P. 1
Statistik Daerah Prov. Papua Barat 2011

Statistik Daerah Prov. Papua Barat 2011

|Views: 4,705|Likes:
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat on Dec 29, 2011
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

09/04/2013

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT 2011

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT 2011

ISSN : 2089-1938 No. Publikasi : 91300.11.07 Katalog BPS : 1101002.91 Ukuran Buku : 17.6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : vi + 82 halaman Naskah : Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat Gambar Kulit : Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat Diterbitkan Oleh : Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat Boleh dikutip dengan menyebutkan Sumbernya

Kata Pengantar
Publikasi Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2011 diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat berisi berbagai data dan informasi terpilih seputar Provinsi Papua Barat yang dianalisis secara sederhana untuk membantu pengguna data memahami perkembangan pembangunan serta potensi yang ada di Provinsi Papua Barat. Publikasi yang diharapkan menjadi ikon baru Badan Pusat Statistik ini mengemas isu-isu terkini perkembangan pembangunan yang ditampilkan dalam bentuk lebih informatif. Publikasi Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2011 diterbitkan untuk melengkapi publikasi-publikasi statistik yang sudah terbit secara rutin setiap tahun. Berbeda dengan publikasi-publikasi yang sudah ada publikasi ini lebih menekankan pada analisis. Materi yang disajikan dalam Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2011 memuat berbagai informasi/indikator terpilih yang terkait dengan pembangunan di berbagai sektor di Provinsi Papua Barat dan diharapkan dapat menjadi bahan rujukan/kajian dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan pembangunan. Kritik dan saran konstruktif berbagai pihak kami harapkan untuk penyempurnaan penerbitan mendatang. Semoga publikasi ini mampu memenuhi tuntutan kebutuhan data statistik, baik oleh instansi/dinas pemerintah, swasta, kalangan akademisi maupun masyarakat luas.

Manokwari, Oktober 2011 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat,

Ir. Tanda Sirait, MM.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

ii

Statistik Kunci
No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 20 21 22 23 24 25 26 Jumlah penduduk Jumlah penduduk 1 thn keatas yang bekerja 5 Jumlah penganggur Jumlah A ngkatan kerja TP A K TP T P ersentase pekerja di sekto r fo rmal Laju inflasi Ekspo r (juta) Impo r (juta) P ertumbuhan Eko no mi P DRB A DHB (juta) P DRB A DHK (juta) P DRB per Kapita (juta) Nilai Tukar P etani (NTP ) Jumlah P enduduk miskin (ribu) P ersentase penduduk miskin angka partisipasi seko lah 7-1 tahun 2 angka partisipasi seko lah 1 5 tahun 3-1 angka partisipasi seko lah 1 8 tahun 6-1 A ngka Harapan Hidup Rata-rata lama seko lah A ngka melek huruf P aritas Daya B eli (P P P ) (ribu) IP M Rata-rata pengeluaran per kapita

Uraian

Satuan
o rang o rang o rang o rang persen persen persen persen rupiah rupiah persen rupiah rupiah rupiah persen o rang persen persen persen persen tahun tahun persen rupiah persen rupiah

2008
729 962 295 223 24 452 31 675 9 68.1 5 7.65 28.38 20.06 6 787 1 64.93 9 506 930.83 7.84 1 975 1 3 26.50 6 399 528.24 1 9.69 1 06.24 246.50 35.1 2 93.1 8 88.75 57.53 67.90 7.67 92.1 5 593.1 3 67.95 346 929

2009
743 860 305 1 77 24 944 330 1 21 68.52 7.56 28.78 5.22 5 835 533.25 8 523 592.2 7.02 1 21 1 7 4 37.63 6 848 555.91 23.40 1 04.98 256.84 35.71 93.35 88.59 57.95 68.20 8.01 92.34 595.28 68.58 444 426

2010
760 422 31 547 6 26 341 342 888 69.29 7.68 32.61 6.25 8 1 540.03 90 9 421284.56 26.82 22 527 364.81 8 685 647.99 29.62 1 03.05 256.25 34.88 94.04 89.95 58.98 68.51 8.21 93.1 9 596.08 69.1 5 498 338

Catatan: 1. Berdasarkan Proyeksi SUPAS 2005-2015 2. Kondisi bulan Agustus (Sakernas) 3. Angka inflasi Papua Barat dihitung mulai 2008 4. Data tahun 2007 belum tersedia 5. Termasuk ekspor dan impor antar provinsi

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

iii

Penjelasan Teknis
 Daerah administrasi adalah wilayah administrasi yang sudah memiliki dasar hukum yang sah menurut Departemen Dalam Negeri.  Desa pesisir/tepi laut adalah desa/kelurahan termasuk nagari atau lainnya yang memiliki wilayah yang berbatasan langsung dengan garis pantai/laut (atau merupakan desa pulau).  Desa bukan pesisir adalah desa/kelurahan termasuk nagari atau lainnya yang tidak berbatasan langsung dengan laut atau tidak mempunyai pesisir.  Kepadatan Penduduk adalah jumlah penduduk di suatu daerah dibagi dengan luas daratan daerah tersebut, biasanya dinyatakan sebagai penduduk per Km2.  Laju pertumbuhan penduduk adalah rata-rata tahunan laju perubahan jumlah penduduk di suatu daerah selama periode waktu tertentu.  Angkatan Kerja adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau sementara tidak bekerja, dan yang sedang mencari pekerjaan.  Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja.  Tingkat Pengangguran Terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja.  Angka Kematian Bayi adalah probabilita bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun, dinyatakan dalam per seribu kelahiran.  Angka Kematian Balita adalah probabilita bayi meninggal sebelum mencapai usia lima tahun, dinyatakan dalam per seribu kelahiran.  Angka Harapan Hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur.  Angka Reproduksi Neto adalah rasio bayi wanita yang hidup sampai usia ibunya dikalikan dengan angka reproduksi bruto.  Angka Kelahiran Total adalah setiap wanita di Indonesia secara hipotesis akan melahirkan anak hingga masa berakhir reproduksinya (15 – 49) tahun.  Angka Melek Huruf Dewasa adalah perbandingan antara jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis, dengan jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas.  Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah perbandingan antara jumlah penduduk kelompok usia sekolah (7-12 th; 13-15 th; 16-18 th) yang bersekolah terhadap seluruh penduduk kelompok usia sekolah (7-12 th; 13-15 th; 16-18 th). Bersekolah adalah mereka yang perlu mengikuti pendidikan di jalur formal (SD/MI, SMP/MTs, SMA/ SMK/MA atau PT) maupun non formal (paket A, paket B atau paket C).
STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011 iv

 IPM adalah indeks komposit dari gabungan 4 (empat) indikator yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per kapita.  Industri Pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih kepada pemakai akhir.  Angka Koefisien Gini adalah ukuran kemerataan pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas pendapatan. Angka koefisien Gini terletak antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nol mencerminkan kemerataan sempurna dan satu menggambarkan ketidakmerataan sempurna.  Garis kemiskinan adalah besarnya nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan nonmakanan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk tetap berada pada kehidupan yang layak.  Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masingmasing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.  Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin

tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.  Indeks Harga Konsumen adalah angka/indeks yang menunjukkan perbandingan relatif antara tingkat harga (konsumen/eceran) pada saat bulan survei dan harga tersebut pada bulan sebelumnya.  Inflasi adalah indikator yang dapat memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.  Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.  Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu.  Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita adalah Produk Domestik Regional Bruto dibagi dengan penduduk pertengahan tahun.  PDRB Harga Berlaku adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun.  PDRB Harga Konstan adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

v

Daftar Isi
Kata Sambutan Kata Pengantar Statistik Kunci Penjelasan Teknis Daftar Isi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Geografi dan Iklim Pemerintahan Penduduk Ketenagakerjaan Pendidikan Kesehatan Perumahan dan Lingkungan Pembangunan Manusia Pertanian Pertambangan dan Energi 1 4 7 15 23 27 31 34 40 43 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Industri Pengolahan Konstruksi Hotel dan Pariwisata Transportasi dan Komunikasi Perbankan dan Investasi Harga-harga Pengeluaran Penduduk Perdagangan Pendapatan Regional Perbandingan Regional i ii iii v vi 46 48 49 53 56 57 63 66 67 71 77

Lampiran Tabel

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

vi

GEOGRAFI DAN IKLIM
Teluk Bintuni Wilayah Terluas di Papua Barat
Berdasarkan Permendagri Nomor 6 Tahun 2008, diantara 11 Kabupaten/kota di Papua Barat, Kabupaten Teluk Bintuni memiliki luas wilayah terluas yaitu 21,48 persen.

1

Gambar

Provinsi Papua Barat terletak pada bagian kepala burung Pulau Papua. Secara geografis letak Provinsi Papua Barat berada di daerah sekitar ekuator, yaitu tepatnya pada koordinat 0º,0” hingga 4º,0” Lintang Selatan dan 124º,00” hingga 132º’0” Bujur Timur. Provinsi Papua Barat memiliki 1.945 buah pulau dan menjadikannya sebagai provinsi dengan jumlah pulau terbanyak kedua di Indonesia. Batas-batas wilayah Provinsi Papua Barat adalah: Utara: Samudera Pasifik Selatan: Laut Banda dan Provinsi Maluku Barat: Laut Seram dan Provinsi Maluku Timur: Provinsi Papua Provinsi Papua Barat adalah provinsi ke 31 di Indonesia. Provinsi Papua Barat dimekarkan dari Provinsi Papua berdasarkan UU No. 45 Tahun 1999. Dan berdasarkan Inpres No. 1 tahun 2003 provinsi ini bernama Irian Jaya Barat. Kemudian sejak 6 Februari 2007 resmi bernama Provinsi Papua Barat. Pada awal pemekarannya, Provinsi Papua Barat hanya terdiri dari Kabupaten Fakfak, Kabupaten Sorong, Kabupaten Manokwari, dan Kota Sorong. Wilayah tersebut sekarang terbagi kedalam wilayah administrasi yang terdiri dari 10 (sepuluh) kabupaten dan 1 (satu) kota, atau terjadi penambahan tujuh kabupaten sejak pemekaran wilayah. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 tahun 2008 luas wilayah Provinsi Papua Barat adalah 97.024,37 Km2. Wilayah terluas adalah Kabupaten Teluk Bintuni (21,48%) dan wilayah terkecil adalah Kota Sorong (0,68 %).

1.1

Peta Wilayah Provinsi Papua Barat

Gambar

1.2

Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota 2010
Teluk Wondama 4.08

Teluk Bintuni 21.48

Kaimana 16.74

Manokwari 14.69

Fakfak 11.37

Kota Sorong 0.68 Maybrat 5.63

Sorong Selatan 4.07 Tambrauw 5.34 Raja Ampat 8.28 Sorong 7.64

Sumber: Permendagri No. 6 Tahun 2008

TAHUKAH ANDA ?
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau, dimana lebih dari 10 persen pulaunya berada di Provinsi Papua Barat.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

1

1

GEOGRAFI DAN IKLIM
Lebih dari Sembilan Bulan Diguyur Hujan
Kabupaten Sorong di tahun 2010 memiliki curah hujan yang tertinggi (4.306,00 mm/hari) dan 286 hari hujan atau selama lebih dari Sembilan bulan diguyur hujan.

Gambar

1.3

Persentase Desa/Kelurahan Berdasarkan Topografi Wilayah 2011

Topografi wilayah Provinsi Papua Barat terdiri dari 7,95 persen puncak; 18,73 persen berada di
Bukan Pesisir Pesisir

Hamparan Lembah Lereng Puncak

lereng bukit maupun gunung; dan 16,31 persen berada di lembah. Wilayah lain lebih dari setengahnya berada di daerah hamparan. Seluruh wilayah kabupaten/kota di Papua Barat berbatasan dengan laut, namun hanya 37,04 persen desa yang berada di daerah pesisir.

62.96

57.01

16.31

Wilayah desa lainnya tidak berbatasan dengan laut
37.04

18.73
7.95

(bukan pesisir), yaitu sebesar 62,96 persen. Suhu udara rata-rata di Provinsi Papua Barat berada pada kisaran 22,40º–33,40º Celcius dengan suhu udara minimum dan maksimum berada di Kabupaten Manokwari. Perbedaan suhu ekstrim tersebut karena sebagian wilayah Kabupaten Manokwari berada di daerah pesisir dan pegunungan. Sementara kelembaban udara bervariasi antara 83,0085,60 persen. Curah hujan di Provinsi Papua Barat bervariasi. Curah hujan terendah tercatat 1581,00 mm/tahun berada di Kabupaten Manokwari, sedangkan curah hujan dan hari hujan tertinggi berada di Kabupaten Sorong yaitu 4.306,00 mm/tahun dan 286 hari hujan. Hari hujan terendah berada di Kabupaten Manokwari yaitu 219 hari. Sedangkan Kabupaten Kaimana yang memiliki curah hujan tertinggi kedua (4.041 mm/tahun)

Sumber: Sensus Potensi Desa (PODES), 2011 (angka sementara)

Tabel

1.1

Keadaan Iklim menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat 2010 Uraian Minimum
22,40 83,00 993,35 1 581,00 219,00 25,33

Maksimum
34,40 85,60 1 008,80 4 306,00 286,00 135,74

Suhu Udara Rata-rata Rata-rata Kelembaban Udara Rata-rata Tekanan Udara Curah Hujan Hari Hujan Rata-rata Penyinaran Matahari

Sumber: Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kab/Kota, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Di Pegunungan Lina, Kampung Iranmeba, Distrik Didohu, Kabupaten Manokwari telah ditemukan sebuah gua yang diperkirakan memiliki panjang 2000 meter, dan di klaim sebagai gua terpanjang di dunia.

justru mempunyai hari hujan yang terendah kedua di Provinsi Papua Barat, yaitu sebanyak 220 hari. Fenomena tingginya curah hujan dengan jumlah hari hujan yang rendah mengandung arti hujan yang terjadi di Kabupaten Kaimana memiliki frekuensi yang rendah namun dengan volume tinggi atau hujan deras.

2

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

GEOGRAFI DAN IKLIM
Banjir Bandang di Wasior Telan Banyak Korban Jiwa
Bencana alam banjir yang terjadi di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama yang terjadi pada tanggal 4 Oktober 2010 sedikitnya menelan 169 orang meninggal dunia dan 118 orang dinyatakan hilang.

1

Sebuah bencana besar terjadi di Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama, pada tanggal 4 Oktober 2010. Peristiwa terjadi pada pukul 07.00 WIT. Diawali dengan hujan deras yang terus menerus turun dalam beberapa hari. Air bah yang turun dari bukit mengalir deras dan mencapai ketinggian tiga meter menghancurkan rumah warga dan fasilitas umum. Sebenarnya daerah yang terkena dampak langsung banjir bandang meliputi tiga kecamatan/distrik, yaitu Distrik Wasior, Distrik Rasiey, dan Distrik Wondiboy. Oleh kepala Negara, bersama dengan bencana Tsunami di Mentawai (Sumatera Barat), di waktu yang hampir bersamaan, banjir bandang di Wasior ditetapkan sebagai bencana nasional. Jumlah Nasional korban bencana menurut yaitu Badan 169
Kerugian Akibat Gempa Meninggal Hilang Luka berat Luka ringan Mengungsi Bangunan hilang Bangunan rusak berat Bangunan rusak sedang Bangunan rusak ringan Kerugian material (miliar) Jumlah
169 118 105 3 374 9 016 477 256 250 258 208,6 Sumber: Image Google

Tabel 1.2 Jumlah Korban Bencana Banjir Bandang Wasior, Kabupaten Teluk Wondama (4 Oktober 2011) Satuan
jiwa jiwa jiwa jiwa unit unit unit unit unit rupiah

Penanggulangan

Bencana

meninggal dunia, 118 orang dinyatakan hilang. Sedangkan korban luka berat mencapai 105 orang dan korban luka ringan sebanyak 3.374 orang. Total warga yang mengungsi diperkirakan mencapai sekitar 9.016 orang. Para pengungsi tersebar ke beberapa daerah yaitu Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Nabire (Provinsi Papua) selain beberapa kecamatan lain di Teluk Wondama yang dianggap aman. Kerugian secara fisik bangunan, baik itu bangunan rumah, perkantoran, maupun fasilitas umum tercatat 477 bangunan dinyatakan hilang, 256 bangunan rusak berat, 250 bangunan rusak sedang, dan 258 bangunan rusak ringan. Sementara itu, total kerugian materi akibat banjir bandang diperkirakan mencapai 208,6 miliar rupiah.

Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Kerugian akibat Banjir Bandang Wasior mencapai Rp. 208,6 miliar, dan diperkirakan akan menghabiskan dana Rp. 370,4 miliar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

3

2

PEMERINTAHAN
Pemilukada Gubernur Pertama di Papua Barat
Pemerintah Provinsi Papua Barat akan melaksanakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Gubernur dan Wakil Gubernur pertama kali di tahun 2011.

Gambar

2.1

Lambang Daerah Provinsi Papua Barat

Provinsi Papua Barat Selama tahun 2006-2011 dipimpin oleh pasangan Brigjen Marinir Purn. Abraham O. Atururi dan Drs. Rahimin Katjong, M.Ed sebagai gubernur dan wakil gubernur (wagub). Dalam sejarah pemilihan gubernur dan wagub pertama tersebut, pasangan ini belum dilipih secara langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada). Ditahun 2011 ini Provinsi Papua Barat baru akan melaksanakan pemilukada gubernur dan wagub yang pertama pada tanggal 9 November 2011. Meskipun pada tanggal 20 Juli 2011 lalu telah dilaksanakan

Tabel

2.1

Perbandingan Otonomi Khusus Papua dengan Otonomi Daerah di Indonesia
Perbandingan Otonomi Khusus Papua Otonomi Daerah Biasa Sama Hanya DPRD Tk. Provinsi dan tidak ada MRP Sama Hanya terdapat Lembaga Peradilan biasa

pemilukada, namun karena terjadi permasalahan maka hasil pemilukada tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam pemilukada nanti akan diikuti oleh empat pasangan calon gubernur dan wagub. Keempat pasangan calon tersebut adalah Abraham O. Atururi dan Rahimin Katjong, George Celcius Auparay dan Hasan Ombaier, Wahidin Puarada dan Herman Orisoe, serta Dominggus Mandacan dan Origenes Nauw. Sepanjang tahun 2010 lalu, di Provinsi Papua Barat telah menggelar perhelatan akbar demokrasi dengan terlaksananya pemilukada bupati dan wakil bupati di tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Manokwari (5 November 2010), Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat (dilaksanakan serentak pada tanggal 30 Agustus 2010). Sementara itu, di tahun 2011 digelar pula pemilukada di Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Tambrauw.

No. 1 2 3 4

Pemerintahan (Eksekutif) Sama Badan Legislatif Tk Provinsi Badan Legislatif Tk Kabupaten Badan Yudikatif Terdiri dari DPRP dan Majelis Rakyat Papua (MRP) Sama Terdiri dari Lembaga Adat dan Lembaga Peradilan biasa

►► CATATAN:
Otonomi Khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua dan Papua Barat untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua.

TAHUKAH ANDA ?
Pemilukada Gubernur pertama di Papua Barat dilaksanakan pada tanggal 9 November 2011 dengan menampilkan empat calon pasangan gubernur dan wakil gubernur.

4

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PEMERINTAHAN
Perkembangan Pemekaran Wilayah Sangat Pesat
Selama dua tahun terakhir terjadi perkembangan pemekaran wilayah administrasi yang sangat pesat, khususnya pada wilayah administrasi kecamatan, desa, dan kelurahan. Dalam kurun waktu tersebut terjadi penambahan 28 kecamatan, 125 desa, dan 21 kelurahan.

2

Tabel

Berbeda dengan hampir seluruh provinsi di Indonesia yang pengaturan wilayahnya berdasarkan UU Otonomi Daerah, Provinsi Papua Barat bersama dengan Provinsi Papua dan Provinsi NAD pengaturan daerahnya dengan UU Otonomi Khusus (Otsus). Secara khusus pemerintahan di tanah Papua (Papua dan Papua Barat) diatur dalam UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. Di tahun 2010 jumlah wilayah administrasi Provinsi Papua Barat meliputi 10 kabupaten dan 1 kota, 162 kecamatan, 1.349 desa, serta 72 kelurahan. Dalam dua tahun terakhir, perkembangan wilayah administrasi ditandai dengan pemekaran wilayah kecamatan (distrik), kelurahan, dan desa (kampung) yang relatif cepat. Semula di tahun 2008 jumlah kecamatan adalah 134 kecamatan, kemudian terjadi pemekaran wilayah hingga menjadi 154 kecamatan di tahun 2009, dan di tahun 2010 jumlahnya meningkat menjadi 162 kecamatan. Selama 2008-2010 jumlah kecamatan meningkat sebanyak 28 kecamatan. Pemekaran wilayah yang cukup pesat juga terjadi pada jumlah kelurahan. Selama tahun 20082010 jumlahnya meningkat sebanyak 21 kelurahan. Pemekaran wilayah desa lebih dahsyat dibandingkan dengan pemekaran wilayah kecamatan maupun kelurahan. Perkembangan pemekaran wilayah desa meningkat dari 1.224 desa di tahun 2008 menjadi 1.349 desa di tahun 2010, atau terjadi peningkatan sebanyak 125 desa dalam kurun waktu dua tahun. Jumlah seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Papua Barat berjumlah 29.417 orang dengan

2.2

Pembagian Daerah Administrasi menurut Kabupaten/Kota 2010
Ibukota Fakfak Kaimana Rasiey Bintuni Manokwari Teminabuan Aimas Waisai Fef Kumurkek Sorong Manokwari Kecamatan 9 7 13 24 29 13 19 24 7 11 6 162 154 134 Desa 120 84 75 115 412 117 128 117 53 128 1 349 1 293 1 224 Kelurahan 5 2 1 2 9 2 15 4 1 31 72 68 51

Kabupaten/Kota Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong Papua Barat 2010 PB 2009 PB 2008

Sumber: Pemda Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Barat, 2010

Gambar

2.2

Persentase PNS Kabupaten/Kota/Provinsi dan Persentase PNS menurut Jenis Kelamin 2010

Manokwari Sorong Fakfak Kota Sorong Sorong Selatan Raja Ampat T Wondama Kaimana T Bintuni Prov PB Maybrat Tambrauw 1.17 1.10 5.74 5.68 5.30 4.67
41.29

18.18 17.66 13.71 12.47 7.51 6.80

58.71

Laki-laki Perempuan

Sumber: Badan Kepegawaian Nasional, Jayapura (Papua), 2010

TAHUKAH ANDA ?
Besarnya Dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2011 yang dikucurkan di Provinsi Papua Barat mencapai sebesar Rp. 1,35 Trilyun.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

5

2

PEMERINTAHAN
Mayoritas PNS berpendidikan SLTA
Berdasarkan data Badan Kepegawaian Nasional, tingkat pendidikan tertinggi PNS di Papua Barat 42,70 persen berpendidikan SLTA, sedangkan yang berpendidikan sarjana dan diploma hanya 27,28 persen dan 24,08 persen

Gambar

2.3

Persentase PNS Pemda menurut Tingkat Pendidikan 2010

rincian 17.270 orang (58,71%) berjenis kelamin lakilaki dan 12.147 orang (41,29%) berjenis kelamin perempuan. Dilihat dari komposisinya terlihat bahwa jumlah PNS laki-laki jauh lebih banyak dibandingkan

42.70

24.08

dengan PNS perempuan. Hal ini memberikan informasi bahwa kesetaraan gender dalam pemerintahan di Provinsi Papua Barat belum menunjukkan kemerataan. Distribusi persentase PNS menurut kabupaten/ kota/provinsi tercatat Kabupaten Manokwari memiliki

27.28

3.71 2.23 SD SLTP SLTA Diploma Sarjana

PNS yang terbanyak yaitu sebesar 18,18 persen. Kabupaten Manokwari sebagai ibukota provinsi dan pusat pemerintahan membutuhkan SDM yang lebih banyak dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya. Sedangkan Kabupaten Tambrauw memiliki distribusi terkecil dalam ketersediaan PNS yaitu 1,10 persen. Dari sisi pendidikan PNS, sebagian besar PNS berpendidikan SLTA (42,70%), sedangkan PNS dengan pendidikan SLTA keatas masing-masing sebesar 24,08 persen berpendidikan diploma dan 27,28 persen berpendidikan sarjana. Peta perpolitikan di Provinsi Papua Barat menunjukkan tidak ada dominasi partai tertentu yang duduk dalam kursi anggota DPRD. Tiga fraksi terbesar yang menduduki kursi DPRD yaitu Fraksi Kedaulatan Rakyat dan Fraksi Golkar masing-masing mendapatkan jatah 9 kursi, sedangkan Fraksi PDIP

Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Papua Barat, 2010

Gambar

2.4

Jumlah Anggota DPRD Kabupaten/Kota/Provinsi menurut Jenis Kelamin 2010

Prov Papbar
Kota Sorong

Maybrat
Raja Ampat

Sorong
Sorong Selatan

Manokwari
Teluk Bintuni

Teluk Wondama
Kaimana

Fakfak

0

10
Laki-laki

20

30

40

50

Perempuan

Sumber: Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Persentase perempuan yang duduk dalam kursi DPRD Kabupaten/Kota/Provinsi di Papua Barat hanya 10,53 persen.

menduduki 8 kursi. Bila dilihat dari sisi gender, jumlah perempuan yang duduk di kursi DPRD relatif rendah, yaitu 10,53 persen dari total kursi di DPRD kabupaten/ kota/provinsi. Hal ini mengandung arti ketimpangan gender masih terjadi dalam berpolitik.

6

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDUDUK
Jumlah Penduduk Papua Barat Terkecil di Indonesia
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 jumlah penduduk Papua Barat adalah sebesar 760.422 jiwa yang terdiri dari 402.398 penduduk laki-laki dan 358.024 penduduk perempuan.Jumlah ini merupakan jumlah penduduk provinsi terkecil di Indonesia

3

Gambar

Dinamika penduduk memiliki karakteristik yang berbeda pada setiap daerah. Namun dinamika tersebut selalu merupakan akibat dari perubahan pola fertilitas, mortalitas, dan migrasi penduduk. Demikian pula dengan dinamika penduduk di Provinsi Papua Barat. Sejak pertama kali dilaksanakan Sensus Penduduk tahun 1971, penduduk Papua Barat mengalami perkembangan dengan pola tertentu. Penduduk Papua Barat terus mengalami pertumbuhan dengan pola kurva mirip distribusi logistik. Dalam sejarahnya, pada tahun 1971 Provinsi Papua Barat masih tergabung dalam Provinsi Papua dan hanya terdiri dari tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Fakfak, Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Sorong dengan total jumlah penduduk hanya mencapai 221.457 jiwa. Di tahun 1980 penduduk Papua Barat meningkat menjadi 283.493 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun mencapai 2,78 persen. Kemudian di Sensus Penduduk tahun 1990, Kabupaten Sorong telah dimekarkan menjadi Kota Sorong dimana total penduduk saat itu mencapai 385.509 jiwa dengan ratarata pertumbuhan penduduk tahunan sebesar 2,38 persen. Di tahun 2000, jumlah penduduk Papua Barat meningkat cukup tajam. Dengan rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun mencapai 3,98 persen, penduduk Papua Barat meningkat menjadi 529.689 jiwa. Data paling mutahir jumlah penduduk Papua Barat diperoleh hasil dari Sensus Penduduk 2010 adalah 760.422 jiwa, terdiri dari 402.398 berjenis

3.1

Jumlah Penduduk Papua Barat 1971-2010

800
700 600

Penduduk

500 400

300
200 100

0

1971

1980

1990

2000

2005

2010

Jiwa (ribu) 221.46 283.49 358.51 529.69 688.2 760.42

Sumber: SP1971, 1980, 1990, 2000, Supas 2005, dan SP 2010, BPS

Tabel

3.1

Indikator Kependudukan Provinsi Papua Barat Tahun 2008-2010 Uraian 2008
729 962 1,95 110,44 169 439 4,31

2009
743 860 1,90 110,20 169 945 4,38

2010
760 422 2,23 112,39 168 080 4,52

Jumlah Penduduk (jiwa) Pertumbuhan Penduduk (%) Sex Ratio (%) Jumlah Rumah Tangga (ruta) Rata-rata ART (jiwa/ruta) Penduduk menurut Kelompok Umur (%)
0-14 15-64 65+

32,16 68,33 1,47

31,08 67,39 1,53

34,13 64,22 1,65

Sumber: Proyeksi Penduduk dan SP 2010, BPS

TAHUKAH ANDA ?
Jumlah penduduk Provinsi Papua Barat tahun 2010 adalah yang terkecil di Indonesia (760.422 jiwa), dengan kontribusi terhadap penduduk nasional hanya 0,32 Persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

7

3

PENDUDUK
Laju Pertumbuhan Penduduk Papua Barat Terbesar Keempat.
Laju pertumbuhan penduduk Papua Barat tahun 2000-2010 menempati urutan keempat di Indonesia, yaitu berada dibawah Provinsi Papua (5,81%), Kepulauan Riau (4,95%) dan Provinsi Kalimantan Timur (3,81%).

