhadap permohonan kredit. Hal-hal tersebut dapat dihindari dengan adanya sistem informasi akuntansi yang memadai dalam proses pemberian kredit dengan kata lain diperlukan suatu informasi yang dapat menunjang efektivitas pelaksanaan pemberian kredit. Dengan adanya peranan sistem akuntansi yang memadai dalam proses pemberian kredit diharapkan dapat menjamin bahwa dalam pelaksanaan pemberian kredit dapat terkendali dan mampu mencegah pemberian kredit dengan cara yang tidak sehat. Dengan adanya peranan sistem informasi akuntansi yang memadai dalam proses pemberian kredit di dalam perbankan, menunjukan sikap kehati-hatian dalam tubuh perbankan itu sendiri. Sistem Pengendalian Internal juga sangat diperlukan sebagai dasar kegiatan operasional bank yang sehat dan aman dalam manajemen bank. Sistem pengendalian intern menurut Mulyadi (2002) meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang terkoordinasi untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Berdasarkan SE No.5/ 22/ DPNP, dengan terselenggaranya sistem pengendalian intern yang memadai dalam bidang perkreditan, berarti menujukan sikap kehati-

hatian dalam bank tersebut. Sistem pengendalian intern yang efektif dapat membantu pengurus bank menjaga asset bank, menjamin tersedianya pelaporan keuangan dan manajerial yang dapat dipercaya, meningkatkan kepatuhan bank terhadap ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta mengurangi resiko terjadinya kerugian, penyimpangan, dan pelangggaran aspek kehati-hatian. Terselenggaranya pengendalian intern yang handal dan efektife menjadi tanggung jawab dari pengurus dan pejabat bank. Pemberian kredit kepada calon debitur yaitu melalui proses pengajuan kredit dan proses analisis pemberian kredit terhadap kredit yang diajukan. Bank dapat melakukan analisis kredit calon debitur apabila persyaratan oleh bank terpenuhi. Tujuan dari analisis kredit adalah menilai mutu permintaan kredit baru yang diajukan oleh debitur. Bank Panin merupakan bank konvensional, dan termasuk dalam 7 bank terbesar di Indonesia. Dalam pelayanan pemberian kredit, Bank Panin memiliki komitmen untuk memberikan kemudahan dalam penyaluran kreditnya kepada nasabah. Kemudahan yang diberikan ini tentunya harus sesuai dengan prosedural yang terlaksana dalam Bank Panin, agar tidak terjadi hal-hal yang bersifat merugikan bank dan sesuai dangan kebijakan perkreditan yang dikeluarkan Bank Indonesia maka Bank Panin harus bertindak sesuai Sistem Informasi Akuntasi yang berlaku. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis mencoba membahas seberapa besar peranan Sistem Informasi Akuntansi pada Bank Panin dengan mengangkat judul: PERANAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DALAM

MENUNJANG EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PEMBERIAN KREDIT (Studi kasus pada PT. BANK PANIN Tbk. Cabang Pasar Legi Solo).

C. Perumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah sistem informasi akuntansi dalam pemberian kredit pada perusahaan sudah dilaksanakan secara memadai. 2. Apakah pengendalian internal pemberian kredit pada perusahaan sudah dilaksanakan secara efektif. 3. Apakah peranan sistem informasi akuntansi pemberian kredit telah berperan dalam menunjang efektifitas pengendalian internal pemberian kredit. D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasikan di atas, maka penelitian ini bertujuan:
a. Menganalisis sistem informasi akuntasi pemberian kredit pada PT. Bank

