Anda di halaman 1dari 19

Nama : Ridha Nur Rahma Ariani FK-Unhalu Blok Onkologi BENJOLAN PADA PAHA Benjolan pada paha : Neoplasma

dan Non neoplasma Neoplasma : Berasal dari Tulang : Jinak : Osteoma, Osteoid osteoma, osteoblastoma Ganas : Osteosarkoma, parosteal osteosarkoma Berasal dari Tulang rawan : Jinak : Kondroma, Osteokondroma, kondroblastoma, Fibroma kondromiksoid Ganas : Kondrosarkoma, Kondrosarkoma juksta kortikal, Kondrosarkoma mesenkim Non-Neoplasma : Infeksi : Osteomyelitis Non-infeksi : Hematoma Subperiosteal Mari kita simak penjelasannya : NEOPLASMA Neoplasma : Berasal dari Tulang : Jinak : Osteoma, Osteoid osteoma, osteoblastoma 1. Osteoma : Osteoma adalah tumor jinak yang menyerang jaringan tulang, yang terbatas dengan karesteristik dengan proliferasi dari pada tulang kompak atau consellous dan umumnya pada endosteal atau periosteal. Tumor ini bukan tumor yang umum pada rongga mulut.(5) Karena lesi ini kecil, tanpa gejala (asimptomatik) dan perjalanannya lambat, jadi pada kenyataannya insinden yang terdapat dirahang susah ditentukan. Osteoma sering ditemukan ditulang tengkorak dan tulang-tulang muka. Osteoma yang luas dapat menyerang clavicula, pelvis dan jaringan tubula tulang (osteoma periosteal). Osteoma jaringan lunak dapat terjadi dikepala, mata dan lidah atau dieksremitas. Insiden yang terjadi pada beberapa laporan osteoma lebih banyak terjadi pada wanita dari pada pria dengan perbandingan 3:1 ----Osteoma terbagi atas---1. Osteoma pada permukaan dalam (endosteal) dari pada kortek tulang dan ini disebut dengan enostosisatau central osteoma Terdiri dari tulang spongiosa dari pada tukang rahang. Pada rongent foto dapat dilihat sebagai gambaran radio opak dengan batas jelas. 2. Osteoma dari periosteum (periosteal) dari cortical plate. Tumor ini kadang-kadang dapat tumbuh menjadi besar sekali, dan dalam hal ini tindakan pembedahan harus dilakukan sebab sangat mengganggu fungsi pengunyahan. Pada rongent foto menunjukkan gambaran yang tidak begitu padat. 3. Eksostosisatau peripheral osteoma, adalah pertumbuhan tulang yang circumscribed yang timbul diluar cortical plate. Tumor ini benigna, tumbuh lambat sekali dan biasanya mulai tumbuh pada usia muda. Biasanya terdapat pada daerah muskulus atau sambungan dua tulang.

---Etiologi dan Patologi---Etiologi osteoma tidak diketahui, kebanyakan penyebab dari osteoma ini disebabkan oleh factor trauma iritasi kronis, kelainan congenital dimana terjadi pertumbuhan tulang pada garis tengah dari palatum, infeksi, kebiasaan-kebiasaan makan yang aneh seperti halnya orang yang mengunyah tembakau bisa menyebabkan suatu keadaan hyperostosis dan perkembangan yang tidak normal dari gigi. Tidak ada yang menunjukkan etiologi yang pasti terjadinya osteoma. ----Gambaran klinik--Umumnya osteoma jarang ditemukan dirongga mulut, dan apabila ditemukan dilaporkan bahwa lebih banyak menyerang rahang bawah dari pada rahang atas. Ia mempunyai gejala klinik yang sama seperti perjalanan tumor jinak pada umumnya, Osteoma dapat dapat di identifikasi pada usia 20 sampai dengan 50 tahun, tetapi bisa juga ditemukan pada usia yang lebih muda atau bahkan pada usia yang lebih tua. .Multipel osteoma dirahang sama seperti osteoma yang terjadi di tulang-tulang panjang dan tulang tengkorak.

Adapun gambaran klinik dari osteoma adalah: Asymptomatis Pertumbuhan lambat, sehingga pasien datang ke dokter sudah dalam keadaan yang lanjut. Perabaan keras seperti tulang dan bertangkai. Tidak nyeri pada tumor. Tidak terjadi perubahan pada bentuk wajah kecuali jika lesi tersebut telah meluas dan membesar . Osteoma bisa terjadi di mandibula atau maxilla, sepanjang tulang-tulang wajah dan tulang-tulang tengkorak, juga bisa terdapat dalam sinus-sinus paranasalis. Gejal-gejala yang menyertainya adalah: sakit kepala, sinusitis yang berulang-ulang keluhan-keluhan opthalmologi. ---Gambaran Radiologi---Gambaran osteoma pada medula tulang rahang densitas yang tinggi yang dikelilingi oleh gambaran radioopak yang berbentuk bundar / lonjong dengan batas tegas. Ukurannya kurang dari 2,5 cm Gambaran ini dapat ditemui sejak pertumbuhan dan sebelum adanya perluasan korteks. (5,8) ---Gambaran Histopatologi---Ada dua bentuk gambaran osteoma yaitu: 1. Compact osteoma Dimana gambaran histologisnya merupakan jaringan tulang yang padat dan relative sedikit osteosit. 2. Cancellous Dimana ruang trabeculae tulang lebih lebar dengan cortex lamella tulang. Diagnosis Banding Osteoma Osteoid osteoma Osteosarcoma Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis definitive ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi dari jaringan yang dicurigai.

Penatalaksanaan Sebaiknya penanganan (terapi dan evaluasi) kasus osteoma yang membutuhkan koreksi yang dilakukan oleh: 1. Ahli bedah mulut, karena membutuhkan koreksi akibat perluasan tumor kerongga mulut. 2. Ahli penyakit THT, bila dibutuhkan koreksi akibat perluasan kerongga hidung Prognosa 1. Baik 2. Dilaporkan jarang terjadi kekambuhan. Kesimpulan Osteoma merupakan kelainan pada jaringan tulang yang bersifat jinak dan ditandai dengan pertumbuhan jaringan secara perlahan lahan dalam waktu yang lama. Penyebab pasti belum diketahui. Penatalaksanaannya dilakukan pembedahan dengan cara melakukan eksisi pada daerah lesi yang terdapat osteoma. Pustaka : http://dokmud.wordpress.com/2009/11/03/benign-non-odontogenic-tumor-osteoma/

2. Osteoid Osteoma Osteoid Osteoma adalah tumor yang sangat kecil, yang biasanya tumbuh di lengan atau tungkai, tetapi dapat terjadi pada semua tulang. Biasanya akan menimbulkan nyeri yang memburuk pada malam hari dan berkurang dengan pemberian aspirin dosis rendah. Kadang otot di sekitar tumor akan mengecil (atrofi) dan keadaan ini akan membaik setelah tumor diangkat. Patofisiologi/Etiologi. Osteosid osteoma dibedakan melalui tampilannya yang bergranular bersemu merah jambu, yang dihasilkan dari proliferasi osteoblas. Tidak seperti tumor lainnya, lesi tunggalnya berdiameter kurang dari 0,4 inci (1 cm). Setiap tulang dapat terkena, tapi femur dan tibia adalah yang paling sering. Bila osteoid osteoma terjadi pada kolumna spinalis dan sakrum, manisfestasi klinis yang muncul menyerupai sindrom diskus lumbalis. Klien mengeluhkan nyeri yang terputus-putus, mungkin disertai oleh peningkatan kadar prostaglandin yang diasosiasikan dengan tumor. Insidens/Prevalensi. Kira-kira 10% dari semua tumor benigna adalah osteoid osteoma. Lesi terjadi pada anak dan dewasa muda dengan predominan pada pria.

Skening tulang menggunakan pelacak radioaktif bisa membantu menentukan lokasi yang tepat dari tumor tersebut. Kadang-kadang tumor sulit ditentukan lokasinya dan perlu dilakukan pemeriksaan tambahan seperti CT scan dan foto rontgen dengan teknik yang khusus.Pengangkatan tumor melalui pembedahan merupakan satu-satunya cara untuk mengurangi nyeri secara permanen. Bila penderita enggan menjalani pembedahan, untuk mengurangi nyeri bisa diberikan aspirin. Pustaka : http://infokesehatankita.com/tumor-tulang-non-kanker/ http://irmanthea.blogspot.com/2008/12/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html