Gambar

kelamin laki-laki dan 358.024 berjenis kelamin

3.2

Piramida Penduduk Provinsi Papua Barat 2010

perempuan. Jumlah tersebut adalah penduduk dari sepuluh kabupaten dan satu kota dengan rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun 3,71 persen terhadap jumlah penduduk Papua Barat tahun 2000. Jumlah penduduk Papua Barat tersebut menjadikannya sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terkecil di Indonesia, kontribusinya hanya 0,32 persen terhadap total penduduk nasional. Struktur penduduk Papua Barat dilihat dari piramida penduduk tergolong dalam struktur penduduk

75+ 70-74 65-69 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19 10-14 5-9 0-4 60000 40000 20000 0 20000 40000 60000

muda. Struktur penduduk ini masih sangat dipengaruhi oleh tingginya fertilitas. Hal ini terlihat pada alas piramida penduduk yang paling lebar pada kelompok umur 0-4 tahun. Dilihat dari median umur pun semakin menguatkan bahwa komposisi penduduk muda begitu dominan. Median umur penduduk Papua Barat adalah sebesar 18,60 tahun, sejalan kondisi struktur

Perempuan

Laki-laki

Sumber: Hasil Sensus Penduduk 2010

Gambar

3.3

Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Kabupaten/Kota Tahun 2000-2010

Tambr auw Sorong Raja Ampat Fakfak T Wondama Papua Bar at Manok wari Kaimana Kota S orong May brat Teluk Bintuni Sorong Selatan

0.38 1.17 2.40

2.70 3.61 3.71 3.97 4.42 4.80 5.08 5.38 5.41

penduduk muda dimana kriteria kelompok usia muda adalah bila median umur di suatu daerah ≤ 20 tahun. Penduduk Papua Barat tahun 2010 meningkat hampir satu setengah kali lipat dari jumlah penduduk tahun 2000. Laju pertumbuhan penduduknya rata-rata mencapai 3,71 persen per tahun. Laju pertumbuhan penduduk menurut provinsi ini adalah yang terbesar keempat di Indonesia setalah Provinsi Papua (5,39%); Provinsi Kepulauan Riau (4,95%); dan Provinsi Kalimantan Timur (3,81%). Pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi ini juga dipengaruhi tingkat migrasi masuk karena mamiliki faktor penarik migran karena sumber daya alam dan prospek ekonomi.

0

2

4

6

Sumber: Sensus Penduduk 2000 dan Sensus Penduduk 2010

TAHUKAH ANDA ?
Provinsi Papua Barat memiliki rata-rata pertumbuhan penduduk terbesar keempat (3,71%) di Indonesia selama tahun 2000-2010.

8

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDUDUK
Penduduk Terbanyak Papua Barat di Kota Sorong
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 Kota Sorong menjadi wilayah terpadat di Papua Barat dengan distribusi sebesar 25,07 persen atau sekitar seperempat total penduduk Papua Barat.

3

Rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahun 2000 -2010 Kabupaten Sorong Selatan sebesar 5,41 persen per tahun adalah yang tertinggi di Papua Barat. Disamping daya tarik Kabupaten Teluk Bintuni yang kaya akan tambang menarik banyak migran

Gambar

3.4

Persentase Distribusi Sebaran Penduduk 2010

01. Fakfak 3.46 8.79 25.07 6.08 6.89 24.69 02. Kaimana

03. T Wondama
04. Teluk Bintuni 05. Manokwari 06. Sorong Selatan

berdampak pada tingginya laju pertumbuhan penduduk hingga mencapai 5,38 persen per tahun. Laju pertumbuhan penduduk terendah berada di Kabupaten Tambrauw, yakni rata-rata hanya sebesar 0,38 persen per tahun. Kabupaten termuda di Papua Barat ini memang masih sangat minim fasilitas dan sebagian besar wilayah geografisnya masih tergolong sulit. Hal ini menjadikan kabupaten tersebut lambat dalam berkembang. Sebaran penduduk Provinsi Papua Barat menurut kabupaten/kota masih dominan di dua daerah yaitu di Kota Sorong (25,07%) dan Kabupaten Manokwari (24,69%). Hampir setengah dari total penduduk Papua Barat tinggal di kedua daerah tersebut. Kota Sorong menjadi pintu gerbangnya Papua Barat dari ‘dunia luar’ karena terdapat bandar udara dan pelabuhan kapal besar sebagai pintu masuk penumpang dan barang dari dan ke Papua Barat maupun kabupaten lainnya di Papua Barat. Di lain sisi, Kabupaten Manokwari semakin padat ketika Papua Barat dimekarkan dari Provinsi Papua dan Kabupaten Manokwari ditetapkan sebagai ibukota dan pusat pemerintahan Provinsi Papua Barat. Sebagai pusat pemerintahan, Kabupaten Manokwari aktif membangun, mulai dari fasilitas pemerintahan, akses transportasi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur lainnya. TAHUKAH ANDA ?
Sumber: Luas: Permendagri No 6 Thn 2008 Penduduk: Hasil SP2010
Gambar
4.35 0.81

5.59

9.29

07. Sorong

08. Raja Ampat
4.98 09. Tambrauw 10. Maybrat 71. Sorong

Sumber: Hasil Sensus Penduduk 2010

3.5

Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat 2010

Hampir setengah penduduk Provinsi Papua Barat tinggal di Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

9

3

PENDUDUK
Sex Ratio Papua Barat Tertinggi Kedua
Sex ratio Papua Barat hasil Sensus Penduduk 2010 sebesar 112,39 persen, artinya dari 100 orang perempuan terdapat 112 penduduk laki-laki. Angka ini menjadikan Papua Barat menempati peringkat kedua sex ratio tertinggi di Indonesia.

Gambar

3.6

Rasio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2010

Jika dilihat dari kepadatan penduduknya, Papua Barat adalah provinsi dengan kepadatan terendah di Indonesia. Dengan luas 97.024 Km2 dan jumlah penduduk 760.422 jiwa, kepadatan penduduknya hanya mencapai delapan jiwa per kilometer persegi. Kepadatan penduduk tertinggi di Papua Barat berada di Kota Sorong, yaitu sebesar 290 jiwa per Km2 karena Kota Sorong memiliki luas wilayah terkecil namun jumlah penduduk terbesar di Papua Barat. Sementara kepadatan penduduk terendah berada di Kabupaten Tambrauw yaitu satu jiwa per Km2. Berdasarkan rasio jenis kelamin (sex ratio), jumlah penduduk laki-laki di Papua Barat lebih banyak

Gambar

3.7

Rasio Ketergantungan menurut Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat 2010 (%)

dari pada penduduk perempuan. Sex ratio Papua Barat adalah sebesar 112,39 persen, artinya diantara 100 orang penduduk perempuan terdapat sekitar 112 orang penduduk laki-laki. Sex ratio Papua Barat adalah yang tertinggi kedua di Indonesia setelah Provinsi

57.46

55.72

Papua (113,44%). Menurut para ahli demografi, sekitar tahun 20202030 nanti Indonesia akan mengalami Bonus Demografi. Bonus Demografi adalah sebuah kondisi dimana rasio ketergantungan mencapai nilai terendahnya. Dengan kata lain, penduduk usia produktif (15-64 tahun) berada pada jumlah yang paling maksimum. Bagaimana dengan Papua Barat?. Bila dilihat dari struktur dalam piramida penduduk, kondisi ini dapat terjadi dalam beberapa tahun ke depan, dengan syarat angka kelahiran harus dapat ditekan serendah mungkin.

54.21

Laki-laki

Perempuan

L+P

Sumber: Sensus Penduduk 2010

TAHUKAH ANDA ?
Rasio Jenis Kelamin (sex ratio) penduduk Provinsi Papua Barat tahun 2010 adalah yang tertinggi kedua di Indonesia (112,39) setelah Provinsi Papua (113,44).

10

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDUDUK
Sensus Penduduk Asli Papua Terintegrasi Dalam SP2010
Pada pertengahan tahun 2010, terintegrasi dengan kegiatan Sensus Penduduk 2010, Papua Barat telah melakukan pendataan penduduk asli papua.

3

Gambar

Rasio

ketergantungan

(dependency

ratio)

digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat mengindikasikan keadaan ekonomi suatu daerah tergolong sebagai daerah maju atau daerah sedang berkembang. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk menanggung hidup penduduk yang belum produktif dan tidak lagi produktif dan sebaliknya. Dependency ratio Papua Barat sebesar 55,72 persen, artinya dari 100 rang yang masih produktif (1564 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 5556 orang yang belum produktif (0-14 tahun) dan tidak produktif (lebih dari 65 tahun). Beban tanggungan perempuan lebih besar dari laki-laki terlihat dari rasionya yaitu 54,21 persen untuk laki-laki dan 57,46 persen untuk perempuan.

3.8

Klasifikasi Penentuan Penduduk Asli Papua di Provinsi Papua Barat 2010 (%)

Ayah ibu papua Ayah papua Ibu papua 1.6 2.12 2.28 1.67

0.49 0.08

ART non papua diangkat secara adat dengan keret papua ART non papua diangkat penduduk asli papua
ART non papua menikahi penduduk asli papua ART non papua menetap minimal 35 tahun

91.76

Sumber: Suplemen Sensus Penduduk 2010

►►CATATAN:
KRITERIA PENDUDUK ASLI PAPUA:
1. Penduduk yang kedua orang tuanya bersuku Papua. 2. Penduduk yang ayahnya Papua, tetapi ibunya Non Papua. 3. Penduduk yang ayahnya Non Papua, tetapi ibunya Papua. 4. Penduduk Non Papua yang kawin dengan penduduk Papua. 5. Penduduk Non Papua yang secara adat diangkat keret/marga Papua. 6. Penduduk Non Papua yang diangkat penduduk asli Papua. 7. Penduduk Non Papua yang sudah tinggal di Papua selama 35 tahun lebih.
Sumber: Ditetapkan dalam rapat Interdep yang digelar tanggal 3 Desember 2009 dengan berbagai pihak terkait.

Penduduk Asli Papua
Dalam momen Sensus Penduduk 2010 lalu, Papua Barat telah melakukan pendataan penduduk asli papua yang pelaksanaannya diintegrasikan didalamnya. Melalui suplemen khusus, penduduk asli papua didata untuk diketahui jumlah dan karakteristiknya. Penentuan klasifikasi siapa saja yang disebut sebagai penduduk asli papua (lihat box) ditetapkan dalam rapat dan diskusi dengan berbagai pihak terkait, seperti Disduknakertran, Ketua Dewan Adat Papua, Kepala-kepala SKPD Provinsi Papua Barat, Akademisi, Tokoh Mayarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, dan Majelis Rakyat Papua (MRP).

TAHUKAH ANDA ?
Kepadatan penduduk Provinsi Papua Barat tahun 2010 adalah yang terendah di Indonesia. Kepadatan penduduknya hanya 8 jiwa per kilometer persegi.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

11

3

PENDUDUK
Jumlah Penduduk Asli Papua Lebih Banyak
Dalam pendataan penduduk asli papua yang terintegrasi dengan kegiatan SP2010, diperoleh hasil bahwa jumlah penduduk asli papua mencapai 405.074 jiwa atau perbandingannya adalah 53,27 : 46,73 persen.

3.2

Indikator Kependuduk an Asli Papua dan Non Asli Papua di Provinsi Papua Barat 2010 Penduduk Asli Papua
405 074 208 658 196 416 53,27 106,23 16,39 64,07

Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh informasi bahwa jumlah penduduk asli papua adalah 405.074 jiwa, terdiri dari 208.658 laki-laki dan 196.416 perempuan. Dengan demikian jumlah penduduk non asli papua sudah hampir berimbang dengan penduduk asli papua dengan perbandingan 46,73 persen dan 53,27 persen. Dari 405.074 jiwa penduduk papua asli yang tinggal dalam 84.747 rumah tangga tersebut, 91,76 persen benar-benar penduduk asli papua karena memiliki ayah dan ibu papua. Sementara itu, yang hanya memiliki ayah papua atau ibu papua saja sebesar 2,28 persen dan 2,12 persen. Sedangkan sisanya kurang dari empat persen masuk kedalam kriteria nomor 4-7. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin terlihat bahwa baik penduduk asli papua maupun penduduk non asli papua, keduanya memiliki sex ratio lebih dari 100, artinya pada dua kelompok tersebut penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan. Namun demikian, sex ratio pada

Tabel

Uraian Jumlah Penduduk (jiwa) Laki-laki Perempuan Persentase Penduduk (%) Sex Ratio (%) Median Umur (th) Dependency Ratio (%)

Penduduk Non Asli Papua
355 348 193 740 161 608 46,73 119,88 20,19 47,27

Penduduk menurut kelompok umur (%) 0-14 15-64 65+ Jumlah Rumah Tangga
Sumber: Suplemen Sensus Penduduk 2010 37,30 60,95 1,75 84 747 30,57 67,90 1,53 83 333

Gambar

3.9

Persentase Penduduk Asli Papua menurut Agama Provinsi Papua Barat 2010 (%)

79.68

penduduk non asli papua jauh lebih tinggi dari penduduk asli papua. Penduduk asli papua memiliki
13.06 7.25

sex ratio 106,23 persen, sedangkan sex ratio penduduk non asli papua mencapai 119,88 persen. Tingginya sex ratio penduduk non asli papua diduga disebabkan oleh tingginya migran laki-laki yang masuk

0.01

Kristen

Islam

Katholik

Lainnya

ke wilayah Papua Barat. Sesuai dengan teori migrasi bahwa penduduk laki-laki lebih besar peluangnya untuk melakukan migrasi terutama pada migrasi jarak jauh dibandingkan dengan penduduk perempuan.

Sumber: Sensus Penduduk 2010

12

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDUDUK
Jumlah Penduduk Asli Papua Terbanyak di Manokwari
Jumlah penduduk asli papua terbesar tinggal di Kabupaten Manokwari, yaitu mencapai 107.857 jiwa atau lebih dari seperempat total pendudukasli papua .

3

Tabel

Mayoritas penduduk asli papua beragama Kristen. Persentasenya mencapai 79,68 persen. Penganut agama terbesar kedua adalah beragama Islam, persentasenya sebesar 13,06 persen. Penduduk Asli papua yang menganut agama Islam terbesar berada di Kabupaten Fakfak. Sedangkan 7,25 persen penduduk asli papua menganut agama Kristen Katholik dan hanya 0,01 persen beragama lain. Penduduk asli papua tersebar diseluruh kabupaten/kota di Papua Barat. Persentase penduduk asli papua terbesar berada di Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Tambrauw. Di kedua kabupaten tersebut persentase penduduk asli papua hampir mencapai 100 persen. Jumlah penduduk asli papua di Kabupaten Maybrat mencapai 31.772 jiwa (96,04%) dan di Kabupaten Tambrauw mencapai 5.878 jiwa (95,67%). Sementara penduduk asli papua dengan persentase terkecil berada di Kabupaten Sorong (37,38%) dan di Kota Sorong (32,56%). Meskipun memiliki persentase penduduk asli papua terkecil, Kota Sorong memiliki jumlah penduduk asli papua terbesar kedua di Papua Barat, yaitu mencapai 63.070 jiwa. Berdasarkan distribusinya, lebih dari seperempat penduduk asli papua tinggal di Kabupaten Manokwari. Jumlahnya mencapai 107.857 jiwa (26,63%). Sedangkan Kota Sorong memberikan kontribusi terbesar kedua yaitu 62.070 jiwa (15,32%). kontributor terkecil penduduk asli papua adalah Kabupaten Tambrauw yaitu 1,45 persen. Bila membandingkan struktur penduduk asli papua dengan non asli papua dari piramida penduduk,

3.3

Penduduk Asli Papua dan Non Asli Papua menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2010
Penduduk Non Persentase Penduduk Asli Asli Papua Penduduk Asli Papua (jiwa) (jiwa) Papua (%) 30 419 21 837 6 140 24 475 79 869 6 912 44 219 11 347 266 1 309 128 555 355 348 36 409 24 412 20 181 27 947 107 857 30 988 26 400 31 160 5 878 31 772 62 070 405 074 54,48 52,78 76,67 53,31 57,45 81,76 37,38 73,31 95,67 96,04 32,56 53,27

Kabupaten/Kota

Fakfak Kaimana T Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong Papua Barat

Sumber: Sensus Penduduk 2010

Gambar

3.10

Distribusi Penduduk Asli Papua menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2010 (%)

Sumber: Sensus Penduduk 2010

TAHUKAH ANDA ?
Kabupaten dengan jumlah penduduk terkecil adalah Kabupaten Tambrauw, yakni hanya mencapai 6.144 jiwa.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

13

3

PENDUDUK
Dependency Ratio Penduduk Non Asli Papua Lebih Rendah
Rasio ketergantungan atau dependency ratio penduduk non asli papua lebih rendah dari penduduk asli papua, yaitu sebesar 47,27 persen, artinya dari tiap 100 penduduk produktif hanya menanggung 47-48 orang penduduk yang tidak produktif.

Gambar

3.11
75+ 70-74 65-69 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19 10-14 5-9 0-4 30000

Piramida Penduduk Asli Papua dan Non Asli Papua Provinsi Papua Barat 2010 Penduduk Asli Papua

ternyata keduanya memiliki struktur penduduk yang sangat berbeda. Pada piramida penduduk asli papua, terlihat bahwa struktur penduduk sangat dominan oleh penduduk usia muda dimana sangat dipengaruhi oleh tingkat fertilitas yang tinggi. Hal ini terlihat dari alas piramida yang relatif lebar pada komposisi penduduk asli papua terutama pada kelompok umur 0-4 dan 5-9 tahun. Persentase penduduk belum produktif (usia 014 tahun) pada penduduk asli papua cukup tinggi, yaitu 37,30 persen, sedangkan pada penduduk non asli papua hanya 30,57 persen. Begitu pula bila

20000

10000

0

10000

20000

30000

ditinjau dari median umurnya, dimana median umur penduduk asli papua hanya 16,39 tahun, sedangkan penduduk non asli papua sebesar 20,19 tahun. Dependency ratio pada penduduk non asli papua pun jauh berbeda dari penduduk asli papua. Dependency ratio penduduk non asli papua hanya 47,27 persen, artinya 100 penduduk usia produktif hanya menanggung 47 orang yang tidak produktif. Kondisi ini jauh lebih rendah dari dependency ratio penduduk asli papua yang mencapai 64,07 persen yang berarti dari 100 orang produktif menanggung beban 64 penduduk non produktif. Rendahnya dependency ratio pada penduduk non asli papua tidak lepas dari tingginya persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai 67,90 persen, terutama disumbang oleh penduduk lakilaki. Hal ini mengindikasikan bahwa migran penduduk laki-laki sangat dominan dimana terlihat pada batang piramida penduduk pada kelompok umur tersebut relatif lebih melebar dari pada penduduk perempuan.

Perempuan

Laki-laki

Penduduk Non Asli Papua
75+ 70-74 65-69 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19 10-14 5-9 0-4 30000 20000 10000 0 10000 20000 30000

Perempuan

Laki-laki

Sumber: Suplemen Sensus Penduduk 2010

TAHUKAH ANDA ?
Rata-rata terjadi penambahan sekitar 2-3 orang penduduk setiap jam di Provinsi Papua Barat selama tahun 2000-2010.

14

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

KETENAGAKERJAAN
Peningkatan Angkatan Kerja Perlu Diwaspadai
Peningkatan angkatan kerja seiring dengan pertumbuhan penduduk terutama usia muda perlu diwaspadai karena lapangan kerja yang tercipta harus seimbang dengan kecepatan pertumbuhan angkatan kerja supaya angka pengangguran dapat ditekan.

4

Situasi ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat 2010 ditandai dengan peningkatan penduduk usia kerja. Sesuai dengan struktur penduduk Provinsi Papua Barat yang tergolong dalam struktur penduduk usia muda, maka perkembangan penduduk usia kerja (15 tahun keatas) akan tumbuh relatif cepat. Penduduk usia kerja meningkat dari 469.081 orang di tahun 2008 menjadi 494.862 orang di tahun 2010. Diantara penduduk usia kerja tersebut 44,07 persen berada pada usia muda 15-29 tahun. Angkatan kerja tahun 2010 meningkat menjadi 342.888 orang dari 330.121 orang di tahun 2009 dan 319.675 orang di tahun 2008. Pada periode 20082010, peningkatan angkatan kerja diikuti oleh peningkatan penduduk yang bekerja namun jumlah penduduk yang menganggur justru juga mengalami peningkatan. Jumlah penduduk bekerja meningkat dari 295.223 orang di tahun 2008 menjadi 316.547 orang di tahun 2010. Sementara jumlah penganggur meningkat dari 24.452 orang di tahun 2008 menjadi 26.341 orang di tahun 2010. Konsep bekerja menggunakan ketentuan The one hour criterion dari International Labour Organization (ILO), dimana konsep ini digunakan secara internasional supaya dapat diperbandingkan antar wilayah dan antar waktu. Berdasarkan kelompok umur, penduduk yang bekerja pada usia muda 15-29 tahun sebesar 32,64 persen. Sedangkan menurut jam kerja, sebanyak 64,42 persen memiliki jam kerja normal (35 jam keatas dalam seminggu).
Pengangguran Kritis (< 15 Jam) Sedang Bekerja Mencari Pekerjaan Bekerja

Gambar 4.1 Skema Ketenagakerjaan
PENDUDUK

Usia Kerja (≥15 tahun)

Bukan Usia Kerja

Angkatan Kerja

Bukan Angkatan Kerja

Pengangguran

Sekolah

Mengurus rumah Tangga

Lainnya

Mempersiapkan Usaha

Putus asa: Merasa Tidak Mungkin Mendapatkan Pekerjaan

Sudah Mempunyai Pekerjaan Tetapi Belum Mulai Bekerja

Sementara Tidak Bekerja

Setengah Pengangguran Setengah Pengangguran (15-34Jam) (< 15 Jam)

Jam Kerja Normal (≥ 35 Jam)

►►CATATAN:
Batas Usia Kerja di Beberapa Negara:

 Batas Bawah Usia Kerja:
Mesir → 6 tahun Brazil → 10 tahun Venezuela → 10 dan 15 tahun Canada dan Indonesia → 15 tahun Swedia dan USA → 16 tahun

 Batas Atas Usia Kerja:
Mesir, Malaysia dan Mexico → 65 tahun Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia → 74 tahun

 Tanpa Batas atas → Beberapa negara termasuk Indonesia

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

15

4

KETENAGAKERJAAN
Pekerja Berpendidikan Rendah Cukup Tinggi.
Persentase Penduduk yang bekerja dengan latar belakang pendidikan rendah (belum pernah sekolah/tidak tamat SD dan tamat SD) mencapai 49,16 persen. Sedangkan pekerja yang berijazah Diploma/Sarjana hanya 9,50 persen.

Tabel

4.1

Indikator Ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat 2008-2010 Satuan
orang orang orang orang persen persen orang persen persen

pengangguran

terselubung

atau

setengah

pengangguran adalah penduduk yang bekerja dengan
2009
305 117 24 944 330 121 481 799 7,56 68,52 95 055 26,98 71,22

Uraian
Bekerja Pengangguran Angkatan kerja Penduduk Usia Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Setengah pengangguran Tingkat Setengah Pengangguran (TSP) Persentase Pekerja Informal

2008
295 223 24 452 319 675 469 081 7,65 68,15 105 244 30,74 71,62

2010
316 547 26 341 342 888 494 862 7,68 69,29 104 150 30,37 67,39

jam kerja dibawah 35 jam seminggu (tidak termasuk sementara tidak bekerja). Di Papua Barat sebanyak 32,90 persen penduduk yang bekerja termasuk kedalam setengah pengangguran. Tingkat setengah pengangguran mencapai 30,37 persen. Artinya dalam setiap 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar 30 orang yang berstatus setengah pengangguran. Umumnya setengah pengangguran mempunyai produktivitas yang rendah, oleh karena itu perlu dicermati dalam melihat jumlah penduduk yang bekerja, sebab dapat terjadi absolut penduduk yang bekerja tinggi namun ternyata masih tercakup didalamnya setengah pengangguran dalam jumlah yang tinggi. Bila dilihat dari latar belakang pendidikan, persentase penduduk yang bekerja ternyata sebagian besar berpendidikan rendah. Sebesar 49,16 persen penduduk yang bekerja berlatar belakang pendidikan rendah (26,91 persen belum bersekolah/tidak tamat SD dan 22,25 persen tamat SD). Diantara penduduk yang bekerja hanya 9,50 persen yang berijazah diploma dan sarjana.

Sumber: Sakernas Agustus, 2008-2010
Gambar

4.1

Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Provinsi Papua Barat 2010

Dip/Sarjana, 9.50 SLTA, 23.02

DibawahSD, 26.91

SLTP, 18.32

SD, 22.25

Sumber: Sakernas Agustus, 2010

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menggambarkan persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang termasuk dalam angkatan kerja. TPAK Papua Barat terus mengalami peningkatan dari tahun 2007-2009. TPAK tahun 2010 meningkat menjadi 69,29 persen dari kondisi tahun 2009 dan 2008 (68,52 persen dan 68,15 persen).

TAHUKAH ANDA ?
Key Indicators of The Labour Market (KILM) terdiri atas 20 indikator ketenagakerjaan diterbitkan oleh International Labour Organization (ILO).

16

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

KETENAGAKERJAAN
TPT Kembali Meningkat
Setelah mengalami penurunan di tahun 2009 menjadi 7,56 persen, TPT Papua Barat kembali meningkat pada kondisi Agustus 2010 menjadi 7,68 persen.

4

TPAK tertinggi 2010 dicapai oleh Kabupaten Manokwari yaitu sebesar 78,78 persen. Artinya adalah dari 100 orang penduduk usia kerja sekitar 79 orang diantaranya termasuk dalam angkatan kerja.

Gambar

4.2

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2010 (%)

Fakfak KotaSorong RajaAmpat SorongSelatan PapuaBarat Sorong Kaimana TelukB intuni Maybrat TelukWondama Tambrauw Manokwari 50

54.00 62.07 62.29 66.50 69.29 70.21 72.35 75.40 76.00 76.50 77.84 78.78

Sementara TPAK terendah berada di Kabupaten Fakfak yaitu hanya mencapai 54,00 persen. Isu ketenagakerjaan yang paling mendapatkan perhatian adalah masalah kerja pengangguran. dalam menyerap Pengangguran secara ekonomi adalah produk dari ketidakmampuan pasar angkatan kerja yang tersedia. Ketersediaan lapangan kerja yang relatif terbatas tidak sanggup menyerap ’para pencari kerja’ yang senantiasa bertambah setiap tahun seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Indikator ini adalah ukuran pasar tenaga kerja yang paling banyak digunakan di seluruh dunia dalam mengukur keberhasilan ketenagakerjaan. Sesuai dengan kesepakatan internasional, pengangguran didefinisikan sebagai semua penduduk usia kerja yang pada suatu referensi waktu tidak punya pekerjaan (without work), sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (currently available for work), dan sedang mencari pekerjaan (seeking for work). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Papua Barat mengalami peningkatan dari 2008 ke 2010. TPT meningkat dari 7,65 persen di tahun 2008 menjadi 7,68 persen di tahun 2010, meskipun sempat mengalami penurunan di tahun 2009 menjadi 7,56 persen. Pengangguran 7,68 persen berarti dalam setiap 100 orang angkatan kerja terdapat 7-8 orang berstatus sebagai pengangguran.

55

60

65

70

75

80

Sumber: Sakernas Agustus, 2009

►►CATATAN:
The Key Indicators of the Labour Market (KILM)
KILM 1 : Labour Force Participation Rate KILM 2 : Employment-to-population ratio KILM 3 : Status in Employment KILM 4 : Employment by sector KILM 5 : Part-time employment KILM 6 : Hours of work KILM 7 : Employment in the informal economy KILM 8 : Unemployment KILM 9 : Youth unemployment KILM 10 : Long-term unemployment KILM 11 : Unemployment by educational attainment KILM 12 : Time-related underemployment KILM 13 : Inactivity rate KILM 14 : Education attainment and literacy KILM 15 : Manufacturing wage indices KILM 16 : Occupational wage and earning indices KILM 17 : Hourly compensation cost KILM 18 : Labour productivity and unit labour cost KILM 19 : Employment elasticities KILM 20 : Poverty, working poverty, and income distribution

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

17

4

KETENAGAKERJAAN
TPT Kabupaten Manokwari Terendah
TPT Kabupaten Manokwari sebesar 1,53 persen adalah yang terendah di Papua Barat. Sedangkan TPT tertinggi di Kota Sorong sebesar 15,72 persen.

Gambar

4.3

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat 2010 (%)

TPT menurut gender di tahun 2010 tercatat TPT laki-laki lebih baik dari pada TPT perempuan. TPT lakilaki sebesar 6,37 persen, sedangkan TPT perempuan jauh lebih tinggi mencapai 9,89 persen. Lebih

Manokwari Tambrauw Sorong Sltn

1.53

2.65
4.03 4.26 5.76 6.44

T Wondama
Sorong RajaAmpat Maybrat Teluk Bintuni Papua Barat Kaimana Fakfak Kota Sorong

rendahnya TPT laki-laki salah satunya diduga karena laki-laki yang terutama berstatus sebagai kepala rumah tangga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anggota rumah tangganya.
15.64 15.72

6.88
7.00 7.68 8.30

Masih lebih tingginya TPT perempuan menunjukkan masih belum tercapai kesetaraan gender. Perkembangan angka TPT menunjukkan perkembangan kinerja di bidang ketenagakerjaan. Semakin rendah angka TPT berarti daya serap lapangan pekerjaan terhadap pencari kerja semakin baik. Capaian TPT Kabupaten Manokwari adalah yang terendah di Papua Barat, yaitu hanya 1,53 persen. Sedangkan TPT yang masih berada diatas 10 persen atau TPT tertinggi berada di Kabupaten Fakfak (15,64 persen) dan Kota Sorong (15,72 persen). Dengan demikian maka Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) di Kabupaten Manokwari adalah yang tertinggi di Papua Barat, yaitu mencapai 98,47 persen. Artinya dari setiap 100 orang angkatan kerja maka terdapat sekitar 98 penduduk yang bekerja. Sementara TKK Kota Sorong memiliki capaian terendah di Papua Barat, yaitu hanya sebesar 84,28 persen.