Panin Tbk. cabang Pasar Legi. b. Menganalisis efektifitas sistem pengendalian intern pada proses pemberian kredit pada PT. Bank Panin Tbk. cabang Pasar Legi. 2. Kegunaan Penelitian Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

a. Bagi Penulis 1) Untuk mengetahui sejauh mana kaitan anatara teori dengan penerapannya

dalam praktik lapangan atau dengan pelaksanaan sebenarnya. 2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian dimasa yang akan datang. E. Tinjauan Pustaka Digunakan untuk memberikan tentang hal-hal yang perlu dijelaskan secara umum, sehingga peneliti akan memahami permasalahannya dengan lebih tajam dan mendalam. Dalam penelitian ini hal-hal yang perlu dijelaskan antara lain: 1. Pengertian Peranan Menurut Soerjono Soekamto (2002; 268) mengartikan peranan sebagai berikut : " Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan (status) apakah seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiannya masing-masing sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup tiga hal, yaitu ;
a.

Peranan meliputi norma-norma yang berhubungan dengan posisi I tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturanperaturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.

b.

Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dilakukan oleh individu dan masyarakat dalam organisasi.

c.

Peranan juga dapat dikatakan sebagai prilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat. 2. Pengertian Informasi Begitu banyak data di lingkungan kita, tetapi tidak semua data

tersebut menjadi informasi karena tidak semua data dapat memenuhi kebutuhan pemakainya. Menurut Wilkinson (1993; 6) mengartikan informasi adalah sebagai berikut : " Information is knowledge that is meaning full and we full for acheaving desired objectives expressed differently, it's data that have been transformed and made more reliable by processing." Pengertian lain mengenai informasi dikemukakan oleh Cushing (1997; 9) adalah sebagai berikut : "Information refers to an out put of data processing which is organized and meaning full to the person to the receives it". Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang telah diolah melalui suatu proses menjadi suatu bentuk yang bernilai dan berguna bagi yang menerimanya serta dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan baik pada saat ini maupun pada masa yang akan datang. 3. Sistem Informasi Akuntansi Dalam melaksanakan dan mengelola perusahaan seorang pemimpin harus mengambil keputusan yang akan diproses. Dalam tepat diantara alternatif yang

pengambilan

keputusan

manajemen

membutuhkan informasi yang handal mengenai apa yang akan terjadi di dalam perusahaan. Informasi tersebut dapat dipenuhi dengan adanya sistem informasi akuntansi yang telah dirancang dan direncanakan dengan baik sesuai dengan kebutuhan perusahaan. 4. Peranan Sistem Informasi Akuntansi

Sistem informasi akuntansi merupakan suatu sistem yang memiliki unsur-unsur yang saling terkait dan berhubungan serta mempunyai tujuan menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh organisasi untuk mencapai tujuan. Chusing dan Romney (1997; 2) memberikan pengertian sistem informasi akuntansi sebagai berikut : "An accounting information system (AIS) processed data and transaction to provide users with the information they need to plan, control and operate their bussines". Dari penjelasan di atas bahwa sebuah sistem informasi akuntansi dimulai dari sebuah pemrosesan data dan transaksi yang pada akhirnya akan memberikan informasi bagi penggunanya yang digunakan untuk dasar perencanaan serta pengendalian jalannya operasi perusahaan. Pengertian lain yang dikemukakan oleh Azhar Susanto (1993; 12) adalah sebagai berikut : "Sistem informasi akuntansi merupakan suatu sistem pengolahan data

akuntansi yang terdiri dari koordinasi manusia, alat dan metode berinteraksi dalam suatu wadah organisasi yang terstruktur untuk menghasilkan informasi akuntansi keuangan dan informasi manajemen yang terstruktur". Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi adalah penggabungan dua sumber daya manusia dari alat yang melakukan kerjasama satu dengan yang lainnya, kerjasama tersebut menghasilkan transformasi data keuangan menjadi informasi keuangan yang akhirnya dapat mengkomunikasikan informasi keuangan tersebut kepada pemakai sebagai landasan pengendalian keputusan.

5. Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi

Menurut Chusing dialih bahasakan oleh Ruchyat Kosasih (1997; 440) bahwa sistem informasi yang baik harus memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Usefullness Sistem harus menghasilkan suatu informasi yang berguna, ini berarti informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan kebutuhan (relevan) dan tepat waktu, sehingga berguna bagi manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan. b. Economy Seluruh komponen dari sistem harus dapat memberikan sumbangan yang besar dari biaya yang dikeluarkan. c. Reliability Produk dari suatu sistem harus dapat diandalkan, informasi yang dihasilkan melalui sistem harus mempunyai ketelitian yang tinggi dan sistem itu sendiri harus mampu beroperasi secara efektif. d. Customer service Sistem harus mampu memberikan suatu layanan yang baik dan efisien kepada para pelanggan. e. Capacity Kapasitas dari suatu sistem harus memadai untuk menghadapi operasi pada kapasitas penuh seperti halnya pada operasi berjalan normal. f. Simplicity Sistem harus sederhana, sehingga semua struktur dan operasinya dapat dimengerti serta prosedurnya dapat diikuti dengan mudah.

g. Flexibility Sistem harus luwes dalam menampung dan menghadapi semua perubahan yang terjadi baik dari dalam maupun luar perusahaan. 6. Unsur-unsur Informasi Akuntansi Dengan memperhatikan pengertian sistem informasi akuntansi dapat diketahui bahwa sistem informasi akuntansi memiliki unsur-unsur seperti dikemukakan Azhar Susanto (1999; 12) sebagai berikut : a. Manusia Manusia merupakan sistem informasi akuntansi yang berperan di dalam pengambilan keputusan apakah sistem dapat dilaksanakan dengan baik atau tidak. b. Alat Alat merupakan unsur sistem informasi akuntansi yang mulai digunakan pada saat terjadinya transaksi, pencatatan transaksi sampai dengan dihasilkannya laporan. Alat yang dimaksud dapat berbentuk sederhana yaitu dengan formulir, catatan, data laporan sampai dengan alat teknologi seperti computer. Komputer ini berperan di dalam mempercepat pengolahan data, meningkatkan kalkulasi atau perhitungan dan meningkatkan

kerapihan bentuk informasi. c. Metode Metode di sini adalah sistem dan prosedur yang merupakan gambaran yang mencakup seluruh jalannya kegiatan, mulai dari saat dimulainya aktivitas sampai dengan berakhirnya aktivitas tersebut. Sehingga diharapkan suatu aktivitas operasi dapat dilaksanakan dengan efektif, efisien, dan ekonomis.

10

7. Kredit
a. Pengertian Kredit

Dalam bahasa latin kredit berarti credere artinya percaya. Pemberi kredit (kreditur) percaya kepada penerima kredit (debitur) bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuaii perjanjian. Bagi debitur, kredit yang diterima merupakan kepercayaan, yang berarti menerima amanah sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai jangka waktu. Pengertian kredit pada pasal 1 angka 11 Undang-Undang nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

b. Unsur Kredit

Dari beberapa pengertian kredit diatas dapat ditarik beberapa unsur yang memungkinkan terjadinya kredit. Adapun unsur-unsur kredit (Kasmir, 2004) tersebut dalah 1) Kepercayaan Kepercayaan yaitu suatu keyakinan bagi kreditur bahwa kredit yang diberikan (baik berupa uang, jasa atau barang) akan benar-benar diterimanya kembali dimasa yang akan dating sesuai jangka waktu kredit. 2) Kesepakatan Disamping unsur percaya didalam kredit juga mengandung unsur

11

kesepakatan antara kreditur dengan debitur. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.
3) Jangka waktu

Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek (dibawah 1 tahun), jangka menengah (1 sampai 3 tahun) dan jangka panjang (diatas 3 tahun). Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran kredit yang sudah disepakati kedua belah pihak. 4) Resiko Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian kredit akan memungkinkan suatu resiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu kredit. Semakin panjang suatu jangka waktu kredit, maka semakin besar resikonya,demikian pula sebaliknya. 5) Balas jasa Balas jasa bagi bank merupakan keuntungan atau pendapatan atas pemberian suatu kredit. Balas jasa kita kenal dengan nama bunga. Disamping balas jasa dalam bentuk bunga bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi kredit yang juga merupakan keuntungan bagi bank.
c. Tujuan Kredit

