Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN KUNJUNGAN KOPERASI PETERNAKAN BANDUNG SELATAN ( KPBS )

Disusun Oleh :

Marolip Subyekti Indra Perdana Pratiwi I.N.F Haryatna Sartika P Mirah

240110080041 240110080047 240110080078 240110080079 240110080095

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2011

A. Sejarah KPBS Sejak zaman penjajahan Belanda, Pangalengan dikenal sebagai daerah peternakan sapi perah yang dikelola oleh Belanda. Perusahaan tersebut adalah Friesche Terp, Almanak, Van Der Els, dan Bigman. Keempat perusahaan tersebut melakukan pemasaran bersama melalui Bandungsche Melk Center ( BMC ). Ketika berlangsung pendudukan Jepang di Indonesia, perusahaanperusahaan tersebut hancur. Sapi-sapi yang masih hidup diselamatkan dan dipelihara oleh penduduk sekitarnya. Pada saat itulah peternakan sapi perah dijadikan masyarakat sebagai usaha keluarga. Pemeliharaan sapi ini kemudian digunakan sebagai pendukung usaha pertanian. Pada bulan Nopember 1949, berdirilah wadah koperasi dengan nama Gabungan Petani, Peternak Sapi Indonesia Pangalengan ( GAPPSIP ) dengan maksud meningkatkan populasi ternak sapi perah dan meningkatkan pendapatan peternak sapi perah. Sejak tahun 1949 sampai dengan 1962 GAPPSIP memberikan sumbangan besar dalam pengembangan usaha peternakan sapi perah di Pangalengan. Usaha sapi perah yang pada awalnya sebagai usaha sampingan akhirnya tumbuh dan berkembang dengan cepat. Situasi politik dan ekonomi Indonesia yang memburuk pada awal tahun 1960 berpengaruh negatif terhadap perkembangan GAPPSIP. Kondisi ini diperburuk dengan semakin menguatnya posisi para tengkulak dalam pemasaran susu. Pada tahun 1961 GAPPSIP tidak mampu lagi menghadapi keadaan ini sehingga pada tahun 1963 menghentikan segala aktivitrasnya dan selanjutnua tata niaga susu di Pangalengan diambil alih oleh para tengkulak. Para peternak adalah pihak yang paling banyak dirugikan dengan hancurnya GAPPSIP mereka terpaksa harus menjual susunya kepada para tengkulak dengan harga yang sangat rendah yaitu Rp. 9,- per liter. Sementara itu para tengkulak menjual susu dengan harga Rp. 60,- per liter kepada konsumen. Kondisi ini berlangsung sepanjang tahun 1963-1968. Menyadari buruknya keadaan tersebut, maka disepakati untuk mendirikan lagi wadah koperasi. Kesepakatan ini didorong oleh adanya kesadaran kepemilikan sapi perah dalam skala kecil, jauhnya ke tempat pemasaran dan sifat susu yang mudah rusak. Bersamaan dimulainya REPELITA I pada

tanggal 1 April 1969 berdirilah KPBS Pangalengan dengan pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung, bantuan Gubernur Jawa Barat, Dirjen Peternakan, dan UNICEF. Pada tanggal 8 Juli 1969 KPBS memperoleh Hak Badan Hukum No.4353/BH/IX-18, yang kemudian pada tanggal 31 Desember 1969 diperbaharui menjadi No. 4353 A/BH/DK-X/20. Tugas pokok yang diemban oleh KPBS pada mulanya adalah sebagai berikut : Memulihkan iklim perkoperasian dalam bidang peternakan di Bandung Selatan, ikut serta dalam usaha peningkatan pendapatan peternak sapi perah bersama pemerintah, berperan aktif dalam melaksanakan program pemerintah yang digariskan dalam pola pengembangan lima tahun. Sejak berdirinya KPBS, masyarakat Pangalengan khususnya anggota KPBS telah melakukan uji coba pemanfaatan produk susu yang tidak terjual dengan memprosesnya menjadi beberapa produk ( karamel, dodol susu, kerupuk susu dan tahu susu ) yang sifatnya tidak komersil. Baru kemudian pada tahun 1986 beberapa industriawan rumah tangga yang juga anggota KPBS dibina dan mendapat bimbingan dari KPBS, Dinas Peternakan Kecamatan Pangalengan termasuk pembinaan dari Departemen Perindustrian Kabupaten Bandung untuk lebih meningkatkan mutu produk industri rumah tangga tersebut. Bantuan yang dimaksud berupa penyediaan bahan baku susu dan bahan tambahan sesuai dengan permintaan industri rumah tangga, Pembinaan manajemen usaha industri rumah tangga, membantu pemasaran produk industri rumah tangga, dan membantu promosi produk industri rumah tangga melalui pameran yang diadakan pada tingkat kabupaten, kotamadya sampai pada tingkat nasional. KPBS terus mengalami perkembangan seiring dengan jumlah peternak yang semakin banyak yaitu dengan berdirinya Milk Treatment ( MI ) Goha di wilayah timur. MT yang terletak di Goha ini berdiri pada tahun 1998 dimaksudkan untuk mengantisipasi kerusakan susu segar dari para peternak sapi di wilayah timur karena akibat perjalanan jauh mobil tangki yang ditempuh. Kerusakan bisa disebabkan jalan rusak dan berdebu sehingga menyebabkan terkontaminasinya susus segar oleh mikroorganisme dari tangki.

Sumber : Hidayat, taufik. 2008. http://agroekonomi.blogspot.com/2008/03/pangalengan.html diakses pada tanggal 8 Mei 2011.

B. Kunjungan di KPBS Pada hari sabtu, 7 Mei 2011 mahasiswa yang mengambil mata kuliah Mesin Peralatan dan Pengolhan Pangan mengunjungi KPBS. Kunjungan ini difokuskan pada pabrik Milk Treatment ( MI ). Di pabrik inilah dilakukan proses coolin dan pasteurisasi. Menurut seorang pemandu, proses coolin ini mampu mendinginkan bahan dari 300C menjadi 40C dalam waktu 2 jam. Hasil coolin ini kemudian dijual ke IPS. Proses pasteurisasi dilakukan pada suhu 820C selama 15 detik. Sistem pasteurisasi yang digunakan yaitu pasteurisasi HTST. Hasil pasteurisasi ini dijual kepada konsumen melalui distributor distributor terpercaya. Susu yang mengalami pasteurisasi ini biasanya hanya 10 % dari jumlah yang ada. Sisanya, dijadikan fress milk. Susu hasil pasteurisasi memiliki komposisi yang lengkap. Selain itu, rasa yang ditawarkan juga beragam. Misalnya rasa murni,strawberi, dan coklat. Pemandu menambahkan, harga susu dipengaruhi oleh waktu. Perlu diketahui, umur susu hanya 3,5 jam dari pemerahan. Untuk mengendalikan hal ini, pihak pemerah telah diberikan time schedule untuk melakukan pemerahan. Sehingga dapat menyesuaikan waktu dengan pihak distributor yang menyalurkan sampai ke pengolah. Kemasan produk susu pasteurisasi ini diimport dari Prancis. Alasan yang jelas mengenai hal ini yaitu kualitas plastik di dalam negeri tidak dapat memenuhi permintaan produsen susu. Biasanya, kemasan mudah bocor sehingga dapat menimbulkan kerugian. Pada kunjungan kali ini, kami merasa sangat jauh dari harapan. Pemaparan pemandu mengenai milk treatment sangat singkat dan terkesan terburu buru. Sehingga kami tidak memiliki cukup waktu untuk bertanya banyak hal.