Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Baja dan besi tuang dibuat dari bahan tambang besi. Pada besi tersebut diberikan sedikit karbon. Jadi, baja merupakan perpaduan besi dan karbon. Pada pengertian kata seharihari seringkali baja dan besi dipertukarkan. Besi murni sebenarnya hampir tidak pernah dipakai. Apabila kita mendengar kata besi beton atau lempengan besi, sebenarnya yan dimaksud adalah baja beton atau lempengan baja. Meskipun begitu kata besi juga terdapat pada kata besi tuang. Kadar karbon pada besi tuang biasanya lebih banyak daripada kadar karbon pada baja, biasanya lebih dari 2%. Produksi baja masih sangat penting meskipun pemakaian bahan sintesis semakin meningkat. Oleh sebab itu, pada makalah ini akan meninjau mengenai proses produksi baja.

BAB II DESKRIPSI PROSES

2.1

Spesifikasi Bahan Baku dan Produk

2.1.1 Spesifikasi Bahan Baku A. Besi Rumus kimia Bentuk Warna Berat molekul Massa jenis (suhu kamar) Massa jenis cair pada titik lebur Titik lebur Titik didih Kalor peleburan Kalor penguapan Kapasitas kalor (25 oC) : Fe : butiran : metalik mengkilap keabu-abuan : 55,845 g/mol : 7,86 g/cm3 : 6,98 g/cm3 : 1538 oC : 2861 oC : 13,81 kj/mol : 340 kj/mol : 25,10 J/mol K

B. Karbon (C) Rumus kimia Bentuk Warna Berat molekul Titik lebur Titik didih Kalor peleburan Kalor penguapan Entalpi fusion Kapasitas kalor (25 oC) :C : berlian atau grafit : kehitam-hitaman : 12,011 g/mol : 3500 oC : 4827 oC : 355,81 kj/mol : 716,7 kj/mol : 104,6 kj/mol : 0,71 J/mol K

2.1.2 Spesifikasi Produk A. Baja Karbon ( karbida ) Rumus kimia Bentuk Warna Berat molekul Titik lebur Titik didih Kalor peleburan Kalor penguapan Kapasitas kalor (25 oC) : Fe3C : padatan : hitam : 180 g/mol : 1252-1260 oC : 2861 oC : 120 kj/mol : 355 kj/kg : 450 J/kg oC

2.2

Konsep Proses

Metode untuk memproduksi baja adalah dengan proses dalam tanur tinggi. Biji besi (Fe2O3), kokas dan batu kapur (CaCO3) dilebur dalam tanur tinggi pada suhu 1800 oC agar logam-logam meleleh. Hasil dari tanur tinggi yaitu Fe (pig iron) yang masih mengandung unsur-unsur yang tidak cocok untuk bahan konstruksi, misalnya zat arang (karbon) yang terlalu tinggi, fosfor, belerang, silisium dan sebagainya. Sehingga diperlukan proses untuk menurunkan kadar unsur-unsur yang tidak diinginkan sehingga dihasilkan baja dengan kualitas tertentu. Proses-proses tersebut diantaranya: Proses Konvertor : a. Proses Bessemer untuk besi kasar dengan kadar fosfor yang rendah. b. Proses Thomas untuk besi kasar dengan kadar fosfor yang tinggi. c. Proses Oksi, proses LD, Kaldo dan Oberhause Proses Martin (dapur Siemen Martin) a. proses Martin asam untuk besi kasar dengan kadar fosfor rendah b. Proses Martin basa untuk besi kasar dengan kadar fosfor tinggi Dapur Listrik untuk baja Campuran a. Dapur listrik busur nyala api b. Dapur listrik induksi Pada makalah ini akan dibahas tentang pembuatan baja dari besi yang dihasilkan oleh tanur tinggi dengan proses Konverter Bessemer . Pada proses Korvertor Bessemer diisi dengan besi kasar kelabu yang banyak mengandung silisium. Silisium dan mangan terbakar pertama kali, setelah itu baru zat arang yang terbakar. Pada saat udara mengalir melalui besi

kasar udara membakar zat arang dan campuran tambahan sehingga isi dapur masih tetap dalam keadaan encer. Setelah lebih kurang 20 menit, semua zat arang telah terbakar dan terak yang terjadi dikeluarkan. Mengingat baja membutuhkan karbo sebesar 0,0 sampai 1,7 %, maka pada waktu proses terlalu banyak karbon yang hilang terbakar, kekurangan itu harus ditambah dalam bentuk besi yang banyak mengandung karbon. Dengan jalan ini kadar karbon ditingkatkan lagi. Proses reaksinya sebagai berikut : 3Fe(s) + C(s) Fe3C(s)