Pemberian kredit mempunyai tujuan tertentu. Tujuan pemberian kredit tersebut tidak akan terlepas dari misi bank. Adapun tujuan utama pemberian kredit

12

menurut (Kasmir,2004) adalah sebagai berikut: 1) Mencari keuntungan Tujuan utama pemberian kredit adalah untuk memperoleh keuntungan. Hasil keuntungan ini diperoleh dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan pada nasabah. 2) Membantu usaha nasabah Tujuan selanjutnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang membutuhkan dana, baik dana untuk investasi maupun dana untuk modal kerja. dengan dana itu maka pihak debitur dapat mengembangkan dan memperluas usahanya. 3) Membantu pemerintah Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang diberikan oleh pihak bank, maka semakin meningkatkan jumlah kegiatan ekonomi yang akan terjadi. Mengingat semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan berbagai sektor. d. Fungsi Kredit Organisasi bank dalam kehidupan perekonomian yang modern banyak memegang peranan yang sangat penting sehingga bank selalu diikutsertakan dalam menentukan kebijakan di bidang moneter. Hal ini menyebabkan, bank mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam bidang kehidupan khususnya di bidang ekonomi. Fungsi kredit perbankan dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan antara lain sebagai berikut Suyatno, 1993): 1. Kredit pada hakekatnya dapat meningkatkan daya guna uang.

13

2. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalulintas uang. 3. Kredit dapat pula meningkatkan daya guna peredaran barang. 4. Kredit sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi.
5. Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha. 6. Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan.

7. Kredit sebagai alat meningkatkan hubungan internasional.


e. Prinsip Pemberian Kredit

Jaminan kredit yang diberikan nasabah kepada bank hanyalah merupakan tambahan, terutama untuk melindungi kredit yang macet akibat suatu musibah. Akan tetapi apabila suatu kredit diberikan telah dilakukan analisis secara mendalam, sehingga nasabah sudah dikatakan layak untuk memperoleh kredit, maka fungsi jaminan kredi hanyalah untuk berjaga-jaga. oleh karena itu, dalam proses pemberian kredit, maka harus memperhatikan prinsip prinsip pemberian kredit yang benar, artinya sebelum suatu fasilitas kredit diberikan maka bank harus merasa yakin terlebih dahulu bahwa kredit yang diberikan benar-benar akan kembali. Keyakinan tersebut diperoleh dari hasil penilaian kredit sebelum kredit tersebut disalurkan. Penilaian kredit oleh bank dapat dilakukan dengan berbagai prinsip untuk mendapatkan keyakinan tentang nasabahnya. Ada beberapa

prinsip-prinsip penilaian kredit yang sering dilakukan yaitu dengan analisis 5 C an 7P. Penjelasan analisis 5C (Kasmir,2004) adalah sebagai berikut: 1) Character Analisis watak dari peminjam sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini karena kredit adalah kepercayaan yang diberikan kepada peminjam sehingga peminjam haruslah pihak yang benar-benar dapat dipercaya dan