3. Osteoblastoma Osteoblastoma adalah neoplasma tulang jinak pada rahang yang jarang dijumpai, Lesi ini sering terjadi pada usia muda, kira-kira 75% pasien berusia dibawah 20 tahun dan 90 % berusia dibawah 30 tahun. Akan tetapi tumor ini dapat juga terjadi pada manula. Lesi berukuran lebih besar dari 1,5 cm, apabila mencapai ukuran sebesar 12 cm dapat menyebabkan ekspansi tulang dan kehancuran kortikal yang disebut dengan osteoblastoma agresif. Pada sebagian besar kasus yang dilaporkan, pria lebih sering terkena kondisi ini daripada wanita dengan perbandingan 2:1. Gambaran klinis dari osteoblastoma adalah pembengkakan yang mengakibatkan asimetris pada wajah. Osteoblastoma bisa terjadi di dekat akar gigi dan ada kalanya menyebabkan pergeseran gigi, akan tefapi osteoblastoma tidak menyatu dengan sementum gigi yang terlibat. Secara radiografi dapat terlihat berupa gambaran radiolusen, radiopak ataupun komhinasi keduanya. Lesi ini hams dibedakan dari sejumlah lesi pengbasil tulang, diantaranya osteoid osteoma, sementoblastoma dan osteosarkoma. Karena dapat memperlihatkan kemiripan secara klinik, radiografi dan histology. Patofisiologi/Etiologi. Sering disebut juga osteoid osteoma raksasa, osteoblastoma yang menyerang vertebra dan tulang panjang. Tumor ini lebih besar daripada osteoid osteoma dan terletak pada tulang berongga. Tumor ini berwarna kemerahan, dan tampakan yang granular memfasilitasi diagnosis. Insidens/Prevalensi. Lesi yang terjadi kurang dari 1% dan menyerang remaja pria serta dewasa muda pada kedua jenis kelamin Pustaka : http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/8428 http://irmanthea.blogspot.com/2008/12/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html Neoplasma Berasal dari Tulang : ganas : Osteosarcoma dan perosteal osteosarcoma 1. Osteosarcoma Osteosarcoma adalah keganasan primer kedua yang paling umum dari tulang belakang multiple myeloma. Osteosarcoma menyumbang 20% dari keganasan tulang primer. Ada preferensi untuk wilayah metaphyseal tulang panjang tabung. 50% kasus terjadi di sekitar lutut. Ini adalah ikat (lunak) ganas jaringan tumor yang neoplastik sel hadir diferensiasi osteoblastik dan bentuk tulang tumoral. Sarkoma osteogenic adalah kanker terkemuka 6 pada anak di bawah usia 15. Sarkoma osteogenic mempengaruhi 400 anak di bawah usia 20 tahun dan 500 orang dewasa (kebanyakan antara usia 15-30) setiap tahun di Amerika Serikat. Sekitar 1 / 3 dari 900 akan mati setiap tahun, atau sekitar 300 tahun. Sebuah puncak kedua dalam insiden terjadi pada orang tua, biasanya berhubungan dengan patologi tulang yang mendasarinya seperti penyakit Paget, meduler infark, atau iradiasi sebelumnya. Meskipun sekitar 90% dari pasien dapat memiliki operasi ekstremitas-penyelamatan, komplikasi, seperti infeksi, melonggarkan prostetik dan non-serikat, atau kekambuhan tumor lokal dapat menyebabkan kebutuhan untuk operasi lebih lanjut atau amputasi. ---Penyebab--Penyebab osteosarcoma tidak dikenal. Beberapa kelompok penelitian sel induk sedang menyelidiki kanker dan potensi mereka untuk menyebabkan tumor. Hubungan antara osteosarkoma dan fluoride telah diteliti, tidak ada hubungan jelas antara fluoridasi air dan kematian karena osteosarkoma. ---Gejala--Banyak pasien pertama mengeluh sakit yang mungkin lebih buruk pada malam hari, dan mungkin telah terjadi selama beberapa waktu. Jika tumornya besar, dapat muncul sebagai pembengkakan. Tulang yang terkena dampak tidak sekuat tulang yang normal dan mungkin fraktur dengan trauma ringan (patah tulang patologis). Neoplasma biasanya muncul sebagai suatu tumor yang tunggal, bisa terjadi pada maksila dan mandibula. Bagaimanapun, tulang yang paling umum terpengaruh adalah tulang panjang dan tulang

panggul. Thoma (1962), menggolongkan osteosarcoma ke dalam tiga subklas yaitu : osteolitik, osteoblastik, dan telangiektatik 1. Osteolitik osteosarkoma Jenis ini lebih sering pada orang dewasa, sifat regenerative dari tulang bersifat lebih lemah dibandingkan pada usia muda. di sini terjadi kerusakan tulang dan diganti dengan jaringan tumor yang terdiri atas selsel yang tidak terbentuk sempurna, zat-zat intercelular dihasilkan kemudian tulang rawan atau myxomatous atau jaringan fibrous atau semua jaringan bergabung. 2. Osteoblastik osteosarkoma Pada jenis ini produksi tulang meningkat. Lebih sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa muda. Pembentukan periosteal yang tampak seperti tangkai-tangkai, spikula-spikula atau lamellae yang membentang dalam arah vertikal dari tulang sampai ke batas luar dari tumor. Hal ini terlihat dalam gambaran radiografi, dikenal sebagai pengaruh sinar matahari sun-ray effect. pengaruh sinar matahari ini bukan merupakan gambaran yang khas pada osteosarkoma, gambaran ini juga dapat ditemukan pada tumor-tumor yang lain dan adakalanya dijumpai pada infeksi kronis tulang yang ringan. Jenis osteoblastik bukan tumor ganas pada mandibula seperti di tulang-tulang yang lain. 3. Telangiektatik osteosarcoma Menurut Ewing tumor yang tandai dengan adanya pelebaran pembuluh darah dan sinus-sinus darah yang banyak digolongkan sebagai teleangiektatik osteosarkoma. Berkembang dengan cepat, menghancurkan tulang, mengakibatkan fraktur, periosteum perforasi dengan cepat dan bercabang melalui otot dan jaringan lunak. ---Patologi--Tumor dapat terlokalisasi di ujung tulang panjang. Paling sering itu mempengaruhi ujung atas tibia atau humerus, atau ujung bawah tulang paha. Osteosarcoma cenderung mempengaruhi daerah sekitar lutut di 60% kasus, 15% di sekitar pinggul, 10% di bahu, dan 8% di rahang. Tumor padat, keras, tidak teratur ("cemara-pohon," "dimakan ngengat" atau "matahari-meledak" penampilan pada X-ray) karena tumor spikula kalsifikasi tulang memancar di sudut kanan. Ini membentuk sudut yang tepat apa yang dikenal sebagai segitiga Codman itu. Sekitar jaringan yang disusupi. Mikroskopis: Fitur karakteristik osteosarcoma adalah adanya osteoid (pembentukan tulang) dalam tumor. Tumor sel sangat pleomorfik (anaplastik), beberapa raksasa, mitosis atipikal banyak. Selsel ini menghasilkan osteoid menjelaskan trabekula tidak teratur (amorf, eosinofilik / pink) dengan atau tanpa kalsifikasi sentral (hematoxylinophilic / biru, granular) - tumor tulang. Sel tumor yang termasuk dalam matriks osteoid. Tergantung pada fitur sel-sel tumor ini (apakah mereka menyerupai sel-sel tulang, sel-sel tulang rawan atau sel fibroblast), tumor dapat subclassified. Osteosarcomas mungkin menunjukkan osteoklas-seperti multinuklear sel raksasa. ---Diagnosis--Keluarga dokter dan ahli ortopedi jarang melihat tumor tulang ganas (tumor tulang yang paling adalah jinak). Dengan demikian, banyak pasien yang awalnya salah didiagnosis dengan kista atau masalah otot, dan beberapa dikirim langsung ke terapi fisik tanpa x-ray. Rute diagnosis osteosarkoma biasanya dimulai dengan x-ray, terus dengan kombinasi scan (CT scan, PET scan, bone scan, MRI) dan berakhir dengan biopsi bedah. Film yang sugestif, tetapi tulang Biopsi adalah satu-satunya metode definitif untuk menentukan apakah tumor ganas atau jinak. Biopsi dari osteosarkoma dicurigai harus dilakukan oleh seorang ahli onkologi ortopedi berkualitas. American Cancer Society menyatakan: "Mungkin tidak dalam kanker lainnya adalah sebagai penting untuk melakukan prosedur ini benar benar dilakukan biopsi Sebuah dapat membuat sulit untuk menyelamatkan anggota badan yang terkena dari amputasi.." ---Treatment--Pasien dengan osteosarkoma yang terbaik dikelola oleh ahli onkologi medis dan onkologi ortopedi berpengalaman dalam mengelola sarkoma. Pengobatan standar saat ini adalah dengan menggunakan neoadjuvant kemoterapi (kemoterapi diberikan sebelum pembedahan) diikuti oleh reseksi bedah. Persentase sel tumor nekrosis (kematian sel) terlihat pada tumor setelah operasi memberikan gambaran tentang prognosis dan juga memungkinkan oncologist tahu apakah rezim kemoterapi harus diubah setelah operasi. Standar terapi adalah kombinasi dari ekstremitas-sisa bedah ortopedi bila mungkin (atau amputasi dalam beberapa kasus) dan kombinasi metotreksat dosis tinggi dengan pertolongan leucovorin, intra-arteri cisplatin, adriamisin, ifosfamid dengan mesna, BCD, etoposid, muramyl tripeptite (MTP). Rotationplasty juga teknik lain bedah yang dapat digunakan. Ifosfamid dapat digunakan sebagai pengobatan ajuvan jika tingkat nekrosis rendah. Meskipun keberhasilan kemoterapi untuk osteosarkoma, ia memiliki salah satu tingkat kelangsungan hidup terendah untuk kanker anak. Melaporkan terbaik 10-tahun tingkat kelangsungan