0.00

3.00

6.00

9.00

12.00 15.00 18.00

Sumber: Sakernas Agustus, 2010

Gambar

4.4

Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat 2010 (%)

Manokwari Tambrauw Sorong Sltn T Wondama Sorong Raja Ampat Maybrat Teluk Bintuni Papua Barat Kaimana Fakfak Kota Sorong

98.47

97.35
95.97 95.74

94.24
93.56 93.12

93.00
92.32 91.70

84.36
84.28

75

80

85

90

95

100

Sumber: Sakernas Agustus, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Papua Barat Agustus 2010 (7,68 %) masih lebih tinggi dari TPT nasional (7,14%) pada periode yang sama.

Saat ini, isu yang sedang popular terkait dengan pengangguran adalah tentang pengangguran terdidik dan pengangguran usia muda. Hal ini tidak saja terjadi di tingkat nasional saja, namun juga terjadi di beberapa provinsi di Indonesia termasuk Papua Barat.

18

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

KETENAGAKERJAAN
Fenomena Pengangguran Terdidik
Persentase pengangguran terdidik mencapai 71,96 persen (48,09 persen SLTA dan 23,87 persen diploma/sarjana) dengan TPT terdidik sebesar 15,55 persen (14,81 persen SLTA dan 17,30 Diploma/Sarjana)

4

Gambar

Latar belakang tingkat pengangguran tertinggi para penganggur di Papua Barat ternyata berasal dari penduduk (SLTA yang terdidik. Persentase 71,96 terbesar persen pengangguran justru pada pendidikan SLTA keatas dan sarjana). Sebesar

4.5

Persentase Pengangguran menurut Pendidikan Provinsi Papua Barat 2010 (%)

SLTA, 48.09

pengangguran berasal dari latar belakang pendidikan tersebut, yaitu 48,09 persen berpendidikan SLTA dan 23,87 persen berpendidikan diploma/sarjana. Bila ditinjau dari TPT menurut pendidikan, TPT terdidik (SLTA dan sarjana) mencapai 15,55 persen atau bila dipisahkan maka TPT pendidikan SLTA mencapai 14,81 persen dan TPT untuk sarjana mencapai 17,30 persen. Ironisnya semakin rendah level pendidikan angka TPT-nya semakin rendah.
Gambar

SLTP, 11.25 SD, 8.64 Diploma/Sar jana, 23.87

DibawahSD, 8.15
Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2010

Rendahnya TPT pada level pendidikan rendah, diduga karena penduduk yang berpendidikan ini terserap pada lapangan pekerjaan di sektor pertanian di perdesaan atau sektor informal. Pada penduduk dengan pendidikan tinggi merasa bahwa ekspektasi dengan pendidikan tinggi lebih memilih-milih pekerjaan (preferensi pekerjaan) sesuai dengan bidang yang dipelajari. Tingginya angka pengangguran terdidik dapat juga disebabkan oleh kurang berkualitasnya lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan yang ada. Sehingga pasar kerja tidak dapat menyerap para pencari kerja karena tidak memenuhi kualifikasi standar yang ditetapkan oleh perusahaan atau pasar kerja. Kemungkinan lain adalah lulusan yang

4.6

TPT menurut Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat 2010 (%)

17.30 14.81

4.86 2.46 3.13

<SD

SD

SLTP

SLTA

> SLTA

Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2010

TPT SLTA 14,81 persen artinya adalah dari setiap 100 orang angkatan kerja yang berlatar belakang pendidikan SLTA sebanyak 14-15 orang diantaranya adalah pengangguran.

dihasilkan sudah jenuh atau melimpah pada jurusan pendidikan tertentu. Kemungkinan lain yang dapat mengancam pembangunan berkelanjutan adalah

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

19

4

KETENAGAKERJAAN
Tiga per Empat Penganggur Berusia Muda
Pengangguran usia muda menjadi permasalahan yang harus diwaspadai mengingat peningkatan angkatan kerja semakin cepat seiring dengan pertumbuhan penduduk usia muda. Pengangguran usia 15-29 tahun sebesar 74,19 persen (hampit tiga per empat), dengan TPT usia 15-29 tahun sebesar 15,91 persen.

Gambar

4.7
65+
60-64

Pengangguran dan Angkatan Kerja menurut Kelompok Umur Provinsi Papua Barat 2010 (jiwa)

kurang sinkronnya kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam terutama mengatasi penurunan masalah jumlah ketenagakerjaan,

Penganggur

Angkat anKerja

pengangguran pada batas yang wajar. Pengangguran usia muda menjadi fenomena yang harus dipecahkan oleh pemerintah daerah. Persentase pengangguran berdasarkan kelompok umur tercatat dari 26.341 pengangguran atau hampir tiga per empatnya (74,19%) berada pada usia muda 15-29 tahun (batas usia kerja di Indonesia 15 tahun

55-59
50-54

45-49
40-44

35-39
30-34

25-29
20-24

15-19

0

10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000

keatas) dan hampir sepertiga (30,32%) diantaranya berada pada kelompok umur 20-24 tahun. TPT usia muda yang tinggi ditunjukkan oleh TPT kelompok umur 15-29 tahun yang mencapai 15,91 persen, dengan rincian: TPT umur 15-19 tahun sebesar 19,80 persen; TPT umur 20-24 tahun sebesar 17,95 persen; dan TPT umur 25-29 tahun sebesar 12,96 persen. Pada kelompok usia tersebut memang terdapat kemungkinan sedang menjalani masa tunggu (job search period) sembari mencari pekerjaan setelah

Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2010

Gambar

4.8
65+ 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19

TPT menurut Kelompok Umur Provinsi Papua Barat 2010 (%)

0.72 1.00 1.88 2.68 1.83 3.20 2.34 5.15 12.96 17.95 19.80

lulus dari pendidikan. Jadi lulusan baru (fresh graduate) tersebut sedang mulai mencari pekerjaan
25.00

0.00

5.00

10.00

15.00

20.00

bukan karena tidak ada lapangan pekerjaan. Namun dapat pula terjadi karena lapangan kerja yang memang terbatas. Dalam hal ini yang perlu diwaspadai adalah semakin bertambahnya jumlah pengangguran karena semakin bertambahnya penduduk yang memasuki usia kerja dan akan menjadi angkatan kerja baru seiring dengan pertumbuhan penduduk, mengingat struktur penduduk Papua Barat tergolong usia muda.

Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Upah Minimum Provinsi (UMP) Provinsi Papua Barat adalah yang tertinggi (Rp. 1.410.000,-) di Indonesia (Kemnakertrans RI, 2011).

20

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

KETENAGAKERJAAN
Pekerja di Sektor Pertanian Masih Dominan
Persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian dalam tiga tahun terakhir selalu menjadi yang terbesar di Papua Barat. Persentasenya di tahun 2010 sebesar 54,04 persen. Namun demikian persentasenya semakin menurun.

4

Tabel

Jumlah penduduk bekerja berdasarkan lapangan pekerjaan utama tahun 2008-2010 selalu dominan oleh sektor pertanian. Kontribusi sektor ini selalu berada diatas 50 persen. Persentase pekerja di sektor pertanian terus mengalami penurunan dari tahun 20082010. Di tahun 2008 persentasenya mencapai 58,79 persen. Namun di tahun 2009 pekerja di sektor ini menurun menjadi 56,60 persen, dan di tahun 2010 persentasenya kembali mengalami penurunan menjadi 54,04 persen. Tingginya kontribusi tenaga kerja di sektor pertanian ternyata tidak memberikan share yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat. Dengan kontribusi 54,04 persen dari total tenaga kerja ternyata sektor pertanian Provinsi hanya Papua mampu Barat. menyumbangkan 1,72 persen dari total 26,82 persen pertumbuhan ekonomi Bandingkan dengan sektor industri pengolahan, sektor ini mampu memberikan kontribusi 21,94 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi, meskipun share tenaga kerja sektor ini hanya 3,89 persen terhadap total penduduk bekerja. Hal ini membuktikan bahwa sektor pertanian produktivitasnya masih sangat rendah dalam perekonomian Papua Barat. Penduduk bekerja berdasarkan status pekerjaan utama menunjukkan bahwa status sebagai buruh/ karyawan/pegawai dan berusaha dibantu buruh tetap/ buruh dibayar adalah status pekerjaan yang paling dominan di tahun 2008-2010. Di tahun 2009-2010, status pekerjaan sebagai buruh/karyawan/pegawai adalah yang paling tinggi diantara yang lain, nilainya mencapai 27,03 persen dan 30,98 persen. Sementara

4.2

Persentase Penduduk Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama 2008-2010 (%)
2008 58,79 3,08 3,59 0,10 4,22 9,70 5,74 0,84 13,94 100,00 2009 56,60 3,02 3,74 0,25 4,77 10,39 4,82 0,53 15,89 100,00 2010 54,04 2,13 3,89 0,19 5,06 11,96 4,75 0,90 17,08 100,00

Lapangan Pekerjaan Utama Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa Papua Barat Sumber: Sakernas Agustus, 2008-2010

Tabel

4.3

Persentase Penduduk Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama 2008-2010 (%)
2008 19,25 26,46 2,39 25,99 0,95 1,63 23,33 100,00 2009 18,72 26,31 1,74 27,03 0,15 1,71 23,00 100,00 2010 15,45 25,90 1,63 30,98 0,22 0,99 24,83 100,00

Status Pekerjaan Utama Berusaha sendiri Berusaha dibantu buruh tetap/ dibayar Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar Buruh/Karyawan/Pegawai Pekerja Bebas di Pertanian Pekerja Bebas di nonpertanian Pekerja tidak dibayar/keluarga Papua Barat Sumber: Sakernas Agustus, 2008-2010

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

21

4

KETENAGAKERJAAN KETENAGAKERJAAAN Pekerja Informal Lebih dari Dua Kali Lipat Pekerja Formal
Meskipun mengalami penurunan, persentasenya masih sangat tinggi. Di tahun 2010 persentasenya mencapai 67,39 atau lebih dua kali lipat dibandingkan dengan pekerja di sektor formal.

Tabel

4.4

Elastisitas Kesempatan Kerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama 2007-2010 (%)

pekerja bebas di sektor pertanian selalu memiliki persentase terendah yaitu 0,95%; 0,15%; dan 0,22%. Gambaran tentang tidak optimalnya kinerja sektor pertanian tampak pada pengukuran Elastistas Kesempatan Kerja (EKK) di tahun 2007-2010. Pada

Lapangan Pekerjaan Pertumbuhan Utama Ekonomi (%)

Pertumbuhan Elastisitas Kesempatan Kesempatan Kerja Kerja (%) (%) -0,77 3,00 2,50 0,65 -0,22 0,09 0,28 0,05

Agriculture Manufacture Services Papua Barat

3,55 34,54 8,86 13,54

sektor pertanian (agriculture)

justru mencatat nilai

elastisitas yang negatif, yaitu sebesar –0,22 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian bersifat inelastis, karena setiap satu persen pertumbuhan ekonomi disektor pertanian justru akan mengurangi tingkat kesempatan kerja sebesar –0,77 persen. Hal tersebut juga dapat diartikan bahwa sektor

Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2007-2010

Gambar

4.9

Persentase Pekerja Formal dan Pekerja Informal Provinsi Papua Barat 2008-2010 (%)

pertanian mulai kurang diminati. Dengan pertumbuhan ekonomi 2007-2010 mencapai 13,54 persen dan laju pertumbuhan kesempatan kerja sebesar 0,65 persen, elastisitas

71.62

71.22

67.39

kesempatan kerja Papua Barat hanya mencapai 0,05 persen. Artinya bahwa setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi satu persen hanya akan menciptakan kesempatan kerja sebesar 0,05 persen. Persentase pekerja informal di Papua Barat tahun 2008-2010 rata-rata sekitar lebih dari dua kali lipat pekerja formal. Namun demikian tren presentase pekerja informal terus mengalami penurunan. Pada tahun 2008 pekerja informal sebesar 71,62 persen. Di tahun 2009 pekerja informal berkurang menjadi 71,22 persen, selanjutnya di tahun 2010 kembali mengalami penurunan menjadi 67,39 persen. Tren penurunan ini akibat dari meningkatnya pekerja di sektor formal baik itu peningkatan jumlah PNS maupun peningkatan jumlah buruh dan karyawan swata.

28.38

28.78

32.61

2008

2009 Formal Informal

2010

Sumber: Sakernas Agustus, 2008-2010

TAHUKAH ANDA ?
Provinsi Papua Barat bersama 10 provinsi lainnya memiliki TPT lebih tinggi dari TPT Nasional (7,14%).

22

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDIDIKAN
Belum Seluruh Desa/Kelurahan Memiliki Fasilitas Sekolah Dasar
Dari sekitar 1.421 desa/kelurahan di Papua Barat, jumlah sekolah SD yang telah berdiri hanya sebanyak 939 unit sekolah. Artinya belum seluruh desa/kelurahan memiliki Sekolah Dasar.

5

Tabel

Amanat konstitusi amandemen UUD 1945 dan ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat (1) menyebutkan bahwa dana pendidikan dialokasikan minimal 20 persen dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20 persen dari APBD. Besarnya perhatian pemerintah dan tingginya harapan rakyat agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan berpendidikan terlihat dari dasar hukum tersebut diatas. Oleh karena itu perkembangan capaian pendidikan harus terus dikawal berbagai pihak untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut. Perkembangan capaian pendidikan di Papua Barat dapat diketahui dari ketersediaan fasilitas pendidikan dan segala pendukungnya. Jumlah sekolah SD/MI/Sederajat di Provinsi Papua Barat sebanyak 939 unit, dengan jumlah murid sebanyak 131.700 siswa dan 6.649 orang guru. Jumlah bangunan gedung sekolah SD yang hanya berjumlah 853 unit mengindikasikan bahwa belum semua desa/kelurahan di Papua Barat memiliki gedung sekolah SD karena jumlah desa/kelurahan seluruhnya mencapai 1.421 (1.349 desa/72 kelurahan). Sementara pada level pendidikan SLTP terdapat 232 sekolah, 2.728 guru, dan 40.918 murid. Secara rata-rata tiap kecamatan di Papua Barat sudah terbangun sekolah sebab jumlah kecamatan di Papua Barat sebanyak 154 kecamatan. Namun kenyataannya tidak semua kecamatan tersebut telah berdiri gedung sekolah SLTP seperti contohnya di Kabupaten Teluk Wondama yang tercatat memiliki 13 kecamatan tetapi hanya memiliki 7 unit SLTP. Sementara itu, pada jenjang pendidikan SLTA/sedera-

5.1

Indikator Pendidikan SD/MI, SLTP/MTs, dan SLTA/MA/SMK Provinsi Papua Barat 2010
SD/MI 939 6 649 131 700 140,26 19,81 SLTP/MTs 232 2 728 40 918 176,37 15,00 SMU/MA/SMK 128 2 352 31 334 244,80 13,32

Uraian

Jumlah Sekolah Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Murid Sekolah Rasio Murid Guru

Sumber: Dinas Pendidikan Kab/Kota Provinsi Papua Barat, 2010

Gambar: Murid SD dan Sebuah bangunan Sekolah Dasar di Kampung Ruvewes/ Yebouw, Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw

TAHUKAH ANDA ?
Rasio guru : sekolah di Provinsi Papua Barat terendah kedua (7,96) di Indonesia setelah Provinsi Papua (7.50) (Kemendiknas, 2010).

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

23

5

PENDIDIKAN
Rata-rata Murid Putus Sekolah di Kelas 3 SLTP
Rata-rata lama sekolah di Papua Barat tahun 2010 adalah 8,21 tahun, artinya rata-rata penduduk yang bersekolah hanya mampu menyelesaikan sekolah sampai dengan kelas 2 SLTP atau putus sekolah ketika sampai di kelas 3 SLTP.

Gambar

5.1
96 94 92
90

Angka Melek Huruf Usia 15 Tahun Keatas Provinsi Papua Barat 2008-2010 (%)

jat, jumlah sekolah yang telah berdiri sebanyak 128 unit dengan jumlah guru sebanyak 2.352 orang dan jumlah murid sebanyak 31.334 siswa. Rasio jumlah beban murid guru terhadap dalam guru

94.95 93.01 92.15 92.34

95.33 93.19

menggambarkan

mengajar

90.83 89.55 88.35

sejumlah murid. Rasio murid-guru SD sebesar 19,81 mengandung arti bahwa satu orang guru rata-rata mengajar 19-20 orang murid. Sedangkan rasio muridguru pada jenjang pendidikan SLTP dan SLTA bernilai lebih kecil, yaitu sebesar 15,00 dan 13,32. Rasio murid terhadap sekolah memiliki pola semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin banyak murid yang harus ditampung. Pada jenjang pendidikan SD rasio jumlah murid terhadap jumlah

88 86 84

2008
Laki-laki

2009
Perempuan

2010
Laki-laki + Perempuan

Sumber: Olahan Susenas, 2008-2010

Gambar

5.2

Rata-rata Lama Sekolah Provinsi Papua Barat 200872010 (tahun)

sekolah mencapai 140,26, artinya rata-rata setiap sekolah SD di Papua Barat memiliki jumlah murid sebanyak 140-141 siswa atau bila setiap sekolah memiliki 6 kelas maka setiap kelas rata-rata menampung sebanyak 23-24 siswa. Pada jenjang pendidikan SLTP/Sederajat, setiap sekolah memiliki rata-rata sebanyak 176-177 siswa. Pada jenjang pendidikan SLTA/Sederajat rata-rata setiap sekolah SLTA/Sederajat menampung sekitar 244-245 siswa. Angka Melek Huruf (AMH) di Papua Barat meningkat dari 92,15 persen di tahun 2008 menjadi 92,34 persen di tahun 2009. Peningkatan kembali terjadi di tahun 2010 menjadi 93,19 persen. Bila dibandingkan secara gender, dari tahun 2008-2010 AMH laki-laki selalu lebih tinggi dari pada perempuan. Meskipun keduanya selalu meningkat, namun perbedaannya cukup signifikan. Sebagai contoh AMH

8.21

8.01

7.65

7.67

2007

2008

2009

2010

Sumber: Olahan Susenas, 2006-2009

24

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDIDIKAN
Semakin Tinggi Kelompok Usia Sekolah APS Semakin Menurun
Angka Partisipasi Sekolah (APS) berangsur menurun searah dengan semakin tinggi kelompok umur sekolah. Di tahun 2010, APS 7-12 tahun (94,04 %). APS 13-15 tahun (89,95 %), APS 16-18 tahun (58,98 %) dan APS 19-24 tahun (14,45 %).

5

Gambar

laki-laki tahun 2010 telah mencapai 95,33 persen, sedangkan AMH perempuan hanya 90,83 persen. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Papua Barat tahun 2010 baru mencapai 8,21 tahun, lebih baik dari kondisi tahun sebelumnya yaitu 7,65 tahun (2007); dan 7,67 tahun (2008); dan 8,01 tahun (2009). RLS 8,21 tahun artinya rata-rata penduduk Papua Barat hanya bersekolah sampai dengan kelas dua SLTP atau putus sekolah setelah di kelas tiga SLTP. Padahal menurut sistem pendidikan nasional mengisyaratkan pendidikan dasar 9 tahun. Jadi diperlukan kebijakan pemerintah untuk memfasilitasi siswa agar partisipasi sekolah meningkat dan menekan angka putus sekolah. Angka Partisipasi Sekolah (APS) digunakan untuk mengetahui seberapa besar penduduk pada usia tertentu telah berpartisipasi untuk menempuh yang telah pendidikan melalui sekolah-sekolah

5.3

Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Kelompok Umur Provinsi Papua Barat 2008-2010 (%)
7-12

13-15

2010 2009 2008

94.04 93.35 93.18

2010 2009 2008 88.59 88.75

89.95

92.5 93 93.5 94 94.5

86

88

90

16-18
2010 2009 2008 57.95 57.53 58.98

19-24

2010 2009
2008 12.72 12.25

14.45

56

57

58

59

10

12

14

16

Sumber: Susenas, 2008-2010

Gambar

disediakan oleh pemerintah maupun swasta. APS usia 7-12 tahun 2010 hanya mencapai 94,04 persen, artinya hanya sebesar 93,35 persen penduduk berusia 7-12 yang bersekolah. Maknanya masih terdapat sebesar 5,96 persen penduduk pada usia tersebut yang tidak bersekolah. APS semakin menurun searah dengan semakin tinggi kelompok usia sekolah. APS usia 13-15 tahun menurun menjadi 89,95 persen. Pada kelompok usia sekolah 16-18 tahun APS-nya hanya tinggal 58,98 persen. Sedangkan pada kelompok usia sekolah 19-24 tahun angka

5.4

APK dan APM menurut Tingkat Pendidikan Provinsi Papua Barat 2008-2010 (%)

16.80 72.07

APK

66.68 115.00

7.36
43.93 49.65

APM

91.91

PT

SLTA

SLTP

SD

partisipasinya semakin rendah, yaitu hanya mencapai 14,45 persen. Semakin rendahnya APS tersebut memberikan fakta bahwa semakin tinggi kelompok

Sumber: Olahan Susenas, 2008-2010

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

25

5

PENDIDIKAN
APK Sekolah Dasar Lebih dari 100 Persen.
APK SD Papua Barat taun 2010 mencapai 115,00 persen, artinya sebesar 15,00 persen penduduk berusia diluar 7-12 tahun bersekolah SD. Diduga banyak anak sekolah SD memiliki umur diatas usia 7-12 tahun.

►►CATATAN:
Perpres RI Nomor 65 Tahun 2011 Tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua Barat Program Strategis dalam rencana aksi percepatan pembangunan Papua Barat : 1. Program Ketahanan Pangan. 2. Program Penganggulangan Kemiskinan. 3. Program Pengembangan Ekonomi. 4. Program Peningkatan Pelayanan Pendidikan. 5. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan. 6. Program Pengembangan Infrastruktur Dasar. 7. Program Pemihakan Terhadap Masyarakat Asli Tanah Papua Barat. 8. Program Penguatan dan Pemanfaatan Ruang dan Pengelolaan Tanah. 9. Program Peningkatan Keamanan dan Ketertiban. 10.Program Pengembangan Kapasitas Kelembagaan.

usia sekolah maka semakin tinggi angka putus sekolahnya. APK SD tahun 2010 mencapai 115,00 persen, berarti masih banyak murid SD yang berada diluar batas kelompok umur 7-12 tahun, baik itu kurang dari 7 tahun atau diatas 12 tahun. Diduga untuk kasus di tanah Papua lebih banyak penduduk yang berada diatas batas kelompok umur ini bersekolah pada kelompok umur yang lebih rendah. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah indikator menunjukkan persentase penduduk yang tepat bersekolah pada kelompok umur yang sesuai. Diketahui bahwa pada tingkat pendidikan SD, persentase penduduk yang bersekolah SD tepat pada usia sekolah 7-12 sebesar 91,91 persen. Artinya masih ada 8,09 persen penduduk yang tepat berusia sekolah SD 7-12 tahun sedang tidak bersekolah. Pada APM dan APK terlihat bahwa pada jenjang pendidikan SD memiliki persentase yang tinggi, namun begitu memasuki jenjang pendidikan SLTP nilai tersebut anjlok sangat tajam. Hal ini sejalan dengan rata-rata lama sekolah yang hanya berada pada nilai 8,21 tahun atau rata-rata penduduk putus sekolah pada jenjang pendidikan SLTP kelas 3. Nilai APM dan APK yang menurun sangat tajam juga terjadi pada jenjang pendidikan perguruan tinggi. APK dan APM perguruan tinggi hanya sebesar 16,80 persen dan 7,36 persen. Bandingkan dengan angka APK dan APM SLTA sebesar 72,07 persen dan 43,93 persen. Hal ini

Sumber: Image Google

menunjukkan partisipasi sekolah untuk perguruan tinggi masih sangat rendah.

26

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

KESEHATAN
Belum Seluruh Kabupaten di Papua Barat Memiliki Rumah Sakit
Dari 11 kabupaten/kota di Papua Barat telah berdiri 14 unit rumah sakit dimana 9 unit diantaranya hanya berada di Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong. Beberapa kabupaten bahkan belum memiliki fasilitas rumah sakit.

6

Tabel

Selain pendidikan, salah satu perhatian khusus pemerintah daerah Papua Barat adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Berbagai program pemerintah dicanangkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Mulai dari pembangunan fasilitas kesehatan, penambahan dan perbaikan kualitas tenaga kesehatan, sampai pemberian pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat terutama untuk rakyat miskin. Derajat kesehatan masyarakat secara umum dapat dilihat dari Angka Harapan Hidup (AHH). AHH dihitung berdasarkan harapan hidup waktu lahir. AHH Papua Barat terus mengalami peningkatan dari tahun

6.1

Indikator Kesehatan Provinsi Papua Barat 2010 Uraian 2008
67,90 10 94 339 185 93 57,83

2009
68,20 13 105 339 218 141 60,43

2010
68,51 14 110 367 297 145 68,54

Angka Harapan Hidup Jumlah Rumah Sakit Jumlah Puskesmas Jumlah Pustu Jumlah Polindes Jumlah Puskesmas Keliling Persentase Penolong Kelahiran dengan Medis (%)

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dan Susenas, 2008-2010

Gambar

ke tahun. AHH Papua Barat tahun 2009 sebesar 68,20 tahun meningkat 0,30 tahun dari kondisi tahun sebelumnya sebesar 67,90 tahun. Di tahun 2010, AHH Papua Barat kembali meningkat 0,31 tahun menjadi 68,51 tahun. Dengan peningkatan AHH kurang dari satu per tahun berarti penurunan angka kematian bayi yang tajam sulit terjadi (hardrock). Jumlah rumah sakit di Papua Barat sampai dengan 2010 hanya sebanyak 14 unit, atau terjadi penambahan 4 rumah sakit sejak 2008. Berdasarkan kepemilikannya, 6 unit adalah milik pemerintah, 4 unit milik swasta, dan 3 unit milik TNI. Belum seluruh kabupaten di Papua Barat memiliki rumah sakit sendiri. Dari 14 rumah sakit tersebut, 6 diantaranya berada di Kota Sorong dan 3 unit berada di Kabupaten Manokwari. Kabupaten Kaimana, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Maybrat, dan Kabupaten Tambrauw justru belum memiliki rumah sakit. Dilihat

6.1

Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Papua Barat 2006-2010 (unit)

6 4 7
4 3

4
4

4
4 2 4 2 2007 2 2006

4 3

2008
2009 2010

Pemerintah

Swasta

TNI

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi di Papua Barat adalah yang terendah kedua (42,00%) di Indonesia setelah Papua (32,40%), dimana targetnya adalah 84,00 persen (Riskesdas, 2010).

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

27

6

KESEHATAN
Rata-rata Seorang Dokter Melayani Empat Ribu Orang.
Seorang dokter di Papua Barat rata-rata harus melayani sekitar 4.045 orang karena jumlah penduduk mencapai 760.422 orang sedangkan jumlah dokter hanya 188 orang.

Gambar

6.2

Jumlah Rumah Sakit dan Rasio Penduduk terhadap Rumah Sakit per 10.000 penduduk Tahun 2010
3.18 6

dari rasio penduduk terhadap rumah sakit tercatat Kabupaten Sorong memiliki rasio yang paling besar, yaitu 1 : 70,6 ribu, artinya satu rumah sakit di Kabupaten Sorong harus melayani sebanyak 70,6 ribu penduduk. Atau dengan kata lain karena jumlah rumah

Kota Sorong Maybrat Tambrauw

Raja Ampat Sorong Sorong Selatan Manokwari
Teluk Bintuni Teluk Wondama Kaimana Fakfak 1 6.68 1

7.06 3.79 3 6.26

1

sakit di kabupaten tersebut hanya satu, maka satu unit rumah sakit tersebut harus melayani semua penduduk yang berada di Kabupaten Sorong. Fasilitas kesehatan lain seperti puskesmas,
8

Pddk/RS (1:10 ribu)

RS

0

2

4

6

puskesmas pembantu dan polindes sangat diperlukan untuk menunjang kualitas kesehatan masyarakat sampai pada level wilayah administrasi desa/ kelurahan. Dari total 162 kecamatan di Papua Barat

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat (jumlah rumah sakit), 2010
Tabel

6.2

Jumlah Dokter menurut Jenisnya dan Rasio Penduduk terhadap Dokter 2010 (jiwa)
Dokter Rasio Penduduk per Dokter 2 304 3 083 1 645 2 184 4 081 2 369 7 847 3 270 ... ... 9 531 4 045

Kabupaten/Kota

Spesialis 2 1 1 7 4 ... ... 7 22

Umum 24 14 16 21 32 15 5 12 ... ... 10 149

Gigi 3 2 7 1 1 ... ... 3 19

Jumlah 29 15 16 24 46 16 9 13 ... ... 20 188

ternyata jumlah puskesmas hanya mencapai 110 unit. Idealnya jumlah puskesmas dalam satu kecamatan minimal harus ada satu unit puskesmas, namun kondisi ini belum terpenuhi sehingga belum semua kecamatan di Papua Barat memiliki fasilitas kesehatan ini. Begitupun dengan fasilitas puskesmas pembantu dan polindes, jumlahnya belum setara dengan jumlah kelurahan/desa di Papua Barat yang mencapai 1.421 desa/kelurahan (1.421 desa dan 72 kelurahan), padahal jumlah puskesmas pembantu hanya 367 unit dan polindes 397 unit. Ketersediaan tenaga kesehatan juga merupakan kebutuhan yang bersifat urgen selain fasilitas sarana kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan, khususnya tenaga dokter sangat minim jumlahnya. Untuk melayani seluruh penduduk Papua Barat, jumlah dokter yang tersedia hanya 188 orang, yang terdiri dari 22 dokter ahli atau spesialis, 149 dokter umum, dan 19

Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw * Maybrat * Kota Sorong Papua Barat

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, 2010 *) Data masih tergabung dengan kabupaten induk

TAHUKAH ANDA ?
Hanya sekitar dua pertiga kecamatan di Provinsi Papua Barat yang memiliki fasilitas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

28

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

KESEHATAN
Penolong Kelahiran Dibantu Bukan Tenaga Medis Relatif Tinggi
Persentase penolong kelahiran terakhir dibantu selain tenaga medis (dokter, bidan, dan tenaga medis lainnya) mencapai 31,48 persen. Diantara penolong kelahiran tersebut peran dukun mencapai 18,94 persen. Namun demikian kondisi tahun 2010 lebih baik dari tahun 2009.

6

di Papua Barat harus melayani sekitar 4.045 orang. Rasio penduduk terhadap dokter yang paling kritis terjadi di Kota Sorong. Di daerah ini satu orang dokter harus melayani sampai 9.531 orang. Walaupun memiliki fasilitas kesehatan yang terlengkap, namun ternyata jumlah tenaga kesehatannya masih belum sebanding dengan jumlah penduduknya. Sementara itu Kabupaten Teluk Wondama memiliki rasio penduduk terhadap dokter terkecil dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya, yaitu seorang dokter melayani sekitar 1.645 orang, namun demikian sebagian besar dokter adalah Pegawai Tidak Tetap (PTT). Di kabupaten ini bahkan tidak memiliki dokter spesialis dan dokter gigi. Persentase penolong kelahiran akhir balita di Papua Barat yang ditolong oleh bukan tenaga medis (dukun, family, dan lainnya) di tahun 2010 mencapai 31,48 39,57 persen. persen. Kondisi Tingginya ini masih persentase lebih baik dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai penolong

Gam-

dokter gigi. Artinya, rasio beban kerja seorang dokter

6.3

Persentase Penolong Kelahiran Balita

Lainnya Famili
Dukun

1.11 0.39

2009
11.2 12.15
27.26 18.94 5.65

2010

Tng Medis Lain Bidan Dokter 0

2.16 42.53 54.14 12.25 12.24

20

40

60

Sumber: Susenas, 2009-2010

Gambar

6.4

Persentase Status Gizi Balita Provinsi Papua Barat dan Nasional 2010 (%)
76.2

Papua Barat Nasional

67.3

17.4 9.1

13.1
6.2

4.9

5.8

kelahiran selain tenaga medis (dokter, bidan, dan tenaga medis lainnya) diduga menjadi salah satu penyebab tingginya IMR di Papua Barat. Status gizi buruk pada balita di Papua Barat tahun 2010 tercatat mencapai 9,1 persen, sedangkan gizi kurang mencapai 17,4 persen. Angka ini masih diatas angka nasional yang hanya mencapai 4,9 persen dan 13,1 persen. Sementara status gizi normal dan lebih sebesar 67,3 persen atau masih berada dibawah angka nasional yang mencapai 76,2 persen.
STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011 29
Buruk Kurang Baik Lebih

Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2010, Departemen Kesehatan RI, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Target Eliminasi Malaria di Papua Barat, Papua, Maluku, Maluku Utara, dan NTT adalah tahun 2030 (SK Menkes RI No. 293/Menkes/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009).

6

KESEHATAN
Papua Barat Masih Daerah Endemik Malaria
Provinsi Papua Barat masih menjadi salah satu daerah endemik Malaria. API (Annual Parasite Incidence) Papua Barat adalah yang tertinggi kedua di Indonesia dimana mencapai 17,86 per 1000 orang. Diperkirakan Papua Barat akan bebas malaria pada tahun 2030 nanti.

TUJUAN MDGs:
1. Menanggulangi Kemiskinan dan kelaparan. 2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua. 3. Mendorong kesetaraan gender dan Pemberdayaan perempuan. 4. Menurunkan Kematian Anak. 5. Meningkatkan Kesehatan ibu. 6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya. 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup. 8. Membangun kemitraan global untuk pembangunan.

HIV/AIDS dan Malaria
Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium

Development Goals/MDGs) dalam tujuan nomor enam disebutkan memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya sampai dengan target yang ditetapkan pada tahun 2015. HIV/AIDS dan Malaria merupakan ancaman serius di tanah Papua. Provinsi Papua memiliki angka prevalensi HIV/AIDS tertinggi di Indonesia, sedangkan prevalensi malaria (API) tertinggi adalah di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Gambar

6.5

Peringkat Enam Besar API Tertinggi di Indonesia Tahun 2010
18.03

Jumlah kumulatif penderita AIDS di Papua Barat tidak sebanyak di Papua, jumlahnya pada kondisi Juni 2011 tercatat hanya 397 orang dengan jumlah meninggal sebanyak 152 orang dan angka prevalensi

17.86

12.14

8,93 orang per 100.000 penduduk. Prevalensi tersebut
6.45

masih jauh berada di bawah Provinsi Papua (180,69
5.43
5.06

per 100.000) yang merupakan daerah dengan prevalensi HIV/AIDS tertinggi di Indonesia dan angka nasional 11,09 per 100.000 (Kemenkes, 2011). Bila dilihat dari sisi Annual Parasite Incident (API), Papua Barat menempati peringkat kedua di Indonesia. API di Papua Barat tahun 2010 adalah sebesar 17,86 orang per 1.000 penduduk. Pada tahun 2010, ada enam provinsi yang termasuk daerah endemis tinggi malaria, yaitu Papua, Papua Barat, NTT, Maluku Utara, Maluku, dan Bangka Belitung. Bahkan tiga provinsi diantaranya termasuk daerah endemsi tinggi II (nilai API 10-50 per 1000 penduduk), yaitu Papua (18,03 permil penduduk); Papua Barat (17,86 permil penduduk) dan Nusa Tenggara Timur (12,14 permil penduduk).

Papua NTT Malut Barat Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2010

Papua

Maluku

Babel

►►CATATAN:
Stratifikasi Endemisitas Malaria:

1. Endemis Tinggi bila API > 5 per 1000 penduduk. 2. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1-5 per 1000 penduduk. 3. Endemis Rendah bila API berkisar antara 0-1 per 1000 penduduk. 4. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah bebas malaria) dengan API=0.

30

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
Secara Umum Kualitas Perumahan Mengalami Perbaikan
Beberapa indikator perumahan mengalami perbaikan kondisi diantaranya berkurangnya jenis lantai bukan tanah,bertambahnya jenis dinding jenis tembok, dan berkurangnya atap jenis ijuk/jerami.

7

Perumahan atau tempat tinggal yang layak merupakan salah satu kebutuhan dasar hidup manusia. Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga mempunyai fungsi tempat membangun kehidupan keluarga yang sehat dan sejahtera. Kriteria rumah sehat berdasarkan Kementerian Kesehatan RI dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 adalah apabila memiliki tujuh kriteria, yaitu atap berplafon, dinding permanen, jenis lantai bukan tanah, tersedia jendela, ventilasi cukup, pencahayaan alami cukup, dan tidak padat huni (minimal 8 m2 per orang). Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, persentase rumah sehat Papua Barat hanya mencapai 33,8 persen, menempati peringkat ke-7 secara nasional. Angka ini masih jauh lebih baik dari persentase nasional yang hanya mencapai 24,9 persen. Peringkat terbaik rumah sehat adalah Provinsi Kalimantan Timur (43,6%) dan terendah adalah Provinsi NTT (7,5%). Kondisi perumahan tahun 2010 di Papua Barat secara umum mengalami perbaikan kualitas dibandingkan tahun 2009. Pada tahun 2010, hampir duapertiga rumah tangga telah memiliki rumah dengan status milik sendiri yaitu sebesar 63,67 persen. Sedangkan untuk status sewa 9,84 persen, kontrak 4,66 persen, dan lainnya (dinas, bebas sewa, milik family, lainnya) 21,83 persen. Dari sisi luas lantai diperoleh informasi bahwa di tahun 2010 persentase rumah tangga dengan luas lantai per kapita kurang dari 10 m2 sebesar 39,86 persen, sementara rumah tangga dengan luas lantai per kapita 10 m2 keatas mencapai 60,14 persen.
Uraian Kepemilikan Rumah (%) Milik Sendiri Kontrak Sewa Lainnya Luas Lantai per Kapita (%) < 10 ≥ 10 Jenis Lantai Terluas (%) Bukan Tanah Tanah Jenis Dinding Terluas (%) Tembok Kayu Bambu Lainnya Jenis Atap Terluas (%) Beton Genteng Kayu Sirap Seng Ijuk/Rumbia Lainnya
Sumber: Susenas, 2009-2010 1,24 1,96 0,39 85,29 6,40 4,72 1,89 2,51 1,43 89,01 3,00 2,15 52,27 43,34 1,32 3,07 56,68 39,06 0,48 3,78 91,60 8,40 93,02 6,98 38,36 61,64 39,86 60,14 67,71 1,55 7,28 23,46 63,67 4,66 9,84 21,83
Tabel

Rumah warga di Desa Senopi, Distrik Senopi salah satu desa terpencil di Kabupaten Manokwari

7.1

Indikator Perumahan Provinsi Papua Barat 2009-2010 2009 2010

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

31

7

PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
Satu dari Tujuh Ruta Tidak Punya Tempat Buang Air Besar
Belum semua rumah tangga (ruta) di Papua Barat memiliki fasilitas buang air besar sendiri, masih ada sekitar 15,30 persen yang tidak memiliki fasilitas buang air besar, dan hanya 61,07 persen yang memiliki secara pribadi.

Gambar

7.1
46.65

Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Air Bersih 2009-2010 (%)
49.02

menjadi 6,98 persen dibandingkan dengan kondisi tahun 2008 yaitu sebesar 8,40 persen. Jumlah rumah tangga dengan dinding terluas dari tembok mengalami
2010

2009

peningkatan dari 52,27 persen di tahun 2009 menjadi 56,68 persen di tahun 2010. Meskipun dinding terluas dari jenis lainnya mengalami peningkatan tipis dari

23.95

25.33 18.61 16.73 10.79 8.92

3,07 persen menjadi 3,78 persen, namun setidaknya dinding dengan jenis bambu mengalami penurunan persentase dari 1,32 persen menjadi 0,48 persen. Penggunaan atap seng paling banyak digunakan di Papua Barat, yaitu mencapai 85,29 persen di tahun 2009 dan 89,01 persen di tahun 2010. Penggunaan bahan jenis ijuk/rumbia mengalami penurunan

Sendiri

Bersama

Umum

Tidak ada

Sumber: Susenas, 2009-2010

Gambar

7.2
59.49

Persentase Rumah Tangga menurut

persentase dari 6,40 persen menjadi 3,00 persen. Atap jenis ini sudah mulai ditinggalkan karena bahan seng
61.07

2009

2010

semakin mudah diperoleh. Disamping itu, persentase rumah tangga yang menggunakan atap jenis beton, genteng, dan sirap juga mengalami peningkatan. Persentase terbesar rumah tangga pengguna air

12.37

14.68 10.98

17.16

15.3

8.95

bersih memiliki sendiri fasilitas ini, yaitu sebesar 49,02 persen, meningkat dari kondisi tahun lalu yakni 46,65 persen dari total rumah tangga. Sementara 25,33 persen menggunakan air bersih secara bersama dan 16,73 persen masih menggunakan fasilitas umum untuk memperoleh air bersih. Meskipun 8,92 persen rumah tangga tidak terdapat akses terhadap air bersih, namun kondisi ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Salah satu indikator rumah layak huni adalah memiliki fasilitas tempat buang air besar (WC) sendiri. Kondisi ini terkait dengan kebersihan lingkungan perumahan. Sebanyak 61,07 persen rumah tangga di

Sendiri

Bersama

Umum

Tidak ada

Sumber: Susenas, 2009-2010

TAHUKAH ANDA ?
Persentase keberhasilan pengobatan penderita TB Paru (success rate) di Papua Barat adalah yang terendah di Indonesia (48,30%).

32

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
Minyak Tanah Masih Menjadi Bahan Bakar Utama
Bahan bakar utama 55,25 persen rumah tangga menggunakan minyak tanah untuk memasak. Sedangkan 42,85 persen rumah tangga menggunakan kayu bakar. Penggunaan gas/LPG masih menjadi hal langka di Papua Barat, pemakainnya hanya 3,27 persen.

7

Gambar

Papua Barat telah memiliki tempat pembuangan air besar sendiri, kondisi ini lebih baik dari tahun 2009 sebesar 59,49 persen. Sedangkan 12,37 persen menggunakan fasilitas buang air besar bersama; 10,98 persen masih menggunakan tempat buang air besar umum; dan 17,16 persen bahkan tidak memiliki fasilitas pembuangan air besar. Penggunaan bahan bakar untuk memasak sebagian besar rumah tangga di Papua Barat menggunakan kayu bakar, yaitu sebesar 52,05 persen. Penggunaan kayu bakar terutama pada rumah tangga di pedesaan. Sedangkan pengguna minyak tanah sebesar 42,85 persen terutama untuk masyarakat di perkotaan. Penggunaan bahan bakar gas masih sangat jarang digunakan (3,27%). Selain harganya mahal, jenis bahan bakar ini tersedia dalam jumlah terbatas, hanya dijual di kota besar seperti Kota Sorong, Fakfak, dan Manokwari. Penggunaan sumber penerangan rumah tangga di Papua Barat hanya sebesar 57,67 persen yang menggunakan listrik PLN. Belum seluruh desa di Papua Barat teraliri listrik dan belum seluruh kabupaten mendapatkan pasokan listrik 24 jam dalam sehari. Masyarakat yang tidak teraliri listrik penuh 24 jam biasanya menggunakan listrik non PLN seperti genset untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Untuk desa-desa yang tidak teraliri listrik, terutama di daerah yang jauh dari ibukota kabupaten umumnya menggunakan pelita/sentir/obor/lainnya. Persentase rumah tangga yang menggunakan jenis penerangan tersebut mencapai 17,83 persen.

7.3

Persentase Rumah Tangga menurut Bahan Bakar Memasak Papua Barat 2010 (%)

42.85

52.05

0.99 3.27 0.77
Listrik Gas/elpiji Minyak tanah Kayu Bakar Lainnya Tidak Memasak

0.06

Sumber: Susenas, 2010

Gambar

7.4

Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Penerangan Papua Barat 2010 (%)

16.06
1.94 66.11

15.4

0.49

PLN

Non PLN

Petromak/ aladin

Pelita/sentir/ obor

Lainnya

Sumber: Susenas, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Case Detection Rate Tubercolesis (CDR TB) di Papua Barat adalah sebesar 39,90 persen, masih jauh dari target pemerintah RI yang ditetapkan sebesar 73,00 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

33

8

PEMBANGUNAN MANUSIA
IPM Papua Barat Meningkat
IPM Provinsi Papua Barat meningkat menjadi 69,15 persen di tahun 2010. Sebelumnya di tahun 2009 IPM Papua Barat sebesar 68,58 persen..

Tabel

8.1

Indikator Pembangunan Manusia Provinsi Papua Barat 2008-2010 Uraian 2008
67,95 67,90 92,15 7,67 593,13 71,50 78,48 92,15 51,13 53,88 30

Pengukuran kinerja pembangunan seringkali identik dengan nominal PDRB dan pertumbuhan
2010
69,15 68,51 93,19 8,21 596,08 72,51 80,38 93,19 54,74 54,56 29

2009
68,58 68,20 92,34 8,01 595,28 72,00 79,36 92,34 53,40 54,37 30

ekonomi yang tinggi. Padahal asumsi tersebut tidak selamanya efektif. Pertumbuhan ekonomi tinggi namun tidak berkualitas kadang gagal dalam mengentaskan kemiskinan dan menekan angka pengangguran. Apalagi tanpa disertai dengan pemerataan distribusi pendapatan masyarakat. Diperlukan sebuah parameter lainnya yang bersama-sama dapat digunakan sebagai alat ukur keberhasilan pembangunan. Paradigma lain muncul untuk mengukur pembangunan dari sisi manusia atau dikenal dengan indeks pembangunan manusia (IPM). IPM adalah indeks komposit yang terbentuk atas empat komponen indikator, yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan kemampuan daya beli/purchasing power parity (PPP). Indikator angka harapan hidup merefleksikan dimensi hidup sehat dan umur panjang. Indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah merepresentasikan output dari dimensi pendidikan. Indikator kemampuan daya beli untuk menjelaskan dimensi hidup layak. IPM Provinsi Papua Barat selalu meningkat setiap tahun. Di tahun 2010 IPM meningkat menjadi 69,15 persen dibandingkan tahun 2008 dan 2009 sebesar 67,95 persen dan 68,58 persen. Dalam klasifikasi UNDP capaian IPM Papua Barat termasuk ke dalam golongan menengah (50,00-79,99 persen). Komponen-komponen penyusun IPM juga terus mengalami peningkatan. Angka harapan hidup meningkat lambat 0,3 tahun per tahun dari 2008-2010.

IPM Angka Harapan Hidup (th) Angka Melek Huruf (%) Rata-rata Lama Sekolah (th) Pengeluaran per Kapita Riil Disesuaikan (PPP) (ribu Rp) Indeks Kesehatan (%) Indeks Pendidikan (%) Indeks AMH (%) Indeks RLS (%) Indeks Pengeluaran (%) Peringkat IPM
Sumber: Olahan Susenas, 2008-2010

FORMULASI PENGHITUNGAN IPM

Komponen IPM
(1)

Maksimum
(2)

Minimum
(3)

Keterangan
(4)

Angka Harapan Hidup Angka Melek Huruf Rata-rata Lama Sekolah Daya Beli

85 100 15 732.720a

25 0 0 300.000 360.000b

Standar UNDP Standar UNDP UNDP menggunakan Combined Gross Enrollment Ratio UNDP menggunakan PDB riil per kapita yang telah disesuaikan

a) Perkiraan maksimum pada akhir PJP II tahun 2018 b) Penyesuaian garis kemiskinan lama dengan garis kemiskinan yang baru

34

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PEMBANGUNAN MANUSIA
IPM Papua Barat Naik Peringkat
Capaian IPM Papua Barat tahun 2010 sebesar 69,15 persen menempatkan provinsi ini berada pada peringkat 29 nasional. Peringkat tersebut naik satu tingkat berada di atas Provinsi Maluku Utara (30), NTT (31), Provinsi NTB (32), dan Provinsi Papua (33).

8

Gambar

Pada tahun 2010 angka harapan hidup meningkat menjadi 68,51 tahun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 68,20 tahun. Indikator pendidikan yang diwakili oleh angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah juga mengalami peningkatan. Angka melek huruf di tahun 2009 sebesar 92,34 persen meningkat menjadi 93,19 persen di tahun 2010. Sedangkan ratarata lama sekolah meningkat menjadi 8,21 tahun, dimana sebelumnya hanya sebesar 8,01 tahun. PPP Papua Barat 2009-2010 hanya mengalami kenaikan 800 rupiah menjadi 596,08 ribu rupiah dengan indeks sebesar 54,56 persen. Secara nasional peringkat IPM Papua Barat berada pada ranking 29 dari 33 provinsi. Setelah selama beberapa tahun terakhir berada pada peringkat 30, di tahun 2010 Papua Barat naik satu tingkat ke peringkat 29. Peringkat tersebut masih berada di atas Provinsi Maluku Utara (30), NTT (31), NTB (32), dan Papua (33). IPM tertinggi di Papua Barat selama tiga tahun terakhir selalu berada di Kota Sorong. Capaiannya di tahun 2010 sebesar 77,18 persen. Sementara IPM terendah berada di Kabupaten Tambrauw dengan capaian hanya sebesar 50,51 persen. Reduksi shortfall menunjukkan kecepatan

8.2

IPM menurut Kabupaten/Kota dan Provinsi Papua Barat Tahun 2010 (%)

Tambrauw Raja Ampat Tlk Wondama Maybrat Sorong Sltn Tlk Bintuni Manokwari Sorong Papua Barat Kaimana Fakfak Kota Sorong

50.51 64.58 65.76 66.00 66.31 66.58 67.19 68.50 69.15 70.13 71.46 77.18

40.00

50.00

60.00

70.00

80.00

Sumber: BPS RI, 2010

Gambar

8.3

Reduksi Shortfall IPM menurut Kabupaten/Kota Papua Barat Tahun 2010 (%)

Sorong Sltn Sorong Kaimana Raja Ampat Tlk Wondama Kota S orong Papua Bar at Fakfak Tlk Bintuni

0.66 1.08 1.11 1.40 1.40 1.47 1.81 2.24 2.70 2.73 2.91 3.14

Tambrauw Manok wari May brat
0.00 1.00 2.00

3.00

4.00

Sumber: BPS RI, 2010

perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu tertentu. Reduksi shortfall Papua Barat tahun 2009-2010 mencapai 1,81 persen. Reduksi shortfall Papua Barat terus mengalami perlambatan. Sebelumnya pada tahun 2007-2008 dan 2008-2009 reduksi shortfall-nya mencapai 2,05 persen dan 1,95 persen.
STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011 35

TAHUKAH ANDA ?
Peringkat IPM Provinsi Papua Barat tahun 2010 naik satu tingkat ke peringkat 29 dari 33 provinsi di Indonesia.

8

PEMBANGUNAN MANUSIA
Garis Kemiskinan Kembali Meningkat
Garis Kemiskinan meningkat menjadi Rp. 318.796,- di tahun 2011 yang terdiri dari Rp. 254.759,garis kemiskinan makanan dan Rp. 64.036,- garis kemiskinan nonmakanan.

Gambar

8.4

Ilustrasi Capaian Indeks Pembangunan Manusia

Reduksi shortfall tertinggi tahun 2010 dicapai oleh Kabupaten Maybrat dengan capaian 3,14 persen, bertolak belakang dengan Kabupaten Sorong Selatan yang merupakan kabupaten induknya, memiliki reduksi shortfall terendah di Papua Barat (0,66%). Metode penghitungan jumlah penduduk miskin dilakukan dengan pendekatan benchmark garis kemiskinan. Garis kemiskinan terdiri dari dua komponen, yaitu garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan non makanan. Garis kemiskinan adalah

Sumber: UNDP

nilai rupiah yang harus dikeluarkan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimumnya, baik itu kebutuhan dasar makanan maupun non makanan.
2010 2011

Tabel

8.2

Indikator Kemiskinan Provinsi Papua Barat 2008-2010 2008 2009

Uraian Garis Kemiskinan (GK) GK Makanan GK Non Makanan GK Total Penduduk Miskin Jumlah (ribu) Persentase (%) Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) (%) Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) (%)

Seseorang dikatakan miskin bila berada dibawah garis kemiskinan. Pendekatan garis kemiskinan makananan digunakan standar kebutuhan hidup minimum 2100 kilo kalori didasarkan pada konsumsi makanan, sedangkan garis kemiskinan non makanan untuk memenuhi kebutuhan dasar bukan makanan seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, pakaian, serta aneka barang dan jasa. Berdasarkan metode tersebut diperoleh garis kemiskinan Provinsi Papua Barat 2011 sebesar Rp 318.796,-. Garis kemiskinan tersebut meningkat dari Rp 294.727,- pada tahun 2010 atau bertambah Rp 24.069,-. Garis kemiskinan makanan tercatat Rp 254.759,- sedangkan garis kemiskinan nonmakanan sebesar Rp 64.036,-. Peningkatan garis kemiskinan ini memberikan peluang untuk terjadinya penambahan penduduk miskin jika tidak mampu diimbangi dengan peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat.

193 930 39 641 233 570

223 538 53 878 277 416

237 147 57 580 294 727

2547 59 64 036 318 796

246,50 35,12 9,18 3,50

256,84 35,71 9,75 3,57

256,25 34,88 10,47 4,30

249,84 31,92 8,78 3,43

Sumber: Olahan Susenas Maret, 2008-2011

TAHUKAH ANDA ?
Total alokasi dana Bantuan Langsung Masyarakat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (BLM PNPM Mandiri) Papua Barat tahun 2010 yang digunakan untuk mengentaskan kemiskinan sebesar Rp 245,31 Miliar.

36

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PEMBANGUNAN MANUSIA
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Turun
Jumlah penduduk miskin Papua Barat berkurang dari 256,25 ribu orang di tahun 2010 menjadi 249,84 ribu orang di tahun 2011. Persentase penduduk miskin juga mengalami penurunan dari 34,88 persen di tahun 2010 menjadi 31,92 persen di tahun 2011.

8

Jumlah penduduk miskin di Papua Barat tahun 2011 mencapai 249,84 ribu jiwa atau mengalami penurunan dibandingkan dengan kondisi tahun 2010 yang mencapai 256,25 ribu jiwa atau terjadi pengurangan penduduk miskin sekitar 6.410 jiwa. Persentase penduduk miskin juga mengalami penurunan dari 34,88 persen di tahun 2010 menjadi 31,92 persen di tahun 2011. Meskipun demikian, persentase penduduk miskin Papua Barat adalah yang tertinggi kedua di Indonesia setelah Provinsi Papua. Jumlah dan persentase kemiskinan di Papua Barat mangalami penurunan, demikian pula dengan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Indeks P1 turun dari 10,47 persen di tahun 2010 menjadi 8,78 persen di tahun 2011. Sedangkan Indeks P2 juga mengalami

Gambar

8.5

Ilustrasi Kemiskinan

►► Formulasi Ukuran Kemiskinan:

Dimana: α = 0,1,2 z = garis kemiskinan yi = rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan q = banyaknya penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan n = jumlah penduduk α = 0 → Head Count Index (P0) = Persentase Penduduk Miskin α = 1 → Poverty Gap Index (P1) = Indeks Kedalaman Kemiskinan α = 2 → Poverty Saverity Indeks (P2) = Indeks Keparahan Kemiskinan

penurunan dari 4,30 persen menjadi 3,43 persen. Penurunan kedua nilai indeks ini mengandung makna bahwa kondisi kemiskinan di Papua Barat menjadi semakin membaik. Artinya rata-rata pendapatan penduduk miskin dengan garis kemiskinan semakin dekat dan ketimpangan pendapatan antar penduduk miskin semakin rendah. Upaya pengentasan kemiskinan perlu memprioritaskan program-program pembangunan

yang pro penduduk miskin (pro poor policy). Hal ini ditujukan untuk meningkatkan pendapatan penduduk miskin, meningkatkan daya beli, dan mengurangi pengeluaran kebutuhan dasar penduduk miskin, misalnya dengan memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat miskin.
STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011 37

TAHUKAH ANDA ?
Persentase penduduk miskin Provinsi Papua Barat tahun 2011 adalah yang teritnggi kedua (31,92%) di Indonesia setelah Provinsi Papua (31,98%).

8

PEMBANGUNAN MANUSIA
Ketimpangan Pendapatan Semakin Parah
Menurut Kemerataan Bank Dunia, ketimpangan Papua Barat terutama terjadi pada 20 persen pendapatan teratas semakin parah, persentasenya terus meningkat menjadi 43,15 persen dengan persentase ideal semestinya hanya 20 persen.

Tabel

8.3

Indikator Kemerataan Pendapatan Papua Barat 2008-2010 (%) Uraian 2008
0,36

Pertumbuhan
2009
0,35

ekonomi

yang

tinggi

tidak

selamanya dapat secara langsung mengentaskan
2010
0,37

kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi tinggi bila tidak diikuti oleh pemerataan distribusi pendapatan tidak akan berdampak pada masyarakat bawah karena sebagian besar pendapatan dikuasai oleh sekelompok kecil masyarakat ‘elit’ sedangkan sebagian masyarakat lain yang berpendapatan rendah tetap berada dalam keadaan miskin. Kemerataan menurut Bank Dunia dikelompokan kedalam 40 persen pendapatan terbawah, 40 persen pendapatan menengah, dan 20 persen pendapatan teratas. Idealnya, setiap kelompok pendapatan terdistribusi kedalam kumulatif jumlah penduduk pada

Gini Ratio (%) Kemerataan Bank Dunia (%): 40 persen pendapatan terbawah 40 persen pendapatan menengah 20 persen pendapatan teratas
Sumber: Olahan Susenas, 2008-2010
Gambar

29,61 43,09 27,30

18,08 40,23 41,69

19,14 37,71 43,15

8.6

Kemerataan Distribusi Pendapatan menurut Bank Dunia di Papua Barat 2010 (%)

20
43.15 40

kelompok yang sama agar tercapai kemerataan sempurna. Namun pada kenyataanya kondisi ideal tersebut sangat sulit terbentuk.

37.71 40 19.14

Kondisi kemerataan pendapatan di Papua Barat menunjukkan bahwa masih terjadi ketidakmerataan pendapatan. Secara umum kondisi yang paling tidak merata adalah pada 40% pendapatan terbawah dan 20% pendapatan teratas. Di tahun 2010, pada 40 persen pendapatan terbawah yang mustinya dinikmati oleh 40 persen penduduk ternyata 40 persen penduduk hanya menikmati 19,14 persen pendapatan. Keadaan justru terbalik di 20% pendapatan teratas yang seharusnya dinikmati oleh 20% penduduk. Ternyata 20% penduduk menikmati 43,15 persen pendapatan. Berarti bahwa sekelompok kecil orang memiliki pendapatan tinggi, sementara sebagian besar lainnya memiliki pendapatan yang rendah.