14

beritikad baik untuk mengembalikan pinjaman. Bagaimanapun baiknya suatu bidang usaha dan kondisi perusahaan, tanpa didukung watak yang baik, tidak akan dapat memberikan keamanan bagi bank dalam pembayaran atas segala kewajiban yang ada. Beberapa hal yang harus diteliti didalam analisis nasabah adalah riwayat hubungan dengan bank,antara lain: a) Riwayat peminjam b) Reputasi dalam bisnis dan keuangan c) Manajemen d) Legalitas usaha 2) Capacity Setelah aspek watak maka faktor berikutnya yang sangat penting dalam analisis kredit adalah faktor kemampuan. Jika tujuan analisis watak adalah untuk mengetahui kesungguhan nasabah melunasi hutangnya maka tujuan analisis kemampuan adalah untuk mengukur kemampuan membayar. Kemampuan tersebut dapat diuraikan kedalam kemampuan manajerial dan kemampuan finansial. Kedua kemampuan ini tidak dapat berdiri sendiri. Karena kemampuan finansial merupakan hasil kerja kemampuan manajerial perusahaan. 3) Capital Modal sendiri (ekuitas) merupakan hak pemilik dalam perusahaan, yaitu selisih antara aktiva dengan kewajiban yang ada. Pada dasarnya modal berasal dari investasi pemilik ditambah dengan hasil usaha perusahaan. Analisa modal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memikul beban pembiayaan yang dibutuhkan dan kemampuan dalam

15

menanggung beban resiko yang mungkin dialami perusahaan.


4) Collateral

Unsur lain yang perlu mendapatkan perhatian dalam analisis kredit adalah collateral (agunan). Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahan dan kesempurnaannya, sehingga jika terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin. 5) Condition Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi, sosial dan politik yang ada sekarang dan prediksi untuk dimasa yang akan datang. Penilaian kondisi atau prospek bidang usaha yang dibiayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relative kecil. Penilaian kredit dengan menggunakan 7P (Kasmir, 2004) adalah sebagai berikut: a) Personality yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah laku sehari hari maupun kepribadian masa lalu. Penilaian personality juga mencakup sikap, emosi, tingkah laku dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah dan menyelesaikannya. b) Party yaitu mengklasifikasikan nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta

karakternya. Nasabah yang digolongkan kedalam golongan tertentu akan

16

mendapatkan fasilitas yang berbeda dari bank. c) Purpose yaitu mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah. Tujuan pengambilan kredit dapat bermacam-macam sesuai kebutuhan, sebagai contoh apakah untuk modal kerja,investasi,konsumtif, produktif dan lain lain. d) Prospec yaitu menilai usaha nasabah di masa akan datang menguntungkan atau tidak atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Hal ini penting, mengingat jika suatu fasilitas kredit yang dibiayai tanpa mempunyai prospek,bukan hanya pihak bank yang rugi akan tetapi juga nasabah. e) Payment yaitu ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau sumber dana untuk pengembalian kredit. Semakin banyak sumber penghasilan debitur maka akan semakin baik. sehingga jika salah satu usahanya merugi akan dapat ditutupi oleh usaha lainnya. f) Profitability yaitu menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profitability diukur dari periode, apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya. g) Protection yaitu bagaimana menjaga agar kredit yang diberikan mendapatkan

17

jaminan perlindungan, sehingga kredit yang diberikan benar-benar aman. Perlindungan yang diberikan oleh debitur dapat berupa jaminan barang atau jaminan asuransi. F. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran adalah seluruh kegiatan penelitian sejak dari perencanaan sampai dengan penyelesaian dalam satu kesatuan yang utuh. Guna mempermudah dalam memepelajari dan melakukan penelitian, secara sederhana dan sistematis kerangka pemikiran dalam penelitian ini disusun sebagai berikut:
Peranan Sistem Informasi Akuntansi dalam Menunjang Efektivitas Pengendalian Internal Pemberian Kredit

Standar Prosedur Kredit Bank Panin (Manual Produk Kredit Bank Panin)

Perbandingan dengan Sistem Pemberian Kredit menurut Kebijakan BI

Perbandingan dengan Sistem Pemberian Kredit menurut Praktik Bank Panin

Kesimpulan
Gambar 1 Skema Kerangka Pemikiran

G. Operasionalisasi Variabel. Operasionalisasi variabel adalah cara untuk mengatur suatu konsep dan bagaimana caranya sebuah konsep harus diukur, sehingga terdapat variabel-variabel yang dapat menyebabkan masalah lain dari suatu variabel yang situasi dan kondisinya tergantung oleh variabel lain.