hidup 92%; protokol yang digunakan adalah rejimen intra-arteri agresif yang individualizes terapi berdasarkan respon ateriographic. Tiga tahun kelangsungan hidup acara bebas berkisar dari 50% sampai 75%, dan lima tahun kelangsungan hidup berkisar dari 60% sampai 85% + dalam beberapa studi. Secara keseluruhan, pasien yang dirawat 65-70% lima tahun lalu akan hidup hari ini. Ini adalah rata-rata tingkat kelangsungan hidup secara keseluruhan dan sangat bervariasi tergantung pada tingkat nekrosis individu. Cairan diberikan untuk hidrasi, sementara obat-obatan seperti Kytril dan Zofran membantu dengan mual dan muntah. Neupogen, Epogen, Neulasta membantu dengan jumlah sel darah putih dan jumlah neutrofil. Transfusi darah membantu dengan anemia. ---Prognosis--Stage 1 osteosarkoma jarang dan termasuk osteosarcoma parosteal atau kelas rendah osteosarcoma pusat. Ini memiliki prognosis yang sangat baik (> 90%) dengan reseksi luas. Stage 2 Prognosis tergantung pada lokasi tumor (tibia proksimal, tulang paha, panggul, dll) ukuran massa tumor (dalam cm.), Dan derajat nekrosis dari neoadjuvant kemoterapi (kemoterapi sebelum operasi). Faktor-faktor patologis lainnya seperti tingkat p-glikoprotein, apakah tumor CXCR4-positif, atau Her2-positif juga penting, karena ini terkait dengan metastasis jauh ke paru-paru. Prognosis bagi pasien dengan osteosarkoma dengan meningkatkan metastasis kali lebih lama untuk metastasis, (lebih dari 12 bulan-24 bulan), sejumlah kecil metastasis (dan resectability mereka). Lebih baik untuk memiliki metastasis lebih sedikit daripada waktu lebih lama untuk metastasis. Mereka dengan panjang lebih lama (> 24bulan) dan nodul beberapa (2 atau lebih sedikit) memiliki prognosis terbaik dengan kelangsungan hidup 2 tahun setelah metastasis dari 50% 5-tahun 40% dan 10 tahun 20%. Jika metastasis keduanya lokal dan regional, prognosis lebih buruk. Presentasi awal osteosarcoma stadium III dengan metastates paru-paru tergantung pada resectability dari tumor primer dan nodul paru-paru, derajat nekrosis tumor primer, dan mungkin jumlah metastasis. Prognosis keseluruhan adalah sekitar 30% Pustaka : http://www.news-medical.net/health/Osteosarcoma-Treatment.aspx 2. Parosteal osteosarkoma Osteosarkoma parosteal adalah low grade tumor tulang ganas yang biasanya terjadi pada permukaan metaphysis tulang panjang. Merupakan slah satu dari dua jenis osteosarcoma. Timbul antara korteks dan otot sebagai low grade stage tumor permukaan IA (yaitu tidak awalnya menyerang mendasari meduler kanal). Paling umum pada remaja dan orang dewasa mudaOsteosarkoma parosteal dibedakan dari klasik osteosarkoma dengan tentunya jauh lebih lambat, kurang agresif klinis. ----DD--- Osteochondroma ; - Myositis ossificans , - periosteal chondroma , - Lokasi: sering muncul sebagai massa, tetap menyakitkan pada: - humerus proksimal adalah lokasi yang paling umum kedua; - Aspek posterior femur distal (50% kasus); ---Diagnosis--3. - Radiografi: - Padat (mineralisasi berat), sangat kaku, luas fusiform berbasis massa yang muncul untuk mengelilingi metaphysis. - Tumor dipisahkan dari korteks dengan tipis, zona terlibat, radiolusen; - Kanal meduler tidak harus menunjukkan keterlibatan tumor; ----Epidemiologi--75% menyerang usia antara 20-45 tahun Parosteal osteosarkoma merupakan jenis yang paling umum 2 dari osteosarkoma. 80% terjadi antara usia 20 dan 50. Mereka umumnya ditemukan di metaphysis femoralis distal, posterior, kurang umum di tibia proksimal dan humerus. Osteosarkoma Parosteal muncul dari permukaan tulang dan terlihat sebagai massa jaringan lunak yang sering tumbuh di sekitar tulang asal. Matriks osteoid biasanya sklerotik lebih matang dan padat, terutama terpusat. Tampilan MRI adalah variabel tergantung pada jumlah osteoid, cellularity pembentukan dan kehadiran tulang rawan, biasanya muncul cukup heterogen. Jarana terdapat pertumbuhan yang muncul pada lapisan dalam periosteum. Cartlago membengkak dari tulang kejaringan lunak dan menjadi gejala bagi pasien. Saat pasien menemukan cartlago tidak berkalsifikasi, lesi itu sendiri tidak terlihat pada x-ray, tapi permukaan tulang bisa tidak rata dan mencembung. MRI mungkin bisa mengungkapakan usuran tumor yang sebenarnya. Secara histologis banyak mengandung sel cartlago. Pengobatan memiliki kecendrungan untuk kambuh, cara

terbaik hdala dengan pengangkatan tumor dengan eksisi marginal. Lesi yang kambuh mungkin terlihat lebih agresif tapi lesi tersebut mungkin tidak mengalami perubahan menjadi ganas. Pustaka : http://www.orthopaedia.com/display/Main/Parosteal+osteosarcoma http://www.wheelessonline.com/ortho/parosteal_osteosarcoma http://en.wikibooks.org/wiki/Diagnostic_Radiology/Musculoskeletal_Imaging/Tumors_Basic/Parosteal_ Osteosarcoma http://ilmubedah.info/tumor-jinak-tulang-20110204.html Neoplasma : Berasal dari Tulang Rawan : Jinak : Kondroma, Osteokondroma, kondroblastoma, Fibroma kondromiksoid Kondroma Kondroma atau endokondroma, secara histologis sangat erat kaitannya dengan presentasi osteokondroma. Kondroma adalah lesi pada kartilago hialin matur yang terutama mengenai tangan dan kaki. Iga, sternum, spinal, dan tulang panjang juga mungkin terkena. Kondroma lambat berkembang dan sering mengakibatkan fraktur patologis setelah cedera ringan. Kondroma ditemukan pada semua usia, terjadi pada pria dan wanita serta dapat mengenai semua tulang. Kondroma Jinak biasanya terjadi pada usia 10-30 tahun, timbul di bagian tengah tulang. Beberapa jenis kondroma menyebabkan nyeri. Jika tidak menimbulkan nyeri, tidak perlu diangkat atau diobati. Untuk memantau perkembangannya, dilakukan foto rontgen. Jika tumor tidak dapat didiagnosis melalui foto rontgen atau jika menyebabkan nyeri, mungkin perlu dilakukan biopsi untuk menentukan apakah tumor tersebut bisa berkembang menjadi kanker atau tidak. ---Gambaran radiologic--Kira-kira 50 % enkondroma terdapat pada tulang-tulang tangan dan kaki; sekitar 40 % pada tangan clan 10 % pada kaki. Gambaran radiologik tulang rawan adalah radiolusen, sehingga tumor ini akan terlihat sebagai bayangan radiolusen yang berbatas tegas di daerah medula. Kadang-kadang tampak pelebaran tulang karena ekspansi clan tampak penipisan korteks, kadangkadang terlihat perkapuran clan hal ini penting untuk diagnosis. Umumnya kondroma adalah soliter. Enkondroma pada tulang pipih clan tulang yang besar lebih jarang tetapi penting oleh karena pada tulang-tulang ini lebih sering ditemukan kondrosarkoma. Bila bertambah besar dengan cepat dan terasa sakit harus difikirkan kemungkinan tumor menjadi ganas (degenerasi maligna). Pustaka : http://dadang-saksono.blogspot.com/2010/07/tumor-tulang-dan-lesi-yang-menyerupai.html http://medicastore.com/penyakit/534/Tumor_Tulang_Non-Kanker.html http://obatkista.wordpress.com/author/infogizimedis/page/238/ 2. Osteokondroma Osteokondroma (Eksostosis Osteokartilaginous) merupakan tumor tulang jinak yang paling sering ditemukan. Biasanya menyerang usia 10-20 tahun. Tumor ini tumbuh pada permukaan tulang sebagai benjolan yang keras. Penderita dapat memiliki satu atau beberapa benjolan. 10% dari penderita yang memiliki beberapa osteokondroma, akan mengalami kelaganasan tulang yang disebut kondrosarkoma, tetapi penderita yang hanya memiliki satu osterokondroma, tidak akan menderita kondrosarkoma. Patofisiologi/Etiologi. Tumor tulang yang paling umum ditemukan adalah osteokondroma. Meskipun awitannya biasanya dimulai pada masa anak, tumor ini berkembang sampai maturitas skeletal dan mungkin tidak terdiagnosa sampai masa dewasa. Tumor ini mungkin tumbuh tunggal ataupun multiple dan dapat terjadi pada tulang manapun. Femur dan tibia adalah yang paling sering terkena. Pada tampilan makro, tumor mempunyai tudung kartilagenus dengan tunas tulang menembus dari tulang. Seiring perkembangan tudung, tumor menulang dan mungkin menjadi maligna. Kira-kira 10% osteokondroma berkembang menjadi sarkoma. Tumor terjadi karena pertumbuhan abnormal dari sel-sel tulang (osteosit) dan sel-sel tulang rawan (kondrosit) di metafisis. Pertumbuhan abnormal ini awalnya hanya akan menimbulkan gambaran pembesaran tulang dengan korteks dan spongiosa yang masih utuh. Jika tumor semakin membesar maka akan tampak sebagai benjolan menyerupai bunga kol (cauliflower) dengan komponen osteosit sebagai batangnya dan komponen kondrosit sebagai bunganya. Tumor akan tumbuh dari metafisis, tetapi adanya pertumbuhan tulang yang semakin memanjang maka makin lama tumor akan mengarah ke diafisis tulang. Lokasi osteokondroma biasanya pada metafisis tulang panjang khususnya femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal, dapat juga ditemukan pada tulang scapula dan illium. 1.