Ideal
Sumber: Olahan Susenas, 2009

Ketimpangan

►►CATATAN:
Ukuran Kemerataan Bank Dunia: Proporsi jumlah pendapatan dari 40 persen terbawah: < 12 persen : ketimpangan tinggi 12-17 persen : ketimpangan sedang > 17 persen : ketimpangan rendah

38

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PEMBANGUNAN MANUSIA
Gini Ratio Papua Barat Meningkat
Gini ratio Papua Barat tahun meningkat dari 0,37 persen di tahun 2009 menjadi 0,39 di tahun 2010. peningkatan ini akan mempengaruhi penurunan persentase penduduk miskin.

8

Pola kemerataan pendapatan menurut Bank Dunia di Papua Barat kondisinya lebih baik dari pada tahun 2009 dan 2010. Di tahun 2008, distribusi pendapatan pada proporsi 40% terbawah dan 20% pemerataan pendapatan. Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi tahun 2009-2010, di dua tahun tersebut ketimpangan pada proporsi pendapatan 40% terbawah dan 20% teratas terlihat sangat signifikan. Pola kemerataan pendapatan menurut Bank Dunia di Papua Barat tahun 2009-2010 menunjukkan pola yang hampir sama. Proporsi pendapatan 40% terbawah, 40% menengah dan 20% teratas memiliki besaran yang hampir sama. Perbedaanya adalah di tahun 2010 proporsi pendapatan 40% terbawah mengalami sedikit perbaikan. Sedangkan pada proporsi pendapatan 20% teratas di tahun 2010 justru semakin memburuk dengan semakin menjauhnya nilai kelompok pendapatan tersebut dari nilai idealnya. Situasi ini mengandung makna sekelompok masyarakat yang jumlahnya relatif kecil menguasai pendapatan yang besar, sebaliknya masyarakat miskin jumlahnya lebih banyak namun berpendapatan rendah. Ukuran ketimpangan pendapatan lainnya adalah menggunakan koefisien gini (gini ratio). Gini ratio Papua Barat mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai 0,35. Di tahun 2010 nilai gini ratio Papua Barat memburuk menjadi 0,37. Berdasarkan pengelompokkannya berarti tingkat ketimpangan/ketiidakmerataan distribusi pendapatan di Papua Barat termasuk ke dalam kategori sedang. pendapatan teratas lebih mendekati nilai ideal

Gambar

8.7
1

Gini Ratio Papua Barat 2010

GR = 0.37
0.8

Kumulatif Pendapatan

0.6

0.4

0.2

0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Kumulatif Penduduk Pemerataan Ideal Kurva Lorens

Sumber: Olahan Susenas, 2010

►►DEFINSI Angka Koefisien Gini adalah ukuran kemerataan pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas pendapatan. Angka koefisien Gini terletak antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nol mencerminkan kemerataan sempurna dan satu menggambarkan ketidakmerataan sempurna. Nilai 0,5-0,7 menggambarkan ketidakmerataan tinggi; 0,36-0,49 ketidakmerataan sedang; dan 0,20-0,35 mengalami ketidakmerataan rendah.

TAHUKAH ANDA ?
Persentase Penduduk miskin Provinsi Papua Barat (Maret 2011) adalah yang tertinggi kedua (31,92%) di Indonesia, meskipun demikian kontribusi jumlah penduduk miskin terhadap penduduk miskin nasional hanya 0,83 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

39

9

PERTANIAN
Kontribusi dan Pekerja Sektor Pertanian Semakin Menurun
Dari tahun ke tahun kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB dan Persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian semakin menurun. Share sektor pertanian menurun dari 24,839 persen di tahun 2009 menjadi 20,71 persen di tahun 2010. sementara pekerjanya turun dari 58,79 menjadi 54,04 persen.

Gambar

9.1

Share PDRB Sektor Pertanian dan Persentase Pekerja di Sektor Pertanian Papua Barat 2008-2010 (%)
% Tenaga Kerja
58.79 56.60 54.04

Sektor pertanian sampai dengan tahun 2008 selalu memberikan kontribusi utama dalam perekonomian Papua Barat. Persentase penduduk yang bekerjanya pun sampai saat ini selalu memiliki persentase tertinggi. Sejak tahun 2009, sektor pertanian menjadi kontributor terbesar kedua dalam

share PDRB

24.83

24.40

20.71

PDRB Papua Barat. Di tahun 2010 kontribusinya sebesar 20,71 persen dan persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 54,04 persen. Dalam beberapa tahun terakhir kontribusi sektor ini cenderung terus mengalami penurunan, sama halnya dengan jumlah tenaga kerja. Sektor pertanian dinilai memiliki produktivitas yang rendah, karena dengan 54,04 persen tenaga kerja hanya mampu memberikan sumbangan sebesar 20,71 persen
2010

2008

2009

2010

Sumber: PDRB Menurut Lapangan Usaha 2010 Sakernas diolah, 2008-2010

Tabel

9.1

Indikator Pertanian Papua Barat 2008-2010

Uraian Padi Sawah+Ladang Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) Jagung Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) Kedelai Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) Ubi Jalar Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) Ubi Kayu Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha)

2008

2009

terhadap total PDRB. Tingkat pendidikan tenaga kerja sektor ini juga lebih banyak didominasi oleh pekerja dengan pendidikan rendah. Pertumbuhan ekonomi yang mampu diberikan oleh sektor pertanian juga relatif rendah (6,20%) dibandingkan dengan sektor lain yang digerakkan oleh sumber daya manusia yang lebih kecil. Sebagai contoh sektor industri pengolahan, dengan persentase tenaga kerja hanya 3,89 persen mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi 149,52 persen. Dari pertumbuhan ekonomi sebesar 26,82 persen, hanya 2,35 persen bersumber dari sektor pertanian, sedangkan sektor industri pengolahan mampu menyumbang 18,84 persen. Produksi padi (sawah dan ladang) di Papua Barat tahun 2010 mengalami penurunan dari 36.985 ton menjadi 34.256 ton. Penurunan ini diduga terjadi oleh

11 467 39 537 34,48 1 070 1 711 15,99 1 624 1 740 10,72 1 524 15 341 100,66

10 486 36 985 35,27 965 1 584 16,41 1 150 1 208 10,50 1 044 10 597 101,52

9 464 34 256 36,20 1 162 1 930 16,61 571 600 10,51 1 039 10 557 101,61

2 052 23 071 112,43

1 105 12 228 110,66

2 369 25 114 106,01

Sumber: Diolah dari Survei Pertanian Tanaman Pangan BPS Prov Papua Barat, 2008-2010

40

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERTANIAN
Produksi Kelapa Sawit Tertinggi di Perkebunan
Dengan luas lahan 15.937 Hektar, produksi kelapa sawit Papua Barat mencapai 17.116 ton. Produksi ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya.

9

karena terjadi penurunan luas panen dari 10.486 Ha di tahun 2009 menjadi 9.464 Ha di tahun 2010. Sedangkan produktivitasnya justru mengalami peningkatan dari 35,27 Kw/Ha di tahun 2009 menjadi 36,20 Kw/Ha di tahun 2010. Jika dibandingkan dengan produktivitas nasional yang mencapai 50,14 Kw/Ha, produktivitas padi di Papua Barat dinilai relatif rendah. Setalah beberapa tahun cenderung menurun, produksi dan luas panen tanaman jagung tahun 2010 kembali mengalami peningkatan. Luas panen
Gambar

meningkat dari 965 Ha di tahun 2009 menjadi 1.162 Ha di tahun 2010. Sedangkan produksinya kembali meningkat dari 1.584 Ton di tahun 2009 menjadi 1.930 Ton di tahun 2010. Peningakatan luas panen dan produksi jagung turut mendongkrak produktivitas jagung. Di tahun 2010 produktivitasnya meningkat tipis menjadi 16,61 Kw/Ha dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 16,41. Produktivitas jagung di Papua Barat sangat rendah bila dibandingkan dengan produktivitas nasional (44,32 Kw/Ha). Gap produktivitas padi masih lebih baik dibandingkan dengan gap produktivitas jagung terhadap angka nasional. Gap produktivitas jagung yang sangat besar ini perlu mendapatkan perhatian karena di tahun 2010 luas panennya telah meningkat setelah beberapa tahun mengalami penurunan. Seandainya tingkat produksinya daerah lain. Komoditas unggulan di subsektor perkebunan Papua Barat diantaranya adalah Pala, Kelapa sawit, dapat lebih ditingkatkan maka produktivitasnya akan lebih dapat bersaing dengan

9.2

Luas Area (Ha) dan Produksi (Ton) Tanaman Pala, Kelapa Sawit, dan Kakao Provinsi Papua Barat 2010
Areal
17116 15937

Produksi

11154

5492 1921

5152

Pala

Kelapa sawit

Kakao

Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Sentra tanaman padi di Provinsi Papua Barat adalah Kabupaten Manokwari. Produksi Padinya mencapai 62,86 persen dari total produksi padi Provinsi Papua Barat.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

41

9

PERTANIAN
Populasi Ternak Babi Meningkat Tajam
Populasi ternak babi mengalami peningkatan tajam selama dua tahun terakhir. Semula populasinya sebesar 37.212 ekor di tahun 2008 menjadi 63.138 ekor di tahun 2010 atau terjadi peningkatan sebesar 44,55 persen.

Gambar

9.3

Populasi Jumlah Ternak Besar dan Kecil Papua Barat 2008-2010 (Ekor)

dan Kakao. Perkebunan kepala sawit berada di Kabupaten Manokwari, perkebunan kakao terutama di wilayah Sorong dan Manokwari, sedangkan perkebunan pala terutama di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana. Produksi pala tahun 2010 mencapai 1.921 ton dengan luas areal perkebunan seluas 5.492 Ha. Produksi kelapa sawit mencapai 17.116 ton dengan luar areal perkebunan seluas 15.937 Ha. Sedangkan perkebunan kakao memiliki areal seluas 11.154 Ha menghasilkan 5.152 ton kakao. Dari sisi peternakan, peningkatan yang paling signifikan adalah pada peternakan babi. Ternak babi meningkat dari 43.678 ekor di tahun 2008 menjadi 53.706 ekor di tahun 2009. Jumlah tersebut kembali meningkat di tahun 2010 menjadi 63.138 ekor. Tingginya peningkatan jumlah ternak babi diduga terjadi karena tingginya permintaan konsumsi daging babi. Sedangkan pada ternak sapi dan kambing meskipun mengalami peningkatan, namun peningkatannya tidak setinggi pada ternak babi. Nilai produksi perikanan Provinsi Papua Barat tahun 2010 mencapai 116.593,30 ton. Tiga kabupaten/ kota dengan produksi tertinggi adalah Kota Sorong, Kabupaten Fakfak, dan Kabupaten Manokwari. Nilai produksi ketiga kabupaten/kota tersebut masing-

Sapi Kambing Babi

2008 35297
12259 43678

2009 36081
13786 53706

2010 37212
15433 63138

Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Prov. Papua Brt, 2010

Gambar

9.4

Produksi Perikanan Laut menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat 2010 (Ton)
Fakfak Teluk Wondama Manokwari Sorong Kota Sorong Kaimana Teluk Bintuni Sorong Selatan Raja Ampat

12000 10000 8000 6000 4000 2000

0
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Distrik Kebar, Kabupaten Manokwari akan dijadikan sebuah tempat peternakan sapi terpadu dalam rencana aksi percepatan pembangunan Papua Barat 2011-2014.

masing 36.786,4 ton; 24.571,2 ton; dan 11.987,2 ton. Besarnya potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki oleh Papua Barat memungkinkan produksi perikanan laut tersebut akan semakin bertambah pada dimasa mendatang bila lebih dioptimalkan.

42

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Kontribusi dan Persentase Pekerja Menurun
Dalam beberapa tahun terakhir kontribusi dan persentase pekerja di sektor pertambangan mengalami penurunan. Meskipun demikian, produktivitas pekerja sektor ini tertinggi kedua di Papua Barat.

10

Gambar

Papua Barat adalah salah satu provinsi yang kaya akan sumber daya alam. Banyak potensi sumber daya alam berupa bahan tambang di Papua Barat yang masih belum tereksplorasi maupun yang telah tereksploitasi untuk dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Dua tambang besar yang dimiiki Papua Barat adalah tambang minyak di Kabupaten Sorong dan tambang Liquid Natural Gas (LNG) di Kabupaten Teluk Bintuni. Bahkan tambang LNG ini diperkirakan memiliki kandungan gas alam cair yang besar dan termasuk tiga produsen LNG terbesar di Indonesia. Besarnya nilai tambah bruto atau PDRB atas dasar harga berlaku sektor pertambangan dan

10.1

Share terhadap PDRB dan Persentase Pekerja di Sektor Pertambangan dan Penggalian 2007-2010 (%)

15.96

14.80 13.18 10.22

2.94

3.08

3.02

2.13

2007

2008

2009

2010

share PDRB
Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2006-2009

% Pekerja

Gambar

penggalian Papua Barat tahun 2010 mencapai 2.302,78 miliar rupiah. Nilai tersebut setara dengan 10,22 persen dari total PDRB Papua Barat yang mencapai 22.527,36 miliar rupiah. Kontribusi sektor ini adalah yang terbesar ketiga di Papua Barat setelah sektor industri pengolahan (35,45%) dan sektor pertanian (20,71%). Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian berangsur mengalami penurunan sejak tahun 2005. Di tahun 2005, kontribusi sektor ini mencapai 19,71 persen. Angka tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai titik terendah dalam sejarah penghitungan PDRB Papua Barat menjadi 10,22 persen di tahun 2010. Persentase penduduk yang bekerja di sektor pertambangan dan penggalian di tahun 2007 hanya sebesar 2,94 persen dari total penduduk bekerja. Selanjutnya di tahun 2008 mengalami peningkatan

10.2
Sektor 3

Produktivitas Pekerja Pertambangan menurut Lapangan Usaha Papua Barat 2010 (Juta Rp/Tahun)

Sektor 2 Sektor 8
Sektor 4 Sektor 5 Sektor 7 Rata-rata Sektor 6 Sektor 9 Sektor 1 0 200 400 600 800

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
LNG Tangguh beserta LNG Arun (Aceh) dan LNG Bontang (Kaltim) adalah tiga LNG yang menghasikan gas alam cair terbesar di Indonesia.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

43

10

PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Tambang Minyak dan Gas Kontributor Utama
Tambang minyak di Kabupaten Sorong dan Gas alam cair di Kabupaten Teluk Bintuni menjadi kontributor utama dalam produksi migas Papua Barat.

menjadi 3,08 persen. Selanjutnya ditahun 2009 dan 2010 sektor ini mengalami penurunan menjadi 3,02 persen dan 2,13 persen. Sumbangan sektor pertambangan dan penggalian terhadap total PDRB tahun 2010 berada pada posisi ketiga setelah sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, namun produktivitas sektor ini menempati posisi kedua setelah industri pengolahan. Produktivitas pekerja di sektor ini cukup tinggi karena dengan persentase penduduk yang bekerja hanya 2,13 persen
Kawasan Tambang Minyak di Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat

tetapi mampu memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 10,22 persen. Bandingkan dengan sektor pertanian yang memiliki persentase pekerja mencapai 54,04 persen namun hanya memberikan share 20,71 persen terhadap PDRB. Dua kontributor tambang terbesar di Papua Barat adalah pertambangan minyak Petro Cina di kabupaten Sorong dan pertambangan LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni. LNG Tangguh, LNG Arun (Aceh), dan LNG Bontang (Kaltim) adalah 3 perusahaan tambang LNG terbesar yang dimiliki Indonesia. LNG Tangguh diperkirakan memiliki kandungan gas sebesar 14,4 Trilyun kaki kubik. LNG Tangguh terbagi dalam 3 blok eksploitasi gas alam cair, yaitu Blok Berau, Blok Weriagar, dan Blok Muturi. Meskipun merupakan pertambangan dengan nilai produksi yang tinggi, namun sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) dalam penghitungan PDRB nilai tambahnya sebagian besar masuk kedalam sektor industri pengolahan karena telah mengalami perubahan wujud produk (output).

TAHUKAH ANDA ?
Saham terbesar LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni dimiliki oleh British Petroleum (BP) dengan presentase kepemilikan sebesar 37,16 persen.

LNG Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat Sumber: Image Google

44

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Lebih dari Setengah Rumah Tangga Belum Teraliri Listrik PLN
Dari total 168 ribu rumah tangga di Papua Barat, baru sekitar 47,85 persen yang telah teraliri oleh listrik PLN.

10 9

Kondisi penggunaan energi listrik terutama yang memanfaatkan listrik negara (PLN) masih belum maksimal. Belum seluruh kabupaten di Papua Barat mendapatkan pasokan listrik 24 jam, seperti contohnya di Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Maybrat. Disamping itu juga tidak semua desa teraliri listrik PLN. Sekitar 32,37 persen desa saja yang telah terjangkau layanan PLN. Sulitnya kondisi geografis dan terbatasnya ketersediaan energi listrik menjadi penyebab belum meratanya pasokan listrik sampai menjangkau seluruh kecamatan maupun desa di Papua Barat. Untuk wilayah yang tidak dialiri listrik 24 jam atau yang tidak mendapatkan pasokan listrik PLN umumnya penduduk menggunakan listrik non PLN seperti genset atau penerangan non listrik seperti sentir, petromaks, pelita dan lain sebagainya. Dari total 168 ribu rumah tangga di Papua Barat, hanya 80.421 rumah tangga yang terdaftar sebagai pelanggan PLN. Persentase tertinggi pelanggan PLN adalah untuk golongan rumah tangga, yaitu mencapai 80,25 persen. Sebesar 19,75 persen sisanya terbagi untuk golongan bisnis (14,61%); sosial (3,14%); publik (1,98%); dan untuk golongan industri (0,01%). Sekitar 80.421 rumah tangga (47,85%) dari total 168.080 rumah tangga di Papua Barat telah teraliri listrik PLN. Persentase pelanggan listrik PLN tertinggi berada di Kabupaten Manokwari (74,42%); Kota Sorong (56,48%); Kabupaten Sorong (48,54%); dan Kabupaten Fakfak (45,89%). Sementara itu pelanggan PLN di Kabupaten Tambrauw hanya 13,31 persen.

Gambar

10.3

Persentase pelanggan PLN menurut Jenisnya Papua Barat 2010 (%)

80.25 14.61

3.14 Sosial Rumah Tangga Bisnis Industri

0.01

1.98

Publik

Sumber: PT PLN (persero) Wilayah Papua, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Satuan yang lazim digunakan dalam industri gas alam cair adalah MMBTU (MM British Thermal Unit). MM disini adalah dua angka romawi M (MM = 1.000.000).

Gambar

10.4

Persentase Rumah Tangga yang Telah Teraliri Listrik PLN 2010 (%)

Tambrauw Raja Ampat Teluk Bintuni Sorong Sltn Kaimana Maybrat Fakfak Papua Barat

13.31 13.77 15.95 25.35 27.31 28.77 45.89

47.85
48.54 56.48 74.42

Sorong Kota Sorong Manokwari

Sumber: PLN Papua, 2010

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

45

11

INDUSTRI PENGOLAHAN
Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan Sensasional
Industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar dalam PDRB Papua Barat (35,45%) di tahun 2010. pertumbuhan sektor ini mencapai 149,52 persen.

Gambar

11.1

Share terhadap PDRB dan Persentase Pekerja di Industri Pengolahan Papua Barat 2007-2010 (%)
35.45

Kontribusi sektor industri pengolahan dalam perekonomian Papua Barat memilki prospek yang sangat baik di masa mendatang. Sektor ini terus mengalami peningkatan share terhadap total PDRB. Di tahun 2007 share sektor ini hanya 20,11 persen. Namun di tahun 2010 kontribusinya meningkat sangat

20.11

22.64

24.71

3.69

3.59

3.74

3.89

signifikan menjadi 35,45 persen. Kontribusi sektor industri pengolahan menempati posisi pertama dalam PDRB Papua Barat menggeser sektor pertanian (24,52%) sejak tahun 2009. Nilai agregat PDRB-nya mencapai 7.985,22 miliar rupiah jauh meninggalkan sektor pertanian yang pada tahun 2009 hanya beda tipis nilai agregat PDRB-nya. Pertumbuhan sektor ini di tahun 2010 dapat dibilang sangat sensasional. Sektor ini tumbuh mencapai 149,52 persen dibandingkan tahun 2009 yang hanya mencapai 14,76 persen. Pertumbuhan yang sangat luar biasa ini dipicu oleh mulai beroperasinya industri gas alam cair di Kabupaten Teluk Bintuni. Bila dilihat dari sisi produktivitasnya, sangat jelas

2007

2008

2009

2010

share PDRB
Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2007-2010

% Pekerja

Gambar

11.2

Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan Papua Barat 2007-2010 (%)

149.52

8.22

7.61

14.76

bahwa sektor pertanian masih tertinggal jauh dengan
2010

2007

2008

2009

sektor industri pengolahan. Bila pada sektor pertanian dengan 56,60 persen dari total tenaga kerja hanya mampu memberikan kontribusi 24,52 persen, pada sektor industri pengolahan hanya dengan 3,74 persen tenaga kerja mampu memberikan kontribusi sebesar 24,39 persen dari total PDRB Papua Barat. Sektor ini merupakan sektor yang memiliki produktivitas tertinggi diantara sektor-sektor lainnya di Provinsi Papua Barat (lihat gambar 10.2).

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010

►►Catatan: Industri Pengolahan dibagi kedalam 4 golongan: 1. 2. 3. 4. Industri Besar (tenaga kerja ≥100 orang) Industri Sedang (tenaga kerja 20-99 orang) Industri Kecil (tenaga kerja 5-19 orang) Industri Rumah Tangga (tenaga kerja 1-4 orang)

46

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

INDUSTRI PENGOLAHAN
Industri Makanan dan Minuman Hampir Setengah dari Total Industri
Jumlah industri makanan dan minuman hampir setengah dari seluruh industri pengolahan besar sedang. Persentasenya mencapai 47,62 persen.

11

Gambar

Menurut Survei Industri Besar Sedang BPS, di tahun 2009 ada 21 perusahaan industri besar sedang. industri tersebut hanya terbagi menjadi enam kategori lapangan usaha menurut KBLI dua digit (lihat box). Jenis industri terbanyak yaitu industri makanan dan minuman sebesar 47,62 persen. Industri terbanyak kedua adalah industri kayu (selain mebeller) yaitu sebesar 19,05 persen. Industri lainnya adalah industri penerbitan, percetakan, dan reproduksi media rekam; industri barang-barang dari batubara, pengilangan minyak bumi, dan pengolahan minyak bumi; industri barang galian bukan logam; dan industri alat angkutan selain kendaraan bermotor roda empat atau lebih dengan persentase kurang dari 35 persen. Menurut sebarannya, industri besar sedang hanya terdapat di empat kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Teluk Biintuni (5,92%), Kabupaten Sedangkan Manokwari m en u ru t (19,05%), Kabupaten Sorong (14,29%), dan Kota Sorong (5 7 , 1 4 %) . kepemilikannya, sebesar 9,52 persen adalah milik pemerintah pusat; 4,76 persen milik pemerintah daerah; 61,90 persen milik swasta nasional; 19,05 persen milik swasta nasional dan asing; serta 4,76 persen adalah milik pemerintah pusat dan asing. Secara umum, tenaga kerja pada sektor industri besar sedang didominasi oleh pekerja berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebesar 81,62 persen. Pekerja perempuan hanya sebesar 18,38 persen. Seluruh kelompok perusahaan industri besar sedang memiliki kondisi serupa, yakni didominasi oleh pekerja berjenis kelamin laki-laki.

11.3
15

Persentase Perusahaan Industri Besar Sedang menurut Lapangan Usaha 2009c(%)

19.05 47.62 14.29

20
22 23 26 35 4.76 9.52 4.76

Sumber: Survei Industri Besar Sedang, 2009

►►KODE PERUSAHAAN INDUSTRI MENURUT LAPANGAN USAHA (KBLI, 2005): 15 : Industri makanan dan minuman 20 : Industri kayu (tidak termasuk mebeller) 22 : Industri penerbitan, percetakan, dan reproduksi media rekam 23 : Industri barang-barang dari batubara, pengilangan minyak bumi dan pengolahan minyak bumi, barangbarang dari hasil pengilangan minyak bumi, dan bahan bakar nuklir 26 : Industri barang galian bukan logam 35 : Industri alat angkutan, selain kendaraan bermotor roda 4 atau lebih
Tabel

11.1

Persentase Tenaga Kerja Perusahaan Industri Besar Sedang 2009 (%) Jumlah Tenaga Kerja Laki-laki
77,58 84,21 72,22 96,62 93,10

Perusahaan
15 20 22 35 Lainnya

Perempuan
22,42 15,79 27,78 3,38 6,90

Total
100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

JUMLAH
Sumber: Survei IBS, 2009

81,62

18,38

100,00

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

47

12

KONSTRUKSI
Pertumbuhan Sektor Konstruksi Melambat
Meskipun share sektor konstruksi cenderung stabil, namun dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhannya mengalami perlambatan. Di tahun 2009 dan 2010 pertumbuhan sektor konstruksi melambat menjadi 12,96 persen dan 9,77 persen.

Gambar

12.1

Kontribusi terhadap PDRB, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pekerja Sektor Kostruksi 2010 (%)

Ditengah percepatan pembangunan di Papua Barat sebagaimana diamanahkan dalam Perpres Nomor 65 Tahun 2011, sektor konstruksi memegang peranan penting khususnya dalam pembangunan

16.35 12.97 9.36 12.96

infrastruktur. Pembangunan infrastuktur ini terus
9.77

9.75

8.62

dilakukan

untuk

mengejar

ketertinggalan

9.03

pembangunan dari provinsi-provinsi lain. Nilai tambah bruto sektor konstruksi Papua Barat tahun 2009 mencapai 648,21 miliar rupiah. Share sektor ini terus mengalami peningkatan beberapa tahun ini. Kontribusinya sebesar 8,00 persen di tahun 2006 meningkat 1,81 persen menjadi 9,81 persen di tahun 2009. Walaupun bukan sebagai kontributor utama dalam PDRB Papua Barat namun

4.35

4.22

4.77

5.06

2007 2008 Share PDRB

2009 % Pekerja

2010 Pertumbuhan

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2010

Gambar

12.2

Nilai Konstruksi yang Diselesaikan di Papua Barat 2006-2009 (Triliun Rupiah)
1.64
1.48

pertumbuhannya berada pada peringkat kedua setelah sektor pengangkutan dan komunikasi. Pertumbuhan sektor ini cenderung tinggi dari tahun ke tahun. Meskipun pada tahun 2009 mengalami koreksi menjadi 13,16 persen setelah sebelumnya pertumbuhan di tahun 2008 sebesar 15,02 persen. Bila dilihat dari produktivitasnya, sektor ini termasuk kelompok menengah. Dengan persentase pekerja sebesar 5,06 persen dan kontribusi terhadap

1.29
1.11

2006

2007

2008

2009

Sumber: BPS RI, 2006-2009

PDRB mencapai 9,03 persen, sektor ini mampu menghasilkan produktivitas sebesar 126,89 juta rupiah per tahun. Nilai konstruksi yang diselesaikan di Papua Barat terus meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2006 nilai konstruksi mencapai 1,11 triliun rupiah. Nilainya semakin meningkat di tahun 2009 hingga mencapai 1,64 triliun rupiah.

TAHUKAH ANDA ?
Jumlah seluruh penduduk di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua hanya sekitar seperempat penduduk di Pulau Jawa.

48

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

HOTEL DAN PARIWISATA
Jumlah Hotel Terus Bertambah
Selama dua tahun terakhir, jumlah hotel baik tipe berbintang maupun melati mengalami peningkatan. Hotel bintang meningkat dari 8 unit menjadi 10 unit, sedangkan hotel melati bertambah sebanyak lima unit menjadi 70 hotel.

13

Tabel

Kontribusi subsektor perhotelan memang tidak signifikan dalam perekonomian Papua Barat. Agregat PDRB sektor ini tahun 2010 hanya sebesar 43,84 miliar rupiah atau hanya sekitar 0,19 persen dari total PDRB Papua Barat. Meskipun demikian, subsektor ini cukup menjanjikan. Pertumbuhan subsektor perhotelan melonjak cukup pesat. Di tahun 2008 pertumbuhan subsektor ini hanya 11,77 persen, kemudian di tahun 2009 meningkat menjadi 17,78 persen. Walaupun menurun, pertumbuhan di tahun 2010 masih relatif tinggi, yaitu mencapai 11,67 persen. Jumlah hotel di Papua Barat tahun 2009 adalah 80 unit, yang terdiri dari 10 hotel bintang dan 70 hotel melati. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2009 yang berjumlah 73 unit (8 unit hotel bintang dan 65 unit hotel melati). Hotel berbintang hanya tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Fakfak, Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong. Sedangkan di Kabupaten Sorong, Maybrat dan Tambrauw tidak berdiri satu unit hotel pun. Jumlah kamar dan tempat tidur hotel melati di tahun 2010 mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah kamar meningkat 241 unit dan jumlah tempat tidur mengalami peningkatan 669 unit. Sementara untuk hotel berbintang meskipun meningkat namun tidak sesignifikan hotel melati, yaitu meningkat 191 unit untuk kamar dan 86 unit untuk tempat tidur. Rata-rata lama tamu menginap hotel berbintang memiliki pola yang sama di tahun 2008-2010 pada tamu asing maupun domestik, yaitu mengalami peningkatan di tahun 2009 kemudian menurun di tahun

13.1

Statistik Perhotelan Papua Barat 2008-2010

Uraian Jumlah Hotel (unit) Bintang Melati Jumlah Kamar (unit) Bintang Melati

2008

2009

2010

8 63

8 65

10 70

451 1 181

451 1 132

642 1 373

Jumlah Tempat Tidur (unit) Bintang
725 725 1 643 811 2 312 1 710 Melati Rata-rata Lama Tamu Menginap (domestik+asing) (Hari/orang) 2,34 Bintang 2,79 Melati Rata-rata Lama Tamu Menginap (asing) (Hari/orang) 6,56 Bintang 5,9 Melati Rata-rata Lama Tamu Menginap (domestik) (Hari/orang) 2,08 Bintang

5,34 2,14

3,06 2,39

9,69 2,32

2,61 3,62

2,56 2,14

2,03 2,32

Melati Jumlah Tamu Asing Bintang Melati Jumlah Tamu Domestik Bintang Melati

2,78

978 155

1602 94

2220 732

20 612 25 045

34 124 18 118

34 502 30 731

Sumber: Statistik Perhotelan Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Di Papua Barat hotel berbintang hanya dapat ditemukan di Kabupaten Fakfak, Kabupaten Manokwari, dan Kota Sorong.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

49

13

HOTEL DAN PARIWISATA
Rata-rata Lama Menginap Tamu Asing Hotel Bintang Menurun Tajam
Rata-rata lama tamu asing menginap hotel bintang tahun 2010 mengalami penurunan tajam dibandingkan dengan tahun 2009. Rata-rata lama menginapnya menjadi 2,61 hari/orang dari 9,69 hari/orang.