18

Sesuai dengan hipotesis yang penulis kemukakan yaitu, "Sistem informasi akuntansi dalam menunjang efektivitas pengendalian internal pemberian kredit", maka penulis menggunakan dua variabel, yaitu :
1.

Independent Variable (variabel bebas). Yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain yang tidak bebas. Dalam hubungan dengan hipotesis, berdasarkan judul yang penulis kemukakan di atas, yang dimaksud dengan variabel bebas adalah Peranan Sistem Informasi Akuntansi, karena variabel ini dapat berdiri sendiri dan dapat mempengaruhi efektivitas pengendalian internal pemberian kredit.

2.

Dependent Variable (variabel terikat). Yaitu variabel yang dipengaruhi variabel lain. Berdasarkan judul yang penulis kemukakan di atas, maka Efektivitas Pengendalian Internal Pemberian Kredit disebut variabel terikat, karena variabel ini dapat dipengaruhi oleh variabel peranan sistem informasi akuntansi.

H. Anggapan Dasar dan Hipotesis

1. Anggapan Dasar Anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik (Suharsini Arikunto,2006: 65), sebagai pemecahan masalah penulis mempunyai aggapan dasar sebagai berikut:
a. PT. Bank Panin Tbk. dalam setiap proses pemberian kredit telah sesuai

dengan kebijakan yang berlaku. b. Tingkat profitabilitas pemberian kreditnya dapat dilihat dari perkembangan kredit.

19

c. PT. Bank Panin Tbk. telah menerapakan sistem informasi akuntansi dalam

operasional manajemennya. 2. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap perumusan masalah peneliti (Sugiyono, 2003:82), adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah: Peranan sistem informasi akuntansi dalam pemberian kerdit oleh PT. Bank Panin Tbk. sudah berjalan secara efektif.

I. Metode Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian

Metode penelitian ini adalah menggunakan study kasus di PT. Bank Panin Tbk dengan alasan:
a. Perusahaan memberikan izin penelitian b. Tersedianya data untuk penelitian

2. Jenis Data a. Data Kualitatif Yaitu data yang berisikan gambaran umum PT. Bank Panin Tbk di wilayah pasar legi. b. Data Kuantitatif Yaitu data laporan keefektifan perkembangan kredit PT. Bank Panin Tbk di wilayah pasar legi. 3. Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

20

a. Data primer

Data primer merupakan data lapangan yang diperoleh langsung dari orang orang atau pelaku yang menjadi subjek dalam penelitian ini seperti melalui hasil wawancara dan jawaban kuesioner yang dibuat yaitu tentang kebijakan dan prosedur pengendalian intern pemberian kredit Bank Panin Cabang Pasar Legi. b. Data Sekunder Data sekunder berfungsi sebagai pelengkap atau pendukung data primer yang berupa formulir, bukti, catatan maupun dokumen-dokumen perusahaan lainnya. Data sekunder yang digunakan untuk penelitian ini adalah:
1) Dokumen sejarah berdirinya Bank Panin.

2) Struktur organisasi Bank Panin Cabang Pasar Legi. 3) Uraian deskripsi pekerjaan dari masing-masing bagian dalam proses pemberian kredit Bank Panin Cabang Pasar Legi. 4) Formulir, bukti dan catatan yang berhubungan dengan proses pemberian kredit Bank Panin Cabang Pasar Legi.
4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Wawancara Wawancara merupakan pengumpulan data dalam metode survey yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada subyek penelitian (Indrianto dan Supomo 2002). Teknik wawancara ini dilakukan secara formal dan intensif sehingga akan mampu memperoleh informasi sebanyak mungkin secara jujur dan detail. Wawancara dalam penelitian ditujukan kepada