2.3 Mekanisme Reaksi 2.3.1 Mekanisme Reaksi pada Tanur Tinggi Prinsip dari proses dapur tinggi adalah prinsip reduksi. Pada proses ini zat karbon monoksida dapat menyerap zat asam dari ikatan-ikatan besi zat asam pada suhu tinggi. Pada pembakaran suhu tinggi 1800 oC dengan udara panas, maka dihasilkan suhu yang dapat menyelenggarakan reduksi tersebut. Proses reduksi di dalam dapur tinggi tersebut berlangsung sebagai berikut: Zat arang dari kokas terbakar menurut reaksi : C(s) + O2(g) CO2(g) sebagian dari CO2 bersama dengan zat arang membentuk zat yang berada ditempat yang lebih atas yaitu gas CO. Menurut reaksi : CO2(g) + C(s) 2CO(g) Di bagian atas dapur tinggi pada suhu 300 - 800 oC oksid besi yang lebih tinggi diubah menjadi oksid yang lebih rendah oleh reduksi tidak langsung dengan CO tersebut menurut prinsip : Fe2O3(s) + CO(g) 2FeO(s) + CO2(g) Pada waktu proses berlangsung muatan turun ke bawah dan terjadi reduksi tidak langsung menurut prinsip : FeO(s) + CO(g) FeO(s) + CO2(g) Reduksi ini disebut tidak langsung karena bukan zat arang murni yang mereduksi melainkan persenyawaan zat arang dengan oksigen. Sedangkan reduksi langsung terjadi pada bagian yang terpanas dari dapur, yaitu langsung di atas pipa pengembus. Reduksi ini berlangsung sebagai berikut : FeO(s) + C(s) Fe(s) + CO(g) CO yang terbentuk itulah yang naik ke atas untuk mengadakan reduksi tidak langsung tadi. Gambar Tanur Tinggi

2.3.2 Mekanisme reaksi pada Konverter Bessemer Konverter diputar sehingga vertikal dan panas udara ditiup terus menerus dalam perjalanan ke atas melalui konverter, udara mengoksidasi kotoran dalam pig iron. Proses ini berlangsung pada suhu 1250 oC

Setelah zat-zat pengotor teroksidasi maka kadar karbon ikut berkurang sehingga perlu ditambahkan Fe dengan kandungan karbon yang cukup. Berikut mekanisme reaksi pada Fe: CO(g) + H2(g) H2O(g) + C(s) 3Fe(s) + C(s) Fe3C(s) Gambar Konverter Bessemer

2.4

Tinjauan Termodinamika Tinjauan termodinamika dimaksudkan untuk mengetahui sifat reaksi apakah berjalan endotermis atau eksotermis. Untuk penetuannya digunakan data-data panas pembentukan o standar ( ) pada 1 atm dan 298 K dari reaktan dan produk Reaksi : 3Fe(s) + C(s) Fe3C(s)
o o

Fe C o Fe3C

= 0 kJ/mol = 0 kJ/mol = 25,1 kJ/mol

Entalpi dapat dihitung dengan persamaan : o o o ` = (reaksi) (produk) (reaktan) o Jika = (-) maka reaksi berjalan secara eksotermis (reaksi) o = (+) maka reaksi berjalan secara endotermis (reaksi) o = (25,1) (0+0) (reaksi) = 25,1 kJ/mol = 25100 J/mol o Dari perhitungan (reaksi) diatas, maka disimpulkan bahwa reaksi pembentukan Fe3C berjalan secara endotermis. Keseimbangan kimia dipengaruhi oleh energy Gibbs, data-data energy Gibbs: o Fe = 0 kJ/mol o C = 0 kJ/mol o Fe3C = 20,1 kJ/mol o Energi Bebas Total ( tot) = (20,1) (0+0) = 20,1 kJ/mol = 20100 J/mol Go Ln (K/K1) = -RT ln K = - ((1/T 1/T1)

K standar pada 298 K = e(-Go/RT) = e(-20100 J/mol / (8,314 J/mol K


x 298 K)

= 3 x 10-4

Dari reaksi di atas, diketahui bahwa reaksi berjalan secara endotermis, konstanta kesetimbangan reaksi pembentukan Fe3C akan semakin besar dengan naiknya suhu reaksi, atau dengan kata lain kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah produk, sehingga konversi didapat akan semakin besar. Berdasarkan perhitungan di atas didapat nilak K 1 maka reaksi berjalan bolak-balik.