Insidens/Prevalensi. Osteokondroma terjadi kira-klira 40% dari semua tumor benigna dan cenderung terjadi pada pria. KondromaPatofisiologi/Prevalensi. Kondroma atau endokondroma, secara histologis sangat erat kaitannya dengan presentasi osteokondroma. Kondroma adalah lesi pada kartilago hialin matur yang terutama mengenai tangan dan kaki. Iga, sternum, spinal, dan tulang panjang juga mungkin terkena. Kondroma lambat berkembang dan sering mengakibatkan fraktur patologis setelah cedera ringan. Insiden/Prevalensi. Kondroma ditemukan pada semua usia, terjadi pada pria dan wanita serta dapat mengnai semua tualng. GambaranRadiologis Ada 2 tipe osteokondroma yaitu bertangkai (pedunculated) / narrow base dan tidak bertangkai (sesile) / broad base. Pada tipe pedunculated, pada foto polos tampak penonjolan tulang yang menjauhi sendi dengan korteks dan spongiosa masih normal. Penonjolan ini berbentuk seperti bunga kol (cauliflower) dengan komponen osteosit sebagai tangkai dan komponen kondrosit sebagai bunganya. Densitas penonjolan tulang inhomogen (opaq pada tangkai dan lusen pada bunga). Terkadang tampak adanya kalsifikasi berupa bercak opaq akibat komponen kondral yang mengalami kalsifikasi. Biasanya mengenai tulang panjang, terutama sekitar lutut. Tumor mulai pada metafisis, tetapi karena tulang tumbuh, makin la ma makin bergeser ke diafisis. Biasanya soliter, kadang-kadang multipel dan dikenal sebagai diaphyseal aclasia. Degenerasi maligna pada osteokondroma soliter sekitar 1 %, sedangkan pada diaphyseal aclasia sekitar 10%. Gambaran radiologik : tampak penonjolan tulang dengan korteks dan spongiosa yang normal. Komponen tulang rawan seringkali ti dak kelihatan karena berada di luar tulang; dapat dilihat dengan CT-Scan. Dengan bertambahnya umur pasien terlihat kalsifikasi pada tulang rawan yang makin lama makin banyak. Gambaran radiologik tumor ini khas. Pustaka : http://dadang-saksono.blogspot.com/2010/07/tumor-tulang-dan-lesi-yang-menyerupai.html http://medicastore.com/penyakit/534/Tumor_Tulang_Non-Kanker.html http://mocacandy.blogspot.com/2010/08/tumor-tulang.html http://agusjati.blogspot.com/2007_06_01_archive.html 3. Kondroblastoma Kondroblastoma merupakan tumor yang jarang terjadi, yang tumbuh pada ujung tulang. (Epifise) Biasanya timbul pada usia 10-20 tahun. Tumor ini dapat menimbulkan nyeri, yang merupakan petunjuk adanya penyakit ini. Pengobatan terdiri dari pengangkatan melalui pembedahan; kadang setelah dilakukan pembedahan, tumor bisa tumbuh kembali. ---Prevalensi--Merupakan tumor jinak yang jarang ditemukan dan biasanya paling sering menyerang anak lakilaki yang berusia remaja. Tumor ini secara unik ditemukan pada epifisis, tempat yang paling sering terserang adalah tulang humerus. Gejala seringkali berupa nyeri sendi yang timbul dari jaringan tulang. ----Radiologi--Biasanya penderita mengeluh sakit di daerah sendi, karena tumor kebanyakan pada epifisis dan berhubungan dengan lempeng epifiser. Gambaran radiologik : tampak sebagai bayangan radiolusen, biasanya berbentuk bundar dengan batas yang tegas. Kadang kadang tampak pinggiran sklerotik. Kalsifikasi terdapat pada kira-kira 50 %. Diagnosis banding : Giant cell tumor Abses Brodie Tuberkulosis tulang ---Lokasi---Kondroblastoma jinak berasal dari daerah epifisis dan berkembang kearah metafisis. Tumor terutama ditemukan pada epifise tibia proksimal, femur distal dan humerus proksimal. Pemeriksaan radiologis Pada foto roentgen terlihat rarefaksi yang jelas pada tulang kanselosa yang dapat melebar diluar dari daerah garis epifisis. Bentuknya eksentrik dengan korteks yang tipis tetapi penetrasi keluar jarang terjadi. Batas batas tumor bersifat ireguler, tidak tegas disertai dengan bintik bintik kalsifikasi sebagai gambaran adanya deposit kalsium. ---Patologi-Ditandai dengan gejala gejala karakteristik dari sel sel yang banyak dan bersifat tidak berdiferensiasi dengan sel sel yang bulat atau polygonal dari sel sel yang menyerupai kondroblas dengan sel sel raksasa inti banyak dari sel osteoklas yang diatur secara sendiri sendiri atau kelompok. Hanya ditemukan sedikit jaringan seluler dari jaringan matriks tulang rawan yang disertai dengan kalsifikasi fokal dan jaringan retikulin. Gejala yang muncul adalah nyeri tetap pada sendi , adanya titik keras biasanya berdekatan dengan tulang.(2) ---Pengobatan---Biasanya dengan kuretase diikuti bone graft. Pada anak anak resikonya mengharuskan untuk

mengangkat lesi. Setelah akhir dari masa pertumbuhan lesi dapat diangkat dengan eksisi marginal yang memungkinkan dengan kuretase. Pustaka : http://puskesmassimpangempat.wordpress.com/2009/05/page/2/ http://medicastore.com/penyakit/534/Tumor_Tulang_Non-Kanker.html http://dadang-saksono.blogspot.com/2010/07/tumor-tulang-dan-lesi-yang-menyerupai.html http://ilmubedah.info/tumor-jinak-tulang-20110204.html 4. Fibroma Kondromiksoid Fibroma Kondromiksoid merupakan tumor yang sangat jarang, yang terjadi pada usia kurang dari 30 tahun. Nyeri merupakan gejala yang biasa dikeluhkan. Tumor ini akan memberikan gambaran yang khas pada foto rontgen. Pengobatannya adalah pengangkatan melalui pembedahan. Fibroma Kondromiksoid merupakan tumor yang sangat jarang, yang terjadi pada usia kurang dari 30 tahun.Nyeri merupakan gejala yang biasa dikeluhkan.Tumor ini akan memberikan gambaran yang khas pada foto rontgen.Pengobatannya adalah pengangkatan melalui pembedahan. ---Radiologi--Tumor ini biasanya didapatkan pada anak-anak dan dewasa muda. Pada tulang panjang paling banyak di daerah metafisis dan lokasinya eksentrik, paling sering pada tulang sekitar lutut. Gambaran radiologik : tumor ini tampak sebagai daerah yang radiolusen di daerah metafisis tulang panjang, letaknya eksentris, berbatas tegas, kadang-kadang dengan pinggiran sklerotik. Korteks menipis karena ekspansi tumor. Tidak ada reaksi periosteal. Kalsifikasi jarang. Kadang-kadang terdapat gambaran menyerupai busa sabun (soap-bubble appearance). Diagnosis banding : Giant cell tumor Kista tulang aneurisma (aneurysmal bone cyst). Biasanya pada metafisis tulang panjang atau tulang tulang kecil pada tarsal dan metatarsal. Lokasi paling sering adalah bagian proksimal tibia. ----Pemeriksaan radiologis---Tanda khas berupa daerah radiolusen yang bulat / oval terletak eksentris pada metafisis dan dapat meluas sampai ke diafisis tulang panjang. Berbatas tegas dan kadang kadang dengan pinggiran sklerotik. Korteks sering menipis akibat ekspansi dari tumor. ---Patologi---Khas berupa daerah lobulasi yang berbentuk spindle atau sel sel stella dengan jaringan miksoid atau kondroid interseluler yang dipisahkan dari jaringan yang mengandung lebih banyak sel dengan bentuk spindle dengan beberapa sel raksasa multinuclear dengan bentuk yang berbeda. Mungkin dapat ditemukan sel sel pleomorf. ----Pengobatan---Tumor ini berpotensi menjadi ganas sehingga tidak cukup hanya dilakukan kuretase saja tetapi diperlukan juga eksisi local. Pustaka : http://ilmubedah.info/tumor-jinak-tulang-20110204.html http://dadang-saksono.blogspot.com/2010/07/tumor-tulang-dan-lesi-yang-menyerupai.htm http://medicastore.com/penyakit/534/Tumor_Tulang_Non-Kanker.html http://bangunderis.blogspot.com/2008/11/laporan-pendahuluan-tumor-tulang.html Neoplasma : Berasal dari Tulang rawan : Ganas : Kondrosarkoma, Kondrosarkoma juksta kortikal, kondrosarkoma mesenkim 1. Kondrosarkoma --PENDAHULUAN Kondrosarkoma ialah tumor ganas dengan ciri khas pembentukan jaringan tulang rawan oleh sel-sel tumor dan merupakan tumor ganas tulang primer terbanyak kedua setelah osteosarkoma. Kondrosarkoma merupakan tumor tulang yang terdiri dari sel-sel kartilago (tulang rawan) anaplastik yang berkembang menjadi ganas. Kondrosarkoma biasanya ditemukan pada daerah tulang femur, humerus, kosta dan bagian permukaan pelvis. Tumor ini memiliki banyak ciri dan bentuk perkembangan. Dari pertumbuhan yang lambat hingga pertumbuhan metastasis yang agresif. Kondrosarkoma dapat dibagi menjadi kondrosarkoma primer dan sekunder. Untuk keganasan yang berasal dari kartilago itu sendiri disebut kondrosarkoma primer. Sedangkan apabila merupakan bentuk degenerasi keganasan dari penyakit lain seperti enkondroma, osteokondroma dan kondroblastoma disebut kondrosarkoma sekunder. Kondrosarkoma sekunder kurang ganas dibandingkan kondrosarkoma primer. Kondrosarkoma dapat diklasifikasi menjadi tumor sentral atau perifer berdasarkan lokasinya di tulang. ---II. EPIDEMIOLOGI--Menurut Spjut dkk. serta Lichtenstein, kondrosarkoma lebih sering ditemukan pada pria daripada wanita, sedangkan Jaffe mengatakan, tidak ada perbedaan insidens. Dari segi ras penyakit ini