21

manajer dan bagian kredit untuk mengetahui sejarah perusahaan, struktur organisasi, prosedur pemberian kredit serta sistem pengamanan dan pengawasan yang dilakukan. b. Kuesioner Kuesioner adalah cara untuk memperoleh informasi dengan memberikan daftar pertanyaan yang berhubungan dengan masalah penelitian. Pertanyaan pertanyaan dalam kuesioner untuk penelitian ini disusun dengan menggunakan unsure-unsur pengendalian intern sebagai panduannya.

c. Observasi Observasi atau pengamatan merupakan peninjauan secara langsung untuk mengetahui jalannya prosedur pemberian kredit pada perusahaan.
d. Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data dari berbagai sumber informasi dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan sistem pengendalian intern dan prosedur pemberian kredit agar memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai hal tersebut. 5. Tehnik Analisis Data
a. Analisis Uji Penerapan Sistem Pengendalian Intern pada Proses Pemberian

Kredit Analisis penerapan sistem pengendalian intern pada proses pemberian kredit pada Bank Panin Cabang Pasar Legi dilakukan dengan cara:
1) Membandingkan sistem pengendalin intern yang ada pada Manual

22

Perkreditan Bank Panin dengan teori berdasarkan 5 unsur pengendalian intern yaitu lingkungan pengendalian, penaksiran resiko, informasi dan komunikasi, aktivitas pengendalian, dan pemantauan. Analisis ini dilakukan melalui pengisian kuesioner pengendalian intern. Kuesioner pengendalian intern menanyakan satu rangkaian pertanyaan mengenai pengendalian dalam tiap bidang audit sebagai alat auditor untuk mengendalikan aspek spek struktur pengendalian intern yang mungkin tidak memadai. Kuesioner tersebut dirancang untuk mendapatkan jawaban ya atau tidak, dengan jawaban tidak berarti terdapat kelemahan yang potensial dalam pengendalian intern (Arens dan Loebbecke,2003).
2) Membandingkan manual produk kredit bank panin dengan kebijakan

perkreditan BI melalui checklist yang berisi pokok-pokok Kebijakan Perkreditan BI.


b. Analisis Uji Keefektifan Sistem Pengendalian Intern Pada Proses Pemberian

Kredit Analisis keefektifan sistem pengendilian intern pada proses pemberian kredit pada Bank Panin Cabang Pasar Legi dengan menggunakan alat statistik berupa attribute sampling dengan model fixed sample size

attribute sampling. Menurut Mulyadi (2002) prosedur yang harus ditempuh dalammenggunakan fixed sample size adalah sebagai berikut:
1) Penentuan atribut yang diperiksa untuk pengendalian intern

Sebelum melakukan pengambilan sampel, terlebih dahulu menentukan atribut yang akan diperiksa secara seksama. Atribut dalah karakteristik

23

yang bersifat kualitatif sesuatu unsur yang membedakan unsur tersebut dengan unsur yang lain.
2) Penetuan populasi yang diambil sampelnya

Setelah menentukan atribut yang akan diuji, langkah selanjutnya adalah menentukan populasi yang akan diambil sampelnya. Populasi meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan kelompok transaksi yang akan diuji. Untuk pengujian sistem pengendalian tersebut, populasi yang digunakan adalah formulir-formulir pemberian kredit pada Bank Panin Cabang Pasar Legi.
3) Penentuan besarnya sampel

Untuk menentukan besarnya sampel yang akan diambil dari populasi tersebut secara statistik, maka faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:
a) Penentuan tingkat keandalan (reliability level) atau confidence level

atau disingkat R%. Tingkat keandalan adalah probabilitas benar dalam mempercayai efektivitas sistem pengendalian intern. Pada penelitian ini ditetapkan R% = 95%, berarti bahwa peneliti mempunyai resiko 5% untuk mempercayai suatu sistem pengendalian intern yang sebenarnya efektif.
b) Penaksiran persentase terjadinya atribut dalam populasi. Dalam hal ini

peneliti menaksir tingkat kesalahan dalam populasi adalah sebesar 1%, artinya dari sampel yang diambil terdapat penyimpangan sebesar 1%.
c) Penentuan batas ketepatan atas yang diinginkan (Desired Upper