Perhitungan nilai Konversi Pada T = 250 oC = 523 K

ln K = 4,38 + ln 3 x 10-4 ln K = 4,38 8,11 = -3,73

K = -3,73 = 0,024 X= Pada T = 500 oC = 773 K

ln K = 6,25 + ln 3 x 10-4 ln K = 6,25 8,11 = -1,86 K = -1,86 = 0,16 X= Pada T = 750 oC = 1023 K

ln K = 7,18 + ln 3 x 10-4 ln K = 7,18 8,11 = -0,93 K = -0,93 = 0,39 X= Pada T = 1000 oC = 1273 K

ln K = 7,76 + ln 3 x 10-4 ln K = 7,76 8,11 = -0,35 K = -0,35 = 0,7 X=

Pada T = 1250 oC = 1523 K

ln K = 8,15 + ln 3 x 10-4 ln K = 8,15 8,11 = 0,04 K = 0,04 = 1,04 X= Pada T = 1500 oC = 1773 K

ln K = 8,42 + ln 3 x 10-4 ln K = 8,42 8,11 = 0,31 K = 0,31 = 1,36 X= Pada T = 1750 oC = 2023 K

ln K = 8,66 + ln 3 x 10-4 ln K = 8,66 8,11 = 0,55 K = 0,55 = 1,73 X=

Tabel konversi vs suhu Suhu ( K ) 523 773 1023 1273 1523 1773 2023 X 0,02 0,14 0,28 0,40 0,51 0,57 0,63

Grafik konversi vs suhu

0.8 0.6 0.4 0.2 0 0

kurva termodinamika

kurva termodinamika

1000

2000

3000

Keterangan : y = konversi x = suhu ( K )

2.5

Tinjauan Kinetika Reaksi pembuatan baja dari Fe2O3, kokas dan batu kapur berlangsung secara endotermis pada temperatur tetap 1250 oC. Harga kecepatan reaksi dipengaruhi oleh: 1. Energi aktivasi (Ea) 2. Faktor tumbukan (A) 3. Suhu reaksi (T) Hal ini sesuai dengan persamaan Arhenius sebagai berikut: k = A e-Ea/RT Dari persamaan di atas terlihat bahwa jika suhu dinaikkan, maka konstanta kecepatan reaksi (k) akan semakin besar, sehingga laju reaksi (-rA) akan semakin cepat.

Grafik Konversi vs Suhu

Kurva Kinetika
0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 500 1000 1500 2000 Kurva Kinetika

Keterangan : y = konversi x = suhu ( K )

Grafik Konversi vs Suhu


0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 500 1000 1500 2000 2500 Kurva termodinamika Kurva kinetika

Keterangan : y = konversi x = suhu ( K )

Berdasarkan penggabungan grafik konversi vs suhu antara kurva termodinamika dan kurva kinnetika didapatkan perpotongan suhu yang merupakan suhu optimal pada pembentukan Fe3C yaitu 1523 K atau 1250 oC dengan konversi sebesar 51%.

2.6

Flowsheet

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan a. Proses pembuatan baja terdiri dari beberapa tahapan-tahapan proses diantaranya proses pada tanur tinggi yang akan menghasilkan Fe dengan kadar karbon yang relatif tinggi sehingga diproses kembali menjadi baja melalui proses Bessemer, proses Thomas, proses Oksi, proses LD, proses Kaldo dan Oberhause, proses Martin (dapur Siemen Martin) serta proses Dapur Listrik. b. Kondisi operasi pada proses pembuatan baja yaitu proses reaksi berlangsung pada suhu 1250 oC dengan konversi 51%. c. Proses reaksi berjalan secara endotermis, konstanta kesetimbangan reaksi pembentukan baja akan semakin meningkat dengan naiknya suhu reaksi. 3.2 Saran Pada proses pembuatan baja diperlukan pengontrolan terhadap variabelvariabel yang berpengaruh agar didapatkan konversi yang besar.

DAFTAR PUSTAKA

Levenspiel, Octave. 1972. Chemical Reaction Engineering. John Wiley & Sons : New York http://www.reade.com/component/content/article/ http://www.mindat.org http://www.reade.com/Products/Minerals_and_Ores/limestone.html http://www.tutorvista.com/content/chemistry/chemistry-ii/chemical compounds/steel.php http://sonicwitcha.multiply.com/photos/album/8/Diagram_Alir_pembuatan_Baja_FLo F_Chart_Steel_Making http://pustaka.ictsleman.net/teknik_pelayaran_perkapalan/pelayaran/teknika_pelayara p_niaga/proses_pembuatan_besi_dan_baja.pdf http://www.scribd.com

TUGAS PROSES INDUSTRI KIMIA BAJA

DISUSUN OLEH ARIESTYA META DEVI L2C008117 DJOKO MULYONO L2C008126 NIKOLAS SUBAGYO L2C008139

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

Beri Nilai