Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PAPER MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN POLA PENGOLAHAN TANAH (CIRCUITOUS PATTERN SQUARE CORNERS)

Disusun Oleh :

Kelompok 9 Mirah Tiwi Kholid A. Arief Angga Wijaya Muhammad Rinaldo 240110080095 240110080096 240110080097 240110080098 240110086001

JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2011

POLA PENGOLAHAN TANAH (CIRCUITOUS PATTERN SQUARE CORNERS)

Pengolahan tanah umumnya masih didominasi oleh penggunaan cangkul (secara manual) oleh tenaga manusia dan alat bajak yang ditarik oleh tenaga ternak. Dengan penggunaan tenaga manusia dan tenaga ternak akan mengakibatkan produksi pertanian rendah dan waktu yang lama bila dibandingkan dengan penggunaan tenaga mekanis seperti traktor terutama sebagai sumber tenaga penarik bajak dan alat pertanian lainnya. Penggunaan traktor sebagai sumber tenaga dalam pengolahan tanah, diharapkan dapat mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk proses pengolahan tanah, kapasitas kerja menjadi lebih tinggi dan pendapatan petani bertambah, sehingga dapat dilaksanakan usaha intensifikasi dan ekstensifikasi yang sempurna (Hardjosoediro, 1983). Kecepatan dalam pengolahan tanah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kapasitas kerja efektif yang dapat dicapai dalam pengolahan tanah. Kapasitas kerja efektif adalah faktor yang menentukan besarnya biaya penggunaan alat persatuan luas.

Pola Pengolahan Tanah Menurut Rizaldi (2006), pola pengolahan lahan tanah erat hubungannya dengan waktu yang hilang karena belokan selama pengolahan tanah. Pola pengolahan harus dipilih dengan tujuan untuk memperkecil sebanyak mungkin pengangkatan alat. Karena pada waktu diangkat alat tidak bekerja. Oleh karena itu harus diusahakan bajak atau garu tetap bekerja selama waktu operasi di lapangan. Makin banyak pengangkatan alat sewaktu belok, makin rendah efisiensi kerjanya. Pola pengolahan tanah yang banyak dikenal dan dilakukan adalah pola spiral, pola tepi, pola tengah dan pola alfa. Pola spiral paling banyak digunakan karena pembajakan dilakukan terus-menerus tanpa pengangkatan alat. Menurut Tas (2008), dalam melakukan pengolahan tanah, perlu

menggunakan pola-pola tertentu. Tujuan dari pola pengolahan tanah ini adalah agar lebih efektif dan efisien. Dengan menggunakan pola yang sesuai, diharapkan

waktu yang terbuang pada saat pengolahan tanah (pada saat implemen pengolahan tanah diangkat) sesedikit mungkin, lahan yang diolah tidak diolah lagi sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efisien. Hasil pengolahan tanah (khususnya untuk pembajakan) bisa merata. Bagian lahan yang diangkat tanahnya akan ditimbun kembali dari alur berikutnya. Sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efektif. Belok di ujung atau di sudut suatu lapang menghasilkan suatu kehilangan waktu yang seringkali sangat berarti, terutama pada lapang-lapang pendek. Tidak peduli apakah suatu lapang dikerjakan pulang balik, dari tepi ke tengah ataukah digarap dengan mengelilingi titik pusatnya, jumlah waktu belok per satuan luas untuk sebuah alat dengan lebar tertentu akan berbanding terbalik dengan panjang lapang. Untuk suatu lapang persegi tertentu digarap searah panjangnya ataukah memutarinya, jumlah putaran perjalanan yang diperlukan akan sama pada ketiga cara di atas. Menggarap secara pulang balik memerlukan 2 kali belokan 1800 per putaran, sedang kedua cara lainnya mencakup empat belokan 900 per putaran. Waktu yang diperlukan untuk belok pada pengerjaan bolak-balik juga dipengaruhi oleh ketidak teraturan bentuk lapang, besarnya ruang belok di head land, kekasaran daerah belok dan lebar alat (Siregar, 2010). Pada pengolahan lahan dengan menggunakan pola tengah, pembajakan dilakukan dari tengah membujur lahan. Pembajakan kedua pada sebelah hasil pembajakan pertama. Traktor diputar ke kanan dan membajak rapat dengan hasil pembajakan pertama. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kanan sampai ke tepi lahan. Pola ini cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul). Dengan pola ini akan menghasilkan alur balik (back furrow), yaitu alur bajakan yang saling berhadapan satu sama lain. Sehingga akan terjadi penumpukan lemparan hasil pembajakan, memanjang di tengah lahan. Pada tepi lahan alur hasil pembajakan tidak tertutup oleh lemparan hasil pembajakan (Tas, 2008).

Pembajakan dengan pola tepi dilakukan dari tepi membujur lahan, lemparan hasil pembajakan ke arah luar lahan. Pembajakan kedua pada sisi lain pembajakan pertama. Traktor diputar ke kiri dan membajak dari tepi lahan dengan arah sebaliknya. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kiri sampai ke tengah lahan. Pola ini juga cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul). Dengan pola ini akan menghasilkan alur mati (dead furrow)., yaitu alur bajakan yang saling berdampingan satu sama lain. Sehingga akan terjadi alur yang tidak tertutup oleh lemparan hasil pembajakan, memanjang di tengah lahan. Pada tepi lahan lemparan hasil pembajakan tidak jatuh pada alur hasil pembajakan (Tas, 2008). Membajak dengan sistem balik rapat dapat dilakukan dengan cara berikut. 1. Pada tanah kering mula-mula harus dibuat scratch pada kedua ujung petakan. Pada tanah basah tidak perlu dibuat karena akan menyebabkan selipnya traktor. Pada tanah basah scratch nya hanya dibuat dengan membajak secara dangkal. 2. Membajak dimulai dari salah satu tepi petakan, pada tanah ditinggalkan strip (garis) selebar 2 jejak. Garis ini berguna untuk jalannya traktor pada waktu akan mengerjakan head land. 3. Apabila pekerjaan sudah selesai, pembajakan dilakukan pada salah satu head land. Kalau head land yang pertama selesai dikerjakan, maka kerjakan pula head land yang lain dengan sekaligus membajak strip tanah yang dibuat pada langkah pertama tadi. 4. Untuk menghindari kecelakaan terbaliknya traktor, pada waktu

menjalankan apabila menyeberangi petakan atau bagian-bagian lain sawah yang tidak sama tingginya, kalau jalannya menurun traktor harus berjalan mundur, tapi kalau jalannya naik, traktor harus maju.

Membajak dengan sistem berkeliling dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Putaran keliling sebaiknya berlawanan arah dengan jarum jam.

2. Pada putaran pertama, pembajakan tanah dilakukan pada tepi petakan dan diusahakan betul-betul rapat dengan pematang. Slice dilemparkan kearah kiri atau kearah tengah petakan. 3. Pada putaran kedua sampai keempat cara berbelok berpusing kearah lebih dalam. Slice dilemparkan kearah kanan atau kearah pematang. 4. Pada putaran kelima dan selanjutnya cara berbelok biasa tidak seperti putaran sebelumnya. Traktor meninggalkan petakan dengan meninggalkan open furrow/dead furrow (Sugeng, 1998).

Pada pengolahan lahan dengan pola keliling tengah, pengolahan tanah dilakukan dari titik tengah lahan. Berputar ke kanan sejajar sisi lahan, sampai ke tepi lahan. Lemparan pembajakan ke arah dalam lahan. Pada awal pengolahan, operator akan kesulitan dalam membelokan traktor. Pola ini cocok untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas. Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 sampai 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul) (Tas, 2008). Pada pengolahan tanah dengan pola keliling tepi, pengolahan tanah dilakukan dari salah satu titik sudut lahan. Berputar ke kiri sejajar sisi lahan, sampai ke tengah lahan. Lemparan pembajakan ke arah luar lahan. Pada akhir pengolahan, operator akan kesulitan dalam mebelokan traktor. Pola ini cocok untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas. Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul) (Tas, 2008).

Kapasitas Pengolahan Tanah Penerapan alat dan mesin pertanian pada dasarnya adalah untuk memberikan kontribusi pada peningkatan efisiensi produksi tersebut. Ketidakselarasan antara desain dan ukuran alsintan dengan kondisi spesifik wilayah penerapannya akan mengakibatkan rendahnya kapasitas kerja alsintan yang akhirnya akan memperbesar inefisiensi penggunaan sumber daya. Dalam pengolahan tanah,

hingga saat ini pemilihan tipe penggerak maupun implement yang digunakan belum sepenuhnya didasarkan atas pertimbangan teknis (soil-tools interaction) dan ekologi wilayah. Sebagai akibatnya, hal tersebut mengarah pada kurang maksimalnya unjuk kerja alsintan yang digunakan, yang akhirnya mengarah pada rendahnya efisiensi penggunaan sumber daya dan tingginya biaya operasional per luas penggarapan (Hendriadi dkk, 2002).

Kapasitas optimum dari peralatan pertanian tergantung dari faktor-faktor: 1. Jumlah hari kering untuk bekerja 2. Kecepatan kerja 3. Waktu yang tersedia untuk operasi lapang 4. Persentase keuntungan yang bakal didapat (Daywin dkk, 2008).

Kapasitas lapang suatu alat/mesin dibagi menjadi dua yaitu kapasitas lapang teoritis atau kemampuan kerja suatu alat di dalam sebidang tanah jika berjalan maju sepenuhnya, waktunya 100 % dan alat tersebut bekerja dalam lebar maksimum (100%) serta kapasitas lapang efektif yaitu rata-rata kerja dari alat di lapangan untuk menyelesaikan suatu bidang tanah dengan luas lahan yang diolah dengan waktu kerja total (Darun, 1990). Persamaan untuk menentukan kapasitas lapang adalah sebagai berikut : KLT = W . V......................................................................... (1) dimana : KLT = Kapasitas lapang teoritis (m2/jam) W = Lebar kerja alat (m) V = Kecepatan (m/jam) KLE = L/T........................................................................ (2) dimana : KLE = Kapasitas lapang efektif (ha/jam) L = Luas lahan (ha) T = Total waktu tempuh (jam) (Yunus, 2004).

Efisiensi Traktor Efisiensi suatu traktor tergantung dari kapasitas lapang teoritis dan kapasitas lapang efektif. Karena efisiensi merupakan perbandingan antara kapasitas lapang efektif dengan kapasitas lapang teoritis yang dinyatakan dalam bentuk (%). Persamaan yang digunakan untuk mengetahui efisiensi pengolahan tanah adalah sebagai berikut : Efisiensi : (KLE/KLT) x 100% (3) Dimana : KLE = Kapasitas lapang efektif KLT = Kapasitas lapang teoritis (Yunus, 2004).

Pada saat mengolah tanah menggunakan traktor dan alat bajak maka akan diperoleh tanah terolah dengan luas tertentu dan selesai ditempuh dalam waktu tertentu, sehingga kemampuan kerja lapang mengolah tanah tersebut atau yang dapat dinyatakan dalam satuan luas tanah terolah persatuan waktu. Semakin luas tanah yang diselesaikan dalam waktu yang semakin singkat maka dikatakan bahwa pekerjaan mengolah tanah tersebut mempunyai efisiensi tanah yang tinggi (Yunus, 2004).

Untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi hendaknya dilakukan: a. Pemeliharaan traktor dan alat-alatnya dengan seksama b. Pemilihan operator/driver yang berpengalaman c. Pengerjaan dilakukan berdasarkan areal lapangan (Daywin dkk, 2008).

Slip Roda Traktor Berdasarkan SNI 0738:2010, slip roda dapat dihitung dengan rumus: Slip roda = (L1 L2) / L1.(4) Dimana: L1 = Jarak yang ditempuh untuk 5 kali putaran roda traktor tanpa mengolah tanah L2 = Jarak yang ditempuh untuk 5 kali putaran roda traktor dengan mengolah tanah

Pola Operasional Lapangan Kapasitas lapang dan efisiensi lapangan dipengaruhi oleh pola medan operasional yang dalam pelaksanaanya berhubungan dengan ukuran dan bentuk lapangan. Waktu luang harus dimanfaatkan seminimal mungkin dengan penerapan bidang yang sesuai pola operasional untuk bidang persegi panjang seperti yang ditunjukkan pada Gambar1. Salah satu pola operasional lapang jenis alur sudut persegi (Circuitous Pattern Square Corners).