2010. Namun pola fluktuasi paling signifikan terjadi pada rata-rata lama tamu asing menginap pada hotel bintang. Rata-rata lama tamu menginap tahun 2008 terhadap 2009 meningkat menjadi 9,69 hari/orang (hr/ org). dari 6,56 hr/org. Tahun 2010 rata-rata lama menginap menurun tajam menjadi 2,61 hr/org. Rata-rata lama menginap pada hotel melati bertolak belakang dengan hotel berbintang. Pada hotel melati polanya adalah mengalami penurunan di tahun 2009 dan kembali meningkat di tahun 2010. Rata-rata
Gambar: Hotel di Manokwari

tamu menginap hotel bintang tahun 2008 sebesar 6,56 hr/org, kemudian di tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 9,69 hr/org, dan di tahun 2010 menurun tajam menjadi 2,61 hr/org. Sedangkan pada hotel melati fluktuasi rata-rata lama menginap tidak
32

Gambar

13.1

Jumlah Objek Wisata menurut Jenisnya di Papua Barat 2010

terlalu signifikan, yaitu 2,08 hr/org (2008); 2,56 hr/org (2009); dan 2,03 hr/org (2010).
19

20

Rata-rata

lama

menginap

tamu

domestik

8

umumnya lebih singkat dari pada tamu asing dalam tiga tahun terakhir. Rata-rata lama menginap tamu domestik tahun 2010 yang menginap di hotel berbintang hanya 2,03 hr/org, sedangkan tamu asing

Alam

Tirta/Bahari

Budaya

Argo

2,61 hr/org. Sementara itu, tamu domestik untuk hotel melati hanya 2,32 hr/org, sedangkan tamu asing mencapai 3,62 hr/org. Jumlah objek wisata di Papua Barat tahun 2010 sebanyak 79 objek. Objek wisata tersebut terdiri dari 20 objek wisata alam, 8 objek wisata tirta/bahari, 32 objek wisata budaya, dan 19 objek wisata agro. Objek wisata yang telah mendunia saat ini adalah objek wisata bawah laut di Kepulauan Raja Ampat.

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Papua Barat memiliki 26 kawasan konservasi (cagar alam, taman wisata alam dan suaka marga satwa) seluas 3 juta Hektar.

50

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

HOTEL DAN PARIWISATA
Keanekaragaman Hayati Kepulauan Raja Ampat Terlengkap di dunia
Selain keindahan panorama, Kepulauan Raja Ampat memiliki keanekaragaman flora dan fauna bawah laut terlengkap di dunia. Sekitar 75 persen jenis karang dunia ada disini..

14

Wilayah

timur

Indonesia

terkenal

dengan

panorama keindahan alam yang eksotis. Sebagian besar panorama alam tersebut bahkan masih sangat alami dan masih belum terjamah komersialisasi pariwisata. Demikian pun yang terjadi di Papua Barat, sebagian objek wisata belum terekspos sehingga belum banyak dikenal khalayak umum. Salah satu objek wisata yang mulai popular adalah wisata bawah laut Kepulauan Raja Ampat. Kepulauan Raja Ampat merupakan wilayah Kabupaten Raja Ampat. Kurang lebih ada 610 pulau, yang berpenghuni hanya sekitar 35 pulau. Ada 4 gugusan pulau terbesar di pulau ini, yaitu Pulau Misool, Pulau Salawati, Pulau Batanta, dan Pulau Waigeo. Kawasan ini sangat berpotensi menjadi daerah wisata, terutama wisata bawah laut. Perairan Raja Ampat merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan diperkirakan menjadi nomor satu untuk kelengkapan dan keanekaragaman hayati flora dan fauna bawah laut saat ini. Wisata bawah laut Raja Ampat diperkirakan terdapat lebih dari 540 jenis karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska, dan catatan tertinggi bagi gonodactyloid stomatopod crustaceans. Ini menjadikan 75% spesies karang dunia berada di Raja Ampat. Tak satupun tempat dengan luas area yang sama memiliki jumlah spesies karang sebanyak ini. Wisata alam lain yang menjadi andalan Papua Barat adalah Taman Nasional Teluk Cendera Wasih (TNTC) yang terletak di Kabupatek Teluk Wondama.
Kawasan Kepulauan Raja Ampat Sumber: Image Google

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

51

13

HOTEL DAN PARIWISATA
Banyak Pesona Wisata di Papua Barat Belum Terungkap
Kawasan Indonesia timur memiliki pesona keindahan alam yang eksotis, namun tak banyak dari sekian banyak panorama alam ini yang terekspos kepada khalayak umum.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih terbentang dari timur Semenanjung Kwatisore sampai utara Pulau Rumberpon dengan panjang garis pantai 500 km, luas daratan mencapai 68.200 Ha, luas laut 1.385.300 Ha dengan rincian 80.000 Ha kawasan terumbu karang dan 12.400 Ha lautan. TNTC memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, antara lain 200 jenis karang, 355 jenis ikan, 153 jenis moluska, dan 37 jenis burung. Sedangkan potensi wisatanya
Parrot Fish, salah satu jenis ikan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih Sumber: Image Google

berupa wisata mangrove, penangkaran rusa, wisata pantai, olahraga selam, pengamatan burung, lumbalumba dan ikan paus. Ekowisata di kepala burung Pulau Papua terdapat cagar alam Pegunungan Arfak di Kabupaten Manokwari. Kawasan ini memiliki luas mencapai 68.325 Ha dengan ketinggian mencapai 2.940 meter diatas permukaan laut membentang diantara Distrik Menyambaouw, Warmare, Ransiki, Oransbari, dan Anggi. Disana juga terdapat dua danau yang berada pada ketinggian diatas 2.000 meter diatas permukaan laut yang bernama Danau Anggi Giji dan Danau Anggi Gita Sementara itu, baru-baru ini di Kabupaten Manokwari ditemukan sebuah gua yang diklaim sebagai gua terdalam di dunia oleh tim ekspedisi speleologi (ahli gua) Perancis di Kawasan

Eksotisme Senja di Kaimana Sumber: Image Google

TAHUKAH ANDA ?
Kepulauan Raja Ampat memiliki keanekaragaman flora dan fauna bawah laut terlengkap di dunia. Bahkan 75% spesies karang dunia berada di perairan ini.

Pegunungan Lina di Iranmeba, Distrik Didohu. Gua ini diperkirakan mencapai kedalaman 2.000 meter. Di Kabupaten Kaimana terdapat wisata pantai dan laut Teluk Triton disamping keindahan panorama senja di Kaimana yang melegenda serta masih banyak lagi potensi wisata lain yang belum terungkap.

52

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI
Program Percepatan Pembangunan dengan Pembangunan Jalan
Salah satu program pendukung percepatan pembangunan Papua Barat yang diamanahkan dalam Perpres No 65 Tahun 2011 Tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua Barat adalah Program Pengembangan Infrastruktur Dasar berupa pembangunan ruas jalan Trans Papua Barat.

14

Dalam perekonomian Papua Barat tahun 2010, sektor pengangkutan (transportasi) dan komunikasi memang tidak memberikan kontribusi utama. Sektor yang termasuk ke dalam sektor tersier bersama sektor perdagangan, hotel, dan restoran; keuangan,

Gambar

14.1

Kontribusi terhadap PDRB dan Pertumbuhan Sektor Angkutan dan Komunikasi 2007-2010 (%)

16.36

10.89
7.72 7.44 6.93 7.25

10.93

persewaan, dan jasa perusahaan; serta sektor jasajasa ini hanya mampu memberikan kontribusi 5-7 persen dalam beberapa tahun terakhir. Kontribusinya di tahun 2010 hanya 6,38 persen dengan nilai agregat PDRB sebesar 1.437,07 miliar rupiah atas dasar harga berlaku dan 612,20 miliar rupiah atas dasar harga konstan.
Gambar

6.38

2007

2008
Pertumbuhan

2009

2010

Share PDRB

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2010

Share sektor ini di tahun 2010 hanya 6,38 persen, masih lebih rendah di bandingkan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (8,38%); dan sektor jasa-jasa (7,23%) yang sama-sama berada di sektor tersier. Bila dilihat dari sisi pertumbuhan ekonominya, di tahun 2010, sektor transportasi dan komunikasi memiliki angka pertumbuhan yang tertinggi kedua terhadap tahun 2009 dibandingkan dengan sektor tersier lainnya. Sektor ini tumbuh 10,93 persen, atau mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai 16,36 persen dan merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi di Papua Barat di tahun tersebut. Salah satu program pendukung percepatan pembangunan Papua Barat yang diamanahkan dalam Perpres No 65 Tahun 2011 Tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat adalah Program Pengembangan Infrastruktur Dasar. Program tersebut rencananya akan membangun dan

14.2

Ruas Jalan Trans Papua Barat Dalam Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Papua Barat 2011-2015

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

53

14

TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI
Jalan Trans Papua Barat Menghubungkan Seluruh Kabupaten/Kota
Ruas jalan Trans Papua akan dibangun untuk menghubungkan seluruh kabupaten/kota di Papua Barat. Panjangnya diperkirakan akan mencapai 1.874,32 Km yang terbagi ke dalam 6 ruas jalan.

Gambar

14.3

Persentase Panjang Jalan menurut Tingkat Pemerintahan yang Berwenang 2010 (%)

meningkatkan jaringan jalan Trans Papua dan Papua Barat. Pembangunan ruas jalan akan menghubungkan seluruh kabupaten/kota yang selama ini belum terhubung dengan jalan darat. Rencana panjang jalan yang akan dibangun adalah 1.874,32 Km yang terbagi menjadi dalam dua bagian, yaitu ruas jalan nasional dan strategis Papua Barat serta ruas jalan tambah Papua Barat. Ruas jalan nasional dan strategis Papua Barat terdiri dari empat ruas jalan, yaitu Manokwari-Sorong (606,17 Km); Manokwari (Maruni) - Bintuni (217,15 Km); Fakfak-Hurimber-Bomberay (162,00 Km); dan Sorong-Mega (76,00 Km). Sedangkan Ruas Tambah

kabupaten, 63.74

Negara, 7.20 Provinsi, 16.38

Sumber: Dinas Perhubungan dan Informatika Provinsi Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Dalam rangka perpcepatan pembangunan Papua Barat, pemerintah akan membangun ruas jalan sepanjang 1.874,32 Km yang akan menghubungkan seluruh kabupaten/kota di Papua Barat.

Papua Barat terdiri dari dua ruas, yaitu FakfakKaimana-Manokwari (609,00 Km) dan SusumukBintuni (204,00 Km). Kini sebagian pembangunan jalan ini sedang dilakukan, meskipun sebagian kabupaten telah terhubung namun belum dibuka untuk umum. Tersedianya akses transportasi yang memadai

Gambar

14.4

Persentase Panjang Jalan menurut Jenis Permukaan 2010 (%)

menjadi kebutuhan yang urgen bagi wilayah Papua Barat yang kondisi geografisnya relatif sulit. Pembangunan akses transportasi terutama jalan darat

lainnnya, 5.93

aspal, 23.19

akan memberikan multiplier effect dari banyak sisi. Akses transportasi yang baik akan memudahkan pemerataan pendidikan, kesehatan, distribusi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kesulitan dalam perhubungan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi yang akan berpengaruh pada tingkat harga. Tingkat harga yang tinggi inilah menjadi penyebab daya beli masyarakat rendah sehingga kemiskinan cenderung tinggi.

tanah, 38.79

kerikil, 28.61

Sumber: Dinas Perhubungan dan Informatika Provinsi Papua Barat, 2010

54

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI
Sebagian Besar Permukaan Jalan Berjenis Tanah
Ruas jalan terpanjang memiliki jenis permukaan tanah, persentasenya sebesar 38,79 persen, sedangakan permukaan kerikil sebesar 28,61 persen lebih panjang dibandingkan jalan dengan permukaan terluas berjenis aspal (23,19%).

14

Panjang jalan di Papua Barat tahun 2010 hanya 5.729,22 Km, kondisi ini mengalami perbaikan dibandingkan pada tahun 2008 yaitu sepanjang 5.400,71 Km. Kondisi panjang jalan tersebut terbagi menjadi 412,31 Km (7,20%) jalan negara; 938,48 Km (16,38%) jalan provinsi; dan 4.378.43 Km (76,42%) adalah jalan kabupaten. Sedangkan menurut jenis permukaanya terbagi menjadi 1.328,49 Km (23,19%) jalan aspal; 1.639,25 Km (28,61%) jalan dengan permukaan kerikil; 2.222,13 Km (38,79%) jalan dengan permukaan tanah; dan 539,35 Km (9,41%) adalah jalan dengan permukaan lainnya. Dengan masih terbatasnya akses perhubungan lewat darat, sebagian besar orang memanfaatkan fasilitas perhubungan via laut dan udara. Jumlah penumpang kapal datang (debarkasi) dan berangkat (embarkasi) cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2008 jumlah penumpang datang 281,2 ribu orang dan berangkat 277,7 ribu orang dengan jumlah armada 880 kapal. Di tahun 2010 jumlahnya mengalami penurunan menjadi 237,2 ribu orang (debarkasi) dan 252,9 ribu orang (embarkasi) dengan jumlah armada yang juga menurun menjadi 669 unit. Jumlah penumpang pesawat udara cenderung memiliki tren meningkat signifikan selama 2008-2010. Jumlah penumpang datang mencapai 334,7 ribu orang dengan jumlah penerbangan 11.656 dan berangkat 349,2 ribu orang dengan jumlah penerbangan 11.820 kali di tahun 2010. Rata-rata penumpang pesawat untuk debarkasi sebesar 29 orang untuk debarkasi dan 30 penumpang untuk embarkasi.*)

Gambar

14.5

Jumlah Penumpang Datang dan Berangkat Kapal Laut di Pelabuhan yang Diusahakan 2008-2010 (org)
349.2

334.7

229.9 197.3

240.7

234.5

2008 2009 debarkasi (ribu)

2010 embarkasi (ribu)

Sumber: Dikutip dari Publikasi Statistik Perhubungan BPS Prov Papua Barat, 2009

TAHUKAH ANDA ?
Jadwal pelayaran kapal Pelni yang membawa barang dari luar Papua Barat sangat berpengaruh terhadap laju inflasi di Papua Barat.

Gambar

14.6

Jumlah Penumpang Datang dan Berangkat Pesawat Udara 2008-2010 (orang)

281.2 269.0 269.1 252.9 237.2

249.7

2008 2009 debarkasi (ribu)

2010 embarkasi (ribu)

Sumber: Dikutip dari Publikasi Statistik Perhubungan BPS Prov Papua Barat, 2009 *) rata-rata jumlah penumpang diperoleh dari pembagian jumlah penumpang dengan jumlah penerbangan termasuk pesawat ringan dengan kapasitas kecil.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

55

15

PERBANKAN DAN INVESTASI
Kredit Perbankan untuk Investasi Meningkat Tajam
Kredit pinjaman bank menurut penggunaan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat meminjam dana di bank untuk kebutuhan investasi. Di tahun 2010 pinjaman kredit untuk investasi meningkat tajam dari 42,46 persen menjadi 57,60 persen.

Gambar

15.1

Jumlah Kantor Bank menurut Jenisnya di Provinsi Papua Barat 2008-2010 (unit)

Perbankan

selain

memberikan

kemudahan

fasilitas bertransaksi dan sebagai tempat penyedia dana bagi yang membutuhkan dana kredit juga menjadi sarana yang aman untuk berinvestasi. Peranannya dalam mendukung proses pembangunan menjadi sangat vital di era modern seperti saat ini. Jumlah kantor bank di Provinsi Papua Barat terus meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2007 jumlah kantor bank hanya 49 unit yang terdiri dari 5 unit bank swasta nasional serta 44 unit bank persero dan pemerintah daerah. Di tahun 2010 jumlahnya meningkat menjadi 67 unit kantor bank, yang terbagi menjadi 13 unit bank swasta nasional serta 54 unit

53 46

63

67

52

54

7
2008

11 13
2009
2010

Swasta Nasional
Sumber: Bank Indonesia, 2010

Persero dan Pemda

Jumlah

Gambar

15.2

Posisi Kredit Perbankan Rupiah dan Valas menurut Jenis Penggunaan2007-2010 (%)

bank persero dan pemerintah daerah. Dalam tiga tahun fasilitas kredit perbankan yang disalurkan ke masyarakat baik rupiah maupun valuta asing (valas) lebih banyak digunakan untuk investasi. Penggunaan kredit untuk keperluan modal kerja/usaha justru lebih kecil digunakan dari penggunaan kredit untuk keperluan konsumsi. Penggunaan kredit perbankan untuk investasi meningkat dari 40,58 persen di tahun 2007 menjadi 57,60 persen di tahun 2010, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan tipis dari tahun 2009 menjadi 42,46 persen. Hal ini tersirat bahwa kesadaran masyarakat untuk berinvestasi dalam perbankan semakin modal membaik. kerja Sedangkan lebih tingginya konsumtif

38.59

34.87

35.45

24.41
18.00

20.83

22.55

22.09 57.60

40.58

42.59

42.46

2007

2008 Investasi

2009 Modal Kerja

2010 Konsumsi

Sumber: Bank Indonesia, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Di Papua Barat, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (Sektor 6) lebih banyak memanfaatkan fasilitas kredit perbankan dibandingkan dengan sektor lainnya.

penggunaan kredit untuk konsumsi dari pada untuk menunjukkan perilaku masyarakat, meskipun persentasenya berangsurangsur mengalami penurunan.

56

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

HARGA-HARGA
Kenaikan Harga Hampir Satu Setengah Kali Lipat
Secara umum sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2011* harga-harga barang meningkat hampir satu setengah kali lipat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai IHK yang mencapai 143,49 persen atau telah terjadi kenaikan harga sebesar 43,49 persen terhadap tahun dasar 2007.

16

Tabel

Inflasi adalah persentase tingkat perubahan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi rumah tangga. Perubahan yang dimaksud adalah terjadi kenaikan atau mungkin penurunan harga barang dan jasa. Ada kalanya harga barang tidak berubah dibandingkan dengan kondisi sebelumnya pada referensi survei. Rata-rata tertimbang dari perubahan harga barang dan jasa tersebut pada periode waktu tertentu (bulanan) disebut inflasi/harga naik (nilainya >0) dan deflasi/harga turun (nilainya <0). Indikator ini dapat dipakai sebagai informasi dasar dalam pengambilan keputusan kebijakan ekonomi makro dan mikro, baik fiskal maupun moneter. Kenaikan harga memang tidak dapat dihindari, namun dapat dikendalikan. Pengendalian harga-harga perlu dilakukan mengingat Papua Barat masih menggantungkan ketersediaan barang dari luar provinsi. Oleh karena itu, kelancaran distribusi barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat harus dimonitor karena sangat berpengaruh dalam kenaikan harga. Inflasi yang tinggi akibat dari kenaikan harga mengakibatkan daya beli masyarakat menurun, dampaknya kinerja perekonomian manjadi menurun dan kemiskinan cenderung meningkat. IHK Papua Barat tahun 2010 (kondisi bulan September) sebesar 143,49 persen artinya terjadi kenaikan harga secara umum sebesar 43,49 persen dibandingkan dengan harga pada tahun dasar 2007, atau dengan kata lain, harga secara umum saat ini hampir satu setengah kali lebih mahal dari pada harga tahun 2007. Selama tahun 2008-2011* ini, inflasi lebih

16.1
Bulan

Indeks Harga Konsumen (2007=100) Papua Barat Januari 2009-September 2011 (%) 2009
128,70 128,76 129,03 128,62 128,80 129,59 131,02 131,96 131,51 131,41 131,50 132,80

2010
132,99 133,10 133,30 135,37 134,62 135,56 138,75 140,12 140,38 139,71 139,97 141,10

2011*
140,45 140,32 139,34 138,86 139,17 141,50 143,55 144,60 143,49

Januari Febuari Maret April Mei Juni Juli Agtustus September Oktober November Desember

Sumber: BPS Prov Papua Barat, 2009-2011

►► Kegunaan Angka Inflasi :
1. Indeksasi upah dan tunjangan gaji pegawai (wageindexation). 2. Penyesuaian nilai kontrak (contractual payment). 3. Eskalasi nilai proyek (project escalation). 4. Penentuan target inflasi (inflation targeting). 5. Indeksasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (budget indexation). 6. Sebagai pembagi PDB/PDRB (GDP/GRDB deflator) 7. Sebagai proxy perubahan biaya hidup (proxy of cost of living). 8. Indikator dini tingkat bunga, valas, dan indeks harga saham.

TAHUKAH ANDA ?
Selama Januari 2009-September 2011 Kota Sorong dan Manokwari mengalami inflasi tertinggi sebanyak enam kali dan deflasi tertinggi lima kali secara nasional.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

57

16

HARGA-HARGA
Fluktuasi Harga Tidak Terkontrol
Fluktuasi harga tidak terkontrol di dua kota inflasi Papua Barat (Kota Sorong dan Manokwari) terlihat dengan begitu seringnya kedua kota ini menduduki peringkat lima besar inflasi dan deflasi tertinggi. Dalam 33 bulan terjadi 12 kali inflasi tertinggi dan 16 kali deflasi tertinggi (lima besar) di Indonesia.

Gambar

16.1
3

Laju Inflasi Gabungan Bula Papua Barat Januari 2009-September 2011* (%)

banyak terjadi dari pada deflasi. Sepanjang 33 bulan tersebut, hanya 10 kali terjadi penurunan IHK (deflasi), 23 bulan lainnnya terjadi kenaikan IHK (inflasi). Sepanjang Januari 2009-September 2011, Kota
1.45

2.5
2 1.5 1.11 1 0.5 1.98

2.35

1.56 0.99

Sorong dan Manokwari (kota inflasi) mengalami 12 kali berada dalam 5 besar peringkat inflasi tertinggi di Indonesia, dan enam kali diantaranya menjadi kota dengan inflasi tertinggi pertama dari 66 kota inflasi.

0.81

0 -0 .5
-1 -0.32 -0.34 -0.47

-0.55

-0.46

Disamping itu, dua kota ini juga mencatatkan diri
-0.76

sebanyak 16 kali sebagai lima besar deflasi tertinggi dan 5 diantaranya menjadi peringkat tertinggi dari 66 kota inflasi. Bila mencermati kondisi fluktuatif ini, tampaknya perkembangan (kenaikan) harga belum terkontrol dengan baik. Usaha dari pemerintah daerah diperlukan untuk memonitoring harga agar setidaknya kondisinya lebih stabil. Selama Januari 2009-September 2011 inflasi gabungan tertinggi sebesar 2,35 persen yang terjadi di bulan Juli 2010. Sedangkan deflasi terendah terjadi di bulan September 201 sebesar –0,76 persen. Laju inflasi tahun kalender tertinggi terjadi di tahun 2008, yaitu sebesar 20,06 persen. Inflasi ini diduga terjadi karena pada tahun 2008 terjadi dua kali kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan harga BBM ini berdampak multiplier effect terhadap harga-harga berbagai barang dan jasa. Inflasi mulai terkendali di tahun 2009, terbukti dengan turunnya inflasi tahun kalender menjadi 5,22 persen, meskipun di tahun 2010 kembali meningkat menjadi 6,25 persen. Di tahun ini, tingkat inflasi lebih terkontrol, bahkan terjadi deflasi dalam tiga bulan terakhir dengan deflasi

Sumber: Survei Harga Konsumen, 2009-2010

Tabel

16.2

Laju Inflasi Tahun Kalender (2007=100) Januari 2009-September 2011 (%) 2008
0,90 0,87 1,70 2,27 5,88 11,97 16,66 18,87 20,73 20,05 18,79 20,06

Bulan Januari Febuari Maret april Mei Juni Juli Agtustus September Oktober November Desember

2009
1,98 2,02 2,24 1,91 2,06 2,68 3,82 4,56 4,20 4,12 4,20 5,22

2010
0,15 0,22 0,37 1,94 1,37 2,08 4,48 5,52 5,71 5,21 5,40 6,25

2011*
-0,46 -0,55 -1,25 -1,59 -1,37 0,28 1,74 2,48 1,70

Sumber: Survei Harga Konsumen, 2008-2010 *) Data sampai dengan bulan September 2011

►► CATATAN: Inflasi ringan : kurang dari 10 % per tahun Inflasi sedang : 10-30 % per tahun Inflasi tinggi : 30-100 % per tahun Hyperinflation : lebih dari % per tahun

58

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

HARGA-HARGA
Harga Meningkat Satu Setengah Kali Lipat
Berdasarkan IHK tahun 2011*, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menjadi pemicu utama inflasi. Hal ini ditunjukkan dengan menempatkan kelompok tersebut menjadi IHK tertinggi yaitu 159,95 perrsen, artinya terjadi kenaikan harga sebesar 59,95 persen terhadap tahun dasar 2007 pada kelompok pengeluaran tersebut.

16

Tabel

tertinggi -0,76 persen. Hal ini membuat inflasi tahun kalender tahun 2011* baru berada pada nilai 1,70 persen, jauh lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Bila pada tiga bulan kedepan terjadi inflasi yang tinggi maka inflasi tahun kalender tahun 2011 berpeluang mendekati tahun 2010. Namun bila pada tiga bulan selanjutnya terjadi deflasi maka inflasi tahunan Papua Barat pada tahun 2011 akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2010. Untuk itu, pemerintah daerah harus melakukan monitoring harga mengingat tren tahun sebelumnya pada setiap akhir tahun selalu terjadi inflasi dengan nilai yang tinggi akibat perayaan natal dan tahun baru. Penghitungan angka inflasi dikelompokkan ke dalam 7 kelompok pengeluaran. IHK tertinggi selalu berada pada kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau selama tiga tahun terakhir. IHK pada kelompok pengeluaran tersebut tahun 2010 mencapai 159,95 persen, artinya terjadi kenaikan harga sebesar 59,95 persen pada kelompok pengeluaran ini dibandingkan dengan kondisi tahun dasar 2007. Dengan kata lain, harga-harga pada kelompok pengeluaran tersebut mengalami kenaikan lebih dari 1,5 kali lipat terhadap tahun 2007. Inflasi tahun kalender tahun 2010 tercatat 6,25 persen. penyumbang inflasi terbesar dari kelompok pengeluaran bahan makanan, yaitu sebesar 8,34 persen. Inflasi kelompok pengeluaran sandang memiliki tingkat inflasi terendah, yaitu hanya 2,36 persen. Berbeda dengan inflasi tahun kalender 2009, pada tahun kalender 2010 inflasi terjadi pada seluruh

16.3

IHK Gabungan Papua Barat menurut Kelompok Pengeluaran 2009-2011* (%)
2009 144,82 147,45 131,81 117,35 125,78 113,72 111,96 132,80 2010 156,90 159,37 137,48 120,11 129,93 120,49 116,73 141,10 2011* 157,40 159,95 141,76 123,11 134,46 123,55 120,22 143,49

Kelompok Pengeluaran Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Umum/Total

Sumber: Survei Harga Konsumen, 2009-2011 *) Data sampai dengan bulan September 2011

Tabel

16.4

Laju Inflasi Tahun Kalender (2007=100) menurut Kelompok Pengeluaran 2009-2011* (%)
2009 5,10 5,35 8,29 10,13 5,99 5,52 -0,85 5,22 2010 8,34 8,08 4,30 2,36 3,30 5,96 4,26 6,25 2011* 0,32 0,36 3,12 2,50 3,49 2,54 2,99 1,70

Kelompok Pengeluaran Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Umum/Total

Sumber: Survei Harga Konsumen, 2009-2011 *) Data sampai dengan bulan September 2011

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

59

16

HARGA-HARGA
Petani Mengalami Surplus Usaha
Secara umum, petani mengalami surplus usaha. Hal ini terlihat dari nilai NTP 2011 sebesar 103,23 persen. Artinya petani mengalami surplus usaha sebesar 3,23 persen.

