Anda di halaman 1dari 6

ANTIFUNGI

Pada dasawarsa terakhir, di seluruh dunia disinyalir adanya peningkatan luar biasa kasus infeksi oleh jamur. Kasus yang utama adalah mycosis kulit (Yun. Mykes = jamur; mycosis = penyakit jamur) oleh dermatofit serta infeksi mukosa mulut, bronchia, usus, vagina dan lain-lain oleh sejenis ragi candida albicans. Penyebaran luas infeksi karena jamur (Lat. fungi) ini mungkin disebabkan oleh sangat meningkatnya penggunaan antibiotika berspketrum luas dan hormon kelamin (pil antihamil) yang merusak keseimbangan biologi flora kuman normal. Faktor resiko lain untuk timbulnya mycosis adalah daya-tangkis imun tubuh yang menurun akibat anatar lain infeksi HIV (AIDS), kanker dan leukemi, radio-dan kemoterapi (sitostatika), transplantasi sumsum tulang atau organ. Begitu pula kerusakan pada kulit (luka bakar) dan mukosa serta penggunaan lama kortikosteroid, imunosupresiva dan hormon kelamin (pil antihamil) yang menstimulir terjadinya infeksi dengan Candida (candidiasis). Akhirnya, faktor-faktor hygiene serta bertambahnya kontrak internasional di bidang kepariwisataan dan perdagangan memegang peranan pula dalam penyebaran infeksi tersebut.

Bentuk Jamur Jamur atau fungi merupakan tumbuhan yang tidak memiliki klorofil sehingga tidak

mampu melakukan fotosintesa untuk memelihara sendiri kehidupannya. Oleh karena itu jamur hanya bisa hidup sebagai parasit pada organisme hidup lain atau sebagai saprofit pada benda organis mati. Berlainan dengan bentuk jamur yang lazim kita kenal, yakni yang menyerupai payung, sebagian besar jamur hanya terdiri dari benang-benang halus sekali (hyphen) yang terdiri dari rangkaian sel-sel. Sekelompok hypen kemudian membentuk suatu jaringan yang disebut mycelium. Fungsi alami dari jamur adalah sebagai pembersih alam, yaitu untuk melenyapkan benda-benda mati seperti pohon, daun, sampah dan sebagainya. Untuk proses perbanyakannya, jamur membentuk sel-sel yang disebut spora (Yun + benih), yang resisten terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan bagi kehidupannya. Bila keadaan membaik, terutama suhu dan kelembaban, spora dapat tumbuh lagi dan membentuk mycellium. Dikenal lebih dari 100.000 jenis jamur yang untuk sebagian besar tidak merugikan manusia, malah dapat dimakan, misalnya sampinyon dan jamur-jamur yang tumbuh di atas makanan.

Flora Organisme Normal Dari Kulit Kulit dan selaput lendir selalu dihuni oleh sejumlah organisme yang dapat dibagi

dalam 2 kelompok. 1. Flora tetap (resident flora) yang terdiri dari mikroorganisme tetap (kuman, jamur dan ragi) yang pada umumnya terdapat pada lokasi tertentu dan pada usia tertentu pula. Bila susunan flora ini terganggu, maka keseimbangan segera akan pulih dengan sendirinya. Flora tetap penting untuk mempertahankan kesehatan dan fungsi normal tubuh. Misalnya flora tetap di usus mensintesa vitamin K, mengkonversi asam empedu dan membantu penyerapan gizi dari makanan. Flora tetap juga merupakan antagonis dan menjaga terhadap serangan kuman-kuman patogen ; flora di kulit mempunyai fungsi yang sama. 2. Flora selewat (transient flora) terdiri dari mikroorganisme nonpatogen maupun potensial patogen, tetapi tidak mengakibatkan penyakit. Namun bila flora tetap terganggu, kelompok flora ini dapat berkembang biak dan menyebabkan penyakit.

Flora Normal Pada Vagina Pada usia dewasa sebagian besar flora ini terdiri dari lactobacilli yang

mempertahankan lingkungan asam dengan memproduksi asam laktat dari karbohidrat (glikogen). Suasana asam ini menghindarkan berkembangnya mikroorganisme patogen di vagina. Bila lactobacilli ini dihambat, misalnya pada penggunaan antibiotika, maka jumlah ragi dan kuman lain yang menyebabkan iritasi dan peradangan akan meningkat.

Cara Penularan Spora dan serpih kulit penderita infeksi fungi (dermatomycosis) merupakan sumber

utama penularan. Setelah terjadi infeksi, spora tumbuh dan membentuk mycellium dengan menggunakan serpih kulit sebagai bahan makanan. Enzim-enzim yang diproduksi oleh jamur mampu menembus kulit dan menimbulkan peradangan. Bila fungi ini tumbuh ke dalam tabung rambut (folikel), maka rambut akan rontok. Fungi yang menembus ke dalam kuku mengakibatkan apa yang disebut kuku kapur (onychomycosis) yang berwarna keputih-putihan dan kuku menjadi regas.