Gambar 1. Circuitous Pattern Square Corners (Sumber : Dunnel Hunt) Pengolahan Tanah Pola Putaran dengan Sudut Persegi pada Sudutnya Pola putaran ini dimulai pada bagian terluar dari lahan atau bagian pinggir dari lahan menuju bagian tengah dari lahan artinya ketika proses bajak dilakukan, bajak akan mengolah tanah yang belum terolah secara memutar dimulai dari salah satu sudut lahan. Pola pembajakan alternative dan pola pembajakan memutar dengan sudut persegi telah ditinggalkan karena kedua pola tersebut tidak dapat dikombinasikan dengan bajak moldboard berbeda dengan continous pattern yang dapat dikombinasikan dengan dua bajak moldboard. Tabel 1.2 membandingkan efisiensi dari pola pembajakan untuk lahan dengan lahan berbentuk persegi dengan luas 16 ha (40 a). Pola bajak sangat dibutuhkan dalam menentukan metode memutar traktor ketika proses bajak agar diperoleh efisiensi maksimum.

Table 1. Plowing Pattern Comparisons, Square Fields Pattern Headlands Comreeuts f = 394 m (1292 ft) 6 m (19,6 ft) headlands n = 5 optimum Sc = 8.0 km/hr (5 MPH) I = 10 s f = 394 m (1292 ft) s = 10 m (328 ft) diagonal turn strips rounded /2.rad (900) corners r0 = 3 m (19,8 ft) r = 6 m (19,6 ft) Pattern Eff..% 93,0

Continous Circuitous Circuitous corners

95,7 94,8 91,9

Circuitous,

r0 = 6 m (19,6 ft) 84,0 3/2.rad (2700) turns Note : L = W = 400 m (1312 ft); s = 6,4 km/hr (4 MPH) and w = 2 m (6,56 ft) Untuk tanaman dengan jarak rapat seperti tanaman gandum dan hay, pola putaran dengan sudut persegi yang dikerjakan dari lahan bagian terluar hingga ke dalam, memiliki keunggulan yaitu menjaga sudut lahan agar tetap persegi karena hal tersebut merupakan kepentingan utama dalam menjaga agar efisiensi dari pola agar tetap tinggi, namun lahan yang digarap tidak akan selesai dalam satu waktu dan membutuhkan waktu ekstra dalam memproses bagian lahan yang memiliki bentuk yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Perhitungan Perhitungan Pada Traktor 1. Kecepatan Aktual Pengukuran kecepatan dari traktor dalam mengolah tanah dapat dilakukan dengan menentukan panjang lintasan atau jarak tempuh traktor. Kecepatan dalam pengolahan tanah dapat diukur dengan menggunakan rumus (Santosa,2005a) V akt = S / T ..(1) Dimana : V akt S T = Kecepatan aktual (m/detik), = Panjang lintasan (m), = Waktu tempuh (detik).

2. Kapasitas Kerja Teoritis Untuk pengukuran kapasitas kerja teoritis traktor digunakan rumus\ (Santosa,2005a) KKteo = 0,36 x Vteo x w ........(2) Dimana: KKteo = Kapasitas kerja teoritis (ha/jam) Vteo w = Kecepatan kerja teoritis (m/detik) = Lebar kerja pengolahan tanah (m). Hubungan antara kecepatan teoritis dan kecepatan aktual adalah: Vteo = Vakt / ( 1 S ) ............................................(3) Dengan: S = Slip roda (desimal).

3. Kapasitas Kerja Efektif Kapasitas kerja efektif alat dapat ditentukan dengan menentukan waktu total operasi alat pada lintasan tertentu. Waktu total ini juga termasuk waktu yang hilang saat membelok, istirahat, penyetelan alat dan lainnya. Untuk pengukuran kapasitas kerja efektif digunakan rumus (Santosa,2005a) KKe = A / T .......(4) Dimana : KKe A T = Kapasitas kerja efektif (ha/jam) = Luas petakan (ha) = Waktu total pengoperasian (jam).

4. Efisiensi Lapang Untuk pengukuran efisiensi lapang digunakan rumus (Santosa,2005a) ...(5)

Dimana : E = Efisiensi kerja lapang (%)

5. Slip Roda Pada pengamatan slip roda, yang diamati adalah jarak yang ditempuh oleh roda traktor untuk 10 kali putaran roda. Untuk pengukuran slip roda digunakan rumus (Santosa,2005a) .....(6) Dimana : S = Slip roda (%), D = Diameter roda (m), N = Banyaknya putaran roda (10 putaran), L = Jarak yang ditempuh oleh traktor pada saat roda berputar N kali (m).