tidak ada perbedaan. Meskipun tumor ini dapat terjadi pada seluruh lapisan usia, namun terbanyak pada orang dewasa (20-40 tahun). Tujuh puluh enam persen, kondrosarkoma primer berasal dari dalam tulang (sentral) sedangkan kondrosarkoma sekunder banyak ditemukan berasal dari tumor jinak seperti osteokondroma atau enkondroma yang mengalami transformasi. Pasien dengan olliers disease (enkondromatosis multipel) atau maffuccis syndrome (enkondroma multipel + hemangioma) memiliki resiko lebih tinggi untuk menjadi kondrosarkoma daripada orang-orang normal dan sering sekali muncul pada dekade ketiga dan keempat. Di Amerika Serikat, kondrosarkoma merupakan tumor terbanyak kedua dari 400 jenis tulang ganas primer dengan jumlah kasus 25% dari seluruh keganasan tulang primer dan sekitar 11% dari seluruh keganasan tulang. Setiap tahun, terdapat 90 kasus baru kondrosarkoma. III. ANATOMI DAN FISIOLOGI Sistem muskuloskeletal tersusun dari tulang, kartilago, sendi, bursa, ligamen dan tendon. Kartilago normal ditemukan pada sendi, tulang rusuk, telinga, hidung, diskus intervertebra dan tenggorokan. Kartilago tersusun dari sel (kondrosit dan kondroblast) dan matriks. Kondroblas dan kondrosit memproduksi dan mempertahankan matriks. Matriks terdiri dari elemen fibrous dan substansi dasar. Matriks ini kuat dan solid tetapi lentur. Matriks organik terdiri dari serat-serat kolagen dalam gel semi padat yang kaya mukopolisakarida yang disebut juga substansi dasar. Kartilago memegang peranan penting dalam pertumbuhan panjang tulang dan membagi beban tubuh. Tulang bertambah panjang akibat proliferasi sel kartilago di lempeng epifisis. Selama pertumbuhan dihasilkan sel-sel tulang rawan (kondrosit) baru melalui pembelahan sel di batas luar lempeng yang berdekatan dengan epifisis. Saat kondrosit baru sedang dibentuk di batas epifisis, sel-sel kartilago lama ke arah batas diafisis membesar. Kombinasi proliferasi sel kartilago baru dan hipertrofi kondrosit matang menyebabkan peningkatan ketebalan (lebar) tulang untuk sementara. Penebalan lempeng tulang ini menyebabkan epifisis terdorong menjauhi diafisis. Matriks yang mengelilingi kartilago tua yang hipertrofi dengan segera mengalami kalsifikasi. Pada orang dewasa, kartilago tidak mendapat aliran darah, limfe atau persarafan. Oksigen dan bahan-bahan metabolisme dibawa oleh cairan sendi yang membasahi kartilago. Proses ini dihambat dengan adanya endapan garam-garam kalsium. Akibatnya sel-sel kartilago tua yang terletak di batas diafisis mengalami kekurangan nutrien dan mati. Osteoklas kemudian membersihkan kondrosit yang mati dan matriks terkalsifikasi yang mengelilinginya, daerah ini kemudian diinvasi oleh osteoblas-osteoblas yang berkerumun ke atas dari diafisis, sambil menarik jaringan kapiler bersama mereka. Penghuni baru ini meletakkan tulang di sekitar bekas sisa-sisa kartilago yang terpisah-pisah sampai bagian dalam kartilago di sisi diafisis lempeng seluruhnya diganti oleh tulang. Apabila proses osifikasi telah selesai, tulang di sisi diafisis telah bertambah panjang dan lempeng epifisis telah kembali ke ketebalan semula. Kartilago yang diganti oleh tulang di ujung diafisis lempeng memiliki ketebalan yang setara dengan pertumbuhan kartilago baru di ujung epifisis lempeng. Ada tiga jenis kartilago yaitu: kartilago hialin, kartilago elastis dan fibrokartilago. Kartilago hialin menutupi bagian tulang yang menanggung beban tubuh pada sendi sinovial Kartilago ini memegang peranan penting dalam membagi beban tubuh. Kartilago ini tersusun dari sedikit sel dan sejumlah besar substansi dasar. Substansi dasar terdiri dari kolagen tipe II dan proteoglikan yang dihasilkan oleh sel-sel kartilago. Proteoglikan sangat hidrofilik sehingga memungkinkan menahan kerusakan sewaktu sendi menerima beban berat. Kartilago hialin terletak pada epifisis tulang panjang. --IV. PREDILEKSI--Berdasarkan bentuk tulang, kondrosarkoma dapat mengenai tulang pipih dan bagian epifisis tulang panjang. Kondrosarkoma dapat terkena pada berbagai lokasi namun predileksi terbanyak pada lokasi proksimal seperti femur, pelvis, dan humerus. Selain itu dapat pula mengenai rusuk, tulang kraniofasial, sternum, skapula dan vertebra. Tumor ini jarang mengenai tangan dan biasanya merupakan bentuk keganasan atau komplikasi dari sindrom enkondromatosis multipel. ---V. ETIOLOGI--Etiologi kondrosarkoma masih belum diketahui secara pasti. Informasi etiologi kondrosarkoma masih sangat minimal. Namun berdasarkan penelitian yang terus berkembang didapatkan bahwa kondrosarkoma berhubungan dengan tumor-tumor tulang jinak seperti enkondroma atau osteokondroma sangat besar kemungkinannya untuk berkembang menjadi kondrosarkoma. Tumor ini dapat juga terjadi akibat efek samping dari terapi radiasi untuk terapi kanker selain bentuk kanker primer. Selain itu, pasien dengan sindrom enkondromatosis seperti Ollier disease dan Maffucci syndrome, beresiko tinggi untuk terkena kondrosarkoma. ---VI. PATOFISIOLOGI--Patofisiologi kondrosarkoma primer maupun sekunder adalah terbentuknya kartilago oleh selsel tumor tanpa disertai osteogenesis. Sel tumor hanya memproduksi kartilago hialin yang mengakibatkan abnormalitas pertumbuhan tulang dan kartilago. Secara fisiologis, kondrosit yang mati dibersihkan oleh osteoklas kemudian dareah yang kosong itu, diinvasi oleh osteoblas-osteoblas yang melakukan proses osifikasi. Proses osifikasi ini menyebabkan diafisis bertambah panjang dan lempeng epifisis kembali ke ketebalan semula. Seharusnya kartilago yang diganti oleh tulang di ujung diafisis lempeng memiliki ketebalan yang setara dengan pertumbuhan kartilago baru di ujung epifisis lempeng.

Namun pada kondrosarkoma proses osteogenesis tidak terjadi, sel-sel kartilago menjadi ganas dan menyebabkan abnormalitas penonjolan tulang, dengan berbagai variasi ukuran dan lokasi. Proses keganasan kondrosit dapat berasal dari perifer atau sentral. Apabila lesi awal dari kanalis intramedular, di dalam tulang itu sendiri dinamakan kondrosarkoma sentral sedangkan kondrosarkoma perifer apabila lesi dari permukaan tulang seperti kortikal dan periosteal. Tumor kemudian tumbuh membesar dan mengikis korteks sehingga menimbulkan reaksi periosteal pada formasi tulang baru dan soft tissue. ---VII. DIAGNOSIS--Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. ---VII.1 Diagnosis Klinis--Manifestasi klinis kondrosarkoma ini sangat beragam. Pada umumnya penyakit ini memiliki perkembangan yang lambat, kecuali saat menjadi agresif. Gejala Kondrosarkoma Berikut adalah gejala yang bisa ditemukan pada kondrosarkoma: 1. Nyeri Nyeri merupakan gejala yang paling banyak ditemukan. Sekitar 75% pasien kondrosarkoma merasakan nyeri. Gejala nyeri yang ditimbulkan tergantung pada predileksi serta ukuran tumor. Gejala dini biasanya berupa nyeri yang bersifat tumpul akibat pembesaran tumor yang perlahan-lahan. Nyeri berlangsung lama dan memburuk pada malam hari. Saat istirahat nyeri tidak menghilang. Nyeri diperberat oleh adanya fraktur patologis. 2. Pembengkakan Pembengkakan lokal biasa ditemukan. 3. Massa yang teraba Teraba massa yang diakibatkan penonjolan tulang. 4. Frekuensi miksi meningkat Manifestasi klinis ini ditemukan pada kondrosarkoma di pelvis. Namun semua manifestasi klinis ini tidak selalu ada di setiap kondrosarkoma. Gejala yang ditimbulkan tergantung dari gradenya. Pada grade tinggi, selain pertumbuhan tumor cepat juga disertai nyeri yang hebat. Sedangkan pada grade rendah, pertumbuhan tumor lambat dan biasanya disertai keluhan orang tua seperti nyeri pinggul dan pembengkakan. ---Penentuan Grade dan Stage dari Kondrosarkoma--Grade(G) dilihat dari agresif tidaknya tumor tersebut. Disebut grade rendah (G1) apabila jinak dan grade tinggi (G2) bila agresif. Penilaian grade kondrosarkoma dapat juga melalui pemeriksaan mikroskopis Pada grade rendah biasanya sel tumor masih mirip dengan sel normal dan pertumbuhannya lambat serta kemungkinan metastase sangat kecil. Pada grade tinggi, sel tumor tampak abnormal dengan pertumbuhan dan kemampuan metastase yang sangat cepat. Kebanyakan kondrosarkoma itu berada pada grade rendah. Grade tinggi kondrosarkoma lebih sering akibat rekurensi dan metastase ke bagian tubuh yang lain. Yang termasuk grade rendah adalah kondrosarkoma sekunder sedangkan yang termasuk grade tinggi adalah kondrosarkoma primer. Tujuan penentuan stage ialah mendeskripsikan ukuran dan mengetahui apakah sel tumor ini telah bermetastase di luar lokasi aslinya. Untuk lokasi anatomi, dituliskan (T1) jika tumor tersebut berada di dalam tulang dan (T2) jika diluar tulang. Berikut ini adalah penentuan stage kondrosarkoma: Stage 1A merupakan tumor grade rendah di dalam tulang. Stage 1B merupakan tumor grade rendah di luar tulang yang meliputi soft tissue spaces, nervus dan pembuluh darah. Stage 2A merupakan tumor grade tinggi di lapisan keras tulang. Stage 2B merupakan tumor grade tinggi di luar tulang yang meliputi soft tissue spaces, nervus dan pembuluh darah. Stage 3 merupakan tumor grade rendah-tinggi, bisa di dalam atau di luar tulang namun telah mengalami metastase. Apabila didapatkan keterlibatan kelenjar limfa regional maka disebut N1 sedangkan N0 apabila tidak didapatkan keterlibatan kelenjar limfe regional. Jika didapatkan metastase disebut sebagai M1 dan jika tidak didapatkan metastase disebut M0. Kondrosarkoma biasa bermetastase pada paru-paru, namun dapat juga bermetastase pada tulang, liver, ginjal, payudara atau otak. ----VII.2 Pemeriksaan Radiologi---Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan penting dalam usaha penegakan diagnosis tumor. Pada kondrosarkoma, pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan meliputi foto konvensional, CT scan, dan MRI. Selain itu, kondrosarkoma juga dapat diperiksa dengan USG dan Nuklear Medicine. ---Foto konvensional--Foto konvensional merupakan pemeriksaan penting yang dilakukan untuk diagnosis awal kondrosarkoma. Baik kondrosarkoma primer atau sentral memberikan gambaran radiolusen pada area

dekstruksi korteks. Bentuk destruksi biasanya berupa pengikisan dan reaksi eksternal periosteal pada formasi tulang baru. Karena ekspansi tumor, terjadi penipisan korteks di sekitar tumor yang dapat mengakibatkan fraktur patologis. Scallop erosion pada endosteal cortex terjadi akibat pertumbuhan tumor yang lambat dan permukaan tumor yang licin. Pada kondrosarkoma, endosteal scalloping kedalamannya lebih dari 2/3 korteks, maka hal ini dapat membedakan kondrosarkoma dengan enkondroma. Gambaran kondrosarkoma lebih agresif disertai destruksi tulang, erosi korteks dan reaksi periosteal, jika dibandingkan dengan enkondroma. Tidak ada kriteria absolut untuk penentuan malignansi. Pada lesi malignan, penetrasi korteks tampak jelas dan tampak massa soft tissue dengan kalsifikasi. Namun derajat bentuk kalsifikasi matriks ini dapat dijadikan patokan grade tumor. Pada tumor yang agresif, dapat dilihat gambaran kalsifikasi matriks iregular. Bahkan sering pula tampak area yang luas tanpa kalsifikasi sama sekali. Destruksi korteks dan soft tissue di sekitarnya juga menunjukkan tanda malignansi tumor. Jika terjadi destruksi dari kalsifikasi matriks yang sebelumnya terlihat sebagai enkondroma, hal tersebut menunjukkan telah terjadi perubahan ke arah keganasan menjadi kondrosarkoma. CT scan Dari 90% kasus ditemukan gambaran radiolusen yang berisi kalsifikasi matriks kartilago. Pada pemeriksaan CT scan didapatkan hasil lebih sensitif untuk penilaian distribusi kalsifikasi matriks dan integritas korteks. Endosteal cortical scalloping pada tumor intramedullar juga terlihat lebih jelas pada CT scan dibandingkan dengan foto konvensional. CT scan ini juga dapat digunakan untuk memandu biopsi perkutan dan menyelidiki adanya proses metastase di paru-paru. ---VII.3 Pemeriksaan Patologi Anatomi--Gambaran makroskopis pada kebanyakan tumor memperlihatkan sifat kartilaginosa; besar dengan penampilan berkilau dan berwarna kebiru-biruan. Secara mikroskopis, beberapa tumor berdiferensiasi baik dan sulit dibedakan dengan enkondroma bila hanya berdasakan pada gambaran histologis saja. Kecurigaan kearah keganasan apabila sel berinti besar, inti multipel dalam suatu sel tunggal atau adanya beberapa kondroblas dalam satu lakuna. Diantara sel tersebut terdapat matriks kartilaginosa yang mungkin disertai dengan kalsifikasi atau osifikasi. Konfirmasi patologi anatomi diperlukan untuk diagnosis dan optimalisasi manajemen terapi. Biopsi sering dilakukan sebagai langkah awal penanganan. Biopsi perkutaneus dengan tuntunan imaging akan sangat membantu pada beberapa kasus tertentu. USG dilakukan sebagai penuntun biopsi jarum halus pada soft tissue, sedangkan CT scan digunakan sebagai penuntun untuk biopsi jarum halus pada tulang. Perubahan patologis antara tumor jinak dan tumor ganas grade rendah sangat sulit dinilai. Biopsi jarum halus kurang baik untuk memastikan diagnostik patologis dan biasanya sering dikonfirmasi dengan biopsi bedah terbuka. Klasifikasi kondrosarkoma berdasarkan patologi anatomi: 1. Clear cell chondrosarcoma: Clear cell chondrosarcoma termasuk grade rendah dengan pertumbuhan yang lambat dan secara khas terdapat di epifisis tulang-tulang tubular terutama pada femur dan humerus. Sesuai dengan namanya, biopsi dari tumor ini akan menunjukkan clear cell dengan banyak vakuola besar. Akan tampak pula lobular cartilaginous di dalam clear cells, multinucleated giant cells, mitosis sedikit, dan susunan matriks menjadi sedikit disertai kalsifikasi fokal. 2. Mesenchymal chondrosarcoma Di bawah mikroskop, selnya berbentuk lingkaran kecil/oval dari spindled neoplastic cells dengan gumpalan ireguler kromatin dan nukleoli. Terjadi peningkatan perubahan mitosis dan penipisan kartilago. 3. Dedifferentiated chondrosarcoma Dediffentiated chondrosarcoma sekitar 10% dari seluruh tipe kondrosarkoma. Sifat khasnya adalah gabungan antara grade rendah kondrosarkoma dan proses keganasan degeneratif, di mana terjadi keganasan soft tissue yang utuh sehingga tidak dapat diidentifikasi lagi sebagai keganasan kartilago. Biasanya pada pasien berusia 60 tahun ke atas. Pada gambaran patologi anatomi tampak ikatan antara sel kartilago dan nonkartilago, stroma kondroid, sel kondrosit mengecil dan nukleus padat dengan disertai beberapa pembesaran. 4. Juxtacortical chondrosarcoma Juxtacortical chondrosarcoma merupakan 2% dari seluruh kondrosarkoma. Lesi umumnya terletak pada bagian metafisis femur, jarang pada diafisis. Pustaka : http://dokmud.wordpress.com/2010/02/16/kondrosarkoma/ NON-NEOPLASMA Infeksi : Osteomyelitis Non-infeksi : Hematoma subperiosteal Infeksi: Osteomyelitis

Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekelilig jaringan tulang mati). Ostemielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomylitis sebagai berikut : Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus areus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI,1995). Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990). Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus infleunzae, infeksi yang hampir selal disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tetapi juga Haemophylus influenzae, streptococcus da organisme lain dapat juga menyebabkannya osteomyelitis adlah infeksi lain. Osteomielitis adalah infeksi tulang yang biasanya disebabkan oleh bakteri, tetapi kadangkadang disebabkan oleh jamur. Jika tulang terinfeksi, bagian dalam tulang yang lunak (sumsum tulang) sering membengkak. Karena pembengkakan jaringan ini menekan dinding sebelah luar tulang yang kaku, maka pembuluh darah di dalam sumsum bisa tertekan, menyebabkan berkurangnya aliran darah ke tulang. Tanpa pasokan darah yang memadai, bagian dari tulang bisa mati. Infeksi juga bisa menyebar keluar dari tulang dan membentuk abses(pengumpulan nanah) di jaringan lunak di sekitarnya, misalnya di otot. ---Prevalensi--Osteomyelitis adalah infeksi pada tulang. Osteomyelitis dapat terjadi pada bayi-bayi, anak-anak, dan kaum dewasa. Tipe-tipe yang berbeda dari bakteri-bakteri secara khas mempengaruhi kelompokkelompok umur yang berbeda. Pada anak-anak, osteomyelitis paling umum terjadi pada ujung-ujung dari tulang-tulang yang panjang dari lengan-lengan dan tungkai-tungkai, mempengaruhi pinggul-pinggul, lutut-lutut, pundak-pundak, dan pergelangan-pergelangan tangan. Pada kaum dewasa, adalah lebih umum pada tulang-tulang dari spine (vertebrae) atau pada pelvis. Klasifikasi Osteomyellitis Menurut kejadiannya terbagi 2 yaitu : 1. Osteomyelitis Primer kuman-kuman mencapai secara langsung melalui luka. 2. Osteomyelitis Sekunder adalah kuman-kuman mencapai tulang melalui aliran darah dari suatu focus primer ditempat lain (misalnya infeksi saluran napas, genitourinaria furunkel). Sedangkan menurut perlangsungnya dibedakan atas : a. Steomyelitis akut v Nyeri daerah lesi v Deman, menggigil, malaise, pembesaran kelenjar limfe regional v Sering ada riwayat infeksi sebelumnya atau ada luka v Pembengkakan lokal v Kemerahan v Suhu raba hangat v Gangguan fungsi v Lab: anemia, leukositosis b. Steomyelitis kronis v Ada luka, bernanag, berabu busuk, nyeri v Gejala-gejala umum tidak ada v Gangguan fungsi kadang-kadang kontraktur v Lab: LED meningkat Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling sering : v Staphylococcus (orang dewasa) v Streplococcus (anak-anak) v Pneumococcus dan Gonococcus B. ETIOLOGI Tulang, yang biasanya terlindung dengan baik dari infeksi, bisa mengalami infeksi melalui 3 cara: Aliran darah Penyebaran langsung Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya. Aliran darah bisa membawa suatu infeksi dari bagian tubuh yang lain ke tulang. Infeksi biasanya terjadi di ujung tulang tungkai dan lengan (pada anak-anak) dan di tulang belakang (pada dewasa). Orang yang menjalani dialisa ginjal dan penyalahguna obat suntik ilegal, rentan terhadap infeksi tulang belakang (osteomielitis vertebral). Infeksi juga bisa terjadi jika sepotong logam telah ditempelkan pada tulang, seperti yang terjadi pada perbaikan panggul atau patah tulang lainnya. Bakteri yang menyebabkan tuberkulosis juga bisa menginfeksi tulang belakang (penyakit Pott).

Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui patah tulang terbuka, selama pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus tulang. Infeksi ada sendi buatan, biasanya didapat selama pembedahan dan bisa menyebar ke tulang di dekatnya. Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah beberapa hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau diabetes (kencing manis). Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi, bisa menyebar ke tulang tengkorak. Pasien yang berisiko tinggi mengalami osteomyelitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan atau penderita diabetes. Selain itu, pasien yang menderita atritisbreumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit, mendapat terapi kortikostiroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nekrosis insisi marginal atau dehisensi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi. C. PATOFISIOLOGI Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dijumpai pada osteomyelitis meliputi proteus, pseudomonas dan ecerichia coli. Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan vaskularisasi dan edema. Setelah 2 atau 3 hari , trobosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk abses tulang. Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan; namun yang lebih sering hars dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati (sequestrum) tidak mudah mencair dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Teradi pertumbuhan tulang baru (involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksis kronis yang tetap rentan mengeluarkan abses kembuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomyelitis tipe kronik. D. MANIFESTASI KLINIK Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah, menyebabkan demam dan kadangkadang di kemudian hari, menyebabkan nyeri pada tulang yang terinfeksi. Daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri. Infeksi tulang belakang biasanya timbul secara bertahap, menyebabkan nyeri punggung dan nyeri tumpul jika disentuh. Nyeri akan memburuk bila penderita bergerak dan tidak berkurang dengan istirahat, pemanasan atau minum obat pereda nyeri. Demam, yang merupakan tanda suatu infeksi, sering tidak terjadi. Infeksi tulang yang disebabkan oleh infeksi jaringan lunak di dekatnya atau yang berasal dari penyebaran langsung, menyebabkan nyeri dan pembengkakan di daerah diatas tulang, dan abses bisa terbentuk di jaringan sekitarnya. Infeksi ini tidak menyebabkan demam, dan pemeriksaan darah menunjukkan hasil yang normal. Penderita yang mengalami infeksi pada sendi buatan atau anggota gerak, biasanya memiliki nyeri yang menetap di daerah tersebut. Jika suatu infeksi tulang tidak berhasil diobati, bisa terjadi osteomielitis menahun (osteomielitis kronis). Kadang-kadang infeksi ini tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk. E. Evaluasi Diagnostik Diagnosis berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada skening tulang dengan teknetium, area yang terinfeksi menunjukkan kelainan, kecuali pada anak-anak. Tetapi hal ini tidak akan muncul pada foto rontgen sampai lebih dari 3 minggu setelah gejala pertama timbul. CT scan dan MRI juga bisa menunjukkan daerah yang terinfeksi. Tetapi pemeriksaan ini tidak selalu dapat membedakan infeksi dari kelainan tulang lainnya. Untuk mendiagnosa infeksi tulang dan menentukan bakteri penyebabnya, harus diambil contoh dari darah, nanah, cairan sendi atau tulangnya sendiri. Biasanya untuk infeksi tulang belakang,diambil contoh jaringan tulang melalui sebuah jarum atau melalui pembedahan. F. Pencegahan Sasaran utamanya adalah pencegahan osteomyelitis. Penanganan infeksi local dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak pada mengontrol erosi tulang.

Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatian terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomyelitis pascaoperasi. Antibiotika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan selama 24 jam sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptic akan menurunkan insiden infeksi superficial dan potensial terjadinya osteomyelitis. G. Penatalaksanaan Daerah yang terkena harus dimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran darah. Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, kultur darah dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifkasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh dari satu patogen. Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengontrol infeksi sbelum aliran darah ke darah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus-menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama makanan. Bila pasien tidak menunjukkan respon terhadap terapi antibiotika, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologi steril. Tetapi antibiotika dianjurkan. Pada osteomyelitis kronik, antibiotika merupakan ajuran terhadap debridemen bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal (saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen. Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead spance) atau dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan grafing dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol hematoma dan membuanng debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal selama 7 sampai8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi ini. Rongga yang dibedridemen dapat diisi dengan graft tulang konselus untuk merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah mikro ini akan meningkatkan asun darah; perbaikan asupan darah kemudian akan memungkinkan penyembuhan tulang da eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah tulang. Pustaka : http://hatakewima.blogspot.com/2011/07/osteomielitis.html http://tasalimrian.blogspot.com/2011/03/definisi-osteomyelitis-kata-kunci.html Non-infeksi Hematoma Subperiosteal Kemungkinan besar yang dimaksud disini merupakan fase dari proses penyembuhan fraktur tulang. ^^ Definisi Fraktur Fraktur adalah diskontinuitas atau terputusnya kesinambungan, sebagian atau seluruh korteks dan struktur tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Terjadinya fraktur dapat dikarenakan oleh trauma spontan maupun adanya kelemahan dari tulang akibat gangguan metabolisme (osteoporosis), tumor maupun infeksi. Fraktur tulang spontan yaitu terjadinya patah tulang akibat adanya trauma yang adekuat. Sedangkan fraktur patologis terjadi jika tulang patah didaerah yang lemah karena mengalami osteoporosis, tumor, baik itu jinak maupun ganas atau karena infeksi akibat trauma yang tidak adekuat1 Proses terjadinya fraktur Untuk mengetahui mekanisme terjadinya fraktur, harus diketahui lebih dahulu keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir. Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan memuntir dan kompresi. Trauma dapat bersifat: Trauma Langsung

Trauma langsung dapat menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan. Trauma Tidak Langsung Trauma yang dihantarkan lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.

Klasifikasi Fraktur2,3,4 1. Terbuka/ Tertutup Salah satu klasifikasi fraktur berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah, yaitu : Fraktur Tertutup Apabila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar Fraktur Terbuka Apabila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, baik fragmen tulang yang menonjol keluar (from within) ataupun benda asing dari luar masuk ke dalam luka (from without) yang memungkinkan masuk dan bertumbuhnya kuman pada luka. Menurut Gustillo, fraktur terbuka dapat dibagi menjadi: - Grade I : luka < 1cm, kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk, fraktur sederhana, transversal, oblik atau kominutif ringan, kontaminasi minimal - Grade II : luka > 1cm, kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap/ avulsi, fraktur kominutif sedang, kontaminasi sedang - Grade III : terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler. Dapat dibagi menjadi 2: a. jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/ flap/ avulsi; atau fraktur segmental/ sangat kominutif yang disebabkan trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya luka b. kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau terkontaminasi masif c. luka pada pembuluh darah arteri/ saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat jaringan lunak. Fraktur Komplit/ inkomplit Fraktur Komplit : apabila garis fraktur yang melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti yang terlihat dalam foto Fraktur inkomplit : apabila garis fraktur tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti : hairline fraktur, greenstick fraktur, buckle fraktur Menurut garis frakturnya : transversal, oblik, spiral, kompresi, avulsi Menurut Jumlah garis fraktur - Fraktur kominutif : garis fraktur lebih dari satu dan saling berhubungan - Fraktur segmental : garis fraktur lebih dari satu tetapi tidak saling berhubungan - Fraktur multipel : garis fraktur lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya Bergeser/ tidak bergeser - Fraktur undisplaced: garis fraktur komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser - Fraktur displaced: terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur Gambaran Klinis Fraktur 1. Anamnesis Keluhan Utama biasanya berupa nyeri, deformitas, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan awal, dengan memperhatikan adanya: syok, anemi atau perdarahan kerusakan organ lain faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis 3. Pemeriksaan Lokal, dengan Look (inspeksi), Feel (palpasi) dan Movement (gerakan) Look (inspeksi) : melihat adanya deformitas seperti angulasi, rotasi atau pemendekan. Feel (palpasi) : meraba, mencari daerah yang nyeri tekan, krepitasi, melakukan pemeriksaan vaskuler distal trauma, mengukur tungkai Movement (gerakan) : Mengukur Lingkup gerak sendi, kekuatan otot, sensibilitas 4. Pemeriksaan Neurologis Berupa pemeriksaan saraf sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis 5. Pemeriksaan Radiologis, dengan foto polos dan pemeriksaan radiologist lainnya. Tujuan pemeriksaan radiologis : - mempelajari gambaran normal tulang dan sendi - konfirmasi adanya fraktur

melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen dan pergerakannya menentukan teknik pengobatan menentukan fraktur baru atau tidak menentukan fraktur intraartikuler atau ekstraartikuler menentukan keadaan patologis lain dari tulang melihat adanya benda asing

Penyembuhan Fraktur5 Penyembuhan fraktur merupakan proses biologis yang sangat luar biasa. Tidak seperti jaringan lainnya, fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur merupakan dasar untuk mengobati fragmen fraktur. Proses penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi. Selain factor biologis, faktor mekanis yang penting seperti imobilisasi secara fisik fragmen fraktur sangat penting dalam penyembuhan.5 Penyembuhan fraktur pada tulang kortikal: Fase hematoma Akibat robekan pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli-kanalikuli system haversi sehingga terjadi ekstravasasi ke dalam jaringan lunak, yang menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan andosteal Terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Terbenntuk kalus eksterna yang belum mengandung tulang sehingga secara radiology bersifat radiolusen Fase pembentukan kalus Terbentuk woven bone atau kalus yang telah mengandung tulang. Fase ini merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur Fase konsolidasi Woven bone membentuk kalus primer Fase remodeling Union telah lengkap dan terbentuk tulang kompak yang berisi system haversi dan terbentuk rongga sumsum. Waktu penyembuhan fraktur, bervariasi secara individual, dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: 1. Umur penderita 2. Lokasi dan konfigurasi fraktur 3. pergesaran awal fraktur 4. vaskularisasi antara kedua fragmen 5. reduksi serta imobilisasi 6. waktu imobilisasi 7. ruangan antara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak 8. adanya infeksi 9. cairan sinovia 10. gerakan aktif dan pasif anggota gerak Pustaka : http://ichyku05.multiply.com/journal/item/4

Fisiologi pembentukan Tulang : Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6-7 minggu dan berlangsung sampai dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki daerah osifikasi, bila daerah tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas, bila tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas. Pembentukan tulang rawan terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bagian tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium berubah menjadi osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium berubah menjadi periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis yang disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) akibatnya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menyebabkan kematian pada sel-sel tulang rawan ini. Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke daerah ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang. Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki daerah epiphise sehingga terjadi pusat osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.

Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada saat yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang baru di daerah permukaan. Histologi Tulang : berasal dari material yang sama. Dari luar ke dalam kita akan dapat menemukan lapisan-lapisan berikut ini: a. Periosteum : Pada lapisan pertama kita akan bertemu dengan yang namanya periosteum. Periosteum merupakan selaput luar tulang yang tipis. Periosteum mengandung osteoblas (sel pembentuk jaringan tulang), jaringan ikat dan pembuluh darah. Periosteum merupakan tempat melekatnya otot-otot rangka (skelet) ke tulang dan berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang rusak. b. Tulang Kompak (Compact Bone) :Pada lapisan kedua ini kita akan bertemu dengan tulang kompak. Tulang ini teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit rongga dan lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan Calsium Carbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan tulang manusia dewasa lebih banyak mengandung kapur dibandingkan dengan anak-anak maupun bayi. Bayi dan anak-anak memiliki tulang yang lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih lentur. Tulang kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang tangan. c. Tulang Spongiosa (Spongy Bone) :Pada lapisan ketiga ada yang disebut dengan tulang spongiosa. Sesuai dengan namanya tulang spongiosa memiliki banyak rongga. Rongga tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula. d.Sumsum Tulang (Bone Marrow) : Lapisan terakhir yang kita temukan dan yang paling dalam adalah sumsum tulang. Sumsum tulang wujudnya seperti jelly yang kental. Sumsum tulang ini dilindungi oleh tulang spongiosa seperti yang telah dijelaskan dibagian tulang spongiosa. Sumsum tulang berperan penting dalam tubuh kita karena berfungsi memproduksi sel-sel darah yang ada dalam tubuh. Terdapat 3 hormon yang mengatur metabolisme kalsium, yaitu: (1.) 1,25-dihidroksikolikalsiferol yang merupakan hormon steroid yang dibentuk dari vitamin D. Reseptor 1,25-dihidrokolekalsiferol ditemukan di banyak jaringan selain usus, ginjal, dan tulang. Jaringan tersebut di antaranya adalah kulit, limfosit, monosit, otot rangka dan jantung, payudara, dan kelenjar hipofisis anterior. Zat ini dapat mempermudah penyerapan Ca2+ dari usus, mempermudah reasorbsi Ca2+ di ginjal, meningkatkan aktivitas sintetik osteoblas, dan diperlukan untuk klasifikasi normalmatriks. (2). hormon paratiroid (PTH) yang memobilisasi kalsium dari usus. PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang, ekskresi fosfat dalam urine dan memobilisasi Ca2+. (3.) kalsitonin yang menurunkan kadar kalsium dengan cara menghambat resorpsi tulang, dan menghambat aktivitas osteoklas secara in vitro. Ketiga hormon ini bekerja secara terpadu untuk mempetahankan kadar Ca2+ yang konstan dalam cairan tubuh. 1. ANATOMI FEMUR Femur adalah tulang terkuat, terpanjang, dan terberat di tubuh dan amat penting untuk pergerakan normal. Tulang ini terdiri atas tiga bagian, yaitu femoral shaft atau diafisis, metafisis proximal, dan metafisis distal. Femoral shaft adalah bagian tubular dengan slight anterior bow, yang terletak antara trochanter minor hingga condylus femoralis. Ujung atas femur memiliki caput, collum, dan trochanter major dan minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamen dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan kebawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea

aspera melebar ke atas dan ke bawah. Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis. Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea. Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis.

Pustaka : http://www.kotakmedis.com/?p=11 Regio Femoris Ventralis Anterior 1. M. Illiopsoas (M. Illiacus dan M. Psoas Major) Origo : superior fossa Illiaca, ala os Sacri, dam lig. Sacroiliacum anterior; discus intervertebrales dan sisi lateral vertebrae thoracales XII lumbalis V Insersi : t.i.m. psoas major, corpus femoris, inferior trochanter minor; trochanter minor Fungsi : flexi dan rotatio lateral os Coxae Inervasi : N. femoralis Arterialisasi : A. femoralis 2. M. Sartorius Origo Insersi Fungsi Inervasi Arterialisasi

: SIAS : superior fascies medialis corpus tibiae : flexi dan rotatio lateral os Coxae : N. femoralis : A. femoralis

3. M. Quadriceps Femoris (M. Rectus Femoris, M. Vastus Lateralis, M. Vastus Intermedius, dan M. Vastus Medialis) Origo : SIAI dan cekungan di superior dari acetabulum; trochanter major dan labium lateral linea aspera; permukaan anterior dan lateral corpus femoris; linea intertrochanterica Insersi : bassis patellae dan melalui lig. Patellae pada tuberositas tibiae Fungsi : flexi os Coxae dan extentio art. Genu Inervasi : N. femoralis Arterialisasi : A. femoralis o Anteromedial 1. M. Pectineus Origo : pecten os Pubis Insersi : linea pectinea Fungsi : flexi, adduksi, dan rotatio lateral os Coxae Inervasi : N. femoralis Arterialisasi : A. femoralis 2. M. Obturator Externus Origo : membrana obturatoria, tepi anterior dan inferior foramen obrturatorium Insersi : fossa intertrochanterica Fungsi : rotatio lateral os Coxae Inervasi : N. obturatorius Arterialisasi : A. femoralis 3. M. Gracillis Origo Insersi Fungsi Inervasi Arterialisasi

: corpus dan ramus inferior os Pubis : bagian superior fascies medialis corpus tibiae : adduksi os Coxae dan flexi, rotatio medial art. Genu : N. obturatorius : A. femoralis

4. M. Adductor Longus

Origo Insersi Fungsi Inervasi Arterialisasi

: bag. anterior corpus os pubis : labrium mediale linea aspera : adduksi os Coxae : N. obturatorius : A. femoralis

5. M. Adductor Brevis Origo : corpus dan ramus inferior ossis pubis Insersi : linea pectinea dan bagian superior linea aspera Fungsi : flexi dan adduksi os Coxae Inervasi : N. obturatorius Arterialisasi : A. femoralis 6. M. Adductor Magnus *pars adductoris Origo : ramus inferior os Pubis dan os Ischii Insersi : linea aspera Fungsi : flexi, adduksi, dan rotatio lateral os Coxae Inervasi : N. obturatorius Arterialisasi : A. Femoralis *pars extensoris Origo : tuber ischiadica Insersi : tuberculum adductorium Fungsi : flexi, extentio, dan rotatio medial os Coxae Inervasi : pars tibialis N. ischiadicus Arterialisasi : A. Femoralis Dorsalis 1. M. Biceps Femoris (caput longum dan caput brevis) 2. M. Semitendinosus 3. M. Semimembranosus