Gambar

16.6

Nilai Tukar Petani (NTP) Papua Barat 2008-2011* (%) (2007=100)

kelompok pengeluaran. Inflasi tahun kalender tahun 2011* sebesar 1,70 persen dengan penyumbang terbesar inflasi pada kelompok pengeluaran kesehatan sebesar 3,49 persen, dan kelompok pengeluaran bahan makanan menyumbang inflasi terendah sebesar 0,32 persen. Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu

140
130.57 124.17
126.98 131.13 127.03 126.70 120.96

120

116.87

106.24

104.98 103.05 103.23

100

indikator yang berguna untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani, karena mengukur kemampuan tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga petani. NTP Papua Barat tahun 2011* sebesar 103,23 persen lebih tinggi dibandingkan dengan NTP tahun 2010 sebesar 103,05 persen. Meskipun demikian, nilai NTP cenderung mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir. Nilai NTP 103,23 persen artinya petani mengalami surplus usaha sebesar 3,23 persen. NTP Papua Barat 2008-2011* nilainya selalu diatas 100 persen, maknanya kesejahteraan petani menjadi lebih baik dibandingkan dengan tahun dasar 2007. Meskipun NTP 2011* mengalami peningkatan dibandingkan dengan NTP tahun 2010, namun nilai NTP 2008-2010 cenderung mengalami penurunan. Tren penurunan tersebut diakibatkan oleh laju indeks yang dibayarkan petani (Ib) bergerak lebih cepat dibandingkan dengan indeks yang diterima petani (It). Bila kecepatan laju Ib tidak terkontrol maka lambat laun akan menyamai atau bahkan melebihi nilai It, yang berarti bahwa NTP akan semakin menurun.

2008

2009 It Ib

2010 NTP

2011*

Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2008-2011* *) Data sampai dengan bulan September 2011

TAHUKAH ANDA ?
Pertanian subsektor tanaman pangan di Papua Barat paling tidak prospektif dibandingkan dengan subsektor lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai NTP yang selalu dibawah 100.

Tabel

16.5
Tahun
2009 2010 2011*

NTP menurut Subsektor 2009-2011* (%) (2007=100) NTP_N
113,75 111,17 112,74

NTP_H
111,45 106,55 107,20

NTP_PR
121,84 119,38 126,06

NTP_PT
112,33 113,78 113,12

NTP_P
90,66 87,81 87,20

Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2009-2011* *) Data sampai dengan bulan September 2011 NTP_N : Nilai Tukar Petani perikanan NTP_H : Nilai Tukar Petani Hortikultura NTP_PR : Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat NTP_PT : Nilai Tukar Petani Peternakan NTP_P : Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan

60

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

HARGA-HARGA
Pertanian Tanaman Pangan Tidak Prospektif
NTP subsektor tanaman pangan tidak pernah lebih dari 100 persen. Artinya adalah biaya yang dibayarkan petani selalu lebih tinggi daripada biaya yang diterima petani dalam usaha pertaniannya. Dengan kata lain petani di subsektor tanaman pangan belum survive.

16

Nilai NTP berdasarkan subsektor tahun 2011* tercatat bahwa seluruh subsektor mengalami peningkatan nilai indeks dibandingkan dengan kondisi tahun 2010 kecuali pada subsektor peternakan dan tanaman pangan. NTP tertinggi berada pada subsektor pertanian perkebunan rakyat, nilai indeksnya sebesar 126,20 persen. Hal ini dapat diartikan bahwa petani pertanian perkebunan rakyat pendapatannya dari usaha pertanian lebih baik dari pada petani pada subsektor lain. Diantara subsektor-subsektor tersebut hanya subsektor tanaman pangan yang nilai indeksnya dibawah 100 persen, yaitu sebesar 87,20 persen. Artinya indeks yang harus dibayarkan petani lebih tinggi dari indeks yang diterima petani atau dapat dikatakan petani tanaman pangan belum survive. Secara umum inflasi pedesaan tahunan lebih rendah dari pada di perkotaan. Kondisi ini tampak dari besarnya IHK total dari tahun ke tahun. Sebagai contoh di tahun 2011*, IHK perkotaan telah mencapai 143,49 persen sedangkan IHK pedesaan baru mencapai 133,15 persen. Artinya bahwa di tahun 2011* telah terjadi kenaikan harga secara umum sebesar 43,49 persen untuk daerah perkotaan dan 33,15 persen di daerah pedesaan dibandingkan dengan harga tahun dasar 2007. Selama tahun 2009-2011* inflasi pedesaan tertinggi adalah sebesar 1,78 persen yang terjadi pada bulan Agustus 2009, lebih tinggi dari nilai inflasi perkotaan pada bulan yang sama. Sementara deflasi terendah terjadi pada bulan April 2011 sebesar –0,82 persen, lebih rendah dari daerah perkotaan yang juga

Gambar

16.7

Laju Inflasi Pedesaan Bulanan (2007=100) Papua Barat Januari 2009-September 2011* (%)
1.78

2.00
1.50

1.09 1.00

0.99 0.55 0.09

0.82

0.74 0.75

0.64

0.50
0.00

-0.02 -0 .50 -0.58 -1 .00

-0.63

-0.78

-0.82

Sumber: Survei Harga Pedesaan, 2009-2011 *) Data sampai dengan bulan September 2011

TAHUKAH ANDA ?
Meskipun pada daerah perkotaan lebih banyak terjadi deflasi selama Januari 2009-September 2011 dari pada di daerah pedesaan, tetapi ternyata tingkat kenaikan harga di perkotaan lebih tinggi.

Tabel

16.6

Indeks Harga Konsumen Pedesaan menurut Kelompok Pengeluaran (2007=100) (%) 2008
128,99 108,59 126,84 118,21 115,84 104,92 107,80 120,21

Kelompok Pengeluaran
Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Umum/Total

2009
139,08 114,34 121,52 126,26 120,87 107,12 102,16 125,65

2010
151,83 119,89 123,18 127,71 122,47 109,70 103,54 133,00

2011*
150,33 121,81 123,01 130,37 123,42 112,98 103,66 133,15

Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2008-2011* *) Data sampai dengan bulan September 2011

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

61

16

HARGA-HARGA
Inflasi Beruntun Sebelas Bulan
Selama dua tahun terakhir, kelompok pengeluaran bahan makanan sebagai penyumbang inflasi tahun kalender tertinggi, yaitu 7,82 persen (2009) dan 7,66 persen (2010*).

Tabel

16.7

Laju Inflasi Pedesaan Tahun Kalender (2007=100) menurut Kelompok Pengeluaran 2009-2011*(%) 2009
7,82 5,30 -4,19 6,81 4,34 2,10 -5,23 4,53

mengalami deflasi pada bulan tersebut (-0,34%). Selama periode 2009-2011* hanya terjadi enam kali deflasi, sedangkan 27 bulan lainnya mengalami inflasi, bahkan pernah terjadi inflasi 11 bulan secara berurutan pada bulan November 2009-September 2010. Kenaikan harga tertinggi berdasarkan kelompok pengeluaran berada pada bahan makanan, yaitu 50,33 persen terhadap tahun dasar 2007 (nilai IHK=150,33%). Sedangkan kelompok pengeluaran transport, komunikasi dan jasa keuangan mengalami kenaikan harga terendah yaitu hanya sebesar 3,66 persen (nilai IHK=103,66%). Laju inflasi pedesaan tahun kalender tahun 2010 sebesar 5,86 persen, lebih tinggi dari tahun 2009 sebesar 4,53 persen. Hal ini mengandung arti tingkat kenaikan harga di tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan tahun 2009. Sedangkan inflasi tahun kalender tahun 2011* hanya sebesar 0,11 persen. Keadaan ini mengindikasikan bahwa tingkat kenaikan harga selama setahun terakhir lebih stabil, terbukti dengan menurunnya inflasi 5 dari 7 kelompok pengeluaran. Perkembangan harga sembako perlu mendapatkan perhatian pemerintah daerah karena sangat mempengaruhi stabilitas harga. Harga beras tahun 2009 rata-rata sebesar Rp 6.843/Kg dan mengalami kenaikan menjadi Rp 6.970/Kg di tahun 2010. Demikian pula dengan harga gula pasir yang mengalami kenaikan dari Rp 11.242/Kg menjadi Rp 13.147/Kg di tahun 2010. Harga minyak goreng justru mengalami penurunan dari Rp 14.453/Kg di tahun 2009 menjadi Rp 14.298/Kg di tahun 2010.

Kelompok Pengeluaran
Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Umum/Total Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2009-2011 *) Data sampai dengan bulan September 2011

2010
9,17 4,85 1,37 1,14 1,32 2,40 1,35 5,86

2011*
-0,99 1,60 -0,14 2,08 0,78 2,99 0,12 0,11

Gambar

16.8

Perkembangan Harga Sembilan Bahan Pokok (Sembako) Terpilih Papua Barat 2009-2010 (Rp/Kg)
2009 2010
14453 14298 11242

13147

6843 6970

Beras

Minyak goreng

Gula

Sumber: SHPB 2009-2010

TAHUKAH ANDA ?
Kenaikan harga tahunan secara umum di pedesaan selalu lebih rendah dibandingkan di perkotaan selama tahun 2008-2011*.

62

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENGELUARAN PENDUDUK
Kontribusi Konsumsi Rumah Tangga Menurun
Pengeluaran konsumsi rumah tangga berdasarkan PDRB penggunaan tahun 2010 sebesar 50,02 persen, turun dari kondisi 2009 sebesar 58,33 persen. Meski demikian, komponen ini menjadi penyumbang terbesar diantara 7 komponen pembentuk PDRB penggunaan .

17

Tabel

Berdasarkan 11.268,71 miliar

PDRB rupiah.

penggunaan Kondisi ini

tercatat tumbuh

pengeluaran rumah tangga tahun 2010 mencapai dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 6,43 persen dengan nilai agregat pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 10.041,36 miliar rupiah. Pertumbuhan di tahun 2009-2010 lebih tinggi dibandingkan dengan periode 2008-2009 yang hanya meningkat 6,18 persen dengan nilai tambah PDRB tahun 2008 untuk pengeluaran rumah tangga sebesar 8.614,25 miliar rupiah. Kontribusi konsumsi rumah tangga pada perekonomian dalam PDRB dari sisi penggunaan sangat tinggi, kontribusinya mencapai 50,02 persen di tahun 2010. Kontribusi komponen ini adalah yang tertinggi diantara tujuh komponen pembentuk PDRB menurut penggunaan (pengeluaran). Konsumsi rumah tangga ini meliputi konsumsi makanan dan konsumsi non makanan. Peranan konsumsi makanan pada konsumsi rumah tangga pada PDRB penggunaan tahun 2010 memberikan kontribusi sebesar 69,10 persen dan pertumbuhannya mencapai 12,12 persen. Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan Papua Barat terus mengalami peningkatan. Di tahun 2008 rata-rata pengeluaran hanya Rp 346.929 per kapita per bulan, kemudian di tahun 2009 nilainya mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu mencapai 28,10 persen menjadi Rp 444.426 per kapita per bulan. Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi di Indonesia. Di tahun rata-rata pengeluaran kembali meningkat menjadi Rp 498.338 per kapita per bulan.

16.7

Statistik Pengeluaran Penduduk 2008-2010

Uraian
PDRB pengeluaran Konsumsi rumah tangga (Juta Rp) Distribusi (%) Pertumbuhan(%) Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan (Rp) Makanan (Rp) Non Makanan (Rp)

2008

2009

2010

8 614 250,23 61,64 10,57

10 041 359,40 58,33 6,18

11 268 707,07 50,02 6,43

346 929

444 426

498 338

205 333 141 595

268 046 176 380

283 070 215 268

Sumber: PDRB menurut Penggunaan, BPS Provinsi Papua Barat 2010

TAHUKAH ANDA ?
Konsumsi rumah tangga selalu menjadi kontributor utama dalam PDRB menurut penggunaan Provinsi Papua Barat.

Sumber: Image Google

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

63

17

PENGELUARAN PENDUDUK
Persentase Pengeluaran Makanan Kembali Turun
Persentase pengeluaran makanan tahun 2010 turun menjadi 56,80 persen dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 60,31 persen. Hal ini searah dengan teori ekonomi bahwa bila selera tidak berubah, pengeluaran makanan menurun dengan semakin meningkatnya pendapatan (Ernst Engel).

Gambar

17.2

Persentase Pengeluaran per Kapita Makanan dan Non Makanan Papua Barat 2008-2010 (%)

Perbandingan antara pengeluaran makanan dan non makanan dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi persentase pengeluaran non makanan maka dapat

59.19

60.31

56.80 43.20

40.81

39.69

dikatakan bahwa tingkat kesejahteraannya semakin membaik. Pola pengeluaran makanan di Papua Barat memiliki kecenderungan terus meningkat beberapa tahun terakhir, namun di tahun 2010 persentase telah menurun. Di tahun 2008 persentase pengeluaran makanan sebesar 59,19 persen meningkat menjadi 60,31 persen di tahun 2009. Kemudian di tahun 2010 persentase menurun sesuai dengan hukum ekonomi yang dikemukakan oleh Ernst Engel bahwa bila selera tidak berbeda maka pengeluaran untuk makanan akan menurun dengan semakin meningkatnya pendapatan. Tingkat kecukupan gizi, indikator yang dapat menggambarkan kesejahteraan masyarakat dihitung berdasarkan besarnya kalori dan protein yang dikonsumsi, yaitu dengan menjumlahkan hasil kali antara kuantitas setiap makanan yang dikonsumsi dengan besarnya kandungan kalori dan protein setiap
52

2008

2009
Makanan

2010
Non Makanan

Sumber: Konsusmsi Kalori dan Protein Penduduk Indonesia dan Provinsi Susenas, 2008-2010

Gambar

17.3

Konsumsi Kalori (KKal) dan Konsumsi Protein (gram) per Kapita per Hari 2008-2010

konsumsi kalori
2010

konsumsi protein
2010 51.08
49.35 48.49

1892.7 2009
2008 1750 1800 1850 1900

1822.1 1873.3

2009

2008 46 48

50

jenis makanan. Berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII 2004 ditetapkan standar angka kecukupan konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia. Angka kecukupan konsumsi kalori yaitu sebesar 2000 Kilokalori per kapita per hari dan 52 gram per kapita per hari untuk konsumsi protein. Berpedoman pada pernyataan diatas, maka konsumsi kalori penduduk Papua Barat masih dibawah standar kecukupan. Konsumsi kalori per kapita per hari

Sumber: Konsusmsi Kalori dan Protein Penduduk Indonesia dan Provinsi (Susenas, 2008-2010)

TAHUKAH ANDA ?
Kwarshiorkor adalah salah satu penyakit akibat kekurangan protein. Ciri-cirinya pembengkakan pada kaki dan tangan, wajah sembab dan otot kendur, serta rambut kemerahan dan mudah putus

64

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENGELUARAN PENDUDUK
Konsumsi Kalori dan Protein Dibawah Standar
Konsumsi kalori dan protein masyarakat Papua Barat masih dibawah standar kecukupan 2.000 Kkal/ kapita/hari untuk kalori dan 52 gram/kapita/hari untuk protein. Di tahun 2010 konsumsi kalori Papua Barat sebesar 1.822,13 Kkal/kapita/hari dan konsumsi protein hanya 51,08 gram/kapita/hari.

17

masyarakat Papua Barat tahun 2008 sebesar 1.873,31 KKal. Kemudian di tahun 2009, konsumsi kalori mengalami penurunan menjadi 1.822,13 Kkal per kapita per hari. Pada tahun 2010 konsumsi kalori meningkat menjadi 1.822,13 Kkal per kapita per hari. Rata-rata konsumsi protein penduduk Papua Barat juga masih berada dibawah batas standar kecukupan konsumsi protein 52 gram per kapita per hari selama tiga tahun terakhir. Meskipun demikian, rata-rata konsumsi protein cenderung mengalami peningkatan dengan semakin mendekati angka standar kecukupan konsumsi protein yang disyaratkan. Konsumsi protein tahun 2008 dan 2009 sebesar masing-masing 48,49 gram per kapita per hari dan 49,35 gram per kapita per hari. Di tahun 2010 konsumsinya meningkat menjadi 51,08 gram per kapita per hari. Bersama dengan lima provinsi lainnya (Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Papua, Maluku, dan Maluku Utara), Papua Barat termasuk provinsi dengan konsumsi protein dibawah standar kecukupan. Rendahnya konsumsi protein di Papua Barat sebenarnya masyarakat dipengaruhi di oleh pola konsumsi protein pedesaan. Konsumsi
2008 2010

Gambar

17.3

Konsumsi Kalori (KKal) dan Konsumsi Protein (gram) per Kapita per Hari 2008-2010

Konsumsi Kalori
Kalori Desa
Kalori Kota
2010 1796.62 2010 1921.1

2009

1995.91

2009

1777.24

2008 1600 1800 2000

2145.92 2008 2200 1700 1800

1792.84

1900

2000

Konsumsi Protein
Protein Kota
56.41

Protein Desa
2010 49.5

2009

62.86

2009

45.35

66.63

2008 35 40

43.14

50

60

70

45

50

Sumber: Konsusmsi Kalori dan Protein Penduduk Indonesia dan Provinsi (Susenas, 2008-2010)

TAHUKAH ANDA ?

masyarakat perkotaan telah melampaui standar kecukupan protein, yaitu mencapai 56,41 gram per kapita per hari, sedangkan di dearah pedesaan hanya sebesar 49,50 gram per kapita per hari. Sebaliknya untuk konsumsi kalori justru masyarakat pedesaan lebih tinggi, yaitu mencapai 1.921,10 Kkal per kapita per hari, sementara untuk masyarakat perkotaan hanya mencapai 1.796,62 Kkal per kapita per hari.

 Satu

 Satu gram karbohidrat akan menghasilkan 4 Kkal  Satu  Satu
energi

gram protein akan menghasilkan 4 Kkal energi

gram lemak akan menghasilkan 9 Kkal energi gram alkohol akan menghasilkan 7 Kkal energi

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

65

18

PERDAGANGAN
Dominasi Subsektor Perdagangan Berlanjut di Sektor Enam
Subsektor perdagangan sangat dominan dalam sektor enam (perdagangan, hotel, dan restoran). Subsektor ini memberikan share sebesar 90,30 persen, sedangkan sisanya dibagi antara subsektor hotel dan subsektor restoran.

Gambar

18.1

Agregat PDRB menurut Subsektor Perdagangan Papua Barat 2007-2010 (Miliar Rupiah)

Subsektor perdagangan dalam penghitungan PDRB termasuk dalam sektor enam (perdagangan, hotel, dan restoran). Agregat PDRB subsektor perdagangan tahun 2010 sebesar 1.705,10 miliar rupiah, kondisi ini meningkat dari tahun 2009 sebesar 1.555,71 miliar rupiah. Peran subsektor perdagangan dalam sektor enam sangat dominan, kontribusinya mencapai 90,30 persen dari agregat PDRB sektor tersebut tahun 2010, sedangkan 9,70 persen lainnya dibagi antara subsektor hotel dan subsektor restoran. Sedangkan kontribusi terhadap total PDRB tahun 2010 hanya sebesar 7,57 persen. Kontribusi subsektor perdagangan mengalami tren menurun dalam empat tahun terakhir. Di tahun 2007 kontribusi yang diberikan subsektor ini mencapai 9,73 persen. Kemudian di tahun 2008, 2009, dan 2010 kontribusinya berangsur menurun menjadi 9,05

1705.10
1555.71 1328.50 1008.27

2006

2007

2008

2009

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010

Gambar

18.2
9.73
9.39

Share terhadap PDRB dan Pertumbuhan Subsektor Perdagangan Papua Barat 2007-2010 (%)

9.05

9.04

9.51 7.57 5.40

persen; 9,04 persen; dan 7,57 persen. Sama halnya dengan kontribusi terhadap PDRB, pertumbuhan subsektor perdagangan menunjukkan tren perlambatan. Semula di tahun 2007 pertumbuhannya mencapai 9,39 persen dan sempat mengalami peningkatan tipis di tahun 2008 menjadi 9,51 persen. Setelah itu, di tahun 2009 dan 2010 pertumbuhannya mengalami perlambatan menjadi 5,40 persen dan 3,08 persen. Ditengah kecenderungan perlambatan subsektor perdagangan, subsektor hotel dan restoran justru memiliki pertumbuhan yang tinggi. Dalam dua tahun terakhir pertumbuhannya mencapai diatas 10 persen.

3.08 2007 2008
Share PDRB

2009
Pertumbuhan

2010

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Di sektor 6 (perdagangan, hotel, dan restoran) peran subsektor perdagangan sangat dominan, share-nya selalu diatas 90 persen dalam waktu 10 tahun terakhir.

66

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDAPATAN REGIONAL
Migas lambungkan PDRB Papua Barat
Dengan agregat 4.997,30 miliar rupiah menjadikan Kabupaten Sorong sebagai kabupaten dengan PDRB ADHB terbesar di Provinsi Papua Barat. Lebih dari sepertiga dari total PDRB disumbangkan oleh kabupaten tersebut

19

PDRB Papua Barat tahun 2010 mengalami peningkatan tajam di tahun 2010 nilainya mencapai Rp. 22,53 triliun Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Rp. 8,69 triliun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000. Nilai PDRB tersebut mengalami peningkatan dari Rp. 17,21 triliun ADHB dan Rp. 6,85 triliun ADHK di tahun 2009. Bila tanpa memperhitungkan subsektor minyak dan gas (migas), besarnya PDRB Papua Barat tahun 2010 sebesar Rp. 13,70 triliun ADHB dan Rp. 5,74 triliun ADHK 2000. PDRB tanpa migas juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009 yaitu dari Rp. 12,03 triliun ADHB dan Rp. 5,37 triliun ADHK 2000. Selisih nilai antara PDRB ADHB dengan migas dan tanpa migas adalah sebesar Rp. 8,83 triliun atau sekitar 39,20 persen terhadap total PDRB. Hal ini membuktikan bahwa kontribusi subsektor migas dalam PDRB Papua Barat sangat signifikan. PDRB ADHB dan ADHK tertinggi menurut lapangan usaha tercatat pada sektor industri pengolahan yaitu mencapai Rp. 7,96 triliun dan Rp. 2,51 triliun. Sedangkan PDRB ADHB dan ADHK terendah menurut lapangan usaha yaitu sektor liastrik, gas, dan air bersih sebesar Rp. 97,56 miliar dan Rp. 34,09 miliar. PDRB ADHB dengan migas tertinggi menurut kabupaten/kota di tahun 2009 tercatat berada di Kabupaten Sorong, yaitu sebesar Rp. 6,11 triliun. Sedangkan PDRB ADHK dengan migas tertinggi berada di Kabupaten Teluk Bintuni, yaitu sebesar Rp. 2,11 triliun. Sedangkan nilai PDRB ADHB dan ADHK

19.1

Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Papua Barat 2009-2010 (Rp Juta)
ADHB 2009
4 199 944,05 2 268 377,64 4 253 883,34 88 156,15 1 678 230,58 1 710 450,82 1 248 415,03 410 528,30 1 356 151,72 17 214 137,63 12 031 519,15

Tabel

Lapangan Usaha
Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB PDRB tanpa Migas

ADHK 2010 2009
1 896 815,48 1 099 264,98 1 004 826,11 31 766,02 654 538,95 715 364,04 551 873,87 152 391,98 741 714,48 6 848 555,91 5 371 731,90

2010
2 014 324,40 1 090 051,52 2 507 291,09 34 085,13 718 468,24 743 881,85 612 201,04 169 182,34 796 162,38 8 685 647,99 5 738 616,35

4 664 455,36 2 302 782,91 7 985 221,46 97 557,00 2 034 290,84 1 888 243,87 1 437 073,75 489 988,11 1 627 751,51 22 527 364,81 13 696 928,73

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010
Tabel

19.2

Produk Domestik Regional Bruto Menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat 2009-2010 (Rp Juta)
ADHB ADHK 2010 1 483 373,62 859 730,25 371 194,91 4 763 235,20 3 066 016,10 392 841,54 6 113 735,00 1 129 673,30 36 384,46 186 118,94 3 109 599,29 22 527 364,81 13 696 928,73 2009 593 354,91 362 055,42 180 001,48 606 019,05 1 092 776,53 167 627,09 1 799 365,58 530 167,49 16 301,80 76 124,24 1 408 723,76 6 848 555,91 5 371 731,90 2010 639 868,10 393 389,57 180 104,60 2 115 263,85 1 197 341,58 177 864,63 1 849 598,49 540 747,12 17 005,83 81 479,77 1 529 577,30 8 685 647,99 5 738 616,35

Lapangan Usaha 2009 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong PDRB PB PDRB PB Tanpa Migas 1 267 537,76 751 257,47 353 568,58 1 185 665,94 2 618 216,61 338 368,64 5 723 412,60 1 058 438,64 32 756,30 158 853,05 2 688 333,47 17 214 137,63 12 031 519,15

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

67

19

PENDAPATAN REGIONAL
Industri Pengolahan Kekuatan Baru di Papua Barat
Setelah beberapa tahun menjadi kontributor utama dalam PDRB Papua Barat, sektor pertanian tergeser oleh sektor industri pengolahan dalam dua tahun terakhir. Kontribusi sektor ini mencapai 35,45 persen dalam perekonomian Papua Barat.

Gambar

19.1

Distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha Papua Barat 2010 (%)
Industri Pengolahan, 35.45

terendah berada di Kabupaten Tambrauw, yaitu Rp 36,38 miliar dan Rp 17,01 miliar. Bila komponen migas tidak diperhitungkan dalam penghitungan PDRB, maka di tahun 2010 Kota Sorong memiliki nilai PDRB ADHB dan ADHK 2000 tertinggi diantara kabupaten lainnya. Besarnya PDRB Kota Sorong masing-masing Rp. 3,11 triliun dan Rp. 1,53 triliun. PDRB tahun 2010 terendah ADHB dan ADHK 2000 tetap berada di Kabupaten Tambrauw Rp. 36,38 miliar dan Rp. 17,01 miliar (lampiran 1.8). Sektor-sektor unggulan di suatu daerah dapat diketahui dari struktur perekonomiannya. Struktur perekonomian merupakan distribusi persentase nilai tambah atas dasar harga berlaku menurut sektor. Struktur ini dapat memperlihatkan sektor-sektor utama yang berkontribusi besar dalam perekonomian. Ada tiga sektor unggulan yang menjadi penggerak perekonomian Papua Barat sebagai kontributor utama dalam PDRB. Ketiga sektor itu adalah sektor industri pengolahan, memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Papua Barat sebesar 35,45 persen; sektor pertanian, memberikan kontribusi 20,71 persen; serta sektor pertambangan dan penggalian memiliki andil 10,22 persen. Sementara sektor lainnya memberikan sumbangan terhadap PDRB masing-masing kurang dari 10 persen. Belakangan ini terjadi kecenderungan pergeseran struktur perekonomian di Papua Barat yaitu terjadi pergeseran dari sektor primer ke sektor sekunder. Hal ini terlihat dari semakin menurunnya kontribusi sektor primer dan semakin meningkatnya share sektor sekun-

Pertambangan dan Galian, 10.22

Listrik, Gas & Air Bersih, 0.43

Bangunan, 9.03 Pertanian, 20.71
Jasa-jasa, 7.23 Perdag, Hotel Keu, Persewaan Transpor dan dan Resto, 8.38 & Jasa Perush, Komunikasi, 6.38 2.17

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010

Tabel

19.3
Sektor

Share terhadap PDRB menurut Sektor Primer, Sekunder, dan Tersier Papua Barat 2008-2010 (%) 2008 39,63 32,53 27,84 100,00 2009 37,58 34,97 27,45 100,00 2010 30,93 44,91 24,16 100,00

Primer Sekunder Tersier Total

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat (diolah), 2008-2010

►►CATATAN:  Sektor Primer terdiri dari pertanian dan Pertambangan &
Penggalian

 Sektor Sekunder terdiri dari Industri Pengolahan; Listrik,
Gas, dan Air Bersih; dan Konstruksi

 Sektor Tersier terdiri dari Perdagangan, Hotel dan
Restoran; Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan, Persewaan, dan Jasa perusahaan; serta Jasa-Jasa

68

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PENDAPATAN REGIONAL
Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat Tertinggi
Mulai berproduksinya LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni telah mendongkrak pertumbuhan ekonomi Papua Barat menjadi 26,82 persen. Angka pertumbuhan ekonomi ini adalah yang tertinggi di Indonesia di tahun 2010.

19

der dalam tiga tahun terakhir. Sektor primer pada tahun 2008 memberikan kontribusi sebesar 39,63 persen mengalami penurunan menjadi 30,93 persen di kontribusinya di tahun 2008 sebesar 32,53 persen meningkat menjadi 44,91 persen di tahun 2010. Sementara itu sektor tersier pun mengalami penurunan kontribusi, yaitu dari 27,84 persen di tahun 2008 menjadi 24,16 persen di tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi disuatu daerah biasanya dihitung dengan membandingkan besarnya nilai tambah antar waktu menurut harga konstan. Dengan menggunakan dasar harga konstan dapat diketahui sejauh mana pertumbuhan riil dari suatu daerah tanpa dipengaruhi oleh kenaikan harga sehingga menggambarkan kondisi perekonomian serta dapat diperbandingkan antar waktu dan antar daerah. Pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2010 mencapai 26,82 persen. Kondisi ini mengalami peningkatan tajam dibandingkan tahun 2009 dan 2008 sebesar 7,02 persen dan 7,84 persen. Pertumbuhan ekonomi yang sensasional ini didorong oleh mulai berproduksinya LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan salah satu produsen LNG terbesar di Indonesia. Dengan tanpa memperhitungkan komponen migas (tanpa migas), pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2010 hanya sebesar 6,83 persen. Kondisi ini justru mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun 2009 dan 2008 yaitu sebesar 7,68 persen dan 9,25 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi di tahun 2010. Sebaliknya terjadi pada sektor sekunder,

Gambar

19.2

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat 2004-2010 (%)

30 28 26 24 22 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0

26.82

Pertumbuhan Ekonomi (%)

7.39

8.61
4.55 2005 6.80 2006 4.55 2007 6.95 2008 7.84 7.02 6.83 2009 7.02 2010 26.82

6.29
2004 7.39

Dengan Migas

Tanpa Migas

6.29

6.83

7.36

8.61

9.25

7.68

6.83

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010

Sumber: Image Google

TAHUKAH ANDA ?
Pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2010 adalah yang tertinggi di Indonesia, nilainya mencapai 26,82 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

69

19

PENDAPATAN REGIONAL
PDRB per Kapita Terdongkrak Produksi Minyak dan Gas
PDRB per kapita tanpa migas Papua Barat tahun 2010 mencapai 18,01 juta rupiah, namun bila unsur migas diperhitungkan, PDRB per Kapita Papua Barat melonjak menjadi 29,62 juta rupiah.

19.4

PDRB per Kapita menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat 2009-2010 (Juta Rupiah) Dengan Migas 2009 2010
19,42 16,88 13,86 23,32 14,44 9,36 81,80 25,42 5,36 5,02 14,71 23,40 22,20 18,59 14,10 90,86 16,33 10,37 86,57 26,58 5,92 5,63 16,31 29,62

Tabel

Papua Barat terutama didongkrak oleh migas. PDRB per kapita adalah indikator yang cukup relevan untuk menggambarkan tingkat kemakmuran ekonomi penduduk secara makro. Dengan PDRB per kapita, besaran nilai PDRB telah dibagi dengan jumlah penduduk dari wilayah tersebut. Jadi besarnya PDRB telah tertimbang dengan jumlah penduduk pada masing-masing wilayah, sehingga jumlah penduduk yang besar tidak lagi mempengaruhi besaran nilai PDRB suatu wilayah. PDRB per kapita dengan migas Papua Barat di tahun 2010 meningkat dari Rp. 23,40 juta/tahun menjadi Rp. 29,62 juta/tahun. Sedangkan bila tanpa migas, PDRB per Kapita tahun 2010 hanya mencapai Rp. 18,01 juta/tahun. Nilai ini meningkat dibandingkan tahun 2009 sebesar Rp. 16,35 juta/tahun. Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Sorong memiliki PDRB per kapita dengan migas tertinggi pertama dan kedua, yaitu sebesar Rp. 90,86 juta/tahun dan Rp. 86,57 juta/tahun. Namun ketika unsur migas tidak disertakan dalam penghitungan, PDRB per kapitanya langsung anjlok menjadi Rp. 23,55 juta/ tahun dan 19,73 juta/tahun. PDRB menurut penggunaan dihitung berdasarkan pengeluaran/konsumsi sedangkan menurut lapangan usaha dilihat dari sisi produksi. Dari sisi penggunaan, nilai PDRB tahun 2010 sebagian besar terserap oleh konsumsi rumah tangga, yaitu sebesar Rp. 11.268,71 miliar atau meningkat dari Rp. 10.041,36 miliar di tahun 2009. Namun demikian, kontribusinya menurun dari 58,33 persen manjadi 50,02 persen.

Kabupaten/ Kota
Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong Papua Barat

Tanpa Migas 2009 2010
19,42 16,88 13,86 21,83 14,44 9,36 17,11 11,94 5,36 5,02 14,71 16,35 22,20 18,59 14,10 23,55 16,33 10,37 19,73 13,36 5,92 5,63 16,31 18,01

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2010

19.5

PDRB menurut Penggunaan dan Distribusinya di Provinsi Papua Barat 2009-2010 (Miliar Rupiah) PDRB 2009
10 041 359,40

Tabel

Penggunaan
Konsumsi Rumah Tangga Lembaga Swasta Nirlaba Konsumsi PMTB Perubahan Stok Ekspor Dikurangi Impor (-) PDRB

Distribusi 2010 2009
58,33

2010
50,02

11 268 707,07

106 567,80 3 738 899,99 5 624 236,48 391 132,92 5 835 533,25 8 523 592,20 17 214 137,63

116 900,20 4 344 848,15 6 590 543,06 1 437 110,84 8 190 540,03 9 421 284,56 22 527 364,81

0,62 21,72 32,67 2,27 33,90 49,52 100,00

0,52 19,29 29,26 6,38 36,36 41,82 100,00

Sumber: PDRB menurut Penggunaan Prov. Papua Barat, 2010

TAHUKAH ANDA ?
Dalam rangka mengentaskan penduduk miskin Pemerintah Indonesia membentuk Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang dipimpin langsung oleh wakil presiden.

70

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERBANDINGAN REGIONAL
PDRB per Kapita Tanah Papua diatas Nasional
Kontribusi pertambangan dan migas pada Provinsi Papua dan Papua Barat mendorong besarnya PDRB per kapita kedua provinsi ini. PDRB per kapita Papua dan Papua Barat mencapai 31,57 dan 29,62 juta rupiah berada diatas PDRB per kapita nasional (27,03 juta rupiah).

20

Tabel

Empat provinsi kawasan Indonesia paling timur terdiri dari Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Provinsi Maluku Utara dan Papua Barat usianya lebih muda dari dua provinsi lainnya yang merupakan provinsi induknya. Diantara empat provinsi tersebut Provinsi Papua memiliki jumlah penduduk terbesar, yaitu 2.833.381 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk terbesar pula selama tahun 2000-2010 yaitu mencapai 5,39 persen per tahun. Sedangkan penduduk terkecil adalah Provinsi Papua Barat, yaitu 760.422 jiwa. Jumlah penduduk Papua Barat juga merupakan penduduk terkecil di Indonesia. PDRB per kapita nasional tercatat 27,03 juta rupiah per tahun, atau rata-rata lebih dari dua juta rupiah per bulan. Namun nilai PDRB per kapita Papua dan Papua Barat lebih tinggi dari PDRB per kapita nasional. PDRB per kapita Papua Barat mencapai 29,62 juta rupiah per tahun dan PDRB per kapita Papua bahkan lebih tinggi lagi, yakni mencapai 31,57 juta rupiah per tahun. Tingginya PDRB per kapita tersebut tidak lepas dari tingginya kontribusi sektor pertambangan dan penggalian untuk Papua (tambang emas PT Freeport) serta tambang minyak dan LNG Tangguh di Papua Barat, disamping pembagi penduduk yang jumlahnya relatif kecil. Di tahun 2010, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi di kawasan Maluku dan Papua diatas pertumbuhan ekonomi nasional, kecuali Papua yang mengalami pertumbuhan minus. Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2009 sebesar 6,10 persen, meningkat dari kondisi tahun lalu sebesar 4,58 persen.

20.1

Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Wilayah Maluku dan Papua 2000-2010
Penduduk (jiwa) Laju Pertumbuhan Penduduk 20002010 (%) 2,80 2,47 3,71 5,39 1,49

Provinsi 2000 Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia (ribu) Sumber: BPR Ri, 2010 1 166 300 815 101 529 689 1 684 144 205 132,46 2010 1 533 506 1 038 087 760 422 2 833 381 237 641,33

20.2

PDRB per Kapita Wilayah Maluku dan Papua 2008-2010 (Juta rupiah)
2008 4,31 3,89 19,69 23,98 21.42 2009 4,73 4,62 23,40 28,77 23.90 2010 5,27 5,19 29,62 31,57 27.03

Tabel

Provinsi Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia

Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2011

20.3

Laju Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Maluku dan Papua 2008-2010 (%)
2008 4.23 5.99 7.84 -1.40 6.01 2009 5.44 6.05 7.02 22.74 4.58 2010 6.47 7.96 26.82 -2.65 6.10

Tabel

Provinsi Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia

Sumber: PDRB menurut Penggunaan Prov.insi Papua Barat, 2010 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2011

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

71

20

PERBANDINGAN REGIONAL
TPT Papua Barat Meningkat
Di periode Agustus 2010, hanya TPT Papua Barat saja yang mengalami peningkatan. TPT Papua Barat meningkat dari 7,56 persen menjadi 7,68 persen.

20.4
Provinsi

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Wilayah Maluku dan Papua 2008-2010 (%)
2008 10,67 6,48 7,65 4,39 8,39 2009 10,57 6,76 7,56 4,08 7,87 2010 9,97 6,03 7,68 3,55 7,14 Peringkat 2010 29 18 24 4

Tabel

Semetara pertumbuhan ekonomi Papua Barat menjadi yang tertinggi yaitu mencapai 26,82 persen, sekaligus merupakan Isu pertumbuhan dalam ekonomi tertinggi di Indonesia tahun 2010. penting ketenagakerjaan adalah masalah pengangguran dengan indikator yang umum digunakan adalah Tingkat Pengagguran Terbuka (TPT). Dari empat provinsi ini, Papua memiliki capaian TPT yang paling baik, besarnya TPT hanya 3,55 persen. Selain memiliki TPT yang rendah, TPT Papua memiliki tren positif untuk terus menurun. Secara nasional, TPT Papua menempati peringkat ke empat. Sedangkan tiga provinsi lainnya memiliki TPT diatas enam persen dalam tiga tahun terakhir. Papua Barat dalam tiga tahun terakhir justru TPT-nya diatas 7,5

Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia

Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, Agustus 2011

TAHUKAH ANDA ?
Pada periode Agustus 2010 hanya Provinsi Riau dan Papua Barat yang mengalami peningkatan nilai TPT.

20.5
Provinsi Maluku

Jumlah Penduduk Miskin Wilayah Maluku dan Papua 2008-2011 (ribu orang)
2008 391,30 105,00 246,50 733,10 35,00 2009 380,01 98,00 256,84 760,35 32,50 2010 378,63 91,07 256,25 761,62 31,02 2011 360,32 97,31 249,84 944,80 30,02

Tabel

persen dan selalu berada diatas TPT nasional. Di tahun 2010 TPT Papua Barat berada di peringkat ke24 dari 33 provinsi. Diantara keempat provinsi ini, Provinsi Maluku memiliki kondisi yang paling buruk. TPT-nya masih berada pada kisaran 10 persen dalam tiga tahun terakhir dan menempatkannya pada peringkat ke 29 di tahun 2010. Secara agregat, jumlah penduduk miskin terbesar di wilayah Maluku dan Papua selama empat tahun terakhir selalu berada di Provinsi Papua. Dalam periode tersebut, tren jumlah penduduk miskin di

Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia (Jt)

Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, Agustus 2011

TAHUKAH ANDA ?
Total alokasi dana Bantuan Langsung Masyarakat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (BLM PNPM Mandiri) di Indonesia tahun 2010 sebesar Rp 11,83 Triliun digunakan untuk mengentaskan kemiskinan.

Papua cenderung meningkat, yaitu dari 733,10 ribu orang di tahun 2008 menjadi 944,80 ribu orang di tahun 2011. Sedangkan pada tiga provinsi lainnya jumlah penduduk miskin memiliki tren cenderung menurun dari tahun ke tahun kecuali Provinsi Maluku

72

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERBANDINGAN REGIONAL
Hampir Sepertiga Penduduk Papua Barat dan Papua Miskin
Persentase penduduk miskin Provinsi Papua Barat dan Papua berada pada peringkat terendah seIndonesia. Kedua provinsi ini memiliki persentase yang hampir sama di tahun 2011, yaitu 31,92 persen dan 31,98 persen, atau hampir sepertiga penduduknya miskin.

20

Tabel

Utara yang mengalami peningkatan pada tahun 2011. meskipun mengalami peningkatan, jumlah penduduk miskin terendah berada di provinsi ini, yaitu hanya 97,31 ribu orang. Wilayah timur Indonesia memang terkenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam namun masyarakatnya hidup miskin. Pernyataan ini terbukti dengan tingginya persentase penduduk miskin di Provinsi Maluku, Papua Barat, dan Papua. Bahkan ketiga provinsi ini menduduki tiga peringkat terbawah persentase penduduk miskin di Indonesia. Besarnya persentase penduduk miskin di Provinsi Maluku mencapai 23,00 persen (peringkat 31); Provinsi Papua Barat sebesar 31,92 persen (peringkat 32); dan Provinsi Papua sebesar 31,98 persen (peringkat 33). Secara agregat memang ketiga provinsi ini tidak memberikan kontribusi yang besar terhadap jumlah penduduk miskin nasional dibandingkan jumlah penduduk miskin di Pulau Jawa, namun dilihat secara spasial, persentase penduduk miskin terhadap total penduduk di wilayahnya relatif tinggi. Perkembangan pembangunan manusia diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Capaian IPM wilayah Maluku dan Papua tahun 2009 termasuk kategori menengah, namun secara peringkat keempat provinsi ini masih tergolong papan bawah di tingkat nasional. Peringkat terbaiknya diraih oleh Provinsi Maluku dengan capaian IPM sebesar 71,42 persen dan hanya berada pada urutan ke-20. Sedangkan Provinsi Papua Barat, Maluku Utara, dan Papua hanya berada diurutan 29, 30, dan 33.

20.6
Provinsi

Persentase Penduduk Miskin Wilayah Maluku dan Papua 2008-2011 (%) 2008
29,66 11,28 35,12 37,08 15,42

2009
28,23 10,36 35,71 37,53 14,15

2010
27,74 9,42 34,88 36,80 13,33

2011
23,00 9,18 31,92 31,98 12,49

Peringkat 2011
31 14 32 33

Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia

Sumber: Statsitik Indonesia, 2009 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, Agustus 2011

TAHUKAH ANDA ?
Provinsi Papua (31,98%), Papua Barat (31,92%), dan Maluku (23,00%) adalah tiga provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia tahun 2011.

20.7

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Wilayah Maluku dan Papua 2008-2010 (%) 2008
70,38 68,18 67,95 64,00 71,17

Tabel

Provinsi Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia
Sumber: BPS RI, 2010

2009
70,96 68,63 68,58 64,53 71,76

2010
71,42 69,03 69,19 64,94 72,27

Peringkat 2010
20 30 29 33

TAHUKAH ANDA ?
IPM Provinsi Papua (64,94%), Maluku Utara (69,03%), dan Papua Barat (69,19%) adalah tiga provinsi yang masuk dalam lima besar IPM terendah di Indonesia tahun 2010.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

73

20

PERBANDINGAN REGIONAL
Pertumbuhan Ekonomi Tidak Berkualitas
Provinsi Papua Barat memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di Indonesia, namun ternyata persentase penduduk miskinnya tertinggi ke dua di Indonesia Hal ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang kurang berkualitas dan ketimpangan distribusi pendapatan.

Gambar

20.1

Hubungan TPT dan Persentase Penduduk Miskin Wilayah Maluku dan Papua 2010

Hubungan TPT dan Kemiskinan terlihat dari Diagram kuadran pada Gambar 20.1. Kondisi paling baik dari keempat kuadran tersebut adalah pada kuadran III dengan karakteristik nilai TPT dan persentase penduduk miskin rendah dibandingkan dengan benchmark, dan Provinsi Maluku Utara berada di kuadran ini memiliki ciri tersebut. Kondisi terburuk berada pada Kuadran I, dimana TPT dan persentase penduduk miskinnya tinggi. Keadaan tersebut terjadi di Provinsi Maluku dan Papua Barat sehingga menempati kuadran ini, karena nilai TPT dan persentase penduduk miskin di kedua provinsi itu berada di atas benchmark. Sedangkan Provinsi Papua memiliki karakteristik TPT rendah namun persentase penduduk miskin tinggi. Dari beberapa kajian teori, idealnya jika tingkat pengangguran (TPT) rendah maka kemiskinan akan memiliki hubungan yang searah. Namun tidak selamanya kondisi tersebut dapat tercapai. Perlu

35 30
25 20 15 10
TPT ↓ % Penduduk Miskin ↑ Maluku TPT ↑ % Penduduk Miskin ↑ Papua Papua Barat

Maluku Utara TPT ↓ % Penduduk Miskin ↓ TPT ↑ % Penduduk Miskin ↓

5 0
0

2

4

6

8

10

12

Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2011 Catatan: 1. Benchmark: TPT Indonesia 7,14% (sumbu x) dan Persentase penduduk miskin Indonesia 12,49% (sumbu y). 2. Tanda panah berwarna hijau menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada benchmark, dan tanda panah berwarna merah menunjukkan keadaan yang tidak lebih baik daripada benchmark.
Gambar

20.2

Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan Persentase Penduduk Miskin Wilayah Maluku dan Papua 2010

35
Papua

30
25
Maluku

Papua Barat

dicermati dari berbagai aspek mengapa dapat terjadi TPT rendah tetapi kemiskinan tetap tinggi. Aspek yang perlu diamati adalah apakah penduduk yang bekerja

20 15 10
Pert Eko ↓ % Pddk Miskin ↑ Maluku Utara Pert Eko ↓ % Pddk Miskin ↓ Prtmbhn Ekonomi ↑ % Penduduk Miskin ↓ Prtmbhn Ekonomi ↑ % Penduduk Miskin ↑

memiliki produktivitas yang tinggi sehingga minimal mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya sehingga tidak termasuk dalam kategori miskin. Pengangguran rendah berarti lebih banyak orang yang
30

5 0
-5

0

5

10

15

20

25

bekerja, namun perlu dilihat kemungkinannya apakah bekerja masih dibawah jam kerja normal, pekerja informal tinggi, bekerja disektor pertanian ekstrkatif (mengambil hasil dari alam untuk dikonsumsi sendiri) tinggi, tingkat pendidikan rendah, dan upah rendah.

Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2011 Catatan: 1. Benchmark: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 6,10% (sumbu x) dan Persentase penduduk miskin Indonesia 12,49% (sumbu y). 2. Tanda panah berwarna hijau menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada benchmark, dan tanda panah berwarna merah menunjukkan keadaan yang tidak lebih baik daripada benchmark.

74

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

PERBANDINGAN REGIONAL
Ketimpangan Pendapatan Pengaruhi kemiskinan
Ketimpangan pendapatan yang tinggi sangat berpengaruh pada persentase kemiskinan. Contohnya terjadi pada Provinsi Papua dan Papua Barat. Kedua provinsi ini memiliki gini ratio 0,41 dan 0,39 memiliki persentase penduduk msikin mencapai 31,98 persen dan 31,92 persen.

20

Gambar

Idealnya, jika pertumbuhan ekonomi tinggi di suatu daerah maka persentase penduduk miskin juga rendah. Namun yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi persentase penduduk miskin juga tinggi. Kondisi ini terjadi pada Provinsi Papua Barat dan Maluku. Mengapa hal ini bisa terjadi?. Salah satu sebabnya adalah belum berkualitasnya pertumbuhan ekonomi di kedua provinsi tersebut. Pertumbuhan ekonomi belum mampu menurunkan kemiskinan dan elastisitas kesempatan kerjanya masih rendah. Jadi pertumbuhan ekonomi belum mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sebagai contoh elastisitas kesempatan kerja di Papua Barat 20072010 hanya sebesar 0,05 persen, artinya setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan kesempatan kerja sebesar 0,05 persen (lihat hal 22).

20.3

Hubungan Gini Ratio dan Persentase Penduduk Miskin Wilayah Maluku dan Papua 2010

35 30
25
Maluku Papua Barat Papua

20 15 10
Maluku Utara Gini Ratio ↓ % Penduduk Miskin ↑ Gini Ratio ↑ % Penduduk Miskin ↑

5 0
0.30

Gini Ratio ↓ % Penduduk Miskin ↓

Gini Ratio ↑ % Penduduk Miskin ↓

0.32

0.34

0.36

0.38

0.40

0.42

Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2011 Catatan: 1. Benchmark: Gini Ratio Indonesia 0,38% (sumbu x) dan Persentase penduduk miskin Indonesia 12,49% (sumbu y). 2. Tanda panah berwarna hijau menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada benchmark, dan tanda panah berwarna merah menunjukkan keadaan yang tidak lebih baik daripada benchmark.

Gambar

Disamping itu, ketimpangan distribusi pendapatan dapat menjadi sebab tingginya persentase penduduk miskin, meskipun pertumbuhan ekonominya tinggi. Kondisi seperti ini diilustrasikan oleh kondisi Papua Barat dan Papua pada Gambar 20.3. Kedua provinsi ini memiliki koefisien gini ratio sebesar 0,39 dan 0,41 dengan persentase penduduk miskin sebesar 31,92 persen dan 31,98 persen. Meskipun laju pertumbuhan ekonomi Papua Barat mencapai 26,82 persen tetapi karena tidak didukung oleh pemerataan pendapatan maka persentase penduduk miskinnya tetap tinggi. Hal yang berbeda terjadi di Maluku Utara, dimana terjadi hubungan searah yang positif, dengan gini ratio rendah maka persentase penduduk miskin rendah.

20.4

Koridor Enam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

75

Lampiran Tabel

Tabel 1.1 Luas Wilayah Provinsi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota 2010 Kabupaten/Kota Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat
Sumber: Peraturan Menteri Dalam Negeri No 6 Tahun 2008

Luas Wilayah 11036.48 16241.84 3959.53 20840.83 14250.94 9408.63 12594.94 8034.44 656.64 97024.27

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Provinsi Papua Barat 2010 Kabupaten/Kota 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Total
Sumber: SEnsus penduduk 2010

Jumlah Penduduk Laki-laki 48329 45621 40564 36398 40056 42360 37014 29731 25555 19216 14369 10116 6135 3588 1823 1523 402398 Perempuan 45380 42607 37070 33768 36198 37980 32069 25426 21450 16168 11871 7587 4855 2719 1511 1365 358024 Jumlah 93709 88228 77634 70166 76254 80340 69083 55157 47005 35384 26240 17703 10990 6307 3334 2888 760422

78

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

Tabel 1.3 Indeks Pembangunan Manusia menurut Komponen dan Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2010 Kabupaten/Kota Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong Papua Barat
Sumber: Olahan Susenas 2009

Komponen IPM AHH 70.52 69.65 67.51 68.21 68.00 66.66 67.85 66.17 66.15 66.33 71.95 68.51 AMH 97.46 95.50 84.05 85.90 87.79 88.32 91.69 93.62 77.15 90.73 99.13 93.19 MYS 9.27 7.55 6.61 6.90 8.37 7.98 8.06 7.35 5.74 7.78 10.59 8.21 PPP 589.06 600.31 601.00 598.46 588.30 588.85 598.18 560.70 441.15 582.12 635.48 596.08

IPM 71.46 70.13 65.76 66.58 67.19 66.31 68.50 64.58 50.51 66.00 77.18 69.15

Tabel 1.4 Garis Kemiskinan, Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Indeks Keparahan Kemiskinan Provinsi Papua Barat 2008-2011 Daerah/Tahun Perkotaan Maret 2008 Maret 2009 Maret 2010 Maret 2011 Perdesaan Maret 2008 Maret 2009 Maret 2010 Maret 2011 Kota+Desa Maret 2008 Maret 2009 Maret 2010 Maret 2011 193,930 223,538 237,147 254,759 39,641 53,878 57,580 64,036 233,570 277,416 294,727 318,796 246.50 256.84 256.25 249.84 35.12 35.71 34.88 31.92 9.18 9.75 10.47 8.78 3.50 3.57 4.30 3.43 197,785 223,592 238,145 255,647 32,469 45,762 49,367 56,090 230,254 269,354 287,512 311,737 237.02 248.29 246.66 239.06 43.74 44.71 43.48 39.56 11.67 12.51 13.22 11.13 4.46 4.61 5.47 4.40 180,866 223,357 233,764 251,752 63,941 81,373 85,406 90,958 244,807 304,730 319,170 342,709 9.48 8.55 9.59 10.78 5.93 5.22 5.73 6.05 0.73 0.43 1.14 0.80 0.24 0.04 0.36 0.14 Garis Kemiskinan Makanan Non Makanan Total Penduduk Miskin Jumlah Persentase Kedalaman Kemiskinan Keparahan Kemiskinan

Sumber: Olahan Susenas 2007-2010

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

79

Tabel 1.5 PDRB ADHB dan ADHK Dengan Migas menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat 2007-2010 Lapangan Usaha
1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik, Gas & Air Bersih 5. Bangunan 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa PDRB Papua Barat

Atas Dasar Harga Berlaku 2007
2,762,424.54 1,655,107.42 2,084,467.80 57,745.90 893,250.07 1,096,203.97 771,098.42 214,745.78 832,234.79 10,367,278.69

Atas Dasar Harga Konstan 2010
4,664,455.36 2,302,782.91 7,985,221.46 97,557.00 2,034,290.84 1,888,243.87 1,437,073.75 489,988.11 1,627,751.51 22,527,364.81

2008
3,470,319.06 2,068,433.22 3,163,886.05 74,137.70 1,307,836.08 1,444,041.45 968,202.12 339,328.89 1,138,941.91

2009
4,199,944.05 2,268,377.64 4,253,883.34 88,156.15 1,678,230.58 1,710,450.82 1,248,415.03 410,528.30 1,356,151.72

2007
1,709,046.87 1,087,167.36 813,660.34 26,903.48 498,004.63 616,261.41 440,299.46 118,299.10 624,673.17 5,934,315.82

2008
1,826,852.94 1,101,023.31 875,563.31 29,134.44 579,417.68 671,763.86 474,280.75 150,410.75 691,081.22 6,399,528.24

2009
1,896,815.48 1,099,264.98 1,004,826.11 31,766.02 654,538.95 715,364.04 551,873.87 152,391.98 741,714.48 6,848,555.91

2010
2,014,324.40 1,090,051.52 2,507,291.09 34,085.13 718,468.24 743,881.85 612,201.04 169,182.34 796,162.38 8,685,647.99

13,975,126.50 17,214,137.63

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2010

Tabel 1.6 Distribusi PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat 2007-2010 Lapangan Usaha 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik, Gas & Air Bersih 5. Bangunan 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa TOTAL 2007 26.65 15.96 20.11 0.56 8.62 10.57 7.44 2.07 8.03 100.00 2008 24.83 14.80 22.64 0.53 9.36 10.33 6.93 2.43 8.15 100.00 2009 24.40 13.18 24.71 0.51 9.75 9.94 7.25 2.38 7.88 100.00 2010 20.71 10.22 35.45 0.43 9.03 8.38 6.38 2.18 7.23 100.00

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2010

80

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

Tabel 1.7 Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat 2007-2010 Lapangan Usaha 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik, Gas & Air Bersih 5. Bangunan 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa Papua Barat
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2010

2007 5.22 0.51 8.22 9.29 12.97 9.69 10.89 24.91 9.19 6.95

2008 6.89 1.27 7.61 8.29 16.35 9.01 7.72 27.14 10.63 7.84

2009 3.83 -0.16 14.76 9.03 12.96 6.49 16.36 1.32 7.33 7.02

2010 6.20 -0.84 149.52 7.30 9.77 3.99 10.93 11.02 7.34 26.82

Tabel 1.8 PDRB ADHB dan ADHK menurut Kabupaten/Kota Papua Barat 2007-2010 Atas Dasar Harga Berlaku Lapangan Usaha Dengan Migas 2009
Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong
PDRB Papua Barat 1,267,537.76 751,257.47 353,568.58 1,185,665.94 2,618,216.61 338,368.64 5,723,412.60 1,058,438.64 32,756.30 158,853.05 2,688,333.47 17,214,137.63

Atas Dasar Harga Konstan Dengan Migas 2009
593,354.91 362,055.42 180,001.48 606,019.05 1,092,776.53 167,627.09 1,799,365.58 530,167.49 16,301.80 76,124.24 1,408,723.76 6,848,555.91

Tanpa Migas 2009
1,267,537.76 751,257.47 353,568.58 1,109,595.45 2,618,216.61 338,368.64 1,197,328.09 497,284.35 32,756.30 158,853.05 2,688,333.47

Tanpa Migas 2009
593,354.91 362,055.42 180,001.48 566,852.47 1,092,776.53 167,627.09 646,777.19 245,098.44 16,301.80 76,124.24 1,408,723.76 5,371,731.90

2010
1,483,373.62 859,730.25 371,194.91 4,763,235.20 3,066,016.10 392,841.54 6,113,735.00 1,129,673.30 36,384.46 186,118.94 3,109,599.29

2010
1,483,373.62 859,730.25 371,194.91 1,234,367.44 3,066,016.10 392,841.54 1,393,418.64 567,756.77 36,384.46 186,118.94 3,109,599.29 13,696,928.73

2010
639,868.10 393,389.57 180,104.60 2,115,263.85 1,197,341.58 177,864.63 1,849,598.49 540,747.12 17,005.83 81,479.77 1,529,577.30 8,685,647.99

2010
639,868.10 393,389.57 180,104.60 601,647.51 1,197,341.58 177,864.63 696,708.13 260,222.17 17,005.83 81,479.77 1,529,577.30 5,738,616.35

22,527,364.81 12,031,519.15

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2010

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

81

Tabel 1.9 Pertumbuhan Ekonomi Dengan Migas menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2007Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong Papua Barat 2007
6.42 8.38 19.75 12.87 8.84 8.67 3.13 2.36 6.57 6.95

2008
6.98 7.09 16.91 13.49 10.20 -26.38 4.94 -1.23

2009
6.91 8.97 11.12 13.81 9.63 8.11 4.79 1.77 3.85 5.27 7.78 7.02

2010
7.84 8.65 0.06 249.04 9.57 6.11 2.79 2.00 4.32 7.04 8.58 26.82

7.77 7.84

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2010

Tabel 1.10 Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2007-2010 Kabupaten/Kota Fak-Fak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Tambrauw Maybrat Kota Sorong Papua Barat 2007 6.42 8.38 19.75 13.00 8.84 8.67 6.82 5.61 6.57 8.61 2008 6.98 7.09 16.91 12.96 10.20 7.95 6.95 4.59 2009 6.91 8.97 11.12 8.28 9.63 8.11 7.38 4.90 3.85 5.27 7.78 7.68 2010 7.84 8.65 0.06 6.14 9.57 6.11 7.72 6.17 4.32 7.04 8.58 6.83

7.77 9.25

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2010

82

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2011

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->