6. Konsumsi Bahan Bakar Sebelum traktor dioperasikan, tangki bahan bakar diisi penuh. Setelah pengolahan tanah berakhir bahan bakar diisi lagi hingga penuh dan dicatat besarnya volume penambahan bahan bakar tersebut. Laju debit pemakaian bahan bakar dapat dihitung dengan rumus berikut:

Dimana: Q = Debit pemakaian bahan bakar (liter / jam),

Vol = Volume pemakaian bahan bakar pada saat pengolahan tanah (cm3), T = Waktu operasional traktor untuk pengolahan tanah (menit), (60 = Konversi satuan, 1 jam = 60 menit, dan 1000 = Konversi satuan , 1 liter = 1000 cm3). Besarnya debit bahan bakar ini dipakai untuk memperkirakan besarnya daya yang dihasilkan pada silinder motor bakar tersebut.

7. Daya Kimia Bahan Bakar Untuk pengukuran daya kimia bahan bakar digunakan rumus:

Dimana: Pk = Daya kimia bahan bakar (HP), Q = Debit bahan bakar minyak (liter /jam), = Densitas bahan bakar minyak (kg / liter), NBB = Nilai kalori bahan bakar minyak (kalori / kg), 4,2 = Konversi satuan, 1 kalori = 4,2 joule, 3.600 = Konversi satuan, 1 jam = 3.600 detik, dan 735 = Konversi satuan, 1 HP = 735 watt.

8. Daya Mekanis Motor Untuk pengukuran daya mekanis motor digunakan rumus: Pm = m X Pk ...(9) Dengan: Pm = Daya mekanis motor (HP) m = Efisiensi thermal motor bakar. 9. Daya untuk Pengolahan Tanah Daya yang diperlukan untuk mengolah tanah menggunakan bajak singkal (moldboard plow) (Santosa, 2005a) yaitu: P = Ds x d x l x v x 9,8 ........(10) Dengan: P = Daya pengolahan tanah (watt), Ds = Draft spesifik tanah (kg / cm2), D = Kedalaman pengolahan tanah (cm), l = Lebar kerja pengolahan tanah (cm), v = Kecepatan pengolahan tanah (m / detik), dan 9,8 = Konversi satuan, 1kg gaya = 9,8 N.

10. Draft Spesifik Tanah Nilai draft spesifik tanah diperoleh dari persamaan Kisu (1972) cit Santosa (1993) yaitu:

Dengan : Ds = Draft spesifik tanah (kg / cm2),

Ds1 = Draft spesifik tanah yang dimodifikasi dengan indeks plastisitas tanah (kg / cm2), dan Ip = Indeks plastisitas tanah (%).

11. Nilai Ds1 Dapat dihitung dengan rumus :

Dengan : Ci adalah indeks kerucut (cone index) dalam kg / cm2. Nilai indeks kerucut diukur pada kedalaman 5 cm, 10 cm, 15 cm, dan 20 cm dengan menggunakan penetrometer.

Dengan: F = Gaya tekan penetrometer (kg) D = Diameter alas kerucut penetrometer (cm). Sedangkan indeks plastisitas tanah dihitung dengan menggunakan rumus: Ip = 0,8 x C 4,5 .............................................(14) Dengan: Ip = Indeks plastisitas tanah (%), C = Kandungan lempung (clay) tanah (%). Untuk keperluan tersebut, maka dilakukan analisis tekstur tanah. Besarnya gaya tekan penetrometer bergantung pada kadar air tanah. Dengan demikian juga dilakukan pengukuran kadar air tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Hunt, Donnel. 2001 . Farm Power and Machinery Management 10th Edition. Blackweh Publishing Company. Iowa state Press. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28691/4/Chapter%20II.pdf. diakses pada tanggal 1 oktober 2011. pukul 07.00 wib http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/31878/Jun%20Sakai_Trakt or%202-Roda.PDF?sequence=1. diakses pada tanggal 1 oktober 2011. pukul 07.20 wib http://www.scribd.com/doc/6307149/Jurnal-Akademika-Santosa-Traktor. diakses pada tanggal 1 oktober 2011. pukul 07.27 wib