24

Precision Limit atau DUPL). Dalam penelitian ini ditentukan DUPL =5% yang berarti bahwa batas maksimum kesalahan yang dijumpai alam sampel yang akan diambil nanti tidak boleh melebihi 5%. A ngka 5% diambil peneliti berdasarkan ketentuan umum yang biasanya digunakan oleh auditor.
d) Penggunaan tabel penentuan besarnya sampel untuk menentukan

besarnya sampel. Tabel yang digunakan dalam pengujian sistem pengendalian pada proses pemberian kredit adalah tabel ukuran

sampel statistik untuk pengujian sistem pengendalian dengan variabel sebagai berikut: Taksiran presentase kesalahan dalam populasi
(Rate of Occurance)

: 1%

Desired upper precision limit : 5% Tingkat keandalan (R%) : 95%

4) Pemilihan anggota sampel dari seluruh anggota populasi Metode pemilihan sampel ada tiga macam yaitu sistematis, acak (random) dan dengan menggunakan metode komputer. Dari ketiga metode pemilihan tersebut digunakan pemilihan secara acak dengan tujuan agar setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. 5) Pemeriksaan terhadap atribut yang menunjukan efektivitas sistem pengendalian intern. Setelah sampel dipilih, langkah berikutnya adalah memeriksa atribut tersebut, jika terdapat ketidaksesuaian maka hal ini disebut

25

penyimpangan dari unsur sistem pengendalian intern yang seharusnya ada. Dengan demikian harus dicatat berapa kali menemukan simpangan. 6) Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap atribut anggota sampel Caranya adalah dengan memeriksa atribut sampel dan mengevaluasi simpangan yang ada dengan menggunakan tabel evaluasi hasil yang memiliki tingkat keandalan sesuai yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel yang lalu. Dengan tabel tersebut dapat ditemukan beberapa Achieved Upper Precision on Limit (AUPL), dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) Menggunakan table evaluasi hasil tingkat keandalan 95%.
b) Dalam kolom sampel size,cari angka besarnya sampel yang telah

dipilih sebelumnya.
c) Dari angka sampel size tersebut kemudian pencarian berjalan ke kanan

secara horizontal untuk menemukan angka kesalahan yang dijumpai alampemeriksaanterhadapsampel.


d) Dari angka kesalahan yang dijumpai kalau ditarik ke kiri didapat

sample size, ditarik vertical ke atas untuk menemukan Achieved Upper Precision Limit (AUPL). AUPL kemudian dibandingkan dengan DUPL untuk menilai apakah unsur sistem pengendalian intern efektif, jika AUPL lebih rendah dari DUPL, kesimpulan yang dapat diambil adalah unsur sistem pengendalian intern yang diperiksa merupakan unsur yang efektif.

26

DAFTAR PUSTAKA

Kasmir. 2004. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Mulyadi. 2002. Auditing Buku 1. Edisi Keenam. Jakarta : Salemba Empat. Surat Edaran No.05/ 22/ DPNP. 2003. Tentang Pedoman Standar Sistem Pengendalian Intern Bagi Bank Umum. Suyatno, Thomas. 1993. Dasar-dasar Perkreditan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Tawaf, Tjukria P. 1999. Audit Intern Bank. Edisi kesatu dan kedua. Jakarta: Salemba Empat. Undang-Undang No 10 Tahun 1998. Tentang Perubahan Undang-Undang No 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Zaki, Baridwan. 1999. Sistem Akuntansi Penyusunan Prosedur dan Metode. Yogyakarta: BPFE Suharsini Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

27

Renaika Cipta. Bandung. Sugiyono. 2003. Statistik Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung