Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA DAN PEMULIAAN IKAN

Acara : Hipofisasi Nama : Agus Indra Jatno NIM : 09/284154/PN/11805

A. TUJUAN Mengtahui arti penting hipofisis pada ikan Memahami cara melakukan hipofisasi pada ikan Memahami faktor-faktor yang mempengaruhibkeberhasilan hipofisasi

B. CARA KERJA Alat dan Bahan 0,6% NaCl Aquabidest Larutan Alkohol Ikan Mas(Cyprinus carpio) a. Donor b. Resiplen Golok Pinset Spuilt Kapas Jarum/tusuk gigi Sentrifuge Timbangan Gelas piala

Teknis Praktikum Pemilihan Ikan donor (ikan sudah matang gonad, bukan benih, bukan ikan yang mati lebih dari 4jam)

Pengambilan kelenjar HIPOFISA

Timbang ikan, potong kepala hingga putus

Hadapkan kepela keatas, potong kepala kebawah

Bersihkan otak dengan tisu,angkat

Selaput sekitar hipofisa dibersihkan,ambil hipofisa dgn tusuk gigi

Kelenjar hipofisa dibersihkan dari cairan lainnya

Kelenjar hipofisa digerus menggunkan gelas piala

Masukkan 0,6% NaCl/Aquabidest , terus gerus

Sentrifuge cairan yang bening untuk penyuntikan

Metode Pengawetan : Metode kering (dengan larutan aseton) Metode basah (dengan larutan alcohol)

Penyuntikan : Timban ikan yang akan disuntik (dosis jantan (1/4-1/2) betina (1-1,5)) Lakukan penyuntikan dibagian inframuskulin.

C. HASIL PRAKTIKUM Pada praktikum hipofisasi ini hanya dilakukan simulasi memijahkan induk ikan secara buatan menggunakan larutan kelenjar HYPOFISA, meliputi: Pemilihan induk Jantan dan Betina mataggonad, membuat ekstrak kelenjar Hypofisa yaitu penentuan dosis hypofisa, pengambilan kelenjar hipofysa dan pembuatan larutan hipofisa serta menentukan dosis penyuntikan hypofisa dan mengetahui kematangan gonad guna dilakukan tindakan stripping untuk pemijahan buatan ataupun semi alami. Dalam praktikum ini memakai ikandonor berupa ikan mas, efektifitas ikan donor berjenis kelamin Jantan maupun Betina sebenarnya sama. Namun, sebaiknya dipilih ikan yang sudah berumur dewasa karena mempengaruhi kadar hormone didalam hipofisisnya. Perbandingan berat ikan Jantan dengan ikan Betina adalah 1,5:1 jadi berat jantan 1,5 kg dipakai untuk disuntikan hormone hipofisa ikan resipien sebanyak 1kg. Menurut Hadjamulia(1980) berat ikan donor 2x ikan resipien. Ikan resipien adalah jenis sama mempunyai berat 0,5x ikan donor. Dalam praktikum ini simulasi dosis hipofisasi dilakukan pada ikan donor 0,6kg untuk resipien seberat 0,55kg lalu dalam penyuntikan pada resipien sebesar 0,15ml bisa dilakukan sekali maupun dua kali. D. PEMBAHASAN Dalam dunia budidaya perikanan ketersediaan benih memegang peranan sangat penting. Dihabitat asli ikan dialam akan memijah secara alami apabila mendapat

rangsangan lingkungan yang tepat, sayangnya dalam lingkungan budidaya rangsangan lingkungan itu sulit diwujudkan. Rekayasa teknologi yang tepat guna memijahkan ikan yaitu metode penyuntikan kelenjar hipofiisa dari donor keikan resipien. Hal tersebut dilakukan untuk merangsang ikan agar pemijahan lebih cepat. Hipofisasi adalah menyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang ikan memijah (Susanto, 2001). Kelenjar hipofisa pada ikan terletak dibagian bawah otak kecil iakn, begitu juga pada makhluk hidup bertulang belakang memiliki kelenjar hipofisa. Kelenjar hipofisa ini ukurannya sebesar butir kacang hijau bahkan lebih kecil.

Lalu dalam aplikasi dan kenyataan dilapangan bahwa umumnya ikan donor banyak dipilih dari ikan mas. Hal ini dikarenakan ikan mas mudah dalam pengadaannya dan bersifat universal sehingga dapat digunakan untuk donor segala macam ikan

konsumsi. Menurut Sumantadinata (1981) dalam Trianasah (2009) ikan mas (Cryprinus carpio) baik segala ikan donor universal artinya dapat dipakai secara efektif pada berbagai jenis ikan baik sefamili maupun tidak sefamili. Dalam ilmu taksonomi hewan klasifikasi ikan mas sebagai berikut: Kelas Subkelas Ordo Family Genus Species : Osteichthyes :Actinophterigii :Cypriniforimes :Cyprinidae :Cyprinus : Cyprinus carpio L

Adapun dalam prakteknya, menurut Sudrajat (2010), syarat ikan donor adalah sebagai berikut: Ikan donor sudah matang kelamin. Berat induk donor sesuai atau kelipatan dosis induk ikan resipien tergantung dosis penyuntikan. Sebaiknya ikan donor berasal dari induk jantan karena relative mudah didapat dan harganya murah. Ikan donor, dalam keadaan hidup dan tidak sakit. Fungsi hipofisasi dalam perikana yaitu digunakan sebagai metoda untuk mempercepat pematangan gonad induk ikan agar berovulasi, yaitu menyuntikkancairan kelenjarhipofisa ikan donor kedalam tubuh induk ikan yang akan dipijahkan. System ini dikenal dengan system pemijahan buatan, terutama untuk memijahkan jenis-jenis ikan yang yang sulit berpijah seperti halnya tawes, lele dumbo, graskarp (IPTEK net, 2005). Akan tetapi dalam system hipofisa selaludperlukan ikan donor (ikan mas) yang harus

dikorbankan. Oleh karena itu untuk menghindari pengorbanan tersebut diBII sentral Cangkringan telah dikembangkan ikan dengan System Cangkringan yaitu system pemijahan dengan menggunakan ikan mas yang dipijahkan bersama dalam 1(satu) bak dengan induk ikan lain yang sulit berpijah. Cara tersebut digunakan untuk merangsang berpijahnya induk-induk ikan lain yang sulit berpijah walau matang gonad. Teknis praktikumnya yaitu langkah awal yang dilakukan menyiapkan alat dan bahan yang digunakan, kenudian menyiapkan ikan donor dan resipien ikan donor adalah ikan yang nantinya akan diambil hipofisanya dan didonorkan pada ikan resipien. Hadjamulia (1980) menyatakan syarat ikan donor beratnya 2x ikan resipien. Ikan

resipien adalah jenis yang sama mempunyai berat 0.5 kali ikan donor. Perbandingan berat resipien dan donor yaitu 1:1.5 dan penyuntikan dilakukan dua kali. Pada praktikum ini menggunakan ikan mas (Cyprinus carpio) baik ikan donor dan ikan resipiennya. Lalu cara pengambilan kekenjar hipofisa adalah dengan cara memotong bagian kepalanya saat ikan masih hidup yang sebelumnya dimasukkan jari ke mulut ikan agar tidak bergerak. Pemotongan ini dilakukan saat ikan masih hidup supaya didapat kelenjar hipofisa masih segar. Pemotongan kepala ini dilakukan bagian belakang openkulum. Setelah kepala terlepas daridari badan ikan. Kepala dihadapkan keatas dan mulai dipotong pada bagian nostril dengan arah tegak lurus kebawah. Pemotongan dengan arah seperti ini bertujuan agar terlihat kelenjar hipofisa dengan jelas. Setelah tulang tengkorak terbuka, maka akan terlihat otak dibawahnya terdapat kelenjar hipofisa berwarna putih dengan ukuran kecil. Otak diambil dengan tusuk gigi kemudian rongga otak dibersihkan dengan tissue agar terlihat jelas kelenjar hipofisanya. Setelah kelenjar hipofisa ini terlihat, kelenjar diambil dengan menggunakan tusuk gigi dan diletakkan didalam mortar untuk ditumbuk. Penumbukkan ini dilakukkan supaya hipofisa halus. Saat penumbukkan ini juga ditambahkan Nacl 2 ml. penambahan Nacl ini supaya larutan fisiologis agar bentuk sel dari kelenjar hipofisa tersebut tidak rusak. Kemudian larutan kelenjar hipofisasi ini dimasukkan kedalam tabung reaksi dan setrifuge selama 3 menit. Perlakuan ini bertujuan untuk menghomogenkan larutan, kemudian larutan ini didiamkan sebentar agar terbentuk 2 lapisan, yaitu endapan dan superinatannya. Setelah terpisah, larutan bening akan

disuntikkan kedalam tubuh induk resipien. Penyuntikkan ini dilakukan dibawah sirip

punggung bagian depan karena merupakan area dekat dengan otak yang merupakan area penerima frangsang(hipotalamus) yang disebut juga senagai master of glands yaitu pengaturan semua kelenjar. Cara penyuntikan dilakukan dengan cara mengangkat sedikit sisik kemudian dimasukkan jaruh suntik sampai menembus dagingnya. Ekstrak hipofisa ini yang disuntikkan sebanyak 1 ml. Dosis penyuntikan pada ikan betina 1-1.5dosis. Dan pada ikan jantan sekitar 1/2. Contoh perhitungannya yaitu pada donor betina ikan yang akan disuntik disuntikan(resipient) yang memiliki beraat 1kg maka banyaknya kelenjar hipofisa dari ikan donor beratnya 1.5kg, begitu pula pada donor jantan. Biasanya pada setiap ekor, induk yang beratnya 1kg memiliki hipofisa yang beratnya kurang lebih 3ml. Beberapa jenih ikan seperti patin penyuntikan hormone dilakukan sebanyak 2 kali. Dimana penyuntikan ikan pertama dilakukan 25-30% sedangkan pada penyuntikan kedua sebanyak 70-75%. Sedangkan pada jenis ikan lainnya penyuntikan induk dilakukan sebanyak satu kali. Lalu selang/jeda waktu penyuntikan kedua yang dilakukan 4 -6jam setelah penyuntikan pertama. Penyuntikan induk ikan sebanyak 1 kali dilakukan sejumlah dosis yang telah ditetapkan. Prosese pertumbuhan dan perkembangan , pematangan gonad membutuhkan 9-11jam setelah penyuntikan pertama. Perilaku induk setelah disuntik ekstrak kelenjar nampak setelah 3 jam. Ovaprim merupakan hormone analog yang mengandung 20g analog salmon gonadotropin releasing hormone(sGnRH) LHRH dan 10g domperidone sejenis antidopamin. Ovaprim biasanya dibuat dari campuran ekstrak kelenjar hipofisa dan hormone mamalia, kandungan sGnRH akan menstimulus pitiutari untuk mensekresi GTH I dan GTH II. Sedangkan antidopamin menghambat hipotalamus dalam mensekresi dopamine yang memerintahkan pituitary menghentikan sekresi GTH I dan GTH II. Kegunaan ovaprim sangat beragam diantaranya mempengaruhi hipofisis menstimulus pituitary, menekan musim peminjahan, mengatur kematangan gonad selama musim pemijahan normal, mempertahankan materi genetic pada beberapa ikan yang terancam punah dan sebagainya. Kelebihan teknik hipofisasi yaitu menurut Kai(1990) menyatakan penyuntika kelenjar hipofisasi akan memberikan respon dan menyebabkan ikan memijah antara 7-

11jam. Hormon yang berperan menurut Picton(1957) gonadotropin yaitu LH dan FSH. Hormon tersebut dihasilkan oleh kelenjar Adenotipofisa yang akan merangsang prosese pemasakan ovulasi yang pada akhirnya merangsang induk betinauntuk memijah. Kelebihan lainnya penggunaan hormone hipofisa relative lebih aman karena bersifat alami disbanding hormone ynag terbuat dari bahan kimia. Hingga system hipofisasi memunculkan berbagai rekayasa pemijahan buatan seperti system cangkringan.

Kekurangn metode hipofisasi diantaranya keterbatasan pembenihan ikan secara buatan membutuhkan ekstrak cost karena diperlukan alat dan bahan serta harus emiliki keterampilan yang baik, kekurangan lain adanya kemingkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan bukan sejenis, kemungkinan penularan penyakit, atau adanya hormone-hormon lainyang mungkin merubah atau menghilangkan pengaruh hormone gonadotropin. Kelebihan dari teknik hormone ovaprim yaitu memaksimalkan potensi reproduksi sebagai perangasng ikan untuk memijah merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan, serta mempersingkat periode pemijahan. Kekurangan yang ada adalah bersifat tidak aman bagi ikan yang sensitive terhadap obat-obatan dikarenakan hormone terbuat dari bahan kimia. Dan merupakan sama-sama pemijahan buatan maka perlu extra cost dalam berkelanjutan dan teknisi yang handal untuk selanjutnya. E. KESIMPULAN Hipofisasi adalah suatu metode untuk mempercepat pematangan gonad, induk ikan agar berovulasi, yaitu menyuntikan cairan kelenjar, hipofisa ikan donor kedalam tubuh yang akan dipijahkan terutama untuk memijahkan jenis-jenis ikan yang sulit berpijah (tawes, lele, graskap).Cara-cara melakukan hipofisasi pada ikan : pemiihandonor (meliputi: ikan sudah matang gonad, bukan benih, bukan ikan mati, berasal dari sejenis). Pengambilan hipofisa(timbang ikan, kepala dipisahkan dengan dipotong, angkat otak, ambil hipofisa dengan tusuk gigi), membuat ekstrak hipofisasi (masukkan hipofisa dalam mortar, tumbuk hingga halus, tambahkan Nacl 2 ml setrifuge 3 menit, supernatant (jernih) diambil, dosis bisa disuntikkan sekali atau dua kali, penyuntikan pertama 20-25%, kedua 70-75% penyuntikan pertama.

Faktor keberhasilan:Tergantung dari proses pematangan akhir oosit. Oosit yang telah mendapatkan rangsangan hormone yang sesuai akan siap diovulasikan. Rendahnya hormone gonadotropim yang masuk dalam darah menyebabkan kemampuan hormone gonadotropis untuk mengovulasikan telur sangat terbatas. (Muhammad, etal. 2003). DAFTAR PUSTAKA Kay, I.1998.Introduction of Animal physiology. Bion Scientific Publisher Ltd. Canada

Muhammad, H. Sanusi, dan I. Ambas. 2003. Pengaruh Donor dan Oasis Kelenjar Hipfisasi Terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Betok (Anabas Testudinews) Bloch. J. Sains & Teknologi vol 3 (3):87-94. Picktord, A. 1957. General Zoology Calude. The Mac Millan Publishing Company, New York. Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Sastra Budaya Bogor. Susanto, H. 1996.Budidaya Kodok Unggul. Swadaya. Jakarta.