Prevalensi dan Tindakan Umum Yang terpenting untuk menghindari infeksi jamur adalah memelihara kebersihan

tubuh sebaik-baiknya, terutama di tempat yang potensial merupakan sumber infeksi, misalnya kolam renang, kamar ganti pakaian dan ruang olahraga. Di tempat-tempat ini pada umumnya orang tidak mengenakan alas kaki. Sumber infeksi lain yang perlu dihindari adalah hewan peliharaan yang sering kali dipeluk oleh anak-anak. Kemudian yang juga penting sekali untuk diwaspadai adalah kecenderungan beberapa jenis obat yang menimbulkan predisposisi untuk superinfeksi jamur. Diagnosa Gejala dermatomycosis tidak jarang mirip gangguan kulit lainnya, khususnya dapat dikelirukan dengan eczema. Adakalanya terdapat pula bentuk-bentuk campuran dengannya atau dengan infeksi bakteri. Tes KOH. Guna memastikan adanya infeksi fungi, perlu dilakukan tes KOH. Pada serpihan kulit, kikisan kuku, atau sepotong rambut diberikan beberapa tetes KOH 10-20%. Di bawah mikroskop, fungi dapat dikenali dari benang-benangnya yang khas bercabang (hypen) dan spora di sekitar rambut. Guna penentuan jenis fungi dapat dilakukan pembiakan pada suatu persemaian, yang dinamakan glukosa agar dari sabouraud.

Antifungi

Antifungi adalah obat-obat yang berdaya menghentikan pertumbuhan atau mematikan jamur yang menghinggapi manusia. Yang digunakan untuk mengobati infeksi jamur dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Antibiotika : griseofulvin dan senyawa polyen (amfoterisin B, nistatin) yang pada umumnya bekerja fungistatis. Mekanisme kerjanya adalah melalui pengikatan diri pada zat=zat sterol di dinding sel jamur. Akibatnya adalah kerusakan membran sel dan peningkatan permeabilitasnya, sehingga komponen intraseluler yang penting untuk kehidupan sel merembas keluar. Akhirnya sel-sel tersebut mati. Griseofulvin dewasa ini jarang digunakan lagi karena antifungi lain lebih efektif dengan eek samping lebih ringan. 2. Derivat-imidazol : mikonazol, ketokonazol, klotrimazol, bifonazol, ekonazol, isokonazol dan tiokonazol. Mekanisme kerjanya berdasarkan pengikatan pada enzim sitokrom P450, sehingga sintesa ergosterol yang perlu untuk pembinaan membran sel jamur, dirintangi dan terjadi kerusakan membran itu. Pada penggunaan sistemis,

sistem enzim manusia juga dapat dirintangi, yang mengakibatkan efek-efek samping tertentu. Bekerja fungistatis terhadap dermatofit dan ragi, juga bakteriostatis lemah terhadap kuman Gram-positif. Obat ini terutama digunakan sebagai obat topikal, kecuali ketokonazol yang juga dapat digunakan secara sistemis. 3. Derivat-triazol : flukonazol dan itrakonazol. Pada umumnya juga bekerja fungistatis dengan mekanisme kerja seperti imidazol, tetapi bersifat lebih selektif bagi sistem enzim jamur daripada terhadap sistem enzim manusia, maka kurang menghambat sintesa steroida. Bekerja terhadap dermatoit dan Candida, itrakonazol juga terhadap Aspergillus. Obat-obat ini khusus digunakan secara sistemis. 4. Asam Organis : antara lain terdiri dari asam salisilat, asam benzoat, asam undesilinat dan asam lemak lainnya seperti : asam propionat dan asam kaprilat. 5. Lainnya : Flusitosin, terbinafin, siklopiroks, tolnafat, haloprogin dan naftitin.

Efek Farmakologi Pada hakikatnya semua antifungi tersebut berkhasiat fungistatis pada dosis yang

digunakan. Pengecualian adalah itrakonazol dan terbinafin, yang bekerja fungisid. Pada dosis tinggi amfoterasin dan nistatin juga dapat berkhasiat fungisid. Nistatin dan amfoterisin B sering kali digunakan dalam kombinasi dengan tetrasiklin guna menghindari terjadinya candidiasis usus.

Penggunaan Antifungi Antifungi terutama digunakan pada mycosis permukaan atau setempat (topikal). Pada

mycosis umum (sistemis) yang meliputi organ dalam (misalnya candidiasis, actinomycosis, dan aspergillosis), sejumlah obat digunakan secara sistemis, yakni per oral. Begitu pula lazimnya pada infeksi di tubuh dan pityriasis versicolor yang luas (tinea corporis), juga pada infeksi jamur di kepala dan mycosis kuku. Antifungi oral yang digunakan meliputi antara lain griseofulvin, ketokonazol, itrakonazol, flukonazol, terbinafin, dan flusitosin. Ketokonazol tidak dianjurkan berhubung resiko necrosis hati yang dapat timbul dengan akut. Itrakonazol dianjurkan pada infeksi Pityrosporum dan pada candidiasis, juga flukonazol. Griseofulvin dan terbinafin dapat digunakan terhadap tinea captitis pada anak-anak. Untuk penggunaan setempat di dalam usus tersedia amfoterisin B dan nistatin yang buruk absorpsinya.pada infeksi kuku dapat digunakan griseofulvin, ketokonazol, itrakonazol dan terbinafin.

INTERAKSI OBAT ANTIFUNGI Griseofulvin : Fulvin, Griseofort. Griseofulvin dihasilkan oleh Penicillinum griseofulvum dan pada penggunaan oral berkhasiat fungistatis terhadap banyak dermatofit. Mekanisme kerjanya diperkirakan melalui penghambatan sintesa RNA. Resorpsi di ususnya kurang baik, karena sukar sekali melarut, tetapi dapat diperbaiki dengan menggunakan serbuk yang sangat halus atau diminum dengan makanan berlemak. Efek sampingnya ringan, jarang terjadi dan berupa sakit kepala, gatal-gatal (urtikaria), dan kepekaan terhadap cahaya, juga gangguan hati. Griseofulvin tidak boleh diberikan pada wanita hamil, karena resiko efek teratogen dan keguguran. Zat ini dapat mengganggu pembentukan kromosom pada waktu pembelahan sel. Dosis : Oral, Sehari 4 kali 125 mg atau sekaligus 500 mg sesudah makan. Interaksi Obat Griseoulvin : Griseofulvin dengan Barbiturat : Kemungkinan phenobarbital menurunkan konsentrasi griseofulvin dalam serum dan secara klinis efek ini tidak dapat dihindarkan. Mekanisme : penelitian awal dari ilmu farmakokinetik menunjukkan bahwa phenobarbital mengganggu absorpsi griseofulvin tanpa meningkatkan

metabolismenya (diperlambat).

Griseofulvin dengan Kontrasepsi Oral : Diperkirakan griseofulvin dapat menginduksi ketidakteraturan waktu menstruasi atau meningkatkan resiko kehamilan bila mengkonsumsi obat kontrasepsi bersama dengan griseofulvin. Mekanisme : griseofulvin meningkatkan metabolisme hepatik dari kontrasepsi golongan steroid, tetapi hipotesis ini tidak dikembangkan lebih lanjut.

Griseofulvin dengan Cyclosporin : Pemberian griseofulvin dapat menurunkan konsentrasi darah yang mengandung cyclosporine. Efektifitas cyclosporine dapat diturunkan selama pemberian

griseofulvin tetapi masi memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan dan membuktikan timbulnya interaksi obat ini.

Mekanisme : tidak diketahui. Sepertinya griseofulvin meningkatkan metabolisme atau absorpsi griseofulvin.

Griseofulvin dengan Alkohol : Pemberian griseofulvin dapat menurunkan konsentrasi darah yang mengandung cyclosporine. Efektifitas cyclosporine dapat diturunkan selama pemberian griseofulvin tetapi masi memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan dan membuktikan timbulnya interaksi obat ini. Mekanisme : tidak diketahui. Sepertinya griseofulvin meningkatkan metabolisme atau absorpsi griseofulvin.

Griseofulvin dengan Bromocriptin : Dapat menurunkan efek griseofulvin. Mekanisme : tidak diketahui. Hanya dapat menghambat absorpsi griseofulvin. Penatalaksanaan : diharapkan pasien mengetahui timbulnya interaksi antara kedua obat ini.

Griseoulvin dengan Warfarin : Interaksi dengan griseofulvin dapat menurunkan efek antikoagulan dari warfarin Mekanisme : tidak dapat dimengerti. Griseodulvin sebagai penginduksi enzim hati yang dapat meningkatkan metabolisme warfarin, dengan demikian menurunkan efek griseofulvin.

Griseofulvin dengan Aspirin : Griseofulvin dapat menghambat absorpsi salisilat. Terkadang ketercampuran dengan absorpsi salisilat disarankan. Penatalaksanaan : laporkan interaksi yang tidak menentu, hati-hati dalam penggunaannya, dimonitor efek dari beberapa pasien bila dosis salisilat diberikan dalam dosis tinggi.